Anda di halaman 1dari 35

ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM

Salah satu metode kontrasepsi jangka panjang yang digunakan oleh masyarakat adalah AKDR, untuk memahami tentang AKDR berikut ini akan dibahas tentang pengertian AKDR, jenis AKDR, mekanisme kerja, efektivitas, indikasi pemasangan, kontra indikasi, keuntungan, kerugian, pemasangan AKDR, periksa ulang AKDR, efek samping dan komplikasi serta pengeluaran AKDR.

1. Pengertian AKDR AKDR adalah bahan inert sintetik (dengan atau tanpa unsur tambahan untuk sinergi efektifitas) dengan berbagai bentuk dipasangkan ke dalam rongga rahim untuk menghasilkan efek kontraseptif (Saifuddin, 2003), sedangkan definisi AKDR menurut BKKBN (2000) adalah jenis alat kontrasepsi yang terkuat dari bahan plastik halus, lembut dan lentur yang diletakkan dalam rongga rahim.

2. Jenis AKDR Menurut Mochtar (1998), saat ini AKDR telah memasuki era generasi keempat, karena itu berpuluh macam AKDR telah dikembangkan mulai dari generasi pertama yang terbuat dari benang sutera dan logam sampai pada generasi plastik (polietilen) baik yang tidak ditambahi obat (unmedicated) maupun yang dibubuhi obat (Medicated). a. 1) Menurut bentuknya AKDR dibagi menjadi : Bentuk terbuka (open device), misalnya lippes loop, Cu-T, Cu-7, Margulies, Spring coil, multiload, Nova T dan lainnya. 2) Bentuk tertutup (closed device), misalnya ota ring, antigen, grafenberg ring, hall stone ring.

b. Menurut tambahan obat atau metal : 1) Medicated AKDR, misalnya Cu-T 200, 220, 300, 380A, Cu-7, Nova-T Ml-Cu 250, 375, progestasert. 2) Unmedicated AKDR, misalnya lippes loop, margulies, saf-T coil, antigon. AKDR yang banyak di pakai di Indonesia dewasa ini dari jenis unmedicated adalah lippes loop dan yang dari jenis medicated Cu-T, Cu-7 multiload, dan Nova-T. 3. Mekanisme Kerja AKDR Menurut Hartanto (2003), mekanisme kerja AKDR adalah : a. Timbulnya reaksi radang lokal yang non spesifik di dalam cavum uteri sehingga implantasi sel telur yang telah di buahi terganggu. Disamping itu dengan munculnya lekosit PMN, makrofag, foreign body giant cells, sel mononuclear dan sel plasma yang dapat mengakibatkan lysis dari spermatozoa atau ovum dan blastocyst. b. Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambatnya implantasi. c. Gangguan atau terlepasnya blastocyst yang telah berimplantasi di dalam endometrium.

d. Pergerakan ovum yang bertambah cepat di dalam tuba falopii. e. f. Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri. Dari penelitian-penelitian terakhir disangka bahwa AKDR juga mencegah spermatozoa membuahi sel telur (mencegah fertilitas). g. Untuk AKDR yang mengandung Cu : 1) Antagonisme yang spesifik terhadap Zn yang terdapat dalam enzim carbonic anhydrase, sehingga tidak memungkinkan terjadinya implantasi dan mungkin juga menghambat aktifitas alkali phosphatase. 2) Mengganggu pengambilan estrogen endogenelis oleh mucosa uterus.

3) Mengganggu jumlah DNA dalam sel endometrium. 4) Mengganggu metabolisme glikogen. h. Untuk AKDR yang mengandung hormon progesteron : 1) Gangguan proses pematangan proliferatif-skretoir sehingga timbul penekanan terhadap endometrium dan terganggunya proses implantasi (Endometrium tetap berada dalam fase decidual atau progestational). 2) Lendir serviks yang menjadi lebih kental atau tebal karena pengaruh progestin. Dari uraian di atas, maka AKDR tampaknya tidak mencegah ovulasi dan menggangu corpus luteum.

