Anda di halaman 1dari 21

Klinik Dokter Keluarga FK UNISMA Berkas Pembinaan Keluarga PKM Cemoro Donomulyo

No. RM

Nama pasien : Ny. A Nama KK : Tn. J

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA Nama Kepala Keluarga Alamat lengkap Bentuk Keluarga : Tn. J : Desa Mulyosari Rt.03 Rw.7 : Nuclear Family

Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal Dalam Satu Rumah


No Nama Status L/ P 1 Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien PKM Ket

Tn. J

Suami (KK)

30 Th

SD

Petani

Ny. A

Istri

27 Th

SD

Swasta

Pterigium OS

An.H An.D

Anak 1 Anak 2

L P

8 Th 5 Th

SD
-

Pelajar -

T T

Sumber : Data Primer, 24 Mei 2012

Kesimpulan : Keluarga pasien merupakan nuclear family yang terdiri atas 4 orang. Pasien adalah Ny. A, umur 27 tahun, beralamat di Ds. Mulyosari Rt.03, Rw.7. Diagnosa klinis pasien adalah Pterigium OS. Pasien tinggal bersama dengan Suami (Tn.J 30 Th), serta kedua anaknya (An.H 8 Th) dan (An.D 5 Th).

BAB I STATUS PASIEN 1.1 PENDAHULUAN Laporan ini dibuat berdasarkan kasus yang diambil dari seorang penderita pterigium, berjenis kelamin perempuan dan berusia 27 tahun. Mengingat kasus pterigium masih sering terjadi di masyarakat, beserta permasalahannya seperti masih kurangnya pengetahuan tentang penanganan yang tepat sehingga dapat menyebabkan komplikasi. Oleh karena itu, penting kiranya bagi penulis untuk memperhatikan dan mencermatinya dan kemudian bisa menjadikannya sebagai pengalaman di lapangan. 1.2 ANAMNESIS 1.2.1 Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan Agama Alamat Status Perkawinan Suku Tanggal Periksa 1.2.2 1.2.3 : Ny. A : 27 tahun : Perempuan : Swasta (Buruh Pabrik) : SD : Islam : Ds. Mulyosari Rt.03 Rw.7 : Menikah : Jawa : 24 Mei 2012

Keluhan utama : Mata Kabur Riwayat penyakit sekarang : Penderita datang ke Balai Pengobatan PKM Cemoro Donomulyo dengan keluhan mata sebelah kiri kabur sejak 3 bulan yang lalu dan pada mata tersebut terlihat seperti ada daging tumbuh. Pasien juga mengeluh silau dan terkadang mata terasa gatal sehingga pasien sering mengucekngucek matanya. Pasien mengatakan bahwa 1 tahun yang lalu bekerja di sebuah pabrik di Kepanjen. Karena jarak rumah dan pekerjaan pasien yang jauh,

sehingga pasien sering berkendara motor sendirian ke tempat kerja, terkadang pasien mengaku menggunakan helm dengan kaca helm yang sengaja dibuka agar melihat lebih jelas dan tidak menggunakan kaca mata saat berkendara sehingga mata pasien sering terpapar angin, debu, dan sinar cahaya matahari.

1.2.4 1.2.5 1.2.6 1.2.7

Riwayat penyakit Dahulu Riwayat sakit serupa Riwayat mondok Riwayat diabetes Riwayat hipertensi Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat keluarga sakit serupa Riwayat diabetes Riwayat hipertensi Riwayat kebiasaan Riwayat olahraga : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

Riwayat pengisian waktu luang : istirahat drumah Riwayat sosial ekonomi Penghasilan keluarga relatif cukup. Penghasilan didapat dari suami yang

bekerja sebagai petani maupun dari pasien yang bekerja sebagai buruh pabriki. Keluarga Ny.A memiliki hubungan sosial dengan tetangga yang cukup bagus, meskipun Ny.A dan suami bekerja, tetapi mereka saling mendukung dan saling memperhatikan. Pasien adalah seorang Perempuan berusia 27 tahun. Pasien bekerja sebagai buruh pabrik. saat ini pasien tinggal di rumah dengan suami dan kedua anaknya. Saat ini kebutuhan sehari-hari penderita ditanggung oleh suami dan penderita sendiri. Hubungan Ny.A, suami, dan anak pasien nampak saling mendukung, karena suami maupun kedua anak pasien tampak menemani saat pasien berobat di PKM Cemoro.

