Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK PENGAWETAN DAN PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN














Oleh:
NAMA :VIVI GUSMIATI
NIM :A1H009032







KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2012
LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK PENGAWETAN DAN PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN
SIZE REDUCTION











Oleh:
NAMA :VIVI GUSMIATI
NIM :A1H009032








KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2012

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahan pangan merupakan bahan yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan
pangan. Bahan pangan memerlukan adanya pengolahan agar menghasilkan sifat-sifat
yang dikehendaki untuk memudahkan dalam penggunaanya serta dalam
mengkonsumsinya. Produk pangan hasil pertanian sering kali dilakukan pengolahan
untuk mendapatkan butiran-butiran yang lebih halus seperti pembuatan tepung dari
beras, gandum, jagung, dan lain sebagainya.
Kegiatan untuk membuat ukuran bahan-bahan hasil pertanian menjadi lebih
kecil dan seragam disebut sebagai pengecilan ukuran atau size reduction. Pengecilan
ukuran ini dapat menggunakan ayakan secara manual maupun mekanis. Gaya yang
digunakan dalam kegiatan pengecilan ukuran adalah penekanan, pukulan, dan gaya
sobek. Masing-masing gaya tersebut nantinya akan memberikan efek yang berbeda
terhadap bahan.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui teknik pengecilan ukuran
serta mendapatkan nilai Fine Modulus (FM), diameter, dan indeks keseragaman dari
suatu bahan dengan analisis ayakan.




II. TINJAUAN PUSTAKA
Tujuan dari proses pengayakan ini adalah: [Taggart,1927]
1. Mempersiapkan produk umpan (feed) yang ukurannya sesuai untuk beberapa
proses berikutnya.
2. Mencegah masuknya mineral yang tidak sempurna dalam peremukan (Primary
crushing) atau oversize ke dalam proses pengolahan berikutnya, sehingga dapat
dilakukan kembali proses peremukan tahap berikutnya (secondary crushing).
3. Untuk meningkatkan spesifikasi suatu material sebagai produk akhir.
4. Mencegah masuknya undersize ke permukaan.
Pengayakan biasanya dilakukan dalam keadaan kering untuk material kasar,
dapat optimal sampai dengan ukuran 10 in (10 mesh). Sedangkan pengayakan dalam
keadaan basah biasanya untuk material yang halus mulai dari ukuran 20 in sampai
dengan ukuran 35 in.
Permukaan ayakan yang digunakan pada screen bervariasi, yaitu: [Brown,1950]
1. Plat yang berlubang (punched plate, bahan dapat berupa baja ataupun karet keras.
2. Anyaman kawat (woven wire), bahan dapat berupa baja, nikel, perunggu,
tembaga, atau logam lainnya.
3. Susunan batangan logam, biasanya digunakan batang baja (pararel rods).
Sistem bukaan dari permukaan ayakan juga bervariasi, seperti bentuk lingkaran,
persegi ataupun persegi panjang. Penggunaan bentuk bukaan ini tergantung dari
ukuran, karakteristik material, dan kecepan gerakan screen.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan material untuk menerobos ukuran
ayakan adalah :
1. Ukuran buhan ayakan
Semakin besar diameter lubang bukaan akan semakin banyak material yang lolos.