4. Efektifitas AKDR Menurut Mochtar (1998), efektifitas AKDR cukup tinggi untuk mencegah kehamilan dalam jangka waktu yang lama. Angka kehamilan AKDR berkisar antara 1,5 3 per 100 wanita pada tahun pertama dan angka ini akan menjadi lebih rendah untuk tahun tahun berikutnya. Hartanto (2003), mengemukakan tentang efektifitas AKDR yaitu : a. Efektifitas dari AKDR dinyatakan dalam angka kontinuitas (continuit on rate) yaitu berupa lama AKDR tetap tinggal in-utero tanpa ekspulsi spontan, terjadinya kehamilan dan pengangkatan atau pengeluaran karena alasan-alasan medis atau pribadi. b. Efektifitas dari bermacam-macam AKDR tergantung pada : AKDR nya yaitu ukuran bentuk, mengandung Cu atau progesteron dan akseptor yaitu umur, paritas dan frekuensi senggama. c. Dari faktor-faktor yang berhubungan dengan akseptor yaitu umur dan paritas, diketahui :

1) Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan, ekspulsi dan pengangkatan atau pengeluaran AKDR.

2) Makin muda usia, terutama pada nulligravid, makin tinggi angka ekspulsi dan pengangkatan atau pengeluaran AKDR. d. Dari uraian di atas maka use-effectiveness dari AKDR tergantung pada variabel administratif, pasien dan medis termasuk kemudahan insersi pengalaman pemasang, kemungkinan ekspulsi dari pihak akseptor, kemampuan akseptor untuk mengetahui terjadinya ekspulsi, kemudahan akseptor untuk mendapatkan pertolongan medis.

5. Indikasi Pemasangan AKDR Menurut Mochtar (1998), pemasangan AKDR untuk tujuan kontrasepsi dapat dilakukan pada wanita yang : a. Telah mempunyai anak hidup satu atau lebih.

b. Ingin menjarangkan kehamilan. c. Sudah cukup anak hidup, tidak mau hamil lagi, namun takut atau menolak cara permanen (kontrasepsi mantap). d. Tidak boleh atau tidak cocok memakai kontrasepsi hormonal (menghidap penyakit jantung, hipertensi, hati). e. Berusia di atas 35 tahun, dimana kontrasepsi hormonal dapat kurang menguntungkan.

6. Kontra Indikasi Menurut Saifuddin (2003), yang tidak diperkenankan menggunakan AKDR : a. Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil).

b. Perdarahan vagina yang tidak diketahui. c. Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis).

d. Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septik.

e.

Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat mempengaruhi kavum uteri.

f.

Penyakit trofoblas yang ganas.

g. Diketahui menderita TBC pelvik. h. Kanker alat genital. i. Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.

7. Keuntungan AKDR Menurut Saifuddin (2003), keuntungan AKDR meliputi : a. Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi 0,6 - 0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 170 kehamilan). b. AKDR dapat efektif segera setelah persalinan. c. Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu di ganti).

d. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat. e. f. Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil. Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT-380A.

g. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI. h. Dapat di pasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi infeksi). i. j. Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir). Tidak ada interaksi dengan obat-obat.

k. Membantu mencegah kehamilan ektopik.

8. Kerugian AKDR

AKDR bukanlah alat kontrasepsi yang sempurna, sehingga masih terdapat beberapa kerugian. Kerugian AKDR menurut Manuaba (1998) : a. Masih terjadi kehamilan dengan AKDR insitu.

b. Terdapat perdarahan, spothing dan menometroragia. c. Leukore, sehingga menguras protein tubuh dan liang senggama terasa lebih basah.

d. Dapat terjadi infeksi dan kehamilan ektopik. e. Tali AKDR dapat mengganggu hubungan seksual.

