Anda di halaman 1dari 9

ETNIS CINA DI JAWA

(Prasangka sebagai Pemicu Konflik dan Diskriminasi Etnis Cina di Jawa)

Di antara beberapa konflik antar suku di Asia Tenggara yang banyak ditemukan dalam sejarah masa kini dan sebelumnya adalah konflik antara suku Cina dan bukan Cina. 1 Demikian juga di Indonesia, konflik antara penduduk asli dan orang Cina adalah konflik yang paling sering terjadi. Konflik ini pun sering terjadi akibat adanya stereotype tertentu dari penduduk pribumi terhadap etnis Cina. Dari beberapa peristiwa konflik etnis tersebut memang tidak menunjukkan secara spesifik adanya dominasi etnik tertentu, akan tetapi jika dilihat dari lokasi kejadiannya lebih banyak berada di Jawa sehingga ada kemungkinan keterlibatan etnis Jawa dalam setiap kerusuhan tersebut. Salah satu contoh konkrit ialah apa yang terjadi dalam tragedi Mei 1998, Selama kerusuhan di Jakarta dan Solo, antara tanggal 13 dan 14 Mei 1998, sejumlah perusahaan dan kekayaan warga Cina dijarah dan dibakar, dan perempuan Cina dalam jumlah yang tidak diketahui diperkosa dan dibunuh. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Dan kenapa korbanya harus etnis Cina? Inilah pertanyaan pokok yang kiranya menjadi inti pembicaraan dalam karya tulis ini.

1. Sejarah Etnis Cina di Jawa Sejarah mencatat, kontak antara etnis Cina dengan kawasan Asia Tenggara telah berlangsung sejak zaman Dinasti Han (abad ke-2 Masehi), atau bahkan pada periode waktu sebelum itu. Namun imigrasi etnis Cina secara masal baru berlangsung pada pertengahan abad ke-19, dimana kekuatan Barat mengalahkan Dinasti Ching di Cina daratan. Sebelum pertengahan abad ke-19, etnis Cina yang datang ke kawasan Asia Tenggara berjumlah terbatas. Imigrasi dalam skala massal belum berlangsung pada periode ini. Imigrasi secara masal baru berlangsung setelah pertengahan abad ke-19. Faktor pendorong yang membuat etnis Cina berimigrasi dari negaranya adalah situasi Cina daratan yang sedang mengalami gejolak. Kombinasi dari keadaan Cina yang buruk serta adanya peluang ekonomi di kawasan Asia Tenggara, membuat etnis Cina berbondong-bondong berimigrasi ke kawasan Asia Tenggara. 2

Bdk., Leo Suryadinata, Aksi Anti Cina di Asia Tenggara : Upaya Mencari Penyebab dan Pemecahan , dalam Dewi Fortuna Anwar, dkk. (Eds.), Konflik Kekerasan Internal : Tinjauan Seja rah, Ekono mi-Politik, dan Kebijakan di Asia Pasifik, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2005, hlm. 80-81. 2 Bdk., Leo Suryadinata, Understanding the Ethnic Chinese in Southeast Asia, Singapore: ISEAS Publishing, 2007, hlm. 50-51.

