Anda di halaman 1dari 197

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRES KERJA PADA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI PT ISM BOGASARI FLOUR MILLS TBK TANJUNG

PRIOK JAKARTA UTARA TAHUN 2009

SKRIPSI

OLEH : DIAH AIRMAYANTI 105101003223

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H/ 2010 M

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRES KERJA PADA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI PT ISM BOGASARI FLOUR MILLS TBK TANJUNG PRIOK JAKARTA UTARA TAHUN 2009

Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

Oleh: DIAH AIRMAYANTI 105101003223

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H/2010 M

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa : 1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, November 2009

Diah Airmayanti

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT Skripsi, November 2009 Diah Airmayanti, NIM. 105101003223 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres Kerja pada Pekerja bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 xxii + 133 halaman, 21 tabel, 3 gambar, 6 lampiran ABSTRAK Pada tahun 2008 terjadi sebanyak 24 kasus kecelakaan kerja akibat tindakan tidak aman di PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk. Selain itu, sebesar 8,34% kecelakaan kerja yang diakibatkan oleh tidak konsentrasinya dalam bekerja. Salah satu perubahan perilaku ketika seseorang mengalami stres kerja adalah kurang konsentrasi dalam bekerja. Stres kerja merupakan tahap awal terjadinya penyakit pada individu yang rentan karena menurunnya daya tahan tubuh sehingga menurunkan kesehatan pekerja yang juga diiringi dengan menurunnya performa dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, perlu dilakukannya penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi stres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stres kerja pada pekerja bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk tahun 2009. Di dalamnya akan dibahas mengenai jam kerja, rutinitas, kebisingan, peranan dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan interpersonal, struktur dan iklim organisasi serta stres kerja yang merupakan variabel dependen. Penelitian ini merupakan penilitian kuantitatif. Adapun populasi pada penelitian ini adalah seluruh pekerja yang bertugas di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk yang berjumlah 1479 orang, sedangkan yang menjadi sampel ialah pekerja yang bertugas di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk yang dipilih secara random, dengan menggunakan metode simple random sampling sejumlah 108 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan cross sectional. Data yang diperoleh kemudian dilakukan uji statistik dengan rumus chi square dan dilanjutkan dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja yang mengalami stres kerja ringan yaitu sebanyak 60 orang (55.6%), sedangkan 48 (44.4%) orang mengalami stres kerja berat. Dengan demikian, populasi responden yang mengalami stres kerja ringan lebih banyak daripada responden yang mengalami stres kerja berat. Berdasarkan hasil analisis bivariat, diketahui bahwa beban kerja, jam kerja, rutinitas dan kebisingan terbukti berhubungan dengan stres kerja. Sedangkan untuk peranan dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan interpersonal serta struktur dan iklim organisasi tidak berhubungan dengan stres kerja. Hasil analisis multivariat

menunjukkan bahwa kebisingan merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi stres kerja dibandingkan dengan beban kerja dan jam kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pekerja yang mengalami stres kerja ringan, apabila tidak ditangani secara serius oleh pihak perusahaan maka akan merugikan bagi pekerja dan perusahaan. Oleh karena itu disarankan perusahaan agar lebih optimal dalam menanggulangi stres kerja dengan melakukan dua pendekatan yaitu : manajemen stres dan organitational change. Selanjutnya perusahaan lebih memberikan lagi kesempatan pendidikan dan pelatihan kepada pekerja mengenai cara penggunaan alat pelindung telinga yang benar agar kebisingan yang ada benar-benar tidak mengganggu pekerja dalam melaksanakan pekerjaannnya sehari-hari dan terutama tidak memberikan efek yang buruk terhadap pendengaran para pekerja. Efek tersebut dikarenakan kebisingan yang tidak mampu direduksi oleh alat pelindung telinga karena penggunaannya yang tidak sesuai dengan standar tata cara penggunaan. Sedangkan pada pekerja disarankan menerapkan 5 langkah penanggulangan stres kerja dalam kehidupan sehari-hari, seperti bertakwa kepada Tuhan YME misalnya lebih rajin lagi mengikuti kegiatan pengajian atau kebaktian yang diadakan oleh perusahaan, Mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi, melakukan olah raga dan rekreasi secara teratur, menghindari rokok dan meminum alkohol serta melakukan pekerjaan sehari-hari dengan perasaan senang.

Daftar bacaan : 42 (1984 - 2009)

JAKARTA STATE ISLAMIC UNIVERSITY FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM OF PUBLIC HEALTH Undergraduated Thesis, November 2009 Diah Airmayanti, NIM. 105101003223 Factors that Influence with Work Stress on the Production Workers PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk 2009 xxii + 133 pages, 21 tables, 3 pictures, 6 attachments ABSTRACT In 2008, there were 24 work accident cases caused by unsafe act at PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk 2008. Besides, work accident 8.34% caused by unconsentrated work. One of the behaviour change when someone got stress in working is less of consetration in working. Work stress is the beginning step of diseases in susceptible human because of imunity decrease, so it decrease workers healty and productivity. Therefore a research about factors that influence with work stress is needed. This research aims to determine the factors that influence with work stress on the production workers of PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk in 2009. This research will discuss about work hours, routines, noise, role in the organization, career development, interpersonal relations, structure and organizational climate and then work stress is the dependent variable. This research is quantitative research. The population in this research is all they are workers who work in the production of PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk 1479 people, meanwhile the sample are the workers in the production of PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk. They are 108 people that was selected random using simple random sampling method. Research methods that is used cross-sectional approach. Statistic test, chi-square formula was done after the data was obtained. And then logistic regression test also was done. The results showed that workers who got low work stress are 60 people (55.6%), whereas 48 (44.4%) of people who got highly work stress. Thus, the number of population of respondents who got a low work stress is bigger respondents who got highly work stress. Based on the results of bivariate analysis, it is known that the workload, work hours, routines and noise proven related to work stress. Whereas, the role in the organization, career development, interpersonal relations, structure and organizational climate are not related to work stress. The results of multivariate analysis showed that the noise is the most dominant factor affecting the work stress compared with the workload and working hours.

The results showed that, workers who got low work stress will bringtaken disadvantages for themselves and the company if the company doesnt handle them seriously. Therefore, company have to be more optimal in handle work stress by using two approaches, they are: stress management and organitational change. Furthermore the company has to give more educational opportunity and training for workers about how to use ears protective equipment properly so the noise doesnt disturb the workers when they are working and it doesnt give bad effect to the workers. That effect caused by ears protective equipment that is used not based on standart. Meanwhile, the workers are advised to apply 5 steps of solving problem in working stress in daily life, such as piety, for example joining worship events held by companies, eating healthy and nutritious food, doing sport and recreation regularly, avoiding cigarettes and drinking alcohol and doing the job every day pleasurably.

Reading list: 42 (1984 - 2009)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi dengan Judul

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRES KERJA PADA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI PT ISM BOGASARI FLOUR MILLS TBK TANJUNG PRIOK JAKARTA UTARA 2009

Telah disetujui, diperiksa, dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, 11 Desember 2009

dr. Yuli Prapanca Satar, MARS Pembimbing I

Yuli Amran, MKM Pembimbing II

PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Jakarta, 11 Desember 2009

Ketua

(dr. Yuli Prapanca Satar, MARS)

Anggota I

(Yuli Amran, MKM )

Anggota II

(Bambang P Cadrana, MKM)

Lembar Persembahan

7}

(5)Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (6) Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.(7) Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sunguh-sungguh (urusan) yang lain. (QS.Al-Insyiroh : 5-7)

Skripsi ini kupersembahkan untuk Bapak dan Ibu Tercinta Dan kakakku tersayang Serta orang-orang disekelilingku yang aku sayangi Atas doa dan curahan kasih sayang yang tiada henti-hentinya, hadomi o

DAFTAR RIWAYAT HIDUP NAMA LENGKAP TEMPAT/TGL LAHIR JENIS KELAMIN GOLONGAN DARAH ALAMAT KEWARGANEGARAAN AGAMA HANDPHONE E-MAIL : Diah Airmayanti : Dili, 1 April 1987 : Perempuan :O : Jl. Raya Kelapa Dua Wetan Rt 06/08 Ciracas Jakarta Timur : Indonesia : Islam : +6285715733056 : ant_chibi05@yahoo.com

RIWAYAT PENDIDIKAN: Tahun Riwayat Pendidikan 2005 2009 : S1- Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta 2002 2005 : SMAN 1 Pemalang, Jawa Tengah 1999 2002 : SLTPN 1 Ampelgading, Pemalang, Jawa Tengah 1999 : SDN 1 Karang Tengah, Pemalang, Jawa Tengah 1993 1999 : SDN Negeri 1 Dili Barat, Dili Timor-Timur

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur, penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan rahmat-Nya sehingga dapat terselesaikannya skripsi yang berjudul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres Kerja pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009, walaupun tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan. Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan, petunjuk, bimbingan, dan motivasi dari berbagai pihak, untuk itu dengan ikhlas dan penuh kerendahan hati penulis ingin menghaturkan rasa syukur dan rasa terima kasih kepada: 1. Orangtua dan segenap keluarga tercinta yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan moril kepada penulis. 2. Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Prof. Dr (HC). Dr. M.K. Tadjuddin, Sp.And beserta staf. 3. dr. Yuli Prapanca Satar, MARS selaku Ketua Prodi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Jakarta sekaligus selaku dosen pembimbing I yang selalu bersedia menyediakan waktu dan memberikan masukan, kritik serta saran dalam proses penyusunan skripsi ini 4. Ibu Yuli Amran, SKM, MKM dosen pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing penulis 5. Bapak Bambang P Cadrana, MKM yang bersedia meluangkan waktunya untuk menguji skripsi penulis serta kritik dan sarannya dalam penyusunan skripsi ini

6. Seluruh dosen dan staf Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 7. Bapak Louis M. Djangun selaku Koordinator Pelayanan Kegiatan Studi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk yang telah bersedia memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan kegiatan penelitian. Bapak Diharto, SH selaku manajer Safety dan Security Departement dan Bapak Muslich Riza, SKM yang telah membimbing dan memberikan pengetahuan kritik serta saran yang berguna bagi peneliti. 8. Semua pekerja di PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, karena telah mengizinkan dan membantu peneliti untuk melakukan pemantauan di area produksi dan telah bersedia dengan tulus memberikan ilmunya kepada peneliti. 9. Ex penghuni kertamukti : nDaz, kaNenz dan Vy untuk kasih sayang dan kekeluargaannya selama 3 tahun lebih. Nunq, R-ni, Rie untuk pertemanan yang tak tergantikan. mByun, paUL & wta thnx mau mendengarkan keluh kesahku. Teman-teman Kesehatan Masyarakat 0 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tetap Semangat! dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya banyak mengucapkan banyak terima kasih. Akhir kata dengan penuh rasa hormat dan kerendahan hati, penulis berharap semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun pembaca lain.

Jakarta, Oktober 2009

Penulis Jakarta, November 2009

Penulis

DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN ................................................................................... i ABSTRAK ............................................................................................................. ii ABSTRACT ......................................................................................................... iv LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................ vi LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... vii LEMBAR PERSEMBAHAN ........................................................................... viii DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................................ ix KATA PENGANTAR ............................................................................................x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xii DAFTAR TABEL ............................................................................................ xviii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xxi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xxii BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1 A. Latar Belakang ................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .............................................................................. 8 C. Pertanyaan Penelitian ......................................................................... 9 D. Tujuan Penelitian ............................................................................... 10 1. Tujuan Umum ................................................................................ 10 2. Tujuan Khusus ............................................................................... 11 E. Manfaat Penelitian .............................................................................. 12 1. Manfaat bagi Perusahaan .............................................................. 12 2. Manfaat bagi Pekerja...................................................................... 12

3. Manfaat bagi Peneliti ..................................................................... 12 F. Ruang Lingkup .................................................................................... 13 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 14 A. Definisi Stres ...................................................................................... 14 B. Definisi Stres Kerja ............................................................................. 15 C. Penyebab Stres Kerja ......................................................................... 17 1. Faktor Intrinsik dalam Pekerjaan ................................................... 18 2. Peranan dalam Organisasi .............................................................. 28 3. Pengembangan Karir ...................................................................... 31 4. Hubungan Interpersonal dalam Pekerjaan ..................................... 33 5. Struktur dan Iklim Organisasi ......................................................... 37 D. Pendekatan dalam Mempelajari Stres Kerja ...................................... 44 E. Tahapan Stres ..................................................................................... 46 F. Pengaruh Stres Kerja terhadap Emosi, Perilaku dan Kesehatan ........ 50 G. Indikator atau Reaksi Tubuh terhadap Stres ....................................... 52 H. Upaya Pencegahan Stres Kerja ........................................................... 54 I. Upaya Penanggulangan Stres Kerja ................................................... 55 J. Pengukuran Stres Kerja ...................................................................... 56 K. Kerangka Teori .................................................................................... 58 BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL .............. 60 A. Kerangka Konsepsional ..................................................................... 60 B. Definisi Operasional ........................................................................... 62

1. Variabel Dependen .......................................................................... 62 2. Variabel Independen ....................................................................... 62 BAB IV Metode Penelitian ................................................................................... 65 A. Desain Penelitian ................................................................................ 65 B. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................. 65 C. Populasi dan Sampel .......................................................................... 65 1. Populasi ........................................................................................ 65 2. Sampel ......................................................................................... 65 D. Instrumen Penelitian............................................................................ 67 1. Uji Coba ........................................................................................ 67 2. Kuesioner ...................................................................................... 68 3. Skoring ......................................................................................... 69 a. Penilaian Beban Kerja ............................................................... 69 b. Penilaian Stres Kerja ................................................................. 69 E. Pengumpulan Data ............................................................................. 70 F. Pengolahan Data.................................................................................. 70 G. Analisa Data ....................................................................................... 71 BAB V HASIL ....................................................................................................... 75 A. Gambaran PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk .................................... 75 B. Gambaran Stres Kerja .......................................................................... 76 C. Gambaran Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres Kerja ................ 77

1. Gambaran Faktor Intrinsik Pekerjaan ............................................. 77 a. Beban Kerja ................................................................................. 78 b. Jam Kerja .................................................................................... 78 c. Rutinitas ...................................................................................... 79 d. Kebisingan .................................................................................. 79 2. Gambaran Faktor Ekstrinsik Pekerjaan ........................................... 80 a. Peranan dalam Organisasi ........................................................... 81 b. Pengembangan Karir ................................................................... 81 c. Hubungan Interpersonal .............................................................. 82 d. Struktur dan Iklim Organisasi ..................................................... 82 3. Gambaran Faktor Inividu ................................................................ 83 a. Umur ............................................................................................ 83 b. Masa Kerja .................................................................................. 84 D. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Stres Kerja ........................ 84 1. Hubungan antara Faktor Intrinsik Pekerjaan ................................... 84 a. Beban Kerja ................................................................................. 84 b. Jam Kerja .................................................................................... 85 c. Rutinitas ...................................................................................... 86 d. Kebisingan .................................................................................. 87 2. Hubungan antara Faktor Ekstrinsik Pekerjaan ................................ 88 a. Peranan dalam Organisasi ........................................................... 88 b. Pengembangan Karir ................................................................... 89 c. Hubungan Interpersonal .............................................................. 90

d. Struktur dan Iklim Organisasi ..................................................... 90 3. Hubungan antara Faktor Individu .................................................... 91 a. Umur ............................................................................................ 91 b. Masa Kerja .................................................................................. 92 4. Faktor yang paling Berpengaruh terhadap Stres Kerja ................... 93 BAB VI PEMBAHASAN ...................................................................................... 98 A. Keterbatasan Penelitian ....................................................................... 98 B. Gambaran Stres Kerja .......................................................................... 99 C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stres Kerja ................................... 104 1. Faktor Intrinsik Pekerjaan ............................................................... 104 a. Beban Kerja ................................................................................. 104 b. Jam Kerja .................................................................................... 106 c. Rutinitas ...................................................................................... 108 d. Kebisingan .................................................................................. 110 2. Faktor Ekstrinsik Pekerjaan ............................................................ 112 a. Peranan dalam Organisasi ........................................................... 112 b. Pengembangan Karir ................................................................... 114 c. Hubungan Interpersonal .............................................................. 116 d. Struktur dan Iklim Organisasi ..................................................... 118 3. Faktor Individu ................................................................................ 121 a. Umur ............................................................................................ 121 b. Masa Kerja .................................................................................. 122

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 124 A. Simpulan ............................................................................................. 124 B. Saran .................................................................................................... 126 1. Bagi Perusahaan .............................................................................. 126 2. Bagi Pekerja .................................................................................... 126 3. Bagi Penelitian Selanjutnya ............................................................ 128 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 129 LAMPIRAN ........................................................................................................... 133

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penilaian Pekerjaan ...............................................................................20 Tabel 2.2 Kategori Beban Kerja Berdasarkan Jumlah Kalori yang dikeluarkan dalam Melakukan Pekerjaan .................................................................21 Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Dependen .............................................62 Tabel 3.2 Definisi Operasional Variabel Independen ...........................................62 Tabel 5.1 Gambaran Distribusi Responden Berdasarkan Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ....................76 Tabel 5.2 Gambaran Distribusi Responden Menurut Variabel-Variabel Faktor Intrinsik Pekerjaan di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ...................................78 Tabel 5.3 Gambaran Distribusi Responden Menurut Variabel-Variabel Faktor Ekstrinsik Pekerjaan di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ...................................81 Tabel 5.4 Distribusi Responden Menurut Variabel Faktor Individu di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ....................83 Tabel 5.5 Distribusi Responden Menurut Beban Kerja terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ....84 Tabel 5.6 Distribusi Responden Menurut Jam Kerja terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ....85 Tabel 5.7 Distribusi Responden Menurut Rutinitas terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ....86

Tabel 5.8 Distribusi Responden Menurut Kebisingan terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ....87 Tabel 5.9 Distribusi Responden Menurut Perananan dalam Organisasi terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ............................................................................................88 Tabel 5.10 Distribusi Responden Menurut Pengembangan Karir terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ............................................................................................89 Tabel 5.11 Distribusi Responden Menurut Hubungan Interpersonal terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ............................................................................................90 Tabel 5.12 Distribusi Responden Menurut Struktur dan Iklim Organisasi terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ................................................................91 Tabel 5.13 Distribusi Responden Menurut Umur terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ............................................................................................92 Tabel 5.14 Distribusi Responden Menurut Masa Kerja terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ............................................................................................92 Tabel 5.15 Hasil Analisis Bivariat antara Faktor Intrinsik Pekerjaan, Faktor Ekstrinsik Pekerjaan dan Faktor Individu dengan Stres Kerja pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk

Tahun 2009 ............................................................................................94 Tabel 5.16 Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik Ganda antara Beban Kerja, Jam Kerja, Rutinitas, Kebisingan, Pengembangan Karir, Hubungan Interpersonal, serta Struktur dan Iklim Organisasi dengan Stres Kerja pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ................................................................95 Tabel 5.17 Hasil Analisis Multivariat antara Beban Kerja, Jam Kerja, dan Kebisingan dengan Stres Kerja pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 ...................................95

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Modifikasi Model Stres Kerja Cooper ............................................17 Gambar 2.2 Kerangka Teori Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres Kerja .....59 Gambar 3.1 Kerangka Konsep Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres Kerja ..61

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian 2. Kuesioner Penelitian 3. Daftar pertanyaan metode Life Event Scale 4. Output SPSS Univariat 5. Output SPSS Bivariat 6. Output SPSS Miltivariat

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah kepentingan pengusaha, pekerja dan pemerintah di seluruh dunia. Menurut perkiraan ILO, setiap tahun di seluruh dunia 2 juta orang meninggal karena masalah-masalah akibat kerja. Dari jumlah ini, 354.000 orang mengalami kecelakaan fatal. Disamping itu, setiap tahun ada 270 juta pekerja yang mengalami kecelakaan akibat kerja dan 160 juta yang terkena penyakit akibat kerja. Biaya yang harus dikeluarkan untuk bahaya-bahaya akibat kerja ini amat besar. ILO memperkirakan kerugian yang dialami sebagai akibat kecelakaan-kecelakaan dan penyakit-penyakit akibat kerja setiap tahun lebih dari US$1.25 triliun atau sama dengan 4% dari Produk Domestik Bruto (GDP) (Markkanen, 2004). Tingkat kecelakaan-kecelakaan fatal di negara-negara berkembang empat kali lebih tinggi dibanding negara-negara industri. Tingkat buta huruf yang tinggi dan pelatihan yang kurang memadai mengenai metode-metode keselamatan kerja mengakibatkan tingginya angka kematian yang terjadi karena kebakaran dan pemakaian zat-zat berbahaya yang mengakibatkan penderitaan dan penyakit yang tak terungkap termasuk kanker, penyakit jantung dan stroke. Praktek-praktek ergonomis yang kurang memadai mengakibatkan gangguan pada otot, yang mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas pekerja. Selain itu, masalah-masalah sosial kejiwaan di tempat kerja seperti stres ada hubungannya dengan masalah-masalah kesehatan yang serius, termasuk

penyakit-penyakit jantung, stroke, kanker yang ditimbulkan oleh masalah hormon, dan sejumlah masalah kesehatan mental (Markkanen, 2004). Pada tahun 1996, jauh sebelum job stress dan faktor psikososial menjadi ungkapan sehari-hari, suatu laporan khusus yang berjudul Perlindungan Kesehatan dari Dealapan Puluh Juta Pekerja-Suatu Tujuan Nasional bagi Kesehatan Kerja telah diterbitkan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa stres yang disebabkan oleh faktor psikologis meningkat secara nyata. Tiga puluh tahun kemudian, laporan ini telah membuktikan ramalan secara luar biasa. Job stress telah menjdai penyebab kelainan terdepan di Amerika Utara dan Eropa. Pada tahun 1990, 13 % dari seluruh kasus ketidakmampuan pekerja, disebabkan oleh gangguan yang berhubungan dengan job stress (Rahayu, 2003). Berdasarkan catatan kantor Pusat Statistik Nasional Swedia tahun 1981 yang dikutip oleh Desy (2002) bahwa permasalahan para pekerja yang merupakan potensi bahaya bagi timbulnya penyakit akibat kerja, diketahui bahwa 11% dari seluruh pekerja di Swedia terpapar secara kontinyu oleh kebisingan; 15% pekerja telah terpapar dan membuat pencemaran; 17% pekerja mempunyai jam kerja yang sulit, tidak hanya jam kerja yang terlalu malam atau terlambat kerja malam, kerja shift, juga jam-jam kerja lainnya; 9% pekerja kasar bekerja melampaui sebelas jam per hari; 11% pekerja mempunyai penyakit TBC dan monotomi; 34% pekerja menderita beban atau ketegangan mental; 40% pekerja tanpa persiapan waktu untuk bekerja; 45% pekerja tanpa belajar hal baru dengan layak bagi pekerjaannya; 26% tidak dibantu perilaku kepuasan kerja. Dari data tersebut diketahui bahwa pekerja yang mengalami ketegangan mental adalah sebanyak 34%.

Dampak dari masalah-masalah kesehatan mental di tempat kerja memiliki konsekuensi serius tidak hanya bagi individu tetapi juga untuk produktivitas perusahaan. Kinerja karyawan, tingkat penyakit, absensi, kecelakaan dan turnover karyawan semuanya dipengaruhi oleh status kesehatan mental karyawan (ILO, 2000). Menurut Kreitner dan Kinicki (1992) bahwa produktivitas dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satu diantaranya adalah stres yang dialami seseorang. Semua pekerjaan menanggung beban tangung jawab, masalah-masalah, tuntutan-tuntutan, kesulitan-kesulitan dan tekanan-tekanan yang mencetuskan timbulnya stres pada individu pekerja. Pada akhirnya bila stres berkepanjangan akan menghasilkan respon tubuh dalam bentuk gangguan faal tubuh, gangguan emosional dan perubahan tingkah laku serta menurunnya produktivitas kerja (Harrianto, 2005). Lebih lanjut menurut Soesmalijah (1993) yang dikutip oleh Desy (2002) bahwa bukti- bukti empiris maupun pengamatan awam menunjukkan bahwa stres dapat menyebabkan timbulnya berbagai gangguan, baik fisik maupun psikis yang pada akhirnya mengakibatkan turunnya produktivitas seseorang. Di suatu organisasi dalam kaitannya dengan lingkungan kerja, dimana seseorang bekerja dan menjadi bagian dari hubungan dengan orang lain, merupakan tempat beradanya sejumlah stres yang penting. Karena dalam organisasi seseorang melaksanakan pekerjaan dengan segala sifatnya, berhubungan dengan orang lain, memimpin dan dipimpin, memainkan satu atau lebih peran, berinteraksi dengan lingkungan fisik, dengan tempat kerja, dan sebagainya (Nimran, 1992). Lebih jauh menurut Anoraga (1998) bahwa ketegangan dalam hal ini stres kerja yang sering dialami oleh karyawan akan mengganggu situasi kerja serta konsentrasi dalam menyelesaikan

tugasnya. Keadaan tersebut bisa mengakibatkan menurunnya prestasi kerja yang tentunya sangat merugikan diri karyawan dan perusahaan. Masalah yang berkaitan dengan stres kerja juga terjadi di Indonesia, penelitian yang dilakukan oleh Nugrahani (2008) pada pekerja bagian operasional PT Gunze tahun 2008, memberikan gambaran bahwa dari 100 orang responden yang diteliti 63% mengalami stres sedang, 21% diantaranya mengalami stres berat dan sebagian kecil (16%) mengalami stres ringan. Studi lain yang dilakukan Urianti (2000) terhadap 58 responden pada pekerja di salah satu pabrik tabung Elpiji Pertamina bagian produksi menunjukkan bahwa 62,1% mengalami stres kerja tingkat ringan dan 37,9% mengalami stres kerja tingkat sedang. Sementara penelitian lain yang dilakukan Evayanti (2003) pada pengemudi bus PPD Jakarta pada tahun 2002, memberikan gambaran bahwa 57,8% dari total 308 responden yang diteliti mengalami stres kerja. Menurut Cooper dan Davidson (1987) yang dikutip oleh Miller (2000) stres kerja disebabkan oleh lima faktor, yaitu : faktor intrinsik pekerjaan, peran dalam organisasi, perkembangan karir, hubungan/dukungan sosial, serta struktur dan iklim organisasi. Terkait faktor-faktor penyebab stres kerja ini, Siu et al (1997) dalam

Nugrahani (2008) melakukan penelitian tentang stres kerja di beberapa pabrik di Cina dengan jumlah sampel sebanyak 342 orang. Tujuan studinya adalah untuk menginvestigasi stres kerja pada para pekerja pabrik. Hasil penelitian tersebut diantaranya menunjukkan bahwa sumber utama stres kerja adalah faktor intrinsik pekerjaan. Berdasarkan teori oleh Hurrell, dkk (1988) dalam Munandar (2001) mengemukakan bahwa faktor-faktor di pekerjaan yang dapat menimbulkan stres dapat dikelompokan atas lima kategori besar, salah satunya adalah faktor intrinsik dalam

pekerjaan yang meliputi : beban kerja terlalu berat atau terlalu ringan, jam kerja yang berlebihan, pekerjaan rutin yang dilakukan berulang-ulang sehingga menimbulkan kejenuhan karena bersifat monoton dan lain-lain. Penelitian-penelitian yang juga membahas masalah faktor intrinsik pekerjaan ini juga telah dilakukan di Indonesia. Sebuah studi yang dilakukan oleh Nugrahani (2008) pada pekerja bagian operasional PT Gunze memberikan hasil yang menyatakan bahwa dari 100 responden yang diteliti, sebesar 37% (37 orang) menganggap bahwa beban kerja mereka berat dan 45,9% dari mereka mengalami stres tingkat sedang. Menurut penelitian lain yang dilakukan oleh Muhammad (2004) pada polisi lalu lintas di kawasan terminal Kampung Melayu menyatakan bahwa 87,5% responden yang bekerja > 12 jam menunjukkan gejala stres sedang. Studi yang dilakukan oleh Situngkir (2004) pada departemen operasi PT Badak NGL Bontang memberikan hasil yang menyatakan bahwa dari 131 responden yang diteliti sebesar 25,2% (33 orang) menganggap bahwa rutinitas kerja mereka membosankan dan 66,7% dari mereka mengalami stres tingkat sedang. Selain faktor struktur dan iklim organisasi berdasarkan modifikasi model stres kerja Cooper (1989) oleh Munandar (2001) terdapat faktor individu seperti umur, masa kerja, kepribadian dan lain-lain juga berkontribusi terhadap terjadinya stres kerja. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Muhammad (2004) terhadap beberapa faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada polisi lalu lintas di terminal Kampung Melayu menemukan bahwa, faktor umur dan masa kerja memiliki pengaruh yang sangat besar (> 60%) sebagai pemicu terjadinya stres. Menurut Cooper (1989) yang dikutip dalam Munandar (2001) struktur dan iklim organisasi yang tidak baik dan kurang

mendukung karyawan biasanya dapat menimbulkan ketidakpuasan dalam bekerja, yang akhirnya dapat menyebabkan stres. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Putri (1998) pada karyawan unit poduksi PT Bakrie dan Brothers pabrik pipa baja Talang Tirta Jakarta memberikan hasil yang menyatakan bahwa dari 131 responden yang diteliti sebesar 45,8% (60 orang) menganggap bahwa struktur dan iklim organisasi di tempat kerja mereka tidak mendukung dan 61,1% dari mereka mengalami stres tingkat sedang. Serangkaian faktor lain yang berhubungan dengan stres kerja menurut Cooper dan Davidson (1987) dalam Miller (2000) adalah faktor hubungan/dukungan sosial yang diterima seseorang baik dari rekan kerja, atasan, maupun bawahan. Kaitan antara hubungan seseorang di tempat kerja dengan stres kerja adalah dari segi dukungan sosial yang diperolehnya di tempat kerja. Selain itu, faktor peranan dalam organisasi juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap stres kerja. Menurut Frenh dan Chaplan (1970) yang dikutip dalam Munandar (2001) seorang karyawan yang tidak diikutsertakan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan dirinya akan menyebabkan karyawan tersebut menjadi tidak betah dalam bekerja. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Adas (2006) terhadap pekerja minyak dan gas bumi lepas pantai di pulau Pabelokan memberikan hasil yang menyatakan bahwa dari 120 responden yang diteliti sebesar 94,5% (103 orang) menganggap bahwa peran dalam organisasi mereka pasif (tidak berperan) dan 53,3% dari mereka mengalami stres tingkat tinggi. Faktor lain yang dapat mempengaruhi stres kerja adalah kepuasan terhadap pekerjaan. Miller (2000) mengungkapkan bahwa salah satu cara untuk

mempertimbangkan potensialitas stres kerja adalah dengan mempertimbangkan kepuasan kerja. Kaitan antara kepuasan kerja terhadap stres kerja ini terjadi melalui

adanya mekanisme ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang dilakukan. Adanya ketidakpuasan kerja ini pada akhirnya dapat menimbulkan stres kerja. Menurut Greenberg (2002) faktor-faktor yang secara khusus dianggap berhubungan dengan ketidakpuasan terhadap pekerjaan adalah gaji dan kondisi tempat kerja (seperti bising, pencahayaan yang buruk, temperatur yang buruk dan lain-lain). Menurut teori yang dikemukakan oleh Cooper dan Davidson (1987) dalam Miller (2000) kepuasan terhadap pembayaran (dalam dunia usaha dapat diartikan sebagai gaji) merupakan faktor yang berhubungan dengan stres kerja. Sementara menurut Wantoro (1999), lingkungan fisik seperti kebisingan di tempat kerja merupakan faktor yang dapat menimbulkan stres kerja. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nugrahani (2008) memberikan hasil yang menyatakan bahwa dari 100 responden yang ditelti sebesar 61,0% (61 orang) menyatakan kebisingan di tempat kerja mereka buruk dan 59,0% dari mereka mengalami stres tingkat sedang. Penyebab utama stres kerja adalah tuntutan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan atau keterampilan pekerja, keinginan atau aspirasi yang tidak tersalurkan, dan ketidakpuasan dalam bekerja. Stres kerja merupakan tahap awal terjadinya penyakit pada individu yang rentan. Sebagai akibatnya, stres dapat menimbulkan gangguan psikosomatik, neurotik, dan psikosis yang dapat dilihat dengan meningkatnya angka absenteisme, angka terlambat kerja, pergantian karyawan, kecelakaan kerja dan besarnya angka kerugian sehubungan dengan ketidakhadiran pekerja. Di samping itu, stres kerja selain dapat menurunkan tingkat kesehatan dapat pula mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dan akhirnya mempengaruhi kualitas performa kerja (Fatmah, 1993).

