Anda di halaman 1dari 20

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN ( SAP )

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR ( FKUIT ) MAKASSAR TAHUN AJARAN 2009 / 2010 Kode Mata Kuliah Nama Mata Kuliah Jumlah SKS Kelas/Semester Pertemuan Penempatan Alokasi Waktu Tahun Akademik I. : KPJ 400 : Keperawatan Kesehatan Jiwa. :I : Program B - Makassar / 2 :I : Semester II ( GENAP ) : 2 X 50 menit : 2009 / 2010

Standar Kompetensi Mahasiswa dapat mengetahui, memahami, dan menguasai landasan theori dan Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi.

II.

Kompetensi Dasar 1. Mahasiswa memahami Konsep Dasar Medik Schizofrenia yang mengakibatkan munculnya gejala sekunder Halusinasi yang tediri dari Pengertian, Etiologi, Jenis Jenis Schizofrenia, Gejala dan Pengobatan. 2. Mahasiswa memahami Konsep Keperawatan Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi yang terdiri dari Pengertian, Jenis Jenis Halusinasi, Faktor Penyebab dan Pathofisiologi 3. Mahasiswa memahami prosedur pelaksanaan Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi

III. Indikator Setelah mengikuti perkuliahan diharapkan mahasiswa : 1. Mampu menjelaskan pengertian dari Schizofrenia 2. Mampu menjelaskan Etiologi dari Schizofrenia 3. Mampu menjelaskan Patofisiologi dari Schizofrenia 4. Mampu menjelaskan Jenis jenis Schizofrenia 5. Mampu menjelaskan Gejala dari Schizofrenia 6. Mampu menjelaskan Pengobatan atau Therapi dari Schizofrenia 7. Mampu menjelaskan Pengertian Halusinasi

8. Mampu menjelaskan Jenis jenis Halusinasi 9. Mampu menjelaskan Faktor Penyebab Terjadinya Halusinasi 10. Mampu menjelaskan Proses Terjadinya Halusinasi ( Patofisiologi) 11. Mampu menjelaskan dan menguraikan penatalaksanaan Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan Persepsi sensori Halusinasi meliputi : Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi IV. Materi Ajar 1. Konsep Dasar Medik Schizofrenia Pengertian Etiologi Jenis jenis Schizofrenia Gejala - gejala Pengobatan 2. Konsep Keperawatan Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi : 2 V. Pengertian Jenis jenis Halusinasi Faktor Penyebab Proses Terjadinya ( Patofisiologi ) Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi Pengkajian Diagnosa Keperawatan Rencana Tindakan Keperawatan Implementasi Evaluasi

Methode/Strategi Pembelajaran Ceramah Diskusi Tanya Jawab Penugasan

VI. Tahap Pembelajaran


TAHAP KEGIATAN Pendahuluan 5 menit KEGIATAN DOSEN Memulai PBM dengan memberi salam dan memperkenalkan diri. Memberi penjelasan ten-tang deskripsi dan rele-vansi mata kuliah Menjelaskan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar Mata Kuliah. Mengkaji pengetahuan awal mahasiswa yang ber-kaitan materi yang akan diajarkan KEGIATAN MAHASISWA Membalas salam MEDIA & ALAT PEMBELAJARAN LCD White Board Spidol

Memperhatikan penjelasan dosen Memperhatikan

Penyajian 70 menit

Menjawab pertanyaan dosen Menjelaskan materi : Mendengarkan, Konsep dasar Medik memperhatikan & Schizofrenia meliputi : mencatat hal-hal Pengertian, Etiologi, Jenis yang penting jenis Schizofrenia, Gejala gejala dan Pengobatan / Therapi - Konsep Keperawatan Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi meliputi : Pengertian, Jenis jenis Halusinasi, Faktor Penyebab, serta Proses terjadinya ( Patofisiologi ) - Asuhan Keparawatan Klien Dengan Gangguan Persepsi Sensori meliputi Pengkajian, Diagnosa keperawatan, Rencana Tindakan Keperawatan, Implementasi dan Evaluasi Memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk bertanya Menjawab pertanyaan Memberikan tugas disertai penjelasan Mengadakan tes formatif Memberikan umpan balik tentang tugas Menutup dengan salam Bertanya & memberikan pendapat Memperhatikan Memperhatikan & mencatat tugas Menjawab/me ngerjakan tugas Memperhatikan Membalas salam

