Anda di halaman 1dari 21

BAB I STATUS PASIEN ILMU PENYAKIT MATA RSPAD GATOT SUBROTO I.

IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Usia Agama Pekerjaan Alamat II. ANAMNESIS Didapatkan dari autoanamnesis pada tanggal 4 Juni 2012 Keluhan utama : penglihatan kedua mata buram secara perlahan sejak satu bulan sebelum datang ke Poliklinik Mata RSPAD. Keluhan tambahan Riwayat Perjalanan Penyakit : melihat ganda saat sedang menulis. : : Ny. S : Perempuan : 41 tahun : Islam : Karyawati : Kayu Manis, Jakarta Timur

Pasien datang dengan keluhan penglihatan pada kedua mata buram secara perlahan tanpa disertai mata merah sejak satu bulan sebelum ke poliklinik Mata RSPAD. Pasien juga mengeluhkan penglihatan ganda saat sedang menulis namun keluhan ini tidak selalu timbul. Pasien belum pernah menggunakan kacamata untuk melihat jauh dan kacamata baca sebelumnya. Pasien menyangkal keluhan sakit kepala, sering menabrak benda-benda di sekitar dan rasa silau pada kedua mata. Pasien juga tidak sulit untuk melihat dari tempat gelap ke tempat terang.

Pasien menyangkal menggunakan obat-obatan paru selama 6 bulan atau lebih dan obat-obatan malaria. Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat Diabetes Melitus disangkal Riwayat Hipertensi disangkal Riwayat Trauma Mata disangkal III. PEMERIKSAAN FISIK A. STATUS GENERALIS Keadaan umum Kesadaran Tanda vital - Tekanan darah - Nadi - Suhu - Frekuensi nafas Kepala THT Leher Jantung Paru-paru Abdomen Ekstremitas : tidak tampak sakit : Compos Mentis : : 130/80 mmHg : 80 x/menit : Afebris : 20 x/menit : Normocephal : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Akral hangat, udema (-)

B. STATUS OFTAMOLOGIKUS 1. Visus KETERANGAN Tajam Penglihatan Koreksi Addisi Distansia pupil OD 6/20, PH maju C -1,25 x 90 S +1,25, Jaeger 2 60/62 mm OS 6/20, PH maju C -1,25 x 90 S +1,25, Jaeger 2

Kacamata lama 2. Kedudukan Bola Mata KETERANGAN Eksoftalmus Endoftalmus Deviasi Gerakan bola mata 3. Super Silia KETERANGAN Warna Letak KETERANGAN Edema Nyeri tekan Ektropion Entropion Blefarospasme Sikatrik Fissura palpebra Ptosis Hordeolum Kalazion Pseudoptosis Lagofthalmos KETERANGAN Hiperemis Folikel Papil Sikatrik

Tidak ada

Tidak ada

OD Tidak ada Tidak ada Tidak ada Baik ke segala arah

OS Tidak ada Tidak ada Tidak ada Baik ke segala arah

OD Hitam Simetris OD Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada 10 mm Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada OD Tidak hiperemis Tidak ada Tidak ada Tidak ada

OS Hitam Simetris OS Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada 10 mm Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada OS Tidak hiperemis Tidak ada Tidak ada Tidak ada

4. Palpebra Superior dan Inferior

5. Konjungtiva Tarsalis Superior dan Inferior

Anemia 6. Konjungtiva Bulbi KETERANGAN Injeksi Konjungtiva Injeksi Siliar Perdarahan Subkonjungtiva Pterigium Pinguekula Nevus Pigmentosus Kista Dermoid 7. Sistem Lakrimalis KETERANGAN Punctum lakrimalis Tes Anel 8. Sklera KETERANGAN Warna Ikterik 9. Kornea KETERANGAN Kejernihan Permukaan Ukuran Sensibilitas Infiltrat Ulkus/sikatrik Perforasi Arkus Senilis Edema Tes Plasido 10. Bilik Mata Depan KETERANGAN Kedalaman Kejernihan Hifema Hipopion Efek Tyndall 11. Iris KETERANGAN Warna

Tidak anemia OD Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada OD Terbuka Tidak dilakukan OD Putih Tidak ikterik OD Jernih Licin 12 mm Baik Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Positif OD Dalam Jernih Tidak ada Tidak ada Negatif OD Coklat-kehitaman

