Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN TEKNOLOGI PUPUK DAN PEMUPUKAN Pembuatan Pupuk Kompos Jerami Padi dan Kotoran Ayam dengan Medium

Polybag

OLEH : KELOMPOK : SELASA, 07.30 WIB ASISTEN : ANISA

1. Anini Siswati (105040201111112) 2. Aziza Arisona (105040201111107) 3. Prasetyo Tahan (105040201111116) 4. R Ramdan S (105040201111103) 5. Dodik Satria(105040201111106) 6. Nikawida Puspa (105040201111110) 7. Gia Warih P (105040201111119)

8. Nofia Rizky (105040201111123) 9. Imam Chanif(105040201111127) 10. Enco Ricardi (105040201111138) 11. Sisca Febriana M (105040201111114) 12. Unik Nurhalifah (1050402011111111) 13. Ika Agustin R (105040201111109) 14. Amirrudin (105040201111115) 15. Nizar Anugrahadi (105040201111104)

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembangunan pertanian secara alami yang ramah lingkungan saat ini banyak dilakukan untuk menghasilkan bahan makanan yang aman, serta bebas dari bahanbahan kimia yang berbahaya dan beracun. Pembangunan pertanian alami ini semula hanya menerapkan sistem pertanian organik, tetapi ternyata hasilnya hanya sedikit. Untuk menanggulangi hal tersebut maka diciptakanlah pupuk organik , yang minim akan residu bahan kimia yang beracun serta berbahaya bagi kesehatan dan dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Pada pembuatan pupuk kandang adalah salah satu pupuk organik. Pembuatan pupuk ini manggunakan bahan-bahan yang mudah ditemui disekitar lingkungan dan mudah dimanfaatkan. Dalam pembuatannya tidak banyak mengeluarkan biaya, dan mudah dalam hal pembuatan, serta mudah dalam hal pengaplikasian. Seperti menggunakan jerami dengan campuran kotoran ayam. Pemanfaatan jerami sebagai pupuk ini selain ramah lingkungan, mudah didapat, dan banyak manfaatnya yaitu mampu menambah kandungan bahan organik tanah dan lambat laun akan mengembalikan kesuburan tanah. Sedangkan kotoran ayam banyak mengandung unsure hara N. Banyak lahan di Indonesia saat ini mengalami kehilangan unsur hara. Untuk itu dinciptakanlah upaya penanggulangan dari permasalahan di atas, yaitu dengan membuat pupuk organik. Dalam hal ini pupuk yang di ciptakan adalah pupuk organik yang ramah akan lingkungan, Akan tetapi perkembangan pupuk organik belumlah maksimal, dan para petani umumnya masih menggunakan pupuk kimia yang harganya relatif mahal dan ketersediaannya di pasaran sangat terbatas. Sehingga berdampak pada produktivitas petani yang cenderung turun akibat bergantung pada pupuk tersebut. Sehingga untuk menganggulangi ketergantungan itu maka pupuk organik

merupakan pilihan tepat, sehat, dan aman. Upaya-upaya pengembangan pupuk organik

harus terus dikembangkan dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian di Indonesia secara berkesinambungan.

1.2 Tujuan 1. Mahasiswa mampu mengetahui dan melakukan pembuatan pupuk kompos dengan bahan jerami dan kotoran ayam. 2. Mahasiswa mampu mengetahui dan mengukur kandungan di dalam pupuk kompos yang telah dibuat seperti kandungan C-organik, N-total dan pH. 3. Mahasiswa mampu membuat pupuk kompos dalam bentuk granuler dan cair.

1.3 Manfaat 1. Mahasiswa mengetahui cara pembuatan pupuk kompos dengan bahan jerami dan kotoran ayam. 2. Mahasiswa dapat mengetahui dan mengukur kandungan di dalam pupuk yang telah dibuat sperti kandungan C-organik, N-total dan pH. 3. Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan pupuk dalam bentuk granuler dan cair.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pupuk a. Pupuk adalah Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral) (wikipedia, 2011). b. Pupuk adalah material yang ditambahkan padamedia tanamatautanaman untuk mencukupi kebutuhanharayang diperlukan tanaman sehingga mampuberproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahanorganikataupun non-organik (mineral) (Anonymous,2011) c. Pupuk adalah bahan atau zat makanan yang di berika atau ditambahkan kepada tanaman, dengan maksud agar supaya zat makanan untuk tanman itu bertambah atau tercukupi (Anoymous. 2011).

