Penerapan Activity Based Budgeting di Dinas Pendidikan Bogor

0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan81 halaman
Skripsi ini menganalisis penerapan Activity Based Budgeting (ABB) pada anggaran operasional Dinas Pendidikan Kota Bogor untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan. Penelitian ini membandingkan metode konvensional dan ABB, menunjukkan bahwa meskipun penyimpangan anggaran dengan ABB lebih kecil, keduanya masih dalam batas pengendalian. Data yang digunakan mencakup data primer dan sekunder yang diolah menggunakan Microsoft Excel dan SPSS.

Diunggah oleh

nurulrifani5
Lisensi
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS PENERAPAN ACTIVITY BASED BUDGETING (ABB)

PADA ANGGARAN OPERASIONAL


KANTOR DINAS PENDIDIKAN KOTA BOGOR

Oleh

DEVI AYU ARIASTUTI

H24097026

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN


DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
RINGKASAN

DEVI AYU ARIASTUTI. H24097026. Analisis Penerapan Activity Based Budgeting


(ABB) pada Anggaran Operasional Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor. Dibawah
bimbingan FARIDA RATNA DEWI.

Dinas Pendidikan Kota Bogor adalah suatu lembaga pemerintah yang memberikan
pelayanan pendidikan bagi masyarakat khususnya di daerah kota Bogor dan sekitarnya. Didalam
mengelola aspek keuangan dinas pendidikan kota bogor harus mempunyai suatu strategi agar target-
target dapat tepat dan berjalan dengan baik. Lemahnya perencanaan anggaran pada akhirnya akan
memunculkan kemungkinan underfinancing atau overfinancing yang kesemuanya mempengaruhi
tingkat efisiensi dan efektifitas unit kerja pemerintah. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka
tujuan penelitian adalah (1) Mengetahui prosedur penyusunan anggaran operasional pada Dinas
Pendidikan Kota Bogor, (2) Menganalisis perbedaan antara anggaran yang disusun secara
konvensional dengan anggaran yang disusun dengan metode ABB pada Dinas Pendidikan Kota
Bogor, (3) Menganalisis penyimpangan selisih antara anggaran yang disusun secara konvensional
dengan anggaran yang disusun dengan metode ABB pada Dinas Pendidikan Kota Bogor.
Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh
melalui pengamatan langsung dan wawancara pegawai bagian keuangan. Data sekunder diperolah
dari Renstra Dinas Pendidikan tahun 2009 dan 2010, Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja
Perangkat Daerah (DPA-SKPS) Dinas Pendidikan Tahun Anggaran 2009 dan 2010, Laporan
Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Derah tahun 2009 dan 2010, serta data sekunder yang
mendukung. Dalam penelitian ini pengelolahan data anggaran tersebut diolah dengan menggunakan
Microsoft Excel 2007 dan SPSS 16.0.
Prosedur penyusunan anggaran pada Dinas Pendidikan Kota Bogor dimulai dengan
penyusunan Rencana Kerja Anggaran (RKA) yang terdiri dari Renja dan Resntra. Kemudian Kepala
Daerah membuat Dokumen Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat
Daerah (RKA-SKPD). Tujuanya dibuat RKA-SKPD kepada Kepala Daerah agar dibahas oleh Tim
Anggaran Pemda, hasil persetujuan antara Kepala Daerah dan DPRD diperoleh dokumen Rencana
Peraturan Daerah tentang penjabaran Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Setelah itu
Perda disusun menjadi Rencana Dokumen Pelaksana Anggaran Satuan Perangkat Daerah (Renc.
DPA-SKPD) kemudian diajukan kepada Kepala Daerah berupa Verifikasi DPA oleh Tim Anggaran
Pemda. DPA-SKPD adalah dokumen yang memuat pendapatan, belanja dan pembiayaan yang
digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh pengguna anggaran. Setelah itu anggaran akan
dicairkan sesuai dengan yang tertera pada DPA-SKPD.
Anggaran yang telah disusun dengan kedua metode, yaitu metode konvensional dan metode
ABB. Anggaran yang disusun dengan metode konvensional memiliki nilai total Rp. [Link],
yang terdiri dari: Biaya Personalia Rp. [Link], Biaya Rumah Tangga
Rp. 12.301.600, Biaya Administrasi Rp. 72.603.400, Biaya Gedung dan Lingkungan Rp.
23.230.000, Biaya Penyusutan Rp. 28.540.000, dan Biaya Pemeliharaan Kendaraan Rp. 15.000.000.
Sedangkan untuk metode ABB mempunyai nilai total Rp. [Link], yang terdiri dari : Biaya
Personalia Rp. [Link], Biaya Rumah Tangga Rp. 13.601.600, Biaya Administrasi Rp.
78.900.400, Biaya Gedung dan Lingkungan Rp. 24,550,000, Biaya Penyusutan Rp. 30.815.000, dan
Biaya Pemeliharaan Kendaraan Rp. 20.000.000.
Penyimpangan dari anggaran yang disusun secara konvensional memiliki nilai thitung sebesar
-1,119. Sedangkan penyimpangan dengan menggunakan metode ABB memiliki nilai thitung sebesar -
1,016. Dari uji hipotesis yang dilakukan menunjukkan bahwa penyimpangan dengan metode ABB
lebih kecil dibandingkan dengan konvensional, namun penyimpangan yang terjadi masih dalam
batas pengendalian.
Judul : ANALISIS PENERAPAN ACTIVITY BASED BUDGETING (ABB) PADA
ANGGARAN OPERASIONAL KANTOR DINAS PENDIDIKAN KOTA
BOGOR
Nama : DEVI AYU ARIASTUTI
NIM : H24097026

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Farida Ratna Dewi, SE, MM


NIP 19710307 200501 2 001

Mengetahui :
Ketua Departemen,

Dr. Ir. Jono M. Munandar [Link]


NIP 196101231986011002

Tanggal Lulus :
ANALISIS PENERAPAN ACTIVITY BASED BUDGETING (ABB)
PADA ANGGARAN OPERASIONAL
KANTOR DINAS PENDIDIKAN KOTA BOGOR

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI
Pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen
Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Oleh

DEVI AYU ARIASTUTI

H24097026

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN


DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Cirebon pada tanggal 23 November 1988. Penulis memulai


pendidikan formal pada tahun 1993 di TK Bakung Wati, Cirebon dan lulus pada tahun
1994, kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Dasar SD Kartika Sejahtera,
Bogor. Karena setelah lulus taman kanak-kanak Ayah langsung dipindahtugaskan ke
Jakarta dan menetap di Bogor. Sejak SD kelas 4 sampai SMP kelas 2 penulis mengikuti
pelatihan tari Jaipong di Balaikota Bogor. Pada tahun 2000 penulis melanjutkan
pendidikan ke SMPN 6 Bogor, dan menyelesaikan pendidikan ditahun 2003 dan ditahun
yang sama melanjutkan pendidikan ke SMAN 9 Bogor. Penulis pernah mengikuti
kegiatan Marching Band sebagai perwakilan dari SMAN 9 Bogor. Pendidikan tingkat
atas dapat diselesaikan pada tahun 2006.
Penulis diterima sebagai mahasiswa Diploma III, Universitas Indonesia (UI)
jurusan Perumahsakitan Fakultas Kedokteran pada tahun 2006 . Penulis pernah
melakukan magang di Rumah Sakit Bogor Medical Center (BMC) di Bogor selama 4
bulan pada bulan Februari sampai Mei tahun 2009. Penulis melakukan PKL untuk
menyelesaikan tugas akhir Diploma III sebagai tugas akhir untuk dinyatakn lulus. Pada
tahun 2009 penulis dinyatakan lulus sebagai ahli madya (Amd).
Setelah menyelesaikan program D III ditahun 2009 penulis melanjutkan studi
pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen, Departemen Manajemen, Fakultas
Ekonomi dan Manajemen IPB. Sewaktu menuntut ilmu di program Sarjana Alih Jenis
Manajemen, penulis aktif di organisasi kemahasiswaan, yakni sebagai anggota Exstention
of Management (EXOM) Club periode 2009-2010. Untuk memperoleh gelar Sarjana
Ekonomi IPB, Penulis menulis skripsi dengan judul Analisis Penerapan Activity Based
Budgeting (ABB) pada Anggaran Operational Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor
dibawah bimbingan ibu Farida Ratna Dewi, SE, MM.

iii
KATA

Segala puji dan syukur senantiasa ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
Rahmat dan Karunia-Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian
Bogor. Judul skripsi ini adalah Analisis Penerapan Activity Based Budgeting (ABB) pada
Anggaran Operasional Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor.
Tidak ada yang sempurna di dunia ini, skripsi ini pun juga masih memiliki banyak
kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang kontruktif sangat diperlukan demi
tercapainya hal yang lebih baik. Penulis berharap, semoga skripsi ini dapat bermanfaat
bagi berbagai pihak, Amin.

Bogor, Maret 2012

Penulis

iv
UCAPAN TERIMA

Penyusunan skripsi ini, penulis dibantu oleh berbagai pihak, baik secara moril
maupun materil. Oleh karena itu, penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Farida Ratna Dewi, SE, MM sebagai dosen pembimbing yang telah banyak
meluagkan waktunya untuk member bimbingan, saran, motivasi, dan pengarahan
kepada penulis.
2. Drs. Edward H. Siregar, MM dan Hardiana Widyastuti, S,Hut.,MM selaku dosen
penguji. Terima kasih atas masukan, serta saran yang diberikan kepada penulis.
3. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, beserta seluruf staf pegawai yang telah
memberikan bimbingan serta informasi dalam penyusunan skripsi ini.
4. Seluruh staf pengajar dan karyawan/wati di Program Sarjana Alih Jenis Manajemen,
Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.
5. Mama dan papa yang selalu memberikan semangat,inspirasi hidup,dukungan, dan doa
yang tulus kepada penulis.
6. Kakakku Leni dan adikku Adi yang telah memberikan semangat dan menghibur
penulis serta mando’akan dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Teman-teman seperjuangan di Program Sarjana Ahli Jenis Manajemen Angkatan 6
(enam), yang selalu bersama-sama mengukir kenangan indah selama mengikuti
perkuliahan di Program Sarjana Alih Jenis Manajemen, Departemen Manajemen,
Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.
8. Rozi Fauza yang telah memberikan dukungan, saran, dan motivasi kepada penulis.
9. Tiara dan Stefanny yang selalu mendukung penulis dan menemani penulis dalam
sedih maupun duka.
10. Crew Cr7 (Elvira, Anthy, Teh Ani, Mbak Niken, Amanda, Deli, Sudar, Mbak Mona,
Dewi) yang telah memberikan semangat dan menghibur penulis selama mengerjakan
skripsi.
11. Teman-teman satu bimbingan (Andrew, Tika, Kiki, Mbak Nina, Yunan, Teh Aci)
yang selalu memberikan saran dan motivasi penulis.

v
12. Semua pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat
disebutkan satu persatu.
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan memberikan pahala atas
semua bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Amin.

Bogor, Maret 2012

Penulis

vi
DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN
RIWAYAT HIDUP...…………………………………………………….……... iii
KATA PENGANTAR………………………………………………..……...….. iv
UCAPAN TERIMA KASIH……………………………………………. ……... v
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL........................................................................................................viii
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………. ix
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………… x
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang...............................................................................................1
1.2. Perumusan Masalah.......................................................................................3
1.3. Tujuan Penelitian...........................................................................................4
1.4. Manfaat Penelitian.........................................................................................4
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ...................................................................... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anggaran….………..……………………………………………….… 6
2.1.1. Definisi Anggaran……………………………………………… 6
2.1.2. Fungsi Anggaran.................................................................................7
2.1.3. Tujuan dan Manfaat Anggaran...........................................................8
2.1.4. Karakteristik Anggaran.......................................................................9
2.1.5. Prosedur Penyusunan Anggaran.......................................................10
2.1.6. Metode Pembuatan Anggaran….......................................................11
2.1.7. Proses Pengendalian Anggaran.........................................................11
2.1.8. Konsep Anggaran Berdasarkan Aktivitas.........................................12
2.2. Anggaran Sektor Publik..............................................................................15
2.2.1. Pengertian Sektor Publik...................................................................15
2.2.2. Pengertian Anggaran Sektor Publik..................................................15
2.2.3. Fungsi Anggaran Sektor Publik........................................................16
2.2.4. Tujuan Anggaran Sektor Publik.......................................................17
2.2.5. Prinsip Anggaran Sektor Publik.......................................................17
2.2.6. Jenis-jenis Anggaran Sektor Publik..................................................18
2.2.7. Sistem Anggaran Sektor Publik........................................................18
2.2.8. Analisis Varians Anggaran...............................................................20
2.3. Hasil Penelitian Terdahulu…......................................................................21

vi
III. METODE PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian.................................................................23
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian.....................................................................24
3.3. Metode Penelitian......................................................................................25
3.3.1 Metode Pengumpulan Data..............................................................25
3.3.2 Pengelolaan dan Analisis Data.........................................................25
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Dinas Pendidikan Kota Bogor…………………. 29
4.1.1 Visi, Misi, Kebijakan ………………………………………. 29
4.1.2 Struktur Organisasi…………………………………………. 29
4.1.3 Tugas Pokok dan Fungsi……………………………………. 31
4.2. Penganggaran pada Kantor Dinas Pendidikan…………………….. 36
4.3. Analisis Biaya Berdasarkan Aktivitas…………………………….. 39
4.3.1 Aktivitas-aktivitas utama pada proses kerja kantor Dinas
Pendidikan Kota Bogor………………………………… …. 39
4.3.2 Penggerak Aktivitas………………………………………… 41
4.3.3 Penggerak Aktivitas yang dibutuhkan……………………… 42
4.3.4 Sumber Daya dan Biaya yang dibutuhkan dalam
Pelaksanaan Aktivitas……………………………………...... 42
4.3.5 Anggaran Investasi Baru……………………………………. 48
4.3.6 Anggaran Biaya Tidak Langsung per Aktivitas…………….. 49
4.4. Perhitungan Anggaran Biaya Dinas Pendidikan Kota Bogor……… 51
4.4.1 Anggaran yang disusun secara Konvensional………………. 51
5.4.2 Anggaran yang disusun dengan Metode ABB……………… 51
6.4.3 Perbandingan Anggaran Konvensional versus ABB……….. 52
7.4.4 Perbandingan Varians Anggaran Konvensional vs ABB…… 52
5.4. Uji Penyimpangan…..................................................................................55

KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………………….. 57


1. Kesimpulan …………………………………………………………... 57
2. Saran………………………………………………………………….. 58
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 31

vii
DAFTAR

No Halaman

1. Perbandingan penganggaran konvensional dengan ABB..……….…. 14


2. Activity driver pada aktivitas di Kantor Dinas Pendidikan Bogor....… 41
3. Rincian perhitungan aktivitas.…………………………………….…. 42
4. Daftar gaji rata-rata pegawai tahun 2009……………………………. 43
5. Perhitungan biaya personel per aktivitas ..………………………….. 44
6. Biaya pemeliharaan sarana dan prasarana 2009………….……....…. 45
7. Asumsi biaya pemeliharaan sarana dan prasarana tahun 2009…..….. 46
8. Kendaraan dinas .................................................................................. 46
9. Biaya administrasi tahun 2009…………………………………...….. 47
10. Biaya perlengkapan rumah tangga 2009…………………………….. 48
11. Kegiatan investasi dan perbaikan kantor tahun 2009........................... 51
12. Rencana penyusutan biaya tahun 2009................................................ 49
13. Rincian anggaran biaya tidak langsung................................................ 50
14. Perhitungan yang disusun secara konvensional 2009.......................... 51
15. Perhitungan anggaran dengan metode ABB untuk tahun 2010............ 51
16. Perbandingan anggaran yang disusun konvensional dan ABB............. 52
17. Perhitungan varians anggaran konvensional vs realisasi tahun 2010.. 53
18. Perhitungan varians anggaran ABB vs realisasi tahun 2010............... 54
19. Perbedaan uji penyimpangan................................................................. 56

viii
DAFTAR

No. Halaman

1. Skema prinsip ABB dan ABC (Kaplan & Cooper)......................................13


2. Kerangka pemikiran penelitian…...............................................................24
3. Tahapan anggaran DPA-SKPD…..............................................................28

ix
DAFTAR

No Halaman

1. Struktur organisasi Dinas Pendidikan Kota Bogor…..........................................61


2. Kegiatan pada Dinas Pendidikan Kota Bogor......................................................62
3. Biaya pemeliharaan sarana dan prasarana tahun 2009….....................................66
4. Biaya administrasi tahun 2009…..........................................................................67
5. Asumsi harga barang investasi tahun 2010….......................................................68
6. Rencana penyusutan investasi tahun 2010…........................................................69
7. Hasil uji penyimpangan anggaran konvensional…...............................................70
8. Hasil uji penyimpangan anggaran abb…..............................................................71
9. Perhitungan biaya investasi 2010…......................................................................72
10. Perhitungan biaya alokasi 2009…........................................................................73

x
I.

