Analisis Kestabilan Model SVLIDrR TBC
FITRATUN NAFSIYAH
24010121120013
DEPARTEMEN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2026
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini, akan dibahas mengenai analisis kestabilan model matematika dari
proses penyebaran penyakit tuberkulosis (TBC) dengan pengaruh vaksin yang tidak
sempurna, kemungkinan kegagalan pengobatan, resistensi obat pada individu
terinfeksi tuberkulosis. Aspek – aspek yang dibahas meliputi formulasi model
penyebaran penyakit tuberkulosis, menentukan kepositifan dan keterbatasan solusi,
menentukan bilangan reproduksi dasar, menentukan titik kesetimbangan bebas
penyakit dan titik kesetimbangan endemik penyakit serta analisis kestabilan
terhadap titik kesetimbangan tersebut. Kemudian akan diberikan simulasi numerik
untuk memberikan gambaran terhadap model matematika penyebaran penyakit
tuberkulosis dengan pengaruh vaksinasi dan pengobatan.
Model yang dibahas dalam tugas akhir ini adalah modifikasi model SVLIDrR yang
dikemukakan oleh Olumuyiwa James Peter [Link] [1] dimana populasi dibagi
menjadi enam kompartemen berdasarkan status penyakit yaitu Suspectible
(individu rentan), Vaccinated (individu yang telah divaksin), Latenly Infected
(individu terinfeksi TBC laten), Infectious (individu terinfeksi TBC aktif/dapat
menularkan), Drug-resistant (individu resisten obat), dan Recovered (individu
sembuh). Model matematika [1] menganalisis penyebaran penyakit tuberkulosis
dengan mempertimbangkan pengaruh vaksinasi terhadap penyakit tuberkulosis dan
kemungkinan kegagalan pengobatan pada individu terinfeksi TBC aktif. Model
penyebaran penyakit tuberkulosis dalam [1] dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Model SVLIDrR Penyebaran Penyakit Tuberkulosis [1]
Tugas akhir ini memodifikasi model [1] dengan menambahkan dua parameter
tambahan yaitu adanya kemungkinan penambahan individu recovered (R) yang
berasal dari individu terinfeksi laten (L) yang memperoleh pengobatan dini dengan
laju pertambahannya sebesar dan kemungkinan adanya individu resisten obat (
Dr ) yang mengalami kematian dikarenakan penyakit tuberkulosis resisten obat
dengan laju kematiannya adalah sebesar . Modifikasi model penyebaran penyakit
tuberkulosis dapat dilihat pada Gambar 3.2.
Pada bagian ini akan dilakukan formulasi model terhadap masing – masing
kompartemen meliputi perubahan jumlah individu susceptible, perubahan jumlah
individu vaccinated, perubahan jumlah individu latenly infected, perubahan jumlah
individu infectious, perubahan jumlah individu drug-resistant, dan perubahan
jumlah individu recovered.
jumlah individu rentan (S) pada waktu t adalah S t dan jumlah individu rentan
dimana perubahan individu rentan (S) adalah perubahan jumlah individu rentan
(Susceptible) yang diukur dalam selang waktu t , yang didefinisikan sebagai
berikut.
S t I t V t S t S t t
S t I t V t S t t (3.2)
S t t S t S t I t V t S t t
S t t S t
S t I t V t S t
t
S
S t I t V t S t
t
S
lim S t I t V t S t
t 0 t
S t dS t
Karena lim S ' t , maka diperoleh
t 0 t dt
dS t
S t I t V t S t
dt
dS
SI V S (3.3)
dt
individu terinfeksi aktif (I) dengan laju sebesar sehingga menjadi individu
terinfeksi Laten (L) yang belum menularkan TBC. Dengan demikian laju
berkurangnya menjadi sebesar 1 . Selain itu, berkurangnya jumlah individu
vaccinated (V) disebabkan oleh laju kematian alami sebesar dan laju individu
vaccinated (V) yang kehilangan kekebalan tubuhnya dan kembali menjadi individu
rentan (S) dengan laju berkurangnya sebesar . Dengan demikian, jumlah individu
vaccinated (V) pada waktu t adalah V t dan jumlah individu vaccinated (V) pada
S t 1 V t I t V t V t t
S t 1 V t I t V t V t t (3.5)
V t t V t S t 1 V t I t V t t
V t t V t
S t 1 V t I t V t
t
V t
S t 1 V t I t V t
t
V t
lim S t 1 V t I t V t
t 0 t
V t dV t
Karena lim V ' t , maka diperoleh
t 0 t dt
dV t
S t 1 V t I t V t
dt
dV
S 1 VI V (3.6)
dt
Jumlah individu latenly infected atau terinfeksi laten (L) bisa bertambah karena
dipengaruhi oleh bertambahnya individu rentan (S) yang melakukan kontak
langsung dengan individu terinfeksi aktif (I) dan menjadi individu terinfeksi laten
(L), laju bertambahnya adalah sebesar . Pertambahan individu terinfeksi laten (L)
juga dipengaruhi oleh jumlah individu vaccinated (V) dengan efikasi vaksin sebesar
1 melakukan kontak langsung dengan individu terinfeksi aktif (I) sehingga
menjadi individu laten yang belum menularkan TBC, laju pertambahannya adalah
sebesar . Setelah periode laten, sebagian individu mulai berubah menjadi
individu terinfeksi TBC aktif (I) dengan laju . Individu terinfeksi laten (L) akan
berkurang dan individu terinfeksi aktif (I) akan bertambah. Berkurangnya individu
terinfeksi laten (L) juga bisa disebabkan oleh kematian alami yang bukan karena
TBC yaitu dengan laju , selain itu berkurangnya individu terinfeksi laten juga
disebabkan oleh adanya pengobatan dini individu terinfeksi laten (L) sehingga
dapat pulih (masuk individu sembuh) sebelum berubah menjadi individu terinfeksi
aktif dengan laju pemulihannya sebesar . Dengan demikian, jumlah individu
terinfeksi laten (L) pada waktu t adalah L t dan jumlah individu terinfeksi laten
dimana perubahan individu terinfeksi laten (L) adalah perubahan jumlah individu
individu terinfeksi laten (L) yang diukur dalam selang waktu t , yang didefinisikan
sebagai berikut.