1.2.8

Riwayat Gizi : Pasien makan sehari-hari biasanya 3 kali/hari. Berupa nasi sepiring, sayur,

dan lauk pauk. Terkadang dengan telur, tahu, tempe, ayam dan daging. Sering makan buah-buahan seperti jeruk dan pisang dan minum susu. Minum air putih 2 liter. 1.3 PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Derajat kesadaran Tanda vital T Nadi RR Suhu BB TB Kulit Kulit sawo matang, ikterik (-), venektasi (-), spider nevi (-). Kepala Bentuk Normocephal, luka (-), makula (-), papula (-), nodul (-), bells palsy (-). Mata konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil isokor (3mm/3mm), tampak lipatan segitiga pada celah kelopak bagian nasal konjungtiva pada mata kiri yang meluas ke kornea < 2 mm. Hidung Napas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), epistaksis (-/-), deformitas hidung (-/-) Mulut bibir pucat (-), sianosis (-), Telinga Daun telinga bentuk normal, sekret (-/-) Tenggorok Uvula di tengah, faring hiperemis (-), tonsil T1 - T1. : 110/70 mmHg : 82 x/menit, regular, isi tegangan cukup : 18 x/ menit, kedalaman cukup, reguler : 36 0C peraksila : 58 kg : 157 cm : tampak sehat : Compos mentis

Leher Bentuk normocolli, limfonodi tidak membesar, glandula thyroid tidak membesar.

Thoraks Bentuk Cor Inspeksi Palpasi Perkusi : normochest, retraksi (-/-) : : iktus kordis tidak tampak : iktus kordis teraba di SIC V LMCS, tidak kuat angkat : : SIC II Linea parasternalis Sinistra : SIC IV Linea Mid clavicularis sinistra : SIC II Linea parasternalis Dextra : SIC IV Linea parasternalis Dextra

Batas kiri atas Batas kiri bawah Batas kanan atas Batas kanan bawah

Batas jantung kesan tidak melebar Auskultasi : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-) Pulmo Inspeksi Palpasi Perkusi : : pengembangan dada kanan = kiri : fremitus raba sulit dievaluasi : sonor di seluruh lapang paru

Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-) Abdomen Inspeksi : dinding perut lebih cembung daripada dinding dada, caput

medusae (-) Auskultasi : bising usus (+) N Perkusi Palpasi : pekak : supel, nyeri tekan (-)

Ekstremitas Akral Dingin Oedem -

Capillary refill time < 2 detik Arteri dorsalis pedis teraba kuat

Status Oftalmicus:

OD AV Tanpa koreksi Dengan koreksi TIO Kedudukan Pergerakan Simetris membuka dan menutup mata (+), tertinggal (-) Palpebra edema (-), hiperemi (-), hematom (), benjolan-benjolan (-) Konjungtiva warna pink, edema (-), pelebaran pembuluh darah (-), secret (-) -

OS -

Simetris membuka dan menutup mata (+), tertinggal (-) edema (-), hiperemi (-), hematom (-), benjolan-benjolan (-) warna (keruh) sebagian, edema (), tampak lipatan segitiga pada celah kelopak bagian nasal ke

konjungtiva kornea

yang

meluas pupil

sampai

(OD),

pelebaran pembuluh daran (+), secret (-) Kornea Sebagian tertutup oleh lipatan segitiga konjungtiva Bilik mata depan Iris/pupil jernih (+) reflek pupil (+), bulat (3-4mm), central (+), jernih (+) Sebagian tertutup oleh lipatan segitiga konjungtiva jernih (+) reflek pupil (+), bulat (3-4mm), central (+), sebagian tertutup lipatan segitiga konjungtiva Lensa Vitreus Retina Keruh Sde Sde Sedikit keruh sde sde

