Anda di halaman 1dari 27

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN Makassar, Februari 2007 BAB 13

FIRE DEATHS

DISUSUN OLEH : HELMIYADI KUSWARDHANA SYAMSUL HANAR A. TENRI ULENG ALMEIDA HANDAYANI ENDANG WIDAYATI HAYYATUNNUFUS MARLINI C 111 01 147 C 111 01 196 C 111 99 005 C 111 98 128 110 990 034 110 2000030 110 2000072

(PERIODE 15 JANUARI 2007 24 FEBRUARI 2007) DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2007

KEMATIAN AKIBAT LUKA BAKAR Angka kematian akibat luka bakar (terbakar) terjadi sekitar 4000 kasus pertahun di Amerika Serikat. Hampir 90% terjadi di rumah dandisebabkan oleh rokok , korslet alat elektronik, kelalaian dalam menggunakan alat pemanas, anak-anak yang suka bermain dengan korek api, atau terbakarnya pakaian. Fenomena yang disebutkan terakhir umumnya terjadi pada kelompok umur tua dan pada kelompok muda, anak-anak. Luka bakar dibagi atas lima kategori: 1. Terkena jilatan (lidah) api 2. Luka bakar akibat kontak dengan benda tertentu. 3. Luka bakar akibat radiasi panas 4. Luka akibat air mendidih (melepuh) 5. Luka bakar akibat bahan kimia 6. Microwave Luka Bakar Pada kategori pertama, luka bakar disebabkan oleh adanya kontak langsung antara tubuh dan (lidah) api, dengan penilaian pada bagian kulit yang hangus. Luka bakar sekejap (flash burn) merupakan salah satu jenis kategori pertama. Hal ini disebabkan oleh ledakan awal pembakaran hasil dari pembakaran yang tiba-tiba atau karena ledakan gas, bahan kimia, atau bahan-bahan yang mudah meledak. Jenis luka bakar ini terjadi dalam durasi yang singkat, bahkan hanya dalam waktu beberapa detik. Seluruh permukaan kulit yang terkena memperoleh tingkat/ derajat luka yang sama. Jika pakaian korban yang terbakar, maka yang terdapat adalah kombinasi luka akibat flash burn dan luka bakar biasa. Flash burn (luka sekejap) biasanya membuat hangus sebagian tubuh dan rambut yang hangus terbakar (gambar 13.1). Jika kontak dengan sumber panas hanya sebentar, atau jika kecepatan konduktivitas panas pada kulit cukup rendah, hanya akan didapatkan luka bakar superficial. Contact burns melibatkan kontak fisik langsung antara tubuh dan suatu benda panas. Pada suhu permukaan benda 70 C atau lebih, nekrosis trans-epidermal dapat terjadi dalam waktu kurang dari satu detik. Luka bakar atas reaksi panas dapat ditimbulkan oleh gelombang (hawa) panas, seperti gelombang elektromagnetik. Pada

Gambar 13.1 (A) dan (B) Flash burns dari ledakan methan. Rambut hangus

jenis ini tidak terjadi kontak langsung antara tubuh dengan sumber api atau kontak dengan benda panas tertentu. Pada permulaannya, kulit akan tampak eritematous (kemerahan) dan melepuh, dengan sebagian kulit terlihat licin. Jika waktu terpapar dengan sumber panas lebih lama, kulit akan menjadi cokelat menyala dan kasar tampak seperti kulit kalkun (gambar 13.2). Pada radiasi panas yang menyeluruh, rambut tetap intak, paling tidak hanya hangus sedikit. Jika terkena radiasi panas cukup lama, akan membuat sebagian tubuh terlihat gosong. Tiga factor yang menentukan tingkat keparahan pada luka bakar akibat radiasi panas adalah: 1. Temperatur gelombang panas yang menerpa kulit 2. Waktu terpapar (durasi) 3. Ada tidaknya daerah kulit yang terlindung dari pakaian Pada kasus ekstrim, radiasi panas dengan suhu yang sangat tinggi dapat menghanguskan tubuh hanya dalam beberapa detik. Ripple dkk menyimpulkan jika suhu udara di atas 1500 C dapat menciptakan luka bakar derajat dua pada kulit hanya dalam waktu 10 milidetik. Scalding burns (luka melepuh) disebabkan karena kontak langsung dengan suatu cairan panas (mendidih). Sebagian besar kasus adalah air. Jenis luka ini terdapat hanya pada daerah kulit yang langsung bersentuhan, namun jika menggunakan pakaian walau selembar cukup dapat melindungi tubuh. Yang terakhir adalah akibat dari bahan kimiadan microwave burns.

Gambar 13.2 (A dan B) Radiasi panas menimbulkan eritema, kulit yang melepuh dan terlihat licin

Derajat Luka Bakar Derajat luka bakar pada seseorang tergantung dari: Luasnya daerah yang terbakar Beratnya yang terbakar Usia korban Adanya trauma inhalasi

Gambar 13.2

Pada orang-orang yang hidup, luasnya daerah yang terbakar merupakan indikasi sebagai persentaase dari luas total permukaan tubuh yang terlibat dengan trauma termis. Ini ditegakkan dengan rule of nines. Jika satu dianggap permukaan total tubuh sebagai 100%, kemudian kepala 9%, tiap ekstremitas atas 9%, bagian depan batang tubuh 18%, belakang 18%, tiap ektremitas bawah 18%, dan perineum 1%. Luka bakar dapat digambarkan berdasarkan derajat satu dua, ketiga, dan keempat; superficial, tebal sebagain, atau luka baker full-thickness; atau kombinasi dari kedua sistem dari tatanama. Pada luka bakar derajat pertama (superficial), kulit tampak eritematous tanpa melepuh. Secara mikroskopis, tampak pembesaran pembuluh-pembuluh darah yang padat di dermis. Epidermis intak, tapi terdapat beberapa trauma dari sel-sel. Tampak deskuamasi yang terus-menerus dari sel-sel epidermal yang nekrosis contohnya pengelupasan pada terbakar sinar matahari. Luka bakar derajat pertama dapat disebabkan karena pengelupasan pada terbakar sinar matahari. Luka baker derajat pertama disebabkan karena paparan yang lama sampai yang panas atau cahaya yang intensitasnya rendah contohnya terbakar sinar matahari atau paparan dalam waktu singkat pada panas atau cahaya dengan intensitas rendah. Luka bakar dengan derajat kedua dibagi lagi kedalam superficial dan dalam, pada luka bakar derajat kedua, tampak dati luar lembab, lesi yang melepuh. Pada superficial luka bakar derajat dua (partial-thickness), terdapat dekstruksi stratum granulosum dan korneum, tetapi lapisan basalnya tidak rusak total dan edema pada daerah

