Anda di halaman 1dari 11

KETERLIBATAN SAARC (South Asian Association for Regional Cooperation) DALAM KONFLIK INTERNAL REGIONAL KAWASAN ASIA SELATAN

OLEH: ANDHIKA WAHYU PUTRA - 1042500932

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK HUBUNGAN INTERNASIONAL UNIVERSITAS BUDI LUHUR 2012

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Asia Selatan adalah sebuah wilayah geopolitik di bagian selatan benua Asia. Wilayah Asia Selatan meliputi 10% luas benua Asia, kira-kira 4.480.000 km tetapi populasinya mencakup 40% populasi Asia. Kebanyakan dari daerah itu mendapat pengaruh budaya India. Negara Asia Selatan meliputi Bangladesh, Bhutan, Nepal, Maladewa, Pakistan,Sri Lanka dan India. Perkembangan sosial, politik, dan ekonomi di Asia Selatan secara serius sering diganggu konflik intra-negara. Konflik India-pakistan yang merupakan sebuah core yang sangat mempengaruhi kestabilan kawasan Asia Selatan. Yang paling menyita perhatian dalam konflik antara india dan pakistan adalah konflik kashmir dan masalah nuklir kedua negara. Wilayah Asia Selatan menemukan ungkapan Institusi formal pertamanya dalam bentuk South Asia Association for Regional Cooperation (SAARC) pada 8 desember tahun 1985. Negara-negara yang termasuk kedalam kawasan ini adalah India, Pakistan, Banglades, Maladewa, Bhutan, Nepal dan Sri Lanka. SAARC mencerminkan komposisi yang ada di Asia Selatan. Dengan komposisi penduduk India terbesar dibandingkan tetangga lainnya dan perilaku politik India yang cenderung hegemonik menyebabkan kecemburuan dan kekhawatiran muncul diantara tetangganya. Kemudia muncul ASEAN Regional Forum (ARF) yang juga merupakan sebuah Institusi yang ada sebagai pengaturan keamanan di kawasan Asia selatan karena negara-negara di Asia selatan seperti India, Pakistan dan Bangladesh termasuk dalm anggota ARF. ASEAN Regional Forum (ARF) merupakan suatu forum yang dibentuk oleh ASEAN pada tahun 1994 sebagai wahana bagi dialog dan konsultasi mengenai hal-hal yang terkait dengan politik dan keamanan di kawasan, serta membahas dan menyamakan pandangan antara negara-negara peserta ARF untuk memperkecil ancaman terhadap stabilitas dan keamanan kawasan. Akibat kekhawatiran itu, negara besar seperti Uni Soviet (Rusia sekarang), Cina dan Amerika Serikat ikut menentukan kerangka diplomasi kawasan Asia Selatan. Kaitan dengan negara besar bukan karena kepentingan negara luar kawasan tetapi terutama karena kebutuhan negara di Asia Selatan, misalnya, Pakistan untuk beraliansi dalam rangka menghindari ancaman. Akibat dari itulah timbul suatu pertanyaan apakah Kawasan Asia selatan bisa mengidentifikasi pengaturan keamanannya atau tidak, dan makalah ini akan menjelaskan mengenai sistem pengaturan keamanan di kawasan Asia Selatan.

1|Page

1.2 Rumusan Masalah Makalah ini akan menjawab pertanyaan Bagaimana kompleksitas keamanan di Kawasan Asia Selatan dan efektifitas SAARC?