S t I t 1 V t I t L t L t L t t
S t I t 1 V t I t L t t (3.8)
L t t L t S t I t 1 V t I t L t t
L t t L t
S t I t 1 V t I t L t
t
L t
S t I t 1 V t I t L t
t
Laju perubahan jumlah individu terinfeksi laten (L)
L t t L t
lim S t I t 1 V t I t L t
t 0 t
L t dL t
Karena lim L' t , maka diperoleh
t 0 t dt
dL t
S t I t 1 V t I t L t
dt
dL
SI 1 VI L (3.9)
dt
Pertambahan jumlah individu terinfeksi aktif (I) disebabkan oleh laju perpindahan
jumlah individu terinfeksi laten (L) menjadi individu terinfeksi aktif (I), laju
pertambahannya adalah sebesar . Berkurangnya jumlah individu terinfeksi aktif
(I) disebabkan oleh laju pengobatan yang tepat/lengkap pada individu terinfeksi
aktif (I) yaitu sebesar kemudian masuk ke individu sembuh (R) dengan laju
perpindahannya sebesar , laju kematian alami bukan karena TBC yaitu sebesar
, laju kematian individu terinfeksi aktif (I) akibat penyakit TBC yaitu sebesar ,
dan juga disebabkan oleh adanya individu terinfeksi aktif (I) yang mengalami
resistansi obat setelah dilakukan pengobatan yaitu sebesar 1 dan berpindah ke
demikian, jumlah individu terinfeksi aktif (I) pada waktu t adalah I t dan jumlah
individu terinfeksi aktif (I) pada waktu t t adalah I t t . Hal ini berarti,
L t I t I t I t 1 I t t
L t I t I t I t t
L t I t t (3.11)
I t t I t L t I t t
I t t I t
L t I t
t
I t
L t I t
t
I t t I t
lim L t I t
t 0 t
I t dI t
Karena lim I ' t , maka diperoleh
t 0 t dt
dI t
L t I t
dt
dI
L I (3.12)
dt
3.2.5 Perubahan Jumlah Individu Drug-resistant ( Dr )
Individu terinfeksi aktif (I) setelah dilakukan pengobatan, dengan laju akan
berpindah menjadi individu sembuh (R) dan sebagian menjadi indvidu resisten obat
( Dr ) karena kegagalan dalam pengobatan yang membuat bakteri penginfeksi
individu terinfeksi aktif (I) akan berkurang dan indvidu resisten obat ( Dr )
1 I t Dr t Dr t Dr t t
1 I t Dr t t (3.14)
Dr t t Dr t
lim 1 I t Dr t
t 0 t
Dr t dDr t
Karena lim Dr ' t , maka diperoleh
t 0 t dt
dDr t
1 I t Dr t
dt
dDr
1 I Dr (3.15)
dt
(R) pada waktu t adalah R t dan jumlah individu recovered (R) pada waktu t t
Dr I t L t R t t (3.17)
R t t R t Dr I t L t R t t
R t t R t
Dr I t L t R t
t
R t
Dr I t L t R t
t
R t t R t
lim Dr I t L t R t
t 0 t
R t dR t
Karena lim R' t , maka diperoleh
t 0 t dt
dR t
Dr I t L t R t
dt
Dalam bentuk persamaan diferensial sederhana, laju perubahan jumlah individu
recovered (R) dapat ditulis sebagai berikut.
dR
Dr I L R (3.18)
dt
Berdasarkan formulasi model (3.3), (3.6), (3.9), (3.12), (3.15), dan (3.18)
diperoleh sistem persamaan model matematika penyebaran penyakit tuberkulosis
dengan vaksinasi dan resistensi obat sebagai berikut.
dS
dt SI V S ,
dV S 1 VI V ,
dt
dL SI 1 VI L,
dt
(3.19)
dI L I ,
dt
dD
r 1 I Dr ,
dt
dR
Dr I L R.
dt
N S V L I Dr R (3.20)
Bukti :
Dari sistem persamaan (3.19) baris pertama untuk perubahan jumlah individu
rentan (Susceptible) diketahui sebagai berikut.
dS
SI V S
dt
dS
V I S
dt
dS
I S V
dt
dS t
I t S t V t (3.21)
dt
Persamaan (3.21) memiliki bentuk persamaan diferensial orde satu, sehingga dapat
diselesaikan sebagai berikut.