dermo-epidermal junction. Luka ini dapat sembuh tanpa jaringan parut. Pada luka bakar derajat dua yang dalam (keadaan parsial), terjadi kerusakan total epidermis dan kerusakan di hampir seluruh lapisan basal. Juga dapat terjadi lepuhan. Adneksa dan dermis (folikel rambut dan kelenjar keringat) akan terserap dan berfungsi sebagai sumber regenerasi epidermis. Luka bakar derajat dua sembuh tanpa parut. Pada luka bakar derajat tiga (seluruh ketebalan kulit) terjadi nekrosis koagulatif pada epidermis dan dermis yang disertai destruksi dari edneksa dermis. Penampakan luar dari lesi terlihat seperti kulit kasar kering berwarna putih. Tidak terdapat adanya lepuhan. Lesinya juga dapat berwarna coklat atau hitam disebabkan oleh pengarangan atau pembentukan parut. Luka ini akan menyentuh dengan parut. Pada luka bakar derajat empat, terdapat luka bakar yang meluas lebih dalam dari kulit. Harus dipahami bahwa penampakan dari permukaan luka bakar tidak menggambarkan kedalaman dari luka. Luasnya nekrosis atau derajat luka bakar hanya bias didiagnosis pada pemeriksaan ulang pada karbon yang selamat. Namun, seseorang yang pernah kontak dengan suatu permukaan benda panas dapat juga menimbulkan lesi berwarna pucat dengan penampakan seperti kulit kering berwarna putih yang mirip dengan luka bakar derajat tiga atau luka bakar pada seluruh ketebalan kulit. Sesudah itu dapat ditemukan bagaimana pun luka tersebut adalah luka bakar derajat dua ketebalan parsial yang dalam. Ketebalan kulit pada tempat luka bakar dapat berefek pada penampakan dari luka tersebut. Namun, pada kulit yang tebal seperti pada telapak tangan, luka yang tampak sebagai luka bakar derajat tiga mungkin hanyalah luka bakar derajat dua (ketebalan parsial), sedangkan pada kulit tipis, luka yang tampaknya seperti luka bakar derajat dua bias saja merupakan luka bakar derajat tiga pada seluruh ketebalan kulit. Pakaian Pakaian seseorang yang secara tidak sengaja terbakar menyebabkan hampir 150 200 kematian tiap tahunnya. Korbannya cenderung anak-anak dan orang tua. Luka bakar pada wanita yang sedang memasak jarang terjadi data mereka berada di dekat kompor saat sedang memakai baju malam berlengan panjang, jubah atau rok dan pakaian tersebut terbakar oleh api dari kompor tersebut.

Pakaian juga dapat melindungi dari kebakaran, khususnya kilatan dan cahaya panas, dengan memantulkan dan menyerap panas, dengan memantulkan dan menyerap panas. Luka bakar dapat dikurangi luas dan dalamnya dengan perlindungan pakaian. Bila terpercik api, bagaimana pun pakaian dapat terbakar. Kualitas perlindungan dari pakaian bergantung pada tipe paparan panasnya (contohnya api, kilatan dan sebagainya), bahan kain pakaian tersebut dan ketatnya pakaian tersebut. Derajat luka bakar dapat dikurangi bila pakaian tersebut kurang berwarna atau tidak ketat, yang dapat memberikan ruang udara antara pakaian dan kulit; kering dan berlapis. Derajat luka bakar akan meningkat oleh pakaian berwarnagelap yang basah oleh keringat dan sangat ketat. Kematian karena Terbakar Kematian yang disebabkan oleh api mungkin terjadi segera atau tertunda. Kematian yang segera disebabkan oleh trauma termis langsung ketubuh, yaitu terbakar atau yang lebih lazim sebuah fenomena yang disebut smoke inhalation. Kematian yang tertunda dalam satu dua atau tiga hari yang disebabkan oleh karena shock, kehilangan cairan, atau kegagalan respirasi akut, yang disebabkan oleh karena menghirup gas dengan trauma pada cabang-cabang saluran pernapasan. Kematian setelah periode ini pada umumnya disebabkan karena sepsis atau insufisensi respiratorik kronik. Tubuh Yang Terbakar Pada pemeriksaan umum, hal ini mungkin membedakan antermortem akut dari luka baker postmortem. Pemeriksaan mikroskopik dari luka baker tidak membantu kecuali kalau korban pernah hidup cukup lama untuk mengembangkan respon inflamasi. Kekurangan dari salah satu respon, bagaimanapun, tidak perlu mengindikasikan bahwa luka baker tersebut postmortem. Salah satu penulis (VJMD) mempunyai kesempatan memeriksa lembar mikroskopis dari luka baker derajat tiga didatagkan dari Vietnam, dengan pasien yang terus menerus dievakuasi ke jepang dimana mereka meninggal 2 atau tiga hari kemudian. Pada beberapa luka baker tersebut, disana tidak ada rekasi inflamasi, sepertinya disebabkan oleh trombosis yang terlalu panas dari pembuluh-pembuluh dermis seperti sel inflamasi tersebut tidak dapat mencapai daerah yang terbakar dan memproduksi reaksi.

Jika tubuh terbakar berat , kulit mungkin saja tersisa sedikit atau habis terbakar total., otot terlihat (gambar 13.3).Otot ini biasanya rupture disebabkan oleh panas. Kulit lain yang tidak terbakar biasanya akan memiliki konsistensi kulit terbakar. Jika korban berbaring pada permukaan yang rata, sementara tubuh seluruhnya mungkin saja memutuskan charred, kulit tersisa pada permukaan dapat sangat awet. Pada beberapa tubuh yang terbakar, posi dari thoraks dan dinding abdomen mungkin habis terbakar, memperlihatkan visceral. Organ-organ dalam mungkin terlihat. Tulang yang terbakar berwarna abu-abu-putih, sering memperlihatkan jaringan superficial dari fraktur panas dari permukaan kortikal (gambar 13.4). Itu dapat remuk ketika dipegang. Ini hamper sama dengan jaringan lunak di wajah yang habis terbakar, membocorkan tengkorak (gambar 13.5). sebelah luar dari gambaran penampakan cranial kubah dapat memperlihatkan jaringan dari garis faktur panas yang berselang-seling. Pada beberapa kasus gambaran sebelah luar dapat terpecah-pecah bahkan hilang /tidak ada. Tubuh akan sering dibawa dalam keadaakn tanpa tangan dan kaki, dimana sudah hangus terbakar dimana mereka tidak dapat dikenali pada saat dilihat atau patahan. Tubuh yang terbakar dapat memperlihatkan betuk pugilistic. Koagulasi dari otot yang disebabkan oleh panan menyebabkan kontraksi dari serat-serat otot dengan fleksi resultan dari dari cabang-cabangnya. Selain itu, ekstremitas atas mengambil posisi seperti seorang petinju menahan tangannya diatas didepannya. Adanya sikap pigilistik tidak berkaitan dengan dengan fakta apakah seseorang masih hidup atau sudah mati sebelum kebakaran.

Gambar 13.3. Tubuh yang hangus dimana kulit habis terbakar; otot terlihat dan rupture

Gambar 13.4 Kulit kepala sehingga tulang tengkorak dapat terlihat. Fraktur linear karena panas pada tulang berwarna abu-abu dan putih

Gambar 13.5 Kerangka wajah yang kelihatan sebagian karena terbakarnya jaringan lunak. Beberapa bagian tulang wajah terlepas di bagian frontal kiri.

