Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS PELANGGARAN KLAIM KESEHATAN PADA LABEL PRODUK PANGAN Disusun oleh : Kelompok 2 Musfirotun Oktafani Adhika Prasetya

Nugraha Silvana Godelifa M. Fofid Christy Ariesta Zaikanur Annisa Saskia A34080061 A34080087 C34090003 C34090028 C34090056 C34090065

TUGAS PERATURAN PANGAN (ITP 302)

Memperoleh informasi yang benar tentang produk yang akan dikonsumsi merupakan salah satu hak dari konsumen, salah satu cara yang digunakan oleh konsumen untuk mengetahui suatu informasi produk pangan adalah dengan membaca label pangan yang tertera, kesalahan dalam klaim produsen tentang barang yang dimilikinya akan merugikan konsumen dan melanggar hak konsumen, oleh karena itu pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan peraturan untuk melindungi konsumen dari kesalahan pelabelan suatu bahan pangan yang tertera dalam UU No. 69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan. Beberapa klaim yang dapat maupun boleh dicantumkan dalam label pangan adalah klaim structure, klaim gizi dan klaim kesehatan. Bahasan kali ini akan menitikberatkan pada klaim kesehatan pada label produk pangan yang beredar di Indonesia. Klaim kesehatan menurut US FDA (United State Federation of Drug and Agriculture) adalah pernyataan yang menunjukan adanya hubungan antar zat gizi atau senyawa lain dalam produk pangan dan penyakit maupun kondisi kesehatan lainnya. Klaim ini dapat digunakan baik untuk produk pangan biasa maupun dietary suplement. Secara umum klaim ini dapat dicantumkan dalam label pangan jika telah mendapatkan pengakuan dari kalangan ilmiah tentang kebenaran klaim yang akan dicantumkan atau sudah melalui uji klinis di laboratorium yang terpercaya.. Banyaknya produk pangan yang bebas beredar di masyarakat membuat masyarakat harus memilih lebih selektif tentang produk pangan apa yang terbaik untuk dikonsumsi. Salah satu cara yang digunakan oleh konsumen dalam mengidentifikasi konsumsi suatu jenis produk pangan adalah dengan mengamati label yang memuat klaim yang telah dicantumkan oleh produsen dalam produk yang dijualnya. Salah satu kesalahan yang mungkin ditemukan dalam kemasan pangan adalah kesalahan dalam mencantumkan klaim kesehatan pada produk pangan. Ketidaktahuan konsumen terhadap kebenaran klaim kesehatan yang dibuat oleh produsen pangan dapat merugikan konsumen dalam hal adalah manfaat yang diharapkan dari produk pangan yang dikonsumsi maupun dalam hal biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan produk pangan tersebut. Hal