Di Indonesia, sejak masa sebelum penjajah Belanda datang, telah ada populasi etnis Cina yang tinggal menetap. Catatan sejarah menunjukkan bahwa komunitas Cina Muslim telah ada pada abad ke-15 dan abad ke-16 di sepanjang daerah pantai utara Pulau Jawa. Berkaitan dengan komunitas tersebut adalah adanya kunjungan dari Laksamana Cheng Ho ke Pulau Jawa. Laksamana Cheng Ho adalah seorang Muslim dan dilaporkan mengunjungi Pulau Jawa selama beberapa kali di antara tahun 1405 dan 1433. Sumber-sumber sejarah Belanda menyatakan bahwa pemukiman penduduk Cina yang paling awal di Indonesia diketahui berada di Pulau Jawa, terutama di sepanjang pantai utara. 3 Sebelum Belanda berpengaruh di Indonesia, kebanyakan pendatang Cina dapat hidup berdampingan dengan damai dengan kalangan penduduk pribumi. Hal ini dibuktikan ada banyak imigran Cina yang menikah dengan wanita lokal. Pernikahan campuran ini menghasilkan keturunan Cina campuran, yang dikenal dengan nama kaum Peranakan. Pendatang Cina pada periode ini banyak yang kemudian tinggal menetap dan membentuk komunitas di tempat mereka tinggal. Namun kedatangan Belanda dan penguasaannya akan tanah Jawa membuat semuanya berubah. Ketika berkuasa, penjajah Belanda mempengaruhi dinamika relasi etnis dengan cara melakukan pembagian penduduk ke dalam tiga kelompok berdasarkan pada pasal 163 IS/1854 Indische Staatsregeling. 4 Pembagian tersebut adalah sebagai berikut: 1. Golongan Eropa, yang menempati posisi teratas, 2. Golongan Timur Asing, yang menempati posisi tengah, termasuk kedalam golongan ini adalah orang-orang etnis Cina, India dan Arab, 3. Golongan Pribumi, yang menempati posisi paling bawah dari stratifikasi masyarakat. Kebijakan Belanda ini sangat mempengaruhi dinamika masyarakat pada saat itu. Masyarakat pribumi menjadi terpinggirkan oleh kebijakan ini. Berbagai komoditas hasil bumi Nusantara yang diperdagangkan oleh Belanda melalui VOC tidak bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat pribumi karena semata- mata digunakan untuk kepentingan Belanda saja. Secara tidak langsung, sistem stratifikasi masyarakat buatan Belanda ini membuat posisi etnis Cina yang berada di tengah dan berperan sebagai penghubung perdagangan antara masyarakat pribumi sebagai produsen dengan pihak Belanda sebagai pembeli. Peranan masyarakat pribumi tereduksi tidak lebih dari hanya sekedar buruh yang menghasilkan berbagai komoditas, sedangkan kegiatan perdagangan dipegang oleh etnis
3 4

Bdk., M. G. Tan, Etnis Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008, hlm. 3-4. Bdk., Discrimination Against Ethnic Chinese in Indonesia dalam Focus Asia-Pacific Maret 2009, hlm. 2-3.

Cina. Keterlibatan etnis Cina dalam kegiatan perekonomian menjadi besar dan hal ini memungkinkan mereka untuk menjadi lebih mapan secara ekonomi, sedangkan penduduk pribumi tetap hidup dengan keterbatasan dan miskin. Di sinlah muncul stereotype bahwa masyarakat pribumi menjadi lebih rendah daripada etnis Cina yang merupakan pendatang. 5 Kebijakan pemerintah Belanda lainnya yang berpengaruh pada relasi etnis di Hindia Belanda adalah aturan wijkenstelsel dan passenstelsel. Di bawah peraturan wijkenstelsel, etnis Cina tidak dibolehkan bermukin di sembarang tempat. Orang Cina ditempatkan di sebuah pemukiman khusus orang Cina dan pemukiman orang Cina ini biasanya disebut dengan nama pecinan. Sedangkan kebijakan jalan surat atau wijkenstelsel membuat orang Cina harus selalu membawa surat jalan ketika mengadakan perjalanan atau keluar dari kawasan tempat tinggal. Di bawah peraturan-peraturan ini pihak Belanda mencoba membatasi interaksi antara kaum pribumi dan etnis Cina. Dibatasinya interaksi ini dapat memicu proses timbulnya stereotype dari masing- masing etnis karena terbatasnya interaksi. 6

