Anda di halaman 1dari 28

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya jaringan tubuh. Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan.3 Didalam melakukan pemeriksaan terhadap orang yang menderita luka akibat kekerasan, pada hakekatnya dokter diwajibkan untuk dapat memberikan kejelasan dari permasalahan jenis luka yang terjadi, jenis kekerasan yang menyebabkan luka, dan kualifikasi luka.1,4
2.2

Klasifikasi Luka Luka berdasarkan benda penyebabnya dapat diklasifikasikan menjadi:

1) Luka akibat kekerasan benda tumpul

Benda tumpul bila mengenai tubuh dapat menyebabkan luka yaitu luka lecet, memar dan luka robek atau luka terbuka. Dan bila kekerasan benda tumpul tersebut sedemikian hebatnya dapat pula menyebabkan patah tulang.
2) Luka akibat kekerasan benda tajam

Putus atau rusaknya kontinuitas jaringan disebabkan karena trauma akibat alat/senjata yang bermata tajam dan atau berujung runcing. Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka seperti ini adalah benda yang memiliki sisi tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari alat-alat seperti golok, pisau, dan sebagainya hingga keping kaca, gelas, logam, sembilu bahkan tepi kertas atau rumput. Luka akibat benda tajam pada umumnya mudah dibedakan dari luka yang disebabkan oleh benda tumpul dan dari luka tembakan senjata api.5 Pada kematian yang disebabkan oleh benda tajam, walaupun tetap harus dipikirkan kemungkinan karena suatu kecelakaan; tetapi pada umumnya karena suatu peristiwa pembunuhan atau peristiwa bunuh diri. Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau luka sayat, luka tusuk, dan luka bacok. 6

a. Luka iris / luka sayat (incised wound) Adalah luka karena alat yang tepinya tajam dan timbulnya luka oleh karena alat ditekan pada kulit dengan kekuatan relatif ringan kemudian digeserkan sepanjang kulit. b. Luka tusuk (stab wound) Luka akibat alat yang berujung runcing dan bermata tajam atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak lurus atau serong pada permukaan tubuh. Contoh: belati, bayonet, keris, clurit, kikir, tanduk kerbau. Selain itu, pada luka tusuk, sudut luka dapat menunjukkan perkiraan benda penyebabnya, apakah berupa pisau bermata satu atau bermata dua. c. Luka bacok (chop wound) Adalah luka akibat benda atau alat yang berat dengan mata tajam atau agak tumpul yang terjadi dengan suatu ayunan disertai tenaga yang cukup besar. Contoh : pedang, clurit, kapak, baling-baling kapal.
3) Luka akibat tembakan senjata api

Luka tembak masuk (LTM) jarak jauh hanya dibentuk oleh komponen anak peluru, sedangkan LTM jarak dekat dibentuk oleh komponen anak peluru dan butir-butir mesiu yang tidak habis terbakar. LTM jarak sangat dekat dibentuk oleh komponen anak peluru, butir mesiu, jelaga dan panas/api. LTM tempel/kontak dibentuk oleh seluruh komponen tersebut di atas (yang akan masuk ke saluran luka) dan jejas laras. Saluran luka akan berwarna hitam dan jejas laras akan tampak mengelilingi luka tembak masuk sebagai luka lecet jenis tekan, yang terjadi sebagai akibat tekanan berbalik dari udara hasil ledakan mesiu. Gambaran LTM jarak jauh dapat ditemukan pada korban yang tertembak pada jarak yang dekat/sangat dekat, apabila di atas permukaan kulit terdapat penghalang misalnya pakaian yang tebal, ikat pinggang, helm dan sebagainya sehingga komponen-komponen butir mesiu yang tidak habis terbakar, jelaga dan api tertahan oleh penghalang tersebut.

Pada tempat anak peluru meninggalkan tubuh korban akan ditemukan luka tembak kleuar (LTK). LTK umumnya lebih besar dari LTM akibat terjadinya deformitas anak peluru, bergoyangnya anak peluru dan terikutnya jaringan tulang yang pecah keluar dari LTK. LTK mungkin lebih kecil dari LTM dari LTM bila terjadi pada luka tembak tempel/kontak, atau pada anak peluru yang telah kehabisan tenaga pada saat akan keluar meninggalkan tubuh. Di sekitar LTK mungkin pula dijumpai daerah lecet bila pada tempat keluar tersebut terdapat benda yang keras, misalnya ikat pinggang, atau korban sedang bersandar pada dinding.5,6
4) Jenis luka akibat suhu / temperatur

a) Benda bersuhu tinggi. Kekerasan oleh benda bersuhu tinggi akan dapat menimbulkan luka bakar yang cirinya amat tergantung dari jenis bendanya, ketinggian suhu serta lamanya kontak dengan kulit. b) Benda bersuhu rendah. Kekerasan oleh benda bersuhu dingin biasanya dialami oleh bagian tubuh yang terbuka; seperti misalnya tangan, kaki, telinga atau hidung. Mula-mula pada daerah tersebut akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah superfisial sehingga terlihat pucat, selanjutnya akan terjadi paralise dari vasomotor kontrol yang mengakibatkan daerah tersebut menjadi kemerahan. 5) Luka akibat trauma listrik Sengatan oleh benda bermuatan listrik dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat berubahnya energi listrik menjadi energi panas. Besarnya pengaruh listrik pada jaringan tubuh tersebut tergantung dari besarnya tegangan (voltase), kuatnya arus (ampere), besarnya tahanan (keadaan kulit kering atau basah), lamanya kontak serta luasnya daerha terkena kontak. Bentuk luka pada daerah kontak (tempat masuknya arus) berupa kerusakan lapisan kulti dengan tepi agak menonjol dan disekitarnya terdapat daerah pucat dikelilingi daerah hiperemis. Sering ditemukan adanya metalisasi. 8

