Anda di halaman 1dari 60

Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Diterbitkan oleh: Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan

Lingkungan Penasihat/Pelindung: Direktur Jenderal Cipta Karya DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM Penanggung Jawab: Direktur Permukiman dan Perumahan, BAPPENAS Direktur Penyehatan Air dan Sanitasi, DEPKES Direktur Perkotaan dan Perdesaan Wilayah Timur, Dep. Pekerjaan Umum Direktur Bina Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna, DEPDAGRI Direktur Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup, DEPDAGRI Pemimpin Redaksi: Oswar Mungkasa Dewan Redaksi: Ismail, Johan Susmono, Indar Parawansa, Bambang Purwanto Redaktur Pelaksana: Maraita Listyasari, Rewang Budiyana, Rheidda Pramudhy, Joko Wartono, Essy Asiah, Mujiyanto Desain/Ilustrasi: Rudi Kosasih Produksi: Machrudin Sirkulasi/Distribusi: Meiza Aprizya,Agus Syuhada, Metzy S.Oc Alamat Redaksi: Jl. Cianjur No. 4 Menteng, Jakarta Pusat. Telp. (021) 31904113 http://www.ampl.or.id e-mail: redaksipercik@yahoo.com redaksi@ampl.or.id oswar@bappenas.go.id
Redaksi menerima kiriman tulisan/artikel dari luar. Isi berkaitan dengan air minum dan penyehatan lingkungan dan belum pernah dipublikasikan. Panjang naskah tak dibatasi. Sertakan identitas diri. Redaksi berhak mengeditnya. Silahkan kirim ke alamat di atas. cover : RUDI KOSASIH

Dari Redaksi Suara Anda Laporan Utama Kredit Mikro Sanitasi Bagi Si Kecil Pembelajaran Kredit Mikro Mancanegara Pengalaman Kredit Jamban Keluarga di Yogyakarta Wawasan Jamban Sehat Posyandu Kuat Penanganan Sampah Melalui Eco-Cycle Society Partisipasi Masyarakat dalam Mendukung Proyek Penyediaan Sarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Permukiman Kebersihan adalah Investasi Penyediaan Air Bersih: Tantangan Kini dan Akan Datang Implementasi Konsep Capacity Building dalam Perusahaan Daerah Air Minum Banjir dan Longsor di Musim Hujan Kekeringan di Musim Kemarau Teropong Sekali Coba, Langsung Hasilnya Gotong Royong Bangun Jamban Maunya WC Closet Saja Membangun Jamban Sederhana Reportase Ketika Kaum Elit Mulai Melek Lingkungan Wawancara Pemberdayaan Masyarakat Lewat Posyandu Info Situs Info Buku Info CD Seputar AMPL Seputar WASPOLA Pustaka AMPL Klinik IATPI Agenda

1 2 3 9 11 12 14 15 18 20 22 25 28 29 30 31 32 34 37 38 39 40 46 54 55 56

DARI REDAKSI
embaca, ada kabar gembira dari meja redaksi Percik. Makin hari kepedulian para pemangku kepentingan terhadap majalah ini makin meningkat. Ini bisa dilihat dari animo masyarakat untuk memperoleh Percik. Kiriman surat dan email selalu kami terima. Isinya, mereka ingin mendapatkan majalah yang terbit pertama kali pada tahun 2003 ini. Jangan heran bila rubrik Suara Anda berisi seputar permintaan Percik. Selain itu, beberapa pembaca menyatakan menjadikan isi majalah ini sebagai referensi. Mereka mengaku terus menunggu kapan Percik terbit. Kenyataan ini tentu menyenangkan kami yang ada di dapur redaksi. Ini berarti tekad kami untuk menjadikan majalah ini sebagai referensi bidang air minum dan penyehatan lingkungan, semoga tercapai. Pembaca, tahun ini adalah tahun ekonomi mikro. Edisi ini Percik hadir dengan laporan utama mengenai pembiayaan mikro (microfinance) khusus bidang sanitasi, lebih khusus lagi untuk pembangunan jamban/WC. Kami menganggap ini penting karena selama ini pembiayaan mikro tampaknya kurang diarahkan ke sana. Padahal sektor sanitasi tak bisa diabaikan begitu saja karena menyangkut kesehatan kita sehari-hari. Secara fakta, banyak penduduk Indonesia yang tidak memiliki jamban/WC. Mereka membuang hajat di sembarang tempat. Ada yang di sungai, kebun, dan sawah. Hanya saja memang saat ini belum ada bentuk baku model pembiayaan mikro bagi mereka. Kami berharap tulisan ini menjadi wacana dan akhirnya memacu para pemangku kepentingan untuk memperhatikan mereka yang tidak memiliki jamban serta mengucurkan sedikit dana bagi mereka. Untuk beberapa kalangan, pembangunan jamban sebenarnya tak terkendala dana tapi hanya faktor kemauan dan kepahaman. Ini terbukti pada uji coba Community-Led Total Sanitation (CLTS)

FOTO:ISMU

Wartawan Percik Mujiyanto dan Andre K (pertama dan kedua dari kiri) bersama sanitarian dan para penggerak CLTS di Desa Kertowono, Lumajang, Jawa Timur.

di Kabupaten Lumajang yang kami tampilkan dalam rubrik Teropong. Awalnya orang sangat pesimis dengan cara ini. Pertanyaan yang sering menggelitik mereka adalah apakah mungkin menggerakkan masyarakat tanpa ada intervensi pendanaan sama sekali? Hasilnya di luar dugaan. Dalam waktu singkat warga dusun memiliki jamban tanpa ada bantuan dana sepeser pun. Yang diperlukan cuma pemicuan (trigger). Tentu ada kiat untuk mengubahnya dan itu bisa dipelajari dan diterapkan sesuai dengan kondisi masingmasing daerah. Pembaca, rubrik Wawancara pada edisi ini agar berbeda dengan sebelumnya. Biasanya selalu tampil 'orang pusat' dan topiknya terkait isi laporan utama. Kali ini kami tampilkan 'orang daerah' yang akan berbicara soal daerah. Ada berbagai pengalaman menarik yang bisa dijadikan pelajaran oleh

pusat maupun daerah lainnya. Misalnya daerah ini memiliki program Lumajang Sehat 2007 melalui Gerbang Mas. Untuk mencapai itu, Posyandu menjadi pusat kegiatan, tidak hanya dalam pelayanan tapi pemberdayaan masyarakat secara umum. Kami juga menampilkan reportase sekelompok masyarakat yang peduli dengan lingkungan. Mereka bukan kalangan menengah ke bawah tapi justru kalangan atas yang bermukim di Jakarta. Upaya mereka tentu sangat menarik untuk diamati. Pembaca, apa yang kami sajikan tentu belum sempurna. Kritik dan masukan senantiasa kami nantikan. Apalagi sejak semula kami telah bertekad menjadikan majalah ini sebagai media tukar informasi antarpemangku kepentingan sektor air minum dan penyehatan lingkungan. Umpan balik Anda selalu kami tunggu. Selamat membaca.

Percik Juli 2005

S UARA ANDA
Berlangganan
Saya sangat tertarik pada isi majalah Percik (Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan). Saya berharap dapat berlangganan majalah tersebut guna peningkatan pengetahuan dan informasi yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. Selain itu saya berharap dapat memperoleh CD Interaktif AMPL. Bagaimana saya bisa berlangganan mengingat saya berada di luar Jakarta? Dan bolehkah saya mengirimkan makalah atau redaksi yang berkaitan dengan permasalahan lingkungan di daerah saya, Kabupaten Batang?
Ir. Wisnu Suryotomo Pemerhati Lingkungan Hidup Jl. Ahmad Yani Gang 28 (Tengger) No. 41 Kauman Kabupaten Batang, Jawa Tengah

sasi masalah air minum dan penyehatan lingkungan pada berbagai pihak. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, kami membutuhkan informasi dimaksud dan kami mohon kesediaan Pokja AMPL untuk mengirimkan rangkuman informasi dalam bentuk newsletter, CD, kliping sekaligus juga mengharapkan terbitan majalah setiap edisinya. Kami sangat mendukung atas gagasan dan ide saudara di dalam penyebarluasan informasi tentang air minum dan penyehatan lingkungan melalui media majalah, dan kami harapkan kerja samanya di masa mendatang.
Ir. H. Isrin Agoes Kepala Bappedalda Propinsi Sumatera Barat

Kami akan membantu Anda sejauh apa yang Anda harapkan tersedia pada kami. Namun demikian, kami akan membantu menginformasikan kepada instansi terkait untuk membantu. (Redaksi)

Minta Percik
Saya mahasiswa semester 8 di IPB. Saya tertarik membaca majalah Percik karena informasinya. Mohon kiranya saya bisa mendapatkan majalah tersebut. Saya mendapat informasi dari internet, bahwa majalah tersebut gratis. Kalaupun tidak dapat secara hard copy, mohon kiranya saya bisa mendapatkan soft copynya. Semoga Percik semakin jaya dan diterima masyarakat.
Slamet Purwanto Jln. Raya Darmaga Gg Bara I No.184B, Kelurahan Babakan RT 01/03 Darmaga, Bogor Barat 16680

Majalah Percik diedarkan secara cuma-cuma. Anda tinggal mengajukan permohonan berlangganan ke kantor redaksi. Insyaallah kami akan mengirimkan Percik ke alamat Anda. Sedangkan mengenai makalah/artikel, Percik terbuka bagi siapa saja asalkan tema tulisan masih seputar air minum dan penyehatan lingkungan. Kami tunggu artikel Anda. (Redaksi)

Kami telah mengirimkan apa yang Anda butuhkan. Terima kasih atas perhatian dan dukungannya. (Redaksi)

Percik akan segera kami kirimkan ke tempat Anda. (Redaksi)

Bantuan Referensi
Saya saat ini diberi amanah menjabat sebagai ketua Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat. Untuk pengembangan perpustakaan jurusan, kami membutuhkan banyak referensi-referensi, terutama yang berkaitan dengan peraturan-peraturan, petunjuk teknis, jurnal, standar-standar dan sebagainya, di bidang teknik lingkungan (air bersih, air buangan, buangan padat, sanitasi lingkungan, pengelolaan udara, dan kesehatan lingkungan). Bisakah Pokja AMPL membantu merealisasikannya? Insya Allah referensi-referensi tersebut sangat berguna bagi mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya.
Denny Helard, MT. Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas Kampus Limau Manis, Padang-25163

Koleksi Percik
Kami memperoleh Percik pada saat Seminar TTG Pengolahan Limbah Cair di Yogyakarta (24-25 Agustus 2004) dan Dialog Nasional Persampahan di Jakarta (4 Juni 2005). Isinya ternyata sangat-sangat membantu kami dalam menjalankan tugastugas dinas. Untuk itu kami berharap bisa memperoleh semua terbitan Percik dari edisi awal hingga sekarang. Saya baru mengoleksi tujuh edisi yakni Agustus 2003, Oktober 2003, Februari 2004, Juni 2004, Agustus 2004, Oktober 2004, dan Desember 2004. Berapa kontribusi saya?
Roesmani, ST Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Permukiman Dinas KIMTARU Propinsi Jawa Tengah

Butuh Produk Pokja


Setelah membaca Percik edisi Agustus 2004, kami menilai pentingya informasi mengenai air minum dan penyehatan lingkungan yang merupakan kebutuhan dasar bagi pengelolaan lingkungan hidup. Informasi tersebut sangat dibutuhkan sebagai bahan referensi, pengembangan wawasan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang lingkungan hidup. Dokumentasi dan rangkuman berbagai informasi dan berita-berita penting dalam bentuk newsletter, CD dan Kliping yang dilakukan Pokja AMPL merupakan salah satu alat yang efektif untuk sosiali-

Anda telah memiliki semua terbitan Percik, kecuali yang terbit tahun 2005. Kami segera mengirimkannya secara cuma-cuma. (Redaksi)

Percik Juli 2005

L APORAN UTAMA

Kredit Mikro Sanitasi

Bagi Si Kecil

KARIKATUR: WWW.RUDIKOZ.COM

Warga Umbulmartani boleh sedikit lega. Kebiasaan buang air besar (BAB) di sungai-biasa disebut WC panjang-dan di kebun kosong mulai berkurang drastis. Ini karena warga mulai memiliki jamban keluarga kendati sangat sederhana awal tahun ini.

esa yang terletak di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, DIY ini berubah berkat adanya bantuan dari Bank Dunia yang difasilitasi oleh LSM [e] Foundation. Nilainya tak terlalu besar hanya Rp. 15,3 juta. Namun bantuan itu mampu menggerakkan masyarakat untuk mengubah hidupnya untuk mewujudkan lingkungan yang sehat. Hibah Bank Dunia itu kemudian dijadikan dana bergulir yang bisa dipinjam warga untuk membangun atau memperbaiki jamban keluarga. Program itu diberi nama "Kredit Jamban Sehat". Besar pinjaman bagi setiap KK ditetapkan

mulai Rp 750 ribu sampai Rp 1,275 juta. Pengembaliannya dilakukan dengan angsuran selama 10-24 bulan. Pinjaman itu juga dikenakan bunga 1,5 persen per bulan dan pengelola memberikan sanksi tertentu kepada peminjam yang tidak menepati waktu angsuran. Sanksi itu berupa denda sebesar 5 persen dari bunga pinjaman. Dana yang dipinjam tidak boleh digunakan untuk keperluan lain, kecuali membangun atau memperbaiki jamban sehat. Kriteria jamban sehat adalah tertutup, tetapi memiliki ventilasi udara, tidak berbau, berlantai dan memiliki saluran air, jarak tangki septik minimal 10 meter dari sumur, dan di jamban itu

Percik Juli 2005

L APORAN UTAMA
FOTO: MUJIYANTO

tersedia air. Pada Agustus 2002 hibah Bank Dunia bisa digunakan membangun atau memperbaiki 12 jamban keluarga. Pada Februari 2005 jumlahnya melonjak menjadi 40 jamban keluarga. Lurah Desa Umbulmartani Atok Triyudianta, menjelaskan diperkirakan masih ada sekitar 30 persen warganya yang belum memiliki jamban sehat. Kalau dana yang digunakan untuk membantu warga hanya berasal dari Bank Dunia, dibutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk mewujudkan jamban sehat di desanya. Akhirnya, desa mencari bantuan ke PT Ford Motor Indonesia (FMI) yang mempunyai dana hibah dalam upaya melestarikan lingkungan. FMI memberikan hibah sekitar Rp 41 juta yang penyerahannya dilakukan secara bertahap mulai Mei 2004. Sampai Februari 2005, jumlah bantuan yang sudah disalurkan mencapai Rp 20,7 juta. Dengan adanya hibah baru ini, jumlah pinjaman kepada warga bisa ditingkatkan menjadi maksimal Rp 1,5 juta per KK. Dengan dana tersebut, pada Mei 2004 sudah ada tambahan 11 jamban sehat dan sampai Februari 2005, jumlahnya bertambah lagi menjadi 15 jamban sehat. Selain membangun jamban, sebagian bunga pinjaman dana bergulir juga digunakan meningkatkan gizi balita melalui program pemberian makanan tambahan dalam kegiatan pos pelayanan terpadu (posyandu). "Kalau program pembuatan jamban sehat dan perbaikan gizi balita bisa terus bergulir, kami memiliki angan-angan Umbulmartani menjadi sehat, Yogyakarta sehat, dan Indonesia pun sehat," ujar Heny Kusharyati, penggerak PKK Umbulmartani yang juga istri Atok Triyudianta. Kondisi Indonesia Apa yang terjadi di Umbulmartani setidaknya bisa menggambarkan-kendati tidak sepenuhnya-kondisi sanitasi dasar

Warga memanfaatkan sungai seperti ini untuk buang air.

di kawasan perkotaan dan perdesaan di Indonesia. Sampai dengan tahun 2002, penduduk Indonesia yang mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar yang memadai yaitu jamban yang dilengkapi cubluk atau tangki septik, baru mencapai 63,5 persen. Proporsi di perdesaan relatif lebih rendah, hanya berkisar 52,2 persen, sementara di perkotaan telah mencapai 77,5 persen. Angka tersebut hanya menunjukkan proporsi yang tersedia tetapi tanpa membedakan kualitasnya. Karenanya data di atas ditengarai belum menunjukkan kondisi yang sebenarnya. Kondisi nyata mungkin lebih buruk dari itu. Diperkirakan banyak sarana sanitasi dasar yang ada saat ini sudah tidak dapat dipergunakan lagi dan kurang memenuhi persyaratan kesehatan dan lingkungan. Sebagai ilustrasi di daerah perkotaan lokasi tangki septik hanya berjarak kurang 10 meter dari lokasi sumber air. Diperkirakan 73 persen rumah tangga perkotaan mempunyai sanitasi setempat (on-site sanitation), sebagian besar dalam bentuk septik tank yang tidak berfungsi baik. Sementara di lain pihak, sistem pembuangan air limbah tidak cukup

memadai, termasuk tidak tersedia cukup banyak instalasi pengolah limbah tinja. Kondisi ini merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan, baik terhadap air tanah maupun sungai yang merupakan sumber utama air baku PDAM. Kondisi Global Sidang Umum PBB pada September 2000 menetapkan Millennium Development Goals (MDGs) sebagai target bagi komunitas global untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan seluruh penduduk. Dua tahun berikutnya, dalam the World Summit on Sustainable Development di Johannesburg, PBB menegaskan kembali MDGs dan menambahkan target khusus tentang sanitasi dan higinitas. Data tahun 2000 menunjukkan 2,4 milyar manusia tak memiliki akses yang baik ke sanitasi. Sebanyak 81 persen di antaranya berada di desa. Selain itu 1,1 milyar manusia tak memiliki akses ke sumber air. Sebanyak 86 persen berada di desa. Kedua kelompok ini tergolong masyarakat miskin yang tersebar di perdesaan dan perkotaan. Kondisi akses ke air minum dan sanitasi yang buruk ini

Percik Juli 2005

L APORAN UTAMA
menyebabkan munculnya berbagai penyakit, seperti diare. Tercatat ada 250 juta orang terserang penyakit yang terbawa air setiap tahun, 10 juta di antaranya meninggal dunia. Fakta di lapangan menunjukkan akses terhadap layanan sanitasi di desa lebih buruk dibandingkan di perkotaan. Di samping itu sebanyak 930 juta manusia hidup di daerah kumuh dan populasi di perkotaan terus bertambah. Pada tahun 2015 jumlah penduduk dunia diperkirakan 7 miliar. Sebagian besar pertambahan penduduk terjadi di negara berkembang. Peningkatan itu akan menambah jumlah penduduk yang belum mempunyai akses terhadap sanitasi yang memadai menjadi 3,4 miliar pada tahun 2015. WHO memperkirakan setiap tahun sebanyak 150 juta tambahan penduduk yang harus mendapatkan akses terhadap sanitasi. Terpenuhikah target tersebut? Ini pertanyaan sekaligus tantangan yang harus dijawab. Soalnya diakui atau tidak membangun sarana sanitasi yang memadai memang tidak mudah. Ada beberapa faktor yang menjadi kendala. Di antaranya masalah budaya, dana, dan ketidakpedulian. Warga masyarakat di banyak negara miskin dan berkembang memiliki kebiasaan buang air besar di sungai, kebun, sawah, dan tempat terbuka lainnya tanpa merasa itu suatu tindakan yang salah. Ada pula yang tak mau membangun jamban/WC karena tidak memiliki cukup uang. Sebagian lain tidak peduli terhadap masalah sanitasi dan menganggap ini bukan urusannya tetapi urusan pemerintah. Oleh karena itu, dalam kondisi seperti sekarang-dengan kemampuan keuangan pemerintah dan masyarakat yang terbatas-target MDGs baru akan tercapai pada tahun 2025. Tanpa kemauan politis dan komitmen nyata, target tersebut tidak akan tercapai. Tantangan Indonesia yaitu bagaimana agar keberhasilan mempromosikan target air minum dan sani-

Diare di Dunia
1,8 juta orang meninggal setiap tahun karena penyakit diare-termasuk kolera; 90 persen di antaranya anak-anak di bawah 5 tahun, terbanyak di negara-negara berkembang. 88 persen dari penyakit diare itu disebabkan penggunaan air minum yang tak terlindungi, sanitasi dan kebersihan yang tak layak. Penyediaan air minum yang memenuhi syarat bisa mengurangi tingkat kematian akibat diare sebanyak 21 persen Peningkatan sanitasi mengurangi kematian akibat diare sebesar 37,5 persen Mencuci tangan pada waktu dibutuhkan dapat mengurangi kasus diare lebih dari 35 persen Perbaikan kualitas air minum seperti memberikan disinfektan bisa mengurangi episode diare 45 persen.

tasi di tingkat internasional dapat juga menjangkau dan menyebar di seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) di Indonesia dengan kemampuan pembiayaan yang terbatas seperti saat ini. Pembiayaan Mikro Tantangan pembiayaan telah membayangi pembangunan sanitasi di dunia. Saat ini pembiayaan yang dikeluarkan untuk pengolahan air limbah di dunia mencapai 14 juta dolar Amerika per tahun. Sementara masih dibutuhkan tambahan sebesar 56 juta dolar Amerika jika target MDGs ingin dicapai. Di sisi lain, laju pertumbuhan penduduk tak sebanding dengan laju pertambahan sanitasi dasar berupa jamban. Terjadi kesenjangan antara keduanya. Oleh karena itu, perlu ada upaya pendekatan baru yang memungkinkan peningkatan laju pertambahan sarana sani-

tasi dasar, paling tidak mendekati laju pertumbuhan penduduk. Model pembiayaan lama seperti subsidi dan hibah untuk memperluas cakupan layanan sanitasi oleh beberapa kalangan dinilai tak tepat lagi untuk kondisi saat ini. Selain karena keterbatasan dana pemerintah, kelompok 'antisubsidi' memandang subsidi bermasalah pada tiga hal yakni (i) Desain untuk subsidi sulit, karena subsidi membutuhkan data-data masyarakat mengenai kemampuan dan kemauan masyarakat untuk membayar, mekanisme paling sesuai untuk menyalurkan, merumuskan keuntungan sosial dan manfaat kesehatan bagi masyarakat; (ii) Penyaluran subsidi banyak tantangannya; dan (iii) Subsidi cenderung terhenti dan tidak berkelanjutan. Namun demikian, subsidi memang tak bisa dihapuskan sama sekali di sektor ini. Yang mungkin dilakukan yaitu meminimalkannya karena sektor ini merupakan bagian dari kewajiban pemerintah menyejahterakan rakyat. Muncullah berbagai terobosan untuk bisa mengembangkan pembiayaan bagi sarana sanitasi dasar ini. Salah satunya dengan model pembiayaan mikro (microfinance). Langkah ini dianggap sebagai ujung tombak dalam pengentasan kemiskinan dan telah mendapat pengakuan secara internasional. Pengakuan tersebut tercermin dalam keputusan Sidang Majelis Umum PBB ke-53 (tahun 1998) yang menetapkan tahun 2005 sebagai Tahun Kredit Mikro Internasional. Dilanjutkan dengan Launching International Year of Microcredit 2005, di Markas Besar PBB, New York, oleh Sekjen PBB Kofi Annan, 18 November 2004. Pencanangan tersebut diharapkan akan dapat mendorong program pemberdayaan keuangan mikro dan usaha mikro yang berkelanjutan, dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengentasan kemiskinan. Saat itu Sekjen PBB menyerukan agar seluruh pemerintah, lembaga keuangan, dan lembaga

Percik Juli 2005

L APORAN UTAMA
donor memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya dalam bidang kredit mikro untuk lebih menjangkau kaum miskin. Dalam peluncuran itu, para pembicara sepakat bahwa microfinance merupakan salah satu inovasi yang paling berhasil dalam pembangunan sosial ekonomi serta memiliki konstribusi yang penting dalam pencapaian Millennium Development Goals (MDGs). Untuk mencapai tujuan tersebut telah teridentifikasi berbagai hal yang perlu dilakukan antara lain pelatihan dan peningkatan kapasitas, promosi kredit mikro, keterlibatan sektor swasta, serta penyempurnaan peraturan perundangan sehingga dapat mendukung pengembangan sektor keuangan mikro. Di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mencanangkan Tahun Keuangan Mikro Indonesia 2005 pada 26 Februari 2005 lalu. Langkah ini dinilai positif terhadap peranan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) atau microfinance, sebagai unsur penting dalam membantu pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah. Memang disadari bukan cara yang mudah membiayai sanitasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah/miskin. Ini sangat berbeda dengan penyelenggaraan air bersih/minum yang lebih mudah karena air adalah kebutuhan dasar sekaligus bisa menjadi sumber pendapatan jika digunakan untuk kegiatan produktif misalnya mencuci pakaian dan mengairi tanaman. Penyelenggaraan sanitasi lebih sulit karena hasilnya tidak segera terlihat secara langsung. Tak heran bila banyak literatur pembiayaan air bersih/minum dan sanitasi memfokuskan pada air minumnya, dan hanya sedikit menyinggung pembiayaan sanitasi bagi rumah tangga. Beberapa contoh pembiayaan sanitasi menunjukkan keberhasilan. Beberapa model telah dipraktekkan di beberapa negara seperti di Lesotho, Honduras, Ghana, Afrika Selatan, India, dan Pakistan.
FOTO: RHEIDDA P

Cubluk terbuka banyak dimiliki warga desa

Indonesia sendiri pernah mencobanya pada tahun 1993 yang dilaksanakan oleh Yayasan Dian Desa di Yogyakarta. Pengalaman WaterAid di Nafadji sejak 2001 bekerja sama dengan LSM lokal JIGI dengan membangun sarana air dan sanitasi, menunjukkan penyaluran kredit khusus sanitasi mampu mengurangi prevalensi penyakit yang berhubungan dengan polusi air dan memperbaiki kualitas air minum. Hanya saja keberhasilan setiap proyek tersebut tidak dapat diterapkan secara universal. Tapi ada pembelajaran yang bisa diambil dari sana dan kemudian diterapkan sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada. Yang terpenting adalah adanya kepedulian dan pemecahan bagi pembiayaan sanitasi. Kunci Sukses Layanan pembiayaan bagi masyarakat miskin-sebagai peminjam dan penabung skala kecil-kurang memperoleh perhatian dari pihak perbankan. Akses masyarakat miskin terhadap layanan itu tergolong rendah. Hal ini menghambat mereka untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan partisipasi dalam

kehidupan. Padahal dari berbagai fakta di lapangan, termasuk di negara-negara Afrika dan Asia, masyarakat miskin yang mendapat fasilitas pembiayaan mikro dan tabungan dapat membayar pinjaman kredit mereka dengan baik. Hal ini bisa dicapai dengan mendesain metodologi peminjaman, produk pinjaman yang inovatif, menyederhanakan prosedur peminjaman, mengadakan kontak langsung secara regular dengan klien, dan menerapkan suku bunga pasar-bagi yang menginginkan. Dan perlu diingat bahwa kredit tidak dimaksudkan untuk mempercepat keberhasilan pembangunan sarana sanitasi. Kredit hanyalah salah satu investasi bagi rumah tangga yang mungkin bagi masyarakat untuk membelanjakan pendapatannya yang terbatas bagi sanitasi. Beberapa aturan umum dalam pembiyaan mikro dapat diterapkan di sektor air minum dan sanitasi, yaitu: Riset terhadap kebutuhan lokal, yakni bagaimana memahami secara menyeluruh kemampuan peminjam beserta sistem keuangan dan akuntansi yang layak diterapkan Bunga pinjaman-kalau ada-harus di-

Percik Juli 2005

L APORAN UTAMA
dasarkan pada perhitungan biaya administrasi, biaya pekerja, dan biaya bunga. Selain itu terdapat toleransi terhadap kredit macet, dan biaya recovery harus dipertimbangkan karena menentukan keberlanjutan pembiayaan mikro. Tujuan dari organisasi mikro kredit harus didefinisikan dengan jelas. Bila kredit tersebut hanya menjadi sampingan maka ini bisa berbahaya bagi penerapan kredit secara ketat. Administrasi pinjaman dan penagihan harus sederhana Karena kebutuhan sarana sanitasi masih belum dianggap sebagai kebutuhan dasar, pemilihan pembiayaan bagi masyarakat kecil untuk membangun sarana sanitasinya harus dikaitkan dengan hal-hal produktif yang bisa dilakukan oleh mereka. Dengan demikian diharapkan ada jaminan keberlangsungan pengembalian kredit, di samping terbangunnya sarana sanitasi yang diharapkan. Sebagai contoh, masyarakat miskin diberikan kredit untuk mata pencahariannya seperti membuka warung klontong, membeli sepeda motor untuk usaha ojek, beternak, bertani, atau yang lainnya. Pembangunan jamban bisa disisihkan dari pembayaran kredit dengan cara menabungnya. Pada tahun 1990-an pernah dicoba sistem dana bergulir untuk pembangunan jamban. Waktu itu cara ini diharapkan dapat mengurangi kredit macet. Kredit disalurkan melalui kelompok beranggotakan 5-9 orang. Kelompok ini bertanggung jawab untuk setiap pinjaman yang dilakukan oleh anggotanya. Dengan adanya pengorganisasian seperti ini maka apabila ada anggota yang tidak bisa membayar, kelompok harus memberi talangan. Kalau kelompok tak mampu menalangi, kelompok bisa menekan anggotanya yang tak bisa membayar. Dana yang sudah dikembalikan kemudian digulirkan kembali kepada anggota atau kepada kelompok lainnya secara berkesi-

Karena kebutuhan sarana sanitasi masih belum dianggap sebagai kebutuhan dasar, pemilihan pembiayaan bagi masyarakat kecil untuk membangun sarana sanitasinya harus dikaitkan dengan hal-hal produktif yang bisa dilakukan oleh mereka.
nambungan. Bahkan dana yang terkumpul bisa digunakan bagi kebutuhan lainnya di luar sanitasi jika sarana tersebut telah dimiliki oleh masyarakat. Kelompok arisan, posyandu, RT, atau sejenisnya memungkinkan menerapkan mekanisme ini. Namun model dana bergulir ini dinilai banyak kalangan telah gagal. Sangat sedikit yang berhasil. Makanya gaungnya telah hilang ditelan kegagalan. Memang program pemberdayaan masyarakat kecil ini tidak mudah, apalagi jika dikaitkan dengan uang. Mekanisme penyaluran dan pengawasan harus jelas. Bagi penerima harus ada kriteria yang jelas pula. Syarat pokoknya yaitu memili-

ki kemampuan dan kemauan untuk mengembalikan pinjaman. Adanya kemauan ini amat penting, mengingat jika bahanbahan pembuatan sarana sanitasi seperti jamban ini diberikan secara cuma-cumapadahal mereka tak ada keinginan untuk membayarnya-bisa jadi barang itu akan dijual untuk membayar kebutuhan yang lain. Dari sisi pemberi kredit, pinjaman harus diarahkan kepada banyak sasaran. Pinjman yang hanya diberikan untuk satu sasaran khusus hanya akan memperbesar biaya penyediaan pinjaman. Contoh pembiayaan mikro yang paling sukses di dunia adalah produk pinjaman KUPEDES milik BRI yang mempunyai banyak sasaran. Biaya pengembalian pada proyek sanitasi adalah hal yang memungkinkan, dan kredit merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Cara ini cukup fleksibel dan dapat dikombinasikan dengan subsidi atau hibah dan kontribusi kepemilikan. Program kredit paling baik digunakan sebagai
FOTO: RHEIDDA P

Meski miskin warga bisa membangun jamban yang memenuhi syarat.

