Anda di halaman 1dari 43

# 6.

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................i DAFTAR GAMBAR.................................................................................................i DAFTAR TABEL.....................................................................................................ii 6. PEMELIHARAAN TRAFO ARUS (CT) DAN TRAFO TEGANGAN (PT)..............................................................................3 PEMELIHARAAN TRAFO ARUS......................................................................3 6.2 TRAFO TEGANGAN (POTENTIAL TRANSFORMER / PT)......................26 6.3 BATASAN BATASAN OPERASI TRAFO PENGUKURAN...................40

DAFTAR GAMBAR

Gambar 6-1. Rangkaian pada Trafo Arus..............................................................3 Gambar 6-2. Rangkaian Ekivalen...........................................................................4 Gambar 6-3. Diagram Fasor Arus dan Tegangan pada Trafo Arus.......................5 Gambar 6-4. Kurva kejenuhan CT untuk Metering dan Proteksi............................6 Gambar 6-5. Luas Penampang Inti Trafo Arus.......................................................6 Gambar 6-6. Bar Primary........................................................................................7 Gambar 6-7. Wound Primary..................................................................................8 Gambar 6-8. Trafo Arus Pemasangan Luar Ruangan.........................................10 Gambar 6-9. Trafo Arus Pemasangan Dalam Ruangan......................................10 Gambar 6-10. Trafo Arus Rasio Tunggal 150 300 / 5 5 A..............................11 Gambar 6-11. Trafo Arus Rasio Ganda 800-1600 / 5-5-5 A dan 1000-2000 /5 A 11 Gambar 6-12. Trafo Arus dengan 2 Inti................................................................12 Gambar 6-13. Trafo Arus dengan 4 Inti................................................................13 Gambar 6-14. Hubungan Paralel dan Seri pada Trafo Arus................................13 Gambar 6-15. Trafo Arus Multi Rasio/Sekunder Tap...........................................14 Gambar 6-16. Kesalahan Sudut Trafo Arus.........................................................16 Gambar 6-17. Kurva Faktor Batas Ketelitian........................................................18 Gambar 6-18. Rangkaian Pengujian Rasio Trafo Arus........................................20 Gambar 6-19. Rangkaian pengujian beban trafo arus.........................................21 Gambar 6-20. Rangkaian Pengujian Beban Trafo Arus.......................................22 Gambar 6-21. Rangkaian Uji Saturasi Trafo Arus................................................22 Gambar 6-22. Kurva Kejenuhan Trafo Arus.........................................................23 Gambar 6-23. Rangkaian Uji Polaritas Trafo Arus...............................................23 Gambar 6-24. Rangkaian Pengukuran Tahanan DC Trafo Arus.........................24 Gambar 6-25. Rangkaian Pengukuran Tahanan Isolasi Trafo Arus....................25 Gambar 6-26. Rangkaian Pengganti Trafo Tegangan.........................................26 Gambar 6-27. Rangkaian Ekivalen Trafo Tegangan............................................27 Gambar 6-28. Konstruksi Trafo Tegangan Induktif..............................................29 Gambar 6-29. Konstruksi Trafo Tegangan Kapasitif............................................31 Gambar 6-30. Rangkaian Ekivalen CVT..............................................................33 Gambar 6-31. Rangkaian Pengujian Rasio Trafo Tegangan...............................37 Gambar 6-32. Rangkaian Pengujian Tahanan Isolasi..........................................38 Gambar 6-33. Rangkaian Pengujian Tangen Delta pada CVT............................39
Berbagi dan menyebarkan ilmupengetahuan serta nilai-nilai i

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

DAFTAR TABEL

Tabel 6-1. Batas Kesalahan Trafo Arus Metering................................................17 Tabel 6-2. Batas Kesalahan Trafo Arus Metering................................................17 Tabel 6-3. Kesalahan Rasio dan Pergeseran Fasa Trafo Arus Proteksi...........18 Tabel 6-4. Batas Kesalahan Trafo Tegangan Pengukuran.................................35 Tabel 6-5. Batas Kesalahan Trafo Tegangan Proteksi........................................35 Tabel 6-6. Jadwal pengujian Minyak Isolasi CT/PT/CVT.....................................40 Tabel 6-7. Batasan Pemasangan Spark Gap pada Bushing (Standar VDE 0111/12.66)...........................................................................................................40 Tabel 6-8. Batasan hasil uji tahanan isolasi Minyak CT/PT/CVT (Standar IEC-156)41 Tabel 6-9. Batasan Hasil Pengukuran Tahanan Isolasi Rangkaian Sekunder CT/PT/CVT (Standar IEEE 43-2000)....................................................................41 Tabel 6-10. Batasan Jarak Rayap Bushing Isolator (Standar IEC-44.1)..............42