Mekanisme Luka Tubuh biasanya mengabsorbsi kekuatan baik dari elastisitas jaringan atau kekuatan rangka. Intensitas tekanan mengikuti hukum fisika. Hukum fisika yang terkenal dimana kekuatan = masa x kecepatan. Sebagai contoh, 1 kg batu bata ditekankan ke kepala tidak akan menyebabkan luka, namun batu bata yang sama dilemparkan ke kepala dengan kecepatan 10 m/s menyebabkan perlukaan.7 Faktor lain yang penting adalah daerah yang mendapatkan kekuatan. Kekuatan dari masa dan kecepatan yang sama yang terjadi pada daerah yang lebih kecil menyebabkan pukulan yang lebih besar pada jaringan. Pada luka tusuk, semua energi kinetik terkonsentrasi pada ujung pisau sehingga terjadi perlukaaan, sementara dengan energi yang sama pada pukulan oleh karena tongkat pemukul kriket mungkin bahkan tidak menimbulkan memar. Efek dari kekuatan mekanis yang berlebih pada jaringan tubuh dan menyebabkan penekanan, penarikan, perputaran, luka iris. Kerusakan yang terjadi tergantung tidak hanya pada jenis penyebab mekanisnya tetapi juga target jaringannya. Contohnya, kekerasan penekanan pada ledakan mungkin hanya sedikit perlukaan pada otot namun dapat menyebabkan ruptur paru atau intestinal, sementara pada torsi mungkin tidak memberikan efek pada jaringan adiposa namun menyebabkan fraktur spiral pada femur.6,7 2.3 Luka Akibat Benda Tajam Luka akibat benda tajam pada umumnya mudah dibedakan dari luka yang disebabkan oleh benda tumpul dan oleh senjata api. Pada kematian yang disebabkan oleh benda tajam pada umumnya disebabkan karena peristiwa pembunuhan, bunuh diri, atau kecelakaan. Luka yang disebabkan oleh benda tajam dapat dibedakan dari luka yang disebabkan oleh benda lainnya yaitu keadaan sekitar luka yang tenang, tidak ada luka lecet atau luka memar, tepi luka yang rata, dan dari sudut-sudutnya yang runcing, serta tidak adanya jambatan jaringan.

Tabel 1. Perbedaan luka akibat benda tumpul dan benda tajam Trauma Bentuk luka Tepi luka Jembatan jaringan Rambut Dasar luka Sekitar luka Tumpul Tidak teratur Tidak rata Ada Tidak ikut terpotong Tidak teratur Ada luka lecet atau memar Tajam Teratur Rata Tidak ada Ikut terpotong Berupa garis atau titik Tidak ada luka lain

Di dalam Ilmu Kedokteran Kehakiman luka akibat benda tajam yang dapat dijumpai terdapat dalam dua bentuk, yaitu luka iris dan luka tusuk, dan di dalam dunia kriminal luka-luka tersebut biasanya disebabkan oleh pisau. Bentuk luka yang disebabkan oleh pisau yang mengenai tubuh korban, dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: 1) Sifat-sifat dari pisau: bentuk, ketajaman dari ujung dan ketajaman dari kedua tepinya, bermata satu atau bermata dua 2) Bagaimana pisau itu mengenai dan masuk ke dalam tubuh. Jarang pisau masuk ke dalam tubuh dan keluar lagi dengan sudut serta arah yang sama, dengan demikian setiap luka tusuk merupakan perpaduan antara tusukan dengan irisan. Oleh karena itu, ukuran luka dimana pisau itu masuk ke dalam tubuh akan lebih besar dari ukuran lebar dari pisau itu sendiri. 3) Tempat luka. Kulit memiliki elastisitas yang besar dan besarnya ketegangan kulit tidak sama pada seluruh tubuh. Pada daerah dimana serat-serat elastiknya sejajar, yaitu pada lipatan-lipatan kulit, maka tusukan yang sejajar dengan lipatan tersebut akan mengakibatkan luka yang tertutup, sempit dan berbentuk celah. Akan tetapi bila tusukan pisau itu melintasi serta memotong lipatan kulit, maka luka yang terjadi akibat tusukan pisau tersebut akan terbuka lebar.

Tabel 2. Ciri-ciri luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh diri, atau kecelakaan Pembunuhan Bunuh diri Kecelakaan

10

Lokasi luka Jumlah luka Pakaian Luka tangkis Luka percobaan Cedera sekunder

Sembarang Banyak Terkena ada Tidak ada Mungkin ada

Terpilih Banyak Tidak terkena Tidak ada ada Tidak ada

Terpapar Tunggal/banyak Terkena Tidak ada Tidak ada Mungkin ada

Ciri-ciri pembunuhan diatas dapat dijumpai pada kasus pembunuhan yang disertai perkelahian. Tetapi bila tanpa perkelahian maka lokasi luka biasanya pada daerah fatal dan dapat tunggal. Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan umumnya ditemukan pada telapak dan punggung tangan, jarijari tangan, punggung lengan bawah dan tungkai. Pemeriksaan pada baju yang terkena pisau bertujuan untuk melihat interaksi antara pisau-kain-tubuh, yaitu melihat letak atau lokasi kelainan, bentuk robekan, adanya partikel besi (reaksi biru berlin dilanjutkan dengan pemeriksaan spektroskopi), serat kain dan pemeriksaan terhadap bercak darahnya. Bunuh diri yang menggunakan benda tajam biasanya diarahkan pada tempat yang cepat mematikan, misalnya leher, dada kiri, pergelangan tangan, perut, dan lipat paha. Bunuh diri dengan senjata tajam tentu saja akan menghasilkan luka-luka pada tempat yang terjangkau oleh tangan korban serta biasanya tidak menembus pakaian karena umumnya korban menyingkap pakaian terlebih dahulu. Luka percobaan khas ditemukan pada kasus bunuh diri yang menggunakan senjata tajam, sehubungan dengan kondisi kejiwaan korban. Luka percobaan tersebut dapat berupa luka sayat atau luka tusuk yang dilakukan berulang dan biasanya sejajar. Yang dimaksud kecelakaan pada table diatas adalah kekerasana tajam yang terjadi tanpa unsur kesengajaan misalnya kecelakaan industri dan kecelakaan pada kegiatan sehari-hari. 2.5 Luka tusuk Luka tusuk disebabkan oleh benda tajam dengan posisi menusuk atau korban yang terjatuh di atas benda tajam. Bila pisau yang digunakan bermata satu, maka salah

