Anda di halaman 1dari 21

PENDEKATAN KONSELING REALITA

Makalah Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Pendekatan Konseling Dosen Pengampu: Prof. Dr. DYP Sugiharto, M.Pd. Kons.

Oleh 1) Wahyu Candra Apriliyanto 2) Galuh Sekar Wijayanti

(0105511042) (0105511059)

PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2012
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Terapi realitas berkembang didasarkan atas ketidakpuasan pada pengaplikasian model terapi tradisional yang berfokus pada pembentukan hubungan antara konseli dengan pengalaman-pengalaman awalnya di masa kanak-kanak serta pemahaman pada gejala-gejala konflik bawah sadar (psikodinamika). Terapi tradisional tersebut tidak dapat mencapai optimalisasi di waktu yang pendek, padahal untuk mengikuti setiap inci perubahan zaman semua orang harus beraksi secara instan namun efektif. Terapi psikodinamika hanya sedikit menghasilkan perubahan perilaku, dan prosesnya sangat panjang dan terkesan bereksplorasi serta bermain-main dengan teknik katarsis. Palmer (2011: 526) menyatakan bahwa ketika proses terapi psikodinamika tradisional telah mencapai tujuan awalnya, perubahan perilaku klien terlalu sedikit, terutama dalam jangka pendek. Willian Glasser MD sebagai pengembang terapi realitas melihat kekurangan-kekurangan ini dan berusaha membuat formula baru yang dapat menutup kekurangan-kekurangan tersebut. Glasser melakukan banyak observasi dan praktik yang pada akhirnya menghasilkan sebuah konsep yang relevan yaitu tentang pemberian tanggung jawab pada konseli atas segala perilaku dan tindakan yang diambilnya. Palmer (2011: 526) menyatakan bahwa Glasser menemukan bahwa dengan memampukan klien bertanggung jawab terhadap perilakunya sendiri, alih-alih menerima kenyataan bahwa dirinya adalah korban dari dorongan hati, sejarah masa lalu, atau korban orang lain dan peristiwa yang terjadi di sekitarnya, ia mampu membuat perubahan yang dramatis. Jadi pada hakikatnya terapi ini ingin mendorong individu untuk lebih menyadari dan mampu bertanggung terhadap kondisi dirinya di masa sekarang, dengan begitu maka individu tersebut dapat mewujudkan perubahan dramatis yang diharapkannya. Paul D. Meier, dkk., terapi realitas yang diperkenalkan oleh William Glasser dengan memusatkan perhatiannya terhadap kelakuan yang bertanggung jawab, dengan memperhatikan tiga hal (3-R), yaitu: realitas (reality), melakukan hal yang baik (do right), dan tanggungjawab

(responsiblility). Dalam terapi ini individu diharapkan mampu meningkatkan keberanian untuk menghadapi realitas dan bersedia untuk tidak mengulangi masa lalu. Hal penting yang harus dihadapi seseorang adalah mencoba menggantikan dan melakukan intensi untuk masa depan. Seorang terapis bertugas menolong individu membuat rencana yang spesifik bagi perilaku mereka dan membuat sebuah komitmen untuk menjalankan rencana-rencana yang telah dibuatnya. Dalam hal ini identitas diri merupakan satu hal penting kebutuhan sosial manusia yang harus dikembangkan melalui interaksi dengan sesamanya, maupun dengan dirinya sendiri. Perubahan identitas biasanya diikuti dengan perubahan perilaku di mana individu harus bersedia merubah apa yang dilakukannya dan mengenakan perilaku yang baru. Dalam hal ini terapi realitas dipusatkan pada upaya menolong individu agar dapat memahami dan menerima keterbatasan dan kemampuan dalam dirinya. Sejak dicetuskan terapi realita, banyak tokoh yang berupaya untuk mengembangkan model terapi ini. Terapi ini merupakan terapi kognitif yang sangat terfokus pada realitas terbaru konseli dan terkesan sangat interaktif. Brickell (dalam Palmer, 2011: 525) menyatakan bahwa karena fokusnya pada problem kehidupan saat ini yang dirasakan klien dan penggunaan teknik mengajukan pertanyaan oleh terapis realita, terapi realitas terbukti sangat efektif dalam jangka pendek, meskipun tidak terbatas pada itu saja. Dan model terapi inipun akhirnya berkembang luas di berbagai bidang, mulai dari lingkup layanan rehabilitasi kecanduan, konseling karir, lembaga pemasyarakatan, pendidikan, dan sebagainya. Dan sebagai individu yang berkiprah di dunia bimbingan dan konseling, maka pemahaman konsep dan praktik berbagai model terapi sangat dibutuhkan, dan kali ini tenaga dan pikiran kita akan tercurah untuk memahami dan menginternalisasi poin-poin penting tentang terapi realita. B. Rumusan Masalah Dari sedikit penjabaran tentang pendekatan konseling realita di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut, 1. Siapakah sebenarnya William Glasser? 2. Bagaimana konsep dasar pendekatan konseling realita?

