Anda di halaman 1dari 4

Air sebagai Hak Asasi Manusia

Oswar Mungkasa

Air dalam sejarah kehidupan manusia memiliki posisi sentral dan merupakan jaminan keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi. Air berhubungan dengan hak hidup sesesorang sehingga air tidak bisa dilepaskan dalam kerangka hak asasi manusia. Pengakuan air sebagai hak asasi manusia mengindikasikan dua hal; di satu pihak adalah pengakuan terhadap kenyataan bahwa air merupakan kebutuhan yang demikian penting bagi hidup manusia, di pihak lain perlunya perlindungan kepada setiap orang atas akses untuk mendapatkan air. Demi perlindungan tersebut perlu diposisikan hak atas air menjadi hak yang tertinggi dalam bidang hukum yaitu hak asasi manusia.

Pentingnya Hak Atas Air sebagai Hak Asasi Tanpa disadari sebenarnya banyak manfaat dari ditetapkannya hak atas air sebagai hak asasi. Seperti misalnya (i) air menjadi hak yang legal, lebih dari pada sekedar layanan yang diberikan berdasar belas kasihan; (ii) pencapaian akses dasar harus dipercepat; (iii) mereka yang terabaikan menjadi lebih diperhatikan sehingga kesenjangan dapat berkurang; (iv) masyarakat dan warga yang termarjinalkan akan diberdayakan untuk berperan dalam proses pengambilan keputusan; (v) negara menjadi lebih fokus pada pemenuhan kewajibannya karena dipantau secara internasional.

Siapa Paling Terdampak Berbicara tentang hak atas air sebagai hak asasi manusia, terdapat beberapa kelompok yang sangat terdampak oleh perubahan yang akan terjadi. Mereka terdampak terutama karena selama ini terabaikan haknya dan menjadi kelompok yang dengan berbagai alas an normatif dan legal tidak menjadi target penyedia layanan air minum. Kaum miskin. Diantara kelompok yang terdampak, kaum miskin lah yang paling menderita. Hal ini terlihat dari data yang menunjukkan 80 persen dari yang tidak mempunyai akses air minum adalah kaum miskin, terutama miskin perdesaan. Perempuan. Perempuan di banyak komunitas mendapat status yang lebih rendah dibanding pria. Mereka mendapat tugas mengumpulkan atau mencari air untuk kebutuhan rumah tangga. Data menunjukkan 70 persen dari 1,3 miliar penduduk yang sangat miskin adalah wanita (WHO, 2001). Riset menunjukkan bahwa rata-rata rumah tangga di Afrika menghabiskan 26 persen waktunya untuk mengumpulkan air, dan umumnya wanita lah yang menjalankan tugas ini (DFID,2001). Kondisi ini menghalangi wanita bekerja, bahkan bersekolah. Anak-Anak. Kondisi air yang tidak memadai meningkatkan peluang anak-anak menderita penyakit. Sistem kekebalan mereka belum sepenuhnya terbangun. Anak- anak juga seringkali berbagi tugas dengan kaum perempuan sebagai pengumpul air. Akibatnya, di banyak negara anak-anak banyak yang tidak bersekolah. Masyarakat Asli. Sebenarnya masyarakat asli inilah yang memanfaatkan sumber air tradisional. Namun dengan berkembangnya suatu daerah, sumber air tersebut

kemudian banyak yang tercemar atau dimanfaatkan melebihi kapasitasnya. Kondisi ini kemudian menjadikan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhannya akan air.

Prinsip Utama Prinsip utama hak asasi manusia terkait pembangunan air minum dan sanitasi diantaranya adalah (i) kesetaraan dan tanpa diskriminasi. Kedua prinsip ini merupakan paling utama diantara prinsip dasar kerangka hak asasi manusia. Menyatukan prinsip ini kedalam kebijakan pembangunan AMPL memerlukan upaya khusus untuk mengidentifkasi individu dan kelompok yang paling marjinal dan rawan terkait ketersediaan akses air minum dan sanitasi. Selain juga memerlukan tindakan proaktif untuk memastikan individu dan kelompok marjinal termasuk dalam sasaran dan menjadi fokus intervensi. Kelompok ini diantaranya wanita, anak-anak, penduduk pedesaan, permukiman kumuh, miskin, penduduk yang sering berpindah, pengungsi, orang tua, masyarakat terasing, orang cacad, dan penduduk daerah rawan air. Mengembangkan data terpadu terkait kelompok ini menjadi suatu keniscayaan. Isu utama yang sering dibicarakan adalah keterjangkauan (affordability) tanpa membedakan penyedianya oleh swasta atau pemerintah. Pemerintah bertanggungjawab memastikan bahwa air terjangkau oleh seluruh kalangan bahkan mereka yang tidak mampu membayar. Bentuk upaya tersebut diantaranya berupa penyediaan sejumlah tertentu air secara gratis, sistem blok tarif, mekanisme susidi silang dan subsidi langsung. (ii) aman dan dapat diterima. Air harus aman untuk penggunaan domestik, dan jumlah minimum harus tersedia untuk air minum;

