Lapis Pondasi Pondasi Jalan dgn Agregat

Pembekalan / Pengujian Ahli Pelaksana dan Ahli Pengawas Jalan dan Jembatan DPP HPJI
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

1

Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Base dan Sub Base
Lapisan Base adalah suatu material yang dipasang tepat di bawah lapis permukaan, sedang lapisan Sub Base adalah material yang dipasang dibawah Base di atas Subgrade Lapisan perkerasan dapat terdiri dari perkerasan lentur atau perkerasan kaku.

Sesuai namanya, perkerasan lentur relatif lentur jika dibandingkan dengan beratnya beban lalu lintas yang diterimanya, beban ditahan oleh sebagian luas tepi bawah perkerasan sesuai dengan distribusi beban ke perkerasan, untuk kemudian diteruskan ke Subgrade. Sedang perkerasan kaku memang bersifat kaku sehingga beban lalu lintas yang diterima dapat ditahan kurang lebih oleh seluruh luas tepi bawah lapis perkerasan kaku ini, untuk kemudian diteruskan ke subgrade.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

2

Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Pada perkerasan Lentur, tujuan base dan subbase adalah untuk:
Dengan kekakuannya (kekuatannya) sendiri mendukung beban (lalu lintas) yang diterimanya; Seperti asumsi di atas, bahwa perkerasan lentur dibayangkan seperti lembaran karet, sebenarnya dia juga punya kekakuan yang mampu mendukung beban meskipun tidak sekuat lembaran baja. Dengan ketebalan perkerasannya untuk menyebarkan beban lalu lintas dipermukaan perkerasan menjadi tekanan yang mampu diterima oleh Sub Grade Lapis permukaan Lapis Base Lapis Sub Base
Gambar 1: Mekanisme penyebaran tekanan akibat beban pada lapisan perkersana lentur
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

Subgrade

3

Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Jenis Lapis Pondasi Jalan
1. Lapis Pondasi Atas

Tanpa Pengikat
Lapis Pondasi Agregat Kelas A Dry Bound Macadam

2.

Lapis Pondasi Bawah
Tanpa Pengikat
Lapis Pondasi Agregat Kelas B

Dengan Pengikat
Pengikat Air

Water Bound Macadam PCC (Portland Cement Concrete) CTB Soil Cement Base ATB Konvensional AC-Base

Pengikat Semen

Dengan Pengikat Pengikat Aspal
 


ATSB Konvensional CTSB

Pengikat Aspal
 

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

4

Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Apakah California Bearing Ratio (CBR) Itu?
Perbandingan beban untuk penetrasi piston seluas 3 inch sedalam 0,1 inch terhadap beban 3000 lbs, atau 0,2 inch terhadap beban 4500 lbs Catatan :


Biasanya diambil yang penetrasi 0,1 inch Bilamana yang 0,2 inch >, pengujian harus diulang Bilamana hasil ulang masih sama, diambil yang 0,2
BEBAN

PISTON PENEKAN PENETRASI
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway 2 Engineer LUAS ALAS 3 INCH

5

Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Jenis apa saja base course itu?
Bahan Berbutir (Granular Material) :

Lapis Pondasi Agregat (Aggregate Base), Terbuat Dari Cam-puran Batu Pecah Dan Sirtu
Bahan Pengikat Semen :
PCC (Potland Cement Concrete) , >  K275 CTB (Cement Treated Base), Ucs 7 Hari > 45 Kg/Cm2 Soil Cement, Ucs 7 Hari >  20 Kg/Cm2

Bahan Distabilisasi Dengan Pengikat :

Bahan Pengikat Aspal :
Laston Atas ("Asphalt Treated Base"), Black Base Kadar Aspal Rendah, Ukuran Butir Maks. 2 Inch
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

6

Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Jenis campuran aspal apa saja untuk subbase course?
Jenis sama dengan base course mutu bahan boleh lebih rendah dari Base course
 

CBR base  80 % CBR subbase  30 %

Laston bawah ("asphalt treated Subbase")

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

7

Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Berapakah CBR Yang Ekonomis Untuk Perkerasan Lentur?
Bagaimana cara mengekonomiskan tanah berCBR kecil?CBR yang ekonomis> 6, bilamana < 6
dapat digunakan capping layer yang terbuat dari selected (CBR >10)

CBR = 3 - 6, digunakan capping layer 20 cm, gabungan Capping layer dan tanah asli diperkirakan dapat mencapai cbr = 6 CBR < 3, digunakan capping layer 35 cm, gabungan capping layer dan tanah asli diperkirakan dapat mencapai CBR= 6

Capping Layer Tanah Asli

Cbr Gabungan = 6
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

100 Cm

8

Bab I : Gambaraan Umum Perkerasan Jalan

Apakah boleh mensubstitusi tebal komponen perkerasan dengan cara mengekivalenkan?
Mengekivalenkan menjadi komponen yang lebih tinggi mutunya diperkenankan, tidak sebaliknya ! Bilamana diekivalenkan dengan bahan yang rendah maka akan terjadi fatique cracking terlebih dahulu pada Lapisan beraspal sebelum terjadinya rutting.

