Anda di halaman 1dari 20

RINOSINUSITIS Anton Christanto Bagian IP THT-KL RSUP Dr Sardjito/Fak Kedokteran UGM Yogyakarta Rinosinusitis adalah penyakit inflamasi yang

sering ditemukan dan mungkin akan terus meningkat prevalensinya. Rinosinusitis dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat, sehingga penting bagi dokter umum atau dokter spesialis lain untuk memiliki pengetahuan yang baik mengenai definisi, gejala dan metode diagnosis dari penyakit rinosinusitis ini.10 Penatalaksanaan rinosinusitis pada pasien dewasa di Indonesia telah dibakukan pada acara Pertemuan Ilimiah Tahunan (PIT) Perhati tahun 2001. Diharapkan bahwa penatalaksanaan ini dapat menjadi prosedur baku penatalaksanaan rinosinusitis di Indonesia serta menjadi pedoman bagi para dokter dalam praktek sehari-hari.11,12 Definisi Rinosinusitis adalah penyakit inflamasi mukosa yang melapisi hidung dan sinus paranasal. Peradangan ini sering bermula dari infeksi virus pada selesma, yang kemudian karena keadaan tertentu berkembang menjadi infeksi bakterial dengan penyebab bakteri patogen yang terdapat di saluran napas bagian atas. Penyebab lain adalah infeksi jamur, infeksi gigi, dan yang lebih jarang lagi fraktur dan tumor.12 Insidens kasus baru rinosinusitis pada penderita dewasa yang datang di Divisi Rinologi Departemen THT RSCM Januari-Agustus 2005, adalah 435 pasien, 69% (300 pasien) adalah sinusitis.3 Konsensus internasional yang merupakan hasil International Conference on Sinus Disease 1993, dan telah disepakati untuk dipakai di Indonesia, mendefinisikan rinosinusitis akut dan kronis lebih berdasarkan pada patofisiologinya. Rinosinusitis diklasifikasikan sebagai akut jika episode infeksinya sembuh dengan terapi medikamentosa, tanpa terjadi kerusakan mukosa. Rinosinusitis akut rekuren didefinisikan sebagai episode akut berulang yang dapat sembuh dengan terapi medikamentosa, tanpa kerusakan mukosa yang menetap. Rinosinusitis kronis ialah penyakit yang tidak dapat sembuh dengan terapi medikamentosa saja. Hal yang merupakan paradigma baru dari konsensus internasional ini ialah, baik pada rinosinusitis akut maupun kronis, jika obstruksi ostium dihilangkan dan terjadi aerasi yang adekuat dari sinus-sinus yang menderita maka mukosa yang telah rusak dapat mengalami regenerasi kembali.14 Diagnosis Kriteria rinosinusitis akut dan kronis pada penderita dewasa dan anak berdasarkan gambaran klinik dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kriteria Rinosinusitis Akut dan Kronik pada Anak dan Dewasa Menurut International Conference on Sinus Disease 1993 & 2004. Disarikan dari : Kennedy DW14 dan Meltzer15. KRITERIA RINOSINUSITIS AKUT RINOSINUSITIS KRONIK Dewasa Anak Dewasa Anak

1. Lama Gejala dan Tanda < 12 minggu < 12 minggu > 12 minggu > 12 minggu 2. Jumlah episode serangan akut, masing-masing berlangsung minimal 10 hari < 4 kali / tahun < 6 kali / tahun > 4 kali / tahun > 6 kali / tahun 3. Reversibilitas mukosa Dapat sembuh sempurna dengan pengobatan medikamentosa Tidak dapat sembuh sempurna dengan pengobatan medikamentosa Diagnosis Rinosinusitis Akut Pada Dewasa Ditegakkan berdasarkan kriteria di bawah ini: Anamnesis Riwayat rinore purulen yang berlangsung lebih dari 7 hari, merupakan keluhan yang paling sering dan paling menonjol pada rinosinusitis akut. Keluhan ini dapat disertai keluhan lain seperti sumbatan hidung, nyeri/rasa tekanan pada muka, nyeri kepala, demam, ingus belakang hidung, batuk, anosmia/hiposmia, nyeri periorbital, nyeri gigi, nyeri telinga dan serangan mengi (wheezing) yang meningkat pada penderita asma. Rinoskopi Anterior Rinoskopi anterior merupakan pemeriksaan rutin untuk melihat tanda patognomonis, yaitu sekret purulen di meatus medius atau superior; atau pada rinoskopi posterior tampak adanya sekret purulen di nasofaring (post nasal drip). Nasoendoskopi Pemeriksaan nasoendoskopi dapat dilakukan untuk menilai kondisi kavum nasi hingga ke nasofaring. Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan dengan jelas keadaan dinding lateral hidung. Foto polos sinus paranasal Pemeriksaan foto polos sinus bukan prosedur rutin, hanya dianjurkan pada kasus tertentu, misalnya: - Rinosinusitis akut dengan tanda dan gejala berat. - Tidak ada perbaikan setelah terapi medikamentosa optimal - Diduga ada cairan dalam sinus maksila yang memerlukan tindakan irigasi - Evaluasi terapi - Alasan medikolegal.16,17 Tomografi Komputer dan MRI Pemeriksaan tomografi komputer tidak dianjurkan pada rinosinusitis akut, kecuali ada kecurigaan komplikasi orbita atau intrakranial.

Pemeriksaan MRI hanya dilakukan pada kecurigaan komplikasi intrakranial. Diagnosis Rinosinusitis Kronis Pada Dewasa Diagnosis rinosinusitis kronis dapat ditegakkan berdasarkan kriteria di bawah ini: Anamnesis Riwayat gejala yang diderita sudah lebih dari 12 minggu, dan sesuai dengan 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor ditambah 2 kriteria minor dari kumpulan gejala dan tanda menurut International Consensus on Sinus Disease, 1993. dan 200414,15 (Lihat Tabel 2). Kriteria mayor terdiri dari: sumbatan atau kongesti hidung, sekret hidung purulen, sakit kepala, nyeri atau rasa tertekan pada wajah dan gangguan penghidu. Kriteria minornya adalah demam dan halitosis. Keluhan rinosinusitis kronik seringkali tidak khas dan ringan bahkan kadangkala tanpa keluhan dan baru diketahui karena mengalami beberapa episode serangan akut. Rinoskopi anterior Terlihat adanya sekret purulen di meatus medius atau meatus superior. Mungkin terlihat adanya polip menyertai rinosinusitis kronik. Pemeriksaan nasoendoskopi Pemeriksaan ini sangat dianjurkan karena dapat menunjukkan kelainan yang tidak dapat terlihat dengan rinoskopi anterior, misalnya sekret purulen minimal di meatus medius atau superior, polip kecil, ostium asesorius, edema prosesus unsinatus, konka bulosa, konka paradoksikal, spina septum dan lain-lain. Pemeriksaan foto polos sinus Dapat dilakukan mengingat biayanya murah, cepat dan tidak invasif, meskipun hanya dapat mengevaluasi kelainan di sinus paranasal yang besar. Pemeriksaan CT Scan Dianjurkan dibuat untuk pasien rinosinusitis kronik yang tidak ada perbaikan dengan terapi medikamentosa. Untuk menghemat biaya, cukup potongan koronal tanpa kontras. Dengan potongan ini sudah dapat diketahui dengan jelas perluasan penyakit di dalam rongga sinus dan adanya kelainan di KOM (kompleks ostiomeatal). Sebaiknya pemeriksaan CT scan dilakukan setelah pemberian terapi antibiotik yang adekuat, agar proses inflamasi pada mukosa dieliminasi sehingga kelainan anatomis dapat terlihat dengan jelas.16,17 Pungsi sinus maksila Tindakan pungsi sinus maksila dapat dianjurkan sebagai alat diagnostik untuk mengetahui adanya sekret di dalam sinus maksila dan jika diperlukan untuk pemeriksaan kultur dan resistensi. Sinoskopi Dapat dilakukan untuk melihat kondisi antrum sinus maksila serta. Pemeriksaan ini menggunakan endoskop, yang dimasukkan melalui pungsi di meatus inferior atau fosa kanina. Dilihat apakah ada sekret, jaringan polip, atau jamur di dalam rongga sinus maksila, serta bagaimana keadaaan mukosanya apakah kemungkinan kelainannya masih reversibel atau sudah ireversibel. 13-17 Tabel 2. Gejala dan Tanda Rinosinusitis Kronis Penderita Gejala & Tanda Dewasa dan Anak Mayor

