Anda di halaman 1dari 10

Ascaris lumbricoides adalah cacing yang paling signifikan menimbulkan gejala saluran cerna; karena ukurannya yang relatif

besar (dapat mencapai 35 cm). Infestasi cacing gelang ini sering ditemukan di daerah dengan sanitasi rendah. Cacing masuk ke tubuh akibat anak makan dengan tangan kotor (tercemar tanah terkontaminasi telur cacing). Awalnya cacing akan mencetuskan reaksi imun sehingga anak akan mengalami demam dan sesak napas. Setelah infestasi berlanjut cacing menimbulkan gejala obstruksi atau sumbatan terutama pada saluran cerna (berakibat mual muntah dan ileus obstruktif/sumbatan pasase usus) dan saluran napas (berakibat sesak napas dan mengi). Bahkan cacing dapat keluar lewat hidung, mulut, atau anus jika sudah sangat banyak jumlahnya (larva migrans). Komplikasi yang dapat timbul: malnutrisi, anemia, gangguan pertumbuhan, dan gangguan perkembangan kognitif/daya pikir anak.

Pengobatan definitif pada kasus ini memerlukan obat antelmintik (obat cacing) yaitu mebendazole, albendazole, ataupun pirantel pamoat. Selama pengobatan mungkin dapat terjadi larva migrans yang hebat; khususnya pada penggunaan mebendazole dan albendazole.

Ankilostomiasis / Cacing Tambang

Infestasi cacing tambang terutama disebabkan oleh dua species cacing, yaitu Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Berbeda dengan cacing gelang, kedua cacing ini tergolong kecil dengan panjang rata-rata hanya sekitar 1 cm. Cacing ini memasuki tubuh manusia dalam bentuk larva filariform melalui poripori kulit yang berkontak dengan tanah. Cacing tambang dewasa mengganggu fungsi saluran cerna manusia dengan menempel pada permukaan usus, mengganggu absorbsi makanan, dan mengisap darah (0,3-0,5 ml/hari/seekor cacing). Dapat timbul nyeri perut namun tidak terlalu nyata. Sedangkan larva cacing tambang dapat berjalan-jalan di bawah kulit (disebut juga cutaneous larva migrans); sehingga penderita akan mengeluhkan gatal. Jika infestasi cacing tambang dibiarkan terus, dapat timbul komplikasi anemia dan malnutrisi.

Terapi definitif ankilostomiasis adalah dengan obat antelmintik: mebendazole, albendazole, dan pirantel pamoat). Dibutuhkan juga beberapa terapi penunjang yaitu menjaga kebersihan, menghindari kontak dengan tanah yang tercemar tinja, dan selalu menggunakan alas kaki di daerah endemik.

Oxyuriasis / Cacing Kremi

Oxyuris vermicularis (atau Enterobius vermicularis) dikaitkan terutama dengan gejala pruritus ani, yaitu gejala gatal-gatal hebat pada anus di malam hari. Ukuran cacingnya hanya sekitar 5-10 mm per ekor. Penularan cacing kremi juga melalui jalur fekal-oral, yaitu tangan anak yang memegang makanan setelah menyentuh benda atau tanah terkontaminasi. Cacing akan meletakkan telur di lipatan sekitar anus dan menimbulkan rasa gatal di sana. Anak akan cenderung menggarukgaruknya di malam hari dan seringkali memegang barang lain setelah itu. Rantai infeksi dapat bersambung terus apabila anak memegang makan setelah menggarukgaruk daerah sekitar anusnya (autoinfeksi).

Gejala yang dialami anak dapat bervariasi dari tanpa gejala sampai gatal perianal yang sangat hebat di malam hari disertai infeksi sekunder. Pada kulit perianal sering tampak bekas cakaran atau garukan; dan jika dilakukan anal swab dapat dilihat telur