9. Pemasangan AKDR Saifuddin (2003), mengemukakan bahwa sebagian besar masalah yang berkaitan dengan AKDR (ekspulsi infeksi dan perforasi) disebabkan oleh pemasangan yang kurang tepat. Oleh karena itu hanya petugas klinik yang telah dilatih (dokter, bidan dan perawat), yang diperbolehkan memasang maupun mencabut AKDR, untuk mengurangi masalah yang timbul setelah pemasangan semua tahap proses pemasangan harus dilakukan dengan hati-hati dan lembut, dengan menggunakan upaya pencegahan infeksi yang dianjurkan. Waktu pemasangan AKDR yang baik adalah dalam keadaan :

ktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil. 2) Hari pertama sampai ke-7 siklus haid. 3) Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pasca persalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenore laktasi (MAL). Perlu diingat angka ekspulsi tinggi pada pemasangan segera atau selama 48 jam pasca persalinan. 4) Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari ) apabila tidak ada gejala infeksi. 5) Selama 1 sampai 5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi. 10. Periksa ulang AKDR

Menurut Manuaba (1998), menyatakan jadwal pemeriksaan ulang AKDR sebagai berikut : a. Dua minggu setelah pemasangan.

b. Satu bulan setelah pemeriksaan pertama. c. Tiga bulan setelah pemeriksaan kedua.

d. Setiap 6 bulan sampai 1 tahun. 11. Efek samping dan komplikasi Menurut Mochtar (1998), efek samping dari penggunaan AKDR adalah : a. Nyeri dan mulas Biasanya terjadi sehabis insersi AKDR, yang pada umumnya akan hilang dalam beberapa hari sampai beberapa minggu. b. Perdarahan Dapat terjadi perdarahan pasca insersi, bercak di luar haid (spotting) atau perdarahan meno atau metroragia. c. Fluor Albus (keputihan).

d. Dismenorea (Nyeri selama haid). e. f. Disparenia (Nyeri sewaktu koitus). Ekspulsi (AKDR keluar dengan sendirinya) Sering dijumpai pada masa tiga bulan pertama setelah insersi, setelah satu tahun angka ekspulsi akan berkurang. Biasanya terjadi sewaktu sedang haid. g. Infeksi

Radang panggul dijumpai pada sekitar 2% akseptor pada tahun pertama pemakaian, namun infeksi ini bersifat ringan. h. Embedment (AKDR tertanam dalam dinding rahim). i. AKDR dapat tertanam ke dalam mukosa rahim atau terletak lebih dalam sebagian (parsial) atau seluruhnya (komplit).

12. Pengeluaran AKDR Menurut Mochtar (1998), pengeluaran AKDR dilakukan atas berbagai indikasi : a. Indikasi medis :

1) Perdarahan yang hebat atau berlangsung lama. 2) Nyeri hebat. 3) Hamil dengan AKDR insitu. 4) Peradangan panggul. 5) Infeksi dan sebagainya. b. c. Atas permintaan suami isteri. AKDR telah kadaluarsa.

d. Translokasi AKDR.

INTRA UTERINE DEVICES ( IUD / AKDR )

PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG

Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional telah diubah Visinya dari mewujudkan NKKBS menjadi Visi untuk mewujudkan Keluarga Berkualitas Tahun 2015 . Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Visi tersebut di jabarkan kedalam enam misi, Yaitu : 1. Memberdayakan masyarakat untuk membangun keluarga kecil berkualitas 2. Menggalang kemitraan dalam peningkatan kesejahteraan, kemandirian, dan ketahanan keluarga. 3. Meningkatkan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi 4. Meningkatkan promosi, perlindungan dan upaya mewujudkan hak hak reproduksi 5. Meningkatkan upaya pemberdayaan perempuan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melalui program Keluarga Berencana 6. Mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas sejak pembuahan dalam kandungan sampai dengan lanjut usia. Berdasarkan Visi dan misi diatas, Program Keluarga Berencana Nasional mempunyai kontribusi penting dalam upaya meningkatkan kualitas penduduk.Kontribusi program keluarga berencana tersebut dapat dilihat pada pelaksanaan Program Making Pregnency Safer. Pencegahan kematian dan kesakitan ibu merupakan alasan utama diperlukannya pelayanan keluarga berencana disamping alsan lain yaitu membebaskan wanita dari rasa khawatir terhadap kehamilan. Banyak perempuan mengalami kesulitan didalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Hal ini tidak hanya karena terbatasnya metode yang tersedia tetapi juga karena ketidak tahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan dan metode kontrasepsi tersebut. Dimana kalo kita lihat pengrtian dari kontrasepsi itu adalah usaha usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha usaha itu dapat bersifat sementara. Dapat juga bersifat permanen. Metode kontrasepsi yang disediakan secara umum ada 2 yaitu kontrasepsi tanpa menggunakan alat / obat, contohnya senggama terputus, pembilasan pasca senggama, perpanjangan masa menyusui