Artefak pada umumnya terdapat pada korban yang sangat parah terbakar dengan pengarangan di bagian kepala adalah adanya epidural hematom postmortem (gambar 13.6). Epidural hematom post mortem karena luka bakar berwarna coklat dan penampakannya rapuh dan mirip sarang tawon. Hematom ini besar, tebal (sampai 1,5 cm), dan khasnya terdapat di daerah frontal, parietal, dan temporal; pada beberapa kasus dapat meluas sampai daerah oksipital. Inhalasi Asap Tidak semua tubuh korban kebakaran mengalami pengarangan dan tidak dapat dikenali. Beberapa tubuh tidak menunjukkan adanya trauma. Sementara yang lain hanya memperlihatkan luka bakar ringan. Pada luka bakar yang ringan, kulit memperlihatkan warna coklat terang dengan konsistensi seperti jaket kulit kaku.

Gambar 13.6 (A) dan (B) Epidural hematom postmortem

(Gambar 13.2) Pelepuhan juga bisa terjadi. Pelepuhan tidak menunjukkan bahwa orang yang meninggal masih hidup pada saat terjadi luka bakar, karena pelepuhan tersebut bisa terjadi secara postmortem. Sebuah kesan yang keliru akan ditemukan yaitu sebuah lingkaran erythematous yang mengelilingi pelepuhan atau luka-luka bakar yang mengindikasikan bahwa seseorang masih hidup pada saat luka tersebut terjadi (Gambar 13.7). Ini tidak benar. Pelepuhan-pelepuhan yang memiliki lingkaran merah telah terjadi pada badan orang yang mati. Panas yang mengenai kulit menyebabkan kontraksi kapilerkapiler dermal yang memaksa cairan darah ke sekitar pelepuhan atau luka-bakar, yang menstimulasi sebuah respon inflammatory hyperemic antemortem. Untuk korban kebakaran yang badannya menunjukkan tidak ada atau sedikit bukti tentang injury-injury thermal, penyebab kematian seringkali terkait dengan penghirupan asap.

Gambar 13.7 Luka bakar postmortem dengan lingkaran erythematous

10

Gambar 13.8 jelaga (soot) dalam larynx dan trakea

Untuk korban kebakaran yang badannya menunjukkan tidak ada atau sedikit bukti tentang injury-injury thermal, penyebab kematian seringkali terkait dengan penghirupan asap. Istilah ini biasa disamakan dengan keracunan karbon-monoksida (intoksikasi). Pemeriksaan orang yang mengalami penghirupan asap biasanya akan menunjukkan jelaga (soot) dalam nostril dan mulut serta melapisi larynx, trakea, dan bronchi (Gambar 13.8). Akan tetap, jika tidak ada jelaga (soot), itu tidak berarti bahwa orang tersebut meninggal sebelum terjadinya kebakaran. Beberapa peneliti telah mengamati banyak kasus dimana tidak ada jelaga (soot) pada larynx atau trakea, meski demikian analisis karbon-monoksida pada darah menunjukkan kadar yang mematikan. Pada otopsi, biasanya relatif mudah untuk menentukan apabila seseorang mati akibat intoksikasi karbon monoksida. Livor mortis, otot-otot, dan organ-organ internal, serta darah, akan berwarna merah seperti warna buah cherry. Disamping pewarnaan ini, penentuan karbon monoksida pada darah dianjurkan. Pewarnaan yang menyerupai warna buah cherry pada livor mortis sangat umum ditemukan pada bagian tubuh yang terekspos pada cuaca dingin selama periode waktu yang lama. Disamping itu, seseorang kemungkinan memiliki kadar karbon-monoksida yang fatal, sekalipun begitu tidak ada warna merah-cherry yang menonjol. Mengkaitkan antara penyebab kematian pada kasus penghirupan asap dengan intoksikasi karbon-monoksida adalah sebuah penyederhanaan dari sebuah proses yang rumit. Mekanisme pasti dari kematian orang yang meninggal akibat penghirupan asap tidak selamanya jelas. Pada orang-orang yang meninggal selama kebakaran, kadar karbonmonoksida sebenarnya, meski beracun, seringkali tidak cukup untuk menyebabkan kematian. Kadar-kadar ini biasanya 20% lebih rendah dibanding pada kematian yang diakibatkan oleh penghirupan karbon monoksida pada pembuangan gas. Sehingga, menurut pengalaman beberapa peneliti, pada orang-orang yang mati karena penghirupan

11

pembuangan gas kendaraan mobil, rata-rata kadar karbonomonoksida adalah 79%, dimana 82% kasus memiliki kadar 70% atau lebih. Pada saat terjadi kebakaran, rata-rata konsentrasi karbon-monoksida adalah 57%, dimana kadar karbon-monoksida sebesar 30% atau 40% umum ditemukan, meski adanya beberapa yang hanya 20%. Pada beberapa contoh, ini dapat dibantu dengan penyakit yang bersangkutan. Sehingga, seseorang menderita atherosclerosis koroner parah bisa mati pada kadar karbon-monoksida yang lebih rendah dari orang yang sehat. Pada kasus-kasus lain, obat dan alkohol bisa berfungsi sebagai faktor kontribusi. Beberapa faktor selain karbonmonoksida telah diduga sebagai penyebab kematian pada kasus penghirupan asap. Faktor lain tersebut adalah kekurangan oksigen, sianida, radikal bebas, dan zat-zat toksik yang tidak-diketahui. Kekurangan oksigen diakibatkan oleh konsumsi oksigen yang tidak mencukupi pada saat terjadi kebakaran sebagai sebabakibat kematian pada kebakaran rumah. Jika jumlah oksigen untuk mempertahankan hidup tidak cukup, maka kebakaran akan menyebabkan kematian. Sianida dihasilkan pada pembakaran berbagai zat sintetik yang umum. Pada beberapa contoh yang jarang ditemukan, sianida menjadi penyebab kematian, tapi dengan menganggap bahwa kebanyakan kematian adalah karena keracunan sianida adalah sebuah kesalahan. Sianida sebagai penyebab kematian pada kebakaran merupakan sebuah teori pengacara dalam hal penuntutan perkara sipil. Mereka menggambarkan bahwa orang yang mati telah menghisap asap sianida yang dihasilkan oleh pembakaran bahan sintetik. Pada kenyataannya, jumlah sianida yang dihasilkan dalam kebakaran relatif kecil, dimana konsentrasinya sangat rendah. Bahkan pada ruang tertutup yang mengandung gas sianida murni dalam konsentrasi tinggi, seperti yang terjadi pada ruang kematian Nazi, lemasnya tubuh tidak langsung terjadi dan kematian tidak terjadi hanya dalam beberapa menit. Pendeteksian dan pengukuran sianida dalam darah banyak kesulitannya. Sianida bisa dihasilkan secara postmortem dalam darah pada tubuh atau tabung uji, melalui proses dekomposisi. Disamping itu, jika metode analisis tidak spesifik, maka zat-zat lain dalam darah (sulfida) bisa bereaksi seperti sianida, sehingga salah dianalisis sebagai kadar sianida yang meningkat. Salah satu penelitian yang menyebutkan banyaknya kematian akibat sianida dicurigai karena metodologinya. Radikal-radikal bebas telah diusulkan sebagai