2.2 Macam-Macam Pupuk 2.2.1 Berdasarkan sumber bahan a. Pupuk organik adalah mencakup semua pupuk yang dibuat dari sisa-sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan, sedangkan pupuk kimia dibuatmelalui proses pengolahan oleh manusia dari bahan-bahan mineral. b. Pupuk Anorganik Pupuk kimiabiasanya lebih "murni" daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapatdikalkulasi. Pupuk organik sukar ditentukan isinya, tergantung dari sumbernya;keunggulannya adalah ia dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantupengikatan air secara efektif. (Anneahira, 2011) 2.2.2 Berdasarkan bentuk fisik a. Pupuk padat yakni pupuk yang umumnya mempunyai kelarutan beragam mulai yang mudah larut sampai yang sukar larut air. Pupuk padat diperdagangkan dalam bentuk onggokan, remahan, butiran, atau kristal. (Anneahira, 2011).

b. Pupuk cair yakni pupuk berupa cairan yang penggunaannya di larutkan terlebih dahuu denga air. Umumnya, pupuk ini di semprotkan ke daun. Karena mengandunng banyak hara, baik mikro ataupun makro, harga pupuk ini relatif mahal. Pupuk amoniak merupakan pupuk uamg memiiki kadar N sangat tinggi, yaknni sekitar 83%. Penggunaan pupuk ini lewat tanah dengan cara di injeksikan dari tangki bertekanan. Pupuk cair diperdagangkan dalam bentuk konsentrat atau cairan. Pupuk padatanbiasanya diaplikan ke tanah/media tanam, sementara pupuk cair diberikan secaradisemprot ke tubuh tanaman (Anneahira, 2011).

2.2.3 Berdasarkan kandungan a. Pupuk tunggal Pada pupuk tunggal, jenis unsur hara yang dikandungnya hanya satu macam. Biasanya berupa unsur hara makro primer, misalnya urea hanya mengandung unsur nitrogen (bentuk fisik pupuk berdasarkan bahannya, 2011) b. Pupuk majemuk Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu jenis unsur hara. Penggunaan pupuk ini lebih praktis karena hanya dengan satu kali penebaran, beberapa jenis unsur hara dapat diberikan. Namun, dari sisi harga pupuk ini lebih mahal. Contoh pupuk majemuk antara lain diamonium phospat yang mengandung unsur nitrogen dan fosfor (bentuk fisik pupuk berdasarkan bahannya, 2011)

2.3 Manfaat Pupuk a. Penyediaan hara makro (nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur) dan mikro seperti zink, tembaga, kobalt, barium, mangan, dan besi, meskipun jumlahnya relatif sedikit. b. Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah.

c. Membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang meracuni tanaman seperti aluminium, besi, dan mangan. (Abdurohim, O. 2008)

2.4 Definisi Kompos a. Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobic (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). b. Kompos merupakan bahan organic seperti jerami daun-daunan, alang-alangan, serta kotoran hewan yang telah mengalami proses penguraian sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah. Kompos mengandung unsureunsur essesial bagi tanaman (wikipedia. 2011). c. Kompos adalah kasil pembusukan sisa-sisa tanaman yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme pengurai. Kualitas kompos ditentukan oleh besarnya perbandingan antara jumlah karbon dan nitrogen (C/N ratio) (Cattelan, A.J., P.G. Hartel, and J.J. Fuhrmann. 1999). d. Kompos adalah pupuk organik yang terurai secara lambat dan merangsang kehidupan tanah serta memperbaiki struktur tanah (Reijntjes, bertus dan ann. 1992).