1.4 RESUME Ny.A, umur 27 tahun, datang ke Balai Pengobatan PKM Cemoro Donomulyo dengan keluhan mata sebelah kiri kabur sejak 3 bulan yang lalu dan pada mata tersebut terlihat seperti ada daging tumbuh. Pasien juga mengeluh silau dan

terkadang mata terasa gatal sehingga pasien sering mengucek-ngucek matanya. Pasien mengatakan bahwa 1 tahun yang lalu mulai bekerja di sebuah pabrik di Malang. Karena jarak rumah dan pekerjaan pasien yang jauh, sehingga pasien sering berkendara motor sendirian ke tempat kerja, terkadang pasien mengaku tanpa menggunakan helm ataupun kaca mata saat berkendara sehingga mata pasien sering terpapar angin, debu, dan cahaya matahari. Pemeriksaan fisik didapatkan KU: tampak sehat, CM, Tanda vital: T: 110/70 mmHg, Nadi: 82 x/menit, RR: 18 x/menit, Suhu: 36,1 0C. Mata: tampak lipatan segitiga pada celah kelopak bagian nasal konjungtiva pada mata kiri yang meluas ke kornea < 2 mm. 1.5 DAFTAR MASALAH 1. Mata kiri kabur 2. Mata kiri Gatal 3. Mata kiri silau 4. Pemeriksaan fisik Mata: tampak lipatan segitiga pada celah kelopak bagian nasal konjungtiva pada mata kiri yang meluas ke kornea < 2 mm.

1.6 DIAGNOSIS HOLISTIK Ny. A, 27 Th, dengan mata kiri kabur dengan keluarga yang saling memperhatikan, serta saling mendukung. 1.6.1 Diagnosis Biologis OS Pterygium derajat II 1.6.2 Diagnosis Psikologis Hubungan antar anggota keluarga cukup baik. Dapat dilihat dari suami yang sangat memperhatikan kesehatan pasien. 1.6.3 Diagnosis Sosial Ekonomi Keluarga Ny.A memiliki hubungan sosial dengan tetangga yang cukup bagus. Status ekonomi Penghasilan keluarga relatif cukup. Penghasilan didapat dari suami yang bekerja sebagai petani maupun dari pasien sendiri yang bekerja di sebuah pabrik di Malang.

1.7 PENATALAKSANAAN 1.7.1 Non Medika mentosa Kurangi pajanan debu dan sinar matahari dengan menggunakan helm atau kacamata anti ultraviolet Kontrol ke rumah sakit 1.7.2 Medikamentosa Immatrol Ed 4 dd gtt 1 ODS Ctm 2x1 tab 1.7.3 KIE Menggunakan topi lebar sehingga sinar matahari tidak dapat langsung terkena wajah Menggunakan kacamata anti UV: Selain untuk mencegah sinar matahari masuk ke mata, dapat sekaligus mencegah partikel debu dan kotoran serta angin masuk ke mata Jika mata terasa gatal jangan mengucek-ngucek mata dengan tangan, tetapi dapat menggunakan tisue basah tanpa kandungan alkohol ataupun tisue kering, supaya kotoran yang menempel dimata tidak menggesek-gesek kornea mata dan mencegah bakteri dari tangan masuk menyebar ke mata.