1.3 Kerangka Teori Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan menggunakan teori Buzan dan Waever yaitu Regional Security Complex Theory (RSCT) menyediakan instrumen analisa untuk melihat kompleksitas keamanan regional pada empat level analisa, empat level analisa tersebut adalah: 1. Kondisi domestik negara, terutama bagaimana kondisi domestik mempengaruhi kerawanan negara. 2. Hubungan negara-ke-negara. 3. Interaksi kawasan dengan kawasan yang bertetangga. 4. Peran kekuatan global (global powers) di kawasan. Keempat level analisa diatas berguna untuk menganalisa perubahan-perubahan yang terjadi di kawasan. Perubahan-perubahan ini tentunya harus diidentifikasi mana yang signifikan dan mana yang tidak. Untuk kegunaan itu, Buzan dan Waever menyebutkan empat struktur esensial yang dapat digunakan untuk menganalisa perubahan-perubahan di kawasan: 1. Perbatasan (boundary), yang mendiferensiasikan satu kawasan dengan kawasan yang lain. 2. Struktur anarki (anarchic structure), yang berarti bahwa RSC harus terdiri dari dua atau lebih unit yang memiliki otonomi. 3. Polaritas (polarity), yang distribusi kekuatan (power) diantara unit-unit di kawasan. 4. Konstruksi sosial (social construction), yang berarti pola teman-mush (amity-enmity) diantara unit-unit. 5.

Ciri-ciri dari sebuah pengaturan keamanan Untuk memahami kondisi keamanan kawasan bisa dilihat pada level keamanan global, untuk menganilisis pengaturan keamanan kawasan perlu teori khusus bahakan setiap kawasan memiliki teori yang berbeda-beda. Jika dikaitkan dengan pengaturan keamanan dikawasan Asia selatan dengan menggunakan teori RSCT (Regional security complex theory) maka: 1.Level domestik negara, munculnya dua kekuatan besar di kawasan Asia selatan yaitu
2|Page

India dan Pakistan jelas mempengaruhi kestabilan di kawasan tersebut, persaingan keduanya membuat dampak bagi negara lain di kawasan tmembuat dampak bagi negara lain di kawasan Asia selatan. 2. Hubungan antar negara, Terjalinnya kerjasama perdagangan dan datangnya investai asing di negara-negara berkembang. 3. Interaksi dengan kawasan yang berdekatan, Melakukan hubungan kerja sama ekonomi bahkan kemanana dengan contoh wilayah Asia tenggara (ARF). 4. Peran global powers, Pengaruh besar dari AS di kawasan tersebut. Dari penjelasan di atas maka bisa di lihat dari cirri-ciri sebuah pengaturan keamanan negara di suatu kawasan harus: Penggunaan diplomasi untuk menggalang sekutu dan mengisolasi ancaman Penataan Angkatan Bersenjata yang efektif. Implementasi konsep pertahanan yang bersifat sipil dan kesiagaan dalam menghadapi situasi darurat, termasuk terorisme. Memastikan daya dukung dan ketersediaan infrastruktur dalam negeri yang penting Penggunaan kekuatan intelijen untuk mendeteksi dan mengalahkan atau menghindari berbagai ancaman dan spionase, serta melindungi informasi rahasia. Penggunaan kekuatan kontra-intelijen untuk Melindungi negara.