Percik Juli 2005

L APORAN UTAMA
FOTO: ANDRE K

bagian dari strategi sanitasi berdasarkan pendekatan tanggap kebutuhan (demand driven approach). Pertanyaannya kemudian, bagaimana jika masyarakat tidak butuh sarana itu? Jawabannya, harus diciptakan kebutuhan. Misalnya dengan memunculkan kepedulian terhadap kesehatan lingkungan, atau adanya tekanan dari tetangga atau komunitas untuk membangun sarana sanitasi yang sehat. Selain itu, kepedulian bisa didorong dengan layanan kredit yang dilaksanakan dengan baik sehingga mekanisme itu menggerakkan masyarakat untuk menggunakan dana itu bagi pembangunan sanitasinya. Perlu diperhatikan, penyedia fasilitas kredit harus memberikan pilihan-pilihan bagi rumah tangga sehingga mereka bisa menentukan pilihan yang sesuai. Pilihan pada masyarakat berpenghasilan rendah sering bervariasi. Misalnya beberapa rumah tangga memilih jamban paling murah, dan yang lainnya justru mau membayar untuk membangun jamban yang lengkap. Di samping itu pertimbangan lain yang harus diperhatikan adalah pemberian kredit bagi masyarakat miskin harus didukung ketersediaan bahan bagi sarana sanitasi. Artinya ada barang-barang sarana sanitasi di pasar lokal. Juga tersedia variasi model yang bisa dipilih oleh masyarakat. Dan yang tak kalah penting, teknologinya mampu dikuasai oleh masyarakat. Jadi pembiayaan mikro tidak berdiri sendiri tapi didukung oleh elemen lain. Untuk meringankan beban kredit masyarakat miskin, mekanisme penyaluran kredit pun bisa diatur sedemikian rupa sehingga mengurangi biaya investasi. Dengan fasilitas kredit nasabah/klien dapat membeli perlengkapan sanitasi secara borongan. Cara ini memungkinkan pemasok dapat memberikan potongan harga. Sedangkan di pihak pemberi pinjaman, pemanfaatan pihak perantara informal yang sudah ada akan dapat me-

Jamban yang bersih dan sehat menjadi dambaan setiap orang.

nekan biaya penyediaan pinjaman. Hal ini karena para perantara tersebut sudah memahami karakter peminjam. Skala Waktu Pembangunan sarana sanitasi bagi masyarakat miskin harus memperhatikan skala waktu yang realistis. Program akan gagal apabila semata-mata untuk memperluas cakupan layanan kredit dalam waktu singkat tanpa diiringi dengan peningkatan komitmen masyarakat untuk melunasi pinjaman dan menggulirkannya kembali untuk peminjam baru. Hubungan antara lembaga penyedia pinjaman dengan nasabah/peminjam harus dilihat sebagai hubungan jangka panjang. Hubungan perkreditan ini sebaiknya tidak dikelola sebagai transaksi "sekali pakai" (one-off transaction) yang diarahkan hanya untuk satu sasaran. Bagian dari peningkatan kualitas kredit adalah upaya pengembangan kepercayaan dan keyakinan antara penyedia kredit dengan nasabah. Hal ini dapat diperoleh dengan hubungan yang berlangsung dalam jangka panjang. Lembaga penyedia pembiayaan dapat memberikan dukungan dengan meningkatkan posisi tawar masyarakat miskin

terhadap kontraktor/penyedia sarana sanitasi. Sehingga hak-hak masyarakat miskin dan kualitas sarana sanitasi untuk mereka tetap terjaga dengan baik. Penutup Pembangunan sarana sanitasi sangat penting. Ini tidak hanya memberikan keuntungan bagi rumah tangga yang memilikinya, tapi jauh dari itu untuk masyarakat secara lebih luas. Sanitasi yang baik akan mengurangi penyebaran penyakit secara signifikan. Keterbatasan sumber daya-terutama dana-seharusnya tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan sektor ini. Dan sejatinya masih banyak alternatif jalan yang bisa ditempuh guna memperbaiki kondisi sanitasi ini. Hanya saja memang butuh kepedulian, kesungguhan, dan waktu. Segala bentuk dana yang dikucurkan untuk peningkatan sanitasi tidak akan membuahkan hasil apabila tidak diiringi dengan perubahan perilaku masyarakat berkaitan dengan sanitasi. Layak dipertimbangkan juga untuk menggabungkan kredit sanitasi dengan bentuk-bentuk kredit lain yang lebih menguntungkan seperti program kredit untuk usaha mikro dan layanan penyediaan air, sehingga dapat dibangun mekanisme subsidi silang. (MJ)

Percik Juli 2005

L APORAN UTAMA
Pembelajaran Kredit Mikro

Mancanegara

FOTO: WWW.QTAWWA.ORG

Setiap negara memiliki karakteristik tersendiri dalam membangun sarana sanitasi. Pengalaman satu negara bisa menjadi pelajaran bagi negara lain, meskipun penerapannya tak sepenuhnya harus sama. Berikut pembelajaran yang bisa diambil dari beberapa negara mengenai kredit mikro:

Lesotho
royek di Lesotho dimulai pada tahun 1980 sebagai bagian dari proyek pengembangan perkotaan. Program ini menyediakan kredit bagi rumah tangga khususnya untuk pembangunan jamban. Program itu didorong oleh kebutuhan jamban rumah tangga. Untuk menerima kredit, rumah tangga harus menggali lubang jamban terlebih dahulu dan memiliki tabungan sebesar 30-40 persen dari total kebutuhan dana. Jumlah pinjaman yang diberikan 50-300 dolar Amerika. Dana itu berasal dari pemerintah Lesotho tapi dikelola oleh Lesotho Bank yang telah memiliki kredibilitas yang baik dalam menangani pinjaman. Pada tahun 1990, 600 pinjaman telah disetujui dari 4.500 pemohon. Sebanyak 282 jamban telah dibangun dan 81 persen peminjam telah melunasi pinjamannya. Dari 1.000 jamban yang telah dibangun di wilayah yang ditargetkan, 80 persen di antaranya dibangun melalui inisiatif masyarakat sendiri. Ini bisa terjadi karena adanya program promosi dan ketersediaan pilihan sanitasi. Berdasarkan laporan yang ditulis UNDP pada tahun 1994, kunci keberhasilan proyek ini antara lain: Desain jamban yang murah dan estetis Kecilnya subsidi dan hibah secara langsung untuk rumah tangga

Salah satu jamban milik warga Honduras

Program bersifat menyeluruh yakni promosi jamban, kesehatan, dan pendidikan kebersihan Proyek terintegrasi dengan struktur pemerintahan Koordinasi yang kuat dalam kebijakan dan perencanaan di antara departemen yang terlibat dalam promosi peningkatan sanitasi Melihat skema kreditnya sendiri, pembayaran pinjaman dengan bunga dimaksudkan untuk memastikan bahwa rumah tangga bertanggung jawab penuh terhadap penyediaan fasilitas sanitasi. Biaya administrasi pinjaman tergolong tinggi dan biaya tambahan untuk promosi dan pengelolaan tidak dibebankan kepada peminjam sehingga keberlanjutan jangka panjang proyek ini dipertanyakan. Oleh karena itu proyek ini berhasil dalam promosi sanitasi tetapi tidak menciptakan institusi pembiayaan mikro yang berkesinambungan.

Honduras
Sebuah yayasan dibentuk di Honduras. Yayasan itu bernama Yayasan Koperasi Perumahan (Co-operative Housing Foundation/CHF). Program ini merupakan strategi nasional untuk menyediakan pinjaman bagi pembangunan perumahan di Tegucigalpa, ibukota Honduras. Pada tahun 1993, program permukiman mengeluarkan sekitar 4 juta dolar Amerika kepada LSM setempat untuk dipinjamkan kepada 4 ribu keluarga. Sanitasi diidentifikasi sebagai ceruk pasar (niche market) dan hibah UNICEF sebesar 350 ribu dolar Amerika disediakan untuk melanjutkan program dana bergulir bagi pengembangan sanitasi. Tujuan dari program ini adalah meningkatkan kemampuan LSM sehingga mereka dapat mengembangkan kredit mereka yang berasal dari pemerintah dan akhirnya dari sektor perbankan swasta.

Percik Juli 2005

L APORAN UTAMA
FOTO: COMMONORGARDEN.BLOGS.COM

nakan untuk penyediaan sarana sanitasi dapat dilunasi lebih awal sehingga dapat digantikan dengan pinjaman jangka panjang yang lebih besar untuk peningkatan kualitas rumah. Penyediaan saran-saran teknis yang dapat diandalkan dan bantuan pendampingan dalam negosiasi kontrak-kontrak konstruksi merupakan faktor kunci untuk menarik minat calon peminjam yang berencana meningkatkan kualitas sarana sanitasi yang sudah mereka miliki. Rumah tangga dengan pendapatan rendah sering tidak memiliki informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan berkaitan dengan syarat-syarat teknis fasilitas sanitasi. Fungsi utama dari loan officer adalah mengawasi kualitas konstruksi dan menggunakan keahliannya untuk menolak tuntutan pembayaran yang tidak sesuai dengan kontrak guna menjaga agar kontrak tetap dipatuhi.

WC umum yang ada di sebuah wilayah di India.

India
Sulabh adalah sebuah LSM di India yang memperkerjakan 20 ribu orang. Orang-orang itu disiapkan untuk masuk ke pasar jamban di wilayah miskin perkotaan. Sebanyak 500 ribu rumah tangga memperoleh keuntungan akses kepada kredit melalui mekanisme formal dan informal. LSM itu kemudian menyiapkan agen yang memasarkan pinjaman dan mengumpulkannya dari para pembeli dengan persyaratan yang fleksibel. Sulabs merancang target penerimaan rata-rata dari para kolektor ini, tetapi tidak membebani mereka dengan buku catatan formal. Meskipun Sulabs telah menerima hibah, luasnya program jamban menunjukkan bahwa dari sisi keuangan bisa berjalan dan menjangkau kaum miskin. Ketidaktransparansian dari persyaratan pinjaman mungkin menggambarkan penggunaan yang nyata sistem informal yang didasarkan pada diskriminasi harga dan catatan minimum yang ada. (MJ)

Maksudnya, mereka harus mampu mempertahankan track record-nya dan mengembalikan pinjaman secara sukses. Persetujuan pinjaman dibuat secara langsung oleh LSM. Tidak ada jaminan yang dibutuhkan meskipun latar belakang peminjam sangat sedikit diketahui. Pendamping penandatangan/saksi digunakan sebagai garansi pembayaran. Bentuk pinjaman berlaku selama tiga tahun dan dibayarkan setiap bulan. Pinjaman dikenakan bunga sebesar 15 persen, yang terhitung lebih rendah dibandingkan sumber kredit informal lainnya. LSM berhasil menarik kembali uang pinjaman itu sebesar 95 persen pada tahun pertama. Beberapa pengembangan terus dilakukan sesuai dengan rencana. Keberhasilan dari skema ini dapat dikaitkan dengan banyaknya pilihan yang mencakup jenis perbaikan yang akan dilakukan, masa pinjaman dan kualitas dari perbaikan yang ditawarkan oleh

Luasnya program jamban menunjukkan bahwa dari sisi keuangan bisa berjalan dan menjangkau kaum miskin.

pemberi pinjaman. Peminjam dapat mengatur paket pinjaman sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan adanya fleksibilitas dari persyaratan pinjaman, peminjam dan pemberi pinjaman dapat menguji sistem pinjaman dengan risiko yang rendah bagi mereka berdua. Terkadang pinjaman skala kecil dan jangka pendek yang digu-

10

Percik Juli 2005

L APORAN UTAMA
Pengalaman Kredit Jamban Keluarga di Yogyakarta

ogyakarta Urban terdiri atas Kotamadya Yogyakarta ditambah beberapa kelurahan di Sleman dan Bantul. Sepintas lalu kita melihat kota tersebut cukup indah. Bahkan beberapa sanitasi yang dimiliki warga cukup bagus. Namun di balik itu ternyata masih banyak dijumpai keluarga yang sama sekali tidak mempunyai WC keluarga. Mereka ini biasa buang air besar di sungai, sawah, atau selokan pada waktu matahari belum terbit atau setelah matahari terbenam. Aktivitas itu terkadang berbarengan dengan mencuci pakaian atau mandi. Berdasarkan hasil studi, dari seluruh keluarga di wilayah Yogyakarta Urban sebanyak 79 persen mempunyai WC pribadi dan sisanya 21 persen tidak mempunyai (kira-kira adalah 31.500 keluarga). Dari mereka yang tidak punya WC, 5,34 persen buang air besar di WC umum yang dibuat pemerintah (3,09 persen), WC umum milik pribadi (0,99 persen), dan tetangga yang baik hati (1,26 persen)--, sebanyak 14,53 persen di kali, 0,49 persen di kolam/blumbang, dan 0,64 persen di tempat lain seperti kebun, pekarangan, dan sebagainya. Jumlah hajat yang langsung di buang ke alam sangat besar. Bila setiap hari manusia buang hajat 0,2 kg, maka akan ada 31,5 ton per hari yang dibuang langsung ke alam atau 945 ton per bulan (kira-kira 250 truk penuh-hajat). Beberapa alasan mendasari mengapa warga tidak membangun jamban/WC pribadi: Alasan utama: Kesulitan investasi awal Tidak ada tempat Alasan lain: Belum mapan Begini sudah cukup Lain-lain Berdasarkan kondisi tersebut maka dicari jalan pemecahannya. Ada tiga gagasan pokok yang dapat dikembangkan: Kredit lunak untuk pengadaan sa-

Alasan warga tidak memiliki jamban/WC menurut wilayah (%) Alasan Kesulitan Investasi awal Tidak ada tempat Belum mapan Begini saja cukup Lain-lain Yogyakarta 17 37 23 11 12 Sleman 57 10 4 15 14 Bantul 38 8 5 35 14

rana sanitasi keluarga (revolving funds). Program ini ditujukan bagi mereka yang mengalami kesulitan investasi awal untuk membangun sarana sanitasi tapi memiliki lahan Pelayanan WC umum yng dikelola secara swasta (pengguna harus membayar). Ini khusus bagi mereka yang tidak ada tempat untuk membangun sarana keluarga secara pribadi Penyuluhan yang terencana dan konsisten sehubungan dengan aspek kesehatan lingkungan Program Sanitasi Bergulir Untuk mengatasi kendala investasi awal perlu ada kredit lunak (soft loan) atau dana berputar yang tepat kondisi masyarakat sasaran. Memang agak sulit memperoleh dana ini karena sanitasi keluarga masuk dalam kategori barang konsumtif dan pinjaman yang tersedia biasanya untuk kegiatan produktif; kekhawatiran bahwa si miskin tidak mau membayar; dan sebagainya. Itu hipotesis yang muncul. Perlu ada pembuktian. Dengan dukungan dana kecil dari SDC, Yayasan Dian Desa (YDD) melakukan uji coba pada tahun 1995 - 1996. Pola yang diterapkan adalah: Pemberian kredit lunak dengan bunga sebesar 8 persen per tahun dengan jangka waktu pengembalian selama 30 bulan. Pemberian dukungan teknis di lokasi dan biaya untuk bantuan teknis tersebut tidak dibebankan kepada masyarakat sasaran. Disain untuk underground construction (seperti ukuran dan perle-

takan tangki septik) ditetapkan oleh YDD, sehingga sarana yang dibuat benar-benar berfungsi sesuai tujuan. Sedangkan bentuk dan disain upperground construction (misalnya dinding, model toilet) diserahkan sepenuhnya kepada keinginan yang bersangkutan. Pada uji coba ini peminjam berjumlah 150 keluarga yang tersebar di dusun Potorono, Tegalmanding dan Condongcatur. Kredit per jamban/WC sebesar Rp. 350.000-Rp. 400.000. Dalam kurun waktu dua tahun hasilnya cukup menggembirakan yaitu: Total hanya 4,8 persen dan mereka yang tidak mengembalikan justru perangkat di kampung bersangkutan. Lunas tepat waktu 87 persen, dan sisanya pembayaran mundur. Dari pengamatan terlihat bahwa perawatan dari sarana jauh lebih baik dibandingkan perawatan sarana umum yang dibangun secara cuma-cuma oleh pemerintah. Adapun motivasi masyarakat mau membangun jamban/WC melalui kredit ini antara lain: Ekonomi (memungkinkan untuk buka indekos, warung, usaha lain) Status Lain-lain (tetapi motivasi mengenai kesehatan, lingkungan, biasanya belum mereka pahami). Kesulitan dan problem yang timbul dalam pelaksanaan program tersebut bermacam-macam. Kendati sulit, lebih baik dimulai daripada tidak sama sekali.
(Prianti Utami/MJ)

Percik Juli 2005

11

W AWASAN
Jamban Sehat Posyandu Kuat
(sebuah cerita dari Sleman)
i wilayah perdesaan masalah jamban masih merupakan permasalahan yang pelik dan belum seluruhnya dapat diatasi. Tingginya angka pertumbuhan penduduk dan rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan semakin rumitnya permasalahan penyediaan jamban. Di samping itu, ada faktor yang menyebabkan masyarakat tidak atau belum mempunyai jamban, di antaranya: Ketidaktahuan masyarakat akan proses pembangunan yang terjadi, karena ada anggapan bahwa semua urusan sanitasi merupakan urusan pemerintah. Masalah budaya, bagi masyarakat yang kebetulan tinggal di pinggiran sungai, saluran irigasi dan kebun, membuang hajat cukup di sungai, saluran dan kebun. Selain tidak mengeluarkan dana juga ada rasa kepuasan tersendiri, walaupun mereka harus berjalan 500-1.500 meter dari rumah. Masalah dana, untuk mendapatkan dana tunai untuk membuat jamban dirasakan sangat sulit, selain belum adanya budaya menabung, penghasilan sehari-hari habis untuk biaya hidup. Selain permasalahan jamban, masalah pelayanan kesehatan bagi anak-anak juga cukup memprihatinkan. Lembaga lokal kaum perempuan seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di tingkat dusun juga sebagian besar tidak berfungsi secara optimal. Padahal peran lembaga Posyandu adalah : Memelihara dan meningkatkan kesehatan dalam rangka mewujudkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga Meningkatkan kegotongroyongan masyarakat Sebagai tempat untuk saling memperoleh dan memberikan berbagai informasi

Oleh: Momon Hermansyah*


Sedangkan pelayanan yang dapat dilakukan antara lain: pelayanan gizi, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana (KB), imunisasi, dan penanggulangan penyakit diare dan ISPA. Kegiatan tambahan Posyandu lainnya seperti mendorong pembangunan sarana air minum dan jamban keluarga dan perbaikan lingkungan permukiman; memonitor perkembangan anak termasuk bayi Keluarga Balita (BKB); penanggulangan penyakit menular setempat; dan Usaha Kesehatan Gizi Masyarakat Desa ( UKGMD).

kemandirian program dapat dicapai Upaya dan Hasil Awal pengembangan kredit jamban di DIY dilahirkan oleh Yayasan Dian Desa pada akhir tahun 1993. Pola yang dipakai, masyarakat diberi dana pinjaman untuk membuat jamban, kemudian dana tersebut diangsur selama 12 bulan dengan jasa bunga pengembalian sebesar 1 persen perbulan. Selama 4 tahun berjalan terbangun 400 unit jamban dari modal awal 146 unit yang tersebar di wilayah Potorono, Umbulmartani dan Condongcatur. Tahun 2002, [e] Foundation bekerja sama dengan Badan Koordinasi Promosi Kesehatan dan PKK desa Umbulmartani mengembangkan konsep Community Based Development yang dipadukan dengan konsep Community Action Plan (CAP) dalam rangka membangun sumber daya manusia untuk penyediaan jamban dan penguatan Posyandu secara mandiri. Karena program ini dinilai cukup bermanfaat maka awal tahun 2003 Ford Motor Conservation & Environmental Grant juga memberikan bantuan tambahan dana untuk memperluas cakupan kegiatan. Inti dari program ini sederhana, masyarakat diberi dana pinjaman untuk membangun jamban dengan masa angsuran selama 24 bulan. Peminjam dikenai jasa bunga sebesar 1, 5 persen per bulan. Dari bunga pengembalian ini diberikan kembali (subsidi) ke Posyandu sebesar 0,7 persen. Untuk biaya Administrasi pengelola sebesar 0,3 persen. Sisanya 0,5 persen untuk penambahan modal jamban bergulir. Sejak tahun 2002 hingga 2004 hasil yang telah dicapai sebagai berikut: (lihat tabel di halaman sebelah) Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari kegiatan yang sudah dan sedang berjalan, berbagai pengalaman dan pela-

Ketidakberdayaan masyarakat dalam menyediakan jamban dan lemahnya peran lembaga lokal Posyandu akan berdampak buruk.
Sayangnya dari sekian banyak pelayanan dan kegiatan tersebut sebagian besar tidak berjalan, walaupun ada hanya sebatas penimbangan balita dan pemberian vitamin, karena kurangnya sarana penunjang dan terbatasnya dana. Ketidakberdayaan masyarakat dalam menyediakan sarana jamban dan lemahnya peran lembaga lokal Posyandu dalam memberi pelayanan kesehatan ke masyarakat akan berdampak buruk. Oleh karena itu perlu dicari jalan untuk memberdayakan masyarakat dan lembaga lokal di bidang tersebut. Salah satu satunya adalah membuat program kegiatan bersama masyarakat dengan pola dana bergulir. Program disiapkan dalam tahapan yang sistematis, di mana sejak awal masyarakat terlibat di dalamnya, sehingga keberlanjutan serta

12

Percik Juli 2005

W AWASAN
jaran dapat di petik di antaranya: Terjadinya hubungan kerja sama (kemitraan) secara transparan antara semua pihak yang terlibat dalam kegiatan program Ada peningkatan dan keterlibatan secara langsung peran kaum perempuan yang tergabung dalam lembaga lokal, PKK, Posyandu, dalam pembangunan bidang kesehatan, khususnya lingkungan permukiman sehat. Meringankan biaya investasi pembangunan atau dengan kata lain dengan jumlah dana tertentu (terbatas), jangkauan program lebih luas, karena dari uang pengembalian angsuran pinjaman, kemudian dipinjamkan kembali ke masyarakat untuk membangun jamban, kemudian sebagian jasa bunga diberikan atau disubsidikan kepada Posyandu untuk menunjang kegiatan kesehatan. Kesimpulan Untuk mencapai hal-hal yang tersebut di atas diperlukan sikap dasar untuk mempercayai rakyat kecil serta menghargai kemampuan mereka. Kepercayaan dan penghargaan yang bersumber pada kenyataan bahwa orang miskin itu bukan "the have not", mereka adalah "the have tittle". Kalau yang kecil-kecil itu dihimpun akan menjadi kekuatan yang dapat dipakai untuk mengatasi permasalahannya sendiri. Pada titik saat rakyat mampu menyelesaikan masalahnya sendiri dan mengembangkan kehidupan yang serasi dan berkesinambungan partisipasi masyarakat dalam pembangunan menjadi nyata. Pemerintah tidak perlu mengurus dan mengatur hal-hal yang sudah dapat diurus dan diatur oleh rakyat. Inilah prinsip pembangunan yang sebenarnya. Pertanyaan sekarang mau dan beranikah kita mengembangkannya?
*) Kepala Divisi Kendali Mutu pada Assosiasi Konsultan Pembangunan Permukiman Indonesia Cab. DIY dan Staf pada Badan Koordinasi Promosi Kesehatan - Dinas Kesehatan DIY

KONSEP PENGEMBANGAN JAMBAN BERGULIR & POSYANDU

[e] Foundation Dulangan dana awal sebagai Entry Point

PKK bekerjasama dengan Kepala Dusun menyeleksi anggota Peminjam dan Admisnistrasi Kredit

Perguliran Dana

Monitor & Evaluasi

Angsuran

1. Pembangunan dan pengembangan jamban bergulir 2. Penguatan Posyandu lewat subsidi bunga pengembalian angsuran

Kelompok Sasaran peminjam dana pembuatan jamban dan Posyandu

LEMBAGA MITRA

BKPK, [e] Foundation, PKK desa Umbulmartani

NILAI PINJAMAN JAMBAN SUBSIDI UNTUK BANTUAN MODAL YG TERBANGUN POSYANDU S/D THN 2004 S/D THN 2004 AWAL 12 Unit jamban 41 Unit jamban, 51 Posyandu dengan ban@ Rp 1.250.000 ada penambahan tuan dana @ Rp 50.000. 29 unit jamban Dana ini dimanfaatkan untuk penambahan PMT dan pembelian peralatan. 15 Unit jamban @ Rp 1.500.000 28 unit jamban, 10 Posyandu dengan banada penambahan tuan dana @ Rp 75.000. 11 unit jamban. Dana ini dimanfaatkan untuk penambahan PMT dan pembelian peralatan.

Ford Motor Company, [e] Foundation, PKK desa Umbulmartani

Percik Juli 2005

13

WA W A S A N
Penanganan Sampah Melalui Eco-Cycle Society
odel-model pengelolaan sampah cukup banyak. Masing-masing memiliki karakter tersendiri. Ada satu model perencanaan pengelolaan sampah regional yang patut ditiru oleh pengelola sampah di Indonesia. Model ini berkembang cukup baik di Swedia. Model perencanaan sampah regional ini dikembangkan oleh SYSAV, sebuah perusahaan jasa pelayanan pengelolaan sampah perkotaan milik sembilan pemerintah kota di selatan Swedia. Perusahaan ini melayani 500.000 penduduk. Setiap pemerintah kota bertanggung jawab terhadap pengumpulan dan pengangkutan sampah dari rumah tangga dan industri. SYSAV bertanggung jawab terhadap pengolahan dan penanganan sampah selanjutnya. Model itu disebut sebagai Ecocycle society yakni konsep penanganan sampah regional yang merupakan siklus tertutup, sehingga diharapkan tidak ada energi yang terbuang ke alam. Filosofi konsep ini adalah mengurangi produksi sampah dengan meningkatkan kegiatan reuse, recycling, dan recovery. Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa sampah yang dihasilkan dapat : a. digunakan kembali sebagai produk yang sama seperti semula atau produk baru (contoh: botol bekas dapat digunakan kembali); b. didaur ulang sebagai bahan baku (contoh : sampah kertas) c. dipakai sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi, sehingga dapat mengurangi bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui; d. distabilkan secara biologis melalui

Oleh: Yuni Erni Agustin*)

Produk

Bahan Baku

Residu

Integrated Landfill Spillepeng's di Malm Dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk proteksi terhadap lingkungan, seperti fasilitas pemilahan, pengomposan, daurulang, produksi gas-bio, dan pengolahan lindi. Selain itu, lokasi landfill lama seluas 50 ha saat ini digunakan untuk area rekreasi bagi masyarakat umum. Pusat daur ulang sampah rumah tangga Pusat daur ulang ini berjumlah sembilan unit, masing-masing pengelola kota memiliki satu unit. Pusat daur-ulang ini hanya menerima sampah yang dapat didaur ulang, mulai dari kertas, botol, elektronik, perkakas rumah tangga, dan juga hazardous waste (B3) yang berasal dari rumah tangga seperti batu baterei, lampu neon, dll. Lund Transfer Station Berfungsi untuk mencapai efisiensi pengangkutan dari sumber sampah ke lokasi pengolahan atau pembuangan akhir. Model sejenis seharusnya bisa diterapkan di Indonesia. Apalagi ada proyek WJEMP (Western Java Environmental Management Project) bantuan Bank Dunia yang salah satu programnya adalah membentuk Jabodetabek Waste Management Corporation (JWMC), yang hingga kini belum berjalan.
Balai Pelatihan Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan Permukiman Departemen Pekerjaan Umum, Anggota Pokja AMPL
*)

Sumberdaya Alam

Pembuangan Akhir

proses pengomposan atau digesti dan dikembalikan ke alam; e. diamankan di tempat pembuangan akhir dengan proteksi lingkungan jangka panjang. Berdasarkan filosofi eko-siklus tersebut, maka SYSAV membangun berbagai fasilitas penanganan sampah regional, antara lain: Fasilitas pembakaran sampah (waste to energy plant) di Malm Sekitar 25 ton sampah dikonversi menjadi energi panas setiap jam. Instalasi ini terhubung dengan instalasi penghasil panas di Malm dan Burlv, dan menghasilkan 600 GWh panas per tahun.

