Anda di halaman 1dari 11

KONSEP LANJUT USIA (PROSES PENUAAN) a.

Pengertian Lanjut usia adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindarkan, umur manusia sebagai makhluk hidup terbatas oleh suatu peraturan alam, maksimal sekit 6 (enam) kali masa bayi sampai dewasa, atau 6 x 20 tahun sampai dengan 120 tahun (Depkes, 2007). Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas (Anwar, 2007). Penuaan adalah proses yang dinamis dan kompleks yang dihasilkan oleh perubahanperubahan sel, fisiologis dan psikologis. Lanjut usia adalah proses yang tidak dapat dihindarkan yang berumur 60 tahun ke atas (UU Nomor 13 tentang kesejahteraan lanjut usia). b. Batasan Lanjut Usia 1. Kelompok lansia dini (5564 tahun), merupakan kelompok yang baru memasuki lansia. 2. Kelompok lansia (65 tahun ke atas). 3. Kelompok lansia resiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun. c. Perubahan Pada Sistem Perkemihan Seiring bertambahnya usia, akan terdapat perubahan pada ginjal, bladder, uretra, dan sisten nervus yang berdampak pada proses fisiologi terlait eliminasi urine. Hal ini dapat mengganggu kemampuan dalam mengontrol berkemih, sehingga dapat mengakibatkan inkontinensia, dan akan memiliki konsekuensi yang lebih jauh. Perubahan pada Sistem Renal Pada usia dewasa lanjut, jumlah nefron telah berkurang menjadi 1 juta nefron dan memiliki banyak ketidaknormalan. Penurunan nefron terjadi sebesar 5-7% setiap dekade, mulai usia 25 tahun. Bersihan kreatinin berkurang 0,75 ml/m/tahun. Nefron bertugas sebagai penyaring darah, perubahan aliran vaskuler akan mempengaruhi kerja nefron dan akhirnya mempebgaruhi fungsi pengaturan, ekskresi, dan matabolik sistem renal. Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada sistem renal akibat proses menua: Membrana basalis glomerulus mengalami penebalan, sklerosis pada area fokal, dan total permukaan glomerulus mengalami penurunan, panjang dan volume tubulus proksimal berkurang, dan penurunan aliran darah renal. Implikasi dari hal ini adalah filtrasi menjadi

kurang efisien, sehingga secara fisiologis glomerulus yang mampu menyaring 20% darah dengan kecepatan 125 mL/menit (pada lansia menurun hingga 97 mL/menit atau kurang) dan menyaring protein dan eritrosit menjadi terganggu, nokturia. Penurunan massa otot yang tidak berlemak, peningkatan total lemak tubuh, penurunan cairan intra sel, penurunan sensasi haus, penurunan kemampuan untuk memekatkan urine. Implikasi dari hal ini adalah penurunan total cairan tubuh dan risiko dehidrasi. Penurunan hormon yang penting untuk absorbsi kalsium dari saluran gastrointestinal. Implikasi dari hal ini adalah peningkatan risiko osteoporosis. Perubahan pada Sistem Urinaria Perubahan yang terjadi pada sistem urinaria akibat proses menua, yaitu penurunan kapasitas kandung kemih (N: 350-400 mL), peningkatan volume residu (N: 50 mL), peningkatan kontraksi kandung kemih yang tidak di sadari, dan atopi pada otot kandung kemih secara umum. Implikasi dari hal ini adalah peningkatan risiko inkotinensia.

INKONTINENSIA URIN Pengertian Inkontinensia urine (beser) adalah ketidakmampuan menahan air kencing. Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita yang pernah melahirkan daripada yang belum pernah melahirkan. Diduga disebabkan oleh perubahan otot dan fasia di dasar panggul. Kebanyakan penderita inkontinensia telah menderita desensus dinding depan vagina disertai sistouretrokel. Tetapi kadang-kadang dijumpai penderita dengan prolapsus total uterus dan vagina dengan kontinensia urine yang baik ( Andrianto,1991 ). Inkontinensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi di luar keinginan ( Brunner & Suddarth, 2002 ). Tipe-tipe dari inkontinensia urin dan patofisiologinya: Menurut Buku Ajar Fundamental Keperawatan tipe-tipe inkontinensia urine, yaitu: a) Inkontinensia Urine Fungsional Deskripsi: involunter, jalan keluar urine tidak dapat diperkirakan pada klien yang system saraf dan system perkemihannya tidak utuh.

Penyebab: perubahan lingkunga; deficit sensorik, kognitif atau mobilitas Gejala: mendesaknya keinginan untuk berkemih menyebbakan urine keluar sebelum mencapai tempat yang sesuai. Klien yang mengalami perubahan kognitif mungkin telah lupa mengenai apa yang harus ia lakukan. b) Inkontinensia Urine Overflow (Refleks) Deskripsi: keluarnya urine secara invoulunter terjadi pada jarak waktu tertentu yang telah diperkirakan. Jumlah urine dapat banyak atau sedikit. Penyebab: terhambatnya berkemih akibat efek anastesi atau obat-obatan, disfungsi medulla spinalis (baik gangguan pada kesadaran serebral atau kerusakan pada arkus refleks). Gejala: tidak menyadari bahwa kandung kemihnya sudah terisi, kurangnya urgensi untuk berkemih, kontraksi spasme kandung kemih yang tidak dapat dicegah. c) Inkontinensia Urine Stress Deskripsi: peningkatan tekanan intraabdomen yang menyebabkan merembesnya sejumlah kecil urine. Penyebab: batuk, tertawa, muntah, atau mengangkat sesuatu saat kandung kemih penuh, obesitas, uterus yang penuh pada trimester ketiga, jalan keluar pada kandung kemih yang tidak kompeten, lemahnya otot panggul. Gejala: keluarnya urin saat tekanan intraabdominal meningkat, urgency dan seringnya berkemih. d) Inkontinensia Urine Urge (Desakan) Deskripsi: pengeluaran urin yang tidak disadari setelah merasakan adanya urgensi yang kuat untuk berkemih. Penyebab: daya tampung kandung kemih menurun, iritasi pada reseptor peregang kandung kemih, konsumsi alcohol atau kafein, peningkatan asupan cairan dan infeksi. Gejala: urgensi berkemih, sering disertai oleh tingginya frekuensi berkemih (lebih sering dari 2 jam sekali), spasme kandung kemih atau kontraktur, berkemih dalam jumlah kecil (kurang dari 100 ml) atau dalam jumlah besar (lebih dari 500 ml). e) Inkontinensia Urine Total Deskripsi: kelurnya urine total yang tidak terkontrol dan berkelanjutan.

Penyebab: neuropati, trauma atau penyakit pada saraf spinalis atau sfingter uretra, firtula yang berada di kandung kemih dan vagina. Gejala: urin tetap mengalir pada waktu-waktu yang tidak dapat diperkirakan, nokturia, tidak menyadari bahwa kandung kemihnya terisi atau inkontinensia. (Potter & Perry, 2005: 1687)

Faktor resiko terjadinya inkontinensia, yaitu: a) Usia Bertambahnya usiamerupakan salah satu faktor risiko inkontinensia urin yang dipaparkan dalam konsensus inkontinensia urin oleh National Institutes of Health pada tahun 1988. Banyak penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan angka prevalensi Inkontinensia urine dengan bertambahnya usia. Melville baru-baru ini melaporkan bahwa prevalensi Inkontinensia urineterjadi sekitar 28% pada wanita berusia 30-39 tahun dan 55% pada wanita berusia 80-90%. Peningkatan prevalensi pada wanita manula mungkin disebabkan oleh kelemahan otot pelvis dan jaringan penyokong uretra terkait dengan bertambahnya usia. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh faktor-faktor pada manula seperti gangguan mobilitas dan/atau kemunduran status mental yang dapat meningkatkan risiko episode inkontinensia. b) Herediter/genetic Beberapa peneliti mempertanyakan apakah terdapat dasar genetik dalam atrofi dan kelemahan jaringan penyokong yang menyebabkan terjadinya inkontinensia urin stres.Mushkat dkk.menguji prevalensi inkontinesia urin tipe stres pada turunan pertama dari 259 wanita. Sebagai kontrol, mereka mengumpulkan data pada turunan pertama dari 165 wanita (sesuai umur, paritas, dan berat badan) tanpa inkontinensia urin tipe stres dan dilakukan pemeriksaan terhadap kelompok kontrol di sebuah klinik ginekologi. Prevalensi inkontinensia urin stres hampir 3 kali lebih tinggi (20,3% berbanding 7,8%) pada wanita turunan pertama dari wanita dengan inkontinensia urin. Data ini menunjukkan bahwa mungkin ada penurunan sifat secara familial yang dapat meningkatkan insiden inkontinensia urin stres. c) Obesitas

Beberapa penelitian epidemiologik telah menunjukkan bahwa peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan faktor risiko yang signifikan dan independen untuk inkontinensia urin semua tipe.Fakta menunjukkan bahwa prevalensi inkontinensia urine maupun stres meningkat sebanding dengan IMT.Penelitian SWAN menunjukkan terjadi peningkatan sekitar 5% kemungkinan kebocoran untuk setiap unit kenaikan IMT. Secara teori, obesitas menyebabkan peningkatan tekanan intra-abdominal yang sebanding dengan peningkatan tekanan intravesikal.Tekanan yang tinggi ini mempengaruhi tekanan penutupan uretra dan menyebabkan terjadinya inkontinensia. d) Persalinan dan Kehamilan Sebagian besar wanita mengalami inkontinensia urin selama kehamilan, tetapi umumnya hanya berlangsung hanya sementara.Banyak penelitian mengungkapkan tingginya prevalensi inkontinensia urin pada wanita hamil dibandingkan wanita nullipara (wanita yang belum pernah melahirkan). Suatu penelitian pada 305 primipara (wanita yang telah melahirkan seorang anak, yang cukup besar untuk hidup di dunia luar matur atau premature), 4% mengalami stress incontinence sebelum kehamilan, 32% selama kehamilan, dan 7% pada masa post partum. Kehamilan dan obesitas menambah beban struktur dasar panggul dan dapat menyebabkan kelemahan panggul yang pada akhirnya menyebabkan inkontinensia urin. Persalinan menyebabkan kerusakan sistem pendukung uretra, kelemahan dasar panggul akibat melemah dan mereganggnya otot dan jaringan ikat selama proses persalinan, kerusakan akibat laserasi saat proses persalinan penyangga organ dasar panggul, dan peregangan jaringan dasar panggul selama proses persalinan melalui vagina yang dapat merusak saraf pudendus dan dasar panggul sesuai kerusakan otot dan jaringan ikat dasar panggul, serta dapat mengganggu kemampuan sfingter uretra untuk kontraksi dan respon peningkatan tekanan intraabdomen atau kontraksi detrusor. Jika kolagen rusak, maka origo maupun insersio otot menjadi kendur sehingga mengganggu kontraksi isometrik.Hal ini menyebabkan mekanisme fungsi yang tidak efisien dan hipermobilitas uretra.Pemakainan forseps selama persalinan dapat memicu inkontinensia urine. Tingginya usia, paritas, dan berat badan bayi tampaknya berhubungan dengan inkontinensia urine. e) Menopause

Sejumlah besar reseptor estrogen berafinitas tinggi telah diindentifikasi terdapat di m.pubokoksigeus, uretra, dan trigonum vesika. Interaksi estrogen dengan reseptornya akan menghasilkan proses anabolik. Akibatnya, bila terjadi penurunan estrogen terutama pada traktus urinarius, perempuan menopause akan mengalami perubahan struktur dan fungsi dari traktus urinarius. Estrogen dapat mempertahankan kontinensia dengan meningkatkan resistensi uretra, meningkatkan ambang sensoris kandung kemih, dan meningkatkan sensitivitas -adrenoreseptor pada otot polos uretra.Penurunan estrogen saat menopause menyebabkan penipisan dinding uretra sehingga penutupan uretra tidak baik.Defisiensi estrogen juga membuat otot kandung kemih melemah.Jika terjadi penipisan dinding uretra dan kelemahan otot kandung kemih, latihan fisik dapat menyebabkan terbukanya uretra tanpa disadari. f) Merokok Merokok telah diidentifikasi sebagai faktor risiko independen untuk terjadinya inkontinensia urin dalam beberapa penelitian, dengan efek terkuat terlihat pada inkontinensia urin tipe stres dan campuran pada perokok berat.Mekanisme

patofisiologinya mungkin disebabkan oleh efek langsung maupun tidak langsungpada uretra, dimana umumnya terjadi peningkatan tekanan kandung kemih akibat batuk, yang melampaui kemampuan uretra untuk menutup rapat pada perokok.

LATIHAN KEGEL Definisi senam kegel Senam Kegel adalah senam yang bertujuan untuk memperkuat otot-otot dasar panggul terutama otot pubococcygeal sehingga seorang wanita dapat memperkuat otot-otot saluran kemih (berguna saat proses persalinan agar tidak terjadi ngompol) dan otot-otot vagina (memuaskan suaminya saat berhubungan seksual). Nama senam ini diambil dari penemunya Arnold Kegel, seorang dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan di Los Angeles sekitar tahun 1950-an. Dokter Kegel seringkali melihat pasiennya yang sedang dalam proses persalinan sering tidak dapat menahan keluarnya air seni (ngompol). Timbullah inisiatifnya untuk menemukan exercise agar pasiennya tidak mengalami hal tersebut.

Manfaat dan tujuan senam kegel Dalam perkembangan selanjutnya, senam ini selain dilakukan oleh wanita juga dilakukan oleh para pria. Pada pria kerja otot ini lebih mudah diamati dari luar dibanding wanita. Hal ini dapat dilihat dengan gerakan penis naik-turun dalam keadaan ereksi. Pria yang terlatih akan mendapatkan orgasme yang lebih intens, dapat mencegah ejakulasi dini dan memperpendek waktu untuk siap melakukan hubungan seks ulang. Pada wanita kerja otot pubococcygeal dapat dirasakan berupa denyutan pada dinding vagina. Bila otot ini terlatih dan kuat , kontraksi otot vagina dapat dengan sengaja dilakukan saat berhubungan intim tanpa menunggu orgasme terlebih dahulu. Wanita dengan otot pubococcygeal terlatih lebih mudah mengalami perangsangan seksual (tidak frigid), lebih cepat basah untuk mengalami orgasme yang sering dan memuaskan bahkan dapat mencapai orgasme hanya dengan rangsangan pada G spot-nya. Senam kegel juga dapat digunakan untuk mencegah konstipasi pada kehamilan. Dengan melakukan senam kegel sirkulasi darah disekitar dubur dapat meningkat sehingga dapat mencegah wasir. Senam kegel diketahui bisa membantu perempuan yang mengalami inkontinensia urin (beser). Tujuan dsenam kegel adalah melatih kandung kemih untuk mengembalikan pola normal perkemihan dengan menghambat atau menstimulasi pegeluaran air kemih Langkah-langkah Senam Kegel a. Latihan I Instruksikan klien untuk berkonsentrasi pada otot panggul. Minta klien berupaya untuk menghentikan aliran urine selama berkemih dan kemudian

memulainya kembali. Apabila klien masih terpasang kateter, latihan dapat dilakukan dengan memberi klem pada selang urine bag sehingga urine tertahan pada kandung kemih, didiamkan beberapa lama, lalu dilepas jika kandung kemih sudah terasa penuh. Praktekan setiap kali berkemih.

Rasional: membantu klien untuk merasakan otot-otot anterior pada dasar panggul dan mengajarkan teknik pengontrolan.

b. -

Latihan II Minta klien mengambil posisi duduk atau berdiri. Instruksikan klien untuk mengencangkan otot-otot di sekitar anus.

Rasional: membantu klien merasakan otot-otot posterior pada dasar panggul. c. Latihan III Minta klien mengencangkan otot di bagian posterior dan kemudian kontraksikan otot

anterior secara perlahan sampai hitungan ke empat Kemudian minta klien merelaksasikan otot-otot secara keseluruhan. Ulangi latihan 4x/jam saat terbangun dari tidur selama 3 bulan.

Rasional: Meningkatkan pengontrolan otot panggul dan membantu relaksasi sfingter selama berkemih d. Latihan IV

Apabila memungkinkan, ajarkan klien melakukan sit-ups yang dimodifikasi (lutut ditekuk). Rasional: Menguatkan otot-otot abdomen untuk pengontrolan kandung kemih. Langkah tersebut juga dapat dilakukan seperti berikut : 1. Pemanasan.

Kendurkan otot-otol perut, bokong dan paha atas se-rilek mungkin. Untuk memastikan otot-otot tersebut rilek, letakkan kedua tangan di atas perut. Jika perut tidak ikut bergerak ketika otot-otot dasar panggul (PC) dikontraksi, berarti gerakan Anda benar. 2. Kontraksi.