11

satu sudut akan tajam, sedangkan sisi lainnya tumpul atau hancur. Jika pisau bermata dua, maka kedua sudutnya tajam. Penampakan luar luka tusuk tidak sepenuhnya tergantung dari bentuk senjata. Jaringan elastis dermis, bagian kulit yang lebih dalam, mempunyai efek yang sesuai dengan bentuk senjata. Harus dipahami bahwa jaringan elastis terbentuk dari garis lengkung pada seluruh area tubuh. Jika tusukan terjadi tegak lurus garis tersebut, maka lukanya akan lebar dan pendek. Sedangkan bila tusukan terjadi paralel dengan garis tersebut, luka yang terjadi sempit dan panjang. Menikam atau menusuk biasanya dengan pisau, sering terjadi pada kasus pembunuhan dan pembantaian.6,7 Karakteristik dari alat tusuk: 1) Panjang, lebar dan ketebalan pisau Satu atau dua sisi Derajat dari ujung yang lancip Bentuk belakang pada pisau satu sudut (bergerigi atau kotak) Bentuk dari pelindung pangkal yang berdekatan dengan mata pisau Adanya alur, bergerigi atau cabang dari mata pisau Ketajaman dari sudut dan khususnya ujung dari mata pisau
6,7

2)
3) 4) 5) 6) 7) 1)

Karakteristik luka tusuk, dapat menerangkan tentang: Dimensi senjata Tipe senjata Kelancipan senjata Gerakan pisau pada luka Kedalaman luka Arah luka Banyaknya tenaga yang digunakan

2)
3) 4) 5) 6) 7)

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk luka tusuk, salah satunya adalah reaksi korban saat ditusuk atau saat pisau keluar, hal tersebut dapat menyebabkan lukanya menjadi tidak begitu khas. Atau manipulasi yang dilakukan pada saat penusukan juga akan mempengaruhi. Beberapa pola luka yang dapat ditemukan :

12

1)

Tusukan masuk, yang kemudian dikeluarkan sebagian, dan kemudian

ditusukkan kembali melalui saluran yang berbeda. Pada keadaan tersebut luka tidak sesuai dengan gambaran biasanya dan lebih dari satu saluran dapat ditemui pada jaringan yang lebih dalam maupun pada organ. 2) Tusukan masuk kemudian dikeluarkan dengan mengarahkan ke salah satu sudut, sehingga luka yang terbentuk lebih lebar dan memberikan luka pada permukaan kulit seperti ekor. 3) Tusukan masuk kemuadian saat masih di dalam ditusukkan ke arah lain, sehingga saluran luka menjadi lebih luas. Luka luar yang terlihat juga lebih luas dibandingkan dengan lebar senjata yang digunakan. 4) Tusukan masuk yang kemudian dikeluarkan dengan mengggunakan titik terdalam sebagai landasan, sehingga saluran luka sempit pada titik terdalam dan terlebar pada bagian superfisial. Sehingga luka luar lebih besar dibandingkan lebar senjata yang digunakan. 5) Tusukan diputar saat masuk, keluar, maupun keduanya. Sudut luka berbentuk ireguler dan besar. Jika senjata digunakan dengan kekuatan tambahan, dapat ditemukan kontusio minimal pada luka tusuk tersebut. Hal ini dapat diindikasikan adanya pukulan. Panjang saluran luka dapat mengindikasikan panjang minimun dari senjata yang digunakan. Harus diingat bahwa posisi tubuh korban saat ditusuk berbeda dengan pada saat autopsi. Posisi membungkuk, berputar, dan mengangkat tangan dapat disebabkan oleh senjata yang lebih pendek dibandingkan apa yang didapatkan pada saat autopsi. Manipulasi tubuh untuk memperlihatkan posisi saat ditusuk sulit atau bahkan tidak mungkin mengingat berat dan adanya kaku mayat. Poin lain yang perlu dipertimbangkan adalah adanya kompresi dari beberapa anggota tubuh pada saat penusukan. Pemeriksa yang sudah berpengalaman biasanya ragu-ragu untuk menentukan jenis senjata yang digunakan. Pisau yang ditusukkan pada dinding dada dengan kekuatan tertentu akan mengenai tulang rawan dada, tulang iga, dan bahkan sternum. Karakteristik senjata paling baik dilihat melalui trauma pada tulang. Biasanya senjata yang tidak begitu kuat 13

dapat rusak atau patah pada ujungnya yang akan tertancap pada tulang. Sehingga dapat dicocokkan, ujung pisau yang tertancap pada tulang dengan pasangannya. Petunjuk dari luka tusuk sering dianggap sebagai suatu masalah pembunuhan terutama sebagai persidangan, yang mengarah pada saat rekontruksi kejadian. Kejadian-kejadian penusukan sering bergerak dan dinamis sehingga korban jarang dalam keadaan statis. Penjelasan mengenai petunjuk berdasarkan gambaran luka dan jejak benda. Saat pisau dengan mata pisau kurang cukup besar, maka luka sering tampak terpotong bagian bawahnya mengenai jaringan subkutan. Pada otopsi, menjelaskan seperti pada luka tusuk didada, kadang saat di otopsi luka terletak dibawah puting. Pembedahan dari jaringan dan otot bisa mengungkapkan bahwa kerusakan dinding dada terletak di ICS berapa. Informasi ini menjadi petunjuk luka, mengambarkan jejak luka.2,3,6 Perkiraan mengenai derajat kekuatan luka tusuk, diberikan keterangan mengenai : 2,3,4

Bagian dari tulang atau pengerasan tulang rawan

Ketajaman dari ujung pisau

Kecepatan datangnya pisau

Kulit yang elastis lebih mudah ditembus

Variasi ketebalan kulit terhadap pisau, kulit telapak kaki lebih tebal dari bagian tubuh lain. Pada kasus pembunuhan sering ditemukan adanya luka tusuk dengan jumlah yang banyak, karena dalam membunuh seseorang tidak hanya dengan satu tusukan saja, kecuali bila korbannya sedang tidur atau dalam keadaan yang sangat lemah atau bila korban diserang secara mendadak dan yang terkena adalah organ tubuh yang vital. 7 Luka-luka tusuk pada kasus pembunuhan yang dilakukan dengan menggunakan pisau, lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan wanita.6 Luka yang mematikan biasanya pada daerah leher, dada, dan pada daerah perut yang merupakan letak organ-organ vital. Luka tusuk pada dada bisa melibatkan jantung yang menyebabkan trauma pada miokardium, arteri koroner, struktur katup atau pembuluh darah besar, yang bisa mendatangkan ancaman nyawa bagi korbannya.8 Pada 14