14

Percik Juli 2005

WAWASAN
Partisipasi Masyarakat dalam Mendukung Proyek Penyediaan Sarana Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Permukiman
ada masa pemerintahan orde baru banyak dibangun fasilitas-fasilitas untuk masyarakat menengah ke bawah di seluruh pelosok tanah air. Mulai dari penyediaan air minum, MCK, pompa tangan, jalan, persampahan, dan lain-lain. Tetapi sampai saat ini hampir semua fasilitas tersebut tidak dapat dimanfaatkan. Bahkan fasilitas-fasilitas dan bangunan yang dibangun oleh Dirjen Cipta Karya, khususnya untuk penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan, dikenal dengan sebutan "Monumen Cipta Karya" karena tak lagi berfungsi. Banyak dana yang telah dikeluarkan. Sebagian besar dana berasal dari pinjaman luar negeri. Hal yang sama terjadi pada proyek fisik yang dilaksanakan oleh LSM. Kegagalan proyek atau program tersebut disebabkan oleh kegunaan yang tidak tepat (teknologi tidak sesuai) dan tidak ada partisipasi masyarakat Untuk pelaksanaan proyek-proyek atau program-program penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan permukiman ke depan harus mempertimbangkan partisipasi aktif masyarakat. Peran Serta Masyarakat Peran serta masyarakat yaitu pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan, konstruksi dan pengoperasian proyek. Ini termasuk melibatkan masyarakat dalam: Menentukan tujuan proyek Pengumpulan sumber daya Mendapatkan keuntungan proyek Menilai apakah proyek mencapai tujuannya Mengelola kelanjutan proyek dengan swadaya masyarakat Peran serta masyarakat tidak terjadi dengan sendirinya, karena masyarakat

Oleh: Erik Armundito*)


Juara III Lomba Karya Tulis Ilmiah Penyelenggaraan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, karyawan swasta di Jakarta.

belum pernah merencanakan suatu proyek. Kadang-kadang tidak ada kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Air minum yang mereka minum sehari-hari kebanyakan tidak memenuhi syarat. Demikian juga dengan fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya yang digunakan seharihari. Oleh karena itu masyarakat perlu diberi motivasi dan dorongan untuk dapat berperan aktif pada setiap proyek yang disediakan untuk mereka. Mereka akan turut bertanggung jawab karena merasa memiliki. Dalam hal ini peran fasilitator sangat penting. Fasilitator menjadi penghubung antara pemberi proyek dan masyarakat. Fasilitator bertugas menerjemahkan maksud dan tujuan pemberi proyek kepada masyarakat dan sebaliknya menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemberi proyek. Kita juga dapat melihat bagaimana suksesnya pembangunan dan pengoperasian Tangki AG di Kota Malang yang diprakarsai oleh Agus Gunarto. Hanya dibutuhkan satu orang motivator untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan fasilitas penyehatan lingkungan permukiman. Karena didukung penuh oleh masyarakat setempat maka Tangki AG dapat bertahan hingga sekarang. Prioritas Pelayanan Tidak semua daerah mendapat bantuan proyek penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan permukiman. Hanya daerah-daerah tertentu yang akan

diberi bantuan. Untuk itu perlu ditentukan prioritas pemberian pelayanan dalam bentuk bantuan proyek. Langkahlangkah yang perlu dilakukan adalah: Membuat dan menggunakan kriteria objektif untuk menentukan masyarakat yang diprioritaskan. Yang perlu diperhatikan yakni data, informasi dan masukan tentang kondisi daerah dan kondisi masyarakat sehingga kriteria yang dihasilkan bersifat objektif dan akurat. Berkoordinasi dengan pemerintah dan LSM-LSM lainnya untuk pemilihan daerah atau masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi tumpang tindih bantuan untuk daerah dan proyek yang sama. Merekrut dan melatih fasilitator proyek untuk membantu dalam pendidikan masyarakat dan proses partisipasi. Dalam merekrut fasilitator juga perlu diperhatikan track record atau pengalaman dari calon fasilitator tersebut. Prioritas diberikan sesuai dengan pemilihan yang lebih dipentingkan. Maka perlu ada kriterianya, misalkan kelompok miskin, kelompok perdesaan ataupun lainnya yang lebih butuh saat itu. Contoh : Daerah miskin di mana penghasilan sangat sedikit Daerah di mana fasilitas membutuhkan perbaikan Daerah di mana terdapat peningkatan penyakit Daerah di mana sulit terdapat air dan sarana kesehatan Daerah di mana masyarakatnya mempunyai kebiasaan buruk terhadap kesehatan Untuk daerah yang masyarakatnya berpenghasilan menengah ke atas biasanya kesadaran akan kesehatan ling-

Percik Juli 2005

15

W AWASAN
kungan sudah tinggi. Untuk keperluan fasilitas penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan permukiman mereka tidak ragu mengeluarkan dana untuk membangun fasilitas pribadi maupun fasilitas untuk bersama. Mereka juga sudah mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. Mendorong Peran Serta Bila hasil suatu proyek penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan permukiman kurang baik, tidak tepat sasaran atau tidak dapat berlanjut, perlu diketahui sebab-sebabnya. Ada beberapa sebab yang perlu diperhatikan di antaranya: (i) Perbedaan pandangan antara masyarakat dan pembuat rencana terhadap fasilitas yang akan dibangun; (ii) Titik berat pada bantuan dan bukan pemakaian fasilitas yang berkesinambungan; (iii) Bantuan penunjang yang efektif pada masyarakat sering kurang, terutama sesudah proyek selesai. Agar dapat berpartisipasi aktif perlu diketahui hal-hal apa yang dapat menjadi pemicunya. Biasanya kebutuhan dan keadaan yang mendesak akan mendorong masyarakat berperan serta dalam berbagai proyek bantuan. Misalkan kebutuhan akan air minum. Air minum merupakan kebutuhan pokok manusia yang sangat penting dan diperlukan setiap hari. Masyarakat sangat mengharapkan kemudahan mengakses sumber air minum dan mudah timbul kesadaran untuk membantu setiap usaha dalam membangun fasilitas-fasilitas air minum. Demikian juga terhadap fasilitas-fasilitas penyehatan lingkungan permukiman. Misalkan dengan terjadinya wabah penyakit menular karena kebiasaan yang buruk dari masyarakat, kebutuhan akan fasilitas-fasilitas kesehatan menjadi sangat mendesak. Kondisi-kondisi seperti itu perlu diperhatikan bagi perencana proyekproyek bantuan untuk masyarakat.
FOTO: RHEIDDA P

Kelangsungan Proyek dan Fasilitas Desa atau kampung telah menyediakan perbaikan kesehatan lingkungan. Air untuk minum, mandi, mencuci, kakus maupun perbaikan rumah telah dilaksanakan. Tetapi bagaimanakah pemakaiannya? Apakah memuaskan penduduk? Dapatkah mereka mengelola selanjutnya? Maka penting kiranya memastikan kelangsungan tujuan proyek. Apakah berhenti setelah fasilitas fisik dibangun atau dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan dan dapat dijadikan contoh bagi daerah lainnya. Setelah proyek selesai dan keperluan untuk laporan serta publikasi selesai biasanya fasilitas fisik diserahkan langsung kepada masyarakat untuk dikelola. Pemanfaatan dan pengelolaan fasilitasfasilitas tersebut sering timbul masalah mulai dari lembaga yang akan menangani, biaya operasional, cara pengoperasian alat, sampai kebutuhan akan suku cadang alat. Dari awal masyarakat harus dilibatkan dalam pembentukan lembaga atau oganisasi yang akan mengelola fasilitas-

fasilitas tersebut. Apakah diserahkan kepada perangkat kelurahan, karang taruna, RT setempat, atau dibentuk lembaga baru khusus untuk mengelola. Ini untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Setelah lembaga pengelola terbentuk, masyarakat juga harus dilibatkan untuk menanggung biaya operasional. Kesadaran dan rasa tanggung jawab yang telah tumbuh akan mempermudah menarik iuran dari masyarakat. Sebelum fasilitas fisik selesai dibangun masyarakat perlu diberi pengetahuan caracara untuk mengoperasikan alat-alat yang digunakan seperti pompa tangan, pompa listrik, tangki septik, jamban, dan lain-lain. Nantinya masyarakat bisa langsung mengoperasikan fasilitas itu. Peranan fasilitator dalam menentukan prioritas adalah membantu mempertemukan kesenjangan yang ada antara penduduk dan pembuat rencana. Pekerjaannya adalah membawa masyarakat ke arah perencanaan proyek karena keberhasilan sangat tergantung banyak pada efektivitas pekerjaan sebagai partner yang akan kerja sama.

16

Percik Juli 2005

WAWASAN
Untuk alat-alat yang digunakan secara terus menerus tentu akan menjadi berkurang kinerjanya dan harus diganti suku cadangnya. Kemudahan untuk mendapatkan suku cadang alat-alat tersebut perlu diperhatikan. Pemilihan Fasilitator Perencana proyek biasanya berbicara dengan masyarakat lewat pemimpin setempat (lokal) yang dianggap mewakili masyarakat. Fasilitator pria maupun wanita dapat bekerja dengan pria maupun wanita secara individual maupun dalam kelompok sesuai dengan tugas membawanya ke arah proses perencanaan. Pemilihan fasilitator dapat dilakukan secara terbuka seperti membuka lowongan di surat kabar ataupun secara tertutup dengan merekrutnya langsung. Ataupun dapat meminta referensi dari tokoh masyarakat setempat, perangkat pemerintah setempat dan LSM setempat. Fasilitator dapat diambil dari masyarakat setempat atau di dekatnya. Intinya mereka harus mengetahui situasi daerah itu, dan dapat diterima oleh masyarakat. Untuk daerah dimana masyarakatnya sangat religius fasilitator dapat diambil dari tokoh agama, guru agama, ustad, atau remaja masjid. Untuk masyarakat yang fanatik terhadap salah satu partai politik tertentu maka fasilitator dapat diambil dari fungsionaris partai. Untuk daerah lain yang dominan akan ciri tertentu fasilitatornya harus disesuaikan. Fasilitator harus dapat menjadi pendengar yang baik dalam masyarakat dan mendorong masyarakat untuk mau memberikan pendapat. Pengalaman yang matang dan perilaku yang baik dari fasilitator akan sangat menguntungkan dalam menyukseskan proyek-proyek bantuan di bidang penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan permukiman. Daftar Potensi Organisasi Kesuksesan proyek-proyek bantuan penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan permukiman perlu ditunjang oleh organisasi yang ada di daerah tersebut. Kemungkinan keterkaitan organisasi dengan proyek adalah sebagai mitra yang aktif dan kerja sama dalam proyek, baik dalam pendanaan maupun bantuan moral. Sebaliknya, organisasi itu bisa sebagai penentang. tara lain: (i) menentang proyek dengan mengorganisasi oposisi dalam forum dan perdebatan yang dapat menghambat terlaksananya proyek-proyek bantuan dan (ii) memprovokasi masyarakat untuk menolak proyek-proyek bantuan. Sikap yang harus diambil terhadap organisasiorganisasi penentang tersebut adalah mengakomodasi aspirasi apa yang disampaikan. Oposisi yang jujur dapat dimanfaatkan untuk mengadakan uji coba proposal. Penolakan dapat untuk mengetahui kelemahan dalam perencanaan, pendekatan maupun pelaksanaan. Apabila ada organisasi yang tidak setuju bukan berarti mereka benar-benar menolak. Kemungkinan sebelumnya telah dilaksanakan proyek-proyek bantuan sejenis yang tidak tepat sasaran dan tidak dapat berlanjut. Sumber daya yang telah dikeluarkan masyarakat sia-sia. Hal ini akan menjadi masukan yang sangat baik untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada. Tinggal bagaimana cara pendekatan kepada organisasi-organisasi penentang untuk diyakinkan akan bermanfaatnya proyek-proyek bantuan yang akan dilaksanakan dan tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah ada. Penutup Dari pembahasan diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keberhasilan proyek-proyek bantuan di daerah, khususnya proyek-proyek penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan permukiman, sangat ditentukan oleh partisipasi aktif dan dukungan masyarakat setempat. Demikian juga masalah-masalah khusus yang menjadi ciri daerah atau masyarakat setempat. Walaupun proyekproyek bantuan ditujukan terhadap masyarakat sendiri, pemanfaatan dan pengelolaan secara berkesinambungan juga perlu partisipasi masyarakat. Perlu ada koordinasi antara pemberi bantuan, pemerintah, aparat kelurahan, masyarakat dan organisasi yang ada.

Apabila ada organisasi yang tidak setuju bukan berarti mereka benar-benar menolak. Kemungkinan sebelumnya telah dilaksanakan proyek-proyek bantuan sejenis yang tidak tepat sasaran dan tidak dapat berlanjut.
Oleh karena itu, sebelum memulai proyek bantuan perlu didata terlebih dahulu keberadaan organisasi-organisasi yang ada di daerah tempat proyek bantuan akan berlangsung maupun daerah sekitarnya. Dengan mengenal organisasi yang ada di daerah dengan baik dapat menjadi potensi yang besar dalam membantu terlaksananya proyek. Yang diharapkan dapat dilakukan dari organisasi-organisasi yang menjadi mitra dalam kerja sama antara lain (i) menyiapkan pekerjaan untuk panitia setempat (menginterview, promosi proyek, mencari dana, dsb); (ii) menyediakan dana untuk publisitas, konsultan, dsb; (iii) membolehkan pemakaian nama organisasinya sebagai sponsor, mengikuti satu atau lebih dari program untuk proyek; (iv) membuat pengumuman yang jelas tentang proyek dalam pertemuanpertemuan atau surat selebaran dan menyebarkan bahan pendidikan kepada anggota; (v) mengadakan diskusi dalam pertemuan tentang proyek; (vi) mengorganisasi anggotanya untuk berpartisipasi aktif dalam proyek-proyek bantuan. Sedangkan yang dilakukan organisasi-organisasi yang menjadi penentang an-

Percik Juli 2005

17

WA W A S A N
Kebersihan adalah Investasi

eringkali kita mendengar slogan " Kebersihan adalah Investasi ". Kalimat ini bersifat persuasif bagi masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungannya, yang umumnya dikaitkan erat dengan bidang persampahan. Namun sejauh ini, belum pernah diformulasikan secara jelas, kualitas kebersihan semacam apa yang diharapkan terjadi untuk mendorong suatu investasi, seberapa besar nilai investasi yang mungkin timbul dalam satuan mata uang yang dapat terbentuk akibat suatu parameter kebersihan, atau justru seberapa besar investasi sosial yang sebenarnya terbentuk dalam masyarakat akibat adanya kebersihan ? Parameter Kualitas Kebersihan Mungkin tidak terlalu jelas dan mudah untuk dipahami, kualitas kebersihan macam apa yang diharapkan muncul dalam suatu penataan lingkungan perkotaan. Jumlah tempat sampah rumah yang tersedia, jumlah tempat sampah di tepi jalan, frekuensi pengumpulan dan pengangkutan sampah, keterkumpulan dan keterangkutan sampah, hingga kebersihan sungai yang melalui suatu kawasan merupakan sebagian parameter yang dapat diukur untuk melakukan kuantifikasi dari tingkat kebersihan. Namun, setiap kawasan atau kota, juga memiliki batasan tertentu dalam sistem penanganan sampah yang mendukung kebersihan. Batasan utama haruslah didasarkan atas ketersediaan dana untuk penanganan sistem persampahannya. Sejauh masyarakat mampu dan mau untuk membayar retribusi sampah sesuai dengan kualitas kebersihan yang diinginkan, menjadi tugas pemerintah untuk memformulasikan kuantifikasi kebersihan yang diinginkan oleh masyarakat tersebut. Hal ini dapat diukur dengan membuat suatu perhitungan keadaan ideal, mengenai berapa jumlah dana yang dibutuhkan untuk melakukan investasi sistem

Oleh : Sandhi Eko Bramono, S.T., MEnvEngSc.*)


penanganan sampah yang diinginkan. Ketersediaan dana yang ada harus menjadi tolok ukur, seberapa besar kualitas kebersihan yang diinginkan, ditinjau dari kondisi 100 persen ideal. Jumlah tempat sampah yang harus disediakan harus disesuaikan, frekuensi pengumpulan dan pengangkutan sampah dikurangi berdasarkan keterbayaran masyarakat, keterkumpulan dan keterangkutan sampah disesuaikan dengan jumlah petugas gerobak atau truk sampah yang mampu dibayar oleh masyarakat, hingga kualitas kebersihan sungai yang dapat dijaga agar tetap baik berdasarkan uang yang dapat dibayarkan oleh masyarakat. Mungkin kita dapat mengatakan bahwa Kota A lebih bersih daripada Kota B. Yang menjadi suatu pertanyaan adalah, seberapa besar tingkat keterbayaran masyarakat untuk menghasilkan kualitas kebersihan yang serupa? Keterbayaran yang berbeda, disertai dengan keterbatasan anggaran pemerintah setempat untuk melakukan subsidi, serta kemauan masyarakat untuk menerima kualitas kebersihan yang di-

berikan sebagai suatu jasa dari pemerintah, merupakan hal yang sifatnya relatif pada setiap kota. Simplifikasi yang mungkin dilakukan adalah asumsi bahwa setiap kota memiliki daya bayar yang sama baik dari segi masyarakat mapun pemerintah, serta masyarakat memiliki selera yang sama dalam menghasilkan suatu kualitas kebersihan. Kerancuan dan kesulitan ini dapat dipecahkan dengan membuat kondisi ideal untuk sistem penanganan sampah yang baik dan membuat klasifikasi kualitas kebersihan kota berdasarkan tingkat keterbayaran tadi. Dengan hal tersebut, kita tidak dapat menyalahkan bahwa Kota A lebih bersih daripada Kota B. Hal ini mungkin diakibatkan oleh daya bayar masyarakat Kota B yang lebih rendah daripada masyarakat Kota A. Selain itu, masyarakat Kota B juga tidak perlu untuk merasa iri dengan kualitas kebersihan di Kota A, karena masyarakat Kota B sudah merasa cukup nyaman dengan kualitas kebersihan di kotanya. Oleh karenanya, kuantifikasi kualitas kebersihan kota perlu untuk ditetapkan sehingga dapat menjadi patokan standar yang diinginkan. Di lain pihak, pemerintah pusat juga harus menetapkan pagu biaya minimum sistem peFOTO: POKJA

18

Percik Juli 2005

WAWASAN
nanganan sampah di setiap kota di Indonesia, yang dapat memberikan standar minimum kualitas kesehatan masyarakat dan lingkungan, yang saniter dan higienis. Masuknya Investasi Di lain pihak, masuknya investasi dari luar yang dapat menggerakkan roda perekonomian suatu daerah atau kota, juga dapat ditentukan oleh kualitas kebersihan setempat. Kota dengan letak yang strategis, memiliki pelabuhan udara dan laut yang memadai, memiliki kemudahan dalam aksesibilitas transportasi, serta tersedianya pelayanan jasa yang baik, dapat dipengaruhi pula oleh tingkat kebersihan kota tersebut. Akibat sistem penanganan sampah yang buruk, bukanlah hal yang mustahil, kota dengan fasilitas lengkap tak akan diminati investor. Sebaliknya, kota yang memiliki penanganan sampah yang baik, kualitas sungai terjaga dan bersih, keterkumpulan dan keterangkutan 100 persen sampah tercapai setiap hari, tidak terletak di kawasan yang strategis, tidak memiliki pelabuhan udara dan laut yang memadai, tidak memiliki kemudahan dalam aksesibilitas transportasi, serta tidak tersedianya pelayanan jasa yang baik, juga belum tentu akan memberikan keinginan investor untuk masuk. Dalam hal ini, diperlukan suatu analisis biaya yang akurat, untuk menentukan tingkat biaya investasi serta biaya pengoperasian-pemeliharaan-perawatan sistem persampahan yang dibutuhkan untuk menjamin investor dapat berinvestasi di sana. Setiap kota tidak membutuhkan biaya yang sama karena setiap kota adalah spesifik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Tidak perlu mengharapkan kualitas kebersihan di Kota C sama dengan Kota D. Dengan biaya yang spesifik dan berbeda pada kedua kota tersebut, kota harus tetap mampu untuk memberikan investasi yang diharapkan untuk terjadi di kota tersebut, dan tidak

Masuknya investasi dari luar yang dapat menggerakkan roda perekonomian suatu daerah atau kota, juga dapat ditentukan oleh kualitas kebersihan setempat.
terjadi di kota lain. Hal ini juga akhirnya akan meringankan masyarakat selaku produsen sampah dalam membayar retribusi sampah, serta meringankan pemerintah setempat dalam memberikan subsidi untuk sistem penanganan sampah. Investasi Sosial Tingkat kebersihan pada setiap kota tentu akan memberikan dampak terhadap kualitas kesehatan dan lingkungan masyarakat sekitar. Pemerintah harus dapat menghitung, berapa investasi sosial yang terjadi dalam masyarakat akibat penanganan sistem persampahan yang baik. Sebagai permisalan, dengan adanya sistem penanganan sampah yang baik maka akan terjadi reduksi epidemi penyakit yang diakibatkan oleh lalat dan tikus sebagai vektornya, akan terjadi reduksi epidemi penyakit Infeksi Saluran Pernafasan bagian Atas (ISPA), akan timbul sarana-sarana rekreasi masyarakat, akan timbul usaha-usaha dagang masyarakat, bahkan timbul pembelajaran dan kesadaran masyarakat akan nikmat dan pentingnya suatu kondisi lingkungan yang bersih. Hal - hal ini merupakan parameter yang dapat dikuantifikasikan dalam suatu satuan nilai mata uang. Uang yang semula digunakan untuk membayar biaya pemeriksaan kesehatan akibat penyakit yang ditimbulkan oleh sampah, akan tersubstitusi sebagai biaya untuk membeli makanan dengan tingkat gizi yang lebih baik. Friksi sosial akibat penanganan sampah yang buruk, seperti yang terjadi di TPST ( Tempat Pengolahan Sampah Terpadu ) Bojong di Jakarta,

serta peristiwa longsornya IPS ( Instalasi Pengolahan Sampah ) Leuwigajah di Bandung, tidak akan terjadi lagi. Hal ini mengakibatkan masyarakat tidak perlu membayar biaya sosial yang diakibatkan oleh kerusuhan atau bencana akan sampah. Batasan Investasi Seberapa besar biaya yang harus disediakan oleh masyarakat dan pemerintah untuk mensubsidi sistem penanganan sampah yang baik, sangat ditentukan oleh tiga faktor, yaitu daya bayar masyarakat, daya subsidi pemerintah, serta keinginan masyarakat untuk memperoleh kualitas kebersihan yang diinginkan. Pemerintah haruslah menetapkan, standar minimum biaya sistem penanganan sampah yang akan memberikan minimalisasi dampak negatif terhadap kualitas kesehatan masyarakat sekitar dan lingkungannya. Setiap pemerintah daerah tentunya telah menetapkan tingkat kebersihan yang diinginkan di wilayahnya, dengan mempertimbangkan tiga faktor di atas. Oleh karenanya, pemerintah pusat harus memberikan batasan minimum biaya serta kualitas kebersihan minimum yang akan diterapkan di daerah. Patokan yang paling mudah dan mendasar yaitu berapa biaya investasi maupun biaya pengoperasian-pemeliharaan-perawatan sistem penanganan sampah yang akan dirancang sehingga mampu memberikan standar minimum kualitas kesehatan masyarakat dan lingkungan, yang saniter dan higienis. Dengan demikian, slogan "Kebersihan adalah Investasi", dapat terfomulasikan dan terjabarkan dengan lebih baik serta lebih terukur.
*) Penulis adalah alumnus program pascasarjana School of Civil and Environmental Engineering, UNSW, Australia; anggota InSWA ( Indonesian Solid Waste Association ) dan anggota IATPI, saat ini bekerja sebagai UNDP Technical Consultant for Waste Management in Maluku and North Maluku Recovery Programme.

Percik Juli 2005

19

WAWASAN
Penyediaan Air Bersih: Tantangan Kini dan Akan Datang

ir bersih merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Di sisi lain, ketersediaannya makin berkurang karena degradasi ekosistem. Kuantitas dan kualitas sumberdaya air di Indonesia kondisinya semakin hari semakin memprihatinkan. Tidak heran bila krisis air mulai melanda daerah-daerah seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan daerah-daerah padat pembangunan lainnya, terutama pada musim kemarau. Ketersediaan air bersih dirasakan semakin langka, bahkan di beberapa kota air bersih diperjualbelikan secara komersial. Undang-undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (UU SDA) menegaskan bahwa komersialitas air dibatasi hanya sebagai balas jasa atas upaya pengolahan air hingga layak pakai. Perusahaan-perusahaan air minum milik pemerintah tampaknya patuh dan konsekuen terhadap pelaksanaan UU SDA tersebut. Bagaimana halnya dengan masyarakat umum? Air minum kemasan yang diproduksi swasta diperjualbelikan di tempat-tempat umum. Adakah tolok ukur harga yang pantas sebagai balas jasa pengolahan air baku hingga menjadi air bersih dan/atau air minum? Tantangan Penyediaan Air Bersih Penanganan krisis air bersih di daerahdaerah padat pembangunan harus dimulai dengan perubahan sikap mental masyarakat dalam memanfaatkan lingkungan hidup di sekitarnya. Perlu kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara keseimbangan antara lingkungan alamiah dan lingkungan hidup manusia. Hutomo mensinyalir ada yang keliru dalam kebijakan tata ruang di Indonesia, terutama tata ruang di daerah-daerah padat pembangunan. Persoalan kepatutan (cocok, selaras) dan kepatuhan terhadap tata ruang belum melembaga di masyarakat.

Oleh: Herry Suhermanto


Hutomo mencatat potensi sumberdaya air di Indonesia tahun 2005 diperkirakan 15.000 m3/kapita/tahun, melebihi rata-rata potensi pasokan dunia yang hanya sebesar 8.000 m3/kapita/tahun. Namun demikian, potensi pasokan sumberdaya air tersebut cenderung menurun. Potensi pasokan air di Jawa, contohnya, pada tahun 1930 diperhitungkan 4.700 m3/kapita/tahun, pada saat ini potensi tersebut hanya tinggal sepertiganya atau sebesar 1.500 m3/kapita/tahun. Dari potensi tersebut 35 persen di antaranya layak dan ekonomis untuk dikelola. Dengan potensi aktual yang hanya sebesar 400 m3/kapita/tahun, maka penduduk di Pulau Jawa harus berhemat dalam pemanfaatan sumberdaya airnya. Potensi tersebut jauh di bawah angka standar minimum Persatuan Bangsabangsa (PBB) yaitu 1.100 m3/kapita/ tahun. Berdasarkan standard PBB tersebut dan dengan proyeksi penduduk Indonesia pada tahun 2015 yang mencapai 248,2 juta orang, potensi sumberdaya air yang perlu dipersiapkan pada tahun 2015 adalah 273,0 milyar m3. Sementara itu, permintaan air bersih Indonesia 20002015 tumbuh rata-rata sebesar 6,7 persen per tahun. Dengan asumsi 50 persen potensi sumberdaya air layak dan ekonomis dikelola, pada tahun 2015 setidaknya ada 136,5 milyar m3 air baku. Sedangkan dengan pertumbuhan permintaan rata-rata 6,7 persen/tahun, kebutuhan air bersih tahun 2015 (dengan asumsi 400 liter/ kapita/hari) diperkirakan mencapai 61,3 milyar m3. Selain untuk air bersih, potensi sumberdaya air juga dimanfaatkan sebagai air baku untuk pertanian dan berbagai usaha masyarakat lainnya. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), 62,5 persen air baku digu-

nakan untuk kepentingan pertanian. Apabila secara nasional 60 persen saja air baku dimanfaatkan untuk pertanian dan kegiatan usaha lainnya, maka air baku yang tersisa untuk air bersih hanya sebesar 54,6 milyar m3. Dalam hal ini, mampukah kita melindungi dan menyiapkan potensi sumberdaya air sehingga permintaan air bersih tahun 2015 tersebut dapat terpenuhi? Saat ini, kebutuhan air bersih masyarakat perkotaan dan perdesaan di Indonesia 70 persen di antaranya dipenuhi melalui pemanfaatan air tanah. Repotnya, 90 persen kebutuhan air untuk industri dipasok dengan memanfaatkan air tanah pula. Pemanfaatan air tanah yang tinggi merusak lingkungan hidup, dan menunjukkan tidak efektifnya pelayanan lembaga pemasok air di Indonesia. Oleh karena itu, pengelola harus memperhatikan fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi dari sumberdaya air. Di era otonomi daerah kini, pemda perlu meningkatkan kerja sama antar daerah dalam menyikapi pengelolaan sumber daya air yang menjadi hajat bersama. Tanpa kesadaran bersama akan arti penting fungsi hutan (sebagai pengatur tata air, pengendali erosi, pelindung plasma nutfah dan kekayaan hayati lainnya, dan penyedia oksigen) bukan tidak mungkin potensi sumberdaya air dari suatu DAS akan mengalami gangguan. Kebijakan penataan ruang hendaknya mengakomodasi pengembangan DAS terpadu dengan memperhatikan berbagai kepentingan. Tantangannya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan penyediaan air baku secara berkelanjutan. Jargon-jargon seperti terpadu, holistik, komprehensif, dan terintegrasi di sekitar penyediaan air baku berpatokan pada pendekatan "one river, one plan, and one management system" harus diwujudkan.

20

Percik Juli 2005

WA W A S A N
Alternatif Teknologi Teknologi merupakan elemen yang menentukan dalam penyediaan air bersih yang memenuhi standar kesehatan. Dr. Bismo yang melaksanakan program RKDM tahun I, 2004-2005 mengaji pengembangan teknologi penyediaan air bersih berdasarkan beberapa pendekatan, yakni melalui pemanfaatan teknologi membran, teknologi ozon, dan teknologi zeolit. Perihal teknologi yang ditawarkan, Bismo menguraikan penelitiannya terhadap zeolit alam klinoptilolit. Jenis zeolit yang pertama ditemukan di alam adalah stilbit pada tahun 1756 yang dimanfaatkan sebagai penyaring molekular. Saat ini telah ditemukan sekitar 45 jenis zeolit alam, dan rekayasa sintetis menghasilkan lebih dari 150 jenis turunannya. Bentuk mikronya yang berongga bermanfaat sebagai penyaring, penyerap, penukar ion, dan katalis molekular. Zeolit ini bermanfaat langsung untuk mengatasi limbah cair dan untuk pengolahan air hingga menjadi air bersih dan air minum. Potensi zeolit alam klinoptilolit di Indonesia cukup besar, bahkan di Lampung tersedia dengan tingkat kemurnian lebih dari 75 persen. Teknologi membran merupakan bentuk lain dari upaya penyaringan dan difusi serapan suatu fluida. Teknologi ini lebih unggul dibandingkan teknik evaporasi dan destilasi karena perubahan fase tidak diperlukan (panas laten tidak terbentuk). Ia bahkan mampu melakukan proses lanjutan (endogenized) seperti pemekatan, fraksionasi, dan pemurnian produk. Teknologi ini diaplikasi sejak tahap pengolahan primer hingga ke tahap pengolahan lanjut air, seperti nanofiltrasi dan penyisihan ion (desalinasi air laut). Seperti halnya teknologi membran, teknologi ozon mempunyai kemampuan terap yang cukup luas. Ozon sendiri merupakan senyawa O3 yang tidak stabil, berumur singkat (5-30 menit), dan harus dibuat insitu. Manfaat ozonpun cukup bervariasi diantaranya dapat membersihkan polutan dalam air dan udara, dapat menyisihkan warna, dan dapat membunuh bakteri (proses lysis), virus, dan protozoa. Penerapan teknologi yang tepat guna di suatu daerah tergantung kepada kesiapan pemerintah daerah dalam pengelolaan air (penyediaan kuantitas dan kualitas air baku) termasuk penyediaan jaringan infrastruktur pendukungnya. Secara teknis, Bismo merekomendasikan teknologi ozon, dengan katalis zeolit alam, karena sebagai disinfektan cara ini enam kali lebih kuat dari pada menggunakan Chlor selain menghasilkan sedikit residu. Di samping itu, teknologi ini tidak memerlukan energi yang terlalu besar, dapat dimodifikasi dan dibuat di Indonesia. Kelemahan dari penggunaan teknologi ozon diantaranya adalah perlunya dukungan kualitas SDM yang cukup tinggi, penanganan yang hati-hati, dan investasi yang relatif tinggi. Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih Berdasarkan uraian di atas, potensi sumber daya air tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan. Tantangan 2015 tersebut sebenarnya sudah mulai dirasakan saat ini dengan masih rendahnya tingkat kemampuan penyediaan air bersih untuk masyarakat yang hanya menjangkau 30 persen penduduk. Persoalannya bertumpu pada keterbatasan kemampuan manajerial pengelola air dan keterbatasan pengadaan air baku. Penanganannya tidak bisa diselesaikan secara sektor air bersih saja, namun diperlukan pendekatan komprehensif dan terpadu didukung oleh inovasi teknik pengolahan air yang tepat guna. Teknologi tepat guna dengan kandungan lokal diperlukan bagi penyediaan air di daerah yang belum terjangkau jaringan pelayanan air bersih. Upaya pemenuhan kebutuhan air bersih hendaknya dilihat dari sisi permintaan (kebutuhan) dan penyediaan (pasokan). Pasokan air versi Pekerjaan Umum (PU) berpegang pada prinsip "warung jamu," yang merupakan singkatan dari waktu, ruang, jumlah, dan mutu. Dari sisi permintaan, upaya diorientasikan kepada pengurangan pemanfaatan air yang sia-sia, atau diarahkan kepada pemanfaatan air yang efisien dan efektif. Melalui pendekatan demand management dilakukan penghematan air pada sumbernya-termasuk perlindungan kawasan di sekitar mata air--penghematan air pada jaringan distribusinya, dan penghematan air oleh penggunanyapenggunaan kran, toilet, dan air marjinal (water recycle). Kesimpulan dan Rekomendasi Masyarakat umumnya menanti langkah praktis dan operasional dari aparatur dalam upaya penyediaan air bersih. Pemanfaatan air tanah memang merupakan langkah yang praktis, namun bukan merupakan penyelesaian terbaik. Dalam memanfaatkan air tanah ini perlu dipertimbangkan dampak lingkungannya. Sementara penyediaan air baku melalui air permukaan perlu mempertimbangkan tatanan ruang yang dapat mengamankan recharged area suatu DAS. Tata ruang diharapkan dapat menjadi kunci penyelesaian bagi persoalan penyediaan air baku untuk mengatasi krisis air bersih. Tata ruang yang telah mendapat legitimasi publik perlu diperkuat melalui komitmen sosial dari masyarakat itu sendiri, terutama dalam mengembalikan fungsi hutan sebagai pelindung DAS. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang dapat mendorong pengamanan DAS sehingga air baku tersedia secara berkelanjutan. Bekerja di Bappenas
*)

Percik Juli 2005

21

WA W A S A N
Implementasi Konsep Capacity Building dalam Perusahaan Daerah Air Minum
emberlakuan Undang-undang Otonomi Daerah Nomor 22 /1999 dan Nomor 25/1999 dimaksudkan untuk mempercepat akses pembangunan di daerah. Setiap daerah pada prinsipnya dapat menentukan struktur organisasi pemerintahan dan memiliki otoritas untuk mengelola sumber daya manusia. Sistem penyaluran dana dari pemerintah pusat ke daerah juga mengalami perubahan yang mendasar dan lebih transparan, yaitu apa yang dikenal dengan Dana Alokasi Umum (DAU). Setiap Pemda dapat menentukan alokasi pengeluaran dana sesuai dengan kebutuhan dan prioritasnya. Proses jalannya pemerintahan di daerah beralih menganut asas desentralisasi di hampir semua sektor pembangunan kecuali politik, keamanan dan pendidikan nasional. Secara praktis proses desentralisasi mengandung maksud memberikan tanggung jawab kepada Pemda untuk meningkatkan dan menyempurnakan fungsi pelayanan publik dengan cara merespons kebutuhan lokal, melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan memperpendek jenjang birokrasi dalam melaksanakan pelayanan. Dalam konteks pembangunan infrastruktur air minum, telah terjadi perubahan paradigma dalam pengelolaan penyediaan air minum. Untuk hal tersebut, pendekatan yang komprehensif mesti dilakukan agar pengelolaan pelayanan air minum semakin berkualitas dan mampu memenuhi harapan masyarakat dan stakeholder di masa datang secara efektif dan efisien. Pendekatan komprehensif dimaksud, tidak lain adalah penerapan konsep Capacity Building (pengembangan kapasitas) organisasi dalam upaya meningkatkan kinerja pela-

Oleh: Abdul Gani*)


yanan, terutama bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sekilas Konsep "Capacity Building" Konsep Capacity Building menurut GTZ (German Technical Cooperation) dalam bukunya "Capacity Building Needs Assessments in the Regions- Process Guideline" 2002, diartikan suatu proses yang meningkatkan kemampuan dari orang-orang, organisasi atau sistem untuk mempertemukan manfaat dan sasaran suatu organisasi.

bungan untuk diterapkan, dimonitor dan dievalusi terhadap rencana tindakan. Menurut konsep dan kajian dalam simposium UNDP (1991), bahwa Capacity Building terdiri atas empat komponen : 1. Penguatan Lingkungan (policy and legal framework) 2. Pengembangan Institusi (institutional development) 3. Pengembangan SDM (human resources development) 4. Pengaturan dan kesinambungan keuangan (arranging for the sustainable funding) Implementasi Pendekatan Capacity Building A. Aspek Penguatan Lingkungan Berdasarkan pengamatan dan kondisi objektif Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia saat ini, maka langkah awal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kapasitas PDAM, ada tiga hal pokok: 1. Meninjau ulang seluruh perangkat hukum (legal framework) mulai dari Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Keputusan Menteri, Instruksi Presiden maupun Peraturan Daerah yang masih dipedomani saat ini, apakah masih relevan terhadap tuntutan perubahan lingkungan yang sedang dan akan terjadi di masa datang. Produk yang diharapkan antara lain UU BUMD, iklim yang kondusif, dan peraturan pelaksanaan UU SDA. 2. Melakukan evaluasi dan penilaian terhadap perangkat kebijakan pemerintah (government policy) yang diberlakukan apakah mampu mendorong peningkatan kinerja PDAM.