3. Bagaimana asumsi perilaku bermasalah dalam pendekatan konseling realita? 4. Apa saja tujuan pendekatan konseling realita ? 5. Apa saja peran Konselor dalam pendekatan konseling realita? 6. Bagaimana proses konseling dengan menggunakan pendekatan konseling realita? 7. Apa saja teknik dalam pendekatan konseling realita? 8. Apa saja kelebihan dan kekurangan pendekatan konseling realita? C. Tujuan Beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam makalah ini sebagai berikut: 1. Mengetahui sosok William Glasser sebagai penemu terapi realita. 2. Mengetahui konsep dasar pendekatan konseling realita. 3. Mengetahui asumsi perilaku bermasalah dalam pendekatan konseling realita. 4. Mengetahui tujuan pendekatan konseling realita. 5. Mengetahui peran Konselor dalam pendekatan konseling realita. 6. Mengetahui proses konseling dengan menggunakan pendekatan konseling realita. 7. Mengetahui teknik dalam pendekatan konseling realita. 8. Mengetahui a kelebihan dan kekurangan pendekatan konseling realita.

BAB II PEMBAHASAN

A. Nama Pendekatan dan Tokoh William Glasser adalah seorang psikiater yang mengembangkan konseling realitas pada tahun 1950-an. Glassser mengembangkan teori ini karena merasa tidak puas dengan praktek psikiatri yang telah ada dan dia mempertanyakan dasar-dasar keyakinan terapi yang berorientasi kepada Freudian. Glasser dilahirkan pada tahun 1925 dan dibesarkan di Cleveland, Ohio. Pada mulanya Glasser belajar dibidang teknik kimia di Universitas Case Institute Of Technology. Pada usia 19 tahun ia dilaporkan sebagai penderita shyness atau rasa malu yang akut Pada perkembangan selanjutnya Glasser tertarik studi psikologi, kemudian dia mengambil program psikologi klinis pada Western Reserve University dan membutuhkan waktu tiga tahun untuk meraih gelar Ph.D, akhirnya Glasser menekuni profesinya dengan menetapkan diri sebagai psikiater. Setelah beberapa waktu melakukan praktek pribadi dibidang klinis, Glasser mendapatkan kepercayaan dari California Youth Authority sebagai kepala psikiater di Ventura School For Girl. Mulai saat itulah Glasser melakukan eksperimen tentang prinsip dan teknik reality terapi. Pada tahun 1969 Glasser berhenti bekerja pada Ventura dan mulai saat itu mendirikan Institute For Reality Theraphy di Brent Wood. Selanjutnya menyelenggarakan Educator Training Centre yang bertujuan meneliti dan mengembangkan program-program untuk mencegah kegagalan sekolah. Banyak pihak yang dilatih dalam lembaganya ini antara lain: perawat, pengacara, dokter, polisi, psikolog, pekerja social dan guru. Buku pertama yang yang ditulis oleh Glasser, Mental Health or Mental

Illnes? Menjadi grandwork bagi perkembangan teori konseling realita. Buku keduanya, Reality Therapy (1965) menegaskan prinsip-prinsip dasar dalam Konseling realita, yakni tentang pentingnya hubungan dan tanggung jawab guna mencapai tujuan dan kebahagiaan hidup. Ia memiliki keyakinan bahwa Konselor yang hangat dan penuh penerimaan merupakan aspek esensial bagi keberhasilan perlakuan, dan hubungan yang akrab dan positif adalah esensial bagi perkembangan pribadi yang sehat. Tulisan-tulisan dalam materi kuliahnya tidak hanya menekankan pada konseling realita sebagai metode perlakuan, tetapi menerapkan pada lingkungan sekolah dan lingkungan bisnis. Robert E. Wubbolding adalah salah satu pengikut Glesser yang memberikan kontribusi sangat penting bagi perkembangnan konseling realita. B. KONSEP DASAR Seperti halnya terapi-terapi lain yang selalu didasari oleh teori-teori yang relevan, maka terapi realita inipun mempunyai dasar teori. Dan dasar teori dari terapi ini adalah teori pilihan yang dikembangkan oleh Glasser. Palmer (2011: 527) mengungkapkan bahwa teori pilihan merupakan salah satu teori yang menjelaskan tidak hanya bagaimana kita berfungsi sebagai individu , secara psikologi dan fisiologis tetapi juga bagaimana kita berfungsi sebagai kelompok dan masyarakat. Pernyataan tersebut merupakan wujud penekanan bahwa hakikatnya manusia yang menyeluruh bukan hanya manusia yang dapat menampilkan dirinya sebagai pribadi tunggal tetapi juga sebagai bagian dari kelompok dan masyarakat. Teori ini mempunyai grounded theory utama yaitu teori pengendalian yang cetuskan oleh William Powers yang kemudian dikembangkan oleh Glasser dan dilabeli dengan nama teori pilihan. Jika dalam teori pengendalian terkandung maksud pada pengendalian efek eksternal, maka teori pilihan justru menekankan pada kontrol internal individu dan motivasi pribadi. Jadi pada hakikatnya individu mempunyai pilihan bebas untuk mengarahkan dirinya sendiri. Berikut ini lima prinsip utama dalam teori pilihan (Palmer, 2011: 528-533): 1. Kebutuhan-kebutuhan Dasar Manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dasar dan dalam kehidupannya mereka berusaha memenuhi kebutuhan tersebut. Kebutuhan dasar manusia meliputi kebutuhan bertahan hidup (survival),

