Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang mempengaruhi semua sektor kehidupan.Pada tahun 2002 diperkirakan sebanyak 1,18 juta orang meninggal karena kecelakaan.Angka kecelakaan ini merupakan 2,1% dari kematian global, dan merupakan indikator penting dalam status kesehatan. (Yusherman, 2008) Jumlah orang yang berpergian secara internasional meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data statistik dari World Tourism Organization, turis pendatang internasional pada tahun 2006 melampaui 840 juta orang. Pada tahun 2006, mayoritas turis internasional (sekitar 410 juta orang) mempunyai tujuan untuk berwisata, rekreasi dan liburan (51%). Sedangkan untuk keperluan bisnis ialah 13% (131 juta orang) dan 27% (225 juta orang) berpergian dengan tujuan lain seperti mengunjungi keluarga, urusan ibadah, dan urusan kesehatan. Sisanya sebanyak 8% mempunyai tujuan yang tidak dapat diklasifikasikan. (WHO, 2008) Pada tahun 1990, kecelakaan lalu lintas menduduki peringkat 9 (WHA) penyebab utama faktor resiko, penyakit dan kematian dan meliputi 2,6% dari kehilangan kualitas hidup secara global. Selain itu pada tahun 2020 diperkirakan angka kecelakaan lalu lintas menduduki urutan ke-3 di atas masalah kesehatan lain seperti malaria, TB paru, dan HIV/AIDS berdasarkan proyeksi penyakit secara global. (Yusherman, 2008) Pada tahun 2002, 90% dari kematian global karena kecelakaan lalu lintas terjadi di negara-negara dengan penghasilan rendah sampai sedang.Cedera karena kecelakaan lalu lintas secara tidak seimbang menimpa golongan miskin di negaranegara tersebut, dengan sebagian besar korban ialah pemakai jalan yang rentan seperti pejalan kaki, pengendara sepeda, anak-anak, dan penumpang. (Yusherman, 2008) Masalah dan beban karena kecelakaan lalu lintas bervariasi menurut wilayah secara geografi.Lebih dari separuh kematian karena kecelakaan lalu lintas jalan terjadi

di Asia Tenggara dan wilayah Pasifik Barat dan angka tertinggi kecelakaan terjadi di wilayah Afrika. (Yusherman, 2008) Risiko kecelakaan lalu lintas bervariasi menurut tingkat ekonomi negara. Di negara-negara dengan tingkat ekonomi tinggi, mayoritas korban kecelakaan lalu lintas adalah pengemudi dan penumpang, sedangkan di negara dengan tingkat ekonomi rendah sampai sedang, sebagaian besar kematian terjadi pada pejalan kaki, pengendara sepeda motor, dan pemakai kendaraan umum. Di Indonesia, sebagian besar (70%) korban kecelakaan lalu lintas adalah pengendara sepeda motor dengan golongan umur 15-55 tahun dan berpenghasilan rendah, dan cedera kepala merupakan urutan pertama dari semua jenis cedera yang dialami korban kecelakaan. Proporsi disabilitas (ketidakmampuan) dan angka kematian karena kecelakaan masih cukup tinggi yaitu sebesar 25% dan upaya untuk mengendalikannya dapat dilakukan melalui tatalaksana penanganan korban kecelakaan di tempat kejadian kecelakaan maupun setelah sampai di sarana pelayanan kesehatan. (Yusherman, 2008) Dampak ekonomi karena kecelakaan lalu lintas meliputi biaya perawatan kesehatan yang lama, kehilangan pencari nafkah, kehilangan pendapatan karena kecacatan yang secara bersama menyebabkan keluarga korban menjadi miskin dan hal ini biasanya terjadi di negara-negara yang tingkat ekonominya rendah sampai sedang. Secara ekonomi kerugian karena kecelakaan lalu lintas tersebut sekitar 1-2,5% dari pendapatan domestik bruto. Sedangkan di Indonesia, kerugian ekonomi karena kecelakaan pada tahun 2002 diperkirakan sebesar 2,91%. (Yusherman, 2008). Suatu peristiwa dapat dikatakan sebagai kecelakaan lalu lintas , bila : 1. Terdapat kerusakan pada benda 2. Terdapat luka non visible 3. Terdapat luka minor visible 4. Terdapat luka serious visible 5. Terdapat korban yang tewas

B.PERMASALAHAN Adanya mekanisme yang berbeda-beda pada kecelakaan lalu lintas akan menimbulkan trauma yang berbeda pula pada hasil pemeriksaan. Oleh karena

itu,penting bagi seseorang untuk mengetahui : Bagaimana pola trauma secara umum pada kecelakaan lalu lintas? Bagaimana pola trauma pada berbagai jenis kecelakaan lalu lintas?