Dalam konteks pembangunan infrastruktur air minum, telah terjadi perubahan paradigma pengelolaan penyediaan air minum. Untuk hal tersebut, pendekatan komprehensif mesti dilakukan agar pengelolaan pelayanan air minum makin berkualitas.
Selanjutnya secara detail Capacity Building dapat didefinisikan sebagai suatu proses untuk meningkatkan kemampuan dari individu, kelompok, organisasi atau masyarakat untuk ; (i) menganalisa lingkungannya, (ii) identifikasi masalah, kebutuhan, wacana dan kesempatan, (iii) formulasi strategi untuk mengenali masalah, wacana, dan kebutuhan dan peluang yang relevan, (iv) disain rencana tindakan dan (v) penggunaan sumberdaya secara efektif dan berkesinam-

22

Percik Juli 2005

W AWASAN
FOTO: ISTIMEWA

3. Unsur eksekutif (pemerintah pusat) dan legislatif (DPR-RI) saling bekerjasama secara proaktif dengan melibatkan komponen masyarakat terhadap penyusunan draft peraturan pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Hal ini penting karena berimplikasi terhadap pengembangan kapasitas infrastruktur air minum dan sanitasi pada umumnya. Berbagai produk hukum yang berhubungan dengan "Sistem Penyediaan Air Minum" sudah saatnya untuk dikaji ulang sesuai dengan paradigma baru pelayanan air minum saat ini, terutama i) Tata Cara Kerjasama BUMD dengan Pihak Ketiga (Permendagri No. 4/1999), ii) Mekanisme Pelaksanaan Pinjaman Daerah (PP Nomor 107/2000), iii) Pedoman Tarif Air Minum (Permendagri Nomor 2/1998), iv) Pedoman Penilaian Kinerja PDAM (Permendagri No. 4/1999) dan produk hukum lainnya yang dinilai sudah perlu dilakukan perubahan/penyempurnaan, agar secara operasional manajemen PDAM mampu menjawab harapan pelanggan (customer expectation) dan harapan stakeholder (stakeholder expectation). B. Aspek Pengembangan Institusi Untuk mencapai sasaran mengembangkan paradigma baru pelayanan air minum yang berkualitas, yang paling mendasar adalah "manajemen" menciptakan nilai (value creation) terhadap setiap produk layanan yang akan diberikan kepada masyarakat. Hal itu dapat dicapai antara lain melalui proses "pembelajaran organisasi/learning organization". Strategi pengembangan kapasitas PDAM (PDAM's capacity building) semestinya dilakukan dengan pendekatan multidimensi, meliputi pemahaman terhadap (i) Visi dan misi, (ii) Strategi, (iii) Budaya Kerja, (iv) Sumber Daya Informasi, (v) SDM, (vi) Keuangan, dan (vii) Kepemim-

pinan Kolaboratif . Strategi organisasi yang tidak kalah pentingnya untuk dilakukan manajemen PDAM adalah model interaksi secara intensif yang didukung data/informasi yang akurat, dijadikan modal dasar untuk berkomunikasi dengan stakeholder dan pelanggan dengan memperhatikan kebutuhan masing-masing pihak. Hal dimaksud bisa dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi baik formal maupun informal. Dengan strategi komunikasi yang demikian, diharapkan PDAM mampu menangkap harapan pelanggan (customer expectation) dan merefleksikan dalam kegiatan operasional sehari-hari. Dukungan penguatan institusi bidang infrastruktur air minum, seperti Dewan Sumber Daya Air (amanat UU-SDA) yang dalam operasionalnya mampu melakukan apa yang dikenal dengan "Water Resources Management", salah satunya dapat memberikan peluang terhadap keamanan dan kesinambungan pasokan air baku bagi PDAM. Anggota dewan tersebut sebaiknya melibatkan semua komponen, baik eksekutif, legislatif, yudikatif maupun representasi masyarakat dalam menyelesaikan dan menangani masalah air.

Mekanisme koordinasi secara formal dalam pemgembangan sistem penyediaan air minum di daerah khususnya, menjadi isu penting untuk diperhatikan oleh setiap kepala daerah. Sebagai contoh, penyusunan "Corporate Plan PDAM" yang sudah ada hendaknya mengacu pada "Master Plan Penyediaan Air Minum di Tingkat Propinsi/Kota/Kabupaten" . C. Aspek Pengembangan SDM Untuk menciptakan personil PDAM yang berkualitas dan profesional yang mampu menghadapi tantangan masa depan yang relatif kompleks dan dinamis, maka paradigma lama dalam pembinaan dan pengembangan SDM yang bernuansa birokratis, sebagai contoh penilaian prestasi pegawai melalui penilaian DP3 (Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan) sudah tidak sesuai lagi dan segera harus dipertimbangkan dengan sistem penilaian pegawai yang berbasis prestasi kerja yang memenuhi kriteria yang jelas, dapat diukur dan objektif (Performance Appraisal System). Sedangkan untuk mendapatkan kepemimpinan PDAM masa depan yang handal dan memiliki jiwa kewirausahaan,

Percik Juli 2005

23

WA W A S A N
tidak lain model pengangkatan dan pemberhentian Direksi PDAM tidak lagi sekedar ditentukan oleh Kepala Daerah maupun pihak DPRD, tetapi dasar pemilihan manajemen PDAM sudah semestinya menerapkan sistem "Fit and Proper Test". Tipe kepemimpinan yang dapat membawa perubahan PDAM adalah tipe kepemimpinan yang tidak "birokratif", namun bersifat kolaboratif, inovatif dan mampu merespon dan memahami perubahan lingkungan yang akan berpengaruh terhadap kesinambungan PDAM. Pembinaan pegawai PDAM masa depan tidak bersifat instruksional tetapi bersifat pemberdayaan (empowerment) dan format penyelesaian pekerjaan berfokus pada "Team Work Building" tidak sekadar mengandalkan kemampuan individual. Perubahan lingkungan eksternal maupun internal PDAM dalam 5 - 10 tahun relatif akan lebih cepat dan sulit untuk diprediksi. D. Aspek Kesinambungan Keuangan dan Operasional Pembangunan dan pengembangan infrastruktur air minum tidak terlepas dari aspek kesinambungan dukungan manajemen sumber daya keuangan (financial resources management). Mencermati struktur keuangan daerah pasca diberlakukannya kebijakan otonomi daerah, dapat disimpulkan bahwa sumber dana dari pemerintah pusat untuk pelayanan air minum semakin langka. PDAM sudah saatnya diberikan kewenangan dan dukungan penuh dalam mengelola perusahaan dengan berbagai perangkat kebijakan/peraturan daerah, khususnya yang berkaitan dengan mekanisme pengelolaan sumber daya keuangan. Peningkatan kinerja dan kesinambungan usaha PDAM, sangat ditentukan oleh kebijakan tentang tarif air minum. Mekanisme pemberlakuan dan penetapan tarif air yang belum didasarkan atas semangat kewirausahaan dan mengabaikan prinsip-prinsip ekonomi perusahaan, akan mengakibatkan kinerja pelayanan yang diberikan PDAM tidak akan mampu menjawab harapan pelanggan dan tuntutan perubahan lingkungan perusahaan. Untuk itu diperlukan reformasi kebijakan penetapan tarif air yang secara dinamis mampu merespon kecepatan perubahan lingkungan eksternal dan internal PDAM, agar manajemen operasional dapat berjalan dengan lancar dan dapat mencapai sasaran yang diinginkan oleh stakeholder secara optimal. Di samping masalah kebijakan tarif air, masih ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam mempertahankan dan meningkatkan sumber daya keuangan PDAM, antara lain ; Perangkat hukum/kebijakan pemerintah daerah yang mengatur sistem dan prosedur tentang investasi dalam sistem penyediaan air minum. Ketentuan yang mengatur tentang pajak/retribusi air permukaan (air baku). Ketentutan yang mengatur tentang kontribusi PDAM terhadap PAD. Pedoman pelaksanaan pengelolaan asset PDAM. Perangkat kebijakan pemerintah daerah (local government policy) yang bersentuhan dengan pengembangan kapasitas sumber daya keuangan PDAM diharapkan dapat sinergi dengan sasaran yang telah digariskan pada "Corporate Plan PDAM" dalam pengembangan pelayanan air minum yang berorientasi pada konsep "Full Cost Recovery". Untuk memperkuat dan meningkatkan kinerja keuangan PDAM, menjalin kerjasama dengan pihak swasta (private public partnership) perlu aturan main yang jelas, transparan dan akuntabel. Untuk itu sistem dan pola kemitraan PDAM dengan swasta perlu didorong dengan perangkat kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang tidak tumpang tindih dan memberikan peluang masuknya investasi dalam sektor air minum.
i)Team Leader Sistem Benchmarking-PERPAMSI ii) Consultant PT. IHE (Infrastruktur Hidro & Ekologi, Indonesia)

24

Percik Juli 2005

W AWASAN
Banjir dan Longsor di Musim Hujan Kekeringan di Musim Kemarau
(Dilema Program Air Minum untuk Masyarakat Perdesaan)
emerintah Indonesia sudah bertekad menurunkan jumlah penduduk yang belum memiliki akses ke sarana air minum menjadi separuh dari posisi saat ini. Tekad ini merupakan upaya mewujudkan salah satu kesepakatan internasional (Johanessburg summit, 2002) yang tertuang dalam Millennium Development Goals. Untuk memberikan arahan pada pencapaian sasaran, pemerintah menyusun kebijakan nasional dengan tujuan umum meningkatkan kesejahteraan melalui pembangunan bidang air minum dan penyehatan lingkungan, sedangkan tujuan khususnya mewujudkan keberlanjutan dan efektifitas sarana yang dibangun. Pada saat ini Kebijakan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BM) sudah dioperasionalisasikan di tujuh propinsi dan tujuh kabupaten, termasuk Propinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Kebumen. Artikel ini lebih memfokuskan pada analisis permasalahan di Propinsi Jawa Tengah, namun keberlakuannya juga untuk yang lainnya. Kondisi Kini Di seluruh Indonesia pada saat ini ada lebih dari 100 juta penduduk yang belum memiliki akses air bersih, yang berarti hampir 5 kali penduduk Malaysia atau Australia. Dari penduduk yang belum memperoleh akses air bersih, sebagian besar berada di perdesaan baik di Jawa maupun luar Jawa. Secara umum tingkat kesejahteraan masyarakat yang belum memiliki akses air bersih buruk. Gejala ini paralel dengan jenis penyakit yang secara umum diidap masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih, seperti diare, penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan bagian atas, dan sebagainya.

Oleh: Alma Arief *)


Pemerintah sudah melakukan berbagai program untuk mengintervensi kesulitan akses air bersih. Investasi untuk itu-- di luar dana hibah melalui lembaga internasional--tentu sangat besar, dan dilakukan melalui berbagai departemen seperti Depdagri, Depkes, dan Dep. Pekerjaan Umum. Akan tetapi, berbagai sarana yang dibangun baik dengan sistem perpipaan gravitasi, sistem pompa, sumur gali, sumur bor, penampungan air hujan, dan sebagainya, banyak yang tidak berkelanjutan. Angkanya tercatat 64 persen dan ini termasuk tinggi. Kendala Keberlanjutan Ada berbagai faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sarana. Yang paling menonjol adalah berfungsi atau tidaknya lembaga pengelola sarana air, dan ada tidak iuran untuk pemeliharaan, pengembangan, dan perbaikan kerusakan besar. Secara umum, pemakai sarana hanya melakukan iuran untuk pemeliharaan atau kerusakan ringan, atau bahkan tidak melakukannya karena kelembagaan pengelola tidak berfungsi. Untuk melakukan iuran sampai tingkat pengembangan apalagi pemulihan biaya investasi, sangat kurang. Keberlanjutan sarana pada dasarnya ditentukan oleh lima variabel besar. Interaksi antara kelima variabel tersebut dikonseptualisasikan ke dalam pentagonal keberlanjutan layanan dan sarana air minum. Pada masing-masing sudut pentagon adalah variabel penentu keberlanjutan sedangkan di pusatnya adalah keberlanjutan pembangunan air minum. Kelima variabel tersebut, selain kelembagaan dan keuangan (iuran), adalah lingkungan, sosial-budaya, dan teknologi.

Kelima variabel tersebut dalam berbagai kajian tidak selalu tampak secara serentak sebagai variabel yang menentukan keberlanjutan, tetapi sifatnya kasus per kasus. Di Jawa Tengah, faktor lingkungan cukup dominan dan bahkan menjadi fokus pemecahan masalah menurunnya kapasitas sumber dan permukaan air tanah. Di Kabupaten Sumba Timur masalah sosial budaya yang berpangkal pada sistem kasta yang sangat ketat menjadi variabel utama tidak berlanjutnya sarana air minum. Sedangkan variabel teknologi, utamanya kemudahan untuk mengoperasikan dan kesesuaian dengan kondisi lingkungan, juga menjadi variabel yang berpengaruh yang bisa ditemui di mana-mana . Faktor Lingkungan Di Jawa Tengah pada umumnya, variabel lingkungan sangat menonjol. Hal itu tampak dari hasil lokakarya akhir-melibatkan stakeholders--setelah melakukan diseminasi dan operasionalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BM) selama enam bulan. Di Jawa Tengah, utamanya di Kabupaten Kebumen, salah satu isu strategis yang juga merupakan prioritas utama adalah degradasi lingkungan di daerah tangkapan dan resapan air yang mengakibatkan menurunnya permukaan dan kapasitas sumber air. Program strategis yang diajukan peserta lokakarya untuk menanggulangi masalah adalah melaksanakan Gerakan Nasional Rehabilitasi Lingkungan Hidup dengan lebih mengkhususkan pada penghijauan hutan-hutan yang gundul. Pengaruh lingkungan-- baca kerusakan ekosistem di wilayah tangkapan air-sangat nyata dan mudah dipahami orang awam. Waduk Sempor di Kebumen,

Percik Juli 2005

25

W AWASAN
FOTO: SUTOTO

sebagai contoh, proses pendangkalannya sangat cepat karena air yang masuk waduk membawa sejumlah besar material sedimen. Sarana air, berupa bak penampung ambrol terbawa longsor. Selain itu, sumber-sumber air mengalami kekeringan di musim kemarau, padahal pada masa lalu hal seperti itu tidak pernah terjadi. Informasi dari Bappeda dan juga dinas PU Kab. Kebumen mengungkapkan bahwa jumlah desa yang mengalami kekeringan selalu bertambah. Tahun 2004 mencapai 84 desa, bertambah empat desa dibanding tahun lalu yaitu 80 desa. Sedangkan sepuluh tahun yang lalu baru 70 desa yang mengalami kekeringan di musim kemarau. Yang tidak kurang mengerikan adalah setiap musim hujan, banjir dan longsor terjadi di mana-mana, karena butir air hujan langsung jatuh menghantam tanah, menjadi run off, kurang meresap ke dalam tanah. Fenomena kerusakan wilayah tangkapan air terjadi di beberapa kabupaten di Jawa Tengah. Kerusakan terjadi karena dua sebab utama, yaitu penebangan hutan di lereng-lereng gunung yang mestinya sudah menjadi hutan lindung untuk konservasi sumberdaya air dan lahan, dan penggantian hutan heterogen menjadi

hutan homogen dengan tanaman pinus. Untuk mendapatkan uang dalam jumlah lebih banyak dan cepat, Perhutani membabat hutan yang semula heterogen, menggantinya menjadi hutan tanaman industri dengan tanaman tunggal "pinus". Sudah menjadi karakter pohon pinus yang daunnya runcing, tidak mampu menahan air hujan. Butir-butir air dari angkasa lolos langsung menghantam bumi dan airpun langsung menjadi run off, sebab tanah di sekitar tanaman pinus kurang meresapkan air. Meskipun tanaman pinus lebih bernilai ekonomi, dampaknya sangat mengorbankan ekosistem dan masyarakat yang tinggal di perdesaan. Di Kebumen pernah dilakukan studi mengenai hal itu yang dilakukan di empat desa dengan menggunakan metode analisis kecenderungan. Dari hasil studi di Desa Ginandong, Glontor, Kajoran, dan Kabakalan, terungkap bahwa penggantian tanaman hutan heterogen menjadi hutan pinus, memang berpengaruh pada mengeringnya sumber air di desa-desa sekitar. Di desa lain, yaitu Desa Kalireja, Kecamatan Karanggayam, dampaknya lebih mengenaskan karena menyangkut penghidupan masyarakat. Kini bila musim kemarau Desa Kalireja menjadi kering ke-

rontang. Pada masa lalu pancuran yang menjadi sumber air penduduk bisa mengucurkan air sebesar gelas, sedangkan saat ini sudah menyusut sangat tajam, tinggal sebesar ballpoint (sumber informasi: kepala desa dan peninjauan langsung). Menyusutnya air ternyata bersamaan dengan rusaknya ekosistem Desa Kalireja. Pada masa lalu Desa Kalireja bisa panen padi dua kali, sekarang hanya satu kali. Tanaman tembakau yang tumbuh subur di tanah yang relatif kurang air, sekarang meskipun masih tumbuh, kualitasnya sangat buruk sehingga harganya sangat murah. Selain itu, pada musim kemarau penduduk juga mengalami kesulitan mendapatkan rumput untuk ternaknya. Untuk mendapatkan rumput bagi sapinya, penduduk menjual kambing, dan bersama-sama mereka menyewa truk untuk mencari rumput ke Kabupaten Cilacap. Yang tak kalah penting, lima belas tahun yang lalu di dekat pancuran juga ada selokan yang cukup deras. Di bagian hulu, dekat selokan itu, terdapat kolam ikan. Sekarang semuanya sudah punah. Selokan tak lagi mengalir, kolam ikan berubah kering kerontang menjadi kolam daun kering. Kini, setiap musim kemarau penduduk Desa Kalireja selalu memperoleh kiriman air bersih seminggu sekali sebanyak tujuh tangki. Upaya penanggulangan telah dilakukan dan cukup membantu, utamanya di musim penghujan. Proyek dari Depkes i.e. Water Supply and Sanitation for Low Income Community (WSSLIC), telah membangun sumur-sumur di desa ini, dan kini telah terbangun sebanyak 40 sumur. Akan tetapi di musim kemarau sumur-sumur tersebut kering. Mengapa AMPL-BM?. Apabila kita abaikan pertimbangan normatif, apakah itu produk hukum nasional maupun kesepakatan internasional, pembangunan bidang air minum dan penyehatan lingkungan berbasis

05

Percik Juli 2005

WAWASAN
masyarakat sangat relevan untuk dilaksanakan. Selain kaitannya dengan keberlanjutan sarana dan kegunaan efektif, pembangunan sarana air minum berbasis masyarakat secara nyata mampu meningkatkan kesejahteraaan. Pembangunan AMPL berbasis masyarakat, menempatkan masyarakat pada posisi sentral dalam proses pembangunan. Dalam pendekatan ini masyarakat berperan sebagai pengambil keputusan sejak perencanaan, pembangunan, pemantauan dan pemeliharaan sarana. Penempatan masyarakat dalam posisi ini, mempunyai pengaruh pada aspek psikologis yang luar biasa, di mana mereka akan merasa memiliki semua proses dan sarana yang dibangunnya. Konsekuensinya, mereka juga akan ikut mendukung sepenuh hati dengan apa yang dimilikinya baik tenaga maupun materi (uang). Pembangunan AMPL berbasis masyarakat menempatkan masyarakat dalam posisi sama, tanpa membedakan kayamiskin, laki-perempuan, afiliasi politik, suku, dan sebagainya. Semuanya dalam posisi setara sehingga bisa terhindarkan dari penyimpangan sehingga orang miskinpun akan mempunyai akses terhadap sarana. Di masa lalu, masyarakat miskin yang mestinya menjadi fokus program, malah terabaikan. Bila berbicara aspek manfaat sarana bagi kaum miskin maka akan sangat beragam. Sejauh mengikuti evaluasi sejak 1988, baik di Jawa maupun luar Jawa (Gorontalo, Larantuka, Sikka, Ende, Lampung), manfaat sarana jauh lebih besar dibandingkan risiko yang timbul. Di Gorontalo, sebagai misal, Desa Lonuo dalam waktu sekejap bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Jenis penyakit yang disebut tiba berangkat--karena orang yang kejangkitan pasti mati karenanya--hilang sama sekali. Penduduk, karena mempunyai banyak waktu luang, bisa mempunyai pekerjaan tambahan merajut songket khas Gorontalo. Penduduk mempunyai penghasilan tambahan.
FOTO: SUTOTO

Di Ende, di desa Wonda, yang penduduknya pernah kejangkitan sakit kolera sehingga menyebabkan matinya puluhan jiwa, dan mengidap penyakit melodi-- istilah setempat untuk sakit kulit karena selalu menggaruk perut dan pinggang seperti sedang memainkan gitar--setelah membangun sarana air bersih (perpipaan sistem gravitasi), berbagai jenis penyakit (water born disease) tersebut hilang dengan sendirinya. Masih banyak contoh lain keterkaitan antara ketersediaan air dengan kesehatan. Keterkaitan dengan meningkatnya kesejahteraan, utamanya pendapatan masyarakat pun nyata. Di Kabupaten Sikka NTT, ada sebuah desa yang menjadi pemasok sayur mayur untuk Maumere setelah penduduknya memperoleh kemudahan akses air bersih, karena mereka bisa bertanam sayur mayur. Juga, mereka menjadi bisa membangun rumah tembok karena air tersedia untuk membuat bata dan meramu semen. Begitu juga untuk penduduk yang berbasis nelayan, seperti misalnya di Desa Nglawe di Pacitan. Nelayan-nelayan desa itu sekarang sudah menggunakan teknologi yang relatif canggih, dan juga transportasi ke desa dengan mobil untuk mengangkut hasil perikanan, desa menjadi ramai. Sebuah gejala yang tak pernah ada pada waktu lalu sebab

waktunya habis dipergunakan untuk mendapatkan air. Di Desa Nglawe ini dahulu penduduknya juga kudisan, sekarang kulitnya bersih dan bersinar. Penutup Pembangunan bidang air minum dan penyehatan lingkungan berbasis masyarakat di berbagai wilayah khususnya Jawa Tengah, lebih khusus lagi Kebumen, menghadapi kendala lingkungan yang serius. Penggundulan hutan karena penebangan liar dan juga penggantian hutan heterogen menjadi hutan pinus oleh Perhutani, telah menjadi faktor utama rusaknya ekosistem wilayah tangkapan air. Pada sisi yang lain, pembangunan bidang air minum dan penyehatan lingkungan mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, utamanya kelompok masyarakat miskin di pedesaan. Apabila kendala rusaknya ekosistem di wilayah tangkapan air tidak ditanggulangi, sementara perusakan tetap berjalan terus, pembangunan AMPL bisa menjadi sia-sia.
*) Aktif dalam kegiatan Water Supply and Sanitation Policy and Action Planning Project (WASPOLA) di Kab Kebumen dan Propinsi Jawa Tengah. - Peneliti di Pusat Penelitian Sains dan Teknologi-UI

Percik Juli 2005

27

T EROPONG Sekali Coba, Langsung Hasilnya


Uji Coba CLTS di Kab. Lumajang, Jatim
dilakukan masyarakat untuk mengatasi kondisi kesehatan di daerahnya. Konsep ini cukup bagus karena pemicuan tidak memerlukan intervensi dana sama sekali. Hanya saja, konsep ini perlu diuji di lapangan mengingat kondisi budaya India dan Bangladesh dibandingkan masyarakat Indonesia tak bisa disamakan begitu saja. Dalam rangka itu, Pokja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) bersama WASPOLA mengujinya di Kabupaten Lumajang. Sebagai rangkaian uji coba itu, ada pelatihan bagi tim inti pendekatan CLTS yang berasal dari pusat, daerah, dan masyarakat di Lumajang pada 2-5 Mei 2005. Tak tanggung-tanggung, pelatihnya Kamal Kar, pakar CLTS dari Bangladesh. Ada empat desa yang dipilih sebagai lokasi uji coba yakni Kenongo, Tanggung, Kertowono, dan Kali Semut. Menurut fasilitator CLTS Kabupaten Lumajang, Budi Purwanto, pemilihan desa ini didasarkan atas pertimbangan antara lain kondisi sosial budaya masyarakat dan ada tidaknya proyek WSSLIC. ''Kita ingin tahu bagaimana CLTS diterapkan dalam kondisi yang beragam itu,'' kata Budi yang pernah ikut serta melihat langsung penerapan CLTS di India dan Bangladesh. Di awal pelaksanaan, banyak pihak, baik

onsep Community-Led Total Sanitation (CLTS) tergolong baru di Indonesia. Konsep ini 'diimpor' dari India dan Bangladesh yang telah terlebih dahulu melaksanakan, setelah beberapa wakil Indonesia mengunjungi dua negara tersebut pada akhir 2004. CLTS memiliki tiga tujuan yakni (i) mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan; (ii) memberdayakan masyarakat; (iii) mengurangi tingkat buang air besar (BAB) di daerah terbuka. Berdasarkan pengalaman di dua negara itu, CLTS mampu mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam waktu yang cukup singkat dibandingkan dengan konsep lainnya. Secara ringkas prosesnya diawali dengan identifikasi kondisi dan fakta mengenai tingkat kesehatan (terutama pola BAB di daerah terbuka) yang ada di desa lokasi program. Kemudian masyarakat diajak untuk berdiskusi mengenai kondisi dan fakta tersebut dikaitkan dengan kesehatan, keindahan, atau lainnya. Saat itu masyarakat dihadapkan secara langsung dengan persoalan. Proses ini mempunyai sasaran agar masyarakat mulai sadar bahwa ternyata selama ini mereka tidak hidup bersih dan sehat dan bertanya bagaimana mengubah kondisi mereka. Kesadaran masyarakat tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan memberikan informasi sederhana mengenai hal-hal yang dapat

FOTO: ISTIMEWA

erlu diingat bahwa apa yang telah dicapai melalui pendekatan CLTS ini bukan merupakan hasil akhir dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat dan lingkungan secara keseluruhan. Kebanyakan jamban sederhana berupa lubang galian yang ditutup dengan anyaman bambu atau semen. Dinding lubang galian tersebut tidak dilapisi dengan lapisan kedap air (misalnya semen), sehingga cairan tinja dapat merembes ke dalam tanah yang selanjutnya akan mencemari air tanah. Oleh karena itu, pemicuan yang telah dilakukan melalui pendekatan CLTS perlu ditindaklanjuti dengan upaya-upaya untuk mencegah pencemaran air permukaan dan air tanah seperti pengolahan lumpur tinja serta promosi penggunaan fasilitas jamban yang layak secara teknis, kesehatan dan lingkungan. Khususnya di Kecamatan Gucialit, Kab. Lumajang, hal ini sangat penting karena kecamatan tersebut berada di dataran tinggi yang merupakan daerah tangkapan air. (AK)

di pusat maupun di daerah, yang pesimis model ini dilaksanakan dengan sukses. Tapi waktu kemudian berbicara lain. Dalam waktu sebulan, hasil dapat dilihat. Desa lokasi uji coba berubah. Bahkan ada yang 100 persen memiliki jamban. Hariyanto, sanitarian di Puskesmas, Kec. Gucialit, mengaku pendekatan ini cukup bagus. ''Pemerintah nggak mungkin bisa membangun jamban sebanyak ini dalam waktu singkat,'' kata sanitarian yang setiap hari berkeliling ke desa-desa. Oleh Karena itu, ia mengaku akan menerapkan pendekatan CLTS itu ke tujuh desa WSSLIC yang menjadi tanggung jawabnya. ''Desadesa ini akan saya CLTS-kan semua,'' katanya meyakinkan. Kunci penerapan CLTS ini adalah keberadaan natural leader/penggerak yang mumpuni sehingga bisa memicu dan menjaga semangat masyarakatnya, adanya pengawasan terus menerus kepada masyarakat, dan insentif-misalnya berupa kebanggaanbagi masyarakat yang terpicu. Memang dari sisi pemicuan agar masyarakat memiliki jamban, pendekatan ini cukup sukses. Tentu pendekatan ini tidak ditujukan Cuma Lubang Tahi Saja, mengingat masih banyak hal yang terkait dengan kesehatan lingkungan. Barangkali pendekatan CLTS bisa diaplikasikan untuk halhal lain, tidak hanya jamban. Mungkin perlu dicoba. (MJ)

28

Percik Juli 2005

T EROPONG

Gotong Royong Bangun Jamban


usun Margodadi berjarak sekitar 10 km arah selatan kota Lumajang. Penduduknya berjumlah 105 kepala keluarga (KK). Dusun ini sekaligus merupakan pusat Desa Kenongo. Hanya 30 persen keluarga yang memiliki jamban yang memenuhi persyaratan. Sisanya menggunakan cubluk sederhana yakni berupa lubang berdiameter sekitar 1 meter yang di atasnya diberi dua batang pohon--untuk nangkring--, buang air di kebun, dan sungai. Warga dusun sebagian besar hidup dari bertani kopi, sengon, dan buruh perkebunan. Kondisi rumah mereka sepintas cukup bagus. Sebagian besar bangunan terbuat dari tembok. Hanya sedikit yang dibangun dari bambu. Rumah tertata rapi di sepanjang jalan dusun yang diaspal. Tapi siapa sangka mereka tak memiliki jamban. Ny. Suparti, natural leader CLTS Dusun Margodadi, yang juga istri Kepala Desa, menjelaskan kondisi ini terjadi karena tingkat pendidikan masyarakat yang rendah. ''Sebenarnya mereka mempunyai lahan dan uang. Tapi taraf berpikirnya kurang,'' katanya di Balai Desa Kenongo. Awal Mei lalu dusun ini menjadi salah satu lokasi praktek bagi para peserta pelatihan CLTS yang berlangsung di Lumajang. Warga pun dikumpulkan. Mereka diajak bersama-sama membahas kondisi sanitasi di dusun tersebut termasuk membuat peta keluarga dan kepemilikan jambannya. Pemicuan berlangsung. Maka muncullah tokoh informal dan kepengurusan CLTS di Desa Kenongo. Mereka adalah Ny. Suparti sebagai ketua, kemudian wakil ketua Joko Winarno, sekretaris Ny. Nurul Latifah (bidan desa), bendahara Ny. Suwarni, pengawas Satuk dan pengurus PKK Desa. Merekalah, terutama yang ibu-ibu, yang kemudian bergerak ke seluruh warga dusun. ''Kami berkunjung dari rumah ke rumah,'' kata Ny. Suparti yang di-