tersebut selain merugikan konsumen juga menyalahi peraturan pemerintah tentang labeling dan iklan pangan sehingga produk pangan tersebut dapat dikenai sanksi. Kesalahan tersebut dapat berupa kesalahan dalam menyatakan suatu produk tersebut memiliki kemampuan dalam mengobati suatu jenis penyakit. Klaim tersebut dalam hal ini sesuai dengan peraturan pemerintah yaitu tidak diizinkan untuk dicantumkan selain itu klaim kesehatan yang tidak diizinkan untuk digunakan untuk produk pangan yang memiliki kandungan total lemak, lemak jenuh, kolesterol dan sodium yang tinggi. Kesalahan pencantuman klaim seperti ini dapat menyebabkan harapan berlebihan yang muncul dari konsumen dari suatu bahan pangan yang dikonsumsinya sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan efek terhadap kesehatan konsumen yang mengkonsumsi produk pangan tersebut secara berlebihan dengan harapan terhindar dari penyakit hipertensi 1. Kasus Klaim Kesehatan Pada Label Suplemen Makanan Saat ini semakin banyak obat herbal dan makanan suplemen di pasaran dengan klaim mampu mengatasi berbagai penyakit, sehingga membuat masyarakat banyak yang meninggalkan obat resep dokter. Tak main-main, klaim dari produsen obat herbal dan suplemen itu ada yang menyebutkan dapat mencegah atau mengatasi beberapa penyakit serius yang selama ini ditakuti masyarakat, seperti diabetes, penyakit jantung atau kanker. Untuk itu, bagi Anda sebagai masyarakat awam hendaknya berhati-hati dengan bermacam klaim dan gembar-gembor yang disampaikan para tenaga penjual obat herbal dan makanan suplemen, karena kalau tidak justru masalah baru akan menghadang Anda. Setidaknya itu tergambar dari apa yang dilakukan tim penyelidik Government Accountability Office (GAO) di Amerika Serikat dalam menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai iklan menyesatkan dari produk herbal dan makanan suplemen. Para staf GAO dengan menyamar sebagai konsumen mencoba untuk menyelidiki laporan itu, dan mereka menemukan label di beberapa produk yang menyebutkan dapat mencegah dan mengobati penyakit seperti diabetes atau penyakit jantung. "Yang paling parah, klaim dari makanan suplemen itu dapat mencegah atau mengobati penyakit yang amat serius, misalnya kanker dan penyakit kardiovaskular," kata GAO dalam laporanya kepada Senat, Rabu (26/5). Contohnya, salah satu pembeli di sebuah toko makanan suplemen diberitahu tenaga penjual bahwa suplemen bawang putih dapat dikonsumsi untuk menggantikan obat resep untuk menurunkan tekanan darah. Ada lagi kisah seorang pembeli mendapat informasi dari penjaja obat bahwa mengonsumsi aspirin bersamaan dengan ginkgo biloba tidak membahayakan. Padahal, Food and Drug Administration (FDA) menyatakan kombinasi obat itu dapat menyebabkan pendarahan di dalam. Dalam penyelidikan GAO itu juga ditemukan sejumlah kontaminan yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan, seperti timbal dan arsenik. Nah, dari gambaran tersebut sudah jelas bahwa kita sebagai orang awam jangan mudah percaya dengan berbagai klaim yang muluk-muluk tentang khasiat herbal serta suplemen karena kesehatan kita menjadi taruhannya.

Gambar 1 Produk suplemen makanan Sumber: http://www.go4healthylife.com 1.1 Analisis kasus Winarti dan Nurdjanah (2005) menyatakan pelabelan merupakan hal yang penting dalam pengembangan pangan fungsional, karena dalam label tercantum keterangan tentang produk tersebut termasuk klaim kesehatan. Di Indonesia, pelabelan diatur dalam Undang-undang No. 7 tahun 1996 tentang pangan. Karena adanya klaim tersebut maka perlu disertakan bukti dari manfaat klaim tersebut. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat akan manfaat pangan fungsional serta melindungi masyarakat dari klaim yang tidak benar atau berlebihan, dan yang lebih penting lagi dari kemungkinan efek berbahaya dari produk tersebut. Hariyadi (2005) menyatakan bahwa Klaim kesehatan adalah pernyataan yang menunjukkan adanya hubungan antara zat gizi atau senyawa lain dalam produk pangan dan penyakit atau kondisi kesehatan lainnya. Produk pangan bukanlah obat, dan tidak boleh direpresentasikan sebagai obat. Produk pangan tidak boleh memberikan klaim bisa mengobati suatu penyakit. Kasus pada artikel di atas menyebutkan para staf GAO menemukan label di beberapa produk yang menyebutkan dapat mencegah dan mengobati penyakit seperti diabetes atau penyakit jantung bahkan klaim dari makanan suplemen itu dapat mencegah atau mengobati penyakit yang amat serius, misalnya kanker dan penyakit kardiovaskular. Suplemen tersebut melanggar pasal 33 ayat 1 pada UU No. 7 tahun 1996 tentang pangan menjelaskan bahwa setiap label dan atau iklan tentang pangan yang diperdagangkan harus memuat keterangan mengenai pangan dengan benar dan tidak menyesatkan. Ayat 2 menyebutkan bahwa setiap orang dilarang memberikan keterangan atau pernyataan tentang pangan yang diperdagangkan melalui, dalam, dan atau dengan label atau iklan apabila keterangan atau pernyataan tersebut tidak benar dan atau menyesatkan. PP No. 69 1999 tentang label dan iklan pangan menganai standar label produk yang harus dipenuhi. Produsen pada tubuh belum dapat membuktikan klaim gizi dan kesehatan yang dicantumkan pada setiap produk secara teruji melainkan hanya penjabaran dari fungsi zat gizi yang digunakan pada produk tersebut. Tindakan tegas dapat diambil dalam menyikapi produsen suplemen makanan yang melanggar peraturan dalam pelabelan dan klaim kesehatan

