Anda di halaman 1dari 5

Untuk meningkatkan efektivitas terapi dari ketergantungan nicotine maka para ahli mulai berpaling pada genetik yang

menjadi dasar kebiasaan dari merokok tersebut. Yang menjadi fokus adaah neurotransmitter dopamine dan variasi yang berhubungan dengan sintesis dopamine, reuptake dan receptor. Dopamine itu sendiri merupakan substrat yang penting mengingat efeknya dalam penguatan nicotine serta kondisi yang berpotensi menimbulkan kecanduan.

Polimorfisme itu sendiri secara harafiah berarti varian. Dalam kasus dimana gen dopamine transporter yaitu SLC6A3, dimana apabila sesorang memiliki kopi dari 9-repeat-allele kemungkinan kecil untuk berkembang menjadi peokok dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki kopi dari allele tersebut (SLC6A3-10 Genotype). Studi yang dilakukan oleh Sabol membuktikan hal tersebut.

Melonjaknya penelitian terhadap peran genetik pada kebiasaan merokok seseorang meningkatkan pengetahuan baru yang dapat mempengaruhi hasil klinis. Pendekatan ini disebut dengan, farmakogenetik, yang didasari oleh perbedaan individu terhadap terapi.

Diskusi Menurut studi yang dilakukan, SLC6A3 memiliki persentasi 53% kemugkinan untuk seseorang berhenti merokok. Hal ini dikarenakan gen tersebut ada hubungannya dengan tingkat dexpresi protein dopamine yang lebih rendah. Oleh karena itu neuron dopamine yang di-reuptake akan jauh lebih rendah sehingga leveldopamine akan lebih tinggi, sehingga seseorang tidak lagi memerlukan stimulan seperti nicotine. Positive reinforcement untuk merokok juga akan jauh lebih rendah sehingga akan lebih mudah untuk seseorang dengan gen tersebut memaintain smoking abstience.

Latar belakang Nicotine merupakan komponen utama dari tembakau yang berperan penting pada perilaku seseorang untuk menjadi kecanduan melalui neurotransmisi dopamine yang bergerak pada jalur mesolimbic pada otak sehingga akan memberikan reward. Kode genetik yang berperan bisa berhubungan dalam hal ini dimana, secara garis bedar ada 3 yaitu dopamine sintesis (thyrosine hydroxylase), aktivasi reseptor dan synaptic reuptake serta metabolisme. Faktor gentik ini berpotensi pada perilaku seseorang untuk berhenti merokok.

Hipotesa yang saat ini berlaku adalah dimana terjadi penurunan neurotransmisi dopamine, baik itu penurunan produksi dopamin, peningkatan metabolisme, peningkatan reuptake maupun penurunan aktivasi reseptor akan membuat seseorang justru lebih sulit untuk menghentikan perilaku merokok. Sebagai contoh, DRD2 reseptor, polimorfisme yang mungkin terjadi apabila terdepat delesi yang akan nantinya menurunkan aktivitas promoter terntu akan berujung pada penurunan kadar dopamine sehingga kemungkinan untuk menghentikan perilaku merokok tentu menurun.

Latar belakang

Meskipun resiko dari merokok telah diketahui, perilaku tersebut ironisnya justru merupakan penyebab penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan sekitar 1.2 milyar perokok di seluruh dunia dan diprediksi akan meningkat hingga 1.4-1.5 milyar pada tahun 2010, bahkan dapat mencapai 1.6-1.9 milyar pada tahun 2025. Hal ini dikarenakan oleh adanya peningkatan populasi serta, konsumsi rokok yang dari tahun ke tahun melonjak pada penduduk dengan ekonomi menengah.

Penelitian secara tegas menjelaskan bahwa setiap perokok bervariasi perihal faktor genetik yang mendasari kerentanan seseorang untuk menjadi perokok. Mengingat farmakogentik untuk menghentikan kebiasaan merokok biasanya diarahkan pada modulasi jalur neurotransmitter seseorang, maka secara tidak langsusng variasi genetik ini juga berperan dalam keberhasilan terapi tersebut.

Gen dan variasi pada perilaku merokok

Kebiasaan merokok sendiri dipercaya merupakan komplex, perilaku multifaktorial baik gentik maupun lingkungan. Faktor genetik sendiri berperan sekitar 40-75% pada inisiasi merokok, 70-80% maintenance dan 50% dari kesuksesan terapi pemberhentian.

