Anda di halaman 1dari 16

LI LBM 1 MODUL KB

FERTILITAS 1. Definisi hasil reproduksi yang nyata dari seoarng perempuan atau sekelompok perempuan yang dicerminkan oleh banyaknya kelahiran atau anak yang dilahirkan (Buku Pintar kependudukan, Dr Sudjarwo) 2. Factor yang mempengaruhi Factor yang mempengaruhi tinggi rendahnya fertilitas penduduk : faktor demografi o struktur umur o struktur perkawinan o umur kawin pertama o paritas o disrupsi perkawinan o proporsi yang kawin faktor non demografi o keadaan ekonomi penduduk o tingkat pendidikan o perbaikan status perempuan o urbanisasi o industrialisasi variabel tersebut dapat berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap fertilitas. Faktor sosial mempengaruhi fertilitas melalui variabel antara
Faktor sosial Variabel antara fertilitas

(Demografi umum)

Faktor yang mempengaruhi penurunan angka kelahiran usia wanita, semakin tua usia wanita semakin menurun kemampuan fertilitas keberhasilan program KB faktor- faktor sosial ekonomi budaya penundaan usia kawin status pendidikan yang semakin meningkat (www. Bappenas.go.id)

Variabel yang mempengaruhi standarisasi tingkt fertilitas : umur status perkawinan proporsi kawin umur kawin pertama (Demografi umum, Ida Bagoes mantra, edisi kedua)

tinggi rendahnya tingkat fertilitas di suatu negara dipengaruhi oleh beberapa variabel misalnya: umur,status perkawinan, atau karakteristik lain. Seperti halnya dengan mortalitas, kalau kita ingin memperbandingkan tingkat fertilitas di beberapa negara, maka pengaruh variabel2 tersebut perlu dinetralisir dengan menggunakan tekhnik standarisasi sehingga hanya 1 variabel yang berpengaruh. Teknik standarisasi yang digunakan sama dengan untuk pengukuran mortalitas. Kalau diketahui tingkat fertilitas menurut umur di negara A dan B, dan ingin dibandingkan tingkat kelahiran umum di kedua negara tersebut, ,maka tingkat fertilitas menurut umur x jumlah penduduk standar dari masing2 kelompok umur (Demografi umum)

Cara menetapkan standarisasi tingkat fertilitas a. Penggunaan prinsip sama dengan pengukuran mortalitas b. Masalah diketahui tingkat fertilitas menurut umur negara Adan B ingin dibandingkan tingkat kelahiran umum di kedua negara

c. Konsep: Tingkat fertilitas menurut umur X jumlah penduduk standar dari masing-masing kelompok umur (dijumlahkan sesuai rumus) (http://elearning.unej.ac.id/courses/IKU1232/document/Fertilitas.ppt?cidReq=IK U1232#282,14,Tingkat Fertilitas Umum (General Fertility Rate = GFR))

Cara menetapkan standarisasi tingkat fertilitas : a. Melakukan pengukuran data statistic tentang kelahiran bayi hidup dan mati b. Menetapkan status ekonomi dari orang tuanya c. Menetapkan standarisasi berdasarkan factor-faktor pendukung yang meliputi tindakan medic pasca kelahiran, keterangan tentang kelahiran, wilayah kelahiran,dll. (Physichal Of Demography)

3. Factor yang dipengaruhi 4. Indicator keberhasilan


1. Angka Kelahiran Tahunan (current fertility)

Jumlah Kelahiran Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate CBR) Angka Kelahiran Menurut Umur Angka fertilitas Total 2. Anak Lahir Hidup (ALH) dan Anak Masih Hidup (AMH) Anak Lahir Hidup (ALH) atau Children Ever Born(CEB) Anak Masih Hidup (AMH) atau Children Still Living (CSL) Rasio Anak-Wanita atau Child Women Ratio (CWR). 3. Paritas 4. Keluarga Berencana Angka Prevalensi Pemakaian Kontrasepsi (CPR) Angka tidak terpenuhinya kebutuhan KB (Unmet-need) (www.data statistik-indonesia.com)