Tidak anemia OS Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada OS Terbuka Tidak dilakukan OS Putih Tidak ikterik OS Jernih Licin 12 mm Baik Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Positif OS Dalam Jernih Tidak ada Tidak ada Negatif OS Coklat-kehitaman

Kriptae Bentuk Sinekia Koloboma 12. Pupil KETERANGAN Letak Bentuk Ukuran Refleks cahaya langsung Refleks cahaya tidak langsung
13. Lensa

Jelas Bulat Tidak ada Tidak ada OD Sentral Bulat 3 mm Positif Positif

Jelas Bulat Tidak ada Tidak ada OS Sentral Bulat 3 mm Positif Positif

KETERANGAN Kejernihan Letak Shadow Test

OD Jernih Di tengah Tidak dilakukan

OS Jernih Di tengah Tidak dilakukan

14. Badan Kaca KETERANGAN Kejernihan 15. Fundus Okuli KETERANGAN A. Papil - Bentuk - Batas - Warna - CD ratio B. Makula Lutea - Refleks - Edema C. Retina - Perdarahan Positif Tidak ada Tidak ada Positif Tidak ada Tidak ada OD Jernih OD Bulat Jelas Kuning kemerahan 0,3 OS Jernih OS Bulat Jelas Kuning kemerahan 0,3

- Robekan - Rasio A/V - Sikatrik 16. Palpasi KETERANGAN Nyeri tekan Massa tumor Tensi Okuli Tonometri Schiotz 17. Kampus Visi KETERANGAN Tes Konfrontasi IV. RESUME

Tidak ada 2:3 Tidak ada OD Ada Tidak ada Normal / palpasi Tidak dilakukan OD Sesuai dengan pemeriksa

Tidak ada 2:3 Tidak ada OS Tidak ada Tidak ada Normal / palpasi Tidak dilakukan OS Sesuai dengan pemeriksa

Pasien perempuan umur 41 tahun, datang dengan keluhan penglihatan kedua mata kabur perlahan sejak satu bulan sebelum datang ke Poli Mata RSPAD. Pasien juga mengeluh penglihatan ganda saat sedang menulis namun tidak selalu timbul. Dari status oftalmologi didapatkan: ODS:

Tajam penglihatan 6/20 dengan pin hole maju Koreksi: C -1,25 x 90 Addisi: S +1,25 Tes Plasido: (+)

V.

DIAGNOSIS KERJA ODS: Astigmatisme miopikus simpleks ODS Presbiopia

VI.

DIAGNOSIS BANDING ODS : Tidak ada

VII.

ANJURAN PEMERIKSAAN Tidak ada

VIII. PENATALAKSANAAN ODS: Memakai kacamata untuk kelainan refraksi IX. PROGNOSIS OD Ad Vitam Ad Functionam Ad Sanationam : : : bonam bonam bonam OS bonam bonam bonam

BAB II PEMBAHASAN KASUS ASTIGMATISME Pada kasus ini, pasien didiagnosis atigmatisme miopikus simpleks ODS dan presbiopi berdasarkan: 1.Anamnesis. Pada anamnesis diketahui keluhan pasien yaitu: Penglihatan kedua mata buram secara perlahan sejak satu bulan SMRS dan melihat double saat menulis. Pasien menyangkal keluhan sakit kepala, sering menabrak bendabenda di sekitar dan rasa silau pada kedua mata. Pasien juga tidak sulit untuk melihat dari tempat gelap ke tempat terang. Poin pertama mendukung ke arah diagnosis mata tenang visus turun perlahan yaitu kelainan refraksi (ametropia dan presbiopia).

Poin kedua menyingkirkan diagnosis banding mata tenang visus turun perlahan lainnya, yaitu: katarak, glaukoma kronik, kelainan makula dan retina.

2.

Pemeriksaan oftalmologi. Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan hal-hal yang menunjang diagnosis, yaitu: Pada pemeriksaan visus didapatkan VOD dan VOS 6/20 dengan pin hole visus maju dan dapat dikoreksi dengan C-0,50 x 90 serta lensa addisi S +1,50, Jaeger 2 Tes plasido positif Penemuan fisik mendukung adanya astigmatisme miopikus simpleks dan presbiopi.