Luka tembus yang disebabkan tusukan.

kasus pembunuhan dengan cara menggorok leher korban, akan terdapat luka yang mendatar, tidak ada luka-luka percobaan dan didapatkan luka-luka tangkis. Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan umumnya ditemukan pada telapak dan punggung tangan, jari-jari tangan, punggung lengan bawah dan tungkai. Pembunuhan dengan senjata tajam yang bentuknya runcing dan langsing misalnya pisau saku dan ganco (alat yang terbuat dari batang besi bulat dengan ujung runcing yang melengkung dan biasa dipergunakan untuk mengungkit beras dalam karung dan es balok), dapat dilakukan dengan cara menghantamkan benda tajam tersebut ke kepala korban, menembus tulang, dan masuk ke dalam otak.7 Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan umumnya ditemukan pada telapak dan punggung tangan, jari-jari tangan, punggung lengan bawah dan tungkai. Pemeriksaan pada kain (baju) yang terkena pisau bertujuan untuk melihat interaksi antara pisau-kain-tubuh, yaitu melihat letak/lokasi kelainan, bentuk robekan, adanya partikel besi (reaksi biru berlin dilanjutkan dengan pemeriksaan spektroskopi), serat kain, dan pemeriksaan bercak darah. Luka-luka pada tubuh korban dalam kasus bunuh diri dapat ditemukan pada daerah leher, daerah dada (letak jantung) dan daerah perut (letak lambung), dan biasanya luka yang didapatkan adalah luka tusuk. Selain luka tusuk tersebut, akan ditemukan pula luka-luka percobaan. Pada kasus bunuh diri, tidak akan dijumpai lukaluka yang menunjukkan adanya tanda-tanda perlawanan.7 Pada tangan korban tidak jarang ditemukan pisau yang tergenggam dengan sangat kuat, ini disebabkan oleh kekakuan yang seketika (cadaveric spasm) pada otot-otot tangan korban yang menggenggam pisau. Kekakuan yang seketika ini, mencerminkan adanya faktor stress emosional dan intravitalitas. Dengan pisau yang ditemukan pada genggaman erat tangan korban dapat hampir dipastikan bahwa korban telah melakukan bunuh diri.7 2.6 Aspek Medikolegal pada Luka Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas permintaan tertulis (resmi) penyidik tentang pemeriksaan medis terhadap seseorang manusia baik hidup maupun mati ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa temuan dan interpretasinya, di bawah sumpah dan untuk kepentingan peradilan. Rumusan yang 15

jelas tentang pengertian VeR telah dikemukakan pada seminar forensik di Medan pada tahun 1981 yaitu laporan tertulis untuk peradilan yang dibuat dokter berdasarkan sumpah atau janji yang diucapkan pada waktu menerima jabatan dokter, yang memuat pemberitaan tentang segala hal atau fakta yang dilihat dan ditemukan pada benda bukti berupa tubuh manusia yang diperiksa dengan pengetahuan dan keterampilan yang sebaik-baiknya dan pendapat mengenai apa yang ditemukan sepanjang pemeriksaan tersebut. Menurut Budiyanto et al, dasar hukum VeR adalah sebagai berikut: Pasal 133 KUHAP menyebutkan: (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik pembantu sebagaimana bunyi pasal 7 (1) butir h dan pasal 11 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Penyidik yang dimaksud adalah penyidik sesuai dengan pasal 6 (1) butir a, yaitu penyidik yang pejabat Polisi Negara RI. Penyidik tersebut adalah penyidik tunggal bagi pidana umum, termasuk pidana yang berkaitan dengan kesehatan dan jiwa manusia. Oleh karena VeR adalah keterangan ahli mengenai pidana yang berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil tidak berwenang meminta VeR, karena mereka hanya mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing (Pasal 7(2) KUHAP). Sanksi hukum bila dokter menolak permintaan penyidik adalah sanksi pidana: Pasal 216 KUHP:

16

Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah. Prosedur pengadaan VeR berbeda dengan prosedur pemeriksaan korban mati, prosedur permintaan VeR korban hidup tidak diatur secara rinci di dalam KUHAP. Tidak ada ketentuan yang mengatur tentang pemeriksaan apa saja yang harus dan boleh dilakukan oleh dokter. Hal tersebut berarti bahwa pemilihan jenis pemeriksaan yang dilakukan diserahkan sepenuhnya kepada dokter dengan mengandalkan tanggung jawab profesi kedokteran. KUHAP juga tidak memuat ketentuan tentang bagaimana menjamin keabsahan korban sebagai barang bukti. Hal-hal yang merupakan barang bukti pada tubuh korban hidup adalah perlukaannya beserta akibatnya dan segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara pidananya. Sedangkan orangnya sebagai manusia tetap diakui sebagai subjek hukum dengan segala hak dan kewajibannya. Dengan demikian, karena barang bukti tersebut tidak dapat dipisahkan dari orangnya maka tidak dapat disegel maupun disita, melainkan menyalin barang bukti tersebut ke dalam bentuk VeR.8,9 KUHAP tidak mengatur prosedur rinci apakah korban harus diantar oleh petugas kepolisian atau tidak. Padahal petugas pengantar tersebut sebenarnya dimaksudkan untuk memastikan kesesuaian antara identitas orang yang akan diperiksa dengan identitas korban yang dimintakan VeRnya, seperti yang tertulis di dalam surat permintaan VeR. Situasi tersebut membawa dokter turut bertanggung jawab atas pemastian kesesuaian antara identitas yang tertera di dalam surat permintaan visum et repertum dengan identitas korban yang diperiksa. Dalam praktik sehari-hari, korban perlukaan akan langsung ke dokter baru kemudian dilaporkan ke penyidik. Hal tersebut membawa kemungkinan bahwa surat permintaan visum et repertum korban luka akan datang terlambat dibandingkan dengan 17