Hal ini paling sering dilakukan tanpa menyadarinya ! Analog dengan under reinforced !
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

9

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

10

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Pekerjaan Lapis Pondasi Jalan
Lapis Pondasi Agregat (satuan m3)

Mencakup pemasokan, pemrosesan, pengangkutan, penghamparan, pembasahan, dan pemadatan agregat di atas permukaan yang telah disiapkan dan diterima oleh Direksi Pekerjaan ---> Lapis pondasi agregat kelas A , B dan kelas B Mencakup pemasokan, pengangkutan, penghamparan, dan pemadatan bahan utk pelaksanaan lapis pondasi jalan tanpa penutup aspal, merupakan suatu lapis permukaan sementara pada permukaan tanah dasar atau lapis pondasi bawah yang telah disiapkan ---> Lapis pondasi agregat kelas C

Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal (satuan m3)

Lapis Pondasi Semen Tanah (satuan : m3 utk lapis pondasi
dan ton utk semen)  Terdiri dari tanah yang distabilisasi dengan semen yang dihampar dan dipadatkan di atas tanah dasar yang telah disiapkan
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

11

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Gradasi Lapis Pondasi Agregat
Ukuran saringan ASTM (mm) 3” 75 2” 50 1½” 37,5 1“ 25,0 3/8” 9,50 No.4 4,75 No.10 2,0 0,425 No.40 No.200 0,075 Persen berat yang lolos, % lolos Kelas A Kelas B Kelas C 100 100 75-100 100 88 –100 60-90 77 –100 70 – 85 45-78 44 – 60 40 – 65 25-55 27 – 44 25 – 52 13-45 17 – 30 15 – 40 8-36 7 – 17 8 – 20 7-23 2–8 2-8 5-15

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

12

Sifat-sifat Lapis Pondasi Agregat
Sifat – sifat Kelas A Kelas B Abrasi dari Agregat Kasar (SNI 03-2417mak. 40% mak. 40% 1990) Indek Plastis (SNI-03-1966-1990 dan mak. 6 mak. 6 SNI-03-1967-1990). Hasil kali Indek Plastisitas dengan % Lolos mak. 25 -Saringan No.200 Batas Cair (SNI 03-1967-1990) mak. 25 mak. 25 Gumpalan Lempung dan Butir-Butir 0% mak. 1% Mudah Pecah dalam Agregat (SNI- 034141-1996) CBR (SNI 03-1744-1989) min. 90% min. 65 % Perbandingan persen lolos #200 dan #40 mak. 2/3 mak. 2/3 Kelas C mak. 40% 4–9 -mak. 35 mak. 1%

min. 35% mak. 2/3

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

13

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

STANDAR RUJUKAN LAPIS PONDASI AGREGAT

SNI 03-1967-1990 (AASHTO T 89 - 90):Metode Pengujian Batas cair dengan Alat Cassagrande. SNI 03-1966-1990 (AASHTO T 90 - 87):Metode Pengujian Batas Plastis. SNI 03-2417-1991 (AASHTO T 96 - 87):Metode Pengujian Keausan Agregat dengan Mesin Los Angeles. SK SNI M-01-1994-03(AASHTO T112 - 87):Metode Pengujian Gumpalan Lempung dan Butir-butir Mudah Pecah dalam Agregat. SNI 03-1743-1989(AASHTO T180 - 90):Metode Pengujian Kepadatan Berat Untuk Tanah. SNI 03-2827-1992(AASHTO T191 - 86):Metode Pengujian Kepadatan Lapangan dengan Alat Konus Pasir SNI 03-1744-1989(AASHTO T193 - 81):Metode Pengujian CBR Laboratorium. Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway 14 Engineer

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

STANDAR MUTU PEKERJAAN LAPIS PONDASI AGREGAT PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN LAPIS PONDASI AGREGAT

Penyiapan Formasi untuk Lapis Pondasi Agregat
Lapis Pondasi Agregat akan dihampar pada perkerasan atau bahu jalan lama yang telah diperbaiki terlebih dahulu atau di atas tanah dasar baru yang telah diselesaikan sepenuhnya Lokasi yang telah disediakan untuk pekerjaan Lapisan Pondasi Agregat, harus disiapkan dan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Direksi Pekerjaan paling sedikit 100 meter ke depan dari rencana akhir lokasi penghamparan Lapis Pondasi pada setiap saat. Untuk perbaikan tempat-tempat yang kurang dari 100 meter panjangnya, seluruh formasi itu harus disiapkan dan disetujui sebelum lapis pondasi agregat dihampar. Bilamana Lapis Pondasi Agregat akan dihampar langsung di atas permukaan perkerasan aspal lama, yang menurut pendapat Direksi Pekerjaan dalam kondisi tidak rusak, maka harus diperlukan penggaruan atau pengaluran pada permukaan perkerasan aspal lama agar diperoleh tahanan geser yang lebih baik.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

15

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Penghamparan Lapis Pondasi Agregat
Lapis Pondasi Agregat harus dibawa ke badan jalan sebagai campuran yang merata dan harus dihampar pada kadar air yang tersebar merata dan dalam rentang yang disyaratkan. Setiap lapis harus dihampar pada suatu operasi dengan takaran yang merata agar menghasilkan tebal padat yang diperlukan dalam toleransi yang disyaratkan. Bilamana akan dihampar lebih dari satu lapis, maka lapisan-lapisan tersebut harus diusahakan sama tebalnya. Lapis Pondasi Agregat harus dihampar dan dibentuk dengan salah satu metode yang disetujui yang tidak meyebabkan segregasi pada partikel agregat kasar dan halus. Bahan yang bersegregasi harus diperbaiki atau dibuang dan diganti dengan bahan yang bergradasi baik. Tebal padat minimum untuk pelaksanaan setiap lapisan harus dua kali ukuran terbesar agregat lapis pondasi. Tebal padat maksimum tidak boleh melebihi 20 cm, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