Minor Kongesti hidung atau sumbatan Demam Sekret hidung purulen Halitosis Sakit kepala Nyeri atau rasa tertekan pada wajah Gangguan penghidu Anak Batuk Iritabilitas/Rewel Dikutip dari: Kennedy DW14 Diagnosis rinosinusitis ditegakkan jika terdapat 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor ditambah 2 kriteria minor.14,18 Secara ringkas panduan penatalaksaan sinusitis pada orang dewasa dapat dilihat pada bagan di bawah ini. PANDUAN BAKU PENATALAKSANAAN SINU SITIS pada DEWASA Terapi tambahan: Dekongest. oral, Kortikost.oral dan atau topikal, Mukolitik Antihistamin (pasien atopi) Diatermi, Proet, Irigasi sinus Terapi tambahan: Dekongest.oral / topikal, Mukolitik,Analgetik Pasien Atopi: Antihist./ steroid topikal Faktor Predisposisi: Deviasi septum Konka bulosa, Hipertrofi Adenoid (dk) RINOSKOPI ANTERIOR Polip? Tumor? Komplikasi Sinusitis? YA TIDAK Lama gejala > 8 minggu? Episode serangan akut > 4 TIDAK YA SINUSITIS AKUT Rinoskopi Anterior (RA) SINUSITIS AB empirik (224 jam) Lini I: Amoksil 3x500mg / Cotrimoxazol 2x480mg + Terapi tambahan Perbaikan? TIDAK

YA Lini II AB (7 hari) Amoks.klav/ Ampi.sulbaktam Cephalosporin gen.keII Makrolid + Terapi tambahan Perbaikan? TIDAK YA Teruskan Ro.polos/CT scan dan / Naso-endoskopi (NE) RA / Naso-endoskopi Ro polos / CT scan Pungsi & Irigasi sinus/ Sinuskopi Faktor Predisposisi? YA Tatalaksana yang sesuai TIDAK Terapi sesuai pada episode akut lini II +Terapi tambahan Perbaikan? YA TIDAK AB alternatif 7 hari Atau buat kultur Perbaikan TIDAK YA Evaluasi kembali: NE,Sinuskopi (Irigasi 5x tidak membaik) Obstruksi KOM? TINDAKAN BEDAH: BSEF atau Bedah Konvensional TIDAK ANAMNESIS Rinore purulen > 7 hari (Sumbatan hidung, nyeri muka, sakitkepala,demamdll.) Lakukan penatalaksanaan yang sesuai Teruskan Cari alur diagnostik lain YA

Sinusitis berasal dari akar bahasa Latinnya, akhiran umum dalam kedokteran itisberarti peradangan karena itu sinusitis adalah suatu peradangan sinus paranasal. Sinus adalah rongga berisi udara yang terdapat di sekitar rongga hidung. Di sekitar rongga hidung terdapat empat sinus yaitu sinus maksilaris ( terletak di pipi) , sinus etmoidalis ( kedua mata) , sinus frontalis (terletak di dahi) dan sinus sfenoidalis ( terletak di belakang dahi). Sinusitis adalah istilah kedokteran untuk infeksi sinus, yaitu rongga yang berisi udara yang letaknya dalam rongga kepala di sekitar hidung. Sinusitis (infeksi sinus) terjadi jika membran mukosa saluran pernapasan atas (hidung, kerongkongan, sinus) mengalami pembengkakan. Pembengkakan tersebut menyumbat saluran sinus yang bermuara ke rongga hidung. Akibatnya cairan mukus tidak dapat keluar secara normal. Menumpuknya mukus di dalam sinus menjadi faktor yang mendorong terjadinya infeksi sinus. Infeksi sinus yang berlangsung singkat disebut sinusitis akut. Gejalanya adalah sulit bernapas melalui hidung. Jika penderita menunduk ke depan, nyeri berdenyut akan terasa di sekitar wajah. Gejala lain adalah sakit kepala, demam atau batuk, dan perasaan bengkak di mata dan wajah. Sinusitis paling sering disebabkan oleh virus, misalnya virus common cold. Walaupun demikian, bakteri dan jamur juga dapat menjadi penyebab. Jika infeksi saluran pernapasan yang menyertai sinusitis berlangsung lebih dari 14 hari, maka kemungkinan besar penyebabnya adalah bakteri, bukan virus. Secara klinis berdasarkan waktu timbulnya penyakit sinusitis dibagi atas : 1. Sinusitis akut 2. Sinusitis subakut 3. Sinusitis Kronis Sedangkan berdasarkan penyebabnya sinusitis :

Infeksi berulang rinitis akut sering terjadi pada rinitis alergi (alergi hidung) Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), Segala sesuatu yang menyebabkan

sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang sering menyebabkan sinusitis

infeksi pada gigi geraham atas (pre molar dan molar Menurut loksinya dibagi bbeberapa jenis sinus, yaitu:

Sinus frontalis yang terletak di dahi Sinus maksilaris terletak di dalam tulang pipi Sinus etmoid terletak di belakang batang hidung di sudut mata Sinus sfenoid terletak di belakang sinus etmoidSetiap sinus tersebut berhubungan dengan

hidung untuk pertukaran udara dan sekresi (ingus). Hidung dan sinus dilapisi selaput lendir yang berhubungan satu sama lain. Sinus anak anda tidak akan berkembang sepenuhnya sebelum ia berusia 20 tahun. Namun, anakanak dapat juga menderita infeksi sinus. Walaupun kecil, sinus maxiliari (dibelakang pipi) dan ethmoid (diantara mata) telah ada sejak lahir. Sinusitis sangat sulit di diagnosa pada anak-anak karena seringnya terjadi infeksi saluran pernafasan pada anak-anak dan gejalanya sangat sulit dibedakan. Tidak seperti demam atau alergi, sinusitis yang disebabkan oleh bakteri harus di diagnosa oleh dokter dan dilakukan perawatan dengan antibiotik untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang. Gejala infeksi sinus pada anak :

Demam yang berlangsung lebih dari 10-14 hari. Terkadang demam tidak terlalu tinggi. Keluar lendir yang berwarna kuning kehijauan dari hidung.