pemeriksaan korbannya. Sepanjang keterlambatan tersebut masih cukup beralasan dan dapat diterima maka keterlambatan itu tidak boleh dianggap sebagai hambatan pembuatan VeR. Sebagai contoh, adanya kesulitan komunikasi dan sarana perhubungan, overmacht (berat lawan) dan noodtoestand (darurat). Adanya keharusan membuat VeR perlukaan tidak berarti bahwa korban tersebut, dalam hal ini adalah pasien, untuk tidak dapat menolak sesuatu pemeriksaan. Korban hidup adalah pasien juga sehingga mempunyai hak sebagai pasien. Apabila pemeriksaan tersebut sebenarnya perlu menurut dokter pemeriksa sedangkan pasien menolaknya, maka hendaknya dokter meminta pernyataan tertulis singkat penolakan tersebut dari pasien disertai alasannya atau bila hal itu tidak mungkin dilakukan, agar mencatatnya di dalam catatan medis.9 Hal penting yang harus diingat adalah bahwa surat permintaan VeR harus mengacu kepada perlukaan akibat tindak pidana tertentu yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu. Surat permintaan VeR pada korban hidup bukanlah surat yang meminta pemeriksaan, melainkan surat yang meminta keterangan ahli tentang hasil pemeriksaan medis. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dikenal luka kelalaian atau karena yang disengaja. Luka yang terjadi ini disebut Kejahatan Terhadap Tubuh atau Misdrijven Tegen Het Lift. Kejahatan terhadap jiwa ini terperinci menjadi dua yaitu kejahatan doleuse (yang dilakukan dengan sengaja) dan kejahatan culpose (yang dilakukan karena kelalaian atau kejahatan).9,10 Jenis kejahatan yang dilakukan dengan sengaja diatur dalam Bab XX, pasalpasal 351 s.d 358. Jenis kejahatan yang disebabkan karena kelalaian diatur dalam pasal 359, 360, dan 361 KUHP. Dalam pasal-pasal tersebut dijumpai kata-kata, mati, menjadi sakit sementara, atau tidak dapat menjalankan pekerjaan sementara, yang tidak disebabkan secara langsung oleh terdakwa, akan tetapi karena salahnya diartikan sebagai kurang hati-hati, lalai, lupa dan amat kurang perhatian. Pasal 361 KUHP menambah hukumannya sepertiga lagi jika kejahatan ini dilakukan dalam suatu jabatan atau pekerjaan. Pasal ini dapat dikenakan pada dokter, bidan, apoteker, supir, masinis ketera api, dan lain-lain. Dalam pasal-pasal tersebut 18

tercantum istilah penganiayaan dan merampas dengan sengaja jiwa orang lain, suatu istilah hukum semata dan tidak dikenal dalam istilah medis. Menentukan penyimpulan terhadap satu rentang waktu luka adalah hal yang sangat penting dalam diagnosis forensik terhadap luka dan perdarahan. Hal ini mencakup kriteria apakah perlukaan terjadi saat intravital atau postmortem. Penentuan umur luka dan perdarahan dari Kedokteran Forensik harus dapat dipertahankan di sidang, maka dibutuhkan diagnosis yang reliabel.11 2.6.1 Intravitalitas Luka dan Postmortem Mengetahui tanda-tanda intravital luka dan pengetahuan tentang reaksi vital luka merupakan dasar pemeriksaan Kedokteran Forensik. Reaksi vital luka identik dengan peristiwa reaksi inflamasi akut sebagai reaksi tubuh terhadap trauma. Karakteristik suatu living organism adalah kemampuan untuk merespon terhadap stimulus eksternal. Stimulus eksternal berupa biologi, fisik, dan kimia. Tubuh akan merespon stimulus tersebut dalam bentuk reaksi inflamasi.11

Tabel 3. Skema dari Legrand du Saule untuk Mendiagnosis Luka Vital dan Postmortem13 Luka Vital Luka Postmortem 1. Tepi luka : membengkak, keras, 1. Tepi luka : tidak membengkak, lunak, terpisah karena retraksi jaringan, infiltrasi darah, lambat laun akan terdapat eksudasi kelenjar limfe dan bernanah. 2. infiltrasi di sekeliling jaringan. 3. Terdapat darah yang membeku di dalam luka atau di atas luka. menutup secara bersamaan dan tidak mengalami retraksi, jarang terjadi eksudasi dari kelenjar limfe. 2. Perdarahan yang sedikit.

Perdarahan yang berlebihan, terdapat 3. Penggumpalan darah yang sedikit.

19

Dalam kasus forensik, membedakan antara vital dan non vital adalah hal yang penting (paramount importance) dalam menentukan cara kematian. Luka pada individu yang hidup terutama kulit, menunjukkan gambaran yang khas. Jika perlukaan terjadi pada saat akan atau dekat dengan kematian (supravital) sulit membedakan vital dan non vital. Hal ini terjadi karena tidak ada batas yang tegas antara hidup dan mati.12 Periode antara saat sel masih hidup sampai kematian sel sangat bervariasi dan tergantung sebab mati, kerentanan individu, dan lamanya nyeri. Kematian jaringan mempunyai waktu yang berbeda tergantung ketahanan jaringan tersebut terhadap situasi anoksia.12 Penentuan intravitalitas luka dapat dikatakan sebagai dasar dari pemeriksaan kedokteran forensik terhadap jenazah. Tanpa penentuan tentang intravital atau tidaknya suatu luka, suatu kasus pembunuhan dapat tinggal tersembunyi, atau sebaliknya suatu kematian wajar dapat terangkat menjadi kasus pembunuhan.13 Luka intravital akibat kekerasan benda tajam berdasarkan :

a.

Lokasi luka (lokasi luka berbeda-beda berdasarkan jenis kasusnya), yaitu: 1. Pada kasus pembunuhan Lokasi luka dapat ditemukan disembarangan tempat atau di berbagai bagian tubuh korban termasuk bagian-bagian yang sulit dijangkau oleh tangan korban. Biasanya benda tajam tersebut diarahkan ke bagian tubuh yang cepat mematikan misalnya leher, dada kiri, pergelangan tangan, perut dan lipatan paha.1,2 2. Pada kasus bunuh diri Lokasi luka dapat ditemukan di tempat yang terpilih. Tempat yang terpilih tersebut biasanya terdapat pada bagian tubuh yang superfisial yang dapat dijangkau oleh tangan korban seperti wajah, leher, pergelangan tangan, perut, dan kaki.1,2

3.

Pada kasus kecelakaan Lokasi luka dapat ditemukan di seluruh tubuh korban tergantung daerah mana yang terkena paparan dari benturan benda tajam tersebut.1

20

b. Ukuran luka Ukuran luka dapat ditentukan dari jenis senjata tajam yang digunakan oleh pelaku. Pada luka tusuk, panjang luka biasanya tidak mencerminkan lebar benda tajam penyebabnya, demikian pula panjang saluran luka biasanya tidak menunjukkan panjang benda tajam tersebut. Hal ini disebabkan oleh faktor elastisitas jaringan dan gerakan korban. Luka tusuk biasanya disebabkan oleh benda tajam bermata satu seperti pisau, belati, atau ice pick. Luka iris biasanya disebabkan oleh benda tajam seperti pisau atau pisau cukur (silet). Luka bacok biasanya disebabkan oleh senjata tajam yang lebih besar dan berat seperti pedang, kapak, atau golok.10 c. Gambaran luka Gambaran umum luka yang diakibatkannya adalah tepi yang rata, berbentuk garis, tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik serta keadaan sekitar luka yang tenang tidak ada luka lecet atau luka memar. Senjata tajam yang digunakan runcing atau bermata satu biasanya sudut luka tajam. Senjata tajam yang bermata dua, sudut luka tumpul dan tajam.1 d. Daerah Sekitar luka Kulit sekitar luka akibat kekerasan benda tajam biasanya tidak menunjukkan adanya luka lecet atau luka memar, kecuali bila sebagian gagang turut membentur kulit.1 e. Derajat Luka Suatu perlukaan dapat menimbulkan dampak pada korban dari segi fisik, psikis, sosial, dan pekerjaan, yang dapat timbul segera dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Dampak perlukaan tersebut memegang peranan penting bagi hakim dalam menentukan beratnya sanksi pidana yang harus dijatuhkan sesuai dengan rasa keadilan. Penentuan derajat luka sangat tergantung pada latar belakang individual dokter seperti pengalaman, keterampilan, keikutsertaan dalam pendidikan berkelanjutan dan sebagainya.

21

Derajat luka dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :9 1. Luka ringan (luka derajat pertama), yaitu luka yang tidak mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan atau jabatan untuk sementara waktu. 2. Luka sedang (luka derajat kedua), yaitu luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan atau jabatan untuk sementara waktu.

3. Luka berat (luka derajat ketiga), luka yang termasuk dalam pengertian
hukum luka berat (pasal 90 KUHP), terdiri atas:

Luka atau penyakit yang tidak dapat diharapkan akan sembuh

dengan sempurna. Pengertian tidak akan sembuh dengan sempurna lebih ditujukan pada fungsinya. Contohnya trauma pada satu mata yang menyebabkan kornea robek. Sesudah dijahit sembuh, tetapi mata tersebut tidak dapat melihat.

Luka

yang

dapat

mendatangkan

bahaya

maut.

Dapat

mendatangkan bahay maut pengertiannya memiliki potenis untuk menimbulkan kematian, tetapi sesudah diobati dapat sembuh.

Luka yang menimbulkan rintangan tetap dalam menjalankan dari sudut hukum dapat

pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya. Luka yang dari sudut medik tidak membahayakan jiwa, dikategorikan sebagai luka berat. Contohnya trauma pada tangan kiri pemain biola atau pada wajah seorang peragawati dapat dikategorikan luka berat jika akibatnya mereka tidak dapat lagi menjalankan pekerjaan tersebut selamanya.

Kehilangan salah satu dari panca indera. Jika trauma

menimbulkan kebutaan satu mata atau kehilangan pendengaran satu telinga, tidak dapat digolongkan kehilangan indera. Meskipun demikian tetap digolongkan sebagai luka berat berdasarkan butir (a) di atas.

Cacat berat. 22

Lumpuh. Gangguan daya pikir lebih dari 4 minggu lamanya. Gangguan

daya pikir tidak ahrus berupa kehilangan kesadaran tetapi dapat juga berupa amnesia, disorientasi, anxietas, depresi atau gangguan jiwa lainnya. Keguguran atau kematian janin seorang perempuan. Yang dimaksud dengan keguguran ialah keluarnya janin sebelum masa waktunya, yaitu tidak didahului oleh proses sebagaimana umumnya terjadi seorang wanita ketika melahirkan. Sedang, kematian janin mengandung pengertian bahwa janin tidak lagi menunjukkan tandatanda hidup. tidak dipersoalkan bayi keluar atau tidak dari perut ibunya.

2.6.2 Identifikasi Senjata Tajam Seorang patologist sering diminta untuk memberikan pendapat tentang karakteristik senjata yang digunakan dalam pembunuhan. Pertanyaan yang sering diajukan adalah berapa panjang dan lebar senjata, apakah pisaunya bermata satu atau dua, dan lain lain. Seorang dokter harus berhati hati dalam memberikan jawaban karena akan digunakan sebagai petunjuk ataupun keterangan yang memiliki kekuatan hukum dalam pengadilan. Dalam kebanyakan kasus, keterangan yang bisa didapatkan adalah lebar maksimum dari pisau, perkiraan panjang pisau, dan keadaan mata pisau (bermata satu atau dua).6 Seseorang tidak bisa menghubungkan secara pasti antara luka dan senjata yang digunakan secara pasti kecuali ujung senjata tersebut tertinggal pada luka atau patah. Apabila senjatanya ditemukan, ujung senjata dapat dicocokkan. Setiap senjata yang dicurigai merupakan senjata pembunuh harus diperiksa apakah terdapat darah ataupun

23

jaringan yang tertinggal. Setiap darah dan jaringan dapat dites DNA sehingga mendapat kecocokan dengan korban.6 Dalam melakukan pemeriksaan terhadap korban yang menderita luka akibat kekerasan, pada hakikatnya dokter diwajibkan untuk dapat memberikan kejelasan mengenai jenis luka yang terjadi, jenis kekerasan/senjata atau benda yang menyebabkan luka, dan derajat luka.6

24

BAB III LAPORAN KASUS

3.1 Prosedur Medikolegal Seorang laki laki berinisial AAAK, usia 19 tahun, berkebangsaan Indonesia, agama Hindu, beralamat di Jalan Imam Bonjol GG 1 No 3, Denpasar datang dalam keadaan sadar diantar oleh polisi dengan membawa surat permintaan visum ke ruang Unit Gawat Darurat bagian bedah RSUP Sanglah pada tanggal 12 Februari 2012, pada pukul 20.50 WITA. 3.2 Anamnesis Korban datang dalam keadaan sadar, tampak kesakitan, penampilan umum baik, sikap selama pemeriksaan membantu. Korban datang disertai SPV setelah ditusuk di perut kurang lebih satu jam sebelum masuk rumah sakit. Korban mengeluh nyeri pada ulu hati dan lengan kiri setelah ditusuk oleh orang yamg tidak dikenali. Saat itu korban sedang duduk-duduk di sebuah kafe bersama saudaranya, kemudian datang orang yang tidak dikenal menarik saudaranya dan terjadi pertengkaran. Korban berusaha melerai, namun tiba-tiba pelaku mengeluarkan pisau dan menusuk pada bagian perut korban. 3.3.Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Respirasi Temperature : Sedang : GCS E4V5M6 : 130/80 mmhg : 80x/menit : 20x/menit : 360C

Mata : Refleks pupil +/+ isokor Hidung : dalam batas normal

25

Mulut : dalam batas normal Telinga : dalam batas normal Thorak : dada simetris, retraksi tidak ada Cor : s1s2 tunggal regular murmur tidak ada Pulmo : vesicular +/+, rhonci -/-, wheezing -/Abdomen :distensi (-) , bising usus (+) normal Vulnus iktum Kemaluan : dalam batas normal Anus : dalam batas normal 3.4 Pemeriksaan luka luka

1) Luka terbuka pada ulu hati, lima sentimeter di bawah puting susu, meliputi
area seluas delapan sentimeter kali lima sentimeter, tepi luka rata, kedua sudut luka lancip, dasar luka jaringan lemak, bila dirapatkan membentuk garis lurus sepanjang tiga sentimeter. 2) Luka terbuka pada lengan bawah kiri sisi dalam, lima sentimeter di bawah lipatan siku, meliputi area seluas enam sentimeter kali empat sentimeter, tepi luka rata, kedua sudut luka lancip, dasar luka jaringan otot, bila dirapatkan membentuk garis lurus sepanjang delapan sentimeter 3.5 Pemeriksaan Penunjang 1) Foto Polos - Tak tampak densitas cairan di kavum abdomen - Tak tampak destruksi tulang-tulang 2) Pemeriksaan Darah Lengkap

- Hemoglobin dalam batas normal - Platelet dalam batas normal - Sel darah merah dalam batas normal - Bleeding time dan Clotting time dalam batas normal 26

Kesan : - Vulnus Iktum pada regio abdomen, ukuran 3cm x 1cm dan Vulnus Iktum pada regio antebrachii, ukuran 2cm x 6cm - Pemeriksan laboratorium darah lengkap, dengan hasil tidak ditemukan kelainan jumlah komponen darah - Pemeriksaan foto polos daerah dada dan abdomen, dengan hasil tidak ditemukan adanya tulang yang patah 3.6 Terapi - Masuk rumah sakit - Tetagam 1 amp - IVFD RL 28 tetes / menit - Cefotaxim 2 gr pre op - Pro Laparatomi-explorasi 3.7 Laporan Operasi

1) Pasien tidur posisi supine di bawah pengaruh GA-OTT 2) Dilakukan disinfeksi dan drapping
3) Evaluasi luka didapatkan tembus kavum abdomen 4) Dilakukan incisi midline kurang lebih 15cm, di perdalam lapisan dari lapisan 5) Membuka peritoneum didapatkan tidak ada perdarahan. 6) Dilakukan evaluasi dan didapatkan laserasi tunika serosa gaster bagian anterior 7) dan terdapat hematom pada omentum, tidak terdapat perdarahan aktif dan 8) organ-organ lain intak 9) Dilakukan pencucian kavum abdomen dengan Nacl 0.9% hangat 10) Jahit luka operasi lapisan dari lapisan 11) Debridemen luka dengan primary hecting 12) Operasi Selesai

27

28

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Prosedur Medikolegal Sebagai seorang dokter mempunyai tugas melakukan pemeriksaan medik untuk tujuan membantu penegakan hukum, dalam hal ini pembuatan Visum et Repertum terhadap seseorang yang diduga sebagai korban suatu tindak pidana. Visum et Repertum (VER) adalah alat bukti yang sah sebagaimana yang tertulis pada pasal 184 KUHAP. Visum et Repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Visum et Repertum menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian Pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti. Jadi seperti pada kasus ini, korban yang ditusuk dan dilakukuan, maka diuraikan hasil pemeriksaan luka yamg dilakukan terhadap korban. Menurut KUHAP pasal 133 ayat 1, yang berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli (Visum et Repertum) adalah penyidik, permintaan keterangan ahli oleh penyidik ini harus dilakukan secara tertulis, hal ini secara tegas telah diatur dalam KUHAP pasal 133 ayat 2, terutama untuk korban mati. Sehingga prosedur pembuatannya pasien harus diantar polisi dengan membawa Surat Permintaan Visum (SPV). Dokter wajib membuat Visum et Repertum (VER) sesuai dengan permintaan dan hasil pemeriksaan seperti yang tertuang dalam pasal 179 KUHP. Pada surat permintaan visum et repertum harus jelas tertulis jenis pemeriksaan yang diminta, baik itu pemeriksaan luar, atau pemeriksaan otopsi (bedah mayat) sesuai pasal 133 KUHAP. Korban datang ke Unit Gawat Darurat RSUP Sanglah pada tanggal 12 Februari 2012 yang kemudian disusul dengan adanya SPV dari saudara I Ketut Wiarta, pangkat Ajun Inspektur Polisi Satu, NRP 64040331, tertanggal 12 Januari 2012, nomor Polisi B/30/II/2012/POLSEK/2012 sehingga bisa dibuatkan VER. Selanjutnya, VER ini bisa digunakan untuk kepentingan hukum dan peradilan, sehinggga penyidik selaku instansi pertama yang memerlukan VER guna membuat terang dan jelas suatu perkara pidana yang telah terjadi, khususnya yang menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia. 29

