Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRATIKUM UJI MUTU BENIH ANALISIS KEMURNIAN FISIK BENIH PADI INPARI 13

Disusun Oleh :

Kelompok II
Adiyat Kafaby Azwar Anas Bayu Angga Febrian Marthen Jonatan Bani Tulus Yudi Widodo Wibowo A411947 A4111949 A4111950 A4111957 A4111962

PROGRAM STUDI TEKNIK PRODUKSI BENIH JURUSAN PRODUKSI TANAMAN KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NASIONAL POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2012
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Dasar Teori Kepastian mutu suatu Kelompok Benih yang diedarkan dan digunakan untuk penanaman sangat diperlukan untuk menjamin baik pengguna, pengedar maupun pengada. Aspek legal dari mutu benih ini memerlukan perangkat berupa metode pengujian yang standar. Metode ini diharapkan mampu memberikan hasil yang seragam apabila pengujian terhadap suatu kelompok benih dilakukan oleh institusi yang berbeda. Standar metode pengujian mutu benih yang ada selama ini mengacu pada ketentuan ISTA. Sebagai langkah pertama dalam pengujian benih adalah menyediakan contoh benih yang dapat dianggap seragam dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan ISTA. Tujuan penarikan contoh ialah untuk mendapatkan contoh benih yang mewakili kelompok benih dalam jumlah yang cukup untuk keperluan pegngujian mutu benih. Prinsip pengambilan contoh benih adalah mengambil contoh benih dari beberapa bagian dari suatu kelompok benih yang kemudian dicampur menjadi satu. Penarikan contoh dilakukan dengan mengambil dari berbagai sudut pada wadah terpilih dalam jumlah yang sama. Pada benih pertanian dan holtikultura, untuk benih yang berukuran seperti Triticum sp atau lebih besar, berat maksimum untuk setiap kelompok benih adalah 20.000 kg. untuk benih yang lebih kecil dari Triticum sp berat maksimumnya adalah 10.000 kg. Pada benih keras (true seed), untuk benih yang berukuran seperti benih Fagus sp atau lebih besar, berat maksimal adalah 5.000 kg. yntuk benih yang lebih kecil dari benih Fagus spp berat maksimum 1.000 kg. Bagi kelompok benih dengan kuantitas melebihi ketentuan di atsa, maka kelompok benih tersebut harus dipecah menjadi beberapa bagian dengan kuantitas benih yang tidak melebihi ketentuan yang telah ditetapokan. Contoh benih adalah sejumlah tertentu benih yang mewakili dari suatu kelompok benih yang cara pengambilannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan. Contoh primer adalah contoh benih yang didapat dari satu kali pengambilan baik dari bulk, silo, wadah benih ataupun aliran benih Contoh komposit adalah gabungan dari contoh primer

Contoh kiriman ialah contoh benih yang didapat denan jalan pengurangan yang merata dari contoh komposit untuk kiriman ke laboratorium benih guna keperluan pengujian mutu. Contoh kerja adalah contoh benih yang didapat dengan jalan penurangan yang merata dan bertahap dari contoh kiriman dengan berat yang ditetapkan utnuk keperluan salah satu pengujian mutu di laboratorium. Produksi benih komersial perlu didukung oleh program produksi benih sumber secara terus mnerus agar dapat menjamin kontinuitas ketersediaan benih bagi petani pengguna. Di Indonesia untuk benih non hibrida dikenal empat kelas benih yaitu benih penjenis (breeder seed/BS), benih dasar (Foundation Seed/FS), benih pokok (stock seed/SS), dan benih sebar (extension seed/ET). Selama memproduksi benih diupayakan agar diperoleh hasil benih bermutu tinggi. Factor penting yang berperan dalam keberhasilan produksi benih adalah mutu benih sumber (benih inti) dengan tingkat kemurnian yang tinggi. Kemurnian benih sangat menentukan usaha bidang pertanian (agribisnis), khususnya industry benih karena dengan penggunaan benih yang murni akan dihasilkan produk yang terjamin, baik kualitas maupun kuantitasnya. Kemurnian benih terdiri dari kemurnian fisik, fisiologis dan genetis. Uji kemurnian benih merupakan persentase berdasarkan berat benih murni yang terdapat dalam suatu contoh benih. Dalam kegiatan ini untuk menentukan komposisi berdasarkan berat dari contoh benih yang akan diuji atau dengan kata lain komposisi dari kelompok benih. Kegiatan ini meliputi identidikasi dari berbagai spesies benih dan partikel-partikel lain yang terdapat dalam contoh benih. Contoh benih yang akan diuji dengan tujuan mengetahui kemurnian secara fisik dapat dibedakan dalam komposisi : 1) benih murni, 2) varietas lain, 3) kotoran benih 1. Benih murni Benih murni adalah segala macam biji-bijian yang merupaka jenis/spesies yang sedang diuji. Termasuk dalam kategori: a. Benih masak dan utuh b. Benih yang berukuran kecil, mengkerut dan tidak masak c. Benih yang telah berkecambah sebelum diuji

d. Pecahan/potongan benih yang berukuran lebih dari separuh benih yang sesungguhnya, asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih itu termasuk ke dalam spesies yang dimaksud e. Biji yang terserang penyakit dan bentuknya masih dapat dikenali.

