Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN Bronkhitis adalah penyakit yang ditandai dengan peradangan akut pada saluran napas di dalam paru-paru.

Saluran napas yang terkena adalah trakhea dan bronkhus. Peradangan yang timbul dapat disebabkan oleh infeksi atau sebab lain. The American Academy of Family Physicians menyebutkan bahwa bronkitis akut biasanya disebabkan oleh bakteri atau virus, dan sering kali pula sulit disembuhkan. Mereka merekomendasikan untuk lebih banyak istirahat, minum banyak air putih dan tidak mengkonsumsi minuman berkafein, jaga lingkungan di dalam ruangan dan sabarlah untuk beberapa hari atau minggu hingga penyakit ini akan hilang dengan sendirinya. Batuk merupakan gejala utama bronkhitis. Batuk dapat berupa batuk kering atau batuk berdahak. Batuk dengan dahak yang banyak menandakan telah terjadi infeksi pada saluran napas bawa dan paru-paru, dan mungkin penyakit yang timbul adalah pneumonia.Batuk biasanya berhenti setelah lebih dari dua minggu. Batuk yang berkepanjangan dapat menyebabkan nyeri dan bengkak pada otot-otot dada dan perut. Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru-paru serta saluran pernapasan menahun. Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari sinusitis kronis, bronkiektasis, alergi, dan pembesaran amandel pada anak-anak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1

A. Definisi Secara harfiah bronkitis adalah suatu penyakit yang ditanda oleh inflamasi bronkus. Secara klinis pada ahli mengartikan bronkitis sebagai suatu penyakit atau gangguan respiratorik dengan batuk merupakan gejala yang utama dan dominan. Ini berarti bahwa bronkitis bukan penyakit yang berdiri sendiri melainkan bagian dari penyakit lain tetapi bronkitis ikut memegang peran.( Ngastiyah, 1997 ) Bronkitis berarti infeksi bronkus. Bronkitis dapat dikatakan penyakit tersendiri, tetapi biasanya merupakan lanjutan dari infeksi saluran peranpasan atas atau bersamaan dengan penyakit saluran pernapasan atas lain seperti Sinobronkitis, Laringotrakeobronkitis, Bronkitis pada asma dan sebagainya (Gunadi Santoso, 1994) B. Epidemiologi Di Amerika Serikat, menurut National Center for Health Statistics, kirakira ada 14 juta orang menderita bronkitis. Lebih dari 12 juta orang menderita bronkitis akut pada tahun 1994, sama dengan 5% populasi Amerika Serikat. Di dunia bronkitis merupakan masalah dunia. Frekuensi bronkitis lebih banyak pada populasi dengan status ekonomi rendah dan pada kawasan industri. Bronkitis lebih banyak terdapat pada laki-laki dibanding wanita. Data epidemiologis di Indonesia sangat minim (Samer Qarah, 2007) C. Etiologi Penyebab utama penyakit Bronkitis Akut adalah adalah virus. Sebagai contoh Rhinovirus Sincytial Virus (RSV), Infulenza Virus, Para-influenza Virus, Adenovirus dan Coxsakie Virus. Bronkitis Akut selalu terjadi pada anak yang menderita Morbilli, Pertusis dan infeksi Mycoplasma Pneumonia. Belum ada bukti yang meyakinkan bahwa bakteri lain merupakan penyebab primer Bronkitis Akut pada anak. Di lingkungan sosio-ekonomi yang baik jarang terdapat infeksi sekunder oleh bakteri. Alergi, cuaca, polusi udara dan infeksi saluran napas atas dapat memudahkan terjadinya bronkitis akut. Sedangkan pada Bronkitis Kronik dan Batuk Berulang adalah sebagai berikut : 2

a. Spesifik 1) Asma 2) Infeksi kronik saluran napas bagian atas (misalnya sinobronkitis). 3) Infeksi, misalnya bertambahnya kontak dengan virus, infeksi mycoplasma, hlamydia, pertusis, tuberkulosis, fungi/jamur. 4) Penyakit paru yang telah ada misalnya bronkietaksis. 5) Sindrom aspirasi. 6) Penekanan pada saluran napas 7) Benda asing 8) Kelainan jantung bawaan 9) Kelainan sillia primer 10) Defisiensi imunologis 11) Kekurangan anfa-1-antitripsin 12) Fibrosis kistik 13) Psikis b. Non-spesifik 1. Asap rokok 2. Polusi udara