mengacu pasal 61 pada PP No. 69 tahun 1999 setiap orang yang melanggar ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah ini dikenakan tindakan administratif meliputi peringatan secara tertulis, larangan untuk mengedarkan untuk sementara waktu dan atau perintah untuk menarik produk pangan dari peredaran, pemusnahan pangan jika terbukti membahayakan kesehatan dan jiwa manusia, penghentian produksi untuk sementara waktu, pengenaan denda paling tinggi Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah), dan atau pencabutan izin produksi atau izin usaha. HSA (2011) menyatakan klaim kesehatan harus menyampaikan kebenaran, baikdari segi kealamian dan kualitas. Setiap klaim yang tercantum pada label harus memiliki subtansi seperti jurnal ilmiah. Klaim atas kesehatan dilarang mengeksploitasi rasa takut dari masyarakat. Klaim atas jaminan keamanan 100% dilarang karena keamanan penuh hanya diperbolehkan pada produk alami. 2. Kasus Klaim Kesehatan Pada Minuman Sari Tebu Mengungkap Mitos seputar minuman sari tebu: Benarkah Minuman Sari Tebu Menyehatkan? Di balik kesegarannya, minuman sari tebu diyakini memiliki efek menyembuhkan, seperti memerangi penyakit kuning, melawan kanker payudara dan prostat, mempertahankan fungsi ginjal normal, dan meningkatkan fungsi jantung, mata serta otak. Benarkah? Studi menunjukkan bahwa semua klaim ini tidak berdasar. Roger Clemens, profesor farmakologi dan ilmu farmasi di USC, mengatakan kepada Los Angeles Times, "Tidak ada studi yang telah membuktikan manfaat kesehatan itu." Ketika ditanya apakah minuman sari tebu bisa membantu menenangkan sakit tenggorokan atau mengembalikan energi tubuh, dia menjawab, "Saya telah bekerja di bidang ini selama 40 tahun, dan aku belum pernah melihat bukti untuk semua ini." Bagaimana dengan minuman sari tebu sebagai minuman berenergi? Mungkin itu bisa, setidaknya sebagai penghilang dahaga saat berada di bawah terik matahari. "Ada perbedaan antara kaya nutrisi dan kaya kalori. Intinya adalah tidak ada bukti ilmiah untuk mendukung klaim kesehatan tadi," kata Clemens. Jadi jika Anda penggemar minuman sari tebu tebu, silakan menikmatinya sebagai pelepas dahaga. Namun, jangan mengharapkan keajaiban bagi kesehatan.