ii

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

## 6. PEMELIHARAAN TRAFO ARUS (CT) DAN TRAFO TEGANGAN (PT)

PEMELIHARAAN TRAFO ARUS 6.1.1 Definisi dan Fungsi Sistem pengukuran besaran listrik pada jaringan tenaga listrik yang berkapasitas besar, harus menggunakan trafo pengukuran, yaitu trafo arus (current transformer) untuk besaran arus dan trafo tegangan (potential transformer) untuk besaran tegangan dan merubahnya menjadi besaran pengukuran (sekunder). Dengan besaran sekunder ini, maka peralatan ukur (meter dan proteksi) dapat dirancang lebih fleksibel, sehingga hasil pengukurannya lebih akurat dan presisi. Trafo arus adalah trafo yang dirancang khusus untuk fungsi pengukuran arus pada rangkaian primer dan mengkonversinya menjadi besaran sekunder. Fungsi trafo arus (CT) Mengkonversi besaran arus pada sistem tenaga listrik dari besaran primer menjadi besaran sekunder untuk keperluan sistem metering dan proteksi. Mengisolasi rangkaian sekunder terhadap rangkaian primer. Standarisasi besaran sekunder, yaitu 1 A, 2 A dan 5 A. 6.1.2 Prinsip Kerja Trafo Arus Prinsip kerja trafo arus adalah sebagai berikut : N1 P1 I1 S2
Gambar 6-1. Rangkaian pada Trafo Arus

N2 P2 S1 I2

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

Untuk trafo yang dihubung singkat: I1 N1 = I 2 N 2 Untuk trafo pada kondisi tidak berbeban: E1 N 1 = E2 N 2 Dimana: a= N1 , N2

I 1 > I 2 sehingga N 1 < N 2 , N 1 = jumlah lilitan primer, dan N 2 = jumlah lilitan sekunder. Adapun rangkaian ekivalen trafo arus adalah sebagai berikut : I1Z1 I2Z2

U1

I0

E2

I2

I2Zb = U2

## Gambar 6-2. Rangkaian Ekivalen

Tegangan induksi pada sisi sekunder adalah E 2 = 4,44 B A f N 2 Volt Tegangan jepit rangkaian sekunder adalah E 2 = I 2 ( Z 2 + Z b ) Volt Z b = Z kawat + Z inst Volt Dalam aplikasinya harus dipenuhi U 1 > U 2 Dimana: B A f N2 = kerapatan fluksi (tesla), = luas penampang (m), = frekuensi (Hz), = jumlah lilitan sekunder,

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

U1 U2 Zb

= tegangan sisi primer, = tegangan sisi sekunder, = impedansi/tahanan beban trafo arus,

Z kawat = impedansi/tahanan kawat dari terminasi CT ke instrumen, dan Z inst = impedansi/tahanan internal instrumen, misalnya relai proteksi atau peralatan meter. Diagram Fasor Arus dan Tegangan pada Trafo Arus (CT)

U1

I1 Z1 I2 Z2 U2 I2 IO I1

IO Im

Gambar 6-3. Diagram Fasor Arus dan Tegangan pada Trafo Arus

6.1.3 Aplikasi Trafo Arus Berdasarkan penggunaan, trafo arus dikelompokkan menjadi dua kelompok dasar, yaitu; trafo arus metering dan trafo arus proteksi. a. Trafo arus metering Trafo arus pengukuran untuk metering memiliki ketelitian tinggi pada daerah kerja (daerah pengenalnya) antara 5% - 120% arus nominalnya, tergantung dari kelas dan tingkat kejenuhan. Tingkat kejenuhan trafo arus metering relatif lebih rendah dibandingkan trafo arus proteksi. Penggunaan trafo arus pengukuran untuk Amperemeter, Watt-meter, VARh-meter, Energi meter dan cos meter. b. Trafo Arus Proteksi

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

Trafo arus proteksi memiliki ketelitian tinggi sampai arus yang besar yaitu pada saat terjadi gangguan, dimana arus yang mengalir mencapai beberapa kali dari arus pengenalnya dan trafo arus proteksi mempunyai tingkat kejenuhan cukup tinggi. Penggunaan trafo arus proteksi untuk relai arus lebih (OCR dan GFR), relai beban lebih, relai diferensial, relai daya dan relai jarak. Perbedaan mendasar trafo arus pengukuran dan proteksi adalah pada titik saturasinya seperti pada kurva saturasi dibawah (Gambar 6-4).

proteksi

metering I
Gambar 6-4. Kurva kejenuhan CT untuk Metering dan Proteksi

Trafo

arus

untuk

metering

dirancang

supaya

lebih

cepat

jenuh

dibandingkan trafo arus proteksi sehingga konstruksinya mempunyai luas penampang inti yang lebih kecil (Gambar 6-5). CT Metering
A2 A1

CT Proteksi

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

6.1.4 Klasifikasi Arus Lebih 6.1.4.1 Trafo Arus Berdasarkan Konstruksi Belitan Primer Berdasarkan konstruksi belitan primer trafo arus terbagi menjadi dua seperti pada Gambar 6-6 dan Gambar 6-7 berikut. a. Sisi primer batang (bar primary) dan

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

## Gambar 6-7. Wound Primary

6.1.4.2 Trafo Arus Berdasarkan Kontruksi Jenis Inti Berdasarkan konstruksi jenis inti, trafo arus dibagi menjadi dua kelompok: a. pada arus Trafo arus dengan inti besi yang kecil (jauh dibawah nilai nominal) terdapat Trafo arus dengan inti besi adalah trafo arus yang umum digunakan, kecenderungan kesalahan dan pada arus yang besar (beberapa kali nilai nominal) trafo arus akan mengalami saturasi. b. Trafo arus dengan inti bukan besi Trafo arus dengan inti bukan besi tidak memiliki saturasi dan rugi histerisis, transformasi dari besaran primer ke besaran sekunder adalah linier di seluruh jangkauan pengukuran, contohnya adalah koil rogowski (rogowski coil ).