2. Konflik - Konflik antara Etnis Jawa dan Cina Dalam pembahasan di atas, diuraikan beberapa kebijakan kaum kolonial di Indonesia yang membuat timbulnya jurang ekonomi di antara kaum pribumi dan etnis Cina. Pemisahan dalam pergaulan di antara pribumi dan etnis Cina yang dilakukan oleh pihak kolonial juga membuat pergaulan antara etnis Cina dan pribumi menjadi terbatas, sehingga memberikan ruang bagi timbulnya stereotype-stereotype negatif di antara kedua kelompok. Keadaan seperti ini sangatlah berpotensi dalam timbulnya konflik di antara penduduk pribumi dan etnis Cina. Berikut ini akan kita lihat beberapa konflik antara etnis jawa dan Cina yang telah terjadi di Indonesia, khususnya di Jawa. Di Indonesia konflik antara penduduk asli dan orang Cina adalah konflik yang paling sering terjadi. Meskipun ada fakta, bahwa daftar panjang konflik yang terjadi pada jaman kolonial adalah konflik antara Cina dengan penguasa India Timur Belanda, sedangkan konflik antara orang Cina dengan penduduk asli jarang terjadi. Namun, keadaan ini berubah setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Belanda ingin mengembalikan kekuasaan kolonial ke Indonesia, sementara orang Indonesia bersikeras untuk mewujudkan

kemerdekaan. Krisis kekuasaan berakhir dengan kekacauan, dan banyak orang Cina yang kehilangan harta benda dan nyawa. Perkosaan perempuan Cina oleh sejumlah pejuang revolusi yang tidak bertanggung jawab juga terjadi. Warga Cina dibiarkan se ndiri untuk
5 6

Bdk., M.G. Tan, Op.Cit, hlm. 116-120. Bdk., Ibid .

membela diri, yang kemudian membentuk Bao An Dui, yakni sebuah kelompok keamanan yang konon mendapat persenjataan dari Belanda. Peristiwa ini memperburuk hubungan antara warga Cina dan Nasionalis Indonesia. 7 Hubungan yang buruk ini juga terjadi pada tahun 1950-an, akibat kebijakan pemerintah Soekarno tentang pembatasan kekuatan ekonomi warga Cina, melalui apa yang dinamakan sistem benteng, yaitu mendahulukan orang Indonesia asli daripada orang Cina dalam pemberian lisensi impor. Upaya serupa untuk mengurangi kekuatan ekonomi warga Cina juga dilakukan melalui peraturan Dekrit Presiden No.10 tahun 1959 yang melarang orang asing melakukan kegiatan dagang eceran di pedesaan. Larangan itu terbatas pada orang Cina asing, tetapi karena persoalan kewarganegaraan yang belum terpecahkan, maka masih banyak orang Cina yang dikategorikan sebagai warga asing. Akibatnya, hampir seluruh warga Cina di pedesaan kena dampaknya. Pedagang eceran Cina dipaksa menutup sejumlah toko dan kegiatan usaha. Ketika sejumlah warga Cina di Jawa Barat menolak mematuhi larangan itu, militer campur tangan untuk melaksanakan peraturan itu, dengan akibat timbul konflik yang mengakibatkan sejumlah orang Cina kehilangan nyawa dan terdapat lebih dari 100.000 warga Cina meninggalkan Indonesia, yang sebagian besar pergi ke Cina. 8 Tidak berhenti sampai di situ, ternyata beberapa kerusuhan anti Cina terus terjadi di negeri ini. Pertama, pernah terjadi Geger Pecinan di Kudus, yang mengakibatkan lebih dari 5000 etnis Cina mengungsi ke Semarang. Kedua, pada awal tahun 1980-an, ketika muncul isu ada seorang warga keturunan Cina melakukan penganiayaan terhadap warga pribumi di Solo, yang kemudian menyulut kerusuhan anti Cina di beberapa kota di Jawa Tengah, yang mengakibatkan korban jiwa dan harta yang tidak sedikit. Ketiga, terjadi pada tahun 1980-an, ketika muncul isu ada seorang warga Cina yang merobek al-Quran di Pekalongan, yang kemudian juga menyulut kerusuhan yang bermuara pada sentimen anti Cina. Keempat, pada 30 Januari 1997 terjadi kerusuhan anti Cina di Rengasdenglok. Sebagai pemicunya adalah terjadinya insiden kecil antara seorang etnis Cina dengan pemuda yang memukul bedug

Bdk., Paulus Haryono, Menggali Latar Belakang Stereotip dan Persoalan Etnis Cina di Ja wa , Semarang : Mutiara Wacana, 2006, hlm. 65. 8 Bdk., Leo Suryadinata, Aksi Anti Cina di Asia Tenggara : Upaya Mencari Penyebab dan Pemecahan, Op. Cit, hlm. 81.

untuk membangunkan sahur di bulan ramadhan. Bentuk kerusuhannya adalah perusakan rumah dan fasilitas milik Cina, juga fasilitas umum dan gereja. 9 Kerusuhan anti Cina yang paling besar dan dramatis terjadi pada Mei 1998 sebelum Presiden Soeharto jatuh. Kerusuhan tidak saja terjadi di Jakarta, tetapi juga di kota-kota lain, tetapi kerusuhan di Jakarta dan Solo mendapat perhatian besar. Selama kerusuhan di Jakarta dan Solo, antara tanggal 13 dan 14 Mei, sejumlah perusahaan dan kekayaan warga Cina dijarah dan dibakar, dan perempuan Cina dalam jumlah yang tidak diketahui diperkosa dan dibunuh. Seperti dalam kaitan dengan konflik-konflik yang lain yang terjadi di Indonesia, kecaman ditujukan pada kekuatan keamanan, polisi dan militer, yang tidak melakukan intervensi dengan segera dan efektif untuk menghentikan kekerasan. Bahkan laporan Tim Gabungan Pencari Fakta tanggal 23 Oktober 1998 mengatakan bahwa serangan-serangan menunjukkan pola-pola yang dapat teridentifikasi, yang berimplikasi pada salah satu segmen militer. Laporan itu mengisyaratkan bahwa tujuan kerusuhan adalah menciptakan kekacauan yang dapat menguntungkan kepentingan pihak-pihak tertentu, Bahkan dapat dikatakan bahwa tujuan sebenarnya adalah meneror warga Cina agar mereka meninggalkan Indonesia, agar kedudukan ekonomi yang mereka tinggalkan dapat diisi oleh penduduk asli. 10 Demikianlah serentetan kisah tragis etnis Cina di tanah Jawa yang seringkali mengalami penindasan dari pihak mayoritas. Keberadaan etnis Cina sebagai etnis minoritas kurang menguntungkan dalam konteks relasi minoritas mayoritas. Etnis minoritas selalu menjadi sasaran prasangka dan diskriminasi dari kalangan mayoritas.

3. Prasangka, Diskriminasi, dan Konflik antar Etnik Definisi tentang prasangka pertama kali diperkenalkan oleh Gordon Allport, psikolog dari Universitas Harvard, dalam bukunya The Nature of Prejudice in 1954. Istilah itu berasal dari kata praejudicium, yang berarti: pernyataan atau kesimpulan tentang sesuatu berdasarkan perasaan atau pengalaman yang dangkal terhadap seseorang atau sekelompok orang tertentu. Allport juga mengemukakan bahwa Prasangka adalah antipati berdasarkan generalisasi yang salah atau generalisasi yang tidak luwes. 11

Lih., Abdul Djamil, Gerakan Dakwah Islam Etnis Cina di Indonesia dalam Perp ektif Seja rah (makalah), disampaikan dalam Seminar Gerakan Dakwah Islam Etnis Tionghoa di Indonesia, Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, Semarang, 09 Pebruari 1999. 10 Bdk., http://id.wikipedia.org/wiki/Kerusuhan-Mei-1998, diakses tanggal 28 Oktober 2011. 11 Bdk., Alo Liliweri, Prasangka dan Konflik : Komunikasi Lintas Budaya Masya rakat Multikultu r, Yogyakarta : LKIS, 2005, hlm. 246.

Prasangka antar etnik, meski didasarkan pada generalisasi yang keliru pada perasaan, tetapi munculnya prasangka disebabkan oleh hal tertentu, Pertama, Orang berprasangka dalam rangka mencari kambing hitam. Kedua, Orang berprasangka, karena memang ia

sudah dipersiapkan di dalam lingkungannya atau kelompoknya untuk berprasangka. Bentuk prasangka dapat terwujud dalam: pertama, stereotip, yaitu pemberian sifat tertentu terhadap seseorang berdasarkan kategori yang bersifat subyektif. Kedua, Jarak sosial, yaitu perasaan untuk memisahkan seseorang atau kelompok tertentu berdasarkan pada tingkat penerimaan, seperti: ketidaksediaan untuk menikah dengan etnik lain, ketidakmauan menerima sebagai rekan sejabatan, dan bahkan ketidakmauan menerima sebagai warga negaranya. 12 Kalau prasangka masih meliputi sikap, keyakinan, atau predisposisi untuk bertindak, maka diskriminasi mengarah kepada tindakan nyata. Tindakan diskriminasi biasanya dilakukan oleh mereka yang memiliki sikap prasangka kuat akibat tekanan tertentu, misalnya tekanan budaya, adat istiadat, kebiasaan, dan hukum. Ada dua bentuk diskriminasi, yaitu diskriminasi langsung dan tidak langsung. Diskriminasi langsung adalah tindakan yang membatasi wilayah tertentu untuk etnik lain, seperti pemukiman, jenis pekerjaan, fasilitas umum, dan semacamnya. Sedangkan yang diskriminasi tidak langsung adalah dilaksanakan melalui penciptaan peraturan yang menghalangi etnik tertentu. Tindakan diskr iminasi yang langsung maupun tidak langsung kepada etnik tertentu dapat berwujud kebijakan tertulis atau tidak tertulis, yang memisahkan aktifitas antaretnik dalam institusi perkawinan dan keluarga, institusi pendidikan, institusi politik atau pemerintahan, misalnya memisahkan atau mencegah etnik tertentu untuk tidak berpolitik atau aktif di birokrat, institusi ekonomi, misalnya memisahkan ijin membangun perusahaan dan perdagangan, institusi religius, misalnya memisahkan tempat ibadah berdasarkan etnik. 13 Konflik adalah bentuk pertentangan alamiah yang dihasilkan oleh individu atau kelompok, karena mereka yang terlibat memiliki perbedaan sikap, kepercayaan, nilai dan kebutuhan. Dalam setiap konflik terdapat beberapa unsur, yaitu: Ada dua pihak atau lebih yang terlibat. Jadi ada interaksi di antara mereka. Ada tujuan yang dijadikan sasaran konflik. Tujuan itulah yang menjadi sumber konflik. Ada beberapa pikiran, perasaan, tindakan di antara pihak yang terlibat untuk mendapatkan atau mencapai tujuan. Ada situasi konflik

12 13

Bdk., Ibid , hlm. 246-249. Bdk., M.Alfandi, Sikap, Prasangka, dan Diskriminasi : Potensi Konflik Anta ra Etnik Ja wa dan Cina (Tionghoa), Semarang: Penelitian PUSLIT IAIN Walisongo, 2007, hlm 38.

antara dua pihak yang bertentangan. Ini meliputi situasi antar pribadi, antar kelompok, dan antar organisasi. 14

4. Melihat Potensi Konflik antara Etnis Cina dan Jawa Jika melihat kembali sejarah adanya etnik Cina di Indonesia, maka dapat disimpulkan bahwa konflik antara etnik jawa dan Cina terjadi akibat adanya politik yang diterapkan oleh pemerintah kolonial untuk mengadu domba kedua etnik tersebut. Kebijakan politik tersebut telah membuat timbulnya berbagai macam prasangka antara kedua etnis tersebut yang akhirnya berujung pada diskriminasi dan konflik antar-etnik. Bukan hanya karena faktor bentukan kolonial saja, namun Potensi konflik antara orang Jawa dan Cina sebenarnya bisa muncul dari beberapa sumber, seperti : Pertama, nilai, kepercayaan, keyakinan, dan ideologi orang Jawa banyak yang berbeda dengan orang Cina; orang Jawa mayoritas pemeluk agama Islam, sedangkan orang Cina mayoritas pemeluk Kristen, Katolik dan Konghucu. Kedua, perbedaan keuntungan; mayoritas orang Cina mampu secara ekonomis, sementara orang Jawa secara ekonomis lebih rendah dibandingkan dengan orang Cina. Ketiga, komunikasi orang Jawa dan Cina juga masih kurang intensif; karena masing- masing pihak masih merasa ada jarak sosial di antara keduanya. Keempat, diperparah lagi oleh adanya kebijakan pemerintah yang memihak ke kelompok orang Jawa. Hal ini terlihat dari beberapa kebijakan pemerintah yang mengurangi ruang gerak orang Cina dalam berbagai lini kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial dan budaya. Oleh karena itu dengan melihat beberapa potensi konflik antara Jawa dan Cina tersebut, juga dapat diibaratkan seperti gunung berapi, yang setiap saat akan meletus dengan dahsyatnya. Maka perlu ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan mengingat situasi demikian, yakni: Intensitas kegiatan dialog budaya dan keagamaan antara etnis Jawa dan Cina perlu ditingkatkan, sehingga sikap negatif dan prasangka sosial tidak akan berkembang terus di antara keduanya. Dengan dialog diharapkan masing- masing pihak akan tahu, siapa saya, siapa kamu, dan siapa mereka, dan dengan demikian akan mengetahui dan memahami posisi masing- masing tanpa adanya konflik di antara keduanya. Untuk mengurangi kesenjangan ekonomi di antara orang Jawa dan orang Cina yang begitu tinggi, maka diperlukan kerjasama ekonomi di antara keduanya. Orang Cina yang secara ekonomi lebih kuat harus memberikan kesempatan dan akses kepada orang Jawa untuk
14