mencintai dan dicintai (love and belonging), kekuasaan atau prestasi (power or achievement), kebebasan atau kemerdekaan (freedom or independence), dan kesenangan (fun) (Corey, 2005). Konsep kebutuhan dasar yang dicetuskan oleh Glasser ini agak berbeda dengan konsep milik Maslow, karena jika Maslow berpendapat bahwa kebutuhan dasar manusia berbentuk hierarki maka Glasser tidak menyepakati hal itu. Pembuktiannya dapat kita amati di lapangan bahwa seringkali orang mampu berbuat di luar kendali untuk mempertahankan cintanya, bahkan untuk mengingkari rasa kecewa dan patah hati ada sebagian kecil orang yang nekat mengakhiri hidupnya sendiri. Palmer (2011: 528) menyatakan bahwa penting untuk ditunjukkan bahwa kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dalam sebuah hierarki, meskipun tentu saja seringkali kita akan memilih untuk memenuhi kebutuhan kelangsungan hidup kita lebih dulu. Keberhasilan individu dalam memenuhi kebutuhan dasarnya akan memberikan identitas berhasil pada dirinya, sedangkan kegagalan akan pemenuhan kebutuhan dasar menyebabkan individu mengembangkan identitas gagal (Rasjidan, 1994). Individu yang memiliki identitas berhasil akan menjalankan kehidupannya sesuai dengan prinsip 3 R, yaitu right, responsibility, dan reality (Ramli, 1994). Right merupakan nilai atau norma patokan sebagai pembanding untuk menentukan apakah suatu perilaku benar atau salah. Responsibility merupakan kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya tanpa mengganggu hak-hak orang lain. Reality merupakan kesediaan individu untuk menerima konsekuensi logis dan alamiah dari suatu perilaku. Individu, dalam kehidupan sehari-hari, tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara langsung. Individu berusaha melakukan sesuatu yang dapat membuat mereka merasa nyaman. Hal ini yang disebut kehidupan yang berkualitas (quality world). Dunia yang berkualitas merupakan surga pribadi yang diharapkan setiap individu. Kehidupan yang berkualitas didasarkan atas kebutuhan dasar, tetapi dunia yang berkualitas berbeda dengan kebutuhan. Dunia yang berkualitas bersifat umum, sedangkan dunia yang berkualitas bersifat khusus. Agar individu dapat memperoleh dunia yang berkualitas dengan baik maka individu harus berhubugan dengan orang lain; yakni orang-orang yang

