Anda di halaman 1dari 8

REALITAS REFERENSIAL LABA AKUNTANSI SEBAGAI REFLEKSI KANDUNGAN INFORMASI (Studi Interpretif-Kritis Dari Komunitas Akuntan dan Non-Akuntan)

TAHAP I PENDAHULUAN Latar Belakang Teori Praktik Perbedaan Akuntansi adalah teks yang menjadi media Simbol laba tersebut tidak berada pada Perbedaan interpretasi laba akuntansi ini tentu ko-munikasi informasi keuangan antara tingkatan realitas fisis, tetapi berada pada akan mempengaruhi efektivitas komunikasi manajer dan pihak-pihak yang berada di luar tingkatan realitas sosial (social reality) informasi laba itu sendiri, karena realitas yang perusahaan, ketika manajer tidak memiliki artinya, realitas tersebut menjadi ada karena sesungguhnya ingin direpresentasikan oleh kesempatan secara langsung untuk kesepakatan yang terjadi dalam komunitas simbol laba ternyata diinterpretasikan secara berbeda oleh pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi. Perbedaan interpretasi laba dan timbulnya respon yang bias ini merupakan penanda bahwa laba akuntansi tidak memiliki kandungan informasi (information contents). berkomunikasi melalui wicara. Akuntansi akuntansi. dapat diartikan sebagai seperangkat sim-bol bahasa tertentu. melalui atau representasi simbolik yang menunjuk pada suatu makna atau realitas Dari sekian banyak simbol, salah laporan keuangan untuk satu simbol akuntansi yang dikomunikasikan merepresentasikan realitas tertentu adalah simbol laba. Simbol laba akuntansi tersebut hanya merupakan simulakra murni, yang berarti bahwa referensi laba akuntansi adalah pada dirinya sendiri, dan berputar-putar pada dirinya sendiri membentuk dunia hiperrealitas.

Perumusan Masalah Bagaimanakah akuntan dan non-akuntan menginterpretasikan laba (earnings) yang tercantum dalam laporan laba-rugi? Sejauh mana akuntan dan non-akuntan memahami konsep laba dalam rerangka konseptual akuntansi yang mempengaruhi penetapan laba tersebut? Judul REALITAS REFERENSIAL LABA AKUNTANSI SEBAGAI REFLEKSI KANDUNGAN INFORMASI Tujuan Penelitian Untuk memperoleh bukti empiris tentang kesimetrisan interpretasi laba akuntansi oleh akuntan dan non-akuntan. Untuk memperoleh bukti empiris tentang pemahaman akuntan dan non-akuntan terhadap konsep laba yang digunakan dalam rerangka konseptual akuntansi. Manfaat Penelitian Praktis: Jika ditemukan bukti bahwa laba yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi dapat dipahami secara sama antara akuntan dan non-akuntan, berarti tujuan dan efek komunikasi informasi laba telah tercapai sesuai harapan. Tetapi, jika yang terbukti adalah sebaliknya, hal ini harus dikaji kasus per kasus. Kebijakan: Konsep laba komprehensif mendasari spirit totalitas akuntansi untuk merepresentasikan realitas ekonomik perusahaan secara utuh, tunggal, ideal dan universal. Tetapi, realitas ekonomi yang dikonsepsikan akuntan melalui totalitas itu mungkin tidak selalu sejalan dengan realitas ekonomi yang dipersepsikan oleh non-akuntan. Teoritis: Bagi Pembaca dan Publik Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada tataran teoritis, yaitu melengkapi literatur-literatur akuntansi, khususnya yang berkaitan dengan makna laba dalam ruang komunikasi. TAHAP II

KERANGKA TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka Tinjauan Pustaka Apa Laba


Reifikasi dan Pygmalion Syndrome

Readability dan Understandability adalah kemudahan untuk adalah

Merupakan kenaikan aset bersih Reifikasi (reification) adalah berbicara atau Readability (ekuitas) yang tidak dipengaruhi oleh kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik perusahaan. berfikir tentang sesuatu secara konseptual, dibaca adalah benda yang ada secara fisis dan dapat diobservasi secara langsung di dunia nyata. Sedangkan mengacaukan Pygmalion (confuse) antara syndrome model menunjukkan kecenderungan seseorang untuk konseptual tentang sesuatu atau peristiwa di dunia nyata dengan sesuatu atau peristiwa itu sendiri. dan

Understandability

tetapi membayangkan bahwa sesuatu itu kemampuan untuk memaham.