1.8 PROGNOSIS Dubia ad Bonam

BAB II IDENTIFIKASI FUNGSI- FUNGSI KELUARGA 2.1 FUNGSI HOLISTIK 2.1.1 Fungsi Biologis Keluarga terdiri dari Suami (Tn.J 30 Th), Istri (Ny.A 27 Th), dan kedua anaknya (An.H 8 Th), dan (An.D 5 Th). 2.1.2 Fungsi Psikologis Penderita tinggal bersama suami, dan kedua anaknya. Ny.A adalah seorang istri yang bekerja sebagai buruh pabrik. Hubungan Ny.A dan keluarga cukup terjalin dengan baik dan saling memperhatikan, walaupun Ny.A, suami dan anak kedua kesehariannya sibuk bekerja, tetapi selalu bertemu setiap hari saat malam hari. Hal ini terbukti pada saat pasien berobat, suami dan anak pasien menemani pasien saat berobat. 2.1.3 Fungsi Sosial Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga Ny.A hanya sebagai anggota masyarakat biasa, tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat. Dalam kehidupan sosial Ny.A kurang berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, dikarenakan sibuk dengan pekerjaan. 2.1.4 Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan Penghasilan keluarga berasal dari penghasilan Ny.A yang bekerja sebagai buruh pabrik dan suami yang bekerja sebagai petani. Untuk biaya hidup seharihari seperti makan, minum, atau iuran membayar listrik mengandalkan uang yang ada. Kesimpulan : Dari poin satu sampai empat dari fungsi holistik keluarga kesimpulannya adalah Keluarga Ny.A umur 28 tahun dengan Pterygium OS, fungsi psikologis dan fungsi sosial ekonomi cukup baik. 2.2 FUNGSI FISIOLOGIS Untuk menilai fungsi fisiologis digunakan APGAR score. APGAR score adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut

pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan anggota keluarga yang lain. APGAR score meliputi : 1. Adaptasi Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota keluarga yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota keluarga yang lain. 2. Partnership Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut. 3. Growth Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan anggota keluarga tersebut. 4. Affection Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota keluarga. 5. Resolve Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain. Terdapat tiga kategori penilaian yaitu: nilai rata-rata 5 kurang, 6-7 cukup dan 8-10 adalah baik. Tabel 3. APGAR score Ny.A = APGAR Ny.A Terhadap Keluarga A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan Sering/ Selalu Kadangkadang Jarang/ Tidak

10

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Untuk Ny.A APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut :

Adaptation : Saat Ny.A sedang memiliki masalah biasanya tidak ditanggung sendiri dan bisa berbagi dengan keluarga karena kedekatan Ny.A dengan keluarga. Score : 2 Partnership : Pekerjaan Ny.A sebagai buruh pabrik tidak menyebabkan hambatan dalam berbagi masalah yang dihadapi sehari-hari dengan keluarga. Score : 2 Growth : Ny.A jarang berkumpul dengan keluarga dan berkomunikasi, karena Ny.A dan suami bekerja hingga sore hari. Score : 1 Affection : Ny.A jarang mengekspresikan perhatian terhadap keluarga secara langsung. Score : 1 Resolve : Waktu yang tersedia untuk berkumpul dengan keluarga kurang. Score : 1

Tabel 4. APGAR score Tn.J. = APGAR Tn.J Terhadap Keluarga A Sering/ Selalu Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah. Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya. Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru. Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Kadang Jarang -kadang /tidak

11

Untuk Tn.J APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut : Adaptation : Saat Tn.J sedang memiliki masalah biasanya tidak ditanggung sendiri dan bisa berbagi dengan keluarga karena kedekatan Tn.J dengan keluarga. Score : 2 Partnership : Pekerjaan Tn.J sebagai petani tidak menyebabkan hambatan dalam berbagi masalah yang dihadapi sehari-hari dengan keluarga. Score : 2 Growth : Tn.J jarang berkumpul dengan keluarga dan berkomunikasi, karena Tn.K bekerja hingga sore hari. Score : 1 Affection : Tn.J jarang mengekspresikan perhatian terhadap keluarga secara langsung. Score : 1 Resolve : Waktu yang tersedia untuk berkumpul dengan keluarga kurang. Score : 1