cacing pada sediaan mikroskopis. Pengobatan pilihannya sama yaitu antelmintik, namun obat pilihan di sini adalah pirantel pamoat. Pemberian obat cacing setiap 6 bulan Mengapa seorang anak perlu mendapat obat cacing setiap 6 bulan? Ada beberapa alasan yang mendasari penetapan kebijakan ini oleh pemerintah. Helmintiasis, khususnya infestasi cacing tambang-kremi-gelang ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Angka kejadian infestasi cacing gelang di daerah tertentu di Indonesia masih sangat tinggi, dapat mencapai 90%. Di samping itu masih rendahnya kesadaran anak untuk bermain di luar rumah dengan alas kaki juga menjadi faktor permasalahan pada kasus infestasi cacing tambang. Pertimbangan kedua adalah anak yang sering malas atau lupa mencuci tangan setelah bermain di luar rumah, atau adanya peluang penularan dari teman sepermainan anak yang sering berkontak dengannya namun asimtomatik. Dan pertimbangan ketiga adalah komplikasi. Anak yang menderita infestasi cacing akan mengalami cenderung mengalami anemia, malnutrisi, dan bahkan mungkin juga gangguan tumbuh kembang. Anemia sendiri dapat mengganggu prestasi anak di sekolah. Semua ini tentu tidak diharapkan terjadi pada generasi penerus bangsa. Jika anak Anda sudah menunjukkan gejala-gejala terserang infestasi cacing, jangan tunda untuk memeriksakannya ke dokter; sebelum semua komplikasi timbul dan sulit dipulihkan. Di samping memberikan obat cacing bagi anak setiap 6 bulan sekali, bagi para orang tua jangan sampai lupa untuk mengajarkan serta memberi contoh bagaimana higiene diri yang baik; sedini mungkin. Diharapkan dengan metode pencegahan dua arah ini prevalensi helmintiasis di Indonesia dapat ditekan serendah-rendahnya.

Perbadaan Ascaris lumbricoides Untuk membedakan antara cacing jantan dan betina , biasanya tubuh cacing jantan berukuran lebih kecil daripada cacing betina dan bagian posterior cacing jantan bengkok. Daur hidup cacing ini dimulai dari telur yang keluar bersama feses. Apabila telur yang telah dibuahi tadi tertelan oleh manusia, di dalam usus telur tadi akan menetas dan menembus dinding usus, ikut bersama aliran darah. Larva yang ikut aliran darah akan menuju jantung lalu ke paruparu dan seterusnya akan ke kerongkongan. Apabila larva yang berada di kerongkongan tadi tertelan lagi akan tumbuh menjadi cacing dewasa dalam usus halus manusia. MorfologiCacing jantan berukuran sekitar 10-30 cm, sedangkan betina sekitar 22-35 cm. Pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior). Padacacing betina, pada sepertiga depan terdapat bagian yang disebut cincin atau gelang kopulasi.Stadium dewasa cacing ini hidup di rongga usus muda.Cacing dewasa hidup pada usus manusia. Seekor cacing betina dapat bertelur hingga sekitar200.000 telur per harinya. Telur yang telah dibuahi berukuran 60 x 45 mikron. Sedangkan teluryang tak dibuahi, bentuknya lebih besar sekitar 90 x 40 mikron. Telur yang telah dibuahi inilahyang dapat menginfeksi manusia.Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalamwaktu 3 minggu Enterobius vermicularis Cacing ini biasa dikenal juga sebagai cacing kremi, hidup dalam usus manusia. Ketika cacing ini akan bertelur, mereka bergerak menuju anus dan bertelur di sana. Pada telur yang ditinggalkan itu juga terdapat semacam lendir yang menyebabkan rasa gatal pada daerah anus penderita. Karena rasa gatal tersebut mengakibatkan penderita akan menggaruknya, sehingga terjadi penularan dengan sendiri atau autoinfeksi.