Dusun Margodadi, Desa Kenongo, Kec. Gucialit

FOTO: MUJIYANTO

Kepala Desa Kenongo (paling kanan), Ny. Suparti (paling kiri), dan penggerak CLTS Desa Kenongo.

dampingi Ny. Nurul dan Ny Suwarni. Sasarannya pun tak dipilih-pilih. Siapa yang ada di rumah, dialah yang dipicu. ''Semuanya saya anggap sebagai keluarga sendiri. Yang penting kita tujuannya baik,'' jelasnya. Istri kepala desa ini mengaku lebih menekankan masalah kesehatan dalam memicu warganya untuk membangun jamban. Misalnya tentang proses penyebaran penyakit dan kaitan dengan kepemilikan jamban. ''Saya selalu bilang kepada warga bahwa sakit itu mahal. Biar tak mahal maka kita perlu jamban untuk menghindari penyebaran penyakit,'' kata Ny. Suparti yang suka dipanggil Bu Inggih (Bu Kepala Desa). Tak lupa disampaikan pula alternatif model jamban yang memenuhi syarat kesehatan. Langkah pemicuan tidak hanya melibatkan pengurus CLTS tapi juga didukung oleh perangkat desa. Selain ke rumahrumah, proses pemicuan diadakan pada acara pengajian setiap pekan, Posyandu, dan di sekolah dasar. Upaya itu berhasil. Masyarakat antusias untuk membangun jamban dengan pilihan masingmasing. Sekitar 60 persen warga membangun jamban baru. Sisanya memperbaiki yang lama. Menurut Ny. Suparti, yang

juga guru sekolah dasar ini, selisih paling cepat antara waktu pemicuan dan pembangunan yaitu dua hari. Guna mendukung pembangunan ini tim CLTS desa pun turun tangan. Caranya dengan mengumpulkan kopi dari masyarakat sebanyak satu kaleng. Uang hasil penjualan dibelikan semen seharga Rp. 23 ribu. Semen dan uang sisa itu dikembalikan kepada warga untuk membangun jambannya. Beberapa warga dibantu pasir. ''Intinya kita harus kerja sama, kalau sendiri-sendiri berat,'' jelasnya. Beberapa warga pun membangun secara bergotong royong, baik bahan maupun pengerjaan. Dalam waktu satu bulan-dari target 6 bulan-100 persen warga telah memiliki jamban. Ada yang kloset, sistem kering (pakai siram), dan cubluk tertutup. Harganya bervariasi mulai dari Rp. 60 ribu (perbaikan), Rp. 125 ribu (bangun baru), hingga 250 ribu. Keberhasilan ini ternyata didengar dusun sebelahnya. Warga dusun tersebut pun berharap proses serupa berlangsung di dusunnya. ''Kini kita bertekad, satu desa memiliki jamban semuanya,'' kata Sugito, Kepala Desa Kenongo, yang diamini istrinya. Para pengurus CLTS mengaku yakin tekad ini bisa terwujud. (MJ/AK)

Percik Juli 2005

29

T EROPONG
Dusun Ploso, Desa Tanggung, Kec. Padang

Maunya WC Closet Saja


usun Ploso letaknya agak jauh dari Kota Lumajang. Jaraknya sekitar 15 km arah barat daya kota. Penduduknya berjumlah 133 kepala keluarga (KK). Sebanyak 50 keluarga yang memiliki jamban, sedangkan 73 keluarga tak punya. Mereka yang tak mempunyai jamban ini sebagian besar membuat hajat di sungai, selokan. Lainnya di kebun dan sawah. Secara ekonomi kondisi warga lebih baik dibandingkan dengan Dusun Margodadi. Mata pencaharian warga bertani, pembuat genting, dan buruh. Pabrikpabrik genting berjajar di sepanjang jalan aspal yang membelah dusun. Sebagian besar rumah terbuat dari tembok. Menurut Drs Masduki, yang kini memelopori pembangunan jamban di dusun tersebut, faktor kebiasaan warga menjadi kendala. Warga merasa nyaman membuang hajat di saluran air dan terbukti selama ini aman-aman saja. ''Mereka selalu bilang dari dulu juga sehat-sehat saja,'' kata guru sekolah dasar tersebut. Awal Mei 2005, delapan orang utusan dusun ini mengaikuti pelatihan Community-Led Total Sanitation (CLTS) di Kota Lumajang. Mereka itulah yang akhirnya terpicu dan menjadi penggerak di dusun tersebut. Sebagian dari mereka yang tidak memilliki jamban sebelumnya, langsung membangunnya. Mereka kemudian mengumpulkan warga untuk dipicu agar memiliki jamban sendiri. Warga pun antusias mengikuti kegiatan. Mereka pun bisa memetakan siapa-siapa yang memiliki jamban dan tidak. Tokoh penggerak gerakan membangun jamban ini, selain Masduki, adalah Laseri (Ketua RT), Ny. Ummi (tokoh agama), dan Umar (anggota LKMD). Sejak itulah mereka bergerak sesuai dengan kapasitas masing-masing. Ny. Ummi aktif menyampaikan pentingnya

warga membuang hajat di jamban pada acara pengajian ibu-ibu. Sedangkan Masduki bersama Umar berkunjung dari rumah ke rumah. ''Memang dari dulu saya suka kegiatan sosial seperti ini,'' kata Masduki yang kini masih aktif sebagai anggota Badan Perwakilan Desa (BPD). Masduki mengakui agak berat mengajak warganya memiliki jamban. Warga telanjur tahu bahwa program CLTS milik Bank Dunia. ''Mereka selalu bilang, 'Ada uangnya nggak?'. Yang namanya Bank Dunia kok nggak bantu uang. Bank kan tempatnya uang?'' ujarnya. Oleh karena itu, proses pemicuan ini perlu waktu dan kesabaran. Kondisi ini tak membuat putus asa para penggerak CLTS tersebut. Mereka menjelaskan bahwa kotoran yang dibuang ke tempat terbuka bisa kembali ke rumah bahkan ke atas meja makan. ''Apa kotoran sampean nggak pulang lagi lewat lalat dan sapi?'' begitu Masduki selalu mendorong warga. Sedangkan soal permintaan bantuan dana dari warga, ia senantiasa mengatakan, ''WC iki kan kanggo sampean dhewe, lha kok nunggu
FOTO: MUJIYANTO

Masduki menunjukkan selokan yang sering menjadi tempat buang air besar warga.

pemerintah (WC ini untuk kalian sendiri kok menunggu pemerintah),'' katanya. Memang kepedulian warga berbedabeda. Ada yang sekali dipicu langsung membangun jamban. Tapi ada pula yang agak membandel. ''Ya kita paranin terus Pak,'' katanya seraya menambahkan ada yang sampai empat kali didatangi. ''Sekalian biar sungkan kalau sering didatangi.'' Rata-rata warga dusun baru membangun setelah satu minggu proses penyadaran. Muhammad Ali, warga dusun, mengatakan sebenarnya warga mau membangun jamban. ''Namun orang di sini nggak mau membangun WC yang asalasalan. Mendingan langsung yang bagus. Kalau cubluk sebenarnya bisa. Daripada membuat yang sederhanan, sekalian yang closet kan nggak usah dua kali membangun,'' kata satpam sebuah perusahaan ini. Selain itu, faktor tukang juga menjadi kendala. Para penggerak ini pun mendorong tokoh-tokoh masyarakat yang belum punya jamban untuk memberi contoh. Kepala dusun dan ketua RT pun terpicu. Dalam sebulan dari 73 keluarga yang belum memiliki jamban, tinggal 29 keluarga yang belum membangun jamban sendiri. Mereka ini kebanyakan tinggal di dekat sungai dan termasuk keluarga miskin. Masduki dan kawan-kawan yakin mereka bisa berubah dalam waktu dekat. ''Yang penting kita openi (pelihara) saja.'' Ia dan penggerak di Ploso akan berupaya mencari jalan agar semua warganya memiliki jamban. Hampir semua jamban baru merupakan WC closet. Harga bangunannya sekitar Rp. 250 ribu. Pembangunannya murni swadaya setiap keluarga dan tidak melalui gotong royong. ''Sekarang gotong royong hampir pudar,'' kata Masduki. (MJ/AK)

30

Percik Juli 2005

T EROPONG
Dusun Sidomakmur, Desa Kertowono, Kec. Gucialit

Membangun Jamban Sederhana


jamban terbuka dengan penyeusun Sidomakmur lebaran penyakit serta bagaimana taknya di pegunungan. membuat jamban agar memeJaraknya cukup jauh. nuhi syarat kesehatan. Sekitar 1 jam perjalanan dari Awalnya memang sulit bisa Kota Lumajang. Kendaraan roda mengajak semua warga dusun. empat biasa tak bisa menjangkau Ada yang keras kepala. ''Ada dusun ini. Perlu kendaraan garyang sampai dua kali saya dadan ganda (Hartop) untuk mentangi, tapi tetap ndablek (bancapai dusun ini karena jalannya del). Akhirnya kita pakai orang tanah dan menanjak. ketiga yakni saudaranya untuk Dusun Sidomakmur terbagi mengubah pendiriannya dan berdalam dua RW yakni RW 1 dan hasil,'' ungkap Mujiono. Selain itu, RW 2. Masing-masing disebut ada pula yang berpandangan bahwa Poli 1 dan Poli 2. Poli 1 ada 120 CLTS ini adalah proyek sehingga kepala keluarga (KK) dan Poli 2 mereka mengharapkan adanya memiliki 123 KK. Penduduknya Mujiono bersama warga melihat salah satu jamban dana bantuan. ''Saya bilang, samhidup dari berkebun kopi, beteryang baru selesai dibangun. pean kerja cari makan nggak disubnak, bertani, dan buruh perkeKondisi jamban itu berubah setelah sidi, kenapa buang air minta disubsidi,'' kata bunan. Tingkat ekonominya cukup bagus. Ini bisa dilihat dari bentuk rumahnya ada pelatihan di dusun tersebut pada 16 Mujiono lagi. Salah satu kunci sukses pemicuan, yang sebagian besar dari tembok dengan Mei 2005. Saat itu warga dikumpulkan lantai keramik. Sebagian rumah memiliki dan dilakukan pemicuan oleh fasilitator menurut Mujiono, yakni adanya kunjungan tempat jemur kopi terbuat dari lantai CLTS dari Dinas Kesehatan Kabupaten pasca pemicuan. ''Kalau tidak kita kunjungi, Lumajang. Maka muncullah tokoh infor- bisa berpengaruh terhadap yang lain. Yang plester. Dusun ini sebelumnya sulit air. mal untuk pembangunan jamban. Mereka lain jadi malas karena dianggap tidak ada Penduduk harus mengambil air dengan adalah Mujiono (anggota BPD), Prayit perhatian,'' tuturnya. Warga yang terpicu biasanya berjanji dalam waktu tertentu akan berjalan kaki sejauh 1 jam perjalanan. (Kepala Dusun), Sumardi, dan Pak Cip. Menurut Mujiono, dalam sebulan menyelesaikan jambannya. Namun saat ini kesulitan itu sudah terYang menarik, proses pemicuan CLTS atasi dengan adanya proyek WSSLIC. semua keluarga telah memiliki jamban Semua warga mendapatkan akses air tertutup. Namun tidak semua memba- ini berbenturan dengan proyek jamban ngun baru. Sebagian hanya memperbaiki bergulir WSSLIC. Selama 2003-2004, melalui perpipaan. Berdasarkan data yang ada, kepemi- yang lama (terbuka). Mereka tidak WSSLIC menargetkan pembangunan 24 likan jamban sebelum ada CLTS sebagai mengecor tutup jambannya, tapi me- jamban. Faktanya hanya sembilan orang nyempurnakan tutupnya dengan tutup yang mengambilnya. Dengan adanya berikut: dari anyaman bambu yang sangat rapat CLTS ini, mau tidak mau program jamban bergulir di dusun tersebut terhenti. dan berlapis sehingga tidak timbul bau. Jenis jamban RW 1 RW 2 Faktor utama keengganan warga Warga tak tertarik lagi untuk pinjam dana Tertutup 16 13 membuat jamban yang layak, kata Mu- untuk jambannya. Terbuka 74 94 Program CLTS ini membuat warga Poli jiono, yaitu pengetahuan. ''Sebelumnya Tidak punya 30 16 mereka selalu bilang, 'aku buang air di si- gembira. Mari yang mengaku berumur lebih Sebagian besar jamban hanya meru- tu (jamban terbuka atau kali) tak pernah dari 100 tahun menyatakan pekarangannya tak bau lagi dan tak banyak lalat. pakan lubang berdiameter sekitar satu sakit','' kata Mujiono. ''Sekarang lebih enak,'' katanya yang Ia dan tim CLTS dusun memicu warga meter yang di atasnya dipasang dua batang pohon melintang atau anyaman dengan pentingnya kesehatan dan kein- memiliki jamban cubluk tertutup dengan bambu sederhana. Sedangkan yang tidak dahan. ''Misalnya kita tanya, bagus mana lantai semen ini. Ia mengaku suatu saat punya, mereka biasa membuang hajat di WC terbuka atau tertutup?'' katanya. Tim akan membangun jamban yang lebih baik (MJ/AK) juga menjelaskan bagaimana hubungan berupa closet. kebun atau selokan.

FOTO: ANDRE K

Percik Juli 2005

31

R EPORTASE
Cerita dari Jantung Ibukota

Ketika Kaum Elit Mulai Melek Lingkungan


rama hidup di Jakarta mengharuskan warganya giat bekerja dan mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berangkat pagi, pulang malam. Dari rumah ke kantor atau relasi. Itu yang terjadi hampir setiap hari. Boro-boro memikirkan lingkungan, memikirkan diri sendiri pun mungkin tak sempat lagi. Sikap seperti itu juga menghinggapi rutinitas warga RT 003, 004, dan 008 RW 03 Kelurahan Melawai. Mereka yang termasuk kalangan elit ibukota ini, mungkin tak saling peduli dengan lingkungan sekitarnya. Apakah itu lingkungan sosial, maupun lingkungan alam. Mereka sangat sibuk. Sebuah areal taman yang seharusnya asri di tengahtengah permukiman mereka, hanya menjadi tempat pembuangan sampah puingpuing bangunan. Onggokan puing menggunung di beberapa sudut areal yang luasnya sekitar 780 meter persegi itu. Tapi itu dulu, sebelum tahun 2000. Setelah itu, suasana mulai berubah. Sedikit demi sedikit puing-puing mulai diangkut. Sampah-sampah di taman mulai mendapat perhatian. Ini tidak lain karena ada satu warga baru di kawasan tersebut yang menjadi 'provokator' untuk menjadikan taman itu berfungsi sebagaimana mestinya. ''Teman-teman menyayangkan kenapa taman kok jadi tempat sampah,'' kata Wiyono Pontjowinoto mengenang. Ia bersama-sama dengan beberapa warga yang memiliki kepedulian kemudian berusaha mengumpulkan warga. Langkah ini tidak mudah. ''Tapi yang ada di benak kita yang penting kumpul dulu dech,'' katanya. Upaya ini didukung Ketua RT 003 dan OO4. Hasilnya warga menyetujui pembangunan portal dan

FOTO: MUJIYANTO

gardu jaga. Pilihan ini diambil karena langsung berkaitan dengan kepentingan para penghuni kawasan tersebut. Setelah itu warga diajak berkumpul dalam acara 17 Agustusan, pemilihan umum 2004, dan halal bi halal. Acara ini terus berkembang. Warga pun sering berkumpul. Paling tidak dua kali dalam setahun. Ternyata acara ini pun menumbuhkan minat warga untuk meningkatkan frekuensi pertemuan. Maka dirancang sebuah pertemuan rutin. Atas usulan warga pertemuan itu diberi nama 'Sabar' alias Sarapan Bareng. ''Paling tidak kita berkumpul setiap dua bulan sekali,'' kata Wiyono. Warga saling bahu membahu menyediakan segala keperluan untuk acara itu. Semuanya bisa dibereskan. Padahal sekali pertemuan/kegiatan bisa menelan dana seki-

tar Rp. 10 juta rupiah. Dan yang terpenting, seluruh kegiatan berpusat di taman. Taman yang dulunya tak punya nama, akhirnya diberi nama Taman Sega. Sega singkatan dari Segi Tiga-karena bentuknya memang segitiga-dan juga bisa bermakna taman bermain anak-anak. ''Kami ingin merevitalisasi taman ini sesuai fungsi taman,'' kata Wiyono, yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum ini. Diharapkan taman itu nantinya menjadi tempat bermain anak-anak, sarana olah raga warga, tempat istirahat, tempat pertemuan, serta sebagai sarana pelestarian sumber daya air. Sebuah desain tapak telah dibuat untuk itu. Dan rencananya, taman ini akan menjadi sebuah contoh taman yang dibangun dan dipelihara oleh masyarakat (Community Based). Tapi itu semua baru angan-

32

Percik Juli 2005

R EPORTASE
angan. Yang jelas, upaya ke arah itu terus berlangsung. Beberapa warga mulai menanam bunga dan tanaman buah di taman tersebut sekaligus memeliharanya setiap hari. Pertemuan-pertemuan warga dalam acara 'Sabar' pun tak sekadar kumpulkumpul. Mereka mulai ingin ada yang bisa memberikan hal baru bagi kehidupan lingkungan. Diundanglah orangorang yang kompeten di bidangnya. ''Warga intelek harus bisa menjadi contoh dalam menjaga lingkungan. Bukan hanya orang yang tinggal di tempat kumuh saja yang harus peduli terhadap lingkungan,'' kata Wiyono. Pada pertemuan Sabar ke-3, 8 Januari 2005, warga mengundang Rina Agustin Indriani dari Departemen Pekerjaan Umum untuk menyampaikan materi tentang ''Sumur Resapan Air Hujan: Mencegah Krisis Air Bersih di Kota Metropolitan.'' Warga yang datang cukup banyak dan sangat antusias mendengarkan ceramah tersebut. Beberapa yang hadir berasal dari luar RT penyelenggara. Dari ceramah singkat yang diselingi makan bubur ayam itu dan ngopi, warga baru tahu kalau sumur resapan itu cukup mudah dibuat dan tidak perlu biaya yang terlalu mahal. Paling satu sumur resapan butuh Rp. 750 ribu rupiah. ''Warga sepakat untuk membangun sumur resapan di tanam sebagai percontohan. Pada acara Sabar 19 Februari 2005, dan 18 Juni 2005 giliran Ny. Bambang 'Sampah' Wahono yang diundang. Nenek yang sudah bertahun-tahun bergulat dengan dunia persampahan ini menyampaikan materi tentang daur ulang sampah. Tema ini dipilih karena warga menghadapi masalah ini setiap hari. Tempat pembuangan sampah pun makin sulit didapatkan. Apa yang dijelaskan Ny. Bambang, menarik minat warga. Mereka pun sepakat membuat tempat daur ulang sampah di Taman Sega. Sembari sumur resapan dibangun di taman, ada warga yang sudah mencoba membuat di rumah. Ada juga warga yang mulai membuat tempat sampah antik, yang bisa dipergunakan bersama bila ada acara-acara di rumah warga. ''Kalau yang bicara pakar, warga biasanya gampang percaya,'' tambah Wiyono. Kini berbagai upaya terus dilakukan warga untuk mewujudkan taman yang diidamkan. Mereka membuat proposal kepada Pemda DKI dan pihak swasta agar bisa membantu. Di dalam proposal, warga berharap taman ini nantinya direncanakan sendiri oleh warga (community design) dan dibiayai donatur swasta. Pembangunannya dilaksanakan dan dibiayai secara bertahap oleh warga, pemda, dan swasta. Sedangkan pemanfaatan, pengendalian pemanfaatan dan pemeliharaan dikoordinasikan oleh pemda dan warga. Todal biaya yang dibutuhkan mencapai Rp. 150 juta untuk tiga tahap. Dinas Pertamanan dan Keindahan DKI sendiri secara lisan telah siap membantu secara inkind seperti tanaman, kursi, dan pagar. Warga pun telah mengumpulkan dana. Jumlahnya yang terkumpul Rp. 2 juta. Ketua RT 003/03 Farida Arifin mengaku sangat senang dengan kepedulian warga. ''Kami ingin menjadikan kawasan kami lebih nyaman,'' katanya. Namun ia mengakui butuh waktu untuk mengoptimalkan kepedulian warganya. Ia menyadari hampir semua warganya tergolong kalangan sibuk. ''Yang penting kita kasih contoh dulu,'' lanjut Farida. Ia percaya bahwa bila semua pihak ikut andil, akan terwujud taman yang bisa dibanggakan warga DKI, yang mampu menjadi contoh bagi pendayagunaan ruang terbuka hijau kota secara berkelanjutan. Upaya kalangan elit ini sejatinya bisa dilaksanakan pula oleh kalangan lainnya tanpa melihat strata sosial. Hanya saja memang diperlukan adanya motivator dan fasilitator ke arah itu. (MJ)

Kawasan Elit di Jakarta Selatan

aman Sega diapit oleh Jl. Panglima Polim II, Jl. Wijaya XIV, Jl. Wijaya V, dan Jl. Wijaya XVI. Daerah ini masuk wilayah Kelurahan Melawai, Jakarta Selatan. Letaknya tidak jauh dari pusat bisnis Blok M. Kawasan ini merupakan daerah hunian yang setara dengan kawasan Menteng di Jakarta Pusat. Bangunan rumahnya besar-besar. Kebanyakan penghuninya adalah para profesional, pejabat, mantan pejabat pemerintah. Tercatat beberapa nama yang cukup terkenal bermukim di sini seperti Agum Gumelar,

Marsekal Chappy Hakim (mantan KSAU), dan Komjen. Pol. Sujitno Landung. Ada juga beberapa direktur bank dan para pengusaha. (MJ)

Percik Juli 2005

33

WA W A N C A R A
dr. Koeswandono, MKes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur

Pemberdayaan Masyarakat Lewat Posyandu

ahun ini Kabupaten Lumajang meraih Juara I lomba Posyandu tingkat nasional. Berbagai keberhasilan bidang kesehat-

an dan PKK hampir selalu diraih daerah yang berada di bagian timur Jawa Timur ini baik di tingkat pusat dan tingkat daerah. Inovasi dan terobosan di bidang tersebut terus dikembangkan, yang membuatnya berbeda dengan daerah lain. Proyek WSSLIC dan CLTS pun tak heran diujicobakan di daerah ini. Hasilnya pun cukup menggembirakan. Untuk mengetahui daerah tersebut berkiprah, berikut wawancara Percik dengan Kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang, dr Koeswondo di Lumajang beberapa waktu lalu:

isa Anda jelaskan kondisi kesehatan di Kabupaten Lumajang secara umum? Kondisi kesehatan cukup memadai, dalam arti kasus yang sedang trend seperti gizi buruk bisa kita kendalikan. Artinya, memang masih ada gizi buruk tapi tidak sampai pada komplikasi marasmus kuarsiorkor. Kita sudah tangani itu dengan titik sentral Posyandu. Dengan posyandu kita bergerak, termasuk sanitasi dan pemberantasan penyakit menular. Dalam rangka itulah maka sejak 10 Januari tahun 2005, ada ide dari Bapak Bupati untuk membuat Posyandu sebagai pusat pendidikan, kesehatan masyarakat. Ide ini berawal ketika beliau membaca buku 'Orang Miskin tidak Boleh Sakit'. Ide itu kemudian kita tangkap lintas sektoral dan lalu diadakan koordinasi ke Bapekab. Maka tercetuslah program Gerbang Mas, gerakan membangun masyarakat sehat. Bapak Bupati menghendaki kita mencapai Lumajang Sehat 2007. Dalam arti untuk mencapai Indonesia Sehat 2010 termasuk Lumajang Sehat 2010, itu sudah jelas arahnya sejak 2007. Gerbang Mas ini kemudian dicanangkan oleh gubernur pada 3 Maret. Sebelum Presiden dan Mendagri meminta kita mengaktifkan Posyandu, ternyata Lumajang telah mendahului. Sejak itu kita kemudian melaksanakan

langkah-langkah Gerbang Mas. Apa itu Gerbang Mas? Prinsipnya Gerbang Mas itu akan menjadi pusat kegiatan dari, pertama, pelayanan kesehatan yang selama ini sudah berjalan; kedua, pusat PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat); ketiga, pusat menggerakkan masyarakat untuk memelihara lingkungannya; keempat, pusat untuk meningkatkan pendidikan masyarakat baik itu melalui PADU (Pendidikan Anak Dini Usia) atau KF (Keaksaraan Fungsional); kelima, peningkatan ekonomi produktif; dan terakhir, pusat pembinaan mental keluarga. Sasarannya jelas sasaran Posyandu yaitu sekitar 150 KK. Mengapa kita melakukan kegiatan ini? Karena ini sebenarnya merupakan revitalisasi Posyandu yaitu mengoptimalkan fungsi Posyandu, berupa fungsi pemberdayaan, fungsi pendidikan, dan fungsi pelayanan. Selama ini Posyandu lebih terfokus pada fungsi pelayanan sehingga sekarang kita ratakan. Apa saja kegiatannya? Yang pertama adalah pelatihan. Berupa pelatihan terhadap Posyandu yang diikuti oleh kader-kader Posyandu, tokoh-tokoh masyarakat, dan tokoh-tokoh di sekitar Posyandu. Setelah pelatihan, mereka akan melakukan pendataan

untuk mengetahui data dasar. Kemudian data itu dipetakan. Setelah itu mereka menganalisa apa saja masalah yang ada. Kemudian diadakan rembug masyarakat untuk menentukan gerakan-gerakan apa saja yang dilakukan serta intervensi apa yang perlu dilaksanakan. Langkah ini dilakukan per tiga bulan. Bila ada kesepakatan maka gerakan dimulai. Kegiatan ini pada tahun ini kita ujicobakan pada 34 Posyandu yang tersebar pada 21 kecamatan. Tahun berikutnya, bila hasilnya menjanjikan, akan kita cobakan di 500 Posyandu. Tahap sekarang sampai pada pendataan. Selanjutnya akan menginjak pada tahap analisa dan rembug masyarakat. Tim kita akan turun untuk mengawasi agar sasarannya tidak keliru. Gerbang Mas ini motor kegiatannya ada di PKK sedang koordinator program ada di Bapekab. Sasarannya adalah Lumajang Sehat 2007 dengan beberapa indikator yang mencakup enam indikator tadi. Untuk kegiatan ini setiap Posyandu dibantu 10 juta rupiah. Dengan pembagian 4 juta untuk biaya operasional berupa 1,5 juta untuk insentif kader dan 2,5 juta untuk operasional seperti pendataan dan rembug masyarakat. Sedangkan yang 6 juta untuk intervensi. Ini kegiatan yang spesifik program untuk Lumajang. Secara umum ini kegiatan yang terpadu. Dampak Gerbang Mas ini adalah munculnya kegiatan-kegiatan penunjang. Dengan pendataan akan diketahui masalahmasalah di lingkungan Posyandu. Masalahnya misalnya kepemilikan jamban. Ini diatasi misalnya dengan adanya uji coba untuk CLTS di empat desa di dua kecamatan. Dengan CLTS, yang semula saya agak meragukan, karena menyangkut sosial budaya masyarakat, ternyata berhasil. Ada satu dusun yang selesai memiliki jamban dalam waktu 2 minggu. Bahkan sekarang menjalar ke desa lain. Ini menggembirakan dan akan kita kaitkan dengan Gerbang Mas. Dengan adanya

34

Percik Juli 2005

WA W A N C A R A
proyek WSSLIC kita juga berterima kasih karena Lumajang termasuk daerah yang kesulitan air. Saat ini ada 18 desa yang mendapat kemudahan air minum. Dan itu dampaknya sangat besar tidak saja untuk kepentingan kebersihan personal, tapi juga meningkatkan income per kapita mereka. Jadi mereka yang seharian sibuk mencari air, sekarang bisa menggunakan waktunya untuk meningkatkan income. Misalnya dengan home industri seperti keripik dan sebagainya. Kendala-kendala apa yang dihadapi untuk mengatasi masalah kesehatan di Lumajang? Ada kendala primer yaitu tingkat pendidikan masyarakat dan sosial budaya. Perlu diketahui bahwa masyarakat Lumajang ini 50 persen Jawa dan 50 persen Madura. Percampuran itu kadang menimbulkan kendala di bidang kesehatan. Misalnya CLTS yang berupaya mempermalukan orang. Tapi pada suku tertentu ini menyangkut harga diri. Ini yang harus hati-hati. Juga menyangkut kemampuan income keluarga miskin. Kita memiliki keluarga miskin sekitar 200 ribu jiwa dari 1,1 juta penduduk. Ini juga kendala. Pada prinsipnya kita harus mengadakan sosialisasi, promosi kesehatan ini yang kita utamakan. Ujung tombak kesehatan itu sebenarnya terletak pada promosi kesehatan, baik itu melalui baliho, pengajian, pertemuan informal, itu kita galakkan. Posyandu yang dikembangkan agak unik. Ini prakarsa sendiri atau meniru? Insyallah tidak ada yang ditiru. Ini mulai dari kita. Memang ceritanya agak panjang. Dimulai dari tahun 2001 sejak otonomi daerah kita membuat terobosan dengan membuat gedung Posyandu yang kita namakan Balai Posyandu. Setiap kecamatan satu desa. Kita subsisdi dana dari APBD melalui Dinas Kesehatan sebesar 9 juta per Balai Posyandu. Yang itu kita gambar sebagai prototype senilai 15 juta sehingga masyarakat harus swadaya sebesar 6 juta. Ini sifatnya stimulan. Dana sebesar 9 juta itu meskipun ada di dinas tapi langsung ditransfer ke kepala desa. Di sanalah dibangun Balai Posyandu. Pada tahun 2004 telah ada 83 Balai Posyandu. Tahun 2003 kita coba PADU supaya Posyandu itu tidak hanya berfungsi sebulan sekali. Waktunya seminggu tiga atau kali. Jadi sebelum pemerintah menganjurkan PADU di Posyandu Lumajang Sehat 2007 akan berbelok misalnya ekonomi produktif yang menonjol. Anda menjelaskan ada intervensi dana. Bagaimana anggaran Pemda Lumajang? Dana itu bisa kita bayangkan dari 34 Posyandu, masing-masing 10 juta maka dananya 340 juta. Untuk kegiatan pelatihan 210. Jadi total 550 juta. Ya memang dana itu yang mengelola Bapekab dan PKK. Tapi pada dasarnya itu untuk kesehatan. Jadi menurut kita itu sudah sangat membantu. Sedang anggaran untuk kesehatan sendiri cukup memadai. Misalnya obat, saya mendapat anggaran 1,2 M. Ini sudah mencukupi. Kemudian pada tahun ini pun kami akan membuat balai kesehatan olah raga dan pusat pencegahan metabolic syndrome, yang belum ada di kabupaten lain. Idenya sederhana saja, diabetes dan hipertensi itu bukan lagi penyakitnya orang kota, orang desa pun terkena sehingga kita harus promosikan itu. Karena metabolic syndrome itu bisa gizi berlebih, bisa juga gizi berkurang. Di sinilah pusatnya nanti. Insyallah pada hari Kesehatan November akan kita resmikan. Apakah daerah cukup mampu mengatasi masalah kesehatan sendiri tanpa intervensi pusat? Kalau secara kebijakan masih memerlukan pusat, tapi untuk problem lokal sebetulnya masih bisa diatasi oleh daerah. Pengalaman 2001 sampai sekarang justru kita mengembangkan programprogram yang spesifik daerah. Sebagai contoh saya bisa mengembangkan Puskesmas dengan spesifikasi, artinya ada Puskesmas yang saya belikan USG untuk poned. Jadi itu untuk spesifikasi kandungan. Ada yang saya belikan alat operasi untuk katarak. Jadi di Puskesmas sudah ada operasi untuk lensa tanam. Kemudian ada Puskesmas yang kita belikan ECG untuk radiology. Bahkan dengan otonomi daerah, kami berhasil memba-