2. Ukuran relatif partikel
Material yang mempunyai diameter yang sama dengan panjangnya akan memiliki
kecepatan dan kesempatan masuk yang berbeda bila posisinya berbeda, yaitu yang
satu melintang dan lainnya membujur.
3. Pantulan dari material
Pada waktu material jatuh ke screen maka material akan membentur kisi-kisi
screen sehingga akan terpental ke atas dan jatuh pada posisi yang tidak teratur.
4. Kandungan air
Kandungan air yang banyak akan sangat membantu tapi bila hanya sedikit akan
menyumbat screen.
Berdasarkan gerak pengayak, alat ayakan dibagi menjadi 2 jenis:
1. Stationary screen
2. Dynamic screen.
Beberapa alat ayakan :
1. Stationary
2. Grizzly
3. Vibrating
4. Oscillating
5. Reciprocating
6. Tromel/Revolving
Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan screen:
1. Kapasitas, kecepatan hasil yang diinginkan.
2. Kisaran ukuran ( size range),
3. Sifat bahan : densitas, kemudahan mengalir (flowability),
4. Unsur bahaya bahan : mudah terbakar, berbahaya, debu yang ditimbulkan.
5. Ayakan kering atau basah.
Efisiensi dari proses pengayakan ini bergantung pada: [Brown,1950]
1. Rasio ukuran minimal partikel yang bisa melewati lubang ayakan, yaitu: 0,17-
1,25 x ukuran lubang ayakan.
2. Persentase total area ayakan yang terbuka.
3. Teknik pengumpanan dan kecepatan pengumpanan.
4. Keadaan fisik dari material itu sendiri (kekerasan bijih, pola bongkahan bentuk
partikel seperti bulat, gepeng, ataupun jarum, kandungan air).
5. Ada atau tidak adanya penyumbatan lubang screen.
6. Ada atau tidak adanya korosi pada ayakan (kawat).
7. Mekanisme gerakan pengayakan (getaran).
8. Design mekanis dari ayakan tersebut dan Kemiringan ayakan (biasanya 12o-18o).
Tabel Analisis Ayakan
Mesh Ukuran z Analisis ayak, %
ft mm Kumulatif Diferensial
8 0.0078 2,37 8,5 97 3
9 0,0065 1,98 7,1 93 4
10 0,0054 1,65 5,9 84 9
12 0,0046 1,40 5,0 74 10
14 0,0038 1,16 4,2 61 13
16 0,0033 1,01 3,6 48 13
29 0,0027 0,82 3,0 35 13
24 0,0023 0,70 2,5 25 10
28 0,0019 0,58 2,1 17 8
32 0,0016 0,49 1,8 11 6
35 0,0014 0,43 1,5 6 5
42 0,0011 0,34 1,2 4 2

Ukuran yang digunakan bisa dinyatakan dengan mesh maupun mm (metrik).
Yang dimaksud mesh adalah jumlah lubang yang terdapat dalam satu inchi persegi
(square inch), sementara jika dinyatakan dalam mm maka angka yang ditunjukkan
merupakan besar material yang diayak.
Perbandingan antara luas lubang bukaan dengan luas permukaan screen
disebut prosentase opening. Pelolosan material dalam ayakan dipengaruhi oleh
beberapa hal, yaitu :
1. Ukuran material yang sesuai dengan lubang ayakan
2. Ukuran rata-rata material yang menembus lubang ayakan
3. Sudut yang dibentuk oleh gaya pukulan partikel
4. Komposisi air dalam material yang akan diayak
5. Letak perlapisan material pada permukaan sebelum diayak
Dalam pengayakan melewatkan bahan melalui ayakan seri ( sieve shaker)
yang mempunyai ukuran lubang ayakan semakin kecil. Setiap pemisahan
padatan berdasarkan ukuran diperlukan pengayakan. screen mampu mengukur
partikel dari 76 mm sampai dengan 38 m. Operasi screening dilakukan dengan
jalan melewatkan material pada suatu permukaan yang banyak lubang atau
openings dengan ukuran yang sesuai.
Ditinjau sebuah ayakan :







Fraksi oversize = fraksi padatan yang tertahan ayakan.
Fraksi undersize = fraksi padatan yang lolos ayakan.
Jika ayakan lebih dari 2 ayakan yang berbeda ukuran lubangnya, maka akan
diperoleh fraksi-fraksi padatan dengan ukuran padatan sesuai dengan ukuran
lubang ayakan. Pengayakan biasanya dilakukan dalam keadaan kering untuk material
kasar, dapat optimal sampai dengan ukuran 10 in (10 mesh). Sedangkan pengayakan
dalam keadaan basah biasanya untuk material yang halus mulai dari ukuran 20 in
sampai dengan ukuran 35 in.


Abnyaknya lubang pada ayakan dibuat dari rangkaian anyaman kawat atau
dari plat yang dilubangi.









Keterangan : Untuk ukuran lubang yang berbeda, digunakan diameter kawat yang
berbeda pula.
