APGAR score keluarga Ny.A = (7+7) : 2 = 7 Kesimpulan : Fungsi fisiologis keluarga Ny.A adalah cukup. 2.3 FUNGSI PATOLOGIS Fungsi patologis dari keluarga Ny.A dinilai dengan menggunakan alat S.C.R.E.E.M sebagai berikut : Tabel 6. SCREEM keluarga pasien SUMBER Social Culture Religious Economic Educational Medical KET PATOLOGIS Ikut berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, dapat dilihat pada pergaulan mereka yang masih menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Pemahaman terhadap ajaran agama cukup, demikian juga dalam + ketaatannya dalam beribadah. Penghasilan keluarga yang relatif stabil Tingkat pendidikan dan pengetahuan keluarga ini kurang, dimana + Ny.P berpendidikan sampai SMP, dan Tn.K hanya lulusan SD Keluarga ini cukup mampu membiayai pelayanan kesehatan, namun jika tidak cukup parah tidak akan dibawa kerumah sakit +

12

Kesimpulan Keluarga Ny.A mempunyai fungsi patologis di bidang religious, educational dan medical. 2.4 POLA INTERAKSI KELUARGA Diagram 1. Pola interaksi keluarga Ny.A
Tn. J, 30 th

Ny. A, 28 th

An. H, 8 th

An. D, 5 th

Keterangan : Hubungan baik Hubungan tidak baik Kesimpulan : Hubungan antara Ny.A dengan keluarga baik

2.5 GENOGRAM KELUARGA Alamat lengkap :Ds, Mulyosari Rt.03, Rw.07 Bentuk Keluarga : Nuclear Family Diagram 2. Genogram keluarga Ny.A

Tn. K

Ny. A

An.H

An.D

Kesimpulan: Riwayat Pterygium tidak ditemukan pada anggota keluarga lainnya.

13

BAB III IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN 3.1 Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga 3.1.1 Faktor Perilaku Keluarga Ny.A adalah seorang perempuan mengeluh mata sebelah kiri kabur sejak 3 bulan yang lalu dan pada mata tersebut terlihat seperti ada daging tumbuh, pasien kemudian berobat ke PKM Cemoro Donomulyo. Suami dan kedua anaknya belum banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan khususnya komplikasi yang ditimbulkan oleh Pterygium. Dari luar, rumah tampak bagus, perabot rumah tertata rapi. Keluarga Ny.A mempunyai sejumlah hewan peliharaan, yaitu ayam yang kandangannya berada dibelakang rumah. 3.1.2 Faktor Non Perilaku Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga

berkecukupan. Sumber penghasilan berasal dari suami dan pasien sendiri. Rumah yang dihuni keluarga ini cukup memadai, karena cukup memenuhi standar kesehatan. Pencahayaan ruangan cukup, ventilasi cukup, fasilitas WC dan kamar mandi yang cukup bersih. Dapur memiliki akses udara yang bebas dan pencahayaannya cukup. Fasilitas kesehatan yang sering dikunjungi oleh keluarga ini jika sakit adalah bidan. Diagram 3. Faktor Perilaku dan Non Perilaku

Pengetahuan : Keluarga kurang mengetahui penyakit pasien Sikap: Keluarga cukup memperhatikan penyakit pasien

Lingkungan: Keluarga cukup memahami pentingnya kebersihan lingkungan terhadap kesehatan pasien
Pelayanan Kesehatan: Jika sakit Ny. A berobat ke bidan

Keluarga Ny. A

14

3.2 Identifikasi Lingkungan Rumah 3.2.1 Gambaran Lingkungan Keluarga ini tinggal di sebuah rumah yang berdempetan dengan rumah tetangganya. Memiliki pekarangan rumah dan pagar pembatas. Terdiri dari ruang tamu dan ruang keluarga, satu kamar tidur, satu dapur,dan memiliki fasilitas jamban keluarga. Pintu masuk dan keluar ada dua, di bagian depan rumah dan di belakang. Jendela kaca ada. Lantai rumah sebagian sudah memakai ubin, sebagian berbahan tanah. Ventilasi dan penerangan rumah cukup. Perabotan rumah tangga cukup. Secara keseluruhan kebersihan rumah sudah cukup.