Gen yang berperan pada jalur dopamine Sistem dopamine pada mesolimbic terbukti berperan penting dalam rewarding system. Oleh karena itu, beberapa peneliti percaya bahwa ada asosiasi kuat antara kebiasaan merokok dan beberapa variasi genetik yang terdapat di dalamnya, baik itu receptor, transporter maupun sintesis.

Dopamine transporter memindahkan dopamine yang dilepaskan di sinaps menuju neuron, sel glia serta astrosit untuk menghentkan sinyal dopamine. Apabila terjadi penurunan pada transporter dopamine, maka yang terjadi adalah penurunan clearance serta penibgkatan bioavibilitas yang ternyata dapat menurunkan persentasu seseorang berkembang menjadi perokok, penurunan intake nicotine serta meningkatnya kemungkinan smoking cessation.

Latar belakang Setiap tahunnya, rokok memiliki peranan besar dalam 3 juta kematian, dengan angka sekitar 430,000 yang terjadi di Amerika sendiri. Karena merokok merupakan faktor resiko yang dapat diubah, maka penatalaksanaan serta pencegahan adalah sebuah kesempatan serta peluang untuk promosi kesehatan masal. Meskipun pada kenyataannya setiap perokok sadar akan resiko yang akan mereka peroleh. Faktor lingkungan seperti pengaruh rekan sejawat dan iklan berpran dalam perilaku seseorang merokok, namun justru dibalik itu adalah ketergantungan nikotin yang justru menjadi titik kunci dibalik itu s emua.

Dopamine Gene Sistem mesolimbic dopamine amat critical dalam memperkuat efek drai beberapa substansi yang mampu menimbulkan ketergantungan, termasuk di dalamnya adalah nicotine. Nicotine itu sendiri menstimulasi pelepasan dopamine pada nucleus accumbens, kemungkinan melalui aktivasi dari reseptor asetilkolin yang terdapat pada jalur mesolimbic dopamine.

Gen Transporter dopamine Protein transporter dopamine diekspreikan melalui gen SLC6A3 dan variasinya yang terdapat di dalamnya dilaporkan dapat memediasi konsentrasi serta respon dari dopamine pada sinaps. Beberapa contoh mulai diteliti, dimana polimorfisme yang terdapat pada allele9 berhubungan dengan gangguan kelebihan dopamine, serta pada allele 10 ternyata justru sebaliknya dimana ditemukan adanya insufisiensi dopamine.

Studi yang dilakukan oleh Lerman menuliskan bahwa sebagian besar perokok amat kecil kemungkinannya memiliki SLC6A3-9 genotype serta kemungkinan memulai perilaku tersebut di atas 16 tahun.

Studi lain juga menjelaskan hal yang serupa, dimana gen tersebut bukan hanya berperan pada kemungkinan dimulainya perilaku merokok namun juga pada keberhasilan akan terapi pemberhentian merokok.

Genotipe tersebut ternyata berhubungan dnegan expresi protein yang memang lebih rendah, sehingga reuptake yang terjadi justru semakin rendah dan memperbanyak kadar dopamine dalam tubuh. Imbasnya tentu daya tarik nicotine yang menghasilkan dopamine justru tidak terlalu tinggi implikasinya. Sebaliknya apabila dibandingkan dengan individu lain, dengan genotipe yang berbeda tentu mereka membutuhkan dorongan dari nicotine untuk menghasilkan dopamine dalam tubuhnya.

Implikasi farmakogenetik pada dunia Psikiatri secara klinis Individu dengan gangguan psikiatri ternyata setelah diteliti memeliki beban dari kebiasaan merokok. Data yang dilansir menunjukkan bahwa bukan hanya sebagian besar penderita merokok, melainkan memiliki kemungkinan yang amat rendah untuk berhenti merokok. 92% pasien yang didiagnosaskizofrenia, ternayta memiliki riwayat merokok dan 83% masih merokok hingga saat ini. Ratio tersebut juga cukup tinggi pada pasien penderita bipolar (69%), major depression (37%) dan gangguan kecemasan (46%). Mungkin penelitian memang belum sejauh itu mempelajari terapi terhadap seseorang yang memilki gangguan psikis dan terapi merokok, namun memang arahnya cukup menjanjikan. Ternyata, seseorang yang diobati dengan bupropion selain amat untuk skizofrenia, ternyata memang efektif dibandingkan dengan placebo.

Namun memang, masih banyak aspek yang masih perlu diperbaiki seperti kurangnya persiapan dari setiap klinik untuk hal-hal yang berbau genetika, stigma masyarakat yang masih buruk serta kurangnya pengetahuan mengenai genetik.