PT. Indofood Sukses Makmur Tbk Bogasari Flour Mills merupakan perusahaan yang bergerak dibidang produsen tepung terigu di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 3,6 juta ton per tahun, terbesar di dunia dalam satu lokasi. Dimana kegiatan produksinya tidak lepas dari segala jenis mesin yang berteknologi tinggi. Setiap pelaksanaan kegiatan produksi beresiko untuk terjadinya kecelakaan kerja. Berdasarkan data PT. ISM Tbk Bogasari Flour Mills tahun 2008 terjadi 24 kasus kecelakaan kerja yang sebagian besar kecelakaan tersebut karena perilaku pekerja yang tidak aman yang disebabkan oleh proses kerja yang tidak aman (29,16%), tidak memakai alat pelindung diri (25%), bekerja pada obyek berbahaya (20,84%), tidak konsentrasi serta bekerja tanpa ijin dan tanpa pengaman (8,34%), memakai alat tidak aman dan membuat alat pengaman tidak berfungsi (4,16%). Dari data tersebut diketahui bahwa pekerja yang tidak konsentrasi bekerja sehingga menyebabkan terjadinya kecelakaan sebesar 8,34%. Perubahan perilaku ketika seseorang mengalami stres menurut Karoley (1985) dalam Hawari (2001) adalah merasa malas bekerja, kurang konsentrasi, cepat merasa lupa dan lain-lain.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan data di atas dan studi pendahuluan serta catatan rekam medis yang dilakukan pada pekerja bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk diketahui bahwa dari 10 responden yang diteliti, seluruhnya (100%) sering merasakan dan mengalami gejala stres antara lain perubahan psikologi (tertekan), perubahan fisiologis (jantung berdebar, pusing, letih/lesu dan sesak nafas) dan perubahan perilaku (kurang konsentrasi). Stres kerja merupakan tahap awal terjadinya penyakit pada individu yang

rentan karena menurunnya daya tahan tubuh sehingga menurunkan kesehatan pekerja yang juga diiringi dengan menurunnya performa dan produktivitas kerja. Hal tersebut tentunya menyebabkan kerugian tidak hanya kepada individu sebagai pekerja akan tetapi juga kepada tingkatan yang lebih umum, dalam hal ini adalah perusahaan karena konsekuensi finansial yang harus ditanggung oleh perusahaan cukup besar, seperti biaya pengobatan, biaya perawatan, dan kehilangan tenaga sehubungan dengan gejala-gejala stres yang dialami pekerjanya. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009.

C. Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana gambaran stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009. 2. Bagaimana gambaran faktor intrinsik pekerjaan (beban kerja, jam kerja, rutinitas kerja, dan kebisingan) yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009. 3. Bagaimana gambaran faktor ekstrinsik pekerjaan (peranan dalam organisasi, perkembangan karir, hubungan interpersonal, serta strukrur dan iklim organisasi) yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009.

4. Bagaiman gambaran faktor individu (umur dan masa kerja) yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009. 5. Apakah faktor intrinsik pekerjaan (beban kerja, jam kerja, rutinitas kerja, dan kebisingan) mempengaruhi stres kerja atau tidak pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009. 6. Apakah faktor ekstrinsik pekerjaan (peranan dalam organisasi, perkembangan karir, hubungan interpersonal, serta strukrur dan iklim organisasi) mempengaruhi stres kerja atau tidak pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009. 7. Apakah faktor individu (umur dan masa kerja) mempengaruhi stres kerja atau tidak pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009. 8. Faktor manakah yang paling berpengaruh terhadap stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009.

D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009.

2. Tujuan Khusus a. Diketahuinya gambaran stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009. b. Diketahuinya gambaran faktor instrinsik pekerjaan (beban kerja, jam kerja, rutinitas kerja, dan kebisingan) berhubungan dengan stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009. c. Diketahuinya gambaran faktor ekstrinsik pekerjaan (peranan dalam organisasi, perkembangan karir, hubungan interpersonal, serta struktur dan iklim organisasi) berhubungan dengan stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009. d. Diketahuinya gambaran faktor individu (umur dan masa kerja) berhubungan dengan stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009. e. Diketahuinya faktor intrinsik pekerjaan (beban kerja, jam kerja, rutinitas kerja, dan kebisingan) mempengaruhi stres kerja atau tidak pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009. f. Diketahuinya faktor ekstrinsik pekerjaan (peranan dalam organisasi, perkembangan karir, hubungan interpersonal, serta strukrur dan iklim organisasi) mempengaruhi stres kerja atau tidak pada pekerja di bagian

produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009. g. Diketahuinya faktor individu (umur dan masa kerja) mempengaruhi stres kerja atau tidak pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009. h. Diketahuinya faktor yang paling berpengaruh terhadap stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009.

E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat bagi Perusahaan Sebagai masukan pada perusahaan tempat penelitian untuk meningkatkan performa dan produktivitas kerja dengan mengendalikan faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja. 2. Manfaat bagi Pekerja Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan serta pemahaman terhadap stres kerja yang dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor terutama yang terdapat di dalam lingkungan pekerjaan. Sehingga pekerja dapat mengatasi secara dini agar produktivitas para pekerja tidak menurun. 3. Manfaat bagi Peneliti Sebagai bahan referensi yang dapat dijadikan bahan bacaan oleh peneliti selanjutnya yang berhubungan dengan stres pada pekerja.

F. Ruang Lingkup Penelitian ini membahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2009, dengan menggunakan desain studi cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September Oktober 2009. Penelitian ini perlu dilakukan karena berdasarkan studi pendahuluan diketahui bahwa pekerja sering merasakan dan mengalami gejala stres dan berdasarkan data kecelakaan tahun 2008 terdapat kecelakaan yang disebabkan oleh tidak/kurang konsentrasi dalam bekerja yaitu sebesar 8,34%.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Stres

Setiap aktivitas normal akan menghasilkan stres, dan stres tak dapat dihindari. Stres dapat ditoleransi hanya dalam waktu yang terbatas. Tidak pernah ada dua orang yang identik, maka stres yang sama akan berpengaruh secara berbeda terhadap masingmasing individu, serta berat ringannya juga sangat bervariasi (Harrianto, 2005). Stresor yang sama dapat dipersepsi secara berbeda, yaitu dapat sebagai peristiwa yang positif dan tidak berbahaya, atau menjadi peristiwa yang berbahaya dan mengancam. Penilaian kognitif individu dalam hal ini sangat menentukan apakah stresor itu dapat berakibat positif atau negatif. Penilaian kognitif tersebut sangat berpengaruh terhadap respon yang akan muncul (Selye, 1956 dalam Widyasari, 2005). Penilaian kognitif bersifat individual differences, maksudnya adalah berbeda pada masing-masing individu dan perbedaan ini disebabkan oleh banyak faktor. Penilaian kognitif bisa mengubah cara pandang akan stres. Dimana stres diubah bentuk menjadi suatu cara pandang yang positif terhadap diri dalam menghadapi situasi yang stresful. Sehingga respon terhadap stresor bisa menghasilkan outcome yang lebih baik bagi individu (Widyasari, 2005). Menurut Sarafino (1990) yang dikutip oleh Smet (1994), stres adalah suatu kondisi disebabkan oleh transaksi antara individu dengan lingkungan yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi dengan sumber-sumber daya sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Sedangkan menurut Anoraga (1998) secara sederhana stres sebenarnya merupakan suatu bentuk tanggapan seseorang,

baik secara fisik maupun mental, terhadap suatu perubahan di lingkungannya yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam. Menurut Heerdjan (1990) stres digambarkan sebagai suatu kekeuatan yang dihayati mendesak atau mencekam, dan yang muncul dalam diri seseorang sebagai akibat ia mengalami kesulitan menyesuaikan diri. Lebih jauh Selye (1950) dalam Komalasari (2005) membedakan bentuk stres menjadi dua, yaitu : Eustres dan Distres. Eustres adalah respon positif dari suatu kejadian yang menghasilkan perasaan yang menyenangkan, menantang dan

menghasilkan prestasi yang tinggi. Sedangkan Distres adalah respon negatif dari suatu kejadian yang dipersepsikan sebagi sesuatu yang merugikan atau yang menyakitkan.

B. Definisi Stres Kerja

Hampir semua orang di dalam hidupnya pernah mengalami stres yang berkaitan dengan pekerjaannya. Sering situasi penuh stres ini berlangsung secara ringan dan sebentar dan hanya berdampak kecil pada seseorang, tetapi pada kebanyakan orang, stres ini dirasa berat dan berlangsung lama (Sarafino, 1990 dalam Rustiana, 2008). Menurut Soewondo (1993) yang dikutip dalam Desy (2002) stres kerja adalah suatu kondisi dimana satu atau beberapa faktor di tempat kerja berinteraksi dengan pekerja sedemikian rupa sehingga mengganggu keseimbangan fisiologik dan psikologik. Faktor-faktor tersebut misalnya beban kerja yang terlalu berat, pekerjaan yang terlalu sedikit, hubungan atasan bawahan yang kurang serasi dan peran yang tidak jelas. Dalam konteks stres di tempat kerja menurut Levi (1975) yang dikutip dari Kalimo dkk (1995) peran psychososial stimuli yang berasal dari proses sosial akan

mempengaruhi individu. Proses interaksi yang tidak seimbang antara demands dan resources pada individu akan cenderung menjadi precursors of disease. Selama proses tersebut berlangsung akan ada variabel interaktif yang akan berperan didalamnya seperti variabel intrinsik dan ekstrinsik. Konsep stres di tempat kerja beserta faktor yang berpengaruh di dalamnya, secara komprehensif diuraikan oleh Cooper. Menurutnya stres di tempat kerja dapat bersumber dari beberapa hal, yaitu work area, home area, sosial area dan individual area. Sementara manifestation area adalah mengamati perubahan akibat stres secara tidak langsung pada fisik, perilaku dan emosi pada pekerja. Berikut adalah teori stres menurut Cooper yang telah dimodifikasi oleh Munandar (2001) yang dapat dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Modifikasi Model Stres Kerja Cooper

Lingkungan Pekerjaan Intrinsik dalam Pekerjaan Peran dalam Organisasi Pengembangan karir Hubungan dalam Pekerjaan Struktur dan Iklim Organisasi

Lingkungan di luar Pekerjaan : a. Keluarga b. Masyarakat

Faktor Individu : a. Kepribadian b. Kecakapan c. Nilai dan kebutuhan d. Umur e. Masa kerja

Gejala-gejala Fisik

Gejala Psikologikal

Gejala Perilaku

Gejala Organisasi

Stres Kerja
Sumber: Munandar, Psikologi Industri dan Organisasi. Modifikasi dari Model Stres Kerja Cooper, C.L. (1989). Hal.380.

C. Penyebab Stres Kerja

Stres kerja dapat muncul karena adanya sumber-sumber stres atau stresor. Menurut Hurrell, dkk (1988) yang dikutip dalam Munandar (2001) bahwa faktor-faktor di pekerjaan yang dapat menimbulkan stres dapat dikelompokkan atas lima kategori besar, yaitu :
1. Faktor Intrinsik dalam Pekerjaan

Faktor intinsik dalam pekerjaan meliputi : a. Beban kerja Dengan melakukan aktivitas pekerjaan, tubuh akan menerima beban dari luar tubuhnya. Dengan kata lain, bahwa setiap pekerjaan merupakan beban bagi pekerjanya. Beban tersebut dapat berupa beban kerja fisik dan mental (Tarwaka, et al, 2004). Lebih lanjut menurut Munandar (2001) beban kerja dibedakan menjadi beban kerja kuantitatif dan beban kerja kualititif. Beban kerja kuantitatif yaitu beban kerja yang timbul sebagai akibat dari tugas-tugas yang diberikan harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Sedangkan beban kerja kualitatif yaitu jika orang merasa tidak mampu untuk melakukan suatu tugas atau tugas tidak menggunakan keterampilan atau potensi dari tenaga kerja. Beban kerja kuantitatif dan kualitatif yang berlebih dapat menimbulkan kebutuhan untuk bekerja selama jumlah jam yang sangat banyak, yang merupakan sumber tambahan dari stres. Jumlah dan tingkat kesulitan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan bisa menyebabkan orang menjadi stres. Bekerja dengan beban kerja secara kuantitatif yang berlebihan telah menjadi fokus banyak penelitian, karena dampak yang ditimbulkan tidak hanya berkaitan dengan fisiologis seseorang tetapi juga psikologinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipertensi tinggi atau tekanan darah tinggi terkait dengan bebean kerja yang tinggi diikuti dengan tingginya kegelisahan dan frustasi. (Spector et al , 1988 dalam Anugrah, 2009). Jones et all (1988) dalam Anugrah (2009) menemukan bahwa pekerja yang dituntut bekerja cepat dan mempunyai banyak

pekerjaan yang harus diselesaikan (having too much work) mempunyai resiko mengalami tekanan kerja 4,5 kali lebih besar dibandingkan pekerja biasa. Penelitian yang dilakukan oleh ahli jantung Meyer Friedmen dan Ray Resenmen (1974) dalam Anugrah (2009) menunjukkan bahwa desakan waktu kronis tampaknya memberi pengaruh yang tidak baik terhadap sistem kardiovaskular, yang hasilnya secara khusus adalah serangan jantung prematur dan tekanan darah tinggi. Beban kerja berlebih secara fisik maupun mental seperti harus melakukan banyak hal merupakan kemungkinan sumber stres pekerjaan. Banyak atau sedikitnya beban kerja yang diterima seorang tenaga kerja dapat digunakan untuk menentukan berapa lama seseorang dapat bekerja tanpa mengalami kelelahan. Selain beban berlebih, yang menjadi stresor lain, salah satunya adalah desakan waktu yaitu setiap tugas diharapkan dapat diselesaikan secepat mungkin secara tepat dan teratur. Pada saat-saat tertentu, deadline justru dapat meningkatkan motivasi dan menghasilkan prestasi kerja yang tinggi. Namun bila desakan waktu justru menyebabkan timbulnya banyak keasalahan atau menyebabakan kondisi kesehatan seseorang berkurang, maka hal ini cerminan adanya beban berlebihan kuantitatif (Anugrah, 2009). Berat ringannya beban kerja yang diterima oleh seorang pekerja dapat digunakan untuk menentukan berapa lama seorang pekerja dapat melakukan aktivitas pekerjaannya sesuai dengan kemampuan atau kapasitas kerja yang bersangkutan. Dimana semakin berat beban kerja sehingga melampaui kapasitas kerja akan menurunkan efisiensi dan produktivitas kerja bahkan dapat menimbulkan gangguan kesehatan pekerja ( Tarwaka, et al, 2004).

Beban kerja dapat ditentukan dengan merujuk kepada jumlah kalori yang dikeluarkan dalam melakukan pekerjaan per satuan waktu. Estimasi panas metabolik dapat dilakukan dengan menilai pekerjaan, hal ini dapat dilihat pada tabel 2.1

Tabel 2.1 Penilaian pekerjaan


A. Posisi dan pergerakan badan Sitting Standing Walking Walking Uphill B. Type of work Hand work Light Heavy Work: One arm Light Heavy Work: Both arms Light Heavy Work: Whole body Light Moderate Heavy Very heavy C. Basal Metabolism Average kcal/min 0.4 0.9 1.0 1.7 1.5 2.5 3.5 5.0 7.0 9.0 1.0 kcal/min* 0.3 0.6 2.0-3.0 add 0.8 for every meter (yard) rise Range kcal/min

0.2-1.2

0.7-2.5

1.0-3.5

2.5-15.0

1.0

* For a "standard" worker of 70 kg body weight (154 lbs) and 1.8m2 body surface (19.4 ft2). Sumber :ACGIH, 1992 dalam Dowell, 2007

Adapun klasifikasi beban kerja berdasarkan jumlah kalori yang dikeluarkan dalam melakukan pekerjaan dapat dilihat pada tabel 2.2 Tabel 2.2

Kategori beban kerja berdasarkan jumlah kalori yang dikeluarkan dalam melakukan pekerjaan
Kategori Pekerjaan Ringan Pekerjaan sedang Pekerjaan Berat Sumber :ACGIH, 1992 dalam Dowell, 2007 Menurut penelitian yang dilakukan oleh Bida (1995) diketahui bahwa responden menyatakan bahwa beban kerja mereka berat, sehingga menyebabkan stres. Hasil statistik menyatakan ada hubungan antara beban kerja dengan stres kerja. Namun, menurut Desy (2002) berdasarkan penelitian yang dilakukan di PT Unilever Indonesia, Tbk diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat beban kerja dengan stres kerja. b. Shift kerja (kerja gilir) Penggunaan teknologi modern menuntut peningkatan aktifitas manusia sepanjang waktu sehingga dituntut adanya pembagian kerja dalam shift selama 24 jam. Akan tetapi perubahan irama biologi tubuh manusia tidak sama dengan tuntutan lingkungan kerja dengan shift, karena manusia menggunakan waktunya di malam hari untuk istirahat atau tidur sehingga manusia harus beradaptasi dengan perubahan shift kerja. Efek shift kerja yang tidak teratur adalah menurunnya kesehatan pekerja karena ketidaksesuaian dan ketidakseimbangan penempatan jam kerja dengan pola sosial, fisiologi (perubahan irama sirkardian tubuh) dan psikologi individu. Selain itu, shift kerja dapat meningkatkan resiko kecelakaan dan ketidakpuasan manajemen. c. Jam kerja Kcal / Jam Sampai dengan 200 kcal / jam 200 350 Kcal/jam > 350 kcal / jam

Menurut standar yang ada, rata-rata jam kerja adalah 8 jam per hari (HIPERKES). Sehingga penambahan jam kerja diluar standar dapat meningkatkan usaha adaptasi pekerja, yang kemudian dapat meningkatkan ekskresi katokholamin yaitu hormon adrenalin dan non-adrenalin (Munandar, 2001). Menurut beberapa penelitian, kerja lembur yang terlalu sering, apalagi tanpa kontrol jumlah jam kerja yang berlebihan ternyata tidak hanya mengurangi kuantitas dan kualitas hasil kerja, juga seringkali meningkatkan kuantitas absen dengan alasan sakit atau kecelakaan kerja (Harrianto, 2005). Bebarapa hasil penelitian membuktikan bahwa perubahan lamanya waktu kerja sehari menimbulkan perubahan pada efisien kerja. Dalam banyak kasus, kerja yang melebihi 10 jam sehari mengakibatkan penurunan dalam total prestasi dan penurunan kecepatan kerja yang disebabkan kelelahan. Dari pengamatan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang pegawai cenderung untuk mempertahankan keluaran setiap harinya seperti yang telah ditetapkan, sehingga ia akan berupaya untuk mencapai irama kerjanya sendiri dalam rangka mengadaptasi situasi yang dimaksud. Fenomena tersebut hanya akan berlangsung apabila pekerjaan tidak tergantung kepada mesin. Kesediaan pegawai untuk menyesuaikan kecepatan kerjanya selama jam kerja dipengaruhi juga oleh banyakanya gaji yang diterima atau motivasi lainnya (Sedamayanti, 2009). Hasil penelitian membuktikan bahwa kerja lembur yang berlebihan tidak hanya meragukan akan keluaran per jamnya, tetapi juga akan diikuti dengan meningkatnya kemangkiran karena sakit atau kecelakaan kerja. Perbandingan antara konsumsi energi

dan penggantian kembalinya, atau penggantian antara bekerja dan pemulihannya berlaku sama bagi semua fungsi tubuh. Hal tersebut diperlukan oleh semua pegawai. Waktu istirahat merupakan kebutuhan fisiologi yang tidak dapat dihindarkan dalam rangka mempertahankan kapasitas kerja (Sedamayanti, 2009). Menurut penelitian Muhammad (2004) diketahui bahwa responden yang bekerja > 12 jam menunjukkan gejala stres sedang. Hasil uji statistik menunjukkan ada kecenderungan hubungan yang bermakna antara jam kerja dengan stres kerja. Namun, menurut Bida (1995) berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kepulauan Natuna terhadap karyawan Conoco dan Kontraktor di Block B diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara jam kerja dengan stres kerja. Penelitian yang berkaitan dengan jam kerja yang berlebihan dilakukan oleh Margolis, Kroes dan Quinn (1974) yang dikutip dalam Suprapto (2008) kepada 1.496 pekerja yang mewakili penduduk Amerika secara nasional bahwa kelebihan jam kerja secara signifikan berhubungan dengan beberapa gejala atau indikator dari stres, seperti : minum-minum, ketidakhadiran dalam bekerja, motivasi rendah untuk bekerja, kepercayaan diri yang rendah dan adanya saran untuk tidak masuk dalam bekerja.

d. Rutinitas Pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan gerakan anggota badan yang berulang-ulang secara monoton, yang kadang-kadang pula disertai posisi kerja yang sulit atau sambil membawa beban atau menahan beban seringkali sangat memberatkan individu pekerja (Harrianto, 2005). Menurut Walsh dkk (2005) dalam

Harrianto (2005) menyimpulkan dalam penelitiannya bahwa pekerjaan yang banyak menggerakkan tangan berulang dan membosankan seperti pada para pekerja penggergajian kayu lebih banyak menimbulkan penyakit-penyakit psikosomatik dan gejala-gejala stres mental lainnya sehingga meningkatkan frekuensi cuti sakit. Pada pekerjaan yang sederhana dimana banyak terjadi pengulangan gerak akan timbul rasa bosan dan rasa monoton. Kebosanan dalam kerja rutin sehari-hari, sebagai hasil dari terlampau sedikitnya tugas yang harus dilakukan dapat menghasilkan berkurangnya perhatian. Hal ini, secara potensial membahayakan jika tenaga kerja gagal untuk bertindak tepat dalam keadaan darurat. Kebosanan ditemukan sebagai sumber stres yang nyata pada operator kran (Cooper dan Kelly, 1984 dalam Munandar, 2001). Penelitian lain yang dilakukan oleh Muhammad (2004) berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan terdapat kecenderungan hubungan yang bermakna antara rutinitas dengan stres kerja. Namun, menurut penelitian Bida (1995) yang dilakukan pada karyawan Conoco dan Kontraktor di Block B Kepulauan Natuna diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara rutinitas dengan stres kerja. e. Kompleksitas pekerjaan Semakin kompleks suatu pekerjaan, maka pekerja dituntut untuk bekerja semakin lama dan memiliki keahlian yang memadai. Selain itu, pekerjaan yang kompleks memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dan rumit, sehingga apabila banyak pekerja yang tidak mampu menyelesaikan hal tersebut maka para pekerja akan mengalami frustasi dan stres (Munandar, 2001).

f.

Pembebanan tuntutan pekerjaan yang berat dengan keterampilan yang tidak memadai Apabila seseorang mengerjakan sesuatu yang belum menjadi keahliannya, maka orang tersebut akan berpotensi terkena stres, karena pekerjaan akan selalu menuntut dan membebani pekerja. Sehingga pikirannya tidak pernah tenang dan selalu merasa dibayangi oleh pekerjaannya tersebut (Munandar, 2001).

g. Rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan Seseorang yang memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaannya akan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Namun, pekerja yang kurang memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya akan selalu menunda pekerjaannya. Sehingga pekerjaan tidak pernah selesai tepat waktu, yang pada akhirnya dapat menimbulkan stres (Munandar, 2001).

Menurut Wantoro (1999), selain tuntutan kerja yang termasuk dalam faktor intrinsik pekerjaan adalah kondisi lingkungan fisik yang terdiri dari :

a. Kebisingan Kebisingan merupakan suara-suara yang tidak dikehendaki. Kebisingan sangat mengganggu pekerja dalam bekerja, baik dalam hal pemusatan perhatian

terhadap pekerjaannya maupun berkomunikasi dengan orang lain. Keadaan ini dapat mengganggu pendengaran, terjadinya kecelakaan kerja, menimbulkan terjadinya gangguan atau pengaruh psikologis dari pekerja dalam bentuk gangguan emosi, temperamen dan lain-lain. Paparan kebisingan dengan intensitas yang tinggi melebihi Nilai Ambang Batas yang ditetapkan pemerintah melalui KEPMENAKER No. 51/MEN/1999 (85 dB untuk paparan 8 jam kerja sehari) akan membahayakan kesehatan pada telinga tenaga kerja (Yanri, 2002 dalam Nawawinetu dan Adriyani, 2007). Menurut Nawawinetu dan Adriyani (2007) efek kebisingan dengan intensitas tinggi terhadap pendengaran berupa ketulian syaraf (Noise Induced Hearing Loss) tersebut telah banyak diteliti. Namun kebisingan selain memberikan efek terhadap pendengaran (Auditory Effects) juga dapat menimbulkan efek bukan pada pendengaran (Non Auditory Effects) dan efek ini bisa terjadi walaupun intensitas kebisingan tidak terlalu tinggi. Efek non auditori terjadi karena bising dianggap sebagai suara yang mengganggu sehingga respon yang timbul adalah akibat stres bising tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa absenteisme pada tenaga kerja yang terpapar bising lebih tinggi dibanding yang tidak terpapar bising, namun belum jelas apakah hal ini disebabkan oleh efek psikologis atau fisiologis dari stres bising (CCOHS, 2007 dalam Nawawinetu dan Adriyani, 2007). Selain itu berdasarkan penelitian Arianty (1999) yang dilakukan pada karyawan di divisi produksi dan divisi pemeliharaan PT Pupuk Kujang Cikampek berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa ada hubungan antara

kebisingan dengan stres kerja. Namun, menurut Nugroho (2004) diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara kebisingan dengan stres kerja. b. Suhu panas atau dingin Pada suhu panas dan dingin, dapat menyebabkan pekerja mudah terkena kelelahan disamping pengaruh kesehatan lainnya. Efek suhu tempat kerja di dalam atau di luar ruangan, status kesehatan pekerja, kelembaban, kecepatan aliran udara, jenis pakaian yang digunakan dan lama pemaparan. Keadaan ini bila terjadi berlarut-larut menyebabkan pekerja tidak mampu bekerja dengan baik karena menurunnya gairah bekerja atau bila terpaksa bekerja maka dapat mengakibatkan stres (Munandar, 2001). c. Pencahayaan Terlalu kuatnya cahaya penerangan dapat menimbulkan dampak psikologis pada pekerja, seperti kelelahan dan pusing. Bahkan dapat menimbulkan kecelakaan kerja akibat silaunya penerangan di ruang kerja, begitu pula sebaliknya dengan penerangan yang suram (Munandar, 2001). Pencahayaan yang kurang atau terlalu berlebihan di tempat kerja menyulitkan pekerja untuk bekerja secara optimal, sehingga apabila hal ini terjadi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan seorang pekerja mengalami stres dan ketidaknyamanan dalam bekerja (Sarlito, 1992 dalam Suprapto, 2008). d. Radiasi Sumber daya radiasi adalah sinar gamma, yaitu gelombang elektromagnet yang mampu menembus permukaan kulit tanpa terlihat oleh mata. Energi itu mampu merusak sel-sel hidup. Pemaparan radiasi tergantung dari dosis, waktu

pemaparan dan jarak sumber ke pekerja. Selain memberi pengaruh buruk, radiasi juga menyebabkan rasa kurang aman bagi pekerja di tempat yang mengandung radiasi. Apabila hal ini tidak diperhatikan, maka dalam waktu-waktu tertentu hal tersebut tidak hanya berbahaya bagi pekerja, namun dapat menimbulkan keresahan dan stres dalam bekerja (Munandar, 2001).

2. Peranan dalam Organisasi Sumber utama stres kerja lainnya adalah yang berhubungan dengan peranan seseorang di tempat kerja. Para peneliti di bidang ini bersepakat untuk memfokuskan pada peranan yang mempunyai dua makna (role ambiguity) dan peranan yang mempunyai dua makna yang saling bertentangan (role conflict) (Munandar, 2001). a. Role Ambiguity Hal ini terjadi ketika seseorang mempunyai informasi yang tidak selaras tentang peranan pekerjaannya, dimana terdapat kekurang-jelasan tentang tujuan yang akan dihasilkan dari suatu pekerjaan yang dipengaruhi oleh peraturan, tentang ruang lingkup dan tanggung jawab dari suatu pekerjaan dan tentang harapan rekan-rekan kerja dari peranan kerjanya. Kahn et al (1964) dalam Munandar (2001) menyatakan bahwa seseorang yang mengalami role ambiguity yang berlebihan akan mengalami kepuasan kerja yang rendah, meningkatnya ketegangan yang berhubungan dengan pekerjaan, kepercayaan terhadap diri sendiri yang semakin rendah dan kesia-siaan yang bertambah besar. Indikator stres kerja yang berhubungan dengan role ambiguity adalah mengalami keadaan yang tertekan, ketidakpuasan pada kehidupannya,

ketidakpuasan pada pekerjaan, rendahnya motivasi kerja, keinginan untuk meninggalkan pekerjaan dan rasa menghargai diri sendiri yang semakin rendah. b. Role Conflict Hal ini terjadi ketika seseorang berada dalam situasi peranan kerja tertentu yang berlawanan dengan tuntutan pekerjaan / menghadapi masalah oleh keharusan melaksanakan suatu pekerjaan yang sebenarnya tidak ingin dilakukan oleh orang tersebut. Sebagian besar frekuensi manifestasi dari role conflict adalah ketika seseorang dihadapkan pada dua kelompok orang yang menginginkan perbedaan perilaku atau mengharapkan bahwa pekerjaan seharusnya menghasilkan fungsi yang berbeda-beda. Kahn et al (1964) dalam Munandar (2001) mengatakan bahwa seseorang yang mengalami role conflict yang berlebihan akan mengalami kepuasan kerja yang rendah, meningkatnya ketegangan yang berhubungan dengan pekerjaan.

