Anda di halaman 1dari 9

PEMANTAUAN PERTIKEL ALPHA DI UDARA PADA RUANG TERTUTUP

Suparno, Elisabeth, Supriyatni Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Maju Batan Yogyakarta

ABSTRAK PEMANTAUAN PARTIKEL ALPHA DI UDARA PADA RUANG TERTUTUP. Telah dilakukan pemantauan partikel alpha di udara pada ruang tertutup gudang bahan nuklir gedung 13 dan ruang fasilitas kaibrasi gedung 22. Tujuan pemantauan ini adalah untuk megetahui konsentrasi radionuklida pemancar alpha. Empat ruangan ditutup selama 6 hari, dan 3 hari kemudian dilakukuan penghisapan udara dengan Pompa hisap merk STAPLEX dan filter yang digunakan jenis fiber glass, lama penghisapan 20 menit, kemudian filter di ambil, dicacah dengan alat cacah sintilasi alpha selama 10 menit dengan waktu tunda 5 menit dan 25 menit, hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi radionuklida pemancar alpha/total alpha di udara antara (0,343 6,389).10-12 Ci/cc, hasil ini lebih besar dari batas yang diijinkan untuk campuran nuklida di udara yang tidak diketahui komposisinya, menurut SK Dirjen Batan no. 24/DJ/II/1983. Konsentrasi Rn-222 paling tinggi 2,3850,485.10-11 Ci/cc, dan ini masih jauh berada dibawah batas yang diijinkan untuk Radon dan anak turunnya yang besarnya 7,3x10-7 Ci/cc (Suwarno,1986).

PENDAHULUAN Pada dasawarsa terakhir ini penggunaan teknologi nuklir berkembang dengan pesatnya Penerapan teknologi ini selalu berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan dan keberhasilan yang terjadi, tergantung sejauh mana penerapan tersebut dihubungkan dan diintegrasikan dalam segi-segi keselamatan, resiko kecelakaan dan manfaat bagi kepentingan umum. Seperti bahaya radiasi yang di timbulkan oleh penerapan teknologi nuklir, tidak lepas dari resiko kecelakaan dan jaminan keselatan terhadap efek-efek negatif yang mungkin terjadi. Pemantauan ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat radioaktivitas udara yang terjadi pada ruang tertutup di gudang bahan nuklir dan lingkungannya khususnya terhadap partikel alpha. Hal ini dilakukan agar dapat memproleh gambaran tingkat radiasi yang diterima oleh pekerja radiasi dan masyarakat umum. Radioaktivitas udara dapat berasal dari radiasi alam (sinar kosmis, radiasi primordial) dan radiasi buatan (radioisotop buatan, reaktor nuklir, pesawat sinar x dan lain-lain). Radioaktivitas alam banyak berasal dari interaksi sinar kosmis dengan atmosfir dan peluruhan zat radioaktif yang sudah ada semenjak bumi ini tercipta. Diantaranya adalah U-238, Th-232, U-235 dengan umur paro sangat panjang. Gas radon merupakan satu-satunya gas radioaktif alam yang berasal dari hasil peluruhan Uranium dan Thorium di perut bumi. Dialam dikenal tiga isotop gas radon yaitu Rn-222 dengan umur paro 3,825 hari, gas Thoron (Rn-220) yang mempunyai umur paro 54,5 detik dan yang ketiga adalah Aktinon (Rn-219) yang mempunyai umur paro 3,92 detik, Ketiga-tiganya radionuklida tersebut adalah berasl dari rantai

peluruhan alam yang disebut deret Uranium, deret Thorium dan deret Aktinium. Isotop induk Rn-222 adalah U-238, Rn-220 adalah Th-232 dan Rn-219 adalah U-235. Di alam U-238 terdepat lebih banyak yaitu sekitar 140 kalinya Th-232 maupun U-235, oleh karena itu gas radon merupakan gas abadi yang radioaktif, maka selama dalam perjalanan ia akan meluruh sambil memancarkan zarah alpha, beta maupun gamma hingga menjadi unsur stabilnya. Karena bentuknya gas abadi, maka Radon hanya dapat ditemukan dan dideteksi/diukur di udara karena melekat pada partikel-partikel udara. Untuk meniadakan akibat bahaya radiasi dari alam sama sekali tidak mungkin, karena hal ini berarti menghilangkan sumber radiasi penimbulnya. Kondisi yang dapat dilakukan alam penerapan dan pengembangan teknologi nuklir adalah mengurangi atau memperkecil penambahan radiasi buatan kelingkungan serta melakukan deteksi yang tepat untuk mengetahui tingkat radiasi yang terjadi. Pengukuran radioaktivitas alpha secara kantitatif dilakukan untuk menentukan konsentrasi dari satu jenis pemancar alpha atau menentukan konsentrasi dari campuran lebih dari satu jenis pemancar. Pengukuran radioaktivitas alpha secara kuantitatif dari satu jenis pemancar alpha biasanya cuplikan perlu proses pemisahan dari nuklida pemancar alpha yang lain, sehingga yang diukur hanyalah pemancar alpha yang dikehendaki, sedangkan pada pengukuran radioaktivitas gros alpha, tidak memerlukan proses pemisahan, sehingga yang terukur adalah semua pemancar alpha dari campuran nuklida yang ada. Pada pemantauan ini dilakukan dengan menggunakan sistim pemantauan gross alpha. Detektor yang digunakan adalah detektor sintilasi.