4.2 Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan terhadap jenis luka dapat membantu untuk memutuskan jika luka yang terjadi merupakan luka vital atau tidak vital. Pada kasus ini dilakukan pemeriksaan luka-luka. Pada pasien ini ditemukan dua buah luka yaitu satu pada daerah ulu hati dan satu lagi pada lengan bawah. Luka yang pertama adalah luka terbuka pada ulu hati, lima sentimeter di bawah puting susu, meliputi area seluas delapan sentimeter kali lima sentimeter, tepi luka rata, kedua sudut luka lancip, dasar luka jaringan lemak, bila dirapatkan membentuk garis lurus sepanjang tiga sentimeter. Luka yang kedua adalah luka terbuka pada lengan bawah kiri sisi dalam, lima sentimeter di bawah lipatan siku, meliputi area seluas enam sentimeter kali empat sentimeter, tepi luka rata, kedua sudut luka lancip, dasar luka jaringan otot, bila dirapatkan membentuk garis lurus sepanjang delapan sentimeter. 1. Jenis Kekerasan Dari ciri-ciri luka pada korban yaitu luka terbuka dengan tepi luka rata, terdapat kedua sudut tumpul, dan dapat dirapatkan menunjukkan ciri-ciri luka akibat senjata tajam. Lebar luka di permukaan yang lebih pendek dibandingkan kedalaman luka menunjukkan jenis lukanya adalah luka tusuk. 2. Lokasi Luka Pada kasus ini ditemukan sebuah luka terbuka di daerah ulu hati. Pada dada terdapat organ vital seperti jantung dan paru paru. Adanya luka terbuka pada lengan bawah sisi dalam, memberi petunjuk bahwa pasien sempat memberikan perlawanan dan kemungkinan terjadi perkelahian. Selain luka tersebut tidak ditemukan luka dangkal atau luka percobaan. Dari keadaan pasien di atas maka kemungkinan besar luka tusuk ini adalah akibat perkelahian.

3. Perkiraan Senjata Pembunuh

30

Dari bentuk lukanya kita dapat memperkirakan senjata pembunuh dan posisi pelaku. Senjata pembunuhnya diperkirakan adalah pisau yang bermata satu dengan lebar maksimal 4 cm. Posisi pelaku kemungkinan di depan korban karena hanya terdapat luka tusuk di bagian depan tubuh korban. Dari lukanya kita tidak dapat memperkirakan pelaku bertangan kanan atau kiri karena luka tusuknya terdapat di tubuh bagian tepat di tengah. Karena korban ini memiliki SPV, maka dokter yang dimintai keterangan wajib memberikan keterangan sejelas-jelasnya sesuai dengan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Hal ini diatur dalam KUHP pasal 179. Pada kasus ini pemeriksaan yang dilakukan berupa pemeriksaan luka-luka untuk tujuan pembuktian. 4.2 PEMERIKSAAN FORENSIK Pemeriksaan luka Pada jenazah didapatkan dua buah luka terbuka masing-masing pada daerah ulu hati dan lengan bawah kiri. Luka tersebut sesuai dengan luka tusuk dan tindak penganiayaan. Tanda-tanda Pemeriksaan luka : Secara teori, luka yang disebabkan oleh benda tajam dapat dibedakan dari luka yang disebabkan oleh benda lainnya yaitu keadaan sekitar luka yang tenang, tidak ada luka lecet atau luka memar, tepi luka yang rata, dan dari sudut-sudutnya yang runcing, serta tidak adanya jambatan jaringan Jarang pisau masuk ke dalam tubuh dan keluar lagi dengan sudut serta arah yang sama, dengan demikian setiap luka tusuk merupakan perpaduan antara tusukan dengan irisan. Oleh karena itu, ukuran luka dimana pisau itu masuk ke dalam tubuh akan lebih besar dari ukuran lebar dari pisau itu sendiri. Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan umumnya ditemukan pada telapak dan punggung tangan, jari-jari tangan, punggung lengan bawah dan tungkai.

31

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Simpulan yang dapat ditarik dari uraian laporan kasus ini yaitu : yang menjadi aspek medikolegal pada pemeriksaan luka tusuk pada pasien adalah seorang dokter forensik dapat membuat suatu Visum et Repertum terhadap pasien dengan membawa Surat Permintaan Visum (SPV) karena diduga sebagai korban suatu tindak pidana. Jadi seperti pada kasus ini diuraikan mengenai deskripsi luka yang berkaitan dengan perkara. Yang diuraikan dalam bagian ini merupakan pengganti barang bukti. Berdasarkan pada prosedur medikolegal, kesimpulan Visum et Repertum pada kasus ini adalah berdasarkan pada sifat lukanya, tusukan tersebut disebabkan oleh benda tajam kemungkinan bermata satu dengan lebar maksimal benda yang masuk 4 cm. 5.2 Saran Sebagai seorang dokter kita harus dapat mengidentifikasi luka baik itu akibat kekerasan tumpul ataupun tajam, khusus pada luka tajam seorang dokter dapat mengidentifikasi ukuran luka, sudut luka, dasar luka, jumlah luka dan lokasi-lokasi luka yang dapat berakibat fatal, dan dapat membedakan luka tersebut merupakan suatu akibat pembunuhan, bunuh diri atau kecelakaaan. Diharapkan pula seorang dokter selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang forensik dalam hal ini berkaitan dengan pemanfaatan radiologi forensik, dengan pemeriksaan radiologi forensik akan sangat membantu pada kasus kekerasan seperti contoh kasus ini, dalam hal mengidentifikasi luka pada jenasah berkaitan dengan rekonstruksi senjata penyebab luka.

32

DAFTAR PUSTAKA
1. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta: Binarupa Aksara, 1997; p.131-168. 2. Hueske E. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory Handbooks, Practice and Resource. 2006. 3. Algozi 4. Ashari Agus irwan. M. Luka Luka Tembak Tembak [online]. [online]. [cited 2011 Desember Desember 13]. 13]. www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Forensik/luka%20tembak.pdf. [cited2011 http://www.irwanashari.com/luka-tembak/. 5. Indah PS, Lely, Irene, Elena, Luh S. Gunshot wound[online]. [cited 2011 Desember 09]. http://www.freewebs.com/gunshot_wound/luka tembak pada tulang.htm. 6. Anonim.Forensic Pathology[online]. [online]. [cited [cited 2011 2011 Desember Desember 09]. 09] http://library.med.utah.edu/WebPath/ FORHTML/FOR039.html Syaulia,Andirezeki,Wongso http://www.scribd.com/document_downloads/direct/54671022? extension=docx&ft=1318157772&lt=1318161382&uahk=qEAJ2WPVq8f0hXZUvyZX XK082

33