16

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Pemadatan Lapis Pondasi Agregat
Setiap lapis harus dipadatkan menyeluruh dengan alat pemadat yang cocok dan memadai dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan, hingga kepadatan paling sedikit 100 % dari kepadatan kering maksimum modifikasi (modified) seperti yang ditentukan oleh SNI 03-1743-1989, metode D. Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan agar digunakan mesin gilas beroda karet digunakan untuk pemadatan akhir, bila mesin gilas statis beroda baja dianggap mengakibatkan kerusakan atau degradasi berlebihan dari Lapis Pondasi Agregat. Pemadatan harus dilakukan hanya bila kadar air dari bahan berada dalam rentang 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1 % di atas kadar air optimum, dimana kadar air optimum adalah seperti yang ditetapkan oleh kepadatan kering maksimum modifikasi (modified) yang ditentukan oleh SNI 03-1743-1989, metode D. Operasi penggilasan harus dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak sedikit demi sedikit ke arah sumbu jalan, dalam arah memanjang. Pada bagian yang ber”superelevasi”, penggilasan harus dimulai dari bagian yang rendah dan bergerak sedikit demi sedikit ke bagian yang lebih tinggi. Operasi penggilasan harus dilanjutkan sampai seluruh bekas roda mesin gilas hilang dan lapis tersebut terpadatkan secara merata. Bahan sepanjang kerb, tembok, dan tempat-tempat yang tak terjangkau mesin gilas harus dipadatkan dengan timbris mekanis atau alat pemadat lainnya yang disetujui.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

17

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Pengujian Lapis Pondasi Agregat
Jumlah data pendukung pengujian bahan yang diperlukan untuk persetujuan awal harus seperti yang diperintahkan Direksi Pekerjaan, Harus mencakup seluruh jenis pengujian yang disyaratkan minimum pada tiga contoh yang mewakili sumber bahan yang diusulkan Seluruh jenis pengujian bahan akan diulangi lagi, bila menurut pendapat Direksi Pekerjaan, terdapat perubahan mutu bahan atau metode produksinya. Suatu program pengujian rutin pengendalian mutu bahan harus dilaksanakan untuk mengendalikan ketidakseragaman bahan yang dibawa ke lokasi pekerjaan. Setiap 1000 meter kubik bahan yang diproduksi paling sedikit harus meliputi tidak kurang dari lima (5) pengujian indeks plastisitas, lima (5) pengujian gradasi partikel, dan satu (1) penentuan kepadatan kering maksimum menggunakan SNI 03-1743-1989, metode D. Pengujian CBR harus dilakukan dari waktu ke waktu sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Kepadatan dan kadar air bahan yang dipadatkan harus secara rutin diperiksa, mengunakan SNI 03-2827-1992. Pengujian harus dilakukan sampai seluruh kedalaman lapis tersebut pada lokasi yang ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan, tetapi tidak boleh berselang lebih dari 200 m.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

18

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Gradasi Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal
Ukuran Saringan ASTM (mm) 3” 75 2” 50 1 ½” 37,5 1” 25 3/8” 9,5 No.4 4,75 No.10 2,0 No.40 0,425 N0.200 0,075 Persen berat yang lolos, % lolos 100 75 – 100 60 – 90 45 – 78 25 – 55 13 – 45 8 – 35 7 – 23 5 – 15

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

19

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

STANDAR RUJUKAN LAPIS PONDASI JALAN TANPA PENUTUP ASPAL

British Standards :
British Standard BS812:Method of Sampling and Testing of Mineral Aggregates, Sands and Fillers.

Standar Nasional Indonesia (SNI) :
SNI 03-1967-1990 (AASHTO T 89 - 90):Metode Pengujian Batas Cair dengan Alat Cassagrande. SNI 03-1966-1990 (AASHTO T 90 - 87):Metode Pengujian Batas Plastis. SNI 03-2417-1991 (AASHTO T 96 - 87):Metode Pengujian Keausan Agregat dengan Mesin Los Angeles.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

20

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN LAPIS PONDASI JALAN TANPA PENUTUP ASPAL
Penyiapan Formasi  Penyiapan drainase, tanah dasar dan lapis pondasi bawah harus selesai dan diterima paling sedikit 100 m ke depan dari rencana lokasi akhir penghamparan lapis pondasi jalan tanpa penutup aspal pada setiap saat. Pengiriman Bahan  Agregat kasar dan halus untuk Waterbound Macadam harus dikirim ke badan jalan sebagai campuran yang merata, Kadar air hanya sebatas cukup untuk mengikat bahan halus dan terdistribusi secara merata, dan air bebas tidak diperbolehkan.  Jika Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal kelas C dipasok sebagai bahan yang dicampur lebih dahulu, bahan itu harus dikirim ke badan jalan sesuai dengan ketentuan Spesifikasi. Bilamana agregat dikirim dalam bentuk dua atau tiga komponen, setiap komponen harus dikirim sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi yang mengatur hal ini.  Tebal padat minimum tidak boleh kurang dari dua kali ukuran agregat maksimum. Tebal padat maksimum tidak boleh lebih dari 20 cm kecuali ditentukan lain atau disetujui Direksi Pekerjaan .
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

21

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Agregat Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal Yang Dicampur Di Tempat
 

Pencampuran di tempat hanya diijinkan bila kondisi panas dan cuaca panas diharapkan berlangsung sampai pekerjaan selesai. Pelaksanaan Waterbound Macadam disyaratkan dalam Spesifikasi.