1.1. Latar Belakang

Era reformasi saat ini memberikan peluang bagi perubahan paradigma


pembangunan nasional. Perubahan dari paradigma pertumbuhan menuju paradigma
pemerataan pembangunan secara lebih adil dan berimbang. Perubahan paradigma ini
antara lain diwujudkan melalui kebijakan otonomi daerah dan perimbangan keuangan
pusat dan daerah yang diatur dalam satu paket undang-undang yaitu Undang-Undang
No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 25 tahun
1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Tujuan pemberian otonomi daerah pada hakekatnya ditujukan untuk
memberikan kekuasaan dan kesempatan kepada daerah untuk menyelenggarakan
otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab mulai dari perencanaan,
pengawasan, dan evaluasi. Pada dasarnya terkandung tiga misi utama pelaksanaan
otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, yaitu: (1) Meningkatkan kuantitas dan
kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat, (2) Menciptakan efisiensi
dan efektifitas pengelolaan sumber daya daerah, dan (3) Memberdayagunakan dan
menciptakan ruang bagi masyarakat (publik) untuk berpartisipasi dalam proses
pembangunan.
Penggunaan anggaran dalam pembangunan diharapkan memberikan manfaat
tidak saja untuk meningkatkan pendapatan, namun juga diharapkan dapat
memberikan ruang gerak ekonomi yang telah kondusif dan menyentuh akar masalah
yang faktual dalam masyarakat. Pengelolaan (manajemen) keuangan daerah dapat
dibagi menjadi dua bagian yaitu manajemen penerimaan daerah dan manajemen
pengeluaran daerah. Kedua komponen tersebut akan sangat menentukan kedudukan
suatu pemerintah daerah dalam rangka melaksanakan otonomi daerah. Perubahan
tersebut antara lain adalah perlunya dilakukan budgeting reform atau reformasi
anggaran.
Menurut Mardiasmo (2009), Aspek utama budgeting reform adalah perubahan
dari traditional budget ke performance budget. Secara garis besar terdapat dua
pendekatan utama yang memiliki perbedaan mendasar. Kedua pendekatan tersebut
2

adalah: (a) Anggaran tradisional atau anggaran konvensional dan (b) Pendekatan baru
yang sering dikenal dengan pendekatan New Public Management. New Public
Manajemen adalah anggaran yang berorientasi pada kinerja, salah satunya adalah
Planning Programming and Budgeting System (PPBS)
Akuntansi manajemen sektor publik sangat erat dengan proses pemilihan
program, penentuan biaya, dan manfaat program serta penganggaran. Anggaran
publik merupakan alat perencanaan sekaligus alat pengendalian pemerintah.
Anggaran sebagai alat perencanaan mengindikasikan target yang harus dicapai oleh
pemerintah, sedangkan anggaran sebagai alat pengendalian mengindikasikan alokasi
sumber dana publik yang disetujui legislatif untuk dibelanjakan. Melalui data
rekening belanja yang terdapat dalam anggaran belanja lembaga/organisasi, akan
dilihat apakah anggaran yang telah dibuat, dapat berperan sebagai pengendalian
terhadap pelaksanaan kegiatan pemerintah.
Menurut Mardiasmo (2009), anggaran adalah alat manajemen kebijakan
ekonomi dan akuntabilitas, serta merupakan pedoman bagi segala tindakan yang akan
dilaksanakan pemerintah meliputi rencana pendapatan, belanja, bagi hasil
pendapatan, dana cadangan, dan pembiayaan dalam satuan rupiah yang disusun
menurut klasifikasi anggaran secara sistematis untuk satu periode akuntansi guna
mencapai tingkat efisiensi dan efektivitas juga sebagai alat control di dalam
menjalankan pemerintahan.
Dinas Pendidikan Kota Bogor sebagai lembaga pemerintah yang memberikan
pelayanan kepada masyarakat, khususnya di bidang pendidikan, membutuhkan suatu
strategi dalam mengelola aspek anggaran dan keuangan secara lebih efektif dan
berimbang. Salah satu strategi pengelolaan anggaran yang dapat digunakan yaitu
melalui anggaran operasional, karena dengan anggaran operasional, Dinas Pendidikan
Kota Bogor dapat merencanakan pengalokasian biaya-biaya yang terjadi dalam
jangka pendek, sehingga dapat diatasi pemborosan biaya yang tidak perlu. Upaya
mengembangkan efisiensi dan keefektifan program serta pengalokasian sumber-
sumber pada aktivitas, Dinas Pendidikan Kota Bogor dapat menggunakan anggaran
operasional sebagai pengendali bagi penggunaan dana yang keluar. Dengan begitu
apabila terdapat perbedaan antara anggaran operasional dengan realisasinya dapat
3

dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk penyusunan anggaran belanja tahun


berikutnya.

1.2. Perumusan Masalah

Dinas Pendidikan Kota Bogor sebagai lembaga pemerintah yang memberikan


pelayanan bagi masyarakat, setidaknya mempunyai strategi yang dapat
dikembangkan agar pelayanan yang dilakukan menjadi efisien dan efektif, terutama
didalam masalah pengelolaan anggaran. Dinas Pendidikan Kota Bogor masih
menggunakan penganggaran dengan metode konvensional/tradisional sehingga sering
terjadi selisih antara anggaran dengan realisasinya. Didalam penelitian ini, peneliti
menggunakan sumber dana keuangan (2 tahun) yakni tahun 2009 dan 2010. Data
anggaran dan realisasi pada tahun 2009 akan digunakan sebagai dasar dalam
penyusunan anggaran dengan menggunakan metode Activity Based Budgeting (ABB)
dengan mempertimbangkan activity driver, sumberdaya yang dibutuhkan, biaya yang
dikeluarkan dengan mempertimbangkan tingkat inflasi dan depresiasi dari penyusutan
investasi. Hasil perolehan anggaran yang telah disusun dengan metode ABB nantinya
akan dibandingkan dengan data anggaran dan realisasi tahun 2010 yang masih
berdasarkan perhitungan konvensional. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk
melihat efisiensi pengalokasian dana terhadap berbagai aktivitas dalam perencanaan
anggaran Dinas Pendidikan Kota Bogor dengan menggunakan metode ABB.
Berdasarkan latar belakang ini, maka perlu merumuskan pokok permasalahan
sebagai berikut:
1. Bagaimana prosedur penyusunan anggaran operasional pada Dinas Pendidikan
Kota Bogor?
2. Bagaimana perbandingan antara anggaran yang disusun secara konvensional
dengan anggaran yang disusun dengan metode ABB pada Dinas Pendidikan Kota
Bogor?
3. Bagaimana penyimpangan selisih antara anggaran yang disusun secara
konvensional dengan anggaran yang disusun dengan metode ABB pada Dinas
Pendidikan Kota Bogor?
4

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang terjadi, maka tujuan dari pelaksanaan penelitian


ini adalah:
1. Mengetahui prosedur penyusunan anggaran operasional pada Dinas
Pendidikan Kota Bogor.
2. Menganalisis perbedaan antara anggaran yang disusun secara konvensional
dengan anggaran yang disusun dengan metode ABB pada Dinas Pendidikan
Kota Bogor.
3. Menganalisis penyimpangan selisih antara anggaran yang disusun secara
konvensional dengan anggaran yang disusun dengan metode ABB pada Dinas
Pendidikan Kota Bogor.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Bagi Dinas Pendidikan Kota Bogor
Penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan yang bermanfaat bagi Dinas
Pendidikan Kota Bogor untuk dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan
yang mungkin terjadi dalam proses penyusunan anggaran selama ini. Selain
itu, untuk mengadakan perbaikan yang diperlukan agar terjadi keseimbangan
antara anggaran dan realisasinya terhadap kegiatan yang ada di Dinas
Pendidikan Kota Bogor. Disamping itu, penting untuk mengadakan perbaikan-
perbaikan yang mungkin diperlukan dalam upaya meningkatkan efektivitas
dan efisisensi anggaran pada Dinas Pendidikan Kota Bogor.
2. Bagi Penelitian Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan sebagai bahan referensi dalam melakukan penelitian
selanjutnya yang berkaitan dengan masalah anggaran berbasis aktivitas, juga
penelitian ini dapat dijadikan karya ilmiah yang layak dijadikan acuan dan
dapat menambah pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat pada
umumnya.
5

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini hanya membahas mengenai anggaran operasional yang


direncanakan dan dilaksanakan pada kegiatan internal Kantor Dinas Pendidikan
Kota Bogor pada tahun 2010 dengan menggunakan referensi anggaran tahun 2009
yang mempertimbangkan atau melihat prosedur penyusunan anggaran operasional
pada Dinas Pendidikan Kota Bogor. Evaluasi dilakukan terhadap realisasi dengan
membandingkan antara anggaran operasional yang telah ditetapkan dengan
aktivitas yang dilakukan untuk melihat efisiensi pengalokasian dana dalam
perencanaan anggaran Dinas Pendidikan Kota Bogor dengan suatu metode
perhitungan biaya yaitu Activity Based Budgeting (ABB).
6

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anggaran

2.1.1 Pengertian Anggaran


Menurut Hansen dan Mowen (2005), anggaran yaitu rencana keuangan
untuk masa depan. Rencana tersebut mengidentifikasi tujuan dan tindakan yang
diperlukan untuk mencapainya. Anggaran merupakan estimasi kinerja yang
hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran
finansial. Sedangkan penganggaran adalah proses atau metode untuk
mempersiapkan suatu anggaran (Mardiasmo, 2009).
Menurut Nafarin (2007) anggaran adalah suatu rencana keuangan periodik
yang disusun berdasarkan program-program yang telah disahkan. Anggaran
(budget) merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang
direncanakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang
untuk jangka waktu tertentu. Anggaran merupakan alat manajemen dalam
mancapai tujuan. Jadi, anggaran bukan tujuan dan tidak dapat menggantikan
manajemen.
Menurut Munandar (2001), budget (anggaran) ialah suatu rencana yang
disusun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang
dinyatakan dalam unit (satuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode)
tertentu yang akan datang. Budget merupakan hasil kerja (output) yang terutama
berupa taksiran-taksiran yang akan dilaksanakan diwaktu yang akan datang.
Karena suatu budget merupakan hasil kerja (output), maka budget dituangkan
dalam suatu naskah tulisan yang disusun secara teratur dan sistematis. Sedangkan,
yang dimaksud budgeting ialah proses kegiatan yang menghasilkan budget, yaitu
fungsi-fungsi pedoman kerja, alat pengkoordinasian kerja dan alat pengawasan
kerja. Secara lebih terperinci, proses kegiatan yang tercakup dalam budgeting
tersebut antara lain: (1) pengumpulan data dan informasi yang diperlukan untuk
menyusun budget, (2) pengolahan dan penganalisaan data dan informasi tersebut
untuk mengadakan taksiran-taksiran dalam rangka menyusun budget, (3)
menyusun budget serta menyajikan secara teratur dan sistematis, (4)
7

pengkoordinasian pelaksanaan budget, (5) pengumpulan data dan informasi untuk


keperluan pengawasan kerja, yaitu untuk mengadakan penilaian (evaluasi)
terhadap pelaksanaan budget, dan (6) pengolahan dan penganalisaan data tersebut
untuk mengadakan interpretasi dan memperoleh kesimpulan-kesimpulan dalam
rangka mengadakan penilaian (evaluasi) terhadap kerja yang telash dilaksanakan,
serta menyusun kebijakan-kebijakan sebagai tindak lanjut (follow up) dari
kesimpulan-kesimpulan tersebut.
2.1.2 Fungsi Anggaran
Menurut Nafarin (2007), ada beberapa fungsi dalam anggaran, yaitu:
1. Fungsi Perencanaan
Anggaran sebagai alat perencanaan juga harus memperhatikn kaitan anggaran
yang satu dengan anggaran yang lain. Aspek yang penting dari perencanaan
dengan menggunakan anggaran adalah perencanaan dana yang tersedia
seefisien mungkin. Jadi fungsi anggarannya yaitu menentukan rencana belanja
dari sumber dana yang ada seefisien mungkin.
2. Fungsi Pelaksanaan
Anggaran sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan artinya sebelum pekerjaan
dilaksanakan terlebih dahulu mendapat persetujuan yang berwenang (terutama
dalam hal keuangan). Sehingga tiap bagian harus melaksanakan tugasnya
secara selaras, terarah, terkoordinasi sesuai dengan yang direncanakan atau
yang telah ditetapkan dalam anggaran.
3. Fungsi Pengawasan
Anggaran merupakan alat pengawasan/pengendalian (controlling).
Pengawasan berarti mengevaluasi (menilai) terhadap pelaksanaan pekerjaan
dengan cara :
a. Membandingkan realisasi dengan rencana (anggaran).
b. Melakukan tindakan perbaikan bila dipandang perlu (apabila terdapat
penyimpangan yang merugikan).
Sehingga anggaran dijadikan pedoman sebagai alat pengawasan oleh
pejabat pemerintah untuk bertanggung jawab menjalankan operasi dan untuk
mengadakan penilaian dari hasil yang dicapai.
8

2.1.3 Tujuan dan Manfaat Anggaran


Anggaran dibuat dengan tujuan tertentu, yaitu untuk memudahkan dalam
pengalokasian dana dan memudahkan pengawasan aliran dana tersebut sehingga
tidak terjadi pengeluaran dana yang tidak sesuai dengan target yang telah
ditetapkan. Menurut Nafarin (2007), tujuan penyusunan anggaran antara lain :
1) Digunakan sebagai landasan yuridis formal dalam memilih sumber dan
investasi dana.
2) Memberikan batasan atas jumlah dana yang dicari dan digunakan.
3) Merinci jenis sumber dana yang dicari maupun jenis investasi dana.
4) Merasionalkan sumber dan investasi dana agar dapat mencapai hasil yang
maksimal.
5) Menyempurnakan rencana yang telah disusun, karena dengan perencanaan
maka anggaran lebih jelas dan nyata.
6) Menampung dan menganalisis serta memutuskan setiap hal yang
berkaitan dengan keuangan.
Sedangkan manfaat anggaran menurut Nafarin (2007):
1) Segala kegiatan dapat terarah pada pencapaian tujuan bersama.
2) Dapat digunakan sebagai alat menilai kelebihan dan kekurangan pegawai
3) Dapat memotivasi pegawai.
4) Menimbulkan rasa tanggungjawab pada pegawai.
5) Menghindari pemborosan dan pembayaran yang kurang perlu.
6) Sumber daya seperti tenaga kerja, peralatan, dan dana dapat dimanfaatkan
seefisien mungkin.
7) Alat pendidikan bagi para pejabat pemerintah, khususnya bagian
keuangan pada Dinas Pendidikan Kota Bogor.
9

2.1.4 Karakteristik Anggaran


Dalam penyusunan anggaran baik anggaran belanja maupun anggaran
operasional dibutuhkan karakteristik anggaran yang baik agar hasilnya terlihat baik
pula. Menurut Mulyadi (2002), anggaran mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1) Anggaran dinyatakan dalam satuan keuangan.
2) Anggaran umumnya mencakup jangka waktu satu tahun.
3) Anggaran berisi komitmen atau kesanggupan manajemen, yang berarti bahwa
para manajer setuju untuk menerima tanggung jawab untuk mencapai sasaran
yang ditetapkan dalam anggaran.
4) Usulan anggaran diulas dan disetujui oleh pihak yang berwenang lebih tinggi
dari penyusun anggaran.
5) Sekali disetujui anggaran hanya dapat diubah dibawah koordinasi tertentu.
6) Secara berkala kinerja keuangan sesungguhnya dibandingkan dengan anggaran
dan selisihnya di analisis dan dijelaskan.
Menurut Mulyadi (2002) anggaran yang baik memiliki karakteristik berikut :
1) Anggaran disusun berdasarkan program
Rencana jangka panjang yang dituangkan dalam program memberikan arah
kemana kegiatan perusahaan ditujukan dalam jangka panjang. Anggaran
merinci pelaksanaan program, sehingga anggaran yang disusun setiap tahun
memiliki arah seperti yang ditetapkan dalam rencana jangka panjang.
2) Anggaran disusun berdasarkan pusat pertanggungjawaban yang dibentuk
dalam organisasi perusahaan.
3) Anggaran berfungsi sebagai alat perencanaan dan pengendalian. Untuk
menghasilkan anggaran yang dapat berfungsi sebagai alat perencanaan dan
sekaligus sebagai alat pengendalian, penyusunan anggaran harus memenuhi
syarat berikut ini :
a. Partisipasi para pejabat Dinas Pendidikan Kota Bogor dalam
bertanggungjawab pada proses penyusunan anggaran.
b. Anggaran yang telah dibuat sangat mempengaruhi kinerja organisasi yang
ada pada Dinas Pendidikan Kota Bogor.
1

4) Penggunaan informasi akuntansi pertanggungjawaban sebagai alat mengirim


pesan dalam proses penyusunan anggaran dan sebagai pengukur para pejabat
pengelola anggaran yang ada pada Dinas Pendidikan Kota Bogor dalam
pelaksanaan anggaran.
2.1.5 Prosedur Penyusunan Anggaran
Penyusunan anggaran harus sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan,
agar penyusunan anggaran dapat dilaksanakan dengan baik. Adapun prosedur
penyusunan anggaran menurut Nafarin (2007) adalah:
1) Tahap penentuan pedoman perencanaan (anggaran)
Anggaran yang akan dibuat pada tahun akan datang, hendaknya disiapkan
beberapa bulan sebelum tahun anggaran berikutnya dimulai. Dengan demikian
anggaran yang dibuat dapat digunakan pada awal tahun anggaran.
2) Tahap persiapan anggaran
Pejabat pengelola anggaran sebelum menyusun anggaran dengan terlebih
dahulu menyusun forecast pengeluaran (taksiran/ramalan). Setelah itu
kemudian bekerja sama dengan para pejabat di Dinas Pendidikan Kota Bogor
untuk menyusun anggaran lainnya.
3) Tahap penentuan anggaran
Pada tahap penentuan anggaran diadakan rapat dari semua manajer beserta
direksi (direktur) untuk :
a. Merundingkan dalam penyesuaian rencana akhir setiap komponen
anggaran
b. Mengkoordinasikan dan menelaah komponen-komponen anggaran
c. Pengesahan dan pendistribusian anggaran.
4) Tahap pelaksanaan anggaran
Tahap ini adalah tahap dimana anggaran dilaksanakan. Untuk kepentingan
pengawasan tiap manajer membuat laporan realisasi anggaran. Setelah
dianalisis, kemudian laporan realisasi anggaran disampaikan pada direksi.
1