III. METODOLOGI
A. Alat
1. Mesh (ayakan)
2. Timbangan
B. Bahan
1. Tepung beras
2. Kacang tanah giling
3. Tepung roti

C. Cara Kerja
1. Bahan ditimbang sebanyak 200 g, kemudian bahan dimasukkan dalam ayakan
paling atas (7 mesh).
2. Ayak bahan terus menerus selama 10 menit.
3. Timbang bahan yang tertampung di setiap mesh, kemudian catat hasilnya.
4. Hitung Fine Modulus (FM)
5. Hitung diameter (D), dan indeks keseragaman bahan.





V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel berikut adalah hasil pengayakan bahan kacang dengan berat awl 200 g
Mesh (m) Berat yang
tertahan(g)
Berat yang
tertahan(%)
Dikalikan Hasil
7 45 22,5 4 90
80 153 76,5 3 229,5
100 0,5 0,25 2 0,5
200 - - 1 -
Pan - - 0 -
Jumlah 200 99,25 320

Perhitungan :
FINE MODULUS
FM
jumlah hasil
jumlah bahan yang tertahan

FM
320
9925

FM 3224

INDEKS KESERAGAMAN
kasar
bahan yang tertahan mesh 7
10

kasar
225
10

kasar

sedang
bahan yang tertahan mesh 80 mesh 100
10

sedang
765025
10

sedang

halus
jumlah bahan yang tertahan di mesh 200
10

halus
0
10

halus

DIAMETER
D ()(

)
D ()(

)
D


B. Pembahasan
Pengayakan atau penyaringan adalah proses pemisahan secara mekanik
berdasarkan perbedaan ukuran partikel. Pengayakan (screening) dipakai dalam skala
industri, sedangkan penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium.
Produk dari proses pengayakan/penyaringan ada 2 (dua), yaitu :
-Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).
-Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan (undersize).
Dalam proses industri, biasanya digunakan material yang berukuran tertentu
dan seragam. Untuk memperoleh ukuran yang seragam, maka perlu dilakukan
pengayakan. Pada proses pengayakan zat padat itu dijatuhkan atau dilemparkan ke
permukaan pengayak. Partikel yang di bawah ukuran atau yang kecil (undersize), atau
halusan (fines), lulus melewati bukaan ayak, sedang yang di atas ukuran atau yang
besar (oversize), atau buntut (tails) tidak lulus. Pengayakan lebih lazim dalam
keadaan kering .
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengayakan, yaitu:
1. Jenis ayakan
2. Cara pengayakan
3. Kecepatan pengayakan]
4. Ukuran ayakan
5. Waktu pengayakan
6. Sifat bahan yang akan diayak
Mesh : jumlah lubang dalam 1 inchi linear.
Contoh : Ayakan 10 mesh, artinya sepanjang 1 inch terdapat 10 lubang dan
kawatnya.
Maka: Jarak antar pusat kawat yang satu dengan kawat berikutnya = 1/10 =0,1 in.
Aperture = 0,1 (diameter kawat) in.
Dari table Tyler screen, untuk 10 mesh ternyata diameter kawat = 0,035 in, maka,
Aperture = 0,1 0,035 = 0,05 in.
Pengecilan ukuran dapat didefinisikan sebagai penghancuran dan pemotongan
mengurangi ukuran bahan padat dengan kerja mekanis, yaitumembaginya menjadi
partikel-partikel yang lebih kecil. Dalam pengecilan ukuranada usaha penggunaan
alat mekanis tanpa merubah stuktur kimia dari bahan, dankeseragaman ukuran dan
bentuk dari satuan bijian yang diinginkan pada akhir proses, tetapi jarang tercapai.
Operasi pengecilan ukuran ini dapat dibagimenjadi dua kategori utama,
tergantung kepada apakah bahan tersebut bahan cair atau bahan padat. Apabila bahan
padat, operasi pengecilan disebut penghancurandan pemotongan, dan apabila bahan
cair disebut emulsifikasi atau atomisasi.Penghancuran dan pemotongan mengurangi
ukuran bahan padat dengankerja mekanis, yaitu membaginya menjadi partikel-
partikel lebih kecil.
Penggunaan proses penghancuran yang paling luas di dalam industri pangan
barangkali adalah dalam penggilingan butir-butir gandum menjadi tepung, akan tetapi
penghancuran ini digunakan juga untuk berbagai tujuan, seperti penggilingan jagung
untuk menghasilkan tepung jagung, penggilingan gula dan penggilingan bahan
pangan kering seperti sayuran. Pemotongan dipergunakan untuk memecahkan
potongan besar bahan pangan menjadi potongan-potongan kecil yang sesuai untuk
pengolahan lebih lanjut, seperti dalam penyiapan daging olahan.
Pengecilan ukuran dapat didefinisikan sebagai penghancuran dan pemotongan