12

salah satu kemungkinan dalam menyebabkan kematian, karena radikal bebas bisa menonaktifkan surfaktan, sehingga mencegah oksigen untuk melintasi alveoli dalam darah. Injuri-injury penghirupan Injury-injury penghirupan seringkali diduga berasal dari penghirupan gasgas panas dengan pembakaran jalur-jalur udara. Pada awal 1945, Moritz dkk., menemukan bahwa penghirupan udara kering panas yang dapat menyebabkan pembakaran langsung pada kulit memiliki sedikit atau tidak ada pengaruh pada paru-paru. Pada penelitian, dimana hewan percobaan menghirup udara pada ruang yang berada dalam keadaan kering, panasnya adalah pada 350 dan 500
0

C. Udara yang kering ini akan

kehilangan banyak dari pemanasannya sebelum mencapai paru-paru sebagaimana tanpa terjadinya luka-luka pada paru-pau bagian laiinya. Luka-luka yang ada pada trachea bagian atas merupakan bagian luka yang digambarkan sebagai suatu kondisi yang tidak terlalu parah. Jika udara yang ada adalah udara panas dan basah, maka hal ini menandakan ada suatu pembakaran yang terjadi dari udara pada tubuh seseorang. Pembakaran (luka) yang berhubungan dengan panas pada bagian tubh manusia yang berasal dari pohon tracheobronchial adalah merupakan hal yang jarang terjadi, dimana hal ini lebih sering dipengaruhi dan disebabkan oleh uap air, yang mana uap air yang ada 4000 kali lebih panas dari pada temperatur udara.
7,8

udara yang panas, apakah

merupakan udara kering atau basah, dapat dengan cepat menghasilkan suatu edema obstruktif yang fatal yang berasal dari larynx. Hal in, adalah merupakan hal yang tidak biasanya terjadi. Penyakit yang berhubungan dengan pernapasan merupakan penyakit kimiawi yang disebabkan oleh adanya produk pembakaran yang tidak sempurna.8 kejadian ini akan menghasilkan edema yang berkaitan dengan paru-paru untuk luka-luka yang ada pada permukaan endothelial-epithelial, Kegagalan dari alveolar yang seharusnya untuk mengurangi produksi dari surfactant, dan luka-luka yang berhubungan dengan bronchochilliary. Konsep yang berhubungan dengan laryngospasm disebabkan oleh pernapasan gas-gas panas yang terjadi secara ekstrim merupakan hal yang telah digambarkan disini. Laryngospasm merupakan suatu konsep yang dapat digunakan untuk mencegah pernapasan dari gas-gas yang dihasilkan melalui proses pembakaran, (yaitu carbonmonoksida).

13

Konsep ini hanya digunakan sebagai konsep perkiraan. Identifikasi terhadap kematian Dalam beberapa kasus kematian yang disebabkan oleh adanya kebakaran (api), maka pernapasan yang berhubungan dengan panas yang terjadi pada tubuh manusia merupakan hal yang tidak terlalu signifikan. Kematian ini merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh adanya pernapasan karena rokok. Tidak ada kejelasan yang menjelaskan secara lebih detail tentang pembakaran yang terjadi ini, dan terbangunnya suatu keadaan dalam mengidentifikasikan hal ini dimana dilakukan secara perorangan, maupun melalui photograph atau fingerprint. Jika tubuh yang ada berada dalam kondisi terbakar dimana ini terjadi dalam beberapa tingkatan yang mana kondisi yang ada ini menunjukkan bahwa struktur-struktur yang berhubungan dengan muka adalah telah mengalami mutilasi dan tanpa dilakukan pengambilan sidik jari terhadap tubuh yang mengalami hal tersebut, serta ini merupakan hal yang tidak dapat dijadikan sebagai pilihan, maka metode yang lain yang berhubungan dengan identifikasi dapat diambil dan dilakukan terhadap tubuh seseorang yang mengalami mutilasi tersebut. Dalam keadaan yang lebih lazim, maka ini adalah dinyatakan sebagai identifikasi yang berhubungan dengan gigi. Pada kondisi tubuh yang mengalami luka-luka aklibat pembakaran atau kondisi lain yang berhubungan dengan panas yang terjadi secara umum, dimana dalam hal ini tidak dilakukan pengambilan sidik jari, maka pilihan identifikasi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan terhadap gigi korban. Identifikasi yang berhubungan dengan pemeriksaan pada gigi korban ini dengan menggunakan bantuan sinar X. Hal ini dapat dilakukan untuk memberikan perbandingan antara pengunaan sinar x yang dilakukan dengan metode lain seperti pemetaan terhadap bagian-bagian yang mengalami mutilasi. Keitka identifikasi yang berhubungan dengan gigi yang ada pada tubuh korban dilakukan dengan menggunakan keterangan grafik yang ada dan melalui penggunaan sinar X dimana hal ini dapat dibuat dengan melalui gigi in situ, ini adalah lebih mudah untuk memindahkan rahang pada gigi seseorang, lebih khusus lagi untuk penyinaran sinar X yang memadai. Rahang pada gigi kemudian dapat menjadi retak

14

menurun pada bagian pertengahan dan lebih akurat penyinaran sinar X pada bagian samping dari rahang dilakukan. 9 Prosedur-prosedur yang ada ini merupakan prosedur yang ditempuh seharusnya tidak menimbulkan masalah ataupun efek negatif dengan keluarga dari korban. Dalam beberapa kasus yang terjadi, ini adalah latihan yang dianggap cukup bijaksana untuk dilakukan demi menjaga rahang yang ada untuk dijadikan sebagai referensi lebih lanjut. Hal ini tentu dapat diwujudkan bahwa identifikasi yang dilakukan terhadap gigi manusia yang mengalami mutilasi dengan menggunakan sinar X tidak membutuhkan adanya kesadaran dari seseorang, namun dapat lakukan pada struktur tulang yang menonjol yang nampak dari rahang seseorang dan iorientasi, struktur, serta hal-hal yang nampak dari gigi dengan sendirinya. Dalam kenyatannya, identifikasi yang berhubungan dengan gigi yang dilakukan secara positif dibuat dengan hanya menggunakan sebuah gig pada struktut tubuh seseorang. Sebagaimana dengan apa yang digunakan secara tepat, maka identifikasi yang berhubungan dengan gigi hanya dapat diandalkan dengan menggunakan pengambilan terhadap sidik jari. Metode identifikasi yang lain yang digunakan yang dapat dipercaya dalam hal melakukan identifikasi terhadap struktur gigi, tentu dapat saja dilakukan, namun hal ini bukanlah metode yang digunakan sebagaimana biasa, dan ini dianggap sebagai perbandingan dari penggunaan sinar X postmortem dan penggunaan sinar X antemortem terhadap seseorang yang telah meninggal, dimana kematiannya mencurigakan/ kematian yang tidak pantas. Jika identifikasi yang dilakukan seseorang merupakan identifikasi yang bersifat sementara, maka seseorang seharusnya menanyakan apakah individu yang diamati pernah mengalami trauma atau pernah dilakukan penyinaran sinar X terhadap dadanya. Penyinaran sinar X yang dilakukan disini kemudian dapat dipilih untuk dijadikan sebagai perbandingan dengan metode lain yang digunakan dalam hal melakukan identifikasi terhadap tubuh yang tidak dikenal. Sinar X yang dilakukan pada bagian tubuh yang dilakukan secara benar merupakan hal yang pantas untuk dijadikan sebagai perbandingan. Identifiksi yang ada didasarkan tidak hanya pada adanya keganjilan yang ditemui pada bagian-bagian tulang yang diperiksa namun juga pada bagian-bagian otot yang halus yang telah mengalami pengerasan; petumbuhan tipus (yaitu, batu empedu,batu ginjal,dan sebagainya), penyaringan, pemotongan, dan sekrup yang berhubungan dengan