LCD White board Spidol Transparan

Penutup 25 menit

White board Spidol

VII. Alat/Bahan/Sumber Belajar 1. Alat Penghapus 2. VIIIPenilaian /Evaluasi 1. 2

: LCD, Laptop, White Board, Spidol,

Bahan/sumber belajar : Corwin, 2001, Patologi, EGC, Jakarta Sacharin, 1996, Prinsip

Keperawatan Jiwa , Edisi 2, EGC, Jakarta. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Jiwa, 1985, Ilmu Kesehatan Jiwa, FKUI, Jakarta. Teknik dan Instrumen Penilaian : Absensi kehadiran : 100 % Tugas Mid Semester UAS

Kriteria Penilaian = A + T + MS + UAS 4

Keterangan: A = Absensi T = Tugas MS = Mid Semester UAS = Ujian Akhir Semester NA = Nilai Akhir

LAMPIRAN

MATERI AJAR GANGGUAN PERSEPSI SENSORI DENGAN HALUSINASI A. KONSEP DASAR SCHIZOFRENIA 1. Pengertian Schizofrenia adalah jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan. schisos : pecah belah atau bercabang, phren : jiwa. (Eugen Bleuler). Schizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis) yang luas serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya. Umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari fikiran dan persepsi serta oleh afek yang tidak wajar atau tumpul (PPDGJ III) (PPDGJ I) Psikosis dengan gangguan dasar kepribadian, distorsi khas proses fikir, waham yang kadang-kadang aneh, gangguan persepsi, afek abnormal yang tidak sesuai situasi (Ilmu Kesehatan Jiwa). 2. Schizofrenia tak tergolongkan Schizofrenia tak tergolongkan adalah schizofrenia yang dikarakteristikkan dengan prilaku yang disorganisasi dan gejala-gejala psikosis misalnya (waham, halusinasi, inkonherensi atau prilaku kacau yang sangat jelas) yang mungkin memenuhi lebih dari satu tipe kelompok kriteria schizofrenia (Mary C Towsend). 3. Etiologi Dapat dipastikan bahwa ada faktor keturunan yang juga menentukan timbulnya a. Keturunan Gangguan jiwa yang bermanifestasi dalam 3 gangguan yaitu gangguan alam fikir, alam perasaan dan tingkah laku yang karakteristik

schizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga keluarga penderita schizofrenia dan terutama anak-anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri adalah 0,9 1,8 %, saudara kandung 7 15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita schizofrenia 7 16 %. Bila kedua orang tua menderita schizofrenia 40 68% bagi kembar dua telur 2 15 % bagi kembar satu telur 61 86 %. b. Endokrin Dahulu dikira bahwa schizofrenia mungkin disebabkan oleh suatu gangguan endokrin dikemukakan berhubungan dengan sering timbulnya schizofrenia pada waktu pubertas, kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium, tetapi hal ini tidak dapat dibuktikan. c. Metabolisme Penelitian memakai obat halusinogenik seperti meskalin dan asam diethilamide (lsd 25) obat-obat ini menimbulkan gejala-gejala schizofrenia tetapi reversibel. Mungkin schizofrenia disebabkan oleh suatu inborn error of metabolism tetapi hubungan terakhir belum ditemukan. d. Susunan saraf pusat Ada yang mencari penyebab schizofrenia ke arah kelainan susunan syaraf pusat yaitu pada dienchepalon atau korteks otak. e. Teori psikogenik Schizofrenia dianggap sebagai gangguan fungsional dengan penyebab utama adalah konflik, stres psikologik dan hubungan antar manusia yang mengecewakan. f. Teori Adolf Meyer Schizofrenia tidak disebabkan oleh suatu penyakit badaniah karena dari dulu hingga sekarang para sarjana tidak menemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada susunan syaraf melainkan suatu proses maladaptasi maka timbul suatu disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang itu menjauhkan diri dari kenyataan. g. Teori lain Mengatakan schizofrenia disebabkan oleh keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi tekanan jiwa, penyakit badaniah, aterosklerosa otak dan penyakit yang lalu yang belum diketahui.