t t
I u du t I u du
e0 e 0
t
t I u du
Kalikan kedua ruas pada persamaan (3.21) dengan faktor integral e 0
sehingga diperoleh
t t t
t I u du dS t t I u du t I u du
e 0
dt
e 0
I t S t V t e 0
t t t
dS t t I u du d t 0 I u du t I u du
e 0
e S t V t e 0
dt dt
maka diperoleh,
t t
d t 0 I u du t I u du
e S t V t e 0
dt
Integralkan kedua ruas, sehingga
t I u du t
t t
t I u du
t
d e 0
S t
V s e 0
ds
0 0
t t
t I u du t I u du
S 0 V s e
t
S t e 0 0
ds
0
t t t
t I u du
t I u du t t I u du
S t S 0 e 0
e 0
V s e 0
ds 0
0
t t
t I u du t I u du
0, dan V s e
t
Karena S 0 0, e 0 0
ds. 0 maka
0
terbukti S t 0 . ∎
Dari sistem persamaan (3.19) baris kedua untuk perubahan jumlah individu
vaccinated ( V ) diketahui sebagai berikut.
dV
S 1 VI V
dt
S 1 I V
dV
dt
1 I V S
dV
dt
dV t
1 I t V t S t (3.22)
dt
Persamaan (3.22) memiliki bentuk persamaan diferensial orde satu, sehingga dapat
diselesaikan sebagai berikut.
t
t 1 I u du
Kalikan kedua ruas pada persamaan (3.22) dengan faktor integral e 0
sehingga diperoleh
t t t
t 1 I u du dV t t 1 I u du t 1 I u du
e 0
e 0
1 I t V t S t e 0
dt
t t t
dt dt
maka diperoleh,
t t
dt
t 1 I u du t
t t
t 1 I u du
t
d e 0
V
t S t e 0
ds
0 0
t t
t 1 I u du t t 1 I u du
V t e 0
V 0 S t e 0
ds
0
t t t
t 1 I u du
t 1 I u du t t 1 I u du
V t V 0 e 0
e 0
S t e 0
ds 0
0
t t
t 1 I u du t t 1 I u du
Karena V 0 0, e 0
0, dan S t e 0
ds 0 maka
0
terbukti V t 0 . ∎
Dari sistem persamaan (3.19) baris ketiga untuk perubahan jumlah individu latenly
infected (L) diketahui sebagai berikut.
dL
SI 1 VI L
dt
dL
L SI 1 VI
dt
dL t
L t S t I t 1 V t I t (3.23)
dt
Persamaan (3.23) memiliki bentuk persamaan diferensial orde satu, sehingga dapat
diselesaikan sebagai berikut.
du
e0 e t
Kalikan kedua ruas pada persamaan (3.23) dengan faktor integral e t sehingga
diperoleh
dL t
e t e t L t S t I t 1 V t I t e t
dt
dL t
L t S t I t 1 V t I t e t
d t
e t e
dt dt
maka diperoleh,
d t
dt
e
L t S t I t 1 V t I t e t
L t S u I u 1 V u I u e u du
t t
t
d e
0 0
L t e t L 0 S u I u 1 V u I u e u du
t
L t L 0 e t e t S u I u 1 V u I u e u du 0 .
t
dI
L I
dt
dI
I L
dt
dI t
I t L t (3.24)
dt
Persamaan (3.24) memiliki bentuk persamaan diferensial orde satu, sehingga dapat
diselesaikan sebagai berikut.
du
e0 e t
Kalikan kedua ruas pada persamaan (3.24) dengan faktor integral e t sehingga
diperoleh
dI t
e t e t I t L t e t
dt
dI t d t
e t e I t L t e t
dt dt
maka diperoleh,
dt
e
d t
I t L t e t
t t
d e
t
I t L u e u du
0 0
t
I t e t I 0 L u e u du
0
t
I t I 0 e t e t L u e u du 0 . ∎
0
Dari sistem persamaan (3.19) baris kelima untuk perubahan jumlah individu drug -
resistant ( Dr ) diketahui sebagai berikut.
dDr
1 I Dr
dt
dDr
Dr 1 I
dt
dDr t
Dr t 1 I t (3.25)
dt
Persamaan (3.25) memiliki bentuk persamaan diferensial orde satu, sehingga dapat
diselesaikan sebagai berikut.
du
e0 e t
Kalikan kedua ruas pada persamaan (3.25) dengan faktor integral e t sehingga
diperoleh
dDr t
e t e t Dr t 1 I t e t
dt
dDr t
Dr t 1 I t e t
d t
e t e
dt dt
maka diperoleh,
d t
dt
e
Dr t 1 I t e t
Dr t e t Dr 0 1 I u e u du
t
Dr t Dr 0 e t e t 1 I u e u du 0
t
1 I u e
t
Karena Dr 0 0, e t 0, dan u
du 0 maka
0
terbukti Dr t 0 . ∎
Dari sistem persamaan (3.19) baris keenam untuk perubahan jumlah individu
recovered (R) diketahui sebagai berikut.
dR
Dr I L R
dt
dR
R Dr I L
dt
dR t
R t Dr t I t L (3.26)
dt
Persamaan (3.26) memiliki bentuk persamaan diferensial orde satu, sehingga dapat
diselesaikan sebagai berikut.
du
e0 e t
Kalikan kedua ruas pada persamaan (3.26) dengan faktor integral e t sehingga
diperoleh
dR t
e t e t R t Dr t I t L t e t
dt
dR t
e R t Dr t I t L t e t
d t
e t
dt dt
maka diperoleh,
e R t Dr t I t L t et
d t
dt
d e R t Dr u I u L u e du
t t
t u
0 0
R t e t R 0 Dr u I u L u e u du
t
R t R 0 e t e t Dr u I u L u e u du 0
t
terbukti R t 0 . ∎
S t ,V t , L t , I t , Dr t , R t 6
,0 N (t ) U
dimana U max N 0 , adalah positif invarian untuk sistem persamaan pada
model (3.19).