15

pembedahan yang dilakukan ,dst. Identifikasi positif dapat dilakukan pada salah satu dari sekelompo orang dari adanya perubahan-perubahan yang lazim atau hal-hal lain yang dirasakan perlu untuk dilakukan identifikasi. Jika identifikasi tidak dapat dilakukan dengan melalui pengambilan sidik jari, dokumen yang berhubungan dengan gigi atau sinar X, kemudian identifikasi positif dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan teknik uji DNA. Jika tidak ada sama sekali yang mungkin dapat dilakukan dari semua metode yang telah ada, kemudian hanya identifikasi yang bersifat sementara yang didasarkan pada keadaan; milik pribadi, atau karakteristik yang tidak spesifik seperti gigi yang ada, bekas luka, atau kekurangan dari organ, dapat dilakukan. Kremasi Studi yang dilakukan secara lebih teliti dari adanya suatu perubahan pada tubuh manusia yang mengalami luka bakar adalah merupakan hal yang digambarkan oleh Bohnert, yang mana ia melakukan pengamatan terhadap 25 jazad yang dikremasi.
10

15

jazad yang ada, pada tiap dari peti mati yang dibuat dari pohon cemara, dikremasi pada temperatur antara 670 dan 810 0C. Ini diambil antara 2 dan 3 jam untuk mengurangi bagian tubuh terhadap abu dan tulang yang telah mengeras. Kremasi dari tubuh yang ada dalam tempat kremasi berada dibawah kontrol dari kondisi yang ada dimana bagian tubuh secara langsung disingkapkan/ dibuka untuk dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan metode identifikasi yang telah ditentukan. Dengan demikian, dalam artikel yang ditulis oleh Bohnert, waktu yang dapat digunakan dari tahapan kremasi dari satu tahap ke tahap berikutnya adalah merupakan hal yang tidak terlalu penting, namun lebih baik jika tahapan yang ada tersebut dirangkaikan untuk mengidentifikasi perubahan yang terjadi pada suatu struktur tubuh yang dikremasi. Bohnert telah menemukan bahwa 10 menit ke dalam kremasi, maka kulit kepala beserta rambutnya, yang telah mengalami luka bakar yang cukup parah, adalah tidak berkapur. Jaringan-jaringan otot yang halus dari wajah adalah diarangkan. Setelah 20 menit, tabel-tabel eksternal menunjukkan adanya celah atau korona dan jahitan pada luka. Ketika 30 menit,akan terjadi keretakan yang menyebabkan kerenggangan pada tengkorak dimana tabel-tabel eksternal akan memulai untuk menjadi kepingan. Tulang yang

16

berhubungan dengan wajah yang telah mengeras hanya dengan jaringan otot yang tipis, jika ada. Pada 40 menit, calvarium telah mengalami luka hangus yang cukup parah, membongkar sesuatu yang berkerut dan otak tengkorak. Tulang wajah bebas dari jaringanjaringan otot yang halus, zat kapur dan penghancuran. Jaringan-jaringan otot halus yang ada pada leher akan ditiadakan dari sebagian kasus yang ada dan akan dijadikan arang dalam masa istirahat dari proses kremasi yang dilakukan. Setelah 50 menit, dasar dari tengkorak akan nampak dan tulang wajah mengalami penghancuran. Setelah 60 menit, hanya mata dari tulang wajah dan dasar tengkorak yang ada pada sebelah kiri. Sebagaimana untuk peti kremasi, setelah 20 menit, kulit dari dada bagian depan dibakar, akan membuka otot yang telah dibuat arang. Dalam kesalahan ataupun kelalaian yang dilakukan lebih dari satu kasus, maka bagian yang terdepan dari tulang rusuk adalah akan nampak, dengan tulang dada dan tulang muda yang berharga, dimana telah mengalami luka hangus yang parah, dalam tiga kasus yang ada di sini. Dalam waktu 30 menit, torak dan rongga yang berhubungan dengan perut tersingkap, dengan organ-organ bagian dalam yang telah nampak buruk dan yang telah mengalami pengurangan untuk usus yang ada, yang mana dari kejadian ini hal-hal buruk yang ada pada terlebih dahulu, adalah merupakan bagian yang basah. Setelah 40 menit, tulang dibuka dan diberikan zat kapur untuk bagian belakang. Torak dan organ-organ yang berhubungan dengan perut, yang mana merupakan bagian yang mengalami pengurangan dengan permukaan seperti sepon,adalah dengan pengecualian dari hati, tidak dapat dikenal atau diketahui dengan 50 menit dan dikurangi untuk abu dengan 60 menit. Memperhatikan bagian kaki dan tangan, setelah 20 menit, kulit lengan dan kaki dihanguskan, dengan membuka otot yang telah menjadi arang dan radius serta sebagian dari tulang hasta yang nampak. Tulang tangan telah nampak, dan dihubungkan dengan jaringan-jaringan otot halus yang telah diarangkan, kecuali dalam kasus-kasus dimana kasus tersebut secara lengkap telah mengalami kerusakan secara menyeluruh. Lengan bawah secara umum dikurangi untuk bagian-bagian yang terdekat dimana ini dilakukan dalam waktu 30 menit dan absen dalam waktu 40 menit.