dekat dengan kita dan nyaman bila didekatnya. Setiap keseluruhan perilaku merupakan usaha yang terbaik dari individu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Keseluruhan perilaku dibangun atas empat komponen yang tidak terpisahkan yaitu bertindak, berpikir, merasa, dan fisiologis yang menyertai semua tindakan, pikiran, dan perasaan individu. Perilaku itu bertujuan karena selalu diarahkan untuk menutupi kesenjangan antara apa yang diinginkan dan yang diperoleh. Dengan demikian dapat dipahami bahwa perilaku muncul dari dalam diri, dan dengan cara demikian individu menentukan takdirnya (teori pilihan) 2. Dunia Berkualitas Walaupun kita semua memiliki kebutuhan-kebutuhan tersebut, kita mencoba memenuhinya dengan cara-cara yang spesifik. Kita mengembangkan sebuah album foto batin atau yang dimaksud Glasser sebagai dunia berkualitas kita yang berisi keinginan-keinginan atau hasrat-hasrat spesifik dan unik mengenai bagaimana kita sangat ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Dunia berkualitas kita berisi dengan gambaran-gambaran atau symbol-simbol orang, tempat, benda, keyakinan, nilai, dan ide yang penting atau special dan memiliki kualitas bagi kita. 3. Frustasi Frustasi merupakan perbedaan antara apa yang diinginkan oleh seseorang (kebutuhan) dengan apa yang dirasakan dan didapatkannya dari lingkungan, yang kemudian menghasilkan perilaku-perilaku spesifik. Perilaku spesifik tersebut merupakan keseluruhan bagian dari aspek fisiologis, pikiran dan tindakan yang tak akan terpisahkan. Dan perilaku tersebut dimaksudkan untuk menutup celah kesenjangan antara apa yang diinginkan dan apa yang didapatkan. 4. Perilaku Total Seperti yang sedikit disinggung di atas, maka pada dasarnya perilaku total (gabungan tak terpisahkan antara perbuatan, pikiran, perasaan dan aspek fisiologis) dihasilkan dari pemilihan internal individu bukan dari efek eksternal. Untuk memperjelas konsep ini, Glasser memberikan contoh analogi empat roda mobil, dua roda di depan mewakili tindakan dan pikiran yang secara langsung dapat dikendalikan dengan kemudi, sedangkan dua roda belakang mewakili

perasaan dan fisiologis yang akan mengikuti kemanapun arah dua roda depan. Dari analogi tersebut dapat dipahami bahwa sesungguhnya dalam manusia hanya mempunyai kontrol langsung pada tindakan dan pikiran namun perasaan dan fisiologis akan selalu mengikuti. Ketika berpikir tentang kebahagiaan maka spontan perasaan kita pun akan merasa bahagia. 5. Persepsi dan Realitas Terkini Bagaimana orang-orang memersepsikan dunia di sekitar mereka, maupun bagaimana mereka memersepsikan diri, tentu saja membentuk realitas mereka mengenai dunia dan diri mereka pada titik tersebut. Inilah realitas terkini seseorang. Memahami persepsi klien mengenai realitas terkini dan membantunya mengevaluasi kembali persepsi tersebut dipahami terapis realitas sebagai aspek yang sangat penting dalam proses konseling. Contoh pertanyaan mengenai persepsi seseorang: bagaimana Anda melihat relasi Anda saat ini? Menurut Anda bagaimana pandangan pasangan Anda? Jadi pada dasarnya teori pilihan beranggapan bahwa sumber dari semua perilaku manusia ada di sini dan saat ini (realitas terkini). Apaun yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan manusia memiliki tujuan untuk mencoba memenuhi keinginan, dan juga kebutuhan saat ini. Dengan demikian terapis realita sudah menabuh genderang perbedaan dengan teori-teori deterministic sifat dasar manusia yang dipengaruhi oleh rangsangan eksternal, pengaruh masa lalu, dan konflik bawah sadar. Terapi realitas memiliki beberapa ciri, adapun ciri-ciri tersebut antara lain sebagai berikut, 1. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu, tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. 2. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. 3. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah, diperbaiki, dianalisis dan ditafsirkan. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya, sebagai pengalaman yang berharga.

4. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli. 5. Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . Tanggung jawab dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. 6. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan., tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. 7. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. Secara garis besar, terdapat dua pokok inti dalam konseling realitas yang dijadikan sebagai titik tolak kegiatan pada konseling realitas dalam menganalisis masalah-masalah klien, yaitu: 1. 3 R (Right, Reality Dan Responbility) a. Right, adalah kebenaran dari tingkah laku seseorang dengan standar norma yang berlaku baik itu norma agama, hukum, dan lain-lain. b. Reality, adalah kenyataan, yaitu individu bertingkah laku sesuai dengan kenyataan yang ada. c. Responbility, adalah bertanggung jawab, yaitu tingkah laku dalam memenuhi kebutuhan dengan menggunakan cara yang tidak merugikan orang lain. 2. Identitas Keberhasilan (Success Identity) dan Identitas Kegagalan (Failure Identity) Dalam proses perkembangan hidup seorang individu, terdapat kecenderungan dalam dirinya untuk menganut suatu perasaan success identity dan failure identity. Tujuan dari konseling realitas adalah agar individu mencapai identitas keberhasilan.