Kontraksikan otot-otot PC Anda dengan menarik ke dalam dan keras sekitar vagina, anus dan saluran kencing (uretra) seperti menahan air seni. Tujuannya untuk menemukan letak otot PC. Untuk mudahnya dapat melakukan latihan berikut: Ketika Anda ingin buang air kecil, tahanlah

aliran air seni, lalu lepaskan kembali. Lakukan beberapa kali sehingga bisa merasakan benar letak otot PC lersebut. 3. Ulangan.

Setelah Anda mampu melakukan, mulailah berlatih sebanyak 10 kali ulangan. Setiap kali kontraksi, tahan selama tiga hitungan. Kemudian secara perlahan naikkan hitungan kontraksinya hingga Anda bisa menahan selama 10-15 hitungan, dengan istirahat selama 10 detik diantaranya. Jumlah optimum kira-kira 50-100 kali sepanjang hari, pagi, siang, sore dan malam. 4. Variasi.

Lakukan variasi untuk menghindari kebosanan dengan munggabungkan latihan otot-otot PC dengan latihan pengencangan otot-otot lain di sekitarnya, yaitu otot-otot perut, paha atas, dan otot bokong, dalam posisi berdiri, duduk atau berbaring. 5. Catatan.

Latihan Kegel dengan menahan air seni, disarankan hanya dilakukan pada saat awal berlatih. Gunanya untuk menemukan letak otot PC. Setelah itu sebaiknya jangan dilakukan lagi karena akan mengganggu pola kencing Anda. Sebaiknya berkonsultasi lebih dulu sebelum berlalih dan lakukan evaluasi dalam jangka waktu tertentu. Factor pendukung senam kegel Tindakan berikut dapat membantu klien yang menderita inkontinensia untuk memperoleh kembali kontrol berkemihnya dan merupakan bagian dari perawatan rehabilitatif serta restorasi. 1. 2. Mempelajari latihan untuk menguatkan dasar panggul. Memulai jadwal berkemih pada bangun tidur, setiap 2 jam sepanjang siang dan sore hari,

sebelum tidur, dan setiap 4 jam pada malam hari. 3. Menggunakan metode untuk mengawali berkemih (misalnya air mengalir dan menepuk

paha bagian dalam)

4.

Menggunakan metode untuk relaks guna membantu pengosongan kandung kemih secara

total (misalnya membaca dan menarik nafas dalam). 5. Jangan pernah mengabaikan keinginan untuk berkemih (hanya jika masalah klien

melibatkan pengeluaran urine yang jarang sehingga dapat mengakibatkan retensi). 6. 7. 8. Mengonsumsi cairan sekitar 30 menit sebelum jadwal waktu berkemih. Hindari teh, kopi, alkohol, dan minuman berkafein lainnya. Minum obat-obatan diuretic yang sudah diprogramkan atau cairan yang dapat

meningkatkan dieresis (seperti teh atau kopi) dini pada pagi hari. 9. 10. Semakin memanjangkan atau memendekkan periode antar berkemih. Menawarkan pakaian dalam pelindung untuk menampung urine dan mengurangi rasa

malu klien (bukan popok). 11. 12. Mengikuti program pengontrolan berat tubuh apabila masalahnya adalah obesitas. Memberikan umpan balik positif saat tercapai pengontrolan berkemih.

Pedoman ini dapat membantu klien untuk mendapatkan pola berkemih rutin dan mengontrol factor-faktor yang mungkin meningkatkan jumlah episode inkontinensia. DAFTAR PUSTAKA Soetojo. INKONTINENSIA URINE PERLU PENANGANAN MULTI DISIPLIN http://soetojo.blog.unair.ac.id/2009/03/13/inkontinensia-urine-perlu-penanganan-multidisiplin/ (akses, 7 maret 2012) Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik;. Volume 2. Jakarta : EGC Smeltzer, C. Suzanne. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 Volume 2. Jakarta: EGC

Rejeki

Herdiana,

dr.

Tri.

2009.

Berbagai

Kegunaan

Senam

Kegel.

http://kesehatan.liputan6.com/tips/200905/229796/Berbagai.Kegunaan.Senam.Kegel. (Diakses pada: 7 Maret 2012)