anak dan pantang berkala, dan kontrasepsi yang menggunakan alat, contohnya kondom, suntikan, pil, norplant dan tidak lupa IUD / AKDR.

B.

TUJUAN UMUM Secara umum tujuan Pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui apa itu metode

kontrasepsi IUD / AKDR

C.

TUJUAN KHUSUS Tujuan khususnya adalah mengetahui secara rinci tentang metode kontrasepsi IUD / AKDR itu

sendiri.

BAB II LANDASAN TEORI

Pelayanan dan informasi keluarga berencana merupakan suatu intervensi kunci dalam upaya meningkatkan kesehatan perempuan dan anak, serta merupakan hak asasi manusia. Telah terjadi perkembangan yang berarti dalam tekhnologi kontrasepsi, misalnya transisi dari estrogen dosis tinggi ke dosisi rendah pada pil kombinasi, atau dari AKDR inert ke AKDR yang mengeluarkan levonorgestrel.Perkembangan ini telah menghasilkan pilihan lebih banyak tentang metode kontrasepsi yang lebih aman dan efektif. Salah satu alat kontrasepsi yang akan di bahas pada makalah ini adalah tentang IUD / AKDR ( alat kontrasepsi dalam rahim ). Dimana profil dari AKDR itu sendiri antara lain : Sangat efektif, reversibel dan berjangka waktu panjang ( Dapat sampai 10 tahun : CuT 380A Haid menjadi lebih banyak dan lebih lama Pemasangan dan pencabutan memerlukan pelatihan. Dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi Tidak boleh dipakai oleh perempuan yang terpapar pada Infeksi Menular Seksual ( IMS ).

Mekanisme kerja AKDR belum diketahui secara pasti, tetapi cara kerjanya bersifat lokal. Sebagai bukti dapat di jumpai kehamilan dengan AKDR.AKDR dalam keadaan kolaps membuat suasana pada fundus uteri menjadi normal dan siap menerima hasil konsepsi. ( Ilmu Kebidanan, Penyakit kandungan dan Keluarga Berncana untuk pendidikan bidan, Prof. Dr. Ida Bagus Gde Manuaba, DSOG ) Mekanisme kerja lokal AKDR sebagai berikut : 1. AKDR merupakan benda asing dalam rahim sehingga menimbulkan reaksi benda asing dengan timbunan Leokosit, Makrofag dan limfosit. 2. AKDR menimbulkan perubahan pengeluaran cairan, prostaglandin, yang menghalagi kapasitras spermatozoa. 3. Pemadatan endometrium oleh leokosit, makrofag dan limfosit menyebabkan blastokis mungkin dirusak oleh magrofag dan blastokis tidak mampu melaksanakan nidasi. Untuk lebih jelasnya mengenai AKDR akan kita bahas pada Bab III di Pembahasan.