5. Bedanya dengan fekunditas Faktor-faktor fekunditas :

gizi : utk menjamin pertumbuhan sempurna infeksi yg didapat krn perilaku seksual yg tdk hiegenis paritas ( hamil dan lahir hidup) dg interval < 2 thn jml kehamilan > 4 kali umur saat hamil terlalu muda ( < 20th) atau sudah tua ( > 35 thn) proses degenerasi (kemunduran) dimana terjd keganasan yg memerlukan kemampuan melakukan deteksi dini keadaan rahim ibu organ reproduksi penggunaan alat kontrasepsi / abstinensi infertilitas / kemandulan pola hidup (Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, Prof.Dr.Ida Bagus Gde Manuaba, Sp.OG, Arcan) 6. Macam dari pengukuran fertilitas fertilitas kumulatif (total, gross, nett adalah mengukur jumlah rata2 anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan hingga mengakhiri batas usia subur tingkat fertilitas total (Total Fertility Rates : TFR) tingkat fertilitas total didefinisikan sebagai jumlah kelahiran hidup laki2 dan perempuan tiap 1000 penduduk yang hidup hingga akhir masa reproduksinya dengan catatan: 1. tidak ada seorang perempuan yang meninggal sebelum mengakhiri masa reproduksinya 2. tingkat fertilitas menurut umur tidak berubah pada periode waktu tertentu tingkat fertilitas total menggambarkan riwayat fertilitas dari jumlah perempuan hipotesis selama masa reproduksinya. Hal ini sesuai dengan riwayat kematian dari tabel kematian penampang lintang (Cross sectional life table) dalam praktek tingkat fertilitas total dikerjakan dengan menjumlahkan tingkat fertilitas perempuan menurut umur, apabila umur tersebut berjenjang 5 tahunan, dengan asumsi bahwa tingkat fertilitas perempuan menurut umur tunggal sama dengan rata2

tingkat fertilitas kelompok umur lima tahunan, maka rumus dari tingkat fertilitas Total atau TFR adalah sebagai berikut :

TFR = 5 ASFRi i dimana TFR ; Total fertility Rate a : penjumlahan tingkat fertilitas menurut umur

ASFRi : tingkat fertilitas menurut umur ke I dari kelompok berjenjang 5 tahunan Gross reproduction rates (GRR) 1. GRR adalah jumlah kelahiran bayi perempuan oleh 1000 perempuan sepanjang masa reproduksinya dengan catatan tidak ada seorang perempuan yang meninggal sebelum mengakhiri masa reproduksinya, seperti tingkat fertilitas total. Perhitungan Gross Reproduction Rate sbb; GRR = 5 ASFRi i

dimana ; ASFRi adalah tingkat fertilitas menurut umur ke i dari kelompok berjenjang 5 tahunan. Net Reproduction Rate (NRR) Net reproduction rate ialah jumlah kelahiran bayi perempuan oleh sebuah kohor hipotesis dari 1000 perempuan dengan memperhitungkan kemungkinan meninggalkan perempuan2 itu sebelum mengkhiri masa reproduksinya. Jadi dari kohor tersebut dihitung jumlah perempuan2 yang dapat bertahan hidup pada umur

tertentu dengan mengalikannya dengan kemungkinan hidup dari waktu lahir hingga mencapai umur tersebut.

NRR = ASFRfi x i Io

nLx

fertilitas tahunan mengukur jumlah kelahiran pada tahun tertentu dhubungkan dengan jumlah penduduk yang mempeunyai resiko untuk melahirkan pada tahun tersebut tingkat fertilitas kasar (Crude Birth Rate) = CBR adalah benyaknya kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu tiap 1000 penduduk pada pertengahan tahun.

CBR =

B x k Pm

Dimana

CBR : Crude Birth Rate Pm K B : penduduk pertengahan tahun : bilangan konstan yang biasanya 1000 : jumlah kelahiran pada tahun tertentu

tingkat fertilitas umum (general fertility rate) =GFR adalah membandingkan jumlah kelahiran dengan jumlah penduduk perempuan usia subur (15-49 tahun).

GFR =

x k

Pf (15-49)

Dimana : GFR ; tingkat fertilitas umum B : jumlah kelahiran

Pf (15-49) : jumlah penduduk perempuan umur 15-49 tahun pada pertengahan tahun tingkat fertilitas menurut umur (age specific fertility rate) =ASFR terdapat variasi mengenai besar kecilnya kelahiran antar kelompokkelompok penduduk tertentu, karena tingkat fertilitas penduduk ini dapat pula dibedakan menurut jenis kelamin, umur, status perkawinan, atau kelompok2 penduduk yang lain diantara kelompok perempuan usia reproduksi (15-49) terdapat variasi kemampuan melahirkan, karena itu perlu dihitung tingkat fertilitas perempuan pada tiap kelompok2 umur (age spesific fertility rate). Perhitungan tersebut dapat dikerjakan dengan rumus sbb:

Bi ASFRi = Pfi xk

Dimana: Bi Pfi k : jumlah kelahiran bayi pada kelompok umur i : jumlah perempuan kelompok umur I pada pertengahan tahun : angka konstanta=1000

tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran (Birth order specific fertility rates)=BOSFR tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran sangat penting untuk mengukur tinggi rendahnya fertilitas suatu negara. Kemungkinan seorang istri untuk menambah kelahiran tergantung kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya. Seorang istri mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu, dan juga umur anak yang masih hidup. Tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran dapat ditulis dengan rumus:

BOSFR =

Boi Pf (15-49)

x k

Dimana: BOSFR Boi : Birth Order Spesific Fertility Rate

: jumlah kelahiran urutan ke i

Pf (15-49) : jumlah perempuan umur 15-49 pertengahan tahun k : bilangan konstan =1000

penjumlahan dari tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran menghasilkan tingkat fertilitas umum (General fertility rate) =GFR

GFR =

Boi

x k Pf (15-49)

(Demografi umum, Ida Bagoes mantra, edisi kedua)

7. Hubungan fertilitas dengan kependudukan Hubungan fertilitas dengan kadaan ekonomi penduduk

Fertilitas merupakan tingkat kesuburan usia produktif untuk menghasilkan suatu keturunan (dalam hal ini adalah anak), tentunya hal ini nantinya akan sangat berhubungan erat dengan hidup dan kehidupan manusia tentang apa dan bagaimana mereka melakukan pemenuhan kebutuhan hidup (taraf kebutuhan ekonomi) untuk melangsungkan jenisnya. Karena setiap keluarga telah memiliki suatu tujuan tertentu untuk bereproduksi, serta telah memiliki suatu usaha dan pandangan tentang pemikiran bahwa mereka akan mampu atau tidak untuk memenuhi kebutuhan hidup dari segi ekonomi untuk kelangsungan hidup anggota keluarganya. Hubungan fertilitas dengan sosial budaya Fertilitas merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena dalam kehidupan sehari-hari (dalam suatu komunitas sosial budaya tertentu) apabila seseorang dikatakan mandul (infertil), orang yang bersangkutan akan memiliki rasa beban dan tertekan dalam hidupnya, karena merasa bahwa dirinya tidak bisa menghasilkan keturunan yang nantinya dengan adanya keturunan itu, suatu keluarga akan melakukan suatu kegiatan atau prosesi upacara kebudayaan sesuai dengan tata sosial budaya yang berlaku di tempat mereka tinggal dan hidup. Hubungan fertilitas dengan kesehatan reproduksi Kesehatan reproduksi sangatlah penting untuk dijaga pada masa-masa usia produktif, hal ini dikarenakan alat reproduksi yang sehat sangat berhubungan dengan tingkat fertilitas seseorang, walaupun dalam beberapa orang diketemukan kasus infertil. Pada dasarnya reproduksi yang sehat akan mellahirkan generasi yang sehat pula, sehingga tingkat kesuburan (fertilitas) seseorang sangat terprengaruh dengan hal ini, karena akan dapat menghasilkan keturunan yang baik. Hubungan fertilitas dengan pekerjaan Tingkat kesuburan (fertilitas) juga sangat dipengaruhi oleh pekerjaan seseorang, karena hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup seseorang. Tentunya ada beberapa pekerjaan yang mendatangkan risiko-risiko tertentu yang akan membuat seseorang tersebut menjadi mandul (infertil) atau daya kesuburanya menurun. Dalam hal inilah seseorang akan mengalami suatu kedaan yang sulit, karena di satu sisi manusia harus memenuhi kebutuhan hidup, tetapi di satu sisi dalam menjalankan pekerjaan yang mereka lakukan, mereka harus menanggung risiko yang bahkan mungkin sangat berat untuk sebagian orang yaitu kemandulan (infertil), karena faktor-faktor dari pekerjaan yang dia lakukan. Hubungan fertilitas dengan kependidikan Pendidikan adalah suatu upaya pengembangan daya pemikiran seseorang untuk menghasilkan suatu generasi yang berkualitas. Tentunya dalam hal ini sangat berkaitan