Pemadatan Lapis Pondasi Kelas C

Setiap lapis bahan harus dipadatkan seluruhnya dengan alat pemadat yang cocok dan memadai, yang telah disetujui Direksi Pekerjaan . Pembentukan akhir permukaan lapis pondasi bawah harus dilaksanakan paling sedikit setelah dua lintasan pemadatan melintasi seluruh lokasi tersebut. Selama pemasangan, pembentukan dan pemadatan Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal, Agregat harus dipertahankan dalam keadaan lembab dengan penyemprotan air yang diatur dengan ketat sehingga bahan halus yang berada di permukaan tidak terganggu. Operasi penggilasan harus dimulai dari sepanjang tepi perkerasan dan berangsur-angsur menuju ke tengah-tengah, dalam arah memanjang. Pada tempat ber”superelevasi” penggilasan harus dimulai dari bagian yang rendah menuju ke bagian yang tinggi. Bahan sepanjang kerb, tembok dan tempat-tempat lain yang tak terjangkau oleh mesin gilas harus dipadatkan dengan menggunakan Ir. Radi Wijaya timbris atau pemadat mekanis. - Bridge & Highway
Engineer

22

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Gradasi Waterbound Macadam
Jenis Agregat Agregat Pokok Ukuran Saringan ASTM (mm) 3” 2 ½” 2” 1 ½” 1” ¾” 3/8” No.4 No.8 No.20 No.40 N0.200 75 63 50 37,5 25 19 9,5 4,75 2,0 1,0 0,425 0,075 Tebal lapisan padat (15 cm) % berat yang lolos 100 95 – 100 35 – 70 0 – 15 0–5 -100 70 – 95 45 – 65 33 – 60 22 – 45 10 – 28

Agregat Halus

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

23

Sifat Agregat Water Macadam
Keausan Agregat Agregat Pokok (SNI 03-24171991) : mak 40 Harus 100 % berbidang belah > 2

Agregat Halus memenuhi ketentuan : Indek Plastisitas (SNI 03-1966-1990) : min 4 dan maksimum 12. Batas Cair (SNI 03-1967-1990) : mak 35.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

24

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Pelaksanaan Waterbound Macadam
Kedalaman Lapisan  Harus dilaksanakan lapis demi lapis dan memenuhi ketentuan kedalaman lapisan seperti yang tercantum dalam Spesifikasi. Penebaran Agregat Kasar  Penebaran dapat dilaksanakan dengan peralatan mekanis atau cara manual dengan menggunakan keranjang untuk menebar agregat. Penebaran harus dilakukan dengan ketebalan merata. Pemadatan dan Pembentukan Agregat Kasar  Pemadatan awal harus dilakukan dengan mesin gilas roda besi berat 6 8 ton. Pemadatan harus dilanjutkan sampai diperoleh suatu lapis agregat yang stabil dan rata. Penggilasan harus dilaksanakan minimum 6 lintasan di seluruh lokasi jalan tersebut.  Selama pelaksanaan pemadatan kerataan permukaan harus diperiksa dengan mistar lurus sepanjang 3 m. Lokasi dimana permukaan agregat kasar menyim-pang dari garis mistar lurus lebih dari 1 cm harus segera diperbaiki dan dipadatkan sampai standar yang disyaratkan. Penebaran dan Pemadatan Agregat Halus  Agregat halus harus ditebar sedemikian hingga seluruh rongga permukaan agregat kasar terisi. Agregat halus harus dibasahi dan digilas agar dapat masuk ke dalam rongga dalam lapis pondasi.  Pembasahan dan penggilasan dengan penambahan agregat halus jika diperlukan, harus berlanjut sedemikian hingga seluruh kedalaman lapis pondasi terisi dengan agregat halus sampai padat dan permukaan yang Ir. Radi Wijaya halus dan rapat dapat diperoleh. - Bridge & Highway 25 Engineer

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Pengujian Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal

Jumlah data pendukung pengujian harus mencakup semua pengujian yang disyaratkan, paling sedikit tiga contoh yang mewakili sumber bahan yang diusulkan. Setelah persetujuan atas mutu bahan untuk Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal yang diusulkan, seluruh pengujian mutu bahan harus diulangi lagi bilamana menurut pendapat Direksi Pekerjaan terdapat perubahan pada mutu bahan atau pada sumber bahan atau pada metode produksinya. Pengujian harus sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan dan untuk setiap 1000 meter kubik bahan yang dihasilkan, pengujian harus meliputi paling sedikit lima (5) pengujian Indeks Plastisitas dan lima (5) pengujian gradasi.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

26

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan

Lapis Pondasi Semen Tanah
Mencakup :

Penyediaan lapis pondasi dari tanah yang
diambil dari daerah sekitar proyek distabilisasi dengan semen diatas tanah dasar yang telah disiapkan

termasuk :
penghamparan, pembentukan, pemadatan, perawatan, dan penyelesaian akhir.

Bahan : Semen Portland, Air dan Tanah
Bahan harus memenuhi persyaratan teknis (Spec) Untuk tanah, ukuran partikel (batu) < 75 mm dan yang melewati saringan # 200 < 50% (ayakan Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway basah) 27
Engineer