Gambar 2 Produk minuman sari tebiu Sumber: http://www.anomharya.web.id

2.1 Analisis kasus Klaim kesehatan adalah pernyataan yang menunjukkan adanya hubungan antara zat gizi atau senyawa lain dalam produk pangan dan penyakit atau kondisi kesehatan lainnya. Namun perlu diingat bahwa produk pangan bukanlah obat, dan tidak boleh direpresentasikan sebagai obat. Produk pangan tidak boleh memberikan klaim bisa mengobati suatu penyakit. Pasal 33 ayat 1 pada UU No. 7 Tahun 1996 tentang pangan menjelaskan bahwa setiap label dan atau iklan tentang pangan yang diperdagangkan harus memuat keterangan mengenai pangan dengan benar dan tidak menyesatkan. Ayat 2 menyebutkan bahwa setiap orang dilarang memberikan keterangan atau pernyataan tentang pangan yang diperdagangkan melalui, dalam, dan atau dengan label atau iklan apabila keterangan atau pernyataan tersebut tidak benar dan atau menyesatkan. PP No. 69 1999 tentang label dan iklan pangan menganai standar label produk yang harus dipenuhi. Produsen pada tubuh belum dapat membuktikan klaim gizi dan kesehatan yang dicantumkan pada setiap produk secara teruji melainkan hanya penjabaran dari fungsi zat gizi yang digunakan pada produk tersebut. Produk pada Gambar 2 Sari Tebu Murni Rajanya Tebu telah melanggar ketentuan PP No. 69 tahun 1999 dengan mencantumkan klaim-klaim kesehatan yaitu meredakan jantung berdebar, meredakan panas dalam minghilangkan batuk dan menurunkan kadar gula darah. Hal tersebut bertentangan dengan PP No. 69 tahun 1999 pasal 6 dan pasal 7 yang menyatakan bahwa Pencantuman pernyataan tentang manfaat pangan bagi kesehatan dalam Label hanya dapat dilakukan apabila didukung oleh fakta ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan pada Label dilarang dicantumkan pernyataan atau keterangan dalam bentuk apapun bahwa pangan yang bersangkutan dapat berfungsi sebagai obat dan dilarang mencantumkan logo atau identitas lembaga yang melakukan analisis terhadap produk tersebut. Pasal 61 pada PP No. 69 tahun 1999 setiap orang yang melanggar ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah ini dikenakan tindakan administratif meliputi peringatan secara tertulis, larangan untuk mengedarkan untuk sementara waktu dan atau perintah untuk menarik produk pangan dari peredaran, pemusnahan pangan jika terbukti membahayakan kesehatan dan jiwa manusia, penghentian produksi untuk sementara waktu, pengenaan denda paling tinggi Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah), dan atau pencabutan izin produksi atau izin usaha. Berdasarkan pasal ini pemerintah dapat melakukan tindakan atas pelanggaran yang dilakukan oleh produsen Sari Tebu Murni Rajanya Tebu seperti peringatan secara tertulis atau tindakan tegas lainnya sesuai pasal 61 paada PP No. 69 tahun 1999 tersebut. Purwantyastuti (2009) menyatakan negara, dalam hal ini BPOM dan Depkes, berperan melindungi masyarakat dari kesalahan penggunaan obat dan makanan. Kesalahan penggunaan dapat terjadi pada saat manfaat tidak sesuai dengan klaim dan pada saat efek samping atau keamanan pemakaian tidak jelas. Beberapa produk pangan umumnya mencantumkan klaim-klaim kesehatan pada label produk. Produk makanan yang bukan merupakan obat umumya tidak bisa dinyatakan dapat menyembuhkan penyakit karena memiliki cara kerja yang berbeda pada tubuh. Pencantuman klaim kesehatan pada produk pangan harus sesuai dengan perauran UU No. 7 1996 tentang pangan dan PP No. 69 1999 tentang label dan iklan pangan menganai standar label produk yang harus