Morfologi tlur cac n. Americanus Cacing dewasa merupakan ektoparasit dalam usus halus manusia. Telur cacing dapat keluar bersama feses manusia. Pada daerah yang sesuai yaitu daerah lembap, telur yang sudah dibuahi akan menetas dan dalam sehari menghasilkan larva filariform. Larva ini dapat menembus kulit manusia melalui kulit yang tidak beralas kaki. Bersama aliran darah, larva sampai di jantung dan paru-paru. Dari paru-paru, larva menembus dinding paru-paru sampai ke trakea kemudian ke faring. Setelah itu larva kemudian masuk lagi ke dalam usus halus dan tumbuh menjadi cacing tambang dewasa. Cacing betina dan jantan dewasa dapat melakukan perkawinan. Cacing betina menghasilkan ribuan telur perhari. Telur tersebut keluar bersama feses, dan siklus itu berulang kembali. Cacing tambang. Cacing ini memiliki dua jenis yaitu Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Disebut cacing tambang karena dahulunya banyak ditemukan pada buruh tambang di eropa. Necator americanus menyebabkan penyakit nekatoriasis dan Ancylostoma duodenale menyebabkan penyakit ankilostomiasis. Kedua jenis cacing ini banyak menginfeksi orang-orang di sekitar pertambangan dan perkebunan. N. americanus dan A. duodenale hidup di rongga usus halus dengan mulut melekat pada daging dinding usus. Tubuh Necator americanus mirip huruf S. Panjang cacing betina kurang lebih 1 cm. Setiap satu cacing dapat bertelur 9000 ekor per hari. Sementara itu panjang cacing jantan kurang

lebih 0,8 cm. Ancylostoma duodenale lebih mirip dengan huruf C. Setiap ekor Ancylostoma duodenale dapat menghasilkan 28.000 telur per hari. Telur cacing tambang keluar bersamaan dengan feces. Dalam waktu 1-1,5 hari, telur akan menetas menjadi larva, yang disebut larva rhabditiform. Tiga hari kemudian larva berubah lagi menjadi larva filarifom dimana larva ini dapat menembus kulit kaki dan masuk ke dalam tubuh manusia. Di tubuh manusia, cacing tambang bergerak mengikuti aliran darah, menuju jantung, paru-paru, tenggorokan, kemudian tertelan dan masuk ke dalam usus. Di dalam usus, larva menjadi cacing dewasa yang siap menghisap darah. Setiap ekor cacing N. americanus akan menghilangkan 0,005-1 cc darah per hari sedangkan setiap ekor cacing A. duodenale akan menyebabkan manusia kehilangan 0,08-0,34 cc per hari. Oleh karena itulah, cacing tambang menjadi berbahaya karena dapat menyebabkan anemia pada manusia.

Morfologi dan Lingkungan hidup a. duo Cacing dewasa hidup di rongga usus halus, dengan mulutnya melekat pada mukosa dinding usus. Cacing betina menghasilkan 9.000 10.000 butir telur perhari. Cacing betina mempunyai panjang 1 cm, cacing jantan kira-kira 0,8 cm. cacing dewasa berbentuk huruf S atau C dan didalam mulutnya ada sepasang gigi. Rongga mulutnya sangat besar. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatriks. Telur cacing tambang besarnya kira-kira 60 x 40 mikron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding yang tipis dan di dalamnya terdapat beberapa sel. Larva rabditiform panjangnya kira-kira 250 mikron, sedangkan larva filariform panjangnya kira-kira 600 mikron. Daur hidup Ancylostoma duodenale yaitu telur cacing dikeluarkan bersama feses dalam waktu 1-2 hari di dalam tanah, telur tersebut akan menetas menjadi larva rabditiform. Dalam waktu sekitar tiga hari larva rabditiform tumbuh menjadi larva filariform, yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7-8 minggu di tanah. Setelah menembus kulit, larva ikut masuk melalui aliran darah menuju jantung terus ke paru-paru. Di paru-paru larva menembus pembuluh darah masuk ke bronkus lalu ke trakea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa. Telur-telur yang keluar bersama feses biasanya pada stadium awalpembelahan. Bentuknya lonjong dengan ujung bulat melebar dan berukuran kira-kira,panjang 60 m dan lebar 40 m. Ciri khasnya yaitu adanya ruang yang jernih diantaraembrio dengan kulit telur yang tipis Cacing betina berukuran panjang 15-18 mm, alat kelaminnya berpasangan, dimana vulvanya terletak kira-kira di 1/3 posterior tubuhnya. Uterus dan ovarium cacing betina mempunyai bentuk yang berkelak-kelok dan dilanjutkan dengan oviduct. Sel telur yang dibuahi akan mengalami perkembangan dengan jalan pembelahan sel, selanjutnya akan dikeluarkan dari tubuh cacing setelah memiliki 2-8 selbersama tinja saat defikasi. Telur cacing berbentuk ovoid dengan ujung membulat atau tumpul, terbungkus dari dinding telur yang tipis dengan ukuran 56-75 X 34-47 mikron.