Bdk., Alo Liliweri, Op.Cit, hlm. 250.

mengembangkan ekonominya di dalam dunia bisnis. Demikian juga orang Jawa harus mau bekerja keras untuk mengembangkan kekuatan ekonominya. Pemerintah sebagai pihak yang mempunyai wewenang untuk membuat kebijakan, harus membuat kebijakan yang pro terhadap semua rakyat, tanpa adanya diskriminasi terhadap kelompok tertentu, termasuk kelompok Jawa dan Cina. Masalah yang dialami warga Cina memang kompleks, meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Sebagai sesama warga bangsa tentu diperlukan sikap saling membantu agar tercapai solusi yang terbaik. Sebab belum tentu warga Cina yang bermasalah. Mindset warga mayoritas yang terlanjur negatif makin membuat mereka selalu serba salah dalam menempatkan diri. Kedua etnis mengemban dosa sosial yang harus dicari titik temu, agar hubungan kemanusiaan yang egaliter dapat terwujud. Bhinneka Tunggal Ika selalu mengingatkan Indonesia untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam perbedaan. Semboyan itu mengingatkan kita untuk menghayati dan melaksanakan kehidupan bersama secara berdampingan dengan damai dalam masyarakat yang berbeda suku bangsa, ras, agama, dan golongan. Namun mewujudkannya tidak semudah membalikan telapak tangan.

DAFTAR PUSTAKA
Alfandi, M. Sikap, Prasangka, dan Diskriminasi: Potensi Konflik Antara Etnik Jawa dan Cina (Tionghoa). Semarang: Penelitian PUSLIT IAIN Walisongo. 2007. Djamil, Abdul. Gerakan Dakwah Islam Etnis Cina di Indonesia dalam Perpektif Sejarah (makalah) disampaikan dalam Seminar Gerakan Dakwah Islam Etnis Tionghoa di Indonesia. Fakultas Dakwah IAIN Walisongo. Semarang, 09 Pebruari 1999. Haryono, Paulus. Menggali Latar Belakang Stereotip dan Persoalan Etnis Cina di Jawa. Semarang : Mutiara Wacana. 2006. Liliweri, Alo. Prasangka dan Konflik : Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta : LKIS. 2005. Suryadinata, Leo. Aksi Anti Cina di Asia Tenggara : Upaya Mencari Penyebab dan Pemecahan dalam Dewi Fortuna Anwar, dkk. (Eds.), Konflik Kekerasan Internal: Tinjauan Sejarah, Ekonomi-Politik, dan Kebijakan di Asia Pasifik. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. 2005. Suryadinata, Leo. Understanding the Ethnic Chinese in Southeast Asia. Singapore: ISEAS Publishing. 2007. Tan, M. G. Etnis Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2008. Discrimination Against Ethnic Chinese in Indonesia dalam Focus Asia-Pacific Maret 2009. http://id.wikipedia.org/wiki/Kerusuhan-Mei-1998 diakses tanggal 28 Oktober 2011.

Anda mungkin juga menyukai