Apabila seorang karyawan tidak diikutsertakan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan dirinya, maka hal tersebut dapat menyebabkan karyawan tersebut menjadi tidak betah dalam bekerja. Dari hasil penelitian diketahui bahwa seorang pekerja yang diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, memiliki hasil kerja yang lebih baik dan mengurangi tekanan dalam bekerja yang dapat menyebabkan stres (Frenh dan Chaplan, 1970 dalam Munandar, 2001). Miles dan Perreault (1976) yang dikutip oleh Munandar (2001) jenis konflik peran dibedakan menjdai empat, yaitu :

1) Konflik peran-pribadi : tenaga kerja ingin melakukan tugas berbeda dari yang disarankan dalam uraian pekerjaannya. 2) Konflik Intrasender : tenaga kerja menerima penugasan tanpa memiliki tenaga kerja yang cukup untuk dapat menyelesaikan tugas dengan berhasil. 3) Konflik Intersender : tenaga kerja diminta untuk berperilaku sedemikian rupa sehingga ada orang merasa puas dengan hasilnya, sedangkan orang lain tidak. 4) Peran dengan beban berlebih : tenaga kerja mendapat penugasan kerja yang terlalu banyak dan tidak dapat ia tangani secara efektif.

Kiev dan Kohn (1979) yang dikutip oleh Munandar (2001) menyatkan bahwa dalam penelitian mereka menemukan bahwa konflik peran juga merupakan salah satu sumber stres utama pada para manajer puncak dan menengah. Hasil penelitian tidak jelas menunjukkan bahwa konflik peran merupakan pembangkit stres pada para pekerja pabrik. Menurut Sutherland dan Cooper (1988) yang dikutip oleh Munandar (2001), bahwa mungkin para pekerja pabrik lebih merasakan konflik intersender sebagai pembangkit stres. Menurut Cooper dan marshall (1978) dalam Munandar (2001) konflik peran lebih dirasakan sebagai pembangkit stres oleh mereka yang bekerja pada batas-batas organisasi (organizational boundaries), seperti para manajer menengah pada umumnya.

3. Pengembangan Karir Banyak orang menganggap bahwa karir sama dengan kemajuan dalam suatu organisasi. Pandangan yang lebih luas mendefinisikan karir sebagai urutan dari kegiatan-

kegiatan dan perilaku-perilaku yang terkait dengan kerja dan sikap, nilai dan aspirasiaspirasi yang terkait sepanjang masa hidup seseorang. Pengembangan karir merupakan gabungan dari kebutuhan pelatihan di masa akan datang dan perencanaan sumber daya manusia. Dari sudut pandang pegawai, pengembangan karir memberikan gambaran mengenai jalur-jalur karir di masa akan datang di dalam organisasi dan menandakan kepentingan jangka panjang dari organisasi terhadap para pegawainya. Bagi organisasi, pengembangan karir memberikan beberapa jaminan bahwa akan tersedia pegawaipegawai yang akan mengisi posisi-posisi yang akan lowong di waktu mendatang (Gomes, 2001). Dalam praktek pengembangan karir lebih merupakan suatu pelaksaan rencana karir seperti yang diungkapkan oleh Handoko (1985) bahwa pengembangan karir adalah peningkatan-peningkatan pribadi yang dilakukan seseorang untuk mencapai suatu rencana karir. Pengembangan karir karyawan menurut Andersen (1982) yang dikutip oleh Bida (1995) adalah memacu kepada aktivitas pekerjaan yang terus-menerus, kelebihan jam kerja ketika melakukan berbagai pekerjaan dan berbagai macam pelatihan yang diberikan. Pengembangan karir karyawan terkait dengan pembangkit stres, diantaranya (Munandar, 2001):

a. Kesempatan mendapat promosi kerja b. Kesempatan mengembangkan bakat dan kreatifitas dengan menyalurkan ide dan usul atau saran pada perusahaan c. Kesempatan memperoleh pendidikan dan pelatihan atau kursus di dalam atau di luar perusahaan untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan kerja

d. Sistem reward, meliputi pemberian gaji, tunjangan dan penghargaan pada karyawan berprestasi tidak dijalankan oleh perusahaan dengan baik.

Lebih jauh, menurut Everly dan Girdano (1980) yang dikutip oleh Munandar (2001) bahwa untuk menghasilkan kepuasan pekerjaan dan mencegah timbulnya frustasi pada para tenaga kerja (yang merupakan betuk reaksi terhadap stres), perlu diperhatikan tiga unsur yang penting dalam pengembangan karir, yaitu : a. Peluang untuk menggunakan keterampilan jabatan sepenuhnya b. Peluang mengembangkan keterampilan yang baru c. Penyuluhan karir untuk memudahkan keputusan-keputusan yang menyangkut karir

Pengembangan karir merupakan pembangkit stres potensial yang mencakup ketidakpastian pekerjaan, promosi berlebih, promosi yang kurang, ketidakamanan dalam bekerja, ketakutan di keluarkan dari pekerjaan karena tidak ada lagi pekerjaan yang akan dilakukan, pensiun terlalu dini, frustasi terhadap apa yang telah dicapai oleh karir manajer dan staf yang profesional,

seseorang. Bagi pekerja, terutama bagi seorang

kemajuan dalam berkarir adalah suatu hal yang penting. Dengan promosi kerja, mereka tidak hanya mencari peningkatan pendapatan, tetapi juga mencari peningkatan status dan tantangan yang ada dari pekerjaan yang baru (Munandar, 2001). Dari sudut pandang perusahaan Mc Murray (1973) yang dikutip dalam Munandar (2001) menemukan kasus untuk tidak mempromosikan pekerjaan ke posisi yang lebih tinggi, jika terdapat keraguan

pada pekerja yang akan menempati posisi tersebut. Keadaan ini dinamakan Executive Neurosis Syndrome. Menurut penelitian Siswanti (2004) berdasarkan hasil uji statistik diketahui ada hubungan yang bermakna antara kepuasan terhadap sistem promosi dengan stres kerja. Namun, menurut penelitian Bida (1995) diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara promosi dengan stres kerja. Selain itu Siswanti (2004) juga meneliti hubungan pemberian gaji dengan stres kerja, hasil statistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara kepuasan pemberian gaji dengan stres kerja. Demikian juga dengan Bida (1995) dari penelitiannya disimpulkan bahwa responden tidak puas terhadap gaji yang diterima, sehingga menyebabkan stres. Namun, menurut penelitian Soebekti (2004) diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara gaji dengan stres kerja.

4. Hubungan Interpersonal dalam Pekerjaan Menurut Selye (1956) yang dikutip oleh Munandar (2001) bahwa hidup dengan orang lain merupakan salah satu aspek dari kehidupan yang penuh stres. Hubungan yang baik antaranggota dari satu kelompok kerja dianggap sebagai faktor utama dalam kesehatan individu dan organisasi Hubungan kerja yang tidak baik terungkap dalam gejala-gejala adanya keprcayaan yang rendah, taraf pemberian support yang rendah dan minat yang rendah dalam pemecahan masalah dalam organisasi. Ketidakpercayaan secara positif berhubungan dengan role

ambiguity yang tinggi, yang mengarah ke komunikasi antarpribadi yang tidak sesuai antara para tenaga kerja dan ketegangan psikologikal dalam bentuk kepuasan pekerjaan yang rendah, penurunan dari kondisi kesehatan dan rasa diancam oleh atasan dan rekan-rekan kerjanya (Kahn dkk, 1964 dalam Munandar, 2001). Hubungan sosial yang menunjang (supportive) dengan rekan-rekan kerja, atasan dan bawahan di pekerjaan, tidak akan menimbulkan tekanan-tekanan antarpribadi yang berhubungan dengan persaingan. Kelekatan kelompok, kepercayaan antarpribadi dan rasa senang dengan atasan, berhubungan dengan penurunan dari stres pekerjaan dan kesehatan yang lebih baik. Perilaku yang kurang menenggang rasa dari atasan tampaknya yang ketat dan pemantauan ujuk-kerja yang kaku dapat dirasakan sebagai penuh stres (Munandar, 2001). Stres juga dapat timbul karena tenaga kerja harus bekerja sama dengan tenaga kerja lain yang berkepribadian kasar, orang yang tidak memperhatikan perasaan dan kepekaan dalam interkasi sosial, dan orang yang dingin. Dilain pihak mereka biasanya orang yang berorientasi prestasi, selalu bekerja keras dan pandai. Jika ia seorang atasan maka ia menimbulkan stres yang besar pada para bawahannya. Menurut Buck (1972) dikutip oleh Novendra (1994) yang memfokuskan pada sikap hubungan personal dari pekerja dan manajer pada atasannya dengan menggunakan kuesioner kepemimpinan Fleishman (1969) kemudian diperoleh faktor pertimbangan atau faktor perhatian yang dihubungkan dengan indikasi perilaku dari hubungan antara teman, saling percaya, menghormati dan suatu keadaan tertentu yang kurang baik (memanas) antara atasan dengan bawahan. Buck menyimpulkan bahwa kurangnya perilaku perhatian /

pertimbangan ini dari seorang atasan akan dapat mendorong kepada perasaan tekanan pekerjaan. Salah satu faktor utama yang berpengaruh dari seorang manajer yang dikutip oleh Novendra (1994) adalah pengawasannya terhadap pekerjaan orang lain. Telah lama diterima bahwa ketidakmampuan untuk mendelegasi dapatlah menjadi suatu masalah, tetapi sekarang suatu strain baru adalah mempunyai keterampilan interpersonal dari seorang manajer, manajer harus mempelajari bekerja secara partisipatif. Menurut Gowler dan Legge (1956) dalam Novendra (1994) diketahui bahwa faktor yang dapat digunakan pada partisipasi suatu sebab dari keberhasilan, ketidakpastian dan stres para mananjer, diantaranya : ketidaksesuaian dari kekuasaan formal dan kekuasaan yang sebenarnya, manajer bisa mengalami pengikisan dari kekuasaan dan peraturan formalnya serta kehilangan dalam memberi penghargaan, manajer dapat menjadi subyek penekanan yang tidak dapat disatukan antara berpartisipasi dan dalam meningkatkan jumlah produksi yang tinggi serta bawahannya yang mungkin dapat menolak untuk berpartisipasi. Menurut Lazarus (1966) yang dikutip oleh Munandar (2001) disamping faktor politik kantor dan rekan kerjanya yang sudah menjadi rivalnya, juga dikemukakan elemen lain di sini adalah stres tidak hanya dapat disebabkan oleh hubungan relasi yang kurang baik, tetapi juga dapat disebabkan oleh hubungan relasi yang terlalu baik, serta kurangnya dukungan sosial yang memadai dalam situasi yang sulit. Penelitian yang memperhatikan tentang masalah hubungan interpersonal dilakukan oleh Kahn dkk (1964), French dan Chaplan (1970) dan Buck (1972) dikutip oleh Munandar (2001) mendapatkan kesimpulan yang sama, bahwa ketidakpercayaan seorang pekerja

secara positif berhubungan dengan tingginya role ambiguity, kurangnya berkomunikasi dengan rekan kerja, ketegangan psikologi yang ditunjukkan dengan rendahnya kepuasan dalam bekerja dan tidak adanya perasaan menghilangkan ancaman dalam pekerjaan sebagai kesuksesan bersama. Selain beberapa faktor yang telah disebutkan sebelumnya yang berhubungan dengan hubungan interpersonal dan persaingan dalam pekerjaan, terdapat elemen lain yaitu stres dapat disebabkan tidak hanya karena hubungan dengan rekan kerja, tetapi juga lawan kerja dan kurangnya dukungan sosial yang dibutuhkan dalam situasi yang sulit (Lazarus, 1966 dalam Suprapto, 2008). Sedangkan menurut Munandar (2001) menyatakan bahwa hubungan yang buruk dengan atasan, rekan kerja dan bawahan dalam bekerja dapat memicu timbulnya stres dan absenteisme dalam bekerja. Menurut Anoraga (1998) mengendalikan suatu konflik tidaklah semudah yang dibayangkan, apalagi jika konflik itu sangat beragam. Strategi dengan cara perdamaian sementara dengan mengorbankan kerjasama jangka panjang sering dianggap berhasil. Namun strategi yang dianggap paling efektif adalah mengendalikan konflik dengan meletakan dasar untuk meningkatkan kerjasama. Strategi ini mementingkan tujuan kerja. Berbagai penelitian menunjukkan, bahwa tujuan yang lebih penting daripada sasaran sempit dua individu merupakan sarana yang baik untuk menyelesaikan suatu konflik, karena dua individu atau kelompok yang sedang berkonflik harus bekerjasama untuk mencapai tujuan yang besar. Tanpa kerjasama tersebut, mereka justru akan sama-sama dirugikan dan tidak memperoleh hasil apa pun. Akhirnya konflik antara mereka bisa dilupakan mengingat tujuan kerja yang jauh lebih menguntungkan.

Penelitian yang dilakukan oleh Bida (1995) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara hubungan interpersonal dalam pekerjaan dengan stres kerja. Namun, menurut penelitian Desy (2002) diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara hubungan interpersonal dengan stres kerja.

5. Struktur dan Iklim Organisasi Bagaimana para tenaga kerja mempersepsikan kebudayaan, kebiasan dan iklim dari organisasi adalah penting dalam memahami sumber-sumber stres potensial sebagai hasil dari beradanya mereka dalam organisasi : kepuasan dan ketidakpuasan kerja berkaitan dengan penilaian dari struktur dan iklim organisasi. Faktor stres yang dikenali dalam kategori ini terpusat pada sejauh mana tenaga kerja dapat terlibat atau berperan serta dan pada support social. Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya peran serta atau partisipasi dalam pengambilan keputusan berhubungan dengan suasana hati dan perilaku yang negatif, misalnya menjadi perokok berat. Peningkatan peluang untuk berperan serta menghasilkan peningkatan unjuk-kerja dan peningkatan taraf dari kesehatan mental dan fisik (Munandar, 2001). Sumber stres kerja yang potensial adalah iklim dan struktur organisasi yang hanya terjadi dalam suatu organisasi, yang dapat mengancam pada kebebasan individu, otonomi dan identitas sikapnya. Pendapat-pendapat lainnya, seperti terlalu sedikit / tidak ada partisipasi (terlibat) dalam proses pengambilan keputusan, tidak mempunyai rasa memiliki, kurang efektifnya konsultasi dan komunikasi, pembatasan tingkah laku dan politik di kantor merupakan hal yang sering terjadi pada sumber stres ini (Novendra, 1994).

Struktur dan iklim organisasi yang tidak baik dan kurang mendukung karyawan biasanya dapat menimbulkan ketidakpuasan dalam bekerja, yang akhirnya dapat menyebabkan stres (Cooper, 1989 dalam Munandar 2001). Struktur dan iklim tersebut meliputi :

a. Kebijakan perusahaan yang terlalu ketat b. Administrasi dan manajemen perusahaan yang terlalu birokratis c. Peraturan-peraturan perusahaan yang terlalu mengikat pekerja
Menurut Ivancevich (1975) dalam Gibson dkk (1996), stresor berupa struktur organisasi jarang dipelajari. Satu studi tentang tenaga penjual di bidang perdagangan menguji akibat dari organisasi yang strukturnya panjang (struktur birokratis), medium dan pendek terhadap kepuasan kerja, stres dan penampilan. Para peneliti mendapatkan bahwa tenaga penjual di dalam organisasi yang strukturnya paling kurang birokratis mengalami stres yang kecil dan kepuasan kerja lebih besar dan berperan lebih efektif daripada tenaga penjual di dalam organisasi struktur medium dan panjang. Para peneliti telah mempertimbangkan hanya sampel kecil dari sejumlah besar riset medis dan perilaku terhadap stresor, stres dan kaitan akibatnya. Informasi yang terhimpun, seperti riset organisasi lainnya, mengandung kontradiksi dalam beberapa kasus. Meskipun demikian, riset yang bisa digunakan mengandung hal-hal penting : 1) Stresor pada pekerja berkaitan dengan perubahan fisik, psikologis dan emosional di dalam individu 2) Tanggapan penyesuaian terhadap stresor pada pekerjaan telah ditentukan dengan mengukur diri (self-rating), penampilan prestasi dan pengujian biokimia

3) Tidak ada daftar stresor yang dapat diterima secara universal. Setiap organisasi memiliki penetapan sendiri yang unik 4) Perbedaan-perbedaan individual menjelaskan mengapa suatu stresor yang

mengganggu dan menggocang bagi seseorang berubah pada orang yang lain

Penelitian yang dilakukan oleh Putri (1998) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara struktur dan iklim organisasi dengan stres kerja. Namun, menurut Nugroho (2004) diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara struktur dan iklim organisasi dengan stres kerja. Sedangkan menurut Munandar (2001) faktor-faktor lain yang menyebabkan stres (stesor) berdasarkan model stres yang dikemukakan oleh Cooper (1989) adalah :

1. Tuntutan dari luar pekerjaan Faktor ini menyangkut segala aspek kehidupan pekerja sehari-hari, mulai dari keluarga, orang tua, istri, anak, sahabat sampai dengan masyarakat di sekitarnya. Isu-isu tentang keluarga, kesulitan ekonomi, keyakinan, konflik dalam keluarga, konflik dengan tetangga di sekitarnya dan konflik dengan orang tua, dapat menjadi pemicu timbulnya stres yang berakibat pada performa dalam bekerja. 2. Ciri-ciri individu Banyak literatur yang mengatakan bahwa stres lebih sering diakibatkan oleh lingkungan disekitar individu. Menurut pandangan interaktif dari stres, terkadang stres ditentukan pula oleh individunya sendiri dan sejauh mana ia melihat

situasinya sebagai stres (Munandar, 2001). Menurut Cooper (1989) faktor-faktor individu yang dapat mempengaruhi, antara lain : a. Kepribadian Kepribadian individu terdiri atas semangat, pikiran dan tubuh yang berubah terus-menerus dalam lingkungan yang berbeda. Pola perilaku tidak sepenuhnya berhubungan dengan kepribadian. Tetapi cepat mengubah, menentang dan memiliki kelainan dampak perilaku individu dalam masyarakat. Individu dengan perilaku tipe A, yaitu coronary-prone behaviour pattern (dihubungkan dengan penyakit hipertensi dan jantung koroner) cenderung memiliki kebutuhan yang tinggi terhadap sesuatu, sehingga terjadi persaingan tetap, selalu konflik dengan orang lain, tidak sabar, selalu bekerja cepat dengan penekanan waktu yang tepat (bekerja diburu-buru waktu), dan tidak dapat rileks. Hal ini menimbulkan kerentanan bagi individu dengan tipe perilaku A terhadap jantung koroner. Sebaliknya, indvidu dengan tipe perilaku B, yaitu tenang, sedikit diburu oleh waku, selalu riang gembira dan murah hati akan terhindar dari stres (Munandar, 2001). Ketika berbicara tentang stres pada pekerja,maka kita berbicara tentang bagaimana seorang individu memandang stres sebagai suatu gangguan, sehingga stres sangat bergantung kepada kepribadian individu yang terkena stres tersebut. Dari hal tersebut, tentu jelas bagaimana suatu stresor pada individu A belum tentu menjadi stresor pada individu lainnya (Munandar, 2001). b. Kecakapan

Kecakapan merupakan variabel penting dalam menetukan stres tidaknya seorang individu menghadapi situasi yang dihadapinya. Jika seseorang tidak mampu memecahkan sebuah masalah, sedangkan masalah yang dihadapinya sangat penting, maka hal tersebut dapat memicu terjadinya stres. Ketidakmampuan individu meyelesaikan masalah tersebut, sehingga

menyebabkan terjadinya stres, berkaitan dengan kecakapan dan kemampuan masing-masing individu (Munandar, 2001). c. Nilai dan kebutuhan Setiap organisasi dan perusahaan memiliki budaya dan nilai masingmasing. Para tenaga kerja diharapkan dapat mengikuti nilai dan budaya yang dimiliki perusahaan tersebut. Proses sosialisasi pekerja dalam mengikuti nilai dan budaya yang dimiliki oleh perusahaan tidak sepenuhnya berjalan lancar, ada yang sepenuhnya berhasil, ada yang setengah, adapula yang gagal menyesuaikan diri. Bagi pekerja yang gagal tersebut biasanya akan mengundurkan diri. Bila ia tidak dapat mengundurkan diri, karena tidak ada pekerjaan lain atau karena sebab lain maka tenaga kerja tersebut akan mengalami stres (Munandar, 2001).

3. Umur Hubungan antara umur dengan stres memiliki kesamaan dengan hubungan antara masa kerja dengan stres. Namun, tidak selamanya umur dengan stres kerja dihubungkan dengan masa kerja. Ada beberapa jenis pekerjaan yang sangat

berpengaruh dengan umur, terutama yang berhubungan dengan sistem indera dan kekuatan fisik. Biasanya pekerja yang memiliki umur yang lebih muda memiliki penglihatan dan pendengaran yang lebih tajam, gerakan yang lebih lincah dan daya tahan tubuh yang kuat. Namun, untuk beberapa jenis pekerjaan lain, faktor umur yang lebih tua biasanya memiliki pengalaman dan pemahaman bekerja yang lebih banyak, sehingga pada jenis pekerjaan tertentu umur dapat menjadi kendala dan dapat menjadi pemicu terjadinya stres (Munandar, 2001). Berdasarkan sebuah penelitian terhadap 209 pekerja tenaga nuklir yang dilakukan oleh Ringenbach dan Jacobs (1995) yang dikutip oleh Suprapto (2008) bahwa pekerja yang lebih tua ( 50 tahun) memiliki waktu penyembuhan yang lebih lama terhadap kecelakaan yang terjadi. Penelitian ini juga melaporkan bahwa pekerja yang lebih tua, lebih peduli terhadap keselamatan kerja dibandingkan pekerja yang lebih muda. Selain itu, dari penelitian tersebut diketahui bahwa umur sangat berkaitan erat dengan stres. Dijelaskan bahwa umur yang semakin tua menyebabkan organ dan kondisi fisik seseorang mengalami penurunan, sehingga lebih rentan untuk terkena stres. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Cardiff University (2000) yang dikutip dalam Suprapto (2008) terhadap faktor-faktor demografi yang mempengaruhi timbulnya stres kerja, disimpulkan bahwa umur memiliki hubungan dengan timbulnya stres kerja. Dalam penelitian ini, umur dibagi ke dalam 4 kategori, yaitu usia 18-32 tahun, 33-40 tahun, 41-50 tahun dan diatas usia 51 tahun. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa kategori usia 41-50 tahun memiliki persentase terbesar untuk terkena stres tingkat tinggi (20,8%).

Sedangkan untuk kategori umur yang memiliki persentase terbesar yang mengalami stres tingkat rendah adalah usia 18-32 tahun dan usia 51 tahun keatas (83%). Hal ini disebabkan pada usia awal perkembangan keadaan emosi seseorang masih lebih labil. Sedangkan pada usia lanjut biasanya daya tahan tubuh seseorang sudah mulai berkurang sehinga sangat berpotensi untuk terkena stres. Berdasarkan penelitian Suprapto (2008) yang dilakukan pada polisi lalu lintas di kawasan puncak Bogor diketahui bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan stres kerja. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Adas (2006), diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara umur dengan stres kerja. 4. Masa kerja Pekerja yang memiliki masa kerja yang pendek, memiliki resiko yang lebih besar untuk mengalami kecelakaan. Sebuah studi yang dilakukan selama 7 tahun terhadap lebih dari 35.000 kecelakaan yang terjadi di Angkatan Laut Amerika, ditemukan bahwa 35% kecelakaan tersebut terjadi pada pelaut yang baru bekerja pada bulan pertama. Apabila kecelakaan terus berlanjut dapat menyebabkan stres. Namun, seiring berjalannya waktu, rata-rata kecelakaan menurun secara drastis dan berlanjut selama 10 tahun (Schultz, 1998). Masa kerja mempunyai potensial terjadinya stres kerja sesuai pendapat robins dalam Novendra (1994) berdasarkan teori pola hubungan U terbalik yang memberikan reaksi terhadap stres sepanjang waktu dan terhadap perubahan

intensitas stres baik masa kerja yang lama maupun sebentar dapat menjadi pemicu terjadinya stres kerja dipeberat dengan beban kerja yang besar. Menurut penelitian Evayanti (2003) yang dilakukan pada pengemudi bus kota PPD Jakarta diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna antara masa kerja dan stres kerja. Namun, menurut penelitian Adas (2006), dketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan stres kerja. Selain itu menurut Munandar (2001) bahwa masa jabatan yang berhubungan dengan stres kerja sangat berkaitan dengan kejenuhan dalam bekerja. Pekerja yang telah bekerja diatas 5 tahun biasanya memiliki tingkat kejenuhan yang lebih tinggi daripada pekerja yang baru bekerja. Sehingga dengan adanya tingkat kejenuhan tersebut dapat menyebabkan stres dalam bekerja.

D. Pendekatan dalam Mempelajari Stres Kerja

Menurut Suwondo (1992) yang dikutip oleh Putri (1998) bahwa terdapat beberapa pendekatan dalam mempelajari stres kerja, yaitu:
1. Pendekatan Kerekayasaan Dasar dari pendekatan ini adalah melihat stres sebagai aspek stimulus. Pendekatan ini menganggap bahwa faktor lingkungan dapat memberikan pengaruh negatif sehingga dapat dianggap sebagai suatu stresor. Dengan demikian titik berat dari pendekatan ini adalah kondisi luar/eksternal dan bukan melihat proses-proses yang terjadi di dalam diri seseorang. 2. Pendekatan Medik Fisiologi

Pendekatan ini melihat pola respon seseorang akibat adanya tuntutan fisik maupun emosional, baik dari lingkungan (eksternal) maupun dalam diri (internal). Pola respon otomatis yang dianggap non spesifik ini dilihat sebagai serangkaian reaksi fisiologik yang disebut sebagai Sindroma Adaptasi Umum, yang terdiri dari tiga tahap yaitu : tahap reaksi alam, tahap perlawanan, dan tahap keletihan. Terlihat bahwa titik berat kajian dari pendekatan ini adalah respon dan aktifitas fisiologik pada individu ketika mengalami stres. 3. Pendekatan Psikologik Penjelasan dari kedua pendekatan di atas adalah penjelasan yang bersifat umum dan kurang dapat menerangkan perbedaan individual sewaktu mengalami stres. Suatu kejadian dapat meyebabkan stres pada seseorang tetapi kejadian yang sama tidak menimbulkan stres pada orang lain. Pendekatan ini mencoba mengatasi kekurangan dari kedua pendekatan di atas. Bagaimana seseorang mempersepsikan suatu peristiwa atau suatu kondisi berperan dalam menentukan stres. Pendekatan ini dikenal sebagai Appraisal Model. Pada pendekatan cara ini, merumuskan stres sebagai suatu keadaan psikologik yang merupakan representasi dari transaksi khas dan problematik antara seseorang dan lingkungannya. Jadi stres merupakan suatu keadaan yang timbul bila seseorang berinteraksi dan bertransaksi dengan situasi yang dihadapinya dengan cara tertentu. Bila seseorang menilai ada perbedaan antara tuntutan dengan kemampuannya untuk

memenuhi tuntutannya itu, atau dengan kata lain bila ia mempertanyakan apakah ia akan mampu mengatasi atau beradaptasi, maka akan timbul stres yang kemudian diikuti reaksi stres. 4. Pendekatan Epidemilogi

Melalui pendekatan ini dilihat dari berbagai aspek yaitu (agen, pejamu dan lingkungan). Agen penyakit termasuk faktor penyebab seperti elemen nutrisi, bahan kimia, radiasi ion, bising dan sebagainya. Pejamu adalah karyawan yang menderita penyakit. Faktor yang berperan antara lain umur, jenis kelamin, ras, suku dan sebagainya. Faktor lingkungan antara lain lingkungan dimana penyakit tersebut terjadi, seperti lingkungan fisik, biologi dan sosial. Konsep ini disebut Epidemiologic Triad. 5. Pendekatan Bio Psychososial Pendekatan ini adalah multi disipliner terutama mengamati interaksi yang dinamis antara individu dengan lingkungan. Adapun yang menjadi fokus pengamatan adalah masalah sosial, psikologi dan biomedik. Hal yang paling penting dalam pendekatan ini adalah timbulnya respon hormonal yaitu hormon adrenalin, katekolamin dan kortisol akibat stimulus dari luar, dimana kegunaan hormonal tersebut adalah untuk fight or flight. Manifestasi klinik pendekatan ini bisa diamati pada perubahan fisik, perilaku dan emosi.

