Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM Alat Ukur Dan Pengukuran

No. Percobaan Judul Nim Kelas/Kelompok Tanggal Penyerahan Pengampu Nilai Keterangan

: 06 : Sistem Kerja Osiloskop : 3.33.11.0.03 : TK 1A/ 2 : 24 Januari 2012 : Tri Budi Wahyuningtyas,S.T,M.T : :

Nama Praktikan: Amanda Jati Ayu

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI SEMARANG 2012

1.NOMOR JOBSHEET

: 06

2.JUDUL

: SISTEM KERJA OSILOSCOPE

3.TUJUAN 1. Mempelajari prinsip kerja oscilloscope 2. Mempelajari bermacam-macam penggunaan oscilloscope 4.TEORI SINGKAT Osciloscope merupakan alat ukur yang dapat menampilkan bentuk gelombang dari sinyal listrik yang diukur,bentuk gelombang sinyal listrik yang diukur tergambar pada layar tabung sinar katoda. Pada dasarnya suat oscilloscope dapat dibagi menjadi 3 bagian utama yaitu : 1. Bagian sinar katoda 2. Bagian menguat horizontal (X amplifier) 3. Bagian penguat vertical(Y amplifier) Tabung sinar katoda dapat dipandang sebagai inti dari oscilloscope. Bagian ini berfungsi untuk mengubah sinyal listrik menjadi gambar yang teertera pada layar. Tabung sinar katode d ibuat dari bahan gelas yang didalamnya hampa udara,serta dilengkapi dengan bagian penembak electron,bagian plat pembelok berkas electron dan layar. Penembak electron(elektrongun) berfungsi untuk membangkitkan electron dengan kecepatan tinggi dan akhirnya electron tersebur menumbuk layar. Pada saat electron menumbuk layar maka pada layar akan terlihat cahaya terpendar. Bagian plat pembelok (defleksi) berfungsi untuk mengontrol arah berkas electron. Jika berkas electron celah antara kedua plat pembelok,maka 2

electron tersebut akan dibelokkan. Kemana arah electron dibelokkan bergantung pada arah dan besar tegangan yang diberikan pada plat tersebut. Bagian layar merupakan bagian gambar yang dapat diamati. Pada sisi dalam layar dilapisi dengan phaspor. Phospor akan mengeluarkan cahaya berpendar jika ada electron dengan kecepatan tinggi menumbuknya,sehingga pada layar akan terdapat gambar cahay berpendar. Karena simpangan bekas electron sesuai dengan sinyal input yang akan diberikan, maka gambar yang terdapat pada layar juga sesuai dengan bentuk gelombang tegangan input.

Gambar 1. Kontruksi CRT dari CRO a. Susunan tabung sinar katode b. Simbol CRT c. Presentasi yang disederhanakan K=katode;M=modulator;A1=anode ke I;A2=anode ke II;X dan Y plat pembelok;A3=anode ke III;S=layar Bagian penguat hoisontal berfungsi untuk memperkuat sinyal yang diberikan pada sumbu X. Setelah sinyal tersebut diperkuat outputnya diberikan pada plat pembelok.Dengan demikian tegangan pad plat pembelok 3

akan sesuai dengan sinyal inputnya,sehingga arah gerakan berkas electron pad sumbu X juga sesuaidengan sinyal inputnya. Seperti halnya bagian penguat horizontal,penguat vertical juga berfungsi untuk memperkuat sinyal input yang diberikan pada sumbu Y. Setelah sinyal tersebut diperkuat maka outputnya deberikan pada plat pembelok,sehingga gambit atau simpangan berkas electron akan sesuai dengan sinyal inputnya. Dengan adanya dua macam plat pembelok berkas electron,maka pada layar akan terlihat gambar yang dibangun oleh dua buah sinyal X dan Y. Jika pada sumbu X dipasangkan suatu tegangan yang naik secara linear terhadap waktu,sedangkan pada input Y dipasang suatu sinyal yang periodic,maka pada layar akan trgambar suatu bentuk gelombang tegangan sinyal yang dipasang pada input Y sebagai fungsi waktu.