Lelehan lendir dari hidung, kadang mengarah ke atau terlihat seperti sakit tenggorokan, batuk,

nafas yang berbau, pusing dan atau muntah-muntah. Sakit kepala, biasanya sebelum umur 6 tahun Mudah tersinggung/ tidak senang atau kelelahan

Bengkak di sekitar mata Gejala sinusitis akut. Sinusitis akut memiliki gejala subjektif dan gejala objektif. Gejala subjektif bersifat sistemik dan lokal. Gejala sistemik berupa demam dan rasa lesu. Gejala lokal dapat kita temukan pada hidung, sinus paranasal dan tempat lainnya sebagai nyeri alih (referred pain). Gejala pada hidung dapat terasa adanya ingus yang kental & berbau mengalir ke nasofaring. Selain itu, hidung terasa tersumbat. Gejala pada sinus paranasal berupa rasa nyeri dan nyeri alih (referred pain).
Gejala subjektif yang bersifat lokal pada sinusitis maksila berupa rasa nyeri dibawah kelopak mata dan kadang tersebar ke alveolus sehingga terasa nyeri di gigi. Nyeri alih (referred pain) dapat terasa di dahi dan depan telinga. Gejala sinusitis etmoid berupa rasa nyeri pada pangkal hidung, kantus medius, kadangkadang pada bola mata atau dibelakang bola mata. Akan terasa makin sakit bila pasien menggerakkan bola matanya. Nyeri alih (referred pain) dapat terasa pada pelipis (parietal). Gejala sinusitis frontal berupa rasa nyeri yang terlokalisir pada dahi atau seluruh kepala. Gejala sinusitis sfenoid berupa rasa nyeri pada verteks, oksipital, belakang bola mata atau daerah mastoid. Gejala objektif sinusitis akut yaitu tampak bengkak pada muka pasien. Gejala sinusitis maksila berupa pembengkakan pada pipi dan kelopak mata bawah. Gejala sinusitis frontal berupa pembengkakan pada dahi dan kelopak mata atas. Pembengkakan jarang terjadi pada sinusitis etmoid kecuali ada komplikasi. Rinoskopi sinusitis akut. Pemeriksaan rinoskopi anterior menampakkan mukosa konka nasi hiperemis dan edema. Terdapat mukopus (nanah) di meatus nasi medius pada sinusitis maksila, sinusitis forntal, dan sinusitis etmoid anterior. Nanah tampak keluar dari meatus nasi superior pada sinusitis etmoid posterior dan sinusitis sfenoid. Pemeriksaan rinoskopi posterior menampakkan adanya mukopus (nanah) di nasofaring (post nasal drip). Pemeriksaan sinusitis akut. Pemeriksaan penunjang berupa transiluminasi dan radiologik dapat kita gunakan untuk membantu diagnosa sinusitis akut. Pemeriksaan transiluminasi menampakkan sinus paranasal yang sakit lebih suram / lebih gelap daripada sinus paranasal yang sehat. Pemeriksaan radiologik dapat menggunakan posisi Waters, PA, atau lateral. Akan tampak adanya perselubungan, penebalan mukosa, atau batas cairan-udara (air fluid level). Sebaiknya kita mengambil sekret dari meatus nasi medius atau meatus nasi superior pada pemeriksaan mikrobiologik. Mikrobiologi yang mungkin kita temukan yaitu bakteri, virus atau jamur. Bakteri yang berfungsi sebagai flora normal di hidung maupun bakteri patogen keduanya bisa kita dapatkan. Bakteri patogen seperti Pneumococcus, Streptococcus, Staphyloccus, dan Haemophilus influenzae. Infeksi atau peradangan sinus umumnya terjadi sebagai kelanjutan infeksi hidung. Setiap kondisi dalam hidung yang menghambat aliran keluar cairan hidung cenderung menyebabkan infeksi dari sinus. Seperti adanya infeksi virus, bakteri atau benda asing penyebab alergi dapat menimbulkan pembengkakan selaput lendir hidung dan hal yang sama juga terjadi pada sinus sehingga menutup hubungan antara sinus dan hidung. Sinus yang sehat berisi udara, selain adanya sekresi dari selaput lendirnya. Apabila aliran ke dalam hidung terhambat maka sekresinya menumpuk dan terperangkap bersama udara di dalam sinus dan menekan dinding sinus yang bertulang sehingga menimbulkan rasa nyeri. Sinusitis dapat terjadi secara akut, subakut, kronis, alergi atau hiperplastiks. Gejala sinusitis bervariasi tergantung pada tipe infeksinya. Gejala umumnya berupa hidung tersumbat dan adanya cairan ingus dari belakang hidung yang menetes ke hulu kerongkongan. Pada sinus alergi gejala utamanya adalah bersinbersin, pengeluaran cairan terhambat, hidung terasa panas dan gatal. Infeksi sinus alergi berhubungan dengan alergi rhinitis (radang selaput lendir hidung). Pada infeksi sinus akut gejala utamanya selain hidung tersumbat juga diikuti ingusan sesudah 24 48 jam dan akhirnya mengeluarkan cairan nasal disertai nanah. Gejala lainnya yaitu badan terasa sakit, sakit

tenggorokan dan pusing. Pada infeksi sinus sub akut gejalanya yaitu hidung tersumbat, tidak enak pada wajah, lelah, dan pengeluaran cairan nasal yang disertai nanah yang akan berakhir lebih dari 3 minggu setelah infeksi akut berakhir. Infeksi sinus kronis gejalanya serupa dengan infeksi sinus akut, kecuali pada infeksi kronis dapat menyebabkan keluarnya cairan dari hidung secara terus menerus dan disertai nanah. Pada infeksi sinus hiperplastik menyebabkan hidung tersumbat secara kronis dan sakit kepala. Nyeri pada sinusitis juga tergantung pada letak sinus yang sakit. Nyeri di dahi merupakan gejala khas sinusitis frontalis. Nyeri pada rahang atas dan gigi merupakan gejala infeksi sinus maksilaris. Infeksi sinus etmoid menimbulkan rasa nyeri di antara kedua mata, rasa nyeri kalau pinggiran hidung disentuh, hidung tersumbat dan tidak dapat mencium. Gejala sinusitis lainnya adalah nafas berbau tidak sedap Sinusitis biasanya disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, dan alergi berkepanjangan. Alergen yang terhirup seperti debu, spora jamur, bulu binatang, serbuk sari bunga, dan lain-lain menimbulkan reaksi alergi dan pembengkakan yang dapat berpengaruh atas timbulnya serangan sinusitis. Meskipun sinusitis tidak dapat dicegah tetapi agar sinusitis tidak menjadi kronis, maka infeksi virus dan bakteri harus dihindari dengan meningkatkan daya tahan tubuh misalnya istirahat dan gizi yang cukup serta olahraga yang teratur. Hindari juga alergen seperti debu, asap rokok dan polusi lain serta obat-obatan dan jenis makanan tertentu yang dapat menimbulkan alergi. Jenis alergennya harus diketahui agar reaksi selanjutnya dapat dihindari atau dikurangi. Menyelam dan berenang juga harus dihindari karena air dapat masuk ke dalam sinus sehingga menimbulkan sumbatan atau infeksi. Beberapa faktor non infeksi juga dapat menimbulkan sinusitis akut yaitu :

Alergi. Peradangan yang diakibatkan oleh alergi dan komplikasi dari alergi dimana seringkali

tersering infeksi saluran napas dapat menyumbat saluran sinus. Ciri penderita alergi atau hipersensitif pada hihung adalah bila tidur atau dalam keadaan normal anak mulut sering terbuka, tidur malam hari kadang ngorok, sering mimisan, pagi hari sering bersin, malam hidung sering buntu, hidung seringb gatal.