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

6.1.4.3 Trafo Arus Berdasarkan Jenis Isolasi Berdasarkan jenis isolasinya, trafo arus dibagi menjadi dua kelompok: a. Trafo arus isolasi minyak Trafo arus isolasi minyak banyak digunakan pada pengukuran arus tegangan tinggi, umumnya digunakan pada pasangan di luar ruangan (outdoor) misalkan trafo arus tipe bushing yang digunakan pada pengukuran arus penghantar tegangan 70 kV dan 150 kV. b. Trafo arus kering Trafo arus kering biasanya digunakan pada tegangan menengah, umumnya digunakan pada pasangan dalam ruangan (indoor) misalnya trafo arus cast resin, trafo arus tipe cincin yang digunakan pada kubikel penyulang 20 kV. 6.1.4.4 Trafo Arus Berdasarkan Pemasangan Berdasarkan lokasi pemasangannya, trafo arus dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: a. Trafo arus pemasangan luar ruangan (outdoor) Trafo arus pemasangan luar ruangan memiliki konstruksi fisik yang kokoh, isolasi yang baik, biasanya menggunakan isolasi minyak untuk rangkaian elektrik internal dan bahan keramik/porcelain untuk isolator eksternal.

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

b.

## Trafo arus pemasangan dalam ruangan (indoor)

Trafo arus pemasangan dalam ruangan biasanya memiliki ukuran yang lebih kecil dari pada trafo arus pemasangan luar ruangan, menggunakan isolator dari bahan resin.

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

6.1.4.5 Trafo Arus Berdasarkan Rasio Transformasi a. 5 A. P1 P2 300/5 A 300/5 A Rasio tunggal (single ratio)

Contoh rasio trafo arus: 150 300 / 5 A, 150 300 / 5 5 A 400 800 1600 / 5 A, 400 800 1600 / 5 5

1S1

1S2

2S1

2S2

b.

## Rasio ganda (double ratio)

Contoh rasio trafo arus: 150 300 / 5 A dan 1000 2000 / 5 A, 800 1600 / 5 A dan 1000 2000 / 5 A.

P1

P2

1S1

## 1S2 2S1 2S2 3S1 3S 4S 4S2 1 2

Gambar 6-11. Trafo Arus Rasio Ganda 800-1600 / 5-5-5 A dan 1000-2000 /5 A

6.1.4.1 Trafo arus berdasarkan jumlah inti pada sekunder a. Trafo arus dengan inti tunggal (single core)

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

b.

## Trafo arus dengan inti banyak (multi core)

Trafo arus dengan inti banyak dirancang untuk berbagai keperluan yang mempunyai sifat pengunaan yang berbeda dan untuk menghemat tempat. Contoh: Trafo arus 2 (dua) inti 150 300 / 5 5 A (Gambar 10). Penandaan primer: P1-P2 Penandaan sekunder inti ke-1: 1S1-1S2 (untuk metering) Penandaan sekunder inti ke-2: 2S1-2S2 (untuk proteksi)

P1

P2 300/5 A 300/5 A

1S1

1S2

2S1

2S2

## Gambar 6-12. Trafo Arus dengan 2 Inti

Trafo arus 4 (empat) inti 800 1600 / 5 5 5 5 A (Gambar 6-13). Penandaan primer: P1-P2 Penandaan sekunder inti ke-1: 1S1-1S2 (untuk metering) Penandaan sekunder inti ke-2: 2S1-2S2 (untuk relai arus lebih) Penandaan sekunder inti ke-3: 3S1-3S2 (untuk relai jarak) Penandaan sekunder inti ke-4: 4S1-4S2 (untuk proteksi rel) Trafo arus 4 (empat) inti 800 1600 / 5 5 5 5 A P1 P2 1600/5 A 1600/5 A 1600/5 A 1600/5 A 1S1 1S2 2S1 2S2 3S1 3S2 4S1 4S2

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

## Gambar 6-13. Trafo Arus dengan 4 Inti

6.1.4.2 Trafo arus berdasarkan pengenal Trafo arus memiliki dua pengenal, yaitu pengenal primer dan sekunder. Pengenal primer yang biasanya dipakai adalah 150, 200, 300, 400, 600, 800, 900, 1000, 1200, 1600, 1800, 2000, 2500, 3000 dan 3600. Pengenal sekunder yang biasa dipakai adalah 1 A, 2 A dan 5 A. Berdasarkan pengenalnya, trafo arus dapat dibagi menjadi: a. Trafo arus dengan dua pengenal primer Primer paralel Contoh: CT dengan rasio 800 1600 / 1 A. Untuk hubungan primer paralel, maka didapat rasio CT 600 / 5 A, (Gambar 6-14). P1 P2 P2

P1

S1

S2

S1

S2

Hubung Paralel

Hubung Seri

## Gambar 6-14. Hubungan Paralel dan Seri pada Trafo Arus

Primer seri Contoh: CT 800 1600 / 1 A Untuk hubungan primer seri, maka didapat rasio CT 800 / 1 A, (lihat Gambar 6-14). b. Trafo arus multi rasio/sekunder tap