Bukti:
N S V L I Dr R
maka dengan menambahkan semua persamaan pada model (3.19) diperoleh
dN dS dV dL dI dDr dR
dt dt dt dt dt dt dt
dN
SI V S S 1 VI V
dt
SI 1 VI L L I
1 I Dr Dr I L R
dN
SI V S S S 1 VI V V
dt
SI 1 VI L L L L I I I
I I Dr Dr Dr Dr I L R
dN
S V L I I Dr Dr R
dt
dN
S V L I Dr R I Dr
dt
dN
N I Dr N
dt
dN t dy
t t t
dy dy
e 0 N t e 0 e 0
dt
dy
t t
d dy
N t e 0 e 0
dt
t t
dy 1 t dy
N t e 0 N 0 e0 dt
0
N t N 0 e t
dimana N 0 merepresentasikan total populasi pada saat t 0
Untuk t diperoleh N t
Dengan demikian, limsup N t lim N 0 e t
t t
sehingga, limsup N t ada, hal ini berarti N t terbatas ke atas dan terbukti bahwa
t
Titik kesetimbangan adalah titik ketika tidak ada perubahan jumlah individu pada
setiap kelas individu S ,V , L, I , Dr , R . Titik kesetimbangan sendiri terbagi menjadi
dua yaitu titik kesetimbangan bebas penyakit dan titik kesetimbangan endemik
penyakit. Titik kesetimbangan untuk model penyebaran penyakit tuberkulosis
dengan vaksinasi dan resisten obat diperoleh jika :
dS dV dL dI dDr dR
0
dt dt dt dt dt dt
sehingga diperoleh
SI V S 0
S 1 VI V 0
SI 1 VI L 0
(3.27)
L I 0
1 I Dr 0
Dr I L R 0
dengan S 0 0,V 0 0, L 0 0, I 0 0, Dr 0, R 0 . Titik kesetimbangan
Titik kesetimbangan bebas penyakit tuberkulosis terjadi ketika populasi bebas dari
penyakit tuberkulosis atau tidak ada lagi individu yang terinfeksi penyakit
tuberkulosis. Oleh karena itu, nilai kelas individu yang terinfeksi aktif (I) adalah
I 0.
Ambil persamaan (3.27) baris kedua sebagai tahap awal untuk memperoleh titik
kesetimbangan, maka diperoleh
S 1 VI V 0
S V 0
V S
S
V (3.28)
Selanjutnya menggunakan persamaan (3.27) baris ketiga, kelima, dan keenam
untuk mencari nilai L, Dr , dan R .
SI 1 VI L 0
L 0
L0 (3.29)
1 I Dr 0
Dr 0
Dr 0 (3.30)
Substitusi persamaan (3.29) dan (3.30) ke persamaan (3.27) baris keenam diperoleh
Dr I L R 0
R 0
R0 (3.31)
SI V S 0
S
S 0
S
S 0
S S
S
S
S
2
S (3.32)
S
V
V
V
V (3.33)
E0 S 0 ,V 0 , L0 , I 0 , Dr 0 , R0 , , 0, 0, 0, 0
N S0 V 0
Bilangan reproduksi dasar ( 0 ) menunjukkan jumlah rata – rata kasus infeksi baru
dL
dt SI 1 VI L,
dI
L I ,
dt
dDr
dt 1 I Dr .
SI 1 VI L
dX
F X V X L I
dt
1 I Dr
sebagai berikut:
F1 SI 1 VI
F X F2 0 dan
F3 0
V1 L
V X V2 L I
V3 1 I Dr
Misalkan matriks Jacobian dari F X dan V X adalah F dan V , maka dengan
E0 S 0 ,V 0 , L0 , I 0 , Dr 0 , R0 , , 0, 0, 0, 0
maka diperoleh
1
0 0
F 0 0 0
0 0 0
dan
NGM F V 1
dengan
1
V 1 adj V
det(V )
0 0
1
V 1 0
1
1
1
0 0
1
V 1 0
1 1 1
Dengan demikian,
1 1
0 0
0 0
1
NGM 0 0 0 0
0 0 0
1 1 1
1 1 1
0
NGM 0 0 0
0 0 0
sehingga diperoleh,
1 1
0
NGM 0 0 0
0 0 0
Selanjutnya menentukan nilai eigen dari NGM, yaitu
det I NGM 0
1 1
0
1 0 0
0 1 0 0 0 0 0
0 0 1 0 0 0
1 1
0
0 0
0 0 0 0 0 0
0 0 0 0 0
1 1
0
0 0 0
0 0
1
0
1
1 , 2 0, 3 0
maka 1 sebagai nilai eigen terbesar dari matriks NGM pada sistem epidemik
model (3.27) adalah bilangan reproduksi dasar, yaitu
1
0 (3.34)
maka akan dicari nilai dari masing – masing kompartemennya sebagai berikut.