Adanya presbiopi juga didukung oleh umur pasien.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA ASTIGMATISME I. Definisi Astigmatisme adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar sejajar dengan garis pandang oleh mata tanpa akomodasi dibiaskan tidak pada satu titik tetapi lebih dari satu titik.1 II. Epidemiologi Prevalensi global kelainan refraksi diperkirakan sekitar 800 juta sampai 2,3 milyar. Di Indonesia prevalensi kelainan refraksi menempati urutan pertama pada penyakit mata. Kasus kelainan refraksi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Ditemukan jumlah penderita kelainan refraksi di Indonesia hampir 25% populasi penduduk atau sekitar 55 juta jiwa.1,2 Insidensi myopia dalam suatu populasi sangat bervariasi dalam hal umur, negara, jenis kelamin, ras, etnis, pekerjaan, lingkungan, dan factor lainnya. Prevalensi miopia bervariasi berdasar negara dan kelompok etnis, hingga mencapai 70-90% di beberapa negara. Sedangkan menurut Maths Abrahamsson dan Johan Sjostrand tahun 2003, angka kejadian astigmat bervariasi antara 30%-70%. III. Anatomi Dan Fisiologi

Gambar 1. Anatomi bola mata. Bola mata bentuknya menyerupai kistik yang dipertahankan oleh adanya tekanan di dalamnya. Walaupun secara umum bola mata dikatakan bentuknya bulat atau globe namun bentuknya tidak bulat sempurna. Orbita adalah tulang-tulang rongga mata yang di dalamnya terdapat bola mata, otototot ekstraokular, nervus, lemak dan pembuluh darah. Tiap-tiap tulang orbita berbentuk menyerupai buah pear, yang bagian posteriornya meruncing pada daerah apeks dan optik kanal.1 A. Media Refraksi Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri atas kornea, aqueous humor (cairan mata), lensa, badan vitreous (badan kaca), dan panjangnya bola mata. Pada orang normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjang bola mata sedemikian seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh.1,2 B. Fisiologi Refraksi

Gambar 2. Fisiologi refraksi.

10

Berkas-berkas cahaya mencapai mata harus dibelokkan ke arah dalam untuk difokuskan kembali ke sebuah titik peka-cahaya di retina agar dihasilkan suatu bayangan yang akurat mengenai sumber cahaya. Pembelokan suatu berkas cahaya (refraksi) terjadi ketika berkas berpindah dari satu medium dengan kepadatan (densitas) tertentu ke medium dengan kepadatan yang berbeda. Cahaya bergerak lebih cepat melalui udara daripada melalui media transparan lainnya misalnya : kaca, air. Ketika suatu berkas cahaya masuk ke medium dengan densitas yang lebih tinggi, cahaya tersebut melambat (sebaliknya juga berlaku). Berkas cahaya mengubah arah perjalanannya jika mengenai medium baru pada tiap sudut selain tegak lurus. Dua faktor penting dalam refraksi : densitas komparatif antara 2 media (semakin besar perbedaan densitas, semakin besar derajat pembelokan) dan sudut jatuhnya berkas cahaya di medium kedua (semakin besar sudut, semakin besar pembiasan). Dua struktur yang paling penting dalam kemampuan refraktif mata adalah kornea dan lensa. Permukaan kornea, struktur pertama yang dilalui cahaya sewaktu masuk mata, yang melengkung berperan besar dalam reftraktif total karena perbedaan densitas pertemuan udara/kornea jauh lebih besar daripada perbedaan densitas antara lensa dan cairan yang mengelilinginya. Kemampuan refraksi kornea seseorang tetap konstan karena kelengkungan kornea tidak pernah berubah. Sebaliknya kemampuan refraksi lensa dapat disesuaikan dengan mengubah kelengkungannya sesuai keperluan untuk melihat dekat/jauh.2 Struktur-struktur refraksi pada mata harus membawa bayangan cahaya terfokus di retina agar penglihatan jelas. Apabila bayangan sudah terfokus sebelum bayangan mencapai retina atau belum terfokus sebelum mencapai retina ,bayangan tersebut tampak kabur. Berkas-berkas cahaya yang berasal dari benda dekat lebih divergen sewaktu mencapai mata daripada berkas-berkas dari sumber jauh. Berkas dari sumber cahaya yang terletak lebih dari 6 meter (20 kaki) dianggap sejajar saat mencapai mata.

11

Untuk kekuatan refraktif mata tertentu, sumber cahaya dekat memerlukan jarak yang lebih besar di belakang lensa agar dapat memfokuskan daripada sumber cahaya jauh, karena berkas dari sumber cahaya dekat masih berdivergensi sewaktu mencapai mata. Untuk mata tertentu, jarak antara lensa dan retina selalu sama. Untuk membawa sumber cahaya jauhdan dekat terfokus di retina (dalam jarak yang sama), harus dipergunakan lensa yang lebih kuat untuks umber dekat. Kekuatan lensa dapat disesuaikan melalui proses akomodasi.3 IV. Etiologi Etiologi kelainan astigmatisma adalah sebagai berikut:4
i.

