Anda di halaman 1dari 3

Catatan Kajian

Topik: Israa Miraj (QS Al Israa (17):1) Tanggal: 18 June 2012 Fasilitator: Bapak Muchlisin Aziz E-Mail: emuchtar@gmail.com Blog: http://chippingin.wordpress.com

TOPIK: ISRA MIRAJ (QS Al Israa (17):1)


Pembahasan kali ini menyoroti ayat yang kerap diangkat ketika peringatan isra miraj. Pemaparan secara historis dan teologis sudah sering kita dengar. Mari melihat ayat ini dari sudut pemaknaan yang berbeda, secara tasawuf, sambil tetap menghargai pemaparan dari sudut pandang lain. Semoga memperkaya pemahaman kita, dan menjadikan kita manusia yang lebih baik. Amin.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Israa (17):1) Ayat ini dimulai dengan kata Maha Suci Allah. Maha Suci Tuhan dari segala suci prasangka makhluk-Nya. Merupakan tanggung jawab kita untuk menjaga prasangka kita terhadap Tuhan. Tak perlu menerka-nerka kehendak atau maksud-Nya. Sebenarnya, tanpa kita sadari, kita kerap membatasi-Nya. Ketika kita berdoa, misalnya, kita memiliki ekspektasi tertentu bagaimana Tuhan akan menanggapi doa kita. Ekspektasi seperti ini sebenarnya berarti kita membatasi Tuhan. Semoga kita terbebas dari pembatasan ini. Tugas kita pula untuk terus mensucikan diri. Karena hanya mereka yang suci yang dapat menyapa Sang Maha Suci. yang telah memperjalankan Menarik karena dikatakan di sini bahwa Tuhan-lah yang memperjalankan, dan bukan kita yang menggerakkan diri kita sendiri. Ada kepasifan dari pihak hamba di sini. Hanya Tuhan yang mampu memperjalankan kita. Tugas kita adalah mempersiapkan diri untuk bisa masuk ke frekuensi orang-orang yang layak diperjalankan. Ayat ini pun memberikan tips, siapa orang-orang yang diperjalankan-Nya. Dikatakan hamba-Nya. Orang-orang yang mengabdi kepada dan hanya kepada Allah. Perjalanan baru benar-benar akan dimulai bila kita telah menjadi hamba Tuhan (amin). Nabi bersabda: Barangsiapa mencintai sesuatu, maka dia akan menjadi hamba terhadap yang ia cintai itu. Jadi sadari apa yang benar-benar kita cintai. Bila kita ingin menjadi hamba-Nya, maka kita perlu terbebas dari segala belenggu lain, termasuk belenggu pemahaman kita terhadap apa-apa yang kita pegang teguh selama ini, dan abdikan diri kepada dan hanya kepada Tuhan. pada malam hari Malam merupakan simbol keheningan. Kata-kata ini merupakan ajakan untuk senantiasa berada dalam keheningan. Hanya dalam keheningan kita dapat mendengar. Hanya dalam keheningan terdapat kejernihan.