Dengan demikian, dokter dapat menduga dan mengetahui mekanisme kecelakaan tersebut, yang selanjutnya dapat membantu penyidik dalam penyelidikan kasus kecelakaan. C.TUJUAN PENULISAN 1. Untuk mengetahui pola trauma secara umum pada kecelakaan lalu lintas 2. Untuk mengetahui pola trauma pada berbagai jenis kecelakaan lalu lintas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 POLA TRAUMA SECARA UMUM Korban kecelakaan lalu lintas dapat diduga jenis cederanya dengan meneliti riwayat trauma dengan cermat. Pada korban kecelakaan lalu lintas, biasanya ditemukan trauma / tanda kekerasan yang dapat dibagi menjadi beberapa kelompok : a. Trauma akibat kekerasan pertama oleh kendaraan (first impact) Trauma ditimbulkan oleh persentuhan bagian kendaraan dengan kendaraan dengan tubuh.Perhatikan bentuk / gambaran luka serta letaknya. Bagian kendaraan yang sering menyebabkan trauma pertama ini biasanya bumper, kaca spion, pegangan pintu dan spakbor.Trauma biasanya berupa luka lecet jenis tekan. b. Trauma akibat terjatuh Pada tubuh korban dapat ditemukan traumalain yang terjadi akibat terjatuhnya korban setelah pesentuhan pertama dengan kendaraan. Trauma biasanya merupakan luka lecet jenis geser dan atau luka robek. c. Trauma akibat terlindas ( rollover ) Trauma akibat lindasan ban kendaraan memberikan gambaran cermat terhadap jejas ban ini, seringkali dapat membantu pihak yang berwajib untuk mengidentifikasi jenis kecelakaan yang menyebabkan kecelakaan. Deskripsi ban baik mengenai coraknya maupun ukurannya dengan sketsa atau foto.

Sebagian besar kecelakaan lalu lintas menyebabkan trauma karena kekerasan benda tumpul. Kekerasan benda keras dan tumpul dapat mengakibatkan berbagai macam jenis trauma, antara lain : a. Memar (kontusi) Memar merupakan salah satu bentuk luka yang ditandai oleh kerusakan jaringan tanpa disertai diskontinuitas permukaan kulit.Kerusakan tersebut diakibatkan oleh pecahnya kapiler sehingga adarah keluar dan meresap ke jaringan sekitarnya. Luka memar tidak hanya pada kulit, tapi mungkin juga ditemukan pada organ dalam, seperti paru-paru, jantung ,otak dan otot. Salah satu bentuk memar yang dapat memberikan informasi mengenai bentuk dari benda tumpul adalah pendarahan tepi (marginal haemorrahages). Misalnya bila tubuh korban terlindas ban kendaraan, dimana pada tempat yang terdapat tekanan justru tidak menunjukan kelainan. Pendarahan akan menepi sehingga terbentuk pendarahan tepi yang bentuknya sesuai dengan bentuk celah antar kedua tepi ban. b. Luka lecet (abrasi) Luka lecet adalah luka yang disebabkan oleh rusaknya atau lepasnya lapisan luar dari kulit, yang ciri-cirinya adalah : Bentuk luka tidak terartur Batas luka tidak teratur Tepi luka tidak rata

Kadang ditemukan sedikit pendarahan Permukaan ditutupi oleh krusta ( serum yang telah mengering ) Warna coklat kemerahaan Pada pemeriksaan mikroskopik terlihat adanya beberapa bagian yang masih ditutupi epitel dan raksi jaringan ( inflamasi )

Dalam kasus kecelakaan lalu lintas dimana tubuh korban terlindas oleh ban kendaraan, maka luka lecet yang tertekan pasa tubuh korban seringkali merupakan cetakan dari ban kendaraan tersebut, khususnya bila ban masih dalam keadaan cukup baik , diamana kembang dari ban tersebut masih tambah jelas, misalnya berbentuk zigzag yang sejajar. Dengan demikian di dalam kasus tabrak lari, informasi dari sifat- sifat yang terdapat pada tubuh korban sangat bermanfaat di dalam penyidikan.

c. Luka terbuka (robek) luka terbuka atau robek adalah luka yang disebabkan karena bersentuhan dengan benda tumpul dengan kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan dibawahnya, yang ciri-cirinya sebagai berikut: o bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tidak rata o bila ditautkan tidak dapat rapat (karena sebagian jaringan hancur) o tebing luka tidak rata serta terdapat jembatan jaringan o disekitar garis batas luka ditemukan memar

o lokasi luka lebih mudah terjadi pada daerah yang dekat dengan tulang (misalnya dalam daerah kelapa, muka atau ekstremitas) Pelukisan yang cermat dari luka robek sangat membantu penyidik khususnya sewaktu dilakukan rekonstruksi. Bila luka robek salah satu tepinya membuka kearah kanan, kekerasan datang dari arah kiri ;jika membuka kearah depan maka benda tumpul datang dari arah belakang.

d. Patah tulang (fraktur) Kekerasan benda tumpul yang cukup kuat dapat menyebabkan patah tulang. Adany patah tulang dapat diketahui, apabila dijumpai tanda-tanda: o terdapat kelainan bentuk dibandingkan normal o terdapat perbedaan ukuran panjang, terutama bila terjadi pada anggota gerak. o Bila digerakan dapat terdengar delik (krepitasi) o Pola patah tulang yang terjadi tergantung letak patah tulang, apakah terjadi pada kepala dan wajah, tulang belakang, dada, pinggul dan anggota gerak. o Pada tulang tengkotak kepala, patah tulang yang sering terjadi berupa fraktur impresi, yaitu ada bagian tulang yang patah dan terdesak kedalam. Hal ini dapat mengakibatkan perdarahan dalam rongga tengkorak berupa perdarahan epidural, subdural, sub-arachnoid, kerusakan selaput otak dan jaringan otak.5

Figure 12.1 Compound fracture of the right leg and laceration of the left knee in a pedestrian struck by a car. It is most likely that the vehicle struck the right leg.