dengan tingkat kesuburan manusia itu sendiri untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik dan untuk menghasilkan generasi yang lebih baik pula. Melalui pendidikan inilah manusia akan mengetahui pentingnya kesuburan, dan kesehatan reproduksi untuk dapat menghasilkan keturunan, guna kelangsungan hidup jeninya untuk menghindari kepunahan. Hubungan fertilitas dengan kependudukan Masalah kependudukan merupakan masalah yang paling mendasar dalam suatu negara, hal ini sangat berkaitan dengan angka fertilitas penduduk suatu negara untuk menghasilkan keturunan, sehingga apabila laju pertumbuhan penduduk disini tidak dikendalikan dengan baik, tentunya akan membawa dampak yang buruk bagi suatu negara, karena dapat dimungkinkan terjadi peledakan penduduk dimana perekonomian negara tidak akan sebanding dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah akibat pertumbuhan penduduk yang sangat cepat, akan mengakibatkan bencana nasional, seperti : kelaparan, angka penganguran yang tinggi, tindak kriminal yang tinggi, dan lain-lain.

Hubungan fertilitas dengan PUS (Pasangan Usia Subur) Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan (dalam hal ini terdiri dari laki-laki dan perempuan) yang telah menginjak usia subur guna melangsungkan reproduksi untuk memperoleh keturunan. Pada saat ini sangat penting mengetahui tingkat kesuburan masing-masing pasangan untuk mendapatkan keturunan yang baik demi kelangsungan hidupnya dikemudian hari. Tingkat kesuburan seseorang sangat dipengaruhi oleh beberapa factor, seperti : kelengkapan organ-organ reproduksi, pola konsumsi yang baik, serta aktifitas atau kegiatan hidup sehar-hari, misalnya seperti bekerja. Untuk itulah pada Pasangan Usia Subur ini tentunya memiliki masa tingkat kesuburan yang baik untuk menghasilkan keturunan. Tetapi dalam hal ini pada beberapa negara menjadi permasalahan yang Sangay berarti, karena di negara yang memiliki jumlah penduduk usia muda yang bererti (tinggi) akan berdampak buruk, yaitu dengan terjadinya peledakan penduduk, yang juga akan berdampak buruk pula pada segala aspek bidang kependudukan dalam negara yang bersangkutan. (Physical Of Demografi) Ekonomi o Faktor ekonomi-berpengaruh positif terhadap efektivitas dan tingkat fertilitas dengan besaran angka koefisien path (6.854) dan (7.595). Semakin besar angka koefisien path semakin kuat pengaruhnya terhadap efektivitas dan tingkat fertilitas. Faktor ekonomi pengaruhnya paling kuat dibanding faktor so sial dan budaya dengan pengaruh positif tersebut berarti semakin baik kondisi ekonomi PUS di Jawa Timur

semakin mengharapkan jumlah anak ideal maupun anak yang dilahirkan semakin besar. Kondisi ini sesuai dengan pendapat dari para penyaji teori Transisi Demografi Easterlin (1975), Ekonomi Fertilitas Becker (1960), Hoffman Wyatt (1960), Freedman (1975) dan dari teori Ekonomi Rumah Tangga Caldwell (1960) serta beberapa hasil penelitian Hull and Hull (1978) dan Singarimbun (1976). Kondisi ini menggambarkan keadaan masyarakat pada lahap pra-modernisasi (masyarakat agraris di mana sebagian besar penduduknya tergolong miskin, anak masih dianggap sebagai investasi atau sebagai faktor produksi). Sosial o Faktor Sosial-berpengaruh negatif terhadap efektivitas Keluarga Berencana dan tingkat fertilis dengan besaran angka koefisien path (1.085) dan (-1.202). Pengaruh negatif berarti semakin balk tingkat sosial (pendidikan dan pekerjaan) anggota masyarakat semakin mengharapkan jumlah anak ideal maupun jumlah anak yang dilahirkan semakin kecil, kondisi ini didukung oleh teari Transisi Demografi Easterlin (1975), Teori Ekonomi Fertilitas Hoffman Wyatt (1960), Kondisi ini menunjukkan semakin maju keadaan sosial masyarakat mengakibatkan perubahan pola berfikir penduduk terhadap jumlah anak yang diinginkan yaitu pada tahap modernisasi awal, jumlah anak yang diinginkan maupun jumlah anak yang dilahirkan terus menurun, Budaya o Pengaruh faktor budaya bersifat positif dan fix terhadap efektivitas program Keluarga Berencana dan signifikan terhadap tingkat fertilitas namun pengaruhnya relatif lemah dibanding dengan pengaruh faktor sosial maupun faktor ekonomi. Mengingat pengaruhnya relatif lemah baik terhadap efektivitas maupun tingkat fertilitas di Jawa Timur menandakan bahwa peran faktor budaya dalam mempengaruhi tingkat efektivitas dan fertilitas sangat sedikit (0.090) dan (0.100). Hal ini dapat dimaklumi bahwa indikator budaya yang digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas dan fertilitas sangat terbatas (9 indikator) yang ratarata sebagian indikator tersebut pada saat sekarang kurang diinformasikan baik oleh Dinas, tokoh formal maupun non formal, bahkan sebagian idikator tadi sudah merupakan bagian dari kehidupan masyarakat (sudah membudaya) ini sesuai dengan pendapat