E. Tahapan Stres

Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres timbul secara lambat. Baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, tempat kerja ataupun di pergaulan lingkungan sosialnya. Menurut hasil penelitian Dr. Robert J. Van Amberg (1979) yang dikutip oleh Hawari (2001) bahwa tahapan stres terbagi menjadi sebagai berikut :

1. Stres tahap I Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut : a. Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting) b. Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya c. Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya; namun tanpa disadari cadangan energi dihabiskan (all out) disertai rasa gugup yang berlebihan d. Merasa senang dengan pekerjaannya itu dan semakin bertambah semangat, namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis. 2. Stres tahap II Dalam tahapan ini dampak stres yang semula menyenangkan mulai menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut: a. Merasa letih sewaktu bangun pagi, yang seharusnya merasa segar b. Merasa mudah lelah sesudah makan siang c. Sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman d. Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar) e. Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang f. Tidak bisa santai

3. Stres tahap III Stres tahap III akan menunjukkkan keluhan-keluhan yaitu :

a. Gangguan lambung dan usus semakin nyata ; misalnya keluhan maag (gastritis), buang air besar tidak teratur (diare) b. Ketegangan otot-otot semakin terasa c. Perasaan ketidak-tenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat d. Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi/dini hari dan tidak dapat kembali tidur (late insomnia) e. Koordinasi tubuh terganggu (badan serasa mau pingsan) 4. Stres tahap IV Gejala stres tahap IV, yaitu: a. Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit b. Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespon secara memadai (adequate) c. Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari d. Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan e. Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan kegairahan f. Daya konsentrasi dan daya ingat menurun

g. Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya 5. Stres tahap V Stres tahap V ditandai dengan hal-hal berikut :

a. Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical and psychological exhaustion) b. Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana c. Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastro-intestinal disorder) d. Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik 6. Stres tahap VI Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut : a. Debaran jantung teramat keras b. Susah bernafas (sesak) c. Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran d. Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan e. Pingsan atau kolaps (collapse)

F. Pengaruh Stres Kerja terhadap Emosi, Perilaku dan Kesehatan

Menurut Heerdjan (1990), pada umumnya efek stres kerja adalah sebagai berikut :
1. Gangguan penyesuaian, dengan tipe-tipe:

a. Gangguan penyesuaian dengan efek depresi atau efek cemas b. Gangguan penyesuaian dengan campuran ciri-ciri emosi c. Gangguan penyesuaian dengan hambatan pekerjaan d. Gangguan penyesuaian dengan hambatan tingkah laku atau campuran gangguan emosi dan tingkah laku 2. Malfungsi fisiologi berkaitan dengan faktor psikologis dan kondisi fisik yang berkaitan dengan faktor psikologis / gangguan psikosomatik / gangguan psikofisiologis seperti :

a. Gangguan gastritis, ulcus ventriculli dan duodeni, asma, dan dermatitis b. Gangguan sistem saluran kemih, dan sistem endokrin 3. Gangguan somatoform, yaitu keluhan fisik tanpa ditemukan gangguan organ atau fisiologi yang mendasarinya, akan tetapi disertai bukti positif keluhan fisik itu berhubungan dengan konflik psikologis

Gangguan seperti yang telah dikemukakan tidak selalu menimpa individu yang terpapar stresor, karena reaksi individu terhadap stresor ditentukan oleh predisposisi individu, antara lain:

1. Konstitusi / pembawaan/ kepribadian Orang sensitif dan rapuh tidak sama penghayatannya dengan orang yang kurang perasa yaitu lebih bersikap acuh tak acuh, karena setiap orang memiliki daya tahan dan ambang frustasi yang berbeda.

2. Faktor psikologis Pendidikan, kematangan konstitusi / pembawaan / kepribadian jiwa, dan kesanggupan menyesuaikan diri setiap orang berbeda satu sama lain. 3. Faktor sosial budaya Pengaruh nilai dan agama sebagai hasil pendidikan menimbulkan cara bereaksi yang berbeda-beda pada setiap orang.

Sedangkan pengaruh stres terhadap perilaku dan kesehatan menurut Cox (1976) yang dikutip oleh Putri (1998) adalah sebagai berikut:
1. Efek subyektif Cemas, apatis, jenuh, depresi, kelelahan, frustasi, mudah tersinggung, nervous (gugup), dan rendahnya keseimbangan diri. 2. Efek perilaku Penyalahgunaan obat, nafsu makan hilang atau berlebihan, merokok dan minum-minuman keras. 3. Efek kognitif Tidak dapat mengambil keputusan, sulit konsentrasi, sering lupa dan mudah tersinggung.

4. Efek fisiologis Peningkatan tekanan darah dan kadar glukosa darah, denyut jantung meningkat, mulut terasa kering, berkeringat, pupil melebar dan sukar bernafas.

5. Efek organisasional Absenteisme, hubungan interpersonal yang buruk, penurunan produktifitas kerja, tingginya angka kecelakaan dan keterlambatan kerja, ketidakpuasan kerja, antagonisme pekerjaan dan iklim perusahaan yang buruk

G. Indikator atau Reaksi Tubuh terhadap Stres

Banyak penelitian yang telah dilakukan tentang stres kerja, tetapi bagaimana mekanisme patologisnya belum diketahui dengan jelas. Juga target organ yang berpengaruh juga bersifat non-spesifik, artinya dengan stresor yang sama, target organ yang berpengaruh berbeda pada individu satu dengan yang lainnya. Menurut Bell et al (1990) yang dikutip oleh Suprapto (2008) reaksi tubuh terhadap stres akibat pekerjaan dapat digolongkan sebagai berikut : 1. Reaksi Psikologis Reaksi psikologis berupa gangguan jiwa yang terjadi pada individu bervariasi dari keluhan subyektif ringan sampai gejala psikologik yang nyata, sehingga individu tersebut terganggu fungsinya. Gangguan yang ringan berupa keluhan subyektif yang cukup menggangu kenyamanan hidup sehari-hari, misalnya mudah marah, mudah tersinggung, gugup, gelisah, cepat lupa, konsentrasi yang menurun, gejala kecemasan (anciety), ketegangan (tension) dan apatis. Sedangkan yang lebih berat lagi timbul gejala yang lebih nyata berupa gangguan psikiatrik yang lebih sering manifes adalah depresi. 2. Reaksi Perilaku

Perubahan perilaku yang merupakan suatu bentuk raksi tubuh terhadap stres. Yang sering terjadi adalah kebiasaan merokok, minum kopi dan alkohol menjadi semakin meningkat, terutama pada pekerja dengan tingkat stres tinggi atau mendekati dead-line. Gejala lain yang timbul adalah menarik diri dari lingkungan, perubahan selera makan, cepat lupa, sukar konsentrasi, pola tidur maupun seksual berubah, mulai minum obat penenang, bertindak agresif, cenderung anti sosial dan kadang-kadang terlalu berani mengambil resiko. Gejala yang lebih ringan namun mengganggu kenyaman hidup adalah malas bekerja, peningkatan absensi, motivasi yang menurun yang disebut lesu kerja (burn out). 3. Reaksi Fisiologik Bila tubuh mengalami stres maka akan terjadi perubahan fisiologik di dalam tubuh sebagai jawaban akan stres. Adapun sistem di dalam tubuh yang mengadakan respon tersebut diperantarai oleh saraf otonom, hypothalamic-pituitary axis dan pengeluaran katekolamin yang akan mempengaruhi fungsi organ tubuh (Munandar, 2001). Gangguan pada sistem dalam tubuh meliputi : a. Sistem kardiovaskuler Meskipun hubungan kausatif sulit dibuktikan, telah banyak penelitian yang menghubungkan stres di tempat kerja sebagai penyebab penyakit jantung koroner. Meningkatnya kolamin yang merupakan zat vasoaktif akan

menyebabkan jantung berdebar-debar, tidak teratur dan tekanan darah meningkat. Katekolamin juga mempunyai efek terhadap metabolisme

karbohidarat dan lemak darah meningkat yang pada akhirnya semuanya memperbesar resiko terjadinya penyakit jantung koroner (Munandar, 2001).

b. Sistem gastrointestinal Penyakit saluran cerna terutama tukak lambung, telah lama dikaitkan dengan stres dan perubahan emosi. Hubungan antara stres dan penyakit gastrointestinal dapat diterangkan dengan meningkatnya sekresi asam lambung sebagai aktifitas sistem saraf otonom dan meningkatnya katekolamin (Munandar, 2001). c. Gangguan penyakit lainnya Perubahan fisiologis yang terjadi di dalam tubuh karena stres

memungkinkan timbulnya dan memperberat penyakit lainnya, misalnya nyeri punggung, sakit kepala, ketegangan otot (leher, bahu dan punggung), kaki dan tangan sering berkeringat, peningkatan tekanan darah, jantung berdebar-debar, asma, migrain, maag, obesitas, gangguan menstruasi, alergi, dilatasi pupil dan penyakit kulit (Heerdjan, 1990).

H. Upaya Pencegahan Stres Kerja

Menurut Levi (1984) upaya pencegahan terhadap stres kerja dapat dilakukan dengan cara, yaitu : 1. Adanya peraturan tentang identifikasi bahaya kerja di lingkungan kerja perusahaan, termasuk identifikasi terhadap bahaya psikososial kerja 2. Program Healthy Life Style antara lain tidak minum minuman beralkohol, tidak merokok, diet sehat, olah raga, rekreasi dan lain-lain

3. Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk memikirkan dan menentukan cara dan peralatan kerjanya, mempunyai wewenang untuk menghentikan pekerjaan bila berbahaya, meminta tenaga ahli untuk menilai perilaku kerja atas biaya perusahaan 4. Memberi kesempatan untuk merancang organisasi kerja, teknologi kerja, sistem remunerasi (insentif) dan memberi kesempatan kepada karyawan untuk

mengembangkan keterampilannya. 5. Desain kerja yang memungkinkan berlangsungnya interaksi sosial dengan baik, memberi kesempatan kepada pekerja untuk menentukan variasi tempat kerja, seperti dekorasi ruang kerja, adanya musik dan lain-lain untuk menghindari kejenuhan 6. Pendidikan dan pelatihan bagi pekerja 7. Sistem penggajian tetap dan tidak menggunakan sistem upah harian

I.

Upaya penanggulangan stres kerja

Ada dua pendekatan yang dapat dilakukan dalam upaya mengatasi stres kerja (NIOSH, 1998), yaitu : 1. Stress Management Yaitu dengan memberikan pelatihan manajemen stres kepada karyawan dan membentuk suatu program batuan bagi karyawan melalui Employee Assistance Program (EAP), yang bertujuan untuk membimbing karyawan agar mampu mengatasi persoalan yang berhubungan dengan masalah pekerjaannya. Di dalam program stres manajemen, karyawan diberi pengetahuan tentang sifat dan berbagai macam sumber stres. Sedangkan program EAP memberikan bantuan bimbingan konseling dalam mengatasi persoalan yang dihadapi karyawan, baik persoalan yang

berhubungan langsung dengan pekerjaan, maupun persoalan lain yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan, termasuk masalah keluarga. 2. Organitational Change Dalam pendekatan ini, perusahaan menggunakan konsultan untuk membantu mengurangi persoalan stres kerja yang ada di perusahaan melalui rekomendasirekomendasi yang diberikan. Pada umumnya konsultan akan memberikan rekomendasi tentang hal-hal apa saja yang seharusnya dilakukan oleh manajemen perusahan untuk memperbaiki kondisi kerja. Pendekatan kegiatan ini dapat meliputi identifikasi aspek yang menimbulkan stres pada pekerjaan dan mendesain strategi untuk mereduksi atau mengeliminasi stresor. Upaya pendekatan yang dilakukan oleh perusahaan sebaiknya adalah gabungan dari kedua pendekatan di atas. Dengan hanya menerapkan salah satu pendekatan saja, sangat sulit bagi perusahan untuk mereduksi stres kerja, mengingat kedua pendekatan tersebut merupakan pendekatan yang saling terkait dan terintegrasi.

J.

Pengukuran Stres Kerja

Teknik pengukuran stres yang biasa digunakan dalam studi Amerika Serikat menurut Karoley (1985) yang dikutip dalam Nugroho (2004) dapat digolongkan dalam 4 cara, yaitu :

1. Self Report Measure

Cara ini menggunakan kuesioner untuk mengukur stres yaitu dengan menyatakan intensitas pengalaman psikologis, fisiologis dan perubahan fisik yang dialami dalam peristiwa kehidupan seseorang. Cara ini juga dikenal sebagai Life Event Scale yang berisi beberapa pertanyaan sebagai indikator dalam menentukan stres kerja. Teknik ini mengukur stres dengan melihat atau mengobservasi perubahan-perubahan perilaku yang ditampilkan seseorang, seperti kurangnya konsentrasi. Berikut ini beberapa pertanyaan yang digunakan sebagai indikator dalam menentukan stres kerja berdasarkan metode Life Event Scale, yang dapat dilihat pada lampiran 3. Berdasarkan pertanyaan pada daftar pertanyaan metode Life Event Scale setiap pertanyaan bernilai 0-2. Untuk melakukan penilaian indikator stres kerja, dapat dilakukan penilaian sendiri (self assesment). Sistem penilaian yang digunakan sebagai indikator untuk masing-masing kelompok adalah nilai 1-25 termasuk kategori stres ringan, untuk nilai > 25 termasuk kategori stres berat. Pertanyaan yang digunakan tidak bersifat mutlak, artinya pertanyaan dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi saat itu. Sehingga penilaian dan pengelompokannya juga dapat disesuaikan (Karoley,1985 dalam Hawari, 2001). 2. Performance Measure Cara ini mengukur stres dengan melihat atau mengobservasi perubahan-perubahan perilaku yang ditampilkan oleh seseorang. Contohnya, penurunan prestasi kerja terlihat dari gejala seperti cenderung berbuat salah, cepat lupa dan menjadi lamban dalam bereaksi.

3. Psysiological Measure

Pada pengukuran ini berusaha untuk melihat perubahan fisik akibat stres, seperti ketegangan pada otot bahu, leher dan pundak. Cara ini sering dianggap paling tinggi reabilitasnya, namun sangat tergantung si pengukur dan pada alat yang digunakan. 4. Biochemical Measure Teknik ini melihat stres melalui respon biokimia individu berupa perubahan kadar hormon katekolamin dan kortikosteroid setelah pemberian stimulus. Reabilitas dari cara ini tergolong tinggi namun hasil pengukurannya dapat berubah bila subjek penelitiannya adalah perokok, peminum alkohol dan kopi. Hal ini karena rokok, kopi dan alkohol dapat meningkatkan kadar kedua hormon tersebut dalam tubuh.

Dari keempat cara tersebut, yang paling sering digunakan dalam penelitian stres adalah life event scale, karena paling mudah diatur dan membutuhkan biaya yang relatif lebih murah walaupun sering terdapat keterbatasan tertentu.

K. Kerangka Teori

Dengan mengacu kepada teori yang dikemukakan oleh Hurrell, dkk (1988) dalam Munandar (2001) bahwa faktor-faktor di pekerjaan yang dapat menimbulkan stres dapat dikelompokkan atas lima kategori besar, yaitu : faktor intrinsik dalam pekerjaan, peranan dalam organisasi, pengembangan karir karyawan, hubungan interpersonal dalam pekerjaan serta struktur dan iklim organisasi. Faktor intrinsik dalam pekerjaan meliputi beban kerja, jam kerja dan rutinitas. Peranan dalam organisasi merupakan peranan pekerja dalam pengambilan keputusan perusahaan yang

berhubungan dengan dirinya. Pengembangan karir karyawan meliputi adanya promosi,

pengembangan kreatifitas, pendidikan dan pelatihan dan gaji. Hubungan interpersonal dalam pekerjaan merupakan hubungan antara atasan, bawahan serta rekan sekerja. Struktur dan iklim organisasi merupakan peraturan perusahaan. Teori di atas kemudian dimodifikasi oleh Cooper (1989), bahwa faktor-faktor lain yang menyebabkan stres kerja adalah tuntutan dari luar pekerjaan dan faktor individu (pekerja). Menurut Wantoro (1991), selain faktor intrinsik yang sudah disebutkan diatas yang termasuk dalam faktor intrinsik pekerjaan adalah lingkungan fisik seperti kebisingan dan lain-lain.

Gambar 2.2 Kerangka Teori Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres Kerja


Lingkungan di dalam Pekerjaan Faktor Intrinsik Faktor Ekstrinsik

1. Beban kerja 2. Jam kerja 3. Rutinitas 4. Lingkungan fisik (kebisingan)

1. Peranan dalam organisasi 2. Pengembangan karir (Promosi dan gaji 3. Hubungan Interpersonal 4. Struktur dan iklim Organisasi

Lingkungan di luar Pekerjaan 1. Keluarga 2. Masyarakat Faktor Individu 1. Umur 2. Masa kerja
Sumber : Hurrell,dkk (1988); Cooper (1989); Wantoro (1991)

Stres Kerja

aBAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep Dengan mengacu kepada teori yang dikemukakan oleh Hurrell, dkk (1988) dalam Munandar (2001) bahwa faktor-faktor di pekerjaan yang dapat menimbulkan stres dapat dikelompokkan atas lima kategori besar, yaitu : faktor intrinsik dalam pekerjaan, peranan dalam organisasi, perkembangan karir karyawan, hubungan interpersonal dalam pekerjaan serta struktur dan iklim organisasi. Faktor intrinsik dalam pekerjaan meliputi beban kerja, jam kerja dan rutinitas. Peranan dalam organisasi merupakan peranan pekerja dalam pengambilan keputusan perusahaan yang

berhubungan dengan dirinya. Perkembangan karir karyawan meliputi adanya promosi, pengembangan kreatifitas, pendidikan dan pelatihan dan gaji. Hubungan interpersonal dalam pekerjaan merupakan hubungan antara atasan, bawahan serta rekan sekerja. Struktur dan iklim organisasi merupakan peraturan perusahaan. Teori di atas kemudian dimodifikasi oleh Cooper (1989), bahwa faktor-faktor lain yang menyebabkan stres kerja adalah tuntutan dari luar pekerjaan dan faktor individu (pekerja). Selain itu, pada penelitian ini peneliti menambahkan variabel lingkungan fisik terhadap stres kerja. Menurut Wantoro (1999), selain faktor intrinsik yang sudah disebutkan diatas yang termasuk dalam faktor intrinsik pekerjaan adalah lingkungan fisik seperti kebisingan. Namun pada penelitian ini variabel keluarga dan masyarakat tidak dimasukkan karena umumnya faktor keluarga dan masyarakat sulit

diubah, selain itu faktor keluarga dan masyarakat mempunyai ruang lingkup yang luas sehingga penelitian dilakukan hanya sebatas pada lingkungan di dalam pekerjaan. Kerangka konsep penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1. Gambar 3.1 Kerangka Konsep Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres Kerja Lingkungan di dalam Pekerjaan Faktor Intrinsik 5. Beban kerja 6. Jam kerja 7. Rutinitas 8. Lingkungan fisik (kebisingan) Faktor Ekstrinsik 5. Peranan dalam organisasi 6. Perkembangan karir (Promosi dan gaji 7. Hubungan Interpersonal 8. Struktur dan iklim Organisasi

Lingkungan di luar Pekerjaan 3. Keluarga 4. Masyarakat Stres Kerja

Faktor Individu 3. Umur 4. Masa kerja

Keterangan : : Tidak diteliti B. Definisi Operasional

1. Variabel Dependen Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Dependen Variabel Stres kerja Definisi Operasional Stres yang dialami oleh responden sehubungan dengan pekerjaannya yang diukur berdasarkan indikator stres Cara Ukur Alat Ukur Wawancara Kuesioner Hasil Ukur 0. Skala berat (>25 ) 1. Skala ringan (1-25) (Karoley, 1985) Skala Ordinal

2. Variabel Independen Tabel 3.2 Definisi Operasional Variabel Independen No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala

Faktor Intrinsik Pekerjaan 1 Beban kerja Aktivitas responden dalam menerima beban dari luar tubuhnya berupa beban tersebut berupa beban kerja fisik (Tarwaka et al) Menilai Tabel Penilaian pekerjan 0. > 350 kcal / jam (pekerjaan Berat) 1. 200 350 Kcal/jam (pekerjaan Sedang) 2. Sampai dengan 200 kcal / jam (pekerjaan Ringan) 0. > 8 jam 1. 8 jam (HIPERKES) 0. Membosankan (total skor nilai median) 1. Tidak Membosankan (total skor < nilai median) 0. Mengganggu (total skor Ordinal

Jam kerja

Rutinitas

Lingkung

Jumlah jam yang dilakukan untuk bekerja dalam sehari Penilaian responden terhadap pekerjaan yang dilakukan secara berulang dan sama sehingga menimbulkan kebosanan suara yang tidak disukai oleh

Wawancara Kuesioner

Ordinal

Wawancara Kuesioner

Ordinal

Wawancara Kuesioner

Ordinal

an fisik responden di tempat (kebisinga kerja dan dirasakan n) mengganggu

nilai median) 1. Tidak Mengganggu (total skor < nilai median) 0. Tidak Berperan Ordinal (total skor nilai median) 1. Berperan (total skor < nilai median) 0. Tidak Ordinal Memuaskan (total skor nilai median) 1. Memuaskan (total skor < nilai median)

Faktor Ekstrinsik Pekerjaan 5 Keikutsertaan Wawancara Kuesioner Perananan responden dalam dalam pegambilan organisasi keputusan yang berhubungan dengan dirinya di perusahaan peningkatanWawancara Kuesioner Perkemba peningkatan pribadi ngan karir yang dilakukan seseorang untuk mencapai suatu rangkaian pekerjaan yang dipegang selama kehidupan kerja , seperti : kenaikan jabatan, kesempatan mengembangkan kreatifitas, mendapatkan pendidikan dan pelatihan serta kesesuaian/kepuasan honor. Hubungan antara Wawancara Kuesioner Hubungan atasan, bawahan interperso maupun rekan nal sekerja

0. Buruk (total skor nilai median) 1. Baik (total skor < nilai median)

Ordinal

Struktur dan iklim organisasi

Peraturan perusahaan Wawancara Kuesioner yang selama ini dirasakan secara subjektif mengganggu pekerja seperti : peraturan yang terlalu kaku,

0. Tidak Ordinal Mendukung (total skor nilai median) 1. Mendukung (total skor < nilai median)

iklim kerja yang tidak mendukung, kesempatan mengembangkan kreatifitas dan supervisi yang berlebihan Faktor Individu 9 Umur Jumlah tahun yang dihitung mulai dari responden lahir sampai saat pengumpulan data dilakukan Lama responden mendapatkan tugas / pekerjaan Wawancara Kuesioner 0. 36 tahun 1. < 36 tahun Ordinal

10

Masa kerja

Wawancara Kuesioner 0. > 5 tahun 1. 5 tahun (Munandar, 2006)

Ordinal

aBAB IV METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan bersifat analitik yang bertujuan untuk melihat hubungan antara dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. Dengan menggunakan desain studi cross-sectional yaitu mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan variabel dependen (informasi atau gambaran analisis mengenai situasi yang ada) dalam waktu yang bersamaan.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini bertempat di PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk yang berlokasi di Jalan Raya Cilincing No.1 Tanjung Priok. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai dengan bulan Oktober 2009.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk berjumlah 1479 orang. 2. Sampel Sampel penelitian ini adalah pekerja departemen Production Facility, Meterial Store, Mill I, Mill II, Mill III, Mill IV, Silo, Maintenance, FSBP, BSBP, Security And Safety, Automation, General Affair, dan Storage And Logistic.

Departemen-departemen ini dipilih karena kegiatan pekerjaannya berhubungan dengan produksi di perusahaan. Jumlah sampel diperoleh berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus jumlah sampel uji hipotesis dua proporsi (Ariawan,1998). Metode pengambilan sampel adalah simple random sampling karena untuk mendapatkan sampel kasus yang dapat mewakili populasi induknya. Dengan asumsi dari penelitian sebelumnya yaitu proporsi pada populasi yang mengalami stres kerja tinggi akibat dari beban kerja yang berat (P1) adalah 87,2%, dan proporsi yang mengalami stres kerja tinggi namun beban kerjanya ringan (P2) adalah 53,3% (Adas, 2006). Pada penelitian ini, peneliti

menginginkan tingkat kepercayaan sebesar 95%, derajat kemaknaan 5 % dan kekuatan uji 95%. Rumus besar sampel uji hipotesis dua proporsi: Sampel (n) = [Z 1- /2x(2P(1-P)) + Z1- x(P1 (1-P1) + P2 (1-P2)) ]2 (P1 - P2)2

Keterangan : n Z1-/2 Z 1- P : Besar sampel minimum yang dibutuhkan dalam penelitian : Derajat kepercayaan (confident interval CI) : Derajat kemaknaan (5%) : Kekuatan uji (95%) : Rata rata proporsi pada populasi

P1

: Proporsi yang mengalami stress kerja tinggi akibat dari beban kerja yang tinggi (P1) adalah 0,872% (Adas, 2006)

P2

Proporsi yang mengalami stress kerja tinggi namun beban kerjanya ringan (P2) adalah 0,533% (Adas, 2006)

Berdasarkan rumus diatas maka besar sample yang dibutuhkan sebesar :


[1.96 2 x 0,702 (1-0,702) + 1,64 0,872 (1-0,872) + 0,533 (1-0,533) ]2

n= (0.872 0.533) 2 Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus uji hipotesis dua proporsi di atas, diperoleh besar sampel sebesar 49 sampel. Kemudian sampel tersebut dikali dua sehingga sampel yang dibutuhkan adalah 98 sampel. Untuk menghindari adanya responden yang hilang atau bermasalah, maka sampel ditambah 10 % dari sampel minimum yaitu 10 sampel. Maka sampel minimum yang dibutuhkan adalah 108 sampel.

D. Instrumen Penelitian 1. Uji Coba Kuesioner yang digunakan terlebih dahulu dilakukan uji coba. Dari hasil uji coba kuesioner tersebut dilakukan perbaikan. Uji coba kuesioner dilakukan di tempat yang sama dengan tempat penelitian yang dilakukan kepda 25 responden yang berbeda atau departemen yang berbeda yaitu pada bagian produksi di PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk.

Pertanyaan-pertanyaan setiap variabel dalam kuesioner yang telah diisi dilakukan uji validitas dan uji reabilitas. Secara statistik, angka korelasi yang diperoleh dibandingkan dengan angka kritik tabel korelasi nilai r, dengan cara melihat baris N2. Jumlah responden yang dipakai untuk uji kuesioner ini adalah 25 responden, maka jalur yang dilihat adalah baris 25-2 =23. Untuk taraf signifikansi 5%, maka angka kritik adalah 0,396. Bila angka korelasi (r) yang diperoleh nilainya di atas angka kritik (0.396), maka pernyataan dalam kuesioner tersebut signifikan (valid). Sedangkan reliabilitas suatu konstruk variabel dikatakan baik jika memiliki nilai alpha cronbachs > 0,60. Kuesioner dinyatakan reliabel jika mempunyai nilai koefisien alpha yang lebih besar dari 0,6. Pertanyaan-pertanyan yang digunakan pada penelitian ini memiliki koefisien alpha yang lebih besar dari 0,6 maka pertanyaan-pertanyaan tersebut dinyatakan reliabel.

2. Kuesioner Isi dari kuesioner memuat pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan variabel independen yang berupa faktor-faktor yang mempengaruhi stres kerja seperti faktor intrinsik pekerjaan (beban kerja, jam kerja, rutinitas kerja, dan kebisingan), faktor ekstrinsik pekerjaan (peranan dalam organisasi,

perkembangan karir, hubungan interpersonal, serta struktur dan iklim organisasi) dan faktor individu (umur dan masa kerja), serta pertanyaan yang berisi indikator dalam menentukan stres kerja yang merupakan variabel dependen. Dimana

indikator-indikator tersebut nantinya digunakan untuk menilai tingkatan stres pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk. 3. Skoring a. Penilaian Beban Kerja Variabel yang terdapat dalam penelitian ini, baik variabel dependen maupun variabel independen dilakukan pengukuran maupun penilaian. Untuk variabel independen, variabel yang dinilai adalah beban kerja dengan menggunakan tabel penilaian pekerjaan yaitu untuk mengetahui estimasi panas metabolik agar dapat menilai berat ringannya beban kerja. b. Penilaian Stres Kerja Variabel dependen (stres kerja) diukur dengan indikator yang telah ditetapkan sesuai dengan metode self report measurement yang dapat untuk mengukur tingkat stres. Metode self report measurement menggunakan sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan adanya perubahan fisiologis, psikologi dan perilaku yang dapat dijawab dengan tidak pernah diberi skor 0, kadang-kadang diberi skor 1 dan sering diberi skor 2. Dimana perubahan fisiologis, psikologi dan perilaku yang digunakan berdasarkan pendekatan yang dilakukan oleh Karoley (1985). Hasil skornya adalah hasil total skor seluruh jawaban responden kemudian dikategorikan menjadi 2, yaitu kategori stres berat (> 25 ) dan stres ringan (1-25).

E. Pengumpulan Data Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder yang diuraikan sebagai berikut: 1. Data Primer Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk dengan menggunakan alat ukur berupa kuesioner yang disebarkan dan diisi oleh karyawan serta tabel penilaian pekerjaan yang dinilai oleh peneliti. 2. Data Sekunder Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari penelusuran dokumen, catatan dan laopran perusahaan, seperti profil perusahaan dan jumlah karyawan di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk.

F. Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan melalui tahapan-tahapan berikut: 1. Editing, memeriksa kelengkapan, kesinambungan dan keseragaman data 2. Coding, menyederhanakan data dengan memberikan kode-kode tertentu 3. Processing, setelah semua isian kuesioner terisi penuh dan benar, dan juga telah melewati tahap pengkodean, maka langkah selanjutnya adalah memproses data agar dapat dianalisis. Pemprosesan data dilakukan dengan cara meng-entry data dari kuesioner ke paket program komputer.

4. Cleaning (pembersihan data), merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di-entry apakah ada kesalahan atau tidak. Kesalahan tersebut dimungkinkan terjadi pada saat meng-entry ke komputer.

G. Analisa Data Dalam Penelitian ini digunakan beberapa analisa data, yaitu : 1. Analisis Univariat
Untuk melihat distribusi frekuensi pada variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen terdiri dari faktor intrinsik (beban kerja, jam kerja, rutinitas dan lingkungan fisik (kebisingan), faktor ekstrinsik (peranan dalam organisasi, perkembangan karir, hubungan interpersonal serta struktur dan iklim organisasi), serta faktor individu (umur dan masa kerja) sedangkan variabel dependennya stres kerja. Untuk mengetahui kenormalan data dilakukan dengan test kolmogorov-smirnov dengan ketentuan jika probabilitas atau asymp. Sig. (2-tailed) atau nilai signifikansi > 0,05 distribusi adalah normal (Sujianto, 2007).

2. Analisis Bivariat
Untuk melihat hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Analisis dilakukan dengan uji statistik chisquare, dengan menggunakan CI 95% derajat kemaknaan 5%.

Persamaan Chi Squere: X2 = (0 E)2 Df = (k-1) (b-1) Keterangan: X2 = Chi Squere

0 E Df K b

= nilai yang diamati = nilai yang diharapkan = derajat kebebasan = Jumlah kolom = Jumlah baris

Metode ini digunakan untuk mendapatkan probabilitas kejadiannya. Jika P value > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara kedua variabel tersebut. Sebaliknya jika P value 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara kedua variabel tersebut.

Untuk melihat kekuatan hubungan antara variabel dependen dan independen maka dilihat nilai Odds Rasio (OR). Rumus OR sebagai berikut:

OR = AD BC
Bila nilai OR = 1 artinya tidak ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Jika nilai OR 1 artinya variabel independen memperkecil resiko terjadinya stres kerja. Dan jika nilai OR 1 artinya variabel independen meningkatkan resiko untuk terjadinya stres kerja.

3. Analisis Multivariat
Untuk melihat faktor apa yang paling mempengaruhi stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk. Analisis multivariat dilakukan untuk variabel yang secara bivariat menunjukkan hubungan yang bermakna. Untuk uji multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda karena variabel dependennya berbentuk kategorik.