Pada tulang pada wajah dapat digalongkan menjadi fraktur dentoalveolar, LeFort I, LeFort II, LeFort III, dan sagittal. 6 sedangkan pada anggota gerak, dapat dibedakan bedasarkan arah dan jumlah garis frakturnya. Garis frakturnya dapat berjumlah satu atau lebih, sedangkan arah garis frakturnya dapat mendatar, oblik atau tidak beraturan , komplit atau pun inkomplit.3 kadang patah tulang yang terjadi dapat menyebabkan remuknya tulang disertai dengan kerusakan jaringan lunak yang luas, dan dikenal sebagai crush fractures.6 Pada kasus kecelakaan lalu lintas, maka patah tulang yang terjadi dapat memberikan informasi arah datangnya kendaraan yang mengenai tungkai korban. Bila ditabrak dari belakang, tulang yang patah akan terdorong kedepan dan dapat merobek otot serta kulit didaerah tungkai bagian depan, hal yang sebaliknya terjadi bila korban ditabrak dari depan. Dengan demikian berdasarkan sifat-sifat patah tulang dapat diperkirakan dari mana kekerasan itu datang dan mengenai tubuh korban, ini perlu untuk rekonstruksi peristiwa selain luka akibat benda tumpul, sebagian luka pada kecelakaan lalu lintas jua dapat disebabkan karena benda tajam, misal luka iris akibat terkena ujung plat nomor kendaraan sepeda motor. Luka akibat kekerasan oleh benda yang mudah pecah seperti pecahan kaca mobil maka luka-luka yang ditemukan hanya luka lecet dan iris saja, sebab kaca mobil sengaja dirancang

sedemikian rupa sehingga kalau pecah akan terurai menjadi bagian-bagian kecil. Dapat juga terjadi luka bakar apabila terjadi ledakan pasca kecelakaan, ataupun luka bakar ringan akibat bersentuhan dengan bagian kendaraan yang bersuhu tinggi, misanya knalpot.

FIGURE 13.19 Closed fractures of the ankles.

B. POLA LUKA AKIBAT KECELAKAAN LUKA LALU LINTAS 1. Definisi Kecelakaan Lalu Lintas Kecelakaan lalu lintas dibedakan menjadi 2, yaitu : Motor-Vesicle traffic accident dan non-motor vesicle accident. Motor vesicle traffic accident adalah setiap kecelakaan kendakaraan bermotor dijalan raya. Non-motor vesicle traffic adalah setiap kendaraan yang terjadi dijalan raya, yang melibatkan pemakai jalan untuk transportasi atau untuk mengadakan perjalanan, dengan kendaraan yang bukan kendaraan bermotor 2. Penyebab Kecelakaan Kendaraan Bermotor Alcohol atau intoksikasi obat narkotika dan sedative Factor manusia (kecepatan, kecerobohan, tertidur) Factor alam (jalanan basah, perbaikan jalan, kabut dll) Penyakit (stroke, infark miocard)

3. Derajat Luka Pada Kecelakaan Lalu Lintas

terdapat lima derajat luka pada kecelakaan lalu lintas, yaitu : 1. terdapat kerusakan pada benda : derajat 1 2. terdapat luka non visible : derajat 2 3. terdapat luka minor visible : derajat 3 4. terdapat luka serius visible : derajat 4 5. terdapat korban tewas : derajat 5 4. Mekanisme Cedera Trauma jaringan disebabkan karena adanya perbedaan dari pergerakan. Pada kecepatan yang konstan, bagaimanapun ceatnya, tidak akan menimbulkan efek apapun seperti pada perjalanan keluar angkasa atau rotasi pada bumi. Adanya perbedaan perpindahan geraklah yang traumatis, yaitu akselerasi dan deselerasi. Perbedaan ini diukur dengan gaya gravitasi (G force) Jumlah dimana tubuh manusia dapat mentoleris perubahan ini sangat tergantung dari arah datang gaya tersebut. Deselerasi dengan kekuatan 300G bisa tidak menimbulakan cedera dan dalam jangka waktu yang pendek gaya 2000G masih bisa tidak menimbulkan cedera bila datangnya dari sudut yang tepat pada sumbu panjang tubuh. Tulang frontal dapat menahan 8000G tanpa frakur, tulang mandibular dan rongga thoraks dapat menahan hingga 800G.misalnya, seorang pengendara mobil dengan kecepatan 80 km/jam, kepala terbentur kaca seluas 10 cm2 maka kerusakan yang terjadi pasti lebih parah dibandingkan pengemudi memakai sabuk pengaman sehingga efek tabrakan berkurang. Rumus G (G force) digunakan untuk menghitung rata-rata kekuatan pada kecelakaan. G = (V2 x 0,034 )/D G = kekuatan yang dihasilkan oleh daya gravitasi V = kecepatan dalam km/jam D = jarak yang ditempuh setelah benturan sampai kendaraan berhenti dalam meter (m)

5.Pembagian Arah Benturan kematian karena kendaraan bermotor dapat dibagi menjadi 4 kategori tergantung dari arah terjadinya benturan pada kendaraan. Bagaimanapun, selama tabrakan atau kecelakaan, kombinasi dari 4 tipe bisa juga terjadi.

a. arah depan Ini adalah tipe yang paling umum, kira-kira 80 % dari semua tabrakan kendaraan bermotor. Terjadi bila 2 kendaraan bertabrakan dua-duanya atau bila bagian depan dari kendaraan menabrak benda yang tidak bergerak, seperti tembok atau tiang listrik. Sebagai akibat dari energi gerak, penumpang dari kendaraan bermotor akan terus melaju (bila tidak memakai sabuk pengaman) dan terjadi benturan pada kemudi atau dashboard, kaca depan , ataupun lampu depan kendaraan. Pola luka akan terbentuk tergantung dari posisi daripada penumpang dari kendaraan bermotor