C. ASUMSI DASAR PERILAKU BERMASALAH Reality therapy pada dasarnya tidak mengatakan bahwa perilaku individu itu sebagai perilaku yang abnormal. Konsep perilaku menurut konseling realitas lebih dihubungkan dengan berperilaku yang tepat atau berperilaku yang tidak tepat. Menurut Glasser, bentuk dari perilaku yang tidak tepat tersebut disebabkan karena ketidakmampuannya dalam memuaskan kebutuhannya, akibatnya kehilangan sentuhan dengan realitas objektif, dia tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melakukan atas dasar kebenaran, tangguang jawab dan realitas. Meskipun konseling realitas tidak menghubungkan perilaku manusia dengan gejala abnormalitas, perilaku bermasalah dapat disepadankan dengan istilah identitas kegagalan. Identitas kegagalan ditandai dengan keterasingan, penolakan diri dan irrasionalitas, perilakunya kaku, tidak objektif, lemah, tidak bertanggung jawab, kurang percaya diri dan menolak kenyataan. Menurut Glasser (1965, hlm.9), basis dari terapi realitas adalah membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar psikologisnya, yang mencangkup kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kkebutuhan untuk merasakan bahwa kita berguna baik bagi diri kita sendiri maupun bagi oaring lain. Pandangan tentang sifat manusia mencakup pernyataan bahwa suatu kekuatan pertumbuhan mendorong kita untuk berusaha mencapai suatu identitas keberhasilan. Penderitaan pribadi bisa diubah hanya dengan perubahan identitas. Pandangan terapi realitas menyatakan bahwa, karena individu-individu bisa mengubaha cara hidup, perasaan, dan tingkah lakunya, maka merekapun bisa mengubah identitasnya. Perubahan identitas tergantung pada perubahan tingkah laku. Maka jelaslah bahwa terapi realitas tidak berpijak pada filsafat deterministik tentang manusia, tetapi dibangun diatas asumsi bahwa manusia adalah agen yang menentukan dirinya sendiri. Prinsip ini menyiratkan bahwa masing-masing orang memilkiki tanggung jawab untuk menerima konsekuensi-konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri. Tampaknya, orang menjadi apa yang ditetapkannya.

11

Konseling Realita memandang individu dalam arti perilaku yang dapat diamati tetapi bukan dalam arti paradigma stimulus respon seperti halnya pandangan para konselor perilaku pada umumnya, dan bukan pula dalam arti fenomenologis seperti pandangan konselor humanistik. Konseling realita melihat perilaku melalui standart obyektif yang disebut realita (realiti). Realita ini dapat bersifat praktis (realitas praktis), realita sosial (realitas sosial), dan realita moral (realitas moral). Jadi, para konselor konseling realita memandang individu dalam arti apakah perilakunya sesuai atau tidak sesuai dengan reaita praktis, realita sosial, dan realita moral. Lengkapnya, Glasser mendasarkan sistem teorinya pada apa yang ia sebut dengan 3R. 3R tersebut merupakan akronim dari reality (realita), responsibility (tanggung jawab), right and wrong (benar salah). Namun demikian, Glasser sebenarnya masih menambahkan 2R yang lain, yakni: relatedness (hubungan sosial) dan respect (penghargaan). D. TUJUAN KONSELING PENDEKATAN REALITA Tujuan utama pendekatan konseling ini untuk membantu menghubungkan (connect) atau menghubungkan ulang (reconnected) klien dengan orang lain yang mereka pilih untuk mendasari kualitas hidupnya. Di samping itu, konseling realitas juga bertujuan untuk membantu klien belajar memenuhi kebutuhannya dengan cara yang lebih baik, yang meliputi kebutuhan mencintai dan dicintai, kekuasaan atau berprestasi, kebebasan atau independensi, serta kebutuhan untuk senang. Sehingga mereka mampu mengembangkan identitas berhasil (success identity). Secara khusus tujuan terapi realita antara lain sebagai berikut, 1. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. 2. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. 3. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 4. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri.

5. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. E. PERAN KONSELOR Peranan konseling dalam konseling realitas antara lain sebagai berikut, 1. Mengembangkan kondisi fasilitatif dalam konseling dan hubungan baik dengan klien 2. Mengajarkan klien untuk mengevaluasi perilakunya, misalnya dengan bertanya, Apakah perilaku Anda (atau nama) saat ini membantu Anda untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan Anda? 3. Menyampaikan dan meyakinkan kepada klien bahwa seburuk apapun suatu kondisi masih ada harapan Sedangkan pengalaman Klien dalam terapi realita adalah sebagai berikut, 1. Klien memusatkan pada perilaku 2. Klien mengevaluasi perilakunya sendiri 3. Klien membuat pilihan Kaitannya dengan hubungan antara Konselor dengan Klien, konseling realitas didasarkan pada hubungan pribadi dan keterlibatan antara konselor dengan klien. Oleh karena itu konselor harus menunjukkan kualitas pribadinya, yang meliputi kehangatan, pemahaman atau empati, kongruen, pemahaman, terbuka, penghargaan terhadap klien. F. DESKRIPSI PROSES KONSELING Dalam menerapkan prosedur konseling realitas, Wubbolding (dalam Corey, 2005) mengembangkan sistem WDEP. Setiap huruf dari WDEP mengacu pada kumpulan strategi: W = wants and needs (keinginan-keinginan dan kebutuhankebutuhan, persepsi dan tingkat komitmennya), D = direction and doing (arah dan tindakan), E = self evaluation (evaluasi diri), dan P = planning (perencanaan). Di samping itu, perlu untuk diingat bahwa dalam konseling realitas harus terlebih dulu diawali dengan pengembangan keterlibatan. Oleh karenanya sebelum melaksanakan tahapan dari sistem WDEP harus didahului dengan tahapan keterlibatan (involvement) (Rasjidan, 1994). Berikut ini bahasan mengenai konseling realitas secara lebih mendetail: 1. Pengembangan Keterlibatan 13

