Anda di halaman 1dari 25

Tes ini lebih bermakna ke arah kinerja dan kondisi ginjal, karena pada keadaan DM, kadar glukosa

darah amat tinggi, sehingga dapat merusak kapiler dan glomerulus ginjal, sehingga pada akhirnya, ginjal mengalami kebocoran dan dapat berakibat terjadinya Renal Failure, atau Gagal Ginjal. Jika keadaan ini dibiarkan tanpa adanya penanganan yang benar untuk mengurangi kandungan glukosa darah yang tinggi, maka akan terjadi berbagai komplikasi sistemik yang pada akhirnya menyebabkan kematian karena Gagal Ginjal Kronik.

Interpretasi (mulai dari tabung paling kanan) : 0 = Berwarna Biru. Negatif. Tidak ada Glukosa.. Bukan DM +1 = Berwarna Hijau . Ada sedikit Glukosa. Belum pasti DM, atau DM stadium dini/awal +2 = Berwarna Orange. Ada Glukosa. Jika pemeriksaan kadar glukosa darah

mendukung/sinergis, maka termasuk DM +3 = Berwarna Orange tua. Ada Glukosa. Positif DM +4 = Berwarna Merah pekat. Banyak Glukosa. DM kronik

DASAR TEORI Tes glukosa urin dapat dilakukan dengan menggunakan reaksi reduksi, dikerjakan dengan menggunakan fehling, benedict, dan clinitest. Ketiga jenis tes ini dapat digolongkan dalam jenis pemeriksaan semi-kuantitatif. Sedangkan tes glukosa dengan reaksi enzimatik dilakukan dengan metode carik celup yang tergolong dalam pemeriksaan semi-kuantitatif dan kuantitatif. (Subawa.2010) Pereaksi fehling terdiri dari dua bagian, yaitu fehling A dan fehling B. Fehling A adalah larutan CuSO

4 , sedangkan fehling B merupakan campuran larutan NaOH dan kalium natrium tartrat. Pereaksi fehling dibuat dengan mencampurkan kedua larutan tersebut, sehingga diperoleh suatu larutan yang berwarna biru tua. Dalam pereaksi fehling, ion Cu 2+ terdapat sebagai ion kompleks. Pereaksi fehling dapat dianggap sebagai larutan CuO. (Anonim.2010) Sama halnya dengan Benedict, hasil pemeriksaan glukosa dengan pereaksi fehling juga diinterpretasikan dalam 5 skala yaitu: 1.

Negatif : tetap biru atau hijau jernih 2.

Positif(+) : keruh, warna hijau agak kuning

3 .

Positif (++) : kuning kehijauan dengan endapan kuning 4.

Positif (+++) : kuning kemerahan, endapan kuning merah 5.

Positif (++++) : merah jingga sampai merah bata Suatu keadaan dimana terdapat benda-benda keton dalam urin disebut dengan Ketonuria. Yang termasuk kedalam benda-benda keton yaitu; asam beta hidroksi butirat sebanyak 80%, asam aseto asetat sebanyak 20% dan aseton yang jumlahnya sangat sedikit. Bila jaringan tubuh kekurangan persediaan glukosa, maka metabolism lemak akan meningkat. Metabolisme lemak yan tidak efisien menyebabkan penumpukan sampah metabolism (benda-benda keton). Ketonuria sering didapatkan pada keadaan kadar glukosa darah sangat tinggi. Juga pada dehidrasi, starvation berat, diare, muntah hebat dan hiperemesis gravidarum. Beberapa metode pemeriksaan benda-benda keton yaitu; cara Gerhardt, gunnings iodoform test, cara rothera, acetest dan legals test. (Herawati.2010)

V.

ALAT DAN BAHAN A.

Pemeriksaan Glukosa 1.

Alat-alat -

Tabung Reaksi

Penjepit Tabung -

Pipet Ukur -

Api Bunsen -

Indikator pH -

Ball Pipet 2.

Bahan -

Fehling A -

Fehling B -

Sampel urin

B.

Pemeriksaan Aseton 1.

Alat-alat -

Tabung Reaksi dan Rak Tabung -

Pipet Tetes -

Pipet Ukur -

Ball Pipet

2.

Bahan -

Natrium Nitropruside -

Asam Asetat Glasial -

Ammonium pekat

VI.

CARA KERJA A.

