Anda di halaman 1dari 7

ASKEP GANGGUAN POLA TIDUR DAN ISTIRAHAT PADA LANSIA A.

Pengertian
Gangguan Tidur (Insomnia )adalah kesulitan untuk tidur atau kesulitan untuk tetap tertidur, atau gangguan tidur yang membuat penderita merasa belum cukup tidur pada saat terbangun. Gangguan tidak saja menunjukan indikasi akan adanya kelainan jiwa yang dini tetapi merupakan keluhan dari hampir 30% penderita yang berobat ke dokter, disebabkan oleh : 1. Faktor Ekstrinsik (luar) misal: lingkungan yang kurang tenang. 2. Faktor intrinsik, mial bisa organik dan psikogenik. Organik, misal: nyeri, gatal-gatal dan penyakit tertentu yang membuat gelisah. Psikogenik, misal: depresi, kecemasan dan iritabilitas. Istirahat adalah suatu kondisi yang tenang, rileks tanpa ada stres emosional, bebas dari kecemasan. Namun tidak berarti tidak melakukan aktivitas apa pun, duduk santai di kursi empuk atau berbaring di atas tempat tidur juga merupakan bentuk istirahat. Sebagai pembanding, klien/orang sakit tidak beraktifitas tapi mereka sulit mendapatkan istirahat begitu pula dengan mahasiswa yang selesai ujian merasa melakukan istirahat dengan jalan-jalan. Oleh karena itu perawat dalam hal ini berperan dalam menyiapkan lingkungan atau suasana yang nyaman untuk beristirahat bagi klien/pasien.

B. Penyebab
Gangguan tidur bukan suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala yang memiliki berbagai penyebab, seperti kelainan emosional,kelainan fisik dan pemakaian obat-obatan. Sulit tidur sering terjadi, baik pada usia muda maupun usia lanjut; dan seringkali timbul bersamaan dengan gangguan emosional, seperti kecemasan, kegelisahan, depresi atau ketakutan. Kadang seseorang sulit tidur hanya karena badan dan otaknya tidak lelah. Pola terbangun pada dini hari lebih sering ditemukan pada usia lanjut.Beberapa orang tertidur secara normal tetapi terbangun beberapa jam kemudian dan sulit untuk tertidur kembali.Kadang mereka tidur dalam keadaan gelisah dan merasa belum puas tidur.Terbangun pada dini hari, pada usia berapapun, merupakan pertanda dari depresi. Orang yang pola tidurnya terganggu dapat mengalami irama tidur yang terbalik, mereka tertidur bukan pada waktunya tidur dan bangun pada saatnya tidur. Selain itu, perilaku di bawah ini juga dapat menyebabkan gangguan tidur pada beberapa orang:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

higienitas tidur yang kurang secara umum (cuci muka, dll?) kekhawatiran tidak dapat tidur mengkonsumsi caffein secara berlebihan minum alkohol sebelum tidur merokok sebelum tidur tidur siang/sore yang berlebihan jadwal tidur/bangun yang tidak teratur

C. Fisiologi Tidur Normal


Waktu tidur lansia berkurang berkaitan dengan faktor ketuaan. Fisiologi tidur dapat dilihat melalui gambaran ekektrofisiologik sel-sel otak selama tidur. Polisomnografi merupakan alat yang dapat mendeteksi aktivitas otak selama tidur. Pemeriksaan polisomnografi sering dilakukan saat tidur malam hari. Alat tersebut dapat mencatat aktivitas EEG, elektrookulografi, dan elektromiografi. Elektromiografi perifer berguna untuk menilai gerakan abnormal saat tidur. Stadium tidur - diukur dengan polisomnografi - terdiri dari tidur rapid eye movement (REM) dan tidur non-rapid eye movement (NREM). Tidur REM disebut juga tidur D atau bermimpi karena dihubungkan dengan bermimpi atau tidur paradoks karena EEG aktif selama fase ini. Tidur NREM disebut juga tidur ortodoks atau tidur gelombang lambat atau tidur S. Kedua stadia ini bergantian dalam satu siklus yang berlangsung antara 70 120 menit. Secara umum ada 4-6 siklus REM-REM yang terjadi setiap malam. Periode tidur REM I berlangsung antara 5-10 menit. Makin larut malam, periode REM makin panjang. tidur NREM terdiri dari empat stadium yaitu stadium 1,2,3,4. D. Manifestasi klinis Gangguan tidur pada lansia Sebagian besar lansia beresiko tinggi mengalami gangguan tidur akibat berbagai factor. Proses patologis terkait usia dapat menyebabkan gangguan pola tidur. Perubahan- perubahan mencakup kelatenan tidur, terbangun pada dini hari, dan peningkatan jumlah tidur siang. Diantar lansia yang sehat terdapat beberapa lansia yang mengalami berbagi masalah medis dan psikososial yang mengalami gangguan tidur. Antara lain: Penyakit psikiatrik, terutama depresi Penyakit Alzheimer dan penyakit degeratif neuro lainnya Penyakit kardivaskuler dan perawatan pasca operasi bedah jantung Inkompetensi jalan nafas atas Penyakit paru Penyakit prostatic