2.5 Manfaat Kompos Kompos memiliki banyak manfaat yang dapat ditinjau dari beberapa aspek sebagai berikut: a. Aspek Ekonomi : 1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah 2. Mengurangi volume/ukuran limbah 3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya b. Aspek Lingkungan :

1. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah dan pelepasan gas metana dari sampah organik yang membusuk akibat bakteri metanogen di tempat pembuangan sampah 2. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan. c. Aspek bagi tanah/tanaman: 1. Meningkatkan kesuburan tanah 2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah 3. Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah 4. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah 5. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen) 6. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman 7. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman 8. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah (Guntoro Dwi, P, dan Sarwono. 2003)

BAB III METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu Kegiatan praktikum untuk pembuatan pupuk kompos dengan bahan jerami padi dan kotoran ayam yaitu dilakukan kegiatan awal dengan penyiapan bahan dasar pupuk. Adapun penyiapannya yaitu untuk pengambilan kotoran ayam segar berasal dari kotoran segar di perternakan daerah Tumpang, Malang dan untuk

pencarian/pengumpulan jerami, bahan berasal dari daerah Ngijo, Karang Ploso, Malang. Sedangkan waktu pembuatan setelah bahan tersedia, maka pembuatan pupuk di UPT Kompos Universitas Brawijaya, Malang. Waktu pembuatan pupuk di mulai pada sore hari tepatnya pukul 14.30 WIB tanggal 28 oktober 2011. Untuk pemilihan bahan satu minggu sebelum pembuatan pupuk di mulai. pengumpulan kotoran ayam segar di mulai satu hari sebelum pembuatan pupuk, tapi untuk pengumpulan jerami di mulai pada dua hari sebelum pembuatan pupuk.

3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Pembuatan kompos


a. Alat

1. Grinder 2. Gembor 3. Termometer 4. Garu 5. Tali raffia


b. Bahan

: Untuk mencacah/menghaluskan jerami : Untuk menyiram air, EM4, dan molase pada jerami : Untuk mengukur suhu pupuk : Untuk mencampur bahan : Untuk mengikat polibag

1. Jerami 2. Kotoran ayam 3. EM4 10 ml 4. Tetes tebu 10 ml

: Sebagai bahan dalam pembuatan pupuk kompos : Sebagai bahan dalam pembuatan pupuk kompos : Sebagai bioaktivator : Sebagai bioaktivator

5. Air 5 liter

: Sebagai pelarut EM4 dan Tetes tebu

3.2.2 Pengukuran Kadar ( c-organik, N total dan pH kompos ) 3.2.2.1 C-Organik a. Alat 1. Ayakan : untuk mendapatkan kompos halus

2. Labu Erlenmeyer : untuk tempat mencampur bahan 3. Stirer b. Bahan 1. Kompos halus 2. 10 ml K2Cr2O7 3. 20 ml H2SO4 tanah 4. Aquades 200 ml : untuk menghentikan reaksi H2SO4 5. 10 ml H3PO4 85 % : pengikat Fe dalam proses titrasi dan untuk membantu proses titrasi tersebut. 6. 30 tetes difenilamina dalam tanah. 7. Larutan FeSO4 : sebagai larutan dalam proses titrasi : sebagai indikator bahan organik : sebagai bahan pengujian : untuk mengikat rantai karbon :untuk memisahkan rantai karbon dengan : untuk titrasi

3.2.2.2 N Total Kompos a. Alat 1. Labu Kjeldahl kompos) 2. Alat destruksi 3. Erlenmeyer 4. Buret 5. Pengaduk :untuk tempat pembakaran (destruksi) bahan :untuk menampung hasil destalasi : sebagai alat titrasi : untuk menstiter bahan (sampel N total) : sebagai tempat atau wadah sampel (larutan

sehingga didapatkan Vc

b. Bahan 1. Campuran selen 2. H2SO4 Pekat H2SO4 3. H2O murni 4. NaOH 40% : sebagai pelarut atau pengencer : sebagai larutan titrasi : untuk membantu pembakaran (destruksi) : membantu pembakaran dalam memisahkan

3.2.2.3 pH Kompos a. Alat 1. Botol film 2. Mesin pengocok 3. pH meter 4. timbangan b. Bahan 1. Larutan H2O pH meter 2. Larutan KCl pada kompos 3. 25ml aquades pada kompos : untuk melihat/mendeteksi perubahan pH : untuk indikator/mendeteksi perubahan pH : sebagai buffer dalam pengukuran dengan : tempat untuk mencampur bahan : untuk mencampur bahan : untuk mengukur pH kompos : untuk menimbang kompos