Trafo arus multi rasio memiliki rasio tap yang merupakan kelipatan dari tap yang terkecil, umumnya trafo arus memiliki dua rasio tap, namun ada juga yang memiliki lebih dari dua tap (lihat Gambar 6-15). Contoh: Trafo arus dengan dua tap: 300 600 / 5 A Pada Gambar 13.a., S1-S2 = 300 / 5 A, S1-S3 = 600 / 5 A. Trafo arus dengan tiga tap: 150 300 600 / 5 A

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

## Pada Gambar 13.b., S1-S2 = 150 / 5 A, S1-S3 = 300 / 5 A, S1-S4 = 600 / 5 A. P1 P2 P1 P2

CT Sekunder 2 Tap

S1

S2

S3

S1

S2

S3

S4

CT Sekunder 3 Tap

## Gambar 6-15. Trafo Arus Multi Rasio/Sekunder Tap

6.1.5 Pengenal (Rating) Trafo Arus 6.1.5.1 Pengenal Beban (Rated Burden) Pengenal beban adalah pengenal dari beban trafo arus dimana akurasi trafo arus masih bisa dicapai dan dinyatakan dalam satuan VA. Umumnya bernilai 2.5, 5, 7.5, 10, 15, 20, 30 dan 40 VA. 6.1.5.2 Pengenal Arus Kontinyu (Continuous Rated Current) Pengenal arus kontinu adalah arus primer maksimum yang diperbolehkan mengalir secara terus-menerus (arus nominal). Umumnya dinyatakan pada pengenal trafo arus, contoh: 300 / 5 A. 6.1.5.3 Pengenal Arus Sesaat (Instantaneous Rated Current) Pengenal arus sesaat atau sering disebut short time rated current adalah arus primer maksimum (dinyatakan dalam nilai rms) yang diperbolehkan mengalir dalam waktu tertentu dengan sekunder trafo arus terhubung singkat sesuai dengan tanda pengenal trafo arus (nameplate), contoh: Ith = 31.5 kA / 1 s. 6.1.5.4 Pengenal Arus Dinamik (Dynamic Rated Current) Pengenal arus dinamik adalah perbandingan I peak I rated , dimana Ipeak adalah arus

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

kerusakan dan Irated adalah arus nominal primer trafo arus, contoh: Idyn = 40 kA. 6.1.6 Kesalahan Trafo Arus Pada trafo arus dikenal 2 jenis kesalahan, yaitu: Kesalahan perbandingan/rasio Kesalahan perbandingan/rasio trafo arus berdasarkan IEC185/1987 adalah kesalahan besaran arus karena perbedaan rasio pengenal trafo arus dengan rasio sebenarnya dinyatakan dalam: KT I S I P 100% , IP = kesalahan rasio trafo arus (%), = pengenal rasio trafo arus, = arus primer aktual trafo arus (A), dan = arus sekunder aktual trafo arus (A)

dimana

KT IP IS

6.1.6.1 Kesalahan Sudut Fasa Kesalahan sudut fasa adalah kesalahan akibat pergeseran fasa antara arus sisii primer dengan arus sisi sekunder. Kesalahan sudut fasa akan memberikan pengaruh pada pengukuran berhubungan dengan besaran arus dan tegangan, misalnya pada pengukuran daya aktif maupun daya reaktif, pengukuran energi dan relai arah. Kesalahan sudut fasa dibagi menjadi dua nilai, yaitu: Bernilai positif (+) jika sudut fasa IS mendahului IP Bernilai negatif () jika sudut fasa IS tertinggal IP

IS

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

## Gambar 6-16. Kesalahan Sudut Trafo Arus

6.1.7 Kesalahan Komposit (Composite Error) Kesalahan komposit (%) berdasarkan IEC 185 merupakan nilai rms dari kesalahan trafo arus yang ditunjukkan oleh persamaan berikut: 1 1 2 EC = ( K T i S i P ) dt 100% , IP T 0 dimana : EC IP T KT iS iP = kesalahan komposit (%), = arus primer (A), = periode (detik), = pengenal rasio trafo arus, = arus sesaat sekunder (A), dan = arus sesaat primer (A).
T

6.1.8 Ketelitian/Akurasi Trafo Arus Ketelitian trafo arus dinyatakan dalam tingkat kesalahannya. Semakin kecil kesalahan sebuah trafo arus, semakin tinggi tingkat ketelitian/akurasinya. 6.1.8.1 Batas Ketelitian Arus Primer (Accuracy Limit Primary Current) Batas ketelitian arus primer adalah batasan kesalahan arus primer minimum dimana kesalahan komposit dari trafo arus sama atau lebih kecil dari 5% atau 10% pada saat sekunder dibebani arus pengenalnya. 6.1.8.2 Faktor Batas Ketelitian (Accuracy Limit Factor / ALF) Faktor batas ketelitian disebut juga faktor kejenuhan inti adalah batasan perbandingan nilai arus primer minimum terhadap arus primer pengenal dimana kesalahan komposit dari trafo arus sama atau lebih kecil dari 5% atau 10% pada sekunder yang dibebani arus pengenalnya. ALF merupakan perbandingan dari Contoh: I primer I rated