3|Page

II. PEMBAHASAN

II.1. Dinamika Keamanan Kawasan Asia Selatan Kawasan regional kawasan Asia Selatan yang terdiri dari India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, Bhutan, adalah kawasan regional yang sangat kaya karena seluruh Negara-negara tersebut memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah, namun sayangnya tidak dikelola secara baik yang mengakibatkan banyak kasus konflik keamanan perbatasan Negara, ekonomi, politik, sosial, dan budaya di tiap-tiap negara tersebut. Dikawasan ini kita dapat melihat dua great powers yang memainkan peran penting yaitu India dan Pakistan. India dan Pakistan adalah dua Negara yang memiliki sejarah perselisihan yang panjang, perselisihan puncak yang diawali dari konflik Kasmir pada tahun 1974 yang sampai sekarang nuclear deterrence diantara kedua Negara tersebut. Anggaran pertahanan Pakistan untuk tahun 2006-2007 adalah $ 4100000000 (~ 3% dari PDB) dalam menanggapi kenaikan India dalam anggaran pertahanan 2006-2007 di $ 20110000000 (~ 2,5% dari PDB).1 Pakistan dalam menaikkan anggaran militer terdiri dari sebagian didanai dari kas pemerintah dan sebagian oleh pinjaman, sementara India akan mendanai belanja militer dari dana sendiri. Ketegangan berkembang antara kedua negara dan ambisi ini India telah menyebabkan seperti belanja pertahanan besar meskipun meluasnya kemiskinan dan masalah sosial politik. India akan pergi dengan seperti karena anggaran tinggi militer dengan pemerintahan demokratis dan cepat tumbuh triliun dolar ekonomi yang memberikan daya beli lebih besar. Pakistan tidak punya semudah India dalam pengembangan militer terutama karena utang pemasangan yang internasional dan serangkaian diktator militer menciptakan ketidakstabilan politik. Dalam sebagian besar perang yang bergantung pada bahan Pakistan AS dan dukungan militer berbeda dengan pendanaan dari sumber India sendiri. Adanya persaingan diantara kedua Negara tersebut membuat kekhawatiran bagi Negara Negara lain yaitu Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, dan Bhutan, Negara Negara tersebut merasa perlu adanya suatu institusi dimana seluruh Negara Negara kawasan Asia Selatan duduk berdampingan dan membicarakan masalah keamanan regional mereka. Hal tersebutlah yang menjadi latar belakang pembentukan Asian Association for Regional Cooperation (SAARC).
1

Pakistan Defence, India vs Pakistan Evaluation on Military Strengths, diakses dari http://www.defence.pk/forums/military-aviation/7782-india-vs-pakistan-evaluation-military-strengths.html pada tanggal 23 April 02.30 WIB

4|Page

a. Kompleksitas Keamanan Asia Selatan Dengan menggunakan RSCT, dapat dibaca kompleksitas keamanan Asia Selatan.2 Pada level domestik, pertanyaan utamanya adalah soal instabilitas internal dan hubungan antara negara negara, kawasan ini cenderung stabil sekaligus memiliki potensi perang antara negara Negara dengan adanya dua great power yaitu India dan Pakistan dimulai sejak tahun 1974 perselisihan Kasmir antara kedua Negara tersebut dan sekarang Nuclear Deterrence yang mengakibatkan Negara Negara dikawasan tersebut menghindari konflik dengan cara lebih berfokus kepada kerjasama ekonomi. Pada level regional, terdapat keberlanjutan pola hubungan Perang Dingin, perluasan integrasi Eropa, runtuhnya Uni Soviet, pergeseran dalam strategi AS, dan perspektif yang berubah pada perdagangan regional dan investasi asing di negara berkembang. Pada level intraregional, terjadi external transformation dengan bergabungnya Asia Selatan dan Asia Tenggara yang dapat dilihat melalui institusi ASEAN Regional Forum (ARF). Pada level global, pertanyaan utamanya adalah sampai kapan AS akan tetap terlibat di Asia Selatan.

b. Identifikasi Pengaturan Keamanan Asia Selatan Berangkat dari konflik-konflik itulah dibutuhkan suatu organisasi regional untuk mewadahi tiap-tiap negara Asia Selatan demi mewujudkan kawasan yang terintegrasi dan demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang maksimal, kesejahteraan rakyatnya, dan perdamaian di tiap-tiap negara. Dilihat dari pengaturan keamanan yang dilaksanakan oleh Negara Negara Asia Selatan, Pengaturan keamanan di Asia Selatan tersebut masih dalam tahap pengembangan jika dibandingkan dengan yang di Eropa, Amerika Utara, dan negara-negara Teluk, Pengaturan keamanan di masih sangat kurang jika dibandingkan dengan kawasan regional Asia lainnya terutama Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pada gambar di bawah ini 3 menunjukan tentang bagaimana kerjasama kerjasama regional antara Negara Negara Asia dalam bidang ekonomi, keamanan, teknologi, budaya, energy dan lingkungan. Dari gambar
2 3

Barry Buzan dan Ole Waever, op. cit., hal. 170-171. Diunduh dari: http://cogitasia.com/wp-content/uploads/2010/08/asean.jpg pada tanggal 23 April 2012 pukul

10.35 WIB

5|Page

dibawah tersebut kita dapat melihat bagaimana Negara Negara Asia selatan khusunya India dan Pakistan yang merupakan actor utama diantara Negara Negara Asia Selatan melakukan kerjasama regional dalam keamanan.

