Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Manusia adalah makhluk yang dimuliakan Tuhan, pencipta manusia begitu sempurna lahir maupun batin. Sikap berdiri manusia adalah yang paling gagah, dan sikap berdiri tegak inilah yang sangat dibanggakan manusia dibandingkan makhluk ciptaan tuhan yang lain. Manusia sangat takut bila menderita penyakit yang sangat menyebabkan dia tidak mampu berdiri, sehingga dia harus tidur terus dan kadang hal ini dapat berlangsung beberapa hari. Salah satu penyakit yang menyebabkan manusia tidak mampu berdiri tegak adalah penyakit Meniere6. Penyakit Meniere pertama kali dijelaskan oleh seorang ahli dari Perancis bernama Prospere Meniere dalam sebuah artikel yang diterbitkannya pada tahun 1861. Definisi penyakit Meniere adalah suatu penyakit pada telinga bagian dalam yang bisa mempengaruhi pendengaran dan keseimbangan. Penyakit ini ditandai dengan keluhan berulang berupa vertigo, tinnitus, dan pendengaran yang berkurang, biasanya pada satu telinga. Penyakit ini disebabkan oleh peningkatan volume dan tekanan dari endolimph pada telinga dalam2. Dari penelitian yang dilakukan, didapatkan data sekitar 200 kasus dari 100.000 orang di dunia menderita penyakit Meniere. Kebanyakan penderita adalah yang berusia 40 tahun keatas dan tidak ada perbedaan yang berarti antara jumlah penderita pria dan wanita. Prevalensi penyakit Meniere di beberapa negara berbeda-beda, di Amerika terdapat 218 penderita dari 100.000 penduduk, di Jepang terdapat 36 penderita dari 100.000 penduduk, dan 8 penderita dari 100.000 penduduk terdapat di Italia3. Serangan khas penyakit Meniere didahului oleh rasa penuh di satu telinga. Gangguan pendengaran yang bersifat fluktuatif dan dapat juga disertai tinitus. Sebuah episode penyakit Meniere umumnya melibatkan vertigo (berputar),

ketidakseimbangan, mual dan muntah. Serangan rata-rata berlangsung selama dua sampai empat jam. Setelah serangan yang parah, kebanyakan pasien mengeuhkan kelelahan dan harus tidur selama beberapa jam. Ada beberapa variabilitas dalam durasi gejala. Beberapa pasien mengalami serangan singkat sedangkan penderita lainnya dapat mengalami ketidakseimbangan yang konstan. Dari latar belakang di atas

inilah yang kemudian menjadi basik bagi penulis untuk membuat karya tulis yang berhubungan dengan penyakit Meniere ini.

B. TUJUAN Tujuan penulisan referat ini selain untuk melengkapi syarat dan memenuhi tugas dalam menempuh Program Studi Pendidikan Dokter Bagian Ilmu Penyakit THT-KL Universitas Muhammadyah Surakarta di RSUD Dr. Harjono Ponorogo juga untuk mempelajari lebih dalam mengenai gejala klinis dari penyakit meniere sehingga dapat menegakkan diagnosa penyakit meniere berdasarkan temuan klinis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. ANATOMI DAN FISIOLOGI Telinga dibagi menjadi telinga luar, telinga tengah , dan telinga dalam. Telinga Dalam Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semi sirkularis.

Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpani di sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) di antaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Ion dan garam yang terdapat di perilimfa berbeda dengan endolimfa. Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (membran Reissner) sedangkan dasar skala media adalah membran basalis. Pada membran ini terletak membran corti. Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis corti, yang membentuk organ corti. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli. Bagian vestibulum telinga dalam dibentuk oleh sakulus, utrikulus, dan kanalis semisirkularis. Utrikulus berhubungan dengan sakulus melalui suatu duktus sempit yang juga merupakan saluran menuju sakus endolimfatikus. Utrikulus dan sakulus mengandung makula yang diliputi oleh sel-sel rambut. Menutupi sel rambut ini adalah suatu lapisan gelatinosa yang ditembus silia, yang disebut kupula, dan pada lapisan ini terdapat pula otolit yang berat jenisnya lebih berat daripada endolimfe. Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Masing-masing kanalis mempunyai suatu ujung yang melebar membentuk ampula dan mengandung sel-sel rambut krista7. FISIOLOGI KESEIMBANGAN Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya tergantung pada input sensorik dari reseptor vestibuler di labirin, organ visual dan propioseptif. Gabungan informasi ketiga reseptor sensorik tersebut akan diolah di SSP, sehingga menggambarkan keadaan posisi tubuh pada saat itu. Labirin terdiri dari labirin statis yaitu utrikulus dan sakulus yang merupakan pelebaran labirin membrane yang terdapat dalam vestibulum labirin tulang. Pada tiap
3