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

CT 5P20 dengan rasio 300 / 1 A, artinya accuracy limit factor (ALF) = 20, maka batas ketelitian trafo arus tersebut adalah : 5% pada nilai 20 x Arus pengenal primer atau 5% * 300 A pada pengukuran arus primer 20 * 300 A, atau 15 A pada pengukuran arus primer 6000 A. 6.1.8.3 Kelas Ketelitian Trafo Arus Metering Trafo arus metering memiliki ketelitian tinggi untuk daerah pengukuran sampai 1,2 kali nominalnya. Daerah kerja trafo arus metering antara : 0.1 1.2 x IN trafo arus. Kelas ketelitian trafo arus metering dinyatakan dalam prosentase kesalahan rasio pengukuran baik untuk arus maupun pergeseran sudut fasa, seperti pada Tabel 6-1 dan Tabel 6-2 di bawah ini.
Tabel 6-1. Batas Kesalahan Trafo Arus Metering
K el as Ketel i ti an 5 0 ,1 0 ,2 0 ,5 1 ,0 0,4 0,75 1,5 3,0 +/ - % Kes al ahan R as i o Ar us pada % dar i Ar us P engenal 20 0,2 0,35 0,75 1,5 100 0,1 0,2 0,5 1,0 120 0,1 0,2 0,5 1,0 +/ - P er ges er an F as e pada % dar i Ar us P engenal M eni t ( 1 / 6 0 der ajat) 5 15 30 90 180 20 8 15 45 90 100 5 10 30 60 120 5 10 30 60

## Tabel 6-2. Batas Kesalahan Trafo Arus Metering

Kelas Ketelitian 1 0,2S 0,5S 0,75 1,5 +/ - % Kesalahan Rasio Arus pada % dari Arus Pengenal 5 0,35 0,75 20 0,2 0,5 100 0,2 0,5 120 0,2 0,5 +/ - Pergeseran Fase pada % dari Arus Pengenal Menit (1/ 60 derajat) 1 30 90 5 15 45 20 10 30 100 10 30 120 10 30

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

x IS 10 8 6 4 2 2 4 x IP 6 8 10 12

5
Gambar 6-17. Kurva Faktor Batas Ketelitian

6.1.8.4 Kelas Ketelitian Trafo Arus Proteksi a. Kelas P Kelas ketelitian trafo arus proteksi dinyatakan dalam pengenal sebagai berikut: 15 VA, 10P20. 15 VA = Pengenal beban (burden) trafo arus, sebesar 15 VA. 10 P = Kelas proteksi, kesalahan 10 % pada pengenal batas akurasi. 20 = Accuracy Limit Factor, batas ketelitian trafo arus s.d. 20 kali arus pengenal.
Tabel 6-3. Kesalahan Rasio dan Pergeseran Fasa Trafo Arus Proteksi
Kelas Keteli tian Pada Arus Pengenal Kesalahan Rasio (% ) Kesalahan Sudut (menit) Kesalahan Komposi t pada batas keteliti an Arus Primer Pengenal (% )

5P 10P

1 3

60 -

5 10

b. Kelas TPX, TPY dan TPZ Trafo arus yang mempunyai sirkit tanpa ataupun dengan celah udara serta mempunyai tipikal konstanta waktu sekunder, dikelompokkan sebagai berikut: Kelas TPX (non gapped core) Trafo arus TPX adalah trafo arus tanpa celah udara dengan konstanta waktu lebih lama dari 5 detik, umumnya 5 s.d. 20 detik. Trafo arus jenis ini

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

6.1.9 Pemeliharaan Trafo Arus Lingkup pengujian trafo arus adalah sebagai berikut: 1. Pengujian Rasio, 2. Pengujian Beban, 3. Pengujian Kejenuhan (Saturasi), 4. Pengujian Polaritas, 5. Pengukuran Tahanan DC (R dc), dan 6. Pengukuran Tahanan Isolasi (Megger). 6.1.9.1 Pengujian Rasio Trafo Arus Pengujian rasio CT dilakukan untuk membandingkan rasio transformasi arus primer dan sekunder, apakah sesuai dengan tanda pengenal (nameplate) trafo arus. Pengujian rasio sesuai dengan IK-OPH/CT-03/P3BS/2007.
P1 P2

S1

S2

## Gambar 6-18. Rangkaian Pengujian Rasio Trafo Arus

6.1.9.2 Pengujian Beban (Burden) Trafo Arus Pengujian beban trafo arus dilakukan untuk mengetahui besar kemampuan trafo arus apakah masih sesuai dengan spesifikasi teknis yang tertulis pada tanda pengenal trafo arus. Pengujian beban trafo sesuai dengan IK-OPH/CT-06/P3BS/2007.

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

S1 S2

A V

## Gambar 6-19. Rangkaian pengujian beban trafo arus

6.1.9.3 Pengujian Beban pada Rangkaian Sekunder Trafo Arus Pengujian beban rangkaian sekunder dilakukan untuk mengetahui besar beban yang tersambung pada sekunder trafo arus dibandingkan dengan kemampuan beban trafo arus. Pengujian beban rangkaian sekunder dengan IK-OPH/CT-07/P3BS/2007.