Analisis ini dimulai dengan melakukan analisis bivariat antara masingmasing variabel independen dengan variabel dependennya. Bila hasil uji bivariat mempunyai nilai p 0,25 maka variabel tersebut dapat masuk ke dalam kandidat model Multivariat. Sebaliknya jika p > 0,25 maka variabel tersebut dikeluarkan dari kandidat model. Selanjutnya, variabel-variabel yang masuk kandidat model Multivariat tersebut dianalisis secara bersamaan. Variabel yang dimasukkan ke

dalam model selanjutnya adalah variabel yang memiliki p 0,05. Sedangkan variabel yang memiliki p > 0,05 dikeluarkan dari model. Pengeluaran variabel dilakukan secara bertahap mulai dari variabel yang memili pvalue paling besar. Setelah didapatkan variabel yang masuk dalam model multivariat, lalu dilanjutkan model matematis untuk memprediksi variabel dependennya. Dari hasil analisis multivariat secara keseluruhan, maka persamaan regresi yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 Y merupakan variabel terikat (variabel dependen) sedangkan X merupakan variabel bebas (variabel independen). Berdasarkan persamaan tersebut maka Y dapat diperkirakan dengan variabel X1 dan X2.

BAB V HASIL

A. Gambaran PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk PT Indofood Sukses Makmur Tbk divisi Bogasari Flour Mills termasuk ke dalam Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara yang terletak di Jalan Raya Cilincing No. 1, Tanjung Priok, 14110, dengan luas area 46 hektar. PT Indofood Sukses Makmur Tbk divisi Bogasari Flour Mills di sebelah Utara berbatasan dengan PT Dok Koja Bahari, PT Sarpindo dan Laut Jawa. Sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Pelabuhan Sarpindo dan PT Eastern Polyster, sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Kali Kresek dan Depo Pertamina. Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Cilincing Raya. PT Indofood Sukses Makmur Tbk divisi Bogasari Flour Mills memiliki visi yaitu menjadi industri pangan berbasis produk pertanian dan jasa terkait yang bertaraf dunia. Dan memiliki misi sebagai berikut: 1. Memproduksi, mendistribusi dan menjual pangan, bahan pangan serta pakan yang bermutu dan bernilai tambah berbasis produk pertanian guna meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran pelanggan, mitra usaha, masyarakat, karyawan dan para pemegang saham. 2. Menyediakan atau menjual produk dan jasa terkait, antara lain kemasan, angkutan curah, serta penyimpanan dan pengemasan biji-bijian (grain terminal).

3. Memperkuat daya saing dengan cara menerapkan teknologi yang tepat, diversifikasi produk dan jasa, serta mengembangkan sumber daya manusia seutuhnya. B. Gambaran Stres Kerja Stres kerja diukur melalui pertanyaan-pertanyaan yang menyatakan intensitas pengalaman psikologis, fisiologis dan perubahan fisik yang dialami seseorang. Untuk mengetahui gambaran stres kerja dilakukan uji statistik univariat berskala ordinal. Tetapi sebelumnya dilakukan pengelompokan menjadi 2 kategorik dengan menggunakan standar skor yaitu jika total skor jawaban yang diperoleh > 25 dikategorikan skala berat dan jika total skor jawaban yang diperoleh antara 1-25 dikategorikan skala ringan. Sehingga dapat diketahui distribusi responden berdasarkan stres kerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 seperti terlihat pada tabel berikut 5.1. Tabel 5.1 Distribusi Responden berdasarkan Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009
Stres Kerja Skala Berat Skala Ringan Jumlah Jumlah (n) 48 60 108 Persentasi (%) 44.4 55.6 100

Berdasarkan hasil penelitian tabel 5.1, diketahui bahwa sebagian besar responden mengalami stres kerja ringan yaitu sebanyak 60 (55.6%) responden. Sedangkan responden yang mengalami stres kerja berat sebanyak 48 (44.4%) responden.

C. Gambaran Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres Kerja 1. Gambaran Faktor Intrinsik Pekerjaan (Beban Kerja, Jam Kerja, Rutinitas, dan Kebisingan) Gambaran distribusi faktor intrinsik pekerjaan (beban kerja, jam kerja, rutinitas, kebisingan) diukur melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengungkapakan bagaimana beban kerja, jam kerja, rutinitas, dan kebisingan yang dirasakan. Tetapi sebelumnya dilakukan pengelompokan menjadi 2 kategori untuk variabel rutinitas dengan menggunakan standar skor yaitu jika total skor jawaban yang diperoleh median (3.00) dikategorikan membosankan dan jika total skor jawaban yang diperoleh < median (3.00) dikategorikan tidak membosankan. Untuk variabel kebisingan dikategorikan mengganggu jika total skor jawaban yang diperoleh 3.00. Sedangkan untuk varibel beban kerja dilakukan pengelompokan menjadi 3 kategori dengan menggunakan tabel penilaian pekerjaan yaitu jika > 350 kcal/jam dikategorikan beban kerja berat. Jika 200-350 kcal/jam dikategorikan beban kerja sedang dan jika beban kerja sampai dengan 200 kcal/jam dikategorikan beban kerja ringan. Untuk variabel jam kerja dikelompokan menjadi 2 kategori yaitu 0 jika jam kerja > 8 jam dan 1 jika jam kerja 8 jam. Sehingga dapat diketahui distribusi responden

berdasarkan faktor intrinsik pekerjaan di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 seperti terlihat pada tabel berikut 5.2.

Tabel 5.2 Distribusi Responden menurut Variabel-Variabel Faktor Intrinsik Pekerjaan di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

No 1

Variabel Faktor Intrinsik Pekerjaan Beban Kerja

Kategori Berat Sedang Ringan

Jumlah 19 57 32 52 56 58 50 64 44

Persentase (%) 17.6 52,8 29.6 48,1 51,9 53,7 46,3 59.3 40.7

Jam Kerja

> 8 jam 8 jam

Rutinitas

Membosankan Tidak Membosankan

Kebisingan

Mengganggu Tidak Mengganggu

a. Beban Kerja Beban kerja dinilai dengan menggunakan tabel penialian pekerjaan yaitu untuk mengetahui estimasi panas metabolik agar dapat menilai berat ringannya beban kerja. Untuk kepentingan analisis data, beban kerja dikelompokan menjadi 3 kategori yaitu

jika beban kerja berat adalah > 350 kcal/jam, jika beban kerja sedang adalah 200-350 kcal/jam, dan jika beban kerja ringan adalah sampai dengan 200 kcal/jam. Berdasarkan kategori tersebut diketahui bahwa sebagian besar responden menyatakan beban kerja sedang yaitu sebanyak 57 (52,8%) responden. Pekerja yang menyatakan beban kerja berat sebanyak 19 (17.6%) responden. Sedangkan responden yang menyatakan beban kerja ringan sebanyak 32 (29.6%).

b. Jam Kerja Jam kerja diukur melalui pertanyaan yang jawabannya dikelompokan menjadi 2 kategori yaitu 0 jika jam kerja > 8 jam dan 1 jika jam kerja 8 jam. Berdasarkan kategori tersebut diketahui bahwa pekerja yang menyatakan jam kerjanya > 8 jam sebanyak 52 (48,1%) responden. Sedangkan pekerja yang menyatakan jam kerjanya 8 jam sebanyak 56 (51,9%) responden.

c. Rutinitas Variabel rutinitas diukur melalui pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan rutinitas kegiatan yang dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.1, dengan skor nilai tertinggi adalah 3 dan terendah adalah 0, nilai mean 1,65 dan median 3,00. Untuk kepentingan analisis data, rutinitas dikelompokkan menjadi 2 kategori berdasarkan nilai median yaitu 3.00, berdasarkan kategori tersebut diketahui bahwa sebagian besar responden menyatakan rutinitas kerja membosankan yaitu sebanyak 58 (53,7%) responden. Sedangkan pekerja yang menyatakan sikap rutinitas kerja tidak membosankan sebanyak 50 (46,3%) responden.

d. Kebisingan Variabel kebisingan diukur melalui pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan kebisingan yang dirasakan. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.1, dengan skor nilai tertinggi adalah 3 dan terendah adalah 0, nilai mean 1.85 dan median 3,00. Untuk kepentingan analisis data, rutinitas dikelompokkan menjadi 2 kategori berdasarkan nilai median yaitu 3.00, sehingga dapat diketahui bahwa sebagian besar responden menyatakan kebisingan di tempat kerja mengganggu yaitu sebanyak 64 (59.3%) responden. Sedangkan pekerja yang menyatakan kebisingan di tempat kerja tidak mengganggu sebanyak 44 (40.7%) responden.

2. Gambaran

Faktor

Ekstrinsik

Pekerjaan

(Peranan

dalam

Organisasi,

Pengembangan Karir, Hubungan Interpersonal, serta Struktur dan Iklim Organisasi) Gambaran distribusi faktor ekstrinsik pekerjaan (peranan dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan interpersonal, serta struktur dan iklim organisasi) diukur melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengungkapkan bagaimana keadaan peranan dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan interpersonal serta struktur dan iklim organisasi. Tetapi sebelumnya dilakukan pengelompokan menjadi 2 kategori dengan menggunakan standar skor yaitu jika total skor jawaban yang diperoleh median dikategorikan tidak berperan untuk variabel peranan dalam organisasi, tidak memuaskan untuk variabel pengembangan karir, buruk untuk variabel hubungan interpersonal dan

tidak mendukung untuk variabel struktur dan iklim organisasi. Jika total skor jawaban yang diperoleh < median dikategorikan berperan untuk variabel peranan dalam organisasi, memuaskan untuk variabel pengembangan karir, baik untuk variabel hubungan interpersonal dan mendukung untuk variabel struktur dan iklim organisasi. Untuk variabel peranan dalam organisasi dikategorikan tidak berperan jika total skor jawaban yang diperoleh 2.00, varibel pengembangan karir dikategorikan tidak memuaskan jika total skor jawaban yang diperoleh 1.00, hubungan interpersonal dikategorikan buruk jika total skor jawaban yang diperoleh 2.00, variabel struktur dan iklim organisasi dikategorikan mendukung jika total skor jawaban yang diperoleh 1.00. Sehingga dapat diketahui distribusi responden berdasarkan faktor ekstrinsik pekerjaan di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 seperti terlihat pada tabel berikut 5.3.

Tabel 5.3 Distribusi Responden menurut Variabel-Variabel Faktor Ekstrinsik Pekerjaan di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

No 1 2 3

Variabel Faktor Ekstrinsik Pekerjaan Peranan dalam Organisasi Pengembangan karir Hubungan

Kategori Tidak Berperan Berperan Tidak Memuaskan Memuaskan Buruk

Jumlah 83 25 80 28 66

Persentase (%) 76.9 23.1 74.1 25.9 61.1

Interpersonal 4 Struktur dan Iklim Organisasi

Baik Tidak Mendukung Mendukung

42 82 26

38.9 75.9 24.1

a. Peranan dalam Organisasi

Variabel peranan dalam organisasi diukur melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengungkapakan bagaimana peranan seseorang dalam organisasi. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.3, dengan skor nilai tertinggi adalah 3 dan terendah adalah 0, nilai mean 2.12 dan median 2.00. Untuk kepentingan analisis data, peranan dalam organisasi dikelompokkan menjadi 2 kategori berdasarkan nilai median yaitu 2.00. Berdasarkan kategori tersebut diketahui bahwa sebagian besar responden menyatakan tidak berperan yaitu sebanyak 83 (76.9%) responden. Sedangkan pekerja yang menyatakan berperan sebanyak 25 (23.1%) responden. b. Pengembangan karir

Variabel pengembangan karir diukur melalui pertanyaan-pertanyaan tentang kepuasan terhadap pengembangan karir. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.3, dengan skor nilai tertinggi adalah 4 dan terendah adalah 0, nilai mean 1.61 dan median 1,00. Untuk kepentingan analisis data, pengembangan karir dikelompokkan menjadi 2 kategori berdasarkan nilai median yaitu 1.00. Berdasarkan kategori tersebut diketahui bahwa sebagian besar responden menyatakan tidak memuaskan yaitu sebanyak 80 (74.1%) responden. Sedangkan pekerja yang menyatakan memuaskan sebanyak 28 (25.9%) responden.

c. Hubungan Interpersonal

Variabel hubungan interpersonal diukur melalui pertanyaan-pertanyaan bagaimana hubungan dengan atasan, rekan kerja dan bawahan. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.3, dengan skor nilai tertinggi adalah 3 dan terendah adalah 0, nilai mean 1.68 dan median 2,00. Untuk kepentingan analisis data, perkembangan hubungan interpersonal dikelompokkan menjadi 2 kategori berdasarkan nilai median yaitu 2.00. Berdasarkan kategori tersebut diketahui bahwa sebagian besar responden menyatakan buruk yaitu sebanyak 66 (61.1%) responden. Sedangkan pekerja yang menyatakan baik sebanyak 42 (38.9%) responden. d. Struktur dan Iklim Organisasi

Variabel struktur dan iklim organisasi diukur melalui pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana keadaan struktur dan iklim organisasi. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.3, dengan skor nilai tertinggi adalah 4 dan terendah adalah 0, nilai mean 1.63 dan median 1,00. Untuk kepentingan analisis data, pengembangan karir dikelompokkan menjadi 2 kategori berdasarkan nilai median yaitu 1,00. Berdasarkan kategori tersebut diketahui bahwa sebagian besar responden menyatakan tidak mendukung yaitu sebanyak 82 (75.9%) responden. Sedangkan pekerja yang menyatakan mendukung sebanyak 26 (24.1%) responden.

3. Gambaran Faktor Individu (Umur dan Masa Kerja) Gambaran distribusi faktor individu (umur dan masa kerja) pekerja diukur melalui pertanyaan terkait dengan umur dan masa kerjanya. Tetapi sebelumnya untuk variabel umur dilakukan pengelompokan menjadi 2 kategori dengan menggunakan standar umur yaitu jika total umur jawaban yang diperoleh median dikategorikan 36 tahun dan jika total umur jawaban yang diperoleh < median dikategorikan < 36 tahun. Untuk masa kerja dikategorikan > 5 tahun dan 5 tahun. Sehingga dapat diketahui distribusi responden berdasarkan faktor individu pada pekerja di bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk Tahun 2009 seperti terlihat pada tabel berikut 5.4. Tabel 5.4 Distribusi Responden menurut Variabel-Variabel Faktor Individu pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

No 1 2

Variabel Faktor Penguat Umur Masa Kerja

Kategori 36 tahun < 36 tahun > 5 tahun 5 tahun

Jumlah 55 53 18 90

Persentase (%) 50.9 49.1 16.7 83.3

a. Umur Pengawasan yang diperoleh pekerja di ukur melalui pertanyaan terkait umur pekerja. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.4, dengan umur tertinggi adalah 54 dan terendah adalah 26, nilai mean 37.05 dan median 36.00. Untuk kepentingan analisis data, umur dikelompokkan menjadi 2 kategori berdasarkan nilai median yaitu 36.00.

Berdasarkan kategori tersebut diketahui bahwa sebagian besar responden umur 36 tahun yaitu sebanyak 55 (50.9%) responden. Sedangkan pekerja yang berumur < 36 tahun sebanyak 53 (49.1%) responden. b. Masa Kerja Masa kerja diukur melalui pertanyaan yang dikelompokan menjadi 2 kategori yaitu 0 jika masa kerja > 5 tahun dan 1 jika masa kerja 5 tahun. Berdasarkan kategori tersebut diketahui bahwa pekerja yang menyatakan masa kerjanya > 5 tahun sebanyak 18 (16.7%). Sedangkan pekerja yang menyatakan masa kerjanya 5 tahun sebanyak 90 (83.3%) responden. D. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Stres Kerja 1. Hubungan Antara Faktor Intrinsik Pekerjaan (Beban Kerja, Jam Kerja, Rutinitas, dan Kebisingan) a. Beban Kerja Untuk mengetahui apakah beban kerja mempengaruhi stres kerja pada pekerja atau tidak dilakukan analisis bivariat. Hubungan antara beban kerja terhadap stres kerja dilihat pada tabel 5.5. Tabel 5.5 Distribusi Responden menurut Beban Kerja terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

Beban Kerja

Stres Kerja

Pvalue

OR 95% CI

Berat N Berat Sedang 14 23 % 73.3 40.4

Ringan N 5 34 % 26.3 59.6 n 19 57

Total % 100 100 4.139 0.015 (1.310-13.073) 5.345 (1.524-18.750)

Ringan Total

11 48

34.4 44.4

21 60

65.6 55.6

32 108

100 100

Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa responden yang menyatakan beban kerja berat sebesar (73.3%) mengalami stres kerja berat. Sebaliknya responden yang menyatakan beban kerja sedang sebesar (59.6%) mengalami stres kerja ringan. Sedangkan responden yang menyatakan beban kerja ringan sebesar (65.6%) juga mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik regresi logistik ganda diketahui beban kerja memiliki hubungan bermakna ( < 0,05) dengan stres kerja pada pekerja, Pvalue = 0,015. Berdasarkan perhitungan risk estimete diperoleh OR(1) = 4.139 (95% CI 1.310 -13.073), artinya responden yang menyatakan beban kerja sedang memiliki peluang 4 kali untuk mengalami stres kerja berat dibandingkan dengan responden yang menyatakan beban kerja tinggi. Untuk OR (2) = 5.345 (95% CI 1.524 18.750), artinya responden yang menyatakan beban kerja sedang memiliki peluang 5 kali untuk mengalami stres kerja berat dibandingkan dengan responden yang menyatakan beban kerja tinggi. b. Jam Kerja

Untuk mengetahui apakah jam kerja mempengaruhi stres kerja pada pekerja atau tidak dilakukan analisis bivariat. Hubungan antara jam kerja dengan stres kerja dapat dilihat pada tabel 5.6. Tabel 5.6 Distribusi Responden menurut Jam Kerja terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

Stres Kerja Jam Kerja N > 8 jam 8 jam Total 29 19 48 Berat % 55.8 33.9 44.4 Ringan N 23 37 60 % 44.2 66.1 55.6 n 52 56 108 Total % 100 100 100 0,037 2.455 (1.128 -5.346) Pvalue OR 95% CI

Berdasarkan tabel, dapat diketahui bahwa responden yang bekerja > 8 jam sebagian besar (55.8%) mengalami stres kerja berat. Sebaliknya responden yang bekerja 8 jam sebagian besar (66.1%) mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui jam kerja memiliki hubungan yang bermakna ( < 0,05) dengan stres kerja, Pvalue = 0,037. Berdasarkan perhitungan risk estimete diperoleh OR = 2.455 (95% CI 1.128 -5.346), artinya responden yang menyatakan jam kerja > 8 jam memiliki peluang 2.455 kali untuk mengalami stres kerja skala berat dibandingkan dengan responden yang menyatakan jam kerja 8 jam. c. Rutinitas Untuk mengetahui apakah rutinitas mempengaruhi stres kerja pada pekerja atau tidak dilakukan analisis bivariat. Berdasarkan uji kenormalan data yaitu test kolmogorov

(p=0,000) diketahui bahwa data berdistribusi tidak normal, sehingga data dikategorikan dan uji yang digunakan tetap uji chi square. Hubungan antara rutinitas dengan stres kerja pada pekerja dapat dilihat pada tabel 5.7. Tabel 5.7 Distribusi Responden menurut Rutinitas terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

Rutinitas Membosankan Tidak Membosankan Total

Berat N 32 16 48 % 55.2 32.0 44.4

Stres Kerja Ringan N 26 34 60 % 44.8 68.0 55.6 N 58 50

Total % 100 100 100

Pvalue

OR 95% CI

0.026

2.615 (1.189-5.751)

108

Berdasarkan tabel, dapat diketahui bahwa responden yang menyatakan rutinitas membosankan sebagian besar (55.2%) mengalami stres kerja berat. Sebaliknya responden yang menyatakan rutinitas tidak membosankan sebagian besar (68.0%) mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui rutinitas memiliki hubungan yang bermakna ( < 0,0 ) dengan stres kerja, Pvalue = 0,026. Berdasarkan perhitungan risk estimete diperoleh OR = 2.615 (95% CI 1.189-5.751), artinya responden yang menyatakan rutinitas membosankan memiliki peluang 2.615 kali untuk mengalami stres kerja berat dibandingkan dengan responden yang menyatakan tidak membosankan. d. Kebisingan

Untuk mengetahui apakah kebisingan mempengaruhi stres kerja pada pekerja atau tidak dilakukan analisis bivariat. Berdasarkan uji kenormalan data yaitu test kolmogorov (p=0,000) diketahui bahwa data berdistribusi tidak normal, sehingga data dikategorikan dan uji yang digunakan tetap uji chi square. Hubungan antara kebisingan dengan stres kerja pada pekerja dapat dilihat pada tabel 5.8. Tabel 5.8 Distribusi Responden menurut kebisingan terhadap Stres Kerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

Kebisingan Mengganggu Tidak Mengganggu Total

Berat N 36 12 48 % 56.3 27.3 44.4

Stres Kerja Ringan N 28 32 60 % 43.8 72.7 55.6 N 64 44

Total % 100 100 100

Pvalue

OR 95% CI

0.005

3.429 (1.499-7.840)

108

Berdasarkan tabel, dapat diketahui bahwa responden yang menyatakan kebisingan mengganggu sebagian besar (56.3%) mengalami stres kerja berat. Sebaliknya responden yang menyatakan menyatakan kebisingan tidak mengganggu sebagian besar (72.7%) mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui kebisingan memiliki hubungan yang bermakna ( < 0,0 ) dengan stres kerja, Pvalue = 0,005. Berdasarkan perhitungan risk estimete diperoleh OR = 3.429 (95% CI 1.499-7.840), artinya responden yang menyatakan kebisingan mengganggu memiliki peluang 3.429 kali untuk mengalami stres kerja berat dibandingkan dengan responden yang menyatakan tidak mengganggu.

2. Hubungan Antara Faktor Ekstrinsik Pekerjaan (Peranan dalam Organisasi, Pengembangan karir, Hubungan Interpersonal, serta Struktur dan Iklim Organisasi) a. Peranan dalam Organisasi Untuk mengetahui apakah variabel peranan dalam organisai mempengaruhi stres kerja pada pekerja atau tidak dilakukan analisis bivariat. Berdasarkan uji kenormalan data yaitu test kolmogorov (p=0,000) diketahui bahwa data berdistribusi tidak normal, sehingga data dikategorikan dan uji yang digunakan tetap uji chi square. Hubungan antara peranan dalam organisai dengan stres kerja pada pekerja dapat dilihat pada tabel 5.9. Tabel 5.9 Distribusi Responden menurut Peranan dalam Organisasi terhadap Stres Kerja pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

Peranan dalam Organisasi Tidak Berperan Berperan Total

Berat N 37 11 48 % 44.6 44.0 44.4

Stres Kerja Ringan N 46 14 60 % 55.4 56.0 55.6

Total N 83 25 108 % 100 100 100

Pvalue

OR 95% CI 1.024 (0.416-2.519)

1.000

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa responden yang menyatakan tidak berperan dalam organisasi sebesar (55.4%) mengalami stres kerja ringan. Sebaliknya responden yang menyatakan berperan dalam organisasi sebesar (56.0%) juga mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui

peranan dalam organisai tidak memiliki hubungan bermakna ( > 0,05) dengan stres kerja pada pekrja, Pvalue = 1.000. b. Pengembangan karir Untuk mengetahui apakah variabel pengembangan karir mempengaruhi stres kerja pada pekerja atau tidak dilakukan analisis bivariat. Berdasarkan uji kenormalan data yaitu test kolmogorov (p=0,000) diketahui bahwa data berdistribusi tidak normal, sehingga data dikategorikan dan uji yang digunakan tetap uji chi square. Hubungan antara pengembangan karir dengan stres kerja pada pekerja dapat dilihat pada tabel 5.10. Tabel 5.10 Distribusi Responden menurut Pengembangan Karir terhadap Stres Kerja pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

Perkembangan Karir N Tidak Memuaskan Memuaskan Total

Berat % 48.8 32.1 44.4

Stres Kerja Ringan N 41 19 60 % 51.3 67.9 55.6 N 80

Total % 100 100 100

Pvalue

OR 95% CI

39 9 48

0.193

28 108

2.008 (0.811-4.970)

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa responden yang menyatakan pengembangan karir tidak memuaskan sebesar (51.3%) mengalami stres kerja ringan. Sebaliknya responden yang menyatakan pengembangan karir memuaskan sebesar (67.9%) juga mengalami stres kerja berat. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui pengembangan karir tidak memiliki hubungan bermakna ( > 0,05) dengan stres kerja pada pekrja, Pvalue = 0,193.

c. Hubungan Interpersonal Untuk mengetahui apakah variabel hubungan interpersonal mempengaruhi stres kerja pada pekerja atau tidak dilakukan analisis bivariat. Berdasarkan uji kenormalan data yaitu test kolmogorov (p=0,000) diketahui bahwa data berdistribusi tidak normal, sehingga data dikategorikan dan uji yang digunakan tetap uji chi square. Hubungan antara hubungan interpersonal dengan stres kerja pada pekerja dapat dilihat pada tabel 5.11. Tabel 5.11 Distribusi Responden menurut Hubungan Interpersonal terhadap Stres Kerja pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

Hubungan Interpersonal Buruk Baik Total

Berat N 34 14 48 % 51.5 33.3 44.4

Stres Kerja Ringan N 32 28 60 % 48.5 66.7 55.6

Total N 66 42 108 % 100 100 100

Pvalue

OR 95% CI 2.125 (0.952-4.743)

0.098

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa responden yang menyatakan hubungan interpersonal buruk sebesar (51.5%) mengalami stres kerja berat. Sebaliknya responden yang menyatakan hubungan interpersonal baik sebesar (66.7%) mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui hubungan

intrpersonal tidak memiliki hubungan bermakna ( > 0,05) dengan stres kerja pada pekrja, Pvalue = 0,098. d. Struktur dan Iklim Organisasi Untuk mengetahui apakah variabel struktur dan iklim organisasi mempengaruhi stres kerja pada pekerja atau tidak dilakukan analisis bivariat. Berdasarkan uji kenormalan data yaitu test kolmogorov (p=0,000) diketahui bahwa data berdistribusi tidak normal, sehingga data dikategorikan dan uji yang digunakan tetap uji chi square. Hubungan antara struktur dan iklim organisasi dengan stres kerja pada pekerja dapat dilihat pada tabel 5.12. Tabel 5.12 Distribusi Responden menurut Struktur dan iklim Organisasi terhadap Stres Kerja pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

Struktur dan Iklim Organisasi Tidak Mendukung Mendukung Total

Berat N 40 8 48 % 48.8 30.8 44.4

Stres Kerja Ringan N 42 18 60 % 51.2 69.2 55.6

Total N 82 26 108 % 100 100 100

Pvalue

OR 95% CI 2.143 (0.838-5.478)

0.166

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa responden yang menyatakan struktur dan iklim organisasi tidak mendukung sebesar (51.2%) mengalami stres kerja ringan. Sebaliknya responden yang menyatakan struktur dan iklim organisasi mendukung sebesar (69.2%) juga mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji

statistik chi square diketahui struktur dan iklim organisasi tidak memiliki hubungan bermakna ( > 0,0 ) dengan stres kerja pada pekerja, Pvalue = 0,166. 3. Hubungan Antara Faktor Individu (Umur dan Masa Kerja ) a. Umur Untuk mengetahui apakah variabel umur mempengaruhi stres kerja pada pekerja atau tidak dilakukan analisis bivariat. Berdasarkan uji kenormalan data yaitu test kolmogorov (p=0,004) diketahui bahwa data berdistribusi tidak normal, sehingga data dikategorikan dan uji yang digunakan tetap uji chi square. Hubungan antara umur dengan stres kerja pada pekerja dapat dilihat pada tabel 5.13.

Tabel 5.13 Distribusi Responden menurut Umur terhadap Stres Kerja pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

Umur 36 tahun < 36 tahun Total

Berat N 22 26 48 % 40.0 49.1 44.4

Stres Kerja Ringan N 33 27 60 % 60.0 50.9 55.6

Total N 55 53 108 % 100 100 100

Pvalue

OR 95% CI 0.692 (0.323-1.484)

0.451

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa responden umur 36 tahun sebesar (60.0%) mengalami stres kerja ingan. Sebaliknya responden umur < 36 tahun sebesar (50.9%) juga mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi

square diketahui umur tidak memiliki hubungan bermakna ( > 0,05) dengan stres kerja pada pekerja, Pvalue = 0,451. b. Masa Kerja Untuk mengetahui apakah masa kerja mempengaruhi stres kerja pada pekerja atau tidak dilakukan analisis bivariat. Hubungan antara masa kerja terhadap stres kerja dilihat pada tabel 5.14. Tabel 5.14 Distribusi Responden menurut Masa Kerja Terhadap Stres Kerja pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

Stres Kerja Masa Kerja N >5 tahun 5 tahun Total 7 41 62 Berat % 38.9 45.6 57.4 Ringan N 11 49 46 % 61.1 54.4 42.6 N 18 90 108 Total % 100 0,795 100 100 0.761 (0.270-2.140) Pvalue OR 95% CI

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa responden dengan masa kerja > 5 tahun sebagian besar (61.1%) mengalami stres kerja ringan. Sedangkan responden dengan masa kerja 5 tahun sebagian besar (54.4%) juga mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui masa kerja tidak memiliki hubungan yang bermakna ( > 0,05) dengan stres kerja, Pvalue = 0,795. 4. Faktor yang paling berpengaruh terhadap Stres Kerja

Untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap stres kerja pada pekerja di bagian produksi PT Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Bogasari Flour Mills Tahun 2009 dilakukan analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regretion) yang meliputi pemilihan model untuk analisis multivariat dan pembuatan model.
1. Pemilihan variabel sebagai kandidat analisis multivariat Pada penelitian ini terdapat 7 variabel yang diduga berpengaruh terhadap stres kerja pada pekerja yaitu: beban kerja, jam kerja, rutinitas, kebisingan, pengambangan karir, hubungan interpersonal serta struktur dan iklim organisasi. Untuk pemilihan variabel kandidat, ke-7 variabel tersebut terlebih dahulu dilakukan analisis bivariat dengan variabel dependen yaitu stres kerja. Setelah melalui analisis bivariat, variabel dengan nilai Pvalue < 0, 25 dan mempunyai kemaknaan secara substansi dapat dijadikan kandidat yang akan dimasukkan ke dalam model multivariat. Hasil analisis bivariat antara variabel independen dengan variabel dependen dapat dilihat pada tabel 5.15.