mengurangi ukuran bahan padat dengan kerja mekanis, yaitu membaginya menjadi
partikel-partikel yang lebih kecil. Penggunaan proses penghancuran yang paling luas
di dalam industri pangan barangkali adalah dalam penggilingan butir-butir gandum
menjadi tepung, akan tetapi penghancuran inidipergunakan juga untuk beberapa
tujuan, seperti penggilingan jagungmenghasilkan tepung jagung, penggilingan gula,
penggilingan bahan pangankering seperti sayuran (Earle, 1983).
Dalam pengecilan ukuran ada usaha penggunaan alat mekanis tanpamerubah
stuktur kimia dari bahan, dan keseragaman ukuran dan bentuk darisatuan bijian yang
diinginkan pada akhir proses, tetapi jarang tercapai (Hendersondan Perry, 1976).
Pemisahan partikel dan bahan cair secara mekanis biasanya menggunakantenaga yang
dikenakan terhadap partikelnya. Tenaga tersebut dapat secara langsung dikenakan
pada partikelnya seperti pada pengayakan dan penyaringan,atau secara tidak lengsung
seperti pada pengendapan.
Gaya atau tenaga ini dapat berasal dari gaya gravitasi atau kerja sentrifugasi,
yang dapat dikatakan sebagai kekuatan penahanan negatif gerakan relatif partikel
terhadap bahan cairnya.Dengan demikian proses pemisahan tergantung pada karakter
partikel yangsedang dipisahkan dan tenaga yang bekerja pada partikel yang
menyebabkan terjadinya pemisahan (Sutardi, 2001).Kriteria pengecilan ukuran antara
lain (Zhang, 1998) :
1.Memiliki kapasitas yang besar.
2.Menggunakan tenaga input yang kecil per satuan produk.
3.Tujuannya adalah mengecilkan ukuran suatu produk sesuai dengan yang
diinginkan.
Karakteristik partikel yang penting adalah: ukuran, bentuk, dan densitas.
Sedangkan karakter bahan cair yang penting adalah: viskositas dan densitas.Rekasi
komponen yang berbeda atau gaya yang diberikan akan menimbulkan gerakan relatif
bahan cair dan petikel yang berada di dalamnya, serta antara partikel-partikel yang
berbeda karakternya (Earle, 1983).Separasi dalam suatu operasi filtrasi dilakukan
dengan memberikan gaya pada fluida untuk dapat melewati suatu membran berpori
(Foust dkk, 1980).
Pemisahan padatan dari fluida menyebabkan pembentukan ampas yang melapisi
medium filter sehingga tahanan terhadap aliran fluida yang disaringmakin besar.
Faktor tersebut menggambarkan kecepatan filtrasi. Selanjutnya dapatdikatakan bahwa
kecepatan filtrasi ini tergantung dari beberapa faktor, antaralain :
1.Tekanan yang diberikan diatas medium filter.
2.Luas permukaan penyaringan.
3.Viskositas dari cairan .
4.Tahanan dari bahan ampas filter cake yang tersusun oleh padatan yangdipisahkan
dari cairannya.
5.Tahanan dari medium.(Heldman dan Singh, 1981)
Pengecilan ukuran secara umum digunakan untuk menunjukkan pada suatu
operasi, pembagian atau pemecahan bahan secara mekanis menjadi bagian yang
berukuran kecil (lebih kecil) tanpa diikuti perubahan sifat kimia. Pengecilanukuran
dilakukan untuk menambah permukaan padatan sehingga pada saat penambahan
bahan lain pencampuran dapat dilakukan secara merata (Rifai,2009).
Tujuan Pengecilan Ukuran
1. Mempermudah ekstraksi unsur tertentu dan struktur komposisi.
2. Penyesuayan dengan kebutuhan spesifikasi produk ataumendapatkan bentuk
tertentu.
3. Untuk menambah luas permukaan padatan
4. Mempermudah pencampuran bahan secara merata
Pengecilan ukuran bahan dibedakan menjadi dua yaitu pengecilan ukuran pada
bahan padat atau disebut dengan pengahcuran dan pemotongan serta pengecilan
ukuran pada bahan cair disebut dengan emulsifikasi atau atomisasi(Dwiari, 2008).
Size reduction (pengecilan ukuran) meliputi :
1. Cutting (pemotongan), contohnya adalah pemotongan pada buah dan sayur untuk
canning.
2. Crushing (penghancuran), contohnya adalah chopping batang jagung untuk
pakan ternak.
3. Grinding (penggilingan), contohnya adalah penggilingan batu kapur untuk
pupuk dan biji-bijian untuk pakan ternak.
4. Milling (penggilingan), contohnya adalah penggilingan biji-bijian untuk
menghasilkan tepung.
Manfaat dari size reduction diantaranya adalah:
1. Meningkatkan rasio luasan permukaan terhadap volume dari bahan
pangansehingga dapat meningkatkan kecepatan pengeringan, pemanasan, atau
pendinginan.
2. Memperbaiki efisiensi dan kecepatan ekstraksi dari komponen
terlarut,contohnya adalah pemotongan buah-buahan dalam pembuatan jus.
3. Menyebabkan pencampuran bahan-bahan lebih sempurna, contohnya adalah
tercampurnya tepung (beras yang telah direduksi) dengan bumbu dalam adonan
mendoan. Selain memberikan manfaat, reduksi pada bahan pangan akan
menimbulkan efek negatif yaitu terjadinya penurunan kualitas makanan akibat
hilangnya enzim-enzim karena adanya rugi panas yang ditimbulkan selama
proses ataupun terjadinya oksidasi akibat perluasan permukaan bahan pangan.
Terdapat berbagai macam alat yang dapat digunakan untuk mereduksiukuran
bahan pangan. Performansi dari alat tersebut ditentukan oleh kapasitas bahan, daya
yang dibutuhkan perunit bahan, ukuran dan bentuk bahan sebelumatau sesudah size
reductionsertarangeukuran dan bentuk.
Karakteristik ideal dari size reductor adalah:
1.Keseragaman hasil dari bahan yang direduksi.
2.Temperatur minimum selama proses.
3.Memerlukan daya seminimal mungkin.
4.Beroperasi tanpa kendala.Ukuran bahan setelah direduksi tentunya akan
memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan ukuran sebelumnya.
Keseragaman ukuran dari bahanyang telah mengalami size reduction dapat
diketahui dengan melakukan analisisayakan, dari analisis tersebit akan diketahui
fineness modulus (persamaan 1) yangnantinya akan digunakan untuk menghitung
diameter keseragaman (persamaan 2)dari bahan yang telah mengalami reduksi.
FM = % hasil/%bahan tertahan ..........................................persamaan 1
D = 0,0041 x 2
FM
..................................................................persamaan 2
Berdasarkan persamaan 1 dapat diketahui bahwa fineness modulus
(FM)merupakan perbandingan antara persen hasil (jumlah %bahan tertahan
setelahdikalikan dengan faktor pengali pada masing-masing ukuran dengan
jumlahkeseluruhan dari % bahan tertahan atau bisa disebut dengan derajat kehalusan
bahan.
Pada praktikum pengecilan ukuran digunakan beberapa bahan seperti tepung
beras, tepung roti dan kacang giling. Kelompok kami menggunakan kacang giling
sebagai bahan sampel untuk analisis pengayakan. Pertama-tama kaang yang sudah
digiling kemudian di timbang ssebanyak 200 gram dan ditempatkan diwadah. Ayakan
yang digunakan dalam praktikum ini adalah ayakan yang memiliki beberapa mesh
meliputi 7, 80,100 dan 200.
Bahan dimasukkan kedalam ayakan mesh terbesar yaitu 7 mesh. Setelah itu
diayak selama 10 menit secara terus menerus. Setelah sepuluh menit satupersatu
mesh dibuka dan bahan yang tersisa didalam mesh tersebut ditimbang. Dari
penimbangan didapat bahan yang tertahan di mesh 7 sebanyak 45 g, mesh 80
sebanyak 153 g, mesh 100 sebanyak 0,5 g, dan mesh 200 serta pan tidak tertampung.
Data-data tersebut kemudian dipresentasikan dan dikalikan dengan koefisien tertentu
sehingga menghasilakn jumlah hasil dalam persen sebanyak 320%.
Nilai FM didapat dari hasil bagi antara % jumlah hsil dengan %jumlah bahan
yang tertahan. Nilai FM untuk kacang yang dihasilkan adalah 3,224. Sementara itu
penrhitungan indeks keseragaman dibagi menjadi tiga ukuran ayitu kasar, sedang dan
halus. Untuk yang kasar didapat angka sebanyak 2,25%.
Indeks keseragaman sedang sebanyak 7,675% dan yang halus tidak ada. Disini
diketahui indeks keseragaman yang paling tinggi adalah sebesar 7,675 yautu dengan
ukuran yang sedang. Beratri dapat dikatakan ukuran partikel kacang relative sedang,
tidak terlalu kasar namun tidak halus. Diameter butiran bahan didapat dengan
perhitungan sesuai rumus seperti pada hasil. Diamerter bahan kacang adalah 0,038.
Diameter tersebut dapat dilihat karena bahan yang tertahan hanya sampai pada mesh
100 dan hanya sebanyak 0,5 g. bahan yang paling banyak tertampung adalah dimesh
ke 80 yaitu sebanyak 153 g.















VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat pada praktikum ini antara lain:
1. Pengecilan ukuran adalah penghancuran dan pemotongan mengurangi ukuran
bahan padat dengan kerja mekanis, yaitumembaginya menjadi partikel-
partikel yang lebih kecil.
2. Pengayakan atau penyaringan adalah proses pemisahan secara mekanik
berdasarkan perbedaan ukuran partikel.
3. Nilai FM kacang yang telah mengalami pengayakan adalah 3,224.
4. Nilai indeks keseragaman kacang yang telah diayak yang paling besar adalah
ukuran sedang dengan nilai 7,675 %. Sisanya adalah ukuran yang kasar
sebesar 2,25%, sedangkan ukuran halus tidak ada.
5. Nilai diameter kacang setelah pengayakan adalah 0,038.

B. Saran
Sebaikanya peralatan praktikum seperti ayakan untuk lebih diperbanyak lagi
sehingga lebih efisien dalam penggunaan waktu.








DAFTAR PUSTAKA
Anonym.2009.http://brownharinto.blogspot.com/2009/11/screeningpengayakan.html.
distantina.staff.uns.ac.id/files/2009/08/2-screen.pdf
Anonym.2009.www.muthiaelma.zoomshare.com/files/Kelompok_I.ppt.distantina.staf
f.uns.ac.id/files/2009/.../1-cara-menentukan-ukuran-partikel.pdf
Anonym.2009.http://kuliahd3fatek.blogspot.com/2009/05/bab-iii-pengolahan-
bahangalian. html
Anonym.2009.http://kuliahd3fatek.blogspot.com/2009/05/bab-ii-pengolahan-bahan-
galian. html
Toledo. T Romeo.1979.Fundamental of Food Process Engineering.AVIPublishing
Company. Westport, Connecticut.
Zain,Sudaryanto. 2005.Teknik Penanganan Hasil Pertanian. Bandung : Giratuna.
Suhadi, Ujang. 2005.Karakteristik Bahan Hasil Pertanian. Materi Kuliah MK.Teknik
Penanganan Hasil Pertanian. Fakultas Pertanian UniversitasPadjadjaran.