Infeksi saluran napas berulang dan berkepanjangan. Infeksi batuk pilek dalam seminggu

sembuh beberapa hari kemudian tertular lagi. Kondisi ini terjadi dalam keadaan anak dengan daya tahan tubuh yng menurun. Pada penderita alergi yang tidak terkendali seringkali disertai daya tahan tubuh yng menurun

Sekat hidung bengkok. Sekat hidung yang bengkok dapat menyempitkan atau menyumbat

saluran sinus. Polip hidung. Daging tumbuh (polip) di hidung dapat menyumbat saluran sinus. Beberapa penyakit lain seperti fibrosis kistik, refluks gastroesofageal, HIV, dan penyakit

imunodefisiensi lainnya dapat menyebabkan sumbatan di hidung. Sumbatan yang terjadi pada sinusitis dapat bertambah parah jika terkena asap rokok atau

polusi udara lainnya, karena dapat memperparah iritasi dan inflamasi yang ada. Meskipun sangat jarang, jika sinusitis diperkirakan disebabkan oleh infeksi bakteri, penderita

biasanya diberikan antibiotik seperti amoksisilin, doksisiklin, atau kotrimoksazol. Tetapi jika sinusitis bukan disebabkan oleh bakteri, antibiotik tidak diberikan. Sebenarnya hal

inilah yang seringkali terjadi Beberapa pengobatan lain yang dapat diberikan pada sinusitis antara lain :

Pengobatan alergi yang mendasari timbulnya sinusitis. Penanganan alergi yang terbaik adalah

adalah harus mencari dan menghindari penyebabnya.Kesulitan utama sebenarnya adalah untuk mencari penyebab alergi.

Dekongestan dan kortikosteroid, baik kortikosteroid yang semprotkan di hidung maupun yang

diminum. Pereda nyeri dan anti demam. Semprotan larutan garam ke dalam rongga hidung beberapa kali sehari. Operasi Sinus. Operasi hanya dipertimbangkan jika pengobatan medis tidak memungkinkan

atau jika ada gangguan hidung yang tidakdapat diperbaiki dengan obat-obatan. Tipe dari operasi yang diperlukan lebih baik ditentukan oleh ahli bedah, tetapi jaman sekarang umumnya operasi dilakukan di dalam hidung dengan bantuan dari alat endoskopi khusus.

Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS) disarankan untuk beberapa tipe tertentu dari

penyakit sinusitis. Dengan endoskopi, ahli bedah dapat melihat secara langsung ke dalam hidung, dimana pada saat yang sama mengambil jaringan yang terkena penyakit dan polip dan membersihkan saluran kecil diantara sinus. Keputusan untuk menggunakan bius setempat atau bius total harus dibuat oleh anda dan dokter anda, tergantung pada keadaaan setiap individu.

Balloon Sinuplasty & Pengembangan inovatif lainnya. Terdapat banyak pengembangan/

inovasi, yang paling terkenal diantaranya adalah Balloon Sinuplasty dimana sebuah balon khusus dimasukan tepat ke dalam sinus yang terinfeksi dengan bantuan Fluorokopi. Pengembangan balon akan mengakibatkan pembesaran pada pembukaan alami sinus (ostia) tanpa mengakibatkan kerusakan yang tidak diinginkan terhadap bagian dalam kulit yang sangat rapuh (mucosa).

Sebelum operasi, pastikan bahwa mempunyai harapan yang realistis mengenai hasil, proses

penyembuhan & perawatan setelah operasi. Hasil yang baik memerlukan tidak saja teknis operasi yang baik tapi juga kerjasamaantara pasien dan dokter sepanjang proses penyembuhan. Hal yang sama pentingnya adalah kepatuhan pasien dalam mengikuti semua instruksi sebelum dan sesudah operasi. PENCEGAHAN SINUSITIS :

Menghirup uap hangat. Untuk menghindari berkembangnya sinusitis sewaktu penyakit demam ataualergi menyerang, Gunakan pelega sumbatan oral atau semprotan pelega sumbatan hidung untuk jangka waktu

pendek Keluarkan lendir hidung secara perlahan-lahan, tutup 1 lubang hidung pada saat mengeluarkan

lendir dari lubang hidung yang lain. Minum banyak cairan supaya lendir tidak mengental Hindari perjalanan udara. Jika anda harus bepergian dengan pesawat, gunakan semprotan

pelega sumbatan hidung sebelum pesawat tinggal landas, tujuannya untuk mencegah penyumbatan di sinus sehinggalendir bisa dikeluarkan.

Jika anda mempunyai alergi, cobalah untuk menghindari hal-hal yang menyebabkan alergi

tersebut. Jika tidak dapat dihindari, gunakan antihistamine yang dijual di toko atau dengan resep dokter dan atau semprotan hidung atas resep dokter untuk mengendalikan serangan alergi.

Kompres hangat menggunakan handuk di sekitar hidung, pipi, dan mata untuk mengurangi

nyeri

wajah. PENGOBATAN Pengobatan sinusitis bertujuan untuk menghilangkan penyumbatan, mengeringkan cairan sinus hidung, serta menghilangkan infeksi dan rasa nyeri. Tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi sinusitis mempunyai efek antara lain sebagai antiradang atau anti-infeksi, me
nghilangkan nyeri, mengurangi sumbatan lendir dan melancarkan pernafasan. Referensi :

Pengetahuan Dasar Tentang Penyakit Sinusitis


by SYAKUR on OCTOBER 15, 2011
Ada beberapa penyakit yang mungkin kita alami tetapi sebenarnya kita tidak mengetahuinya, salah satunya yaitu sinusitis. Penyakit ini memang namanya tidak begitu akrab ditelinga sebab sinusitis dapat kita kenali jika sudah bertemu dengan pihak medis. Setiap orang dapat mengalami penyakit sinusitis, sebab tidak ada batasan seseorang dapat mengalaminya atau tidak. Sinusitis terjadi disekitar area wajah, dapat dikenali dengan sangat mudah dan bisa diatasi.

Apa Itu Sinusitis?


Sinusitis adalah merupakan satu penyakit atau kelainan pada sinus paranasal, suatu peradangan pada mukosa atau selaput lendir sinus paranasal. Akibat peradangan ini dapat menyebabkan pembentukan cairan atau kerusakan tulang dibawahnya. Sinusitis paranasal adalah rongga-rongga yang terdapat pada tulang-tulang di wajah. Sinusitis ini terdiri dari sinus frontal (di dahi), sinus etmoid (pangkal hidung), sinus maksila (pipi kanan dan kiri), sinus sfenoid (di belakang sinus etmoid). Sinusitis dalam hal angka kejadian sinusitis di Indonesia belum diketahui secara pasti. Tetapi diperkirakan cukup tinggi karena masih tingginya kejadian infeksi saluran napas atas, yang merupakan salah satu penyebab terbesar terjadinya sinusitis.

Di Eropa angka kejadian sinusitis sekitar 10% 30% populasi, di Amerika sekitar 135 per 1000 populasi. Setiap orang dapat melakukan diagnosis pada dirinya sendiri apakah terkena sinusitis atau tidak. Untuk memudahkan diagnosis sinusitis dapat berpatokan pada The Task Force on Rhinosinusitis of The American Assosiation of Otolaryngology Head and Neck Surgery, dengan menggunakan gejala mayor dan minor.