TATA KERJA Bahan kerja yang dipakai Filter jenis fiber glass Sumber radiasi alpha kertas kerja

Alat kerja yang dipakai Pompa hisap Udara merk STAPLEX Unit Pompa Vakum, Cawan petridis Unit Spektroskopi alpha Pinset dan gunting Unit MCA Unit pencacah sintilasi alpha

Cara kerja

Menentukan kestabilan alat dan efisiensi detektor (test chi-kuadrat) menghidupkan sumber daya dan mengatur tegangan operasi 270 Volt memasukkan sumber radiasi alpha Am-241 kedalam shilding yang dilengkapi detektor melakukan pencacahan dengan waktu cacah 1 menit dan diulang sampai 10 kali. Pencacahan cuplikan a. Filter diberi tanda/dilingkari sesuai dengan ukuran diameter detektor, kemudian dipasang pada pompa hisap dan dioperasikan selama 20 menit b. Filter dipotong sesuai dengan ukuran diameter detektor c. Filter diccah dengan waktu tunda 5 menit, lama pencacahan 10 menit d. Kemudian filter dicacah lagi selama 10 menit dengan waktu tunda 25 menit. e. Konsentrasi radionukida di udara dapat dihitung dengan persamaan:

Cc

e t C0
d

2.22 x106 E f QEd 1 e ts 1 e tc


A = N CN Q ts Ef (2)

Ci / cc

(1)

1. Perhitungan cacah Cacah netto (td = 5 menit)

{(Cs Cb) (s + b) {(394,4 0,3) (39,44 + 0,03) cpm 394,1 6,283 cpm
Cacah netto (td = 25 menit)

{(Cs Cb) (s + b) {(305,5 0,3) (30,55 + 0,03) cpm 305,2 5,529 cpm
2. Perhitungan konstanta peluruhan ()

At = Ao e-t
[ ]

3. Perhitungan waktu paruh ( T1/2) T1/2

0,693/0,013 menit = 54,141 menit

4. Perhitungan efisiensi filter (Ef) Pada percobaan ini telah diketahui bahwa filter jenis fiber glass mempunyai efisiensi sebesar 98,5%. 5. Perhitungan debit pompa hisap (Q) Pada saat penghisap Q 30 ft3/mnit sehingga Q = 30 ft3/mnit X 30,48 (cm/ft)3= 849505,398 cm3/menit 6. Perhitungan konsentrasi radionuklida (cc) :

Cc

e t C0
d

2.22 x106 E f QEd 1 e ts 1 e tc

Ci / cc

= (3,321 0,053) X 10-12 Ci/cc Keterangan : ts = Waktu sampling,menit td = Waktu tunda,menit tc = Waktu cacah,menit = konstanta peluruhan,menit-1 Q = debit penghisapan, cc/menit Co = cacah yang diperoleh selama tc

Ef = efisiensi filter Ed = Efisiensi detektor Cs = hasil pencacaha sampel/menit Cb = hasil pencacahan latar/menit s = Cs/menit b= Cb/menit

Contoh perhitungan konsentrasi radioaktivitas Rn-222 A = N CN Q ts Ef K Dimana CN = 10-12 Ci/cc Q = 849505,398 cm3/menit Ts = 20 menit K = Faktor koreksi, untuk RaA = 0,22 RaB = 1,41 RaC = 0,9 A RaA = 10-12 Ci/cc x 849505,398 cm3/menit x 20 menit x 0,985 x 0,22 = 3,682.10-6 Ci = 8,171 dpm A RaB = 10-12 Ci/cc x 849505,398 cm3/menit x 20 menit x 0,985 x 1,41

