Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM HIDROLIKA PANTAI SEDIMENTASI DAN KELANDAIAN

Oleh : Kelompok 4
Rizky Amalia K2E009004 Herni C. Sidabutar K2E0090xx Kastiyan Yudha P May Trio VM K2E009052 K2E0090xx

M. Husni Maulana K2E009014 Diyan M Ramdhani K2E009025 Muhammad Iqbal K2E0090xx

Wisman Fabrise DP K2E0090xx

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011

LEMBAR PENILAIAN
Kelompok Judul Rizky Amalia :4 : Sedimentasi dan Kelandaian Pantai K2E009004 Herni C. Sidabutar Kastiyan Yudha P May Trio VM K2E009044 K2E009052 K2E009082

M. Husni Maulana K2E009014 Diyan M Ramdhani Muhammad Iqbal No 1 2 3 4 5 6 K2E009025 K2E009033

Wisman Fabrise DP K2E009070 Keterangan Nilai

Pendahuluan Tinjauan Pustaka Materi dan Metode Hasil dan Pembahasan Kesimpulan Daftar Pustaka Total

Semarang, 21 Desember 2011

Asisten

Asisten

Riska Yulianti K2E007028

Syaiful Bahri K2E006046

Mengetahui, Koordinator Mata Kuliah Hidrolika Pantai

Denny Nugroho S, ST, M.Si 197408102001121001

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Kondisi morfologi pantai merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingginya run up gelombang tsunami pada saat mencapai daratan. Gelombang tersebut merayap mengikuti kelandaian pantai dengan kecepatan yang relatif cepat dan meng hanyutkan serta merobohkan rumah-rumah nelayan serta menyeret benda-benda sampai ke daratan. Dengan kondisi alam sekarang ini yang makin berubah drastis, seperti pemanasan global mempengaruhi kondisi perairan diseluruh dunia. Perubahan ini mempengaruhi parameter-paremeter fisika, kimia dan biologi diperairan tersebut. Maka dari itu perlulah ditinjau perubahan apa saja yang terjadi diperairan Teluk Awur khusunya di pantai Kampus Teluk Awur Jepara, seperti parameter kimia, topografi serta sedimentasi dipantai tersebut.

1.2 Tujuan Praktikum Praktikum Hidrolika Pantai ini bertujuan untuk : 1. Agar mahasiswa dapat mengetahui proses sedimentasi yang terjadi dipantai Teluk Awur. 2. Agar mahasiswa dapat mengetahui tipe dari kelandaian dipantai Teluk Awur Kampus Jepara.

1.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Hari / Tanggal Waktu Tempat : Sabtu, 10 Desember 2011 : Pukul 09.00-17.00 : Dermaga Pantai Teluk Awur Kampus Kelautan Jepara, Universitas Diponegoro Semarang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pantai Utara Jawa Secara umum morfologi topografi pantai utara Jawa Barat merupakan suatu daerah dataran dengan lebar dataran yang bervariasi. Dataran sempit dibagian timur (sekitar Kota Cirebon) dan bagian barat, dan meluas pada bagian tengah. Pada dataran yang lebar banyak dijumpai sungai-sungai yang mengalir dan bermuara dibagian tersebut, diantaranya Sungai Cimanuk, S. Cipunagara, S. Citarum, dan S. Bekasi. Berdasarkan proses pembentukannya dataran yang ada dapat dibedakan menjadi : dataran limpah banjir, kipas aluvial, endapan rawa, endapan laut dan dataran pantai-pematang pantai. Secara rinci endapan yang terdapat di pantai utara Jawa Barat disusun oleh : Endapan Kipas Aluvial Endapan ini umumnya terbentuk dari hasil vulkanik terdiri dari lempung, pasir campur kerikil, daya dukung tinggi, nilai keterusan terhadap air kecil sampai sedang. Endapan Limpah Banjir Endapan ini umumnya disusun oleh lempung, lanau, kadang-kadang pasir halus, agak plastik sampai plastik, keras dalam keadaan kering, lunak dalam keadaan basah, daya dukung terhadap pantai rendah sampai sedang, keterusan terhadap sumber air kecil. Di atas endapan ini umumnya dimanfaatkan masyarakat sebagai daerah pertanian. Endapan Sungai Endapan ini disusun oleh pasir sampai kerikil, lepas daya dukung terhadap pondasi sedang sampai besar. Permeabilitas besar, dapat bertindak sebagai akuifer, diatas endapan ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai daerah pemukiman, hal ini bisa dimaklumi karena kemudahan untuk memperoleh air. Endapan Rawa dan Rawa Bakau Endapan ini disusun oleh lempung, lanau, lempung organik, pasiran, plastisitas sedang, sifat rekah kerutnya tinggi, daya dukung terhadap pondasi

sangat kecil, nilai keterusan terhadap air sangat kecil. Di atas lahan ini banyak dipergunakan penduduk sebagai lahan tambak. Endapan Pantai dan Pematang Pantai Endapan ini disusun oleh pasir berukuran halus sampai kasar, kadang-kadang mengandung lanauan lempung, daya dukung pondasi kecil sampai sedang, nilai keterusan terhadap air sedang sampai besar. Di atas endapan ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan pemukiman, karena letaknya relatif lebih tinggi dari daerah sekitarnya, dan kemudahan untuk memperoleh air. Endapan Laut Endapan laut terbentuk dari lempung abu-abu sampai biru, lunak, daya dukung terhadap pondasi kecil, keterusan terhadap air kecil, biasanya endapan laut ini terletak dibawah endapan-endapan lain yang telah dijelaskan diatas. (Badan Geologi-DESDM, 2000)

