Anda di halaman 1dari 14

PEMATAHAN DORMANSI BENIH

PEMATAHAN DORMANSI SECARA FISIK DAN KIMIA

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun Oleh : A4111962

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN POLITEKNIK NEGERI JEMBER 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Benih dikatakan dorman apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan. Dormansi pada benih berlangsung selama beberapa hari, semusim, bahkan sampai beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan tipe dari dormansinya (Sutopo, 2004). Masih sangat kepustakaan mengenai hubungan antara ukuran atau bobot benih dengan masa hidup benih yang dilakukan melalui percobaan penyimpanan. Akan tetapi penelitian yang memperlihatkan keunggulan benih berat dan masak terhadap benih ringan dan belum masak melalui uji daya kecambah, vigor dan panennya, telah banyak dilakukan. Meski demikian penelitiannya mendukung pendapat bahwa kelemahan-kelemahan yang terdapat pada benih belum masak juga terdapat pada benih kecil (Justice dan Bass, 1990). Biji-biji dari banyak spesies tidak akan berkecambah pada keadaan gelap. Biji-biji itu memerlukan rangsangan cahaya. Nampaknya ada dua himpunan tekanan ekologis yang mempengaruhinya. Pertama, biji-bijian dari banyak tanaman-tanaman pengganggu, seperti halnya berbagai macam spesies Chenopodium yang merupakan ciri dari tanah dan mungkin terkubur pada kedalaman tertentu karena pengolahan tanah nampaknya memerlukan kondisi yang baik untuk mengatasinya bila mereka tidak berkecambah sampai mereka dapat kembali muncul ke permukaan (Andani dan Purbayanti, 1991). Pengurangan kandungan lengas biji, serta suhu dan kelembaban relatif di tempat biji disimpan, memperpanjang umur penyimpanan kebanyakan biji. Laju perkecambahan menurun dengan menurunnya potensial lengas tanah dan untuk jagung, berhenti pada 1,25 Mpa. Suhu tanah 26 o 30oC adalah optimum untuk perkecambahan dan pertumbuhan semai awal (Tohari, 1999).

Tulus_yudi@yahoo.com

Zat-zat penghambat perkecambahan yang diketahui terdapat pada tanaman antara lain adalah ammonia, abscisis acid, benzoic acid, ethylene, alkaloid, alkaloids lactone (antara lain coumarin). Coumarin diketahui menghambat kerja enzim. Enzim penting dalam perkecambahan (Sutopo, 2004). Perkecambahan mencapai puncaknya sebesar 72% pada tahun ketujuh. Setelah panen, pendinginan di laboratorium dengan larutan KNO3 merangsang perkecambahan hampir seluruh biji (Gardner dkk, 1991).

B. Tujuan Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah: 1. Untuk mengetahui pengaruh kulit biji yang keras terhadap

perkecambahan. 2. Untuk mengetahui pengaruh bahan-bahan kimia dan fisika terhadap perkecambahan biji.

Tulus_yudi@yahoo.com

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Benih-benih tertentu, misalnya benih padi yang baru dipanen dapat mengalami dormansi. Tetapi dormansi ini dapat dipecahkan jika benih telah mengalami penyimpanan kering yang disebut dengan after-ripening. Perlakuan benih dengan suhu tinggi dilaporkan dapat memecahkan dormansi benih ini. Di lapangan kadang-kadang terjadi kegagalan penanaman padi akibat fenomena ini. Petani mengeluh bahwa benih yang disemai tidak tumbuh merata dan menyalahkan bahwa pedagang benih telah menjual benih yang kadaluarsa. Sebenarnya, benih tersebut belum cukup waktu melampaui periode afterripeningnya (Mugnisjah dkk, 1994). Pertumbuhan embrio ditahan pada saat benih masak, tetapi mulai lagi pada perkecambahan. Benih membutuhkan air untuk berkecambah, oksigen, dan temperatur dimana suhunya antara 5 o 45o C. Benih yang berkecambah memerlukan tiga faktor yang dibuat perkecambahan masak. Benih yang baru saja dipanen, walaupun tidak mengalami perkecambahan, tetapi memasuki tahap dormansi dan gagal merespon kondisi berkecambah (Thomson, 1990). Dormansi merupakan strategi benih-benih tumbuhan tertentu agar dapat mengatasi lingkungan sub-optimum guna mempertahankan kelanjutan spesiesnya. Terdapat berbagai penyebab dormansi benih yang pada garis besarnya dapat digolongkan kedalam adanya hambatan dari kulit benih (misalnya pada benih lamtoro karena kulit benih yang impermeabel terhadap air) atau bagian dalam benihnya (misalnya pada benih melinjo karena embrio yang belum dewasa). Benih yang mengalami dormansi organik ini tidak dapat berkecambah dalam kondisi lingkungan perkecambahan yang optimum (Sadjad, 1993). Dormansi adalah suatu keadaan dimana pertumbuhan tidak terjadi walaupun kondisi lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan. Pada beberapa jenis varietas tanaman tertentu, sebagian atau seluruh benih menjadi dorman sewaktu dipanen, sehingga masalah yang sering dihadapi oleh petani atau pemakai benih adalah bagaimana cara mengatasi dormansi tersebut. Struktur

