Anda di halaman 1dari 9

ACARA IV PEMBUATAN KOMPOS ABSTRAK

Pemakaian pupuk buatan yang berasal dari pabrik secara terus menerus akan menambah tingkat polusi tanah yang akhirnya akan berpengaruh pada kesehatan manusia. Oleh karena itu, pemakaian pupuk buatan dari pabrik mulai dikurangi pamakaiannya dan menggantikannya dengan bahan organik. Salah satu cara yang digunakan untuk memperbaiki struktur tanah adalah dengan pengomposan. Pengomposan merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikrobia agar mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Prakikum yang mempunyai tujuan untuk mengenal pembuatan kompos dengan bahan dasar pupuk kandang, menggunakan alat-alat seperti cangkul, gembor, ember, karung plastik, dan ayakan. Bahan yang digunakan adalah kotoran sapi, kotoran ayam, dan biang kompos. Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa suhu dapat dianggap cukup karena < 60C. KL pada kompos dengan mutu yang baik adalah sekitar 30%. pH kompos yang baik adalah 6-7, sedangkan pH pada pengamatan masih tinggi yaitu diatas 7, sehingga perlu dilakukan pembalikkan dan penambahan air. DHL yang tinggi akan menyebabkan akar sulit menyerap unsurunsur hara didalam tanah. Pada pengamatan ini nilai DHL tidak terlalu tinggi. Kompos yang matang akan mempunyai C/N sekitar 15. Jika kadar C/N-nya > 15 maka kompos tersebut belum matang. Penggunaan biang kompos dapat mempercepat pematangan kompos karena meningkatkan perkembangan mikrobia, dimana mikrobia dapat mempercepat degradasi bahan organik.

I. TINJAUAN PUSTAKA Pengomposan pada dasarnya adalah upaya untuk meningkatkan kegiatan mikrobia agar mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Yang perlu diperhatikan dalam proses pengomposan adalah sebagai berikut (Rosmarkam dan Yuwono, 2002): 1) 2) 3) 4) 5) 6) Kelembaban timbunan bahan kompos Aerasi timbunan Temperatur harus dijaga agar tidak terlampau tinggi (maksimum 600C) Pembalikkan timbunan mempunyai dampak netralisasi keasaman Netralisasi keasaman Kualitas kompos. Pembuatan kompos pada hakikatnya ialah menumpukkan bahan-bahan organik dan membiarkannya terurai menjadi bahan-bahan yang mempunyai perbandingan C/N yang rendah sebelum digunakan sebagai pupuk (Sutejo, 1995). Mutu kompos antara lain dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan, cara pembuatan, dan lama pengomposan. Kompos yang baik adalah kompos yang mempunyai

C/N yang rendah, kadar hara essensial tinggi, kadar hara mikro tidak boleh terlalu tinggi dan tidak mengandung racun maupun logam berat. Lama pengomposan tergantung pada kompososi bahan baku maupun cara pengomposan (Usman dan Mawardi, 1995). Sesuai dengan humifikasi fermentasi, suatu penumpukkan sampah dicirikan oleh hasil bagi C/N yang menurun. Bahan-bahan mentah yang biasa seperti : merang, daun, sampah dapur, sampah kota dan sebagainya, umumnya mempunyai hasil bagi C/N yang melebihi 30 (Sutanto, 2001). Jika kompos dengan C/ N kurang dari 20 diberikan ke dalam tanah, maka akan segera diikuti pelepasan unsur hara N ke dalam tanah yang dapat segera dimanfaatkan oleh tanaman. Kompos dengan C/N 14 dan kadar C kurang dari 10% menurut Pujiyanto et al., (1992) cit. Usman dan Mawardi (1995), tergolong kompos yang baik. Namun demikian, dengan aktivator, pengomposan dapat dipercepat menjadi enam minggu (IPB, 1987 cit. Usman dan Mawardi, 1995). Soediyanto dan Hadmadi (1982) cit. Sumardi (1999), menyatakan bahwa suhu yang optimal untuk kecepatan peruraian pada kompos biasanya 30-450C jika kurang dari 300C maupun lebih dari 400C kecepatan peruraiannya akan terganggu. Pada kondisi anaerob proses pembuatan kompos tidak berlangsung secara sempurna, sehingga menghasilkan kompos dengan bau tidak enak karena masih banyak bahan yang belum terurai (intemediate metabolism) dan sedikit sekali menghasilkan sinergi (Sumardi, 1999).