BAB III PEMBAHASAN

IUD / AKDR yang merupakan salah satu metode kontrasepsi dalam rahim mempunyai atau memiliki beberapa jenis yaitu : Jenis dari IUD ini bermacam macam,paling umum dulu disebut atau dikenal dengan nama Spiral seperti contoh :

Lippes Loop Saf-T-Coil Dana Super Copper T (Gyne-T) Copper 7 (Gravigard) Multiload Progesterone IUD Dari berbagai jenis IUD diatas, saat ini yang umum beredar dipakai di Indonesia ada 3 macam jenis Yaitu :

1. IUD Copper T, Terbentuk dari rangka plastik yang lentur dan tembaga yang berada pada kedua lengan IUD dan batang IUD. 2. IUD Nova T, Terbentuk dari rangka plastik dan tembaga. Pada ujung lengan IUD bentuknya agak melengkung tanpa ada tembaga, tembaga hanya ada pada batang IUD. 3. IUD Mirena, terbentuk dari rangka plastik yang dikelilingi oleh silinder pelepas horman levonolgestrel ( Hormon Progesteron ) sehingga IUD ini dapat dipakai oleh ibu menyusui karena tidak menghambat ASI.

Cara kerja dari AKDR yaitu : Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai cavum uteri AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus

Semua jenis alat kontrasepsi pasti memiliki keuntungan dan kerugian, seperti halnya metode kontrasepsi AKDR ini, memiliki keuntungan antara lain yaitu : Sebagai kontrasepsi, efektifitasnya tinggi. AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan Metode jangka panjang Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat Tidak mempengaruhi hubungan seksual Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut hamil Tidak ada efeksamping hormonal dengan Cu AKDR Tidak mempengaruhi lkwalitas dan volume ASI Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus Dapat digunakan samapi menopause Tidak ada interaksi dengan obat-obat Membantu mencegah kehamilan ektopik

Kerugian dari AKDR yaitu : Efek samping yang umum terjadi : Perubahan siklus haid ( umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkuramng setelah 3 bulan ) Haid lebih lama dan banyak Perdarahan ( Spoting ) antar menstruasi Saat haid lebih sakit

Komplikasi lain :

Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan Perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan penyebab anemia Perforasi dinding uterus ( Sangat jarang apabila pemasangan benar )

Tidk mencegah IMS termasuk HIV/AIDS Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering berganti pasangan Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvikdiperlukan dalam pemasangan AKDR. Sering kali perempuan takut selama pemasangan Sedikit nyeri dan perdarahan Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri Mungkin AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR untuk mencegah kehamilan normal Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu

Siapa saja yang bisa memakai AKDR adalah :

uksi

lipara

an menggunakan kontrasepsi jangka panjang

ang menginginkan menggunakan kontrasepsi

ahirkan dan tidak menyusui bayinya

ngalami abortus dan tidak terlihat adanya in feksi

ah dari IMS

hendaki metode hormonal

ukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari

hendaki kehamilan setelah 1 5 hari senggama

Yang tidak diperkenankan menggunakan AKDR yaitu :

diketahui hamil atau kemungkinan hamil )

ina yang tidak diketahui ( sampai dapat dievaluasi )

ita infeksi alat genetalia ( Vaginitis, servisitis ) Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat mempengaruhi cavum uteri Penyakit tropoblas yang gamas Diketahui menderita TBC pelvik Kanker alat genitalia Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm

Efek samping dari pada AKDR ini adalah : Amenorhoe Kejang Perdarahan vagina yang hebat dan teratur Benang yang hilang Adanya pengeluaran cairan dari vagina

1. Efektifitas dari IUD dinyatakan dalam angka kontinuitas (continuation rate) yaitu berapa lama IUD tetap tinggal in-utero tanpa : a. Ekspulsi spontan b. Terjadinya kehamilan c. Pengangkatan/pengeluaran karena alasan-alasan medis atau pribadi Telah diketahui angka kontinuitas pemakaian IUD adalah ; a. 70-90 per 100 wanita setelah satu tahun b. Di Indonesia 65-75% akseptor IUD masih tetap memakai IUD-nya dibandingkan 30-40% yang memakai pil oral (Hanafi, 2003) 2. Efektivitas dari bermacam-macam IUD tergantung pada : a. IUD-nya 1) ukuran 2) Bentuk 3) Mengandung Cu atau progesterone b. Akseptor 1) umur 2) paritas 3) frekuensi senggama 3. Dari faktor-faktor yang berhubungan dengan akseptor yaitu umur dan paritas, diketahui : a. Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan ekspulsi dan pengangkutan atau pengeluaran IUD b. Makin muda usia , terutama pada nulligravid, makin tinggi angka ekspulsi dan pengangkutan/pengeluaran IUD.