Berikut adalah parameter - parameter oseanografi untuk perairan daerah pantai utara jawa : Bathimetri Perairan laut wilayah barat Indonesia termasuk bagian dari paparan benua dan umumnya mempunyai karakteristik perairan yang relatif dangkal. Morfologi perairan pantai juga dipengaruhi karakteristik wilayah pantai seperti keberadaan aliran sungai, terutama sungai-sungai yang membawa material erosi dari bagian hulu, sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap kelandaian, pembentukan lekukan teluk dan ujung di sepanjang pantai. Hal ini seperti terlihat pada perairan pesisir utara Propinsi Jawa Barat, dimana kondisi pantai umumnya landai dengan kemiringan antara 0,06 % di wilayah Teluk Cirebon sampai 0,4 % di wilayah Ujung Karawang. Perbedaan kelandaian pantai ini biasanya berkaitan dengan dinamika perairan pantai, dimana wilayah teluk umumnya menunjukkan wilayah yang relatif lebih landai dibandingkan dengan wilayah ujung. Diperkirakan bahwa pada jarak rata-rata 4 km (2,3 mil laut) dari garis pantai kedalaman mencapai 5 meter, kemudian pada jarak rata-rata 13 km (7 mil laut) kedalaman menjadi 10 meter, dan pada

jarak 21 km (~ 13 mil laut) kedalaman mencapai 20 meter. Kontur kedalaman kurang dari 5 meter memperlihatkan kondisi yang relatif sejajar dengan garis pantai. Demikian juga pada garis kedalaman antara 5 - <10 meter dan 10 - <20 meter, kecuali pada perairan sekitar Cirebon pada kedalaman antara 5 - <10 meter. Pasang surut Pasang surut (pasut) merupakan gerakan permukaan air laut yang teratur secara periodik. Walaupun secara umum pergerakan pasang dan surut ini dapat dipengaruhi oleh posisi bulan dan matahari, namun karakter perairan pantai seperti wilayah kepulauan dan kedalaman juga memberikan sumbangan terhadap sifat pasut secara lokal. Kompleksitas faktor fisik ini menyebabkan perubahan sifat pasut yang bervariasi dari wilayah satu ke wilayah lainnya. Paling tidak pengaruh posisi bulan dapat dicirikan dengan adanya pasang purnama dan pasang perbani, sedangkan karakteristik pantai akan

mempengaruhi tipe pasut seperti sifat diurnal, semidiurnal, dan campuran (baik yang mengarah ke diurnal atau ke diurnal atau ke bentuk semidiurnal). Sifat diurnal apabila wilayah pantai hanya mengalami satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari, semidiurnal terjadi jika pantai mengalami dua kali pasang dan dua kali surut dengan ketinggian yang sama. Sifat pasut campuran terjadi apablia pada wilayah pantai mengalami dua kali pasang dan dua kali surut dengan ketinggian yag berbeda. Berdasarkan data prakiraan dari dua stasiun (Tanjung Priok dan Cirebon), tipe pasut di wilayah pantai Jawa Barat bagian utara termasuk kategori campuran mengarah ke semidiurnal. Kisaran maksimum tinggi pasang dan surut terbesar adalah 1 meter dan kisaran tinggi pasang dan surut kedua adalah 0,5 - 0,7 meter (Deshidros-AL, 2000). Iklim dan cuaca Seperti wilayah Indonesia lainnya, iklim di pesisir Jawa Barat bagian utara dipengaruhi oleh angin muson yang mengakibatkan dua musim yaitu musim barat dan musim timur. Informasi iklim dan cuaca pada setiap wilayah pesisir pantai utara Jawa Barat masih terbatas, namun hasil studi di wilayah Indramayu menunjukkan bahwa selama periode 14 tahun (1980-1993) angin