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

Relai
S1 S2

A V

## Gambar 6-20. Rangkaian Pengujian Beban Trafo Arus

6.1.9.4 Pengujian Kejenuhan Trafo Arus (Saturasi) Pengujian kejenuhan trafo arus dilakukan untuk mengetahui tegangan knee (Knee point) terhadap referensi dari tanda pengenal trafo arus dan kurva magnetisasi pada masing-masing inti (core), kemudian dibandingkan dengan kebutuhan persyaratan tegangan pada rangkaian sekunder (Vs) yang ditinjau saat terjadi gangguan hubung singkat maksimum. Pengujian kejenuhan CT sesuai dengan IK-OPH/CT-04/P3BS/2007.

S1 S2

220 V

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

dV = 10%

dI = 50%

## Gambar 6-22. Kurva Kejenuhan Trafo Arus

6.1.9.5 Pengujian Polaritas Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah arah arus (polaritas) dari trafo arus yang terpasang sudah benar. Pengujian polaritas CT sesuai dengan IK-OPH/CT-09/P3BS/2007. Batere i + P1

P2 +
A dc

-m

S1 S2
Gambar 6-23. Rangkaian Uji Polaritas Trafo Arus

6.1.9.6 Pengukuran Tahanan DC (R dc) Pengukuran tahanan DC trafo arus bertujuan untuk mengetahui nilai tahanan DC internal trafo arus. Nilai tahanan DC pada trafo arus biasanya dipakai untuk menghitung setelan pada relai gangguan tanah terbatas (restricted earth fault). Pengukuran tahanan DC sesuai dengan IK-OPH/CT08/P3BS/2007.

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

Pengukuran tahanan isolasi dilakukan pada semua terminal sekunder pada masing-masing inti seperti Gambar 19. m S1 S2 Terminal 1S1 1S2, Terminal 1S1 1S3, Terminal 2S1 2S2, dan Terminal 2S1 2S3.

A -

## Gambar 6-24. Rangkaian Pengukuran Tahanan DC Trafo Arus

6.1.9.7 Pengukuran Tahanan Isolasi Trafo Arus (Megger) Tahanan isolasi yang akan diukur adalah antara: terminal primer (P1/P2) - ground, terminal primer (P1/P2) sekunder (S1/S2), dan terminal sekunder (S1/S2) - ground, secara bergantian. Tegangan uji peralatan (Megger) yang digunakan adalah skala 5000 V untuk sisi primer ( P1 atau P2 - Ground), dan skala 1000-2500 V untuk sisi sekunder ( 1S1 2S1). Pengujian tahanan isolasi sesuai dengan IK-OPH/CT-02/P3BS/2007

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

S1

S2

## Gambar 6-25. Rangkaian Pengukuran Tahanan Isolasi Trafo Arus

Contoh Perhitungan Kejenuhan Inti Diketahui arus hubung singkat maksimum IF max = 7266 A, rasio CT 1000 /5 A dan kelas 10P20, burden 7.5 VA. CT tersebut dihubungkan pada rangkaian relai proteksi dengan nilai tahanan internal RCT = 0.26 , Rrelai = 0.02 , Rkawat = 0.15 Perhitungan untuk relai arus lebih: tegangan pada sisi sekunder CT adalah: VS = I F ( RCT + Rrelai + Rkawat ) Volt VS = 7226 5 ( 0.26 + 0.02 + 0.15) Volt 1000

VS = 15.54 Volt tegangan knee (V knee) CT adalah: VA Vk = I + RCT I n ALF Volt n 7.5 Vk = + 0.26 5 20 Volt 5 Vk = 56 Volt

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

6.2

E1

E2

N1

N2

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

Prinsip kerja trafo tegangan adalah berdasarkan persamaan berikut: E1 N 1 = =a, E2 N 2 dimana: a N1 N2 E1 E2 = perbandingan transformasi dimana N 1 > N 2 , = jumlah lilitan primer, = jumlah lilitan sekunder, = tegangan primer (Volt), dan = tegangan Sekunder (Volt).

Pada dasarnya, prinsip kerja trafo tegangan sama dengan prinsip kerja pada trafo arus. Pada trafo tegangan perbandingan transformasi tegangan dari besaran primer menjadi besaran sekunder ditentukan oleh jumlah lilitan primer dan sekunder. Diagram fasor arus dan tegangan untuk trafo arus juga berlaku untuk trafo tegangan, lihat Gambar 6-3. Diagram Fasor Arus dan Tegangan pada Trafo Arus. Rangkaian ekivalen trafo tegangan adalah :

Vi

Vo

ZB

## Gambar 6-27. Rangkaian Ekivalen Trafo Tegangan

6.2.3 Klasifikasi Trafo Tegangan Menurut Prinsip Kerjanya Menurut prinsip kerjanya, trafo tegangan diklasifikasikan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu: Trafo Tegangan Induktif (inductive voltage transformer atau electromagnetic voltage transformer) Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan 27