(iii)

layanan terjangkau. Apa yang disebut terjangkau itu?. Pembayaran dianggap tak terjangkau ketika mengurangi kemampuan seseorang membeli barang kebutuhan dasar lainnya seperti makanan, rumah, kesehatan dan pendidikan. Tidak dianjurkan bagi rumah tangga mengeluarkan dana untuk air minum lebih besar dari 3% pendapatannya;

(iv)

layanan dapat di akses. Kapan layanan dianggap dapat di akses?.Pemerintah harus memastikan akses terhadap air tersedia di dalam atau dekat rumah, sekolah atau tempat kerja. Jika tidak memungkinkan, maka kondisi yang dapat ditolerir adalah waktu yang dibutuhkan ke sumber air maksimal 30 menit. Keamanan ketika mengambil air juga dipertimbangkan;

(v)

air yang memadai. Berapa banyak kebutuhan airper orang dianggap sebagai kebutuhan minimum?. PBB mengindikasikan bahwa air harus memadai untuk kebu- tuhan minum, sanitasi, cuci pakaian,dan masak. Dibutuhkan setidaknya 20 liter per orang per hari. Jika sumber air memadai maka jumlah minimum sebaiknya menjadi 100 liter;

(vi)

informasi yang mudah di akses. Hak atas airs ebagai hak asasi memungkinkan tersedianya akses terhadap informasi tentang strategi dan kebijakan pemerintah, dan memungkinkan masyarakat berpartisipasi.

Hak Atas Air sebagai Prasyarat Hak Asasi Lainnya Hak atas air menjadi prasyarat pemenuhan hak asasi lainnya. Sebagai ilustrasi (i) Hak atas makanan. Konsumsi air tidak aman menghambat upaya pemenuhan nutrisi dasar dan selanjutnya hak atas makanan; (ii) hak atas kehidupan dan hak atas kesehatan. Kekurangan air yang aman menjadi penyebab utama kematian bayi di seluruh dunia; (iii) hak atas pendidikan. Mengambil air di banyak negara merupakan tugas anak perempuan dan wanita. Padahal waktu dan jarak tempuh kadang-kadang membutuh- kan lebih dari 2 jam perjalanan sehingga menghalangi mereka untuk hadir di sekolah. Termasuk ketidakhadiran karena sakit akibat diare; (iv) hak atas perumahan. Ketersediaan air minum menjadi persyaratan sebuah rumah yang layak huni.

Kewajiban Negara Isu yang timbul kemudian adalah bagaimana posisi negara dalam hubungannya dengan air sebagai benda publik atau benda sosial yang bahkan telah diakui sebagai bagian dari hak asasi manusia. Berdasar komentar umum Nomor 15 dari Komite PBB tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya bahwa hak atas air sebagaimana hak asasi lainnya menghasilkan tiga tipe kewajiban bagi negara yaitu kewajiban menghargai (to respect), kewajiban melindungi (to protect), dan kewajiban memenuhi (to fulfill). Kewajiban menghormati : memelihara akses yang ada. Kewajiban ini mengharuskan negara tidak mengganggu baik langsung maupun tidak langsung keberadaan hak atas air. Kewajiban termasuk misalnya tidak membatasi akses kepada siapapun. Kewajiban melindungi : mengatur pihak ketiga. Kewajiban ini mengharuskan negara untuk menghalangi campur tangan pihak ketiga dengan cara apapun keberadaan hak atas air. Pihak ketiga termasuk individu, kelompok, perusahaan dan institusi yang dibawah kendali pemerintah. Kewajiban termasuk mengadopsi regulasi yang efektif. Kewajiban memenuhi : fasilitasi, promosi dan penyediaan. Kewajiban ini mengharuskan pemerintah mengambil langkah untuk memenuhi hak atas air. Bagaimana dengan pemerintah daerah? Sebenarnya penentu utama tercapainya hak atas air sebagai hak asasi manusia berada di tangan pemerintah daerah. Komentar Umum PBB Nomor 15 menegaskan bahwa pemerintah pusat harus memastikan bahwa pemerintah daerah mempunyai kapasitas baik sumber daya keuangan maupun sumber daya manusia untuk menyediakan layanan air minum. Ditambahkan juga bahwa layanan tersebut harus me- menuhi prinsip hak asasi manusia.