umumnya berasal dari barat laut (29,35 %), timur laut (22,01 %) dan Utara (18,32 %) (Pemerintah Kabupaten Indramayu, 1996). Kecepatan angin umumnya (41,35 %) bertiup dengan kisaran antara 3-5 m/det, sedangkan (0,62 %) kecepatan angin sangat lemah yaitu < 1 m/det yang dapat diklasifikasikan pada kondisi teduh. Selanjutnya atas dasar kajian terhadap wilayah tersebut, bahwa musim barat terjadi pada bulan Desember sampai bulan Februari, dimana angin umumnya (30-40 %) bertiup dari arah barat laut dengan kecepatan 4-6 m/det. Hanya sebagian kecil (10 %) angin bertiup dari arah barat daya dengan kecepatan 3 m/det. Selanjutnya pada bulan Maret sampai bulan Mei merupakan musim peralihan antara musim barat ke musim timur. Kondisi angin sangat berubah-ubah, walaupun masih didominasi (30-50 %) dari arah timur laut dengan kecepatan angin 2-4 m/det. Pada musim tersebut juga diindikasikan adanya angin dari arah utara (20 %) dengan kecepatan 3 m/det, sedang dari arah barat laut (20 %) juga dengan kecepatan 3 m/det. Bulan Juni sampai bulan Agustus merupakan puncak musim timur dimana angin umumnya (30-40%) bertiup dari arah timur laut dengan kecepatan 3-6 m/det. Disamping itu juga terdapat angin berasal dari utara dan barat laut masing-masing 20 % dengan kecepatan 2 m/det. Sebelum kembali ke musim barat, terjadi musim peralihan dari timur ke barat yang terjadi antara bulan September sampai bulan November dengan kecepatan 4-6 m/det, dan hanya sebagian yang berasal dari angin timur laut (18 %) dengan kecepatan 1-3 m/det. Pergantian musim juga ikut memberikan pengaruh terhadap pergerakan masa air seperti arus. Pada musim barat pergerakan arus umumnya menuju ke arah timur atau arus timur dengan kecepatan berkisar antara 3-14 mil per hari. Musim timur arus bergerak sebaliknya yaitu menuju arah barat dengan kecepatan berkisar antara 1 - 13 mil per hari. Musim peralihan I (bulan Maret sampai bulan Mei) dan peralihan II (bulan September sampai bulan November) kecepatan arus laut masing-masing adalah 1 mil per jam dan 6 mil per jam. Di wilayah pantai arus umumnya merupakan arus gabungan yang ditimbulkan oleh arus regional dan arus pasut.

Gelombang Gelombang laut merupakan suatu gerakan masa air yang juga dapat disebabkan karena tiupan angin. Kekuatan gelombang laut dipengaruhi oleh kecepatan angin, periode angin dan kondisi terbuka dan tertutupnya perairan terhadap angin. Dengan memperhatikan penyebab timbulnya gelombang, maka secara tidak langsung kondisi gelombang perairan dapat diperoleh dari data angin yang bertiup pada perairan tersebut. Dengan demikian kondisi gelombang juga akan menunjukkan pola musiman. Kajian yang dilakukan terhadap wilayah Indramayu dengan metode SMB (Sverdrup Munk Bretch Neider) menunjukkan bahwa umumnya gelombang sesuai dengan arah angin yaitu dari arah barat laut, utara dan timur laut masing-masing sebanyak 22,25 %, 10,88 % dan 20,10 % (Pemerintah Kabupaten Indramayu, 1996). Secara keseluruhan yaitu sebanyak 28,40 % tinggi gelombang mencapai antara 0,50,8 meter, sedang gelombang teduh dengan ketinggian < 0,3 m sebanyak 28,40 %. Secara rinci ketinggian gelombang musiman adalah sebagai berikut: Pada musim barat gelombang dari barat dengan ketinggian > 1,7 m (45 %), sedangkan gelombang teduh antara 30 - 50 %. Musim peralihan I gelombang tetap dari barat namun ketinggian dan frekuensinya semakin kecil. Gelombang dari timur makin dominan (40 %). Musim timur gelombang dari timur (40 %). Musim peralihan II walaupun masih terdapat gelombang dari arah timur, namun masih didominasi oleh gelombang dari arah barat.

Suhu dan salinitas Seperti telah dideskripsikan sebelumnya, perairan di pantai Jawa Barat bagian utara tidak terlepas dari pengaruh perairan regional, dengan demikian suhu perairanpun menunjukkan karakteristik yang tidak jauh berbeda. Kisaran suhu ini bervariasi dari 25 - 32 C yang merupakan karakteristik dari perairan daerah tropis. Secara rinci kisaran suhu pada daerah pantai yang pernah dilakukan pengamatan dapat dilihat dalam Tabel 5.1. Variasi nilai juga terjadi pada parameter salinitas, terutama pada perairan yang terletak dekat muara sungai dimana umumnya didapatkan nilai relatif rendah (< 20). Perubahan nilai salinitas di daerah muara sungai dapat disebabkan oleh pengaruh pasang surut.

Pada saat surut, nilai salinitas air laut menjadi relatif rendah, sebaliknya pada saat pasang nilai salinitas akan meningkat bahkan sampai mencapai puluhan meter dari garis tepi pantai. Kisaran salinitas pada wilayah yang pernah diamati secara rinci dapat dilihat dalam Tabel 5.1.

2.2 Kelandaian Pantai Beach, yaitu pantai yang tersusun oleh material lepas. Pantai tipe ini dapat dibedakan menjadi: 1. Sandy beach (pantai pasir), yaitu bila pantai tersusun oleh endapan pasir. 2. Gravely beach (pantai gravel, pantai berbatu), yaitu bila pantai tersusun oleh gravel atau batuan lepas. Seperti pantai kerakal. Pantai dapat dibedakan menjadi: Pantai hasil proses erosi, yaitu pantai yang terbentuk terutama melalui proses erosi yang bekerja di pantai. Termasuk dalam kategori ini adalah pantai batu (rocky shore). Pantai hasil proses sedimentasi, yaitu pantai yang terbentuk terutama kerena prose sedimentasi yang bekerja di pantai. Termasuk kategori ini adalah beach. Baik sandy beach maupun gravely beach. Pantai hasil aktifitas organisme, yaitu pantai yang terbentuk karena aktifitas organisme tumbuhan yang tumbuh di pantai. Termasuk kategori ini adalah pantai mangrove. Bila dilihat dari sudut morfologinya, pantai dapat dibedakan menjadi: Pantai bertebing (cliffed coast), yaitu pantai yang memiliki tebing vertikal. Keberadaan tebing ini menunjukkan bahwa pantai dalam kondisi erosional. Tebing yang terbentuk dapat berupa tebing pada batuan induk, maupun endapan pasir.