3.2.3

Pembuatan Pupuk Granuler dan Pupuk Cair a. Alat 1. Granulator 2. Alat pembuatan teh kompos 3. Penyaring b. Bahan 1. Kompos padat halus 2. Tepung 3. Air : sebagai bahan pengujian : untuk perekat : sebagai campuran pupuk : untuk membuat pupuk granuler : untuk membuat pupuk cair : untuk menyaring larutan kompos

3.3 Cara Kerja 3.3.1 Pembuatan Kompos


Timbang jerami dan kotoran ayam, masing masing 30 Kg

Grinder jerami timbang lagi jerami dan kotoran ayam masing masing 30 Kg

Campur jerami dan kotoran ayam secara manual tambahkan EM4 10 ml dan tetes tebu 10 ml campur hingga merata dan semua bahan akan tercampur Ukur suhu pupuk dengan thermometer tanah masukkan polibag

ikat polibag dengan tali raffia. Ukur suhu pupuk 1 minggu sekali

Lakukan pembalikan pupuk 1 minggu sekali

Diamkan hingga menjadi pupuk ( kurang lebih 2 bulan )

3.3.2 Pengukuran Kadar C Organik, N Total, dan pH Kompos a. C Organik


Timbang 0,1 g kompos halus ( yang lolos melalui ayakan 0,5mm)

Dimasukkan dalam labu erlemeyer 500 ml 10 ml tepat larutan K2Cr2O7 1 N ditambahkan kedalam Erlenmeyer dengan sebuah pipet Tambahkan 20 ml H2SO4, labu erlemeyer digoyang - goyangkan Biarkan campuran itu berdiam selama 30 menit Larutan di encerkan dengan aquades sebanyak 200 ml Tambahkan 10 ml H3PO4 85 % dan 30 tetes penunjuk difenilamina Titrasi dengan larutan FeSO4 Sampai warna hijau Hasil (ml)

b. N total
Timbang 0,1 gr kompos , masukkan dalam labu kjeldahl Tambah 1 gr campuran selen dan 5 ml H2SO4 pekat Didestruksi pada temperature 300o Setelah sempurna didinginkan Di encerkan kira kira dengan 20 ml H2O murni Hasil destruksi di encerkan menjadi kurang lebih 100 ml Tambahkan 25 ml NaOH 40% disulingkan Sulingan di tampung dengan asam borat 20 ml Titrasi dengan H2SO4 Hasil

c. pH Kompos
Siapkan 1 botol film Timbang masing masing 5 gram kompos
Tambah aqudes 25 ml

Masuk dalam mesin pengocok selama 60 menit Ukur pH Hasil

3.3.3 Pembuatan Pupuk Granuler dan Pupuk Cair a. Pupuk Granuler

Kompos sampel diayak halus Timbang 1 kg kompos padat halus Masuk dalam granulator Tambahkan larutan molase 100ml:100ml air dan campur dengan kompos hingga merata Nyalakan mesin granulator, pembentukan granul 15 menit Tambahkan abu ketel Hasil pupuk granule

b. Pupuk cair

Timbang kompos 2 kg Larutkan kedalam 1000 ml air Diamkan selama 1 x 24 jam

BAB IV Masukkan dalam alat teh kompos

Siapkan wadah untuk menampung larutan kompos yang keluar

Saring dengan kain penyaring

Nyalakan alat pembuat teh kompos

Ambil larutan / ekstrak yang keluar

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pembuatan pupuk organik yaitu berupa pupuk kompos dengan bahan jerami dan kotoran ayam serta didukung dengan perlakuan penggunaan media untuk penyimpanan atau pematangan yaitu berupa polibag. Pada kegiatan ini mulai dari awal penyiapan bahan sampai pupuk kompos dinyatakan matang yaitu selama 2 bulan 20 hari. Selama proses pembuatan (pematangan pupuk) maka didapatkan keadaan suhu sekitar setiap minggunya yaitu sebagai berikut: d. Kondisi suhu (keadaan suhu) Tanggal Pengukuran 28 Oktober 2011 01 November 2011 10 November 2011 14 November 2011 22 November 2011 25 November 2011 28 November 2011 29 November 2011 06 Desember 2011 22 Desember 2011 Suhu ( 0C ) 28 26 25 26 40 46 36 35 30 PENGERINGAN