Gambar . Biomekanik Trauma: Fase1. Kendaraan Menabrak Objek , Fase 2. Pada pengemudi yang tidak memakai safety belt badan akan terangkat kedepan, Fase 3. Muka menabrak kaca depan, Fase 4. Pengemudi akan terhempas kembali kebelakang (kecuali terlempar kedepan apabila kaca depan pecah)

Pengemudi

Kepala dapat membentur kaca depan dan mengakibatkan terbentuknya luka terpotong arah vertical dan abrasi daerah dahi, hidung dan dagu. Bila ada benturan dengan kaca spion, pola luka yang terbentuk akan berbeda. Perlukaan dalam dapat dalam bentuk fraktur dasar tengkorak dan patah leher (baik hiper-ektensi maupun hiper-fleksi).Hiper-fleksi dapat menyebabkan fraktur atlanto-occipital bagian posterior ataupun dislokasi tulang tersebut dan mungkin terjadi satu-satunya penyebab kematian pada beberapa kasus.

FIGURE 13.8 This woman was dead at the scene. The airbag prevented any external injuries.

Bagian dada dapat membentur kemudi dengan sangat keras dan menyebabkan abrasi dengan pola khusus ataupun tidak terlihat adanya perlukaan sama sekali. Hal ini sekarang terjadi lebih jarang karena adanya penggunaan kemudi yang mudah patah atau kompresibel. Perlukaan dalam, termasuk : fraktur transversal dari sternum, fraktur iga bilateral, anterior, atau luar (fail chest). Luka tusuk atau robek pada jaringan paru Karena fraktur iga, cedera pada jantung (kontusio, laserasi maupun luptur), luptur arteri coronaria (sangat jarang), robeknya aorta distal dari pangkal arteri subclavias dextra, laserasi atau robekan hati atau limfa, hematoma sub-scapular, kematian akibat perdarahn intrapritoneal, fraktur tertutup maupun terbuka dari pergelangan tangan ataupun lengan (tergantung posisi tangan pada kemudi pada saat terjadinya benturan). Fraktur patella atau femur (sewaktu lutut membentur dashboor) serta fraktur pergelangan kaki (terjadi jika kaki tertekut melawan arah dari floorboard atau tertekan secara keras pada pedal gas atau pedal rem). Dicing injuris dapat terjadi jika jedelan belakang dan samping pecah menajdi fragmen-fragmen yang mengenai

kulit sehingga terbentuk luka terpotong atau abrasi yang berbentuk L dan superficial, sudut patah kekanan ataupun linier

FIGURE 13.20 The black arrow points to the most common site for aortic rupture during a chest impact. The lower white arrow points to the end of the aorta which attaches to the heart. This area may also rupture

FIGURE 13.11 The angulated cuts on this mans face were caused by contact with the side window. The tempered glass making up the side window fractures in cubes. These injuries are called dicing injuries

Penumpang depan Perlukaan hampir sama dengan pengemudi, kecuali pada penumpang yang tidak bersabuk pengaman akan menghantam dashboard dan bukan kemudi, sehingga tidak akan ada bentuk cetakan dari kemudi. Dicing injuries terbentuk pada sisi kanan.

Penumpang belakang Jika tidak bersabuk pengaman akan terlempar kedepan, menghantam bagian belakang dari tempat duduk depan, penumpang

depan dan kaca depan b. Arah Samping Biasanya terjadi dipersimpangan kendaraan lain menabrak dari arah samping atau pun mobil terpelanting dan sisinya menghantam benda tidak bergerak dapat terlihat perlukaan yang sama dengan tabrakan dari arah depan termasuk robeknya aorta dan fraktur robeknya dan fraktur basis cranii. Bila benturan terjadi pada sisi kendaraan pengemudi akan cenderung mengalami perlukaan pada sisi kiri dan penumpang depan akan mengalmi perlukaan yang lebih sedikit karena pengemudi bersifat sebagai bantalan. Bila benturan terjadi pada sisi kanan, maka yang terjadi adalah sebaliknya, demikian juga bila tidak ada penumpang

c. Terguling Keadaan ini lebih mematikan dibandingkan dengan tabrakan dari arah samping terutama bila tidak dipakainya sabuk pengaman dan penumpang terlempar keluar.Bila terlempar semuanya beberapa perlukaan dapat terbentuk pada saat korban mendarat pada permukaan yang keras. Pada beberapa kasus korban yang terlempar bias ditemukan hancur atau terperangkap di bawah

kendaraan. Pada kasus seperti ini penyebab kematian mungkin adalah asfiksisa traumatic. Bila terlempar parsial bagian tubuh yang bersangkutan bias hancur atau terpotong.

FIGURE 13.28 A closer view reveals the boys head (arrow) tightly compressed against his chest. He died from positional asphyxiation

d. Arah Belakang Hal ini dapat menyebabkan acceleration injuries dan sangat jarang menimbulkan kematian.Perlukaan yang paling umum adalah whiplash injury dari leher. Pada benturan dari arah belakang, benturan dikurangi atau terserap oleh bagian bagasi da kompartemen penumpang belakang yang dengan demikian memproteksi penumpang bagian depan dari perlukaan yang parah dan mengancam jiwa.

6.

Pola

Luka

Pada Berbagai Jenis Kecelakaan

a.

Luka Pada Pengendara Mobil Luka Tabrakan Tanpa Ejeksi Luka berat terjadi dikarenakan kontak fisik antara korban dengan bagian dalam kendaraan seperti setir. Penumpang yang umumnya duduk didepan terluka oleh benturan dengan dashboard dan kaca depan, sedangkan penumpang yang duduk dibelakang terluka akibat benturan dengan kursi depan atau terlempar ke bangku depan dan mengenai struktur depan mobil atau menghantam penumpang di bangku depan. Benturan frontal paling sering pada kecelakaan lalu lintas. Pada benturan dari samping, tidak ada sandaran kepala yang berfungsi sebagai bantalan, dan penyebab utama dari perlukaan adalah akibat ekstensi leher yang berlebihan. Pada kejadian benturan dari samping, tidak ada perbedaan dalam hal frekuensi maupun lokasi antar penumpang yang duduk di bangku depan maupun di bangku belakang, walaupun biasanya pengemudi lebih jarang mengalami luka yang fatal di banding penumpang lainnya. Kepala, dada, perut dan lutut adalah bagian tubuh yang selalu terluka pada tabrakan dari depan (head-on collision). Luka kepala pada penumpang depan terjadi pada tiga dari lima kecelakaan, sedangkan fraktur tulang kepala terjadi dua kali lebih sering pada pengendara disbanding pada penumpang depan ini dapat diterangkan sebagai berikut: pada penumpang depan yang kepalanya mengenai kaca depan lebih lama terjadi deselerasi sedangkan pada pengemudi jarang terjad benturan pada kaca depan karena ada setir yang menghalangi, sehingga benturan yang dialami adalah kerangka atap mobil atau rangka jendela yang lebih keras mengakibatkan fraktur tulang kepala. Pengemudi mendapatkan luka di dada akibat benturan dengan setir sedangkan benturan dengan dashboard oleh penumpang bangku depan sering menyebabkan terjadinya fraktur iga, fraktur atau depresi sternum, robekan pada pleura maupun paru, pneumothorax akut, kontusio jantung atau rupture dari pembuluh darah besar.

Abdomen terlukapada sepertiga kasus, dimana organ limpa dan hati adalah yang paling sering terluka. Hati lebih sering terluka dibandingkan limpa.Luka multiple hanya terjadi pada kurang dari sepertiga kasus. Organ pelvis sering kali tidak terluka. Fraktur femur sering terjadi pada penumpang bangku depan akibat benturan lutut ke dashboard dan struktur mobil bagian depan. Sedangkan pada pengemudi lebih jarang terjadi karena adanya setir yang menghalangi benturan lutut.Bila pengemudi menginjak rem sebelum terjadi benturan, sering menyebaban fraktur dari tibia dan fibula.

FIGURE 13.22 Extensive lacerations of the liver from an impact with the abdomen and lower chest.

Luka Tabrakan dengan Ejeksi Ejeksi menyebabkan luka berat yang multipel, dan ini merupakan penyebab tersering kedua yang menyebabkan luka parah setelah luka akibat benturan dengan setir. Bila pada kecelakaan pintu depan kendaraan terbuka, satu dari tiga penumpang pasti terlempar keluar dari mobil. Perbandingan resiko terjadinya luka yang fatal antara ejeksi dan non ejeksi adalah 5:1. Fraktur iga terjadi pada dua pertiga kasus korban yang terejeksi, dan pada separuhnya terjadi luka viscera dada.Pada sepertiga kasus terjadi laserasi dan

memar pada hati, dan pada separuh kasus terjadi perlukaan pada hati dan organ dalam abdomen lainnya.

Gambar. Luka lecet dan memar pada korban tabrakan dengan ejeksi Luka Akibat Penggunaan Sabuk Pengaman Penggunaan sabuk pengaman mengurangi luka yang terjadi akibat benturan dengan bagian kendaraan dan akibat ejeksi.Tetapi sabuk pengamanan juga dapat menyebabkan luka. Deselerasi dapat mendorong usus kecil ke dalam rongga pelvis sehingga terjadi obstruksi usus transien atau dapat meningkatkan tekanan intraluminal.Dapat juga terjadi terpotongnya usus secara parsial maupun komplit pada penggunaan sabuk pengaman yang tidak benar. Pada penggunaan yang benar, umumnya perlukaan terjadi pada abdomen bagian bawah, dan yang paling sering adalah perforasidari usus kecil, rupture kandung kencing, atau kolon sigmoid dan perlukaan pada spinal segmen lumbal. Memar pada dinding abdomen dapat menimbulkan ileus paralitik.Eksplorasi harus dilakukan pada kasus dimana dicurigai adanya perlukaan intraabdominal. Luka akibat sabuk pengaman dapat dibedakan menurut tipe yang digunakan : 1. Lap belts : Lumbal (fraktur kompresi, subluksasio, fraktur prosesus artikularis, lamina dan pedikel, fraktur prosesus transversus, fraktur rotasiona, fraktur diskus, robeknya ligament posterior) Fraktur tulang ekstremitas Fraktur pelvis

Memar pada limpa, pancreas, uterus, uretram dan arteri iliaka

Gambar. Luka memar pada penggunaan sabuk pengaman tipr lap belts 2. Shoulder restrains : Fraktur iga, spinal segmen servikal, lumbal dan sternum Luka pada kulit dan jaringan subkutan berupa abrasi memar dan hematoma Lesi organ dalam seperti laring, hati, limpa, ginjal, pembuluh darah besar dan diafragma 3. Three-point belts : Fraktur iga, sternum, atau klavikula Luka abdomen (perforasi dupdenum atau jejunum) Abrasi dan memar pada dinding dada, bahu, leher, dan punggung

b. Luka Pada Pejalan Kaki Kelaianan yang terjadi pada pejalan kaki dapat dibagi menurut mekanismenya : 1. Luka pada impak primer, yaitu benturan yang pertama terjadi antara korban dan kendaraan. 2. Luka karena impak sekunder, yaitu benturan korban yang kedua kalinya karena kendaraan. 3. Luka sekunder, yaitu luka yang terjadi setelah korban jatuh ke atas

jalan.