Dampak Penyakit Sinusitis


jika sudah mengalami penyakit sinusitis maka akan sangat berdampak pada segala aktifitas seseorang. Orang akan lebih banyak bersin-bersin apalagi jika kondisi sedang dingin. Sinusitis apabila seorang penderita merasa dirinya memenuhi kriteria diagnosis seperti yang sudah diketahui sebelumnya, maka yang bersangkutan perlu segera memeriksakan dirinya ke dokter spesialis THT untuk medapatkan penanganan lebih lanjut, agar dapat dicegah komplikasi akibat penyakit ini. Diagnosis pasti sinusitis ditegakkan dengan pemeriksaan penunjang antara lain foto Rontgen, CT Scan, Endoskopi, biakan dan uji kepekaan kuman. Kesemuanya itu tergantung pada kondisi penderita dan fasilitas yang tersedia. Sinusitis dapat mengganggu sistem imun manusia, terganggunya prosesi pernafasan sehingga seseorang akan lebih sulit untuk menghirup udara. Dampak lain adalah sinusitis sangat berbaya jika tidak segera ditanggulangi secepatnya. Otomatis hal ini menyangkut pada kondisi hidung dan area sekitar wajah. Sinusitis juga berpotensi dapat membuat hidung selalu bersin-bersin meskipun tidak mengalami gejala flu. Dampak diatas tentu menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan sebab untuk itu kita perlu mengetahui dan mencegah sinusitis lebih dini. Setiap orang perlu menjaga dan mengantispasi lebih awal jika tidak ingin menderita penyakit sinusitis. Penderita Sinusitis diharapkan untuk mendatangi pihak medis yang khusus menanggulangi penyakit ini yaitu dokter atau ahli THT.

BAB I PENDAHULUAN

Sinusitis merupakan masalah kesehatan yang cukup sering dijumpai pada praktik sehari-hari dokter umum maupun dokter spesialis THT. Menurut American Acadenny of Otolaryngology Head & Neck Surger 1996, istilah sinusitis lebih tepat diganti dengan rinosinusitis karena dianggap lebih akurat dengan alasan: (1) secara embriologis mukosa sinus merupakan lanjutan mukosa hidung,

(2) sinusitis hampir selalu didahului dengan rinitis, dan (3) gejala-gejala obstruksi nasi, rinore dan hiposmia dijumpai pada rinitis ataupun sinusitis.[1] Sinusitis bisa disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur. Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenza, dan Streptococcus group A merupakan contoh bakteri yang dapat menyebabkan sinusitis. [1] Selain bakteri tersebut ada juga bakteri anaerob yang dapat menyebabkan sinusitis yaitu fusobakteria. Untuk virus yang dapat menyebabkan sinusitis adalah Rhinovirus, influenza virus, dan parainfluenza virus. [2] Sinusitis dapa dibedakan menjadi dua yaitu sinusitis akut dan kronis. Penyebab terjadinya sinusitis akut dan kronis pun berbeda. Untuk sinusitis akut itu biasanya terjadi karena rhinitis akut, faringitis, tonsilitis akut dan lain-lain. Gangguan drainase, perubahan mukosa, dan pengobatan merupakan penyebab terjadinya sinusitis kronis. [3] Sinusitis menjadi masalah kesehatan penting hampir di semua Negara dan angka prevalensinya makin meningkat tiap tahunnya1. Sinusitis paling sering dijumpai dan termasuk 10 penyakit termahal karena membutuhkan biaya pengobatan cukup besar.[4]Kebanyakan penderita rhinosinusitis ini adalah perempuan. [5] Prevalensi sinusitis di Indonesia cukup tinggi. Hasil penelitian tahun 1996 dari sub bagian Rinologi Departemen THT FKUI-RSCM, dari 496 pasien rawat jalan ditemukan 50 persen penderita sinusitis kronik. Pada tahun 1999, penelitian yang dilakukan bagian THT FKUI-RSCM bekerjasama dengan Ilmu Kesehatan Anak, menjumpai prevalensi sinusitis akut pada penderita Infeksi Saluran Nafas Atas (ISNA) sebesar 25 persen. Angka tersebut lebih besar dibandingkan data di negara-negara lain. [6] Untuk pemeriksaan fisik, dilakukan pemeriksaan dengan rinoskopi anterior pada rinosinusitis akan tampak adanya ingus yang purulen atau post nasal drip pada pemeriksaan faring. Adapun pemeriksaan penunjang antara lain transiluminasi, radiologi, endoskopi, kultur bakteri. Pungsi/aspirasi sebaiknya dilakukan setelah tanda akut mereda. [1] Gejala khas kelainan pada sinus adalah sakit kepala yang dirasakan ketika penderita bangun pada pagi hari. Sementara gejala lainnya adalah demam, rasa letih, lesu, batuk dan hidung tersumbat ataupun berlendir. Sakit pada muka di sekitar mata. Dan juga dapat mengalamikesulitan membedakan aroma atau bahkan mencium bau sama sekali Pada daerah ini jika Anda mengetuk tulang atau menundukkan kepala, muka akan terasa sakit. Diganosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala, foto rontgen sinus dan hasil pemeriksaan fisik. Diagnosis banding sinusitis akut meliputi rinitis akut (common cold) dan Neuralgia trigeminal, rhinovirus, sinus tumor (polip), dan ISNA

BAB II PEMBAHASAN

2.1 DESKRIPSI KASUS Pada tanggal 18 Maret 2010, seorang pasian datang ke poliklinik THT RS Sanglah, Denpasar. Adapun identitas pasien adalah sebagai berikut: Nama : Kadek Yuliarta Umur : 24 tahun Pekerjaan : Wiraswasta Alamat : Jl. Tunjung No. 32, Denpasar Pasien datang dengan keluhan utama hidung tersumbat, sering pilek yang hilang timbul, dan telinga terasa penuh. Selain itu pasien juga merasa ada cairan yang bergerak ditenggorokannya. Setelah dilakukan anamnesis, diperoleh data bahwa hidung tersumbat yang diderita pasien telah terjadi sejak 1 tahun yang lalu. Kadang pasien juga bersinbersin, dan pipi kanan dan kiri terasa tegang yang telah dirasakan sejak 5 bulan yang lalu. Telinga kanannya terasa penuh sejak 1 bulan. Dari hasil pemeriksaan fisik, ditemukan adanya gangguan pendengaran (lateralisasi) pada tes pendengaran telinga kiri. Selain itu, pada terjadi deviasi septum kearah kanan. Pada mukosa hidung berwarna merah yang mengindikasikan peradangan. Terdapat pembengkakan pada konka. Tida ada data tentang riwayat pengobatan dan penyakit ini sebelumnya. Tidak ada riwayat keluarga yang menderita atau pernah menderita rhinosinusitis ini. Data pendukung dari kasus ini adalah adalah waters X-Ray. 2.2 DISKUSI DENGAN GAMBARAN UMUM TEORITIKAL 2.2.1 Definisi Sinusitis dikarakteristikkan sebagai suatu peradangan pada sinus paranasal. Sinusitisdiberi nama sesuai dengan sinus yang terkena. Bila mengenai beberapa sinus disebutmultisinusitis. Bila mengenai semua sinus paranasalis disebut pansunusitis. Disekitar rongga hidung terdapat empat sinus yaitu sinus maksilaris (terletak di pipi), sinus etmoidalis (kedua mata), sinus frontalis (terletak di dahi) dan sinus sfenoidalis (terletak di belakang dahi). Sinusitis selalu melibatkan mukosa pada hidung dan jarang terjadi tanpa disertai dengan rhinitis maka sering juga disebut rhinosinusitis) .[1,7] Berdasarkan definisi, gejala acute rhinosinusitis terjadi kurang dari 3 minngu, gejala subacute rhinosinusitis terjadi paling tidak 21-60 hari dan gejala chronic rhinosinusitis terjadi lebih dari 60 hari. Rhinosinusitis dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat anatomi (maxillary, ethmoidal, frontal, sphenoidal), organisme patogen (viral, bacterial, fungi), adanya komplikasi (orbital, intracranial) dan dihubungkan dengan beberapa faktor (nasal polyposis, immunosupression, anatomic variants). 2.2.2 Epidemiologi