Pupuk kompos dari bahan jerami padi dan kotoran dengan medium berupa polibag dinyatakan matang yaitu menunjukkan hasil dengan warna yang gelap yaitu sama dengan tanah, tidak berbau, dan mencapai suhu akhir sama dengan suhu lingkungan. Maka, kegiatan berikutnya pupuk dikeringanginkan untuk dilakukan perlakuan selanjutnya.

e.

Perlakuan lanjutan (penghalusan, pembuatan pupuk granuler dan pupuk cair) Perlakuan lanjutan dari pupuk kompos yang telah matang yaitu setelah dikeringanginkan, maka dilakukan cara pembuatan pupuk granuler dengan menggunakan bahan dasar pupuk kompos tersebut. Hasil yang didapat sama dengan pupuk kompos sebelum dicetak granuler, hanya saja bentuknya dalam bentuk butiran yang lebih besar. Sedangkan untuk pupuk cair, maka hasil yang didapatkan yaitu pupuk berwarna coklat gelap, tidak berbau. Pupuk ini berasal dari ekstrak teh kompos (jerami dan kotoran ayam) yang sebelumnya telah dilakukan perendaman selama 1x24 jam.

f.

Uji kadar di dalam pupuk (C Organik, N total, dan pH pupuk) Pupuk kompos dengan bahan jerami padi dan kotoran ayam yang telah matang dan dikeringanginkan maka dilakukan uji di laboratorium guna mengetahui kandungan C Organik, N total, dan pH pupuk. Adapun hasil dari masing-masing yaitu pH kompos yang didapatkan yaitu sekitar 6,7. Sedangkan N totalnya dan C organik dapat dilihat pada perhitungan berikut: 1. C Organik Ml blangko Ml sampel : 10 ml : 6,5 ml
( )

Kadar air kompos : Maka, % C Organik :

2. N Total Vc (Volume contoh) Vb (Volume blanko) : 17,2 ml : 0,86 ml

N (Normalitas H2SO4) : 0,009395 N 14 Gram contoh : B A Nitrogen : 0,1 g

Fk (Faktor Kadar Air) Fk =

Maka, N total =

4.2 Pembahasan Proses pengomposan dilakukan dengan melakukan pencampuran bahan secara seimbang, pemberian air yang cukup untuk menjaga kelembaban, mengatur aerasi, dan penambahan aktivator ( mikroba pengurai ). Jerami dan kotoran ayam ditimbang antara 30 kg dan 30 kg. Jerami merupakan sumber bahan organik, perbandingan antara jerami dan kotoran ayam kurang lebih 30 kg dan 30 kg. Untuk ukuran bahan mentah, semakin kecil ukuran potongan bahan mentanya, semakin cepat pula pembusukannya. Penghalusan bahan dengan mesin penggilingan (Grinder) akan meningkatkan luas spesifik bahan kompos sehingga memudahkan mikroba dekomposer untuk menyerang dan menghancurkan bahan tersebut. Kemudian bahan ditimbang lagi sebanyak 25 kg, dan dilakukan proses pencampuran. Dalam proses pencampuran kita tambahkan EM4 sebanyak 10 ml, tetes tebu atau molase sebanyak 10 ml dan air sebanyak 5 liter. Larutan EM4 dan molase berperan sebagai bioaktivator, sehingga penguraian pada bahan dasar yaitu jerami padi dan kotoran ayam lebih mudah sehingga proses pematangan lebih cepat. Pada tanggal 28 Oktober 2011, awal pembuatan pupuk suhunya diukur sebesar 28 C. Kemudian pada tanggal 01 November suhunya turun menjadi 260C. Pada tanggal 10 November suhunya turun lagi menjadi 250C. Untuk menaikkan suhunya kami menambahkan larutan EM4 dan molase lagi. Dan akhirnya pada tanggal 14 November suhunya mulai naik menjadi 260C, ini merupakan fase mesopilik dimana mikroba pengurai dapat hidup dengan baik. Pada tanggal 22 dan 25 November suhunya semakin naik menjadi 40 oC dan 460C. Keadaan ini kita sebut sebagai fase termofilik yang
0