Gambar 2. Tampilan proyeksi tabung sinar katoda a. Gelombang tegangan defleksi yang ideal b. Gelombang tegangan defleksi yang sesungguhnya

Mengukur tegangan searah dan bolak balik 1. Kesalahan yang mungkin timbul dalam pengukuran tegangan disebabkan oleh kalibrasi oscilloscope,pengaruh impedansi parasitic. 2. Untuk mengurangi ksalahan yang disebabkan oleh impedensi input dapat manapun dilakukan dengan dengan dari memperhitungkan kerusakan. 3. Besarnya tegangan sinyal langsung dapat diketahui dari gambar pada layar dengan mengetahui nilai Volt/divisi yang digunakan. 4. Osciloscope mempunyai impedansi input yang relative besar,jadi dalam mengukur rangkaian dengan impedensi rendah,maka impedansi input oscilloscope dapat dianggap open circuit kalibrasi input,kabel penghubung serta gangguan

oscilloscope serta gangguan probe yang tidak sesuai atau

Vm Sinyal yang diukur Y

Gambar 3. Pengukuran Tegangan

Pengukuran Beda Phase Pengukuran beda phase antara dua sinyal dapat dilakukan dengan dua cara,yaitu : 1. Dengan oscilloscope dual trace 2. Dengan metode lisajouse Dengan Osciloscope Dual Trace 1. Sinyal pertama dihubungkan pada kanal A,sedangkan sinyal ke dua dihubungkan pada kanal B oscilloscope. 2. Pada layar akan diperoleh tampilan bentuk tegangan kedua sinyal tersebut,dan beda phasenya sekaligus dapat langsung ditentukan.

A Sinyal I 3. 4.

B Sinyal II

V A

t V

t Gambar 4. Rangkaian pengukuran beda phase Besarnya beda phase dapat ditentukan dengan menggunakan rumus :

Dengan Metode Lisajouse Sinyal pertama dihubungkan pada input Y,sedangkan sinyal kedua dihubungkan pada input X oscilloscope.

Y Sinyal I 1. 2.

X Sinyal II

Gambar 5. Rangkaian dengan metode lissajouse Swicth time/div diatur pada posisi XY,tampilan oscilloscope secara grafis dapat diproyeksikan dalam bentul lingkaran,ellip,garis lurus,sebagai berikut :

Gambar 6. Tampilan grafis proyeksi bentuk lissajouse Gambar proyeksi tampilan lissajouse untuk dua frekuensi yang sama tetapi beda phase. a. Konstruksi gambar yang terjadi pada layar b. Gambar yang terjadi untuk beberapa harga beda phase Beda phase antar dua sinyal tersebut juga dapat dihitung dengan cara

Gambar 7. Tampilan lissajouse beda phase

5.

ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN 1. 1buah oscilloscope dual trace 2. 1buah generator fungsi 3. 1buah sumber day searah 8

4. 1buah rangkaian pergeseran fasa 5. Kabel-kabel penghubung

6.

LANGKAH KERJA Pelajari pelajaran oscilloscope terlebih dahulu. Selama percobaan berlangsung,posisi switch Volt/div,time/div dan gain X amplifier harus pada kedudukan terkalibrasi. 1. Melakukan kalibrasi a. Hubungkan oscilloscope dengan tegangan jala-jala listrik(power cord) b. Switch power pada posisi ON Tunggu beberapa saat sampai pada layar muncul pendas berkas electron c. Aturlah posisi gambar pada layar sehingga terletak pada posisi tengah-tengah.Jika gambar masih bergerak terus,maka aturlah posisi tombol sinkronisasi sampai memperoleh gambar yang diam d. Hubungkan terminal input A dengan terminal kalibrasi yang pada panel depan oscilloscope. e. Amati bentuk gelombang dan tinggi amplitudonya.Amplitudo sinyal kalibrasi harus sesuai dengan yang tertera pada oscilloscope,yaitu sebesar 1Vpp. f. Ukur tegangan serta periodenya untuk beberapa harda Volt/div dan time/div. g. Ulangi langkah-langkah diatas untuk input kanal B.