Indonesian Association for Secure Contraception


BAB IV KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat kita mengambil kesimpulan umum tentang AKDR sebagai berikut :

AKDR bekerja langsung efektif segera setelah pemasangan AKDR dapat keluar dari uterus secara spontan, khususnya selama beberapa bulan pertama Kemungkinan terjadi perdarahan atau spoting beberapa hari setelah pemasangan Perdarahan menstruasi biasanya akan lebih banyak dan lama AKDR tidak melindungi diri terhadap IMS termasuk Virus AIDS

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PEMASANGAN (KB) AKDR/IUD


BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara yang dilihat dari jumlah penduduknya ada pada posisi keempat di dunia, dengan laju pertumbuhan yang masih relatif tinggi. Esensi tugas program Keluarga Berencana (KB) dalam hal ini telah jelas yaitu menurunkan fertilitas agar dapat mengurangi beban pembangunan demi terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Seperti yang disebutkan dalam UU No.10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, definisi KB yakni upaya meningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan kesejahteraan keluarga guna mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Berdasarkan data dari SDKI 2002 2003, angka pemakaian kontrasepsi (contraceptive prevalence rate/CPR) mengalami peningkatan dari 57,4% pada tahun 1997 menjadi 60,3% pada tahun 2003. Pada 2015 jumlah penduduk Indonesia hanya mencapai 255,5 juta jiwa. Namun, jika terjadi penurunan angka satu persen saja, jumlah penduduk mencapai 264,4 juta jiwa atau lebih. Sedangkan jika pelayanan KB bisa ditingkatkan dengan kenaikan CPR 1%, penduduk negeri ini

sekitar

237,8

juta

jiwa

(Kusumaningrum,

2009).

Pada awal tahun 70-an seorang wanita di Indonesia rata-rata memiliki 5,6 anak selama masa reproduksinya. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan angka TFR (Total Fertility Rate) pada periode 2002 sebesar 2,6 artinya potensi ratarata kelahiran oleh wanita usia subur berjumlah 2-3 anak. Pada tahun 2007, angka TFR stagnan pada 2,6 anak. Sekarang ini di samping keluarga muda yang ketat membatasi anak, banyak pula yang tidak mau menggunakan KB dengan alasan masing-masing seperti anggapan banyak anak banyak rezeki. Artinya ada dua pandangan yang berseberangan, yang akan berpengaruh pada keturunan atau jumlah anak masing-masing (Kusumaningrum, 2009).

Menurut SDKI 2002-2003 Pada tahun 2003, kontrasepsi yang banyak digunakan adalah metode suntikan (49,1 persen), pil (23,3 persen), IUD/spiral (10,9 persen), implant (7,6 persen), MOW (6,5 persen), kondom (1,6 persen), dan MOP (0,7 persen) (Kusumaningrum, 2009). Alat kontrasepsi sangat berguna sekali dalam program KB namun perlu diketahui bahwa tidak semua alat kontrasepsi cocok dengan kondisi setiap orang. Untuk itu, setiap pribadi harus bisa memilih alat kontrasepsi yang cocok untuk dirinya. Pelayanan kontrasepsi (PK) adalah salah satu jenis pelayanan KB yang tersedia. Sebagian besar akseptor KB memilih dan membayar sendiri berbagai macam metode kontrasepsi yang tersedia. Faktor lain yang mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi antara lain faktor pasangan (umur, gaya hidup, jumlah keluarga yang diinginkan, pengalaman dengan metode kontrasepsi yang lalu), faktor kesehatan (status kesehatan, riwayat haid, riwayat keluarga, pemeriksaan fisik, pemeriksaan panggul), faktor metode kontrasepsi (efektivitas, efek samping, biaya), tingkat pendidikan, pengetahuan, kesejahteraan keluarga, agama, dan dukungan dari suami/istri. Faktorfaktor ini nantinya juga akan mempengaruhi keberhasilan program KB. Hal ini dikarenakan setiap metode atau alat kontrasepsi yang dipilih memiliki efektivitas yang berbeda-beda. Strategi peningkatan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) seperti IUD, terlihat kurang berhasil, yang terbukti dengan jumlah peserta KB IUD yang terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data BKKBN Provinsi Jawa Tengah, jumlah peserta KB IUD terus menurun dari tahun 2004 yakni 552.233 menjadi 529.805 pada tahun 2005, dan 498.366 pada tahun 2006. Dalam perkembangannya pemakaian IUD memang cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun (Imbarwati, 2009). Berdasarkan data di atas, IUD merupakan salah satu jenis alat kontrasepsi yang menjadi alternative pilihan bagi masyarakat yang ingin ber-