Tabel 5.15 Hasil Analisis Bivariat antara Faktor Intrinsik Pekerjaan, Faktor Ekstrinsik Pekerjaan, dan Faktor Individu dengan Stres Kerja pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

No 1 2 3 4 5 6 7

Variabel Beban Kerja Jam Kerja Rutinitas Kebisingan Pengembangan Karir Hubungan Interpersonal Struktur dan Iklim Organisasi

PValue 0.015 0.037 0.026 0.005 0.193 0.098 0.166

Dari hasil tabel diatas ternyata ada 7 variabel yang Pvalue nya 0,25 yaitu beban kerja, jam kerja, rutinitas, kebisingan, pengembangan karir, hubungan interpersonal serta struktur dan iklim organisasi. Dengan demikian variabel-variabel tersebut masuk ke dalam model multivariat.
2. Pembuatan model faktor penentu variabel yang paling berpengaruh secara statistik dengan stres kerja.

Analisis multivariat mendapatkan model yang terbaik dalam menentukan determinan stres kerja pada pekerja. Dalam pemodelan ini semua variabel kandidat dicobakan secara bersama-sama. Model terbaik akan dipertimbangkan pada nilai Pvalue 0,05. Pemilihan model dilakukan secara hirarki dengan cara semua variabel independen yang menjadi kandidat yang memenuhi syarat dimasukkan ke dalam model, kemudian variabel Pvalue > 0,05 dikeluarkan dari model satu-persatu. Secara keseluruhan hasil pembuatan model faktor penentu dapat dilihat pada tabel 5.16.

Tabel 5.16 Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik Ganda antara Beban Kerja, Jam Kerja, Rutinitas, Kebisingan, Pengembangan Karir, Hubungan Interpersonal serta Struktur dan Iklim Organisasi dengan Stres Kerja pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

No 1 2 3 4 5 6 7

Variabel Beban Kerja Jam Kerja Rutinitas Kebisingan

Model Model Model 1 2 3 0.003 0.001 0.370 0.999 0.003 0.000 0.365 0.052 0.735 0.243 0.003 0.000 0.363 0.046 0.166

Model 4

Model 5

0.003
0.000

0.004
0.000

0.000

0.000

Pengembangan 0.713 Karir Hubungan Interpersonal Struktur dan Iklim Organisasi 0.999 0.215

0.138

Dari hasil analisis data diatas diketahui bahwa dari tujuh variabel yang dianalisis, hanya terdapat tiga variabel yang tersisa. Tabel diatas menunjukkan bahwa dari ketiga variabel tersebut mempunyai Pvalue (Pwald) < 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut merupakan variabel yang mempunyai hubungan secara signifikan dengan stres kerja pada pekerja. Hasil analisis multivariat variabel tersebut dapat dilihat pada tabel 5.17.

Tabel 5.17 Hasil Analisis Multivariat antara Beban Kerja, Jam Kerja dan Kebisingan dengan Stres Kerja pada Pekerja di Bagian Produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tahun 2009

No Variabel 1 2 3 Beban Kerja Jam Kerja Kebisingan

B 1.075 2.978 3.142

Pwald 8.312

OR 2.930

95% CI 1.411-6.085

13.765 19.650 4.75-94.761 15.126 23.158 4.753-112.832 G = 39.584

-2 Log Likelihood = 108.799 Pvalue = 0.000


Nagelkerke R Square = 0,411

Hasil tebel 5.16 tersebut terlihat baik untuk variabel beban kerja, jam kerja, kebisingan Pvalue (sig) yang dibawah 0.05, berarti ketiga variabel tersebut yang berhubungan secara signifikan dengan stres kerja untuk. Pada variabel kebisingan memiliki nilai OR = 23.158, hal ini menunjukkan bahwa kebisingan akan berubah sebesar 23.158 kali untuk kejadian stres kerja berat apabila pekerja menganggap kebisingan mengganggu setelah dikontrol variabel jam kerja dan beban kerja. Selanjutnya dilihat dari koefisien B dan nilai OR pada tabel 5.17 dapat disimpulkan bahwa dari ketiga variabel tersebut, variabel kebisingan merupakan variabel yang paling dominan yang mempengaruhi kejadian stres kerja karena mempunyai nilai koefisien B (3.142) dan OR (23.158) yang lebih tinggi dibandingkan dengan variabel yang lain. Berdasarkan hasil analisis model diketahui nilai Negelkerke R Square sebesar 41.1% artinya variabel kebisingan, jam kerja dan beban kerja menjelaskan kejadian stres kerja sebesar 41.1%, dan selebihnya dapat dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian ini.

Dari hasil analisis multivariat secara keseluruhan, maka persamaan regresi yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 Logit Stres Kerja = -3.789+ (1.075* beban kerja) + (2.978* jam kerja) + (3.142*kebisingan)

Berdasarkan persamaan tersebut maka stres kerja dapat diperkirakan dengan variabel beban kerja, jam kerja dan kebisingan. Dari persamaan diatas juga diketahui bahwa nilai koefisien regresi pada masing-masing variabel bebas bernilai positif, yaitu 1.075 untuk beban kerja, 2.978 untuk jam kerja, dan 3.142 untuk kebisingan. Nilai positif ini menggambarkan adanya pengaruh yang searah antara beban kerja, jam kerja dan kebisingan terhadap stres kerja. Dimana setiap kenaikan satu satuan pada variabel beban kerja, jam kerja dan kebisingan akan menyebabkan kenaikan tingkat stres kerja sebesar 1.075 untuk kenaikan yang disebabkan oleh variabel beban kerja, 2.978 untuk kenaikan yang disebabkan oleh

variabel jam kerja dan 3.142 untuk kenaikan yang disebabkan oleh variabel kebisingan. Sedangkan nilai negatif pada konstanta yaitu -3.789 menggambarkan bahwa tanpa adanya intervensi terhadap beban kerja, jam kerja dan kebisingan, stres kerja akan menurun sebesar 3,789.

BAB VI
PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan yang dapat mempengaruhi hasil penelitian, keterbatasan-keterbatasan tersebut yaitu: 1. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dapat menggambarkan variabel yang diteliti, baik independen maupun dependen pada waktu yang sama tatapi cukup lemah untuk melihat adanya hubungan sebab akibat. 2. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner yang disusun oleh peneliti berdasarkan teori dan instrumen penelitian terdahulu yang hampir sama, sehingga dapat dikatakan bahwa instrumen yang digunakan bukan instrumen standar atau baku. 3. Uji coba kuesioner dilakukan pada tempat yang sama dilakukannya penelitian yang kemungkinan dapat menyebabkan terpilihnya kembali sebagai responden pada penelitian. 4. Kerangka konsep yang digunakan pada penelitian ini hanya menghubungkan variabel-variabel yang diperkirakan memiliki hubungan dengan variabel dependen,

sehingga masih terdapat kemungkinan variabel-variabel lain yang belum masuk dalam kerangka konsep. 5. Penelitian ini lebih bersifat subyektif yaitu tentang stres kerja, sehingga hasilnya sebatas pada perusahaan dimana penelitian ini dilakukan dan stres kerja sebagai pusat pengamatan bukan hal yang bersifat menetap, sehingga hasil pengukuran yang dilakukan pada saat pengambilan data bukanlah merupakan hasil yang berlangsung seterusnya. Selain itu pada saat pengambilan data dapat terjadi kemungkinan mereka yang diasumsikan menderita stres kerja sebenarnya tidak. Tetapi karena dipengaruhi oleh waktu dan saat yang kurang tepat, dimana saat mengisi kuesioner responden mempunyai masalah yang berasal dari luar tempat kerjanya, misalnya masalah dari rumah atau lingkungan sosialnya. Sehingga mempengaruhi jawaban responden terutama pada bagian pertanyaan mengenai indikator stres kerja yang terdiri dari indikator perubahan fisiologis, indikator perubahan psikologi dan indikator perubahan perilaku yang pada akhirnya membuat peneliti menyatakan bahwa responden stres dalam bekerja.

B. Gambaran Stres Kerja Menurut Anoraga (1998) ketegangan dalam lingkungan kerja yang sering dialami oleh karyawan akan mengganggu situasi kerja serta konsentrasi dalam menyelesaikan tugas dan keadaan ini bisa mengakibatkan menurunnya prestasi kerja yang tentunya merugikan karyawan dan perusahaan. Namun dalam kehidupan sehari-

hari tidak adanya ketegangan sama sekali bukan merupakan suatu tanda kebahagiaan, tetapi menunjukkan adanya kelesuan atau ketidaktahuan mengenai apa yang tengah terjadi. Setiap aspek dari lingkungan kerja dapat dirasakan sebagi stres oleh tenaga kerja. Tergantung dari persepsi tenaga kerja terhadap lingkungannya, apakah ia merasakan stres atau tidak. Hal ini berarti bahwa pada situasi kerja yang sama, seorang tenaga kerja dapat mengalami stres, sedangkan lainnya tidak (Wahyuningsih, 2007). Stres kerja dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan indikator yang telah ditetapkan sesuai dengan metode self report measurement berisi beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan adanya perubahan fisiologis, psikologi dan perilaku. Dari hasil penelitian yang terdapat pada tabel 5.1 diketahui bahwa sebagian besar pekerja di PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk tahun 2009 yang menjadi responden dalam penelitian ini mengalami stres ringan yaitu sebesar 55.6%. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suprapto (2008) bahwa pekerja yang mengalami stres kerja ringan lebih banyak dibandingkan dengan pekerja yang mengalami stres kerja berat yaitu sebesar 62,3%. Selain itu menurut penelitian Evayanti (2003) sekitar 57,8% dari total 308 responden yang diteliti mengalami stres kerja. Terdapat tiga indikator perubahan yaitu perubahan fisiologis, perubahan psikologi, dan perubahan perilaku yang digunakan untuk mengukur stres kerja yang diadopsi dari Karoley, 1985 dalam Hawari, 2001 yaitu untuk perubahan fisiologis meliputi : sakit kepala/ pusing, sakit punggung, gangguan seksual, asma /sesak nafas,

gangguan pencernaan pada lambung dan usus, insomnia/ susah tidur, diare, telinga berdenging, bruxims (menggertakan gigi di malam hari), Sakit sendi tempero mandibular (sakit rahang), tekanan darah tinggi, gejala PJK (penyakit jantung koroner), gejala herpes, migrain, tukak lambung, jantung berdebar-debar, sering buang air kecil, sering keluar keringat, gugup, nafsu makan hilang, badan terasa lemah, letih/lesu. Perubahan psikologi meliputi : mudah marah, mudah tersinggung, perasaan tertekan, merasa cemas/gelisah, mudah putus asa, sikap acuh tak acuh, perasaan tegang. Perubahan perilaku : merasa malas bekerja, absenteisme tinggi, kurang konsentrasi, cepat merasa lupa, menunda-nunda pekerjaan, minum kopi/ merokok (kuantitasnya lebih dari biasanya), minum obat tidur/ obat penenang (diluar kebiasaan sehari-hari), mengkonsumsi minuman beralkohol (diluar kebiasaan sehari-hari), dan menghindari dari interaksi sosial (pergaulan). Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Cox (1976) yaitu pengaruh stres terhadap perilaku dan kesehatan diantaranya efek fisiologis yaitu denyut jantung meningkat, berkeringat dan peningkatan tekanan darah. Efek perilaku yaitu : penyalahgunaan obat, nafsu makan hilang dan minum-minuman keras. Sedangkan efek kognitif yaitu : sulit konsentrasi dan sering lupa. Meskipun sebagian besar pekerja di PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk

mengalami stres ringan, apabila tidak ditangani secara serius oleh pihak perusahaan maka akan merugikan bagi pekerja dan perusahaan. Sebab semua pekerjaan menanggung beban tangung jawab, masalah-masalah, tuntutan-tuntutan, kesulitankesulitan dan tekanan-tekanan yang mencetuskan timbulnya stres pada individu pekerja. Pada akhirnya bila stres berkepanjangan akan menghasilkan respon tubuh dalam bentuk

gangguan faal tubuh, gangguan emosional dan perubahan tingkah laku serta menurunnya produktivitas kerja (Harrianto, 2005). Untuk itu pihak perusahaan agar lebih optimal dalam menanggulangi stres kerja dengan melakukan dua pendekatan (NIOSH, 1998) yaitu : manajemen stres dimana dengan memberikan pelatihan manajemen stres kepada karyawan dan membentuk suatu program batuan bagi karyawan melalui Employee Assistance Program (EAP), yang bertujuan untuk membimbing karyawan agar mampu mengatasi persoalan yang berhubungan dengan masalah pekerjaannya. Selain itu, pendekatan yang kedua adalah organitational change yaitu perusahaan menggunakan konsultan untuk membantu mengurangi persoalan stres kerja yang ada di perusahaan melalui rekomendasi-rekomendasi yang diberikan. Dengan hanya menerapkan salah satu pendekatan saja, sangat sulit bagi perusahan untuk mereduksi stres kerja, mengingat kedua pendekatan tersebut merupakan pendekatan yang saling terkait dan terintegrasi. Manajemen stres pada tahap pencegahan memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat menyeluruh, yaitu fisik, psikologik, psikososial dan psikoreligius (Hawari, 2001). Lebih jauh Hawari menjelaskan beberapa metode manajemen terhadap stres yang dapat dilakukan, antara lain : 1. Cukup istirahat Tugas dan beban pekerjaan yang berat menuntut seseorang bekerja dalam waktu yang lama , sehingga orang tersebut tidak mempunyai banyak waktu beristirahat dan tidur yang cukup. Tidur dapat diartikan sebagai obat alamiah yag dapat memulihkan segala kelelahan fisik dan metal (Hawari, 2001).

2. Perbanyak pergaulan sosial serta memperluas tali silaturahim Manusia adalah makhluk sosial sehingga seseorang tidak akan dapat hidup sendiri. Untuk meningkatkan daya tahan dan kekebalan terhadap stres, maka seseorang hendaknya banyak bergaul, mencari teman dan menjalin silaturahim sebab seseorang yang memiliki banyak teman mempunyai teman-teman yang dapat dipercaya untuk saling bertukar pikiran dan membantu mengurangi beban pikirannya. 3. Taat beribadah dan mendekatkan diri dengan tuhan Manusia adalah makhluk yang fitrah, sehingga memerlukan pemenuhan kebutuhan dasar spiritual (basic spiritual needs), oleh karena itu agama adalah salah satu kebutuhan dasar yang dapat menghindari seseorang dari kejadian stres. 4. Mencari waktu luang untuk berlibur dan berekreasi bersama keluarga Rekreasi merupakan sarana untuk mengurangi stres, sebab dengan berekreasi / berlibur maka seseorang dapat melupakan segala permasalahan dan rutinitas yang membuat seeorang mejadi stres. Secara umum, menurut Harrianto (2005) bahwa stres kerja dapat ditanggulangi dengan menerapkan 5 langkah penanggulangan stres kerja dalam kehidupan sehari-hari, seperti bertakwa kepada Tuhan YME misalnya pekerja lebih rajin lagi mengikuti kegiatan pengajian atau kebaktian yang diadakan oleh perusahaan, sehingga pekerja dapat berpartisipasi dan tidak jauh dari kegiatan keagamaan lainnya yang ada. Mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi, melakukan olah raga dan rekreasi secara

teratur, menghindari rokok dan meminum alkohol serta melakukan pekerjaan sehari-hari dengan perasaan senang / melakukan rekreasi.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres Kerja 1. Faktor Intrinsik Pekerjaan (Beban Kerja, Jam Kerja, Rutinitas, dan Kebisingan) a. Beban Kerja Beban kerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.2 diketahui bahwa sebagian besar responden yang diteliti menyatakan beban kerja mereka sedang. Berdasarkan hasil analisis bivariat, dapat diketahui bahwa responden yang menyatakankan beban kerja mereka berat 73.3% mengalami stres kerja berat. Sedangkan responden yang menyatakan beban kerja mereka sedang sebagian besar mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik regresi logistik ganda diketahui beban kerja memiliki hubungan bermakna. Berdarkan hasil analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regretions) diketahui bahwa beban kerja berpengaruh untuk terjadinya stres kerja pada pekerja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel beban kerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja pada pekerja.

Hasil penelitian ini sesuai dengan dengan teorinya Hurrell dkk yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja adalah beban kerja (Munandar, 2001). Berat ringannya beban kerja yang diterima oleh seorang pekerja dapat digunakan untuk menentukan berapa lama seorang pekerja dapat melakukan aktivitas pekerjaannya sesuai dengan kemampuan atau kapasitas kerja yang bersangkutan. Dimana semakin berat beban kerja sehingga melampaui kapasitas kerja akan menurunkan efisiensi dan produktivitas kerja bahkan dapat menimbulkan gangguan kesehatan pekerja (Tarwaka, et al, 2004). Penelitian yang dilakukan oleh ahli jantung Meyer Friedmen dan Ray Resenmen (1974) yang dikutip dalam Anugrah (2009) menunjukkan bahwa desakan waktu kronis tampaknya memberi pengaruh yang tidak baik terhadap sistem cardiovaskular, yang hasilnya secara khusus adalah serangan jantung prematur dan tekanan darah tinggi. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bida (1995), yang menyatakan bahwa beban kerja mereka berat, sehingga menyebabkan stres. Semakin besar beban kerja yang ditanggung seseorang maka semakin besar juga resiko dan bahaya yang ada diperusahaan yang tidak dapat dihindarkan dan tidak dapat diubah. Namun persepsi pekerja terhadap resiko dapat dikurangi melalui pelatihan dan pendidikan (Munandar, 2001). Para pekerja yang cemas memiliki obsesi dan takut, kurang bermotivasi untuk bekerja, mempunyai semangat rendah dan lebih mudah menimbulkan kecelakaan dan dalam jangka panjang dapat menderita akibat-akibat dari penyakit yang berhubungan dengan stres, termasuk sakit jantung dan perut (ulcers) (Munandar, 2001). Oleh karena itu, perusahaan disarankan perusahaan lebih

mengoptimalkan lagi pelatihan dan pendidikan terkait dengan resiko dan bahaya pekerjaan yang merupakan bagian dari kesehatan dan keselamatan kerja di perusahaan, sehingga persepsi terhadap resiko dan bahaya pekerjaan dapat dikurangi dan pekerja dapat bekerja tanpa adanya kecemasan dan ketakutan yang apabila berlangsung dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan penyakit yang berhubungan dengan stres. b. Jam Kerja Jam kerja merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi stres kerja. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5,2, diketahui bahwa sebagian besar responden yang diteliti menyatakan jam kerja 8 jam. Berdasarkan hasil analisis bivariat, dapat diketahui bahwa responden yang menyatakankan jam kerja > 8 jam sebagian besar mengalami stres kerja berat. Sementara responden yang menyatakan jam kerja 8 jam sebagian besar mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui jam kerja memiliki hubungan yang bermakna. Berdarkan hasil analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regretions) diketahui bahwa jam kerja mempengaruhi stres kerja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel jam kerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Hurrell dkk bahwa jam kerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja (Munandar, 2001). Penambahan jam kerja diluar standar dapat meningkatkan usaha adaptasi pekerja, yang

kemudian dapat meningkatkan ekskresi katokholamin yaitu hormon adrenalin dan nonadrenalin. Menurut beberapa penelitian, kerja lembur yang terlalu sering, apalagi kalau tanpa kontrol jumlah jam kerja yang berlebihan ternyata tidak hanya mengurangi kuantitas dan kualitas hasil kerja, juga seringkali meningkatkan kuantitas absen dengan alasan sakit atau kecelakaan kerja (Harrianto, 2005) Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad (2004) yang menemukan hasil bahwa responden yang bekerja > 12 jam menunjukkan gejala stres sedang . Kerja yang melebihi 10 jam sehari mengakibatkan penurunan dalam total prestasi dan penurunan kecepatan kerja yang disebabkan kelelahan dari pengamatan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang pegawai cenderung untuk mempertahankan keluaran setiap harinya seperti yang telah ditetapkan, sehingga ia akan berupaya untuk mencapai irama kerjanya sendiri dalam rangka mengadaptasi situasi termaksud. Fenomena tersebut hanya akan berlangsung apabila pekerjaan tidak tergantung kepada mesin (Sedamayanti, 2009). Berdasarkan hasil wawancara, pekerja merasa tidak mempermasalahkan bekerja lebih dari jam kerja normal (> 8 jam), apabila pihak perusahaan memberikan upah lembur yang sesuai. Hal ini sejalan dengan yang dikemukan oleh Sedamayanti, (2009) bahwa kesediaan pegawai untuk menyesuaikan kecepatan kerjanya selama jam kerja dipengaruhi juga oleh banyakanya gaji yang diterima atau motivasi lainnya. Namun, beberapa pekerja juga menyatakan bahwa pihak perusahaan telah sesuai dalam pemberian upah. Upah yang diberikan disesuaikan dengan masa kerja, jabatan dalam perusahaan dan kinerja kerja. Oleh karena itu, pihak perusahaan disarankan untuk

memberikan pemahaman lebih yang mudah dimengerti mengenai masalah upah kerja yang disesuaikan dengan masa kerja, jabatan dalam perusahaan dan kinerja kerja, sehingga dikemudian hari para pekerja tidak akan terbebani dengan pikiran bahwa pendapatannya tidak sesuai dengan jam kerjanya selama ini. c. Rutinitas Rutinitas merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi stres kerja. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.2, diketahui bahwa sebagian besar responden yang diteliti menyatakan rutinitas pekerjaan membosankan. Berdasarkan hasil analisis bivariat, dapat diketahui bahwa responden yang merasa rutinitas pekerjaan membosankan sebagian besar mengalami stres kerja berat. Sebaliknya responden yang merasa rutinitas pekerjaan tidak membosankan sebagian besar mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui bahwa rutinitas memiliki hubungan yang bermakna dengan stres kerja. Berdasarkan perhitungan risk estimete diperoleh responden yang menyatakan rutinitas membosankan memiliki peluang 2.615 kali untuk mengalami stres kerja berat dibandingkan dengan responden yang menyatakan tidak membosankan. Berdarkan hasil analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regretions) diketahui bahwa rutinitas tidak mempengaruhi kejadian stres kerja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel rutinitas bukan termasuk faktor yang mempengaruhi stres kerja pada pekerja.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan dengan teorinya Hurrell dkk yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja adalah rutinitas (Munandar, 2001). Pada pekerjaan yang sederhana dimana banyak terjadi pengulangan gerak akan timbul rasa bosan dan rasa monoton. Kebosanan dalam kerja rutin seharihari, sebagai hasil dari terlampau sedikitnya tugas yang harus dilakukan dapat menghasilkan berkurangnya perhatian. Hal ini, secara potensial membahayakan jika tenaga kerja gagal untuk bertindak tepat dalam keadaan darurat. Kebosanan ditemukan sebagai sumber stres yang nyata pada operator kran (Cooper dan Kelly, 1984 dalam Munandar, 2001). Tidak adanya hubungan yang bermakna antara rutinitas dengan stres kerja atau rutinitas bukan termasuk faktor yang mempengaruhi stres kerja dapat disebabkan karena stresor yang sama dapat dipersepsi secara berbeda, yaitu dapat sebagai peristiwa yang positif dan tidak berbahaya, atau menjadi peristiwa yang berbahaya dan mengancam. Penilaian kognitif individu dalam hal ini sangat menentukan apakah stresor itu dapat berakibat positif atau negatif. Penilaian kognitif tersebut sangat berpengaruh terhadap respon yang akan muncul (Selye, 1956 dalam (Widyasari, 2005). Rutinitas dirasakan tidak membosankan oleh sebagian besar responden yang diteliti disebabkan karena pekerja sudah terbiasa menghadapi pekerjaan yang berulang-ulang dan monoton. Selain itu menurut Anoraga (1998) bahwa motivasi merupakan faktor yang relevan. Seseorang yang bermotivasi tinggi akan kurang rasa kebosanannya dibandingkan orang lain yang bermotivasi rendah. Secara umum, penelitian tentang kebosanan menunjukkan adanya penurunan dalam produktivitas dan variabilitas yang besar dalam prestasi kerja. Hasil ini

sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Lubis (2009) tentang motivasi pekerja untuk berperilaku aman yang menemukan sebagian besar pekerja di PT Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Bogasari Flour Mills Tahun 2009 yang menjadi responden, memiliki motivasi yang tinggi untuk berperilaku aman. Sehingga peneliti berasumsi bahwa variabel rutinitas tidak mempengaruhi stres kerja di perusahaan ini, sebab motivasi pekerjanya sudah baik, hal ini sudah sesuai dengan yang dipaparkan oleh Anoraga (1998) bahwa seseorang yang bermotivasi tinggi akan kurang rasa kebosanannya dibandingkan orang lain yang bermotivasi rendah. d. Kebisingan kebisingan merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi stres kerja. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.2, diketahui bahwa sebagian besar responden yang diteliti menyatakan kebisingan mengganggu. Berdasarkan analisis bivariat, diketahui bahwa responden yang menyatakan kebisingan mengganggu sebagian besar mengalami stres kerja berat. Sebaliknya responden yang menyatakan kebisingan tidak mengganggu sebagian besar mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui kebisingan memiliki hubungan yang bermakna dengan stres kerja. Berdasarkan perhitungan risk estimete diperoleh responden yang menyatakan kebisingan mengganggu memiliki peluang 3.429 kali untuk mengalami stres kerja dibandingkan dengan responden yang menyatakan tidak mengganggu.

Berdarkan hasil analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regretions) diketahui bahwa kebisingan berpengaruh terhadap stres kerja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel kebisingan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja. Hasil penelitian ini sesuai dengan dengan teorinya Hurrell dkk yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja adalah kebisingan (Wantoro, 1999). Kebisingan merupakan suara-suara yang tidak dikehendaki. Kebisingan sangat mengganggu pekerja dalam bekerja, baik dalam hal pemusatan perhatian terhadap pekerjaannya maupun berkomunikasi dengan orang lain. Keadaan ini dapat mengganggu pendengaran, terjadinya kecelakaan kerja, menimbulkan terjadinya gangguan atau pengaruh psikologis dari pekerja dalam bentuk gangguan emosi, temperamen dan lain-lain. Menurut Nawawinetu dan Adriyani (2007) efek kebisingan dengan intensitas tinggi terhadap pendengaran berupa ketulian syaraf (Noise Induced Hearing Loss) tersebut telah banyak diteliti. Namun kebisingan selain memberikan efek terhadap pendengaran (Auditory Effects) juga dapat menimbulkan efek bukan pada pendengaran (Non Auditory Effects) dan efek ini bisa terjadi walaupun intensitas kebisingan tidak terlalu tinggi. Efek non auditori terjadi karena bising dianggap sebagai suara yang mengganggu sehingga respon yang timbul adalah akibat stres bising tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa absenteisme pada tenaga kerja yang terpapar bising lebih tinggi dibanding yang tidak terpapar bising, namun

belum jelas apakah hal ini disebabkan oleh efek psikologis atau fisiologis dari stres bising (CCOHS, 2007 dalam Nawawinetu dan Adriyani, 2007). Kebisingan terbukti mempengaruhi kejadian stres kerja di PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk berdasarkan karena berdasarkan pengamatan peneliti sewaktu di lapangan masih banyaknya pekerja yang menggunakan alat pelindung telinga tidak sesuai dengan standar cara pemakaian terutama untuk ear plug. Untuk itu disaranakan bagi pihak perusahaan lebih memberikan lagi kesempatan pendidikan dan pelatihan kepada pekerja mengenai cara penggunaan alat pelindung telinga yang benar agar kebisingan yang ada benar-benar tidak mengganggu pekerja dalam melaksanakan pekerjaannnya sehari-hari dan terutama tidak memberikan efek yang buruk terhadap pendengaran para pekerja akibat terpapar kebisingan yang tidak mampu direduksi oleh alat pelindung telinga akibat penggunaannya yang tidak sesuai dengan standar tata cara penggunaan.

2. Faktor Ekstrinsik Pekerjaan (Peranan dalam Organisasi, Pengembangan Karir, Hubungan Interpersonal, serta Struktur dan Iklim Organisasi) a. Peranan dalam Organisasi Peranan dalam organisasi merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi stres kerja. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.3, diketahui bahwa sebagian besar responden yang diteliti menyatakan tidak berperan dalam organisasi.

Berdasarkan hasil analisis bivariat, dapat diketahui bahwa responden yang tidak berperan dalam organisasi sebagian besar mengalami stres kerja ringan. Sedangkan responden yang berperan dalam organisasi juga sebagian besar mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui peranan dalam organisasi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan stres kerja. Variabel peranan dalam organisasi tidak dilakukan analisis multivariat karena berdasarkan hasil analisis bivariat Pvalue yang diperoleh lebih besar dari 0,25. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel peranan dalam organisasi bukan termasuk faktor yang mempengaruhi stres kerja. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Frenh dan Chaplan (1970) yang menyatakan bahwa apabila seorang karyawan tidak diikutsertakan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan dirinya, maka hal tersebut dapat menyebabkan karyawan tersebut menjadi tidak betah dalam bekerja. Dari hasil penelitian diketahui bahwa seorang pekerja yang diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, memiliki hasil kerja yang lebih baik dan mengurangi tekanan dalam bekerja yang dapat menyebabkan stres (Munandar, 2001). Tidak adanya hubungan yang bermakna antara peranan dalam organisasi dengan stres kerja atau peranan dalam organisasi bukan termasuk faktor yang mempengaruhi stres kerja,dapat disebabakan mungkin para pekerja pabrik lebih merasakan konflik intersender sebagai pembangkit stres. Konflik intersender yaitu tenaga kerja diminta untuk berperilaku sedemikian rupa sehingga ada orang merasa puas dengan hasilnya,

sedangkan orang lain tidak (Sutherland dan Cooper, 1988) dalam Munandar, 2001). Selain itu menurut Cooper dan marshall (1978) dalam Munandar (2001) konflik peran lebih dirasakan sebagai pembangkit stres oleh mereka yang bekerja pada batas-batas organisasi (organizational boundaries), seperti para manajer menengah pada umumnya. Berdasarkan hal tersebut peneliti berasumsi peranan dalam organisasi tidak mempengaruhi stres kerja karena sebagian besar responden yang diteliti adalah para pekerja/ karyawan bukan para manajer menengah seperti yang dikemukakan oleh Cooper dan marshall (1978) dalam Munandar (2001). b. Pengembangan Karir Pengembangan karir merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi stres kerja. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.3, diketahui bahwa sebagian besar responden yang diteliti menyatakan pengembangan karir tidak memuaskan. Berdasarkan hasil analisis bivariat, diketahui bahwa responden yang merasa pengembangan karir tidak memuaskan sebagian besar mengalami stres kerja ringan. Sedangkan responden yang merasa pengembangan karir memuaskan juga mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui pengembangan karir tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan stres kerja. Berdarkan hasil analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regretions) diketahui bahwa pengembangan karir tidak mempengaruhi stres kerja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel pengembangan karir bukan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan dengan teorinya Hurrell dkk yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja adalah pengembangan karir (Munandar, 2001). Pengembangan karir karyawan menurut Andersen (1982) yang dikutip oleh Bida (1995) adalah memacu kepada aktivitas pekerjaan yang terus-menerus, kelebihan jam kerja ketika melakukan berbagai pekerjaan dan berbagai macam pelatihan yang diberikan. Pengembangan karir merupakan pembangkit stres potensial yang mencakup ketidakpastian pekerjaan, promosi berlebih, promosi yang kurang, ketidakamanan dalam bekerja, ketakutan di keluarkan dari pekerjaan karena tidak ada lagi pekerjaan yang akan dilakukan, pensiun terlalu dini, frustasi terhadap apa yang telah dicapai oleh karir seseorang (Munandar, 2001). Tidak adanya hubungan yang bermakna antara pengembangan karir dengan stres kerja atau pengembangan karir bukan termasuk faktor yang mempengaruhi stres kerja, sebab berdasarkan hasil wawancara reponden menganggap bahwa pihak perusahaan cukup sering meningkatkan potensi dari pekerja ke jenjang yang lebih tinggi yang didasarkan pada hasil penilaian atasan terhadap performa kerjanya, sistem penghargaan berupa pemberian tunjangan dan kesejahteraan yang menjadi hak dari pekerja tersebut telah diberikan perusahaan dengan baik. Hal ini juga sesuai dengan yang dikemukankan oleh Munandar, 2001 bahawa Pengembangan karir karyawan terkait dengan pembangkit stres, diantaranya: d. Kesempatan mendapat promosi kerja

e. Kesempatan mengembangkan bakat dan kreatifitas dengan menyalurkan ide dan usul atau saran pada perusahaan f. Kesempatan memperoleh pendidikan dan pelatihan atau kursus di dalam atau di luar perusahaan untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan kerja g. Sistem reward, meliputi pemberian gaji, tunjangan dan penghargaan pada karyawan berprestasi tidak dijalankan oleh perusahaan dengan baik. Oleh karena itu, penulis berasumsi bahwa kemungkinan stres kerja terjadi disebabkan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. c. Hubungan Interpersonal Hubungan interpersonal merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi stres kerja. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.2, diketahui bahwa sebagian besar responden yang diteliti memiliki hubungan interpersonal buruk. Berdasarkan analisis bivariat, dapat diketahui bahwa responden yang memiliki hubungan interpersonal yang buruk sebagian besar mengalami stres kerja yang berat. Sebaliknya responden yang memiliki hubungan interpersonal baik sebagian besar mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui hubungan interpersonal tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan stres kerja. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Desy (2002) diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara hubungan interpersonal dengan stres kerja (Pvalue = 0.817).