Pemeriksaan Glukosa -

Dipipet fehling A dan Fehling B masing-masing sebanyak 1mL dan dimasukkan kedalam tabung reaksi, dikocok hingga homogen -

Ditambahkan 0,5mL urin kedalam tabung reaksi tadi, dikocok hingga homogen

Dipanaskan dengan api bunsen hingga mendidih -

Diamati perubahan warna yang terjadi B.

Pemeriksaan Aseton -

Dituangkan 5mL urin kedalam tabung reaksi -

Ditambahkan 3 tetes larutan Natrium nitroprusid -

Ditambahkan 2 tetes asam asetat glacial, lalu dikocok hingga homogen -

Ditambahkan beberapa tetes ammonia pekat melalui dinding tabung -

Diamati perubahan yang terjadi

VII.

HASIL PENGAMATAN Pemeriksaan makroskopis urin: -pH : 6 -warna : kuning jernih -bau : menyengat

A.

Pemeriksaan Glukosa Urin Terjadi perubahan warna dari biru menjadi kuning kehijauan dengan endapan kuning. Hasil ini dapat diinterpretasikan sebagai positif (++).

B.

Pemeriksaan Aseton Urin Terjadi perubahan yaitu terbentuknya cincin berwarna kemerahan. Hasil ini dapat diinterpretasikan sebagai positif satu (+).

VIII.

PE MB B ti t l il l i l i li li B t i ti t j i tllti . Perubahan warna yang t er j ad i ada l ah l aru t an yang mu l a-mu l a berwarna b i ru berubah men

j ad i kun i ng keh ij auan dan ti mbu l endapan berwarna kun i ng yang d ii n t erpre t as i kan sebaga i pos

iti (++). Sama ha l nya dengan pereaks i bened it Feh li ng member i kan has il pos iti

ji ka d i reaks i kan dengan g l ukosa

karena g l ukosa merupakan gu l a pereduks i (mempunya i gugus a l deh i d bebas) yang mamp mereduks i kupr i men j ad i kupro kemud i an men j

ad i

C u 2 O yang berwarna merah ba t a. B er i ku t merupakan reaks i a l deh i d dengan feh li ng yang menghas il

kan endapan merah ba t a :

R -C --H C u 2+ 2OH +

R -C --OH C u +

2 O Gu l a Pereduks i Endapan M erah B a t a

Adapun s t ruk t ur k i m i ag l ukosa

it u send i r i ada l ah sebaga i ber i ku t:

B erdasarkan has il pos iti f (++) pada has il pengu ji

an g l ukosa i n i dapa t d i ur i ga i bahwa pas i en menga l am i gangguan pada g i n j

a l . Seh i ngga per l ud il akukan t es konf i rmas i

n t uk menge t ahu i kadar g l ukosa secara pas ti

. Aapakah mas i h t ergo l ong da l am ba t as norma l (kurang dar i 1 0mg/24 j am) a t au ti dak. Pemer i ksaan ase

t on ur i n member i kan has il pos iti f sa t u (+) yang d it un j ukkan dengan t erben t uknya c i nc i n berwarna kemerahan. Ha l

i n i sesua i dengan i n t erpre t as i has il

pada l ega l s t es ya it

u :

Nega ti f :

ti dak ada perubahan warna Pos iti f (+) : c i nc i n berwarna kemerahan Pos iti f (++) : c i

nc i n merah Pos iti f (+++) : c i nc i n ungu t ua

gugus aldehid

Timbulya hasil positif menunjukkan bahwa terdapat benda-benda keton dalam sampel urin yang diperiksa. Keberadaan benda-benda keton di dalam urin masih dianggap normal selama jumlahnya kurang dari 15mg / dL baik pada pasien anak-anak maupun dewasa.

IX.

KESIMPULAN 1.

Sampel urin yang diuji mengandung glukosa dengan hasil positif (++) 2.

Sampel urin yang diuji positif mengandung benda keton dengan hasil positif (+)

DAFTAR PUSTAKA Rajman.2009. Karbohidrat .http: // www.rajman.co.cc Anonim.2010. Reaksi-reaksi Senyawa Karbon. http: // kimia.upi.edu Materi kuliah Sianny Herawati,dr.SpPK. Ketonuria. 27 Oktober 2010 Materi kuliah dr.A.A.N. Subawa. Urinalisis.

15 September 2010

http://www.scribd.com/doc/49914135/PEMERIKSAAN-GLUKOSA-DAN-ACETON-URIN-II-laporan