Dengan demikian sistem persamaan (3.27) menjadi:
S * I * V * S * 0
*
S 1 V I V 0
* * *
* *
S I 1 V I L 0
* * *
* (3.35)
L I 0
*
1 I Dr 0
* *
D * I * L* R* 0
r
L* I * 0
L* I *
L*
I * (3.36)
1 I * Dr* 0
Dr * 1 I *
Dr * 1 I * (3.37)
Dr * I * L* R* 0
1 I * I *
I
*
R 0
*
1 I *
I I *
*
R 0
*
I * I * I * I * I * I *
R* 0
I *
R* 0
I *
R* 0
R *
I *
R*
I *
(3.38)
S * 1 V * I * V * 0
1 V * I * V * S *
1 I * V * S *
S*
V* (3.39)
1 I *
S * I * V * S * 0
S*
1 I
S *I * *
S* 0
S *
S *I * S
*
A
S I A S A S *
* * *
A
A I * A S * A
A
S*
A I A
*
substitusikan kembali A 1 I * , sehingga diperoleh
I * 1
S*
I * 1 I * 1 I *
I * 1
S
*
(3.40)
2 1 I * I * 1 2
2
S*
V*
1 I *
I * 1
V
1 I * 2 1 I * 2 I * 1 2
*
V* (3.41)
2 1 I
* 2
I * 1 2
I * 1
S* ,
* 1 I * I * 1 2
2
V* ,
1 I
*
* 2
I 1 2
*
I *
L
*
,
Dr *
1 I * ,
R*
I *
dengan I * diambil dari akar positif polinomial berikut:
F I a2 I 2 a1 I a0 0 (3.42)
I 2 2 1 I 2 2 1 I 2 2 1 I 2 2 1 I 2 2 1 I 2 2 1 2
I 2 2 1 I 2 2 1 I 2 2 1 I 2 1 I 1 I 1
I 1 I 1 I 1 I 1 I 1 I 1
2 2
I 1 I 1 I 1 3 I 1 2 I 1 2 I 1 2
I I 1 I 1 I 1 I 1 I I I 2
I I I I 2 I I I I 3 I 2 I 2 I 2
3
I I I I 1
2
a2 2 1
a1 1 2 1 1
a0 1
1
(3.43)
1
1
1 0
dS
dt f1 S ,V , L, I , Dr , R SI V S 0
dV f S ,V , L, I , D , R S 1 VI V 0
dt 2 r
dL f3 S ,V , L, I , Dr , R SI 1 VI L 0
dt
(3.44)
dI f 4 S ,V , L, I , Dr , R L I 0
dt
dD
r f5 S ,V , L, I , Dr , R 1 I Dr 0
dt
dR
f 6 S ,V , L, I , Dr , R Dr I L R 0
dt
Kesetimbangan bebas penyakit adalah keadaan ketika sebuah populasi bebas dari
individu terinfeksi dan dilambangkan dengan
E0 S 0 ,V 0 , L0 , I 0 , Dr 0 , R0 , , 0, 0, 0, 0
Bukti:
f1 S 0 , V 0 , L0 , I 0 , Dr 0 , R 0 f1 E0 0
f 2 S , V , L , I , Dr , R f 2 E0 0
0 0 0 0 0 0
f3 S 0 , V 0 , L0 , I 0 , Dr 0 , R 0 f 3 E0 0
f 4 S , V , L , I , Dr , R f 4 E0 0
0 0 0 0 0 0
f5 S 0 , V 0 , L0 , I 0 , Dr 0 , R 0 f 5 E0 0
f 6 S ,V , L , I , Dr , R f 6 E0 0
0 0 0 0 0 0
dS f f f f f f
f1 S ,V , L, I , Dr , R 1 E0 Sˆ 1 E0 Vˆ 1 E0 Lˆ 1 E0 Iˆ 1 E0 Dˆ r 1 E0 Rˆ
dt S V L I Dr R
dV f f f f f f
f 2 S ,V , L, I , Dr , R 2 E0 Sˆ 2 E0 Vˆ 2 E0 Lˆ 2 E0 Iˆ 2 E0 Dˆ r 2 E0 Rˆ
dt S V L I Dr R
dL f f f f f f
f3 S ,V , L, I , Dr , R 3 E0 Sˆ 3 E0 Vˆ 3 E0 Lˆ 3 E0 Iˆ 3 E0 Dˆ r 3 E0 Rˆ
dt S V L I Dr R
dI f 4 f f f f f
f 4 S ,V , L, I , Dr , R E0 Sˆ 4 E0 Vˆ 4 E0 Lˆ 4 E0 Iˆ 4 E0 Dˆ r 4 E0 Rˆ
dt S V L I Dr R
dDr f5 f f f f f
f5 S ,V , L, I , Dr , R E0 Sˆ 5 E0 Vˆ 5 E0 Lˆ 5 E0 Iˆ 5 E0 Dˆ r 5 E0 Rˆ
dt S V L I Dr R
dR f f f f f f
f 6 S ,V , L, I , Dr , R 6 E0 Sˆ 6 E0 Vˆ 6 E0 Lˆ 6 E0 Iˆ 6 E0 Dˆ r 6 E0 Rˆ
dt S V L I Dr R
sehingga diperoleh hasil linearisasi persamaan (3.44) dalam bentuk matriks adalah
dS
dt
dV ˆ
dt I 0 S 0 0 S
1 I 0 1 V 0
ˆ
0 V
dL
dt I 1 I S 1 V 0 0 Lˆ
dI
0 Iˆ
0 0 0
dt 0 0 0 1 0 Dˆ
dDr r
0 0 ˆ
R
dt
dR
dt
I 0 S 0 0
1 I 0 1 V 0 0
I 1 I S 1 V 0 0
J E0
0 0 0 0
0 0 0 1 0
0 0
(3.45)
E0 S 0 ,V 0 , L0 , I 0 , Dr 0 , R0 , , 0, 0, 0, 0 ke matriks
Jacobian (3.45), sehingga matriks Jacobiannya menjadi
0 0 0
1
0 0 0
J E0 1
0 0 0 0
0 0 0 0
0 0 0 1 0
0 0
(3.46)
Kemudian, akan dicari nilai eigen dari matriks Jacobian (3.46) dengan menghitung
det I J E0 0 dimana adalah nilai eigen dan I adalah matriks identitas.