Pantai berlereng (non-cliffed coast), yaitu pantai dengan lereng pantai. Pantai berlereng ini biasanya merupakan pantai pasir.

Secara

sederhana,

pantai

dapat

diklasifikasikan

berdasarkan

material

penyusunnya, yaitu menjadi: Pantai Batu (rocky shore), yaitu pantai yang tersusun oleh batuan induk yang keras seperti batuan beku atau sedimen yang keras. Pantai ini dicirikan oleh pantai berawa, pantai berpasir yang sempit dengan kemiringan bibir pantai landai yaitu berkisar antara 3 hingga 5. Morfologi belakang pantai umumnya curam, merupakan tebing yang tersusun oleh batuan gunung api (breksi dan aglomerat) dengan relief yang tinggi. memiliki bentuk garis pantai berteluk dan berkantong pantai. Vegetasi penutup terdiri dari nipah dan bakau dan sebagian wilayah tipe pantai ini sangat sempit sehingga jarang dijadikan daerah pemukiman warga. Pantai landai berpasir, yaitu pantai yang tersusun oleh endapan pasir halus hingga kasar berwarna kuning kecoklatan hingga keabu-abuan. Pantai ini memiliki morfologi landai dengan relief rendah hingga menengah, dan memiliki pedataran pantai yang cukup luas sehingga dapat dijadikan sebagai tempat pemukiman warga dan sarana umum lainnya. Pantai tipe ini umumnya memiliki garis pantai lurus, dengan kemiringan bibir pantai yang landai hingga curam. Nilai minimum kemiringan 4 terdapat di pantai Lolong dan maksimum 21 Kondisi morfologi pantai merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingginya run up gelombang tsunami pada saat mencapai daratan. Gelombang tersebut merayap mengikuti kelandaian pantai dengan kecepatan yang relatif cepat dan meng hanyutkan serta merobohkan rumah-rumah nelayan serta menyeret benda-benda sampai ke daratan. Dari hasil analisis batimetri diketahui bahwa kondisi batimetri di perairan memperlihatkan adanya perbedaan yang memisahkan antara laut dalam (merah), kepulauan busur muka, dan cekungan busur muka. Karakteristik kontur batimetri memperlihatkan bahwa perairan di selatan lebih rapat dibandingkan dengan di bagian utaranya.

Hal ini menunjukkan bahwa gelombang tsunami akan memiliki kecepatan lebih besar dan lebih dulu tiba di wilayah tersebut dibandingkan dengan daerah lainnya. Namun ketinggian gelombang tsunami akan lebih tinggi di bagian utara karena kedalaman dasar laut di daerah ini relatif lebih dangkal. Bagian tengah yang memiliki bentuk pantai berteluk dan berkantong pantai memiliki potensi besar akan gelombang tinggi. Namun, batuan beku yang menjadi penyusun sebagian daerah ini akan meredam daya jangkau gelombang tsunami untuk mencapai daratan, sehingga jarak genangan akan lebih sempit. Sementara itu, di tempat lain yang memiliki ketinggian elevasi terhadap muka laut lebih landai akan berpotensi mengalami genangan gelombang tsunami lebih jauh ke arah darat.

2.3 Sedimen Sedimen adalah bahan alami yang dipecah oleh proses pelapukan dan erosi , dan kemudian diangkut oleh aksi cairan seperti angin, air, atau es, dan / atau oleh kekuatan gravitasi yang bekerja pada partikel itu sendiri. Sedimen pantai dapat berasal dari erosi pantai, dari daratan yang terbawa oleh sungai, dan dari laut dalam yang terbawa oleh arus ke daerah pantai. Dalam ilmu teknik pantai dikenal istilah pergerakan sedimen pantai atau transpor sedimen pantai. Bambang Triatmodjo (1999) menjelaskan bahwa definisi dari transpor sedimen pantai adalah gerakan sedimen di daerah pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus yang dibangkitkannya. Transpor sedimen pantai inilah yang akan menentukan terjadinya sedimentasi atau erosi di daerah pantai. Transpor sedimen dapat dibedakan menjadi dua, yaitu transpor sedimen menuju dan meninggalkan pantai (onshore - offshore transport) yang memiliki arah rata-rata tegak lurus pantai dan transpor sepanjang pantai (longshore transport) yang memiliki arah rata-rata sejajar pantai. Transport sedimen tegak lurus pantai dapat dilihat pada kemiringan pantai dan bentuk dasar lautnya. Proses transpor sedimen tegak lurus biasanya terjadi pada daerah teluk dan pantai pantai yang memiliki gelombang yang relatif tenang. Pada saat musim ombak, energi yang terdapat pada gelombang akan menggerus bibir pantai dan menimbulkan erosi. Penggerusan tersebut akan menimbulkan lembah (trough) namun hal itu juga akan dibarengi dengan terbentuknya

punggungan (bar) di samping lembah tersebut akibat adanya hukum kekekalan massa. Adanya punggungan tersebut akan mengakibatkan perubahan posisi gelombang pecah karena pada umumnya gelombang akan pecah sebelum mencapai punggungan.