Endokrinopati Tiga keluhan atau gangguan utama dalam memulai dan mempertahankan tidur terjadi di kalangan lansia: Insomnia Insomnia adalah gangguan ketidakmampuan untuk tidur walaupun ada keinginan untuk melakukannya. Keluhan insomnia meliputi ketidakmampuan untuk tertidur, sering terbangun, ketidakmampuan untuk tidur kembali dan terbangun pada dini hari. Maka perhatian harus diberikan pada factor biologis, emosional dan medis yang berperan. Hipersomnia Hipersomnia dicirikan dengan tidur lebih dari 8atau 9 jam per periode 24 jam, dengan keluhan tidur berlebihan. Orang tersebut dapat menunjukkan mengantuk di siang hari yang persisten, mengalami serangan tidur , tampak mabuk dan kemotose, atau mengalami mengantuk pascaensefalitik. Keluhan keletihan, kelemahan dan kesulitan mengingat atau belajar merupakan hal yang sering terjadi. Apnea tidur Apnea tidur adalah berhentinya pernafasan selama tidur. Gangguan ini diidentifikasi dengan gejala mendengkur, berhentinya pernafasan minimal 10 detik, dan rasa kantuk di siang hari yang luar biasa. Gejala apnea tidur antara lain:

Dengkuran yang keras dan periodic Aktifitas malam hari yang luar biasa, seperti: duduk tegak, berjalan dalam tidur, terjatuh dari tempat tidur Gangguan tidur dengan seringnya terbangun di malam hari Perubahan memori Depresi Rasa kantuk yang berlebihan di siang hari Nokturia Sakit kepala di pagi hari Ortopnea akibat apnea tidur

E. Penatalaksanaan Gangguan Tidur Pada Lansia

1. Pencegahan primer a. Tidur sepenunya, tetapi tidak berlebihan, agar merasa segar dan sehat dari hari berikutnya, pembatasan waktu tidur dapat memperkuat tidur, berlebihnya waktu yang dihabiskan ditempat tidur tampaknya berkaitan dengan itudr yang terputus-putus dan dangkal b. Waktu bangun yang teratur dipagi hari meperkuat siklus sirkandian dan menyebabkan awitan tidur yang teratur c. Jumlah latihan yang stabil setiap harinya dapat memperdalam tidur namu latihan yang hanya dilakukan dengan kadang-kadang tidak dapat memperbaiki tidur pada malam berikutnya. d. Bunyi bising yang bersifat kadang-kadang dapat menggangu tidur sekalipun bunyi tersebut tidak membangunkan orang yang tertidur dan tidak dapat mengingatnya dipagi hari. Kamar tidur kendap suara dapat membagu tidur bagi orang-orang yang harus tidur didekat kebisingan. e. Meskipun ruang yang terlalu hangat dapat mengganggu tidur, namun tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kamar yang terlalu dingin dapat membantu tidur. f. Rasa lapar menggagu tidur g. Pil tidur yang kadang-kadang dapat digunakan memberikan keuntungan, namun pengguynaan yang kronis tidak efektif pada kebanyakan penderita insomnia. h. Kafein didalam hari dapat menggangu tidur, meskipun pada orang-orang yang berpikit demikian. i. Alkohol membantu orang-orang yang tegang untuk membantu tertidur lebih mudah, tetapi tidur tersebut kemudian akan terputus-putus . j. Orang-orangyang merasa marah dan frustasi karena tidak dapat tidur tidak boleh berusaha keras untuk tertidur tetapi harus menyalakan lampu dan melakukan hal yang lain berbeda. k. Penggunaan terbakau yang secara kronis dapat mengganggu tidur. Tidakan pencegahan primer yang lainnya anatara lain : a. Kasur yang memungkinkan kesejajaran tubuh yang tepat. b. Suhu kamar harus cukup dingin (kurang dari 240C ) sehingga merasa nyaman c. Asupan kalori harus minbimal pada saat menjelang tidur d. Latihan sedang disiang hari atau disore hari merupakan hal yang anjurkan.