Ujung tombak kesehatan itu sebenarnya terletak pada promosi kesehatan, baik itu melalui baliho, pengajian, pertemuan informal, itu kita galakkan.
kita sudah melaksanakan. Berdasarkan PADU di Posyandu itulah kita berpikir untuk meningkatkannya lagi maka muncullah Gerbang Mas ini. Tetapi dalam prosesnya mulai pelatihan, pendataan, rembug desa, jujur saja saya menggunakan proses PKMD (Pendidikan Kesehatan Masyarakat Desa) yang dulu pernah dilakukan pada tahun 80-an. Hanya kita tidak umumkan karena ini sifatnya terpadu dan lintas sektor. Kaitan Posyandu dengan Puskesmas sendiri bagaimana? Jadi Puskesmas sendiri sangat diuntungkan dengan adanya Posyandu yang demikian. Karena itu Puskesmas sebagai pembina dan pendamping. Misalnya dalam pendataan dan analisa masalah. Termasuk dalam rembug masyarakat untuk menentukan intervensi. Lucu sekali kalau Puskesmas tak mendampingi, bisa jadi

Percik Juli 2005

35

W AWANCARA
ngun laboratorium kesehatan lingkungan, yang kemudian dikembangkan menjadi laboratorium kesehatan daerah. Adanya proyek-proyek pusat ke daerah, pengaruhnya seperti apa? Menurut saya itu sangat perlu. Sebab ada hal-hal yang kita tidak mampu mengeluarkan dana yang sangat besar. Yang bisa adalah pendampingan. Seperti WSSLIC masih kita perlukan karena masih ada desa-desa yang perlu air bersih, karena mata airnya terletak cukup jauh. Dengan cara pendampingan, kita masih mampu. Adanya pendampingan membuat tumbuhnya rasa memiliki dari daerah. Tidak hanya sekadar menerima saja. WSSLIC cocok buat kita di Lumajang karena betul-betul memberdayakan masyarakat. Semua langsung dilakukan oleh masyarakat sendiri dan itu sangat bagus. Itu pola yang seharusnya dikembangkan di daerah dalam era otonomi ini. Terhadap pemberdayaan masyarakat, ambil contoh CLTS, WSLIC, apakah mereka mudah diberdayakan? Secara umum mereka sangat menerima. Walaupun kendala pada tingkat pendidikan. Tapi menurut saya, pada dasarnya kalau orang itu dipercaya mereka mampu. Dia mempunyai motivasi untuk membuktikan bahwa dia mampu. Dan itu terjadi. Sebetulnya pada era otonomi itulah terjadi karena selama ini seolah-olah semuanya diarahkan. Jadi pusat memberikan guidance, kita melaksanakan. Itu rasanya ada kepercayaan yang lebih pada masyarakat di daerah. Apa kunci sukses pemberdayaan, selain pemberian kepercayaan? Pertama dukungan stakeholder. Dalam hal ini Bapak Bupati, DPRD. Peran kepala dinas adalah bagaimana menggerakkan stakeholder pada bidangnya masing-masing. Yang kedua adalah kebersamaan, baik lintas program maupun lintas sektoral. Yang ketiga, bagaimana memberikan kepercayaan kepada masyarakat. Apakah target Lumajang Sehat 2007 dan Indonesia Sehat 2010 bisa tercapai di Lumajang dengan mempertimbangkan kondisi saat ini? Saya berharap itu tercapai. Mengapa saya optimis, karena selama ini di daerah itu jarang melaksanakan suatu kegiatan dengan indikator yang jelas. Gerbang Mas ini ada indikator. Sampai saat ini ada indikator berapa yang sudah kita capai dan berapa yang akan kita capai. Justru itulah kita melakukan advokasi kepada Bapak Bupati bahwa mengapa tidak desa binaan tapi mengapa Posyandu. Karena sasarannya kecil dan sudah terinstitusi. Kalau desa terlalu luas. Dengan Posyanduposyandu ini akhirnya akan mencapai desa. Oleh karena pada tahun 2006 mestinya tidak hanya di 34 desa, tapi lebih banyak. Tahun 2006, 500 Posyandu. Dan tahun 2007 sisanya, dan itu sama dengan desa. Kita total ada 1257 Posyandu. Posyandu seolah-olah sebagai anak asuhnya tapi dalam batasan dia membantu bukan menjadi milik dan tidak dibebani keinginankeinginan tertentu, apakah politik dan sebagainya. Tetap dalam koridor dari, oleh, dan untuk masyarakat. Ada kiat untuk menggaet para stakeholder? Saya harus jadi tukang jamu. Saya harus menunjukkan bukti bahwa ini berhasil, ini dibutuhkan. Dan itu semua harus didukung data. Kita tidak bisa mengadvokasi stakeholder tanpa data. Kita punya data sejak 2001, termasuk Posyandu tadi. Khusus WSLIC dan CLTS, apakah sudah ada replikasi tanpa intervensi pusat? Secara langsung belum, tetapi secara tidak langsung Bapak Bupati menyatakan bahwa proyek inilah yang diharapkan. WSLIC tidak memiliki kendala yang berarti yang jadi beban Bupati. Memang belum ada dana yang cukup besar mengembangkan program seperti WSLIC karena dana kita belum sampai 15 persen untuk kesehatan. Untuk CLTS? Kita akan kembangkan tapi harus hati-hati karena sosial budaya yang berbeda. Saya sudah pesan ke temanteman, carilah yang homogen. Yang kirakira CLTS bisa berjalan. Ada kritik buat WSSLIC? Kritik sih tidak, tapi tampaknya saat ini turunnya dana kok agak susah. Saya tidak tahu di mana kendalanya. Kok tidak selancar tahun pertama, kedua, dan ketiga. Kalau terlambat akan menghambat proses yang ada di desa. Karena sebelum dana turun, sosialisasi sudah dilakukan. Orang sudah menggebugebu, dana tidak turun-turun, sehingga semangat menjadi turun. Kalau dana turun maka perlu kegiatan ekstra lagi untuk mendorong kegiatan mereka. (Mujiyanto)

Saya harus menunjukkan bukti bahwa ini berhasil, ini dibutuhkan. Dan itu semua harus didukung data. Kita tidak bisa mengadvokasi stakeholder tanpa data. Kita punya data sejak 2001, termasuk Posyandu.
Selain mengfungsikan PKK, apakah ada institusi lain yang dilibatkan? Kita melakukan kemitraan dengan organisasi wanita dan LSM. Modelnya seperti apa? Jadi Posyandu itu punya masalah, mereka punya material seperti uang dan sebagainya. Mereka bisa masuk dan bersinergi.

36

Percik Juli 2005

NFO SITUS

Kredit Mikro bagi Sanitasi


Http://www.eldis.org/static/DOC6371

redit mikro dan keuangan mikro telah berkembang sekitar 20 tahun yang lalu dalam rangka mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pendapatan masyarakat miskin. Situs ini memuat laporan berbagai pihak yang telah berhasil mengembangkan keuangan mikro. Kunci keberhasilan pengembangan sistem ini terletak pada adanya dukungan informal kewirausahaan mikro yang berkembang di daerah tempat keuangan mikro itu dikucurkan. Sistem keuangan mikro ini bisa diterapkan pada air minum dan layanan sanitasi untuk meningkatkan cakupan pelayanan kepada masyarakat baik yang berada di perkotaan, pinggiran kota, dan perdesaan. Situs ini menampilkan pelaksanaan bagaimana mengembangkan mekanisme kredit mikro dalam rangka mendukung sanitasi serta mengidentifikasi faktor kunci kesuksesan dari penerapan sistem tersebut di berbagai belahan dunia. Salah satunya ada laporan tentang Indonesia yang dilaksanakan oleh Yayasan Dian Desa di Yogyakarta pada tahun 1993.

yang melanda kota-kota di Amerika Latin. Programnya dimulai dengan mengirimkan sukarelawan ke kota Caracas, ACCION kini menjadi salah satu organisasi yang bergerak di bidang keuangan mikro di dunia dengan jaringan kerja meliputi Amerika Latin, Amerika Serikat, dan Afrika. Selama hampir empat dekade, LSM ini telah berhasil mengembangkan inovasi dalam upaya memecahkan persoalan kemiskinan. Misi LSM ini adalah memberikan alat (tools) bagi kaum miskin agar mereka bisa keluar dari kemiskinan, dengan menyediakan pinjaman mikro (relatif kecil) dan pelatihan bisnis sehingga mereka bisa memulai bisnis yang telah dimiliki sebelumnya. Dengan cara itu diharapkan mereka bisa berubah secara bermartabat dan penuh percaya diri. Akhirnya mereka bisa memperoleh pendapatan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti air minum, makanan yang lebih baik, dan bisa menyekolahkan anak-anaknya. LSM ini mencatat ada tiga milyar manusia hidup dengan uang kurang dari 2 dolar per hari (sekitar Rp. 18.000). Oleh karena itu, donasi yang mereka miliki tak akan mencukupi semuanya. Makanya, ACCION mengembangkan sebuah strategi anti kemiskinan yang bersifat tetap dan bisa dilaksanakan secara mandiri dan berkelanjutan.

Keuangan Mikro di Bangladesh


http://www.beesbd.org/micro_credit.htm

ACCION International
http://www.accion.org/default.asp

embaga ini berdiri pada tahun 1961 guna mengentaskan kemiskinan

istem keuangan mikro konon dilaksanakan pertama di Banglades. Salah satu pelaksananya adalah BEES bekerja sama dengan Bangladesh Krishi Bank pada tahun 1975. Program ini bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan melalui upaya fasilitasi kaum miskin memperoleh akses ke sumber daya dan memberdayakan mereka. Caranya, BESS bertindak sebagai pemberi garansi kepada bank agar kaum miskin bisa menikmati kredit tanpa jaminan. Kredit ini dikhususkan untuk kalangan tertentu yaitu kaum miskin yang tidak mempunyai lahan, punya tanah kurang dari setengah are, buruh, dan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. BEES menawarkan empat tipe layanan bagi anggota grup tersebut berupa kredit, tabungan, asuransi, dan kredit ditambah layanan. Mereka diberi kredit antara 3.00010.000 TK dengan bunga tetap 15 persen. Mekanisme pembayaran seminggu sekali. Sedangkan bentuk pinjaman ada yang pinjaman murni, program pinjaman sektoral, dan program pengembangan kewirausahaan mikro. (MJ)

Percik Juli 2005

37

NFO BUKU

Bahaya Privatisasi Air


Judul:

aung privatisasi menggema cukup keras di Indonesia, terutama setelah kran reformasi dibuka. Perusahaan-perusahaan milik negara yang menguasai hajat hidup orang banyak satu per satu diprivatisasi sehingga jatuh ke tangan swasta. Kejadian ini merembet pula ke sektor air minum. Beberapa PDAM telah dikuasai oleh swasta. Sebagian besar swasta asing. Sebagian orang menganggap ini sebagai hal lumrah dalam kondisi ekonomi Indonesia yang tak karuan sekarang ini. Tapi apakah kita pernah berpikir bahwa langkah privatisasi sektor air minum ini sangat berbahaya tidak hanya bagi sumber daya air itu sendiri maupun kehidupan manusia pada umumnya? Buku yang ditulis oleh Maude Barlow dan Tony Clarke ini seakan melawan mainstream yang sedang berkembang dewasa ini dalam pengelolaan air. Fakta-fakta empiris menunjukkan privatisasi akan mengakibatkan eksploitasi besar-besaran terhadap air, mengabaikan hak-hak publik, dan menimbulkan konflik sosial.

Blue Gold. Perampasan dan Komersialisasi Sumber Daya Air


Penulis: Maude Barlow dan Tony Clarke Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama Tebal : 327 halaman + xviii

Langkah-langkah privatisasi itu sendiri terjadi secara sistemik. Perusahaan-perusahaan transnasional (lintas negara) secara agresif mengambil alih pelayanan air minum publik dengan dukungan secara penuh dari Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF). Tak heran bila untuk masuk ke suatu negara, dua lembaga inilah yang mendahuluinya dengan mengadakan perubahan sistem perundangan di

suatu negara agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh perusahaan-perusahaan lintas negara ini. Sebelumnya, pemerintah dan institusi internasional menyokong ''Washington Consensus'' yang menyatakan bahwa solusi krisis air bersih adalah privatisasi dan komodifikasi. Buku ini menyatakan privatisasi dan komodifikasi air harus ditentang. Air adalah milik publik dan bagian dari hak asasi manusia. Sumber daya yang vital ini tidak dapat diubah menjadi sebuah komoditas yang dijual kepada penawar tertinggi. Kedua penulis menawarkan solusi bagi gerakan menuju ketahanan air yakni (i) mempromosikan UU Hak Dasar Air; (ii) membentuk dewan tata air lokal; (iii) memperjuangkan UU Perlindungan Air nasional; (iv) menolak perdagangan air secara komersial; (v) mendukung gerakan anti-bendungan; (vi) melawan IMF dan Bank Dunia; (vii) melawan raja-raja air; (viii) menuju kesetaraan air; (ix) mempromosikan Treaty Initiative air sebagai milik bersama; (x) dan mendukung Konvensi Air Global. (MJ)

ernahkah Anda membayangkan apa yang akan terjadi dengan penduduk dunia pada 25 tahun yang akan datang? Populasi penduduk diperkirakan akan mencapai 8 milyar jiwa. Sebanyak 5 milyar di antaranya akan tinggal di perkotaan. Bagaimana air dan sanitasi mereka nantinya, padahal saat ini saja kondisinya sudah parah? Inilah yang mendasari para perencana, arsitek, ahli teknik, ahli lingkungan, ahli biologi, ahli budidaya, dan ahli sosial memutar otak untuk mengembangkan pendekatan terhadap sanitasi yang hemat air, tidak mencemari, dan mengembalikan hasil buangan manusia (tinja dan air kencing) ke tanah/lahan. Pendekatan ini kemudian disebut sebagai 'ecological sanitation'/ecosan (sanitasi ekologi). Buku ini menjelaskan secara panjang lebar mengenai hal ini. Ada empat tema

Sanitasi Model Baru


Judul:

Ecological Sanitation
Editor : Uno Winblad and Mayling Simpson-Hebert

Penerbit: Stockholm Environment Institute, 2004 Tebal : 141 Halaman

utama yang dibahas yakni sanitasi sebagai bagian dari sistem ekologi global, pengalaman penerapan ecosan di berbagai belahan dunia, bagaimana dan kapan pendekatan ecosan ini dilaksanakan, dan visi konsep ecosan pada masyarakat perkotaan. Sanitasi ekologi didasarkan pada tiga

prinsip yakni (i) mencegah polusi lebih baik daripada mengendalikan yang sudah terjadi; (ii) membersihkan--dari penyakit--air kencing dan tinja; (ii) menggunakan produk hasil daur ulang bagi tujuan pertanian. Kalau diringkas: sanitize and recycle (membersihkan dan mendaur ulang). Bagian penting dari ecosan yakni bagaimana membersihkan tinja manusia sebelum digunakan, karena tinja bisa menjadi sumber penyebaran penyakit. Ada dua metode untuk membersihkannya yaitu dehidrasi dan dekomposisi. Dengan metode ini virus, bakteri, dan jamur bisa mati. Barulah tinja tersebut digunakan. Sedangkan air kencing cukup aman untuk digunakan di bidang pertanian tanpa ada proses atau dibiarkan untuk beberapa waktu. Berbagai contoh ecosan dari berbagai penjuru dunia dipaparkan dalam buku ini. (MJ)

38

Percik Juli 2005

NFO CD

Perpustakaan Elektronik Air, Sanitasi, dan Kesehatan


ntuk ketiga kalinya badan kesehatan dunia (WHO) mengeluarkan perpustakaan elektronik mengenai air, sanitasi, dan kesehatan dalam sebuah CD. Perpustakaan elektronik ini berisi berbagai informasi dari berbagai organisasi terkait. Di dalam CD yang dikeluarkan pada Oktober 2004 itu terkandung publikasi dan dokumen dalam bentuk HTML dan beberapa sumber lainnya dalam bentuk PDF. CD ini diperbaharui setiap 12-18 bulan. Edisi berikutnya direncanakan pada Desember 2005. Pengumpulan data ke dalam CD ini bertujuan untuk memudahkan pencarian informasi baik oleh para ilmuwan, pengambil kebijakan, praktisi, mahasiswa, LSM, konsultan, dan sebagainya. Diharapkan dengan adanya CD ini, akses informasi terhadap air, sanitasi, dan kesehatan menjangkau negara-negara

berkembang di seluruh dunia. Topik-topik yang ada antara lain kualitas air minum, pengawasan global terhadap penyediaan air minum dan sanitasi, penataan kesehatan, air limbah yang aman dan penggunaan kotoran manusia, hubungan air dan sanitasi terhadap kesehatan, kualitas sumber air, dan penyehatan lingkungan dalam kon-

disi darurat. Masing-masing topik itu terdiri atas puluhan buku atau makalah. CD ini juga memuat publikasi terbaru. Di antaranya mengenai panduan tentang kualitas air minum edisi 3 (2004), pertemuan MDG mengenai target air minum dan sanitasi (2004), lokakarya nasional kesehatan di Bangkok (2003), dan lokakarya internasional mengenai kesehatan terkait dengan makanan dan lingkungan di Amman, Yordania (2003). Perpustakaan ini memuat pula poster-poster dan foto-foto dari berbagai penjuru dunia. Ada juga katalog air minum, sanitasi, dan kesehatan. Beberapa buku bisa dipesan langsung melalui internet. Semua data dalam CD ini dapat dicari dengan mudah. Pencarian bisa didasarkan atas kata, subjek, judul, organisasi, dan tema. (MJ)

Pengalaman Penerapan CLTS di India


onsep Community-Led Total Sanitation (CLTS) telah masuk ke Indonesia. Kini serangkaian uji coba mulai dilaksanakan di beberapa daerah. Konon konsep tersebut telah sukses mengubah perilaku masyarakat khususnya di Bangladesh dan India yang biasa membuang air besar (BAB) di tempat terbuka pindah ke jamban. Benarkah? Video CD (VCD) CLTS ini setidaknya memberikan gambaran bagaimana konsep tersebut berhasil di kawasan Maharashtra, India. Di sana digambarkan, awalnya masyarakat BAB di semak-semak. Tidak hanya anakanak, tapi juga orang dewasa. Akibatnya bisa diduga, di sekitar desa tersebut, bau tak sedap selalu tercium. Mendengar pengalaman Bangladesh, pemerintah daerah setempat didukung LSM melaksanakan serangkaian kampanye anti dolbun (modol di kebun). Pesan

disampaikan melalui acara kesenian tradisional, pelajaran di sekolah, ceramah agama, dan pemutaran film. Bersama acara ini fasilitator melakukan pemicuan kepada masyarakat. Salah satu cara memicu masyarakat 'benci' terhadap BAB di tempat terbuka yaitu mengajak masyarakat berjalanjalan keliling desa. Warga ternyata tak suka bau tak sedap. Fasilitator juga menjelaskan dampak dari dolbun itu. Akhirnya masyarakat pun sadar bahwa mereka harus membangun jamban untuk memenuhi kebutuhan sanitasi mereka. Aksi gotong royong pun terjadi. Warga bekerja pada malam hari, karena siang mereka sibuk dengan pekerjaan-

nya. Anak-anak sekolah pun dilibatkan untuk mengumpulkan batu untuk konstruksi jamban. Semuanya dibangun secara swadaya. Akhirnya jamban pun jadi. Sejak 2 tahun program itu berjalan, desa-desa di Maharashtra bebas dari dolbun. Penduduk mempunyai toilet. Digambarkan pula ada sebuah pemahaman kepada masyarakat bahwa mereka tak akan bisa menikahkan anaknya kalau tidak memiliki jamban. Selain itu, pada tahap awal sempat pula ada patroli untuk menangkap siapa saja yang dolbun. Mereka yang tertangkap akan didenda 50 Rupee. VCD ini bisa sebagai pembanding bagi daerah-daerah yang menjadi wilayah uji coba CLTS. Tentu isinya tak bisa diambil semuanya mentah-mentah. Ada proses-proses yang menarik untuk disimak, yang disesuaikan dengan budaya Indonesia. (MJ)

Percik Juli 2005

39

S EPUTAR AMPL
Pameran Teknologi Tepat Guna
alam rangka peringatan Hari Air Dunia XIII tahun 2005, panitia nasional Hari Air Dunia menyelenggarakan Pameran Teknologi Tepat Guna pada 27-29 April 2005 di halaman parkir Departemen Pekerjaan Umum. Pameran itu diikuti oleh 100 peserta dari instansi pemerintah, swasta, dan lembaga swadaya masyarakat. Pameran ini dibuka oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Dalam sambutan pembukaannya, ia mengatakan air merupakan kebutuhan hidup yang sangat vital bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Bahkan dapat ditafsirkan bahwa tanpa air tidak akan ada kehidupan karena itu sebagai sumber daya alam anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu ia menegaskan bahwa air juga mempunyai fungsi dan nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan, sehingga harus dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien serta dilindungi fungsinya karena sebagai sumber bagi kehidupan. Pokja AMPL bersama WASPOLA ikut berpartisipasi dalam pameran tersebut. Pokja AMPL menampilkan produk-produk pokja seperti poster, CD, kliping,

FOTO:ISTIMEWA

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto sedang mengunjungi stand pameran Pokja AMPL - WASPOLA.

majalah Percik, newsletter, situs dan lain-lain. Sedangkan WASPOLA menyajikan hasil-hasil kegiatan WASPOLA selama ini berupa beberapa kebijakan dan juga poster serta leaflet. Pameran selama tiga hari ini cukup menyedot pengunjung terutama dari

kalangan pemerintah. Setiap hari arena pameran dipenuhi pengunjung. Hanya saja produk pameran tampaknya kurang sesuai dengan tema yakni pameran teknologi tepat guna karena teknologi yang dipamerkan sangat sedikit. (AK/MJ)

YANG DATANG YANG PENSIUN

&

YA N G B A R U
Ir. Susmono Direktur Pengembangan PLP, Dep. PU Dr. I Nyoman Kandun, MPH Direktur Jenderal PP & PL, Depkes Ir. Ace Yati Hayati, MSi. Plt. Direktur Penyehatan Air dan Sanitasi, Depkes Drs. H. Syamsul Arief Rivai, MS Direktur Jenderal Bangda, Depdagri

YA N G P E N S I U N
Dr. Hening Darpito, SKM. Dipl SE Direktur Penyehatan Air dan Sanitasi, Depkes Ir. Budiman Arif Sekjen Dep. PU Hartoyo Anggota Pokja AMPL dari Depkes Sutjipto Anggota Pokja AMPL dari Depkes

Ir. Agoes Widjanarko, MIP Direktur Jenderal Cipta Karya, Dep. PU Ir. Ismanto, M.Sc Sesditjen Cipta Karya, Dep. PU Ir. Djoko Muryanto, M.Sc Direktur Bina Program, Dep. PU Ir. Poedjastanto S,CES,DEA Direktur Pengembangan Air Minum, Dep. PU

40

Percik Juli 2005

S EPUTAR AMPL
Peresmian Proyek-Proyek SANIMAS
FOTO:OSWAR MUNGKASA

royek-proyek Sanitasi untuk Masyarakat (SANIMAS) di beberapa kota selesai dibangun pada tahun 2005. Proyek ini bertujuan (i) memperbaiki sarana sanitasi masyarakat yang mengelola limbah cair domestik berupa hasil kegiatan cuci, mandi dan jamban di perkampungan kumuh/miskin perkotaan dengan pendekatan sanitasi berbasis masyarakat (SBM); (ii) sarana sanitasi berbasis masyarakat menjadi salah satu pilihan pemerintah daerah. Seiring penyelesaian proyek tersebut serangkaian upacara peresmian pun dilakukan. Berikut ini laporan pelaksanaan peresmian berikut penjelasan ringkas tentang SANIMAS di masingmasing daerah.

Kota Denpasar, Bali


royek SANIMAS II Kota Denpasar Bali diresmikan oleh Pejabat Sekda Kota Denpasar pada tanggal 24 Maret 2005. Proyek berada di Lingkungan Kusuma Bangsa, Banjar Mekar Manis, Desa Pemecutan Kaja, Kecamatan Denpasar Barat, sekitar 1,5 km dari pusat kota Denpasar. Lokasi peresmian tepat di atas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang dibangun di bawah badan jalan. Hadir dalam peresmian itu wakil pemerintah pusat, pemerintah daerah berbatasan seperti Kabupaten Badung, Kabupaten Jembarana, BORDA, Bali Fokus, dan wakil pemanfaat SANIMAS I. SANIMAS II merupakan hasil kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, LSM dan masyarakat. Alokasi dananya sebesar 275,9 juta dengan komposisi (i) pemerintah kota Denpasar (Dinas Lingkungan Hidup) sebesar Rp. 150 juta (54,4 persen) berbentuk bantuan langsung masyarakat (BLM); (ii) pemerintah pusat (Departemen Pekerjaan Umum) sebesar Rp. 67,3 juta (24,4 persen) berbentuk material; (iii) BORDA (LSM) sebesar Rp. 50 juta (18,1 persen) berbentuk fasilitasi; (iv) kontribusi

masyarakat calon pengguna dalam bentuk tunai sebesar Rp. 5 juta dan swadaya senilai Rp. 3,6 juta (3,1 persen). Pembangunan proyek ini dilaksanakan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Kusuma Bangsa menjadi pelaksana SANIMAS II dengan fasilitasi Bali Fokus yang merupakan mitra BORDA Indonesia. Masyarakat medapat fasilitasi pendampingan dan pemberdayaan mulai dari tahap perencanaan, pembangunan hingga pengoperasian sistem sanitasi komunal melalui pelatihan, kampanye kesehatan maupun diskusi/rapat. Sebelum ada proyek ini, masyarakat menggunakan air bersih dari sumber sumur dangkal dan sumur bor. Sementara jamban yang dipergunakan penduduk tidak dilengkapi dengan tangki septik yang memadai sehingga kotoran langsung disalurkan ke kali terdekat. Sungai menjadi tercemar. SANIMAS II ini melayani 211 KK atau 800 jiwa. Mata pencaharian mereka adalah pedagang sate, pedagang kaki lima, buruh dan pekerja bangunan/tukang dengan rata-rata pendapatan Rp. 500.000 per bulan. Sistem yang dibangun berupa sistem perpipaan dari rumah ke Instalasi

Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dibangun di bawah badan jalan. Teknologi yang dipergunakan adalah tangki septik bersusun (Anaerobic Baffled ReactorABR). Kegiatan konstruksi dilaksanakan dari Nopember 2004 - Februari 2005. Pengelola sarana dan prasarana SANIMAS II yaitu KSM Kusuma Bangsa beranggotakan pengguna sarana. Mereka ini telah mendapat pelatihan manajemen dan pemberdayaan oleh BORDA pada Oktober 2004 di Yogyakarta. Masyarakat pengguna bersepakat untuk membayar iuran sebesar Rp. 5.000/KK/bulan yang digunakan untuk pengoperasian, pemeliharaan sarana dan kebersihan lingkungan. Selain memperbaiki sarana sanitasi, proyek ini mampu menghasilkan energi alternatif berupa gas yang dapat dipergunakan untuk memasak. Berdasar pengalaman empiris, setidaknya gas yang dihasilkan dapat dipergunakan oleh 3 KK. (OM)

Kota Pasuruan, Jawa Timur

ANIMAS II Kota Pasuruan diresmikan Walikota Pasuruan pada 6 April 2005. Hadir pada acara itu Ketua DPRD Kota Pasuruan, Kepala Bappeda, tokoh masyarakat, perwakilan pemerin-

Percik Juli 2005

41

S EPUTAR AMPL
FOTO:ISTIMEWA

tah pusat, perwakilan BORDA, dan fasilitator setempat. Peresmian dilaksanakan di Kampung Karang Kletak RW III/Rt.06 Kelurahan Mandaranrejo, Kecamatan Kidul, Kota Pasuruan. Proyek SANIMAS itu berupa pembangunan MCK berupa komponen toilet (jamban, kamar mandi, dan tempat mencuci), komponen perpipaan, dan pengolah air limbah yang dilengkapi penangkap biogas. Pemilihan opsi MCK didasarkan atas keterbatasan lahan yang dimiliki warga sehingga tidak memungkinkan untuk dibuat jamban keluarga. Pemilihan lahan (seluas 100 m2) untuk MCK dilakukan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh TFL (Tim Fasilitator Lapangan) dan LSM Best Surabaya. Pembangunan MCK tersebut menghabiskan dana sebesar Rp 314 juta yang berasal dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Kota Pasuruan, BORDA dan masyarakat. Pembangunan MCK baru selesai pada minggu terakhir Maret 2005 sehingga MCK tersebut belum digunakan oleh masyarakat. Walaupun demikian, di sekitar rumah warga terdapat MCK umum yang baru beroperasi kembali setelah tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup bersih dan sehat akibat adanya SANIMAS. Direncanakan biogas yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak bagi 3-4 rumah. Tapi masyarakat masih sanksi mengenai keberadaan gas tersebut sehingga gas tersebut baru digunakan pada rumah jaga MCK. Air MCK itu menggunakan air PDAM yang ditampung pada dua unit reservoir. Sumber air tanah tidak dapat digunakan karena kualitas yang tidak memungkinkan. Oleh karena itu MCK itu bisa mencari penghasilan tambahan dari menjual air mengingat sebagian masyarakat membeli air dari water vendor.

diketahui bahwa jumlah pelanggan meningkat dari 72 KK menjadi 94 KK. Kapasitas sistem yang ada mencapai 150 KK. Iuran yang dikenakan pada setiap KK adalah Rp. 2.000 per bulan. Uniknya lahan di atas IPAL dijadikan lokasi pertemuan warga termasuk juga menjadi lokasi olahraga. Sumber dana Sanimas I berasal dari hibah Australia, pemerintah kota, dan masyarakat setempat. (OM)

Pamekasan, Jawa Timur


Pengelolaan MCK itu dilaksanakan oleh masyarakat. Selama tujuh hari pertama, masyarakat bisa menggunakan secara cuma-cuma. Selanjutnya masyarakat akan diminta kontribusi yang besarnya akan ditetapkan kemudian. (Ita)

Kota Blitar, Jawa Timur


alikota Blitar Djarot Saiful meresmikan SANIMAS II di Desa Kauman, Kota Blitar, pada 13 April 2005. Hadir pada acara itu wakil dari pusat, Ketua DPRD Kota Blitar, LSM BORDA dan asosiasinya, dan tokoh masyarakat setempat. Proyek SANIMAS II ini berupa Sistem Sanitasi Komunal. Sistem ini berkapasitas 100 KK, tetapi untuk sementara penduduk yang terlayani baru mencapai 67 KK atau 269 jiwa. Sistem ini dibangun dengan menggunakan dana dari pemerintah pusat, pemerintah kota, LSM BORDA, dan masyarakat setempat. Pengelolaan fasilitas akan ditangani oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Ngudhi Raharjo yang dibentuk sendiri oleh masyarakat. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan peninjauan terhadap lokasi Sistem Sanitasi Komunal SANIMAS I. Berdasar wawancara dengan penduduk setempat,

ANIMAS Pamekasan diresmikan pada 28 Juni lalu. Acara berlangsung di Pondok Pesantren Miftahul Qulub, Desa Polagan, Kec. Galis, Pamekasan, Jawa Timur. Peresmian dilakukan oleh Bupati Pamekasan Drs. Achmad Syafi'i. Hadir dalam acara itu Ketua DPRD setempat, Oswar Mungkasa dari Bappenas, dan wakil dari Pondok Pesantren Sumber Bungur, Pamekasan. SANIMAS Pamekasan berada di dua Pondok Pesantren yakni Miftahul Qulub dan Sumber Bungur. Keberadaan proyek ini sangat bermanfaat bagi para santri mengingat kondisi MCK di lembaga tersebut kurang layak. Rasio ketersediaan jamban dan pemakainya tidak imbang. Catatan pemkab setempat menemukan di empat pesantren yang diteliti, satu jamban digunakan oleh 200-400 orang per hari. Sebelumnya proyek SANIMAS sempat akan dibangun di kota Pamekasan namun gagal karena ada warga yang menolak. Proyek itu kemudian dialihkan ke pondok pesantren. Saat ini banyak pesantren lain yang berminat untuk mendapatkan bantuan. Dibutuhkan uluran tangan dari lembaga donor maupun LSM untuk membantu pesantren tersebut
(MJ/AK)

42

Percik Juli 2005

S EPUTAR AMPL
Pelatihan MPA/PHAST CWSHP

ebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan pengelola proyek, pemerintah menyelenggarakan 'Pelatihan Manajemen Pengelola Kegiatan dan Pelatihan Mobilisasi Metode MPA/PHAST CWSHP', di Pasuruan Jawa Timur pada 19 hingga 26 Juni 2005 lalu. Pelatihan ini dibuka oleh Ir. Ace Yati Hayati, MS., Plt. Direktur Penyehatan Air dan Sanitasi, Ditjen PPMPL Depkes. Peserta berjumlah 64 orang, berasal dari pengelola Proyek CWSH di tingkat kabupaten, propinsi dan pusat. Materi yang disampaikan dalam pelatihan meliputi rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2006 Bidang Kesehatan, Kebijakan Pembangunan Nasional Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, Pengelolaan proyek CWSH, dan pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan metoda MPA/PHAST.

