Anda di halaman 1dari 4

BAB I PERCOBAAN III RANGKAIAN RANGKAIAN SEDERHANA 1.1 1. Tujuan Mempelajari dan meneliti Teorema Superposisi.

Alat Alat

1.2

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Nama Alat Panel Resistor Resistor 100 Resistor 220 Resistor 330 Amperemeter Voltmeter DC Power Supply Kabel kabel penghubung

Kode 57674 57732 57736 57738 53163 53159 52230 50148

Jumlah 1 1 1 1 3 2 2 10

BAB II DASAR TEORI Teorema Superposisi dapat dinyatakan sebagai berikut : Dalam suatu rangkaian terdiri dari lebih dari satu sumber dan resistansi resistansi atau impedasi - impedasi linier dan bilateral, maka arus / tegangan di suatu cabang yang disebabkan oleh sumber - sumber itu akan sama dengan jumlah dari arus - arts / tegangan - tegangan yang disebabkan oleh tiap - tiap sumber tersendiri dengan sumber - sumber lainnya tidak bekerja. Suatu sumber tegangan yang tidak bekerja (mati) memiliki tegangan not, berarti dapat diganti dengan suatu hubungan singkat. Suatu sumber arus yang tidak bekerja memiliki arus nol, berarti dapat diganti dengan suatu hubungan terbuka. Teorema superposisi berlaku untuk semua rangkaian bilateral dan tinier, jadi berlaku juga untuk semua rangkaian yang terdiri dari resistor, induktor, dan kapasitor asal saja elemen - elemen ini linier dan bilateral. Suatu elemen dikatakan tinier bila bandingan antara tegangan pada elemen itu dan arus yang disebabkan oleh tegangan tersebut (V/L) adalah tetap. Suatu elemen dikatakan bilateral bila resistansi atau reaktansinya sama untuk kedua arah arus yang melewatinya. Teorema superposisi sangat berguna untuk menentukan responsi dari suatu rangkaian bila dlhubungkan pada sebuah tegangan bolak - balik yang memiliki komponen searah.

BAB III CARA KERJA

3.1

Peralatan dan Rangkaian Percobaan. 1. Rangkaian yang digunakan dalam percobaan ini seperti pada gambar IV-1.

3.2

Prosedur dan Pelaksanaan Percobaan 1. Buatlah rangkaian seperti gambar IV- 1. 2. Tunjukkan pada instruktur apakah rangkaian yang telah saudara buat sudah benar. Periksa sekali lagi hubungan sebelum sumber tegangan dinyalakan. Pemasangan polaritas alat ukur jangan sampai terbalik. Sebelum alat ukur digunakan pasang pada posisi range terbesar. Setelah itu baru range dikecilkan sehingga jarum penunjuk buatlah pada posisi yang normal. 3. Bila sesudah dinyatakan benar maka minta persetujuan instruktur untuk melakukan percobaan sebagai berikut a. Atur V1 = 100 Volt dan V 2 = 6 Volt. b. Atur S1 pada posisi 1 dan S2 pada posisi 1. Catat penunjukkan semua arus dan tegangan. 4. Hasil pengukuran dicatat pada tabel IV- 1.

c. Atur S1 pada posisi 1 dan S2 pada posisi 2. Perhatikan polaritas Amperemeter A2. Hasil pengukuran dicatat pada tabel IV- 1. d. Atur S1 pada posisi 2 dan S2 pada posisi 1. Perhatikan polaritas Amperemeter A1 dan A2. Hasil pengukuran dicatat pada tabel IV-1.

Tabel IV 1 : V1 = 10 Volt dan V2 = 6 Volt Pengukuran A1 (mA) A2 (mA) A3 (mA) VR1 (V) VR2 (V) VR3 (V) 3.2. Ulangi tugas 3.1. untuk V 1 = 6 Volt dan V2 = 10 Volt Hasil pengukuran dicatat pada tabel IV-2. Perhatian : Setiap kali mengadakan pengukuran perhatikan polaritas amperemeter. Tabel IV 2 : V1 = 6 Volt dan V2 = 10 Volt Pengukuran A1 (mA) A2 (mA) A3 (mA) VR1 (V) VR2 (V) VR3 (V) S1 = 1, S2 = 1 S1 = 1, S2 = 2 S1 = 2, S2 = 1 S1 = 1, S2 = 1 S1 = 1, S2 = 2 S1 = 2, S2 = 1