merupakan fase pada suhu puncak. Kemudian tanggal 28 dan 28 November suhunya turun menjadi 36oC dan 350C, ini merupakan fase pendinginan. Pada tanggal 06 Desember suhunya turun lagi menjadi 300C. Adapun pada 22 Desember suhu pupuk sudah sesuai atau sama dengan suhu lingkungan, kemudian kita lakukan proses pengeringan dengan cara dikering anginkan agar keadaan pupuk tetap terjaga dengan baik sehingga dapat digunakan untuk perlakuan lainnya. Keadaan pupuk sudah menunjukkan ciri-ciri panen diantaranya, tidak berbau lagi, suhunya juga sama dengan suhu lingkungan, dan bentunya sudah menjadi remah tidak berupa jerami lagi. Adapun pada pengujian laboratorium, dilakukan pengujian pada beberapa hal yaitu kadar N nitrogen, C Organik, dan pH kompos. Berdasarkan hasil pengujian maka volume sampel pada kompos dengan bahan jerami padi dan kotoran ayam didapatkan sebanyak 17,2 ml sampai warna menjadi merah muda ketika titrasi. Sehingga, berdasarkan perhitungan kadar N total maka didapatkan hasil sebesar 13,07%. Hasil N total ini termasuk pada nilai yang tinggi, karena pada bahan kompos terdapat kotoran ayam yang mengandung nilai N tinggi dibandingkan dengan kotoran lainnya, disamping itu didukung pula dengan kandungan N yang ada pada jerami. Sehingga, penggabungan dari dua bahan ini akan menghasilkan komponen N yang cukup tinggi pada pupuk kompos. Selain itu, pada kandungan C organik, didapatkan hasil yang tinggi yaitu sebesar 4,9% . Sedangkan pada pH kompos sendiri yaitu mencapai nilai 6,7. Kisaran pH ini berada pada keadaan pH mendekati netral. Sehingga, penggunaannya akan sangat baik untuk diaplikasikan dalam budidaya tanaman terkait dengan banyak manfaat dari kompos. Hasil yang didapat terkait dengan kandungan N total, C organik, serta pH kompos hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal misalnya berhubungan dengan bahan dasar yang digunakan. Pada kompos ini bahan dasar yang digunakan yaitu berupa jerami padi dan kotoran ayam dimana berdasarkan hasil penelitian berikut, maka kandungan N pada kotoran ayam lebih tinggi dibandingkan dengan kotoran dari hewan lainnya.

Sumber Pupuk Kandang Sapi Kerbau Kambing Ayam Babi Kuda

Kadar air (%)

Bahan organik (%)

N (%)

P2O5 (%)

K2O (%)

CaO (%)

C/N

80 81 64 57 78 73

16 12,7 31 29 17 22

0,3 0,25 0,7 1,5 0,5 0,5

0,2 0,18 0,4 1,3 0,4 0,25

0,15 0,17 0,25 0,8 0,4 0,3

0,2 0,4 0,4 4,0 0,07 0,2

20-25 25-28 20-25 9-11 19-20 24 (Prasetya, B. 2011)

Selain itu, terdapat perlakuan lainnya setelah pupuk kompos dinyatakan matang. Selain diuji di laboratorium terkait kandungan hara dan pHnya, maka juga juga dilakukan pembuatan pupuk granuler dan pupuk cair dengan bahan dasar pupuk kompos. Tujuan dari kegiatan ini guna mengetahui cara dalam pembuatan pupuk granuler dan pupuk cair. Pembuatan pupuk granuler dan cair ini dimaksudkan untuk pengaplikasiannya pada tanaman-tanaman tertentu yang tidak menungkinkan atau lebih efisien apabila diberikan dalam bentuk granuler atau cair. Hasil yang didapatkan dari pembuatan pupuk granuler dan pupuk cair sama saja dengan pupuk kompos dalam bentuk halusnya dikarenakan tidak adanya penambahan bahan laiinya, hanya saja adanya perubahan bentuk saja dari pupuk kompos ini. Adapun terkait dengan bahan dasar berupa jerami padi, maka berdasarkan pengujian di lapangan dimana pemberian pupuk organik dengan bahan jerami padi, maka mampu memberikan hasil produksi yang tidak jauh berbeda dengan perlakuan NPK. Hanya saja, pemberian pupuk ini harus dalam jumlah yang besar dan diikuti pula dengan pemberian pupuk anorganik lainnya (Arafah dan M. P. Sirappa. 2003).