Tulus_yudi@yahoo.com

benih (kulit benih) yang keras sehingga mempersulit keluar masuknya air kedalam benih (http://id.wikipedia.org, 2008). Dormansi dapat diatasi dengan melakukan perlakuan. Perlakuan sebagai berikut : 1. Pemarutan atau penggoresan (skarifikasi, scarification) yaitu dengan cara menghaluskan kulit benih atau menggores kulit benih agar dapat dilalui air dan udara. 2. Melepaskan kulit benih dari sifat kerasnya agar dengan demikian terjadi lubang-lubang yang memudahkan air dan udara melakukan aliran yang mendorong perkecambahan. 3. Perusakan strophiole benih yang menyumbat tempat masuknya air. 4. Stratifikasi terhadap benih dengan suhu rendah ataupun suhu tinggi. 5. Pemberian bahan kimia. (Kartasapoetra, 2003). Istilah yang pernah digunakan untuk menjelaskan dormansi dan yang paling lazim adalah istilah istirahat dan pasif. Lebih banyak istilah yang menyertakan kata dormansi di belakang kata keadaan (adjektif), misalnya primer, sekunder, bawaan, dan sebagainya. Secara logis menjelaskan pentingnya kesatuan istilah dan menganjurkan tiga istilah baru saja, yakni endodormansi, ekodormansi, dan paradormansi. Di laboratorium dan di bidang pertanian (bila perlu) digunakan alkohol atau pelarut lemak (yang menghilangkan bahan berlilin) yang kadang mengahalangi masuknya air / asam pekat. Sebagai contoh, perkecambahan biji kapas dan kacangan tropika dapat sangat dipacu dengan merendam biji terlebih dahulu dengan asam sulfat selama beberapa menit sampai satu jam dan selanjutnya dibilas untuk menghilangkan asam itu (Salisbury dan Ross, 1992). Substansi yang larut kemudian dapat membawa embrio dan respirasi, dimana dormansi biji prosesnya tidak dapat dilihat dapat menunjukkan kemampuan besar. Pada beberapa benih seperti beras, rumput, respirasi anaerob memerlukan energi untuk pertumbuhan embrio, tetapi kebanyakan benih energi disuplai dalam bentuk respirasi anaerob (Stern dkk, 2004). Contoh yang paling mudah mengenai dormansi adalah adanya kulit biji yang keras yang menghalangi penyerapan oksigen atau air. Kulit biji yang keras

Tulus_yudi@yahoo.com

itu lazim terdapat pada anggota famili Fabaceae (Leguminosae) walaupun tidak terdapat pada buncis atau kapri yang menunjukkan bahwa dormansi tidak umum pada spesies yang dibudidayakan (http://www.google.com, 2008). Gejala dormansi dapat dijumpai pada biji dan organ tumbuhan lainnya seperti tunas, rhizome, dan umbi lapis (bulb). Faktor-faktor yang menyebabkan dormansi pada biji dapat dikelompokkan dalam: a. Faktor lingkungan eksternal, seperti cahaya, temperatur, dan air, b. Faktor internal, seperti kulit biji, kematangan embrio, c. Faktor waktu, seperti waktu setelah pematangan, hilangnya inhibitor (http://en.wikipedia.org, 2008). Lamanya dormansi dapat diperpanjang dengan merendahkan suhu penyimpanan. Pada penelitiannya dengan menggunakan benih barley, oats, dan sorghum yang berbeda-beda. Brown mendapatkan bahwa dormansi pada hampir semua kultivar benih yang banyak terjadi dapat dipatahkan dengan