D. Patologi, Patogenesis, dan Patofisiologi

1. Patologi Kelainan utama pada bronkitis kronik adalah hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus bronkus, dimana dapat menyebabkan penyempitan pada saluran bronkus, sehingga diameter bronkus ini menebal lebih dari 30-40% dari normal. Terdapat juga peradangan difus, penambahan sel mononuklear di 3

submukosa trakeo bronkial, metaplasia epitel bronkus dan silia berkurang. Yang penting juga adalah perubahan pada saluran napas kecil yaitu sekresi sel goblet, bukan saja bertambah dalam jumlahnya akan tetapi juga lebih kental sehingga menghasilkan substansi yang mukopurulen, sel radang di mukosa dan submukosa, edema, fibrosis peribronkial, penyumbatan mukus intraluminal dan penambahan otot polos.

2. Patogenesis 4

Dua faktor utama yang menyebabkan bronkitis yaitu adanya zat-zat asing yang ada di dalam saluran napas dan infeksi mikrobiologi. Bronkitis kronik ditandai dengan hipersekresi mukus pada saluran napas besar, hipertropi kelenjar submukosa pada trakea dan bronki. Ditandai juga dengan peningkatan sekresi sel goblet di saluran napas kecil, bronki dan bronkiole, menyebabkan produksi mukus berlebihan, sehingga akan memproduksi sputum yang berlebihan.

3.

Patofisiologi Pada bronkitis terjadi

penyempitan saluran pernapasan. Penyempitan ini dapat menyebabkan obstruksi jalan napas dan menimbulkan sesak. Pada bronkitis kronik, disebabkan karena perubahan pada saluran pernapasan kecil, yang diameternya kurang dari 2 mm, menjadi lebih sempit, berkelok-kelok dan kadang-kadang terjadi obliterasi. Penyempitan lumen terjadi juga oleh metaplasia sel goblet. Saluran pernapasan besar juga menyempit karena hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus. Pada penderita bronkitis saat terjadi ekspirasi maksimal, saluran pernapasan bagian bawah paru akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. Hal ini akan mengakibatkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang, sehingga penyebaran udara pernapasan maupun aliran darah ke alveoli tidak merata. Timbul hipoksia dan sesak napas. Lebih jauh lagi hipoksia alveoli menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah paru dan polisitemia. Terjadi hipertensi pulmonal yang dalam jangka lama dapat menimbulkan kor pulmonal. 5

E.

Manifestasi Klinis 1. Batuk berdahak. Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya pasien mengalami batuk produktif di pagi hari dan tidak berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau mukoid, jika ada infeksi menjadi purulen atau mukopurulen. 2. Sesak nafas Bila timbul infeksi, sesak napas semakin lama semakin hebat. Terutama pada musim dimana udara dingin dan berkabut. 3. Sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu). 4. Wheezing (mengi). Saluran napas menyempit dan selama bertahun-tahun terjadi sesak progresif lambat disertai mengi yang semakin hebat pada episode infeksi akut (McPhee, et al., 2003). 5. Pembengkakan pergelangan kaki dan tungkai kiri dan kanan. 6. Wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan. 6

Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek, yaitu hidung meler, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan nyeri tenggorokan. Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa minggu (Anonim, 2004). F. Diagnosis 1. Anamnesis : riwayat penyakit yang ditandai tiga gejala klinis utama (batuk, sputum, sesak) dan faktor-faktor penyebabnya. 2. Pemeriksaan fisik. a. Bila ada keluhan sesak, akan terdengar ronki pada waktu ekspirasi maupun inspirasi disertai bising mengi. b. Pasien biasanya tampak kurus dengan barrel-shape chest (diameter anteroposterior dada meningkat). c. Iga lebih horizontal dan sudut subkostal bertambah. d. Perkusi dada hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih rendah, pekak jantung berkurang. e. Pada pembesaran jantung kanan, akan terlihat pulsasi di dada kiri bawah di pinggir sternum. f. Pada kor pulmonal terdapat tanda-tanda payah jantung kanan dengan peninggian tekanan vena, hepatomegali, refluks hepato jugular dan edema kaki. 3. Pemeriksaan penunjang. a. Pemeriksaan radiologi. Ada hal yang perlu diperhatikan yaitu adanya tubular shadow berupa bayangan garis-garis yang paralel keluar dari hilus menuju apeks paru dan corakan paru yang bertambah. b. Pemeriksaan fungsi paru. 7

Terdapat VEP1 dan KV yang menurun, VR yang bertambah dan KTP yang normal. Sedang KRF sedikit naik atau normal. Diagnosis ini dapat ditegakkan dengan spirometri, yang menunjukkan (VEP) volume ekspirasi paksa dalam 1 detik < 80% dari nilai yang diperkirakan, dan rasio VEP1 : KVP <70% (Rubenstein, et al., 2007). c. Pemeriksaan gas darah. Penderita bronkitis kronik tidak dapat mempertahankan ventilasi dengan baik sehingga PaCO2 naik dan PO2 turun, saturasi hemoglobin menurun dan timbul sianosis, terjadi juga vasokonstriksi pembuluh darah paru dan penambahan eritropoeisis. d. Pemeriksaan EKG. Pemeriksaan ini mencatat ada tidaknya serta perkembangan kor pulmonal (hipertrofi atrium dan ventrikel kanan) (Rubenstein, et al., 2007). e. Pemeriksaan laboratorium darah : hitung sel darah putih. G. Penatalaksanaan 1. Penyuluhan. Harus dijelaskan tentang hal-hal mana saja yang dapat memperberat penyakit dan harus dihindari serta bagaimana cara pengobatan yang baik. 2. Pencegahan. Mencegah kebiasaan merokok (dihentikan), menghindari lingkungan polusi, dan dianjurkan vaksinasi untuk mencegah eksaserbasi. 3. Terapi eksaserbasi akut. a. Antibiotik, karena biasanya disertai infeksi. 1. Infeksi ini umumnya disebabkan oleh H. influenzae dan S. pneumoniae, maka digunakan ampisilin 4 x 0,25-0,5 g/hari atau eritromisin 4 x 0,5 g/hari. 2. Agmentin (amoksisilin dan asam klavulanat) dapat diberikan jika kuman infeksinya adalah H. influenzae dan B. catarhalis yang memproduksi b-laktamase. 8

Pemberian antibiotik seperti kortrimoksasol, amoksisilin, atau doksisiklin pada pasien yang mengalami eksaserbasi akut terbukti mempercepat pertumbuhan dan membantu mempercepat kenaikan peak flow rate. Namun hanya dalam 7-10 hari selama periode eksaserbasi. Pemberian moxifloxacin 400 mg sekali sehari aman dan dapat ditoleransi dengan baik, sangat efektif untuk pengobatan enfeksi saluran napas oleh bakteri, terutama bronkitis, pneumonia komunitas dan sinusitis dengan perbaikan gejala yang cepat (Setiawati, et al., 2005). b. Terapi oksigen. Diberikan jika terjadi kegagalan jalan napas karena hiperkapnia dan berkurangnya sensitivitas terhadap CO2. Pemberian oksigen jangka panjang (> 15 jam/hari) meningkatkan angka bertahan hidup pada pasien dengan gagal napas kronis (Rubenstein, et al., 2007). c. Fisioterapi membantu pasien untuk mengeluarkan sputum. d. Bronkodilator. Untuk mengatasi obstruksi jalan napas, termasuk di dalamnya adrenergik b dan antikoligernik, dan gejala agonis B, pasien dapat diberikan sulbutamol 5 mg dan atau ipratropium bromida 250 mikrogram diberikan tiap 6 jam dengan nebulizer atau aminofilin 0,25-0,5 g iv secara perlahan. 4. Terapi jangka panjang. a. Antibiotik untuk kemoterapi preventif jangka panjang, ampisilin 4 x 0,250,5/hari dapat menurunkan eksaserbasi akut. b. Bronkodilator. Tergantung tingkat reversibilitas obstruksi saluran napas tiap pasien, maka sebelum pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan obyektif dari fungsi faal paru. c. Fisioterapi. d. Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik.