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

Trafo tegangan induktif adalah trafo tegangan yang terdiri dari belitan primer dan belitan sekunder dengan prinsip kerja tegangan masukan (input) pada belitan primer akan menginduksikan tegangan ke belitan sekunder melalui inti. Trafo Tegangan Kapasitor (capasitor voltage transformer) Trafo tegangan kapasitif terdiri dari rangkaian kapasitor yang berfungsi sebagai pembagi tegangan dari tegangan tinggi ke tegangan menengah pada primer, selanjutnya diinduksikan ke belitan sekunder. 6.2.3.1 Kontruksi Trafo Tegangan Induktif (Voltage Transformer / VT) Trafo tegangan jenis ini banyak dipakai pada tegangan 12 kV sampai 170 kV. Konstruksi trafo tegangan induktif adalah sebagai berikut:

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

7 6

Keterangan gambar: 1. 2. 5 3. Kertas/Isolasi Minyak Mineral/Quartz filling. Belitan Primer: vernis ganda-isolasi kawat tembaga, tahan pada suhu tinggi. Inti: bukan orientasi listrik baja memperkecil resiko resonansi besi Belitan Sekunder Isolator Keramik Dehydrating Breather Terminal Primer

4. 5. 4 2 3 8 6. 7.

8. Terminal Sekunder

## Gambar 6-28. Konstruksi Trafo Tegangan Induktif

6.2.3.2 Kontruksi Trafo Tegangan Kapasitor (Capacitor Voltage Transformer) Bagian bagian utama CVT : 1). HV.T adalah terminal tegangan tinggi (high voltage terminal) yaitu bagian yang dihubungkan dengan tegangan transmisi baik untuk tegangan bus maupun tegangan penghantar terminal tegangan tinggi/primer.

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

2). C1, C2 adalah kapasitor pembagi tegangan (capacitive voltage divider) yang berfungsi sebagai pembagi tegangan tinggi untuk diubah oleh trafo tegangan menjadi tegangan pengukuran yang lebih rendah. Kapasitansi C2 lebih besar dari C1. Sebagai contoh untuk CCVT 110/3 kV / 100/3 V dengan maksimum tegangan fasa tanah 71 kV, kapasitansi masukan (input capacity) 8.800 pF yang terdiri dari C1 = 20.661 pF, dan C2 = 182.504 pF (C1 dan C2 terhubung seri).

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

1 5 6
1

2
2

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

6.2.3.3 Prinsip kerja CCVT Coupling Capacitive Voltage Transformer (CCVT) digunakan untuk

instrumentasi, khususnya pada peralatan-peralatan meter dan proteksi. Pada umumnya kinerja CCVT sangat baik pada kondisi steady state. Prinsip kerja CCVT adalah menurunkan besaran tegangan primer (150 kV) menjadi besaran tegangan sekunder (100 volt) melalui kapasitor (C1 & C2) yang berfungsi sebagai pembagi tegangan (voltage divider) dan trafo tegangan sebagai penurun tegangan. Keluaran tegangan sekunder dirancang seakurat mungkin sama dengan perbandingan rasio tegangan masukan disisi primer dalam segala kondisi operasi. C1+C2 Lc

Vo

Zb

C1 V i= V p C1 + C 2
Gambar 6-30. Rangkaian Ekivalen CVT

dimana : Vi = tegangan tinggi ekivalen (input), Vp = tegangan tinggi sisi primer CVT, Vo = tegangan keluaran (output), C1 = adalah kapasitor tegangan tinggi, C2 = adalah kapasitor tegangan menengah, Lc = induktansi choke, dan Zb = impedansi beban. N2 Vi Volt, N1 Tegangan keluaran CVT: Vo =

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

Kesalahan pengukuran PT () berdasarkan IEC-186 adalah sebagai berikut: Kesalahan PT didefinisikan sebagai: K T VS V P 100% , VP

=
dimana:

K T = perbandingan rasio pengenal, V P = tegangan primer aktual (Volt), dan VS = tegangan sekunder aktual (Volt). Jika kesalahan trafo tegangan () positif maka tegangan sekunder lebih besar dari nilai tegangan nominal pengenalnya. Jumlah lilitan yang lebih kecil pada pembebanan rendah dan negatip pada pembebanan besar. Selain kesalahan rasio juga terdapat kesalahan akibat pergeseran fasa. Kesalahan ini bernilai positif jika tegangan sekunder mendahului tegangan primer. Untuk pemakaian proteksi akurasi pengukuran tegangan menjadi penting selama kondisi gangguan. Batasan akurasi Trafo Tegangan seperti tabel berikut: dengan pengenal tegangan 0.8 s.d. 1.2 kali dan pengenal beban 0.25 s.d. 1 kali pada faktor daya 0.8.
Tabel 6-4. Batas Kesalahan Trafo Tegangan Pengukuran
Kelas Ketelitian 0,1 0,2 0,5 1,0 3,0 +/ - % Kesalahan Rasio Tegangan pada % dari Tegangan Pengenal 0.1 0.2 0.5 1.0 3.0 +/ - Pergeseran Fase pada Tegangan Pengenal Menit (1/ 60 derajat) 5 10 20 40 tidak ditentukan

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

K el as K etel i ti an 3P 6P

+ / - % Ke s al a han R asi o Tega nga n pada % dar i Tegangan P e ngena l 3.0 6.0

## +/ - P er ges e r a n F as e pada Te ganga n P engenal M e ni t (1 / 6 0 der ajat) 120 240

6.2.5 Pengujian Trafo Tegangan (PT/CCVT) Lingkup Pengujian pemeliharaan trafo tegangan (PT/CCVT) adalah: 1. Pengujian Rasio 2. Pengujian Tahanan Isolasi 3. Pengujian Tangen Delta (Dielectric Loss Factor and Capacitance) khusus untuk CVT 4. Pengujian Beban pada Rangkaian Sekunder 6.2.5.1 Pengujian Rasio Tegangan Pengujian ini dilakukan dengan cara menginjeksikan tegangan secara bertahap sampai dengan tegangan yang diinginkan, misalnya 500 Volt. Perhatikan pembacaan tegangan pada alat uji, dan parameter VA Meter secara bersamaan. Kemudian data hasil pengukuran sisi primer dan sekunder dibandingkan, sehingga prosentase kesalahan (error) rasio primer-sekunder dapat dihitung.

