Anda di halaman 1dari 34

NAMA NIM

: Whiny Okta Faiza : 4301409016

PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN : KIMIA

PROPOSAL SKRIPSI I. Judul PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING BERPENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN LARUTAN NONELEKTROLIT II. Latar Belakang Secara tradisional, pembelajaran telah dianggap sebagai bagian menirukan suatu proses yang melibatkan pengulangan siswa, atau meniru-niru informasi yang baru disajikan dalam laporan atau quis dan tes. Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih diutamakan untuk membantu siswa dalam menginternalisasi, membentuk kembali, atau mentransformasi informasi baru. Paradigma konstruktivistik merupakan basis reformasi pendidikan saat ini. Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih mengutamakan penyelesaian masalah, mengembangkan konsep, konstruksi solusi dan algoritma ketimbang menghafal prosedur dan menggunakannya untuk memperoleh satu jawaban benar. Pembelajaran lebih dicirikan oleh aktivitas eksperimentasi, pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan model-model yang dibangkitkan oleh siswa sendiri. Secara umum, terdapat lima prinsip dasar yang melandasi kelas konstruktivistik, yaitu (1) meletakkan permasalahan yang relevan dengan kebutuhan siswa, (2) menyusun pembelajaran di sekitar konsep-konsep utama, (3) menghargai pandangan siswa, (4) materi pembelajaran menyesuaikan terhadap kebutuhan siswa, (5) menilai pembelajaran secara kontekstual. Salah satu asas pembelajaran yang harus dipahami adalah membawa dunia siswa ke dunia guru dan menghantarkan dunia guru ke dunia siswa. Tujuannya, adalah untuk mengenali potensi siswa dan memberdayakan potensi tersebut sehingga melahirkan pencerahan bagi siswa itu sendiri. Alternatif upaya pemberdayaan tersebut dapat dilakukan dengan penggubahan lingkungan dan sumber belajar. Oleh karena pembelajaran merupakan kegiatan rekayasa supaya terjadi peristiwa belajar, maka penggubahan lingkungan dan sumber belajar di sini adalah terkait dengan upaya guru memfasilitasi siswa untuk berinteraksi dengan lingkungan dan sumber belajar tersebut. Upaya

ini dilakukan baik pembelajaran harus terjadi di dalam kelas atau di luar kelas. Jika pembelajaran terjadi di kelas, sifat-sifat kelas yang cenderung multidimensi, keserentakan, kesegeraan, memunculkan kejadian yang tak dapat diramalkan harus dipahami oleh guru agar terjadi interaksi yang efektif dalam proses pembelajaran. Banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran kimia, salah satunya adalah rendahnya motivasi belajar siswa yang membuat siswa pasif, sehingga hasil belajar yang didapat tidak sesuai dengan yang diharapkan. Rendahnya tingkat motivasi belajar siswa tersebut dapat disebabkan karena faktor intrinsik dari dalam diri siswa dan faktor luar seperti guru dan keluarga. Faktor luar tersebut misalnya dari pihak guru, karena penyajian materi yang kurang menarik dan kurang bervariasi serta pemanfaatan sumber belajar selain buku yang ada belum termanfaatkan secara maksimal. Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan inovasi dalam pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk berperan aktif dan inovatif dalam pembelajaran sehingga hasil belajar dan aktivitas siswa sesuai dengan yang diharapkan. Model pembelajaran yang dapat memunculkan masalah yang ada di kehidupan sehari-hari sangat cocok apabila diterapkan disini. Pemunculan masalah ini dapat memotivasi siswa dalam proses pembelajaran serta membimbing siswa untuk menguasai konsep dari penyelesaian suatu permasalahan, pendekatan pembelajaran yang berkaitan dengan ketrampilan proses melatih siswa untuk menyelesaikan suatu masalah dan memiliki ketrampilan-ketrampilan para ilmuwan dalam memperoleh penemuan. Salah satu model pembelajaran dan pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah menerapkan Model Pembelajaran Inquiry Training Berpendekatan Keterampilan Proses. Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Training Berpendekatan Keterampilan Proses mendorong siswa untuk menghubungkan faktafakta dengan konsepkonsep kimia sehingga diharapkan hasil belajar dan aktivitas siswa meningkat. Untuk model pembelajaran inquiry training, terdapat tiga prinsip kunci, yaitu pengetahuan bersifat tentatif, manusia memiliki sifat ingin tahu yang alamiah, dan manusia mengembangkan indivuality secara mandiri. Prinsip pertama menghendaki proses penelitian secara berkelanjutan, prinsip kedua mengindikasikan pentingkan siswa melakukan eksplorasi, dan yang ketiga kemandirian, akan bermuara pada pengenalan jati diri dan sikap ilmiah. Pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan yang mengutamakan proses dan keterampilan intelektual. Pendekatan ini bermula dari pengamatan terhadapa cara kerja para ilmuwan sehingga berhasil memperoleh penemuan dalam berbagai bidang ilmu terutaa bidang Ilmu Pengetahuan Alam. Dalam pendekatan keterampilan proses diperlukan kemampuas / keterampilan dasar tertentu. Guru harus menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan-

kemampuan tersebut dalam diri siswa, sehingga diharapkan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta nilai dan sikap yang dituntut. Peneliti memilih materi larutan elektrolit dan non elektrolit karena pada sub materi ini biasanya guru hanya menerangkan dengan metode ceramah dan tidak menunjukkan bukti langsung perbedaan larutan elektrolit dan non elektrolit. Sehingga konsep larutan elektrolit dan non elektrolit tidak tertanam baik di otak siswa. Berkaitan dengan hal tersebut, maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian mengenai PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY MATERI TRAINING SIFAT BERPENDEKATAN LARUTAN KETERAMPILAN ELEKTROLIT PROSES DAN PADA

KOLIGATIF

LARUTAN

NONELEKTROLIT III. Identifikasi Masalah Dari observasi dan analisis yang telah dilakukan maka diperoleh identifikasi masalah sebagai berikut : Kondisi siswa 1. Semangat belajar siswa kurang 2. Potensi siswa kurang dimanfaatkan secara optimal 3. Masih banyak siswa yang beranggapan bahwa pelajaran kimia sulit 4. Hasil belajar kimia siswa masih rendah Kondisi guru 1. Cara guru mengajar masih secara konvensional sehingga kurang memberikan semangat dan motivasi siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. 2. Kurang menggunakan media pembelajaran yang tersedia Kondisi proses pembelajaran 1. Metode yang paling sering diterapkan adalah metode ceramah. 2. Penerapan metode pembelajaran masih kurang mengaktifkan siswa sehingga pembelajaran cenderung hanya berlangsung dari satu arah (pihak guru). Karakteristik mata pelajaran Kimia sub materi larutan elektrolit dan non elektrolit adalah sebagai berikut : 1. Merupakan mata pelajaran yang baru bagi siswa 2. Banyak konsep yang harus dipahami 3. Perlu adanya banyak latihan secara langsung IV. Rumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini adalah : apakah ada peningkatan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran inquiry training berpendekatan keterampilan proses pada sub materi larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit? V. Batasan Istilah Demi kelancaran pembahasan pada penelitian ini dan agar topik lebih mengena pada hal utama yang akan dibahas, maka penulis memberikan batasan-batasan agar tidak melenceng dari yang dibahas. 1. 2. Model yaitu pola, contoh, acuan. Pembelajaran yaitu seperangkat peristiwa yang dirancang untuk memprakarsai, menggiatkan dan mendukung kegiatan belajar siswa. 3. Konsep yaitu suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk mengklasifikasi suatu objek dan menerangkan apakah objek tesebut merupakan contoh atau bukan dari ide abstrak. 4. 5. 6. VI. Pokok bahasan yaitu hal utama yang akan dikupas atau dibahas. Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan listrik. Larutan nonelektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan listrik.

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Tujuan umum Dalam penelitian tindakan kelas ini, secara umum bertujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan hasil belajar (dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik) siswa dengan menerapkan model pembelajaran inquiry training? 2. Tujuan khusus Siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran dengan mendapatkan nilai minimal 65 dan sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa mampumencapai batas minimal tersebut.

VII.

Manfaat Penelitian 1. Bagi siswa a. Meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kimia pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit b. c. 2. Menambah keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar Menambah keberanian siswa untuk mengeluarkan pendapat, ide, dan gagasan

Bagi guru Sebagai motivasi untuk meningkatkan keterampilan memilih strategi pembelajaran yang bervariasi dan dapat memperbaiki sistem pembelajaran, sehingga dapat

memberikan pengajaran yang lebih baik kepada siswa serta dapat mengembangkan model inquiry training ini pada konsep yang lain. 3. Bagi Sekolah Memberikan sumbangan bagi sekolah dalam perbaikan proses pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya, dan perbaikan kualitas sekolah pada umumnya.

KAJIAN PUSTAKA 1. Pengertian Belajar Belajar menurut W.S. Winkel adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dan interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan, dan nilai sikap. Berdasarkan pengertian belajar dari banyak ahli pendidikan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian belajar secara umum adalah suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku (Darsono, dkk, 2000: 24). Adapun ciri-ciri perubahan tingkah laku akibat belajar adalah : a. Perubahan yang disadari Seseorang menyadari dan merasakan adanya perubahan pada dirinya misalnya, pengetahuannya bertambah dan berubah. Jadi perubahannya disadari dan direncanakan. b. Perubahan yang bersifat kontinyu dan fungsional Perubahan itu secara berkelanjutan, misalnya seorang belajar menulis, maka tulisannya bertambah baik dan bisa digunakan untuk menulis atau mencatat. c. Perubahan yang bersifat positif dan aktif Perubahan-perubahan dengan memperoleh sesuatu yang lebih dari sebelumnya. Perubahan secara aktif karena hasil usahanya sendiri berorientasi dengan lingkungan dan bukan hasil kematangan. Keaktifan ini terwujud karena individu memiliki berbagai potensi untuk belajar, misalnya perhatian, minat, pikiran, emosi, motivasi dan lain-lain. d. Perubahan bertujuan dan terarah Berarti belajar itu bukan suatu hal yang kebetulan, tetapi disengaja dan bertujuan, tujuan dipakai sebagai arah kegiatan dan sekaligus sebagai tolok ukur keberhasilan belajar. 2. Pengertian Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, dkk, 2000: 24). Menurut Sudjana (2000). Pengertian pembelajaran adalah kegiatan belajar siswa dan kegiatan mengajar guru dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Ada empat persoalan yang menjadi komponen utama yang harus dipenuhi dalam pembelajaran. Keempat komponen tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Keempat komponen tersebut yaitu tujuan, metode dan alat serta penilaian. Tujuan dalam proses belajar mengajar merupakan komponen pertama yang harus ditetapkan dalam proses pengajaran, tujuan tersebut berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran.

Komponen yang kedua yaitu metode dan alat. Metode dan alat digunakan dalam pengajaran dipilih atas dasar tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Komponen yang lain adalah penilaian, penilaian dilakukan untuk mengetahui ketercapaian suatu tujuan pembelajaran, yaitu menghasilkan perubahan seperti yang disebut dalam pengertian belajar. Peranan guru dalam kegiatan belajar dan pembelajaran adalah membentuk siswa mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan. Untuk tujuan tersebut siswa melakukan kegiatan belajar, dengan cara dan kemampuan masing-masing. Siswa memiliki karakter yang berbeda satu sama lainnya, sesuai dengan pendapat Darsono (2000) bahwa perbedaan antara siswa lainnya membawa konsekuensi perolehan hasil belajarpun tidak sama. Dengan perkataan lain bahwa dalam pengajaran yang menjadi persoalan utama ialah adanya proses belajar pada siswa yakni proses berubahnya siswa melalui berbagai pengalaman yang diperolehnya yang biasa disebut sebagai hasil belajar. 3. Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Benyamin Bloom (dalam Anni, 2004: 6) membagi hasil belajar menjadi tiga ranah yaitu : a. Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari pengetahuan/ingatan, pemahaman, analisis, aplikasi, sintesis dan evaluasi. Keenam tujuan ini sifatnya hierarkis, artinya kemampuan evaluasi belum tercapai bila kemampuan sebelumnya belum dikuasai. b. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap yang terdiri dari penerimaan, penanggapan, penilaian, pengorganisasian, dan pembentukan pola hidup. c. Ranah psikomotorik, berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan bertindak. 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Hasil Belajar Secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut : a. Faktor pada diri orang yang belajar, yang masih dapat dibagi menjadi dua : 1) keadaan fisik, keadaan fisik yang sehat, kuat, akan menguntungkan hasil belajar, 2) keadaan mental atau psikologi, yaitu fungsi-fungsi yang berperan dalam hubungannya dengan belajar yakni: ingatan, perhatian, minat, kecerdasan, motivasi, kemauan dan pikiran. b. Faktor diluar diri orang yang belajar, yang terdiri dari tiga macam : 1) alam atau fisik seperti iklim, sirkulasi udara, keadaan cahaya dan sebagainya, 2) faktor sosial atau psikologis, disini yang terutama faktor pembimbing/guru yang mengarahkan serta membimbing kegiatan orang yang belajar serta yang menjadi salah satu sumber materi

belajar, 3) sarana-prasarana baik fisik maupun non fisik memainkan peranan penting dalam mencapai hasil belajar (gedung, kelas, perlengkapan, laboratorium, perpustakaan, buku pelajaran, alat-alat peraga), sedang suasana yang paedagogis, tenang, gembira, adalah sarana-prasarana yang non fisik. Sedang menurut Sudjana (2000), faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah kualitas pengajaran di sekolah itu sendiri, yakni ada tiga unsur: kompetensi guru, karakteristik kelas dan karakteristik sekolah. Karakteristik sekolah berkaitan dengan disiplin sekolah, perpustakaan yang ada di sekolah, letak geografis sekolah, lingkungan sekolah, estetika dalam arti sekolah memberikan perasaan nyaman, dan kepuasan belajar, bersih, rapi dan teratur. Berkaitan dengan kompetensi guru yang merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi kualitas belajar, maka dalam pembelajaran guru harus pandai-pandai memilih pendekatan dan metode mengajar yang sesuai dengan isi materi pelajaran. Metode berfungsi sebagai media transformasi pelajaran terhadap tujuan yang ingin dicapai sehingga metode pembelajaran yang digunakan harus benar-benar efektif dan efisien. 5. Model Pembelajaran Inquiry Training i. Model Pembelajaran Inquiry Training Model pembelajaran ini dikembangkan oleh seorang tokoh yang bernama Suchman. Suchman meyakini bahwa anak-anak merupakan individu yang penuh rasa ingin tahu akan segala sesuatu. Adapun dasar teori mendukung model pembelajaran ini yaitu : a. Secara alami manusia mempunyai kecenderungan untuk selalu mencari tahu akan segala sesuatu yang menarik perhatiannya. b. Mereka akan menyadari keingintahuan akan segala sesuatu tersebut dan akan belajar untuk menganalisis strategi berpikirnya tersebut c. Strategi baru dapat diajarkan secara langsung dan ditambahkan/digabungkan dengan strategi lama yang telah dimiliki siswa. d. Penelitian kooperatif (cooperative inquiry) dapat memperkaya kemampuan berpikir dan membantu siswa belajar tentang suatu ilmu yang senantiasa bersifat tentatif dan belajar menghargai penjelasan atau solusi altenatif. Inkuiri adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Model pembelajaran inquiry training dirancang untuk mengajak siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah melalui latihan-latihan meringkaskan proses ilmiah itu ke dalam waktu yang relatif singkat. Pembelajaran inkuiri memberi kesempatan kepada siswa untuk bereksplorasi dengan baik.

Pembelajaran dengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources. a. Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkan oleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan ini siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah seperti evaluasi, sintesis, dan analisis. Jawaban dari pertanyaan inti tidak dapat ditemukan misalnya di dalam buku teks, melainkan harus dibuat atau dikonstruksi. b. Student Engangement. Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi. c. Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar. d. Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi. e. Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya. Awalnya model pembelajaran ini digunakan untuk mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan alam, akan tetapi dapat pula digunakan untuk semua mata pelajaran. Model ini sangat penting untuk mengembangkan nilai dan sikap yang sangat dibutuhkan agar siswa mampu berpikir ilmiah, seperti

a. Keterampilan melakukan pengamatan,pengumpulan dan pengorganisasian data termasuk merumuskan dan menguji hipotesis serta menjelaskan fenomena. b. Kemandirian belajar c. Keterampilan mengekspresikan secara verbal, d. Kemampuan berpikir logis, dan e. Kesadaran bahwa ilmu bersifat dinamis dan tentatif. ii. Langkah-Langkah Pembelajaran Inquiry Training Pembelajaran model inquiry training memiliki lima langkah pokok yaitu : a. Menghadapkan masalah : menjelaskan prosedur penelitian, menyajikan situasi yang saling bertentangan b. Menemukan masalah : memeriksa hakikat objek dan kondisi yang dihadapi, memeriksa tampilnya masalah. c. Mengkaji data dan eksperimentasi : mengisolasi variabel yang sesuai, merumuskan hipotesis d. Mengorganisasikan, merumuskan, dan menjelaskan e. Menganalisis proses penelitian untuk memperoleh prosedur yang lebih efektif Dalam model inquiry training terdapat tiga prinsip yaitu pengetahuan yang bersifat tentatif, manusia memiliki sifat ingin tahu yang alamiah, dan manusia mengembangkan indivualitas secara mandiri. Prinsip pertama menghendaki proses penelitian secara berkelanjutan, prinsip kedua mengindikasikan pentingkan siswa melakukan eksplorasi, dan yang ketiga akan bermuara pada pengenalan jati diri dan sikap ilmiah (kemandirian). Prinsip-prinsip yang dikembangkan adalah pengajuan pertanyaan yang jelas dan lugas, menyediakan kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki pertanyaan, menunjukkan butir-butir yang kurang sahih, menyediakan bimbingan tentang teori yang digunakan, menyediakan suasana kebebasan intelektual, menyediakan dorongan dan dukungan atas interaksi, hasil eksplorasi, formulasi, dan generalisasi siswa. Penerapan pembelajaran model ini memerlukan materi yang mampu membangkitkan proses intelektual dan yang menantang siswa untuk melakukan penelitian. Tujuan umum dari model inkuiri adalah membantu siswa mengembangkan ketrampilan intelektual dan ketrampilan-ketrampilan lainnya, seperti mengajukan pertanyaan dan menemukan mencari jawaban yang berasal dari keinginan mereka. Dengan model pembelajarn inkuiri training akan membawa pikiran siswa untuk melakukan eksperiman dan mengumpulkan data. Dengan demikian berarti siswa telah terpancing untuk mengeluarkan ide-ide ketika guru mengajukan suatu masalah.

iii.

Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Inquery Training Kegiatan pembelajaran melalui pendekatan inquery training memiliki dampak positif bahwa pencarian (inquiry) mengandung makna sebagai berikut: a. Dapat membangkitkan potensi intelektual siswa karena seseorang hanya dapat belajar dan mengembangkan pikirannya jika ia menggunakan potensi intelektuainya untuk berpikir. b. Peserta didik yang semula memperoleh extrinsic reward dalam keberhasilan belajar (seperti mendapat nilai baik dari pengajar), dalam pendekatan inkuiri ini dapat memperoleh intrinsic reward. Diyakini bahwa jika seorang peserta didik berhasil mengadakan kegiatan mencari sendiri (mengadakan penelitian), maka ia akan memperoleh kepuasan untuk dirinya sendiri. c. Peserta didik dapat mempelajari heuristik (mengolah pesan atau informasi) dari penemuan (discovery), artinya bahwa cara untuk mempelajari teknik penemuan ialah dengan jalan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengadakan penelitian sendiri. d. Dapat menyebabkan ingatan bertahan lama sampai terinternalisasi pada diri peserta didik. Sedangkan kelemahan dari metode ini meliputi : a. Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa b. Sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dalam kebiasaan siswa dalam belajar c. Kadang kadang dalam implementasimnya memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan. d. Selama ketentuan keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka model pembelajaran ini akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.

6.

Pembelajaran Berpendekatan Proses Pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan yang mengutamakan proses dan

keterampilan intelektual. Pendekatan ini bermula dari pengamatan terhadapa cara kerja para ilmuwan sehingga berhasil memperoleh penemuan dalam berbagai bidang ilmu terutaa bidang Ilmu Pengetahuan Alam. Dalam pendekatan keterampilan proses diperlukan kemampuas / keterampilan dasar tertentu. Guru harus menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut dalam diri siswa, sehingga diharapkan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta nilai dan sikap yang dituntut.

7.

Tinjauan Tentang Materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan Non-Elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik. Hantaran listrik dapat ditunjukkan oleh alat uji elektrolit. Perbedaan larutan Elektrolit kuat, elektrolit lemah dan non-elektrolit dengan menggunakan alat uji elektrolit. a. Elektrolit kuat : lampu akan menyala terang, disekitar elektrode terdapat

gelembung gas yang banyak. b. Elektrolit lemah : lampu menyala redup/tidak menyala sama sekali tetapi ada

gelembung-gelembung gas disekitar elektrode. Contohnya Larutan yang berasal dari: Non-elektrolit elektrode Mengapa larutan elektrolit dapat mengahantarkan listrik? Pada tahun 1884, svante Arrhenius mengajukan teorinya, bahwa dalam larutan elektrolit yang berperan menghantarkan arus listrik adalah partikel-partikel bermuatan (ion) yang bergerak bebas didalam larutan. Bila kristal NaCl dilarutkan dalam air,maka oleh pengaruh air NaCl terdisosiasi(terion) menjadi ion positif Na +(kation) dan ion negatif Cl- (anion) yang bergerak bebas. Ion-ion inilah yang bergerak sambil membawa muatan listrik ke dua ujung kawat (kutup elektrode) alat uji elektrolit. Dimana ion-ion positif bergerak menuju kekutup negatif dan ionion negatif akan akan bergerak kekutup positif. Jadi, suatu zat dapat terurai menjadi elektrolit bila didalam larutannya zat tersebut terurai menjadi ion-ion yang bebas bergerak. Senyawa ion dan senyawa kovalen polar Zat elektrolit dapat berasal dari senyawa ion atau beberapa senyawa kovalen yang didalam larutan dapat terurai menjadi ion-ion. a. Senyawa Ion Senyawa ion sendiri dalam keadaan kristal sudah sebagai ion-ion, tetapi ion-ion itu terikat satu sama lain dengan kuat dan rapat, sehingga tidak dapat menghantar listrik. Sebaliknya, bila senyawa ion tersebut dalam bentuk leburan atau larutan, maka ion-ion nya akan bebas bergerak, sehingga dapat menghantarkan listrik. Pada proses pelarutan, ion-ion yang terikat dan tersusun rapat tersebut akan tertarik oleh molekul-molekul air, dan akan menyusup disela-sela butir-butir ion tersebut (proses hidrasi) yang akhirnya akan terlepas satu : lampu tidak menyala dan tidak terdapat gelembung gas disekitar

sama lain dan menyebar diantara molekul-molekul air. Peristiwa peruraian tersebut dapat dituliskan dengan persamaan reaksi: NaCl (aq) Contoh: b. Senyawa Kovalen Senyawa kovalen yang dapat menghantarkan arus listrik adalah senyawa kovalen polar contohnya: HCl (aq) H+ (aq) + Cl- (aq) Na+ (aq) + Cl- (aq)

Elektrolit dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: 1. Elektrolit kuat adalah zat-zat yang dalam air akan terurai seluruhnya menjadi ion-ionnya atau terionisasi sempurna dengan (derajat ionisasi) = 1. Daya hantar listrik pada elektrolit kuat sangat tinggi, sehingga nyala lampu akan terang bila arus listrik yang dihubungkan kelampu dilewati elektrolit ini. Contoh-contoh elektrolit kuat: Asam-asam kuat Asam oksi : asam halogen : HCl, HBr, HI

: HNO3, H2SO4 : basa-basa alkali : NaOH, KOH, LiOH, Sr(OH)2, Ba(OH)2 : NaCl, KCl, KBr, CaCl2, MgCl2

Basa-basa kuat Hampir semua garam 2. Elektrolit lemah

Elektrolit lemah adalah zat-zat yang dalam air tidak seluruhnya atau sebagian terurai menjadi ion-ionnya atau terionisasi sebagian dengan contoh elektrolit lemah: Asam atau basa lemah yang tidak termasuk elektrolit kuat Asam lemah Basa Lemah : CH3COOH, HCOOH, HF dan H2CO3 : NH4OH : HgCl2 dan Hg(NO)3

Garam-garam merkuri (II) 3. Larutan non-elektrolit

Larutan non-elektrolit adalah larutan yang tidak dpt menghantarkan arus listrik. Zat-zat non elektrolit dalam air tidak dapat terionisasi( = 0)

METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang menggunakan data pengamatan langsung terhadap jalannya proses pembelajaran di kelas. Data tersebut kemudian dianalisis melalui beberapa tahapan dalam siklus-siklus tindakan. A. Setting dan Subjek Penelitian Penelitian dilakukan di SMA N 10 Semarang yang terletak di Jl. Kapas Utara No.11, Genuk Indah. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas X-3 dengan jumlah 44 orang, yaitu 20 putra dan 24 putri, sedang observer adalah guru mata pelajaran Kimia di kelas tersebut. B. Fokus Penelitian Fokus penelitian tindakan kelas ini adalah hasil belajar kognitif siswa kelas X-3 semester 2 dalam proses pembelajaran Kimia melalui pembelajaran Inquiry Training. Meskipun demikian, hasil belajar aspek psikomotorik dan afektif tidak terlepas dari pengamatan dan perhatian peneliti. C. Rencana Tindakan Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan refleksi. Secara garis besar kegiatan yang dilakukan pada tiap-tiap tahapan adalah sebagai berikut : 1. Perencanaan Pada tahap perencanaan ini dilakukan persiapan yang berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran seperti: pembuatan rencana pembelajaran, pembuatan lembar diskusi, lembar

pengamatan siswa dan guru, lembar penilaian aspek afektif dan psikomotorik serta soal-soal tes akhir siklus. 2. Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan tindakan merupakan kegiatan dilaksanakannya skenario pembelajaran yang telah di rencanakan. Tahap ini terwujud dalam bentuk proses belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa. 3. Pengamatan Pada tahap ini dilakukan proses pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Pengamatan dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan guru mitra. 4. Refleksi Refleksi dilakukan untuk mendiskusikan hasil tes akhir siklus dan hasil pengamatan/observasi terhadap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa. Hasil refleksi siklus I digunakan untuk penyempurnaan pada siklus-siklus berikutnya.

Prosedur kerja tersebut secara garis dapat dijelaskan dengan deskripsi umum penelitian tindakan kelas.

Persiapan Penelitian Hal-hal yang dilakukan peneliti sebelum melaksanakan penelitian tindakan kelas ini yaitu : 1. Observasi awal kelas yang akan diteliti melalui wawancara dengan guru mata pelajaran dan

melalui angket kondisi awal siswa kelas X SMAN 10 Semarang mengenai kondisi siswa, guru dan proses pembelajaran serta melalui dokumentasi hasil belajar siswa pada materi sebelum siklus guna memberi gambaran mengenai masalah yang terjadi. 2. Menyusun soal-soal evaluasi beserta kisi-kisinya yang kemudian dikonsultasikan pada ahlinya (dosen dan guru Kimia), menyusun rencana pembelajaran, lembar penilaian afektif dan

psikomotorik siswa, dan lembar angket tentang tanggapan siswa terhadap pembelajaran inquiry training. Pelaksanaan Penelitian Siklus I 1. Perencanaan Rincian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah sebagai berikut : a. Merancang skenario pembelajaran menggunakan metode Inquiry Training yang berupa rencana pembelajaran dan lembar kerja siswa. b. Mempersiapkan instrumen-instrumen penelitian yang diperlukan yang meliputi soal evaluasi

siklus I, lembar observasi aspek afektif dan psikomotorik, dan lembar observasi aktivitas siswa serta lembar angket tanggapan siswa.

c.

Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk percobaan identifikasi larutan elektrolit

dan non elektrolit. d. Mempersiapkan materi bahan ajar dan soal pre-tes. 2. Pelaksanaan Rincian kegiatan yang dilakukan pada tahap pelaksanaan adalah sebagai berikut : a. Guru memberikan pre-test untuk mengetahui kesiapan siswa terhadap pokok bahasan yang akan dipelajari. b. Membentuk kelompok yang heterogen yang terdiri atas 11 kelompok secara acak. c. Siswa duduk sesuai dengan kelompoknya masing-masing. d. Guru membagikan lembar Kegiatan Siswa yang berisikan petunjuk praktikum identifikasi larutan elektrolit non elektrolit. e. Siswa melakukan percobaan tentang identifikasi larutan elektrolit dan non elektrolit. f. Siswa mendiskusikan hasil percobaan dengan teman sekelompok dan perwakilan kelompok maju untuk mempresentasikan hasil diskusi. g. Siswa menyimpulkan hasil praktikum dengan bantuan guru. h. Pada pertemuan berikutnya setiap awal pertemuan, siswa sudah duduk menurut kelompoknya masing-masing selanjutnya guru memberikan materi secara singkat, untuk siklus I yaitu tentang larutan elektrolit dan non elektrolit. i. Guru membagikan tugas kelompok yang terangkum dalam lembar Kegiatan siswa untuk

didiskusikan dan memberikan bimbingan di setiap tahap kegiatan diskusi. j. Perwakilan kelompok mempresentasikaan hasil diskusi dan ketua kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan setiap anggota kelompoknya. k. Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi dan materi yang telah dipelajari. l. Guru memberikan tes akhir siklus dan angket tanggapan siswa serta tugas mandiri. 3. Pengamatan Pengamatan dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Guru dan observer mengamati kemampuan siswa yang meliputi kemampuan afektif dan psikomotorik 4. Refleksi Dari tindakan yang telah dilakukan kemudian dianalisa hasil pengamatannya. Jika hasil analisa menunjukkan bahwa peningkatan yang dicapai belum sesuai dengan indikator, maka diadakan siklus berikutnya. Hasil analisa digunakan sebagai acuan untuk langkah perbaikan siklus berikutnya. D. Tehnik Pengumpulan Data 1. Sumber Data

Adalah subjek penelitian itu sendiri yaitu siswa kelas X-3 SMA N 10 Semarang tahun ajaran 2012/20013 dan seluruh anggota penelitian (guru dan peneliti). 2. Instrumen Penelitian a. Lembar tes akhir siklus b. Lembar observasi afektif dan psikomotorik siswa. c. Lembar angket siswa. 3. Metode Pengumpulan Data a. Metode dokumentasi Metode ini dilakukan dengan mengambil dokumen/data-data yang mendukung penelitian meliputi data tentang siswa dan hasil belajar yang diperoleh serta foto-foto yang diambil saat penelitian. b. Metode tes akhir siklus Metode tes ini digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Sebelum soal digunakan, terlebih dahulu diujicobakan pada kelas di luar kelas penelitian. Uji coba tes dilaksanakan di SMA N 2 Semarang dengan pertimbangan siswa di SMA N 2 Semarang sudah menerima materi larutan elektrolit non elektroliit. c. Metode observasi Observasi yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi observasi

psikomotorik dan afektif siswa, observasi kinerja guru dan observasi aktivitas siswa. Observasi kinerja guru (peneliti) dilakukan oleh guru mitra, sedangkan untuk observasi terhadap siswa dilaksanakan secara kolaborasi oleh peneliti dan guru mitra. d. Metode kuesioner/angket Angket diberikan kepada siswa untuk diisi pada akhir siklus. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tanggapan dari siswa mengenai model pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dan untuk mengetahui kesulitan siswa selama proses pembelajaran. E. Analisis Data 1. Uji Pendahuluan Tes akhir siklus digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan. Tes akhir siklus disusun berdasarkan kisi-kisi soal yang telah dibuat sebelumnya. Tes akhir siklus yang digunakan berupa soal pilihan ganda dengan 5 pilihan jawaban. Sebelum soal digunakan untuk mengukur hasil penelitian maka diujicobakan terlebih dahulu. Uji coba soal berfungsi untuk mengetahui validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukaran dari soal. Hal ini bertujuan untuk mendukung kesahihan dan kevalidan dari soal penelitian.