Gambar 1. Proses transpor sedimen tegak lurus pantai

Hukum kekekalan massa berlaku pada transpor sedimen tegak lurus pantai. Hukum kekekalan massa menyatakan bahwa sedimen tidak dapat hilang namun hanya dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lainnya. Dari gambar terlihat timbulnya erosi pada daerah bibir pantai akan diikuti dengan proses sedimentasi di laut. Transpor sedimen sejajar pantai (longshore transport) terjadi pada daerah pantai yang langsung berbatasan dengan samudera. Transpor sedimen jenis ini dapat lebih mudah terlihat karena transpor sedimen jenis ini memberi pengaruh terhadap bangunan bangunan pantai yang menjorok ke laut. Akibat adanya transpor sedimen sejajar pantai maka pada bangunan pantai yang menjorok ke laut akan terlihat perbedaan pada kedua sisi bangunan pantai tersebut. Pada satu sisi bangunan tersebut akan di jumpai proses sedimentasi sedangkan pada sisi lainnya terjadi proses erosi. Oleh karena itu dalam perencanaan untuk mendirikan bangunan pantai harus diperkirakan seberapa besar pengaruh dari transpor sedimen sebagai fungsi dari gelombang dan arus. Hal itu harus dilakukan untuk mencegah kerusakan pada daerah pantai. Efek lain yang terjadi pada daerah pantai akibat adanya transpor sedimen sejajar pantai adalah terbentuknya daratan antara suatu pulau dengan daratan utama. Efek ini biasa di kenal dengan nama tombolo. Sedimen yang di jumpai di dasar lautan dapat berasal dari beberapa sumber yang menurut Reinick (Dalam Kennet, 1992) dibedakan menjadi empat yaitu :

1. Lithougenus sedimen yaitu sedimen yang berasal dari erosi pantai dan material hasil erosi daerah up land. Material ini dapat sampai ke dasar laut melalui proses mekanik, yaitu tertransport oleh arus sungai dan atau arus laut dan akan terendapkan jika energi tertransforkan telah melemah. 2. Biogeneuos sedimen yaitu sedimen yang bersumber dari sisa-sisa organisme yang hidup seperti cangkang dan rangka biota laut serta bahan-bahan organik yang mengalami dekomposisi. 3. Hidreogenous sedimen yaitu sedimen yang terbentuk karena adanya reaksi kimia di dalam air laut dan membentuk partikel yang tidak larut dalam air laut sehingga akan tenggelam ke dasar laut, sebagai contoh dan sedimen jenis ini adalah magnetit, phosphorit dan glaukonit. 4. Cosmogerous sedimen yaitu sedimen yang berasal dari berbagai sumber dan masuk ke laut melalui jalur media udara/angin. Sedimen jenis ini dapat bersumber dari luar angkasa, aktifitas gunung api atau berbagai partikel darat yang terbawa angin. Material yang berasal dari luar angkasa merupakan sisa-sisa meteorik yang meledak di atmosfir dan jatuh di laut. Sedimen yang berasal dari letusan gunung berapi dapat berukuran halus berupa debu volkanik, atau berupa fragmen-fragmen aglomerat. Sedangkan sedimen yang berasal dari partikel di darat dan terbawa angin banyak terjadi pada daerah kering dimana proses eolian dominan namun demikian dapat juga terjadi pada daerah subtropis saat musim kering dan angin bertiup kuat. Dalam hal ini umumnya sedimen tidak dalam jumlah yang dominan dibandingkan sumber-sumber yang lain (Sugeng Widada). Sedimen yang masuk ke dalam laut dapat terdistribusi pada : 1. Daerah perairan dangkal, seperti endapan yang terjadi pada paparan benua (Continental Shelf) dan lereng benua (Continental Slope). Dijelaskan oleh Hutabarat (1985) dan Bhatt (1978) bahwa Continental Shelf adalah suatu daerah yang mempunyai lereng landai kurang lebih 0,4% dan berbatasan langsung dengan daerah daratan, lebar dari pantai 50 70 km, kedalaman maksimum dari lautan yang ada di atasnya di antara 100 200 meter. Continental Slope adalah daerah yang mempunyai lereng lebih terjal dari continental shelf, kemiringannya anatara 3 6 %. 2. Daerah perairan dalam, seperti endapan yang terjadi pada laut dalam.