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

N
a n

220 V

## Gambar 6-31. Rangkaian Pengujian Rasio Trafo Tegangan

Khusus untuk pengujian rasio pada CVT menggunakan peralatan HV-Test. Pengujian rasio PT/CVT sesuai dengan IK-OPH/PT-03/P3BS/2007. 6.2.5.2 Pengukuran Tahanan Isolasi Trafo Tegangan (Megger) (sesuai dengan SE-032) Tahanan isolasi yang akan diukur adalah antara: terminal primer (P) - ground, terminal sekunder (a1) - ground, secara bergantian. Tegangan uji peralatan (Megger) yang digunakan adalah skala 5000 V untuk sisi primer ( P1 atau P2 - Ground), dan skala 1000-2500 V untuk sisi sekunder ( a1). Pengukuran tahanan isolasi PT/CVT sesuai dengan IK-OPH/PT-

02/P3BS/2007.

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

N
a n

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

hubung singkat, dan direkomendasikan untuk melepas dan diganti dengan yang baru. Pengukuran tangen delta untuk CVT sesuai dengan IK-OPH/PT06/P3BS/2007.

Tan delta

C1 C2

## Gambar 6-33. Rangkaian Pengujian Tangen Delta pada CVT

Dari rangkaian diatas : - Pengukuran kapasitansi C1 - Pengukuran kapasitansi C2 - Pengukuran kapasitansi total (C1 - C2) : terminal A B, : terminal B C, dan : terminal A C.

Hal-hal harus diperhatikan dalam pengujian ini adalah 1. Jenis dan tipe serta spesifikasi teknis CVT yang akan diuji,

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

2. Nilai kapasitansi nominalnya sesuai tanda pengenal, 3. Gambar skematik dan kontruksi CVT, dan 4. Peralatan uji yang digunakan. 6.2.5.4 Pengujian Beban pada Rangkaian Sekunder CVT Pengujian beban rangkaian sekunder dilakukan untuk mengetahui besar beban yang tersambung pada rangkaian sekunder CVT dibandingkan dengan kemampuan beban pada tanda pengenal CVT. Pengujian beban rangkaian sekunder trafo tegangan sesuai dengan IK-OPH/PT05/P3BS/2007. 6.3
6.3.5

BATASAN BATASAN OPERASI TRAFO PENGUKURAN Jadwal Pengukuran Minyak Isolasi Trafo Pengukuran
Tabel 6-6. Jadwal pengujian Minyak Isolasi CT/PT/CVT

Tegangan Nominal

Periode (tahun) Pengukuran Non Sealed Batas operasi minyak isolasi Batas operasi minyak isolasi 6 5 Sealed 10 8

6.3.6

## Pemasangan Spark Gap Pada Isolator Bushing

Tabel 6-7. Batasan Pemasangan Spark Gap pada Bushing (Standar VDE 0111/12.66)

70 kV

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

6.3.7

## Pengukuran Dielektric Minyak CT/PT/CVT

Tabel 6-8. Batasan hasil uji tahanan isolasi Minyak CT/PT/CVT (Standar IEC156)
Kekuatan Dielektrik (kV/cm) Tegangan Nominal Minyak baru < 70 kV 70 - 170 kV > 170 kV 200 200 200 Minyak lama 120 160 200 (%) 10 10 10 mgKOH/g 0.5 0.3 0.3 Tan Kandungan

6.3.8

## Pengukuran Tahanan Isolasi (Megger)

Tabel 6-9. Batasan Hasil Pengukuran Tahanan Isolasi Rangkaian Sekunder CT/PT/CVT (Standar IEEE 43-2000) Peralatan Terminal yang diuji Primer-ground Antar Primer (double/triple) Primer-Sekunder Sekunder-ground Primer-ground Trafo Tegangan Induktif (PT) Primer-Sekunder Sekunder-ground Trafo Tegangan Kapasitif (CVT) Primer-Sekunder Sekunder-ground Tegangan Uji ( Volt ) 2500 2500 2500 1000-2500 2500 2500 1000 - 2500 2500 1000 - 2500 Tahanan Isolasi (M) 5.000 5.000 25.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 *) 5.000 *)

## PT PLN (Persero) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

6. Pemeliharaan Trafo Arus & Trafo Tegangan

6.3.9

## Pengukuran Jarak Rayap (Creepage Distance)

Tabel 6-10. Batasan Jarak Rayap Bushing Isolator (Standar IEC-44.1)

Tingkat Polusi

I.

Light