Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayahNya, kami bisa menyelesaikan tugas makalah yang berjudul BRONKIEKTASIS. Makalah ini kami kerjakan untuk mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, serta penatalaksanaan pada bronkiektasis. Selain itu juga untuk mengetahui asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien bronkiektasis. Oleh karena itu, mudah-mudahan isi dari makalah ini insyaallah akan berguna untuk mahasiswa yang ingin mengetahui lebih banyak penjelasan tentang bronkiektasis. Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini tidak lah begitu sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari dosen pengajar maupun teman-teman mahasiswa yang lain lah yang membantu kami dalam usaha kedepannya. Dan semoga makalah ini dapat dimanfaatkan bagi semua teman-teman mahasiswa. Amin.

Pekanbaru, 27 oktober 2010

Kelompok I

DAFTAR ISI
Kata Pengantar..............................................................................................................................i Daftar Isi......................................................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang........................................................................................................... 1 B. Tujuan ........................................................................................................................ 1 BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Pengertian Bronkiektasis ........................................................................................... 2 B. Etiologi Bronkiektasis ............................................................................................... 3 C. Patofisiologi bronkiektasis ........................................................................................ 3 D. Manifestasi klinis....................................................................................................... 5 E. Pemeriksaan diagnostik ............................................................................................. 6 F. Penatalaksanaan...8 G. Asuhan Keperawatan............9 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan..16 B. Saran....16 DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
A.Latar belakang DIKERTAS FOTOCOPI Ummi yg udh dilingkarin B.Tujuan 1. Untuk mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik dari bronkiektasis 2. Untuk mengetahui bagaimana cara penatalaksanaan pada bronkiektasis 3. Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien bronkiektasis 4. Untuk dapat menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan bronkiektasis

BAB II TINJAUAN TEORITIS


A.Pengertian Bronkiektasis Bronkiektasis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya dilatasi bronkus yang bersifat patologis dan berlangsung kronik. Bronkiektasis berarti suatu dilatasi yang tak dapat pulih lagi dari bronchial yang disebabkan oleh episode pneumonitis berulang dan memanjang, aspirasi benda asing, atau massa yang menghambat lumen bronchial dengan obstruksi ( Hudak & Gallo,1997). Bronkiektasis adalah dilatasi permanen abnormal dari salah satu atau lebih cabang-vabang bronkus yang besar ( Barbara E, 1998). Bronkietaksis adalah dilatasi bronki dan bronkiolus kronis yang mungkin disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk infeksi paru dan obstruksi bronkus, aspirasi benda asing, muntahan, atau benda-benda dari saluran pernafasan atas, dan tekanan akibat tumor, pembuluh darah yang berdilatasi, dan pembesaran nodus limfe. Individu mungkin mempunyai predisposisi terhadap bronkietaksis sebagai akibat infeksi pernafasan pada masa kanakkanaknya, campak, influenza, tuberkulosis, dan gangguan immunodefisiensi. Setelah pembedahan, bronkiektaksis dapat terjadi ketika pasien tidak mampu untuk batuk secara efektif, dengan akibat lender menyumbat bronchial dan mengarah pada atelektasis. (sumber buku pustaka) B.Klasifikasi Bronkiektasis Berdasarkan atas bronkografi dan patologi bronkiektasis dapat dibagi menjadi 3 yaitu : 1. 2. 3. Bronkiektasis silindris Bronkiektasis fusiform Bronkiektasis kistik atau sakular.

C. Etiologi Bronkiektasis 1. 2. 3. 4. Infeksi Kelainan heriditer atau kelainan kongenital Faktor mekanis yang mempermudah timbulnya infeksi Sering penderita mempunyai riwayat pneumoni sebagai komplikasi campak, batuk

rejan, atau penyakit menular lainnya semasa kanak-kanak. (Soeparman & Sarwono W, 1998) D. Patofiologi Bronkiektasis Infeksi merusak dinding bronchial, menyebabkan kehilangan struktur pendukungnya dan menghasilkan sputum kental yang akhirnya dapat menyumbat bronki. Dinding bronchial menjadi teregang secara permanen akibat batuk hebat. Infeksi meluas ke jaringan peribronkial, sehingga alam kasus bronkiektasis sakuar, setiap tuba yang berdilatasi sebenarnya adalah abses paru, yang eksudatnya mengalir bebas melalui bronkus. Bronkiektaksis biasanya setempat, menyerang lobus atau segmen paru. Lobus yang paling bawah lebih sering terkena. Retensi sekresi dan obstruksi yang diakibatkannya pada akhirnya menyebabkan alveoli di sebelah distal obstruksi mengalami kolaps (atelektasis). Jaringan parut atau fibrosis akibat reaksi inflamasi menggantikan jaringan paru yang berfungsi. Pada waktunya pasien mengalami infusiensi pernafasan dengan penurunan kapasitas vital, penurunan ventilasi, dan peningkatan rasio volume residual terhadap kapasitas paru total. Terjadi kerusakan campuran gas yang di inspirasi (ketidakseimbangan ventilasi-perfusi) dan hipoksemia. (Sumber buku perpus)