pelebarannya terdapat makula utrikulus yang di dalamnya terdapat sel-sel reseptor keseimbangan. Labirin kinetik terdiri dari tiga kanalis semisirkularis dimana pada tiap kanalis terdapat pelebaran yang berhubungan dengan utrikulus, disebut ampula. Di dalamnya terdapat Krista ampularis yang terdiri dari sel-sel reseptor keseimbangan dan seluruhnya tertutup oleh suatu substansi gelatin yang disebut kupula. Gerakan atau perubahan kepala dan tubuh akan menimbulkan perpindahan cairan endolimfa di labirin dan selanjutnya silia sel rambut akan menekuk. Tekukan silia akan menyebabkan permeabilitas membran sel berubah, sehingga ion kalsium akan masuk ke dalam sel yang menyebabkan terjadinya proses depolarisasi dan akan merangsang penglepasan neurotransmitter eksitator yang selanjutnya akan

meneruskan impuls sensoris melalui saraf aferen ke pusat keseimbangan di otak. Sewaktu berkas silia terdorong ke arah berlawanan, maka terjadi hiperpolarisasi. Organ vestibuler berfungsi sebagai transduser yang mengubah energi mekanik akibat rangsangan otolit dan gerakan endolimfa di dalam kanalis semisirkularis menjadi energi biolistrik, sehingga dapat memberi informasi mengenai perubahan posisi tubuh akibat percepatan linier atau percepatan sudut. Dengan demikian dapat memberi informasi mengenai semua gerak tubuh yang berlangsung. Sistem vestibuler berhubungan dengan sistem tubuh yang lain, sehingga kelainannya dapat menimbulkan gejala pada system tubuh bersangkutan. Gejala yang timbul dapat berupa vertigo, rasa mual dan muntah. Pada jantung berupa bradikardi dan pada kulit reaksinya berkeringat dingin7.

B. DEFINISI Definisi penyakit Meniere adalah suatu penyakit pada telinga bagian dalam yang bisa mempengaruhi pendengaran dan keseimbangan, yang ditandai dengan keluhan berulang berupa vertigo, tinnitus, dan berkurangnya pendengaran secara progresif, biasanya pada satu telinga2. Penyakit Meniere adalah suatu sindrom yang terdiri dari serangan vertigo, tinitus, berkurangnya pendengaran yang bersifat fluktuatif dan perasaan penuh di telinga. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan manusia tidak mampu mempertahankan posisi dalam berdiri tegak4 Vertigo berasal dari bahasa Yunani yang berarti memutar. Pengertian vertigo adalah sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitar dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat
4

keseimbangan tubuh. Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik ( nistagmus, unstable ), gejala otonom seperti pucat, keringat dingin, mual, muntah dan pusing. Tinitus merupakan gangguan pendengaran dengan keluhan selalu mendengar bunyi namun tanpa ada rangsangan bunyi dari luar. Sumber bunyi tersebut berasal dari tubuh penderita itu sendiri ( impuls sendiri ). Namun tinitus hanya merupakan gejala, bukan penyakit, sehingga harus di cari penyebabnya. Gangguan pendengaran biasanya berfluktuasi dan progresif dengan

pendengaran yang semakin memburuk dalam beberapa hari. Gangguan pendengaran pada penyakit Meniere yang parah dapat mengakibatkan kehilangan pendengaran permanen4,5,6. C. EPIDEMIOLOGI Penyakit Meniere adalah salah satu penyebab tersering vertigo pada telinga dalam. Sebagian besar kasus timbul pada laki-laki atau perempuan dewasa. Paling banyak ditemukan pada usia 20-50 tahun. Kemungkinan adakomponen genetik yang berperan dalam penyakit Meniere karena ada riwayat keluarga yang positif sekitar 21% pada pasien dengan penyakit Meniere. Pasien dengan resiko besar terkena penyakit Meniere adalah orang-orang yang memiliki riwayat alergi, merokok, stres, kelelahan, alkoholisme, dan pasien yang rutin mengonsumsi aspirin4.

D. ETIOLOGI Penyebab pasti dari penyakit Meniere sampai sekarang belum diketahui secara pasti, banyak ahli mempunyai pendapat yang berbeda. Sampai saat ini dianggap penyebab dari penyakit ini disebabkan karena adanya gangguan dalam fisiologi sistem endolimfe yang dikenal dengan hidrops endolimfe, yaitu suatu keadaan dimana jumlah cairan endolimfe mendadak meningkat sehingga mengakibakan dilatasi dari skala media, sakulus, dan utrikulus. Tetapi, penyebab hidrops endolimfe sampai saat ini belum dapat dipastikan. Ada beberapa anggapan mengenai penyebab terjadinya hidrops, antara lain : Meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung arteri Berkurangnya tekanan osmotik di dalam kapiler Meningkatnya tekanan osmotik ruang ekstrakapiler
5

Jalan keluar sakus endolimfatikus tersumbat, sehingga terjadi penimbunan endolimfa Infeksi telinga tengah Trauma kepala Infeksi virus golongan herpesviridae Herediter

E. PATOGENESIS Gejala klinis penyakit Meniere disebabkan oleh adanya hidrops endolimfa (peningkatan endolimfa yang menyebabkan labirin membranosa berdilatasi) pada kokhlea dan vestibulum. Hidrops yang terjadi dan hilang timbul diduga disebabkan oleh meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung arteri, menurunnya tekanan osmotik dalam kapiler, meningkatnya tekananosmotik ruang

ekstrakapiler, jalan keluar sakus endolimfatikus tersumbat (akibat jaringan parut atau karena defek dari sejak lahir)6. Hidrops endolimfa ini lama kelamaan menyebabkan penekanan yang bila mencapai dilatasi maksimal akan terjadi ruptur labirin membran dan endolimfa akan bercampur dengan perilimfa. Pencampuran ini menyebabkan potensial aksi di telinga dalam sehingga menimbulkan gejala vertigo, tinnitus, dan gangguan pendengaran serta rasa penuh di telinga. Ketika tekanan sudah sama, maka membran akan sembuh dengan sendirinya dan cairan perilimfe dan endolimfe tidak bercampur kembali namun penyembuhan ini tidak sempurna6.

Tekanan osmotik ruang ekstrakapiler Tekanan endolimfa meninggi

Labirin membran menegang

Membran ruptur dan cairan kaya Na dan K bercampur

Mual Tekanan hidrostatik ujung arteri HIDROPS ENDOLIMFA Muntah VERTIGO

Tekanan osmotik dalam kapiler

Keseimbangan cairan perilimfe dan endolimfe terganggu Pelebaran apeks kokhlea Meluas ke tengah dan basal kokhlea Tuli saraf nada rendah + tinitus

Sumbatan sakus endolimfatikus

F. GEJALA PENYAKIT MENIERE Meniere ditandai oleh Gejala-Gejala sebagai berikut : a) Muncul pertama kali pada orang yang relatif berusia muda (biasanya sekitar 30 tahun) b) Gejalanya berupa seangan vertigo, mual dan muntah mendadak, yang berlangsung selama 3-24 jam dan kemudian menghilang secara perlahan. Vertigo sering sangat cepat dan diperparah dengan gerakan kepala. Sering disertai muntah, berkeringat, jantung berdebar dan kecemasan. c) Secara periodik, penderita merasakan telinganya penuh atau merasakan adanya tekanan di dalam telinga. d) Pendengaran di telinga yang terkena berfluktuasi (kadang jelas, kadang kurang) tetapi semakin lama semakin memburuk terjadi pada saat serangan atau sekitar serangan vertigo. Biasanya dialami satu telinga, tidak sama pada kedua telinga. e) Perasaan tertekan atau rasa penuh di dalam telinga f) Deviasi gaya berjalan dan kecenderungan untuk jatuh. g) Terdapat periode remisi di mana pasien merasa cukup normal, walaupun sesingkat beberapa hari atau lebih dari 10 tahun. h) Tinnitus bisa menetap atau hilang-timbul dan semakin memburuk sebelum, setelah maupun selama serangan vertigo. i) Pada kebanyakan penderita, penyakit ini hanya menyerang 1 telinga dan pada 1015% penderita, penyakit ini menyerang kedua telinga. j) Setelah serangan vertigo mulai, bisa terjadi perbaikan fungsi pendengaran. k) Pada salah satu bentuk penyakit Meniere, tuli dan tinnitus terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun sebelum seangan vertigo.

KRITERIA DIAGNOSIS The American Academy of Ophthalmology and Otolaryngology, Head and Neck Surgery pada tahun 1995 merumuskan kriteria penyakit Meniere : Certain Menieres disease a). konfirmasi histopatologi adanya hidrops endolymphatic b). gejala-gejala seperti dalam kriteria " definite Menieres disease" Definite Menieres disease a). dua atau lebih serangan vertigo, masing-masing berlangsung lebih dari 20 menit b). audiometri menunjukkan gangguan / kehilangan pendengaran dalam setidaknya pada satu pemeriksaan c). tinnitus atau terasa penuh pada telinga yang terkena Probable Menieres Disease a). setidaknya satu episode vertigo b). audiometri menunjukkan gangguan / kehilangan pendengaran dalam setidaknya pada satu pemeriksaan c). tinnitus atau terasa penuh pada telinga yang terkena

Possible Meniere's disease a). vertigo episodik tetapi tanpa kehilangan pendengaran b). gangguan pendengaran sensorineural, berfluktuasi atau tetap, dengan

disekuilibrium, tetapi tanpa vertigo dengan episode yang pasti

DIAGNOSIS DIFERENSIAL DAN PROBLEM KLINIS Serangan pertama penyakit Meniere harus dibedakan dari defisit vestibular akut unilateral, misalnya sehubungan dengan neuritis vestibular. Durasi serangan sangat membantu: penyakit Meniere biasanya berlangsung beberapa jam dan paling banyak satu hari, sedangkan pada neuritis vestibular mereka beberapa hari terakhir. Gejala yang menyertainya juga membantu untuk diagnosis, misalnya, "gejala telinga" pada penyakit Meniere dan tanda inflamasi mata dan gangguan pendengaran dalam sindrom Cogan atau gangguan pendengaran dan tanda-tanda mungkin infark dari AICA / arteri labirin. Gangguan sistem motor okular sentral atau fungsi vestibular
8

sentral juga terjadi setelah infark lacunar. Keadaan langka, berulang tiba-tiba jatuh, disebut vestibular drop attack (krisis otolithic Tumarkin's), yang terjadi pada tahap awal atau akhir penyakit Meniere tanpa pemicu pasti, tanda-tanda awal atau gangguan kesadaran, sulit untuk membedakan dari drop attack yang disebabkan oleh iskemia vertebrobasilar (Baloh et al 1990.). Serangan tersebut ternyata hasil dari fluktuasi tekanan endolymphatic disebabkan oleh eksaserbasi sepihak dari otoliths dan reaksi postural vestibulospinal yang tidak memadai. Diagnosis diferensial penting lainnya adalah migren basilar / vestibular, yang dapat terwujud tidak hanya dalam bentuk serangan pendek, tetapi juga sebagai serangan yang berlangsung beberapa jam. Tanda-tanda bahwa serangan itu adalah migren vestibular adalah: (1) gangguan pusat motorik mata selama interval bebas serangan, (2) tidak adanya gangguan pendengaran yang progresif walaupun banyak serangan, (3) asosiasi dengan gejala neurologis lain seperti rasa tebal pada wajah (migrain basilar), (4) nyeri kepala dan leher, dan (5) memberikan respon terhadap pengobatan profilaksis dengan beta-blocker. Dalam literatur baru-baru ini ditemukan ada indikasi peningkatan hubungan antara penyakit Meniere dan migren vestibular. Vestibular paroxysmia, yang disebabkan oleh kompresi neurovaskular, juga ditandai dengan serangan berulang vertigo dan / atau kadang-kadang gejala telinga yang lain. Serangan ini, bertentangan dengan penyakit Meniere, biasanya hanya berlangsung beberapa detik.

G. TIPE PENYAKIT MENIERE BERDASARKAN TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejala penyakit meniere berdasarkan tipenya : a) Penyakit Meniere vestibular Penyakit Meniere vestibular ditandai dengan adanya vertigo episodic sehubungan dengan tekanan dalam telinga tanpa gejala koklear. Tanda dan gejala: 1) Vertigo hanya bersifat episodic 2) Penurunan respons vestibuler atau tak ada respons total pada telinga yang sakit 3) Tak ada gejala koklear 4) Tak ada kehilangan pendengaran objektif
9

5) Kelak dapat mengalami gejala dan tanda koklear b) Penyakit Meniere klasik Tanda dan gejala: 1) Mengeluh vertigo 2) Kehilangan pendengaran sensorineural berfluktuasi 3) Tinitus 4) Penyakit Meniere koklea c) Penyakit Meniere koklea Penyakit Meniere koklea dikenali dengan adanya kehilangan pendengaran sensorineural progresif sehubungan dengan tnitus dan tekanan dalam telinga tanpa temuan atau gejala vestibuler. Tanda dan gejala: 1) Kehilangan pendengaran berfluktuasi 2) Tekanan atau rasa penuh aural 3) Tinnitus 4) Kehilangan pendengaran terlihat pada hasil uji 5) Tak ada vertigo 6) Uji labirin vestibuler normal 7) Kelak akan menderita gejala dan tanda vestibuler Tingkat derajat keparahan penyakit Meniere ; 1). Derajat I : Gejala awal berupa vertigo yang disertai mual dan muntah. Gangguan vagal seperti pucat dan berkeringat dapat terjadi. Sebelum gejala vertigo menyerang, pasien dapat merasakan sensasi di telinga yang berlangsung selama 20 menit hingga beberapa jam. Diantara, pasien sama sekali normal. 2). Derajat II : Gangguan pendengaran semakin menjadi-jadi dan berfluktuasi. Muncul gejala tuli sensorineural terhadap frekuensi rendah. 3). Derajat III : Gangguan pendengaran tidak lagi berfluktuasi namun progresif memburuk. Kali ini mengenai kedua telinga sehingga pasien seolah mengalami tuli total. Vertigo mulaiberkurang atau menghilang.

10

Diagnosis penyakit ini dapat dipermudah dengan kriteria diagnosis : Vertigo yang hilang timbul disertai tinitus dan rasa penuh pada telinga Fluktuasi gangguan pendengaran berupa tuli sensorineural Menyingkirkan kemungkinan penyebab dari sentral, misalnya tumor N.VIII Pemeriksaan fisik diperlukan untuk menguatkan diagnosis Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis penyakit Meniere adalah : Pemeriksaan audiometri, menunjukan tuli sensorineural. Elektronistagmografi ( ENG ) dan tes keseimbangan, untuk mengetahui secara objektif kuantitas dari gangguan keseimbangan pada pasien. Elektrokokleografi (ECOG), mengukur akumulasi cairan di telinga dalam dengan cara merekam potensial aksi neuron auditoris melalui elektroda yang ditempatkan dekat dengan kokhlea. Brainstem Evoked Response Audiometry ( BERA ), biasanya normal pada pasien dengan penyakit Meniere, walaupun kadang terdapat penurunan pendengaran ringan pada pasien dengan kelainan pada sistem saraf pusat Magnetic Resonance Imaging ( MRI ) dengan kontras yang disebut gadolinium spesifik memvisualisasikan n.VII. Jika ada bagian serabut saraf yang tidak terisi kontras menunjukkan adanya neuroma akustik. Selain itu pemeriksaan MRI juga dapat memvisualisasikan kokhlea dan kanalis semisirkularis4,6,11.

11

H. TATALAKSANA Penatalaksanaan pada Penyakit Meniere adalah sebagai berikut :11,12,13 a) Diet dan gaya hidup b) Farmakologi Untuk penyakit ini diberikan obat-obatan vasodilator perifer, antihistamin, antikolinergik, steroid, dan diuretik untuk mengurangi tekanan pada endolimfe. Obat-obat antiiskemia dapat pula diberikan sebagai obat alternatif dan neurotonik untuk menguatkan sarafnya selain itu jika terdapat infeksi virus dapat diberikan antivirus seperti asiklovir. c) Latihan Rehabilitasi penting dilakukan sebab dengan melakukan latihan sistem vestibuler ini sangat menolong..(4,6,1) d) Penatalaksanaan bedah Operasi yang direkomendasikan bila serangan veertigo tidak terkontrol antara lain : Dekompresi sakus endolimfatikus ; Labirinektomi ; Neurektomi vestibuler ; Labirinektomi dengan zat kimia (11,12)

Skema pentalaksanaan penyakit Meniere14


12

I. PROGNOSIS Penyakit Meniere belum dapat disembuhkan dan bersifat progresif, tapi tidak fatal dan banyak pilihan terapi untuk mengobati gejalanya. Penyakit ini berbeda untuk tiap pasien. Beberapa pasien mengalami remisi spontan dalam jangka waktu hari hingga tahun. Pasien lain mengalami perburukan gejala secara cepat. Namun ada juga pasien yang perkembangan penyakitnya lambat9,13. Belum ada terapi yang efektif untuk penyakit ini namun berbagai tindakan dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya serangan dan progresivitas penyakit. Sebaiknya pasien dengan verigo berat disarankan untuk tidak mengendarai mobil, naik tangga dan berenang9,13.

13

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Penyakit meniere merupakan suatu penyakit yang diakibatkan adanya kelainan pada telinga dalam berupa hirops (pembengkakan) endolimfa pada kokhlea dan vestibulum. Gejala dari penyakit meniere disebut trias meniere yang terdiri dari vertigo (sakit kepala berputar), tinnitus, dan gangguan pendengaran berupa tuli sensori neural. Gangguan pendengaran ini bersifat fluktuatif dimana gangguan pendengaran terjadi saat serangan dan dapat normal diluar serangan. Penyakit Meniere adalah salah satu penyebab tersering vertigo pada telinga dalam. Sebagian besar kasus timbul pada laki-laki atau perempuan dewasa. Paling banyak ditemukan pada usia 20-50 tahun.Pasien dengan resiko besar terkena penyakit Meniere adalah orang-orang yang memiliki riwayat alergi, merokok, stres, kelelahan, alkoholisme, dan pasien yang rutin mengonsumsi aspirin. Diagnosis dipermudah dengan dibakukannya kriteria diagnosis, yaitu trias Meniere dan menyingkirkan kemungkinan penyebab dari sentral, misalnya tumor N.VIII. Kondisi penyakit lain dapat menghasilkan gejala yang serupa seperti penyakit Meniere, dengan demikian kemungkinan penyakit lain harus disingkirkan dalam rangka untuk menegakkan diagnosis yang akurat. Evaluasi awal didasarkan pada anamnesis yang sangat hati-hati. Pemeriksaan fisik diperlukan untuk konfirmasi diagnosis. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu diagnosis adalah Pemeriksaan audiometri, Elektronistagmografi ( ENG), Elektrokokleografi (ECOG), Brainstem Evoked Response Audiometry ( BERA ), Magnetic Resonance Imaging ( MRI ). Pasien yang datang dengan keluhan khas penyakit Meniere awalnya hanya diberikan pengobatan yang bersifat simptomatik, seperti sedatif dan bila perlu diberikan anti emetik. Pengobatan paling baik adalah sesuai dengan penyebabnya. Pengobatan secara komprehensif meliputi : diet dan pengaturan gaya hidup yaitu dengan diet rendah garam, tidak mengkonsumsi rokok, alkohol, kafein, olahraga rutin. Rehabilitasi dan latihan sistem vestibuler. Pengobatan medika mentosa dengan memberikan obat anti emetik, tranzquilizer dan diuretik. Penatalaksanaan bedah dilakukan apabila vertigo berat dan tidak terkontrol.

14

B. SARAN Taktik perawatan diri tertentu dapat membantu mengurangi dampak penyakit Meniere. Pertimbangkan tips ini: 1. Duduk atau berbaring segera ketika Anda merasa pusing. Selama episode vertigo, hindari hal-hal yang dapat membuat tanda-tanda dan gejala lebih buruk, seperti gerakan tiba-tiba, lampu-lampu terang, menonton televisi atau membaca. 2. Istirahat selama dan setelah serangan. Jangan terburu-buru untuk kembali ke kegiatan normal. 3. Waspadalah terhadap kemungkinan kehilangan keseimbangan. Jatuh bisa menyebabkan cedera serius. Gunakan pencahayaan yang baik jika Anda bangun di malam hari. Pertimbangkan berjalan dengan tongkat untuk stabilitas jika Anda mengalami masalah keseimbangan kronis. 4. Hindari mengendarai mobil atau mengoperasikan mesin-mesin berat jika Anda sering mengalami episode vertigo. Melakukan hal itu dapat menyebabkan kecelakaan dan cedera.

15