Sebagai ringkasan hingga sekarang belum diketahui sebab musabab schizofrenia. Dapat dikatakan bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh. Faktor yang mempercepat yang menjadikan manifest atau faktor pencetus seperti penyakit badaniah atau stress psikologik biasanya tidak menyebabkan schizofrenia walaupun pengaruhnya terhadap suatu penyakit schizofrenia yang sudah ada tidak dapat disangkal. 4. a. b. tahun) proses fikir. c. d. e. Schizofrenia Katatonik Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis schizofrenia Stupor, gaduh gelisah, menampilkan posisi tubuh tertentu. negativisme Depresi Pasca schizofrenia Pasien telah menderita schizofrenia selama 12 bulan terakhir Gejala-gejala schizofrenia masih tetap ada Gejala depresi menonjol Schizofrenia Residual Ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana yang memenuhi kriteria untuk diagnosis schizofrenia. intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang. f. Schizofrenia Simpleks Gangguan afektif dan dorongan kehendak serta gangguan Jenis-jenis schizofrenia Schizofrenia Paranoid Memenuhi kriteria umum diagnosis schizofrenia Halusinasi dan waham sangat menonjol Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan serSchizofrenia Hebefrenik Memenuhi kriteria umum diagnosis schizofrenia Ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda ( 15 25

ta gejala katatonik secara relatif tidak nyata

psikotik. g. h. 5. a. b. c. d. a. b. tidur. 6. a. 3 minggu. Pengobatan

Gejala negatif yang khas dari schizofrenia residual tanpa di-

dahului riwayat halusinasi waham atau manifestasi lain dari episode Disertai perubahan prilaku pribadi yang bermakna. Schizofrenia lainnya Schizofrenia YTT Gejala-gejala Gejala primer Gangguan proses pikiran Gangguan afek dan emosi Gangguan kemauan Gangguan psikomotor Gejala sekunder Waham Halusinasi Hendaya dalam daya kerja, hubungan sosial merawat diri. Penarikan diri dari lingkungan sosialnya Prilaku aneh Afek yang tumpul tidak serasi Isi bicara yang tidak jelas Pendapat tentang dirinya yang terlalu tinggi Persepsi yang tidak biasa, seperti merasa ada kekuatan dari Tidak ada hubungan yang hangat dengan orang tua. Kebiasaan yang tidak normal seperti sepanjang malam tidak

Dengan gambaran klinis penyerta sebagai berikut :

luar atau orang yang mempengaruhinya.

Farmakoterapi Neuroleptika dengan dosis efektif rendah Fenotiazin waham dan halusinasi hilang dalam waktu 2

b.

Terapi elektro konvulsi (TEK)

Terapi konvulsi dapat memperpendek serangan schizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita. c. d. Terapi koma insulin Psikoterapi dan rehabilitasi Memberi hasil yang baik pada katatonia dan schizofrenia paranoid. Psikoterapi suportif individual atau kelompok sangat membantu pasien kembali ke masyarakat, mendorong penderita untuk bergaul dengan orang lain, penderita lain dan dokter. e. B. KONSEP HALUSINASI 1. Pengertian persepsi sensori adalah ketidakmampuan individu dalam Gangguan Lobotomi prefrontal KEPERAWATAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI Dilakukan bila terapi klien tidak berhasil