2. Benih Tanaman Lain Yang termasuk benih tanaman lain adalah benih jenis lain yang ikut tercampur dalam contoh & tidak dimaksudkan untuk diuji. Dalam hal ini beenih tanaman/varietas lain adalah benih dari semua dan/atau varietas tanaman pertanian yang tidak termasuk atau jenis varietas yang namanya tercantum pada label kemasan.

3. Kotoran Benih Kotoran benih adalah benih dan bagian dari benih serta bahan/material lain yang ukan bagian dari benih yang ikut terbawa dalam contoh. Dalam hal ini termasuk benih tanpa kulit benih, benih yang terlihat bukan benih sejati, biji hampa tanpa lembaga, pecahan benih

ukuran normal, cangkang benih, kulit benih, sekam, pasir, partikel tanah, jerami, ranting, daun, tangkai dan lain-lain.

1.2 Tujuan Mahasiswa diharapkan mampu: 1. Melakukan pengambilan contoh benih tanaman INPARI 13 2. Untuk mengetahui komposisi contoh kerja, kemurnian dan identitasnya yang akan mencerminkan komposisi lot benih yang didasarkan pada berat komponen pengujian. 3. Melakukan pengujian kemurnian fisik benih tanaman pangan Contoh kerja dipisahkan menjadi : Benih murni Biji tanaman lain Kotoran.

BAB 2. METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat 2.1.1 Pengambilan Contoh Benih Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 6 Juni 2012. Praktikum ini bertempat di Laboratorium TPB Politeknik Negeri Jember.

2.1.2 Uji Kemurnian Fisik Benih Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 13 Juni 2012. Praktikum ini bertempat di Laboratorium TPB Politeknik Negeri Jember.

2.2

Alat dan Bahan

2.2.1 Alat Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain homogenizer, sendok besar, kantong plastic flip, meja kemurnian, pinset/batang aluminium/spatula, timbangan analitik, gelas kaca kesil, kertas label, dan alat tulis. 2.2.2 Bahan Untuk praktikum minggu ke-I, bahan yang digunakan antara lain benih sebar tanaman Inpari 13, Ciherang, Cabai. Untuk praktikum minggu ke-II bahan yang digunakan antara lain benih Inpari 13.

2.3 Prosedur Pelaksanaan 2.3.1 Pengambilan Contoh Benih Prosedur pelaksanaan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. Memasukkan benih contoh kirim ke dalam Homogenizer 2. Menghomogenkan benih contoh kirim dengan menggunakan Homogenizer untuk benih berukuran besar. 3. Mengeluarkan benih contoh kirim dari homogenizer kemudian mengambil contoh kerja sesuai dengan standart sampling. Untuk tiap-tiap benih ukuran standart sampling berbeda-beda.

4. Memasukkan contoh kerja ke dalam kantong plastic 5. Member label sesuai jenis benih dan varietasnya

2.3.2 Uji Kemurnian Fisik Benih Prosedur pelaksanaan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. Meletakkan contoh kerja diatas meja kemurnian 2. Memisahkan komponen benih murni, campuran varietas lain dan kotoran benih dengan bantuan pinset/batang besi/spatula. 3. Menimbang masing-masing komponen 4. Memcatat masing-masing berat komponen. 5. Menentukan persentase kehilangan berat benih 6. Membuat laporan tertulis utnuk diserahkan kepada teknisi 7. Skema pengujian analisis kemurnian benih

2.4 Penghitungan 1. Mencatat semua hasil perhitungan 2. Menghitung dengan rumus: a. % Benih Murni = BM BM+BTL+KB b. % Benih Tanaman Lain = BTL BM+BTL+KB c. % Kotoran Benih = KB BM+BTL+KB x 100% x 100% x 100%

BAB 4. HASIL PENGAMATAN

Nama Benih Inpari 13 KB 0,153 gr BTL 0,087 gr BM 149,8 gr %BM 99,8 % %BTL 0,1 % %KB 0,1 % Jumlah % 100%

Perhitungan Benih murni (%) = = Biji tanaman lain (%) = = Kotoran (%) = =
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )

x 100% x 100% = 93,28%

x 100% x 100% = 0% x 100% x 100% = 6,59%

BAB 5. PEMBAHASAN

Pengujian mutu benih, yang meliputi pengujian mutu fisik, genetis dan fisiologis, merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di lapangan. Dimana pengujian masingmasing standar mutu kualitas benih memiliki standar tolak ukur yang berbeda-beda. Oleh karena itu, komponen-komponen mutu benih yang menunjukan korelasi dengan nilai pertanaman benih di lapang harus dievaluasi dalam pengujian. Dalam pengujian benih mengacu dari ISTA, dan beberapa penyesuaian telah diambil untuk mempertimbangkan kebutuhan khusus (ukuran, struktur, pola perkecambahan) jenis-jenis yang dibahas di dalam petunjuk ini. Beberapa penyesuaian juga telah dibuat untuk menyederhanakan prosedur pengujian benih. Pengujian benih, salah satunya adalah pengujian mutu fisik benih. Pengujian mutu fisik benih dapat dilakukan melalui analisis kemurnian benih. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan sampel yang mewakili lot benih yang kemudian dipisahkan antara kotoran dan benih tanaman lain untuk dihitung persentasenya dan dapat dihitung persentase kemurnian benihnya. Benih murni merupakan salah satu komponen dalam pengujian benih sangat penting dalam menghasilkan benih yang berkualitas tinggi. Pada pengujian daya berkecambah, benih yang diuji diambil dari fraksi benih murni. Benih murni yang merupakan salah satu komponen dalam pengujian benih, sangat penting dalam menghasilkan benih yang berkualitas tinggi. Pada pengujian daya berkecambah, benih yang diuji diambil dari fraksi benih murni. Dengan demikian hasil pengujian kemurnian benih dan daya kecambah benih mempengaruhi nilai benih untuk tujuan pertanaman. Pengujian kemurnian digunakan untuk mengetahui komposisi contoh kerja, kemurnian, dan identitasnya yang akan mencerminkan komposisi lot benih yang didasarkan pada berat komponen pengujian. Dalam pengujian kemurnian contoh kerja kemurnian dipisahkan menjadi benih murni, biji tanaman lain, dan kotoron (ISTA). Penentuan kemurnian dilakukan untuk mengetahui komposisi contoh benih yang diuji, yang mencerminkan komposisi kelompok benih yang diwakilinya. Contoh kerja dipisahpisahkan ke dalam komponen benih murni, benih tanaman lain dan kotoran fisik lainnya. Kemurnian ditentukan berdasarkan persentase berat masing-masing komponen terhadap berat awal contoh kerja.

Pemurnian benih bertujuan : 1) membuang benih spesies lain yang berbeda dengan spesies yang diproduksi dan bahanbahan pengotor. 2) memilih benih murni dari beni-benih yang kecil, berwarna tidak normal,dan benih-benih yang tidak sehat lainnya. Pemurnian benih tidak dapat dilakukan dengan sembarangan karena masing-masing kelompok benih mempunyai masalah yang harus dianalisis dan dipecahkan dengan menggunakan perangkat mesin dengan cara yang benar.Untuk benih yang sedikit pengayakan dapat dilakukan tetapi pada benih yang banyak harus dilakukan dengan mesin penampi. Ketika dibersihkan , benih dipisahkan dari kontaminan, tanah ,debu, dan sekam dan benih yang inferior (diluar ukuran lazim,keriput, retak-retak,dan berpenyakit). Dari data hasil praktikum yang dilakukan di lab. TPB Polije tersebut, sampel benih Inpari 13 memiliki kemurnian 99,8 %, Benih Tanaman Lain 0,1 % dan kotoran 0,1 %. Ini berarti faktor kehilangan benih tidak lebih besar dari 5%, sehingga benih yang digunakan pada praktikum ini termasuk benih yang bermutu fisik baik.. Semakin baik mutu fisik benih, akan berpengaruh pada semakin baik mutu genetis dan fisiologis. Sebab murni benih tersebut, maka daya kecambah dan campuran dari benih lain juga sedikit, sehingga karakter benih terjaga dan tumbuh di lapangan dengan optimal.

BAB 6. PENUTUP

6.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah : Tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih. Dengan mengetahui kemurnian benih kita dapat menentukan mutu benih tersebut. Pada benih Inpari 13 didapat kemurnian benih 99,8%. Faktor kehilangan benih dalam pengujian ini lebih kecil dari 5%, sehingga pengujian itu dapat dikatakan benih yang digunakan pada praktikum ini bermutu fisik baik. 6.2 Saran Setiap benih yang akan digunakan untuk pembibitan tanaman, hendaknya dilakukan uji kemurnian benih tersebut, untuk mengetahui mutu fisik benih tersebut. Karena hal ini sangat berkaitan dengan mutu genetis dan fisiologis dari benih tersebut. Maka persentase perkecambahan benih akan semakin tinggi dan sifat/karakter dari varietas tersebut terjaga kemurniannya. Sehingga nantinya benih yang kita dapat untuk bahan pertanaman dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan hasil yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Garden Decorations. 2004. Struktur biji. http://www.ramadhan.20m.com/whats_new.html. Diakses 12 Juni 2012. Kemurnian Benih. 2009. Pengujian Kemurnian Benih. www.google.com. Diakses 10 Juni 2012. Uji Mutu Benih. 2012. BKPM Pasca Panen Benih. Politeknik Negeri Jember. Jember

Tim Penyusun. 2009. Penuntun Praktikum Teknologi Benih. Jurusan Budidaya, Fakultas Pertanian. Universitas Udayana. Denpasar.