2. Mengukur tegangan searah a. Atur tegangan output sumber daya searah sebesar 4 Volt,diukur dengan voltmeter b. Hubungkan input kanal A dengan output sumber daya searah c. Switch oscilloscope pada posisi pengukuran DC,bacalah beberapa tegangan yang diukur oleh oscilloscope

3. Mengukur tegangan bolak-balik a. Atur generator sinyal pada frekuensi 1 kHz gelombang sinus, dengan tegangan 2 Volt rms yang diukur dengan voltmeter elektronik b. Selanjutnya ukur tegangan tersebut dengan oscilloscope 4. Mengukur frekuensi a. Hubungkan output generator fungsi dengan input kanal A.Switch fungsi dari generator dipasang pada posisi sinus. b. Amati bentuk gelombang yang tertera pada layar,ukurlah frekuensinya. Kemudian catatlah penunjukan frekuensi dari generator fungsi c. Bandingkan hasil pengukuran frekuensi dengan oscilloscope dengan frekuensi yang ditunjukkan oleh generator fungsi,apakah ada perbedaan? d. Ulangi langkah b,c untuk bentuk gelombang gigi gergaji,segitiga dan gelombang segiempat 5. Mengukur beda phase a. Atur generator sinyal pada posisi frekuensi 1kHz gelombang sinus,dengan tegangan 2Vpp

10

b. Hubungkan generator sinyal ini dengan input rangkaian penggeser fasa c. Hubungkan kanal A dengan input penggeser phase(kanal A mengukur tegangan generator),dan kanal B dihubungkan dengan output penggeser phase d. Ukur beda phase antara sinyal output rangkaian penggeser phase ini dengan menggunakan 1. Metode oscilloscope dual trace 2. Metode lissajouse Untuk beberapa kedudukan potensio R 7. DATA PERCOBAAN Berikut ini adalah gambar sinyal pada osiloscope 1. Melakukan Kalibrasi Gambar sinyal pada osciloscope Sebelum Kalibrasi Data Sinyal

Setelah Kalibrasi Amplitudo = 1 Vpp Volt/div = 0,5 volt Time / div = 50 ms T (periode) =4 . 50 ms= 200 s = Gambar 1.1 setelah kalibrasi 2.10 s F= = = 5000 Hz = 5 KHz

Amplitudo = 2 Vpp 11

Volt / div = 1 Vpp Time/div = 0,5 ms T (periode) = 2. 0,5 ms = 1 ms = 10 s F= = Gambar 1.2 setelah kalibrasi = 1000 Hz = 1 KHz

2. Mengukur Tegangan Searah Gambar Sinyal pada Osciloscope Data Sinyal Tegangan output searah terukur oleh multimeter = 4 volt, dan V max yang terbaca pada osiloscope = 1,4 volt

Vrms = Gambar 2 dengan Tegangan output searah terukur oleh multimeter sebesar 4 volt, dan V max yang terbaca pada osiloscope sebesar 1,4 volt

= 2,8 volt

12

3. Mengukur Tegangan Bolak- Balik Gambar Sinyal pada Osciloscope Data Sinyal Gambar sinyal yang berupa garis lurus merupakan sinyal dari function generator dengan Frekuensi = 1 KHz Gambar 3 Gambar sinyal yang berupa gelombang F = 1 KHz V = 1 volt Amplitudo = 2 Vpp T = 2 . 0,5 ms = 1 ms = 10 s F= = = 1KHz