e. Mukolitik dan ekspektoran. f. Terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang mengalami gagal napas tipe II dengan PaO2 < 7,3 kPa (55mmHg). g. Rehabilitasi.

Postural drainage, perkusi dan vibrasi dada digunakan untuk mengeluarkan mukus. Untuk memperbaiki efisiensi ventilasi, penderita dapat berlatih napas tipe abdominal dan purse lips. Untuk merehabilitasi fisiknya, kepercayaan terhadap dirinya dan meningkatkan toleransi latihan, dapat dilakukan latihan fisis yang teratur secara bertingkat dan dilatih untuk melakukan pekerjaan secara efisien dengan energi sedikit mungkin. H. Prognosis Penderita yang sebelumnya sehat mempunyai prognosis yang sangat baik, tetapi mereka yang sudah menderita bronchitis kronik sebelumnya, prognosis ditentukan oleh kondisi sebelum terkena infeksi akut ini. Makin jelek kondisi sebelumnya, makin mundurlah prognosisnya. Prognosis jangka pendek maupun jangka panjang bergantung pada umur dan gejala klinisnya. Pada eksaserbasi akut, prognosis baik dengan terapi. Pada pasien bronkitis kronik dan emfisema lanjut dan VEP1 < 1 liter survival rate selama 5-10 tahun mencapai 40%.

10

BAB III PENYAJIAN KASUS I. ANAMNESIS : Tn. A : Laki laki : 70 tahun : Anjungan Melancar : Petani

Identitas Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Pekerjaan

Tanggal Masuk RS : 16 April 2010

Anamnesis dilakukan pada tanggal 19 April pukul 07.00 WIB

Keluhan Utama Batuk darah

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke RS dengan keluhan batuk darah sejak 1 minggu yang lalu,dengan darah berwarna merah segar dan sedikit menggumpal. Mula-mula batuk darah hanya sedikit-sedikit, namun 2 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk darah 5 gelas dengan lendir (+). Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami batuk darah. Selain itu, pasien juga sering mengeluhkan demam yang hilang timbul, kadang berkeringat pada malam hari, dan nafsu makan berkurang. Sesak napas disangkal, merokok (-). Pasien juga mengeluh nyeri sendi, terutama pada pagi hari. Keluhan ini sudah dialami sejak beberapa tahun yang lalu. Pasien belum pernah mendapatkan obat 6 bulan yang membuat kencing berwarna merah (OAT). Riwayat Penyakit Dahulu 11

Pasien memiliki riwayat sakit maag dan reumatik. Pasien pernah dirawat di RSUD dr.Soedarso diruangan penyakit dalam Riwayat Penyakit Keluarga Di keluarga tidak ada yang mengalami keluhan serupa. Riwayat Sosial Ekonomi Pasien bekerja sebagai petani. Biaya pengobatan menggunakan jamkesmas. II. PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada tanggal 19 Desember 2008 pukul 07.15 WIB Status Generalis Keadaan umum Keadaan sakit Kesadaran Tanda vital - Nadi - Napas - Suhu Kulit Kepala Mata Telinga Hidung Mulut Leher Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : iktus kordis tidak terlihat : iktus kordis tidak teraba : tidak ada pembesaran jantung 12 : 70 x/menit, isi cukup dengan irama teratur : 24 x/menit, teratur, kedalaman cukup, dengan jenis pernapasan abdomino-torakal : 36,9C, aksilar : warna kulit sawo matang, sianosis (-), dekubitus (-) : bentuk tidak ada kelainan, simetris, dan nyeri tekan (-) : konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-) : sekret (-) : sekret (-), deviasi septum (-) : bibir sianosis (-), lidah kotor (-), tonsil T1/T1 : pembesaran limfonodi (-), kaku kuduk (-), deviasi trakea (-), pembesaran tiroid (-), bendungan JVP (-) - Tekanan darah : 150/90 mmHg : sedang : tampak sakit sedang : kompos mentis, GCS : E4M6V5