2.1.6 Metode Pembuatan Anggaran


Menurut Mulyadi (2002), ditinjau dari siapa yang membuatnya maka
penyusunan anggaran dapat dilakukan dengan cara :
1) Otoriter atau top down
Dalam metode otoriter, anggaran yang disusun dan ditetapkan sendiri oleh
pimpinan dan anggaran inilah yang harus dilaksanakan tanpa keterlibatan
bawahan dalam penyusunannya.
2) Demokrasi atau bottom up
Dalam metode demokrasi anggaran disusun berdasarkan hasil keputusan
karyawan. Anggaran disusun mulai dari bawahan sampai ke atasan. Bawahan
diikutsertakan sepenuhnya menyusun anggaran yang akan dicapainya dimasa
yang akan datang.
3) Campuran atau top down dan buttom up
Metode ini adalah campuran dari kedua metode diatas. Di sini perusahaan
menyusun anggaran dengan memulainya dari atas kemudian untuk selanjutnya
dilengkapi dan dilanjutkan oleh karyawan bawahan. Jadi, ada pedoman dari
atasan atau pimpinan dan dijabarkan oleh bawahan sesuai dengan pengarahan
atasan.
2.1.7 Proses Pengendalian Anggaran
Proses pengendalian menurut Welsch, et al (2000), didefinisikan sebagai
proses mengukur dan mengevaluasi kinerja aktual dari setiap bagian organisasi
suatu perusahaan, kemudian melaksanakan tindakan perbaikan apabila
diperlukan. Menurut Mulyadi (2002), proses pengendalian anggaran dilaksanakan
melalui tiga tahap utama, antara lain:
1) Tahap Penetapan Sasaran
Tujuan dari Dinas Pendidikan Kota Bogor kemudian dirinci lebih lanjut ke
dalam sasaran (goal) dan dibebankan pencapaiannya kepada para pejabat
pengelola anggaran dalam proses penyusunan anggarannya. Alokasi sumber
daya dalam proses penyusunan anggaran perlu diukur dengan satuan moneter
standar dengan menggunakan ukuran akuntansi. Informasi akuntansi
1

manajemen berperan dalam tahap penetapan sasaran sebagai alat pengirim


peran.
2) Tahap Implementasi
Setelah sasaran ditetapkan dan ditunjuk manajer yang bertanggung jawab atas
pencapaian sasaran tersebut, serta dialokasikan sumber daya kepada manajer
yang diberi peran dalam mencapai sasaran anggaran, fungsi anggaran dalam
suatu instansi pemerintah atau perusahaan mengkonsolidasikan ke dalam
suatu anggaran secara menyeluruh untuk disahkan oleh direksi atau pejabat
legistatif. Tahap implementasi anggaran dilaksanakan melalui dua kegiatan
penting, yaitu:
a. Komunikasi anggaran
Pejabat pengelola anggaran bertanggungjawab untuk mengkomunikasikan
anggaran yang telah disahkan kepada para manajer jenjang menengah dan
bawah.
b. Kerjasama dan koordinasi
Untuk dapat menyelesaikan suatu tugas, orang harus mengetahui peran
yang harus dimainkan oleh orang lain, baik dalam organisasi formal
maupun informal.
3) Tahap pengendalian dan Evaluasi Kinerja
Dalam tahap ini, kinerja sesungguhnya dibandingkan dengan standar yang
tercantum dalam anggaran. Selain itu, pengendalian dan evaluasi untuk
menunjukkan bidang masalah dalam organisasi dan menyarankan tindakan
pembetulan yang memadai bagi kinerja yang berada di bawah standar.
2.1.8 Konsep Anggaran Berdasarkan Aktivitas
Dalam Investopedia (2011), ABB berarti sebuah metode penganggaran di
mana kegiatan yang mengeluarkan biaya dalam setiap area fungsional dari suatu
organisasi yang dihubungkan dengan definisi dan kemudian dianalisis. Kegiatan
yang kemudian dikaitkan dengan tujuan strategis, setelah itu biaya dari kegiatan
yang diperlukan digunakan untuk membuat anggaran. “ Activity based budgeting
(ABB) mean a method of budgeting in which the activities that incure costs in
every functional area of an organization are recorded and their relationships are
1

define and analyzed. Activities are then tied to strategic goals, after which the
costs of the activities needed are used to create the budget.”
Menurut Writework (2011), ABB is a managing process that based on the
activity level, in order to get lasting improvement on cost and operation (Brimson
1991)…” Definisi ini menyatakan, ABB adalah proses yang mengelola pada
tingkat aktivitas, dalam rangka untuk mendapatkan perbaikan yang berlangsung
pada biaya dan operasi.
Menurut Tunggal (2003), ABB adalah proses mengembangkan suatu
anggaran induk dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari analisis
berdasarkan aktivitas. ABB mengarahkan perhatian pada biaya yang diharapkan
untuk melakukan berbagai aktivitas. ABB memudahkan perbaikan
berkesinambungan. Proses dalam penyajian anggaran dalam suatu ABB
menyoroti peluang untuk mereduksi biaya dan eliminasi aktivitas yang boros.
ABB memudahkan identifikasi aktivitas yang tidak bernilai tambah dan
mengeliminasi aktivitas tersebut. ABB merupakan suatu bentuk anggaran yang
berfokus pada biaya aktivitas (cost driver) atau pemicu biaya (cost driver) yang
diperlukan didalam operasi. ABB memisahkan biaya-biaya ke dalam kelompok
biaya yang homogen berdasarkan cost driver yang berasal dari activity based
costing (ABC), dimana ABB secara prinsip merupakan ABC yang dibalik aliran
kasnya (Gambar 1).
ABC ABB
Resources
Resources drivers
Activity
Activity Cost driver
Products
Gambar 1. Skema Prinsip ABB dan ABC (Kaplan & Cooper dalam Tunggal, 2003).
Menetapkan konsep ABC terhadap proses penganggaran menghasilkan
ABB. Dalam ABB, langkah pertama adalah menentukan produk atau jasa yang
akan dihasilkan dan pelanggan yang harus dilayani. Kemudian aktivitas-aktivitas
yang diperlukan untuk menghasilkan produk atau jasa tersebut ditentukan.
1

Akhirnya, sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas


yang ditentukan tersebut dikuantifikasi secara konseptual. Perbedaan metode
tradisional (konvensional) dan metode ABB adalah seperti yang terdapat pada
Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan penganggaran konvensional dengan ABB
Keterangan Konvensional ABB
Unit Penganggaran Diekspresikan sebagai biaya Diekspresikan sebagai biaya
fungsional/kategori pengeluaran pelaksanaan aktivitas.
Fokus Sumber daya yang dibutuhkan Output/pekerjaan yang dilakukan
Orientasi Historis Continuous improvement
(perbaikan berkesinambungan)
Peran pemasok dan Tidak secara formal Melakukan koordinasi dengan
pelanggan mempertimbangkan pemasok dan mempertimbangkan
Peran pemasok dan Pemasok dan pelanggan dalam Kebutuhan pelanggan dalam proses
pelanggan (lanjutan) penganggaran penganggaran
Tujuan Memaksimumkan kinerja manajer Menyelaraskan aktivitas
pengendalian organisasi/instansi secara
keseluruhan
Dasar anggaran Berdasarkan pola perilaku biaya: Berdasarkan kemanfaatan
biaya variable dan biaya tetap kapasitas.

Ada tiga langkah yang dibutuhkan untuk membangun suatu ABB, yaitu:
a. Aktivitas-aktivitas dalam suatu organisasi harus diidentifikasikan,
b. Permintaan untuk setiap keluaran aktivitas (activity’s output) harus
diperkirakan, dan
c. Biaya sumber daya (cost of resources) yang diperlukan untuk memproduksi
keluaran aktivitas tersebut harus dinilai.

2.2. Anggaran Sektor Publik


2.2.1 Pengertian Sektor Publik
Pengertian Sektor Publik menurut Mardiasmo (2009) adalah birokrasi dan
kesatuan ekonomi yang ditangani oleh pemerintah sesuai dengan kewenangannya
dalam rangka memerankan fungsinya untuk alokasi sumber-sumber ekonomi
yang langka, redistribusi pendapatan, pengendalian stabilitas ekonomi serta
penyediaan barang dan jasa publik yang tidak bisa disediakan oleh sektor swasta,
1

dengan maksud untuk meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan umum kepada


masyarakat (publik).
2.2.2 Pengertian Anggaran Sektor Publik
Menurut Mardiasmo (2009) anggaran adalah alat perencanaan untuk masa
depan yang pada umumnya mencangkup jangka waktu satu tahun dan dinyatakan
dalam satuan moneter. Anggaran ini merupakan perencanaan jangka pendek
organisasi yang menerjemahkan berbagai program ke dalam rencana keuangan
tahunan yang lebih kongret. Usulan anggaran pada umumnya ditelaah atau di
review terlebih dahulu oleh pejabat yang lebih tinggi untuk bisa dijadikan anggran
formal. Selain itu anggaran adalah alat ekonomi terpenting yang dimiliki
pemerintah untuk mengarahkan perkembangan sosial dan ekonomi, menjamin
kesinambungan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Menurut National Committee on Govermental Accounting (NCGA)
sekarang Govermental Accounting Standards Board (GASB) dalam Munandar
(2001) sebagai berikut :
Budget adalah rencana operasi keuangan yang mencangkup estimasi
pengeluaran yang diusulkan dan sumber pendapatan yang diharapkan untuk
membiayainya dalam periode waktu tertentu.
2.2.3 Fungsi Anggaran Sektor Publik
Menurut Mardiasmo (2009), anggaran berfungsi sebagai berikut:
1. Anggaran merupakan hasil akhir proses penyusunan rencana kerja.
2. Anggaran merupakan cetak biru akivitas yang akan dilaksanakan di masa
mendatang.
3. Angggaran sebagai alat komujikasi intern yang menghubungkan berbagai unit
kerja dan mekanisme kerja antar atasan dan bawahan.
4. Anggaran sebagai alat pengendalian unit [Link] tolak ukur yang dipakai
sebagai pembanding hasil operasi sesungguhnya.
5. Anggaran sebagai alat pengendali yang memungkinkan manajemen menunjuk
bidang yang kuat dan lemah bagi perusahaan.
1

6. Angggaran berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi dan memotivasi


manajer dan karyawan agar senantiasa bertindak secara efektif dan efisien
sesuai dengan tujuan organisasi.
2.2.4 Tujuan Anggaran Sektor Publik
Menurut Mardiasmo (2009) tujuan dari proses penyusunan anggaran yaitu:
1. Membantu pemerintah mencapai tujuan fiskal dan meningkatkan koordinasi
antarbagian dalam lingkungan pemerintah.
2. Membantu menciptakan efisiensi dan keadilan dalam menyediakan barang
dan jasa publik melalui proses pemprioritasan.
3. Memungkinkan bagi pemerintah untuk memenuhi prioritas belanja.
4. Meningkatkan transparansi dan pertanggungjawaban pemerintah kepada
DPR/DPRD dan masyarakat luas.

2.2.5 Prinsip-prinsip Anggaran Sektor Publik


Menurut Mardiasmo (2009), prinsip-prinsip di dalam anggaran sektor
publik meliputi:
1. Otorisasi oleh legislatif.
Anggaran publik harus mendapatkan otorisasi dari legislatif terlebih dahulu
sebelum eksekutif dapat membelanjakan anggaran tersebut.
2. Komprehensif.
Anggaran harus menunjukkan semua penerimaan dan pengeluaran
pemerintah. Oleh karena itu, adanya dana non budgetair pada dasarnya
menyalahi prinsip anggaran yang bersifat komprehensif.
3. Keutuhan anggaran.
Semua penerimaan dan belanja pemerintah harus terhimpun dalam dana
umum.
4. Nondiscretionary Appropriation.
Jumlah yang disetujui oleh dewan legislatif harus termanfaatkan secara
ekonomis, efisien dan efektif.
5. Periodik.
Anggaran merupakan suatu proses yang periodik, bisa bersifat tahunan
maupun multi tahunan.
1

6. Akurat.
Estimasi anggaran hendaknya tidak memasukkan cadangan yang
tersembunyi, yang dapat dijadikan sebagai kantong-kantong pemborosan dan
in efisiensi anggaran serta dapat mengakibatkan munculnya understimate
pendapatan dan over estimate pengeluaran.
7. Jelas.
Anggaran hendaknya sederhana, dapat difahami masyarakat dan tidak
membingungkan.
8. Diketahui publik.
Anggaran harus diinformasikan kepada masyarakat luas.

2.2.6 Jenis-Jenis Anggaran Sektor Publik


Menurut Mardiasmo (2009), jenis-jenis anggaran sektor publik terdiri dari:
1. Anggaran Operasional.
Anggaran operasional digunakan untuk merencanakan kebutuhan sehari-hari
dalam menjalankan pemerintahan misalnya anggaran untuk
pengeluaran/belanja rutin. Pengeluaran ini memanfaatkan hanya untuk satu
tahun anggaran dan tidak dapat menambah asset atau kekayaan bagi
perusahaan.
2. Anggaran Modal/Investasi.
Anggaran modal menunjukkan rencana jangka panjang dan pembelanjaan
atas aktiva tetap seperti gedung, peralatan, kendaraan, perabotan dan
sebagainya. Belanja Modal/Investasi merupakan contoh anggaran modal.
Belanja modal itu manfaatnya cenderung melebihi satu tahun dan akan
menambah asset atau kekayaan pemerintah.
2.2.7 Sistem Anggaran Sektor Publik
Sistem anggaran sektor publik terdiri dari empat bagian yaitu (Mardiasmo, 2009) :
1. Sistem Anggaran Tradisional
Sistem anggaran tradisional mempunyai cirri utama yaitu:
a. Cara penyusunan anggaran yang didasarkan atas pendekatan
incrementalism yaitu penyusunan anggaran dilakukan hanya dengan
menambah atau mengurangi jumlah rupiah pada item-item anggaran yang
1

sudah ada sebelumnya dengan data tahun sebelumnya sebagai dasar


besarnya penambahan atau pengurangan tanpa dilakukan kajian secara
mendalam.
b. Struktur dan susunan anggaran bersifat line-item artinya anggaran disusun
berdasarkan item-item penerimaan dan pengeluaran yang pernah
digunakan pada tahun sebelumnya.
2. Sistem Anggaran Kinerja (Performance Budgeting System)
Sistem anggaran kinerja ini disusun untuk mengatasi kelemahan yang
terdapat pada anggaran tradisional, terutama kelemahan yang disebabkan
oleh tidak adanya tolak ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja
dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik.
3. Zero Based Budgeting System
Sistem penyusunan anggaran yang benar-benar didasarkan pada kebutuhan
saat ini tanpa berpatokan pada anggaran tahun lalu. Dengan zero based
budgeting penyusunan anggaran diasumsikan mulai dari nol sehingga item-
item anggaran tahun lalu mungkin dikurangi, ditambah, atau bahkan diganti
sama sekali dengan item-item yang baru yang sesuai dengan kebutuhan saat
ini.
4. Planning, Programing, and Budgeting System (PPBS)
Sistem penganggaran ini didasarkan pada teori sistem yang berorientasi pada
output dan tujuan dengan penekanan utama adalah alokasi sumber daya
berdasarkan analisis ekonomi. Sistem anggaran PPBS tidak mendasarkan
pada struktur organisasi tradisional yang terdiri dari divisi-divisi, namun
berdasarkan program yaitu pengelompokkan aktivitas untuk mencapai tujuan
tertentu.
2.2.8 Analisis Varians Anggaran
Menurut Munandar (2001) dalam mekanisme penerapan budget maka satu
teknis yang selalu diterapkan adalah analisis varians atau analisis penyimpangan.
Analisis ini dilakukan dengan cara membandingkan antara budget dengan
realisasi. Perbedaan antara angka budget dengan realisasi ini disebut
penyimpangan atau varians. Apabila kita menganggap bahwa budget ataupun
1

standar sudah benar dan akurat maka secara prinsip kita harus mengusahakan agar
realisasi harus sama dengan budget.
Menurut Nafarin (2007) analisis varians membandingkan antara kinerja
standar dengan kinerja aktual dan adapat dilakukan oleh divisi, departemen,
program, produk, wilayah atau unit tanggung jawab lainnya. Evaluasi varians
dapat dilakukan secara kuartalan, bulanan, setiap hari atau setiap jam, tergantung
pada penting atau tidaknya mengidentifikasi masalah dengan cepat. Karena kita
tidak mengetahui angka aktual hingga akhir periode, maka varians hanya dapat
dilakukan pada akhir periode. Menurut Welsch, et al. (2000) dalam mempelajari
dan mengevaluasi varian untuk menentukan sebab yang paling mendasarinya,
kemungkinan berikut ini perlu dipertimbangkan :
1. Varians tidak material.
2. Varians disebabkan oleh kesalahan pelaporan.
Sasaran yang direncanakan atau dianggarakan dan data actual yang
disebabkan oleh departemen akuntansi harus diperiksa kebenarannya.
3. Varians disebabkan oleh keputusan khusus manajemen.
Untuk meningkatkan efisiensi atau untuk menghadapi kemungkinan tertentu,
manajemen sering membuat keputusan yang menyebabkan adanya varians.
4. Banyaknya varians yang dapat dijelaskan dalam hal dampak dari faktor yang
tidak dapat dikendalikan yang diidentifikasi.
5. Varians yang tidak diketahui penyebabnya harus menjadi perhatian utama
dan harus diselidiki secara teliti.
Analisis varians mencangkup analisis matematis dari dua perangkat data
untuk mendapatkan pengalaman penyebab terjadinya suatu penyimpangan. Salah
satu jumlah diperlakukan sebagai dasar, standar, atau titik pedoman. Analisis
Varians mempunyai aplikasi yang luas dalam pelaporan keuangan. Sering
diaplikasikan dalam situasi sebagai berikut (Welsch, et al., 2000).
1. Penyelidikan varians antara hasil aktual dari periode yang berlaku dan hasil
aktual dari periode sebelumnya dianggap sebagai dasar.
2. Penyelidikan varians antara hasil aktual dan biaya standar. Biaya standar
digunakan sebagai standar.
2

3. Penyelidikan varians antara hasil aktual dan sasaran yang direncanakan atau
dianggarakan digunakan sebagai dasar.
2.3. Hasil Penelitian Terdahulu

Prawatiningsih (2007), dengan judul “Evaluasi Anggaran Belanja Sebagai Alat


Pengendalian Keuangan Studi Kasus Badan Rumah Sakit Daerah Ciawi”. Penelitian ini
dilakukan pada Badan Rumah Sakit Daerah (BRSD) Ciawi. Hasil dari penelitian tersebut
adalah ada beberapa faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam penyusunan
anggaran. Faktor-faktor pertimbangan tersebut yaitu: jumlah kunjungan pasien, jenis
penyakit, rencana rumah sakit dalam penambahan sarana medis dan non medis, jumlah
tempat tidur, penambahan sarana fisik dan pelayanan baru, rencana penambahan
karyawan, peraturan pemerintah, dan anggaran belanja tahun sebelumnya. Prosedur
penyusunan anggaran belanja BRSD Ciawi menggunakan metode campuran (top down
dan bottom up). Prosedur penyusunan anggaran belanja melalui beberapa tahap yaitu:
pembuatan surat edaran untuk setiap ruangan, sosialisasi format anggaran, pengumpulan
data usulan kebutuhan, pengumpulan data rekapitulasi kebutuhan, penyusunan dan
pengetikan konsep Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK), penelitian RASK dan
perubahan anggaran, serta pengesahan Dokumen Anggaran Satuan Kerja (DASK).