2. Pencegahan sekunder Pengkajian oleh perawat harus mencakup faktor-faktor berikut : a. Seberapa baik lansia tersebut tidur dirumah ? b. Kapan lansia tersebut pergi ketempat tidur dan terbangun ? c. Ritual apa saja yang terjadi menjelang tidur? d. Berapa jumlah dan latihan yang dilakukan setiap hari?

e. Apakah posisi yang paling baik yang disukai ketika ditempat tidur ? f. Apa jenis lingkungan makar yang disukai? g. Berapa suhu yang disukai? h. Berapa banyak ventilasi yang diinginkan ? i. Aktivitas apa saja yang dilakukan beberapa jam menjelang tidur? j. Apa saja obat tidur atau obat lain yang digunakan saat menjelang tidur secara rutin? k. Berapa banyak waktu yang dihabiskan orang tersebut dalam hobinya? l. Persepsi orang tersebut tentang kepuasan hidup dan status kesehatannya? Seperti biasanya, menvalidasi riwayat pengkajian dengan anggota keluarga atau pemberi perawatan merupakan hal yang paling untk memastikan keakuratan dan pengkajian jika pasien tidak dianggap kompoten untuk memberikan laporan sendiri. Catatam harian tentang tidur merupakan cara pengkajian yang paling bagu bagi lansia dirumah sendiri. Informasi ini memberikan catatan yang akurat tentang masalah tidur. Untuk mendapatkan gambaran sejati tentang gangguan tidur yang dialami lansia dirumah atau difasilitas kesehatan catatan harian tersebut dibuat 3 sampai 4 mingu. Catatan tersebut harus mencakup faktor-faktor berikut ini : a. Seberapa sering bantuan yang diberikan untuk memberikan obatnyeri, tidak dapat tidur atau menggunakan kamar mandi. b. Kapan orang tersebut turun dari tempat tidur? c. Berapa nkali orang tersebut terbangun atau tertidur pada saat diobservasi oleh perawat atau pemberi perawatan. d. Terjadinya konfusi atau disorientasi e. Penggunaan obat tidur f. Perkiraan orang tersebut bangu dipagi hari 3. Pencegahan tersier Jika terdapat gangguan tidur seperti apne tidur yang mengancam kehidupan, kondisi pasien memerlukan rehabilitasi melalui tindakan-tindakan seperti pengangkatan jaringan yang menyumbat di mulut yang memperngaruhi jalan napas. Saat ini banyak pusat-pusat gangguan tidur yang tersedia diseluruh negara untuk membantu mengevaluasi gangguan tidur. Tempattempat tersebut biasanya berkaitan dengan lembag penelitian dan kedokteran kinis atau universitas., dilengkapin dengan alat-alat medis yang canggih yang dapat mendeteksi rekaman listrik di otak dan obstruksi napas. Data-data tersebut untuk membantu pengobatan yang terbaik untk mengatasi kesulitan dan mengrehabilitasi lansia sehingga dapat menikmati tidur yang berlkualitas sampai akhir hayat hidupnya

F. Penatalaksanaan terapeutik
Bootzin dan Nicassio menganjurkan aturan-aturan tersebut untuk mempertahankan kenormalan pola tidur :
1. Pergi tidur hanya jika mengantuk 2. Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur, jangan membaca, menonton TV atau makan

ditempat tidur 3. Jika tidak dapat tidur, bangun dan pindah keruangan lain . Bangun sampai anda benarbenar mengantuk, kemudian baru kembali ketampat tidur, Jika tidur masih tidak bisa dilakukan dengan mudah bangun dari temapt tidur, Tujuannya adalah menghubungkan antara temapt tidur dengan tidur cepat, Ulangi langkah ini sesering yang diperlukan sepanjag malam. 4. Siapkan Alarm dan bangun diaktu yang sama setiap pagi tanpa memperdulikan beberapa banyak Anda tidur dimalam hari. Hal ini membantu tubuh menatapkan irama tidur bangun yang konstan.

Asuhan Keperawatan
Pengkajian

Aktivitas dan pola kerja di siang hari. Waktu tidur normal. Lama tidur yang biasa diperlukan. Masalah yang berkaitan dengan tidur, meliputi terbangun pada dini hari, jatuh tidur, mimpi buruk, tidur berjalan, tidur terus, tidur sebentar. Kualitas tidur. Lingkungan tidur. Aktivitas yang berkaitan dengan tidur, meliputi mandi, minum, makan, pengobatan.

Diagnosa: 1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kerusakan transfer oksigen, gangguan metabolisme,kerusakan eliminasi,,pengaruh obat,imobilisasi, nyeri pada kaki, takut operasi, lingkungan yang mengganggu. 2. Cemas berhubungan dengan ketidak mampuan untuk. tidur, henti nafas saat tidur,a(sleep apnea) dan keetidak mampuan mengawasi prilaku. 3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan insomnia. 4. Gangguan ukaran gas berhubungan henti nafas saat tidur.

5. Potensial cidera berhubungan dengan Semnambolisme. 6. Gangguan konsep diri berhubungan dengan penyimpangn tidur hipersomia. Tujuan : pereencanan keperawatan berhubungan dengan cara untuk mempertahankan kebutuhan istirahat dan tidur dalam batas normal. Intervensi Lakukan identifikasi fsktor yang mempengaruhi masalah tidur. Lakukan pengurangan distraksi lingkungan dan hal yang dapat mengganggu tidur. Tingkatkan aktivitas pada siang hari Coba untuk memicu tidur kurangi potensial cedera selama tidur Berikan pendidikan kesehatan dan lakukan rujukan jika di perlukan