4. Mengukur Frekuensi Gambar Sinyal pada Osciloscope Data Sinyal (Semua data sama pada sinyal sinus, segitiga , dan kotak. )

13

Time/div = 0,1 ms T = 2 x 0,1 ms = 0,2 ms = 2.10 s F= = = 5 KHz

Gambar 4.1 sinyal sinus

Gambar 4.2 sinyal segitiga

Gambar 4.3 sinyal kotak

14

5. Mengukur Beda Phase Gambar Sinyal pada Osciloscope a. Metode osiloscope dual trace F = 2 KHz VR minimum Beda phase = x 360 = Gambar 5.1 sinyal dengan pengukuran secara langsung dengan nilai minimum dari potensiometer 169,411 x 360 = Data Sinyal

F = 2 KHz VR maximum Beda phase = x 360 = Gambar 5.2 sinyal dengan pengukuran secara langsung dengan nilai maximum dari potensiometer x 360 = 180

15

b. Metode lissajouse

F = 2 KHz VR minimum Beda phase = x 360 = 169,411 x 360 =

16

F = 2 KHz VR maximum Gambar 5.3 sinyal dengan pengukuran metode Lissajouse dengan nilai minimum dari potensiometer Beda phase = x 360 = x 360 = 180

Gambar 5.3 sinyal dengan pengukuran metode Lissajouse dengan nilai minimum dari potensiometer

8. a.

ANALISIS DATA Kalibrasi 2 Vpp, 1KHz

17

V/div = 2V/div T/div = 0,2 ms/div V T F = 0,8 div x 2 v/div = 1,6 v = 5div x 0,2 ms/div = 1 ms = 1 = 1Khz 1ms Mengukur tegangan searah Pengukuran dengan multimeter = 4 v

Pengukuran tegangan dengan oscilloscope V = 1,8 div x 2v/div = 3,6 V Mengukur tegangan bolak balik Pengukuran dengan multimeter = 2Vms

18

v/div = 2v/div Pergukuran dengan oscilloscope Vp = 1,2 div x 2v/div = 2,4 Vp Vrsm = 2,4 Vp = 1,69 Vrms 2 Mengukur frekuensi Pada function generator 1 KHz

T/div = 0,2 ms/div Pengukuran dengan oscilloscope T = 3,8 div x 0,2 ms/div F= 1 = 1315 Hz =1,3 Khz 0,76ms Mengukur beda phase Metode Dual Trace

19

Phase input T/div = 0,2 x 5 div = 1KHz Output, time/div = 0,2 x 5 div = 1 Khz ii. Metode Lissajouse

Phase 1 9. TUGAS DAN PERTANYAAN

Phase 2

Phase 3

a. Single trace adalah menampilkan 1 pengoperasian saja (CH1 atau CH2). b. Dual trace adalah menampilkan 2 pengoperasian sekaligus (CH1 dan CH 2). c. Defleksi adalah penguatan gelombang input untuk mendapatkan gelombang output yang diinginkan. d. Attenuasi adalah melemahkan gelombang input untuk

mendapatkan gelombang output yang diinginkan atau sesuai.

20

e. Time base adalah mengatur seberapa sering titik bergerak melintasi layar.

10.

KESIMPULAN Setelah melakukan percobaan sistem kerja osciloskop, mengumpulkan data, menganalisa kemudian dapat disimpulkan bahwa : 1. Sebelum melakukan percobaan menggunakan osiloskop kita harus melakukan kalibrasi pada osiloskop (satu persatu pada masingmasing kanal CH1 dan CH2) 2. Pengukuran frekuensi menggunakan multimeter, dibandingkan menggunakan osiloskop dan function generator menunjukkan perbedaan hasil pengukuran. 3. Pengukuran beda phasa dengan metode lissajouse dilakukan dengan meposisikan tampilan yang sudah memiliki beda phase dengan tombol XY.

21