Anda di halaman 1dari 2

MASALAH DAN PENGELOLAAN TANAH MASAM DENGAN PENGAPURAN

a. Potensi Tanah Masam Potensi tanah masam di Indonesia sangatlah besar. Pada umumnya tanah di Indonesia didominasi oleh ordo tanah Ultisol (Podsolik Merah Kuning) dengan pH 4 5. Tanah ultisol merupakan tanah yang umumnya diusahan sebagai lahan pertanian baik itu pertanian lahan basah maupun pertanian lahan kering. Tanah ultisol sendiri mempunyai luas hingga 38,437 juta Ha di Indonesia. Sehingga pada umumnya tanah masam merupakan tanah yang tersedia untuk lahan pertanian di Indonesia. b. Masalah Tanah Masam Masalah tanah masam sangat kompleks. Mulai dari kandungan hara hingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Masalah yang umumnya terjadi pada tanah masam antara lain : 1. Terakumulasinya ion H+ pada tanah sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. 2. Tingginya kandungan Al3+ sehingga mearcun bagi tanaman. 3. Kekurangan unsur hara Ca dan Mg 4. Kekurangan unsur hara P karena terikat oleh Al3+ 5. Berkurangnya unsur Mo sehingga proses fotosintesis terganggu, dan 6. Keracunan unsur mikro yang memiliki kelarutan yang tinggi pada ranah masam.

c. Tujuan, Cara dan Manfaat Pengapuran Tujuan dari pengapuran pada intinya dalah bagaimana supaya tanah memiliki pH yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kelarutan Al dalam tanah dapat ditekan. Cara pengapuran sendiri yang sesuai dengan rekomendasi pengapuran adalah : 1. Tanah diolah baik itu dicangkul atau dibajak.

2. Kapur ditabur merata diatas permukaan tanah, dengan dosis kapur sesuia dengan kebutuhan tanaman dan tingkal kejenuhan Al. 3. Tanah diaduk hingga kedalaman 20 cm 4. Dibiarkan selama 2 minggu baru kemudian ditanami. Manfaat kapur yang diberikan kedalam tanah adalah : 1. Menurunkan pH tanah 2. Menurunkan kelarutan Al 3. Meningkatkan kandungan unsur hara Ca dan Mg. 4. Memperbaiki tekstur, struktur dan memantapka agregat tanah 5. Menurunkan tingkat bahaya erosi karena agregat tanh yang mantap 6. Memperbaiki sifat biologi tanah seperti aktivitas mikro organism. Cara untuk menghitung kebutuhan kapur biasanya dengan mengkalibrasikan dengan kandungan Al-dd. Yaitu dengan cara : Jika diketahui kebutuhan kapur = 1 x Al-dd artinya 1 me Ca/100g tanah untuk menetralkan 1 me Al/100 g tanah. 1 me Ca/100 gr tanah = Berat Atom Ca/Valensi x me Ca/100 g tanah 1 me Ca/100 gr tanah = 40/2 x 1 me Ca/100 g tanah = 20 mg Ca/100 g tanah = 200 mg Ca/1 kg tanah x 2 x 106 (asumsi kedalaman tanah 20 cm, BV = 1 gr/cm3) = 400 kg Ca/ha Untuk mengitung kebutuhan kapur pertanian : = Berat Atom Total/Berat Atom Ca x Kebutuhan Ca Untuk menghitung kebutuhan CaCO3 (1 x Al-dd): = 100/40 x 400 Kg Ca/ha = 1 ton CaCO3/ha Untuk CaO (1 x Al-dd): = 56/40 x 400 Kg Ca/ha = 0.56 ton CaO/ha Untuk Ca(OH) 2 (1 x Al-dd): = 74/40 x 400 Kg Ca/ha = 0,74 ton Ca(OH)2/ha (disadur dari berbagai sumber) Suka Be the first to like this

KLASIFIKASI TANAH DI INDONESIA