Siapa

Dilakukan oleh para manajemen Dilakukan perusahaan.

oleh

para

pihak

yang Dilakukan

oleh

para

pihak

yang

berkepentingan

dengan informasi akuntansi berkepentingan akuntan.

dengan

informasi

yaitu pihak akuntan dan non-akuntan.

akuntansi yaitu pihak akuntan dan non-

Kenapa

Untuk melihat performa kinerja Karena perusahaan dalam periode tertentu.

pandangan Karena menyangkut interpretasi informasi konseptual didunia nyata dengan peristiwa itu keuangan yang diberikan/disajikan. sendiri.

adanya

perbedaan

Kapan Dimana Bagaimana

Pada penyusunan laporan keuangan. Dilakukan perusahaan. di dalam

Pada interpretasi informasi akuntansi yang Pada interpretasi informasi akuntansi yang diberikan. diberikan.

internal Dilakukan di dalam internal dan eksternal Dilakukan di dalam internal dan eksternal perusahaan.. perusahaan. model akuntansi ingin dengan peristiwa yang tersebut Komunikasi informasi akuntansi yang mereka bersumber dari teks akuntansi dan memahami bahasa akuntansi tergantung pada karakteristik pembaca, baik dalam hal latar belakang, pengetahuan yang dimiliki, tujuan membaca, kepentingan, serta kemampuan melakukan pembacaan secara umum.

Memberikan informasi laba kepada Mengacaukan pengguna internal dan eksternal representasikan.

PENELITAN SEBELUMNYA Nama Halim,J. Meiden,C Dan Tobing Tahun 2005 Hasil Hubungan manajemen dengan indeks pengungkapan ternyata manajemen laba berpengaruh signifikan positif pada tingkat pengungkapan laporan keuangan sejalan dengan

perspektif Efficient Earnings Management. Tingkat pengungkapan berpengaruh signifikan negative pada manajemen laba sejalan dengan perspektif Opportunistic Earnings Management. Asimetri informasi, kinerja masa kini dan masa depan, factor leverage, ukuran perusahaan berpengaruh signifikan pada manajemen laba. Boediono Gideon SB 2005 Pengaruh Corporate Governance dan manajemen laba secara bersama-sama terhadap kualitas laba, teruji dengan tingkat perngaruh yang cukup kuat. Dan pengaruh secara individual adalah: Komposisi dewan komisaris memberikan pengaruh terhadap kualitas laba yang lemah. Manajemen laba memberikan pengaruh terhadap kualitas laba yang sangat lemah. Semakin besar resiko dan prospek pertumbuhan investasi perusahaan maka semakin kecil tingkat manajemen laba. Hal ini disebabkan karena asimetri informasi akan terjadi pada perusahaan dengan tingkat pertumbuhan investasi yang tinggi pula. Sedangkan semakin besar perusahaan, semakin besar pula tingkat manajemen laba. Mekanisme Coorporate Governance yang diajukan melalui keberadaan pihak independen dalam dewan komisaris mampu menguragi tindak manajemen yang terjadi dalam perusahaan laba. Keberadaan komite audit dalam perusahaan perbankan ternyata juga mampu menguragi manajemen laba dalam perusahaan, hal ini terbukti dengan hasil pengujian secara parsial variabel keberadaan komite audit terhadap akrual kelolaan yang menunjukan bahwa pengaruh negatif variabel ini signifikan. Bisa diambil kesimpulan bahwa komite audit telah menjalankan tugasnya secara efektif. Secara

Rahmawati, Suparno Yacob, Qomariah Nurul

2007

Marihot dan Dody Setiawan

2008

keseluruhan dapat disimpulkan bahwa mekanisme Coorporate Governance telah efektif mengurangi manajemen laba. Santi A.Nofira 2007 Keberadaan asimetri informasi dianggap sebagai penyebab manajemen laba, dimana terdapat hubungan yang sistematis antara magnitut asimetri informasi dengan tingkat manajemen laba.

2.2 Kerangka Pemikiran Berdasarkan rerangka konseptual dibawah ini menggambarkan laba akuntansi yang dihasilkan dalam laporan keuangan dilihat dari sisi akuntan dan non-akuntan dalam memahami dan menginterpretasikan kandungan informasi yang terkait dengan informasi laba. Apakah informasi laba akuntansi yang dihasilkan memiliki kandungan informasi yang berguna atau tidak, bagi penggunanya (users).

TAHAP III METODE PENELITIAN No 1. Keputusan Strategi Penelitian a. Sifat penelitian b. Jenis penelitian c. Tingkat invertensi peneliti d. Situasi study e. Unit analisis f. Horizon waktu 2. 3. Tahapan penelitian Sumber dan Penentuan data Menggambarkan suatu fenomena. Penelitian Kualitatif dengan pendekatan hermeneutika. Intervensi maksimum Lingkungan riil Informan (akuntan dan nonakuntan). Time series Lihat di halaman selanjutnya Populasi: informan akuntan dan informan non-akuntan. Sampel: ditentukan berdasarkan kriteria(yang sudah ahli dalam bidangnya). 4. Metode pengumpulan Wawancara tidak terstruktur, tidak terjadwal, dilakukan sedemikian rupa. menggunakan pendekatan Jenis

5.

Teknik Analisis Data

multiple case study dengan

multiple unit analysis. Terdapat dua tahap analisis data yang akan dilakukan peneliti, yaitu tahap analisis data di lapangan serentak dengan proses pengumpulan data, dan tahap sesudah di lapangan penelitian.