II.2 SAARC sebagai Organisasi Regional kawasan Asia Selatan a. Awal berdirinya SAARC Konflik India-Pakistan merupakan konflik yang sangat berpengaruh dan mengganggu di kawasan Asia Selatan di samping konflik-konflik lainnya, karena konflik tersebut melibatkan dua negara besar sekaligus dominan dalam SAARC sehingga upaya kerjasama yang menjadi tujuan awal dari pendirian institusi regional utopis bisa terjadi.4 SAARC adalah sebuah organisasi di kawasan Asia Selatan yang berdiri pada tanggal 8 desember 1985, pada saat itu ada 7 Negara yang mempunyai sebuah inisiatif untuk mendirikan sebuah organisasi kawasan regional di Asia Selatan. SAARC sendiri lahir karena beberapa faktor, antara lain adalah konflik internal di kawasan Asia Selatan yang terjadi antara India dan Pakistan. Selain itu menurut Piagam SAARC yang dibuat sejak pembentukan SAARC, selain konflik internal di kawasan Asia Selatan, SAARC juga dibentuk karena mereka berharap agar terciptanya sebuah kondisi ekonomi dan kesejahteraan negara-negara Asia Selatan. Tujuan dari SAARC yang sebagaimana tercantum pada piagam adalah untuk memajukan kesejahteraan dari rakyat-rakyat Asia Selatan dan untuk meningkatkan kualitas kehidupannya; untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, perkembangan sosial dan perkembangan kebudayaan di kawasan dan menyediakan untuk tiap-tiap individu untuk hidup bermatabat and untuk menyarinya bahwa mereka penuh dengan potensi; untuk memajukan dan memperkuat kepercayaan diri secara kolektif di antara negara-negara Asia Selatan; untuk memperbesar rasa saling kepercayaan, pemahaman, dan pengertian dari tiadari setiap masalah; untuk memajukan kerjasama yang aktif dan rasa saling menolong dalam perekonomian, sosial, kebudayaan, dan kajian riset dan teknologi; untuk memperkuat kerjasama dengan negara berkembang lainnya; serta untuk memperkuat kerjasama di antara anggota dalam forum internasional mengenai hal yang sedang terjadi; untuk bekerjasama dengan organisasi internasional dan regional yang memiliki target dan tujuan yang sama.
4

http://felixsharieff.wordpress.com/2009/12/15/saarc-safta-2004-2006/ , diunduh pada tanggal 23 April 2012 pukul 23.00 WIB

6|Page

b. Keterlibatan SAARC dalam Konflik Internal Regional kawasan Asia Selatan Keterlibatan SAARC dalam melakukan mediasi tak sepenuhnya dilandasi alasan normatif fungsional sebuah institusi, karena adanya imbalan seperti: materi (peningkatan pertukaran barang-barang dan sumber-sumber daya diantara kelompok-kelompok tidak terkecuali pihak-pihak yang bertikai dan penengah atau sebaliknya), pengaruh dan dukungan (seperti pemberian hak pembangunan pangkalan, pertukaran informasi, atau bisa juga berupa sesuatu yang tidak terlihat secara nyata seperti janji-janji untuk memberikan dukungan di masa yang akan datang), keamanan (diperoleh dengan cara menurunkan atau mengeliminasi konflik yang terjadi agar tidak meluas ke wilayah lain), status atau reputasi tertentu (berupa peningkatan status pribadi jika yang menjalankan peran mediator adalah individu atau peningkatan prestasi organisasi). Dari kelima macam imbalan di atas, imbalan yang berupa keamanan dianggap dapat mewakili semua imbalan yang lain, karena SAARC sebagai organisasi regional diharapkan mampu untuk menjaga kestabilan dan keamanan kawasan regionalnya dan juga dapat berperan sebagai mediator apabila terjadi konflik di negaranegara anggotanya. 5 Berangkat dari konflik-konflik itulah dibutuhakn suatu organisasi regional untuk mewadahi tiap-tiap negara Asia Selatan demi mewujudkan kawasan yang terintegrasi dan demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang maksimal, kesejahteraan rakyatnya, dan perdamaian di tiap-tiap negara. Ketidakmampuan SAARC menjalankan peranannya dalam mempersatukan Asia Selatan kerap kali disangkutkan dengan persengketaan politik dan militer antara India dan Pakistan. Dan karena alasan persengketaan ekonomi, politik, dan perbatasan di Asia Selatan, negara-negara anggotanya tidak dapat memanfaatkan keuntungan dari integrasi ekonomi di kawasan ini. Selama bertahun-tahun, peranan SAARC di Asia Selatan hanya sekedar wadah untuk pertemuan tahunan anggota-anggotanya.