FOTO:ISTIMEWA

Kabupaten Lokasi CWSH


No Propinsi Kabupaten 1. Kapuas 2. Kotawaringin Timur 3. Katingan 4. Barito Selatan 5. Pulang Pisau 6. Barito Timur 1. Landak 2. Sanggai 3. Kapuas Hulu 4. Ketapang 5. Sintang 6. Sambas 1. Tanjung Jabung Barat 2. Bungo 3. Batang Hari 4. Sarolangun 5. Muaro Jambi 1. Bengkulu Utara 2. Bengkulu selatan 3. Rejang Lebong

Kalimantan Timur

Proyek Community Water Services and Health (CWSH) bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap air minum dan sanitasi. Metode MPA/PHAST (Methodology for Participatory Assessment/ Participatory Hygiene and Sanitation Transformation) merupakan metode untuk meningkatkan peran masyarakat dalam identifikasi, analisis dan pemecahan masalah. (OM)

Kalimantan Barat

Jambi

Bengkulu

Diskusi Mengatasi Krisis Air Bersih


orum Diskusi Forkami (FDF) Kamis, 2 Juni 2005, mengadakan diskusi dengan topik 'Mengatasi Krisis Air Bersih dengan Menggunakan Tanah'. Diskusi ini menampilkan narasumber Achmad Rachman, peneliti Konservasi Tanah dan Air di Balai Penelitian Tanah, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor. Dalam presentasinya, Achmad mengungkapkan eksploitasi air tanah secara besar-besaran mengakibatkan penurunan muka air tanah, penurunan permukaan tanah, serta intrusi air laut. Untuk mengatasi dampak tersebut, menurutnya, perlu dilakukan upaya-upaya meningkatkan suplai air tanah. Berbagai teknik bisa dikembangkan seperti sumur resapan, pembangunan embung, kolam dan danau buatan. Ia juga menawarkan sebuah teknologi penam-

FOTO:ANDRE K

pungan air di bawah permukaan tanah dengan pemasangan jaringan pipa berpori. Prinsip kerja teknologi ini adalah dengan menampung sementara air hujan di dalam rangkaian pipa berpori yang ditanam di bawah permukaan tanah. Kemudian air tersebut meresap ke tanah di sekitar pipa dan seterusnya air bergerak ke bagian tanah yang masih kering. Teknologi ini memungkinkan peng-

gunaan lahan yang efisien, biaya perawatan yang murah dan tidak mengganggu keindahan. Namun ada kekurangannya yaitu biaya pemasangan yang besar serta perlu keahlian khusus untuk merencanakan dan membuatnya. Peserta diskusi menyambut positif gagasan teknologi ini. Namun penerapannya masih memerlukan strategi-strategi khusus. Teknologi ini dinilai lebih sesuai diterapkan pada bangunan-bangunan yang memanfaatkan lahan cukup luas seperti perkantoran, pusat perbelanjaan dan lain-lain. Selain itu juga perlu diperhitungkan pengaruh pemasangan jaringan pipa berpori terhadap kemampuan tanah untuk menanggung beban fisik bangunan di atasnya. Agar penerapan teknologi ini dapat dilakukan secara luas, perlu dibuat aturan-aturan yang mengikat secara hukum berikut mekanisme insentif dan disinsentifnya. (AK)

Percik Juli 2005

43

S EPUTAR AMPL
Dialog Nasional Pengelolaan Persampahan

FOTO-FOTO:ANDRE K

una ikut mencari solusi persampahan nasional, 4 Juni 2005 lalu diselenggarakan "Dialog Nasional Mencari Solusi Pengelolaan Sampah di Indonesia" di Jakarta Hilton Convention Center. Acara ini merupakan hasil kerja sama antara Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Lingkungan Indonesia (IATPI) dan Indonesia Solid Waste Association (InSWA). Dialog ini bertujuan untuk membangun sinergi dan komitmen dari para pelaku sebagai pijakan bagi para pengambil keputusan dalam menyusun komitmen nyata dan strategi kebijakan sektor persampahan yang berkelanjutan. Dialog nasional ini dibuka oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar. Dialog ini terbagi dalam dua sesi. Pembicara pada sesi pertama yakni Sarwono Kusumaatmaja (Anggota DPD RI), Basah Hernowo (Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas), Agus Widjanarko (Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum) dan Sri Bebassari (Ahli Persampahan Bank Dunia IWF/InSWA) dengan moderator Parni Hadi. Sesi ini membahas prioritas pembangunan yang berorientasi clean first dan konsep dasar kerangka hukum, institusi, dan pembiayaan. Tampil sebagai pembicara Tjatur Sapto Edi (Anggota DPR-RI/IATPI), Bagong Suyoto (LSM Tapak Biru), Sayogo H. (Anggota DPRD DKI Jakarta), dan Imdaad Hamid (Walikota Balikpapan). Beberapa isu penting persampahan yang muncul antara lain belum ada kebijakan publik dan undang-undang yang dapat menjadi payung hukum, koordinasi antar lembaga publik dalam pengelolaan persampahan lemah, posisi masyarakat dalam konflik yang berkaitan dengan persampahan lemah, serta investasi publik dan swasta dalam pengelolaan

Suasana Dialog Nasional Persampahan di Jakarta.

sampah yang masih rendah. Dari dialog ini muncul kesepakatan bahwa penyelesaian masalah sampah memerlukan keterlibatan banyak sektor. Oleh karena itu perlu segera disusun kerangka hukum dan kebijakan yang mengatur peran serta tanggung jawab pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan sampah. Kerangka hukum dan kebijakan tersebut diharapkan dapat memberikan iklim yang kondusif bagi keterlibatan sektor swasta. Pada sesi kedua, tampil pembicara

wakil Gubernur Jawa Barat, Rama Boedi (Dinas Kebersihan DKI Jakarta), Slamet Daroyni (WALHI), Djoko Heru Martono (Ahli Persampahan BPPT - IWF/InSWA). Sesi ini membahas sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, pengelolaan sampah dalam konteks desentralisasi, regionalisasi, dan privatisasi, social engineering dan social empowerment, serta strategi pengelolaan bertahap dengan teknologi yang ramah lingkungan. Sebagai pembahas yakni Enri Damanhuri (Ahli Persampahan ITB), Widhi Handoko (IATPI), dan Katie Andriani dari Sekretariat Bersama JWMC. Dialog ini menyepakati pembentukan badan pengelola persampahan yang melibatkan pemerintah-pemerintah daerah, masyarakat dan swasta. Badan pengelola ini sebaiknya berupa badan usaha sehingga dapat menjadi alternatif investasi yang menarik bagi sektor swasta. Hanya saja perlu diperhatikan agar adanya badan pengelola tidak merugikan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya pada sampah. (AK)

44

Percik Juli 2005

S EPUTAR AMPL
Pertemuan Awal Multistakeholder Global PSP Review dalam Sektor Air Minum dan Sanitasi di Indonesia
eran serta swasta merupakan salah satu komponen penyelenggaraan AMPL berbasis lembaga, namun sampai sekarang masih tetap menjadi perdebatan hangat. Beberapa lembaga internasional yang bergerak maupun peduli dengan peran serta swasta dalam sektor air minum dan sanitasi, terutama dalam hal manfaat atau dampak yang telah dihasilkan, sepakat untuk mengadakan review global peran serta swasta dalam sektor air minum dan sanitasi. Indonesia merupakan salah satu negara yang diharapkan dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan review global ini. Oleh karena itu pada tanggal 29 Juni 2005, program global PSP review bekerja sama dengan FORKAMI (Forum Komunikasi Air Minum) menyelenggarakan

pertemuan awal multistakeholder PSP sektor air minum dan sanitasi di Indonesia. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari pemerintah, swasta, penyedia jasa (PAM Jaya), LSM, akademisi, WASPOLA, Apeksi, dan Perpamsi. Pertemuan ini bertujuan untuk mendapatkan kesepakatan dari multistakeholder sektor air minum dan sanitasi tentang perlu tidaknya dilakukan review PSP di Indonesia. Project coordinator global PSP review atas nama kelompok kerja internasional memberikan beberapa poin sebagai bahan diskusi, yaitu: penjelasan mengenai global PSP review, manfaat global PSP review bagi Indonesia, apakah studi ini akan mendukung proses kebijakan nasional? Jika ya, bagaimana menjadikan ini terlaksana di lapangan.

Pada akhir pertemuan, multistakeholder sektor air minum dan sanitasi sepakat bahwa Indonesia akan menjadi bagian dari kegiatan global PSP review, untuk itu disepakati pembentukan sebuah interim working group yang terdiri atas berbagai komponen, salah satunya adalah WASPOLA. Anggota interim working group yaitu Riant (Badan Regulator Pelayanan Air Minum Jakarta), Budi (Unika Soegiyo Pranoto Semarang), Bernard (PAM Lyonnaise Jaya), Hamong (Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air/Kruha), Sugiono (Forum Komunikasi Air Minum/FORKAMI), Dameria (Serikat Pekerja PAM Jaya), Bambang Purwanto (Dep. Pekerjaan Umum), Oswar Mungkasa (Bappenas & WASPOLA), Lis Novani (PAM Jaya), dan Rhamses (Thames PAM Jaya). (Lina)

Kampanye Remaja Tolak Plastik


da yang menarik saat pameran lingkungan di Jakarta 2-5 Juni lalu. Sekelompok remaja memamerkan poster anti bungkus plastik ''Say No to Plastic'' begitu judul besar poster tersebut. Poster tersebut merupakan bagian dari kampanye remaja yang tergabung dalam Tunas Hijau, sebuah kelompok remaja peduli lingkungan yang berpusat di Kota Surabaya. Presiden Tunas Hijau, M Zamroni menjelaskan kampanye ini merupakan langkah untuk mengurangi penggunaan jumlah kantong plastik khususnya untuk berbelanja. ''Kita tahu plastik tidak bisa diuraikan kalau sudah jadi sampah,'' katanya. Dalam kampanyenya itu Tunas Hijau mengajak masyarakat berpikir dua kali untuk meminta kantong plastik -

jika barang belanjaan sedikit dan mudah untuk dibawa. Sebagai alternatif, masyarakat diajak untuk menyediakan kantong kain di rumah, kantor, sepeda motor, dan mobil agar tak perlu meminta kantong plastik jika berbelanja. Selain itu, masyarakat diajak untuk selalu meminta toko langganan berhenti menyediakan kantong plastik gratis. Lebih dari itu, mereka menyarankan kepada wakil rakyat agar mengenalkan peraturan pajak bagi penggunaan kantong plastik atau larangan penggunaan kantong plastik. Zamroni menjelaskan aksi kampanye ini mendapat sambutan cukup baik dari masyarakat. ''Tidak ada yang menentang, umumnya masyarakat bisa menerima,'' katanya. Ini terbukti pula dari dukungan perusahaan yang

ada di Surabaya yang mau berpartisipasi dalam kampanye tersebut. Tunas Hijau dirintis sejak tahun 1999. Pendirinya adalah lima remaja alumni pertukaran pemuda IndonesiaAustralia bidang lingkungan. Sepulang dari Australia mereka memulai untuk mengajak masyarakat peduli lingkungan khususnya soal sampah. ''Masyarakat kita masih acuh. Padahal di Australia hampir 95 persen warganya membuang sampah pada tempatnya. Makanya kita bergerak di situ,'' jelas Zamroni yang kini masih kuliah di Unair. Kini anggota Tunas Hijau mencapai 700 orang. Mereka ada yang masih anak-anak (7 tahun) hingga dewasa (29 tahun). Anggota Tunas Hijau tersebar di Jawa Timur. Tunas Hijau juga berencana memperluas jangkauan keanggotaannya. (MJ)

Percik Juli 2005

45

S EPUTAR WASPOLA
Belajar Menyusun Road Mapping Menuju Pencapaian Target MDG-AMPL

ASPOLA menyelenggarakan Lokakarya dan Pelatihan Operasionalisasi Kebijakan dan Penyusunan Rencana Strategis AMPL Daerah. Kegiatan ini berlangsung di dua kota, Makassar pada 30 Mei-3 Juni 2005 untuk wilayah timur (Gorontalo, Sulawesi Selatan, NTB dan Sulaewesi Tenggara) dan di Puncak, Bogor, pada 6-10 Juni 2005 untuk wilayah barat (Sumatera Barat, Bangka Belitung, Banten and Jawa Tengah). Total peserta berjumlah 89 orang. Lokakarya dan pelatihan ini merupakan langkah persiapan bagi daerah dalam pelaksanaan kebijakan tahun 2005 yang akan diselenggarakan di 8 Propinsi dan 21 kabupaten. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan bekal pemahaman menganai kebijakan nasional AMPL berbasis masyarakat dan operasionalisasinya. Secara khusus kegiatan ini membahas teknis penyusunan

rencana strategis pembangunan AMPL daerah dikaitkan dengan upaya pencapaian target layanan sebagaimana diamanatkan dalam MDGs. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai kebijakan dan operasionalisasinya serta penyusunan rencana strategis pembangunan AMPL daerah. Tujuan khusus dalam lokakarya ini mencakup; Melakukan kajian dan kesamaan persepsi mengenai kebijakan dalam konteks daerah, rating dan signifikasi pokok-pokok kebijakan sesuai dengan kebutuhan daerah. Melakukan analisis kebijakan tekini di masing-masing daerah terkait dengan pembangunan AMPL berkelanjutan Memahami road mapping operasionalisasi kebijakan dalam kerangka mencapai target MDGs Belajar dan praktek menyusun rencana strategis pembangunan AMPL daerah

Secara umum lokakarya dan pelatihan ini dibagi menjadi dua bagian mencakup pemahaman kebijakan dan penyusunan rencana strategis pembangunan AMPL. Seluruh proses dilaksanakan secara partisipatif dengan memposisikan semua peserta sebagai narasumber mengenai kondisi daerah masing-masing. Lokakarya dan pelatihan ini telah menghasilkan kesamaan persepsi mengenai setiap pokok kebijakan dalam konteks daerah dan prioritas serta signifikansinya sesuai dengan kondisi daerah. Selain itu muncul kesadaran peserta mengenai isu dan permasalahan keberlanjutan pembangunan AMPL daerah. Peserta juga mampu menyusun rencana strategis pembangunan AMPL di daerah secara partisipatif. (Subari/MJ)

Proyek WSLIC 2 di Kab. Sawahlunto Sijunjung Diresmikan


royek WSLIC 2 di 37 lokasi di Kab. Sawahlunto Sijunjung, Sumatera Barat, 30 Mei lalu diresmikan. Acara serah terima dipusatkan di Nagari Mundam Sakti, Jorong IV Nagari. Peresmian ini dihadiri oleh Bupati Sawahlunto Sijunjung, Darius Apan, Dirjen PPMPL Depkes Umar Fahmi Ahmadi, Direktur PAS Depkes Hening Darpito, Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas Basah Hernowo, Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas Arum Atmawikarta, serta perwakilan dari instansi terkait. Kepala Dinas Kesehatan Kab Sawahlunto Sijunjung menjelaskan WSLIC 2 telah dilaksanakan pada 50 lokasi. Sebanyak 37 siap diserahterimakan dan telah memiliki unit pengelola sarana. Sisanya masih dalam proses kontrak. Tokoh adat yang hadir dalam peresmian itu menyatakan bahwa proyek

WSLIC 2 tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan akses air minum dan sanitasi serta meningkatkan kesehatan namun berfungsi untuk menggerakkan ekonomi masyarakat serta mendukung aktivitas keagamaan, karena sejak air bersih tersedia di rumah maka masyarakat semakin giat melaksanakan shalat tahajud. Dirjen PPMPL mengatakan penyediaan air bersih dan sanitasi, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dapat mengurangi angka kesakitan diare sebesar 40 persen. Selain itu, kegiatan tersebut dapat membantu mengurangi penyebaran penyakit polio, yang akhir-akhir ini mewabah di Indonesia. Usai acara diadakan kunjungan ke Nagari Gantung Ciri, Jorong Kampung Baru. Prasarana dan sarana air minum yang dibangun barupa 35 unit sambungan rumah serta 19 kran umum. Adapun jumlah jamban sebanyak 28 buah. Pembangunan jam-

ban pada nagari tersebut tidak menggunakan pola dana bergulir melainkan menggunakan dana pribadi masyarakat karena pembangunan jamban keluarga merupakan prasyarat bagi masyarakat yang ingin mempunyai sambungan rumah. Masyarakat juga telah membangun tempat wudlu, kran umum, sambungan rumah, bak pelepas tekan maupun bronkaptering (bangunan penangkap mata air). Kualitas air yang dialirkan secara fisik cukup baik (tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna). Namun demikian, karat pada pipa besi di bronkaptering mengindikasikan bahwa kadar Fe (besi) yang cukup tinggi. Oleh karena itu, Dir. Permukiman dan Perumahan Bappenas menyarankan agar masyarakat membuat sedikit trap (undakan) pada bronkaptering untuk membantu proses aerasi sehingga dapat menurunkan kadar Fe tersebut. (Ita)

46

Percik Juli 2005

S EPUTAR WASPOLA
Pertemuan Kelompok Kerja AMPL dengan Director of Water and Energy, the World Bank

alam kunjungannya ke Indonesia Director of Water and Energy, the World Bank, Jamal Saghir berkesempatan untuk bertemu dengan Kelompok Kerja AMPL. Pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 28 Juni 2005 di Sekretariat WASPOLA dan dipimpin oleh Direktur Perumahan dan Permukiman, Bappenas, Basah Hernowo. Dalam pembukaannya Basah Hernowo memaparkan pencapaian dan beberapa kegiatan WASPOLA sampai saat ini. Selain Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat yang telah diselesaikan pada WASPOLA tahap 1, saat ini Kelompok Kerja telah menyelesaikan konsep Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Lembaga. Konsep ini diharapkan dapat disahkan dengan persetujuan Dirjen/Deputi di departemen terkait. Pada tahap 2, kegiatan WASPOLA lebih terfokus pada pelaksanaan kebijakan di tingkat daerah melalui fasilitasi pemerintah pusat. Kegiatan lain lebih pada upaya

annya atas pencapaian Kelompok Kerja WASPOLA, menurutnya Kebijakan yang telah disusun adalah output yang sangat penting bagi penyelenggaraan sektor AMPL di Indonesia. Pada tahap ini Kelompok Kerja harus sudah mulai merubah fokus pada hal-hal yang akan FOTO: LINA mendukung proses "translating policy into practice". Salah satu kegiatan utama yang disarankan Jamal Saghir adalah analisa fiscal flow (alur pembiayaan) dalam sektor AMPL. Menurutnya selain kebijakan dan strateginya, pembiayaan adalah komponen penting dalam sektor AMPL, tanpa kejelasan kerangka pembiayaan prinsip kebijakan akan sulit untuk diterapkan. Selain tentang alur pembiayaan, Jamal Saghir juga menyarankan agar kegiataan pada tahap 2 ini lebih memfokuskan pada sektor sanitasi. harapkan dapat menjadi payung atau Sanitasi selama ini jauh tertinggal acuan bagi program sejenis seperti misaldibanding air minum, perlu ada upaya nya ISSDP (Indonesia Sanitation Sector untuk memperkecil ketertinggalan terseDevelopment Program). but. (Lina) Jamal Saghir menyatakan penghargamencari pendekatan yang efektif dalam meningkatkan cakupan AMPL, seperti misalnya uji coba CLTS (Community-led Total Sanitation). Basah Hernowo juga mengatakan bahwa Kebijakan yang telah disusun melalui fasilitasi WASPOLA di-

Lokakarya Diseminasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Di Propinsi Banten

ebagai upaya mendorong pemerintah daerah untuk melaksanakan Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) berbasis masyarakat, WASPOLA menyelenggarakan Lokakarya Diseminasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL di Serang, Banten pada 3 Mei 2005. Lokakarya ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari Kota Cilegon, Kota Tangerang, Kab. Serang, Kab. Tangerang, Kab. Pandeglang, dan Kab. Lebak. Lokakarya tersebut dibuka oleh Kepala Bappeda Propinsi Banten. Ada empat topik yang disampaikan dalam lokakarya

yakni kebijakan nasional pembangunan AMPL, kondisi air tanah dan permukaan di Banten, kebijakan dan strategi kesehatan Prop. Banten, dan adopsi kebijakan nasional AMPL di Kab. Lebak. Materi kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat disampaikan oleh Oswar Mungkasa dari Bappenas. Ia menjelaskan kondisi layanan air minum dan penyehatan lingkungan di Indonesia yang masih rendah. Di sisi lain, lanjutnya, tahun 2015 Indonesia-sesuai target MDG-dituntut bisa mengurangi 50 persen dari mereka yang belum memiliki akses air minum dan

sanitasi dasar. Padahal kemampuan pemerintah semakin terbatas, pertumbuhan penduduk semakin cepat, cadangan air baku semakin berkurang, dan permasalahan penyehatan lingkungan semakin kompleks. Oleh karena itu, pemerintah menyusun kebijakan nasional pembangunan AMPL. Diharapkan kebijakan ini menjadi acuan bagi semua pihak dalam pembangunan AMPL yang berkelanjutan, selanjutnya dioperasionalisasikan ke dalam langkah dan strategi oleh pemerintah daerah, dan akhirnya ditindaklanjuti ke dalam rencana dan pelaksanaan di daerah. (MJ)

Percik Juli 2005

47

S EPUTAR WASPOLA
Hasil Lokakarya Sanitasi Kerangka Pengelolaan Sanitasi Perkotaan

"S

anitasi si anak yang terlupakan", pernyataan yang dikemukakan oleh salah satu presenter dalam lokakarya ini terasa sangat relevan dengan kondisi sanitasi kita. Sektor sanitasi di Indonesia terutama di perkotaan masih jauh tertinggal dibandingkan dengan sektor air minum dan sektor-sektor lain. Saat ini, cakupan pelayanan sistem pembuangan air limbah terpusat di daerah perkotaan hanya melayani sekitar 2 persen dari jumlah penduduk. Sementara itu, biaya sosial dan ekonomi dari masalah kesehatan yang terkait dengan persoalan sanitasi diperkirakan mencapai 2,4 persen dari PDB (sekitar 4,7 milyar dolar atau Rp. 100.000/rumah tangga/bulan). Oleh karena itu, sanitasi perkotaan dipilih menjadi topik utama dalam lokakarya ini. Lokakarya ini diselenggarakan oleh Bank Dunia bekerja sama dengan Forum Komunikasi Air Limbah (FORKALIM) di Makassar, 28-29 April 2005. Peserta yang hadir berasal dari berbagai institusi yaitu PDAM, perguruan tinggi, departemen terkait, pemerintah daerah, DPRD, LSM, serta beberapa lembaga internasional seperti Bank Dunia, WSP, dan USAID. Pembicara tamu antara lain berasal dari Water and Sanitation Anchor Bank Dunia dan Indah Water Konsortium (IWK) dari Malaysia. Lokakarya dilakukan dengan memadukan metode presentasi dan diskusi partisipatif. Topik diskusi meliputi pilihan sanitasi, mulai dari sanitasi dengan pendekatan berbasis masyarakat, sampai sistem skala kota; kemungkinan peran PDAM dalam pengelolaan sanitasi; dan masalah pemulihan biaya. Topik ini dipersempit menuju pendekatan terpilah/modular (un-bundling) sebagai pendekatan yang dinilai mampu memecahkan tantangan sanitasi perkotaan. Lokakarya terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama mengangkat berbagai topik

Sanitasi si anak yang terlupakan*

*Ambillah, dia tanggung jawab anda (Dep PU), (Dep. A) Bukan, dia tanggung jawab anda (Dep Kes) (Dep. B), Bukan, anda ambil dia (Depdagri) (Dep. C)

Dari WSP Afrika Timur

yang terkait dengan sanitasi perkotaan dalam bentuk presentasi. Topik pertama adalah 'Pembelajaran dan pengalaman global dari sanitasi skala kota termasuk masyarakat miskin perkotaan'. Poin utama yang dikemukan tentang empat hal penting untuk konsep strategis sanitasi perkotaan yaitu (i) skema investasi yang terkait dengan prinsip penerima manfaat adalah penanggung biaya (individu v.s. publik); (ii) keuntungan dari pendekatan modular/terpilah (un-bundling) yang memadukan berbagai pilihan sanitasi dari mulai sanitasi berbasis masyarakat sampai sanitasi perpipaan; (iii) pentingnya promosi sanitasi dan higienis untuk menumbuhkan kesadaran dan kebutuhan akan sanitasi, serta mengubah perilaku masyarakat; (iv) rencana strategis sanitasi skala kota perlu dikembangkan dengan kepemimpinan dari tingkat pemerintah namun juga harus melibatkan pihak-pihak lain termasuk masyarakat. Topik kedua mengenai 'Pendekatan dalam pemulihan biaya sanitasi skala kota', yang dibawakan oleh PDAM yang

Un-bundling

rtinya memisahkan pelayanan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil seperti pendekatan 'modular'. Keuntungannya adalah: Bisa menggunakan teknologi dan tingkat pelayanan yang berbeda Lebih banyak pihak yang terlibat Masyarakat yang mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalahnya Pendanaan bisa bertahap dalam jumlah yang lebih kecil dan sumber dana yang lebih bervariasi Meningkatkan pilihan peranserta dan kepemilikan oleh pengguna.

mengelola sistem sanitasi perpipaan yakni PDAM Banjarmasin dan Surakarta. PDAM tersebut saat ini mengoperasikan IPLT dengan kapasitas 500 m3/hari dan sistem sanitasi perpipaan yang melayani area seluas 16,5 Ha (0,002 persen dari luas wilayah kota), dengan 528 sambungan. Sistem saluran air limbah terutama bagi daerah komersial, dan teknologi yang dipakai memiliki biaya O&M yang relatif rendah. Kedua faktor ini dinilai sangat berpengaruh terhadap pendapatan dan pengeluaran. Dengan efisiensi

48

Percik Juli 2005

S EPUTAR WASPOLA
penagihan sebesar 87 persen dan pendapatan sekitar Rp. 35 juta/bulan, PDAM Banjarmasin mampu menutupi sebagian besar biaya operasi dan pemeliharaan. Berbeda dengan PDAM Surakarta, yang mengoperasikan jaringan perpipaan air limbah yang melayani sekitar 10 persen dari jumlah penduduk melalui 5.700 sambungan. Komposisinya 99,4 persen rumah tangga (domestik) dan 0,6 persen komersial dan niaga. Efisiensi penagihan di kuarter pertama 2005 hanya sekitar 14,5 persen, hal ini menjadikan pengelolaan air limbah di Surakarta masih jauh dari cost recovery. Topik ketiga tentang 'SBM (Sanitasi Berbasis Masyarakat) dan pemetaan sebagai tahapan menuju sanitasi perpipaan yang efisien'. Ciri utama sanitasi berbasis masyarakat adalah menempatkan masyarakat sebagai pemegang keputusan utama dalam pemilihan, pembiayaan, dan manajemen sistem sanitasi, dengan menggunakan pendekatan yang tanggap terhadap kebutuhan. SBM dinilai mampu menjadi solusi alternatif dalam penyediaan layanan sanitasi terutama bagi masyarakat miskin perkotaan. Namun SBM tidak dapat meningkatkan cakupan layanan perkotaan secara nyata karena pelayanan terbatas pada lingkungan yang kecil. Sanitasi terpusat perkotaan, dinilai mampu menjangkau area yang relatif lebih luas namun masih menghadapi kendala seperti tarif dan efisiensi penagihan yang rendah, dan minimnya kapasitas pendanaan. Tantangan pengelolaan sanitasi skala kota adalah bagaimana mengintegrasikan SBM dengan bentukbentuk lain dari pelayanan sanitasi seperti air limbah perpipaan dan untuk menciptakan dukungan publik dan politik untuk investasi sektor sanitasi. Topik keempat mengenai 'MemberFOTO: LINA

dayakan PDAM untuk memberikan pelayanan air dan sanitasi bagi masyarakat miskin'. Sebelum PP 16/2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum efektif, belum ada peraturan yang secara eksplisit mengamanatkan PDAM untuk melayani masyarakat miskin. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mercy Corps di tahun 2004, masyarakat miskin di Jakarta menghabiskan 12-15 persen anggaran keluarganya untuk air bersih. Jika mendapatkan sambungan langsung, keluarga miskin dapat meningkatkan konsumsi air dari 2 ke 10 m3 per bulan, namun tetap dapat menghemat pengeluaran mereka untuk air bersih sekitar 11 persen. Kenapa PDAM? Karena sementara ini sebagian besar pelayanan air bersih perpipaan masih dimonopoli oleh PDAM. Beberapa upaya untuk memberdayakan PDAM untuk melayani masyarakat miskin misalnya: dukungan pemerintah, penyempurnaan peraturan, penyehatan PDAM, pelibatan masyarakat, pemberian insentif. Sesi kedua berupa diskusi partisipatif yang dibagi dalam empat kelompok. Masing-masing membahas topik: (i) mengenal lebih jauh tentang SBM dan mengintegrasikannya pada sanitasi sekala kota; (ii) persiapan dan kajian kelayakan untuk sistem sanitasi perpipaan; (iii) peran dan posisi PDAM dalam me-

ngelola sanitasi perkotaan; (iv) pemulihan biaya dalam sektor sanitasi. Di kelompok pertama, peserta berpendapat bahwa prakarsa SBM dapat dipicu baik oleh masyarakat maupun intervensi dari pihak luar, namun keputusan utama tetap harus di tangan masyarakat. Stakeholder yang dapat berperan dalam prakarsa SBM tidak terbatas pada pemerintah dan LSM saja, sektor swasta pun dinilai berpotensi, dengan menjadikan SBM sebagai salah satu pilihan sistem sanitasi. Untuk itu diperlukan upaya untuk mempromosikan SBM ke berbagai pihak. Di kelompok dua promosi juga dinilai sebagai salah satu komponen yang penting sebelum melangkah dari SBM ke sanitasi skala kota. Peserta berpendapat bahwa sanitasi skala kota memerlukan kombinasi dari sistem SBM dan sanitasi terpusat, dengan memadukan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pendekatan. Kelompok tiga berpendapat bahwa PDAM memungkinkan untuk mengelola air limbah skala kota dan juga berperan serta dalam prakarsa SBM. Namun peran ini tidak akan mengambil alih peran pihak-pihak lain yang sudah ada, tetapi lebih sebagai alternatif institusi penanggung jawab pihak pemerintah daerah selain dinas. Walaupun begitu kekhawatiran bahwa PDAM belum mampu mengelola dua jenis pelayanan tetap muncul dalam diskusi. Kelompok empat berpendapat bahwa kegiatan sanitasi dapat memulihkan biaya jika diperoleh subsidi yang cukup untuk break even dengan pendapatan yang diterima. Kebijakan yang dinilai perlu untuk mendukung sektor sanitasi adalah mengenai capital works dan pembiayaan operasi dan pemeliharaan. Peningkatan kesadaran publik termasuk juga dalam hal kesadaran untuk membayar sangat diperlukan. (Lina)

