Anda di halaman 1dari 3

Kasus Corby Schapelle Leigh Corby (lahir 10 Juli 1977; umur 34 tahun) adalah seorang mantan pelajar sekolah

kecantikan dari Brisbane, Australia yang ditangkap membawa obat terlarang di dalam tasnya di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Indonesia pada 8 Oktober 2004. Bapak kandung Schapelle Corby, Michael Corby, sebelumnya pernah tertangkap basah membawa ganja pada awal tahun 1970-an. Dalam tas Corby ditemukan 4,2 kg ganja, yang menurut Corby, bukan miliknya. Dia mengaku tidak mengetahui adanya ganja dalam tasnya sebelum tas tersebut dibuka oleh petugas bea cukai di Bali, namun pernyataan ini ditentang oleh petugas bea cukai yang mengatakan bahwa Corby mencoba menghalangi mereka saat akan memeriksa tasnya. Corby ditemukan bersalah atas tuduhan yang diajukan terhadapnya dan divonis hukuman penjara selama 20 tahun pada 27 Mei 2005. Selain itu, ia juga didenda sebesar Rp.100 juta. Pada 20 Juli 2005, Pengadilan Negeri Denpasar kembali membuka persidangan dalam tingkat banding dengan menghadirkan beberapa saksi baru. Kemudian pada 12 Oktober 2005, setelah melalui banding, hukuman Corby dikurangi lima tahun menjadi 15 tahun. Pada 12 Januari 2006, melalui putusan kasasi, MA memvonis Corby kembali menjadi 20 tahun penjara, dengan dasar bahwa narkotika yang diselundupkan Corby tergolong kelas I yang berbahaya. Namun Pada 15 Mei 2012 MA merekomendasikan grasi 5 tahun untuk corby yang disetujui oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keppres No. 22/G/2012. MA mendalihkan bahwa pertimbangan merekomendasikan grasi itu semata-

mata alasan kemanusiaan mengingat Corby sering sakit-sakitan di LP Kerobokan. Menkumham Amir Syamsuddin juga menambahkan pemerintah kita berharap pemberian grasi kepada Corby memberikan pesan kepada Australia dan pemerintahan negara sahabat lainnya agar melakukan hal sama terhadap tahanan atau terpidana asal Indonesia.
Karena adanya keputusan tersebut Granat (Gerakan Nasional Anti Madat) menggugat keputusan grasi yang diberikan Presiden tersebut pada 7 Juni 2012, Menurut salah satu kuasa

hukum Granat , Keputusan Presiden (Keppres) tentang grasi adalah keputusan pejabat tata usaha negara yang dapat dijadikan sebagai obyek sengketa di PTUN. Keppres tersebut memenuhi syarat untuk digugat karena sifatnya yang individual, kongkret, final dan membawa akibat hokum.

Analisis normative kasus corby. Menurut saya pemberian grasi terhadap corby oleh Presiden Republik Indonesia tidaklah tepat, karena kejahatan narkoba telah digolongkan menjadi sebuah kejahatan yang luar biasa (extraordinary crime) seperti korupsi dan terorisme.Grasi yang diberikan juga tidak disertai dengan alasan yang jelas. selain itu Indonesia telah meratifikasi United Nations Convention Againts Illicit Traffic in
Narcotic Drugs and Psychotropic Substances (Konvensi PBB tentang Pemberantasan

Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika ) tahun 1988 dengan UU No 7 tahun 1997 tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika. Didalam undang-undang tersebut menyatakan dengan tegas bahwa pemerintah harus mengenakan sanksi yang maksimun terhadap pelaku. Dengan pemberian Grasi ini Presiden republik Indonesia dapat dianggap merendahkan komitmen dunia dalam pemberantasan peredaran gelap narkotika dan psikotropika dalam konvensi PBB 1988. alasan yang lain adalah pada saat Presiden SBY berpidato memperingati Hari Antinarkotika Internasional 2011 di Monas menunjukkan komitmen kuat terhadap pemberantasan narkoba, seharusnya Presiden mempertanggungjawabkan apa yang sudah dikatakannya. grasi yang diberikan
sekarang bisa saja menjadi beban presiden yang akan datang. disaat ada terpidana mati perkara narkoba lainnya yang meminta grasi, maka Corby akan menjadi acuan bagi mereka.