Korban dewasa umumnya tertabrak dari belakang atau samping sehingga umumnya luka hebat terjadi ditungkai bawah,dapat sampai terjadi fraktur tertutup maupun terbuka. Korban yang tergeletak dijalan dapat terlindas dan menimbulkan trauma berupa jejas ban atau tyre marks. Bila kendaraan yang menabrak termasuk kendaraan berat maka dapat terjadi crush injuries atau compression injuries dimana tubuh seluruhnya hancur dan sukar dikenali. Bila bagian bawah kendaraan penabrak sangat rendah,tubuh korban dapat terseret dan terputar sehingga terjadi pengelupasan kulit dan otot yang hebat, yang dikenal sebagai rolling injuries. Pada daerah lipatan kulit bila terlindas maka kulit akan teregang sehingga menimbulkan kelainan yang disebut striae like tears dimana sebenarnya daerah yang terlindas bukan dilipatan kulit tersebut melainkan didaerah yang berdekatan. Faltor-faktor yang menyebabkan kecelakaan menimpa pejalan kaki termasuk diantaranya adalah pada kondisi cuaca yang buruk, penerangan pada jalan dan pada kendaraan yang tidak adekuat, dan pada korban yang menyebrang jalan sembarangan. c. Kecelakaan pengendara sepeda Luka yang terjadi umumnya ringan , tetapi kadang- kadang dapat berbahaya dan menyebabkan patah tulang atau cedera jaringan lunak yang berat. Perlukaan disebabkan gesekan antara kulit tubuh dan permukaan tanah, dan pada udara yang panas dpat membakar kulit terutama yang sensitive seperti anak-anak.Bila sepeda tertabrak kendaraan bermotor maka impak primer terjadi ketika tabrakan dan impak sekunder didapat saat sepeda dan pengendara jatuh mengenai tanah. Luka yang sering terjadi adalah luka kompresi pada bagian kaki bagian malleolus mediales atau lateralis , tendon achiles atau bagian lateral dari kaki. d. Kecelakaan pengendara sepeda motor Seperti diketahui sepeda motor merupakan sebuah alat transportasi yang ditopang oleh dua buah roda yang sejajar sehingga mempunyai tingkat kestabilan yang rendah dibanding kendaraaan roda empat. Dari design ini akan mengakibatkan kecelakaan

yang menghasilkan suatu cedera berat pada sepeda motor tetapi mungkin hanya kecelakaan ringan pada kendaraan rongga empat lain. Pada umunya korban selalu terlempar dari kendaraannya sehingga adapat mengenai seluruh anggota tubuh khususnya kepala, extremitas atas, bawah dada, dan abdomen. Penyebab kecelakaan motor adalah alcohol, obat-obatan, faktor lingkungan (terselip oli, lubang, gundukan dijalan) , cara mengendarai dan kegagalan kendaraan lain untuk melihat motor. Cedera yang bahaya dan mengancam jiwa adalah cedera kepala oleh karena pengendara jatuh ketanah yang menurut bothwel 80% penyebab kematian daerah terbanyak pada temporoparietal dengan komplikasi fraktur basis cranii, yang baisa dikenal dengan moter cyclis fracture. Fraktur ini merupakan fraktur transversal pada basis cranii, berpotongan dengan basis petrosus atau dibelakang tulang sfenoid melalui fossa pituitary kesisi berlawan. Tipe lain adalah fraktur lingkaran pada foramen magnum difossa posterior oleh karena tumbukan pada puncak kepala. Pada leher sering didapatkan fraktur ada tulang belakang bagian cervical pada kasus. Helm dikatakan dapat mengurangi angka kematian tetapi sifatnya hanya melindungi kepala pada saat tumbuka dengan kecepatan rendah atau tumbukan dengan arah tangensial.

Gambar. Luka pada kepala walaupun memakai helm

Cedera yang sering terjadi pada kendaraan motor adalah tail gating accident. Gambaran cedera tipe ini adalah pada saat pengendara motor sedang berada di belakang truk, dan menabrak truk dari belakang, yang terjadi kemudian adalah motor menyelip di

bwah truk, tetapi kepala pengendara mengenai bamper belakang truk, cedera yang terjadi berupa dekapitasi, cedera kepala dan leher. Trauma kaki sering dikenal dengan bamper fraktur dengan gambaran multipel fraktur pada tibia-fibula dengan garis fraktur setinggi bamper mobil.Gambaran fraktur pada tibia berbentuk baji dengan basis dari baji mengindikasikan arah tumbukan, pada femur juga dapat terjadi dimana umumnya terjadi pada anak-anak. Pada saat-saat tertentu didapatkan tinggi dari cedera di bawah tinggi normal kebanyakan bamper mobil, hal ini disebabkan karena kendaraan yang berhenti secara tiba-tiba dan terjadi penurunan bamper depan mobil oleh karena efek dari suspensi. Fraktur pada tibia mempunyai bentuk oblik, jika kaki terangkat, makan tumbukan cenderung berbentuk transversal.2