det I J E0 0
0 0 0
1 0 0 0 0 0
0 1
1 0 0 0 0 0 0 0
0 0 1 0 0 0 0
1
0 0 0 1 0 0 0 0 0 0
0 0 0 0 1 0
0 0 0 0 0 1 0 0 0 0
0 0 0 1 0
0 0
0 0 0
0 0 0 0 0
0 0 0 0 1
0 0 0 0
0 0 0 0 0 0
1
0 0 0 0 0 0 0 0 0
0 0 0 0 0
0 0 0 0
0 0 0 0 0
0 0 0 1 0
0 0
0 0 0
1
0 0 0
0
1
0 0 0 0
0 0 0 0
0 0 0 1 0
0 0
1 2 2 2 2 2
2
2 3
1
2
3
4
dengan dua nilai eigen lainnya diambil dari akar polinomial berikut:
1
G b2 2 b1 b0 0
b2 1
2
b1 2
1
b0
1
1
1
1 0
maka dua nilai eigen lainnya yaitu 5 dan 6 bernilai negatif jika b2 , b1 0 dan
b0 0 jika dan hanya jika 0 1. Oleh karena matriks J E0 memiliki akar – akar
riil negatif, maka terbukti titik kesetimbangan bebas penyakit
E0 S 0 ,V 0 , L0 , I 0 , Dr 0 , R 0 merupakan stabil asimtotik lokal. ∎
Bukti: Akan dibuktikan teorema ini menggunakan pendekatan metode gradien [1]
I
yaitu dengan menganalisis arah pada titik kesetimbangan 0 1, I 0 .
0
Dikatakan bahwa jika nilai gradien positif maka tidak ada titik kesetimbangan, dan
jika gradien negatif maka akan ada titik kesetimbangan endemik dalam 0 1 .
a2 0 I 2 a1 0 I a0 0 0
dengan mengambil turunan implisit (aturan rantai ) dari persamaan di atas terhadap
0 , maka diperoleh
a2 2 I a I a
I a2 0 2I 1 I a1 0 0 0
0 0 0 0 0
I
substitusikan I 0 dan 0 1 dan selesaikan , maka
0
a2 2 I a I a
0 a2 1 2 0 1 0 a1 1 0 0
0 0 0 0 0
sehingga diperoleh
I a
a1 0 0 (3.47)
0 0
dimana
a1 1 2 1 1
1
0 1
diperoleh
*
1
2
a1 1 1 1
1
1
1 2
2 2 2
1
2
1 1 2 2
1
1 1 1
2
2
1
1
2
2 1 1 1 1 2
2 1 1 2 1 1
2 2 2
1 1 1 2 2 2
1
2
2 1 2 1 2 1
2 2
2 1 2
1
2
1
0 1
*
1
(3.48)
Kemudian akan dicari nilai eigen dari matriks jacobian diatas melalui persamaan
karakteristik det I J E0 , * 0 dengan adalah nilai eigen dan I adalah
matriks identitas.