dipenuhi. Produsen pada tubuh belum dapat membuktikan klaim gizi dan kesehatan yang dicantumkan pada setiap produk secara teruji melainkan hanya penjabaran dari fungsi zat gizi yang digunakan pada produk tersebut. 3. Kasus Klaim Kesehatan pada Buah Merah Saat ini minyak buah merah di klaim dapat menyembuhkan berbagai penyakit, diantaranya Stroke, jantung dan pembuluh darah. Namun, karena begitu hebatnya khasiat buah merah bagi berbagai penyakit telah dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk serta merta mengeksploitasinya untuk kepentingan pribadi, tanpa memikirkan bahwa tanpa proses yang benar suplemen ini bukannya menyembuhkan tapi justru menjadi racun yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Saat ini minyak buah merah di klaim dapat menyembuhkan berbagai penyakit, diantaranya Stroke, jantung dan pembuluh darah. Namun, karena begitu hebatnya khasiat buah merah bagi berbagai penyakit telah dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk serta merta mengeksploitasinya untuk kepentingan pribadi, tanpa memikirkan bahwa tanpa proses yang benar suplemen ini bukannya menyembuhkan tapi justru menjadi racun yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Dr Farida A Djalil Ketua Yastroki Cabang DKI Jakarta mengatakan, mengingat khasiat buah merah yang begitu hebat, karena salah satunya dapat menyembuhkan stroke, sehingga dapat dimanfaatkan oleh penderita stroke yang saat ini jumlahnya terus meningkat. Meski belum ada uji klinis namun berdasarkan uji empiris khasiatnya sudah cukup teruji. Yastroki DKI menjembatani antara penemu buah merah Drs I Made Budi,M.S dengan Insan Paska Stroke (IPS) agar para IPS dan masyarakat yang ingin mencoba khasiat buah merah tidak terjebak dengan banyaknya buah merah yang dipasarkan dengan berbagai label, tapi hanya mengkonsumsi buah merah produksi I Made Budi,M.S. Berdasarkan penelitian yang dilakukan I Made Budi, buah merah mengandung zat-zat gizi bermanfaat atau senyawa aktif dalam kadar tinggi, diantaranya betakaroten, tokoferol, serta asam lemak seperti asal oleat, asam lenoleat, dan asam dekanoat. Bukan hanya itu buah merah juga mengandung omega-9 dan omega-3 dalam dosis tinggi. Sebagai asam lemak tak jenuh, buah merah mudah dicerna dan diserap sehingga memperlancar proses metabolisme. Lancarnya metabolisme dalam tubuh sangat membantu proses penyembuhan penyakit, sebab tubuh mendapat asupan protein yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Asam lemak yang terkandung dalam buah merah merupakan antibiotik dan anti virus. Asam lemak aktif melemahkan dan meluruhkan membran lipida virus serta mematikannya. Bahkan, virus tak diberi kesempatan untuk membangun struktur baru sehingga tak mampu melakukan regenerasi. Senyawa oksidan dan betakaroten yang terkandung dalam buah merah juga mampu menetralisir zat-zat radikal bebas dalam tubuh, yang merupakan sumber pemicu timbulnya berbagai penyakit, terutama penyakit degeneratif.Bukan hanya itu Betakaroten yang terkandung dalam buah merah dapat digunakan untuk mencegah serangan stroke, jantung koroner, dan kanker. Betakaroten berfungsi untuk memperlambat berlangsungnya penumpukan flek pada arteri sehingga

aliran darah, baik ke jantung maupun ke otak, bisa berlangsung lancar tanpa sumbatan. Betakaroten juga berfungsi untuk meningkatkan kekebalan tubuh karena adanya interaksi vitamiun A dengan protein (asam-asam amino) yang berfungsi dalam pembentukan antibodi. Suatu studi membuktikan bahwa mengkonsumsi betakaroten 30-60 mg/hari selama dua bulan akan membuat tubuh memiliki selsel pembunuh alami lebih banyak serta sel-sel T-helpers dan limposit yang lebih aktif. Bertambahnya sel-sel pembunuh alami sangat penting untuk melawan selsel kanker dan mengendalikan radikal bebas yang sangat mengganggu kesehatan. Sumber: http://www.yastroki.or.id 3.1 Analisis Klaim kesehatan adalah pernyataan yang menunjukkan adanya hubungan antara zat gizi atau senyawa lain dalam produk pangan dan penyakit atau kondisi kesehatan lainnya. Hal yang perlu diingat adalah produk pangan bukanlah obat, dan tidak boleh direpresentasikan sebagai obat. Produk pangan tidak boleh memberikan klaim bisa mengobati suatu penyakit. Produsen seringkali memakai klaim kesehatan yang berlebihan agar produknya dapat laku. Hal ini dapat dilihat dari klaim kesehatan buah merah yang belum diteliti dengan spesifik namun telah diklaim oleh banyak pihak yang tidak bertanggung jawab. Klaim kesehatan hanya dapat digunakan pada produk pangan biasa (konvensional) maupun pangan suplemen. Peraturan menganai pelabelan dan iklan pangan (PP 69 Bab II tahun1999) secara umum menyatakan bahwa produk pangan bukan obat hanya diperbolehkan pada hal-hal yang didukung oleh fakta ilmiah yang dapat dipertangggungjawabkan (telah mendapatkan significant scientific agreement dari masyarakat ilmiah) untuk senyawa tertentu, kandungan ambang signifikannya perlu diperhatikan sehingga manfaat kesehatannya dapat dijamin, serta yang paling penting diketahui oleh konsumen adalah klaim kesehatan tidak diperbolehkan pada produk pangan yang mengandung total lemak, lemak jenuh, kolesterol, dan sodium tinggi (Siagian 2009). Produsen produk buah merah belum dapat membuktikan klaim gizi dan kesehatan yang dicantumkan pada setiap produk secara teruji melainkan hanya penjabaran dari fungsi zat gizi yang digunakan pada produk tersebut. Hal tersebut bertentangan dengan PP No. 69 tahun 1999 pasal 6 dan pasal 7 yang menyatakan bahwa Pencantuman pernyataan tentang manfaat pangan bagi kesehatan dalam Label hanya dapat dilakukan apabila didukung oleh fakta ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan pada Label dilarang dicantumkan pernyataan atau keterangan dalam bentuk apapun bahwa pangan yang bersangkutan dapat berfungsi sebagai obat dan dilarang mencantumkan logo atau identitas lembaga yang melakukan analisis terhadap produk tersebut. Pasal 61 pada PP No. 69 tahun 1999 setiap orang yang melanggar ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah ini dikenakan tindakan administratif meliputi peringatan secara tertulis, larangan untuk mengedarkan untuk sementara waktu dan atau perintah untuk menarik produk pangan dari peredaran, pemusnahan pangan jika terbukti membahayakan kesehatan dan jiwa manusia, penghentian produksi untuk sementara waktu, pengenaan denda paling tinggi Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah), dan atau