Bab II : Aspek Teknis Untuk Pengawasan Lapangan
STANDAR RUJUKAN LAPIS PONDASI SEMEN TANAH Standar Industri Indonesia (SII) dan Standar Nasional Indonesia (SNI) :  SII-13-1977:Semen Portland  SNI 03-3422-1994 (AASHTO T 88 - 90):Metode Pengujian Analisis Ukuran Butir Tanah Dengan Alat Hidrometer.  SNI 03-1967-1990 (AASHTO T 89 - 90):Metode Pengujian Batas Cair Dengan Alat Casagrande.  SNI 03-1966-1990 (AASHTO T 90 - 87):Metode Pengujian Batas Plastis.  SNI 03-1742-1989 (AASHTO T 99 - 90):Metode Pengujian Kepadatan Ringan Untuk Tanah.  SNI 03-2827-1992 (AASHTO T191 - 86):Metode Pengujian Kepadatan Lapangan dengan Alat Konus Pasir.  SNI 03-1744-1989 (AASHTO T193 - 81):Metode Pengujian CBR Laboratorium. AASHTO :  AASHTO T26 - 79:Quality of Water Used in Concrete  AASHTO T134 - 76:Moisture-Density Relations of Soil-Cement Mixtures  AASHTO T135 - 76:Wetting and Drying Test of Compacted Soil-Cement Mixtures  AASHTO T144 - 86:Cement Content of Soil-Cement Mixtures ASTM :  ASTM D1632 - 63:Making and Curing Soil-Cement Compression & Flexure Test Specimens in The Laboratory  ASTM D1633 - 63:Compressive Strength of Moulded Soil-Cement Cylinders British Standards 1924 : 1975  BS 1924 Test 18:Detection of Radi presence in soils of organic matter able to interfere the Wijaya - Bridge & Highway Ir. with the hydration of Portland Cement Engineer (measurement of the pH of a Soil-Cement paste) 28

SOIL CEMENT BASE
Merupakan lapisan base yg terdiri dari campuran tanah setempat dgn semen portland. Bahan :
  

Portland cemen biasa type I Air Tanah (dalam arti luas) # Ukuran maksimum butiran batuan 75 mm # Maksimum lolos saringan No.200 = 50 % # Tanah dgn plastisitas rendah sangat cocok. # Tanah harus bebas dari bahan organis
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

Tanah yg cocok untuk soil cemen base :

29

PERKIRAAN KADAR SEMEN
KLASIFIKASI TANAH GW,GP,SW,SP,GM atau SM SP,GM,SM atau GP SM,SC, beberapa GM atau GC SP CL atau ML ML, MH, atau OH CL atau CH OH , MH, atau beberapa CH
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

(%) BERAT SEMEN 3-5 5-8 5–9 7 – 11 7 – 12 8 – 13 9 – 15 10 - 16 30

Campuran biasanya mengandung kadar semen 3 – 12 %. Mix disain dilakukan dengan dua cara yaitu : # UCS (Unconfined Compression Test) # CBR (California Bearing Ratio) Persyaratan dan spesifikasi : > Tebal rata-rata +/- 10 % dari tebal rencana > Kekuatan campuran di lapangan dgn DCP > Toleransi kerataan 2 cm dgn mistar penyipat
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

31

PELAPORAN MELIPUTI HAL-HAL SBB:
Contoh material yg akan digunakan disimpan sebagai rujukan. Catatan jumlah semen yg dikirim ke lapangan. Catatan harian jumlah semen yg dipakai. Data semua elevasi tinggi permukaan yg akan digelar. Catatan pengujian DCP lapangan. Penyimpanan benda uji dan pelabelannya.

PEMBATASAN CUACA: Tanah untuk soil
cemen tidak boleh dihampar, dihaluskan selama turun hujan, penghalusan tidak diizinkan setelah hujan atau kadar air masih tinggi.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

32

PERBAIKAN PEK YG TIDAK MEMUASKAN
Yang tidak memenuhi toleransi kualitas harus diperbaiki :
 

perubahan perbandingan campuran. penghalusan ulang lapisan yg telah di hampar/diaduk ulang bila memungkinkan. pembuangan dan penggantian bagian yg tidak memuaskan. penambalan lapisan soil cemen yg tidak memenuhi syarat.

Jika terjadi retak yg lebar karena penyusutan selama curing time maka dapat dilakukan penggilasan tambahan untuk mempersempit retak. Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway
Engineer

33

JADWAL KERJA & PENGATURAN LALU LINTAS
Maksimum 14 hari setelah soil semen lapisan atas selesai, maka harus dilapis hot mix. Soil semen yg baru dibuat tidak boleh dilalui oleh kendaraan.

Perlu pengendalian lalu lintas yg baik.

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

34

MIX DISAIN SOIL SEMEN
1. buat proctor disain, untuk hubungan kadar semen tertentu dengan OMC dan MDD yang diperoleh. 2. variasikan kadar semen dan plot pada grafik I. 3. Plot MDD dan OMC pada grafik II sebagai fungsi dari kadar semen. 4. Uji masing masing kadar semen untuk mendapatkan nilai UCS atau CBR, dan plot pada grafik III sebagai fungsi dari kadar semen. 5. masukan target kekuatan yg diminta pada gafik III, untuk mendapatkan kadar semen. 6. Masukan nilai kadar semen dari grafik III pada grafik II, untuk mendapatkan OMC dan MDD. 7. buat grafik IV yang menyatakan hubungan kadar air dgn kepadatan kering. 8. Masukkan nilai OMC dan MDD yg didapat dari grafik II, pada grafik IV, maka akan didapat nilai untuk pengendalian lapangan dimana OMC sebagai batas bawah dan OMC +2 % sebagai batas atasnya.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

35

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

36

SIFAT CAMPURAN YG DISYARATKAN
PENGUJIAN BATAS-BATAS SIFAT (SETELAH PERAWATAN 7 HARI) MINIMUM UCS KG/CM2 CBR % 20 100* TARGET 24 120 * MAKSUMU M 35 200* ASTM D1633-63 SNI 03-1744-1989 METODA PENGUJIAN

SKALA PENETROMETER (PULUKAN/CM)
SPR BATAS MINIMUM PENGUJIAN WET & DRYING (I) % KEHILANGAN BERAT (II) % PERUBAHAN VOLUME

1,0* (1,0)
0,8* (1,3) -

1,3* (0,8)
-

2,5* (0,4)
-

LAMPIRAN SPEK
LAMPIRAN SPEK AASHTO T135-76

7 2

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

37

PERCOBAAN LAPANGAN
Percobaan sepanjang 200 m, dgn tebal, peralatan dan prosedur yg ditentukan. Hal-hal yang dievaluasi adalah :
 