Hendardi (2002), dengan judul “Penyusunan Anggaran Berdasarkan Aktivitas


(Activity Based Budgeting) pada Komponen Biaya Operasi Perusahaan Jasa (Studi Kasus
pada Divisi Forwading PT(P) Kawasan Berikat Nusantara)”. Pada tesis ini, menjabarkan
anggaran konvensional mengandalkan push terhadap demand, aktivitas kurang
diperhatikan sehingga tidak mengherankan sering terjadi distorsi dalam menentukan
jumlah biaya yang dianggarkan pada suatu produk. Hal ini menyebabkan perusahaan
akan menemui kesulitan dalam menghadapi lingkungan yang selalu menuntut daya saing.
Penganggaran berdasarkan aktivitas (ABB) pada akhirnya cenderung mempertimbangkan
pull terhadap demand. Dengan sangat mempertimbangkan aktivitas yang terlibat dalam
pembuatan suatu produk maka dapat diperoleh anggaran aktivitas yang paling
proporsional terhadap produk. Dengan metode ABB, perusahaan dapat lebih mudah
melakukan perbaikan terhadap proses. Dengan demikian daya saing perusahaan dapat
lebih baik. Penelitian Hendardi ini juga menemukan adanya perbedaan pada jumlah
anggaran antara metode konvensional dengan metode ABB. Pada metode ABB
2

menggunakan perthitungan biaya per aktivitas yang lebih akurat daripada proses
penganngaran konvensional yang banyak menggunakan judgment dan pengalaman pada
tahun sebelumnya.
Ratmarisa (2010), dengan judul “Analisis Penerapan Activity Based Budgeting
(ABB) pada Anggaran Belanja Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Mukomuko,
Bengkulu”. Penelitian ini dilakukan pada Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten
Mukomuko, sebagai lembaga pemerintah yang memberikan pelayanan pendidikan bagi
masyarakat, mempunyai kepentingan dalam mengelolah asset atau anggaran dari
pemerintah, sehingga membutuhkan suatu strategi dalam mengelolah aspek keuangan.
Jenis Pengelolaan anggaran pada Kantor Dinas Pendidikan Mukomuko masih
menggunakan metode tradisional (konvensional), hal ini dapat mempengaruhi tingkat
efisien dan efektivitas unit kerja pada Kantor Dinas Pendidikan khususnya bagian
keuangan. Peneliti mempertimbangkan adanya aktivitas utama yang dilakukan berkaitan
dengan anggaran belanja yang dikeluarkan, hal tersebut membuat peneliti ingin
mengetahui apakah adanya pemborosan anggaran belanja pada aktivitas yang tidak begitu
memerlukan anggaran yang besar, dengan demikian pengelolaan anggaran belanja
berdasarkan aktivitas akan jauh lebih relevan dibandingkan dengan anggaran belanja
menggunakan metode konvensional, karena metode konvensional hanya berpatokan pada
anggaran tahun sebelumnya dan tidak memperhatikan aktivitas-aktivitas yang sebenarnya
mempengaruhi besar kecilnya anggaran yang akan dikeluarkan. Dari Uji Hipotesis yang
dilakukan oleh peneliti, diketahui bahwa penyimpangan dari anggaran yang disusun
dengan metode ABB lebih kecil dibandingkan dengan anggaran yang disusun secara
konvensional, namun penyimpangan yang terjadi masih dalam batas pengendalian.
2

III. METODE PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran

Pendekatan yang digunakan dalam merencanakan pembangunan khususnya


di bidang pendidikan adalah melalui perencanaan partisipatif dengan melibatkan
seluruh elemen masyarakat sebagai stakeholders. Dengan demikian, wujud
perencanaan pembangunan diharapkan dapat sinergi antara top-down planning dan
bottom-up planning. Salah satu hasil dari pendekatan ini adalah lahirnya dokumen
perencanaan jangka menengah SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang
strategis. Untuk mewujudkan semua itu diperlukan suatu dokumen perencanaan
jangka menengah guna menjamin terciptanya sinergi kebijakan dan sinkronisasi
program dengan melibatkan semua pihak terkait hingga tercapainya program-
program pada sasaran yang dikehendaki. Visi dan misi pada Dinas Pendidikan Kota
Bogor, dijabarkan dalam beberapa kebijakan operasional, keuangan dan sumber
daya manusia. Visi, misi dan tata nilai dalam harus merujuk kepada visi, misi
Walikota terpilih yang tertuang dalam Rencana Program Jangka Menengah Daerah
(RPJMD). Perumusan visi, misi dan tata nilai ini dilakukan dalam tiga langkah yaitu
(1) merumuskan visi, (2) merumuskan misi dan (3) merumuskan tata nilai Dinas
Pendidikan. Kebijakan keuangan yang dijalankan oleh Dinas Pendidikan Kota Bogor
salah satunya adalah melaksanakan penganggaran. Didalam pelaksanaan
penganggaran yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Bogor diawali dengan
menerjemahkan visi dan misi ke dalam target-target yang ingin dicapai. Setelah
ditetapkanya target, Dinas Pendidikan Kota Bogor melakukan penyusunan program
kerja dalam bentuk rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan
Kota Bogor untuk satu tahun kedepan. Selanjutnya dilakukanya penyusunan
anggaran untuk menggambarkan nilai uang dari rencana kegiatan yang telah
disepakati. Untuk melihat rencana yang yang dibuat berhasil diterapkan, bagian
keuangan melaporkan hasil operasi Dinas Pendidikan dalam bentuk laporan
keuangan berupa laporan realisasi. Dari penyusunan anggaran dengan metode
konvensional dan realisasi tahun sebelumnya yaitu tahun 2009 yang akan menjadi
acuan didalam penyusunan anggaran dengan metode ABB. Disamping itu, dilakukan
2

juga perhitungan selisih (varians) antara anggaran dengan metode konvensional


terhadap laporan realisasi dan menghitung selisih (varians) antara anggaran dengan
metode ABB berdasarkan program kerja yang telah disusun oleh Dinas Pendidikan
Kota Bogor terhadap laporan realisasi. Selanjutnya dilakukanya uji t-test, uji tersebut
dilakukan untuk mengetahui apakah ketidaksesuain tersebut masih dalam
pengendalian manajemen. Sehingga pada akhirnya dapat memberikan rekomendasi
terhadap hasil dari pengguanaan anggaran tersebut. Alur/kerangka pemikiran
penelitian pada Dinas Pendidikan Kota Bogor dapat dilihat pada Gambar 2.

Dinas Pendidikan Kota Bogor


Dinas Pendidikan Kota

Visi,Misi dan kebijakan Dinas Pendidikan Kota Bogor


Visi,Misi dan
kebijakan
Dinas Pendidikan

Umpan Balik
Penetapan Renstra (Feedback

Penyusunan Program Kerja

Penyusunan Anggaran Dinas Pendidikan Kota Bogor dengan Metode


Penyusunan
Konvensional
Anggaran dengan Metode Activity Based Budgeting (ABB)
Penyusunan Penyusunan
Anggaran Anggaran
Dinas Pendidikan Perbandingan dengan Metode
Kota Bogor dengan

Realisasi varia
Realisasi

Uji t

Hasil Analisis

Gambar 2. Kerangka pemikiran penelitian


2

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada Dinas Pendidikan Kota Bogor yang
berlokasi di jalan Raya Pajajaran No. 125 Kota Bogor. Kegiatan penelitian dilakukan
selama tiga bulan pada bulan Oktober-Desember 2011. Lokasi ini dipilih karena
Dinas Pendidikan Kota Bogor memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat
memperoleh data-data yang dibutuhkan penulis didalam menulis penelitian ini dan
untuk metode ABB merupakan metode baru yang digunakan didalam pengelolaan
anggaran khususnya pada lembaga pemerintah, oleh karena itu penulis ingin
mengaplikasikan metode tersebut pada Dinas Pendidikan Kota Bogor. Data-data
yang telah diperoleh akan diolah dan diteliti kemudian dievaluasi dan dibandingkan
hasilnya.

3.3. Metode Penelitian

3.3.1 Metode Pengumpulan Data


Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara dengan pegawai bagian
keuangan yang mempunyai peran penting didalam penyusunan anggaran operasional
di Dinas Pendidikan Kota Bogor. Setelah mendapatkan semua data keuangan,
penulis juga melakukan wawancara langsung dengan bagian kepegawaian, bina
program, kesekretariatan, dan bagian sarana dan prasaran guna mendapatkan data-
data aktivitas utama pada Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor. Data sekunder
diperolah dari Renstra Dinas Pendidikan tahun 2009 dan 2010, Dokumen
Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPS) Dinas
Pendidikan Tahun Anggaran 2009 dan 2010, Laporan Perubahan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Derah tahun 2009 dan 2010, Peraturan Walikota No 13
tahun 2008 tanggal 26 September 2008 mewajibkan Kepala Dinas Pendidikan,
Pemuda dan Olah Raga Kota Bogor untuk menyusun dan merumuskan rencana
program strategis penyelenggaraan teknis di bidang pendidikan, Peraturan Menteri
Dalam Negeri No.13 tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolahan Keuangan Daerah,
Peraturan Menteri Dalam Negeri No.20 tahun 2009 Tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Dana Alokasi Khusus di Daerah. Data sekunder lainnya diperoleh dari
2

berbagai literature yang terkait dan tulisan yang dianggap relevan dengan penelitian
ini.
3.3.2 Pengolahan dan Analisis Data
Pengelolahan dan analisis data dilakukan dengan dua tahap, yaitu analisis
terhadap anggaran Dinas Pendidikan Kota Bogor kemudian menyusun anggaran
alternative dengan pendekatan ABB, yaitu:
1. Analisis anggaran Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor
Pengolahan data menggunakan analisis varians (selisih) anggaran. Dasar
penilaiannya yaitu dengan penyelidikan varians dari anggaran statis (anggaran
pendapatan dan belanja pada Dinas Pendidikan Kota Bogor) terhadap realisasi
(aktual). Analisis anggaran varians dapat menunjukkan dimana terjadi selisih
antara hasil sesungguhnya dengan anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sehingga dapat diketahui penyebab penyimpangan yang terjadi, namun analisis
varians tidak akan mempunyai arti kecuali jika varians-varians dilaporkan
seacara terpisah berdasarkan faktor-faktor penyebabnya dan unit organisasi
yang bertanggung jawab sehingga penyimpangan tersebut dapat diperbaiki.
Dalam penelitian ini pengelolahan data anggaran tersebut diolah dengan
menggunakan Microsoft Excel 2007. Keseluruhan proses analisis varians adalah
berjenjang. Dalam anggaran biaya, jika biaya realisasi lebih besar daripada
budget maka dianggap tidak menguntungkan (unfavorable). Sebaliknya jika
realisasi lebih rendah dari anggaran, maka dianggap menguntungkan
(favorable).
2. Menyusun ABB
Syarat penyusunan anggaran yang baik adalah; anggaran tersebut harus
berorientasi pada output. Dengan kata lain, awal dari semua penyusunan semua
komponen anggaran adalah target output. Sedangkan penyusunan anggaran
untuk biaya-biaya yang sifatnya tidak langsung tidak dilakukan dengan orientasi
output, melainkan berorientasi input yaitu melihat kepada anggaran tahun lalu
dikalikan dengan inflasi. Penyusunan anggaran seperti ini tidak akan membantu
suatu instansi pemerintah agar dapat melakukan efisiensi biaya karena data
biaya dari tahun sebelumnya langsung dipergunakan sebagai komponen biaya
2

tidak langsung. Pada penjelasan ini penyusunan anggaran berdasarkan aktivitas


memberikan kontribusi hasil yang lebih akurat pada saat suatu instansi
pemerintah dihadapkan pada penyusunan anggaran biaya-biaya tidak langsung,
dan tentunya kemudahan lain yaitu anggaran yang sesuai dengan strategi yang
dietapkan.
Dalam menyusun ABB, langkah-langkah yang dilakukan antara lain:
a) Menentukan keluaran (output) Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor,
b) Mengidentifikasi aktivitas-aktivitas utama yang terjadi pada Kantor
Dinas Pendidikan Kota Bogor.
c) Mengidentifikasi activity driver dari masing-masing aktivitas di Kantor
Dinas Pendidikan Kota Bogor.
d) Mengidentifikasi sumber dana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan
aktivitas-aktivitas tersebut.
e) Melakukan estimasi biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan
pada Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor.
f) Membandingkan hasil yang diperoleh dari anggaran yang dihitung
dengan metode ABB dengan realisasi dari anggaran konvensional yang
terdapat pada Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor.
Setelah melakukan pengolahan data ke dalam bentuk ABB, maka
dilakukan pengolahan data dengan menggunakan analisis varians anggaran. Dasar
penilaiannya yaitu dengan penyelidikan varians, antara realisasi dengan sasaran
yang direncanakan atau dianggarkan. Pengolahan data anggaran tersebut
menggunakan software komputer Microsoft Excel 2007 untuk analisis varians dan
mengukur apakah penyimpangan anggaran operasional masih dalam batas
pengendalian dengan malakukan uji t, dengan menggunakan alat bantu berupa
software Statistical Packages for The Social Sciences (SPSS) 16.0 serta analisis
deskriptif.
Uji hipotesis dengan menggunakan t-test untuk mengukur apakah penyimpangan
anggaran dengan realisasi masih dalam batas pengendalian. Menurut Riduwan
(2005) tujuan uji t adalah untuk membandingkan apakah kedua data (variable)
2

tersebut sama atau berbeda. Langkah-langkah dalam uji t menurut Riduwan


(2005) yaitu:
1. Buatlah Ho dan Ha dalam uraian kalimat
Ho: Penyimpangan yang terjadi antara anggaran dan realisasi masih
dalam batas pengendalian
Ha: Penyimpangan yang terjadi antara anggaran dan realisasi tidak
dalam batas pengendalian.
2. Buatlah Ho dan Ha dalam model statistik

Ho : μ1 = μ2

Ha : μ1 ≠ μ2
3. Mencari t hitung
Rumus nilai t :

t= X1 – x2......................................................................... (1)
S√1/ n1+1/n2
Dimana S :

S= √ (n -1) s 1 1
2
+ (n2-1) s21
...........................................
(2)

n1+n2-2
Keterangan :
X1 = Rata-rata nilai anggaran
X2 = Rata-rata nilai realisasi
n1= Jumlah laporan anggaran
n2= Jumlah laporan realisasi
X1 = Anggaran
X2 = Realisasi anggaran
S1 = Standar devisi X1
S2 = Standar deviasi X2
4. Tentukan terlebih dahulu taraf signifikannya (a) kemudian dicari ttabel
dengan ketentuan db = n-1.
Taraf signifikan (α) yang digunakan sebesar 5% atau 0,05
2

5. Tentukan criteria pengujian


Jika t hitung < t tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak.
Jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima.
6. Bandingkan antara t hitung dan t tabel dan gambarlah posisinya.
7. Buatlah kesimpulan.
2

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Dinas Pendidikan Kota Bogor


4.1.1 Visi, Misi, Kebijakan Dinas Pendidikan Kota Bogor
1. V i s i :
" Terwujudnya Masyarakat Cerdas, Religius , Partisipatif dan Terampil "
2. M i s i :
a) Meningkatkan pemerataan pelayanan pendidikan
b) Meningkatkan kualitas pendidikan
c) Memperkuat kompetensi pendidikan
d) Mewujudkan ketahanan lembaga pendidikan
e) Meningkatkan partisipasi masyarakat
3. Kebijakan Dinas Pendidikan :
a)Pengembangan atau perluasan Wajar Pendidikan Dasar (Dikdas 9 )tahun Kota
Bogor
b) Pemerataan kualitas tenaga guru/tutor secara merata disetiap sekolah
c) Penempatan tenaga guru/tutor berdasarkan kualifikasi yang sesuai
d)Meningkatkan dan mengembangkan mutu lembaga pendidikan formal dan non
formal
e)Mengoptimalkan suasana ketentraman dan ketenangan belajar dalam mewujudkan
ketahanan lembaga pendidikan
f) Memberdayakan masyarakat dalam melaksanakan Pendidikan
g)Pengembangan pembelajaran dan pendataan serta pengangrsipan dengan berbasis
teknologi informatika.