Percik Juli 2005

49

S EPUTAR WASPOLA
Pelatihan Tim Inti Pendekatan CLTS (Community-Led Total Sanitation)
alam rangka uji coba penerapan pendekatan CLTS (CommunityLed Total Sanitation), Kelompok Kerja AMPL menyelenggarakan pelatihan bagi tim inti pendekatan CLTS di Lumajang, Jawa Timur, 2-5 Mei 2005. Acara ini dihadiri oleh 38 orang peserta dari tim inti pusat (Bappenas, Dep. PU, Depdagri, Depkes, WSLIC, CWSH, WASPOLA/WSP-EAP), dan daerah (Pemda Kab. Lumajang, Kab. Sumbawa, Kab. Muara Enim, Kab. Sambas, dan Kab. Muaro Jambi). Pelatihan ini bertujuan untuk (i) Memberikan pembekalan kepada tim inti untuk memahami prinsip dasar, tahaptahap metodologi, dan tips melaksanakan uji coba pendekatan CLTS; (ii) Menyiapkan tim inti yang kelak akan bertugas untuk melaksanakan pelatihan dan mengawal proses uji coba di masing-masing kabupaten; (iii) Melatih keterampilan memicu dan memfasilitasi pendekatan CLTS dengan cara mempraktikkan secara langsung di masyarakat; dan (iv) Memahami dan menyepakati bentuk dukungan yang dibutuhkan di masing-masing kabupaten untuk pelaksanaan uji coba. Pelatihan ini dibuka oleh Oswar Mungkasa, mewakili Direktur Permukiman dan Perumahan, Bappenas. Ia mengatakan akses sanitasi di Indonesia masih belum memadai. Banyak prasarana dan sarana yang terbangun tidak berfungsi dengan baik (unsustained) atau tidak memenuhi persyaratan. Salah satu kendalanya adalah rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya hidup bersih dan sehat (higienitas pribadi) sehingga menyebabkan minimnya permintaan terhadap pelayanan sanitasi serta rendahnya willingness to pay terhadap pelayanan sanitasi. Selain itu, lanjutnya, ada ketergantungan pada pendanaan dari pemerintah pusat. Oleh karena itu, penerapan CLTS diharapkan dapat memperbaiki sendiri kondisi sani-

FOTO:RHEIDDA P

dengan kesadaran dan usaha mereka tasi lingkungan dan membantu upaya sendiri, tidak ada hubungan dengan subpeningkatan akses sanitasi. sidi. Target dari penerapan pendekatan Pelatihan ini diisi oleh Kamal Kar, CLTS pun tidak didasarkan pada indikapakar CLTS. Ia menjelaskan CLTS merutor jumlah jamban yang berhasil dibapakan suatu pendekatan untuk menginingun (number of toilet) melainkan berusasi/memicu (ignite/trigger) rasa jijik bahnya kebiasaan masyarakat untuk dan malu masyarakat atas kondisi sanitidak buang air besar di tempat terbuka tasi dimana mereka buang air besar (open defecation). ditempat terbuka (open defecation) seMelalui CLTS akan diperkenalkan hingga pada akhirnya mereka mencari suatu perubahan pendekatan : solusi secara bersama untuk mengubah kondisi mereka. Asumsi dasar DARI MENJADI: yang digunakan adalah bahwa tidak ada seorangpun yang Pendekatan hardware Hygiene change behavior tidak tergerak apabila mereka Subsidi solidaritas sosial Pendekatan yang mengtidak ada BAB di tempat mengetahui bahwa mereka utamakan pembangunan terbuka telah saling memakan kotoran jamban (counting latrimereka satu dengan yang lainne) Model jamban ditentukan Jamban dibangun dengan nya (eating each other shit). oleh pihak luar model lokal Selain itu, CLTS memicu maPendekatan kepentingan Pendekatan kepentingan syarakat untuk menyadari individu total desa Pelaksanaan proyek yang Pendekatan bottom-up bahwa masalah sanitasi merutop-down pakan tanggung jawab mereka Pendekatan mengutaPendekatan yang lebih sehingga hanya akan selesai makan blueprint proyek fleksibel

50

Percik Juli 2005

S EPUTAR WASPOLA
Menurut Kamal Kar, ada tiga pilar yang mendasari pendekatan CLTS yakni (i) Changing attitude dan behaviour; perubahan perilaku dan sikap para pengambil keputusan; (ii) Sharing (berbagi) antara pemerintah (fasilitator) dan masyarakat; (iii) Penggunaan tools (berupa diagram, peta dan lain-lain).
Personal Perorangan
Attitude Perubahan & perilaku Behavior dan sikap

3 pilar PRA di CLTS

Method Metoda

Sharing Berbagi

Profesional

Institusi

Sedangkan kunci keberhasilan penerapan CLTS adalah sikap dan pendekatan fasilitator. Ia menegaskan tidak ada panduan yang baku untuk penerapan konsep ini. Yang ada hanyalah kerangka acuan yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Urutan langkah itu (i) Perkenalan dan menjalin kebersamaan, (ii) Analisa partisipatif, (iii) Saat pemicuan (triggering), (iv) Penyusunan rencana tindak oleh masyarakat, (v) Penyusunan rencana tindak lanjut. Sebagai perbandingan, Kamal Kar juga mengungkapkan kesuksesan program ini di beberapa negara seperti India, Bangladesh, Kamboja dan Nepal. Pendekatan ini mampu mengurangi buang air terbuka sampai 100 persen, membentuk karakter lahirnya pemimpin informal, timbul inovasi lokal desain jamban, menekan pengeluaran masyarakat untuk biaya kesehatan, dan memberikan dampak terhadap inovasi sumber pendapatan keluarga Praktek Selain acara di ruangan, peserta

mempraktekkan pengetahuannya di lapangan. Sebagai tempat praktek dipilih RT 03/RW 01 Desa Gucialit, Kecamatan Gucialit, Lumajang. Pertemuan berlangsung di dua tempat yakni di Posyandu, dihadiri 19 warga dan di RT 03 dihadiri 58 warga. Pemicuan ditujukan agar agar masyarakat mau memperbaiki kondisi sanitasi mereka dengan menutup jamban-jamban yang ada dan pembangunan jamban bagi masyarakat yang belum memiliki jamban. Selama proses fasilitasi, masyarakat antusias mengikuti semua urutan kegiatan. Masyarakat bersama-sama membuat peta desa mereka di lapangan, menunjukkan lokasi tempat buang air besar pada peta dan melakukan transect walk (yaitu kegiatan jalan kaki bersama anggota masyarakat ke lokasi buang air besar untuk mengamati pemandangan yang kurang menyenangkan dan menghirup bau yang kurang sedap untuk memicu rasa jijik dan malu dari masyarakat). Dari diskusi yang dilakukan di lokasi buang air besar tersebut, maka timbullah inisiatif dari anggota masyarakat untuk bersama-sama menutup lubang jamban sehingga lalat tidak dapat

menyebarkan tinja lagi ke seluruh desa. Dari situ juga terpilih pemimpin informal yang menjadi motivator untuk perbaikan jamban. Catatan Beberapa catatan penting selama pelatihan penerapan CLTS: CLTS terbukti mampu mendorong lahirnya kepentingan bersama terhadap kebutuhan kualitas hidup yang lebih baik, dengan cara mengurangi/menghilangkan BAB di tempat terbuka (open defecation) yang memicu adanya pembuatan atau perbaikan jamban oleh masyarakat sendiri tanpa bantuan pihak luar. Sebagai suatu pendekatan, CLTS memiliki fleksibilitas metode yang tidak terpaku pada prosedur yang kaku. Dalam penerapannya, proses pemicuan disesuaikan sikap dan budaya lokal. Kemampuan grup fasilitator untuk memfasilitasi setiap kegiatan yang dilakukan. Mulai dari kemampuan berbahasa lokal, teknik fasilitasi hingga 'bersabar' terhadap jalannya proses fasilitasi. (MJ)
FOTO:RHEIDDA P

Percik Juli 2005

51

S EPUTAR WASPOLA Belajar dari Desa Global


ater and Sanitation ProgramEast Asia and the Pacific (WSPEAP) mengadakan konferensi di Guilin, Cina, 4-6 April 2005 lalu. Konferensi ini penting, selain menjadi agenda tahunan, WSP-EAP menangkap bahwa persoalan pembangunan AMPL perlu mendapat perhatian lebih terutama dalam pencapaian target Millennium Development Goals (MDGs). Sektor air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) juga memerlukan pemecahan selain ketersediaan dana. Maka tema yang diangkat pada konferensi ini sangat mengena, "Money matters.what else does? Mobilizing resources for sustainable in East Asia to achieve the MDGs". Ada 71 peserta yang hadir mewakili sembilan negara di EAP, ditambah peserta dari Kenya dan Bangladesh. AMPL memang sudah menjadi isu global. Latar belakang peserta memang berbeda, datang dari berbagai negara, tetapi sepertinya memiliki informasi yang sama tentang persoalan AMPL. Pada sesi awal, diskusi mengangkat tema, "pengembangan strategi kerangka pembiayaan sektor sanitasi". Topik ini dianggap merupakan salah satu langkah yang yang paling masuk akal untuk perbaikan kondisi sanitasi, untuk menjawab what alternative gives you the most realistic leverage or impact to improve the sanitation situation in your country? Langkah lainnya adalah (i) pengembangan kebijakan sanitasi yang jelas, (ii) mendorong perhatian di tingkat nasional agar sanitasi menjadi prioritas, (iii) promosi pemecahan teknis yang lebih baik dan perubahan tingkah laku, (iv) keterpaduan sanitasi dengan sektor lain, dan (v) menempatkan sanitasi sebagai instrumen dalam pengentasan kemiskinan

Dari Pertemuan WSP-EAP di Cina


FOTO:DORMARINGAN

Sedangkan Kamboja, melihat bahwa hal yang diperlukan adalah peningkatan kepedulian untuk sektor AMPL dan kebijakan, sehingga visi pada tahun 2008 adalah mendorong peningkatan pelayanan kepada kelompok miskin, regulasi dan kebijakan. Laos, lebih menekankan pengembangan kerangka kebijakan integral di sektor sanitasi di perdesaan dan perkotaan, melalui kampanye sanitasi yang menerus. Philipina lebih maju lagi dan menargetkan 100 persen tahun 2010, pelayanan sistem air limbah perpipaan di perkotaan dan cakupan sanitasi di perdesaan dan pada tahun 2015 berada pada tahap pembangunan limbah antar kota yang terintegrasi. Prioritas dalam pengembanagn sektor AMPL Ada tiga hal yang menjadi prioritas dalam pengembangan sanitasi di masingmasing negara adalah (i) reformasi sektor, (ii) upaya menarik minat investor dan (iii) pelayanan terhadap orang miskin. Dari ranking ini, terlihat masingmasing negara memandang bahwa pelayanan kepada masyarakat miskin dan pengembangan kebijakan sektor adalah dua hal yang menjadi prioritas penting, sedangkan menarik minat investor masih lebih rendah dibanding dua lainnya. Ecosan di Cina Berbagai negara memiliki pengalaman pembangunan sektor sanitasi, tetapi Cina memang patut diacungi jempol. Sanitasinya bukan lagi sekedar urusan yang kotor-kotor, tetapi sudah menjadi sumber pendapatan dan objek wisata. Bagaimana caranya ? Melalui Ecosan mereka memadukannya konsep sanitasi dengan bisnis pertanian dan wisata, yang bisa bernilai jual. Ecosan (ecological sanitation), se-

Dari visi ke aksi Visi regional sektor AMPL yang dihasilkan memiliki arah yang sama. Setiap individu memikirkan pentingnya (i) peningkatan prioritas pemerintah terhadap pembangunan sanitasi, (ii) arah kebijakan yang jelas untuk meningkatkan peran swasta dan masyarakat, (iii) peningkatan kapasitas dan informasi, (iv) perubahan pendekatan dari subsidi menjadi pendekatan pasar dan lain sebagianya. Visi regional kemudian dikembangkan di masing-masing negara. Vietnam, pada tahun 2008 akan medorong pengembangan program sanitasi melalui kebijakan dan perangkat kelembagaan yang jelas dan peningkatan peran sektor swasta hingga 70 persen serta mengembangkan mekanisme subsidi ke sistem pasar pada tahun 2015. Visi Indonesia pada tahun 2012-2025 adalah meningkatkan akses dan cakupan sanitasi hingga 65 persen, tetapi lebih realistis untuk melihat tantangan ke depan antara lain masalah urbanisasi, degradasi lingkungan, ketimpangan pendanaan antara pusat dan daerah, penegakan hukum, peningkatan kebutuhan air dan kelangkaan air.

52

Percik Juli 2005

S EPUTAR WASPOLA
peningkatan pemanfaatan biogas sungguhnya bukan tercipta di sektor reform investor pelayanan miskin di perdesaan mencapai 88 perCina, jauh sebelumnya telah 10 sen. "Penduduk tidak saja mendikembangkan di beberapa ne8 dapat gas rumah tangga, pupuk gara di Asia, Afrika, Eropa dan untuk tanaman, tetapi juga meAmeraka Latin. Ide ecosan ini 6 ngurangi beban wanita dari pemulai dikembangkan sekitar 4 kerjaan berat dan menciptakan tahun 1950 oleh lembaga penelingkungan yang indah," kata litian (Kanagawa Public He2 Wu. alth) di Yokohama Jepang, dan 0 menghasilkan model yang disePhilipina Kamboja Vietnam Indonesia Lao Pembelajaran but "Benjo". Dan kemudian Hasil konferensi ini telah mengalami penyempurnaan, memberikan informasi yang penting terdiamkan, biasanya urine minimal 1 bulan yang dimulai di Vietnam tahun 1956 hinghadap pengembangan sanitasi di berbadan tinja 1 tahun, masyarakat mengguga berbagai model seperti sekarang ini. gai negara. Selain itu konsep ecosan yang nakannya sebagai pupuk tanaman. Pada Di Cina sendiri, toilet yang ramah telah berjalan di Cina memberikan inspimodel wet latrine, tinja dan urine dilingkungan, sebagai dasar pengembangrasi memadukan konsep sanitasi ekosatukan dalam kompartemen, dan dian ecosan, dikembangkan sejak tahun logis, pertanian, wisata untuk meningdiamkan. Melalui proses reaksi kimia, 1997, tetapi di Cina-lah pendekatan ini katkan pendapatan dan perbaikan ekonodihasilkan gas yang dapat dijadikan sumyang paling memberikan hasil yang sami. ber energi. Cairan yang terkumpul pada ngat signifikan dibandingkan negara lain. Desa-desa di Cina, sekarang sudah bak penampung, secara periodik akan "Pemerintah kami memberikan perhamenjadi topik pembicaraan di tingkat diambil, menggunakan ember atau laintian yang luar biasa terhadap pengemdunia oleh para ahli lingkungan dan nya dan disiramkan ke tanaman sebagai bangan biogas di tingkat komunitas," peneliti ekonomi kerakyatan. Keberhapupuk. kata Wu Libin, direktur pada lembaga silan ini, menurut pelaku ecosan di Cina, "Apa yang diberikan, bagi kami sudah pengembangan biogas di Kementerian tidak terlepas dari: cukup," kata seorang penduduk desa ketiPertanian Cina. dukungan politis dan administratif ka menjawab pertanyaan "apa yang maTercatat tiga pejabat negara Cina pemerintah sih anda perlukan dari pemerintah". melakukan kunjungan ke desa lokasi biokolaborasi yang baik antara pemerinWalaupun masih ada ketergantungan gas, yang merupakan hasil dari pengemtah daerah dan instansi sektoral kepada tenaga ahli dari pemerintah bangan ecosan. Tahun 1958, Mao Zedukungan teknis dan kemudahan untuk perbaikan bila ada kerusakan, dong, mengunjungi desa Wuhan City, penggunaan model yang ditawartetapi masyarakat merasa puas atas Propinsi Hubei. Tahun 1980, Deng Xiokan pelayanan. "Kami hanya menunggu 6 jam ping mendatangi lokasi biogas di Chengefektifas dan kemudahaan pendanaan tenaga sudah datang,'' kata penduduk du, Propinsi Sichuan dan tahun 1991 dari pemerintah pusat, pemerintah lainnya melalui penerjemah. Jiang Zemin mengunjungi Xiangton di daerah dan masyarakat Pupuk alami dari ecosan ini menyuPropinsi Hunan. "Kunjungan seperti ini kondisi sosial masyarakat untuk burkan tanaman penduduk dan mebermakna banyak di negara kami," kata penyelesaian problem ningkatkan frekuensi panen. Desa yang Wu Libin lebih lanjut. pendekatan komprehensif antara sahijau menjadi pemandangan yang indah Pada konferensi WSP ini, peserta dianitasi, kesehatan, pertanian, peningsaat menulusuri wisata sungai. Suasana jak melihat langsung "apa dan bagaikatan ekonomi domestik desa yang indah ini dijual sebagai paket mana" ecosan dikembangkan. Ada dua Selama ini, Indonesia juga telah mewisata oleh berbagai biro perjalanan, desa yang dikunjungi. Desa pertama mengembangkan pendekatan sanitasi yang sambil menikmati hasil panen penduduk. ngembangkan model sanitasi kering (dry juga dihubungkan dengan berbagai isu, "Di Cina, biogas telah berkontribusi pit latrine), dan desa kedua mengemmisalnya peningkatan ekonomi, pedalam peningkatan pendapatan petani, bangkan sanitasi basah (wet latrine) ngentasan kemiskinan, pendidikan dan pembangunan ekonomi pedesaan, peryang menghasilkan biogas. Model dry sebagainya. Namun pengalaman dari baikan lingkungan, peningkatan kualitas pit, memisahkan bagian pengumpulan Cina dapat dijadikan pelajaran untuk hidup," kata Wu Libin. tinja (feces) dan air seni (urine) di dua kita. (DHS) Menurutnya, sejak tahun 1999, laju kompartemen yang berbeda. Setelah di-

Percik Juli 2005

53

P USTAKA AMPL
B U K U U M U M Condominial Water and Sewerage Systems Water and Sanitation Program Good Dams and Bad Dams: Environmental Criteria for Site Selection of Hydroelectric Projects. George Ledec and Juan David Quintero. World Bank. 2003. Indonesia. Averting an Infrastructure Crisis: A Framework for Policy and Action. Sulitkah Memperoleh Air Bersih? ProAir-Program Air Bersih dan Sanitasi Pedesaan di Nusa Tenggara Timur. KfW-GTZ. Water for the Poor: Partnerships for Action. How to Bring Water to the Rural Poor. Asian Development Bank. Water and Poverty. Fighting Poverty through Water Management. John Soussan. Asian Development Bank. M A J A L A H
Air, Edisi Desember 2004 Diterbitkan oleh Ditjen SDA Departemen PU. Environment Matters. Annual Review. World Bank. 2003 Habitat Debate, Vol. 9 No. 1 April 2003 Air Minum Edisi 113, Februari 2005 Balitbang, Departemen Pekerjaan Umum

P A N D U A N
Karakteristik dan Cara Pengolahan Air Limbah Serta Dampaknya terhadap Lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup. 2003 Daftar Standar Bidang Konstruksi dan Bangunan Sipil. Balitbang, Departemen Pekerjaan Umum

K A T A L O G
Katalog Pustaka Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Sekretariat Pokja AMPL. 2005

P R O S I D I N G
Seminar Teknologi Tepat Guna Pengolahan Limbah Cair: Saatnya untuk Melangkah. Pusteklim, Yogyakarta. 2004. Lokakarya Nasional Konservasi Sumber Daya Air. Direktorat Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup. Ditjen Bangda, Depdagri. 2004.

54

Percik Juli 2005

K LINIK
SUMUR RESAPAN
Tanya:
Saya ingin membuat sumur resapan di rumah saya. Apakah ada gambar-gambar/petunjuk praktis yang bisa saya peroleh? Berapa diameternya? Berapa dalam? Bahan apa yang harus saya gunakan? Halaman rumah saya sekitar 60 m2, berapa banyak sumur resapan yang harus saya buat
B a m b a n g , Patukangan, Jakarta

Pertanyaan dapat disampaikan melalui redaksi Majalah Percik. Kontributor: Ir. Winarko Hadi, Ir. Iwan Wangsaatmaja, Ir. Nugroho T Utomo

Majalah Percik bekerja sama dengan Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia, membuka rubrik Klinik. Rubrik ini berisi tanya jawab tentang air minum dan penyehatan lingkungan.

DI

RUMAH

Jawab: Pak Bambang, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah apakah kondisi tanah Anda memang cocok untuk dibuatkan sumur resapan. Faktor-faktor yang penting adalah: 1. Tinggi muka air tanah sebaiknya lebih dari 3 m (diukur dari permukaan tanah). Cara paling sederhana untuk memeriksa kondisi ini adalah dengan melihat muka air tanah pada sumur terdekat. Apabila tidak ada sumur pada lokasi tersebut, terpaksa Anda harus menggali/mengebor (cukup dengan diameter kecil) untuk mengetahui kondisi muka air tanah. 2. Permeabilitas tanah (kecepatan peresapan tanah) sebaiknya di atas 2 cm per jam. Pengujian secara sederhana dapat dilakukan dengan menggali lubang 30 cm x 30 cm dengan kedalaman 40 cm. Isi lubang tersebut dengan air dan kemudian Anda lihat berapa waktu yang diperlukan permukaan air untuk turun sedalam 2 cm. Apabila kurang dari 1 jam, tunggu sampai habis dan penuhi kembali lubang tersebut dengan air dan dilakukan pengukuran yang sama. Apabila sampai pengisian ke-3 kecepatan penurunan muka air tetap lebih dari 2 cm/jam, maka kondisi permeabilitas tanah tersebut layak untuk sumur resapan. 3. Jarak dari rembesan septik tank sebaiknya paling tidak 5 m agar tidak malah mengurangi kemampuan rembesan septik tank tersebut. Apabila ketiga kondisi di atas tidak dapat dipenuhi, maka tampaknya lokasi tanah Anda tidak sesuai untuk dibangun sumur resapan, sehingga upaya pematusan air hujan terpaksa dilakukan dengan mengalirkannya ke saluran drainase di depan rumah Anda. Selain hal tersebut, ada beberapa hal lagi yang perlu diperhatikan, antara lain: 1. Air hujan yang melalui atap rumah dapat langsung disalurkan melalui talang ke sumur resapan 2. Hindarkan membuat sumur resapan di lokasi bekas tempat penimbunan sampah 3. Sumur agar diberi tutup tralis untuk alasan keamanan dan agar terhindar dari sampah

4. Tidak ditempatkan di lokasi berlereng curam/daerah labil/mudah longsor 5. Sumur resapan dapat saja ditempatkan di bawah bangunan, dengan catatan penutup harus kuat dan diberi pengaman 6. Bahan-bahan yang bisa dimasukkan dalam sumur antara lain : Batu-batuan, ijuk, arang, pasir 7. Untuk bangunan yang berbentuk kopel agar dibuatkan sumur resapan terpadu 8. Jangan lupa membuat saluran limpasan apabila curah hujan sangat besar dan tidak dapat tertampung di sumur tersebut. Mengenai jumlah sumur yang dapat Anda buat pada lahan 60 m2, apabila syarat-syarat di atas dapat dipenuhi, maka Anda dapat membuat sampai dengan 2 sumur resapan.

AIR BERWARNA COKLAT


Tanya: Air sumur (pompa listrik) saya setelah air di tampung di bak lama-kelamaan akan menjadi coklat sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman waktu dipakai. Pertanyaan saya adalah kenapa air di bak bisa menjadi coklat dan bagaimana cara mengatasinya
N e l l y , Bandung

Jawab: 1. Air yang coklat biasanya karena kandungan besinya cukup tinggi. Pada saat air dipompakan dari dalam tanah air masih bersih karena kandungan besi yang ada belum bersentuhan dengan udara yang mengandung oksigen. Pada saat dialirkan ke dalam bak, kandungan besi dalam air mulai bersentuhan dengan oksigen dalam udara, sehingga zat besi tersebut menjadi teroksidasi dan akan menimbulkan warna coklat. Proses ini sama seperti karat pada logam yang menimbulkan warna coklat. 2. Cara yang paling umum untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan filter karbon aktif. Filter yang siap pakai banyak dijual di pasaran, namun sebetulnya relatif mudah untuk dibuat sendiri dengan budget yang lebih hemat tentunya. Bahan yang diperlukan dan cara membuatnya adalah sebagai berikut: Alat yang dibutuhkan: Pipa PVC diameter 8" (25 cm) sepanjang 1 - 1,2 m, dengan dilengkapi keran air pada ujung-ujungnya (2 buah) Media filter berupa kerikil, pasir silika, dan karbon aktif granular atau lokal Cara membuat: Pipa PVC diisi dengan pasir setebal 10 - 15 cm, kemudian pasir silika setebal 20 cm, terakhir karbon aktif setebal 45 - 60 cm.

Percik Juli 2005

55

A GENDA
Tanggal
2-5 3

Bulan
Mei Mei

Kegiatan
Lokakarya CLTS di Lumajang Sosialisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat di Prop. Banten Evaluasi Pelaksanaan SANIMAS 2003 dan 2004 serta Rencana Kegiatan SANIMAS 2005 Persiapan Seminar Regional Waste Management Corporation

8-11 26-27 30 Mei-3 Juni 2 4 6 6-10 9-10 13 15-17 19-26

Mei Mei

Lokakarya CLTS di Sumbawa Konsolidasi CLTS Lokakarya dan Pelatihan untuk Operasionalisasi Kebijakan dan Penyusunan Renstra AMPL Berbasis Masyarakat-Indonesia Bagian Timur

Juni Juni Juni Juni Juni Juni Juni Juni

Forum Diskusi Forkami "Mengatasi Krisis Air Bersih dengan Menggunakan Tanah" Dialog Nasional Mencari Solusi Pengelolaan Sampah di Indonesia Hari Lingkungan Hidup: "Pekan Lingkungan Indonesia" Lokakarya dan Pelatihan untuk Operasionalisasi Kebijakan dan Penyusunan Renstra AMPL Berbasis Masyarakat-Indonesia Bagian Barat Pertemuan dalam rangka Perencanaan Lintas Sektor Bidang Water and Environment Sanitation (WES) Kerja sama RI - UNICEF Wrap up meeting Misi Supervisi WSLIC-2 Pelaksanaan uji coba program CLTS dan Pelaksanaan kegiatan kesehatan dan Sanitasi dlm program WSLIC-2, kunjungan ke Kabupaten Lumajang. Pelatihan CWSH di Surabaya Pelatihan Manajemen Pengelola Kegiatan dan Pelatihan Mobilisasi Metode MPA/PHAST CWSHP di Pasuruan, Jawa Timur

21-23 24 28-30 28

Juni Juni Juni Juni

Seminar ESP Multi-Kota untuk Konsep Sanitasi Skala Perkotaan Pembahasan Draft Tata Cara Pembentukan Badan Pengelola Air Bersih dan Sanitasi Pelatihan CLTS di Sambas, Kalimantan Barat Dialog Nasional Pembiayaan Pengelolaan Air Pertemuan dengan Director Of Water & Energy, Bank Dunia Peresmian Sanimas di Pamekasan

29

Juni

Pertemuan Review PSP

World Habitat Day, 3 Oktober 2005


Tema: Millennium Development Goals and the City Kota yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan: Jakarta, Indonesia (Informasi lengkap kunjungi http://www.unhabitat.org/whd/2005/default.asp)

Dubai International Award for Best Practices (DIABP) Dead line : 31 Maret 2006 (Informasi lengkap kunjungi http://dubai-award.dm.gov.ae/
Pengumuman pemenang: November 2006 Pihak-pihak yang dapat mencalonkan diri: Lembaga pemerintah dan lembaga bantuan bilateral. Komite-komite Habitat nasional atau Focal Points. Pemerintah daerah, Pemerintah Kota/ Kabupaten atau organisasi asosiasinya. LSM Lembaga berbasis komunitas. Sektor swasta Lembaga akademis dan riset Media Yayasan milik swasta atau pemerintah Perorangan yang telah melakukan inisiatif kegiatan atau proyek yang memenuhi kriteria best practices.

56

Percik Juli 2005

GLOSSARY
Impurities
Kandungan kotoran/pencemar di dalam air, baik yang tersuspensi, terlarut atau berbentuk koloid yang menyebabkan air tersebut digolongkan dalam suatu tingkatan kualitas.

Improved Sanitary Landfill


Pengembangan dari system Sanitary Landfill di mana semua leacheate ditampung dan diolah sehingga setelah itu dapat dibuang dengan aman ke badan air.

Incenerator
Perangkat peralatan/instalasi pembakar limbah padat (sampah) pada metode pengolahan akhir pembakaran (incineration).

Incremental Sanitation Concept


Konsep peningkatan sanitasi (lingkungan) secara bertahap. Konsep/metode pembangunan fasilitas sanitasi dengan pendekatan untuk selalu meningkatkan/menyempurnakan fasilitas yang telah dibangun sebelumnya.

Infiltration head
Besaran tekanan air di bawah tanah yang membuat air bisa meresap melalui suatu lapisan media (tanah).

Inflow (Aliran Masuk)


Aliran yang memasuki suatu sistem

Inlet
Bagian masukan dari suatu sistem bangunan (pengolahan).

Inspection Chamber (Bak Kontrol)


Merupakan perlengkapan jaringan air limbah (sewerage) yang berfungsi sebagai lubang pemeriksaan mini (manhole). Dibangun pada setiap belokan, perubahan ukuran saluran dan perubahan gradien serta tiap jarak 30 meter dari bentangan saluran yang lurus.

Intake
Bangunan pada lokasi sumber air yang berfungsi menyadap/menangkap dan mengumpulkan air baku. Interceptor (Penyadap) Sistem penyadap air limbah dari suatu aliran drainase, di mana aliran yang berlebihan dari air hujan tidak ikut tersadap. Sistem ini bekerja untuk melindungi badan air penerima tercemar langsung oleh air limbah, terutama pada musim hujan.

Interference among wells


Kondisi saling mempengaruhi dari kurva-kurva penurunan air tanah dari dua atau lebih sumur-sumur yang saling berdekatan. Dalam prakteknya kondisi ini akan menyebabkan berkurangnya debit yang bisa diambil dari tiap-tiap sumur.

Intestinal infectious diseases (Penyakit perut)


Salah satu penyakit (misalnya diare) yang banyak diderita dan menyebabkan kematian di Indonesia akibat buruknya kondisi sanitasi lingkungan.

Invert
Bagian internal yang terendah dari suatu penampang saluran air kotor atau drainase.

Jetting
Salah satu cara pembuatan sumur pada lokasi tanah yang belum terkonsolidasi (padat). Dilakukan dengan bantuan semprotan air yang disalurkan melalui pipa selongsong sumuran tersebut hingga material galian yang lepas bisa dikeluarkan dari sumur.
Dikutip dari Kamus Istilah & Singkatan Asing Teknik Penyehatan dan Lingkungan. Penerbit: Universitas Trisakti.