Cedera jaringan lunak : Mempunyai gambaran cedera mulai dari abrasi, laserasi, memar, luka remuk.Gambaran tersering adalah flying injury yaitu berupa luka lecet serut yang luas dikarenakan korban terseret di jalanan, dimana terjadi oleh efek benturannya roda dari kendaraan yang merobek kulit dan otot dari tubuh atau kepala. Jika mobil melindas abdomen atau pelvis dapat mengkibatkan striae parallel multipel atau laserasi yang dangkal oleh karena tekanan yang merobek pada kulit. 2

Gambar .Striae di sekitar pinggul Kerusakan tubuh bagian dalam : Kerusakan yang hebat pada saat roda melewati pelvis, abdomen, ataupun kepala, walaupun disertai cedera permukaan yang ringan, berat dari kendaraan tersebut dapat menghancurkan tulang tengkorak dan sering disertai keluarnya otak dari luka laserasi, patah tulang simpisis, terputusnya sendi sakroiliaka, pada organ dalam dapat

terjadi fraktur iga yang dapat melukai paru dan jantung.2 Luka yang dialami pejalan kaki akibat tabrakan motor tidaklah berbeda dengan luka yang didapat akibat tabrakan mobil. 6 C. PEMERIKSAAN PADA KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS Pemeriksaan harus ditujukan pada : 1. Pola dari luka yang ditemukan 2. Adanya penyakit yang mendasari terjadinya kecelakaan tersebut, misalnya seperti serangan jantung 3. Adanya kemungkinan percobaan bunuh diri 4. Adanya kemungkinan pembunuhan 5. Adanya intoksikasi zat D. PEMERIKSAAN LABORATORIUM PADA KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS 1. Pemeriksaan toksikologi Pemeriksaan toksikologi ditujukan untuk mencari data apakah pada korban terdapat obat, yang mampu menimbulkan ganguan kapabilitas didalam mengemudikan kendaraan. Adapun zat yang sering didapatkan pada pemeriksaan toksikologi ini antara lain : Alcohol Carbonmonoksida Sianida Feniotiazin Salisilat

2. Pemeriksaan histopatologis Pemeriksaan histopatologis yang bertujuan untuk mengetahui apa terdapat penyakit tertentu pada korban yang memungkinkan terjadinya kecelakaan Insiden terjadinya kecelakaan lalu lintas yang disebabkan kematian alamiah pengemudi kendaraan adalah 6 dari 100.000.kemungkinana ini haruslah dipikirkan apalagi bila pada pemeriksaan, luka tidak ditemukan atau sangat minimal dan

kendaraan yang teribat hanya rusak ringan. Penyebab tersering dari kematian alamiah ini antara lain adalah penyakit kardiovaskuler seperti oklusi arteri coroner, iskemi miokard, aritmia jantung, rupture dari aneurisma, penyakit cerebro vaskuler, epilepsy, serangan hipoglikemik pada penderita diabetes atau rupture dari aneurisma aorta.

E. ASPEK MEDIS LUKA Konsekuensi dari luka yang ditimbulkan oleh trauma dapat berupa: 1.Kelainan fisik-organik Bentuk dari kelainan fisik atau organic dapat berupa : - hilangnya jaringan atau bagian dari tubuh - hilangnya sebagian atau seluruh organ tertentu 2. Gangguan fungsi dari organ tertentu Bentuk gangguan dari gangguan fungsi ini tergantung dari organ atau bagian tubuh yang terkena trauma. Contoh dari gangguan fungsi antara lain : lumpuh, buta, tuli, atau ganguan fungsi organ organ dalam 3. Infeksi Seperti diketahui bahwa kulit atau membrane mukosa merupakan barrier terhadap infeksi. Bila kulit atau membrane itu rusak maka kuman akan masuk lewat pintu itu. Bahkan kuman dapat masuk lewat daerah memar atau bhkan iritasi akibat benda yang terkontaminasi kuman, jenis kuman dapat berupa streptoccus, staphylococcus, e.coli, proteus vulgaris, clostridium tetani serta kuman yang menyebabkan gas gangren 4. Penyakit Trauma sering dianggap sebagai precipitating factor terjadinya penyakit jantung walaupun causanya sulit di terangkan dan masih dalam kontroversi 5. Kelainan fisik Trauma, meskipun tidak meenimbulkan kerusakan otak, kemungkinan dapat menjadi precipitating factor dari terjadinya kelainan mental yang spektrumnya amat luas ;

yaitu dapat berupa neurosis terkompensasi, anxietas-neurosis, demensia precock (skizofrenia), manik depresi atau psikosis. Kepribadian serta potensi

individuterjadinya reaksi mental yang abnormal merupakan factor utamagangguan mental tersebut; meliputi jenis, derajat serta lamanya gangguan.Oleh sebab itu pada gangguan mental post trauma perlu dikaji elemen-elemen dasarnya yang terdiri atas latar belakang mental dan emosi serta nilai relative bagi yang bersangkutan atas jaringan atau organ yang terkena trauma. Secara umum dapat diterima bahwa hubungan antara kerusakan jaringan tubuh atau organ dengan psikosis post trauma didasarkan atas : keadaan mental benar-benar sehat sebelum trauma trauma telah merusak susunan saraf pusat trauma tanpa mempersoalkan lokasinya, mengancam kehidupan seseorang trauma menimbulkan kerusakan pada bagian yang struktur atau fungsinya dapat mempengaruhi funsi organ genital, payudara, mata, tangan atau wajah korban cemas akan lamanya waktu penderitaan psikosis terjadi dalam tenggang waktu yangmasuk akal korban dihantui pleh kejadian (kejahatan atau kecelakaan) yang menimpanya