det I J E0 , * 0
0 0 0
1
1 0 0 0 0 0
0 1
0 0 0 0
1
1 0 0 0
0 0 1 0 0 0
1 0
0 0 0 1 0 0 0
0 0 0
0 0 0 0 1 0 1 1
0 0 0 0
0 0 0 0 0 1
0 0 0 1 0
0
0
0 0 0
1
0
1
0 0
1
1 0
0 0 0 0
1 1
0 0 0 0
0 0 0 1 0
0 0
2 0
2
Karena terdapat nilai eigen nol yang sederhana yaitu 1 0 dan yang lainnya
negatif, untuk itu vektor eigen kanan yang bersesuaian dengan nilai eigen 1 0
dapat dinotasikan sebagai:
w w1 , w2 , w3 , w4 , w5 , w6
T
0 0 0
1
w1
0
1 0 0 w2
1
w3
1
0
0 0 0 0 w4
1 1 w5
0 0 0 0 w6
0 0 0 1 0
0
0
w4
w1 w2
1
w1 w2
1 w4
1
1 0
w3 w4
1 1
w3 w4
w4 1 w5
w4 w5 w6
dengan bantuan maple, maka diperoleh
w
1 w
2
4
1
1
w2
1 1 w 4
1
w3
w4
w4 w4
w5
1 w4
1 w4
w6
w4
Kemudian dicari vektor eigen kiri yang bersesuaian dengan ...., dinotasikan dengan
v v1 , v2 , v3 , v4 , v5 , v6 . Vektor eigen kiri memenuhi v J E0 , * 0
0 0 0
1
0
1
0 0
1
v1 v2 v3 v4 v5 v6 1 0
0 0 0 0
1 1
0 0 0 0
0 0 0 1 0
0
0 0
v1
1
v2 1
1
v1 v2 v1 v2 v3 v4 v5 v6 v6 0
1
v3
1
1
v4 v5 1 v6
v3
v1 v2 v3 v4 v5 v6 0 0 v3 0 0
1 w4
2
1
1 1 w4
1
v3 w4
0 0 v3
0 0
1
w4
1 w4
w4
diperoleh
v3 w4 v3 w4 1
v3 w4
maka diperoleh solusi
1 1
v3 dan w4
2
Sehingga
w1
1
2
2 1
w2
1 1
2 1
w3
2
1
w4
2
w5
1
2
w6
2
S x1 , V x2 , L x3 , I x4 , Dr x5 , R x6
dx1
f1 x1' x1 x4 x2 x1 ,
dt
dx
f 2 2 x2' x1 1 x2 x4 x2 ,
dt
dx3
f3 x3' x1 x4 1 x2 x4 x3 ,
dt
dx
f 4 4 x4' x3 x4 ,
dt
dx
f5 5 x5' 1 x4 x5 ,
dt
dx
f 6 6 x6' x5 x4 x3 x6
dt
f1, f2 , f5 , f6 . Turunan parsial kedua dari f3 dan f 4 yang bukan nol adalah sebagai
berikut:
2 f3 2 f3 2 f3 1
*, * 1 , x x 1
x1x4 x2x4 x4 *
1 2
2 fk
E0 , 0
6
a vk wi w j
k ,i , j 1 xi x j
2 f3 2 f3
v3 w1 w4 E0 , 0 v3 w2 w4 E0 , 0
x1x4 x2 x4
=
1 2 1
2 1 2 1
1 1 1
1
2 1 2 1
=
1
2 2 2
1 1 1 0
2 2
2 1 2 1
2 2 2 2
2 fk 2 f3
E0 , 0 v3 w4 E0 , 0
6
b vk wi
k ,i , j 1 xi x4 *
1 1
=
2
1
= 0
2
Pada bagian ini, akan dilakukan simulasi numerik untuk memperoleh gambaran
perilaku penyebaran penyakit tuberkulosis pada suatu populasi. Simulasi numerik
ini akan menggunakan parameter – parameter pada Tabel 3.2 dengan nilai
parameter diperoleh dari data BPS dan literatur terkait. Simulasi dilakukan dengan
bantuan software MATLAB 20a untuk menggambarkan grafik perubahan setiap
kompartemen, sehingga bisa dilakukan analisis dan gambaran perilaku model
penyebaran penyakit.
Berdasarkan data dari BPS dan literatur terkait diperoleh data untuk nilai parameter
sebagai berikut.
dS
dt 3,149267 10 4,840222 10 SI 0,1V 0,90253S ,
6 9
dV 0,889S 7, 26033 1010 VI 0,11353V ,
dt
dL 4,840222 109 SI 7, 26033 1010 VI 0, 05815L,
dt
dI 0, 01862 L 0,34221I ,
dt
dD
r 0, 0744686 I 0,54427 Dr ,
dt
dR
0,37074 Dr 0,139314 I 0, 026 L 0, 01353R.
dt
1
0
1 2 0, 01353
3 0,54427
4 1, 00253
5 0,359360435825437
6 0, 0409995641745632
Karena semua nilai eigen dari matriks J E0 0 , maka dapat disimpulkan titik
kesetimbangan bebas penyakit adalah stabil asimtotik lokal. Hal ini berarti, individu
terinfeksi aktif tuberkulosis hanya mampu menularkan penyakit kurang dari satu
individu rentan, sehingga seiring berjalannya waktu penyakit akan hilang dengan
sendirinya (kondisi bebas penyakit).
(c) (d)
(e) (f)
Gambar 3.4 Simulasi Numerik Titik Kesetimbangan Bebas Penyakit (a) pada
populasi Susceptible, (b) pada populasi Vaccinated, (c) pada populasi Latenly
Infected, (d) pada populasi Infected, (e) pada populasi Drug Resistant, (f)
pada populasi Recovered.