Dalam tahap ini konselor mengembangkan kondisi fasilitatif konseling, sehingga klien terlibat dan mengungkapkan apa yang dirasakannya dalam proses konseling. 2. Eksplorasi Keinginan, Kebutuhan dan Persepsi (wants and needs) Dalam tahap eksplorasi keinginan, kebutuhan dan persepsi konselor berusaha mengungkapkan semua kebutuhan dan kebutuhan klien beserta persepsi klien terhadap kebutuhannya. Eksplorasi kebutuhan dan keinginan dilakukan terhadap kebutuhan dan keinginan dalam segala bidang, meliputi kebutuhan dan keinginan terhadap keluarga, orang tua, guru, teman-teman sebaya, sekolah, guru, kepala sekolah, dan lain-lain. Konselor, ketika mendengarkan kebutuhan dan keinginan klien, bersifat menerima dan tidak mengkritik. Berikut ini beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk panduan mengeksplorasi kebutuhan dan keinginan klien. a. Kepribadian seperti apa yang kamu inginkan? b. Jika kebutuhanmu dan keluargamu sesuai, maka kamu ingin keluargamu seperti apa? c. Apa yang kamu lakukan seandainya kamu dapat hidup sebagaimana yang kamu inginkan? d. Apakah kamu benar-benar ingin mengubah hidupmu? e. Apa keinginan yang belum kamu penuhi dalam kehidupan ini? 3. Eksplorasi Arah dan Tindakan (direction and doing) Eksplorasi tahap ini dilakukan untuk mengetahui apa saja yang telah dilakukan klien guna mencapai kebutuhannya. Tindakan yang dilakukan oleh klien yang dieksplorasi berkaitan dengan masa sekarang. Tindakan atau perilaku masa lalu juga boleh dieksplorasi asalkan berkaitan dengan tindakan masa sekarang dan membantu individu membuat perencanaan yang lebih baik di masa mendatang. Dalam melakukan eksplorasi arah dan tindakan, konselor berperan sebagai cermin bagi klien. Tahap ini difokuskan untuk mendapatkan esadaran akan total perilaku klien. Membicarakan perasaan klien bisa dilakukan asalkan dikaitkan dengan tindakan yang dilakukan oleh klien. Beberapa bentuk pertanyaan yang dapat digunakan dalam tahap ini: Apa yang kamu lakukan?, Apa yang membuatmu berhenti

untuk melakukan yang kamu inginkan?, Apa yang akan kamu lakukan besok? 4. Evaluasi Diri (self evaluation) Tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi tindakan yang dilakukan konselor dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginannya: keefektifan dalam memenuhi kebutuhan. Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk memandu tahapan ini: a. Apakah yang kamu lakukan menyakiti atau membantumu memenuhi kebutuhan? b. Apakah yang kamu lakukan sekarang seperti yang ingin kamu lakukan? c. Apa perilakumu sekarang bermanfaat bagi kamu? d. Apakah ada kesesuaian antara yang kamu lakukan dengan yang kamu inginkan? e. Apakah yang kamu lakukan melanggar aturan? f. Apakah yang kamu inginkan dapat dicapai atau realistik? g. Apakah kamu menguji keinginanmu; appakah keinginanmu benar-benar keinginan terbaikmu dan orang lain? Setelah proses evaluasi diri ini diharapkan klien dapat malakukan evaluasi diri bagi dirinya secara mandiri. 5. Rencana dan Tindakan (planning) Ini adalah tahap terakhir dalam konseling realitas. Di tahap ini konselor bersama klien membuat rencana tindakan guna membantu klien memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Perencanaan yang baik harus memenuhi prinsip SAMIC, yaitu: a. Sederhana (simple) b. Dapat dicapai (attainable) c. Dapat diukur (measureable) d. Segera dilakukan (immediate) e. Keterlibatan klien (involeved) f. Dikontrol oleh pembuat perencanaan atau klien (controlled by planner) g. Komitmen (commited) h. Secara terus-menerus dilakukan (continuously done) Ciri-ciri rencana yang bisa dilaksanakan klien kaitannya dalam tahap ini