pencabutan izin produksi atau izin usaha. Berdasarkan pasal ini pemerintah dapat melakukan tindakan atas pelanggaran yang dilakukan oleh produsen minyak buah merah seperti peringatan secara tertulis atau tindakan tegas lainnya sesuai pasal 61 paada PP No. 69 tahun 1999 tersebut. Purwantyastuti (2009) menyatakan negara, dalam hal ini BPOM dan Depkes, berperan melindungi masyarakat dari kesalahan penggunaan obat dan makanan. Kesalahan penggunaan dapat terjadi pada saat manfaat tidak sesuai dengan klaim dan pada saat efek samping atau keamanan pemakaian tidak jelas.

4. Produk Dengan Kesalahn Klaim Kesehatan Pada Label Yang Beredar Di Pasaran Salah satu produk yang memiliki klaim kesehatan yang salah adalah produk pangan dengan nama Honey Kids yang merupakan produk Madu dengan vortifikasi Royal jelly. Produk tersebut mencantumkan beberapa klaim kesehatan diantaranya dapat merangsang pertumbuhan dan kecerdasan otak, meningkatkan nafsu makan, meningkatkan daya tahan tubuh, mengobati sariawan, mengobati luka bakar, mengobati demam dan panas dalam. Hal tersebut bertentangan dengan PP No. 69 tahun 1999 pasal 6 dan pasal 7 yang menyatakan bahwa Pencantuman pernyataan tentang manfaat pangan bagi kesehatan dalam Label hanya dapat dilakukan apabila didukung oleh fakta ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan pada Label dilarang dicantumkan pernyataan atau keterangan dalam bentuk apapun bahwa pangan yang bersangkutan dapat berfungsi sebagai obat dan dilarang mencantumkan logo atau identitas lembaga yang melakukan analisis terhadap produk tersebut. Kemasan produk Honey Kids disajikan pada Gambar 1.

Gambar 4 Kemasan produk Honey Kids Klaim kesehatan yang salah pada produk pangan yaitu salah satunya klaim kesehatan yang menyesatkan, dan mengelabui konsumen. Salah satu contohnya adalah pada produk dengan nama dagang Sari Bubuk Kedelai Instan Cap Kedelai