II. METODOLOGI

Praktikum kesuburan tanah tentang pembuatan kompos ini dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah Kuningan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Adapun bahan-bahan yang dipergunakan adalah sekam, jerami, pupuk kandang, dan air. Bahan kompos dibuat dengan mencampur semua bahan yang ada ditambah air sampai kandungannya 30% dan kemudian diaduk dan terakhir dimasukkan kedalam karung. Lalu setiap seminggu sekali kompos yang ada didalam karung dibongkar dan diaduk kembali. Ukur pH dan DHL kompos setiap seminggu sekali. Kompos ini akan matang sekitar 4-8 minggu. Lalu kompos diayak dengan saringan. Bahan yang tidak lolos saring dikomposkan kembali. III. HASIL PENGAMATAN Tabel Data hasil pengamatan pembuatan kompos Komposisi 2:4:4 4 : 4: 2 4 :2 : 4 6:2:2 8 :1 : 1 Minggu pengamatan 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 Dhl (s) 5.2 5.6 3.7 4.1 1.7 1.7 1.1 7.3 5.2 1.48 1.2 1.6 8.2 5.2 4.2 Suhu (oC) 33 32 31 33 31 32 33 38 32 35 34 32 35 31 30

Keterangan: s : mikro simens

pupuk kandang : sekam : jerami

IV. PEMBAHASAN Tujuan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengenal pembuatan kompos dari bahan sekam, jerami, pupuk kandang dan air. Bahan kompos berupa bahan organik dan bahan anorganik. Bahan anorganik dalam praktikum ini tidak dipakai. Hal ini disebabkan oleh sifat dari bahan yang tidak dapat diurai oleh mikrobia. Bahan yang dapat diurai oleh mikrobia hanyalah bahan organik. Oleh karena itu pada praktikum kali ini hanya menggunakan bahan organik. Pada praktikum ini pembuatan kompos dilakukan dengan dua perlakuan yaitu pembuatan kompos dengan bahan dasar pupuk kandang dan limbah pertanian. Limbah pertanian yang digunakan adalah sekam dan jerami. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan parameter sebagai pembanding keduanya yaitu suhu, kadar lengas, pH dan DHL (daya hantar listrik). Penyimpanan bahan kompos dengan karung bertujuan agar mikrobia dapat mengadakan penguraian secara maksimal. Mikrobia akan bekerja maksimal karena adanya kelembaban yang tinggi. Apabila bahan kompos tidak ditutup maka bahan kompos tidak mempunyai kelembaban yang tinggi sehingga dapat mengganggu kerja dari mikrobia. Pada awal pengamatan suhu bahan kompos sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya pelepasan panas yang dilakukan oleh mikrobia saat mengurai bahan kompos. Tetapi semakin lama pengamatan maka suhu semakin turun. Hal ini disebabkan oleh sudah selesainya pelepasan panas yang dilakukan oleh mikrobia. Suhu yang baik untuk kompos yang sudah jadi berkisar antara 30 45o C. Setelah matang maka kompos dipanen. Kompos yang sudah jadi adalah kompos yang sudah lolos kertas saring kasa 2 cm. Kompos yang belum lolos kertas saring dikembalikan lagi. Hal ini berarti kompos itu belum matang. Kompos yang dapat digunakan untuk memupuk adalah kompos yang sudah matang. Kompos yang masih mentah tidak dapat digunakan untuk pemupukan. Kompos yang masih mentah mengandung nisbah C/N yang tinggi, dan bila digunakan untuk

pemupukan justru akan merugikan tanaman, hal ini disebabkan karena bahan organik itu justru akan diserang oleh mikroba untuk memperoleh energi, dengan demikian populasi mikroba yang tinggi memerlukan juga hara tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Hara yang seharusnya digunakan oleh tanaman digunakan juga oleh mikroba tersebut, dengan kata lain terjadi persaingan antara mikroba dengan tanaman dalam menggunakan hara yang ada. Akibatnya adalah terjadi immobilisasi hara tanaman, yaitu hara menjadi tidak tersedia karena berubah dari senyawa anorganik menjadi senyawa organik jaringan mikroba. Dan juga bila nisbah C/N masih tinggi, proses penguraiannya terjadi dalam tanah. Bila penguraian terjadi dalam tanah penguraian bahan segar yang ada biasanya berjalan cepatkarena kandungan air dan udara cukup akibatnya CO2 dalam tanah meningkatdan ini jelek bagi pertumbuhan tanaman yang lagi ditanam di tanah itu. Dari data pengamatan yang ditampilkan pada tabel, dapat diketahui bahwa kondisi dari sampel kompos yang diamati terdapat perbedaan-perbedaan baik itu pada suhu, maupun nilai DHLnya. Untuk suhu tertinggi pada pembuatan kompos didapatkan pada pembuatan kompos dengan komposisi 4 : 2 : 4, yaitu 38oC pada minggu kedua pengamatan. Secara umum seharusnya suhu mengalami peningkatan pada tiap minggu pengamatan dan akan menurun menjadi normal kembali pada akhir proses pembuatan kompos. Suhu yang tinggi ini disebabkan keberadaan mikroorganisme yang terdapat didalam kompos, semakin banyak mikroorganisme yang terdapat didalam bahan penyusunnya maka suhu yang dilepaskan dari kegiatan mikroorganisme itu akan semakin tinggi dan ini akan semakin baik bagi proses pembuatan kompos. Ini berarti suhu di dalam kompos tersebut cukup baik karena suhunya kurang dari 60oC. Dengan suhu yang tidak terlalu tinggi, maka kompos ini tidak akan merusak tanaman khususnya pada bagian akar. Jika kompos yang di berikan pada tanaman mempunyai suhu yang tinggi, di khawatirkan dapat menyebabkan tanaman menjadi layu bahkan dapat mati karena akar tanaman mempunyai batas toleransi terhadap suhu. Sehingga baik air maupun unsur hara yang diserap jika mempunyai suhu yang lebih tinggi dibanding dengan batas toleransi akar terhadap suhu maka akar tersebut dapat rusak. Sehingga akar tidak bisa menyerap air maupun unsur hara yang berakibat pada layunya bahkan matinya suatu tanaman karena tidak mendapat suplai air maupun unsur hara. Selain itu bila suhu kompos tinggi maka akan menyebabkan kompos lama matang atau bahkan