Indikator Pemenuhan Hak Atas Air Kecukupan air sebagai prasyarat pemenuhan hak atas air, dalam setiap keadaan apa pun harus memenuhi faktor berikut (i) ketersediaan. Suplai air untuk setiap orang harus mencukupi dan berkelanjutan untuk kebutuhan individu dan rumah tangganya; (ii) kualitas. Air untuk setiap orang atau rumah tangga harus aman, bebas dari organisme mikro, unsur kimia dan radiologi yang berbahaya yang mengancam kesehatan manusia; (iii) mudah diakses. Air dan fasilitas air dan pelayanannya harus dapat diakses oleh setiap orang tanpa diskriminasi. Kemudahan akses ditandai oleh (a) mudah diakses secara fsik. Air dan fasilitas air dan pelayanannya harus dapat dijangkau secara fsik bagi seluruh golongan yang ada di dalam suatu populasi; (b) terjangkau secara ekono-

mi. Air dan fasilitas air dan pelayanannya harus terjangkau untuk semuanya Biaya yang timbul, baik secara langsung maupun tidak langsung dan biaya lain yang berhubungan dengan air harus terjangkau; (c) non-diskriminasi. Air dan fasilitas air dan pelayanannya harus dapat diakses oleh semua, termasuk kelompok rentan atau marjinal, dalam hu- kum maupun keadaan nyata lapangan tanpa diskriminasi; (d) akses informasi. Akses atas air juga termasuk hak untuk mencari, menerima dan bagian dari informasi sehubungan dengan air.

Mewujudkan Air sebagai Hak Asasi Pada kenyataannya, sejumlah faktor dibutuhkan untuk memastikan air sebagai hak asasi. Pertama, pemerintah harus memiliki regulasi dan intitusi yang efektif, termasuk otoritas publik yang mempunyai mandat jelas yang dibekali sumber dana dan sumber daya manusia memadai. Kedua, informasi dan pendidikan. Ini dibutuhkan untuk memastikan pengelolaan air yang transparan dan bertanggungjawab. Masyarakat harus mengetahui dan memahami hak mereka. Tentunya sebaliknya juga mereka harus tahu kewajibannya. Dilain pihak, otoritas publik juga harus mengetahui kewajibannya. Ketiga, dialog multi pihak. Dialog ini melibatkan berbagai pihak mulai dari swasta, LSM, masyarakat miskin, yang dapat berkontribusi dalam proses perencanaan, pem- bangunan dan pengelolaan layanan air minum. Hal ini dapat menjadikan otoritas publik lebih bertanggungjawab dan transparan. Keempat , mekanisme solidaritas berbagi biaya. Sebagai contoh, sistem tarif dapat menggunakan sistem subsidi silang, yang kaya membayar lebih besar. Sementara itu, hak atas air tidak hanya berlaku bagi perusahaan publik tetapi juga swasta. Sebagai ilustrasi, the International Federation of Private Water Operator Aquafed , yang me-wakili berbagai perusahaan layanan air minum dari yang kecil sampai perusahaan internasional, telah memasukkan isu hak asasi air dalam aturan perusahaan. Terdapat tiga elemen dibutuhkan agar operator melaksanakan konsep hak atas air yaitu (i) kontrak yang jelas yang mencakup peran dan tanggung-jawab operator; (ii) keberadaan subsidi atau tarif rendah bagi masyarakat miskin; (iii) keberadaan mekanisme sosial berkelanjutan terhadap layanan bagi kelompok yang terpinggirkan (miskin, tuna wisma, dan lainnya)

Tulisan ini pernah dimuat dalam PERCIK Edisi III Tahun 2010.