Adanya kelainan kornea di mana permukaan luar kornea tidak teratur. Media refrakta yang memiliki kesalahan pembiasan yang paling besar adalah kornea, yaitu mencapai 80% s/d 90% dari astigmatismus, sedangkan media lainnya adalah lensa kristalin. Kesalahan pembiasan pada kornea ini terjadi karena perubahan lengkung kornea dengan tanpa pemendekan atau pemanjangan diameter anterior posterior bola mata. Perubahan lengkung permukaan kornea ini terjadi karena kelainan kongenital, kecelakaan, luka atau parut di kornea, peradangan kornea serta akibat pembedahan kornea.

ii.

Adanya kelainan pada lensa dimana terjadi kekeruhan pada lensa. Semakin bertambah umur seseorang, maka kekuatan akomodasi lensa kristalin juga semakin berkurang dan lama kelamaan lensa kristalin akan mengalami kekeruhan yang dapat menyebabkan astigmatismus.

iii. iv. v.

Intoleransi lensa atau lensa kontak pada postkeratoplasty Trauma pada kornea Tumor

V. Klasifikasi Berdasarkan posisi garis fokus dalam retina Astigmatisme dibagi sebagai berikut: 1) Astigmatisme Reguler

12

Dimana didapatkan dua titik bias pada sumbu mata karena adanya dua bidang yang saling tegak lurus pada bidang yang lain sehingga pada salah satu bidang memiliki daya bias yang lebih kuat dari pada bidang yang lain. Astigmatisme jenis ini, jika mendapat koreksi lensa cylindris yang tepat, akan bisa menghasilkan tajam penglihatan normal. Tentunya jika tidak disertai dengan adanya kelainan penglihatan yang lain. Bila ditinjau dari letak daya bias terkuatnya, bentuk astigmatisme regular ini dibagi menjadi 2 golongan, yaitu: i. Astigmatisme With the Rule Bila pada bidang vertical mempunyai daya bias yang lebih kuat dari pada bidang horizontal. ii. Astigmatisme Against the Rule Bila pada bidang horizontal mempunyai daya bias yang lebih kuat dari pada bidang vertikal. 2) Astigmatisme Irreguler Dimana titik bias didapatkan tidak teratur. Berdasarkan letak titik vertical dan horizontal pada retina, astigmatisme dibagi sebagai berikut: 1. Astigmatisme Miopia Simpleks Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada tepat pada retina (dimana titik A adalah titik fokus dari daya bias terkuat sedangkan titik B adalah titik fokus dari daya bias terlemah). Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph 0,00 Cyl -Y atau Sph -X Cyl +Y di mana X dan Y memiliki angka yang sama.

13

Gambar 3. Astigmatisme Miopia Simpleks 2. Astigmatisme Hiperopia Simpleks Astigmatisme jenis ini, titik A berada tepat pada retina, sedangkan titik B berada di belakang retina.

Gambar 4. Astigmatisme Hiperopia Simpleks

3.

Astigmatisme Miopia Kompositus Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada di antara titik A dan retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph -X Cyl -Y. Gambar 5. Astigmatisme Miopia Kompositus

4.

Astigmatisme Hiperopia Kompositus

14

Astigmatisme jenis ini, titik B berada di belakang retina, sedangkan titik A berada di antara titik B dan retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph +X Cyl +Y. Gambar 6. Astigmatisme Hiperopia Kompositus

5.

Astigmatisme Mixtus Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada di belakang retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph +X Cyl -Y, atau Sph -X Cyl +Y, di mana ukuran tersebut tidak dapat ditransposisi hingga nilai X menjadi nol, atau notasi X dan Y menjadi sama sama + atau -.

Gambar 7. Astigmatisme Mixtus

15

Berdasarkan tingkat kekuatan Dioptri : 1. Astigmatismus Rendah Astigmatismus yang ukuran powernya < 0,50 Dioptri. Biasanya astigmatis-mus rendah tidak perlu menggunakan koreksi kacamata. Akan tetapi jika timbul keluhan pada penderita maka koreksi kacamata sangat perlu diberikan. 2. Astigmatismus Sedang Astigmatismus yang ukuran powernya berada pada 0,75 Dioptri s/d 2,75 Dioptri. Pada astigmatismus ini pasien sangat mutlak diberikan kacamata koreksi. 3. Astigmatismus Tinggi Astigmatismus yang ukuran powernya > 3,00 Dioptri. Astigmatismus ini sangat mutlak diberikan kacamata koreksi.