KB. Oleh karena itu penulis tertarik menyusun makalah tentang kontrasepsi IntraUterine Device (IUD).

B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah: 1. Apa definisi kontrasepsi Intrauterine Device? 2. Apa saja jenis-jenis kontrasepsi IUD? 3. Apa kelebihan dan kekurangan alat kontrasepsi IUD? 4. Apa efek samping dan kontara indikasi KB IUD? 5. Bagaimana cara pemasangan IUD?

C. TUJUAN Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu : 1. Mengetahui alat kontrasepsi IUD 2. Mengetahui cara kerja, kelebihan, kelemahan dan kontra indikasi IUD 3. Mengetahui cara kerja dan penggunaan/pemasangan IUD.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. KONTRASEPSI Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau melawan dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma. Pelayanan kontrasepsi (PK) merupakan salah satu komponen dalam pelayanan kependudukan/KB. Selain Pelayanan kontrasepsi (PK) juga terdapat komponen pelayanan kependudukan/KB lainnya seperti komunikasi dan edukasi (KIE), konseling, pelayanan infertilitas, pendidikan seks (sex

education), konsultasi pra-perkawinan dan konsultasi perkawinan, konsultasi genetik, tes keganasan dan adopsi (Kusumaningrum, 2009). Tidak ada satupun metode kontrasepsi yang aman dan efektif bagi semua klien karena masing-masing mempunyai kesesuaian dan kecocokan individual bagi setiap klien. Namun secara umum persyaratan metode kontrasepsi ideal adalah sebagai berikut:

a) Aman, artinya tidak akan menimbulkan komplikasi berat jika digunakan. b) Berdaya guna, dalam arti jika digunakan sesuai dengan aturan akan dapat mencegah kehamilan. c) Dapat diterima, bukan hanya oleh klien melainkan juga oleh lingkungan budaya di masyarakat. d) Terjangkau harganya oleh masyarakat. e) Bila metode tersebut dihentikan penggunaannya, klien akan segera kembali kesuburannya, kecuali untuk kontrasepsi mantap (Kusumaningrum, 2009). Macam-macam metode kontrasepsi 1. Metode Sederhana Kontrasepsi sederhana tanpa alat dapat dengan senggama terputus dan pantang berkala. Sedangkan kontrasepsi dengan alat/obat salah satunya dapat dilakukan dengan menggunakan kondom (Kusumaningrum, 2009). 2. Metode Modern/Efektif a. Kontrasepsi Hormonal

b. Peroral: Pil c. Injeksi / suntikan

d. Subcutis: Implant (alat kontrasepsi bawah kulit = AKBK) e. f. Intra Uterine Devices (IUD, AKDR) Kontrasepsi Mantap

g. Pada wanita: Penyinaran, Operatif (Medis Operatif Wanita/MOW), penyumbatan tuba fallopi secara mekanis. h. Pada pria: Operatif (Medis Operatif Pria/MOP), Penyumbatan vas deferens secara mekanis, penyumbatan vas deferens secara kimiawi (Kusumaningrum, 2009). Berdasarkan lama efektivitasnya, kontrasepsi dapat dibagi menjadi : a. MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang), yang termasuk dalam kategori ini adalah jenis susuk/implant, IUD, MOP, dan MOW.

b. Non MKJP (Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang), yang termasuk dalam kategori ini adalah kondom, pil, suntik, dan metode-metode lain selain metode yang termasuk dalam MKJP (Kusumaningrum, 2009).