Endapan Sedimen pada Perairan Dangkal : Pada umumnya Glacial Continental Shelf dicirikan dengan susunan utamanya campuran antara pasir, kerikil, dan batu kerikil. Sedangkan Non Glacial Continental Shelf endapannya biasanya mengandung lumpur yang berasal dari sungai. Di tempat lain (continental shelf) dimana pada dasar laut gelombang dan arus cukup kuat, sehingga material batuan kasar dan kerikil biasanya akan diendapkan. Sebagian besar pada Continental slope kemiringannya lebih terjal sehingga sedimen tidak akan terendapkan dengan ketebalan yang cukup tebal. Daerah yang miring pada permukaannya dicirikan berupa batuan dasar (bedrock) dan dilapisi dengan lapisan lanau halus dan lumpur. Kadang permukaan batuan dasarnya tertutupi juga oleh kerikil dan pasir. Endapan Sedimen pada Perairan Laut Dalam Sedimen laut dalam dapat dibagi menjadi 2 yaitu Sedimen Terigen Pelagis dan Sedimen Biogenik Pelagis. 1. Sedimen Biogenik Pelagis Dengan menggunakan mikroskop terlihat bahwa sedimen biogenik terdiri atas berbagai struktur halus dan kompleks. Kebanyakan sedimen itu berupa sisasisa fitoplankton dan zooplankton laut. Karena umur organisme plankton hannya satu atau dua minggu, terjadi suatu bentuk hujan sisa-sisa organisme plankton yang perlahan, tetapi kontinue di dalam kolam air untuk membentuk lapisan sedimen. Pembentukan sedimen ini tergantung pada beberapa faktor lokal seperti kimia air dan kedalaman serta jumlah produksi primer di permukaan air laut. Jadi, keberadan mikrofil dalam sedimen laut dapat digunakan untuk menentukan kedalaman air dan produktifitas permukaan laut pada zaman dulu. 2. Sedimen Terigen Pelagis Hampir semua sedimen Terigen di lingkungan pelagis terdiri atas materimateri yang berukuran sangat kecil. Ada dua cara materi tersebut sampai ke lingkungan pelagis.

Pertama dengan bantuan arus turbiditas dan aliran grafitasi. Kedua melalui gerakan es yaitu materi glasial yang dibawa oleh bongkahan es ke laut lepas dan mencair. Bongkahan es besar yang mengapung, bongkahan es kecil dan pasir dapat ditemukan pada sedimen pelagis yang berjarak beberapa ratus kilometer dari daerah gletser atau tempat asalnya.

2.4 Proses Sedimen Erosi Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal hewan yang membuat liang, dalam hal ini disebut bioerosi. Erosi tidak sama dengan pelapukan akibat cuaca, yang mana merupakan proses penghancuran mineral batuan dengan proses kimiawi maupun fisik, atau gabungan keduanya. Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi / pembangunan yang tidak tertata dengan baik dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah. Bagaimanapun, praktik tata guna lahan yang maju dapat membatasi erosi, menggunakan teknik semisal terrace-building, praktik konservasi ladang dan penanaman pohon. Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas, yang akan menyebabkan menurunnnya kemampuan lahan (degradasi lahan). Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi).

Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan memengaruhi kelancaran jalur pelayaran. Erosi dalam jumlah tertentu sebenarnya merupakan kejadian yang alami, dan baik untuk ekosistem. Misalnya, kerikil secara berkala turun ke elevasi yang lebih rendah melalui angkutan air. erosi yang berlebih, tentunya dapat menyebabkan masalah, semisal dalam hal sedimentasi, kerusakan ekosistem dan kehilangan air secara serentak. Banyaknya erosi tergantung berbagai faktor. Faktor Iklim, termasuk besarnya dan intensitas hujan / presipitasi, rata-rata dan rentang suhu, begitu pula musim, kecepatan angin, frekuensi badai. faktor geologi termasuk tipe sedimen, tipe batuan, porositas dan permeabilitasnya, kemiringn lahan. Faktor biologis termasuk tutupan vegetasi lahan,makhluk yang tinggal di lahan tersebut dan tata guna lahan oleh manusia. Umumnya, dengan ekosistem dan vegetasi yang sama, area dengan curah hujan tinggi, frekuensi hujan tinggi, lebih sering kena angin atau badai tentunya lebih terkena erosi. sedimen yang tinggi kandungan pasir atau silt, terletak pada area dengan kemiringan yang curam, lebih mudah tererosi, begitu pula area dengan batuan lapuk atau batuan pecah. porositas dan permeabilitas sedimen atau batuan berdampak pada kecepatan erosi, berkaitan dengan mudah tidaknya air meresap ke dalam tanah. Jika air bergerak di bawah tanah, limpasan permukaan yang terbentuk lebih sedikit, sehingga mengurangi erosi permukaan. Sedimen yang mengandung banyak lempung cenderung lebih mudah bererosi daripada pasir atau silt. Dampak sodium dalam atmosfir terhadap erodibilitas lempung juga sebaiknya diperhatikan Faktor yang paling sering berubah-ubah adalah jumlah dan tipe tutupan lahan. pada hutan yang tak terjamah, minerla tanah dilindungi oleh lapisan humus dan lapisan organik. kedua lapisan ini melindungi tanah dengan meredam dampak tetesan hujan.