mengidentifikasi dan menginterpretasi stimulus sesuai dengan informasi yang diterima melalui panca indera. Gangguan persepsi sensori ditandai oleh adanya halusinasi. a. Halusinasi adalah penerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indra seorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar/bangun, dasarnya mungkin organik, fungsional psikotik atau histerik (WF Maramis) hal 119. b. c. Halusinasi adalah pengalaman sensorik tanpa rangsangan dari luar Halusinasi adalah gangguan pencapaian (persepsi) panca indera (Cook J Sue), hal. 187. tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem pendengaran di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh/baik (Depkes RI Direktorat Kesehatan Jiwa, 1989 hal. 123). d. Halusinasi adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami perubahan dalam jumlah dan pola stimulus yang mendekat (yang diprakarsai secara internal atau eksternal). Disertai suatu pengurangan yang berlebihan, distorsi atau kelainan berespons terhadap setiap stimulus (Mary C Townsend). e. Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata artinya klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa stim-

ulus/rangsangan dari luar atau hilangnya kemampuan klien dalam membedakan rangsang internal dengan rangsang eksternal (Arsyad M, dkk, PBLK FIK-UI RIJP Bogor 2000). 2. a. Jenis-jenis halusinasi Halusinasi penglihatan/visual. Adalah terlihat bayangan berbentuk seperti orang, binatang, atau barang lain yang dikenalnya berwarna atau tidak dapat pula tidak berbentuk seperti sinar, kilapan cahaya). Tanpa adanya stimulus yang nyata. b. Halusinasi pendengaran Individu mendengar suara yang membicarakan, mengejek, atau mentertawakan dapat pula mendengar suara hewan, mesin, barang dan musik padahal tidak ada di sekitarnya. c. d. e. Halusinasi penciuman Halusinasi pengecap Halusinasi pembau Mencium suatu bau, tanpa stimulus yang nyata. Merasa mengecap sesuatu. Merasa diraba, disentuh, ditiup, disinari atau seperti ada ulat yang bergerak di bawah kulitnya. 3. Faktor penyebab Halusinasi dapat timbul dalam pelbagai modalitas indra, tapi beberapa jenis faktor organik cenderung menghasilkan halusinasi tertentu misalnya : alkohol cenderung mengakibatkan halusinasi auditorik, halusinogenika menimbulkan halusinasi visual. Faktor etiologgi yang paling sering adalah halusinogenika dan penggunaan alkohol jangka panjang, deprivasi sensorik seperti kebutaan atau ketulian juga fokus kejang khususnya pada lobus temporal, atau oksipital (PPDGJ II). Halusinasi tidak hanya terdapat pada klien dengan gangguan mental organik, psikosis atau schizofrenia tetapi juga terdapat pada klien dengan sindrom putus zat mental retardasi, klien dengan menggunakan halusinogenika juga gangguan tidur atau sensorik (shult dan judith). 4. Proses terjadinya

10

(Heber dkk) mengemukakan 4 fase terjadinya halusinasi : a. Fase I Klien mengalami kecemasan, stres, perasaan yang terpisah, kesepian. Klien mungkin melamun atau memfokuskan pikiran yang menyenangkan untuk menghilangkan stress. Klien masih dapat mengontrol kesadarannya, dan mengenal pikirannya. b. Fase II Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal klien berada pada tingkat Listening pada halusinasi. c. Fase III Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya pada halusinasinya. d. Fase IV Klien merasa terpaku dan tidak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi memerintah, mengancam, dan memarahi. Beberapa jam atau selamanya, proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi. 5. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Halusinasi Menurut Carpenito 1989 dikutip oleh Anna Budi Keliat, pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan klien, keluarga atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Asuhan keperawatan juga menggunakan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, menentukan masalah/diagnosa, menyusun rencana tindakan keperawatan, implementasi, dan evaluasi. 1. Pengkajian Berbagai aspek pengkajian sesuai dengan pedoman pengkajian umum pada formulir pengkajian proses keperawatan, berikut akan dijelaskan data yang mungkin terkait dengan halusinasi. a. Alasan masuk. Umumnya klien halusinasi dibawa ke rumah sakit karena keluarga merasa tidak mampu merawat dan terganggu karena prilaku klien. Untuk memperoleh data