Kottak (1999), akibat modernisasi terhadap perilaku masyarakat.

terjadi

perubahan-perubahan

Produktifitas PUS o Tingkat fertilitas berpengaruh positif terhadap produktivitas PUS, dengan besaran angka koefisien path (7.727), artinya semakin tinggi tingkat fertilitas semakin mengharapkan tingkat produktivitas ibu meningkat, untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Gambaran ini sejalan dengan teori tentang terjadinya pembentukan budaya (culture patterns) akibat adanya modernisasi pada bidang tehnologi. Misalnya berubahnya peran wanita akibat adanya pola baru dari ibu runah tangga berubah sebagai ibu karir bekerja di luar rumah (Kottak, 1999). Pekerjaan o Faktor pekerjaan ibu berpengaruh positif dan langsung terhadap efektivitas dengan besaran angka koefisien path (2.630), ini berarti ibu yang dapat bekerja mengharapkan anak yang semakin banyak. Faktor produktivitas ibu PUS-berpengaruh negatif terhadap efektivitas dengan besaran angka koefisien path (-7.817), ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat produktivitas ibu semakin mengharapkan jumlah anak ideal sedikit.

(http://digilib.unair.ac.id/) 8. Masalah pengukuran fertilitas pada umumnya angka kelahiran dikaitkan dgn kelahiran yang meliputi suatu periode tertentu.Ada 2 pilihan alternatif : a) pengukuran selama suatu periode yang agak singkat yaitu 1 tahun kalender b) mengukur fertilitas meliputi periode kehidupan reproduktif yang sudah berakhir suatu kelahiran selalu melibatkan pria dan wanita bermanfaat untuk mengukur fertilitas menurut karakteristik ibu , ayah atau pasangan tersebut secara kasar dapat dikatakan bahwa suatu kelahiran yang terjadi pada umur 80 thn menghasilkan kelahiran yg banyak

keadaan ini menimbulkan problem yaitu apakah unit pengukuran yang dipergunakan harus didasarkan atas jumlah anak yang sudah dilahirkan atau jumlah kelahiran (persalinan) penyebur angka kelahiran terutama yang menyangkut jumlah penduduk yang menghadapi resiko , kenyataannya sangat sulit dihitung Kedudukan sbg orang tua hanya terbatas pada yang sudah dipilih.Kelompok penduduk yang sangat muda dan sangat tua sudah tidah diperhitungkan , tetapi dilain pihak tidak semua penduduk yang tercakup diantara dua kelompok umur tsb mengahdapi ririko kehamilan.Beberapa diantaranya ada yang steril.Sedangkan yang lain masih membujang, sudah menjanda atau bercerai.Kira2 5 10 %kelahiran terjadi diluar pernikahan dan beberapa negara persentase tsb malah semakin meningkat

dalam banyak hal perbedaan antara kelahiran hidup dan kelahiran mati biasanya sulit diklasifikasikan secara konsisten, selain itu kebiasaan disetiap negara atau kebiasaan yang dilakukan para dokter ternyata juga berbeda Tidak seperti halnya dengan kematian , perkawinan merupakan peristiwa yang dapat terjadi lebih dari 1 kali.Dengan demikian terdapat unsur pilihan.Akibatnya preferen dan pandangan pribadi akan memmbawa pengaruh yang cukup kuat terhadap jumlah anak yang dikehendaki dan dalam periode perencanaan jumlah keluarga yang efisien maka jumlah anak yang sebenarnya dilahirkan akan juga dipengaruhi oleh faktor2 tsb.Dalam masalah mortalitas dapat diasumsikan bahwa hampir semua orang ingin hidup dalam jangka waktu yang lebih lama tetapi masalah jumlah anak atau kapan anak seharusnyaa dilahirkan ternyata belum diperoleh kata sepakat (Teknik demografi oleh Drs.Rozy Munir, Msc dan Drs.Budiarto edisi 1 )