lapisan-lapisan beserta serasah di dasar hutan bersifat porus dan mudah menyerap air hujan. Biasanya, hanya hujan-hujan yang lebat (kadang disertai angin ribut) saja yang akan mengakibatkan limpasan di permukaan tanah dalam hutan. bila Pepohonan dihilangkan akibat kebakaran atau penebangan, derajat peresapan air menjadi tinggi dan erosi menjadi rendah. kebakaran yang parah dapat menyebabkan peningkatan erosi secara menonjol jika diikuti denga hujan lebat. dalam hal kegiatan konstruksi atau pembangunan jalan, ketika lapisan sampah / humus dihilangkan atau dipadatkan, derajad kerentanan tanah terhadap erosi meningkat tinggi. jalan, secara khusus memungkinkan terjadinya peningkatan derajat erosi, karena, selain menghilangkan tutupan lahan, jalan dapat secara signifikan mengubah pola drainase, apalagi jika sebuah embankment dibuat untuk menyokong jalan. Jalan yang memiliki banyak batuan dan hydrologically invisible ( dapat menangkap air secepat mungkin dari jalan, dengan meniru pola drainase alami) memiliki peluang besar untuk tidak menyebabkan pertambahan erosi. Abrasi Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut. Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, namun manusia sering disebut sebagai penyebab utama abrasi. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya abrasi adalah dengan penanaman hutan mangrove.

BAB III MATERI DAN METODE

3.1 Materi Alat dan Bahan 3.1.1 Sedimentasi No 1 Alat dan Bahan Plastik 1kg Gambar Fungsi Untuk sedimen wadah

Serokan Sampah

Untuk menangkap sedimen

Kertas Label

Untuk

memberi pada

keterangan sampel

3.1.2 Kelandaian Pantai No 1 Alat dan Bahan Palem Gelombang 2m Gambar Fungsi Untuk menentukan tinggi (H)

Selang 25m

Untuk menentukan Kelandaian

Roll Meter

Untuk mengukur jarak Palem

Kertas Catatan

Untuk

Mencatat

Data Pengamatan

3.2 Metode 3.2.1 Sedimentasi Cara Kerja : 1. Dua orang memegang serokan sampah. 2. Serokan sampah diarahkan ke dua sisi yang berbeda, satu menghadap tepi pantai dan yang satu menghadap perairan lepas pantai. 3. Ketika gelombang dari lepas pantai datang kearah serokan, serokan ditarik keatas hingga didapat sampel sedimen. 4. Sampel sedimen dimasukkan ke dalam plastik 1kg. 5. Kemudian plastik diberi label keterangan waktu dan stasiun. 6. Pengambilan sampel dilakukan di 5 titik dengan jarak 320m, 340m, 360m, 380m, dan 400m dari dermaga Kampus Teluk Awur. 7. Lalu sampel ditimbang beratnya di Lab dan dianalisa.

3.2.2 Kelandaian Pantai Cara Kerja : 1. Palem gelombang didirikan tegak dengan yang sati berada di tepi pantai dan yang satu di daerah gelombang tertinggi sampai kedaratan. 2. Selang 25m di letakkan ujungnya masing-masing pada palem gelombang hingga stabil. 3. Kemudian tinggi dan jaraknya dari palem 1 ke palem 2 diukur menggunakan roll meter. 4. Hasil pengamatan dicatat dikertas catatn lalu diolah.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL 4.1.1 Sedimen Backswash A= 40 68,06 gr No 1 2 3 4 5 6 T = 10 menit Ukuran 2 mm 500 m 300 m 125 m 63 m <63 m Sedimen + Plastik (gr) 1,32 8,43 36,49 21,16 1,77 4,7 Plastik (gr) 0,97 0,97 0,97 0,97 0,97 0,97 m= Sedimen (gr) 0,35 7,46 35,52 20,19 0,8 3,74

Swash A= 40 64,32 gr No 1 2 3 4 5 6 T = 10 menit Ukuran 2 mm 500 m 300 m 125 m 63 m <63 m Sedimen + Plastik (gr) 0,99 21,60 35,46 9,22 1,07 1,9 Plastik (gr) 0,97 0,97 0,97 0,97 0,97 0,97 m= Sedimen (gr) 0,02 20,63 34,49 8,25 0,1 0,93

4.1.2 Kelandaian Stasiun 1 2 3 4 5 H1 (m) 1.61 1.44 1.32 1.32 1.46 H2(m) 0.87 0.65 0.73 0.74 0.80 Koordinat S 06 3712.1 06 3712.8 06 3713.4 06 3714.1 06 3714.7 Koordinat E 1103617.3 1103817.3 1103817.4 1103817.3 1103817.4

Stasiun 1 : 0.14 Stasiun 2 : 0.14 Stasiun 3 : 0.11 Stasiun 4 : 0.12 Stasiun 5 : 0.16 H1 L H2 ? H