3.2.2

Denah Rumah

5m Kandang Ayam Bagian Belakang B R. Makan Dapur

Kmr Mandi Ruang Santai Kmr Tidur 7m

Ruang Tamu

Kmr Tidur

Teras
Bagian Depan

Kesimpulan :Lingkungan rumah cukup memenuhi syarat kesehatan, namun kesehatan lingkungan kurang terjaga.

15

BAB IV DAFTAR MASALAH 4.1 MASALAH MEDIS : 1. Pterygium OS 4.2 MASALAH NON MEDIS : 1. Tingkat pengetahuan keluarga Ny.A tentang kesehatan kurang. 4.3 PERMASALAHAN PASIEN (Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada dengan faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien) Diagram 5. Permasalahan Ny.A
Tingkat pengetahuan keluarga Ny. A tentang kesehatan kurang

Ny.A 27 th

Pterygium OS

4.4 MATRIKULASI MASALAH Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks. (Azrul, 1996) Tabel 7. Matrikulasi masalah No Daftar Masalah P 1. Tingkat pengetahuan 5 I S 5 SB 4 2 T Mn 4 R Mo Ma 3 4 Jumlah IxTxR 9.600

keluarga Ny.A tentang kesehatan kurang Keterangan : I : Importancy (pentingnya masalah)

P : Prevalence (besarnya masalah) S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah) SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah) T : Technology (teknologi yang tersedia) R : Resources (sumber daya yang tersedia) Mn : Man (tenaga yang tersedia) Mo : Money (sarana yang tersedia) Ma : Material (pentingnya masalah)

16

Kriteria penilaian : 1 2 3 4 5 : tidak penting : agak penting : cukup penting : penting : sangat penting

4.5 PRIORITAS MASALAH Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah keluarga Ny.A adalah sebagai berikut : 1. Tingkat pengetahuan keluarga Ny.A tentang kesehatan kurang. Kesimpulan : Prioritas masalah yang diambil adalah tingkat pengetahuan keluarga Ny.A tentang kesehatan kurang, sehingga mempengaruhi kondisi kesehatannya.

17

BAB V PENATALAKSANAAN HEPATOMA Pilihan manajemen secara klinis pada bisa menjadi kompleks. Keluhan ringan pterygium berupa fotofobia dan mata sering di atasi dengan cara menghindari asap dan debu. Beberapa obat topikal seperti lubrikan, vasokonstriktor atau kortikosteroid digunakan secara aman untuk menghilangkan gejala jika digunakan secara benar terutama pada derajat 1 dan 2 atau tipe 1. Untuk mencegah progresivitas beberapa peneliti menganjurkan penggunaan kacamata pelindung UV. Indikasi eksisi untuk pterygium termasuk ketidaknyamanan yang menetap, gangguan penglihatan, ukuran > 3-4 mm dan pertumbuhan yang progresif menuju tengah kornea atau visual aksis dan adanya gangguan pergerakan bola mata. Eksisi pterygium bertujuan untuk mencapai keadaan normal gambaran permukaan bola mata yang licin. Teknik bedah yang sering digunakan untuk mengangkat pterygium adalah menggunakan pisau yang datar untuk mendiseksi pterygium ke arah limbus.