tidak jadi dikarenakan mikrobia mati. Untuk mencegah naiknya suhu maka perlu dilakukan pembalikan secara intensif agar suhu dapat turun. Daya hantar listrik (DHL) kompos di dalam tanah sangat mempengaruhi proses penyerapan unsur hara oleh akar. DHL yang tinggi akan menambah kadar garam di dalam tanah sehingga akar sulit untuk menyerap unsur-unsur hari dalam tanah. DHL tertinggi kompos didapatkan pada kompos dengan komposisi 8 : 1 : 1 yaitu sebesar 8.2 s diawal minggu pengamatan. Pada akhir pengamatan DHL yang didapatkan untuk semua jenis komposisi kompos tidak terlalu tinggi, nilai DHL tertimggi didapat kompos dengan komposisi 4 : 2 : 4. Secara keseluruhan DHL yang didapatkan pada semua kompos sudah cukup baik karena DHL yang diperoleh tidak terlalu tinggi. Perlakuan pengeluaran dan pengadukkan kompos yang dilakukan setiap seminggu sekali diharapkan suhu kompos dapat terjaga dan kompos akan matang secara keseluruhan. Selain itu dengan melakukan pembalikkan secara kontinu dan penambahan air maka aerasi dari kompos akan meningkat dan sifat kealkalianya akan menurun.

V. KESIMPULAN 1. Bahan yang dapat digunakan sebagai bahan kompos adalah bahan organic (kotoran hewan seperti ayam dan sapi). 2. Kompos yang baik adalah kompos yang mempunyai nisbah C/N antara 15 17 %. 3. Kompos yang dapat digunakan untuk pemupukan adalah kompos yang sudah jadi kompos yang belum jadi perlu diuraikan lagi. 4. KL pada kompos dengan mutu yang baik adalah sebesar 30%. Namun pada kedua perlakuan KL diatas 30%. Hal ini berarti kompos kurang kering dan dapat diatasi dengan penambahan bahan-bahan kering. 5. DHL yang tinggi akan menyebabkan akar sulit mennyerap unsur-unsur hara didalam tanah. Pada praktikum ini DHL rata-rata kompos yamg didapat adalah. 4.53 6. Penggunaan biang kompos dapat mempercepat proses pematangan kompos karena perkembangan mikrobia dapat ditingkatkan.

DAFTAR PUSTAKA Rosmarkam, A. dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius, Yogyakarta. Sutejo, M. M. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta. Usman, W. dan S. Mawardi. 1995. Pengaruh komposisi bahan baku dan lama pegomposan terhadap mutu kompos. Warta Puslit Kopi dan Kakao 11(1) : 26-32. Sutanto, R. 2001. Unsur Hara Tanaman, Pengujian, Ketahanan, Keracunan dan Pemupukan Berimbang. Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Sumardi. 1999. Pengaruh penambahan bahan pemercepat pada proses pengomposan sampah terhadap hasil kompos. Duta Farming 17 (1): 30-38.

LAPORAN PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH ACARA IV PEMBUATAN KOMPOS

DI SUSUN OLEH :
NAMA: 1. FIRMANSYAH ARIF (10005) 2. GALUH ADIYATI (10009) 3. ESTI SADARIATI (10125) 4. FETIA NURSIH H (10244) 5. NOORING PRAWESTI (10307) GOL / KEL ASISTEN : B1 / 3 :

JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2006