11

alasan masuk dapat menanyakan : 1.) a.) b.) c.) 2.) 3.) Apa yang terjadi di rumah? Apakah klien sering bicara sendiri? Apakah klien sering mendengar suara-suara? Apakah klien sering marah-marah tanpa alasan? Apa yang telah dilakukan keluarga pada klien? Kemana keluarga minta pertolongan sebelum ke rumah sakit?

b. Faktor Predisposisi Faktor predisposisi yang mungkin mengakibatkan gangguan orientasi halusinasi adalah aspek biologis, psikologis dan sosial. Biologis Psikologis Sosial budaya : : : gangguan perkembangan dan fungsi otak keluarga, pengaruh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis dari klien. seperti kemiskinan, kerusuhan, kerawanan, peperangan, kehidupan menumpuk. c. Faktor Presipitasi Sosial budaya Teori ini mengemukakan bahwa stress lingkungan dapat menyebabkan terjadinya respon neurobiologik yang maladaptif misalnya lingkungan yang penuh kritik, kehilangan kemandirian, kehilangan harga diri, kesepian, tekanan dalam pekerjaan. Prilaku d. Faktor yang terkait dengan keadaan klien dan keluarga saat ini. Aspek lain yang sangat penting dikaji lebih lanjut adalah : 1.) Sistem pendukung Sumber daya atau dukungan sosial yang dimiliki klien perlu dikaji untuk dapat diberdayakan merawat klien di rumah sakit dan di rumah. Data yang perlu dikaji dari keluarga adalah kemampuan finansial, waktu dan tenaga yang tersedia merawat klien, pengetahuan dan kemampuan keluarga merawat klien. kondisi keluarga yang juga perlu dikaji adalah komunikasi dalam keluarga baik waktu maupun kwalitasnya. 2.) Respon koping (rentang respon) yang terisolasi disertai stress yang

12

Respon klien atau gejala dan tanda yang dapat di deteksi dari klien adalah berbagai respon yang terkait dengan fungsi otak. Respon perilaku klien dapat di identifikasi sepanjang rantang reapon sehingga perawat dapat menilai apakah respon klien masih adaptif atau maladaptif.

Rentang respon neurobiologik Respon adaptif Pikiran logis Persepsi akurat Emosi konsisten dengan pengalaman Perilaku cocok Hubungan sosial Harmonis - Kadang-kadang proses pikir terganggu - Ilusi - Emosi berlebihan atau kurang - Prilaku yang tidak biasa - Menarik diri membantu klien mengembangkan prilaku adaptif. e. Fisik f. Hubungan sosial Menarik diri Komunikasi verbal terganggu Bicara inkonheren dan tidak masuk akal Merusak diri sendiri/orang lain/lingkungan Muka merah, kadang pucat Tekanan darah meningkat Nafas terengah-engah Nadi cepat Respon Maladaptif - Gangguan proses fikir/waham - Halusinasi - Kesukaran proses emosi - Perilaku tidak terorganisir. - Isolasi sosial

Jika perawat menemukan respon maladaptif maka rencana keperawatan adalah

13

g. Status mental berubah dari biasanya. disertai prilaku apatis. Afek merupakan prilaku yang tampak diekspresikan pada saat klien mengalami perasaan emosi tertentu, afek yang maladaptif adalah tumpul, datar, tidak sesuai. Interaksi selama wawancara. Bermusuhan, mudah tersinggung, nampak bercakap-cakap/komat kamit, ketawa sendiri yang tidak terkait dengan pembicaraan. Persepsi : Halusinasi merupakan salah satu respon neurobiologik yang maladaptif dimana klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus/rangsangan dari luar. Proses fikir : Proses informasi yang tidak berfungsi dengan baik akan mempengaruhi proses berfikir sehingga memberi dampak pada proses mungkin komunikasi inkonheren, dalam tidak berkomunikasi Pembicaraan tidak terorganisir dan bentuknya yang Aktifitas motorik meningkat atau menurun, imfulsif, Alam perasaan dapat berupa suasana emosi yang maladaptif seperti kehilangan hubungan, tidak logis dan berbelit-belit. kataton dan beberapa gerakan-gerakan yang abnormal. memanjang akibat dari faktor presipitasi misalnya sedih dan putus asa Penampilan diri yang tidak rapi, tidak serasi dan