15

antara lain sebagai berikut, a. Rencana itu didasari motivasi dan kemampuan klien b. Rencana yang baik sederhana dan mudah dipahami c. Rencana berisi runtutan tindakan yang positif d. Konselor mendorong klien untuk melaksanakan rencana secara independen e. Rencana yang efektif dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari dan berulang-ulang f. Rencana merupakan tindakan yang berpusat pada proses, bukan hasil g. Sebelum rencana dilaksanakan, dievaluasi terlebih dahulu apakah realistis dan dapat dilaksanakan h. Agar klien berkomitmen terhadap rencana, rencana dibuat tertulis dan klien bertanda tangan di dalamnya G. TEKNIK KONSELING Teknik yang dapat digunakan dalam konseling realita antara lain sebagai berikut, a. Metaphor, Konselor menggunakan teknik seperti senyuman, analogi, dan anekdot untuk memberi konseli suatu pesan penting dalam cara yang efektif. Konselor juga mendengarkan dan menggunakan metapor yang ditampilkan dari diri konseli. Dengan kata lain, Konselor menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks. b. Hubungan, menggunakan hubungan sebagai bagian yang asensial dalam proses terapeutik. Hubungan ini harus memperlihatkan upaya menuju perubahan, menyenangkan, positif, tidak menilai, dan mendorong kesadaran konseli. c. Teknik paradoxical, mengubah sudut pandang Konseli. d. Renegoisasi, Konseli tidak selalu dapat menjalankan rencana perilaku pilihannya. Jika ini terjadi, maka Konselor mengajak konseli untuk membuat rencana ulang dan menemukan pilihan perilaku lain yang lebih mudah. e. Pengembangan ketrampilan, Konselor perlu membantu konseli mengembangkan ketrampilan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan-

keinginannya dalam cara yang bertanggung jawab. Koselor dapat mengajar konseli tentang berbagai ketrampilan seperti perilaku asertif, berfikir rasional, dan membuat rencana atau merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. f. Adiksi positif, menurut Glesser merupakan teknik yang digunakan untuk menurunkan barbagai bentuk perilaku negatif dengan cara memberikan kesiapan atau kekuatan mental, kreatifitas, energi dan keyakinan. Contoh : mendorong olahraga yang teratur, menulis jurnal, bermain musik, yoga, dan meditasi. g. Penggunakan kata kerja, dimaksudkan untuk membantu Konseli agar mampu mengendalikan hidup mereka sendiri dan membuat pilihan perilaku total yang positif, daripada mendeskripsikan konseli dengan kata-kata: marah, depresi, fobia, atau cemas. Konselor perlu menggunakan kata memarahi, mendepresikan, memfobiakan, atau mencemaskan. Ini mengimplikasikan bahwa emosi-emosi tersebut bukan merupakan keadaan yang mati tetapi bentuk tindakan yang dapat diubah. Contoh, Kemarin saya depresi, sebaiknya diganti dengan kemarin saya memilih depresi. h. Konsekuensi natural, Konselor harus memiliki keyakinan bahwa konseli dapat bertanggung jawab dan dapat menerima konsekuensi dari perilakunya. Koselor tidak perlu menerima permintaan maaf ketika konseli membuat kesalahan, tetapi juga tidak memberikan sangsi, hal ini berarti Konselor tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun, karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. Konselor lebih memusatkan pada perilaku salah atau perilaku lain yang bisa membuat perbedaan sehingga konseli tidak perlu mengalami konsekuensi negatif dari perilakunya yang tidak bertanggung jawab. i. Extinction, adalah mengurangi frekuensi terjadinya suatu tingkah laku dengan menghilangkan reinforcement. j. Reinforcing incompatible behavior, memperkuat tingkah laku positif sehingga tingkah laku negative terkurangi dan hilang. k. Relaxation training, biasanya digunakan untuk mengatasi tekanan atau

17

stress. l. Systematic desensitization, prosedur ini digunakan untuk berbaga keadaan yang berhubungan dengan kecemasan, ketakutan dan reaksi phobia. m. Menggunakan role playing dengan konseli n. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. H. KELEBIHAN DAN KETERBATASAN Kelebihan dari teori realitas ini adalah 1) jangka waktu terapi relatif pendek dan berfokus pada tingkah laku sekarang, 2) klien bisa belajar tingkah laku yang lebih realistic dan karenanya bisa tercapai keberhasilan, 3) langsung lebih cepat menyadarkan klien karena secara langsung mengajak klien berbuat, 4) bersifat praktis, luwes dan efektif, 5) mudah dilaksanakan dan tidak memerlukan pengetahuan tentang diagnosis dan psikopatologi. Sedangkan kekurangan pada pendekatan ini adalah pendekatan ini 1) tidak memberikan pendekatan yang cukup pada dinamika-dinamika tidak sadar pada masa lampau sebagai determinan dari tingkah laku sekarang, 2) teori realita dianggap terlalu dangkal dan sederhana serta 3) hanya menekankan perilaku tanpa mempertimbangkan sisi perasaan.