Problem Pengukuran Fertilitas

Pengukuran fertilitas sangat kompleks dibanding pengukuran mortalitas: o Seorang perempuan hanya meninggal satu kali, tetapi ia dapat melahirkan lebih dari seorang bayi o Seseorang yang meninggal pada hari dan waktu tertentu, berarti mulai saat itu orang tersebut tidak mempunyai risiko kematian lagi. Sebaliknya seorang perempuan yang telah melahirkan seorang anak tidak berarti risiko melahirkan dari perempuan tersebut menurun

Kelahiran melibatkan 2 orang (suami istri), sedangkan kematian hanya melibatkan 1 orang saja Tidak semua perempuan mengalami risiko melahirkan karena ada kemungkinan beberapa tidak dapat pasangan, bercerai, menjanda

(http://elearning.unej.ac.id/courses/IKU1232/document/Fertilitas.ppt?cidReq=IK U1232#282,14,Tingkat Fertilitas Umum (General Fertility Rate = GFR))

DEMOGRAFI 1. Definisi ilmu yang mempelajari secara statistic dan matematik tentang besar, struktur, komposisi dan distribusi penduduk, dan perubahan-perubahannya sepanjang masa melelui bekerjanya lima komponen demografi yaitu kelahiran (fertilitas), perkawinan, kematian (mortalitas), migrasi, dan mobilitas social. (Buku Pintar kependudukan, Dr Sudjarwo) 2. Bedanya dengan study kependudukan Demografi merupakan analisa statistik thd jumlah, distribusi & komposisi penduduk serta serta komponen-komponen variasi danperubahannya. Studi kependudukan mempersoalkan hubungan- hubungan antara variabel demografi dan variabel sistem lain 3. Ukuran dasar demografi 4. Variable yg berpengaruh 5. Sumber data Sumber data informasi 1. sensus penduduk ruang lingkup sensus penduduk - geodrafi dan migrasi penduduk - rumah tangga - karakteristik social dan demografi - kelahiran dan kematian - karakteristik pendidikan - karakteristik ekonomi

kesalahan sensus - kesalahan cakupan : kesalahan di mana tidak seluruh pendududk tercacah,dan bagi yang tercacah ada sebagian dari meraka tercacah dua - kesalahan isi pelaporan : meliputi kesalahan pelaporan dari responden ,misalnya kesalahan pelaporan tentang umur - kesalahan ketepatan laporan : dapat tterjadi karena kesalahan petugas ensus atau kesalahan responden itu sendiri pealsanaan sensus penduduk - seluruh pendududk dicacah dalam sensus lengkap yang mengumplkan beberapa ke terangan pokok pendududk sedang sensus sample mencakup keterangan rinci dari sebagian penduduk tahap-tahap pelaksanaan sensus penduduk - badan pusat statistic yang diberi mandate untuk melaksanakan sensus pendusuk oleh pemerintah Indonesia telah mempersiapkan daftar pertanyaan yang digunakan - melatih petugas sensus untuk wawancara kepala rumah tangga,dan anggotanya dengan mengguanakan kuisioner yang ttelah disisapkan - membagi wilayah dalam wilayah wilahan penjajahan. - Wilayah pencacahan dibedakan antara wilcah pedesaan dan wilcah perkotaan - Pencacahan dilaksanakan dengan system aktif - Sselain melaksanakan pencacahan melalui pendekatan rumah tangga dan penduduk,pencacahan melalaui pendekatan wilayah dalam SP2000 juga dilaksanakan - Hasil sensus penduduk diolah oleh badan pusat statistic dan sebagian diterbikan 2. registrasi pendududuk kegiatan pemberian identitas pada setiap penduduk dan pelaksanaan nya sebagai berikut - menghimpun biodata penduduk sebagai data basis kependudukan - pembuatan ktp dank kk didasarkan pada data basis yang disismpan di computer - data basis dimutakhirkan dengan registrasi kejadian vital dan kependudukan - pendataan penduduk rentan dan bermasalah dalam administrasi sebagai upaya khusus

3. survey penduduk Hasil sensus penduduk dan registrasi penduduk mempunyai keterbatasan.mereka hanya menyediakan data statistic kependudukan,dan kurang memberikan informasi tentang sifat dan perilaku penduduk setempat.

Anda mungkin juga menyukai