VI. Tanda Dan Gejala Pada umumnya, seseorang yang menderita astigmatismus tinggi menyebabkan gejala-gejala sebagai berikut :
-

Memiringkan kepala atau disebut dengan titling his head, pada umumnya keluhan ini sering terjadi pada penderita astigmatismus oblique yang tinggi. Memutarkan kepala agar dapat melihat benda dengan jelas. Menyipitkan mata seperti halnya penderita myopia, hal ini dilakukan untuk mendapatkan efek pinhole atau stenopaic slite. Penderita astigmatismus juga menyipitkan mata pada saat bekerja dekat seperti membaca.

Pada saat membaca, penderita astigmatismus ini memegang bacaan mendekati mata, seperti pada penderita myopia. Hal ini dilakukan untuk memperbesar bayangan, meskipun bayangan di retina tampak buram.

Sedang pada penderita astigmatismus rendah, biasa ditandai dengan gejalagejala sebagai berikut :

16

Sakit kepala pada bagian frontal. Ada pengaburan sementara / sesaat pada penglihatan dekat, biasanya penderita akan mengurangi pengaburan itu dengan menutup atau mengucekucek mata.

VII. Diagnosis 1) Pemeriksaan pin hole Uji lubang kecil ini dilakukan untuk mengetahui apakah berkurangnya tajam penglihatan diakibatkan oleh kelainan refraksi atau kelainan pada media penglihatan, atau kelainan retina lainnya. Bila ketajaman penglihatan bertambah setelah dilakukan pin hole berarti pada pasien tersebut terdapat kelainan refraksi yang belum dikoreksi baik. Bila ketajaman penglihatan berkurang berarti pada pasien terdapat kekeruhan media penglihatan atau pun retina yang menggangu penglihatan.5 2) Uji refraksi i. Subjektif Optotipe dari Snellen & Trial lens Metode yang digunakan adalah dengan metoda trial and error jarak pemeriksaan 6 meter/ 5 meter/ 20 kaki. Digunakan kartu Snellen yang diletakkan setinggi mata penderita, Mata diperiksa satu persatu dibiasakan mata kanan terlebih dahulu Ditentukan visus / tajam penglihatan masingmasing mata. Bila visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sferis positif, bila dengan lensa sferis positif tajam penglihatan membaik atau mencapai 5/5, 6/6, atau 20/20 maka pasien dikatakan menderita hipermetropia, apabila dengan pemberian lensa sferis positif menambah kabur penglihatan kemudian diganti dengan lensa sferis negatif memberikan tajam penglihatan 5/5, 6/6, atau 20/20 maka pasien menderita miopia. Bila setelah pemeriksaan tersebut diatas tetap tidak tercapai tajam penglihatan maksimal mungkin

17

pasien mempunyai kelainan refraksi astigmat. Pada keadaan ini lakukan uji pengaburan (fogging technique).5,6 ii. Objektif Autorefraktometer Yaitu menentukan myopia atau besarnya kelainan refraksi dengan menggunakan komputer. Penderita duduk di depan autorefractor, cahaya dihasilkan oleh alat dan respon mata terhadap cahaya diukur. Alat ini mengukur berapa besar kelainan refraksi yang harus dikoreksi dan pengukurannya hanya memerlukan waktu beberapa detik. Keratometri Adalah pemeriksaan mata yang bertujuan untuk mengukur radius kelengkungan kornea. Keratometer dipakai klinis secara luas dan sangat berharga namun mempunyai keterbatasan. 3) Uji pengaburan Setelah pasien dikoreksi untuk myopia yang ada, maka tajam penglihatannya dikaburkan dengan lensa positif, sehingga tajam penglihatan berkurang 2 baris pada kartu Snellen, misalnya dengan menambah lensa spheris positif 3. Pasien diminta melihat kisi-kisi juring astigmat, dan ditanyakan garis mana yang paling jelas terlihat. Bila garis juring pada 90 yang jelas, maka tegak lurus padanya ditentukan sumbu lensa silinder, atau lensa silinder ditempatkan dengan sumbu 180. Perlahan-lahan kekuatan lensa silinder negatif ini dinaikkan sampai garis juring kisi-kisi astigmat vertikal sama tegasnya atau kaburnya dengan juring horizontal atau semua juring sama jelasnya bila dilihat dengan lensa silinder

18

ditentukan yang ditambahkan. Kemudian pasien diminta melihat kartu Snellen dan perlahan-lahan ditaruh lensa negatif sampai pasien melihat jelas.7

Gambar 8. Kipas Astigmat.