Telur diphyllob latum } Mempunyai operkulum } Berukuran 7045 mikron Daur hidup Telur dikeluarkan melalui lubang uterus proglotid gravid di tinja menetas dalam air Larva (koradisium) dimakan H P pertama, anggota Cepepoda (ex. Cyclops dan Dioptomus) larva menjadi proserkoid cyclops dimakan H P kedua, ikan (ex. Salem) proserkoid berubah menjadi larva pleroserkoid (sparganum) termakan manusia sparganum menjadi cacing dewasa di rongga usus halus manusia M orfo l ogi : Merupakan cestoda terbesar yang menginfeksi manusia. Cacing dewasa panjang sampai 3-l0meter, berwarna kuning keabu-abuan, gelap di bagian tengah oleh adanya uterus yang berisi penuh dengantelur.

Scolex: memanjang seperti sendok, 2-3 mm X l mm, terdapat 2 buah lekukan (slit) yang disebut bothria pada permukaan ventral dan dorsal.

Leher: tipis, lebih panjang daripada kepala

Proglottid:- jumlahnya 3.000 - 4.000 segmen- ukuran segmen: lebar lebih besar daripada panjang.- segmen mature: 2-4 mm X l0-20 mm, penuh dengan organ jantan dan betina.

Mempunyai 3 lubang genital (genital pore)- lubang vas deferens- lubang vagina- lubang uterus terletak pada permukaan ventral, digaris tengah tiap segmen.- Ovarium : bilobus- Uterus: bentuk rosette, berkelok-kelok di bagian tengah tiap segmen. Segmen terminal mengkerut(karena selalu mengeluarkan telur) kemudian mengering, lepas dari rangkaiannya, keluar bersama faeceshospes dalam bentuk rangkaian.- Telur :- oval, 70 X 45 mikron- berwarna coklat karena menghisap empedu- mempunyai operculum pada salah satu ujung dan knob kecil pada ujung yang lain.- Tidak infektif untuk manusia

i kl us hidup T aenia saginata : Telur atau segmen gravid keluar bersama tinja. Bila sapi/kerbau makan rumput yang tercemar telur tsb, didalam usus sapi (hospes perantara), dinding telur pecah, keluar onchosphere kemudianmenembus dinding usus, ikut aliran darah, lymphe, melewati organ-organ hepar, paru, jantung akhirnyasampai ke otot bergaris, terutama otot-otot lidah. leher, bahu, paha. Didalam otot-otot tsb. onchospheremencair, berubah bentuk menjadi vesicle yang tumbuh membesar, pada salah satu sisi tumbuh scolexdidalamnya. Bentukan tersebut disebut cysticercus bovis. Dibutuhkan waktu 60 70 hari darionchosphere untuk berubah menjadi cycticercus bovis, ukuran 5-10 mm X 3-4 mm. Dalam daging sapidapat hidup sampai 8 bulan. Bila daging sapi yang mengandung cysticercus dimasak kurang sempurna,kemudian dimakan manusia. Didalam usus manusia tersebut scolex akan mengalami exvaginasi danmelekat pada dinding usus kemudian tumbuh menjadi cacing dewasa

t. saginata
Taenia solium adalah kerabat dekat Taenia saginata yang memiliki siklus hidup hampir sama, namun inang perantaranya adalah babi. Manusia terinfeksi dengan memakan daging babi berisi kistaTaenia solium. Cacing ini sedikit lebih kecil dari Taenia saginata (3-4 m panjangnya), tetapi lebih berbahaya. Berbeda dengan Taenia saginata yang hanya membentuk kista di daging sapi, Taenia solium juga mengembangkan kista di tubuh manusia yang menelan telurnya. Kista tersebut dapat terbentuk di mata, otak atau otot sehingga menyebabkan masalah serius. Selanjutnya, jika tubuh membunuh parasit itu, garam kalsium yang terbentuk di tempat mereka akan membentuk batu kecil di jaringan lunak yang juga mengganggu kesehatan.

Habitat semua cacing pita endoparasitic dan hampirsemua cacing dewasa hidup dalam saluran pencernaan vertebrata dan larva hidup pada jaringan vertebratata dan invertebrata.