Berdarkan hasil analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regretions) diketahui bahwa hubungan interpersonal tidak mempengaruhi stres kerja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel hubungan interpersonal bukan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teorinya Hurrell dkk yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja adalah hubungan interpersonal (Munandar, 2001). Hubungan kerja yang tidak baik terungkap dalam gejala-gejala adanya kepercayaan yang rendah, taraf pemberian support yang rendah dan minat yang rendah dalam pemecahan masalah dalam organisasi.

Ketidakpercayaan secara positif berhubungan dengan role ambiguity yang tinggi, yang mengarah ke komunikasi antarpribadi yang tidak sesuai antara para tenaga kerja dan ketegangan psikologikal dalam bentuk kepuasan pekerjaan yang rendah, penurunan dari kondisi kesehatan dan rasa diancam oleh atasan dan rekan-rekan kerjanya (Kahn dkk, 1964 dalam Munandar, 2001). Hubungan sosial yang menunjang (supportive) dengan rekan-rekan kerja, atasan dan bawahan di pekerjaan, tidak akan menimbulkan tekanan-tekanan antarpribadi yang berhubungan dengan persaingan. Kelekatan kelompok, kepercayaan

antarpribadi dan rasa senang dengan atasan, berhubungan dengan penurunan dari stres pekerjaan dan kesehatan yang lebih baik. Perilaku yang kurang menenggang rasa dari atasan yang ketat dan pemantauan unjuk-kerja yang kaku dapat dirasakan sebagai penuh stres (Munandar, 2001).

Tidak adanya hubungan yang bermakna antara hubungan interpersonal dengan stres kerja atau hubungan interpersonal bukan termasuk faktor yang mempengaruhi stres kerja, karena berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa hubungan interpersonal pekerja sudah baik dimana menurut pekerja bila terjadi hubungan interpersonal yang kurang harmonis atau adanya konflik antara dua individu sesegera mungkin diselesaikan secara baik-baik dan kekeluargaan, agar konflik yang terjadi tidak menjadi hambatan pekerja untuk memperoleh tujuan kerja yaitu memajukan perusahaan demi kepentingan bersama. Menurut Anoraga (1998) mengendalikan konflik yaitu dengan meletakan dasar untuk meningkatkan kerjasama. Tanpa kerjasama tersebut, mereka justru akan samasama dirugikan dan tidak memperoleh hasil apa pun. Pengendalian ini mementingkan tujuan kerja yang jauh lebih menguntungkan. Berdasarkan hal tersebut peneliti berasumsi hubungan interpersonal tidak mempengaruhi stres kerja karena para pekerja mampu mengatasi konflik yang ada demi meningkatkan kerja sama untuk memajukan perusahaan bersama-sama. d. Struktur dan Iklim Organisasi Variabel struktur dan iklim organisasi merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi stres kerja. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.3, diketahui bahwa sebagian besar responden yang diteliti menyatakan struktur dan iklim organisasi tidak mendukung. Berdasarkan hasil analisis bivariat, diketahui bahwa responden yang merasa struktur dan iklim organisasi tidak mendukung sebagian besar (51.2%) mengalami stres

kerja ringan. Sedangkan responden yang merasa struktur dan iklim organisasi mendukung juga sebagian besar mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui struktur dan iklim organisasi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan stres kerja. Berdarkan hasil analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regretions) diketahui bahwa struktur dan iklim organisasi tidak mempengaruhi stres kerja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel struktur dan iklim organisasi bukan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan dengan teorinya Hurrell dkk yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja adalah struktur dan iklim organisasi (Munandar, 2001). Bagaimana para tenaga kerja mempersepsikan kebudayaan, kebiasan dan iklim dari organisasi adalah penting dalam memahami sumber-sumber stres potensial sebagai hasil dari beradanya mereka dalam organisasi : kepuasan dan ketidakpuasan kerja berkaitan dengan penilaian dari struktur dan iklim organisasi. Faktor stres yang dikenali dalam kategori ini terpusat pada sejauh mana tenaga kerja dapat terlibat atau berperan serta dan pada support social. Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya peran serta atau partisipasi dalam pengambilan keputusan berhubungan dengan suasana hati dan perilaku yang negatif, misalnya menjadi perokok berat. Peningkatan peluang untuk berperan serta menghasilkan peningkatan unjuk-kerja dan peningkatan taraf dari kesehatan mental dan fisik (Munandar, 2001).

Tidak adanya hubungan yang bermakna antara struktur dan iklim organisasi dengan stres kerja atau struktur dan iklim organisasi bukan termasuk faktor yang mempengaruhi stres kerja dapat disebabkan (Ivancevich, 1975 dalam Gibson dkk, 1996) : 5) Stresor pada pekerja berkaitan dengan perubahan fisik, psikologis dan emosional di dalam individu 6) Tanggapan penyesuaian terhadap stresor pada pekerjaan telah ditentukan dengan mengukur diri (self-rating), penampilan prestasi dan pengujian biokimia 7) Tidak ada daftar stresor yang dapat diterima secara universal. Setiap organisasi memiliki penetapan sendiri yang unik 8) Perbedaan-perbedaan individual menjelaskan mengapa suatu stresor yang mengganggu dan menggocang bagi seseorang berubah pada orang yang lain Berdasarkan hal tersebut peneliti berasumsi struktur dan iklim organisasi tidak mempengaruhi stres kerja karena penilaian terhadap suatu stresor antara individu yang satu dengan yang lain berbeda, stresor struktur dan iklim organisasi di PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk tidak mempengaruhi kejadian stres kerja. 3. Faktor Individu (Umur dan Masa Kerja) a. Umur Variabel umur merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi stres kerja. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.4, diketahui bahwa sebagian besar responden yang diteliti memili umur 36 tahun.

Berdasarkan hasil analisis bivariat, diketahui bahwa responden yang berumur 36 tahun sebagian besar (60.0%) mengalami stres kerja ringan. Sedangkan responden yang berumur < 36 tahun juga sebagian besar mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui umur tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan stres kerja. Variabel umur tidak dilakukan analisis multivariat karena berdasarkan hasil analisis bivariat Pvalue yang diperoleh lebih besar dari 0,25. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel umur bukan termasuk faktor yang mempengaruhi stres kerja. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan dengan teorinya Cooper yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja adalah umur (Munandar, 2001). Ada beberapa jenis pekerjaan yang sangat berpengaruh dengan umur, terutama yang berhubungan dengan sistem indera dan kekuatan fisik. Biasanya pekerja yang memiliki umur yang lebih muda memiliki penglihatan dan pendengaran yang lebih tajam, gerakan yang lebih lincah dan daya tahan tubuh yang kuat. Tidak adanya hubungan yang bermakna antara umur dengan stres kerja atau umur bukan termasuk faktor yang mempengaruhi stres kerja dapat disebabkan faktor umur yang lebih tua biasanya memiliki pengalaman dan pemahaman bekerja yang lebih banyak, sehingga pada jenis pekerjaan tertentu umur dapat menjadi kendala dan dapat menjadi pemicu terjadinya stres (Ringenbach dan Jacobs, 1995 yang dikutip oleh Suprapto, 2008).

Berdasarkan hasil analisis, umur terbukti tidak berpengaruh terhadap stres kerja, akan tetapi penulis berasumsi bahwa kemungkinan stres kerja terjadi disebabkan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. b. Masa Kerja Variabel masa kerja merupakan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi stres kerja. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.4, diketahui bahwa sebagian besar responden yang diteliti memili masa kerja 5 tahun. Berdasarkan hasil analisis bivariat, diketahui bahwa responden yang bekerja > 5 tahun sebagian besar (61.1%) mengalami stres kerja ringan. Sedangkan responden yang bekerja 5 tahun juga sebagian besar mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui masa kerja tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan stres kerja. Variabel masa kerja tidak dilakukan analisis multivariat karena berdasarkan hasil analisis bivariat Pvalue yang diperoleh lebih besar dari 0,25. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel masa kerja bukan termasuk faktor yang mempengaruhi stres kerja. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan dengan teorinya Cooper yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja adalah masa kerja (Munandar, 2001). Masa jabatan yang berhubungan dengan stres kerja sangat berkaitan dengan kejenuhan dalam bekerja. Pekerja yang telah bekerja diatas 5 tahun biasanya memiliki tingkat kejenuhan yang lebih tinggi daripada pekerja yang baru bekerja.

Sehingga dengan adanya tingkat kejenuhan tersebut dapat menyebabkan stres dalam bekerja (Munandar, 2001). Tidak adanya hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan stres kerja atau masa kerja bukan termasuk faktor yang mempengaruhi stres kerja karena stresor yang sama dapat dipersepsi secara berbeda, yaitu dapat sebagai peristiwa yang positif dan tidak berbahaya, atau menjadi peristiwa yang berbahaya dan mengancam (Selye, 1956 dalam Widyasari, 2005). Menurut pemaparan Munandar di atas pekerja yang bekerja di atas 5 tahun biasanya memiliki tingkat kejenuhan yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya diatas bahwa variabel rutinitas tidak mempengaruhi stres kerja pada pekerja di perusahaan ini, sebab motivasi pekerjanya sudah baik sehingga tidak menganggap rutinitas sehari-hari sebagai sesuatu yang menjenuhkan. Seseorang yang bermotivasi tinggi akan kurang rasa kebosanannya, sehingga peneliti berasumsi bahwa walaupun pekerja masa kerjanya sudah lebih dari 5 tahun tidak mengalami kejenuhan sebab para pekerja mempunyai motivasi bekerja yang tinggi.

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut : 1. Sebagian besar responden mengalami stres kerja ringan yaitu sebanyak 60 (55.6%), beban kerja mereka sedang yaitu sebanyak 57 (52.8%), jam kerja 8 jam yaitu sebanyak 56 (51.9%), rutinitas pekerjaan membosankan yaitu sebanyak 58 (53.7%), kebisingan di tempat kerja mengganggu yaitu sebanyak 64 (59.3%), tidak berperan dalam organisasi yaitu sebanyak 83 (76.9%), pengembangan karir tidak memuaskan yaitu sebanyak 80 (74.1%), hubungan interpersonal yang buruk yaitu sebanyak 66 (61.1%) serta struktur dan iklim organisasi tidak mendukung sebanyak 82 (75.9%) responden. 2. Berdasarkan kesimpulan dari analisis bivariat dengan menggunakan uji statistik Chi Square, dapat diketahui bahwa: a. Faktor intrinsik pekerjaan yang meliputi variabel beban kerja, jam kerja, rutinitas dan kebisingan seluruhnya memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stres kerja.

b. Faktor ekstrinsik pekerjaan yang meliputi variabel peranan dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan interpersonal serta struktur dan iklim organisasi seluruhnya tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stres kerja. c. Faktor individu (umur dan masa kerja) tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stres kerja. 3. Berdasarkan kesimpulan dari hasil analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regretions) dapat disimpulkan bahwa: a. Faktor intrinsik pekerjaan yang meliputi variabel, rutinitas tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stres kerja. Sedangkan faktor intrinsik pekerjaan yang memiliki hubungan bermakna dengan stres kerja yaitu variabel beban kerja, jam kerja dan kebisingan b. Faktor ekstrinsik pekerjaan yang meliputi variabel peranan dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan interpersonal serta struktur dan iklim organisasi seluruhnya tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stres kerja. c. Faktor individu (umur dan masa kerja) tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stres kerja. 4. Berdasarkan analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regretions) diketahui bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian stres kerja di bagian produksi PT ISM Flour Mills, Tbk Tahun 2009, kebisingan merupakan variabel yang paling dominan yang mempengaruhi

stres kerja karena mempunyai nilai koefisien B (3.142) dan OR (23.158) yang lebih tinggi dibandingkan dengan variabel yang lain.

B. Saran 1. Bagi Perusahaan a. Pihak perusahaan lebih memberikan lagi kesempatan pendidikan dan pelatihan kepada pekerja mengenai cara penggunaan alat pelindung telinga yang benar agar kebisingan yang ada benar-benar tidak mengganggu pekerja dalam melaksanakan pekerjaannnya sehari-hari dan terutama tidak memberikan efek yang buruk terhadap pendengaran para pekerja akibat terpapar kebisingan yang tidak mampu direduksi oleh alat pelindung telinga akibat penggunaannya yang tidak sesuai dengan standar tata cara penggunaan. b. Pihak perusahaan agar lebih optimal dalam menanggulangi stres kerja dengan melakukan dua pendekatan yaitu : pertama, manajemen stres dimana dengan memberikan pelatihan manajemen stres kepada karyawan dan membentuk suatu program batuan bagi karyawan melalui Employee Assistance Program (EAP), yang bertujuan untuk membimbing karyawan agar mampu mengatasi persoalan yang berhubungan dengan masalah pekerjaannya. Pendekatan yang kedua adalah organitational change yaitu perusahaan menggunakan konsultan untuk membantu mengurangi persoalan stres kerja yang ada di perusahaan melalui rekomendasi-rekomendasi yang diberikan. Dengan hanya menerapkan salah satu

pendekatan saja, sangat sulit bagi perusahan untuk mereduksi stres kerja, mengingat kedua pendekatan tersebut merupakan pendekatan yang saling terkait dan terintegrasi. c. Pihak perusahaan lebih mengoptimalkan lagi pelatihan dan pendidikan terkait dengan resiko dan bahaya pekerjaan yang merupakan bagian dari kesehatan dan keselamatan kerja di perusahaan, sehingga persepsi terhadap resiko dan bahaya pekerjaan dapat dikurangi dan pekerja dapat bekerja tanpa adanya kecemasan dan ketakutan yang apabila berlangsung dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan penyakit yang berhubungan dengan stres d. Pihak perusahaan disarankan untuk memberikan pemahaman lebih yang mudah dimengerti mengenai masalah upah kerja yang disesuaikan dengan masa kerja, jabatan dalam perusahaan dan kinerja kerja, sehingga dikemudian hari para pekerja tidak akan terbebani dengan pikiran bahwa pendapatannya tidak sesuai dengan jam kerjanya selama ini. 2. Bagi Pekerja Mencoba menerapkan 5 langkah penanggulangan stres kerja dalam kehidupan sehari-hari, seperti bertakwa kepada Tuhan YME misalnya pekerja lebih rajin lagi mengikuti kegiatan pengajian atau kebaktian yang diadakan oleh perusahaan, sehingga pekerja dapat berpartisipasi dan tidak jauh dari kegiatan keagamaan lainnya yang ada. Mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi, melakukan olah raga dan

rekreasi secara teratur, menghindari rokok dan meminum alkohol serta melakukan pekerjaan sehari-hari dengan perasaan senang. 3. Bagi Penelitian Selanjutnya Peneliti selanjutnya diharapkan mengikutsertakan variabelvariabel lain yang diduga berhubungan dengan stres kerja yang tidak diteliti pada penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Adas, Agus Mochamad. 2006. Kajian Hubungan Faktor Resiko Psikososial Kerja dengan Stres Kerja pada Pekerja Minyak dan gas Bumi Lepas Pantai di Pulau Pabelokan PT X tahun 2006. Tesis. Program Magster Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Anoraga, Pandji. 1998. Psikologi Kerja. Jakarta : Rineka Cipta Anugrah, Dewi. 2009. Tinjauan Persepsi Bahaya Psikososial Karyawan Departemen Operational PT Repex Pondok Pinang Jakarta Selatan tahun 2009. Skripsi. Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Ariawan, Iwan. 1998. Besar dan Metode Sampel pada Penelitian Kesehatan. Jakarta: Fakultas kesehatan Masyarakat, Jurusan Biostatistik dan Kependudukan. Bida, Putu. 1995. Hubungan Faktor Intrinsik dalam Pekerjaan dan Faktor Rumah Tanga dengan Stres Kerja pada Karyawan Conoco dan Kontraktor di Block B Kepulauan Natuna. Tesis. Program Magster Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Desy, Vita Helia. 2002. Tingkat Stres Kerja dan Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Stres Kerja pada Karyawan Bagian Marketing Services PT Unilever Indonesia Tbk. Skripsi. Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Dowell, Chad H & Tapp. Loren C. 2007 Evaluation of Heat Stress at a Glass Bottle Manufacturer. Department of Health and Human Service. National Institude for Occupational Safety and Health (NIOSH). Cincinnati, Ohio. [ cited 2009 June 27th ]. Available : http://www.cdc.gov/niosh/hhe/reports/pdfs/2003-03113052.pdf Fatmah, 1993. Identifikasi Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Stres Kerja pada Karyawan Unit Produksi Langsung PT Barata Indonesia Cabang Jakarta. Skripsi. Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia Gibson, james L dkk. 1996. Organisasi edisi ke-8 Jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara Gomes, Faustino Cardoso. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta : Andi Offset Greenberg, Jerrold S. 2002. Comprehensive Stress managemenet, 7th edition. Washington DC : MC Graw Hill Handoko, Hani T. 1985. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta : Liberty

Harrianto, Ridwan. 2005. Stres Akibat Kerja dan Penatalaksanannya. Universa Medicina. 24 : 145-154 Hawari, Dadang. 2001. Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta : FK UI Heerdjan, Soeharto. 1990. Stres sebagai Penghambat Produktivitas Kerja. Majalah Hyperkes dan Keselamatan Kerja, Volume XXIII No.3, Juli-September ILO, 2000. Mental Health and Work, Impact, Issues and Good Practices.[Online]. [Accesed 17th Januari 2010]. Available from World Wide Web : http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/ed_emp/ifp_skills/documents/publicat ion/wcms_108152.pdf Kalimo, R, dkk. 1995. Psychosocial Factors at Work and Their Relation to Health. Geneva : WHO Komalasari, Irma. 2005. Tinjauan Tingkat Stres pada Pekerja Satuan Usaha Aircraft PT Dirgantara Indonesia Bandung Jawa-barat tahun 2005. Skripsi. Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia Kreitner, R dan Kinicki, A. 1992. Organizational Behaviour Second Edition. Boston : Irwain Levi, L. 1984. Stress in Industry: Causes, Effect and Prevention. Geneva : ILO Markkanen, Pia K. 2004. Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Indonesia.[Online]. [Accesed 17th Januari 2010]. Available from World Wide Web : http://www.ilo.org/public/english/region/asro/manila/downloads/kk9.pdf Miller, David. 2000. Dying to Care? Work Stress and Burnout in HIV/AIDS. London : Routledge Munandar, A. S. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta : UI Press Nawawinetu, Erwin Dyah dan Adriyani, Retno. 2007. Stres akibat Kerja pada Tenaga Kerja yang Terpapar Bising.The Indonesian Journal Of Public Health. 4 : 59-63 Nimran, Umar. 1992. Stres dalam Konteks Organisasi kepemimpinan. Majalah Jurnal MBA. Jakarta : IPWI NIOSH publication: 99: 101, 1998, [Online]. [Accesed 28th Juli 2009]. Available from World Wide Web: http://www.cdc.gov/niosh/stresswk.html Novendra, Very. 1994. Gambaran Umum Stres Kerja dan Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Pekerja di Balai Yasa Traksi Manggarai. Skripsi. Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia.

Nugrahani, Salafi. 2008. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Stress Kerja pada Pekerja Bagian Operasional PT Gunzen Indonesia tahun 2008. Skripsi. Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia Nugroho, Susanti. 2004. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Terjadinya Stres Kerja pada Pekerja Vendor Unit Produksi Assembly-Line Divisi Video Cassette Recorder (VCR)PT LG Eletronics Displey Devices Indonesia Bekasi. Skripsi. Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Putri, Elvira Eka. 1998. Hubungan Faktor Intrinsik dan Faktor Ekstrinsik dengan Stres Kerja pada Karyawan Unit Produiksi PT Bakrie & Brothers Pabrik Pipa baja Talang Tirta Jakarta tahun 1997. Skripsi. Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Rahayu, Dewi S. 2003. Faktor Psikososial dalam Kesehatan Kerja. Majalah Hyperkes dan Keselamatan Kerja, Volume XXXVI, No. 2 April-Juni. Riyanto, Agus. 2009. Penenrapan Analisis Multivariat dalam Penenlitian Kesehatan (dilengkapi contoh kasis serta aplikasi program SPSS dan Excel). Bandung : Niftra Media Press Rustiana, E. R. 2008. Burn-Out Akibat Stres Kerja. Jurnal Kemas. 4 : 81-88 Schultz, D & Schultz, S. E. 1998. Psychology and Work Today : An Introduction to Industrial and Organizational Psychology 7th ed. New Jersey : Prentice Hall. Sedamayanti, 2009. Tata Kerja dan Produktivitas Kerja . Bandung : cv.Mandar Maju Smet, Bart. 1994. Psikologi kesehatan. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia Sujianto, Agus Eko. 2007. Aplikasi Statistik dengan SPSS untuk Pemula. Jakarta : Prestasi Pustaka. Suprapto, Prasetyo Herniawan. 2008. Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Stres Kerja pada Polisi Lalu Lintas di Kawasan Puncak-Cianjur tahun 2008. Skripsi. Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Universitas Islam negeri. Tarwaka, et al. 2004. Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Proktivitas. Edisi ke-1 Surakarta Wahyuningsih, A Setyo. 2007. Stres Akibat Kerja. Jurnal Kemas. 3 : 48 - 55 Wantoro, Bing. 1999. Stres Kerja. Majalah Hyperkes dan Keselamatan Kerja, Volume XXXII No.3

Widyasari, Putri. 2005 Stres Kerja. [Online]. [Accesed 8 November 2009]. Available from World Wide Web: http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/streskerja.html

LAMPIRAN 2

KUESIONER Assalamualaikum Wr. Wb. Saya Diah Airmayanti bermaksud meneliti tentang FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRES KERJA PADA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI PT ISM BOGASARI FLOUR MILLS, TBK TANJUNG PRIOK JAKARTA UTARA TAHUN 2009. Penelitian ini merupakan tugas akhir untuk memenuhi syarat

mendapatkan gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada penelitian ini peneliti akan bertanya mengenai karakteristik pekerja, faktor intrinsik pekerjaan, faktor ekstrinsik pekerjaan dan beberapa indikator perubahan akibat stres kerja. Wawancara akan berlangsung selama 15-20 menit. Responden diharapkan menjawab setiap pertanyaan dengan sejujur-jujurnya. Setiap jawaban anda akan dijaga kerahasiaannnya dari siapapun dan tidak akan mempengaruhi penilaian terhadap kinerja anda, kemudian kuesioner akan disimpan oleh peneliti. Untuk itu dimohon kesediaannya kepada pekerja PT ISM Bogasari Flour Mills, Tbk selaku responden untuk mengisi kuesioner ini.

Saya menyatakan bahwa saya telah membaca pernyataan di atas, dan saya setuju untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Jakarta, . 2009

() Peneliti

() Responden

Nomor Responden

LEMBAR KUESIONER PENELITIAN A. KARAKTERISTIK RESPONDEN *)Lingkari Salah Satu Pilihan Sesuai Unit/Wilayah Kerja Anda Unit Kerja: Production Facility / Material store / Silo / Maintenance / FSBP / BSBP / Security & Safety / Automation / General Affair / Storage & Logistic / Mill 1(Milling Support & FAM, Pelletizing A & B, Mill AB, Mill C, MTC) / Mill II (Mill DE, Mill KL) / Mill III (Mill FG, Mill HIJ) / Mill IV (Mill MNO) Usia :................... tahun A2 A3 Lama bekerja: 0. > 5 tahun 1. 5 tahun B. FAKTOR INTRINSIK PEKERJAAN B1. JAM KERJA B1 Berapa lama biasanya anda bekerja? 0. > 8 jam 1. 8 jam B2 RUTINITAS B2.1 Apakah anda merasa bosan dengan pekerjaan anda yang tidak ada perubahan ? 0. Ya 1. Tidak B2.2 Apakah anda merasa bosan dengan pekerjaan anda yang berulang-ulang ? 0. Ya 1. Tidak B2.3 Apakah anda merasa bosan dengan pekerjaan anda yang terlampau sedikit ? 0. Ya 1. Tidak B3 KEBISINGAN B3.1 Apakah anda merasa lingkungan kerja anda bising? 0. Ya 1. Tidak B3.2 Apakah anda merasa pusat perhatian terhadap pekerjaan menjadi berkurang dengan adanya suara yang bising? 0. Ya 1. Tidak A1

(Diisi oleh Peneliti)

[ [

][

] A2 ] A3

(Diisi oleh Peneliti) [ ] B1.1

(Diisi oleh Peneliti) [ ] B2.1

] B2.2

] B2.3

(Diisi oleh Peneliti) [ ] B3.1

] B3.2

B3.3 Apakah anda merasa sulit berkomunikasi dengan orang lain dengan adanya suara yang bising? 0. Tidak 1. Ya C. FAKTOR EKSTRINSIK PEKERJAAN C1. PERANAN DALAM ORGANISASI C1.1 Apakah anda mempunyai pengaruh terhadap keputusan yang perusahaan buat terkait dengan pekerjaan anda ? 0. Tidak 1. Ya C1.2 Apakah anda dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan terkait dengan pekerjaan anda ? 0. Tidak 1. ya C1.3 Apakah pendapat terkait pekerjaan anda, diterapkan oleh perusahaan ? 0. Tidak 1. Ya C2 PERKEMBANGAN KARIR C2.1 Apakah anda merasa puas terhadap kesempatan promosi kerja / kenaikan jabatan yang ada? 0. Tidak 1. Ya C2.2 Apakah anda mendapatkan kesempatan mengembangkan bakat dan kreatifitas dengan menyalurkan ide pada perusahaan ? 0. Tidak 1. Ya C2.3 Apakah anda mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelatihan di dalam atau di luar perusahaan? 0. Tidak 1. Ya C2.4 Apakah anda merasa honor / gaji yang berlaku di perusahaan anda sesuai? 0. Tidak 1. Ya C3 HUBUNGAN INTERPERSONAL C3.1 Apakah anda belum merasa baik dengan pola hubungan dan dukungan yang anda dapat dari rekan kerja ? 0. Ya 1. Tidak C3.2 Apakah anda belum merasa baik dengan pola hubungan dan dukungan yang anda dapat dari bawahan ? 0. Ya

] B3.3

(Diisi oleh Peneliti) [ ] C1.1

] C1.2

] C1.3

(Diisi oleh Peneliti) [ ] C2.1

] C2.2

] C2.3

(Diisi oleh Peneliti) [ ] C3.1

] C3.2

1. Tidak C3.3 Apakah anda belum merasa baik dengan pola hubungan dan dukungan yang anda dapat dari atasan ? 0. Ya 1. Tidak C4 STRUKTUR DAN IKLIM ORGANISASI C4.1 Apakah anda merasa peraturan di perusahaan tempat anda bekerja terlalu kaku? 0. Ya 1. Tidak C4.2 Apakah anda merasa ada beberapa karyawan yang baik prestasinya dalam bekerja tidak mendapatkan promosi ? 0. Ya 1. Tidak C4.3 Apakah anda merasa tidak mendapatkan kesempatan untuk berkreatifitas (tidak bebas menyalurkan ide dan bakat dalam melaksanakan tugas) ? 0. Ya 1. Tidak C4.4 Apakah anda merasa atasan melakukan supervisi yang berlebihan sehingga membuat membuat bawahan merasa tidak senang untuk bekerja? 0. Ya 1. Tidak

] C3.3

(Diisi oleh Peneliti) [ ] C4.1

] C4.2

] C4.3

] C4.4

Berilah tanda ( )pada kolom indikator perubahan akibat stres kerja! D. INDIKATOR PERUBAHAN AKIBAT STRES KERJA No
Perubahan Fisiologis, Psikologi dan Perilaku Selama 1 Bulan Tidak pernah Kadangkadang Sering (2)

(Diisi oleh Peneliti)

Terakhir D1 D2 D3 D4 D5

(0)

(1)

Fisiologis Sakit kepala / pusing


Sakit punggung Gangguan seksual Asma/sesak nafas Gangguan pencernaan pada lambung dan usus

[ [ [ [ [

] D1 ] D2 ] D3 ] D4 ] D5

D6 D7 D8 D9

Insomnia Diare Telinga berdenging Bruxims (menggertakan gigi di malam hari)

[ [ [ [

] D6 ] D7 ] D8 ] D9

D10

Sakit sendi tempero mandibular (sakit rahang)

] D10

D11 D12

Gejala tekanan darah tinggi Gejala PJK (Penyakit Jantung Koroner)

[ [

] D11 ] D12

D13 D14 D15 D16 D17 D18

Gejala Herpes Migrain (sakit kepala sebelah) Gejala Tukak lambung Jantung berdebar-debar Sering buang air kecil Sering keluar keringat

[ [ [ [ [ [

] D13 ] D14 ] D15 ] D16 ] D17 ] D18

D19 D20 D21 D22

Gugup Nafsu makan hilang Badan terasa lemah Letih/lesu Psikologi

[ [ [ [

] D19 ] D20 ] D21 ] D22

D23 D24 D25 D26 D27 D28 D29

Mudah marah Mudah tersinggung Perasaan tertekan Merasa cemas/gelisah Mudah putus asa Sikap acuh tak acuh Perasaan tegang

[ [ [ [ [ [ [

] D23 ] D24 ] D25 ] D26 ] D27 ] D28 ] D29

Perilaku
D30 D31 D32 D33 D34 D35 D36 D37 Merasa malas bekerja Absenteisme tinggi Kurang konsentrasi Cepat merasa lupa Menunda-nunda pekerjaan Minum kopi/merokok Minum obat tidur/obat penenang Mengkonsumsi minuman

[ [ [ [ [ [ [ [

] D30 ] D31 ] D32 ] D33 ] D34 ] D35 ] D36 ] D37

beralkohol D38 Menghindar dari interaksi sosial (pergaulan)

] D38

E. Penilaian Beban Kerja * Tulislah aktifitas yang terkait dengan pekerjaan anda! No. Aktifitas yang dilakukan karyawan Penilaian (Diisi oleh Peneliti) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. TERIMA KASIH ATAS KESEDIAAN ANDA MENGISI JAWABAN DENGAN LENGKAP DAN SEJUJURNYA

LAMPIRAN 3

Daftar pertanyaan metode Life Event Scale No Perubahan yang dirasakan Frekuensi Nilai (score) Tidak pernah (0) Kadang-kadang (1) Fisiologis Sering (2)

1. 2. 3. 4. 5.

Sakit kepala/pusing Sakit punggung Gangguan seksual Asma/sesak nafas Gangguan pencernaan pada lambung dan usus

6. 7. 8. 9.

Insomnia Diare Telinga berdenging Bruxims (menggertakan gigi di malam hari)

10.

Sakit sendi tempero mandibular (sakit rahang)

11. 12. 13. 14. 15. 16 17. 18. 19.

Tekanan darah tinggi PJK Herpes Migrain Tukak lambung Jantung berdebar-debar Sering buang air kecil Sering keluar keringat Gugup

20. 21. 22.

Nafsu makan hilang Badan terasa lemah Letih/lesu Psikologi

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Mudah marah Mudah tersinggung Perasaan tertekan Merasa cemas/gelisah Mudah putus asa Sikap acuh tak acuh Perasaan tegang Perilaku

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Merasa malas bekerja Absenteisme tinggi Kurang konsentrasi Cepat merasa lupa Menunda-nunda pekerjaan Minum kopi/merokok Minum obat tidur/obat penenang

8.

Mengkonsumsi minuman beralkohol

9.

Menghindar dari interaksi sosial (pergaulan)

LAMPIRAN 4 OUTPUT SPSS UNIVARIAT Frequency Table


vari abel stres kerja yang dikelompokan Frequency 48 60 108 Percent 44.4 55.6 100.0 Valid Percent 44.4 55.6 100.0 Cumulativ e Percent 44.4 100.0

Valid

berat ringan Total

beban kerja Frequency 19 57 32 108 Percent 17.6 52.8 29.6 100.0 Valid Percent 17.6 52.8 29.6 100.0 Cumulativ e Percent 17.6 70.4 100.0

Valid

berat sedang ringan Total

jam kerja responden Frequency 52 56 108 Percent 48.1 51.9 100.0 Valid Percent 48.1 51.9 100.0 Cumulat iv e Percent 48.1 100.0

Valid

> 8 jam < = 8 jam Total

vari abel ruti nitas yang di kelompokan Frequency 58 50 108 Percent 53.7 46.3 100.0 Valid Percent 53.7 46.3 100.0 Cumulativ e Percent 53.7 100.0

Valid

membosankan tidak membosankan Total

vari abel kebi si ngan yang dikelompokan Frequency 64 44 108 Percent 59.3 40.7 100.0 Valid Percent 59.3 40.7 100.0 Cumulat iv e Percent 59.3 100.0

Valid

mengganggu tidak mengganggu Total

vari abel peranan yang dikelompokan Frequency 83 25 108 Percent 76.9 23.1 100.0 Valid Percent 76.9 23.1 100.0 Cumulat iv e Percent 76.9 100.0

Valid

tidak berperan berperan Total

vari abel pengembangan karir yang dikelompokan Frequency 80 28 108 Percent 74.1 25.9 100.0 Valid Percent 74.1 25.9 100.0 Cumulat iv e Percent 74.1 100.0

Valid

tidak memuaskan memuaskan Total

vari abel hubungan yang dikelompokan Frequency 66 42 108 Percent 61.1 38.9 100.0 Valid Percent 61.1 38.9 100.0 Cumulat iv e Percent 61.1 100.0

Valid

buruk baik Total

vari abel struktur yang di kelompokan Frequency 82 26 108 Percent 75.9 24.1 100.0 Valid Percent 75.9 24.1 100.0 Cumulat iv e Percent 75.9 100.0

Valid

tidak mendukung mendukung Total

vari abel umur yang dikelompokan Frequency 55 53 108 Percent 50.9 49.1 100.0 Valid Percent 50.9 49.1 100.0 Cumulat iv e Percent 50.9 100.0

Valid

> = 36 tahun < 36 tahun Total

masa kerja responden Frequency 18 90 108 Percent 16.7 83.3 100.0 Valid Percent 16.7 83.3 100.0 Cumulativ e Percent 16.7 100.0

Valid

> 5 tahun < = 5 t ahun Total

LAMPIRAN 5 OUTPUT SPSS BIVARIAT 1. Beban Kerja


Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases
a

N Included in Analy sis Missing Cases Total 108 0 108 0 108

Unselected Cases Total

Percent 100.0 .0 100.0 .0 100.0

a. If weight is in ef f ect, see classif ication table f or the total number of cases.
Dependent Vari able Encoding Original Value berat ringan Internal Value 0 1

Catego rical Vari ab les Cod ings Param eter coding (1) (2) .000 .000 1.000 .000 .000 1.000

beban kerja

berat sedang ringan

Frequency 19 57 32

Block 0: Beginning Block


a,b Classification Table

St ep 0

Observ ed v ariabel stres kerja y ang dikelompokan Ov erall Percentage

berat ringan

Predicted v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 0 48 0 60

Percentage Correct .0 100.0 55.6

a. Constant is included in the model. b. The cut v alue is .500

Variables in the Equation

St ep 0

Constant

B .223

S. E. .194

Wald 1.328

df 1

Sig. .249

Exp(B) 1.250

Variabl es not in th e Eq uatio n St ep 0 Variables beban beban(1) beban(2) Score 8.280 .819 1.867 8.280 df 2 1 1 2 Sig. .016 .365 .172 .016

Ov erall Stat istics

Block 1: Method = Enter


Omnibus Tests of Model Coefficients St ep 1 St ep Block Model Chi-square 8.417 8.417 8.417 df 2 2 2 Sig. .015 .015 .015

Model Summary St ep 1 -2 Log likelihood 139.967a Cox & Snell R Square .075 Nagelkerke R Square .100

a. Est imat ion terminated at iterat ion number 4 because parameter estimates changed by less t han .001.

a Classification Table

St ep 1

Observ ed v ariabel stres kerja y ang dikelompokan Ov erall Percentage

berat ringan

Predicted v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 14 34 5 55

Percentage Correct 29.2 91.7 63.9

a. The cut v alue is .500

Variables in the Equation 95.0% C.I. f or EXP(B) Lower Upper 1.310 1.524 13.073 18.750

B St ep a 1 beban beban(1) beban(2) Constant 1.420 1.676 -1.030

S. E. .587 .640 .521

Wald 7.440 5.860 6.854 3.906

df 2 1 1 1

Sig. .024 .015 .009 .048

Exp(B) 4.139 5.345 .357

a. Variable(s) entered on step 1: beban.

2. Jam Kerja jam kerja * variabel stres kerja yang dikelompokan


Crosstab v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 29 23 55.8% 19 33.9% 48 44.4% 44.2% 37 66.1% 60 55.6%

Total 52 100.0% 56 100.0% 108 100.0%

jam kerja responden

> 8 jam

< = 8 jam

Total

Count % wit hin jam kerja responden Count % wit hin jam kerja responden Count % wit hin jam kerja responden

Chi-Square Tests Value 5.209b 4.362 5.247 df 1 1 1 Asy mp. Sig. (2-sided) .022 .037 .022 Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by -Linear Association N of Valid Cases

.033 5.161 108 1 .023

.018

a. Computed only f or a 2x2 table b. 0 cells (.0%) hav e expected count less than 5. The minimum expected count is 23. 11.

Risk Esti mate 95% Conf idence Interv al Lower Upper 1.128 5.346

Value Odds Rat io f or jam kerja responden (> 8 jam / < = 8 jam) For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = berat For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = ringan N of Valid Cases 2.455

1.644

1.060

2.548

.669 108

.468

.958

3. Rutinitas variabel rutinitas yang dikelompokan * variabel stres kerja yang dikelompokan
Crosstab v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 32 26 55.2% 16 32.0% 48 44.4% 44.8% 34 68.0% 60 55.6%

Total 58 100.0% 50 100.0% 108 100.0%

v ariabel rutinitas y ang dikelompokan

membosankan

tidak membosankan

Total

Count % wit hin v ariabel rutinitas y ang dikelompokan Count % wit hin v ariabel rutinitas y ang dikelompokan Count % wit hin v ariabel rutinitas y ang dikelompokan

Chi-Square Tests Value 5.839b 4.939 5.913 df 1 1 1 Asy mp. Sig. (2-sided) .016 .026 .015 Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by -Linear Association N of Valid Cases

.020 5.785 108 1 .016

.013

a. Computed only f or a 2x2 table b. 0 cells (.0%) hav e expected count less than 5. The minimum expected count is 22. 22.

Risk Esti mate 95% Conf idence Interv al Lower Upper

Value Odds Rat io f or v ariabel rutinitas y ang dikelompokan (membosankan / t idak membosankan) For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = berat For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = ringan N of Valid Cases

2.615

1.189

5.751

1.724

1.082

2.747

.659 108

.468

.929

4. Kebisingan variabel kebisingan yang dikelompokan * variabel stres kerja yang dikelompokan
Crosstab v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 36 28 56.3% 12 27.3% 48 44.4% 43.8% 32 72.7% 60 55.6%

Total 64 100.0% 44 100.0% 108 100.0%

v ariabel kebisingan y ang dikelompokan

mengganggu

tidak mengganggu

Total

Count % wit hin v ariabel kebisingan y ang dikelom pokan Count % wit hin v ariabel kebisingan y ang dikelom pokan Count % wit hin v ariabel kebisingan y ang dikelom pokan

Chi-Square Tests Value 8.867b 7.732 9.100 df 1 1 1 Asy mp. Sig. (2-sided) .003 .005 .003 Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by -Linear Association N of Valid Cases

.003 8.785 108 1 .003

.002

a. Computed only f or a 2x2 table b. 0 cells (.0%) hav e expected count less than 5. The minimum expected count is 19. 56.

Risk Esti mate 95% Conf idence Interv al Lower Upper

Value Odds Rat io f or v ariabel kebisingan y ang dikelompokan (mengganggu / tidak mengganggu) For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = berat For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = ringan N of Valid Cases

3.429

1.499

7.840

2.063

1.216

3.499

.602 108

.432

.838

5. Peranan dalam Organisasi variabel peranan yang dikelompokan * variabel stres kerja yang dikelompokan
Crosstab v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 37 46 44.6% 11 44.0% 48 44.4% 55.4% 14 56.0% 60 55.6%

Total 83 100.0% 25 100.0% 108 100.0%

v ariabel peranan y ang dikelompokan

tidak berperan

berperan

Total

Count % wit hin v ariabel peranan y ang dikelompokan Count % wit hin v ariabel peranan y ang dikelompokan Count % wit hin v ariabel peranan y ang dikelompokan

Chi-Square Tests Value .003b .000 .003 df 1 1 1 Asy mp. Sig. (2-sided) .959 1.000 .959 Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by -Linear Association N of Valid Cases

1.000 .003 108 1 .960

.572

a. Computed only f or a 2x2 table b. 0 cells (.0%) hav e expected count less than 5. The minimum expected count is 11. 11.

Risk Esti mate 95% Conf idence Interv al Lower Upper .416 2.519

Value Odds Rat io f or v ariabel peranan y ang dikelompokan (tidak berperan / berperan) For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = berat For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = ringan N of Valid Cases 1.024

1.013

.613

1.676

.990 108

.665

1.473

6. Pengembangan Karir variabel karir yang dikelompokan * variabel stres kerja yang dikelompokan
Cro sstab v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 39 41 48.8% 9 32.1% 48 44.4% 51.3% 19 67.9% 60 55.6%

Total 80 100.0% 28 100.0% 108 100.0%

v ariabel pengembangan karir y ang dikelompokan

tidak memuaskan

memuaskan

Total

Count % wit hin v ariabel pengembangan karir y ang dikelompokan Count % wit hin v ariabel pengembangan karir y ang dikelompokan Count % wit hin v ariabel pengembangan karir y ang dikelompokan

Chi-Square Tests Value 2.317b 1.693 2.365 df 1 1 1 Asy mp. Sig. (2-sided) .128 .193 .124 Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by -Linear Association N of Valid Cases

.185 2.295 108 1 .130

.096

a. Computed only f or a 2x2 table b. 0 cells (.0%) hav e expected count less than 5. The minimum expected count is 12. 44.

Risk Esti mate 95% Conf idence Interv al Lower Upper

Value Odds Rat io f or v ariabel pengembangan karir y ang dikelompokan (tidak memuaskan / memuaskan) For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelom pokan = berat For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelom pokan = ringan N of Valid Cases

2.008

.811

4.970

1.517

.846

2.717

.755 108

.542

1.053

7. Hubungan Interpersonal variabel hubungan yang dikelompokan * variabel stres kerja yang dikelompokan
Cro sstab v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 34 32 51.5% 14 33.3% 48 44.4% 48.5% 28 66.7% 60 55.6%

Total 66 100.0% 42 100.0% 108 100.0%

v ariabel hubungan y ang dikelompokan

buruk

baik

Total

Count % wit hin v ariabel hubungan y ang dikelompokan Count % wit hin v ariabel hubungan y ang dikelompokan Count % wit hin v ariabel hubungan y ang dikelompokan

Chi-Square Tests Value 3.436b 2.739 3.482 df 1 1 1 Asy mp. Sig. (2-sided) .064 .098 .062 Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by -Linear Association N of Valid Cases

.076 3.405 108 1 .065

.048

a. Computed only f or a 2x2 table b. 0 cells (.0%) hav e expected count less than 5. The minimum expected count is 18. 67.

Risk Esti mate 95% Conf idence Interv al Lower Upper .952 4.743

Value Odds Rat io f or v ariabel hubungan y ang dikelompokan (buruk / baik) For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = berat For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = ringan N of Valid Cases 2.125

1.545

.949

2.517

.727 108

.524

1.010

8. Struktur dan Iklim Organisasi variabel struktur yang dikelompokan * variabel stres kerja yang dikelompokan
Crosstab v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 40 42 48.8% 8 30.8% 48 44.4% 51.2% 18 69.2% 60 55.6%

Total 82 100.0% 26 100.0% 108 100.0%

v ariabel struktur y ang dikelompokan

tidak mendukung

mendukung

Total

Count % wit hin v ariabel st ruktur y ang dikelompokan Count % wit hin v ariabel st ruktur y ang dikelompokan Count % wit hin v ariabel st ruktur y ang dikelompokan

Chi-Square Tests Value 2.594b 1.915 2.660 df 1 1 1 Asy mp. Sig. (2-sided) .107 .166 .103 Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by -Linear Association N of Valid Cases

.119 2.570 108 1 .109

.082

a. Computed only f or a 2x2 table b. 0 cells (.0%) hav e expected count less than 5. The minimum expected count is 11. 56.

Risk Esti mate 95% Conf idence Interv al Lower Upper

Value Odds Rat io f or v ariabel struktur y ang dikelompokan (tidak mendukung / mendukung) For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = berat For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = ringan N of Valid Cases

2.143

.838

5.478

1.585

.855

2.940

.740 108

.531

1.031

9. Umur umur yang dikelompokan * variabel stres kerja yang dikelompokan


Crosstab v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 22 33 40.0% 26 49.1% 48 44.4% 60.0% 27 50.9% 60 55.6%

Total 55 100.0% 53 100.0% 108 100.0%

v ariabel umur y ang dikelompokan

> = 36 t ahun

< 36 tahun

Total

Count % wit hin v ariabel umur y ang dikelompokan Count % wit hin v ariabel umur y ang dikelompokan Count % wit hin v ariabel umur y ang dikelompokan
Chi-Square Tests

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by -Linear Association N of Valid Cases

Value .897b .567 .898

df 1 1 1

Asy mp. Sig. (2-sided) .344 .451 .343

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.439 .888 108 1 .346

.226

a. Computed only f or a 2x2 table b. 0 cells (.0%) hav e expected count less than 5. The minimum expected count is 23. 56.

Risk Esti mate 95% Conf idence Interv al Lower Upper .323 1.484

Value Odds Rat io f or v ariabel umur y ang dikelompokan (> = 36 tahun / < 36 tahun) For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = berat For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = ringan N of Valid Cases .692

.815

.533

1.246

1.178 108

.837

1.657

10. Masa Kerja masa kerja responden * variabel stres kerja yang dikelompokan
Crosstab v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 7 11 38.9% 41 45.6% 48 44.4% 61.1% 49 54.4% 60 55.6%

Total 18 100.0% 90 100.0% 108 100.0%

masa kerja responden

> 5 tahun

< = 5 t ahun

Total

Count % wit hin m asa kerja responden Count % wit hin m asa kerja responden Count % wit hin m asa kerja responden

Chi-Square Tests Value .270b .068 .272 df 1 1 1 Asy mp. Sig. (2-sided) .603 .795 .602 Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by -Linear Association N of Valid Cases

.796 .267 108 1 .605

.400

a. Computed only f or a 2x2 table b. 0 cells (.0%) hav e expected count less than 5. The minimum expected count is 8. 00.

Risk Esti mate 95% Conf idence Interv al Lower Upper .270 2.140

Value Odds Rat io f or masa kerja responden (> 5 tahun / < = 5 tahun) For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = berat For cohort v ariabel stres kerja y ang dikelompokan = ringan N of Valid Cases .761

.854

.458

1.589

1.122 108

.742

1.698

LAMPIRAN 6 OUTPUT SPSS MULTIVARIAT Logistic Regression


Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases
a

N Included in Analy sis Missing Cases Total 108 0 108 0 108

Unselected Cases Total

Percent 100.0 .0 100.0 .0 100.0

a. If weight is in ef f ect, see classif ication table f or the total number of cases.
Dependent Vari able Encoding Original Value berat ringan Internal Value 0 1

Block 0: Beginning Block

a,b Classification Table

St ep 0

Observ ed v ariabel stres kerja y ang dikelompokan Ov erall Percentage

berat ringan

Predicted v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 0 48 0 60

Percentage Correct .0 100.0 55.6

a. Constant is included in the model. b. The cut v alue is .500

Variables in the Equation

Step 0

Constant

B .223

S.E. .194

Wald 1.328

df 1

Sig. .249

Exp(B) 1.250

Variabl es not in the Equation St ep 0 Variables beban jamkerja rutin1 bising1 karir1 hubungan1 struktur1 Score 6.312 5.209 5.839 8.867 2.317 3.436 2.594 35.429 df 1 1 1 1 1 1 1 7 Sig. .012 .022 .016 .003 .128 .064 .107 .000

Ov erall Stat istics

Block 1: Method = Enter


Omnibus Tests of Model Coefficients St ep 1 St ep Block Model Chi-square 43.825 43.825 43.825
Model Summary Step 1 -2 Log Cox & Snell likelihood R Square a 104.559 .334 Nagelkerke R Square .447

df 7 7 7

Sig. .000 .000 .000

a. Estimation terminated at iteration number 20 because maximum iterations has been reached. Final solution cannot be f ound.

a Classification Table

St ep 1

Observ ed v ariabel stres kerja y ang dikelompokan Ov erall Percentage

berat ringan

Predicted v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 31 17 8 52

Percentage Correct 64.6 86.7 76.9

a. The cut v alue is .500


Variables in the Equation 95.0% C.I.for EXP(B) Lower Upper 1.487 6.905 3.658 109.259 .303 24.782 .000 . .371 4.265 .000 . .623 8.238

Step a 1

beban jamkerja rutin1 bising1 karir1 hubungan1 struktur1 Constant

B 1.165 2.995 1.008 20.680 .229 -18.792 .818 -4.127

S.E. .392 .867 1.124 15603.542 .623 15603.542 .659 1.017

Wald 8.840 11.947 .805 .000 .135 .000 1.541 16.465

df 1 1 1 1 1 1 1 1

Sig. .003 .001 .370 .999 .713 .999 .215 .000

Exp(B) 3.205 19.991 2.740 1E+009 1.257 .000 2.265 .016

a. Variable(s) entered on step 1: beban, jamkerja, rutin1, bising1, karir1, hubungan1, struktur1.

Logistic Regression
Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases
a

N Included in Analy sis Missing Cases Total 108 0 108 0 108

Unselected Cases Total

Percent 100.0 .0 100.0 .0 100.0

a. If weight is in ef f ect, see classif ication table f or the total number of cases.

Dependent Variable Encoding Original Value berat ringan Internal Value 0 1

Block 0: Beginning Block

a,b Classification Table

St ep 0

Observ ed v ariabel stres kerja y ang dikelompokan Ov erall Percentage

berat ringan

Predicted v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 0 48 0 60

Percentage Correct .0 100.0 55.6

a. Constant is included in the model. b. The cut v alue is .500

Variables in the Equation

St ep 0

Constant

B .223

S. E. .194

Wald 1.328

df 1

Sig. .249

Exp(B) 1.250

Variabl es not in the Equation St ep 0 Variables beban jamkerja rutin1 bising1 karir1 struktur1 Score 6.312 5.209 5.839 8.867 2.317 2.594 35.300 df 1 1 1 1 1 1 6 Sig. .012 .022 .016 .003 .128 .107 .000

Ov erall Stat istics

Block 1: Method = Enter


Omnibus Tests of Model Coefficients St ep 1 St ep Block Model Chi-square 42.878 42.878 42.878
Model Summary St ep 1 -2 Log Cox & Snell likelihood R Square 105.506a .328 Nagelkerke R Square .439

df 6 6 6

Sig. .000 .000 .000

a. Est imat ion terminated at iterat ion number 5 because parameter estimates changed by less t han .001.

a Classification Table

St ep 1

Observ ed v ariabel stres kerja y ang dikelompokan Ov erall Percentage

berat ringan

Predicted v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 28 20 3 57

Percentage Correct 58.3 95.0 78.7

a. The cut v alue is .500


Variables in the Equation 95.0% C.I.for EXP(B) Lower Upper 1.472 6.693 4.793 138.915 .308 24.591 .985 78.082 .361 4.238 .593 7.819

Step a 1

beban jamkerja rutin1 bising1 karir1 struktur1 Constant

B 1.144 3.251 1.012 2.171 .213 .767 -4.322

S.E. .386 .859 1.117 1.116 .628 .658 1.029

Wald 8.766 14.324 .821 3.788 .115 1.361 17.653

df 1 1 1 1 1 1 1

Sig. .003 .000 .365 .052 .735 .243 .000

Exp(B) 3.139 25.804 2.752 8.770 1.237 2.154 .013

a. Variable(s) entered on step 1: beban, jamkerja, rutin1, bising1, karir1, struktur1.

Logistic Regression
Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases
a

N Included in Analy sis Missing Cases Total 108 0 108 0 108

Unselected Cases Total

Percent 100.0 .0 100.0 .0 100.0

a. If weight is in ef f ect, see classif ication table f or the total number of cases.
Dependent Vari able Encoding Original Value berat ringan Internal Value 0 1

Block 0: Beginning Block

a,b Classification Table

St ep 0

Observ ed v ariabel stres kerja y ang dikelompokan Ov erall Percentage

berat ringan

Predicted v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 0 48 0 60

Percentage Correct .0 100.0 55.6

a. Constant is included in the model. b. The cut v alue is .500

Variables in the Equation

St ep 0

Constant

B .223

S. E. .194

Wald 1.328

df 1

Sig. .249

Exp(B) 1.250

Variabl es not in the Equation St ep 0 Variables beban jamkerja rutin1 bising1 struktur1 Score 6.312 5.209 5.839 8.867 2.594 35.256 df 1 1 1 1 1 5 Sig. .012 .022 .016 .003 .107 .000

Ov erall Stat istics

Block 1: Method = Enter


Omnibus Tests of Model Coefficients St ep 1 St ep Block Model Chi-square 42.762 42.762 42.762
Model Summary St ep 1 -2 Log Cox & Snell likelihood R Square 105.621a .327 Nagelkerke R Square .438

df 5 5 5

Sig. .000 .000 .000

a. Est imat ion terminated at iterat ion number 5 because parameter estimates changed by less t han .001.

a Classification Table

St ep 1

Observ ed v ariabel stres kerja y ang dikelompokan Ov erall Percentage

berat ringan

Predicted v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 28 20 3 57

Percentage Correct 58.3 95.0 78.7

a. The cut v alue is .500


Variables in the Equation 95.0% C.I.for EXP(B) Lower Upper 1.497 6.773 4.725 136.241 .313 23.988 1.036 78.168 .704 7.774

Step a 1

beban jamkerja rutin1 bising1 struktur1 Constant

B 1.158 3.234 1.007 2.197 .850 -4.302

S.E. .385 .858 1.107 1.103 .613 1.027

Wald 9.046 14.219 .828 3.969 1.922 17.555

df 1 1 1 1 1 1

Sig. .003 .000 .363 .046 .166 .000

Exp(B) 3.184 25.372 2.738 9.001 2.339 .014

a. Variable(s) entered on step 1: beban, jamkerja, rutin1, bising1, struktur1.

Logistic Regression
Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases
a

N Included in Analy sis Missing Cases Total 108 0 108 0 108

Unselected Cases Total

Percent 100.0 .0 100.0 .0 100.0

a. If weight is in ef f ect, see classif ication table f or the total number of cases.
Dependent Vari able Encoding Original Value berat ringan Internal Value 0 1

Block 0: Beginning Block

a,b Classification Table

St ep 0

Observ ed v ariabel stres kerja y ang dikelompokan Ov erall Percentage

berat ringan

Predicted v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 0 48 0 60

Percentage Correct .0 100.0 55.6

a. Constant is included in the model. b. The cut v alue is .500

Variables in the Equation

St ep 0

Constant

B .223

S. E. .194

Wald 1.328

df 1

Sig. .249

Exp(B) 1.250

Variabl es not in the Equation St ep 0 Variables beban jamkerja bising1 struktur1 Score 6.312 5.209 8.867 2.594 34.873 df 1 1 1 1 4 Sig. .012 .022 .003 .107 .000

Ov erall Stat istics

Block 1: Method = Enter


Omnibus Tests of Model Coefficients St ep 1 St ep Block Model Chi-square 41.904 41.904 41.904
Model Summary St ep 1 -2 Log Cox & Snell likelihood R Square 106.479a .322 Nagelkerke R Square .431

df 4 4 4

Sig. .000 .000 .000

a. Est imat ion terminated at iterat ion number 5 because parameter estimates changed by less t han .001.

a Classification Table

St ep 1

Observ ed v ariabel stres kerja y ang dikelompokan Ov erall Percentage

berat ringan

Predicted v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 28 20 3 57

Percentage Correct 58.3 95.0 78.7

a. The cut v alue is .500


Variables in the Equation 95.0% C.I. f or EXP(B) Lower Upper 1.475 6.568 4.348 102.630 3.886 92.857 .748 8.141

St ep a 1

beban jamkerja bising1 struktur1 Constant

B 1.135 3.050 2.944 .904 -4.032

S. E. .381 .806 .810 .609 .957

Wald 8.877 14.307 13.223 2.203 17.739

df 1 1 1 1 1

Sig. .003 .000 .000 .138 .000

Exp(B) 3.112 21.125 18.995 2.468 .018

a. Variable(s) entered on step 1: beban, jamkerja, bising1, struktur1.

Logistic Regression
Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases
a

N Included in Analy sis Missing Cases Total 108 0 108 0 108

Unselected Cases Total

Percent 100.0 .0 100.0 .0 100.0

a. If weight is in ef f ect, see classif ication table f or the total number of cases.

Dependent Variable Encoding Original Value berat ringan Internal Value 0 1

Block 0: Beginning Block

a,b Classification Table

St ep 0

Observ ed v ariabel stres kerja y ang dikelompokan Ov erall Percentage

berat ringan

Predicted v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 0 48 0 60

Percentage Correct .0 100.0 55.6

a. Constant is included in the model. b. The cut v alue is .500

Variables in the Equation

St ep 0

Constant

B .223

S. E. .194

Wald 1.328

df 1

Sig. .249

Exp(B) 1.250

Variabl es not in the Equation St ep 0 Variables beban jamkerja bising1 Score 6.312 5.209 8.867 32.743 df 1 1 1 3 Sig. .012 .022 .003 .000

Ov erall Stat istics

Block 1: Method = Enter


Omnibus Tests of Model Coefficients St ep 1 St ep Block Model Chi-square 39.584 39.584 39.584
Model Summary St ep 1 -2 Log Cox & Snell likelihood R Square 108.799a .307 Nagelkerke R Square .411

df 3 3 3

Sig. .000 .000 .000

a. Est imat ion terminated at iterat ion number 5 because parameter estimates changed by less t han .001.

a Classification Table

St ep 1

Observ ed v ariabel stres kerja y ang dikelompokan Ov erall Percentage

berat ringan

Predicted v ariabel stres kerja y ang dikelompokan berat ringan 28 20 3 57

Percentage Correct 58.3 95.0 78.7

a. The cut v alue is .500


Variables in the Equation 95.0% C.I.for EXP(B) Lower Upper 1.411 6.085 4.075 94.761 4.753 112.832

Step a 1

beban jamkerja bising1 Constant

B 1.075 2.978 3.142 -3.789

S.E. .373 .803 .808 .934

Wald 8.312 13.765 15.126 16.440

df 1 1 1 1

Sig. .004 .000 .000 .000

Exp(B) 2.930 19.650 23.158 .023

a. Variable(s) entered on step 1: beban, jamkerja, bising1.