17

Lengan bagian atas adalah lebih besar tanpa adanya jaringan-jaringan otot halus dalam waktu 40 menit, dengan kepala dari tulang bagian atas pada lengan akan nampak. Sebagaiman pada kaki, yang membutuhkan waktu selama 30 menit pagar distal dan tulang kering adalah lebih bebas dari jaringan-jaringan otot halus, dengan tulang yang terbuka melalui keretakan yang terjadi secara longitudinal. Dalam waktu 50 menit, lengan akan hancur dan tulang paha dikurangi untuk tunggul. Penyebab kebakaran Merokok merupakan hal yang biasanya dapat menyebabkan kebakaran pada rumah. Dalam beberapa situasi, seseorang mungkin saja tidak mengetahui apakah individu yang lainnya adalah perokok, dan jika benar apakah ini merupakan kemungkinan yang dapat menyebabkan terjadinya kebakaran pada suatu tempat dalam suatu waktu. Seseorang dapat saja selalu melakukan analisa terhadap urine untuk mengetahui apakah ada nikotin dalam tubuhnya, yang mana hal ini akan memberikan gambaran atau kesan bahwa seseorang yang mati adalah seorang perokok. Anak-anak mungkin saja dapat menjadi inisiator dari kebakaran yang terjadi . Ini seringkali dihubungkan dengan kekurangan dari pengawasan yang dberikan ini tentu merupakan hal yang dihubungkan dengan tingkat dari pengawasan yang diberikan. Seringkali, anak-anak mulai melakukan hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya kebakaran, dimana ketika suatu keadaan kebakaran telah mulai terjadi, maka anak anak akan bersikap panik dan akan bersembunyi di tempat yang tertutup, di bawah tempat tidur, atau di dalam kamar mandi. Di wilayah-wilayah kota, dimana standar perumahan yang diberlakukan merupakan standar yang tinggi, maka kebakaran dengan anak-anak yang menjadi korban merupakan hal yang tidak biasa terjadi. Reaksi dari para otoritas yang ada adalah untuk melakukan penangkapan dan melakukan penahanan terhadap orang tua dari anak-anak tersebut dimana hal ini dianggap sebagai tindakan kriminal dan merupakan kelalaian dari para orang tua dalam melakukan pengawasan terhadap anak-anak mereka. Ini seringkali akan meredakan perasaan bersalah dari para pejabat yang berwenang dalam hal ini, yang mana mereka bertanggungjawab untuk kondisi-kondisi yang berhubungan dengan keadaan sosial terlebih

18

lagi untuk kejadian yang berkaitan dengan masalah kebakaran yang dapat menyebabkan kematian. Pembunuhan melalui kebakaran Kematian yang disebabkan oleh adanya kebakaran di suatu tempat, biasanya adalah merupakan suatu kebetulan. Akan tetapi, kebakaran merupakan kumpulan dari suatu kesengajaan dimana kematian yang ada di sini, adalah diklasifikasikan sebagai suatu pembunuhan massal atau homocida. Di dalam kasus-kasus yang terjadi, dimana ada suatu kecurigaan dari rumah yang mengalami kebakaran, maka suatu putusan yang berhubungan dengan kematian yang disebabkan oleh adanya kebakaran yang terjadi, seharusnya ditunda hingga dilakukan penyelidikan secara sempurna terhadap masalah yang dihadapi tersebut. Kebakaran merupakan hal yang dianggap sebagai adanya tujuan dan alasan-alasan tertentu dari satu atau beberapa orang. Dimana alasan yang biasanya ada adalah untuk alasan profit, yaitu untuk mendapatkan asuransi. Kebakaran juga mungkin saja merupakan suatu tindakan balas dendam, karena adanya mental yang tidak normal dari seseorang, atau untuk menyembunyikan suatu tindakan kriminal sebagaimana pencurian atau homocida jarang terjadi, seperti biasanya sia-sia, sebagai yang pertama pemeriksa badan menentukan bahwa seseorang meninggal sebelum terbakar.Artinya, sesungguhnya, berbeda sekali dengan membakar tubuh , karena airnya yang tinggi. Jadi, tubuh bagian luar menunjukkan bagian hangus yang luas, dengan patah tulang dan sebagian hilang dari alat gerak, akan sering memperlihatkan penjaggaan sepenuhnya pada Internal rongga perut.Api jarang sekali menghasilkan suhu yang cukup tinggi, diatas waktu yang cukup lama, untuk membakar tubuh.Temperatur yang berubah-ubah dimana tubuh terlindungi, tergantung pada material yang terbakar; begitu cepatnya material (mereka) terlalap;apakah ada material baru, jika ada, gantikan material yang terbakar dan dengan segera pemadam kebakaran mengatasinya.Bagian luar krematorium, api kekurangan intensitas dan waktu untuk menyelesaikan pembakaran tubuh manusia .Suatu cara yang pantas untuk membakar tubuh bagian luar krematorium adalah meninggikannya pada panggangan seperti kerangka, sehingga saat dibakar, pencairan lemak akan dilalap oleh api dan menambah komsumsi dari tubuh.

19

Pengorbanan Diri (Bunuh Diri) Pengorbanan diri jarang terjadi.Beberapa individu biasanya menyiram diri mereka dengan cairan yang mudah terbakar, biasanya dengan bensin, dan kemudian membakar dirinya pada api.Sebuah kotak dan korek api itemukan pada keadaan seperti itu.Ini seharusnya diperiksa untuk keperluan sidik jari.Biasanya, individu-individu menetapkan kedua atau ketiga derajat membakar melebihi tubuh mereka, dengan dikonsentarasikan pada bagian depan.Kematian mungkin tidak cepat ;akan tetapi, menggalnya individu/seseorang disebabkan karena komplikasi dari membakar dirinya.Dalam penelitian 32 kasus oleh Shkum dan Johnston, 56,24% individu meniggal dalam keadaan separti itu. 11 Ini hampir sama persis dengan penelitian yang dilakukan oleh Leth dan Hard-Madsen,yang menemukan bahwa 56% dari rangkaian kematian mereka 43 kasus terjadi pada keadaan seperti itu. 12 Ahli forensik patologi seharusnya menjaga bagian-bagian dari pakaian untuk menganalisis adanya zat yang mudah menguap.Pakaian ini harus ditempatkan dalam sebuah botol kaca dengan tutup sekrup pada bagian atasnya.Pakaian itu tidak boleh disimpan pada sebuah tas plastik, sebagai zat yang mudah menguap kemungkinan besar dapat menguap melalui plastik.Cara lain sebelum menyiapkan pakaian untuk pemeriksaan terhadap zat yang mudah menguap adalah menempatkannya pada sebuah kaleng cat dan menutup kaleng tersebut.Satu kemungkinan juga ingin diambil tanah dari bawah dimana individu awalnya membakar diri mereka untuk menganalisa adanya zat yang mudah menguap. Pada kematian yang disebabkan oleh pengorbanan diri, jarang diuraikan bahwa konsentrasi karbon monoksida darah tidak dapat ditinggikan tetapi dapat menjadi normal sejak api menyala.Begitu seringnya hal tersebut tidak disadari/dimengerti, pada sebagian besar kematian yang disebakan oleh pengorbanan diri dan sebagian lagi disebabakan oleh kobaran api, karbon monoksida ditinggikan.Saat pengorbanan diri terjadi diluar ruangan atau ditempat yang besar (ruangan yang besar) salah satunya cenderung mendapatkan karboin monoksida yang rendah atau karbon monosida yang negatif.Disinipun, karbon monosikda dapat ditnggikan.Shkum dan Johnston meninjau/meneliti 32 kasus dari pengorbanan diri, 18 kasus yang telibat individu mennggal pada saat itu. 11 Sebelas dari 18 meninggal dengan kendaraan bermotor.Akselarasi digunakan pada 11 kasus dan bensin