dari Masjidil Haraam secara bahasa, dimaknai masjidil (tempat sujud) haraam (yang mulia) -- ke Masjidil Aqsha menuju masjidil (tempat sujud) aqsha (yang jauh), ke tempat sujud yang merupakan tujuan hidup kita, tempat sujud sejati, tempat pertemuan hamba dengan Tuhannya. Untuk dapat bertemu dengan Allah, seseorang haruslah mulia, dalam arti memberi lebih dari yang diterimanya. Hal ini tentu tidak terbatas dalam bentuk materi semata. Jauh lebih luas dari itu. Seperti bersikap baik terhadap orang yang berlaku buruk; menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang memutuskannya, dan sebagainya. Setiap detik dalam kehidupan kita, secara potensi dapat kita tanggapi dengan kemuliaan. Setiap momen merupakan kesempatan untuk bersifat mulia. Segala sesuatu harus disedekahkan. Menarik untuk melihat akar kata sedekah, yaitu sad-dal-qaf. Makna kata ini lebih dari sekedar yang kita (atau saya) pahami selama ini. Dalam kamus online yang saya lihat, kata ini berarti: Sad-Dal-Qaf = to be truthful, true, sincere, speak the truth, establish or confirm the truth of what another has said, verify, keep faith, observe a promise faithfully, fulfill, speak veraciously, hold anyone as trustworthy. sadaqa fi al-qitaali - to fight gallantly. tsaddaqa to give alms. sidqun - truth, veracity, sincerity, soundness, excellence in a variety of different objects, salubrious and agreeable, favourable entrance, praise. saadiqun - one who is true and sincere, one who speaks the truth. saadiqah - perfect woman. sadaqat (pl. saduqaat) - dowry. siddiiq - person who is trustworthy, sincere. saddaqa - to confirm, verify, fulfil. asdaqu - more true. Jadi bersedekah bermakna menyatakan kebenaran/membenarkan segala sesuatu yang telah disampaikan kepada kita, sesuai dengan proporsinya. Segala sesuatu seyogyanya kita letakkan sesuai proporsinya. Harta disedekahkan: sebagian kita berikan kepada orang lain yang berhak, sesuai proporsi. Termasuk sedekah akhlaqi; seperti tersenyum, mengambilkan air bagi mereka yang kehausan, berbuat baik, menjadi rahmat bagi seluruh alam, Mata bersedekah dengan menyaksikan keindahan Tuhan, telinga bersedekah dengan mendengar yang baikbaik, akal bersedekah dengan berpikir positif, keberadaan kita bersedekah dengan pengabdian kepada-Nya. Insya allah melalui kemuliaan dalam keseharian, di setiap detik kehidupan, semampu kita, kita akan dapat sampai pada tempat sujud yang sejati. Ayat itu dilanjutkan dengan yang telah Kami berkahi sekelilingnya di mana pun sang hamba berada, ia dan sekitarnya akan mendapatkan keberkahan. Apa yang dikatakan atau disampaikan olehnya, akan cocok dengan kebutuhan saat itu. Ia akan dapat memberi atau menanggapi sesuai kebutuhan kondisi saat itu. Iramanya sudah selaras dengan irama kehidupan itu sendiri. Baraqah juga dapat dimaknai sebagai segala hal yang baik, tenang, damai, dan bermanfaat. Secara spiritual, kata lebih baik berarti segala yang mendekatkan diri ke tujuan hidup. agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya dapat melihat tanda-tanda Tuhan (dari dirinya). Setiap aspek dari diri hamba tersebut merupakan manifestasi dari sifat-sifat Tuhan (sabar, syukur, kasih-sayang, lemah-lembut, indah, benar, mendengar, dan sebagainya). Sehingga orang-orang yang melihatnya, yang berada di sekitarnya pun akan mengingat Tuhan (dan segala nama-nama indah Tuhan). Berakhlak dengan akhlak Allah. Hamba ini pun mewujud menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Sesungguhnya Dia Maha Melihat, Maha Mendengar. baik yang lahir maupun yang bathin. Dengan demikian, ajakan yang disampaikan melalui ayat ini adalah agar kita menjaga kesucian (prasangka kita terhadap Allah, dan kesucian diri); berpasrah (islam)-mempersiapkan diri agar layak menjadi yang diperjalankan; menghamba kepada dan hanya kepada Allah; senantiasa hening; serta menjaga dan mengisi hidup dengan kemuliaan. Bila kesemua hal ini sudah mengada dalam seseorang, maka ia akan menjadi khalifah Allah di muka bumi Allah akan menunjukkan tanda-tanda-Nya melalui hamba ini; sang hamba merupakan manifestasi dari nama-nama indah Allah (tentu dalam kapasitas sebagai hamba), dan orang-orang di sekitarnya pun akan merasakan keberkahan dari hamba tersebut. 2

Representasi kondisi miraj seperti ini, secara ritual ada di dalam shalat. Kata miraj berakar pada kata araja, yang berarti mendaki (secara spiritual). Idealnya hal ini berlaku 24 jam sehari. Namun, bila tak bisa, coba dalam shalat lima waktu sehari. Mulai dari wudhu yang diniatkan untuk membersihkan diri dari segala yang menghambat atau mengganggu persiapan kita; posisi berdiri yang merupakan awal perjalanan kita; sujud yang melambangkan miraj hingga ke sidhratil muntaha, sujud terakhir yang merupa dialog Nabi dengan Allah (inilah potensi kedekatan kita dengan Allah ketika kita bersujud dalam shalat), hingga tahiyat akhir (saat kita tidak hanya meminta keberkahan buat diri, tapi juga keberkahan bagi orang-orang shalih (ini adab yang baik!)), hingga ke salaam, ketika kita sudah mulai menyapa sekitar kita lagi. Di antara dua shalat, kita menyapa makhluk, sambil tetap menjaga pandangan kita hanya tertuju pada-Nya. Dikatakan ada empat tahapan dalam perjalanan kita di dunia: - Minal khalqi illal haqqi dari makhluk menuju Allah - Assafir fil haqq perjalanan dalam Al-Haqq (the Truth, Sang Kebenaran, Allah) - Minal haqq illal khalqi berkegiatan di dunia, namun dalam pikiran hanya Allah; proses, pelan-pelan - Maal haqqi bil khalqi bersama Al-Haqq ketika bersama makhluk terus-menerus. Saat ini, sang hamba telah menjadi rahmatan lil alamin; telah menjadi khalifah Allah. Dikatakan pula bahwa belum dianggap shalat, bila perilaku kita belum terhindar dari perbuatan keji-munkar. Indikator ibadah vertikal adalah sosial. Shalat seyogyanya membawa keberkahan bagi sekitar si pelaku shalat tersebut. Semoga bermanfaat. Lebih kurangnya, saya meminta maaf. Salaam.