Rhinosinusitis mempengaruhi sekitar 35 juta orang per tahun di Amerika dan jumlah yang mengunjugi rumah sakit mendekati 16 juta orang. [5,8] Menurut National Ambulatory Medical Care Survey (NAMCS), kurang lebih dilaporkan 14 % penderita dewasa mengalami rhinosinusitis yang bersifat episode per tahunnya dan seperlimanya sebagian besar didiagnosis dengan pemberian antibiotik. Pada tahun 1996, orang Amerika menghabiskan sekitar $3.39 miliyar untuk pengobatan rhinosinusitis.[5,9]Sekitar 40 % acute rhinosinusitis merupakan kasus yang bisa sembuh dengan sendirinya tanpa diperlukan pengobatan. Penyakit ini terjadi pada semua ras, semua jenis kelamin baik lakilaki maupun perempuan dan pada semua kelompok umur. Chronic rhinosinusitis mempengaruhi sekitar 32 juta orang per tahunnya dan 11,6 juta orang mengunjungi dokter untuk meminta pengobatan. Penyakit ini bersifat persisten sehingga merupakan penyebab penting angka kesakitan dan kematian. Adapun penyakit ini dapat mengenai semua ras, semua jenis kelamin dan semua umur. 2.2.3 Etiologi Sinusitis dapat disebabkan oleh beberapa patogen seperti bakteri (Streptococcus pneumonia, Haemophillus influenza, Streptococcus group A, Staphylococcus aureus, Neisseria, Klebsiella, Basil gram (-), Pseudomonas, fusobakteria), virus (Rhinovirus, influenza virus, parainfluenza virus), dan jamur. Patogen yang paling sering dapat diisolasi dari kultur maxillary sinus pada pasiensinusitis akut yang disebabkan bakteri seperti Streptococcus pneumonia, Haemophillus influenza, dan Moraxella catarrhalis. Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureusdan bakteri anaerob. Selain itu beberapa jenis jamur juga berperan dalam patogenesis penyakit ini seperti Mucorales dan Aspergillus atau Candida sp. Berikut beberapa penjelasan patogen yang berperan dalam penyakit sinusitis akut : Streptococcus pneumonia merupakan bakteri gram positif, catalase-negative, facultatively anaerobic cocci dimana 20 - 43 % dari sinusitis akut yang disebabkan bakteri pada kasus orang dewasa. [10] Haemophillus influenza merupakan bakteri gram negatif, facultatively anaerobic bacilli. H influenza type B merupakan penyebab pasti meningitis sampai pemakaian luas vaksin. Staphylococcus aureus sekarang ini dilaporkan mengalami peningkatan dalam patogen penyebab sinusitis akut yang disebabkan bakteri. [11] Pada sinusitis kronik ada beberapa bakteri yang telah dapat dilaporkan yang berperan sebagai penyebab. Namun peran bakteri dalam patogenesis sinusitis kronik belum diketahui sepenuhnya. Adapaun beberapa contohnya seperti Staphylococcus aureus, Coagulase-negative staphylococci , H influenza, M catarrhalis, dan S Pneumoniae. Disamping itu, ada beberapa jenis jamur yang dapat dihubungkan dengan penyakit ini seperti Aspergillus sp, Cryptococcus neoformans, Candida sp, Sporothrix schenckii danAltemaria sp. Adapun etiologi yang mungkin dari pasien diatas adalah adanya infeksi dari bakteri. Hal ini karena pasien mengeluhkan adanya pilek yang kemungkinan disebabkan oleh bakteri. 2.2.4 Patogenesis Pada dasarnya patofisiologi dari sinusitis dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu obstruksi drainase sinus (sinus ostia), kerusakan pada silia, dan kuantitas dan kualitas mukosa. Sebagian besar episode sinusitis disebabkan oleh infeksi virus. Virus tersebut sebagian besar menginfeksi saluran pernapasan atas seperti rhinovirus, influenza

A dan B,parainfluenza, respiratory syncytial virus, adenovirus dan enterovirus. Sekitar 90 % pasien yang mengalami ISPA akan memberikan bukti gambaran radiologis yang melibatkan sinus paranasal.[4,12] Infeksi virus akan menyebabkan terjadinya udem pada dinding hidung dan sinus sehingga menyebabkan terjadinya penyempitan atau obstruksi pada ostium sinus, dan berpengaruh pada mekanisme drainase dalam sinus.

Selain itu inflamasi, polyps, tumor, trauma, scar, anatomic varian, dan nasal instrumentation juga menyebabkan menurunya patensi sinus ostia. Virus tersebut juga memproduksi enzim dan neuraminidase yang mengendurkan mukosa sinus dan mempercepat difusi virus pada lapisan mukosilia. Hal ini menyebabkan silia menjadi kurang aktif dan sekret yang diproduksi sinus menjadi lebih kental, yang merupakan media yang sangat baik untuk berkembangnya bakteri patogen. Silia yang kurang aktif fungsinya tersebut terganggu oleh terjadinya akumulasi cairan pada sinus. Terganggunya fungsi silia tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kehilangan lapisan epitel bersilia, udara dingin, aliran udara yang cepat, virus, bakteri,environmental ciliotoxins, mediator inflamasi, kontak antara dua permukaan mukosa, parut, primary cilliary dyskinesia (Kartagener syndrome). Adanya bakteri dan lapisan mukosilia yang abnormal meningkatkan kemungkinan terjadinya reinfeksi atau reinokulasi dari virus. Konsumsi oksigen oleh bakteri akan menyebabkan keadaan hipoksia di dalam sinus dan akan memberikan media yang menguntungkan untuk berkembangnya bakteri anaerob. Penurunan jumlah oksigen juga akan mempengaruhi pergerakan silia dan aktivitas leukosit. Sinusitis kronis dapat disebabkan oleh fungsi lapisan mukosilia yang tidak adekuat, obstruksi sehingga drainase sekret terganggu, dan terdapatnya beberapa bakteri patogen. Menurut teori,patogenesis pasien di atas disebabkan oleh deviasi septum. Deviasi septum tersebut didapatkan dari pemeriksaan fisik. 2.2.5 Manifestasi kilinis Manifestasi klinis yang khas dari kelainan pada sinus adalah sakit kepala yang dirasakan ketika penderita bangun pada pagi hari. Manifertasi klinis yang ditimbulkan olehsinusitis dapat dibagi menjadi dua yaitu gejala subyektif (dirasakan) dan gejala obyektif (dilihat). Gejala subyektif : demam, lesu, hidung tersumbat, sekresi lender hidung yang kental dan terkadang bau, sakit kepala yang menjalar dan lebih berat pada pagi hari. Gejala obyektif kemungkinan ditemukan pembengkakan pada daerah bawah orbita(mata) dan lama kelamaan akan bertambah lebar sampai ke pipi. Sinusitis akut dan kronis memilki gejala yang sama, yaitu nyeri tekan dan pembengkakan pada sinus yang terkena, tetapi ada gejala tertentu yang timbul berdasarkan sinus yang terkena : Sinusitis maksilaris menyebabkan nyeri pipi tepat dibawah mata, sakit gigi dan sakit kepala Sinusitis frontalis menyebabkan sakit kepala di dahi Sinusitis etmoidalis menyebabkan nyeri di belakang dan diantara mata serta sakit kepala di dahi.