20

pada 9 kasus, minyak tanah satu dan propan (metan)juga satu.Semua 11 individu telah ditinggikan karbon monoksidanya meningkat dari 28% menjadi 80% dengan rata-rata 58%. 5 individu membunuh diri mereka dirumah ,derajat karbon monoksida yaitu9, 11, 14, 33 dan 38%.Dengan rata-rata 21%.2 individu meninggal diluar ruangan .Dengan derajat karbon monoksidanyayaitu 17 dan 25%.Dalam penelitian oleh Leth dan HartMadsen, 6- dari 7 individu yang ditest karbonmonosidanya melakukan bunuh diri diruang terbuka, dan yang ketujuh didalam ruangan yang besar. 12 Hanya 2 dari kasus mereka terjadi pada kendaraan bermoptor dan keduanya memiliki jumlah karbon monoksida yang besar lebih dari 50%.Jadi kelihatannya, pada bagian lampiran kecil seprti kendaraan bermotor bunuh diri dapat mengakibatkan tingginya derajat karbon monoksida.Pada bagian yang lebih besar atau diluar ruangan, karbon monoksida dapat bergerak dari normal menjadi sedikit ditinggikan. Pada bagian ini tidak akan sempurna tanpa menyaebutkan manusia yang membakar dirinya sendirinya , fenomena ini atau konsep ini tidak masuk akal dan tidak memerlukan diskusi yang lebih jauh. Luka Bakar/ Panas Luka ada 3 tipe, mencelup pada panas karena kecelakaan tidak disengaja atau mencelup yang disengaja dalam sebuah cairan panas, biasanya air;menceburkan atau menumpahkan panas biasanya tidak disengaja dan uap air panas disebabkan oleh pembukaan uap panas.Air panas menyababkan sebagian besar untuk mencelup,menumpahkan dan mencelupkan.(gambar 13.9), ini mungkin pembunuhan atau kecelakaan , luka panas/bakar pada anak-anak adalah keadaan yang lazim dari suatu penyiksaan/kekerasan terhadap anak (lihat Bab 12).Saat kejadian sebagian memercikkan air panas sebagai suatu kecelakaan.Penulis telah menyaksikan kasus-ksus dimana individu disiram dengan air mendidih, kemudian dengan sengaja menjadikan sebagai korban.Ini biasanya pembunuhan domestik, dengan suami sebagai korbannya .Beratnya sifat panas dari air mendidih disadari pada satu kenyataan bahwa air dipanaskan sampai 158 0 F dapat menyebabkan luka menyeluruh pada kulit orang dewasa dalam 1 s kontak.Percikan panas dalam kecelakaan cenderung menjadi berlipat dan melebar dengan ukuranyang bermacam-macam.

21

Kecelakaan dengan menumpahkan panas merupakan cara yang khas pada anakanak didapur dengan menarik panci, atau secangkir teh panas, kopi atau membasahi diri mereka.Panas dirasakan pada wajah, leher, diatas dada, dan kedua lengan.Pakaian dapat melindingi kulit dari panas ini.Cairan panas dingin disiramkan diatas kulit dan kemudian akan mengalir pada tubuh, menghasilkan bekas luka bakar/panas berwarna merah,dengan permukaan yang basah.Sebagai cairan yang bergerak mengaliri tubuh, panas tersebut menjadi makin berkurang. Seorang individu terlindung dari uap yang sangat panas menderita luka berat sepert tubuh yang terbakar.Dengan inhalasi, terdapat laring, trakea dan pernapasan yang panas, yang pada akhirnya dapat menambah sindrom berbahaya pada pernapasan orang dewasa.Pada beberpa kejdian, terdapat edema besar di larings, dengan kematian karena sesak napas.

Gambar 13.9 (A) dan (B) luka bakar.Orang yang meninggal kedalam tong yang berisi cairan panas (160 0 F).Rambutnya tidak terbakar.

Luka Bakar Karena Zat Kimia Pada luka bakar karena zat kimia, jumlah jaringan yang rusak tergantung pada agent.Agent tersebut mimiliki kekuatan dan konsentrasi, kuantitas zat kimia, durasi, kontak, dan luas penetrasi zat kimia pada tubuh.Zat-zat kimia tersebut terus menyerang

22

jaringan sampai salah satu dari mereka/zat tersebut dinetralisir oleh agent yang lain atau tidak diaktifkan oleh reaksi jaringan.. 13 Protein zat-zat kimia membeku dengan reduksi, oksidasi, pembentukan garam, korosi, keracunan protoplasma, kompetisi metabolisme atau hambatan, pengawetan tahu sebagai akibat dari komplikasi zat kimia.

Gambar 13.10 (A) dan (B) Postmortem dari luka bakar oleh bensin.

Satu kasus menunjukkan jaringan-jaringan yang berbeda-beda, dengan kelihatan seperti sebuah bentuk-sandwich pada luka bakar. Terdapat luka bakar pada kulit, serat dari lemak dan luka bakar pada otot. Luka bakar adalah berdasarkan pada penyaluran air dalam jaringan-jaringan ini. Nyala/kilasan Api : Api melibatkan cairan hydrocarbon yang mudah terbakar.

23

Ujung cahaya dari hydrocarbon adalah temperatur dimana bahan bakar diuapkan untuk memperpanjang atau menahan cahaya api. Api, bagaimana pun juga, tidak akan meneruskan untuk membakar sampai hydrocarbon mencapai sebuah temperatur yang tertinggi, batas lidah api atau api. Disini, lidah api akan terus membakar sampai bahan bakar dihabiskan. Dengan bahan bakar hidrokarbon, uap dari penguapan yang terbakar, bukan bahan bakar. Ketika uap panas, ia menaikkan temperatur hidrokarbon, menyebabkan penguapan naik dari bahan bakar dan lalu membuat api. Bahan bakar hidrokarbon memiliki sebuah tingkat karateristik dari konsentrasi dimana mereka menguap dan akan terbakar. Sebagai contoh, untuk gas alam (terutama methanin), antara 4 dan 15 %. Pada konsentrasi uap dibawah 4 %, tidak cukup menguapkan bahan bakar untuk menyebabkan pembakaran. Jadi, gas alam hanya akan terbakar ketika konsentrasi uap berada pada antara 4 dan 15%. Lidah api dalam suatu api bergerak keluar dalam semua arah dari titik pengapian. Setelah kilasan awal, api yang terjadi menyebabkan penguapan dari bahan bakar yang lalu menopang api menyala. Temperatur pada kilasan api dari bahan bakar hidrokarbon adalah bekisar 500 sampai 9750 C. Pada kilasan api dalam ruangan, dalam 45 detik pengapian, oksigen turun dan CO2 naik secara sebanding. CO diproduksi 15 sampai 30 detik setelah temperatur maksimum, terjadi ketika oksigen habis. Oksigen dapat turun sampai 8,5% dalam 1,5 samapi 3 menit, sedangkan CO2 dapat naik lebih dari 12 sampai 16% dalam waktu kurang dari 1,5 menit. Pada perbandingan dari api, CO dapat mencapai sebuah konsentrasi 9500 bagian per 1 juta dalam 1,5 sampai 2 menit. Jika kilasan api dibatasi sampai suatu ruang batas seperti satu ruang dan tidak ada udara baru, api akan keluar melalui oksigen yang cukup.