II.3 Efektifitas SAARC Kawasan Asia Selatan Dengan melihat kompleksitas keamanan di kawasan Asia Selatan serta keberadaan SAARC sebagai organisasi regional di Asia Selatan, penulis dapat mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan dari SAARC sebagai organisasi regional. Kelebihannya yaitu (1) dihasilkannya proyek Technical Committees dibawah nauangan SAARC Integrated Program
5

Connie Peck, The Role of Regional Organization in Preventing and Resolving Conflict dalam Chester A.

Crocker, Fen Oster Hampson dan Pamela Aal (ed), Turbulent and Peace:The Challenges of Managing International Conflict, (Washington D.C: United States Institute of Peace Press, 2001), hal. 564

7|Page

of Action (SIPA) yang meliputi pembangunan sosial, lingkungan, meteologi, dan kehutanan, iptek, pembangunan SDA, dan energi; (2) Berhasil mempertemukan India dan Pakistan dalam sebuah forum bilateral yang dimoderatori SAARC; (3) Menghasilkan beberapa perjanjian penting seperti South Asia Free Trade Agreement (SAFTA) pada tahun 2004, kerangka kerjasama ekonomi negara asel, SAARC Convention on Suppresion of Terrorism dengam merumuskan cara untuk melawan terorisme, SAARC Poverty Allevation Fund (SPAF) yang memperdalam hubungan asel dengan Asian Development Bank (ADB) dan World Bank demi mendapatkan bantuan dana untuk mendukung proyek SAARC. Serta juga terdapat kelemahannya yaitu (1) Dari proyek yang dirancang dan rapat yang diadakan, hanya menghasilkan training, seminar dan workshop; (2) Tidak adanya implementasi dalam forum-forum yang diadakan, karena hanya sebatas inisiatif dan tidak ada antusias untuk menerapkannya. Sehingga pada akhirnya tidak menghasilkan apapun; (3) Terdapat beberapa pertemuan yang dibatalkan karena penolakan India untuk melanjutkan partisipasinya dalam kegiatan SAARC karena kecewa terhadap inisiatif perdamaian Agra Summit yang fokus hanya pada masalah Kashmir, dan adanya rekanan domestik untuk menentang Pakistan yang dicurigai terlibat dalam serangan teroris di parlemen India.; (4) Walaupun berhasil mempertemukan India dan Pakistan dalam sebuah forum bilateral, tidak menyelesaikan konflik diantara keduanya; (4) Jika dibandingkan dengan EU dan ASEAN, Sekretariat SAARC lemah dan tidak menjalankan peran sebagai alat untuk mepererat hubungan antarnegara anggota.6 Dari kelebihan dan kelemahan SAARC tersebut, penulis kemudian melihat apakah SAARC merupakan salah satu bentuk pengaturan atau bukan. Menurut Kishore Dash, SAARC adalah salah satu bentuk regionalisme di Asia Selatan atau bentuk kerjasama regiona. 7 Hal ini dikarenakan tujuan dari kerjasama regional tersebut adalah menekankan kerjasama ekonomi dan juga kerjasama non-militer diantara negara-negara Asia Selatan. Hal ini tentu saja sangat kontras dengan tujuan dari pengaturan keamanan yang telah dijelaskan sebelumnya. Selain itu, yang dihasilkan dalam forum bilateral maupun multilateral SAARC bukan untuk mengatasi masalah keamanan kawasan melainkan untuk membahas kelangsungan kerjasama ekonomi dan non-militer regional. Apabila ada inisiatif untuk membentuk kerjasama keamanan regional, hal tersebut hanyalah sebatas inisiatif yang tidak dapat direalisasikan karena pengaruh yang kuat antara India dan Pakistan untuk mencegah
6

