Anda di halaman 1dari 2

Daunnya dilaporkan memiliki aktivitas antibacterial melawan E.

coli dan bakteri lainnya dalam family enterobactericeae dan kandungan mangiferin yang diisolasikan dari Mangifera indica dilaporkan memiliki aktivitas antiinfluenza yang sangat baik. Kandungan kimiawi dalam ekstrak daun berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri. Di antara ekstrak yang diuji, ekstrak aseton memiliki aktivitas antibakteri yang tertinggi dibandingkan dengan ekstrak air dan methanol. Sebagai contoh ekstrak aseton dengan kadar 250 mg/ml, diameter zona hambat terhadap S. aureus dan S. pneumonia adalah 15 mm. zona hambat pada S. typhii dan S. pneumonia adalah 14 mm, dan terhadap S. pyogenes adalah 13 mm. (Doughari & Manzara 2008) Mangifera indica L. adalah sebuah tanaman pohon yang dapat tumbuh setinggi 8 m. kulit kayunya berwarna hijau dan retak-retak. Daunnya berukuran 12-30 cm dan 4-9 cm, berbentuk elips, runcing, kasar dan tipis dengan permukaan yang bergelombang. Bunganya sangat kecil, kuning kehijau-hijauan atau putih, dan harum. Buahnya berbentuk seperti ginjal dan daging buahnya mulai dari kuning sampai oranye bisa dimakan. Bijinya memanjang, berserabut, dan agak mendatar. Dalam pengobatan tradisional, daunnya digunakan untuk memperkuat gusi, penyakit kulit, asma, dan batuk. Selain itu, daunnya juga digunakan untuk mengobati malaria di Budiope, Uganda. Getah daunnya juga digunakan untuk obat salep luka. Buahnya digunakan untuk mengobati nyeri perut, diare dan mengurangi rasa haus. Jus buahnya digunakan di China untuk melancarkan aliran darah. Kulit buahnya digunakan sebagai obat kuat di Burma dan potongan kering dari buahnya digunakan untuk pengobatan septicemia di Palau. Bibitnya digunakan untuk mengobati demam, batuk, diare, menoragi, dan asma. Di Filipina, bijinya digunakan untuk mengeluarkan cacing dan untuk mengobati diare. Kulit kayunya digunakan untuk mengobati demam, kolera, rematik, hemiplegic, diare (dengan kulit kayu Streblus asper, akar Oroxylum indicum, dan Helianthus annuus), disentri (dengan akar Streblus dan Spondias pinnata), keracunan, perdarahan uteri, dan jaundis. (Ling Koh, Tung Kian, & Hoon Tan 2009) Mangga bukan tanaman asli dari Indonesia. Walaupun begitu masyarakat sudah menganggap mangga sebagai salah satu tanaman buah-buahan asli Indonesia. Di Indonesia mangga tumbuh baik di daerah dataran rendah yang berhawa panas, meskipun masih ditanam sampai dataran tinggi yang berhawa sedang. Penyebaran mangga hamper merata di seluruh Indonesia. Nama lokalnya pun bermacam-macam di setiap daerah. Di Madura dan Sulawesi Selatan mangga disebut Pao. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut pelem. Di awa Barat disebut mangga. Di Aceh disebut mamplam. Di Bali disebut ampelm. Di Nias disebut maga. Di Banjarmasin disebut amplam. Di Minahasa disebut Kamiley. Di Maluku disebut mampalang. Di Irian Jaya sering disebut mempelam. (Pracaya 2008)

Salah satu kandungan kimia dalam daun mangga adalah mangiferin. Mangiferin memiliki aktivitas antimicrobial. Dalam studi in vitro mengatakan bahwa mangiferin memiliki pengaruh terhadap HSV-2. Mangiferin tidak secara langsung menonaktifkan HSV-2, tetapi menghambat replikasi HSV-2. Secara in vitro, mangiferin juga bisa menghambat replikasi virus HSV-1 dalam sel dan menimbulkan efek sitopatik dari HIV. Dalam uji in vitro dengan difusi agar, mangiferin menunjukkan aktivitas melawan tujuh spesies bakteri, Bacillus pumilus, B. cereus, Staphylococcus aureus, S. citreus, Escherichia coli, Salmonella agona, Klebsiella pneumonia, satu ragi (Saccharomyces cerevisia), dan empat jamur (Thermoascus aurantiacus, Trichoderma reesei, Aspergillus flavus dan A. fumigatus)