Flashover Api dalam ruang terbatas seperti sebuah ruangan dapat menghasilkan sebuah fenomena yang disebut suatu Flashover. Ketika sebuah api memulai, bahkan jika ia pada awalnya kecil, ia menghasilkan panas pancaran, gas panas dan asap. Gas dan asap naik, membentuk sebuah lapisan dibawah plafon. Setelah asap dan gas panas berhimpun dan mengumpul,

24

lapisan ini menebal, memperluas kebawah menuju lantai. Pada awalnya, gas panas memanasi langit-langit dan berbatasan dengan bagian atas dinding. Pancaran panas dari api dan gas panas mulai memanaskan benda-benda pada bagian bawah ruangan. Benda-benda yang mudah terbakar dalam ruangan mulai memberikan gas-gas yang mudah terbakar (proses ini disebut pyrolysis). Jika api yang terbentuk pada awal meredup, atau jika oksigen yang cukup tidak dapat masuk ke dalam ruangan, api akan meredup. Jika api terus membakar, sederhananya, luka bakar kimia diklasifikasikan sebagai penyebab-penyebab oleh asam, alkali, dan vesicant (zat-zat yang menghasilkan lepuhan). Asam kuat umumnya memiliki pH kurang dari 2. Pengantar Alkaline biasanya membutuhkan suatu pH dari 11,5 atau lebih besar untuk melukai jaringan. Pesentase dari bahan kimia dalam larutan biasanya menentukan kadar tingkat kerusakan jaringan. Alkali menghasilkan luka yang lebih hebat dari asam karena mereka cenderung melarutkan protein dan lemak. Mereka menghasilkan suatu liquifaksi nekrosis, membuat invasi yang lebih dalam pada jaringan oleh bahan-bahan kimia, dengan luka bakar dalam dan edema. Dalam perbandingan, asam mengendapkan protein, menghasilkan sebuah liquifaksi nekrosis dengan sebuah keropeng. Luka bakar dihasilkan oleh asam cenderung untuk terbatas, kering dan kasar. Edema adalah ringan. Luka bakar kadang-kadang ketebalan tingkat kedua. Jika terdapat kontak memanjang, dapat menjadi luka bakar tingkat ketiga, khususnya dari belerang pekat atau asam nitrat. Pada kasus ini, scab cenderung gelap, mirip kulit jaket, dan kering. Air keras memberikan luka bakar yang lebih dalam dari pada kebanyakan asam. Warna dari eschar bergantung pada tingkat asam. Asam nitrat menghasilkan suatu scab kuning; asam belerang warna hitam atau coklat; asam garam warna putih atau abu-abu; dan phenol warna abu-abu terang atau coklat terang. Beberapa perantara, seperti phenol, fosfor kuning, dan ammonium sulfida, tidak hanya menyebabkan luka bakar kimia tapi racun. Jadi, phenol berhubungan dengan akut tubular nekrosis; fosfor dengan hati dan nekrosis ginjal. Beberapa persenyawaan yang umum dapat menghasilkan luka bakar kimia. Kontak panjang dengan bensin atau semen dapat berakibat luka bakar kimia. Semen memiliki pH 12,5 sampai 14 dan itu adalah campuran alkaline yang sangat kuat. Kontak panjang dengan hidrokarbon, seperti bensin, dapat mengakibatkan luka bakar kimia melalui efek/pengaruh

25

pedih dan daya larut lipid yang tinggi (gambar 13.10). Yang selanjutnya memutuskan jaringan lemak. Luka bakar kimia bensin adalah luka bakar parsial Luka Bakar Microwave Microwave menciptakan panas melalui agitasi molekul. Makin besar kandungan air dalam jaringan, makin besar panas yang dihasilkan. Jadi, otot, yang memiliki lebih banyak air daripada lemak, cenderung untuk lebih panas dari pada lemak. Sedangkan oven biasa/rumah tangga menghasilkan pancaran panas dari sisi luar, microwave secara langsung memanaskan jaringan dalam. Dengan pancaran panas, luka maksimal terjadi di sisi luar tubuh, sedangkan dengan oven microwave, kebalikannya, terjadi pada sisi dalam. Luka bakar yang disebabkan oleh oven microwave , seperti yang diberikan dalam kepustakaan, cenderung secara tidak langsung. Hal ini biasanya berupa kasus-kasus dimana sebuah microwave memanaskan cairan ke temperatur yang sangat tinggi dan orang tidak tahu seberapa panas alat itu. Luka microwave secara langsung adalah kasus yang langka. Alexander et al. melaporkan dua anak-anak yang mendapat luka bakar ketebalan-sebagian dan ketebalan-penuh disebabkan ketika bagian tubuhnya berada dalam oven microwave. Biopsi dari luka bakar dalam akan mencapai temperatur pengapian. Jika hal ini terjadi lebih atau kurang secara bergantian, api akan menyapu seluruh ruang memakan banyak bendabenda yang mudah terbakar. Hal ini disebut flashover. Periode pra-flashover berlangsung 5 20 menit pada kebanyakan situasi. Waktu untuk flashover tidak dapat diperkirakan dengan tepat, bergantung pada banyak faktor-faktor (contohnya bensin, oksigen). Temperatur dalam sebuah ruangan pada waktu flashover adalah bekisar antara 500-6000 C atau 932-11120F. Daftar Pustaka 1. National Safety Council. Accident Facts (1998) Itasca. IL 2. Moritz AR and Hendri;uest FC, Studies of thermal injury: II. The relative importance of time and surface temperature in the causation of cutaneous burns. Am J Pathol 1974: 23:695-720.

26

3. Ripple GR, Torrington KG, and Phillips YY, Predictive criteria for burns from brief thermal exposures. J Occ Med. 32(3):215-9, 1990. 4. McAnnalley BH, et al., Determination of inorganic sulfide and cyanide in blood using specific ion electrodes: Application to the investigation of hydrogen sulfide and cyanide poisoning. J anal Toxicol 1979: 3:111-114. 5. Silverman SH, et al., Cyanide toxicity in burned patiens. J Trauma 1988: 28:171176. 6. Lowry WT, et al., Free radical production from controlled low energy fires: Toxicity consideration. J Forens Sci 1985:30:73-85. 7. Moritz AR. Henriques FC. And McLean R. The effects of inhaled heat on the air passages and lungs. Am J pathol 1945: 21:311-331. 8. Zajtchuk R. (Ed.). Textbook of Military Medicine, Part 1. Volume 5. Conventional Warfare: Ballistics, Blast and Burn Injuries. U.S. Government Printing Office, Washington, D.C. 1991. 9. Norton LE, The Norton technique for dental identification. Forens Sci Gaz 1978: 9(4):1-2 10. Bohnert M. Rost Tiand Pollak S. The degree of destruction of human bodies.

27