  

kecocokan, efisiensi efektifitas alat yg dipakai. Derajat kahalusan tanah dan jumlah lintasan penghalusan Kadar air optimum pada saat penghalusan Keseragaman campuran secara visual Pemeriksaan kepadatan dgn variasi penggilasan Bulking ratio, antara tanah gembur dan tanah setelah dipadatkan Pengujian campuran dgn CBR atau UCS
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

38

PERCOBAAN LAPANGAN
 Penentuan syarat kepadatan dan kadar air optimum lapangan  Pengujian CBR atau UCS dari job mix untuk waktu curing 1, 7 dan 28 hari  Pengujian DCP lapangan umur 7 dan 28 hari  Pengendalian retak dgn pengilasan yg sesuai  Penggunaan curing membrane yg paling tepat dan cara curing dgn visual dan pengujian kadar air  Perhitungan tebal efektif dgn uji DCP  Jumlah tebal lapisan yg diperlukan sesuai hasil percobaan lapangan dan rencana tebal
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

39

PENGADUKAN DAN PENGHAMPARAN
Persiapan tanah dasar meliputi :

 Persiapan tanah dasar seperti ketentuan 3.3 penyiapan badan jalan  Permukaan tanah dasar dibersihkan dan dilakukan “proof rolling”  Tanah 20 cm dibawah subgrade kepadatan harus minimum 95 %  Minimum CBR subgrade 6 % pada kepadatan 100%  Toleransi permukaan subgrade sesuai pasal 3.31.

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

40

PEMILIHAN ALAT PENCAMPUR
PETUNJUK JENIS PERALATAN INDEK PLASTISITAS TANAH X PERSEN LOLOS # NO.40 < 500 < 1000 <2000 <3500 2000 S/D 3000 TEBAL PERKIRAAN MAKSIMUM YG MAMPU DILAKUKAN DLM SATU LAPIS (CM) TAK TERBATAS 12 S/D 15 15 20 S/D 30 TERGANTUNG PK 20

MESIN PENCAMPUR TERPUSAT PENGGARU PIRINGAN, LUKU & MOTOR GREDER ROTAVATOR RINGAN < 100 PK ROTAVATOR BERAT > 100 PK MESIN STABILISASI TANAH

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

41

PENGHAMPARAN & PENGADUKAN MIX IN PLACE
Tanah dari borrow pit disebar pada subgrade dan dihaluskan dgn pulvimixer Kadar air pada kondisi optimum Setelah dihaluskan tanah diperiksa kehalusannya, lolos saringan 25 mm = 100 % dan lolos saringan # 4 = 75 % Penyebaran tanah yg telah dihaluskan sesuai ketebalan hasil trial Penyebaran semen secara merata diatas tanah sesuai kadar yg disyaratkan Campurkan tanah dan semen secara merata, kadar air 2 % diatas kadar air optimum
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

42

PENCAMPURAN & PENGHAMPARAN SECARA CENTRAL PLANT
Mesin pengaduk dgn cara batching atau continous Alat pencampur dapat berupa paddle mixer atau pan mixer Campuran dihampar dengan alat Paving Machine atau Spreader Box

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

43

PEMADATAN
Pemadatan dilaksanakan secepat mungkin setelah pengadukan dan seluruh operasi termasuk pembentukan finishing harus selesai dalam waktu 60 menit, sejak semen kontak dgn tanah. Panjang maksimum penghamparan sesuai hasil trial, dan tidak lebih dari 200 m Pemadatan awal dgn sheepfoot, pneumatic tyred atau smooth-wheeled roller Pembentukan dan perataan permukaan dgn grader sebelum pemadatan akhir dilaksanakan, kepadatan min 97%.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

44

Sambungan memanjang dan melintang lapisan soil semen ini dikerjakan seperti pada penghamparan hot mix (harus ada keyed).

Setelah pemadatan awal dan pembentukan lapis terakhir soil semen, disebar batuan chip ukuran 13 mm (single size) dengan takaran 1,2 kg/m2

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

45

PEMELIHARAAN (CURING)
Setelah selesai pemadatan, dan penyebaran batuan chip, lapisan soil semen harus ditutup dgn curing membrane selama 24 jam. Curing membrane dapat berupa, lembaran plastik untuk menjaga kehilangan air, karung goni basah atau material lain yg dapat berfungsi baik Curing membrane dipasang 7 hari, dan dipindahkan bila akan dipasang lapisan aspal Bila diinginkan maka setelah 24 jam lapisan soil semen dapat di prime coat. Kendaraan tidak diizinkan lewat diatas soil semen sebelum umur 7 hari
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

46

PENGENDALIAN MUTU
Pengujian kepadatan subgrade dilaksanakan setiap jarak 200 m dgn sand cone, pengujian kepadatan lab maksimum setiap 10 pengujian kepadatan lapangan. Paling tidak satu pengujian CBR untuk setiap jenis tanah subgrade yang dipakai. Pengambilan contoh tanah yg telah dihaluskan, paling sedikit lima contoh pada daerah dari 200 m, kalau ada satu contoh yg tidak memenuhi, penghaluan harus diteruskan utk seluruh bagian pekerjaan. Pengendalian contoh untuk pengujian kadar air sewaktu penghamparan dan pengadukan pada panjang maksimum 100 m. Contoh diambil pada saat disebarkan, setelah pencampuran dgn semen utk penentuan jumlah air yg ditambahkan dan setelah pengadukan penambahan air tsb.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