menyimpannya pada suhu 40o C. Robert mendapatkan bahwa dormansi pada beberapa kultivar Thai Chu 65 sampai lebih dari 100 hari (waktu 100 hari untuk mematahkan 50% benih dorman) pada kultivar Masalaci. Hull mematahkan dormansi pada benih kacang tanah jalar Florida dengan menyimpannya pada suhu 20o 25o C dan 40o C. Justice mendapatkan bahwa satu-satunya cara mematahkan dormansi benih Cyperus rotundus adalah dengan menempatkannya pada lapisan basah pada suhu 40o C selama tiga hingga enam minggu (Justice dan Bass, 1990). Dormansi pada beberapa jenis benih disebabkan oleh: 1. Struktur benih, misalnya kulit benih, braktea, gulma, perikarp, dan membran yang mempersulit keluar masuknya air dan udara, 2. Kelainan fisiologis pada embrio, 3. Penghambat (inhibitor) perkecambahan atau penghalang lainnya, 4. Gabungan dari faktor-faktor di atas (Justice dan Bass, 1990). Menurut http://elisa.ugm.ac.id (2008) tipe dormansi adalah sebagai berikut:

Tulus_yudi@yahoo.com

1. Dormansi Mekanis Perkembangan embrio secara fisis terhambat karena adanya kulit biji / buah yang keras. 2. Dormansi fisis Imbibisi / penyerapan air terhalang oleh lapisan kulit biji / buah yang impermeabel pada beberapaa legum dan myrtaceae. Fluktuasi, suhu, skarifikasi mekanis, pemberian air panas atau bahan kimia. 3. Dormansi chemis Buah atau biji mengandung zat penghambat (chemical inhibitory compound) yang menghambat perkecambahan. Pencucian (leaching) oleh air,

dekomposisi bertahap pada jaringan buah, menghilangkan jaringan buah dan mencucinya dengan air.

Tulus_yudi@yahoo.com

BAB III METODOLOGI

A. Waktu Dan Tempat Kegiatan praktikum pematahan dormansi benih (pematahan dormansi secara fisik dan kimia) dilaksanakan pada tanggal 19 April 2012 bertempat di Laboratorium Teknologi Produksi Benih (TPB) Politeknik Negeri Jember.

B. Alat dan Bahan

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Alat dan Bahan Timbangan analitik Plastik Kertas label Allumunium Foil Kertas Pinset Karet Gelang Pemotong kuku H2SO4 KNO3 Air Benih jati Benih sengon Benih semangka Benih papaya Benih cabe

Spesifikasi Analitik balance Lebar 1,2 m Ukuran 209

Keb/Kel 1 1 1 1

Sat Unit m Bh Pak Rim Bh Pak Bh Ltr Ltr

Jumlah 4 4 4 4 1 8 1 4 1 1

CD Ujung lancip

1/4 2 1

Besar 96%

1 0.25 0.25

Baik dan bernas Baik dan bernas Non biji Masak Baik dan bernas

250 250 100 1 100

Bj Bj Bj Bh Bj

1000 1000 400 4 400

Tulus_yudi@yahoo.com

C. Prosedur Kerja Pematahan dormansi dilakkan dengan cara mekanis dan kimia. Berikut ini adalah langkah-langkah kerja pematahan dormansi yang dilakukan: 1. Teknik pematahan dormansi benih cabe a. Kontrol yaitu benih direndam dalam air panas b. Perendaman KNO3 0.2 % selama 20 menit c. Tanam benih cabe sesuai perlakuan dengan menggunakan metode UKDP yang telah dibasahi d. Jaga kelembaban dan lakukan pengamatan untuk kecambah normal, abnormal, dan mati pada hari ke-8 dan hari ke-14.

2. Teknik pematahan dormansi benih pepaya a. Kontrol yaitu benih direndam dalam air panas b. Skarifikasi fisik yaitu dengan menggunting kulit benih dengan menggunakan pemotong kuku pada posisi embrio. c. Benih pepaya yang digunakan dihilangkan bagian atasnya Tanam benih pepaya sebanyak 25 biji sesuai perlakuan dengan menggunakan metode UKDP yang telah dibasahi. d. Jaga kelembaban dan lakukan pengamatan untuk kecambah normal, abnormal, dan mati pada hari ke-8 dan hari ke-14.

3. Teknik pematahan dormansi benih jati a. Kontrol yaitu benih direndam dalam air panas b. Skarifikasi fisik yaitu buat perlakuan pada benih jati menggunakan dengan cara benih diamplas menggunakan ampelas untuk

menghilangkan kulit biji sampai kulit biji bersih c. Perendaman H2SO4 96 % selama 5 menit, 10 menit dan 15 menit d. Tanam benih jati sesuai perlakuan dengan menggunakan metode UKDP yang telah dibasahi e. Jaga kelembaban dan lakukan pengamatan untuk kecambah normal, abnormal, dan mati pada hari ke-8 dan hari ke-14.

Tulus_yudi@yahoo.com

4. Benih semangka a. Kontrol yaitu benih direndam dalam air panas b. Skarifikasi fisik yaitu perlakuan pada benih semangka denga cara benih tidak dipecah kulitnya dan pecahkan benih poada bagian atasnya dengan menggunakan pemotong kuku c. Rendam benih yang telah dipecah dalam air panas d. Tanam benih semangka sesuai perlakuan dengan metode UKDP sebanyak 25 butir e. Jaga kelembaban dan lakukan pengamatan untuk kecambah normal, abnormal, dan mati pada hari ke 3.

5. Benih sengon a. Kontrol yaitu benih direndam dalam air panas b. Perendaman H2SO4 96 % selama 5 menit, 10 menit dan 15 menit c. Tanam benih sengon sesuai perlakuan dengan metode UKDP sebanyak 25 butir d. Jaga kelembaban dan lakukan pengamatan untuk kecambah normal, abnormal, dan mati pada hari ke 3.

Tulus_yudi@yahoo.com

B. Pembahasan Proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi, fisologi, dan biokimia. Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit benih dan hidrasi dari protoplasma. Tahap kedua dimulai dengan kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi benih tahap ketiga merupakan tahap dimana terjadi penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk-bentuk yang melarut dan ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh. Tahap keempat adalah asimililasi dari bahan-bahan yang telah diuraikan tadi di daerah meristematik untuk menghasilkan energi baru. Kegiatan pembentukan komponen dan

pertumbuhan sel baru. Tahap kelima adalah pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik-titik tumbuh. Sementara penyerapan air oleh benih terjadi pada tahap pertama biasanya berlangsung sampai jaringan mempunyai kandungan air 40 60 % (atau 67 150 % atas dasar berat kering). Dan akan meningkat lagi pada saat munculnya radikula sampai jaringan penyimpanan dan kecambah yang sedang tumbuh mempunyai kandunga air 70 - 90 %. Metabolisme sel-sel mulai setelah menyerap air yang meliputi reaksi-rekasi perombakan yang biasa disebut katabolisme dan sintesa komponen-komponen untuk pertumbuhan disebut anabolisme. Proses metabolisme ini akan berlangsung terus dan merupakan pendukung dari pertumbuhan kecambah sampai tanaman dewasa. Pada proses perkecambahan ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam meliputi : tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormasni, dan penghambat perkecambahan. Sedangkan faktor luar meliputi : air, temperatur, oksigen, cahaya dan medium, tingkat kemasakan benih. Biji yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai, tidak mempunyai viabilitas tinggi, bahkan pada beberapa jenis tanaman benih demikian tidak akan dapat berkecambah. Di duga pada tingkatan tersebut benih belum memiliki cadangan makanan yang cukup dan juga pembentukan embrio terjadi sempurna.

Tulus_yudi@yahoo.com

Suatu benih dikatakan dorman apabila benih itu sebenarnya viable (hidup) tetapi tidak mau berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan lingkungan yang memenuhi syarat bagi perkecambahannya. Periode dormansi ini dapat berlangsung musiman atau dapat juga selama beberapa tahun, tergantung pada jenis benih dan tipe dormansinya. Dormansi dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lin : impermiabilitas kulit biji baik terhadap gas ataupun karena resistensi kulit biji terhadap pengaruh mekanis, embrio yang rudiameter, dormnsi sekunder dan bahan-bahan penghambat perkecambahan. Tetapi dengan perlakuan khusus maka benih yang dorman dapat dirangsang untuk berkecambah, misal : perlakuan stratifikasi, direndam dalam laruta sulfat, dan lain lain. Banyak zat-zat yang diketahui dapat menghambat perkecambahan benih yaitu : larutan dengan tingkat osmotik tinggi, misal larutan manitol, larutan NaCl, bahan-bahan yang mengganggu lintasan metabolisme, herbisida, auksin, coumarin dan bahan-bahan yang terkandung dalam buah. Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan dapat diperoleh data yaitu pada perlakuan air panas diperoleh hasil perkecambahan biji Sengon sebesar 65 %, biji semangka 59 %, benih cabe 83 % dan pepaya 28 %. Sehingga dapat disimpulkan bahwa air panas dapat menambah suhu biji sehingga merangsang berakhirnya masa dormansi. Pada perlakuan direndam dengan air biasa diperoleh hasil perkecambahan biji Sengon sebesar 21 %, biji semangka 10 %, benih cabe 19 % dan pepaya 8 %. Hal ini menandakan bahwa aquades / air merupakan salah satu faktor yang dapat mematahkan dormansi. Pada perlakuan fisik pada biji semangka 74 %, papaya 29 % dan sedangkan jati 0 %. Ini menunjukkan bahwa metode amplas atau pelukaan pada permukaan biji agar dapat dilaluai air dan udara sehingga dapat mematahkan dormansi. Pada perlakuan asam sulfat (H2SO4) pada biji jati menunjukkan pertumbuhan sebesar 0% dan ini menunjukkan bahwa H2SO 4 memacu perkecambahan biji.

Tulus_yudi@yahoo.com

Pada perlakuan KNO3 pada benih cabe menunjukkan pertumbuhan sebesar 90 %. Ini menandakan KNO3 dapat mematahkan dormansi karena cepat merangsang perkecambahan biji. Hal ini sesuai dengan literatur Gardner dkk (1991) yang menyatakan bahwa larutan KNO 3 merangsang perkecambahan pada hampir seluruh biji.

BAB V KESIMPULAN

Dormansi adalah suatu keadaan dimana pertumbuhan tidak terjadi walaupun kondisi lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan. Pada beberapa jenis varietas tanaman tertentu, sebagian atau seluruh benih menjadi dorman sewaktu dipanen, sehingga masalah yang sering dihadapi oleh petani atau pemakai benih adalah bagaimana cara mengatasi dormansi tersebut. Struktur benih (kulit benih) yang keras sehingga mempersulit keluar masuknya air kedalam benih 1. Pada perlakuan air diperoleh hasil perkecambahan biji Sengon sebesar 21 %, biji semangka 10 %, benih cabe 19 % dan pepaya 8 %. 2. Pada Pada perlakuan fisik pada biji semangka 74 %, papaya 29 % dan sedangkan jati 0 %. 3. Pada perlakuan asam sulfat (H2SO4) pada biji jati menunjukkan pertumbuhan sebesar 0%. 4. Pada perlakuan KNO3 pada benih cabe menunjukkan pertumbuhan sebesar 90 %.. 5. Pada Pada perlakuan air panas diperoleh hasil perkecambahan biji Sengon sebesar 65 %, biji semangka 59 %, benih cabe 83 % dan pepaya 28 %. 6. Pada perlakuan air panas diperoleh hasil perkecambahan biji Sengon sebesar 65 %, biji semangka 59 %, benih cabe 83 % dan pepaya 28 %

Tulus_yudi@yahoo.com

DAFTAR PUSTAKA Andani, S dan E.D. Purbayanti., 1991. Fisiologi Tanaman Lingkungan. UGM Press, Yogyakarta Gardner, F.P., R.B. Pearce, R.L. Mitchell., 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan Herawati Susilo. UI Press, Jakarta http://elisa.ugm.ac.id., 2008. Tipe Dormansi. Diakses tanggal 5 Mei 2012 http://en.wikipedia.org., 2008. Dormansi Biji. Diakses tanggal 1 Mei 2012 http://id.wikipedia.org., 2008. Dormansi Biji. Diakses tanggal 18 April 2012 http://www.google.co.id., 2008. Dormansi Biji. Diakses tanggal 18 April 2012 Justice, O.L dan L.N. Bass., 1990. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. Rajawali Press, Jakarta Kartasapoetra, A.G., 2003. Teknologi Benih. Rineka Cipta, Jakarta. Mugnisjah, W.Q., A. Setiawan, Suwarto, C. Santiwa., 1994. Panduan Praktikum dan Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih. PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta. Sadjad, S., 1993. Dari Benih Kepada Benih. Grasindo, Jakarta Salisbury, F.B., dan C.W. Ross., 1992. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press, Bandung Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Malang: Fakultas Pertanian UNBRAW Stern, K.R., S. Jansky, J.E. Bidlack., 2004. Introdution Plant Biology. McGrawHill Book Company Inc, London Thomson, J.R., 1990. An Introduction to Seed Technology. Leonard Hill, London Tohari, 1999. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. UGM Press, Yogyakarta

Tulus_yudi@yahoo.com

Anda mungkin juga menyukai