Grafik pada Gambar 3.4 (a) menunjukkan bahwa individu rentan (S)
mengalami banyak penurunan jumlah populasi, yang semula 210.133.223 individu
menjadi sekitar 23.810.000 individu, kemudian naik lagi secara perlahan dan
menjadi stabil mendekati angka 26.358.800 individu. (b) menunjukkan individu
vaccinated (V) yang mengalami kenaikan dari yang semula 4.115.899 individu
menjadi stabil mendekati angka 206.403.000. (c) menunjukkan individu terinfeksi
laten (L) yang terus mengalami penurunan hingga mendekati angka nol. Kemudian
(d), (e), dan (f) berturut – turut menunjukkan perubahan jumlah individu terinfeksi
aktif (I), individu resisten obat (Dr), dan individu sembuh (R). Pada awalnya ketiga
kelas individu tersebut mengalami kenaikan, lalu seiring berjalannya waktu
ketiganya turun mendekati angka nol dengan waktu yang cukup lama sampai pada
akhirnya tidak ada individu yang terinfeksi penyakit tuberkulosis
dS
dt 3,149267 10 2, 42011110 SI 0,1 V 0,90253 S ,
6 8
dV 0,889 S 3, 6301665 109 VI 0,11353 V ,
dt
dL 2, 420111108 SI 3, 6301665 109 VI 0, 05815 L,
dt
dI 0, 01862 L 0,34221 I ,
dt
dD
r 0, 0744686 I 0,54427 Dr ,
dt
dR
0,37074 Dr 0,139314 I 0, 026 L 0, 01353 R.
dt
1
0 1, 297994236 1
(c) (d)
(e) (f)
Gambar 3.6 Simulasi Numerik Titik Kesetimbangan Bebas Penyakit (a) pada
Individu Susceptible,(b) pada populasi Vaccinated, (c) pada populasi Latenly
Infected, (d) pada populasi Infected, (e) pada populasi Drug Resistant, (f)
pada populasi Recovered.
Grafik Gambar 3.6 (a) menunjukkan keadaan endemik dimana individu
rentan (S) menurun yang disebabkan adanya penularan dari individu terinfeksi aktif
TBC (I) yang mengakibatkan meningkatnya individu terinfeksi laten (L), serta
banyaknya individu yang sudah divaksin sehingga individu vaccinated bertambah.
Jumlah individu rentan (S) yang semula 210.133.223 individu menurun secara
drastis dan kemudian stabil mendekati angka 2,054818118 107 individu. (b)
menunjukkan individu vaksinasi (V) pada awalnya berjumlah 4.115.899 individu
mengalami kenaikan karena adanya individu yang sudah divaksinasi, kemudian
mengalami penurunan dan kenaikan serta stabil mendekati angka
1,574110329 108 individu. (c) menunjukkan jumlah individu terinfeksi laten (L)
yang semula 57.263.325 individu sedikit mengalami kenaikan, kemudian turun
sampai mendekati angka 1, 275114072 107 individu. (d) menunjukkan perubahan
jumlah individu terinfeksi aktif (I) yang semula 969.000 mengalami kenaikan
karena adanya individu laten (L) yang berubah menjadi individu terinfeksi aktif
tuberkulosis (I), setelah itu grafik menurun kemudian stabil mendekati angka
6,938027533105 karena adanya pengobatan dan individu gagal pengobatan yang
masuk ke individu resisten obat (Dr). (e) menunjukkan perubahan jumlah individu
resisten obat (Dr) yang pada awalnya berjumlah 24.695 individu mengalami
kenaikan karena individu yang gagal dalam pengobatan, kemudian grafik
mengalami penurunan dan stabil mendekati angka 95205,23350. (f) menunjukkan
perubahan jumlah individu sembuh (R) yang pada awalnya berjumlah 176.358
individu mengalami kenaikan dan kemudian turun mendekati angka
3,425591159 107 individu.
(c) (d)
(e) (f)
Gambar 3.7(d), (e), (f) berturut – turut menunjukkan pengaruh laju vaksinasi
terhadap jumlah individu terinfeksi aktif (I), jumlah individu resisten obat (Dr), dan
jumlah individu sembuh (R). Ketika laju vaksinasi semakin kecil, maka jumlah
individu terinfeksi aktif (I), jumlah individu resisten obat (Dr), dan jumlah individu
sembuh (R) akan semakin meningkat. Akan tetapi, pada tahun – tahun selanjutnya
dalam waktu lama, ketiganya perlahan mengalami penurunan dan stabil mendekati
angka nol, yang dengan demikian penyakit akan menghilang dari populasi.
Semakin besar laju vaksinasi, maka penyakit akan lebih cepat hilang.
3.6.5 Simulasi Numerik Pengaruh Pengobatan pada Penyebaran Penyakit
Tuberkulosis
(a) (b)
(c) (d)
Gambar 3.14 Simulasi Numerik Pengaruh Pengobatan yang Tepat pada
Individu TBC Aktif (a) terhadap Individu Susceptible, (b) terhadap Individu
Vaccinated, (c) terhadap Individu Latenly Infected, (d) terhadap Individu
Infectious
Gambar 3.17 menunjukkan bahwa laju pengobatan lini kedua yang lebih
tinggi membuat jumlah individu resisten obat berkurang lebih cepat,
sebaliknya laju pengobatan lini kedua yang lebih rendah misalkan ketika
0,1 pengendalian penyakit tuberkulosis resisten obat akan lebih lambat
dibanding laju pengobatan lini kedua 0,5; 0,7; 0,9 , yang menyebabkan
jumlah individu resisten obat (Dr) lebih besar. Dengan demikian, laju
pengobatan lini kedua yang lebih tinggi meningkatkan efektivitas pengobatan
hingga membuat individu resisten obat (Dr) bisa menghilang lebih cepat.