18

BAB VI HUBUNGAN PENGETAHUAN KELUARGA DENGAN HEPATOMA Pterygium merupakan penebalan berupa lipatan berbentuk segitiga yang tumbuh menjalar ke tengah bola mata. Paparan sinar matahari merupakan faktor yang penting dalam perkembangan terjadinya pterigium. Hal ini menjelaskan mengapa insidennya sangat tinggi pada populasi yang berada pada daerah dekat equator dan pada orang orang yang menghabiskan banyak waktu di lapangan. Faktor lainnya yang berperan dalam terbentuknya pterigium adalah alergen, bahan kimia berbahaya, dan bahan iritan (angin, debu, polutan). Keluhan subjektif dapat berupa rasa panas, gatal, ada yang mengganjal. Keluhan ringan pterygium berupa fotofobia dan mata sering di atasi dengan cara menghindari asap dan debu. Komplikasi dari pterigium meliputi sebagai berikut: Gangguan penglihatan, Kemerahan, Iritasi, Gangguan pergerakan bola mata. Tindakan operasi pada pterigium pada penglihatan dan kosmetik adalah baik. Prosedur yang baik dapat ditolerir pasien dan disamping itu pada beberapa hari setelah operasi pasien akan merasa tidak nyaman, kebanyakan setelah 48 jam pasca operasi pasien bisa memulai aktivitasnya. Bagaimanapun juga, pada beberapa kasus terdapat kekambuhan, ini biasanya karena pasien yang terus terpapar radiasi sinar matahari, juga beratnya atau derajat pterigium. Pasien dengan pterygium yang kambuh lagi dapat mengulangi tindakan pembedahan. Sinar matahari terutama UV B adalah merupakan paparan yang primer, sehingga perlu dilakukan perlindungan mata dari paparan secara langsung. Sinar matahari merupakan sumber UV yang paling besar sehingga hindari bekerja di tempat yang terbuka, pembatasan lama paparan pada radiasi ultraviolet dan jika diperlukan gunakan topi yang berdiameter besar dan kacamata anti UV, juga perhatikan faktor- faktor yang dapat mempengaruhinya juga seperti penggunaan kacamata untuk menghindari paparan angin secara langsung, dan kurangi paparan terhadap paparan bahan kimia baik yang berbentuk partikel debu.

19

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan Diagnosis Holistik : Ny.A 27 tahun, dengan Pterygium OS dengan hubungan antar anggota keluarga cukup baik. Dapat dilihat dari suami dan anak-anak pasien yang sangat memperhatikan kesehatan pasien. 1. Segi Biologis Pterygium OS 2. Segi Psikologis Penderita tinggal bersama suami, dan kedua anaknya. Ny.A adalah seorang istri yang bekerja sebagai buruh pabrik. Hubungan Ny.A dan keluarga cukup terjalin dengan baik dan saling memperhatikan, walaupun Ny.A, suami dan anak kedua kesehariannya sibuk bekerja, tetapi selalu bertemu setiap hari saat malam hari. Hal ini terbukti pada saat pasien berobat, suami dan anak pasien menemani pasien saat berobat. 3. Segi Sosial Ekonomi dan Budaya a. Status ekonomi mencukupi kebutuhan b. Penyakit Ny.A mengganggu aktifitas sehari-hari. c.Kondisi lingkungan dan rumah yang cukup memenuhi standar kesehatan. d. Kurang berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. 7.2 SARAN Memberikan pengertian kepada keluarga pasien mengenai pentingnya berobat secara teratur untuk mencegah komplikasi dari penyakit Ny.A agar dapat ditangani secepat mungkin penyakit yang diderita, serta edukasi kepada keluarga perilaku hidup bersih sehat.

20

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata, edisi kedua. Jakarta: Balai Penelitian FKUI,2003. 119-120 2. Hamurwono GD, Nainggolan SH, Soekraningsih. Buku Pedoman Kesehatan Mata dan Pencegahan Kebutaan Untuk Puskesmas. Jakarta: Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas Ditjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan, 1984. 14-17 3. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Editor Tahjono. Dalam panduan manajermen klinik PERDAMI. CV Ondo Jakarta; 2006. 56 58 4. Tan D T.H Ocular Surface Diseases Medical and Surgical Management. New York: Springer, 2002. 65 83 5. Raihana. Karakteristik penderita pterygium dipoliklinik mata RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Periode Januari 2003 Desember 2005. Pekanbaru ; FK UNRI, 2007

21