4.1.2 Struktur Organisasi


Pembentukan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kota Bogor
ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 13 tahun 2008 tanggal 25 September
2008, tentang Organisasi Perangkat Daerah dan Peraturan Walikota Bogor Nomor
32 tahun 2008 tanggal 26 Nopember 2008 tentang Tugas Pokok, Fungsi, Tata
Kerja dan Uraian Tugas Jabatan Struktural di Lingkungan Dinas Pendidikan
Pemuda dan Olah Raga. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kota Bogor
3

merupakan perangkat daerah sebagai unsur pelaksana teknis di bidang


pendidikan, pemuda dan olah Raga dipimpin oleh seorang Kepala yang berada di
bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah. Dinas
Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kota Bogor mempunyai tugas pokok
melaksanakan kewenangan otonomi pemerintah di bidang pendidikan, pemuda
dan olahraga yang menjadi urusan rumah tangga daerah. Untuk melaksanakan
tugas pokok tersebut Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga mempunyai
fungsi:
a. Perumusan kebijakan teknis di bidang pendidikan, pemuda dan olah raga.
b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang
pendidikan, pemuda dan olah raga.
c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang pendidikan, pemuda dan olah
raga.
d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan tugas dan
fungsinya.
Struktur organisasi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kota Bogor
sebagai berikut :
1. Kepala Dinas
2. Sekretariat membawahkan
a. Kasubag Umum dan Kepegawaian
b. Kasubag Keuangan
c. Kasubag Perencanaan dan Pelaporan
3. Bidang Pendidikan Dasar membawahkan
a. Kasie Kurikulum
b. Kasie Kesiswaan
c. Kasie Sarana dan Prasarana
4. Bidang Pendidikan Menengah Umum membawahkan
a. Kasie Kurikulum
b. Kasie Kesiswaan
c. Kasie Sarana dan Prasarana
3

5. Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan


a. Kasie Kurikulum
b. Kasie Kesiswaan
c. Kasie Sarana dan Prasarana
6. Bidang Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga
a. Kasie Pembinaan Kepemudaan
b. Kasie Keolahragaan
c. Kasie Pendidikan Masyarakat dan Kelembagaan
7. Sanggar Kegiatan Belajar (SKB)
8. Gelanggang Olah Raga dan Remaja
Sedangkan bagan struktur organisasi Dinas Pendidikan Pemuda dan
Olah Raga Kota Bogor dapat dilihat pada Lampiran 1.

4.1.3 Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pendidikan Kota Bogor


Sesuai dengan Peraturan Walikota Bogor Nomor 23 tahun 2008 tanggal 26
Nopember 2008, maka tugas pokok, fungsi, tata kerja dan uraian tugas jabatan
struktural Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kota Bogor adalah sebagai
berikut :
1. KEPALA DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAH RAGA
a) Memimpin pelaksanaan tugas Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga
yang meliputi Sekretariat, Bidang Pendidikan Dasar, Bidang Pendidikan
Menengah Umum, Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan, Bidang
Pendidikan Non Formal dan Informal, Bidang Pembinaan Pemuda dan
Olah Raga, UPTD Gelanggang Olah Raga dan Remaja serta UPTD
Sanggar Kegiatan Belajar.
b) Menyusun rencana dan program kerja Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah
Raga
c) Mendistribusikan pekerjaan dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas
kepada bawahan.
d) Mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan bawahan.
e) Membimbing kerja bawahan dan mengevaluasi hasil kerja bawahan dalam
upaya meningkatkan produktivitas kerja.
3

f) Merumuskan kebijakan teknis di bidang pendidikan, Pemuda dan Olah


Raga yang meliputi kebijakan pembiayaan kurikulum, sarana prasarana,
pendidik dan tenaga kependidikan serta pengendalian mutu pendidikan.
g) Menyelenggarakan urusan pemerintah dan pelayanan umum dibidang
pendidikan, pemuda dan Olah Raga.
h) Melaksanakan pembinaan, pengawasan, pengendalian dan evaluasi dalam
pelaksanaan teknis operasional di bidang pendidikan dasar, pendidikan
menengah umum, pendidikan menengah kejuruan, pendidikan luar
sekolah, pemuda dan olah Raga.
i) Melaksanakan pembinaan, pengawasan, pengendalian dan evaluasi kepada
UPTD-UPTD lingkup Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga.
j) Melaksanakan kerjasama dengan daerah lain, pihak ketiga dan luar negeri
yang berkaitan dengan bidang Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga.
k) Memaraf dan atau menandatangani naskah Dinas sesuai dengan
kewenangannya.
l) Mengarahkan RKA dan mengendalikan DPA.
m) Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait.
n) Memberikan saran pertimbangan kepada atasan.
o) Menyusun laporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas kepada
atasan.
p) Melaksanakan tugas kedinasan lainnya.

2. SEKRETARIAT
Sekretariat dipimpin oleh seorang sekretaris yang mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian tugas fungsi dinas di bidang pengelolaan kesekretariatan.
Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut sekretariat mempunyai fungsi:
a) Pelaksanaan koordinasi dan penyusunan rencana dan program kerja di
lingkungan Dinas.
b) Pelaksanaan tugas administrasi umum, administrasi kepegawaian,
perlengkapan, perencanaan, pengendalian, keuangan, kearsipan, dan
kerumahtanggaan.
c) Pelaksanaan pengendalian, evaluasi, dan pelaporan.
3

Sekretariat ini membawahkan:


A. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
Sub bagian umum dan kepegawaian dipimpin oleh seorang Kepala
Sub Bagian yang mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian fungsi
sekretariat di bidang umum dan kepegawaian. Untuk melaksanakan tugas
pokok tersebut Sub Bagian Umum dan Kepegawaian mempunyai fungsi:
a. Pelaksanaan pengelolaan urusan surat menyurat, kearsipan,
kerumahtanggaan, dan administrasi umum.
b. Pengelolaan kebutuhan dan pemeliharaan perlengkapan gedung dan
alat tulis kantor Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga.
c. Pelaksanaan administrasi dan pelayanan kepegawaian meliputi
pembuatan Daftar Urut Kepangkatan (DUK), kenaikan pangkat,
pensiun, mutasi, rotasi, demosi serta kesejahteraan pegawai structural
dan fungsional.
d. Pelaksanaan pelaporan Sub Bagian Umum dan Kepegawaian.
B. Sub Bagian Keuangan
Sub bagian keuangan dipimpin oleh seorang Kepala Sub Bagian
yang mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian fungsi sekretariat di
bidang keuangan. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Sub Bagian
Keuangan mempunyai fungsi:
a. Menyusun rencana dan program kerja anggaran Dinas.
b. Pengelolaan administrasi keuangan dan pembinaan satuan pemegang
kas serta pelayanan di bidang keuangan.
c. Penyusunan laporan realisasi keuangan dan neraca Dinas.
d. Pelaksanaan pelaporan Sub Bagian Keuangan.
C. Sub Bagian Perencanaan dan Pelaporan
Sub bagian perencanaan dan pelaporan dipimpin oleh seorang
Kepala Sub Bagian yang, mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian
fungsi sekretariat di bidang perencanaan dan pelaporan. Untuk
melaksanakan tugas pokok tersebut Sub Bagian Perencanaan dan
Pelaporan mempunyai fungsi:
3

a. Menyusun rencana dan program kerja lingkup Dinas.


b. Penyiapan bahan penyusunan kebijakan bidang perencanaan,
monitoringn dan evaluasi.
c. Pelaksanaan pengumpulan dan pengolahan data pendidikan, pemuda
dan olah raga.
d. Penyusunan laporan kegiatan Dinas.

3. BIDANG PENDIDIKAN DASAR


Bidang Pendidikan Dasar dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang
mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian fungsi dinas di bidang
pendidikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Untuk melaksanakan tugas
pokok tersebut bidang pendidikan dasar mempunyai fungsi:
a) Pengkajian dan perumusan kebijakan teknis di bidang pendidikan dasar.
b) Pengkajian bahan kebijakan teknis operasional di bidang kesiswaan,
kurikulum, manajemen, sarana prasarana.
c) Pengkajian bahan fasilitas di bidang kesiswaan, kurikulum, serta sarana
dan prasarana.
d) Pembinaan, pengkoordinasian, dan pengembangan di bidang pendidikan
dasar.
e) Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan.

4. BIDANG PENDIDIKAN MENENGAH UMUM


Bidang Pendidikan Menengah Umum dipimpin oleh seorang Kepala
Bidang yang mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian fungsi dinas di
bidang pendidikan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Umum.
Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut bidang Pendidikan Menengah Umum
mempunyai fungsi:
a) Pengkajian dan perumusan kebijakan teknis di bidang pendidikan
menengah umum.
b) Pengkajian bahan kebijakan teknis operasional di bidang kesiswaan,
kurikulum, manajemen, serta sarana prasarana.
c) Pengkajian bahan fasilitas di bidang kesiswaan, kurikulum, manajemen,
sarana dan prasarana.
3

d) Pembinaan, pengkoordinasian, dan pengembangan di bidang pendidikan


menengah umum.
e) Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan.

5. BIDANG PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN


Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan dipimpin oleh seorang Kepala
Bidang yang mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian fungsi dinas di
bidang pendidikan Menengah Kejuruan. Untuk melaksanakan tugas pokok
tersebut bidang Pendidikan Menengah Kejuruan mempunyai fungsi:
a) Pengkajian dan perumusan kebijakan teknis di bidang pendidikan
menengah kejuruan.
b) Pengkajian bahan kebijakan teknis operasional di bidang
kesiswaan, kurikulum, manajemen, serta sarana prasarana.
c) Pengkajian bahan fasilitas di bidang kesiswaan, kurikulum, manajemen,
sarana dan prasarana.
d) Pembinaan, pengkoordinasian, dan pengembangan di bidang
pendidikan menengah kejuruan.
e) Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan.

6. BIDANG PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH, PEMUDA DAN OLAH RAGA


Bidang pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga dipimpin oleh
seorang Kepala Bidang yang mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian
fungsi Dinas di bidang pendidikan luar sekolah, pemuda dan olah raga. Untuk
melaksanakan tugas pokok tersebut Bidang Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda
dan Olah Raga mempunyai fungsi:
a) Pengkajian dan perumusan kebijakan teknis di bidang pendidikan luar
sekolah, pemuda dan olah raga.
b) Pengkajian bahan kebijakan teknis operasional di bidang warga belajar,
kurikulum, manajemen, dan kelembagaan.
c) Pengkajian bahan fasilitas di bidang warga belajar, kurikulum,
manajemen, dan kelembagaan.
d) Pembinaan, pengkoordinasian, dan pengembangan di bidang pendidikan
luar sekolah, pemuda dan olah raga.
3

e) Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan.

8. UPTD SANGGAR KEGIATAN BELAJAR (SKB)


Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB)
dipimpin oleh seorang Kepala UPTD yang mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian fungsi Dinas di Bidang sanggar kegiatan belajar. Untuk
melaksanakan tugas pokok tersebut UPTD Sanggar Kegiatan Belajar mempunyai
fungsi:
a. Penyusunan rencana dan program kerja UPTD Sanggar Kegiatan Belajar
b. Pengelolaan administrasi kepegawaian dan administrasi umum di
lingkungan UPTD Sanggar Kegiatan Belajar.
c. Pelaksanaan koordinasi, pengendalian, dan pengawasan kegiatan dalam
penggunaan sarana dan prasarana Sanggar Kegiatan Belajar.
d. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis di bidang Sanggar Kegiatan
Belajar.
e. Penyiapan bahan pelaksanaan pembinaan di bidang Sanggar Kegiatan
Belajar.
f. Pelaksanaan Monitoring, evaluasi, dan pelaporan kegiatan Sanggar
Kegiatan Belajar

4.2. Penganggaran pada Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor


Dinas Pendidikan Kota Bogor harus memastikan bahwa kegiatan-kegiatan
tersebut dapat bejalan sesuai target dengan adanya alokasi biaya yang dikeluarkan
sehingga kegiatan yang dirumuskan harus benar-benar dapat mencapai sasaran yang telah
ditetapkan. Dari hasil wawancara dengan Kepala Dinas dan Bagian Keuangan
(Permendagri No. 13/2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah), diperoleh
tahapan penyusunan pelakasanaan anggaran pada Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor.
Tahapan penganggaran tersebut dimulai dari penjabaran visi, misi, dan kebijakan Kantor
Dinas Pendidikan Kota Bogor yang dijabarkan dalam Tugas Pokok dan Fungsi
(TUPOKSI), TUPOKSI tersebut diterapkan sesuai dengan masing-masing bidang yang
ada pada Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor seperti Sekertaris Dinas, Bidang
Keuangan, Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas), Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen),
dan Bidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS), dengan penanggung jawab anggaran adalah
3

kepala bidang masing-masing. Masing-masing bidang tersebut membuat rencana


kegiatan untuk satu tahun kedepan. Rencana kegiatan yang telah dibuat tentu
membutuhkan biaya agar target tercapai. Untuk mencapai rencana kegiatan-kegiatan
tersebut, maka dibuatlah Rencana Kerja Anggaran (RKA). RKA tersebut membutuhkan
Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Kerja (Renja). Untuk menyusun Renstra yaitu
rencana yang beriorentasi pada hasil yang akan dicapai selama kurun waktu 1 (satu)
sampai dengan 5 (lima) tahun dengan memperhitungkan kekuatan, kelemahan, peluang,
dan ancaman yang ada atau mungkin timbul, mengandung visi, misi, nilai faktor-faktor
yang menentukan keberhasilan dan tujuan pembangunan yang realitis dan dapat dicapai.
Sedangkan untuk Renja dilakukan rencana kerja per tahunnya yang diserahkan langsung
kepada Pemerintah Daerah atau Kepala Derah. Kemudian Kepala Daerah membuat
Dokumen Pedoman Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat
Daerah (RKA-SKPD) yaitu petunjuk atau referensi dalam melaksanakan kegiatan
penyusunan dokumen perencanaan dan pengganggaran. Tujuan dari diajukanya RKA-
SKPD kepada Kepala Daerah agar RKA dapat dibahas oleh Tim Anggaran Pemda. Hasil
dari RKA tersebut guna mempresentasikan penggunaan dana dan alasan pengajuan dana
dengan jumlah yang telah ditetapkan. SKPD tersebut akan dikirim dan dimintai
persetujuan dari DPRD, dan hasil persetujuan antara DPRD dengan Kepala Daerah
diperoleh dokumen Rencana Peraturan Derah tentang penjabaran Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD). Kemudian hasil evaluasi tersebut disetujui oleh Gubernur,
makan menjadi Perda APBD yang disahkan oleh DPRD (misal untuk anggaran tahun
depan). Setelah itu hasil Perda APBD disusun menjadi Rencana Dokumen Pelaksanaan
Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah ([Link]-SKPD) kemudian diajukan kepada
Kepala Daerah berupa verifikasi DPA oleh Tim Anggaran Pemda dan disahkan oleh
Kepala Dinas. DPA-SKPD adalah dokumen yang memuat pendapatan, belanja dan
pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh pengguna
anggaran. Setelah itu anggaran akan dicairkan sesuai dengan yang tertera pada DPA-
SKPD.
3
3

4.3. Analisis Biaya Berdasarkan Aktivitas


Sesuai dengan tujuan awal penelitian, yaitu hendak mengetahui bagaimana
prosedur penyusunan anggaran operasional pada Dinas Pendidikan Kota Bogor, maka
peneliti mencoba membandingkan anggaran yang menggunakan metode konvensional
dengan metode activity based budgeting (ABB). Aktivitas memiliki peran utama dalam
proses penyusunan anggaran, maka sebelum dikaji penyusunan anggaran, terlebih dulu
disusun aktivitas-aktivitas yang ada dikantor Dinas Pendidikan Kota Bogor.
4.3.1 Aktivitas-aktivitas Utama pada Proses Kerja Organisasi dan Penggerak
Aktivitas
1. Arsip Surat Menyurat
Arsip surat menyurat adalah kegiatan pengarsipan yang terdiri dari surat masuk
dan keluar, surat-surat ini ditujukan kepada Dinas Pendidikan Kota Bogor guna
mendapatkan izin atau surat keterangan dari Dinas Pendidikan Kota Bogor sesuai
dengan tujuan surat tersebut diberikan. Surat-surat tersebut diberikan sesuai
dengan bagian-bagian yang ada di Dinas Pendidikan Kota Bogor seperti kepala
dinas, sekretaris dinas, bidang keuangan, dan lain-lain.
2. Pengecekan Kepegawaian
a) Merencanakan, melaksanakan, mengendalikan, evaluasi dan melaporkan
kegiatan sub bagian kepegawaian.
b) Mengumpulkan, mengolah data dan informasi, menginventarisasi
permasalahan serta pemecahan masalah yang berkaitan dengan kepegawaian.
c) Melaksanakan pengarsipan dan pengepakan tentang kenaikan pangkat,
sertifikasi, serta lainnya bidang kepegawaian.
d) Merekapitulasi, melaporkan dan menyerahkan berkas-berkas bidang
kepegawaian.
e) Pengumpulan pengolahan data dan penyimpanan berkas-berkas administrasi
kepegawaian.
f) Melaksanakan koordinasi proses sertifikasi prestasi guru.
3. Pelaporan kesekertariatan/umum
a) Mengkoordinasikan penyusunan program kerja, penyelenggaraan kegiatan
dan penyusunan laporan Dinas.
4

b) Menyelenggarakan kegiatan kesekretariatan di lingkungan Dinas yang


meliputi perencanaan dan pengelolaan administrasi umum, administrasi
kepegawaian, perlengkapan, keuangan, kearsipan, aset serta
kerumahtanggaan.
c) Menyelenggarakan kegiatan pembinaan dan mengusulkan kenaikan pangkat,
promosi, rotasi dan pemerataan kepegawaian meliputi tenaga struktural dan
fungsional.
d) Merencanakan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikann pendidikan non
formal sesuai kewenangannya.
e) Mengkoordinasikan penyusunan laporan kegiatan dinas secara periodik.
4. Kegiatan Bina Program
a) Mengumpulkan dan pengolahan data dan informasi, mengimplementarisasi
permasalahan serta melakasanakan pemecahan permasalahan yang berkaitan
dengan urusan bina program.
b) Pendataan Nomor Induk Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK).
c) Pendataan Nomor Induk Nasional dan
d) Menyusun konsep Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Standar
Pelayanan Minimal (SPM) beserta indikator kinerja Seksi Kesiswaan.
5. Urusan Perjalanan Dinas, merupakan salah satu kegiatan di Dinas Pendidikan
Kota Bogor sebagai alat pemberitahuan yang ditujukan kepada pejabat atau
karyawan tertentu untuk melaksanakan perjalanan dinas serta pemberian fasilitas
perjalanan dan pembiayaan. Hal ini dilakukan untuk pendataan kerjasama atau
koordinasi di bidang pendidikan baik internal maupun eksternal.
6. Pendataan dan pengarsipan keuangan, merupakan kegiatan yang berhubungan
dengan keuangan seperti:
a) Membimbing, mengendalikan dan mengevaluasi hasil kerja bawahan dalam
upaya meningkatkan produktivitas kerja di bidang keuangan.
b) Melaksanakan pengelolaan administrasi keuangan yang meliputi penerimaan,
pembukuan, penyimpanan, pembayaran dan penyetoran pendapatan.
4

c) Memproses dan menghimpun laporan keuangan dan dana yang bersumber


dari Bantuan Pemerintah, Pemerintah Propinsi, Bantuan Luar Negeri dan
lainnya.
d) Membantu pelaksanaan penatausahaan keuangan satuan kerja perangkat
daerah (SKPD).
7. Pemeliharaan gedung dan lingkungan, merupakan suatu kegiatan yang
berhubungan dengan pemeliharaan gedung dan lingkungan kerja pada Dinas
Pendidikan Kota Bogor.
8. Belanja modal, barang dan jasa, merupakan suatu kegiatan yang berhubungan
dengan pembelian barang dan jasa yang nantinya dipergunakan untuk kelancaran
kegiatan yang ada pada Dinas Pendidikan Kota Bogor.