Tes uji pendahuluan meliputi : a. Tingkat kesukaran, soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit (Arikunto, 2002: 207). Besarnya indeks dapat dihitung dengan rumus :

Klasifikasi Indeks kesukaran adalah sebagai berikut :

b. Daya pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan siswa yang pandai/berkemampuan tinggi dengan siswa yang bodoh atau berkemampuan rendah (Arikunto, 2002: 211). Daya pembeda ini dinyatakan dengan rumus :

Klasifikasi Daya pembeda adalah sebagai berikut :

2. Analisis Data Penelitian Pada penelitian ini digunakan metode deskriptif dengan membandingkan hasil belajar

sebelum tindakan dengan hasil setelah tindakan. Data dihitung dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Hasil belajar kognitif Hasil belajar kognitif dianalisis dengan menghitung nilai rerata dan ketuntasan belajar klasikal ha sil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan dan nilai tes akhir siklus I dan siklus II untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar. Rata-rata hasil belajar siswa dihitung dengan menggunakan rumus :

Persentase ketuntasan belajar klasikal dihitung dengan menggunakan rumus :

b. Hasil belajar afektif dan psikomotorik Hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa dihitung dengan menggunakan rumus :

Kemudian dicari rata-rata nilai da n persentase ketuntasan belajar klasikalnya menggunakan rumus seperti pada hasil belajar kognitif. c. Penentuan penghargaan kelompok Penghargaan kelompok bisa diperoleh dari data nilai tes awal ( pre-test) dan nilai tes akhir siklus dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Menghitung skor perkembangan individu Berdasarkan selisih antara nilai pre-test dengan tes akhir siklus, maka skor perkembangan individu dihitung dengan menggunakan tabel sebagai berikut :

2) Menghitung skor kelompok

Skor kelompok dihitung dengan menambahkan skor perkembangan tiap-tiap individu anggota kelompok dan membaginya dengan jumlah anggota kelompok tersebut (Ibrahim, 2000: 62). 3) Penghargaan prestasi kelompok 1) Kelompok dengan rata-rata skor 15 19, kelompok baik (good team ). 2) Kelompok dengan rata-rata skor 20 24, kelompok hebat ( great team). 3) Kelompok dengan rata-rata skor 25 30, kelompok super ( super team ). F. Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa secara klasikal yaitu siswa mampu mencapai nilai minimal 65 (lebih besar/sama dengan 65) dan sekurangnya 85% dari jumlah siswa mampu mencapai batas minimal tersebut (Mulyasa, 2002: 99).

INSTRUMEN PENELITIAN SOAL PRETEST 1. Jika suatu larutan memiliki data, antara lain lampu tidak menyala dan pada elektroda timbul gelembung gas, berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa a. larutan tersebut nonelektrolit b. larutan tersebut mengandung sedikit ion bebas c. larutan tersebut tidak mengandung ion bebas d. alat uji tidak bekerja dengan baik e. dalam air semua berbentuk molekul 2. Kristal ionik tidak dapat menghantarkan arus listrik karena a. mengalami ionisasi dengan adanya arus listrik b. ion-ionnya tidak dapat bergerak bebas c. tidak dapat larut dalam air d. bukan senyawaion e. dalam airtidak dapat terionisasi 3. Kristal senyawa ionik dapat menghantarkan arus listrik jika a. dilelehkan b. dibekukan c. didinginkan d. dikristalkan e. didisosiasikan 4. Dari beberapa jenis air di bawah ini, yang tidak dapat menghantarkan arus listrik adalah a. air sungai b. air laut c. air sumur d. air PAM e. air suling 5. Pasangan senyawa berikut yang termasuk larutan elektrolit adalah a. glukosa dan garam dapur b. asam cuka dan urea c. asam klorida dan urea d. asam sulfat dan garam dapur e. asam sulfat dan alkohol 6. Pasangan yang termasuk larutan nonelektrolit adalah larutan

a. etanol dan asam cuka b. gula dan alkohol c. urea dan garam d. gula dan asam cuka e. alkohol dan asam cuka 7. Senyawa di bawah ini apabila dilarutkan dalam air akan terionisasi sempurna adalah a. asam cuka b. gula c. ammonia d. alcohol e. asam klorida 8. Diantara larutan berikut ini yang menimbulkan nyala lampu paling terang adalah a. NH3 b. C2H5OH c. CH3COOH d. HNO3 e. CO(NH2)2 9. Kelompok senyawa berikut yang merupakan larutan elektrolit dan berikatan ion adalah a. Na2SO4, KCl, NaOH b. NaCl, KBr,MgCl2 c. CH3COOH, CO(NH2)2, NaCl d. KCl, MgBr2, H2SO4 e. H2SO4, CO(NH2)2, NaCl 10. Senyawa berikut yang terionisasi sempurna dan berikatan kovalen adalah a. H2CO3 dan H2SO4 b. H3PO4 dan HCl c. H2SO4 dan CH3COOH d. H2O dan NaCl e. HNO3dan H2SO4 11. Diantara larutan berikut ini, yang tidak dapat menghantarkan arus listrik adalah a. CO(NH2)2 1M b. H2SO4 1M c. H2SO4 0,1M d. CH3COOH 1M

e.CH3COOH 0,1M 12. Senyawa elektrolit yang menghasilkan 3 ion H+ dalam reaksi ionisasinya adalah a. H2CO3 b. H2S c. HBr d. H2SO4 e. H3PO4 13. Berikut ini hasil percobaan daya hantar listrik berbagai larutan:

Dari data di atas, pasangan yang digolongkan dalam larutan elektrolit kuat dan nonelektrolit berturut-turut adalah a. 1 dan 2 b. 1 dan 3 c. 1 dan 4 d. 2 dan 3 e. 3 dan 4 14. CH3COOH jika dilarutkan dalam air akan terurai menjadi ion-ion a. CH3+ dan COOHb. CH3CO- dan OHc. CH3COO- dan H+ d. CH3C+ dan OOHe. CH3COO+ dan H2O 15. Jika senyawa memiliki derajat ionisasi sama dengan 0, maka a. tidak ada zat yang terion b. seluruh zat terurai menjadi ion c. sebagian zat terurai menjadi ion d. semua zat terdispersi menjadi molekul e. sebagian zat terurai menjadi molekul

SOAL EVALUASI SIKLUS I Materi Kelas/Semester Waktu Jumlah Soal : : : : Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit X/2 30 menit 15

Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat. 1. Data hasil pengujian daya hantar listrik beberapa larutan: Larutan 1 2 3 4 5 Nyala Lampu Terang Tidak menyala Tidak menyala Tidak menyala Menyala Gelembung Gas Ada Tidak ada Ada Tidak ada Ada

Berdasarkan data tersebut, larutan nonelektrolit adalah larutan nomor . A. 1 dan 5 B. 2 dan 3 C. 3 dan 5 D. 1 dan 4 E. 2 dan 4 Untuk soal no. 2 dan 3 perhatikan tabel berikut. Larutan 1 2 3 Nyala Redup Mati

4 5 2.

Berdasarkan data tersebut, larutan elektrolit kuat adalah larutan nomor A. 1 dan 5 B. 2 dan 3 C. 3 dan 5 D. 1 dan 2 E. 2 dan 4 Berdasarkan data tersebut, larutan elektrolit lemah adalah larutan nomor . A. 1 dan 3 B. 2 dan 5 C. 3 dan 4 D. 3 dan 5 E. 5 saja

3.

4.

Di antara zat berikut, ketika di dalam air dapat membentuk larutan elektrolit kuat adalah . A. gula pasir B. alkohol C. formalin D. cuka E. garam dapur

5.

Di antara zat berikut, ketika di dalam air dapat membentuk larutan elektrolit lemah adalah . A. gula pasir B. alkohol C. formalin D. cuka E. garam dapur

6.

Di antara zat berikut, di dalam air yang bersifat elektrolit lemah dan berikatan kovalen adalah . A. MgCl2 B. NH4Cl

C. CH3COOH D. NaOH E. CCl4 7. Di antara senyawa ion berikut, yang tidak dapat menghantarkan arus listrik di dalam air adalah . A. CaCO3 B. MgCl2 C. KCl D. Sr(NO3)2 E. CaCl2 8. Di antara zat berikut, ketika di dalam air dapat membentuk larutan elektrolit lemah adalah . A. HCl B. H2SO4 C. HNO3 D. NH3 E. NaOH 9. Di antara campuran berikut, ketika dalam air membentuk larutan nonelektrolit adalah . A. CH3COOH + NaCl B. C2H5OH + C12H22O11 C. Spiritus + HCl D. C2H5OH + NaCl E. C12H22O11 + CH3COOH 10. Jika MgNH4PO4 dilarutkan dalam air maka dalam larutan akan terdapat ion-ion . A. Mg2+ dan NH4PO42 B. MgNH3+ dan PO43 C. NH4+ dan MgPO4 D. H3PO4+ dan MgN E. Mg2+, NH4+ dan PO43 11. Spesi kimia yang menghantarkan listrik di dalam larutan KSCN adalah . A. ion-ion S2 dan KCN2+ B. ion-ion KS+ dan CN C. ion-ion K+ dan SCN

D. molekul KSCN dan H2O E. ion-ion K+ dan H2O 12. Ke dalam air ditambahkan cuka dan alkohol kemudian diuji sifat listriknya. Spesi kimia yang menghantarkan arus listrik adalah . A. C2H5OH B. H2O C. CH3COOH D. C2H3O2 dan H+ E. C2H5OH dan H2O 13. NH3 adalah senyawa kovalen, tetapi dalam air membentuk elektrolit lemah, alasannya adalah . A. terurai menjadi ion N- dan H+ B. bereaksi dengan air membentuk ion NH4+ dan OH C. NH3 senyawa kovalen yang bermuatan D. terurai membentuk molekul NH3+ E. air terionisasi menjadi H+ dan OH 14. Larutan elektrolit kuat yang digunakan dalam larutan aki A. HCl B. HCN C. H2SO4 D. H2S E. HNO3 15. Senyawa berikut yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion paling banyak adalah............. A. H2SO4 0,2 M B. C2H5OH 0,2M C. HCl 0,5M D. NH4OH 0,2 M E. HCl 1M

SOAL EVALUASI SIKLUS II Materi Kelas/Semester Waktu Jumlah Soal : : : : Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit X/2 30 menit 15

Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat. 1) Pernyataan yang benar tentang elektrolit adalah . . . .
A. B. C. D. E.

Zat yang dalam bentuk larutan, tidak terurai menjadi ion-ion Zat yang dalam bentuk larutan, terurai menjadi atom-atom Zat yang dalam bentuk larutan, terurai menjadi molekul-molekul Zat yang dalam bentuk larutan, terurai menjadi ion-ion Zat yang dalam bentuk larutan, terurai menjadi gas

2)

Dari hasil pengujian daya hantar larutan diperoleh hasil sebagai berikut: No Nyala lampu 1 2 3 4 5 Terang Tidak menyala Tidak menyala Tidak menyala Terang Gelembung gas Ada Tidak ada Ada Tidak ada ada Pengamatan

Berdasarkan data di atas yang merupakan larutan non elektrolit adalah larutan nomor. . . . A. B. C. D. E. 3) 1 dan 5 2 dan 3 3 dan 5 1 dan 4 2 dan 4

Garam dapur padat tidak menghantarkan listrik, namun bila dilarutkan dalam air dapat menghantarkan listrik. Hal ini disebabkan A. B. C. D. ....

Garam dapur dalam bentuk leburan dan larutan tidak terionisasi Garam dapur merupakan senyawa ion yang terdiri atas ion Na+ dan ClGaram dapur dalam bentuk leburan dan larutannya terionisasi Molekul NaCl dalam leburan dan larutannya dapat bergerak bebas

E.