berhubungan, berbelit dan tidak logis. Tingkat kesadaran : Kesadaran akan realitas merupakan hal yang perlu dikaji yaitu orientasi waktu, tempat dan orang Daya ingat : Prilaku yang terkait erat dengan daya ingat adalah muda lupa, kurang mampu menjalankan peraturan yang telah disepakati, tidak mudah tertarik. Klien berulangkali menanyakan waktu, menanyakan apakah tugasnya sudah ia kerjakan dengan baik, permisi atas suatu hal.

14

Tingkat konsentrasi/perhatian.

Kemampuan memperhatikan yang sering terganggu pada klien halusinasi adalah kemampuan menyelesaikan tugas, sukar berkonsentrasi pada kegiatan atau pekerjaan dan perhatian mudah beralih. 2. Diagnosa Keperawatan Masalah keperawatan Dari pengkajian dapat disimpulkan masalah keperawatan yang dapat ditemukan pada klien gangguan orientasi realita yaitu : dan lingkungan 1.) 2.) 3.) 4.) 3. Rencana Tindakan Keperawatan Pada Rencana tindakan keperawatan pada diagnosa utama yaitu resiko prilaku kekerasan diarahkan pada diri sendiri/lingkungannya berhubungan dengan halusinasi dengar/visual. a. Tujuan umum b. Tujuan khusus : Klien tidak mencederai diri/orang lain/lingkungan. : Perubahan persepsi sensori halusinasi Kerusakan interaksi sosial ; menarik diri Gangguan konsep diri ; harga diri rendah Kurangnya perawatan diri. Kerusakan komunikasi verbal Isolasi sosial Diagnosa : Resiko prilaku kekerasan diarahkan pada Perubahan persepsi sensori halusinasi diri sendiri /lingkungan berhubungan dengan halusinasi berhubungan dengan harga diri rendah. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri Kurangnya perawatan diri berhubungan berhubungan dengan harga diri rendah. dengan kurangnya motivasi untuk merawat diri. Resiko prilaku kekerasan diarahkan pada diri sendiri Daya tilik diri : Klien halusinasi mengalami ketidakmampuan dalam mengambil keputusan.

15

1.) 2.) 3.) 4.) 5.)

Klien dapat membina hubungan saling percaya. Klien dapat mengenal halusinasinya. Klien dapat mengendalikan halusinasinya. Klien dapat dukungan keluarga dalam mengendalikan

halusinasinya. Klien dapat memanfaatkan obat yang baik. c. Tindakan Keperawatan 1.) Psikoterapeutik 1.1 Klien dapat membina hubungan saling percaya. 1.1.1. Bina hubungan saling percaya 1.1.2. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya 1.1.3. Dengarkan ungkapan klien dengan empati 1.2.Klien dapat mengenal halusinasinya. 1.2.1. Lakukan kontak sering dan singkat 1.2.2. Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya. 1.2.3. Bantu klien untuk mengenal halusinasinya. 1.2.3.1 Jika menemukan klien sedang halusinasi, tanyakan apakah ada suara yang didengar. 1.2.3.2 Jika klien adu, lanjutkan apa yang dikatakan. 1.2.3.3 Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu, namun perawat sendiri tidak mendengarnya. 1.2.3.4 Katakan bahwa klien lain juga ada seperti klien 1.2.3.5 Katakan bahwa perawat akan membantu klien. 1.2.4 Diskusikan dengan klien : 1.2.4.1 Situasi yang menimbulkan/tidak menimbulkan halusinasi. 1.2.4.2 Waktu dan frekwensi/terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore, malam atau jika sendiri/jika jengkel/sedih. 1.2.5 Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi. (marah/takut/sedih/senang). perasaannya. 1.3. Klien dapat mengendalikan halusinasinya 1.3.1. Identifikasi bersama klien cara/tindakan yang biasanya dilakukan Beri kesempatan mengungkapkan