4.3.2 Penggerak Aktivitas


Dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya tidak langsung disebut drivers.
Sebuah penggerak sumber daya (resource driver) adalah sebuah dasar yang dipakai untuk
mengalokasikan biaya sumber daya ke aktivitas-aktivitas yang berbeda. Penggerak
aktivitas (activity driver) adalah sebuah dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya
aktivitas ke produk, pelanggan, atau objek biaya akhir. Pada Kantor Dinas Pendidikan
Kota Bogor aktivitas dan activity driver dapat disusun sebagai berikut:
Tabel 2. Activity driver pada aktivitas di Kantor Pendidikan Kota Bogor.
No. Aktivitas Activity Driver
1. Arsip Surat Menyurat Jumlah aktivitas surat masuk dan surat keluar.
2. Pengecekan Kepegawaian Jumlah dari kegiatan pengecekan sub bagian umum dan
kepegawaian.
3. Pelaporan Kesekretariatan Jumlah dari kegiatan operating dan pelaporan
kesekretariatan.
4. Kegiatan Binaprogram Jumlah dari kegiatan bina program ([Link]
dasar, kurikulum, kesiswaan, dan [Link]
menengah).
5. Urusan Perjalanan Dinas Jumlah dari kegiatan perjalanan dinas.
6. Pendanaan dan Pengarsipan Jumlah dari kegiatan [Link] dan pelaporan
Keuangan serta pengarsipan keuangan.
7. Pemeliharaan gedung dan Jumlah dari kegiatan pemeliharaan gedung dan
Lingkungan lingkungan.
8. Belanja modal, barang dan jasa. Jumlah dari kegiatan belanja modal, barang dan jasa.
Sumber : Data Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) Dinas Pendidikan Kota Bogor
4

4.3.3 Penggerak Aktivitas yang Dibutuhkan


Pada penjelasan mengenai aktivitas utama yang ada di Dinas Pendidikan Kota
Bogor, terdapat delapan aktivitas yang sering dilakukan atau sebagai aktivitas inti yang
terdapat pada kantor tersebut. Semua aktivitas yang ada atau jumlah activity driver
mengacu kepada Renja (Rencana Kerja) Dinas Pendidikan Kota Bogor tahun 2010.
Delapan aktivitas tersebut sebagai aktivitas utama yang digunakan untuk melakukan
perhitungan jumlah activity driver. Sebagai contoh pada aktivitas arsip surat menyurat
mengacu kepada berapa kali surat masuk dan keluar selama setahun pada kantor Dinas
Pendidikan Kota Bogor. Rincian kegiatan untuk menentukan jumlah aktivitas, dapat diliat
pada Lampiran 2. Total kegiatan pertahun pada aktivitas tersebut dapat dilihat pada Tabel
3. Jumlah aktivitas per tahun akan digunakan dalam perhitungan ABB secara spesifik.
Tabel 3. Rincian perhitungan aktivitas

No. Aktivitas Jumlah Aktivitas


1. Arsip Surat Menyurat 1500
2. Pengecekan Kepegawaian 1293
3. Pelaporan Kesekretariatan 904
4. Kegiatan Binaprogram 1432
5. Urusan Perjalanan Dinas 36
6. Pendanaan dan Pengarsipan Keuangan 328
7. Pemeliharaan gedung dan Lingkungan 240
8. Belanja modal, barang dan jasa. 36
Sumber : Data tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) Dinas Pendidikan Kota Bogor

4.3.4 Sumber Daya dan Biaya yang dibutuhkan dalam Pelaksanaan Aktivitas
Aktivitas-aktivitas yang ada pada Dinas Pendidikan Kota Bogor tidak akan
berjalan dengan semestinya tanpa adanya sumber daya dan biaya sebagai pendukung
kelancaran dari aktivitas-aktivitas tersebut. Dengan demikian, sumber daya dan biaya
yang dibutuhkan di dalam pelaksanaan aktivitas tersebut membutuhkan lima sumber daya
dan biaya, yaitu:
1. Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja langsung atau honorer yang terlibat langsung dalam proses
organisasi pada Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor, terdapat 15 (lima belas)
4

pegawai honorer dengan gaji per bulan Rp. 400.000, dibayar 13 (tiga belas)
bulan. Jumlah gaji pegawai honorer pada tahun 2009 adalah Rp. 78.000.000.
2. Tenaga Kerja Tidak Langsung
Tenaga kerja tidak langsung atau pegawai tetap pada Dinas Pendidikan
Kota Bogor pada tahun 2009 terdapat 162 (seratus enam puluh dua) pegawai
tetap termasuk dengan Kepala Dinas berserta seluruh Staf yang bertugas.
Untuk menghitung total gaji per jabatan sesuai aktivitas, maka terlebih dahulu
harus mengetahui gaji rata-rata pegawai per jabatan dan total gaji rata-rata (13
bulan) para pegawai. Tabel 4, memaparkan data rata-rata gaji pegawai untuk
setiap jabatan pada tahun 2009.
Tabel 4. Daftar gaji rata-rata pegawai tahun 2009
Jabatan Jumlah Personel Gaji rata-rata Total Gaji rata-
(orang) (Rp) rata (13 bln)

Kepala Dinas 1 5.200.000 67.600.000


Sekretaris Dinas 1 4.200.000 54.600.000
Kepala Bidang 4 4.000.000 52.000.000
Kepala Sub Bagian 3 3.300.000 42.900.000
Kepala Seksi 11 3.500.000 45.500.000
Staf 142 1.800.000 23.400.000
Total 162 22.000.000 286.000.000

Setelah data gaji rata-rata 13 (tiga belas) bulan dan asumsi-asumsi


diperoleh, selanjutnya memulai perhitungan untuk memperoleh nilai total
biaya personel per aktivitas. Alokasi biaya tersebut dijabarkan pada Tabel 5.
4

Tabel 5. Perhitungan biaya personel per aktivitas


Kepala Total Biaya
No. Kepala Sekertaris Kepala Sub Kepala Jumlah Personel
Aktv Dinas Dinas Bidang Bagian Seksi Staf Personel (Rp)
1 0,13 0,13 0,00 0,50 0,00 10,00 10,75 270.725.000
2 0,13 0,13 0,00 1,00 0,00 20,00 21,25 526.175.000
3 0,13 0,13 0,00 0,50 0,00 20,00 20,75 504.725.000
4 0,13 0,13 0,00 1,00 0,00 15,00 16,25 409.175.000
5 0,13 0,13 1,00 0,00 4,00 30,00 35,25 951.275.000
6 0,13 0,13 1,00 0,00 2,00 20,00 23,25 626.275.000
7 0,13 0,13 1,00 0,00 2,00 15,00 18,25 509.275.000
8 0,13 0,13 1,00 0,00 3,00 12,00 16,25 484.575.000
1,00 1,00 4,00 3,00 11,00 142,00 162,00 [Link]
Sumber :Data Kepegawaian Dinas Pendidikan Kota Bogor (diolah)
Perhitungan biaya per aktivitas, di dapat dari perhitungan skor pegawai
diakumulasikan dengan gaji rata-rata (13 bulan). Dapat diambil contoh Kepala
Dinas. Kepala Dinas diasumsikan dapat mengawasi dan mengontrol semua
aktivitas yang terdapat pada Dinas Pendidikan Kota Bogor. Satu orang Kepala
Dinas dibagi delapan aktivitas dan masing-masing aktivitas memperoleh skor
0,13. Perhitungan yang sama juga dilakukan kepada Sekertaris Dinas, Kepala
Bidang, Kepala Sub Bagian, Kepala Seksi dan yang terakhir Staf. Skor yang
diperoleh kemudian diakumulasikan sehingga diperoleh jumlah personel.
Selanjutnya masing-masing skor dikalikan dengan gaji rata-rata (13 bulan)
setiap jabatan yang diperoleh dari Tabel 4, sehingga diperoleh total biaya
personel per aktivitas yang kemudian dijumlahkan dengan delapan aktivitas,
seperti yang dijabarkan di Tabel 5 dengan jumlah total adalah [Link].
3. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana
Biaya yang mencangkup pemeliharaan sarana dan prasarana sebagai
berikut yaitu, pemakaian listrik, PDAM, pemakaian telpon, pemeliharaan
bangunan, pemeliharaan perlengkapan kantor, biaya service kendaraan, dan
biaya pemeliharaan komputer selama satu tahun. Biaya-biaya tersebut adalah
biaya yang termasuk dalam biaya pemeliharan sarana dan prasarana yang
nantinya akan diakumulasikan dengan luas bangunan kantor Dinas Pendidikan
secara keseluruhan. Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor mempunyai luas
4

bangunan seluas 300m2. Setelah biaya-biaya tersebut diperoleh barulah bisa


dihitung biaya yang dikeluarkan untuk masing-masing aktivitas utama per
meter persegi (m2).
Biaya yang timbul dari pemakaian biaya sarana dan prasarana pada
Dinas Pendidikan Kota Bogor untuk rencana tahun 2010 adalah sebesar Rp
51.980.000. Biaya pemeliharaan sarana dan prasarana berdasarkan ABB dapat
dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Biaya pemeliharaan sarana dan prasarana 2009
No. Jenis Pengeluaran Tahun 2009
1 Pemakaian Listrik 6.000.000
2 PDAM 6.700.000
3 Pemakaian Telpon 3.000.000
4 Pemeliharaan Bangunan 24.550.000
5 Pemeliharaan Perlengkapan Kantor 3.000.000
6 Biaya service kendaraan 20.000.000
7 Biaya Pemeliharaan Komputer 4.700.000
Total 68.550.000

Sumber: Penjabaran perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah


(2009).
Asumsi biaya pemeliharaan sarana dan prasarana diperoleh dari data
pada Tabel 6 (misalnya: pemakaian listrik pada tahun 2009 sebesar Rp.
6.000.000 dibagi dengan luas bangunan keseluruhan yaitu 300m 2, sehingga
diperoleh biaya pemakaian listrik per m 2 dapat dilihat pada Tabel 7. Begitu
juga dalam menentukan asumsi-asumsi biaya yang lainnya.
4

Tabel 7. Asumsi biaya pemeliharaan sarana dan prasarana tahun 2009


No. Jenis Pengeluaran Rp/Tahun/m2
1 Pemakaian Listrik 20.000
2 PDAM 22.333
3 Pemakaian Telpon 12.000
4 Pemeliharaan Bangunan 81.833
Pemeliharaan Perlengkapan
5 Kantor 10.000
6 Biaya service kendaraan 66.667
7 Biaya Pemeliharaan Komputer 15.667
Sumber: Penjabaran perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah
(2009).
4. Kendaraan Dinas
Kendaraan dinas adalah pendukung bagi kelancaran aktivitas-aktivitas
yang dilakukan pada Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor, hal ini tentu
menjadi penghubung didalam kelancaran aktivitas yang dilakukan terhadap
biaya yang dikeluarkan. Dinas Pendidikan Kota Bogor mempunyai beberapa
kendaraan dinas yang digunakan sebagai pendukung aktivitas agar berjalan
dengan lancar dan tepat waktu. Kendaraan yang terdapat pada Kantor Dinas
Pendidikan Kota Bogor yaitu satu jenis sedan Vios, satu Kijang LGQ, dan
delapan sepeda motor Supra Fit. Kendaraan tersebut dijabarkan pada Tabel 8.
Tabel 8. Keadaan kendaraan dinas
No Jenis Kendaraan Qty(Unit) Harga (Rp) Jumlah (Rp)
1 Vios 1 190.000.000 190.000.000
2 Kijang LGQ 1 150.000.000 150.000.000
3 Supra Fit 8 11.500.000 92.000.000
Sumber: Penjabaran perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah (2009).
Perhitungan nilai kendaraan dinas, juga akan digunakan dalam
perhitungan rencana penyusutan inventaris Kantor Dinas Pendidikan Kota
Bogor tahun 2010, dengan menggunakan pedoman data keuangan tahun 2009.
4

5. Perlengkapan Administrasi
Nilai perhitungan biaya perlengkapan administrasi, seperti biaya alat
tulis kantor, biaya benda pos, biaya alat cetak, biaya pengadaan (fotocopy dan
buku), serta biaya jasa pengumuman (media massa) akan digunakan sebagai
perhitungan nilai ABB. Biaya administrasi yang timbul pada tahun 2010
adalah Rp. 52.931.400
Tabel 9. Biaya administrasi tahun 2009

No Jenis Perlengkapan Tahun 2009


1 Biaya Alat Tulis Kantor 44.912.400
2 Biaya Benda Pos 14.400.000
3 Biaya Alat Cetak 7.128.000
4 Biaya Pengadaan (fotocopy dan buku) 6.460.000
5 Biaya Jasa Pengumuman(Media Massa) 6.000.000
Total 78.900.400
Sumber: Penjabaran perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah
(2009).
Perhitungan nilai ABB untuk biaya administrasi Kantor Dinas
Pendidikan Kota Bogor secara lengkap terdapat pada Lampiran 4.
6. Perlengkapan Rumah Tangga
Perlengkapan rumah tangga adalah perlengkapan yang biasa
digunakan sebagai perlengkapan tambahan untuk melakukan kegiatan yang
berhubungan dengan kegiatan internal kantor. Biaya perlengkapan rumah
tangga yang terdapat pada Kantor Pendidikan Kota Bogor diantaranya yaitu
peralatan alat listrik dan elektronik, peralatan kebersihan dan bahan
pembersih, makanan dan minuman rapat, serta makanan dan minuman tamu.
Rencana yang dibutuhkan untuk keperluan rumah tangga tahun 2010 adalah
Rp 13.601.600. Besarnya biaya perlengkapan rumah tangga pada tahun 2009
dapat dilihat pada Tabel 10.
4

Tabel 10. Biaya perlengkapan rumah tangga 2009

No. Jenis Perlengkapan Tahun 2009


Alat Listrik dan Elektonik (lampu pijar dan
1 batrai) 2.287.600
2 Peralatan kebersihan dan bahan pembersih 2.314.000
3 Makanan dan Minuman Rapat 4.500.000
4 Makanan dan Minuman Tamu 4.500.000
Total 13.601.600
Sumber: Penjabaran perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah (2009)
4.3.5 Anggaran Investasi Baru
Anggaran investasi baru adalah anggaran investasi tambahan yang diperlukan
untuk melihat permintaan masing-masing bagian dalam mengevaluasi kelayakannya,
sehingga perhitungannya dibuat terpisah dari biaya operasionalnya. Dari data penjabaran
anggaran pendapatan dan belanja daerah tahun 2009 terdapat kegiatan investasi baru dan
renovasi, dengan menggunakan metode garis lurus didapatkan nilai sisa yang digunakan
untuk mendapatkan nilai depresiasi tahun 2009 (Tabel 11).
Untuk mendapatkan data realisasi per aktivasi 2009, perlu disusun terlebih dulu
alokasi biaya depresiasi per aktivitas dengan menggunakan tiga buah cost driver atau
biaya penggerak, yaitu:
1. Persentase penggunaan luas bangunan untuk alokasi biaya bangunan.
2. Persentase jumlah activity driver untuk alokasi biaya kendaraan
3. Presentase jumlah pegawai untuk alokasi penyusutan barang/alat kantor.
Tabel 11. Kegiatan investasti dan perbaikan kantor tahun 2009
Umur
No Jenis barang investasi Biaya (Rp) Nilai Sisa Rencana/thn Depresiasi/tahun (Rp)
Pemeliharaan Interior
1 ruang kantor 98.000.000 39.200.000 5 11.760.000
Pengadaan komputer dan
2 laptop 43.000.000 21.500.000 4 5.375.000
Pembeliian furnitur
3 kantor 10.000.000 4.000.000 5 1.200.000
Pengadaan kelengkapan
4 komputer (flas disk,dll) 54.000.000 21.600.000 5 6.480.000
5 Pengadaan AC 30.000.000 12.000.000 5 3.600.000
6 Pembelian mesin Genset 20.000.000 8.000.000 5 2.400.000
Jumlah 255.000.000 30.815.000
4

Besarnya persentase penyusutan ditahun 2009 adalah Rp. 30.815.000, terakhir


disusun rencana biaya penyusutan tahun 2010 adalah sebagai berikut:
Tabel 12. Rencana penyusutan biaya tahun 2010
Aktivitas Peralatan Alokasi Investasi ALOKASI
No. Bangunan Kendaraan Kantor 2009 2010 2010
Arsip Surat
1 Menyurat 13.657.313 21.566.303 1.575.656 36.799.272 4.588.750 41.388.022

Pengecekan
2 Kepegawaian 13.657.313 18.590.153 3.114.670 35.362.135 4.588.750 39.950.885

Pelaporan
3 Kesekretariatan 13.657.313 12.997.292 3.041.383 29.695.988 4.588.750 34.284.738
Kegiatan
4 Binaprogram 13.657.313 20.588.630 2.381.806 36.627.749 4.588.750 41.216.499

Urusan Perjalanan
5 Dinas 8.194.388 517.591 5.166.687 13.878.666 3.219.875 17.098.541
Pendanaan dan
Pengarsipan
6 Keuangan 8.194.388 4.715.832 3.407.815 16.318.034 3.219.875 19.537.909
Pemeliharaan
gedung dan
7 Lingkungan 87.406.801 3.450.608 2.674.952 93.532.361 2.581.786 96.114.147