Mas, diketahui bahwa dalam kemasan produk tersebut terdapat klaim non kolesterol. Hal ini jelas kurang tepat karena kolesterol hanya diperoleh dari lemak hewani, sedangkan kedelai merupakan produk nabati. Bagian belakang dari kemasan juga ditemukan klaim kesehatan lainnya yaitu produk tersebut dapat mencegah berbagai penyakit seperti mengurangi resiko terkena penyakit jantung, diabetes, ginjal, dan dapat mengatasi tekanan darah tinggi serta menurunkan kolesterol Kasus penyimpangan klaim kesehatan ini juga tidak sesuai dengan PP No. 69 tahun 1999. Hariyadi (2005) menyatakan bahwa Klaim kesehatan adalah pernyataan yang menunjukkan adanya hubungan antara zat gizi atau senyawa lain dalam produk pangan dan penyakit atau kondisi kesehatan lainnya. Produk pangan bukanlah obat, dan tidak boleh direpresentasikan sebagai obat. Produk pangan tidak boleh memberikan klaim bisa mengobati suatu penyakit. Maka dikaitkan dengan produk Sari Bubuk Kedelai, jelas dalam produk tersebut terdapat penyimpangan klaim kesehatan. Kemasan produk Sari Bubuk Kedelai cap Kedelai Mas tersaji pada Gambar 5.

Gambar 5 Kemasan produk Sari Bubuk Kedelai cap Kedelai Mas Klaim kesehatan yang salah juga ditunjukkan oleh produk Kunir Asam. Produk ini mencantumkan klaim yaitu membantu memperbaiki peredaran darah dan membantu melancarkan haid serta membantu meredakan nyeri haid. Produk Kunir Asam mencantumkan klaim tanpa ada dukungan dari fakta ilmiah bahwa kandungan yang terdapat pada Kunir Asam mampu membuktikan klaim yang dicantumkan pada label produk tersebut. Produk ini juga tidak mencantumkan secara spesifik komponen apa saja yang menyebabkan adanya klaim kesehatan seperti pada produk tersebut. Klaim tersebut sudah jelas salah dan melanggar PP No. 69 tahun 1999 pasal 6 dan pasal 7 yang berisi Pencantuman pernyataan tentang manfaat pangan bagi kesehatan dalam Label hanya dapat dilakukan apabila didukung oleh fakta ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan pada Label dilarang dicantumkan pernyataan atau keterangan dalam bentuk apapun bahwa pangan yang bersangkutan dapat berfungsi sebagai obat dan dilarang mencantumkan logo atau identitas lembaga yang melakukan analisis terhadap produk tersebut. Kemasan produk Kunir Asam disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6 Kemasan produk Kunir Asam KESIMPULAN Pelanggaran terhadap pelabelan mengenai klaim kesehatan masih terjadi dengan indikasi masih ditemukannya makanan tidak terdaftar BPOM di pasaran sehingga tidak terawasi kualitas dan pelabelannya. Survei yang dilakukan oleh U.S Food and Drug Administration pada tahun 2000-2001 terhadap pangan olahan yang dikemas, diketahui bahwa klaim kesehatan tercantum pada 4,4% kemasan, klaim kandungan gizi tercantum pada 49,7% kemasan. Cara mengatasi pelanggaran klaim kesehatan pada label pangan dapat dilakukan dari sisi pemerintah yaitu mengambil tindakan terhadap penipu klaim kesehatan pada label pangan. Pemerintah (BPOM) mengklarifikasi atau meminta pembuktian dari produsen mengenai manfaat kesehatan yang diklaim. Usaha untuk meningkatkan pengetahuan mengenai klaim-klaim kesehatan pada label makanan yang salah perlu dilakukan agar masyarakat dapat lebih selektif dan tidak mudah percaya pada klaim-klaim kesehatan yang berlebihan.

REFERENSI [FDA] Food and Drug Administration. 2002. Food label and package survey 2000-2001. http://www.fda.gov [28 November 2011] Hariyadi P. 2005. Mencermati label dan iklan pangan. http://web.ipb.ac.id [28 November 2011] [HSA] Health Sciences Authority. 2011. Health supplement guidelines. http://www.hsa.gov.sg [28 November 2011] Purwantyastuti. 2009. Kajian khasiat dan keamanan daerah abu-abu antara obat dan makanan: bagaimana kebenaran disampaikan? Majalah Kedokteran Indonesia 59(6):243-250 Siagian A. 2009. Kebijakan peningkatan melek gizi untuk perbaikan status gizi masyarakat di Indonesia. Jurnal Inovasi, 6(3) 213-218.

Winarti C dan Nurdjanah N. 2005. Peluang tanaman rempah dan obat sebagai sumber pangan fungsional. Jurnal Litbang pertanian 24(2):47-55