Auskultasi : bunyi jantung I/II normal, bising (-), gallop (-) Abdomen - Inspeksi - Palpasi - Perkusi - Auskultasi Ekstremitas : bentuk normal, venektasi (-) : nyeri tekan (+) di regio epigastrium, hati tidak teraba, lien tidak teraba : asites (-) : bising usus normal : oedema (-), sianosis (-), jari tabuh (-), tremor (-) pada ekstremitas atas Status Lokalis Torak Paru - Inspeksi - Palpasi - Perkusi - Auskultasi : statis : simeris dinamis : gerakan paru simetris, tidak ada ketinggalan gerak : fremitus kanan = kiri sama : sonor di seluruh lapang paru : vesikuler di kedua lapang paru, rhonki (+) di basal paru : bentuk normal

III.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium (hasil pemeriksaan tanggal 16-4-2008) Hb Ht Leukosit Trombosit Ureum Kreatinin GDS : 9,6 g/dL : 26,5 % : 9.500/L : 201.000 /L : 28 mg/dL : 1,1 mg/dL : 156 mg/dL

IV.

RESUME Pasien datang ke RS dengan keluhan batuk darah sejak 1 minggu dengan darah berwarna merah segar dan sedikit menggumpal. Mula-mula batuk darah hanya sedikit-sedikit, namun 2 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk darah 5 gelas

13

dengan lendir (+). Selain itu, pasien juga sering mengeluhkan demam yang hilang timbul, kadang berkeringat pada malam hari, dan nafsu makan berkurang. Pasien juga mengeluh nyeri sendi, terutama pada pagi hari. Keluhan ini sudah dialami sejak beberapa tahun yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan, perkusi sonor di seluruh lapang paru, dan auskultasi terdengar suara vesikuler di kedua lapang paru, dan rhonki halus di basal paru kanan dan kiri. Selain itu, terdapat nyeri tekan (+) pada daerah epigastrium abdomen. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil penurunan Hb.

V. DIAGNOSIS

Diagnosis sementara : Bronkhitis Osteoartritis Gastritis :

Diagnosis banding TB paru Bronkiektasis VI. TATALAKSANA Non Medikamentosa : - Tirah baring

- Terapi cairan RL atau glukosa 5% 500 ml - Terapi nutrisi Medikamentosa : - Asam Tranexamat 3 x 1 - Injeksi Ceftriaxone 1 x 1 gr - Asetaminofen 3 x 1 - Injeksi Ranitidin 3 x 1 ampul Usulan Pemeriksaan Lanjutan : Pemeriksaan BTA (SPS) Rntgen Thoraks PA

14

VII.

PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanactionam : dubia ad bonam : bonam : bonam

CATATAN KEMAJUAN selasa, 20/04/2010 S O : batuk darah 1 gelas, BAB mencret & darah (+), demam pada malam hari, keringat dingin (-), nafsu makan baik. : Keadaan umum tampak sakit ringan Kesadaran kompos mentis, GCS 15 TD : 150/80 mmHg, FN : 52x/menit, FP : 22x/menit, suhu 36,50 C Pemeriksaan paru : - Inspeksi : statis : simeris gerak - Palpasi : fremitus sama di kedua lapang paru - Perkusi : sonor di seluruh lapang paru - Auskultasi : vesikuler di kedua lapang paru, rhonki halus dibasal paru kanan dan kiri A P : - bronchitis, gastritis, osteoarthritis - DD : TB paru dan bronkiektasis : - terapi cairan RL 20 tetes/ menit Asam tranexamat 3 x 1 Injeksi ceftriaxon 1 x 1 gr Foto rontgen thorax dinamis : gerakan paru simetris, tidak ada ketinggalan

Rabu, 21/04/2010 S : batuk darah sedikit pada pagi hari, BAB normal dan darah (-), demam(-), keringat dingin (-), nafsu makan baik, kaki kanan dan kiri bengkak dan nyeri, nyeri perut. O : Keadaan umum tampak sakit sedang Kesadaran kompos mentis, GCS 15 TD : 150/80 mmHg, FN : 52x/menit, FP : 22x/menit, suhu 36,50 C 15

Pemeriksaan paru : - Inspeksi : statis : simeris gerak - Palpasi : fremitus sama di kedua lapang paru - Perkusi : sonor di seluruh lapang paru - Auskultasi : vesikuler di kedua lapang paru, rhonki halus dibasal paru kanan dan kiri Hasil pemeriksaaan sputum BTA 1 : gagal A P S O : - bronchitis, gastritis, osteoarthritis - DD : TB paru dan bronkiektasis : - terapi cairan RL 20 tetes/ menit Asam tranexamat 3 x 1 Injeksi ceftriaxon 1 x 1 gr Injeksi ranitidin 1 x 1 ampul Ulang pemeriksaan sputum BTA : batuk berdahak, darah (-), kaki kanan bengkak & terasa kram serta sulit digerakkan, nyeri perut. : Keadaan umum tampak sakit sedang Kesadaran kompos mentis, GCS 15 TD : 140/70 mmHg, FN : 72x/menit, FP : 22x/menit, suhu 370 C Pemeriksaan paru : - Inspeksi : statis : simeris gerak - Palpasi : fremitus sama di kedua lapang paru - Perkusi : sonor di seluruh lapang paru - Auskultasi : vesikuler di kedua lapang paru, rhonki halus diapeks paru kanan dan kiri A P : - bronchitis, gastritis, osteoarthritis - DD : TB paru dan bronkiektasis : - terapi cairan RL 20 tetes/ menit Injeksi ceftriaxon 1 x 1 gr 16 dinamis : gerakan paru simetris, tidak ada ketinggalan dinamis : gerakan paru simetris, tidak ada ketinggalan

Kamis, 22/04/2010

Injeksi ranitidin 1 x 1 ampul

Jumat, 23/04/2010 S O : batuk berkurang, darah (-), dahak warna putih kekuning-kuningan, kaki kanan bengkak & terasa kram serta sulit digerakkan, nyeri perut. : Keadaan umum tampak sakit sedang Kesadaran kompos mentis, GCS 15 TD : 150/80 mmHg, FN : 98x/menit, FP : 20x/menit, suhu 360 C Pemeriksaan paru : - Inspeksi : statis : simeris gerak - Palpasi : fremitus sama di kedua lapang paru - Perkusi : sonor di seluruh lapang paru - Auskultasi : vesikuler di kedua lapang paru, rhonki halus diapeks paru kanan dan kiri Hasil pemeriksaan sputum BTA : gagal dinamis : gerakan paru simetris, tidak ada ketinggalan

Hasil Foto Rontgen :

17

A P S O

Diafragma normal, sudut costofrenikus lancip Tulang belakang : skoliosis Jantung dalam batas normal Paru-paru : infiltrat (-), kalsifikasi (-), fibrosis (-) - DD : TB paru dan bronkiektasis

: - bronchitis, gastritis, osteoarthritis : - terapi cairan RL 20 tetes/ menit Dextromethoprim 3 x 1 Injeksi ranitidin 1 x 1 ampul : batuk (-), bengkak pada kaki berkurang, nyeri (-), kram (-), sudah bisa digerakkan. : Keadaan umum tampak sakit ringan Kesadaran kompos mentis, GCS 15 TD : 120/90 mmHg, FN : 76x/menit, FP : 22x/menit, suhu 36,30 C Pemeriksaan paru : - Inspeksi : statis : simeris gerak - Palpasi : fremitus sama di kedua lapang paru - Perkusi : sonor di seluruh lapang paru - Auskultasi : vesikuler di kedua lapang paru, rhonki (-) dinamis : gerakan paru simetris, tidak ada ketinggalan

Senin, 26/04/2010

A P

: - bronchitis, gastritis, osteoarthritis - DD : TB paru dan bronkiektasis : - Dextromethoprim 3 x 1

18

BAB IV PEMBAHASAN Pasien datang dengan keluhan batuk darah. Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien datang ke RS dengan keluhan batuk darah sejak 1 minggu dengan darah berwarna merah segar dan sedikit menggumpal. Mula-mula batuk darah hanya sedikit-sedikit, namun 2 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk darah 5 gelas dengan lendir (+). Selain itu, pasien juga sering mengeluhkan demam yang hilang timbul, kadang berkeringat pada malam hari, dan nafsu makan berkurang. Pasien juga mengeluh nyeri sendi, terutama pada pagi hari. Keluhan ini sudah dialami sejak beberapa tahun yang lalu. Dari pemeriksaan fisik didapatkan, perkusi sonor di seluruh lapang paru, dan auskultasi terdengar suara vesikuler di kedua lapang paru, dan rhonki halus di basal paru kanan dan kiri. Selain itu, terdapat nyeri tekan (+) pada daerah epigastrium abdomen. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil penurunan Hb. Pemeriksaan BTA yang dilakukan tidak didapatkan hasil, hal ini kemungkinan sampel yang diperoleh tidak dapat digunakan untuk pemeriksaan. Sedangkan dari hasil pemeriksaan radiologi, tidak didapatkan kelainan baik pada paru-paru maupun jantung dan lainnya. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan sputum dan pemeriksaan rontgen ditegakkan diagnosis bronkhitis dengan diagnosis banding bronkiektasis dan TB paru. Bronchitis ditegakkan sebagai diagnosis kerja karena berdasarkan dari anamnesis didapatkan bahwa keluhan pasien sesuai dengan gejala-gejala bronkitis, yaitu :.batuk berdahak disertai lender, serta demam yang hilang timbul. TB paru diambil sebagai diagnosis banding karena TB paru juga memiliki gejala-gejala yang sesuai dengan keluhan pasien. Gejala utama pasien TB paru adalah 19

batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, dan demam meriang lebih dari satu bulan. Walaupun pada gambaran rntgen toraks tidak tampak infiltrat, ini tidak bisa menyingkirkan TB paru sebagai diagnosis. Tidak dibenarkan mendiagnosis atau menyingkirkan TB paru hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. Diagnosis TB paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Karena pasien merupakan suspek TB paru, jadi perlu diperiksa 3 spesimen dahak sewaktu - pagi sewaktu (SPS). Pemeriksaan BTA yang dilakukan pada pasien tidak diperoleh hasil. Namun setelah pemberian antibiotik selama 5 hari, keluhan batuk yang dialami pasien enjadi berkurang. Oleh sebab itulah, diagnosis TB paru dapat disingkirkan. Hal ini diperkuat dengan hasil foto rotgen thorak dengan hasil normal. Bronkiektasis diambil sebagai diagnosis banding karena bronkiektasis memiliki gejala-gejala yang mirip dengan bronkhitis yaitu : batuk-batuk dan berdahak. Hanya pada bronkiektasis, sputum pasien bersifat purulen (berwarna hijau) dalam jumlah banyak, sering berhubungan dengan infeksi bakteri, ronki basah kasar pada auskultasi, ditemukannya jari tabuh, dan gambaran foto toraks tampak dilatasi bronkus dan penebalan dinding bronkus. Sementara pada pasien, sputumnya berwarna putih kadang-kadang kekuningan, gambaran rntgen toraks tidak tampak dilatasi dan penebalan dinding bronkus, tidak ditemukan jari tubuh. Jadi, bronkiektasis dapat disingkirkan. Pasien ini perlu diberikan terapi non medikamentosa berupa : tirah baring untuk mengurangi perdarahan, terapi cairan RL atau glukosa 5 % sebanyak 20 tetes/menit dan terapi nutrisi. Pada pasien bronchitis bisa terjadi penurunan nafsu makan. Jadi, pasien ini perlu diberikan terapi nutrisi karena pasien tampak kurus (mungkin sudah terjadi malnutrisi).

20

Terapi medikamentosa yang diberikan pada pasien ini adalah Asam Tranexamat 3 x 1, Injeksi Ceftriaxone 1 x 1 gr, Allupurinol 3 x 1, Injeksi Ranitidin 3 x 1 ampul. Asam tranexamat merupakan obat yang digunakan untuk mengobati perdarahan. Obat ini bekerja dengan menghambat aktivasi plasminogen sehingga keadaan fibrinolotik dapat dikontrol. . Bila infeksi berlanjut maka perjalanan penyakit akan semakin memburuk. Penanganan infeksi yang cepat dan tepat sangat perlu dalam penatalaksanaan penyakit. Pemberian antibiotik (mencakup antibiotik untuk Haemophilus influenzae, pneumokokus, dan Moraxella catarrhalis) dapat mengurangi lama dan beratnya penyakit . Salah satu antibiotik yang dapat digunakan adalah golongan sefalosporin generasi ketiga, misalnya : ceftriaxone. Injeksi ranitidine diberikan untuk mengurangi nyeri perut akibat gastritis yang diderita pasien. Sedangkan untuk mengurangi batuknya, diberikan dextrometoprim. Pemberian dextrometoprim ini setelah perdarahan berhenti, agar tidak terjadi asfiksia akibat penekanan reflek batuk. Untuk mengobati osteoarthritis yang dialami pasien, terapi medikamentosa yang diberikan hanya sebagai analgesik dan mengurangi peradangan, yaitu asetaminofen.

21

BAB V KESIMPULAN Bronchitis merupakan penyakit yang dapat dicegah dan dirawat dengan beberapa gejala, yang dapat mengakibatkan tingkat keparahan yang berbeda pada tiap individu. Bronkitis adalah suatu peradangan pada saluran bronkial atau bronki. Pada pasien ini, masalah yang dialaminya berupa batuk darah. Didiagnosis bronchitis dengan diagnosis banding TB paru dan bronkiektasis berdasarkan hasil pemeriksaan klinik maupun penunjang. Selama dirawat dirumah sakit, pasien perlu mendapatkan terapi nonmedikamentosa berupa tirah baring, terapi cairan, dan terapi nutrisi. Sedangkan untuk terapi medikamentosanya, dapat diberikan asam tranexamat, ceftriaxon, ranitidine, DMP, dan asetaminofen.

22

DAFTAR PUSTAKA 1. Anonim. 2004. Bronkitis. http://ww.medicastore.com/med. 2007 2. Anonim. 2004. Penyakit Paru Obstruktif Menahun. http://www.medicastore.com/med. 2007 3. McPhee, S.J., et al. 2003. Pathophysiology of Disease: An Introduction to Clinical Medicine. 4th ed. United State of America : Lange Medical Book McGraw-Hill Companies. 4. Miravitlless, Marc. 2007. Determining Factors in the Prescription of Moxifloxacin in Exacerbations of Chronic Bronchitis in the Primary-Care Setting. http://web.ebscohost.com/ehost. 2007 5. Qarah, Samer. 2007. Bronchitis. http://www.emedicine.com/med. 2007 6. Rubenstein, D., et al. 2007. Lecture Notes: Kedokteran Klinis, edisi keenam. Penerbit Erlangga. Jakarta 7. Setiawati, A., Darmansjah, I., and Mangunnegoro, H. 2005. Safety and tolerability of moxifloxacin in the treatment of respiratory tract infections a post-marketing surveillance conducted in Indonesia. Medical Journal of Indonesia. vol.:14, no:1, hlm. 11-19.

23

Beri Nilai