F.ASPEK YURIDIS LUKA Jika dari sudut medic, luka merupakan kerusakan jaringan (baik disertai atau tidak di sertai diskontinuitas permukaan kulit) akibat trauma, maka dari sudut hokum, luka merupakan kelainan yang dapat disebabkan oleh suatu tindak pidana, baik yang bersifat intensional (sengaja), recklessness (ceroboh) atau neglicence (kurang hati-hati). Untuk menenyukan berat ringannya hukuman plu ditentukan lebih dahulu beratringannya luka. Kebijakan hukum pidana didalam penentuan berat ringannya luka didasarkan atas pengaruhnya terhadap : kesehatan jasmani kesehatan rohani

estetika jasmani pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencaharian fungsi alat indera

1. Luka ringan luka ringan adalah luka yang tidak menimbukan penyakit atau halangan dalam menjalakan pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya. 2. Luka sedang luka sedang adalah luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian untuk sementara waktu 3. Luka berat luka berat adalah luka yang sebagaimana diuraikan didalam pasal 90 KUHP yang terdiri atas: a. Luka atau penyakit yang tidak diharapkan akan sembuh dengan sempurna. Pengertian tidak akan sembuh sempurna lebih di tujukan pada fungsinya. Contohnya trauma pada satu mata yang menyebakan kornea robek. Sesudah di jait sembuh tetapinmata tersebut tidak dapat melihat b. luka yang dapat mendatangkan bahaya maut dapat mendatangkan bahaya maut pengertiannya memiliki potensi untuk menimbulkan kematian, tetapi setelah diobati dapat sembuh. c. Luka yang menimbulkan rintangan tetap dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya. Luka yang dari sudut medic tidak membahayakan jiwa, dari sudut hokum dapat dikatogorikan sebagai luka berat cobtohnya trauma pada tangan kiri pemain biola atau pada wajah seorang pragawati dapat dikatagorikan luka berat jika akibatnya mereka tidak dapat lagi menjalakan pekerjaan tersebut selamanya. d. Kehilangan dari salah satu panca indera jika trauma menimbulkan kebutaan satu mata atau kehilangan pendengaran satu telinga, tidak dapat digolongkan kehilangan indera. Meskipun demikian tetap digolongan sebagai luka berat berdasarkan butir (A) diatas.

e. Cacat besar atau kudung f. Lumpuh g. Gangguan daya pikir lebih dari empat minggu lamanya gangguan daya pikir tidak harus berupa kehilangan kesadaran tetapi dapat juga berupa amnesia, disorintasi, depresi, atau ganguan jiwa lainnya. h. Keguguran atau kematian janin seorang perempuan. 4 Yang dimaksud dengan keguguran adalah keluarnya janin sebelum waktunya, yaitu tidak didahului oleh proses sebagaimana umumnya seorang wanita ketika dilahirkan. Sedangkan kematian janin mengandung pengertian bahwa janin tidak lagi menunjukkan tanda-tanda hidup.Tidak dipersoalkan bayo keluar atau tidak dari perut ibunya.

BAB III KESIMPULAN

- Jumlah kecelakaan lalu lintas di Indonesia hingga saat ini masih sangat tinggi, sehingga penting bagi seorang dokter untuk mengetahui bagaimana pola-pola luka secara umum dan pola luka pada berbagai jenis kecelakaan lalu-lintas darat, sehingga dapat membantu penyidik dalam penyelidikan kasus kecelakaan.

Korban kecelakaan lalu lintas dapat diduga jenis cederanya dengan meneliti

riwayat trauma dengan cermat. Pada korban kecelakaan lalu lintas, biasanya dapat ditemukan luka / tanda kekerasan yang dapat dibagi menjadi beberapa kelompok.

Pada investigasi pada kecelakaan lalu lintas maka pemeriksaan harus ditujukan

pada : pola dari trauma yang ditemukan, adanya penyakit yang mendasari terjadinya kecelakaan tersebut, misalnya seperti serangan jantung, adanya kemungkinan percobaan bunuh diri, adanya kemugkinan pembunuhan, adanya intoksikasi zat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Jakarta : Binarupa Aksara. 1997 : 303-21 2. Pranolo J. Cedera Pada Pengendara Motor dan Pejalan Kaki. Available at :http://www.freewebs.com/cederapadapengendaramotorhtm. Diakses tanggal 21 April 2012. 3. Sjamsuhidajat R., de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. Jakarta : EGC. 1997 : 108-9. 4. Dahlan S. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman bagi Dokter dan Penegak Hukum. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro. 2000 : 67-91 5. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran UNiversitas Indonesia. 1997 : 37-44 6. DiMaio V., DiMaio D. Forensic Pathology. Secnd edition. Washington DC : CRC Press. 2000 (4) : 275-94 7. Tedeschi CG, Eckert WG, Tedeschi L.G. Forensic Medicine, a study in trauma and environmental hazards. Volume 2, Physical Trauma. Chapter p853-863, Philadelphia : W.B. Saunders Company. 1977 (30) : 853-63 8. James SH, Nordby JJ. Forensic Science, An Introduction to Scientific and Investigative Techniques. Washington DC : CRC Press. 2003.