Stasiun
1 2 3 4 5

H (H1-H2)
0.74 0.79 0.59 0.58 0.66

L(m) I=H/L 0.14 5.26 0.14 5.51 0.11 5.20 0.12 4.75 0.16 4.25

4.2 PEMBAHASAN 4.2.1 Sedimen Dari hasil pengayakan diatas dapat diketahui bahwa massa sedimen yang terperangkap di alat penangkap sedimen pada saat gelombang naik ke pantai (swash) lebih kecil daripada massa sedimen pada saat gelombang turun dari pantai (backswash) dengan berat masing-masing yaitu 64,32 gr dan 68,08 gr. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada saat gelombang turun dari pantai atau kembali ke laut (backswash), ukuran pengangkutan sedimennya lebih besar daripada sewaktu gelombang mulai naik ke pantai (swash) di daerah antara gelombang pecah dan garis pantai (surf zone). Jika massa air pada saat backswash mengangkut lebih banyak sedimen daripada saat swash, maka dapat diprediksi bahwa daerah daratan pantai tersebut mengalami erosi oleh gelombang datang dimana massa air yang terkumpul menghantam dan mengangkut material pantai menuju ke tengah laut atau ke tempat lain yang lebih tenang. Pada backswash maupun swash sedimen dominan berukuran 125 m - 500 m,dimana hal ini menunjukkan bahwa pada pantai tersebut di dominasi oleh pasir halus dan pasir sedang. 4.2.2 Kelandaian Pada hasil pengolahan kelandaian pantai didapatkan hasil sebagai berikut : I1 = 0.14, I2= 0.14, I3 = 0.11, I4 = 0.12, I5 = 0.16. Dapat disimpulkan dari hasil tersebut kelandaian di pantai Kampus Teluk Awur berkisar pada slope = 0.1. Dengan kata lain slope di tepi pantai Teluk Awur termasuk dalam kategori sangat landai, karena kemiringannya yang sangat kecil. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti arus, gelombang, angin serta pasang surut didaerah tersebut. Dari kondisi pantai teluk awur sendiri arus dan gelombangnya termasuk kategori arus dan gelombang yang kecil, sehingga mempengaruhi topografi dari pantai itu sendiri. Yang mana apabila topografi pantai tersebut masuk dalam kategori landai, maka arus dan gelombangnya kecil. Dilihat dari faktor biologis, di sekitar pantai Teluk Awur mulai dari dermaga sampai menuju kampus terdapat banyak vegetasi, salah satunya vegetasi bakau. Jarak antara vegetasi tersebut dengan bibir pantai kurang dari 10m. Yang mana bakau sendiri merupakan vegetasi yang dapat menampung material-material bawaan dari arus dan gelombang seperti sedimen. Sedimen yang terangkut dan kemudian terendapkan di Pohon bakau membuat daratan sekitar bibir pantai menjadi naik, sehingga menyebabkan topografinya menjadi landai.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan 1. Dari berat massa sedimen lebih banyak sedimen yang terangkut pada saat Back Swash, sehingga dapat disimpulkan terjadi erosi pada pantai Kampus Teluk Awur Jepara. 2. Kelandaiann di pantai Teluk Awur Kampus Jepara termasuk kategori sangat landai karena nilai I nya berada pada kisaran 0.1 3. Kelandaian itu sendiri dipengaruhi oleh faktor dari lingkungan sekitar, seperti Arus dan Gelombangnya yang kecil, serta terdapat banyak vegetasi bakau disekitar bibir pantai.

5.2 Saran 1. Untuk praktikum-praktikum berikutnya alangkah baiknya alat-alat praktikum dipersiapkan jauh hari sebelum dilaksanakan, agar tidak terdapat kekurangan alat. 2. Alat-alat praktikum yang sudah ada harusnya dicek ulang atau dikalibrasi supaya pada saat praktikum dilaksanakn tidak terjadi error data dan alat tidak bisa digunakan secara tiba-tiba.

DAFTAR PUSTAKA
http://sipla.pksplipb.or.id/?grup=jawa_barat&menu_aktif=35&dok=jawa_barat/BAB3/b ab3.htm (diunduh 21 Desember pukul 19.00 WIB) http://diskanlut-jateng.go.id/index.php/read/kp3k/profil_detail/45 Desember pukul 19.00 WIB) (diunduh 21

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=morfologi%20pantai%20utara%20%20jawa &source=web&cd=30&ved=0CFkQFjAJOBQ&url=http%3A%2F%2Fwww.bpdaspemalijratun.net%2Fdata%2Fi_mangrove%2FMicrosoft%2520Word%2520%252002_Kondisi%2520Umum.pdf&ei=gNbxTv_IDaL4mAX1wLmSAg&usg=AFQjCNFCv_C ROMGXmr_r8m7O63dwiYDBAw&sig2=Bk757Vuv0cxfS6AkFKFLXA (diunduh 21 Desember pukul 19.00 WIB) http://xaudiostone.blogspot.com/2011_06_01_archive.html (diunduh 21 Desember pukul 19.00 WIB) http://www.ilmukelautan.com/oseanografi/fisika-oseanografi/410-transpor-sedimen (diunduh 21 Desember pukul 19.00 WIB) http://en.wikipedia.org/wiki/Sediment (diunduh 21 Desember pukul 19.00 WIB) http://dhamadharma.wordpress.com/2010/04/19/analisis-proses-sedimentasi-yangterjadi-akibat-adanya-breakwater-di-pantai-balongan-indramayu/ (diunduh 21 Desember pukul 19.00 WIB) http://id.wikipedia.org/wiki/Erosi (diunduh 21 Desember pukul 19.00 WIB)

LAMPIRAN

Stasiun 1

Stasiun 5

Stasiun 2

Stasiun 4

Stasiun 3

SEDIMEN Peta letak titik pengambilan sampel