Sinusitis sfenoidalis menyebabkan nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikan dan bisa dirasakan di puncak kepala bagian depan ataupun belakang, atau kadang menyebabkan sakit telinga dan sakit leher. Pada pasien di atas kemungkinan sinus yang terinfeksi adalah sinus maksilla berdasarkan dari keluhan pasien. Pada pipi bagian sinistra pasien juga terdapat udema yang menunjukan penumpukan cairan pada sinus maksillaris pasien. 2.2.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding Dalam menegakkan diagnosis penyakit sinusitis baik akut maupun kronik harus melakukan beberapa langkah seperti anamnesis (riwayat pasien), pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Penegakkan diagnosis tersebut harus dilakukan dengan cermat sebab ini akan sangat mempengaruhi dokter terutama dalam penatalaksanaan pasien. Berikut langkah-langkah dalam mendiagnosis sinusitis baik akut maupun kronis. a) Sinusitis Akut Anamnesis Riwayat rhinitis allergi, vasomotor rhinitis, nasal polyps, rhinitis medicamentosa atau immunodeficiency harus dicari dalam mengevaluasisinusitis. Sinusitis lebih sering terjadi pada orang yang mengalami kelainan kongenital pada imunitas humoral dan pergerakan sillia, cystic fibrosis dan penderita AIDS. Sinusitis yang disebabkan oleh bakteri sering salah diagnosis. Faktanya hanya 4050 % dari kasus yang berhasil didiagnosis dengan tepat oleh dokter. [13] Meskipun kriteria diagnosis sinusitis akut telah ditetapkan, tak ada satu tanda atau gejala yang kuat dalam mendiagnosis sinusitis yang disebabkan bakteri. Akan tetapi, sinusitis akut yang disebabkan bakteri harus dicurigai pada pasien yang memperlihatkan gejala ISPA yang disebabkan virus yang tidak sembuh selama 10 hari atau memburuk setelah 57 hari. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik, hal-hal yang mungkin kita temui pada pasien sepertipurulent nasal secretion, purulent posterior pharyngeal secretion, mucosal erythema, periorbital erythema, tenderness overlying sinuses, air-fluid levels on transillium of the sinuses dan facial erythema.[6] Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium ESR (Erythrocyte Sedimentation Rate) dan C-reactive protein meningkat pada pasien sinusitis tapi hasil ini tidak spesifik. Hasil pemeriksaan darah lengkap juga diperlukan sebagai acuan pembanding. Pemeriksaan sitologi nasal berguna untuk menjelaskan beberapa hal seperti allergic rhinitis, eosinophilia, nasal polyposisdan aspirin sensitivity. Kita juga dapat melakukan kultur pada produk sekresi nasal akan tepai sangat terbatas karena sering terkontaminasi dengan normal flora. Pemeriksaan Imaging Pemerikasaan ini dilakukan terutama untuk mendapatkan gambaransinus yang dicurigai mengalami infeksi. Ada beberapa pilihan imaging yang dapat dilakukan yaitu plain radiography (kurang sensitif

terutama pada sinus ethmoidal), CT scan (hasilnya lebih baik dari pada rontgen tapi agak mahal), MRI (berguna hanya pada infeksi jamur atau curiga tumor) dan USG (penggunaannya terbatas). [6] b) Sinusitis kronik Anamnesis Sinusitis kronik lebih sulit didiagnosis dibandingkan dengan sinusitis akut. Dalam menggali riwayat pasien harus cermat, jika tidak maka sering salah diagnosis. Gejala seperti demam dan nyeri pada wajah biasanya tidak ditemukan pada pasien sinusitis kronik. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaaan fisik pasien sinusitis kronik ditemukan beberapa hal seperti pain or tenderness on palpation over frontal or maxillary sinuses,oropharyngeal erythema dan purulent secretions, dental caries danophthalmic manifestation (conjunctival congestion dan lacrimation, proptosis). Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan kultur hapusan nasal tidak memiliki nilai diagnostik. Kadang-kadang pada hapusan nasal ditemukan juga eosinopil yang mengindikasikan adanya penyebab alergi. Pemeriksaan darah lengkap rutin dan ESR secara umum kurang membantu, akan tetapi biasanya ditemukan adanya kenaikan pada pasien dengan demam. Pada kasus yang berat, kultur darah dan kultur darah fungal sangat diperlukan. Tes alergi diperlukan untuk mencari penyebab penyakit yang mendasari. Pemeriksaan Imaging Imaging yang tersedia untuk membantu dalam menegakkan diagnosis sinusitis kronis seperti plain radiography, CT scan, danMRI. Prinsip penggunaannya sama pada sinusitis akut. [3,7]

Dilihat dari hasil anamnesis pasien seperti yang sudah tertulis diatas, dan menurut teori tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pasien menderita sinusitis tipe kronik. Hal ini karena menurut keluhan pasien, gejala ini sudah muncul sejak 1 tahun yang lalu. Adapun beberapa diagnosis banding dari masing-masing tipe sinusitis yaitu : a) Sinusitis Akut : asthma, bronchitis, influenza, dan rhinitis alergi b) Sinusitis Kronik : FUO, gastroesophageal reflux diseases, rhinitis alergi, rhinocerebral mucormycosis dan acute sinusitis. [3] 2.2.7 Penatalaksanaan dan Follow Up a) Sinusitis Akut Tujuan dari terapi sinusitis akut adalah memperbaiki fungsi mukosilia dan mengontrol infeksi. Terapi sinusitis karena infeksi virus tidak memerlukan antimikrobial. Terapi standard nonantimikrobial diantaranya topical steroid,topical dan atau oral decongestan, mucolytics dan intranasal saline spray. Berdasarkan pedoman Sinus and Allergy Health Partnership tahun 2000, terapisinusitis akut yang disebabkan bakteri dikatakorikan menjadi 3 kelompok :

Dewasa dengan sinusitis ringan yang tidak meminum antibiotik : Amoxicillin/clavulanate, amoxicillin (1.5-3.5 g/d), cefpodoxime proxetil, atau cefuroxime direkomendasikan sebagai terapi awal Dewasa dengan sinusitis ringan yang telah mendapat antibiotik sebelumnya 4 6 minngu dan dewasa dengan sinusitis sedang : Amoxicillin/clavulanate, amoxicillin (3-3.5 g), cefpodoxime proxetil, atau cefixime Dewasa dengan sinusitis sedang yang telah mendapat antibiotik sebelumnya 4 6 minggu : Amoxicillin/clavulanate, levofloxacin, moxifloxacin, atau [7] doxycycline. b) Sinusitis Kronik Terapi yang dapat dilakukan pertama kali seperti mengontrol faktor-faktor resiko karena sinusitis kronik memiliki banyak faktor resiko dan beberapa penyebab yang berpotensial. Selain itu, terapi selanjutnya yaitu mengontrol gejala yang muncul serta pemilihan antimikrobial (biasanya oral) yang di pakai. Tujuan utama dari terapi dengan menggunakan obat yaitu untuk mengurangi infeksi, mengurangi kesakitan dan mencegah terjadinya komplikasi. Adapun berikut beberapa contoh antibiotik yang digunakan seperti : Vancomycin (Lyphocin, Vancocin, Vancoled) => Adult : 1 g or 15 mg/kg IV q12h, Pediatric : 30-40 mg/kg/d IV in 2 doses Moxifloxacin (Avelox) => Adult : 400 mg PO/IV qd, Pediatric : <18 years: Not recommended , >18 years: Administer as in adults Amoxicillin (Amoxil, Trimox, Biomox) => Adult : 500 mg to 1 g PO q8h,Pediatric : 0-45 mg/kg/d PO q8h divided. [6,9] Pasien yang telah mendapatkan terapi dan mulai menunjukkan adanya kemajuan hendaknya tetap dilakukan follow up agar proses penyembuhan dapat berjalan dengan baik. Adapaun yang perlu diperhatikan diantaranya minum air secukupnya, hindari merokok, imbangi nutrisi dan lain-lain. Penatalaksanaan pasien pada kasus diatas adalah dengan pemberian ambroksol dengan dosis 3 kali sehari masing-masing 1 tablet. Selain itu, diberikan juga obat dari golongan psodoefedrin dengan dosis 3 kali sehari masingmasing 1 tablet. Namun pasien pada kasus diatas, belum dilakukan suatu follow up mengingat pasien ini baru pertama kali datang ke poliklinik THT Rumah Sakit Sanglah. Tetapi pasien diatas telah disarankan untuk mengikuti follow up dengan datang kembali ke poliklinik THT RS Sanglah setiap 1 bulan. 2.8 Prognosis dan Komplikasi Prognosis untuk penderita sinusitis akut yaitu sekitar 40 % akan sembuh secara spontan tanpa pemberian antibiotik. Terkadang juga penderita bisa mengalami relaps setelah pengobatan namun jumlahnya sedikit yaitu kurang dari 5 %. Komplikasi dari penyakit ini bisa terjadi akibat tidak ada pengobatan yang adekuat yang nantinya akan dapat menyebabkan sinusitis kronik, meningitis, brain abscess, atau komplikasi extra sinuslainnya. [1,2] Sedangkan prognosis untuk sinusitis kronik yaitu jika dilakukan pengobatan yang dini maka akan mendapatkan hasil yang baik. Untuk komplikasinya bisa berupa orbital cellulitis, cavernous sinus thrombosis, intracranial extension (brain abscess, meningitis) dan mucocele formation. [1,2,3]

BAB III KESIMPULAN

Dari penjelasan-penjelasan sebelumnya dan dari hasil anamnesis yang kami dapatkan dari pasien seperti utama hidung tersumbat, sering pilek yang hilang timbul, dan telinga terasa penuh, serta dari hasil pemeriksaan fisik yang telah dilakukan dan hasil dari pemeriksaan penunjang, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pasien tersebut menderitarhinosinusitis. Adapun penatalaksanaan yang dilakukan kepada pasien adalah pemberian obat yang terdiri dari ambroksol dengan dosis 3 kali sehari masing-masing 1 tablet. Selain itu, diberikan juga obat dari golongan psodoefedrin dengan dosis 3 kali sehari masing-masing 1 tablet. Adapun follow up yang akan dilaksanakan pada pasien ini adalah dengan control tiap 1 bulan. Prognosis pasien ini baik apabila pasien rutin mengikuti follow up dan taat terhadap pengobatan yang diberikan. Untuk komplikasinya bisa berupa orbital cellulitis, cavernous sinus thrombosis, intracranial extension (brain abscess, meningitis)dan mucocele formation

Mengenal Rhinosinusitis
Rhinosinusitis adalah suatu proses peradangan yang melibatkan satu atau lebih sinus paranasal yang biasanya terjadi setelah reaksi alergi atau infeksi virus pernapasan atas. Dalam beberapa kasus,rhinosinusitis dapat terjadi karena adanya peningkatan produksi bakteri pada permukaan rongga sinus. Ini adalah tanda-tanda umum dan gejala Rhino-sinusitis:

Wajah terasa sakit Adanya tekanan pada bagian wajah Penyumbatan pada hidung Demam Sakit kepala Mulut berbau Kelelahan Batuk Telinga nyeri / tekanan / kepenuhan Sakit tenggorokan

Rhinosinusitis dapat dibagi menjadi empat subtipe dan penyebabnya bisa beragam, tergantung jenis kondisinya;

1. Rhinosinusitis akut
Rhinosinusitis akut adalah kondisi peradangan satu atau lebih dari para-rongga hidung yang biasanya berlangsung hingga empat minggu. Rhinosinusitis akut biasanya dimulai dengan pilek, yang menghambat sinus dan menyebabkan pembengkakan mukosa yang biasanya diikuti oleh infeksi sinus bakteri. Kemudian kelenjar lendir mulai mengeluarkan sejumlah besar lendir yang mengisi rongga ini. Penghindaran Allergen, seperti asap rokok, tungau debu, atau serbuk sari masih merupakan cara terbaik untuk mengelola masalah alergi yang satu ini. Rhinosinusitis kronis Rhinosinusitis kronis adalah infeksi inflamasi dan secara bersamaan mempengaruhi hidung dansinus para-

2.

3.

4.

hidung. Rhinosinusitis kronis adalah bentuk melemahkan sinusitis yang dapat mengakibatkan gejala fisik signifikan serta gangguan fungsional dan emosional substansial. Rhinosinusitis kronis bisa menjadi luas, menyakitkan dan jaringan hidung dapat membengkak sejak kondisi ini berlangsung selama lebih dari 12 minggu. Pada Rhinosinusitis kronis, durasi yang panjang dari gejala berikut ini khas dan dapat hadir, sebut saja polip hidung, cystic fibrosis, dan nasal obstruksi Rhinosinusitis kronis dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang mendasarinya seperti, pertumbuhan bakteri (bakteri rhinosinusitis, ketika proses inflamasi memungkinkan untuk peningkatan produksi bakteri, yang pada gilirannya menyebabkan peradangan lebih), dan pertumbuhan jamur. Rhinosinusitis akut berulang Rhinosinusitis akut berulang didefinisikan bila Anda memiliki empat atau lebih penyakit akut yang kambuh dalam jangka waktu 12 bulan. Dalam kebanyakan kasus, setiap episode kekambuhan berlangsung selama minimal tujuh hari. Rhinosinusitis sub akut Rhinosinusitis sub akut pada dasarnya adalah kondisi tingkat rendah dari infeksi akut yang berlangsung selama lebih dari empat minggu, tetapi kurang dari 12 minggu. Rhinosinusitis subakut biasanya melibatkan satu atau dua pasang rongga paranasal. Meskipun rhinosinusitis sub akut dianggap sebagai kondisi kelas rendah, namun hal ini juga dapat menyebabkan produktivitas rendah dan ketidaknyamanan pada orang yang mengalaminya.