BAB III PENUTUP A. Simpulan William Glasser adalah seorang psikiater yang mengembangkan konseling realitas pada tahun 1950-an. Glassser mengembangkan teori ini karena merasa tidak puas dengan praktek psikiatri yang telah ada dan dia mempertanyakan dasar-dasar keyakinan terapi yang berorientasi kepada Freudian. Manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dasar dan dalam kehidupannya mereka berusaha memenuhi kebutuhan tersebut. Kebutuhan dasar manusia meliputi kebutuhan bertahan hidup (survival), mencintai dan dicintai (love and belonging), kekuasaan atau prestasi (power or achievement), kebebasan atau kemerdekaan (freedom or independence), dan kesenangan (fun) (Corey, 2005). Glesser (2000) meyakini bahwa di antara kebutuhan dasar tersebut kebutuhan mencintai dan dicintai merupakan yang utama dan paling sukar pemenuhannya. Reality therapy pada dasarnya tidak mengatakan bahwa perilaku individu itu sebagai perilaku yang abnormal. Konsep perilaku menurut konseling realitas lebih dihubungkan dengan berperilaku yang tepat atau berperilaku yang tidak tepat. Tujuan utama pendekatan konseling ini untuk membantu menghubungkan (connect) atau menghubungkan ulang (reconnected) klien dengan orang lain yang mereka pilih untuk mendasari kualitas hidupnya. Peranan konseling dalam konseling realitas antara lain sebagai berikut, mengembangkan kondisi fasilitatif dalam konseling dan hubungan baik dengan klien, mengajarkan klien untuk mengevaluasi perilakunya, dan menyampaikan dan meyakinkan kepada klien bahwa seburuk apapun suatu kondisi masih ada harapan. Dalam menerapkan prosedur konseling realitas, Wubbolding (dalam Corey, 2005) mengembangkan sistem WDEP. Setiap huruf dari WDEP mengacu pada kumpulan strategi: W = wants and needs (keinginan-keinginan dan kebutuhankebutuhan), D = direction and doing (arah dan tindakan), E = self evaluation (evaluasi diri), dan P = planning (perencanaan). Teknik yang dapat digunakan dalam konseling realita antara lain sebagai berikut, metaphor, hubungan, teknik 19

paradoxical, renegoisasi, pengembangan ketrampilan, adiksi positif, penggunakan kata kerja, konsekuensi natural, Extinction, Reinforcing incompatible behavior, Relaxation training, Systematic desensitization, menggunakan role playing dengan konseli, dan menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. Kelebihan dari teori realitas ini adalah 1) jangka waktu terapi relatif pendek dan berfokus pada tingkah laku sekarang, 2) klien bisa belajar tingkah laku yang lebih realistic dan karenanya bisa tercapai keberhasilan, 3) langsung lebih cepat menyadarkan klien karena secara langsung mengajak klien berbuat, 4) bersifat praktis, luwes dan efektif, 5) mudah dilaksanakan dan tidak memerlukan pengetahuan tentang diagnosis dan psikopatologi. Sedangkan kekurangan pada pendekatan ini adalah pendekatan ini 1) tidak memberikan pendekatan yang cukup pada dinamika-dinamika tidak sadar pada masa lampau sebagai determinan dari tingkah laku sekarang, 2) teori realita dianggap terlalu dangkal dan sederhana serta 3) hanya menekankan perilaku tanpa mempertimbangkan sisi perasaan.

DAFTAR PUSTAKA Corey, G. 2005. Theory and Practice Counseling and Psychotherapy. Belmont: Brooks/Cole-Thomson Learning. Komalasari, Gantina, dkk. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta. PT. Indeks. Palmer, Steven. 2011. Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ramli, M. 1994. Selayang Pandang Pendekatan Konseling Realitas. Bina Bimbingan. Th. 9, No. 1. Hal. 8-12. Rosjidan (Ed.). 1994. Pendekatan-Pendekatan Modern dalam Konseling. Malang: Jurusan PPB FIP IKIP MALANG.

21