4.3 Dokumentasi a. Pengumpulan bahan

b. Pembuatan Kompos

c. Pengujian Laboratorim (C Organik, N total, dan pH kompos) 1. C Organik

2. N total

3. pH kompos

BAB V KESIMPULAN

Berdasarkan kegiatan pembuatan pupuk kompos dengan bahan dasar jerami dan kotoran ayam, maka terdapat beberapa kesimpulan sebagai berikut: Proses pengomposan dilakukan dengan melakukan pencampuran bahan secara seimbang, pemberian air yang cukup untuk menjaga kelembaban, mengatur aerasi, dan penambahan aktivator (mikroba pengurai). Hasil dari pupuk kompos dengan bahan dasar jerami dan kotoran ayam memiliki ciri yang sama pada kompos secara umumnya yaitu tidak berbau, berwarna gelap seperti tanah, serta suhu yang dicapai sama dengan suhu lingkungan sekitar. Adapun kegiatan lanjutan dari pengomposan atau pembuatan pupuk kompos yaitu pembuatan pupuk granuler dan pupuk cair dengan bahan dasar pupuk kompos, sehingga hasil yang didapat sama hanya saja berbeda dari segi bentuknya. Tujuan dari pembuatan ini untuk pengaplikasian pada jenis tanaman tertentu dan cara budidaya tertentu. Berdasarkan uji laboratorium, maka kandungan C Organik dan N total pada pupuk kompos (jerami dan kotoran ayam) berada pada nilai yang tinggi dibandingkan dengan pupuk kompos berbahan lainnya seperti kotoran sapi kelompok lain. Hal ini berkaitan dengan bahan dasar dari pupuk yang berupa kotoran ayam dengan kandungan N yang tinggi, serta jerami padi. Pemanfaatan kedua bahan dalam pembuatan pupuk ini salah satu kegiatan pembersihan lahan budidaya dari sisa panen dan pemanfaatan sisa kotoran ternak. Sehingga hal ini sebagai wujud untuk penghematan biaya produksi dan dari aspek lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurohim, O. 2008. Pengaruh Kompos Terhadap Ketersediaan Hara Dan Produksi Tanaman Caisin Pada Tanah Latosol Dari Gunung Sindur, sebuah skripsi. Dalam IPB Repository
Anneahira. 2011. Macam-macam Pupuk. (Online),

http://www.anneahira.com/macammacam-pupuk.htm/ diakses pada tanggal 29 Desember 2011.

Bentuk Fisik Pupuk Berdasarkan Bahannya. 2011. (Online), http://www.scribd.com/doc/32187190/Tugas-Makalah-Dbt-Pupuk/ Diakses pada 29 Desember 2011. Cattelan, A.J., P.G. Hartel, and J.J. Fuhrmann. 1999. Screening for plant growth-promoting rhizobacteria to promote early soybean growth. Soil Sci.Soc.Am.J. 63: 1.670-1.680. Guntoro Dwi, Purwono, dan Sarwono. 2003. Pengaruh Pemberian Kompos Bagase Terhadap Serapan Hara Dan Pertumbuhan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.). Dalam Buletin Agronomi, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Isroi. 2008. Kompos. Makalah. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor. Prasetya, B. 2011. Modul Praktikum TPP. Fakultas Pertanian Jurusan Tanah. Universitas Brawijaya. Malang. Wikipedia. 2011. (online), http://id.wikipedia.org/wiki/Pupuk/ Diakses pada 29 Desember 2011.