Belanja modal,
8 barang dan jasa. 5.462.925 517.591 2.381.806 8.362.322 3.918.464 12.280.787

Jumlah 163.887.752 82.944.000 23.744.775 270.576.527 31.295.000 301.871.527


Sumber: Penjabaran perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah
Perhitungan pada Tabel 12, dapat diperoleh biaya akumulasi dari biaya
penyusutan bangunan, biaya penyusutan kendaraan, dan biaya penyusutan peralatan pada
Dinas Pendidikan Kota Bogor selama satu tahun, sehingga biaya tersebut dialokasikan
untuk biaya alokasi tahun 2009. Untuk biaya investasi 2010 dapat diperolah dari
perhitungan depresiasi terhadap barang yang telah di inventarisasikan. Untuk lebih
rincinya terdapat pada Lampiran 5, Lampiran 6, Lampiran 9, dan Lampiran 10.
4.3.6 Anggaran Biaya Tidak Langsung per Aktivitas
Dari analisa sumber daya tidak langsung pada penjelasan sebelumnya, dapat
disusun suatu format anggaran biaya tidak langsung seperti pada Tabel 13 berikut:
5

Tabel 13. Rincian anggaran biaya tidak langsung Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor
berdasarkan aktivitas (ABB)
Biaya
No. Aktivitas Biaya Bangunan Biaya Biaya
Aktivitas Personel &prasarana Penyusutan Administrasi Total Biaya
Arsip Surat
1 Menyurat 270.725.000 6.872.222 4.588.750 15.112.550 297.298.522
Pengecekan
2 Kepegawaian 526.175.000 7.538.889 4.588.750 7.312.550 545.615.189
Pelaporan
3 Kesekretariatan 504.725.000 7.094.444 4.588.750 7.312.550 523.720.744
Kegiatan
4 Binaprogram 409.175.000 9.538.889 4.588.750 7.312.550 430.615.189
Urusan
5 Perjalanan Dinas 951.275.000 11.077.778 3.219.875 7.312.550 972.885.203
Pendanaan dan
Pengarsipan
6 Keuangan 626.275.000 10.855.556 3.219.875 7.312.550 647.662.981
Pemeliharaan
gedung dan
7 Lingkungan 509.275.000 10.913.889 2.581.786 7.312.550 530.083.225
Belanja modal,
8 barang dan jasa. 484.575.000 4.658.333 3.918.464 19.912.550 513.064.348

Jumlah [Link] 68.550.000 31.295.000 78.900.400 [Link]


Sumber:Penjabaran perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah
Activity based budgeting akan menganggarkan biaya yang lebih tinggi untuk
banyaknya aktivitas yang tinggi pula, hal ini bisa dilihat pada penjelasan Tabel 13. Pada
Tabel 13, terlihat bahwa ABB membebankan biaya terbesar pada aktivitas lima yaitu
urusan perjalanan dinas sebesar Rp. 972.645.203. Besarnya beban biaya ini dikarenakan
aktivitas urusan perjalanan dinas memiliki nilai aktivitas yang paling banyak sehingga
memerlukan biaya yang lebih besar pula agar kegiatan tersebut berjalan dengan
semestinya. Selain itu, aktivitas pendanaan dan pengarsipan keuangan serta pengecekan
kepegawaian juga menganggarkan dana yang cukup besar pula, yaitu masing-masing
sebesar Rp. 647.422.981 dan Rp. 545.615.189. Anggaran biaya aktivitas ini lebih tinggi
karena aktivitas-aktivitas tersebut memiliki activity driver yang lebih besar dibandingkan
dengan aktivitas yang lainnya. Untuk memaksimalkan target-target yang belum atau akan
dicapai. Dinas Pendidikan Kota Bogor dapat mengeliminasi atau mengurangi aktivitas-
aktivitas yang memerlukan biaya yang cukup besar, sehingga diharapkan dapat
mengetahui atau mengidentifikasi aktivitas mana saja yang tidak bernilai tambah dan
5

bernilai tambah. Sehingga, terjadinya koordinasi dan keselarasan aktivitas Kantor Dinas
Pendidikan Kota Bogor di dalam melayani masyarakat.

4.4. Perhitungan Anggaran Biaya Dinas Pendidikan Kota Bogor


4.4.1 Anggaran yang Disusun secara konvensional
Anggaran konvensional yang digunakan yaitu anggaran yang berasal dari buku
anggaran Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun 2010 yang sudah
diolah oleh bagian keuangan Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor. Adapun anggaran
yang disusun secara konvensional dapat dilihat pada Tabel 14 berikut:
Tabel 14. Perhitungan yang disusun secara konvensional tahun 2010
Jenis Pengeluaran Tahun 2010 Konvensional (Rp)
Biaya Personalia [Link]
Kepala Dinas 67.600.000
Sekretaris Dinas 54.600.000
Kepala Bidang 52.000.000
Kepala Sub Bagian 42.900.000
Kepala Seksi 45.500.000
Staf 23.400.000
Pegawai Kontrak 78.000.000
Biaya Rumah Tangga 12.301.600
Alat Listrik dan Elektonik (lampu pijar dan
batrai) 2.260.600
Peralatan kebersihan dan bahan pembersih 1.341.000
Makanan dan Minuman Rapat 4400000
Makanan dan Minuman Tamu 4300000
Biaya Administrasi 72.603.400
Biaya Alat Tulis Kantor 44.021.400
Biaya Benda Pos 14.200.000
Biaya Alat Cetak 6.022.000
Biaya Pengadaan (fotocopy dan buku) 4.360.000
Biaya Jasa Pengumuman(Media Massa) 4.000.000
Biaya Gedung dan Lingkungan 23.230.000
Pemeliharaan Bangunan 23.230.000
Biaya Penyusutan 29.540.000
Biaya Pemeliharaan Kendaraan 15.000.000
Biaya service kendaraan 15.000.000
Total [Link]
5

4.4.2 Anggaran yang Disusun dengan Metode ABB


Anggaran yang disusun dengan metode ABB memerlukan penjabaran sumber
daya dan biaya-biaya yang mempengaruhi atau biaya yang dibutuhkan dalam
melaksanakan aktivitas. Anggaran yang disusun dengan metode ABB didapat dari
anggaran DPA-SKPD tahun 2010 yang telah diakumulasikan dengan delapan aktivitas
utama pada Dinas Pendidikan Kota Bogor. Dengan demikian diperoleh hasil perhitungan
yang disusun dengan metode ABB. Rincian anggaran dengan metode ABB dapat dilihat
pada Tabel 15 berikut:
Tabel 15. Perhitungan anggaran dengan metode ABB untuk tahun 2010
Jenis Pengeluaran Tahun 2010 ABB
Biaya personalia [Link]
Kepala Dinas 67.600.000
Sekretaris Dinas 54.600.000
Kepala Bidang 52.000.000
Kepala Sub Bagian 42.900.000
Kepala Seksi 45.500.000
Staf 23.400.000
Pegawai Kontrak 78.000.000
Biaya Rumah Tangga 13.601.600
Alat Listrik dan Elektonik (lampu pijar dan
batrai) 2.287.600
Peralatan kebersihan dan bahan pembersih 2.314.000
Makanan dan Minuman Rapat 4.500.000
Makanan dan Minuman Tamu 4.500.000
Biaya Administrasi 78.900.400
Biaya Alat Tulis Kantor 44.912.400
Biaya Benda Pos 14.400.000
Biaya Alat Cetak 7.128.000
Biaya Pengadaan (fotocopy dan buku) 6.460.000
Biaya Jasa Pengumuman(Media Massa) 6.000.000
Biaya Gedung dan Lingkungan 24.550.000
Pemeliharaan Bangunan 24.550.000
Biaya Penyusutan 31.295.000
Biaya Pemeliharaan Kendaraan 20.000.000
Biaya service kendaraan 20.000.000
Total [Link]
5

4.4.3 Perbandingan Anggaran Konvensional versus ABB


Setelah mendapatkan biaya-biaya penggerak aktivitas, langkah selanjutnya
dilakukannya perbandingan antara anggaran secara konvensional dengan anggaran yang
diperoleh dengan metode ABB. Perbandingan dilakukan untuk mendapatkan nilai varians
atau selisih, sehingga dapat dilihat seberapa besar selisih, dan apakah dengan selisih
tersebut metode ABB bisa diterapkan di Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor atau tidak.
Perbandingan kedua anggaran tersebut dapat dilihat pada Tabel 16 berikut:
Tabel 16. Perbandingan anggaran yang disusun secara konvensional dan anggaran
dengan metode ABB
Konvensional
Jenis Pengeluaran Tahun 2010 ABB Tahun 2009 (Rp)
Biaya personalia [Link] [Link]
Kepala Dinas 67.600.000 67.600.000
Sekretaris Dinas 54.600.000 54.600.000
Kepala Bidang 52.000.000 52.000.000
Kepala Sub Bagian 42.900.000 42.900.000
Kepala Seksi 45.500.000 45.500.000
Staf 23.400.000 23.400.000
Pegawai Kontrak 78.000.000 78.000.000
Biaya Rumah Tangga 13.601.600 12.301.600
Alat Listrik dan Elektonik (lampu pijar dan
batrai) 2.287.600 2.260.600
Peralatan kebersihan dan bahan pembersih 2.314.000 1.341.000
Makanan dan Minuman Rapat 4.500.000 4.400.000
Makanan dan Minuman Tamu 4.500.000 4.300.000
Biaya Administrasi 78.900.400 72.603.400
Biaya Alat Tulis Kantor 44.912.400 44.021.400
Biaya Benda Pos 14.400.000 14.200.000
Biaya Alat Cetak 7.128.000 6.022.000
Biaya Pengadaan (fotocopy dan buku) 6.460.000 4.360.000

Biaya Jasa Pengumuman(Media Massa) 6.000.000 4.000.000


Biaya Gedung dan Lingkungan 24.550.000 23.230.000
Pemeliharaan Bangunan 24.550.000 23.230.000
Biaya Penyusutan 31.295.000 29.540.000
Biaya Pemeliharaan Kendaraan 20.000.000 15.000.000
Biaya service kendaraan 20.000.000 15.000.000
Total [Link] [Link]
5

Berdasarkan dari Tabel 16, dapat simpulkan yaitu besarnya selisih antara ABB
dengan anggaran biaya konvensional yang terjadi yaitu antara 1%-25%. Hal ini
menunjukkan bahwa anggaran yang disusun berdasarkan metode ABB dibandingkan
dengan anggaran yang disusun dengan menggunakan metode konvensional lebih
mendekati nilai realisasi. Dengan demikian, sebaiknya Dinas Pendidikan Kota Bogor
menggunakan metode ABB yang lebih mendekati nilai realisasi dibandingkan dengan
menggunakan metode konvensional. Dengan metode ABB besarnya penyimpangan
antara anggaran dan realisasi dapat teratasi dengan baik.
4.4.4 Perbandingan Varians Anggaran Konvensional versus ABB
Penganggaran yang disusun dengan menggunakan metode konvensional
mendapatkan nilai anggaran tersebut dari data keuangan perubahan anggaran pendapatan
dan belanja daerah tahun 2010 (PAPBD). Untuk nilai realisasi anggaran diperoleh dari
data realisasi Dinas Pendidikan tahun 2010. Kedua nilai tersebut menentukan nilai
varians antara anggaran dan pengeluaran dalam satu periode waktu tertentu. Hal ini
dilakukan untuk memudahkan pengelola anggaran didalam pertanggungjawabanya untuk
melihat seberapa besar atau kecilnya suatu varians agar dapat cepat diatasi didalam
perhitungannya. Nilai yang diperoleh dari varians antara anggaran yang telah dibuat
instansi (konvensional) dengan realisasi yang terjadi dapat dilihat seperti yang tertera
pada Tabel 17 berikut:
Tabel 17. Perhitungan varians anggaran konvensional tahun 2010
Konvensional
Jenis Pengeluaran Tahun 2010 (Rp) Realisai Selisih (Rp) %
Biaya personalia [Link] [Link] -119.654.303 -2,8
Kepala Dinas 67.600.000
Sekretaris Dinas 54.600.000
Kepala Bidang 52.000.000
Kepala Sub Bagian 42.900.000
Kepala Seksi 45.500.000
Staf 23.400.000
Pegawai Kontrak 78.000.000
Biaya Rumah Tangga 12.301.600 13.851.600 -1.550.000 -12,6
Alat Listrik dan
Elektonik (lampu pijar
dan batrai) 2.260.600
Peralatan kebersihan
dan bahan pembersih 1.341.000
5

Tahun Konvensional
Jenis Pengeluaran 2010 (Rp) Realisai selisih (Rp) %
Makanan dan Minuman Rapat 4.400.000
Makanan dan Minuman Tamu 4.300.000
Biaya Administrasi 72.603.400 79.983.400 -7.380.000 -10,2
Biaya Alat Tulis Kantor 44.021.400
Biaya Benda Pos 14.200.000
Biaya Alat Cetak 6.022.000
Biaya Pengadaan (fotocopy dan
buku) 4.360.000
Biaya Jasa Pengumuman(Media
Massa) 4.000.000
Biaya Gedung dan Lingkungan 23.230.000 25.860.000 -2.630.000 -11,3

Pemeliharaan Bangunan 23.230.000


Biaya Penyusutan 29.540.000 31.790.000 -2.250.000 -7,6
Biaya Pemeliharaan Kendaraan 15.000.000 12.500.000 2.500.000 16,7
Biaya service kendaraan 15.000.000
Total 152.675.000 163.985.000 -11.310.000

Dari Tabel 17, memperhitungkan selisih antara anggaran yang disusun secara
konvensional dengan realisasinya, terlihat terjadinya selisih sebesar antara 2%-11%.
Komponen biaya yang memiki varians unfavorable yang besar terdapat pada biaya
rumah tangga (-12,6%) dan biaya gedung dan lingkungan (-11,3%). Sedangkan
komponen biaya yang memiliki varians favorable atau yang bernilai positif adalah hanya
biaya pemeliharaan kendaraan (16,7%).
Dari data tersebut bisa dilihat bahwa biaya rumah tangga (-12,6%) memiliki
varians yang paling besar dibandingkan variable yang lainnya. Varians ini dipengaruhi
karena biaya yang dikeluarkan mengalami kenaikan biaya, diantaranya jamuan tamu dan
rapat kantor yang sering diadakan pada Dinas Pendidikan Kota Bogor tahun 2010. Untuk
biaya gedung dan lingkungan (-11,3%). Besarnya presentase ini dikarenakan adanya
biaya perbaikan gedung yang rusak akibat cuaca di kota Bogor. Biaya pemeliharaan
kendaraan (16,7%) memiliki nilai yang favorable. Hal ini dikarenakan pada tahun 2010
tidak banyak anggaran service kendaraan yang dikeluarkan dibandingkan dengan tahun
sebelumnya yaitu tahun 2009, sehingga dapat mengurangi biaya pemeliharaan kendaraan
tahun 2010. Kelebihan dana tersebut nantinya akan dikembalikan pada kas daerah diakhir
5

tahun dan dapat menutupi kekurangan pada biaya lainnya. Oleh karena itu, instansi
pemerintah harus mampu mengendalikan kekurangan dan menyesuaikan penganggaranya
agar tidak terjadi kekurangan dana.
Varians antara anggaran dengan metode ABB terhadap realisasi yang terjadi
dapat dilihat pada Tabel 18 berikut:
Tabel 18. Perhitungan varians anggaran dengan metode ABB terhadap realisasi
tahun 2010
Jenis Pengeluaran Tahun 2010 ABB Realisai selisih (Rp) %
Biaya personalia [Link] [Link] -89.854.303 -2,06
Kepala Dinas 67.600.000
Sekretaris Dinas 54.600.000
Kepala Bidang 52.000.000
Kepala Sub Bagian 42.900.000
Kepala Seksi 45.500.000
Staf 23.400.000
Pegawai Kontrak 78.000.000
Biaya Rumah Tangga 13.601.600 13.851.600 -250.000 -1,84
Alat Listrik dan Elektonik
(lampu pijar dan batrai) 2.287.600
Peralatan kebersihan dan
bahan pembersih 2.314.000
Makanan dan Minuman Rapat 4.500.000
Makanan dan Minuman Tamu 4.500.000
Biaya Administrasi 78.900.400 79.983.400 -1.083.000 -1,37
Biaya Alat Tulis Kantor 44.912.400
Biaya Benda Pos 14.400.000
Biaya Alat Cetak 7.128.000
Biaya Pengadaan (fotocopy
dan buku) 6.460.000
Biaya Jasa
Pengumuman(Media Massa) 6.000.000
Biaya Gedung dan
Lingkungan 24.550.000 25.860.000 -1.310.000 -5,34
Pemeliharaan Bangunan 24.550.000
Biaya Penyusutan 31.295.000 31.790.000 -495.000 -1,58
Biaya Pemeliharaan
Kendaraan 20.000.000 18.000.000 2.000.000 10,00
Biaya service kendaraan 20.000.000
Total 75.845.000 [Link] -90.992.303
5

Dari perhitungan varians anggaran dengan metode ABB terhadap realisasi terlihat
bahwa besarnya selisih dibawah enam persen. Selisih ini terdapat pada biaya gedung dan
administrasi (-3,34%). Selain itu komponen biaya yang sebelumnya memiliki nilai yang
besar pada perhitungan biaya konvensional, pada perhitungan ABB dengan realisasinya
banyak komponen yang nilainya turun. Komponen-komponen tersebut adalah biaya
personalia (-2,06%) dan biaya penyusutan (-1,87%). Perhitungan untuk biaya gedung dan
bangunan memiliki nilai yang besar dikarenakan adanya perbaikan gedung yang sudah
lanjut usia dan karena cuaca di Bogor yang sering hujan. Kondisi ini menjadikan gedung
butuh perbaikan untuk beberapa sudut bagian gedung yang rusak akibat cuaca tersebut.
Begitu juga dengan biaya personalia dan biaya penyusutan. Hal ini terjadi adanya
penambahan kegiatan sehingga nilainya menjadi lebih besar dibandingkan nilai yang
lainnya. Pada biaya personalia adanya penambahan gaji 10% dari pemerintah dan untuk
pegawai honorer sesuai kebijakan dari Walikota Bogor. Perubahan ini mempengaruhi
perubahan terhadap nilai varians, hal-hal seperti itulah yang menyebabkan realisasi
keuangan Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor membutuhkan dana yang lebih besar dari
pada dana yang telah dianggarkan. Metode ABB dan realisasinya memiliki varians yang
lebih kecil dibandingkan dengan varians konvensional dengan realisasinya.

4.5. Uji Penyimpangan Anggaran


Setelah mengetahui penyebab dari selisih (penyimpangan yang terjadi),
selanjutnya akan dilakukan pengujian hipotesis. Uji penyimpangan atau uji hipotesis
anggaran dilakukan terhadap realisasi yang disusun secara konvensional dan uji
penyimpangan anggaran terhadap realisasi yang disusun dengan metode ABB. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui apakah penyimpangan yang terjadi masih dalam batas
pengendalian manajemen instalasi.
Uji penyimpangan ini dilakukan berdasarkan biaya-biaya utama yang ada pada
anggaran yang disusun yaitu biaya personalia, biaya rumah tangga, biaya administrasi,
biaya gedung dan lingkungan, biaya penyusutan dan biaya pemeliharaan kendaraan.
5

Tabel 19. Perbedaan uji penyimpangan

Uji Penyimpangan Nilai thitung


Konvensional -1,119
ABB -1,016

1. Uji Penyimpangan Anggaran terhadap Realisasi yang Disusun secara Konvensional.


Setelah dilakukan uji t-test, anggaran yang disusun secara konvensional pada
Dinas Pendidikan Kota Bogor tahun 2010, diperoleh thitung sebesar -1,119 ttabel sebesar
0,314 dengan taraf signifikan (α) yang digunakan adalah 5% dan derajat kebebasan (df)
5. Dari data tersebut nilai ttabel lebih besar (α) 5% Ho diterima. Artinya penyimpangan
yang terjadi antara anggaran yang disusun secara konvensional dan realisasinya tidak ada
perbedaan yang mencolok sehingga realisasi masih dalam batas pengendalian. Hasil
pengujian pada anggaran yang disusun secara konvensional dapat dilihat pada Lampiran
7.
2. Uji Penyimpangan Anggaran terhadap Realisasi yang Disusun dengan Metode ABB.
Hasil uji t-test pada penyimpangan anggaran yang disusun dengan metode ABB
pada Dinas Pendidikan Kota Bogor tahun 2010 diperoleh thitung sebesar -1,016 ttabel
sebesar 0,356 dengan taraf signifikan (α) yang digunakan adalah 5% dan derajat
kebebasan (df) 5. Dari data tersebut nilai ttabel lebih besar (α) 5% Ho diterima. Artinya
penyimpangan yang terjadi antara anggaran yang disusun dengan metode ABB dan
realisasinya tidak ada perbedaan yang mencolok sehingga realisasi masih dalam batas
pengendalian. Hasil pengujian pada anggaran yang disusun secara konvensional dapat
dilihat pada Lampiran 8.
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap anggaran operasional kantor Dinas
Pendidikan Kota Bogor dapat disimpulkan:
a) Prosedur penyusunan anggaran operasional pada Kantor Dinas Pendidikan Kota
Bogor dimulai dari penjabaran visi, misi, dan kebijakan Kantor Dinas Pendidikan
Kota Bogor berserta TUPOKSI (tugas pokok dan fungis) seluruh bidang. Masing-
masing bidang tersebut membuat rencana kegiatan untuk satu tahun kedepan yaitu
Rencana Kerja Anggaran (RKA) yang terdiri dari Renstra dan Renja. Kemudian
membuat Dokumen Pedoman Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan
Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD). SKPD tersebut akan dikirim dan dimintai
persetujuan dari DPRD, dan hasil persetujuan antara DPRD dengan Kepala Daerah
diperoleh dokumen Rencana Peraturan Derah tentang penjabaran Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kemudian hasil evaluasi menjadi Perda
APBD yang disahkan oleh DPRD. Setelah itu hasil Perda APBD menjadi Rencana
Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah ([Link]-SKPD)
kemudian diajukan kepada Kepala Daerah berupa verifikasi DPA oleh Tim
Anggaran Pemda dan disahkan oleh Kepala Dinas. DPA-SKPD adalah dokumen
yang memuat pendapatan, belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar
pelaksanaan anggaran oleh pengguna anggaran.
b) Anggaran yang disusun dengan menggunakan metode konvensional dengan metode
ABB adalah anggaran yang menggunakan metode ABB ternyata lebih mendekati
nilai realisasi. Dilihat dari persentase antara ABB dengan realisasi berkisar antara
1%-5%, dengan komponen biaya yang memiki varians unfavorable yang besar
terdapat pada biaya gedung dan lingkungan (-5,34%) sedangkan komponen biaya
yang memiliki varians favorable atau yang bernilai positif adalah biaya
pemeliharaan kendaraan (10%). Untuk metode konvensional dengan realisasinya
berkisar antara 2%-11%, dengan komponen biaya yang memiliki varians
unfavorable yang besar terdapat pada biaya rumah tangga (-12,6%), sedangkan
58

komponen biaya yang memiliki varians favorable biaya pemeliharaan kendaraan


(16,7%). Terlihat bahwa pada perhitungan anggaran yang disusun secara
konvensional terjadi rata-rata varians yang cukup besar. Sedangkan dengan
perhitungan ABB varians yang terjadi cukup kecil (rata-rata dibawah 6%). Oleh
karena itu, dapat disimpulkan ternyata anggaran yang dibuat dengan metode
konvensional hanya melihat anggaran pada tahun lalu, sedangkan ABB melihat
banyaknya aktivitas yang akan dilakukan.
c) Hasil uji t-test pada penyimpangan anggaran yang disusun secara konvensional
memiliki nilai thitung sebesar -1,119 dan ttabel sebesar 0,314. Sedangkan

penyimpangan dengan menggunakan metode ABB memiliki nilai thitung sebesar -

1,016 dan ttabel sebesar 0,356. Uji penyimpangan kedua metode tersebut
menggunakan taraf signifikan (α) yang digunakan adalah 5% dan derajat kebebasan
(df) 5. Dari data tersebut nilai ttabel lebih besar (α) 5%, maka Ho diterima. Artinya
penyimpangan yang terjadi antara anggaran yang disusun dengan metode ABB dan
realisasinya maupun konvensional dengan realisasinya tidak ada perbedaan yang
mencolok, sehingga realisasi masih dalam batas pengendalian.
2. Saran
Metode ABB mendefinisikan hubungan yang jelas antara mengkonsumsi sumber
daya dengan output atau keluaran. Hal ini tentunya dapat mempermudah adanya
perbaikan berkesinambungan. Untuk memaksimalkan target-target yang belum atau akan
dicapai, Dinas Pendidikan Kota Bogor dapat mengeliminasi atau mengurangi aktivitas-
aktivitas yang memerlukan biaya yang cukup besar, sehingga diharapkan dapat
mengetahui atau mengidentifikasi aktivitas mana saja yang tidak bernilai tambah dan
bernilai tambah. Sehingga, terjadinya koordinasi dan keselarasan aktivitas Kantor Dinas
Pendidikan Kota Bogor di dalam melayani masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Hansen,D.R. dan M.M. Mowen. 2005. Akuntansi Manajemen (Terjemajahan, jilid 1).
Edisi ke-7. Salemba Empat, Jakarta.
Hendardi, A.2002. Penyusunan Anggaran Berdasarkan Aktivitas (Activity Based
Budgeting) Pada Komponen Biaya Operasional Jasa(Studi Kasus pada Divisi
Forwading PT. (P) Kawasan Berikat Nusantara). Tesis pada Program Studi
Megister Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia,Depok .
Mardiasmo.2009. Akuntansi Sektor Publik. ANDI, Yogyakarta.
[Link] Manajemen:Konsep, Manfaat, dan Rekayasa. Edisis ke-3.
Salemba Empat, Jakarta.
Munandar,[Link] [Link], Yogyakarta.
Nafarin,[Link] Perusahaan 1. Edisi ke-3. Salemba Empat, Jakarta.
Ratmarisa,R.2011. Analisis Penerapan Activity Based Budgeting (ABB) pada Anggaran
Belanja Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Mukomuko, Bengkulu.
Prawatiningsih,D.2007. Evaluasi Anggaran Belanja sebagai Alat Pengendalian Keuangan
(Studi Kasus: Badan Rumah Sakit Daerah Ciawi). Skripsi pada Departemen
Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
Riduwan.2005. Dasar-dasar Statistik. Alfabeta, Bandung.
Tunggal, A.W.2003. Activity Based Budgeting (ABB). Harvarindo,Jakarta.
Welsch, G.A., R.W. Hilton,P.N. Gordon.2000. Anggaran: Perencanaan dan Pengendalian
Laba(Terjemahan, jilid2). Salemba Empat, Jakarta.
[Link] [10 Oktober 2011]

[Link] [10 Oktober 2011]

[Link] [10 Oktober 2011]

[Link] [10 Oktober 2011]


Lampiran 1 . Struktur Organisasi Dinas Pendidikan Kota Bogor 2011

KEPALA DINAS

SEKERTARIAT

[Link]& PERENCANAAN
[Link] KASUBAG PERENCANAAN&
PELAPORAN

KELOMPOK
[Link] [Link] KEJURUAN
[Link] LUAR SEKOLAH
JABATAN KABID. PENDIDIKAN
UPTD GELANGGANG .MENENGAH&UMUM UPTD SANGGAR KEGIATAN
OLAHRAGA BELAJAR (SKB)
FUNGSIONAL DASAR

SEKSI KURIKULUM SEKSI SEKSI SEKSI


KURIKULUM KURIKULUM KURIKULUM

SEKSI KESISWAAN SEKSI KESISWAAN SEKSI KESISWAAN SEKSI KESISWAAN

[Link] DAN PRASARANA [Link] DAN PRASARANA


[Link] DAN PRASARANA [Link] DAN PRASARANA
Lampiran 3. Biaya pemeliharaan sarana dan prasarana tahun 2009

Aktivitas Pemeliharaan Biaya


Pemakaian Pemakaian Pemeliharaan Perlengkapan Biaya service Pemeliharaan
No. Listrik PDAM Telpon Bangunan Kantor kendaraan Komputer Total Biaya
Arsip Surat
1 Menyurat 6.666,67 4.000,00 27.277,78 3.333,33 22.222,22 5.222,22 6.872.222
Pengecekan
2 Kepegawaian 6.666,67 4.000,00 27.277,78 3.333,33 28.888,89 5.222,22 7.538.888
Pelaporan
3 Kesekretariatan 6.666,67 4.000,00 27.277,78 3.333,33 24.444,44 5.222,22 7.094.444
Kegiatan
4 Binaprogram 6.666,67 4.000,00 27.277,78 3.333,33 48.888,89 5.222,22 9.538.888
Urusan Perjalanan
5 Dinas 13.333,33 8.000,00 54.555,56 6.666,67 17.777,78 10.444,44 11.077.777
Pendanaan dan
Pengarsipan
6 Keuangan 13.333,33 8.000,00 54.555,56 6.666,67 15.555,56 10.444,44 10.855.555,5
Pemeliharaan
gedung dan
7 Lingkungan 3.333,33 6.700.000 2.000,00 13.638,89 1.666,67 18.888,89 2.611,11 10.913.888,8
Belanja modal,
barang dan jasa.
8 3.333,33 2.000,00 13.638,89 1.666,67 23.333,33 2.611,11 4.658.333,33
Jumlah 6.000.000 6.700.000 3.600.000 24.550.000 3.000.000 20.000.000 4.700.000 68.550.000
Lampiran 4. Rincian biaya administrasi Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor tahun 2009

Aktivitas Biaya Alat Biaya Benda Biaya Alat Biaya Jasa


Biaya Pengadaan
Pengumuman Total Biaya
No.
Tulis Kantor Pos Cetak (fotocopy dan (Media
ADM
buku) Massa)
Arsip Surat Menyurat
1 5.614.050 1.800.000 891.000 807.500 6.000.000 15.112.550
2 Pengecekan Kepegawaian 5.614.050 891.000 807.500 7.312.550
3 Pelaporan Kesekretariatan 5.614.050 891.000 807.500 7.312.550
4 Kegiatan Binaprogram 5.614.050 891.000 807.500 7.312.550
5 Urusan Perjalanan Dinas 5.614.050 891.000 807.500 7.312.550
Pendanaan dan Pengarsipan
Keuangan
6 5.614.050 891.000 807.500 7.312.550
Pemeliharaan gedung dan
Lingkungan
7 5.614.050 891.000 807.500 7.312.550
8 Belanja modal, barang dan jasa. 5.614.050 12.600.000 891.000 807.500 19.912.550
Jumlah 44.912.400 14.400.000 7.128.000 6.460.000 6.000.000 78.900.400
6

Lampiran 5. Asumsi harga barang investasi tahun 2010

Umur
Golongan Barang Harga Perolehan (Rp) Nilai sisa Ekonomis Nilai Penyusutan
(Tahun) (Rp)
Tanah [Link]
Gedung/Bangunan [Link] 33.446.480 10 163.887.752
Kendaraan
82.944.000
Bermotor 432.000.000 17.280.000 5
Peralatan Kanttor 99.978.000 4.998.900 4 23.744.775
Jumlah [Link] 55.725.380 270.576.527
7

Lampiran 7. Hasil Uji penyimpangan pada anggaran yang disusun secara konvensional

T-Test

Selisih
Konvensional Konvensional
Keterangan (Rp) Realisasi (Rp) (Rp) %
Biaya Personalia [Link] [Link] -119.654.303 -2,8
Biaya Rumah
Tangga 12.301.600 13.851.600 -1.550.000 -12,6
Biaya Administrasi 72.603.400 79.983.400 -7.380.000 -10,2
Biaya Gedung dan
Lingkungan 23.230.000 25.860.000 -2.630.000 -11,3
Biaya Penyusutan 29.540.000 31.790.000 -2.250.000 -7.6
Biaya Pemeliharaan
Kendaraan 15.000.000 12.500.000 2.500.000 16,7
Jumlah [Link] [Link] -131.564.303

Paired Samples Statistics

Std. Error
Mean N Std. Deviation Mean
Pair KONVENSIONAL 7E+008 6 1755630933 7E+008
1 REALISASI 8E+008 6 1803539385 7E+008

Paired Samples Test


Paired Differences
95%
Confidence
Std. Error Interval of the
Mean Std. Deviation Mean Difference t df Sig. (2-tailed)
Lower Upper
Pair KONVENSIONAL -
-2E+007 47980094.95 2E+007 -7E+007 3E+007 -1.119 5 .314
1 REALISASI

H0 : µREALISASI=µKONVENSIONAL
H1 : µREALISASI≠µKONVENSIONAL

NILAI-P(0.314)>ALPHA 5% MAKA TERIMA H0 ARTINYA TIDAK ADA PERBEDAAN YANG


SIGNIFICANT ANTARA REALISASI DENGAN KONVENSIOAL
7

Lampiran 8. Hasil uji penyimpangan pada anggaran yang disusun dengan metode ABB

T-Test
Selisih ABB
Keterangan ABB (Rp) Realisasi (Rp) (Rp) %
Biaya Personalia [Link] [Link] -89.854.303 -2,06
Biaya Rumah Tangga 13.601.600 13.851.600 -250.000 -1,84
Biaya Administrasi 78.900.400 79.983.400 -1.083.000 -1,37
Biaya Gedung dan
Lingkungan 24.550.000 25.860.000 -1.310.000 -5,34
Biaya Penyusutan 31.295.000 31.790.000 -495.000 -1.58
Biaya Pemeliharaan
Kendaraan 20.000.000 18.000.000 2.000.000 10,00
Jumlah [Link] [Link] -91.072.303

Paired Samples Statistics

Std. Error
Mean N Std. Deviation Mean
Pair ABB 8E+008 6 1766492275 7E+008
1 REALISASI 8E+008 6 1803079362 7E+008

Paired Samples Test

Paired Differences
95% Confidence
Interval of the
Std. Error Difference
Mean Std. Deviation Mean Lower Upper t df Sig. (2-tailed)
Pair 1 ABB - REALISASI -2E+007 36602505.82 1E+007 -5E+007 2E+007 -1.016 5 .356

H0 : µREALISASI=µABB
H1 : µREALISASI≠µABB

NILAI-P(0.356)>ALPHA 5% MAKA TERIMA H0 ARTINYA TIDAK ADA PERBEDAAN YANG


SIGNIFICANT ANTARA REALISASI DENGAN ABB
Lampiran 6. Rencana penyusutan investasi Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor tahun 2010

Aktivitas Peralatan Investasi


No. Bangunan Kendaraan Kantor Alokasi 2009 2010 ALOKASI 2010
Arsip Surat
1 Menyurat 13.657.313 21.566.303 1.575.656 36.799.272 4.588.750 41.388.022
Pengecekan
Kepegawaian
2 13.657.313 18.590.153 3.114.670 35.362.135 4.588.750 39.950.885
Pelaporan
Kesekretariatan
3 13.657.313 12.997.292 3.041.383 29.695.988 4.588.750 34.284.738
Kegiatan
4 Binaprogram 13.657.313 20.588.630 2.381.806 36.627.749 4.588.750 41.216.499
Urusan Perjalanan
Dinas
5 8.194.388 517.591 5.166.687 13.878.666 3.219.875 17.098.541
Pendanaan dan
Pengarsipan
6 Keuangan 8.194.388 4.715.832 3.407.815 16.318.034 3.219.875 19.537.909
Pemeliharaan
gedung dan
7 Lingkungan 87.406.801 3.450.608 2.674.952 93.532.361 2.581.786 96.114.147
Belanja modal,
barang dan jasa.
8 5.462.925 517.591 2.381.806 8.362.322 3.918.464 12.280.787

Jumlah 163.887.752 82.944.000 23.744.775 270.576.527 31.295.000 301.871.527

Anda mungkin juga menyukai