47

PENGENDALIAN PEMADATAN
Segera setelah tanah, air dan semen diaduk masih dalam keadaan gembur, diambil contoh dgn rentang jarak maksimum 200 m. Contoh diambil dalam kantong plastik dua sampel utk pengujian kepadatan dan empat sampel utk pengujian kekuatan (CBR atau UCS). Satu pengujian kepadatan dilapangan dgn sand cone, dilakukan pada lokasi dimana dua samel kepadaan lab diambil utk membandingkan hasil pemadatan lapangan.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

48

PENGENDALIAN KEKUATAN & HOMOGENITAS (1)
Empat sampel tanah yg diambil dipadatkan di lab, dan di cure didalam kantong plastik. Dua sampel diambil setelah umur 3 hari lalu direndam didalam air selama 4 hari.

Semua benda uji di test pada umur 7 hari, angka rata-rata hasil benda uji yg direndam dinyatakan sebagai kekuatan soil semen di lab, dan dibandingkan dgn tabel spesifikasi. Dari kekuatan lab ini, kekuatan soil semen dilapangan dapat dipekirakan dari kepadatan yg dicapai.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

49

PENGENDALIAN KEKUATAN & HOMOGENITAS (2)
Angka rata-rata kekuatan sampel yg tidak direndam, dipakai untuk kalibrasi dgn hasil DCP yg dilakukan pada lokasi pengambilan sampel tsb (bila diperlukan). Apabila terjadi perselisihan mengenai kekuatan yg sebenarnya dilapangan, maka dapat diambil sampel dgn core dilapangan dan dilakukan pengujian UCS hasil core tsb. Monitoring Ketebalan, diambil selang jarak tiap 50 m, dgn cara pengukuran level dan pengujian DCP.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

50

PENGENDALIAN KEKUATAN & HOMOGENITAS (3)
Monitoring Kadar Semen, bila diperkirakan terdapat kekurangan kadar semen, maka dapat dilakukan pengujian kadar semen campuran dgn AASHTO T 144 dari lokasi yg tidak memuaskan tsb. Pengukuran dan Pembayaran, pembayaran diukur dalam meter kubik terpasang, yaitu perkalian panjang x lebar x tebal rata-rata yg diterima. Semen dibayar dalam berat (ton), yaitu : berat total semen yg dipakai X kualitas yg diterima kualitas yg dipasang
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

51

MIX IN PLACE

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

52

CENTRAL PLANT

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

53

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

54

PENGHALUSAN TANAH

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

55

TANAH HASIL PENGHALUSAN

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

56

PEMBENTUKAN

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

57

PENYEBARAN SEMEN

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

58

PENAMBAHAN AIR

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

59

PEMADATAN

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

60

PENGUJIAN KEPADATAN & KADAR AIR

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

61

CURING

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

62

TACK COAT

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

63

PENGASPALAN

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

64

Bab IV : Prinsip-prinsip Pengujian Laboratorium Untuk Pekerjaan Pondasi Jalan

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

65

Bab IV : Prinsip-prinsip Pengujian Laboratorium Untuk Pekerjaan Pondasi Jalan

Garis Besar Pengujian Cakupan standar-standar pengujian
     

Maksud (Scope) Peralatan (Apparatus) Benda Uji (Test Specimens) Cara Melakukan (Procedure) Perhitungan (Calculation) jika ada Pelaporan (Report)
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

66

Bab IV : Prinsip-prinsip Pengujian Laboratorium Untuk Pekerjaan Pondasi Jalan

Kesalahan Pada Saat Pengujian Lab:
Kesalahan Peralatan Laboratorium karena tidak dikalibrasi. Kesalahan Faktor Manusia, misalnya salah baca, dsb. Kesalahan Prosedur Pengujian karena “Cara Melakukan” yang benar belum dipahami.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

67

Bab IV : Prinsip-prinsip Pengujian Laboratorium Untuk Pekerjaan Pondasi Jalan

Penyimpangan Prosedur Pengujian :
Pemadatan Campuran Aspal dengan temperatur yang tidak sesuai Penyiapan benda uji dengan gradasi yang bervariasi Penggunaan Piknometer yang salah Kering Permukaan Jenuh yang salah Abrasi semu Indeks Plastisitas yang salah
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

68

Bab IV : Prinsip-prinsip Pengujian Laboratorium Untuk Pekerjaan Pondasi Jalan

Jika Hasil Pengujian Gagal atau Meragukan?
Seluruh proses pengujian harus diulangi Secara teoritis pekerjaan harus ditolak Diperlukan evaluasi terhadap hasil pengujian lainnya yang dilakukan pada waktu yang tidak berbeda jauh Lakukan pengujian ulang di laboratorium lain terhadap hasil pengujian yang meragukan atau gagal
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

69

Bab IV : Prinsip-prinsip Pengujian Laboratorium Untuk Pekerjaan Pondasi Jalan

Jumlah No. Uraian / jenis pengujian Persyaratan  40 %  10  35 5% contoh / test 3 test Keterangan

1.

Keausan dengan Los Angeles

Per sumber.

2.
3. 4. 5.

Atterberg limit test
Indeks plastisitas Batas cair Bagian yang lunak

5 test
5 test 5 test 3 test

Setiap 1.000 m3
Setiap 1.000 m3 Setiap 1.000 m3 Per sumber.

6.
7. 8. 9.

CBR
Rongga dlm agregat mineral pd kepadatan max Gradasi Kepadatan proctor modified.

60 (min)
10 (min) Lihat syarat

1 test

Setiap 1.000 m3

5 test 1 test

Setiap 1.000 m3 Setiap 1.000 m3
Setiap pjg < 200 m.
atau setiap 150 m3

10.
11.