= 2,360.10-5 Ci = 52,375 dpm A RaC = 10-12 Ci/cc x 849505,398 cm3/menit x 20 menit x 0,985 x 0,9 = 1,506.10-5 Ci = 33,422 dpm A(RaB+RaC) = 52,375 + 33,422 = 85,797 dpm Harga rata-rata radioaktivitas RaB + RaC dari t = 5 sampai 15 (pencacahan 10 menit) dengan pengambilan cacah awal sebesar 85,797 dpm diperoleh D5-15 =

x 85,797 = 77,051 dpm = 770,51 d menit

770,51 d/10 menit gross = 10-12 5 Ci/cc Rn-222


Dari hasol perhitungan pencacahan gross untuk cacah terbesar (ruangan A) dengan penutupan 6 hari/ pada td = 5 menit adalah 758,8 cacah/menit D = C/ Ed

= 758,8 / 0,413 = 1837,288 d/10 menit Konversi ke konsentrasi radioaktivitas Rn-222 =

= 10-12

Ci/cc

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengukuran radioaktivitas alpha di udara dengan sistem filter sampling dari ruangan tertutup telah dilakukan dilingkungan P3TM-BATAN Yogyakarta. Apabila kita mengambil sampel udara maka sampel tersebut terdiri dari campuran raionuklida-radionulida yang mungkin kompleks dan tidak kita ketahui susunannya. Untuk mengetahui konsentrasi radionuklida dalam udara digunakan alat pencacah alpha yang nilainya dalam gross/ alpha total. Perhitungan kandungan partikel alpha di dara Hasil yang diperoleh dari pencacah sintilasi alpha terlebih dahulu dikurangi cacah latar yang disebabkan oleh radioaktivitas alam yang terbawa udara dalam bentuk partikel debu/ di dalam ruang

detektor atau disebabkan karena kondisi elektronik alat, yang telah memberi hasil pencacahan tanpa sumber di depan detektor. Perhitungan konsentrasi adionuklida di udara diperoleh dari persamaan (1) dan selanjutnya dapat disajikan dalam tabel 1 dan 2 Dari hasil perhitunagn ternyata konsentrasi radionuklida-radionukida di udara dalam ruangan tertutup untuk pentupan 6 hari (1,1030,031 s/d 6,3890,073) 10-12 Ci/cc, dan penutupan 3 hari (0,3430,016 s/d 4,7110,063) 10-12 Ci/cc. Hasil ini sebagian ada yang lebih kecil dan sebagian lebih besar dari konsentrasi tertinggi yang diijinkan untuk campuran radionuklida dalam udara yang tidak diketahui komposisinya bagi pekerja radiasi maupun masyarakat. Tetapi radionuklida-radionuklida yang terfilter dari udara di lingkungan P3TM adalah radionuklida alam, bukan dari kontaminan. Hal ini dapat kita ketahui pada saat pengambilan sampel tidak ada sumber radioaktif terbuka di dalam ruangan tersebut. Dari pencacahan dalam 2 waktu tunda sudah dapat menunjukkan bahwa konstanta peluruhan sekitar 0,009 0,019/menit yang merupakan cirikhas peluruhan anak turun Rn-222. Hasil perhitungan pada saat ruangan ditutup konsentrasinya lebih tinggi, hal tersebut karena radionuklida-radionuklida yang ada terkukung di dalam ruangan. Ini menunjukkan bahwa radionuklida di dalam ruangan banyak yang berasal dari bahan bangunan yang berdifusi ke luar. Oleh karena itu ventilasi yang baik diperlukan sekali agar radionukida dan kontaminan lain tidak terakumulasi dalam ruangan kerja tersebut. Dalam pengambilan sampel dari empat ruangan terjadi perbedaan konsentrasi dan konstanta peluruhan. Ini karena proses peluruhan yang acak, pertukaran udara yang tidak selalu sama sehingga kemungkinan gas Rn-22 yang melekat di debu/partikel di ruangan juga berbeda. Selain itu lamanya penghisapan juga mempengaruhi konsentrasi yang kita dapatkan. Lama penghisapan yang optimal adalah 20 menit (Drs Suratman) dan apabila terlalu lama penghisapan, akan terjadi penurunan konsentrasi, sehingga hasilnya lebih kecil dari sesungguhnya. Penurunan ini disebabkan pada penghisapan yang terlalu lama terjadi kejenuhan, bertambahnya partikel yang melekat di filter tidak menyebabkan peningkatan cacah alpha karena T 1/2 Radon/radionuklida yang teruukr sangat pendek dibanding dengan lama pencacahan, sehingga kemungkinan sudah meluruh sebagian pada saat penghisapan.