Kishore C. Dash, Regionalism in South Asia: Negotiating Cooperation, Institutional Structures, (New York: Routledge, 2008), hal. 100-104 7 Ibid., hal 105

8|Page

adanya pengaturan keamanan regional yang pada akhirnya dapat menghambat kebebasab pengaruh kekuatan keduanya di kawasan. Kishore C. Dash memberikan beberapa solusi bagi perkembangan kerjasama regional yang di Asia Selatan. Yang dibutuhkan oleh Asia Selatan sekarang bukan membentuk sebuah pengaturan keamanan baru, melainkan keamanan, stabilitas, kesejahteraan dan pengakuan internasional yang dapat dicapai melalui penyempurnaan kerjasama regional, dengan cara berikut.8 1. Anggota SAARC bisa membuat South Asian Monetary Fund (SAMF) untuk menyediakan mata uang yang stabil dalam menghadapi krisis moneterdan krisis keuangan lainnya 2. Menciptakan mata uang kawasan paralel, yang dapat digunakan secara paralel dengan mata uang nasional masing-masing negara. Hal ini merupakan ide penting yang dapat memfasilitasi pertumbuhan institusi regional. 3. Mengimplementasikan inisiatif Asian Development Fund (SADF). SADF sudah ada sejak beberapa dekade akan tetapi tidak diimplementasikan, padahal terdapat beberapa prospek positif dari SADF. SADF dapat mengambil alih proyek infrastruktur regional untuk meningkatkan fasilitas infrastruktur di asel. SADF juga dapat mendanai program kemiskinana, menyediakan pinjaman untuk program pembangunan sumber daya manusia yang komprehensif, mendukung perdagangan intraregional dan ekstraregional dan mendukung pengeluaran operasional SAARC. Sumber dananya didapatkan dari kontribusi negara asel, sumber eksternal, regional dan institusi keuangan internasional.

Ibid.,hal.112-115

9|Page

KESIMPULAN Asia Selatan adalah kawasan regional yang sangat menarik karena hubungan antara negara-negaranya dan historisnya. Negara-negara di kawasan Asia Selatan hampir mempunyai ciri khas yang sama, permasalahan yang timbul hampir menyerupai, mereka seperti saling mencurigai antar tetangga karena itu perlu sebuah pengaturan keamanan. Dengan perbedaan demografi, kapabilitas militer, serta adanya Big Powers, menyebabkan sulitnya untuk menyatukan tujuan dan menyamakan kepentingan di kawasan Asia Selatan. Dari dinamika pengaturan keamanan yang telah dibentuk sejak tahun 1950, yang dibutuhkan oleh kawasan tersebut adalah memperbaiki dan menyempurnakan kerjasama regional yang sudah ada yaitu SAARC. SAARC pada saat ini tidak mempunyai pengaturan keamanan, tetapi potensi untuk adanya pengaturan keamanan sangat besar dilihat dari potensi konflik yang mungkin terjadi di Asia Selaatn dan studi dokumen yang menunjukkan bahwa negara negara kawasan Asia Selatan sudah mulai fokus dan memperhatikan perlu adanya pengaturan keamanan di kawasan Asia Selatan.

10 | P a g e