Kepadatan sand cone
Kadar air pemadatan

100 %
3 % - Wopt – 1 %
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

70

Bab IV : Prinsip-prinsip Pengujian Laboratorium Untuk Pekerjaan Pondasi Jalan

Jumlah
No. 1. 2. Uraian / jenis pengujian Keausan Angeles dengan Los Persyaratan  40 % contoh / test 3 test 5 test Keterangan Per sumber. Setiap 1.000 m3

Atterberg limit test

3.
4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Indeks plastisitas
Batas cair Bagian yang lunak CBR Rongga dlm agregat mineral pd kepadatan max Gradasi Kepadatan proctor modified. Kepadatan sand cone

6
 25 5% 80 (min) 14 (min) Lihat syarat 100 %
3 % - Wopt – 1 % Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

5 test
5 test 3 test 1 test

Setiap 1.000 m3
Setiap 1.000 m3 Per sumber. Setiap 1.000 m3

5 test 1 test

Setiap 1.000 m3 Setiap 1.000 m3
Setiap pjg < 200 m.

11.

Kadar air pemadatan

atau setiap 150 m3 71

Bab V : Mix Desain Lapis Pondasi Jalan

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

72

Bab V : Mix Design Pondasi Jalan

Mix Design Untuk LPA Kelas A dan B
LANGKAH-LANGKAH DALAM PEMBUATAN MIX DESIGN

1. Memeriksa semua sifat-sifat material apakah sudah memenuhi syarat 2. Mengatur proporsi masing-masing agregat agar memenuhi amplop gradasi yang disyaratkan. 3. Mencari proporsi yang paling ekonomis meskipun gradasi yang diperoleh tidak tepat di tengah-tengah amplop. 4. Kepadatan Berat (Modified Proctor) yang digunakan dalam pembuatan benda uji :

Perlu diperhatikan bahwa ukuran butir maksimum adalah ¾” atau 19 mm maka semua material lolos ayakan 2” dan tertahan ayakan ¾” diganti dengan material lolos ayakan ¾” dan tertahan No.4 dengan jumlah yang sama.

5. Dari hasil pengujian kepadatan berat akan diperoleh Kepadatan Kering Maksi-mum (Maximum Dry Dendity) dan Kadar Air Optimum (Optimum Moisture Content). 6. Buat benda uji dengan MDD dan OMC yang diperoleh diatas untuk pengujian CBR,
 

Umumnya diambil harga CBR diambil pada penetrasi 0,1”. Bilamana harga CBR pada penetrasi 0,2” lebih besar dari harga CBR pada penetrasi 0,1” maka percobaan harus diulangi. Bilamana percobaan ulang menghasilkan harga CBR pada penetrasi 0,2” yang tetap lebih tinggi dari harga CBR pada penetrasi 0,1” maka harga CBR pada penetrasi 0,2” yang diambil.

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

73

Bab V : Mix Design Pondasi Jalan

Mix Design Untuk Soil Cement Base
LANGKAH-LANGKAH DALAM PEMBUATAN MIX DESIGN 1. Memeriksa semua sifat-sifat material apakah sudah memenuhi syarat 2. Membuat benda uji dengan Kepadatan Ringan (Standard Proctor), minimum dengan 4 kadar semen portland yang berbeda.
 

Plot hasil pengujian dalam Grafik I dengan sumbu x : Kadar Air Optimum dan sumbu y : Kepadatan Kering Maksimum. Dari hasil grafik I dapat diperoleh MDD dan OMC untuk masing-masing kadar semen portland yang berbeda.

3. Buatlah hubungan MDD & OMC dengan kadar semen dalam Grafik II dengan sumbu x : Kadar Semen dan sumb y kiri : Kepadatan Kering Maksimum dan sumbu y kanan : Kadar Air Optimum. 4. Buatlah benda uji (berdiameter 76,1 mm dan tinggi 14,2 mm) untuk pengujian Unconfined Compressive Strength (UCS) berumur 7 hari (dengan perawatan) untuk minimum 4 variasi kadar semen portland yang berbeda :
 

Dengan menggunakan MDD dan OMC yang diperoleh dari Grafik II. Plot hasil pengujian kedalam Grafik III dengan sumbu x : Kadar Semen dan sumbu y : UCS.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

74

Bab V : Mix Design Pondasi Jalan

Mix Design Untuk Soil Cement Base
LANGKAH-LANGKAH DALAM PEMBUATAN MIX DESIGN 5. Dari Grafik III akan diperoleh kadar semen portland minimum untuk mencapai :
  

UBS minimum; UCS target dan UCS maksimum. Pilih kadar semen portland minimum yang memenuhi UCS target. Plot kadar semen portland minimum yang diperoleh dalam Grafik IV yang sama dengan Grafik II untuk menentukan MDD dan OMC dalam pelaksanaan.

6. Jika tidak tersedia alat untuk pengujian UCS, dapat digunakan cara CBR dengan perawatan (curing) selama 3 hari dan perendaman selama 4 hari
 

Umumnya diambil harga CBR pada penetrasi 0,1”. Bilamana harga CBR pada penetrasi 0,2” lebih besar dari harga CBR pada penetrasi 0,1” maka percobaan harus diulangi. Bilamana percobaan ulang menghasilkan harga CBR pada penetrasi 0,2” yang tetap lebih tinggi dari harga CBR pada penetrasi 0,1” maka harga CBR pada penetrasi 0,2” yang diambil.
Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

75

Ir. Radi Wijaya - Bridge & Highway Engineer

76

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful