Anda di halaman 1dari 27

MASERASI CURCUMA AERUGINOSA

  • A. Tujuan

    • 1. Mahasiswa diharapkan mampu membuat serbuk dengan derajat kehalusan tertentu.

    • 2. Mahasiswa diharapkan memahami dan mampu melakukan penyarian bahan alam.

    • 3. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan kontrol kualitas terhadap ekstrak.

  • B. Dasar Teori Curcuma aeruginosa atau biasa disebut temu hitam, temu ireng (jawa) termasuk ke dalam famili Zingiberceae. Tanaman ini sejenis tumbuhan yang rimpangnya dimanfaatkan sebagai campuran obat atau jamu.

  • Asli dari kawasan Asia Tenggara, dari Burma hingga ke Pulau Jawa. Selain ditanam di pekarangan atau di perkebunan, temu hitam juga banyak ditemukan tumbuh liar di hutan jati, padang rumput, atau di ladang pada ketinggian 400--750 m dpl.

    Tumbuhan ini termasuk tanaman tahunan, tinggi maksimum hanya mencapai 2 meter, berbatang semu yang tersusun dari kumpulan pelepah daun, berwarna hijau atau cokelat gelap. Daun tunggal, bertangkai panjang, keluar dari titik-titik kuncup pada rimpang. Helaian daun bentuknya bundar memanjang sampai lanset, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip, warnanya hijau tua dengan sisi kiri - kanan ibu tulang daun terdapat semacam pita memanjang berwarna merah gelap atau lembayung, panjang 31-34 cm, lebar 10-18 cm. Bunganya tersusun majemuk berbentuk bulir yang tandannya keluar langsung dari rimpang, panjang tandan 20-25 cm, bunga mekar secara bergiliran dari kantong-kantong daun pelindung (bractea) yang besar, pangkal daun pelindung berwarna putih, ujung daun pelindung berwarna ungu kemerahan. Mahkota bunga berwarna kuning. Rimpangnya cukup besar dan merupakan umbi batang serta bercabang-cabang. Jika rimpang tua dibelah, tampak lingkaran berwarna biru kehitaman di bagian luarnya. Rimpang temu

    hitam mempunyai aroma yang khas. Perbanyakan dengan rimpang yang sudah cukup tua atau pemisahan rumpun.

    Pemerian

    (Hariana,2006)

    Bau aromatik; rasa sangat pahit, lama-lama menimbulkan rasa tebal

    Pemeriksaan Makroskopik

    Makroskopik kepingan, pipih, keras, panjang 1 cm sampai 5 cm, lebar 1 cm sampa 3 cm, tebal sampai 0,5 cm, tapi agak melengkung, permukaan berwarna coklat keabu-abuan atau jingga keabu-abuan. Batas korteks dengan silinder pusat jelas. Bekas patahan agak rata, tidak berserat, agak berdebu.

    Pemeriksaan Mikroskopik

    Epidermis terdiri dari 1 lapis sel, pada epidermis terdapat rambut penutup berbentuk kerucut, lurus atau agak bengkok, panjang 200 µm sampai 750 µm. Hipodermis terdiri dari beberapa lapis sel berwarna kuning kecoklatan. Periderm terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk segi empat sampai persegi panjang, warna kuning kecoklatan sampai coklat kehitaman. Korteks parenkimatik, terdiri dari sel-sel berbentuk isodiametrik, berisi butir pati; sel sekresi dan berkas pembuluh tersebar di korteks, butir pati umumnya berbentuk lonjong dengan ujung menonjol hingga mirip berbentuk botol, lamela jelas, panjang butir pati 10 µm sampai 30 µm. Sel sekresi berisi minyak dan berukuran 20 µm sampai 60 µm. Berkas pembuluh kolateral dengan pembuluh kayu berpenebalan bentuk tangga dan jala, lebar 10 µm sampai 50 µm. Endodermis terdiri dari sel-sel yang agak pipih. Silinder pusat terdiri dari sel parenkim serupa parenkim dikorteks; berkas pembuluh, sel sekresi dan butir pati serupa di korteks.

    Serbuk warna coklat muda. Fragmen pengenal adalah buti pati berbentuk bulat telur dengan ujung menonjol atau berbentuk mirip botol, lamela jelas; fragmen pembuluh kayu dengan penebalan tangga dan jala; rambut penutup; sel minyak dalam parenkim; fragmen gabus.

    Cara Identifikasi

    • a. Pada 2 mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes asam sulfat P; terjadi warna coklat kehitaman lama-lama berubah menjadi ungu kehitaman.

    • b. Pada 2 mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes asam sulfat 10N; terjadi warna coklat tua hitam.

    • c. Pada 2 mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes asam klorida pekat P terjadi warna coklat tua.

    • d. Pada 2 mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes larutan kalium hidroksida P 5% b/v; terjadi warna coklat tua.

    • e. Pada 2 mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes amonia (25%) P; terjadi warna coklat tua.

    • f. Pada 2 mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes larutan besi (III) klorida P 5% b/v ; terjadi warna kuning kehijauan.

    Uji Kemurnian Kadar abu : tidak lebih dari 6,1% Kadar abu yang tidak larut dalam asam : tidak lebih dari 2,4% Kadar sari yang larut dalam air tidak kurang dari 19,6% Kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 2,4% Bahan organik asing tidak lebih dari 2% Kegunaan Karminatif Kandungan Senyawa Minyak atsiri 2%, pati, damar, lemak.

    (Anonim,1978).

    Kandungan kimia pada rimpang Curcuma aeruginosa yang sudah diketahui antara lain minyak atsiri, curcumol, kardione, isofortungemakrene, germakrene, tetrametilfrazine, zat pati, lemak, damar, tanin, zat warna biru, alkaloid, zat pahit, saponin, dan mineral.

    (Hariana,2006).

    Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahay matahri langsung. Ekstrak kering jarus mudah digerus dengan serbuk. Cairan penyari sebagai cairan penyari digunakan air, eter atau campuran etanol dan air. (Anonim,1979).

    Pembuatan penyarian simplisia dengan air dilakukan dengan cara maserasi, perkolasi atau penyeduhan dengan air mendidih. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi. (Anonim,1979).

    Hal yang penting dalam teknologi farmasi adalah cara mengekstraksi. Jenis ekstraksi dan cairan mana yang sebaiknya digunakan sangat tergantung dari kelarutan bahan kandungan serta stabilitasnya (Voight, 1994).

    Derajat halus serbuk dinyatakan dengan satu atau dua nomor. Jika derajat halus serbuk dinyatakan satu nomor, berarti semua serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor tersebut. Jika dinyatakan dengan dua nomor, berarti semua serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor terendah dan tidak lebih dari 40% melalui pengayak dengan nomor tertinggi. Sebagai contoh serbuk 22/60, dimaksudkan bahwa serbuk dapat melalui pengayak nomor 22 seluruhnya, dan tidak lebih dari 40% melalui pengayak nomor 60.

    Nomor pengayak menunjukkan jumlah-jumlah lubang tiap 2,54 cm dihitung searah dengan panjang kawat. Pengayak dibuat dari kawat logam atau bahan lain yang cocok dengan penampang melintang yang sama di seluruh bagian.

    Dalam beberapa hal digunakan juga istilah umumn untuk menyatakan kehalusan serbuk yang disesuaikan dengan nomor pengayak sebagai berikut:

    • 1. serbuk sangat kasar adalah serbuk (5/8)

    • 2. serbuk kasar adalah serbuk (10/40)

    • 3. serbuk agak kasar adalah serbuk (22/60)

    • 4. serbuk agak halus adalah serbuk (44/85)

    6.

    serbuk sangat halus adalah serbuk {120/200(300)}

    (Anief, 2007)

    Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat, daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna (Ansel, 1989).

    Proses maserasi merupakan proses sederhana untuk mendapatkan ekstrak dan diuraikan dalam kebanyakan farmakope. Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala industri. Proses yang paling sederhana hanya menuangkan 5 pelarut pada simplisia. Sesudah mengatur waktu sehingga sesuai untuk tiap – tiap bahan tanaman (simplisia), ekstrak dikeluarkan, dan ampas hasil ekstraksi dicucidengan pelarut yang segar sampai didapat berat yang sesuai. Prosedur ini sama dengan pembuatan tingtur atau ekstrak khusus, dan kadang – kadang merupakan satu – satunya prosedur untuk tanaman yang mengandung zat berlendir (musilago) tinggi. Sebetulnya cara ini tidak begitu berguna karena tidak pernah dapat menarik zat berkhasiat dari tanaman secara sempurna. Ampas menahan sejumlah besar solute, yang untuk perolehanya harus dilakukan proses pemerasan (penekanan) atau cara sentrifugasi.(Afifah, 2003).

    Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif dan zat aktif akan larut (Anonim, 1986).

    Simplisia yang akan diekstraksi ditempatkan pada wadah atau bejana yang bermulut lebar bersama larutan penyari yang telah ditetapkan, bejana ditutup rapat kemudian dikocok berulang–ulang sehingga memungkinkan pelarut masuk ke seluruh permukaan simplisia (Ansel,1989). Rendaman tersebut disimpan terlindung dari cahaya langsung (mencegah reaksi yang dikatalisis oleh cahaya atau perubahan warna). Waktu maserasi pada umumnya 5 hari, setelah waktu tersebut keseimbangan antara bahan yang diekstraksi pada bagian dalam sel dengan luar sel telah tercapai. Dengan pengocokan dijamin keseimbangan konsentras i bahan ekstraksi lebih cepat dalam cairan. Keadaan diam selama maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif (Voight, 1994).

    Etanol

    Etanol tidak menyebabkan pembengkakan membran sel dan memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut. Keuntungan lain, etanol mampu mengendapkan albumin dan menghambat kerja enzim. Umumnya yang digunakan sebagai cairan pengekstraksi adalah campuran bahan pelarut yang berlainan, khususnya campuran etanol-air. Etanol (70%) sangat efektif dalam menghasilkan jumlah bahan aktif yang optimal, dimana bahan penganggu hanya skala kecil yang turut ke dalam cairan pengekstraksi (Voight,

    1994).

    Etanol dapat melarutkan alkaloid basa, minyak menguap, glikosida, kurkumin, kumarin, antrakinon, flavonoid, steroid, dam ar dan klorofil. Lemak, malam , tanin dan saponin hanya sedikit larut. Dengan demikian zat pengganggu yang terlarut hanya terbatas. Untuk meningkatkan penyarian biasanya menggunakan campuran etanol dan air. Perbandingan jumlah etanol dan air tergantung pada bahan yang disari (Anonim,

    1986).

    Kontrol Kualitas Ekstrak

    Susut Pengeringan

    Susut pengeringan adalah persentase senyawa yang menghilang selama proses pemanasan (tidak hanya menggambarkan air yang hilang, tetapi juga senyawa menguap lain yang hilang).Pengukuran sisa zat dilakukan dengan pengeringan pada temperatur 105°C selama 30 menit atau sampai berat konstan dan dinyatakan dalam persen (metode gravimetri).

    susut pengeringan =

    Etanol tidak menyebabkan pembengkakan membran sel dan memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut. Keuntungan lain, etanol mampu

    x 100%

    Untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri dan sisa pelarut organik menguap, susut pengeringan diidentikkan dengan kadar air, yaitu kandungan air karena simplisia berada di atmosfer dan lingkungan terbuka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan penyimpanan. (Siskha,2008).

    Parameter Bobot Jenis

    Bobot jenis adalah perbandingan bobot zat di udara pada suhu 25º C terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Bobot jenis suatu zat adalah hasil yang

    diperoleh dengan membagi bobot zat dengan bobot air dalam piknometer, kecuali dinyatakan lain dalam monografi, keduanya ditetapkan pada suhu 25º C (anonim, 1995)

    Uji Kelengketan

    Pengujian ini dilakukukan untuk mengetahui kemampuan krim dapat melekat pada kulit (Triayu, 2009)

    Organolepstis

    Uji organoleptik didasarkan pada kegiatan penguji-penguji rasa (panelis) yang pekerjaannya mengamati, menguji, dan menilai secara organoleptik. Sensoris berasal dari kata “sense” yang berarti timbulnya rasa, dan timbulnya rasa selalu dihubungkan dengan panca indera. Leptis berarti menangkap atau menerima. Jadi pengujian sensoris atau organoleptik mempunyai pengertian dasar melakukan suatu kejadian yang melibatkan pengumpulan data-data, keterangan-keterangan atau catatan mekanis dengan tubuh jasmani sebagai penerima.

    Pengujian secara sensoris/organoleptik dilakukan dengan sensasi dari rasa, bau/ aroma, penglihatan, sentuhan/rabaan, dan suara/pendengaran pada saat makanan dimakan. Sebagai contoh rasa enak adalah hasil dari sejumlah faktor pengamatan yang masing-masing mempunyai sifat tersendiri. (Madbardo,2010)

    Kromatografi Lapis Tipis

    Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponennya. Seluruh bentuk kromatografi berkerja berdasarkan prinsip ini.

    Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Pada kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat.

    Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairan padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). (Haqiqi,2008).

    C. Alat dan Bahan

    • a. Alat yang digunakan

      • 1. Blender

      • 2. Kertas koran

      • 3. Alat pengayak (40/80)

      • 4. Plastik Klip

      • 5. Kaca pengaduk

      • 6. Toples untuk maserasi

      • 7. Rotary evaporator

      • 8. Kertas label

      • 9. Pot salep

        • 10. Oven

        • 11. Botol timbang

        • 12. Seperangkat alat uji kelengketan

        • 13. Lemari asam

    15. Lampu UV 254 dan UV 366

    • b. Bahan yang digunakan

      • 1. Simplisia tanaman Curcuma aeruginosa 100 gram

      • 2. Pelarut etanol 750 ml

      • 3. Silika gel GF 254

      • 4. Reagen Dragendorf

      • 5. Reagen lieberman burchard

    D. Cara Kerja

    • a. Pembuatan Serbuk

    Alat dan Bahan Disiapkan Pensortiran Simplisia Curcuma Kualitas Kualitas
    Alat dan Bahan
    Disiapkan
    Pensortiran
    Simplisia Curcuma
    Kualitas
    Kualitas
     
    Dihaluskan

    Dihaluskan

     

    Blender

     
    Diayak dg

    Diayak dg

     

    Pengayak no.40 dan

     
     

    Didapatkan

    Dihaluskan Blender Diayak dg Pengayak no.40 dan Didapatkan Serbuk Disimpan dan Dilabeli

    Serbuk

     
    Dihaluskan Blender Diayak dg Pengayak no.40 dan Didapatkan Serbuk Disimpan dan Dilabeli

    Disimpan

     

    dan Dilabeli

    • b. Proses Maserasi

    100 gram Serbuk Curcuma

    750 ml Etanol 70 %
    750 ml
    Etanol 70 %
    Dimasukkan Stoples Diaduk-aduk 2 jam awal Didiamkan 1 hari Diserkai/Disaring Kain Flanel Didapatkan
    Dimasukkan
    Stoples
    Diaduk-aduk
    2 jam awal
    Didiamkan
    1 hari
    Diserkai/Disaring
    Kain Flanel
    Didapatkan

    Sari

    Dimasukkan Stoples Diaduk-aduk 2 jam awal Didiamkan 1 hari Diserkai/Disaring Kain Flanel Didapatkan Sari Diekstrakan dg

    Diekstrakan dg

    Rotary evaporator

     
    Dimasukkan Stoples Diaduk-aduk 2 jam awal Didiamkan 1 hari Diserkai/Disaring Kain Flanel Didapatkan Sari Diekstrakan dg
    Ekstrak
    Ekstrak

    Didapatkan

    • c. Kontrol Kualitas Ekstrak

    Kontrol Kualitas
    Kontrol
    Kualitas

    Dibagi dalam

    Dibagi dalam 3.Organole ptis 1.Penghitung an 5.Kermatogr afi Lapis 1. Rendemen yang dihasilkan Bobot Ekstrak yang
    3.Organole ptis
    3.Organole
    ptis
    1.Penghitung an
    1.Penghitung
    an
    Dibagi dalam 3.Organole ptis 1.Penghitung an 5.Kermatogr afi Lapis 1. Rendemen yang dihasilkan Bobot Ekstrak yang
    5.Kermatogr afi Lapis
    5.Kermatogr
    afi Lapis
    • 1. Rendemen yang dihasilkan

    Bobot Ekstrak yang
    Bobot Ekstrak
    yang

    Ditimbang

    Dibagi dalam 3.Organole ptis 1.Penghitung an 5.Kermatogr afi Lapis 1. Rendemen yang dihasilkan Bobot Ekstrak yang

    Pada percobaan ini, menghitung kadar rendemen yang dihasilkan dengan rumus :

    Kadar rendemen (%) =

    Dibagi dalam 3.Organole ptis 1.Penghitung an 5.Kermatogr afi Lapis 1. Rendemen yang dihasilkan Bobot Ekstrak yang

    x 100%

    • 2. Susut Pengeringan

    Botol timbang yang telah

    2. Susut Pengeringan Botol timbang yang telah Dipijarkan suhu 105 C selama 30 menit Botol timbang

    Dipijarkan suhu 105 o C selama 30 menit

    Botol timbang
    Botol
    timbang

    1 gram

    Dimasukkan

    2. Susut Pengeringan Botol timbang yang telah Dipijarkan suhu 105 C selama 30 menit Botol timbang

    Dipijarkan dg tutup terbuka suhu 105 o C

    2. Susut Pengeringan Botol timbang yang telah Dipijarkan suhu 105 C selama 30 menit Botol timbang

    Setelah didapatkan bobot tetap kita hitung kadar susut pengeringannya menggunakan rumus:

    (%) = x 100%
    (%) =
    x 100%

    3.

    Organoleptis

    Ekstrak yang Diamati
    Ekstrak
    yang
    Diamati
    • 4. Uji kelengketan

    Bentuk, warna, bau 100 mg Diletakkan Pemberat 1kg Obyek glass selama 5 Diberi Diuji dihitung Catat
    Bentuk,
    warna, bau
    100 mg
    Diletakkan
    Pemberat 1kg
    Obyek glass
    selama 5
    Diberi
    Diuji
    dihitung
    Catat waktu
    5. Kromatografi Lapis Tipis Ekstrak dilarutkan Aseton 2 ditotolkan dimasukkan Etil Asetat : n.Heksan 3:7 Plat
    • 5. Kromatografi Lapis Tipis

    Ekstrak
    Ekstrak

    dilarutkan

     

    Aseton 2

    ditotolkan

    ditotolkan

    dimasukkan

    dimasukkan

    5. Kromatografi Lapis Tipis Ekstrak dilarutkan Aseton 2 ditotolkan dimasukkan Etil Asetat : n.Heksan 3:7 Plat
    Etil Asetat : n.Heksan 3:7
    Etil Asetat :
    n.Heksan 3:7
    Plat 2
    Plat 2
    Plat 1
    Plat 1

    disemprot

    disemprot

    Reagen Lieberman
    Reagen
    Lieberman
    5. Kromatografi Lapis Tipis Ekstrak dilarutkan Aseton 2 ditotolkan dimasukkan Etil Asetat : n.Heksan 3:7 Plat

    Dipanaskan

    Oven
    Oven
    Reagen Dragendorff
    Reagen
    Dragendorff

    Diamati dan dicatat

    Sinar UV 254 dan UV

    E. Hasil dan Pembahasan

    • a. Pembuatan Serbuk

    Tujuan dari pembuatan serbuk adalah memperluas permukaan simplisia dengan derajat kehalusan tertentu dalam hal ini yaitu (40/80).

    Simplisia Curcuma aeruginosa disortir dan dipilih dengan kualitas baik. Hal ini untuk menghindari banyaknya kotoran dan jamur yang ada pada simplisia. Lalu hasil sortiran dihaluskan dengan blender untuk memperkecil ukuran partikelnya. Lalu di ayak dengan pengayak no.40 dan harus lolos semua. Kemudian di ayak dengan pengayak no.80 jika ada yang tidaka lolos maka dihaluskan kembali dengan blender agar serbuk lolos semua pada pengayak nomor 80. Setelah serbuk diperoleh dengan derajat kehalusan yang di inginkan serbuk ditimbang dan dimasukkan dalam plastik klip dengan diberikertas label.

    • b. Proses Maserasi

    Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisisa dalam cairan penyari. Cairan penyari dalam praktikum kami digunakan etanol 70%. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan luar sel, maka larutan yang terpekat di desk keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangankonsentrasi antara larutan diluar sel dan di dalam sel.

    Prinsip maserasi yaitu 10 bagian simplisia dengan derajat halus tertentu dimasukkan dalam bejana, dan dituangi 75 bagian cairan penyari. Lalu ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung cahaya, sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 5 hari, lartan tadi diserkai menggunakan kain flanel lalu ampas dipisahkan. Ampas ditambah cairan penyari secukupnya sehingga diperoleh seluruh sari hingga 100 bagian. Bejana ditutup, dibiarkan ditempat sejuk, terlindung cahaya selama 2 hari. Kemudian endapan dipisahkan.

    Berat Serbuk

     

    Hasil

    100 gram

    Volume pelarut (etanol70%) 750 ml

    17,27 gram

    Pada praktikum ini digunakan 100 gram serbuk dari simplisia Curcuma aeruginosa lalu digunakan cairan penyari etanol 70% sebanyak 750 ml. Lalu dicampur dimasukkan dalam bejana berupa stoples dan dibiarkan selama 1 hari dengan 2 jam pertama diaduk-aduk. Setelah 1 hari diserkai dengan kain flanel. Lalu dipekatkan menggunakan rotary evaporator.

    Karena kurangnya waktu, evaporasi dilakukan hanya 2,5 jam. Dan dari 750 ml larutan tinggal 250 ml cairan yang tersisa. Kemudian di pekatkan kembali menggunakan water bath diatas cawan dan diaduk-aduk hingga diperoleh ekstrak yang kental. Hasil yang diperoleh di simpan dalam pot salep yang sebelumnya telah ditara, kemudian bersama pot salep hasil ditimbang. Sehingga diperoleh ektrak kental Curcuma aeruginosa dengan berat 17,27 gram.

    Pada praktikum ini dipilih etanol 70% bukan air karena etanol 70% memperbaiki stabilitas obat yang terlarut, pengotor yang terambil lebih sedikit dibandingkan air, menghambat kerja enzim karena kerja enzim menginaktifkan zat- zat dalam tanaman.

    • c. Kontrol Kualitas Ekstrak

      • 1. Rendemen yang dihasilkan

    % rendemen = = 17,27 %
    % rendemen =
    = 17,27 %

    x 100%

    Berat Awal

    Bobot hasil

    Kadar

    100 gram

    17,27 gram

    17,27%

    Dari 100 gram dihasilkan bobot hasil 17,27 gram, sehingga diperoleh kadar rendemen sebesar 17,27 %. Hal ini berarti dalam 100 gram serbuk simplisia Curcuma aeruginosa akan dihasilkan ekstrak sebesar 17,27 gram.

    Botol Timbang

    27,29 gram

     

    1 gram

    Berat ekstrak (mula-mula) Bobot tetap (ekstrak dalam botol timbang)

    27,81 gram

    Dengan menggunakan rumus :

    Botol Timbang 27,29 gram 1 gram Berat ekstrak (mula-mula) Bobot tetap (ekstrak dalam botol timbang) 27,81

    %susut pengeringan = x 100%

    Menggunakan data dan rumus diatas, kita dapat menghitung susut pengeringannya.

    Botol Timbang 27,29 gram 1 gram Berat ekstrak (mula-mula) Bobot tetap (ekstrak dalam botol timbang) 27,81

    % susut pengeringan = x 100%

    = 48%

    Tujuan dari menghitung susut pengeringan adalah untuk memberikan batas maksimal tentang besarnya senyawa yang hilang dari proses pengeringan.

    Susut pengeringan dilakukan dengan suhu 105 o C, hal ini agar air yang terkandung pada botol timbang maupun ekstrak yang dihasilkan dapat menguap, sehingga botol timbang maupun ekstrak benar-benar bebas dari air.

    Botol timbang yang telah ditara dipanasakan pada suhu 105 o C selama 30 menit. Lalu dimasukkan ekstrak sebesar 1 gram, lalu dipanaskan kembali dengan suhu 105 o C hingga diperoleh bobot yang tetap. Dalam hal ini kita memperoleh bobot tetap yaitu 0,48 gram, sehingga kadar yang dihasilkan yaitu

    48%.

    Kadar yang kita peroleh sangatlah besar (48%), hal ini berarti waktu pemekatan (pengekstrakan) kurang maksimal. Oleh karena itu di dalam ekstrak masih banyak terdapat air/ pelarut sehingga ekstrak yang dihasilkan kurang bagus

    .

    Pengamatan

    Deskripsi

    Bentuk

     

    Warna

    Ekstrak kental, lengket Coklat tua

    Bau

    Khas temu hitam

    Uji organoleptik dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan khususnya bentuk, warna dan bau simplisia yang diuji.

    • 4. Uji Kelengketan

     
     

    Pengujian Ke-

    Waktu Lepas (detik)

    I

    1,92

    II

    1,79

    III

    1,71

    Rata-rata

    1,8067

    Uji kelengketan bertujuan untuk mengetahui seberapa lengket atau kekentalan suatu ekstrak yang diperoleh.

    Dapat diketahui kalau ekstrak yang dihasilkan tidak terlalu lengket dibanding ekstrak dari kelompok lain. Parameter yang digunakan dalam pengujian ini hanyalah untuk mengetahui seberapa mudah atau susah suatu ekstrak untuk dicampur dengan bahan atau pelarut lain. Suatu ekstrak apabila terlalu encer ataupum terlalu lekat juga tidak baik atau mudah dicampur dengan bahan/pelarut lain.

    • 5. Kromatografi Lapis Tipis

    Kandungan

    kimia

    suatu

    tanaman

    dapat

    dilihat

    secara

    kualitatif

    menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). KLT merupakan metode kromatografi yang cepat, sederhana dan teknik analisis murah,

    kegunaannya antara lain :

    1.

    Monitor suatu senyawa dalam campuran.

    • 2. Identifikasi senyawa.

    • 3. Memonitor pemurnian.

    Tujuan dari pengjian KLT pada praktikum ini adalah untuk mengetahui senyawa atau kandungan Curcuma aeruginosa .

    Cara pengujiannya adalah ekstrak dilarutkan dalam 2 tetes aseton, lalu di totolkan pada plat KLT, dalam praktek ini kita menggunakan 2 plat KLT. Kemudian dimasukkan pada fase gerak berupa Etil aetat : n.heksan dengan perbandingan 3:7. Setelah plat dikembangkan pada bejana berisi fase gerak tadi hingga jarak pengembang 7 cm, keduaplat silika diamati, dibawah lampu UV 254 dan UV 366. Dan muncullah warna ungu sampai hijau dibawah lampu. Lalu pada plat pertama di semprot dengan reagen liberman buchart dan plat kedua disemprot dengan reagen dragendorf. Lalu kedua plat dikeringkan di oven dengan suhu 110 o C selama 5 menit. Lalu dilihat lagi di sinar UV 254 dan 366, dan keduanya muncul warna hijau dengan spot yang berbeda pada plat pertama terdapat 1 spot dan plat kedua ada 3 spot.

    PLAT

     

    SEBELUM

     

    warna

     

    Jarak (cm)

    warna

    SESUDAH (disemprot reagen) jarak

    Plat 1

    Ungu

    6

    - 7,5

    Hijau

    • 8 – 10,7

    Hijau

    6

    – 9

    Plat 2

    Ungu

    6

    – 9,3

    Hijau

    • 6 – 11

    Hijau

    6

    – 11,7

    • 6 – 8,7

       
    • 6 – 7

    Identifikasi dari senyawa – senyawa yang terpisah dapat dikerjakan dengan menggunakan pereaksi kimia dan melalui Rf pada kromatografi lapis tipis. Nilai Rf (Retardation Factor) merupakan rasio antara jarak migrasi bercak dengan jarak migrasi pelarut jarak pengembangan senyawa pada kromatogram biasanya dinyatakan dengan Rf atau hRf. Nilai Rf berjarak anatara 0,00 sampai 1,00 dan hanya dapat ditentukan dengan dua desimal. hRf adalah nilai Rf

    dikalikan 100. Nilai Rf dapat dihitung dengan rumus :

    maka diperoleh data sebagai berikut :

    dikalikan 100. Nilai Rf dapat dihitung dengan rumus : maka diperoleh data sebagai berikut : .

    .

    Plat

    Nilai Rf =

    Plat Nilai Rf =

    Plat 1

    2,7/7= 0,39

    Plat 2

    Paling bawah (Rf a ) 1/7 = 1,14

     

    Tengah (Rf b ) 2,7/7 = 0,39 Paling atas (Rf c ) 5/9 = 0,71

    Pada percobaan ini digunakan reagen lieberman buchart dan reagen draggendorf. Telah kita ketahui kalau reagen dragendorf untuk menguji ada atau tidaknya kandungan alkaloid, apabila positif mengandung alkaloid plat silika akan menunjukan perubahan warna yaitu bercak berwarna coklat jingga dengan latar belakang kuning. Dan reagen lieberman buchart adalah reagen untuk mengetahui ada tidaknya kandungan terpenoid ditandai dengan bercak warna hijau kebiruan. Namun pada praktikum ini warna plat setelah disemprot reagen, keduanya berwarna hijau. Sehingga kita tidak menemukan adanya kandungan alkaloid maupun terpenoid pada ekstrak Curcuma aeruginosa yang kita uji. Hal ini berbeda dengan literatur yang kita dapat, harusnya Curcuma aeruginosa mengandung alkaloid dan terpenoid.

    Hal ini terjadi kemungkinan karena fase gerak yang kurang sesuai. Seharusnya untuk menentukan fase gerak dilakukan beberapa pengujian perbandingan fase gerak agar sesuai. Namun dalam laboratorium sudah ditentukan fase geraknya yaitu Etil aetat : n.heksan dengan perbandingan 3:7, ditambah kemungkinan adanya pengotor / terkontaminasi pada plat silika sehingga hasil pengujian kurang sempurna. Padahal dari literatur yang kami peroleh seharusnya perbandingan yang tepat untuk fase gerak ekstrak Curcuma aeruginosa adalah Etil aetat : n.heksan dengan perbandingan 2:8.

    F. Kesimpulan

    • 1. Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung cahaya.

    • 2. Didapatkan ekstrak dari simplisia Curcuma aeruginosa dengan bentuk kental dan lengket, berwarna coklat tua dan mempunyai bau khas.

    • 3. Hasil ekstrak kental yang diperoleh dari praktikum adalah 17,27 gram dari 100 gram serbuk simplisia Curcuma aeruginosa.

    • 4. Rendemen yang diperoleh dari praktikum ini adalah 17,27%

    • 5. Susut pengeringan yang didapatkan adalah 48%

    • 6. Rata-rata waktu yang didapatkan dari uji kelengketan adalah 1,8 detik.

    • 7. Pada pengujian Kromatografi Lapis Tipis, pada ekstrak tidak ditemukan adanya senyawa alkaloid maupun terpenoid ketika di semprot dengan reagen dragendorf dan lieberman buchart.

    G. Daftar Pustaka

    Afifah, dr.Efi & Tim Lentera. 2003. Khasiat & Manfaat temulawak. Penerbit Agro Media, Jakarta.

    Anonim. 1986. Sediaan Galenik. Departemen kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

    Anonim. 1978. Materia Medika Jilid II. Departemen Kesehatan republik Indonesia, Jakarta

    Anonim.1979. Farmakope Indonesia Indonesia, Jakarta.

    Edisi

    III. Departemen

    Kesehatan Republik

    Anief, Moh. 2007. Farmasetika. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

    Anif,N dan Heru,S. 2012. Petunjuk Praktikum Galenika. FMIPA UNS, Surakarta.

    Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. Universitas Indonesia Press.

    Haqiqi, Sohibul Himam. 2008. Kromatografi Lapis Tipis. Penebar, Swadaya, Jakarta.

    Hariana, Arief. 2006. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya seri 3. Penebar Swadaya, Jakarta.

    Voight,

    R.

    1995. Buku

    Pelajaran

    University Press, Yogyakarta.

    Teknologi

    Farmasi

    Edisi

    ke-5. Gadjah Mada

    LAMPIRAN DOKUMENTASI

    Pensortiran Penghalusan dengan blender Pengayakan proses Maserasi

    Pensortiran

    Pensortiran Penghalusan dengan blender Pengayakan proses Maserasi

    Penghalusan dengan blender

    Pensortiran Penghalusan dengan blender Pengayakan proses Maserasi

    Pengayakan

    Pensortiran Penghalusan dengan blender Pengayakan proses Maserasi
    Pensortiran Penghalusan dengan blender Pengayakan proses Maserasi

    proses Maserasi

    Pensortiran Penghalusan dengan blender Pengayakan proses Maserasi

    Diserkai dengan kain Flanel

    Proses Pemekatan dengan Rotary Evaporator

    Diserkai dengan kain Flanel Proses Pemekatan dengan Rotary Evaporator Hasil Pengekstrakan Proses Pemekatan dengan Water Bath

    Hasil Pengekstrakan

    Diserkai dengan kain Flanel Proses Pemekatan dengan Rotary Evaporator Hasil Pengekstrakan Proses Pemekatan dengan Water Bath

    Proses Pemekatan dengan Water Bath

    Diserkai dengan kain Flanel Proses Pemekatan dengan Rotary Evaporator Hasil Pengekstrakan Proses Pemekatan dengan Water Bath

    Plat KLT yang digunakan

    Diserkai dengan kain Flanel Proses Pemekatan dengan Rotary Evaporator Hasil Pengekstrakan Proses Pemekatan dengan Water Bath

    Pengembangan KLT di Fase gerak

    Plat KLT 2 di bawah lampu UV Plat KLT 1 di bawah lampu UV

    Plat KLT 2 di bawah lampu UV

    Plat KLT 2 di bawah lampu UV Plat KLT 1 di bawah lampu UV

    Plat KLT 1 di bawah lampu UV