16

jika terjadi halusinasi. 1.3.2. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, jika bermanfaat beri pujian. 1.3.3. Diskusikan cara baru untuk memutus/mengendalikan timbulnya halusinasi. 1.3.4. Bantu klien memilih dan melatih cara memutus halusinasi secara bertahap. 1.3.5. Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih, evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil. 1.3.6. Anjurkan mengikuti terapi oktivitas kelompok. 1.4. Klien dapat dukungan keluarga dalam mengendalikan halusinasinya. 1.4.1. Anjurkan klien memberitahu keluarga jika mengalami halusinasi 1.4.2. Diskusikan dengan keluarga (pada saat keduanya berkunjung) tentang: 1.4.2.1 1.4.2.2 1.4.2.3 Gejala halusinasi yang dialami klien Cara yang dapat dilakukan klien dan

keluarga untuk memutuskan halusinasi Cara merawat anggota keluarga dengan halusinasi di rumah. 1.5. Klien dapat memanfaatkan obat yang baik 1.5.1 Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, manfaat dan frekuensi obat. 1.5.2 Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat. Merasakan manfaatnya. 1.5.3 Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang efek samping obat. 1.5.4 Diskusikan akibat berhenti obat tanpa konsultasi 1.5.5 Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar. b. Lingkungan terapeutik 1. Menciptakan lingkungan fisik yang menguatkan realitas 1.1. Menyediakan alat petunjuk waktu seperti jam 1.2. Memberi tanda/nama pada setiap tempat ruang rawat. 2. Menciptakan lingkungan sosial 2.1. Memanggil nama pasien sesuai nama yang disuka.

17

2.2. Memakai papan nama petugas 2.3. Mengenalkan nama pasien dalam kegiatan kelompok 2.4. Mengenalkan pasien pada tempat-tempat umum di rumah sakit 3. Memberi pujian atas keberhasilan klien c. Kegiatan hidup sehari-hari 1. Membimbing pasien memenuhi kebutuhan nutrisi 1.1.Memantau pola makan pasien. 1.2 Menjelaskan pada pasien bahwa makanan dan minuman yang cukup perlu untuk kesehatannya. 1.3 Mengijinkan pasien mengganti makanan apabila dia mempunyai persepsi yang salah mengenai makanan tertentu. 1.4 Mengajak pasien makan bersama dengan pasien lain. 2. Membimbing pasien melaksanakan kebersihan diri 2.1 Memberikan pengertian kepada pasien manfaat perawatan diri. 2.2 Membimbing pasien untuk mandi, gosok gigi, keramas, berhias serta berpakaian yang rapi. 3. Membimbing pasien melakukan aktifitas 3.1 Mengikutsertakan pasien dalam aktivitas yang disukai, dapat diselesaikan dengan baik dan dalam waktu yang singkat. 3.2 Membantu pasien memilih aktifitas yang dilakukan bersama dengan orang lain. 4. Implementasi Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan klien sesuai dengan kondisinya saat ini (here and now). Perawat juga menilai diri sendiri apakah mempunyai kemampuan interpersonal, intelektual, teknikal sesuai dengan tindakan yang dilaksanakan. 5. Evaluasi Pada akhir perawatan diharapkan : a. Klien mampu : diajarkan. Memutus halusinasi dengan berbagai cara yang telah

18

yang dibuat klien. lingkungan. b. Keluarga mampu : -

Melakukan kegiatan hidup sehari-hari sesuai jadwal Meminta bantuan keluarga Menggunakan obat dengan benar Melakukan follow up secara teratur Membina dan mempertahankan hubungan dengan Tidak menciderai diri sendiri, orang lain atau

orang lain tanpa rasa curiga.

Mengidentifikasi gejala halusinasi Merawat klien di rumah, cara memutus halusinasi, Menolong klien menggunakan obat dan follow up.

mendukung kegiatan klien

19

20