PATOFISIOLOGI WOC BRONKIEKTASIS

INFEKSI KELAINAN HEREDITER FAKTOR MEKANIS PNEUMONIA

RIWAYAT

(Campak, Batuk rejan)

produksi sputum me

Merusak dinding bronchial

klien kesulitan bernafas

Peningkatan secret di bronkus

Kuman berkembang

Obstruksi saluran nafas

Sesak, batuk

tekanan intra pulmoner

Dx: - tidak efektif bersihan jalan nafas b/d peningkatan produksi secret - gangguan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen dan kerusakan alveoli - perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual, muntah, produksi sputum - resiko tinggi penyebaran infeksi b/d proses penyakit kronis, malnutrisi

D. Manifestasi Klinis 1. Batuk kronik Batuk kronik karena pembentukan sputum purulen dalam jumlah yang sangat banyak. Spesimen sputum akan secara khas membentuk lapisan menjadi tiga lapisan dari atas: lapisan atas berbusa, lapisan tengah yang bening, dan lapisan bawah berpartikel tebal. Bronkiektaksis tidak mudah didiagnosis karena gejala-gejalanya dapat tertukar dengan bronchitis kronik. 2. Hemoptisis 3. Jari tabuh Jari tabuh karena insufiensi pernafasan. Pasien hampir pasti mengalami infeksi paru berulang. Gambaran Klinis Bronkiektasis Bronkiektasis merupakan penyakit yang sering dijumpai pada usia muda, 69 % penderita berumur kurang dari 20 tahun. Gejala dimulai sejak masa kanak-kanak, 60 % dari penderita gejalanya timbul sejak umur kurang dari 10 tahun. Gejalanya tergantung dari luas, berat, lokasi ada atau tidaknya komplikasi. Tanda dan Gejala 1. Batuk yang menahun dengan sputum yang banyak terutama pada pagi hari, setelah

tiduran dan berbaring. 2. Batuk dengan sputum menyertai batuk pilek selama 1-2 minggu atau tidak ada gejala

sama sekali ( Bronkiektasis ringan ) 3. Batuk yang terus menerus dengan sputum yang banyak kurang lebih 200 - 300 cc,

disertai demam, tidak ada nafsu makan, penurunan berat badan, anemia, nyeri pleura, dan lemah badan kadang-kadang sesak nafas dan sianosis, sputum sering mengandung bercak darah,dan batuk darah.

4.

Ditemukan jari-jari tabuh pada 30-50 % kasus. (Sylvia S. Prince & Loranine M. Wilson, 2003)

E. Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik 1. Pemeriksaan Laboratorium. a. Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum meliputi volume sputum, warna sputum, sel-sel dan bakteri dalam sputum. Bila terdapat infeksi volume sputum akan meningkat, dan menjadi purulen dan mengandung lebih banyak leukosit dan bakteri. Biakan sputum dapat menghasilkan flora normal dari nasofaring, streptokokus pneumoniae, hemofilus influenza, stapilokokus aereus, klebsiela, aerobakter,proteus, pseudomonas aeroginosa. Apabila ditemukan sputum berbau busuk menunjukkan adanya infeksi kuman anaerob. b. Pemeriksaan darah tepi. Biasanya ditemukan dalam batas normal. Kadang ditemukan adanya leukositosis menunjukkan adanya supurasi yang aktif dan anemia menunjukkan adanya infeksi yang menahun. c. Pemeriksaan urine Ditemukan dalam batas normal, kadang ditemukan adanya proteinuria yang bermakna yang disebabkan oleh amiloidosis. Imunoglobulin serum biasanya dalam batas normal kadang bisa meningkat atau menurun. d. Pemeriksaan EKG EKG biasa dalam batas normal kecuali pada kasus lanjut yang sudah ada komplikasi korpulmonal atau tanda pendorongan jantung.