Konsentrasi radionukida-radionuklida dalam udara di lingkungan P3TM dari empat ruang tertutup diatas, apabila dibandingkan dengan batas yang diijinkan untuk konsentrasi Rn-22 di udara yang besarnya 7,3.10-7 Ci/cc masih jauh di bawahnya untuk pekerja radiasi. Dari hasil perhitungan didapatkan konsentrasi Rn-222 seperti yang disajikan dalam tabel 3. KESIMPULAN Dari percobaan pengukuran radioaktivitas udara dengan menggunakan analisis kuntitatif, yaitu dengan sistem pencacah dan analisis kualitatif dengan Spektroskopi alpha dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa : a. Konsentrasi partikel alpha di udara pada ruang tertutup (berturut-turut) selama 6 hari, dan 3 hari yaitu (1,1030,031 s/d 6,3890,073) 10-12 Ci/cc dan (0,3430,016 s/d 4,7110,063) 10-12 Ci/cc, di empat ruangan ini sebagian besar telah melampaui batas yang diijinkan untuk campuran radionuklida di udara yang tidak diketahui komposisinya bagi pekerja radiasi yang

besarnya 1 x 10-12 Ci/cc (SK Dirjend. BATAN No. 24/DJ/II/1983) bahkan sampai 6 kali lebih besar. b. Radionukida-radionuklida yang terdapat dalam ruang tertutup ini merupakan nukida alam yang berasal dari Rn-222 dan anak turunnya. c. Konsentrasi Rn-222 paling tinggi terdapat di ruang tertutup selama 6 hari sebesar (2,2380,485).10-11 Ci/cc, sedangkan yang ditutup selama 3 hari dan 1 hari lebih kecil. Hasil analisis ini masih jauh berada dibawah batas yang diijinkan untuk konsentrasi Rn-222 di udara yang besarnya 7,3 x 10-7 Ci/cc bagi pekerja radiasi.

DAFTAR PUSTAKA 1. Moe. H.J., Lasuk. S.R., 1975, Radiation Safety Techician Training Course, Argone National Laboratory. 2. Djokolelono, Mursid, 1977, Radioaktivitas udara dalam Ruangan dan Lingkungan, PPGM BATAN, Yogyakarta. 3. Suwarno, 1986, Kumpulan Diktat Proteksi Radiasi, Pusat Pendidikan Pelatihan, Badan Tenaga Atom Nasional, Yogyakarta. 4. Wardana, Wisnu Arya, 1984, Teknik Analisis Radioaktivitas Lingkungan, Jurusan teknik Nuklir FT-UGM, Yogyakarta. 5. Suratman,1997,Pengukuran Radioaktivitas , Pusat Penelitian Nuklir Yogyakarta,BATAN,Yogyakarta. 6. Suyitno, Tjipto, 1984, Pengukuran Radioaktivitas Udara dengan Metode Spektroskopi Alfa, Pusat Penelitian Nuklir Yogyakarta, BATAN, Yogyakarta. 7. BATAN, Ketentuan Keselamatan Kerja terhadap Radiasi (SK Dirjen BATAN No. PN 03/160/DJ/89),jakarta,1989.

Tanya Jawab 1. Apakah sumber standar yang digunakan? Am-241 adalah sumber radioaktif yang memancarkan partikel dan photon. Intensitas pancaran partikel masing-masing sekitar 85,2% (untuk energi kinetik 5486 keV) dan 12,8% (untuk energi kinetik 5443 keV). Intensitas photon terbesar adalah 35,7% (untuk energi kinetik 59,5 keV). Waktu paro sangat panjang, yaitu 432,2 tahun. Dengan memperthatikan sifat-sifat tersebut diatas, maka Am-241 sangat baik untk dipergunakan sebagai sumber standar untuk mengkalibrasi perangkat nuklir terutama pemancar alpha.

2. Pada persamaan 1 terdapat 2 konstanta peluruhan (), coba tolong jelaskan perbedaannya? Konstannta di sini merupakan nilai dari cacah yang didapat pada setiap waktu tunda. yang pertama hasil pencacahan sampel per menit pada waktu tunda td = 5 menit, sedangkan yang kedua hasil pencacahan sampel per menit pada waktu tunda td = 25 menit. 3. Pada persamaan 2, darimana didapat nilai K merupakan Faktor koreksi untuk RaA,RaB, dan Rac? Faktor koreksi ialah nilai untuk mengaukuratkan perhitungan dengan melihat faktor khas dari nuklida. RaA, RaB, RaC merupakan anak luruh dari radon-222. Nilai koreksi untuk RaB paling besar hal ini dapat dilihat dari waktu paro RaB yang lebih panjang dari RaA dan RaC.

MAKALAH KULIAH ANALISIS RADIOAKTIVITAS LINGKUNGAN


PEMANTAUAN PARTIKEL ALPHA DIUDARA PADA RUANG TERTUTUP

Penelitian oleh : Suparno dkk Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Maju BATAN Yogyakarta

Ditulis ulang oleh : Aziz Saputra 08/265922/TK/33895

PROGRAM STUDI TEKNIK NUKLIR FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK FISIKA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012