Garam dapur padat non elektrolit, sedangkan dalam bentuk leburan dan larutannya elektrolit

4)

Larutan di bawah ini yang mempunyai daya hantar listrik paling baik adalah . . . . A. B. C. D. E. Asam cuka Alkohol Asam sulfat Minyak tanah Gula

5)

Kumpulan senyawa yang tergolong elektrolit kuat adalah . . . . A. B. C. D. E. NaOH, NaCl, NaBr H2O, H2S, H2CO3 H2O, HCN, CH3COOH H2S, HCN, NH4OH H2CO3, HCN, H2S

6)

Dari data eksperimen diperoleh data sebagai berikut: Larutan Asam klorida Gula Asam cuka Rumus zat HCl C12H22O11 CH3COOH Nyala lampu Terang Tidak menyala redup

Kekuatan larutan elektrolit yang sesuai dengan data di atas adalah . . . . A. B. C. D. E. 7) CH3COOH < C12H22O11 < HCl C12H22O11 < HCl < CH3COOH HCl < CH3COOH < C12H22O11 C12H22O11 < CH3COOH < HCl HCl < C12H22O11 < CH3COOH NaOH CH3COOH H2SO4 H3PO4 Ca(OH)2 HCl ....

Diberikan contoh larutan asam dan basa sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Yang termasuk larutan asam lemah adalah

A. B. C. D. E. 8)

H3PO4 dan HCl NaOH dan H2SO4 CH3COOH dan H3PO4 H2SO4 dan Ca(OH)2 CH3COOH dan HCl Larutan garam dapur Larutan glukosa Larutan air kapur Larutan amonia Larutan asam cuka

Larutan yang tidak dapat menghantarkan listrik adalah . . . . A. B. C. D. E.

9)

Dari larutan berikut ini yang diharapkan dapat menghantarkan listrik paling baik adalah . . . . A. B. C. D. E. Larutan urea 2 M Larutan amonia 0,1 M Larutan amonia 0,2 M Larutan asam sulfat 0,1 M Larutan asam sulfat 0,2 M

10)

Senyawa di bawah ini jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion-ion, kecuali .... A. B. C. D. E. Larutan urea Larutan asam fosfat Larutan perak nitrat Larutan asam sulfat Larutan kalsium hidroksida

11)

Senyawa yang dapat menghantarkan arus listrik bila dilarutkan dalam air dan memiliki ikatan kovalen adalah A. B. C. D. E. CaCl2 KBr AlBr3 NaF HCl ....

12)

Dari hasil pengujian daya hantar listrik terhadap larutan A dan B diperoleh hasil:

Pada larutan A, lampu menyala dan terjadi gelembung-gelembung gas sedangkan pada larutan B lampu tidak menyala dan tidak terjadi gelembung-gelembung gas. Kesimpulannya adalah . . . . A. B. Larutan A adalah elektrolit karena menghasilkan gelembung-gelembung gas Larutan B adalah elektrolit karena tidak menghasilkan gelembunggelembung gas C. D. E. 13) Larutan A adalah elektrolit karena terurai menjadi ion-ion Larutan B adalah elektrolit karena tidak terurai menjadi ion-ion Larutan A adalah elektrolit karena mudah larut dalam air

Larutan yang mempunyai daya hantar paling lemah adalah . . . . A. B. C. D. E. 0,1 M asam sulfat 0,1 M asam asetat 0,1 M natrium asetat 0,1 M natrium klorida 0,1 M natrium hidroksida .. ..

14)

Berikut ini yang tidak termasuk elektrolit adalah A. B. C. D. E. Asam kuat Basa kuat Garam yang larut dalam air Asam lemah Garam yang tidak larut dalam air

15)

Pada percobaan daya hantar listrik terhadap berbagai sumber air diperoleh hasil sebagai berikut: No 1 2 3 4 Jenis air Air laut Air hujan Air sungai Air sumur Nyala lampu Terang Redup Redup Redup Pengamatan lain Ada gelembung gas Sedikit gelembung gas

Dari data tetsebut dapat disimpulkan . . . . A. B. C. Air laut merupakan elektrolit lemah Air sumur bersifat non elektrolit Daya hantar air sungai lebih kecil daripada air hujan

D. E.

Daya hantar air hujan paling lemah Air dari berbagai sumber bersifat elektrolit

LEMBAR PENGAMATAN AFEKTIF No. Nama Disiplin Aktifitas Kerjasama Kejujuran Etika Rata-rata

Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 s/d 6 Penafsiran angka : 1 : sangat kurang 2 : kurang 3 : cukup 4 : baik 5 : amat baik

LEMBAR PENILAIAN PSIKOMOTORIK No Nama A B Aspek Penilaian C D E Jumlah skor Nilai

Aspek yang dinilai : A : Ketrampilan merangkai alat B : Ketrampilan mengatur alat dan bahan C : Ketrampilan mengamati nyala lampu D : Ketrampilan mengamati gelembung gas E : ketrampilan membereskan dan membersihkan alat dan bahan Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 s/d 5 Penafsiran angka : 1 = 60, 2 = 70, 3 = 80, 4 = 90, 5 = 100

ANGKET TANGGAPAN PESERTA DIDIK Nama Kelas/ No. Absen Petunjuk pengisian 1. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan sebenar-benarnya. 2. Angket ini tidak berpengaruh terhadap hasil belajar Anda. 3. Baca dengan seksama petunjuk dan pertanyaan di bawah ini sebelum Anda mengisi. 4. Pilih salah satu jawaban yang sesuai dengan kenyataan yang Anda alami dengan cara memberi tanda check (v) pada salah satu pilihan jawaban. Keterangan No. Pernyataan SS 1. Saya merasa kesulitan memahami materi larutan elektrolit dan non elektrolit di awal pembelajaran 2. Saya berusaha mencari informasi tentang materi larutan elektrolit dan non elektrolit di luar jam pelajaran sekolah 3. 4. 5. 6. Pembelajaran berlangsung menarik dan menyenangkan Pembelajaran melibatkan saya untuk lebih aktif Saya berani mengemukakan jawaban atau pendapat saya Saya terlatih untuk berani bertanya atau menjawab pertanyaan teman atau guru melalui pembelajaran ini 7. Saya menjadi lebih mudah memahami materi dan menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan materi 8. 9. 10. Saya lebih termotivasi dan bersemangat untuk belajar Saya menyukai cara guru mengajar Jurusan eksak telah sesuai dengan minat dan bakat yang saya miliki Keterangan: SS = sangat setuju, S = setuju, TS = tidak setuju, STS = sangat tidak setuju S TS STS : :