e. Spirometri Spirometri pada kasus ringan mungkin normal tetapi pada kasus berat ada kelainan obstruksi dengan penurunan volume ekspirasi paksa 1 menit atau penurunan kapasitas vital, biasanya disertai insufisiensi pernafasan yang dapat mengakibatkan : 1. Ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi 2. Kenaikan perbedaan tekanan PO2 alveoli-arteri 3. Hipoksemia 4. Hiperkapnia f. Foto dada PA dan Lateral Biasanya ditemukan corakan paru menjadi lebih kasar dan batas-batas corakan menjadi kabur, mengelompok,kadang-kadang ada gambaran sarang tawon serta gambaran kistik dan batas-batas permukaan udara cairan. Paling banyak mengenai lobus paru kiri, karena mempunyai diameter yang lebih kecil kanan dan letaknya menyilang

mediastinum,segmen lingual lobus atas kiri dan lobus medius paru kanan. g. Pemeriksaan bronkografi Bronkografi tidak rutin dikerjakan namun bila ada indikasi dimana untuk mengevaluasi penderita yang akan dioperasi yaitu penderita dengan pneumoni yang terbatas pada suatu tempat dan berulang yang tidak menunjukkan perbaikan klinis setelah mendapat pengobatan konservatif atau penderita dengan hemoptisis yang pasif. Bronkografi dilakukan setelah keadaan stabil, setelah pemberian antibiotik dan postural drainage yang adekuat sehingga bronkus bersih dari sekret. (Marylin E doengoes, 2000)

F. Penatalaksanaan Bronkiektasis Tujuan pengobatan adalah memperbaiki drainase sekret dan mengobati infeksi. Objektif dari pengobatan adalah untuk mencegah dan mengontrol infeksi serta untuk meningkatkan drainase bronchial untuk membersihkan bagian paru yang sakit atau paru-paru dari sekresi yang berlebihan. 1. Infeksi dikendalikan dengan terapi antimikroba didasarkan pada hasil pemeriksaan sensitivitas pada organisme yang di kultur dari sputum. Pasien mungkin dimasukkan ke dalam regimen antibiotic yang berbeda pada interval yang bergantian. Beberapa dokter meresepkan antibiotic sepanjang musim dingin atau ketika terjadi infeksi saluran pernafasan atas. Pasien harus divaksinasi terhadap influenza dan pneumonia pneumokokus. 2. Drainase postural dari tuba bronchial mendasari semua rencana pengobatan karena drainase area bronkiektaksis oleh pengaruh gravitasi mengurangi jumlah sekresi dan tingkat infeksi. (kadang-kadang sputum mukopurulen harus dibuang dengan bronkoskopi). Daerah dada yang sakit mungkin diperkusi atau di tepuk-tepuk untuk membantu melepaskan sekresi. Drainase postural pada awalnya dilakukan untuk periode singkat dan kemudian ditingkatkan dengan pasti. 3. Bronkodilator dapat diberikan pada individu yang juga mengalami penyakit obstruksi jalan nafas. Pasien dengan bronkiektasis hampir selalu mempunyai kaitan dengan bronchitis. Simpatomimetik, terutama Beta-adrenergik, dapat digunakan untuk meningkatkan transfort sekresi mukosiliaris. 4. Untuk meningkatkan pengeluaran sputum, kandungan air dari sputum ditingkatkan dengan tindakan aerosolized nebulizier dan dengan meningkatkan masukan cairan peroral. Face tent baik untuk member kelembaban ekstra terhadap aerosol. Pasien harus tidak merokok, karena merokok merusak drainase bronchial dengan melumpuhkan aksi siliaris, meningkatkan sekresi bronchial, dan menyebabkan inflamasi membrane mukosa, mengakibatkan hyperplasia kelenjar mukosa. 5. Intervensi bedah, meski tidak sering dilakukan, mungkin diperlukan bagi pasien yang secara kontinu mengeluarkan sputum dalam jumlah yang sangat besar dan mengalami

penyakit pneumonia dan hemoptisis berulang meskipun kepatuhan pasien terhadap regimen pengobatan. Namun demikian, penyakit harus hanya mengenai satu atau dua daerah paru yang dapat diangkat tanpa menyebabkan insufiensi pernafasan. Tujuan tindakan pembedahan dalah untuk menjaga jaringan paru normal dan menghindari komplikasi infeksius. Semua jaringan yang sakit diangkat, sehingga fungsi paru pascaoperatif akan adekuat. Mungkin ada baiknya untuk mengangkat suatu segmen lobus (reseksi segmental), lobus (lobektomi), atau keseluruhan paru

(pneumonnektomi). Reseksi segmental adalah pengangkatsubdivisi anatomi dari lobus paru. Keuntungan utama dari tindakan iini adalah bahwa hanya jaringan yang sakit saja yang diangkat dan jaringan paru yang sehat terpelihara. Bronkografi membantu dalam menggambarkan segmen paru. Pembedahan didahului dengan periode persiapan operasi yang cermat. Tujuannya adalah untuk memungkinkan agar percabangan trakeobronkial kering (sekering mungkin) untuk mencegah komplikasi (atelektasis, pneumonia, fistula bronkopleura, dan emfisema). Tujuan ini dicapai dengan cara drainase postural atau tergantung pada letak abses, dengan suksion langsung melalui bronkoskop. Serangkaian terapi abtibakterial mungkin diresepkan. (Sumber buku pustaka)

G. Asuhan Keperawatan Bronkiektasis


1. Pengkajian Data Dasar A. Riwayat atau adanya faktor-faktor penunjang 1) Merokok produk tembakau sebagai faktor penyebab utama 2) Tinggal atau bekerja di daerah dengan polusi udara berat 3) Riwayat alergi pada keluarga B. Riwayat atau adanya faktor-faktor pencetus eksaserbasi seperti : 1) Allergen ( serbuk, debu, kulit, serbuk sari atau jamur)

2) Sress emosional 3) Aktivitas fisik yang berlebihan 4) Polusi udara 5) Infeksi saluran nafas 6) Kegagalan program pengobatan yang dianjurkan C. Pemeriksaan fisik berdasarkan fokus pada system pernafasan yang meliputi : 1) Kaji frekuensi dan irama pernafasan: RR meningkat/ menurun/ normal 2) Inspeksi warna kulit dan warna menbran mukosa: pucat/ sianosis/ ikterik 3) Auskultasi bunyi nafas: vesikuler/ wheezing/ ronchi 4) Pastikan bila pasien menggunakan otot-otot aksesori bila bernafas :
a. b. c.

Mengangkat bahu pada saat bernafas Retraksi otot-otot abdomen pada saat bernafas Pernafasan cuping hidung

5) Kaji ekspansi dada : simetris/ asimetris 6) Kaji batuk : produktif/ nonproduktif. Bila produktif tentukan warna sputum. 7) Kaji tingkat kesadaran. D. Pemeriksaan diagnostik meliputi : 1) Gas darah arteri (GDA) menunjukkan PaO2 rendah dan PaCO2 tinggi 2) Sinar X dada memunjukkan peningkatan kapasitas paru dan volume cadangan 3) Klutur sputum positif bila ada infeksi 4) Esei imunoglobolin menunjukkan adanya peningkatan IgE serum

5) Tes fungsi paru untuk mengetahui penyebab dispneu dan menentukan apakah fungsi abnormal paru ( obstruksi atau restriksi). 6) Tes hemoglobolin E. Kaji persepsi diri pasien F. Kaji berat badan dan masukan rata-rata cairan dan diet. (Marylin E doengoes, 2000) 2. Diagnosa Keperawatan Bronkiektasis 1. Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret atau sekresi kental 2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen dan kerusakan alveoli 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah,produksi sputum, dispneu. (Marylin E doengoes, 2000) 3. Intervensi Keperawatan Bronkiektasis 1) Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret, sekret kental. Tujuan : Mempertahakan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/jelas. Kriteria hasil :

Menujukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas ( batuk yang efektif, dan mengeluarkan secret). Rencana Tindakan : 1. Kaji /pantau frekuensi pernafasan. Catat rasio inspirasi dan ekspirasi Tachipneu biasanya ada pada beberapa derajat dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/ proses infeksi akut. Pernafasan melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang disbanding inspirasi 2. Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas Derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat /tak dimanisfestasikan adanya bunyi nafas. Misalnya mengi, krekels, ronchi. 3. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman,Tinggi kepala tempat tidur dan duduk pada sandaran tempat tidur Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan mempergunakan gravitasi. Dan mempermudah untuk bernafas serta membantu menurunkan kelemahan otototot dan dapat sebagai alat ekspansi dada. 4. Bantu latihan nafas abdomen atau bibir Untuk mengatasi dan mengontrol dispneu dan menurunkan jebakan udara 5. Observasi karakteriktik batuk dan Bantu tindakan untuk efektifan upaya batuk Mengetahui keefektifan batuk. 6. Tingkatan masukan cairan sampai 3000ml/hari sesuai toleransi jantung serta berikan hangat dan masukan cairan antara sebagai penganti makan

Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret,mempermudah pengeluaran.cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Cairan antara makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekana diafragma. 7. Pertahankan polusi lingkungan minimum Misalnya, debu, asap, dan bulu bantal yang berhubungan dengan kondisi individu. 8. Berikan obat sesuai indikasi Mempercepat proses penyembuhan. 2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen dan kerusakan alveoli. Tujuan : Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan. Kriteria : GDA dalam batas normal, warna kulit membaik, frekuensi nafas 12- 24x/mt, bunyi nafas bersih, tidak ada batuk, frekuensi nadi 60-100x/mt, tidak dispneu. Rencana Tindakan : 1. Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan serta catat penggunaan otot aksesori untuk mengevaluasi derajat distress pernafsan/ kronisnya suatu penyakit. 2. Tingikan kepala tempat tidur dan Bantu untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas .Kaji / awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa Suplai oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk menurunkan kolaps jalan nafas.

3. Dorong untuk pengeluaran sputum/ penghisapan bila ada indikasi Sputum menganggu proses pertukaran gas serta penghisapan dilakukan bila batuk tidak efektif. 4. Awasi tingkat kesadaran / status mental Manisfestasi umum dari hipoksia 5. Awasi tanda vital dan status jantung Perubahan tekanan darah menunjukkan efek hipoksia sistemik pada fungsi jantung 6. Berikan oksigen tambahan dan pertahankan ventilasi mekanik dan Bantu intubasi Dapat memperbaiki atau mencegah terjadinya hipoksia dan kegagalan nafas serta tindakan untuk penyelamatan hidup. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah,produksi sputum, dispneu. Tujuan : Peningkatan dalam status nutrisi dan berta badan pasien Kriteria hasil : Pasien tidak mengalami kehilangan berat badan lebih lanjut atau mempertahankan berat badan. Rencana tindakan : 1. Pantau masukan dan keluaran tiap 8 jam, jumlah makanan yang dikonsumsi serta timbang berta badan tiap minggu. Untuk mengidentifikasi adanya kemajuan atau penyimpangan dari yang diharapkan

2. Ciptakan suasana yang menyenangkan ,lingkungan yang bebas dari bau selama waktu makan suasana dan lingkungan yang tak sedap selama waktu makan dapat meyebakan anoreksia 3. Rujuk pasien ke ahli diet untuk memantau merencanakan makanan yang akan dikonsumsi Dapat membantu pasien dalam merencanakan makan dengan gisi yang sesuai. 4. Dorong klien untuk minum minimal 3 liter cairan perhari, jika tidak mendapat infus. untuk mengatasi dehidrasi pada pasien. (Marylin E doengoes, 2000)

BAB III PENUTUP


A.KESIMPULAN Dari pengertian di atas dapat diketahui apa itu bronkiektasis, penyebab, tanda dan gejala, bagaimana cara penatalaksanaan serta tindakan keperawatan yang bisa dilakukan, oleh karena itu individu yang mengalami bronkiektasis atau mengalami tanda dan gejala dari bronkiektasis segera melakukan tindakan lanjut, yaitu dengan datang kedokter maupun rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya, dan juga untuk mendapatkan penyuluhan keesehatan tentang bronkiektasis. B.SARAN Dalam makalah kami ini mungkin terdapat kekurangan, oleh karena itu saran dari semua dosen pengajar dan teman-teman yang membangun kami untuk lebih baik kedepannya. Amin.

DAFTAR PUSTAKA
Barbara E.,(1999), Rencana Asuhan keperawatan Medikal- Bedah Volume I, EGC, Jakarta Doengoes, Marilynn E, (2000), Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, EGC, Jakarta. www.penyakit bronkiektasis.com (internet)

tambah lgi dgn buku perpus n buku nic

TUGAS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


BRONKIEKTASIS

DISUSUN OLEH: ADINDA DWITAMI LESTARI (0.8.3.0.1.0040) ARIS KURNIAWAN (0.8.3.0.1.0041) AYU ASTUTI (0.8.3.0.1.0042) TINGKAT: III B Dosen Pembimbing: Ns. Sri Yanti M. Kep, Sp. KMB

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (PSIK) STIKes PAYUNG NEGERI PEKANBARU T.A. 2010