4) Keratoskop Keratoskop atau Placido disk digunakan untuk pemeriksaan astigmatisme. Pemeriksa memerhatikan gambar ring pada kornea pasien. Pada astigmatisme regular, ring tersebut berbentuk oval. Pada astigmatisme irregular, gambar tersebut tidak terbentuk sempurna.7,8 5) Javal ophtalmometer Boleh digunakan untuk mengukur kelengkungan sentral dari kornea, diaman akan menentukan kekuatan refraktif dari kornea.7,8 VIII. Terapi 1) Koreksi lensa Astigmatismus dapat dikoreksi kelainannya dengan bantuan lensa silinder. Karena dengan koreksi lensa cylinder penderita astigmatismus akan dapat membiaskan sinar sejajar tepat diretina, sehingga penglihatan akan bertambah jelas. 2) Orthokeratology Orthokeratology adalah cara pencocokan dari beberapa seri lensa kontak, lebih dari satu minggu atau bulan, untuk membuat kornea menjadi datar dan menurunkan myopia. Kekakuan lensa kontak yang digunakan sesuai dengan standar. Pada astigmatismus irregular dimana terjadi pemantulan dan pembiasan sinar yang tidak teratur pada dataran permukaan depan kornea maka dapat

19

dikoreksi dengan memakai lensa kontak. Dengan memakai lensa kontak maka permukaan depan kornea tertutup rata dan terisi oleh film air mata. 3) Bedah refraksi Metode bedah refraksi yang digunakan terdiri dari:8,9 Radial keratotomy (RK) Dimana pola jari-jari yang melingkar dan lemah diinsisi di parasentral. Bagian yang lemah dan curam pada permukaan kornea dibuat rata. Jumlah hasil perubahan tergantung pada ukuran zona optik, angka dan kedalaman dari insisi. Photorefractive keratectomy (PRK) Adalah prosedur dimana kekuatan kornea ditekan dengan ablasi laser pada pusat kornea. Kornea yang keruh adalah keadaan yang biasa terjadi setelah photorefractive keratectomy dan setelah beberapa bulan akan kembali jernih. Pasien tanpa bantuan koreksi kadang-kadang menyatakan penglihatannya lebih baik pada waktu sebelum operasi.

20

DAFTAR PUSTAKA 1. James B, Chew C and Bron A, Lecture Notes on Ophtalmology. New York: Blackwell Publishing, 2003; 20-26. 2. Whitcher J P and Eva P R, Low Vision. In Whitcher J P and Eva P R, Vaughan & Asburys General Ophtalmology. New York: Mc Graw Hill, 2007. 3. Ilyas S, Mailangkay H, Taim H, Saman R dan Simarmata M, 2003. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan mahasiswa Kedokteran Edisi Ke-2. Jakarta. 4. A. K. Khurana, Comprehensive Ophtalmology Fourth Edition: Optics and Refraction, New Age International (P) limited Publishers, 12: 36-38, 2007. 5. Gerhard K. Lang, Ophthalmology A Short Textbook :Optics and Refractive Errors, Thieme, p. 127-136, 2000. 6. Deborah, Pavan-Langston,Manual of Ocular Diagnosis and Therapy, 6th Edition:Refractive Surgery, Lippincott Williams and Wilkins, 5:73-100,2008. 7. Roque M., 2009. Astigmatism, PRK. Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/1220845-overview#a0101 [Diakses tanggal 8 Juni 2012] 8. Harvey M. E., 2009. Development and Treatment of Astigmatism-Related Amblyopia. Optom Vis Sci 86(6): 634-639. Diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2706277/pdf/nihms114434.pdf? ?tool=pmcentrez [Diakses tanggal 6 Juni 2012] 9. Choi H. Y., Jung J. H. and Kim. M. N., 2010. The Effect of Epiblepharon Surgery on Visual Acuity and With-the-Rule Astigmatism in Children. Korean J Ophthalmol 2010; 24(6) : 325-330. Diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3016080/pdf/15456110_v108_p077.pdf??tool=pmcentrez

21