B. Definisi IUD Intra Uterine device (IUD) adalah alat kecil berbentuk-T terbuat dari plastik dengan bagian bawahnya terdapat tali halus yang juga terbuat dari plastik. Sesuai dengan namanya IUD dimasukkan ke dalam rahim untuk mencegah kehamilan. Pemasangan bisa dengan rawat jalan dan biasanya akan tetap terus berada dalam rahim sampai dikeluarkan lagi. IUD mencegah sperma tidak bertemu dengan sel telur dengan cara merubah lapisan dalam rahim menjadi sulit ditempuh oleh sperma (Kusmarjadi, 2010). Alat kontrasepsi dalam rahim ( AKDR / IUD ) merupakan alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim yang relatif lebih efektif bila dibandingkan dengan metode pil, suntik dan kondom. Alat kontrasepsi dalam rahim terbuat dari plastik elastik, dililit tembaga atau campuran tembaga dengan perak. Lilitan logam menyebabkan reaksi anti fertilitas dengan waktu penggunaan dapat mencapai 2-10 tahun, dengan metode kerja mencegah masuknya sprematozoa/sel mani ke dalam saluran tuba. Pemasangan dan pencabutan alat kontrasepsi ini harus dilakukan oleh tenaga medis (dokter atau bidan terlatih), dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi namun tidak boleh dipakai oleh perempuan yang terpapar infeksi menular seksual (Imbarwati, 2009). IUD yaitu alat yang terbuat dari plastik yang dimasukkan ke dalam rahim dan mencegah kehamilan dengan cara menganggu lingkungan rahim dan menghalangi terjadinya pembuahan maupun implantasi (ILUNI FKUI, 2010).

AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) atau spiral, atau dalam bahasa Inggrisnya Intra-Uterine Devices, disingkat IUD adalah alat yang dibuat dari polietilen dengan atau tanpa metal/steroid yang ditempatkan di dalam rahim. Pemasangan ini dapat untuk 3-5 tahun dan bisa dilepaskan setiap saat bila klien berkeinginan untuk mempunyai anak. AKDR ini bekerja dengan mencegah pertemuan sperma dengan sel telur (Kusumaningrum, 2009). C. Jenis-jenis Jenis IUD yang dipakai di Indonesia antara lain adalah : a. Copper-T

IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen dimana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan tembaga halus ini mempunyai efek anti fertilitas (anti pembuahan) yang cukup baik (Imbarwati, 2009).

b. Copper-7 IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama dengan lilitan tembaga halus pada IUD Copper-T (Imbarwati, 2009).

c.

Multi load IUD ini terbuat dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjang dari ujung atas ke ujung bawah 3,6 cm. Batang diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektifitas. Ada tiga jenis ukuran multi load yaitu standar, small, dan mini (Imbarwati, 2009).

d. Lippes loop IUD ini terbuat dari polyethelene, berbentuk huruf spiral atau huruf S bersambung. Untuk memudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya Lippes loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning) dan tipe D berukuran 30 mm dan tebal (benang putih). Lippes loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan dari pemakaian IUD jenis ini adalah bila terjadi perforasi, jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastic (Imbarwati, 2009). Spiral bisa bertahan dalam rahim dan menghambat pembuahan sampai 10 tahun lamanya. Setelah itu harus dikeluarkan dan diganti. Bahan spiral yang paling umum digunakan adalah plastic atau plastic bercampur tembaga. Terdapat dua jenis IUD yaitu IUD dengan tembaga dan IUD dengan hormon (dikenal dengan IUS = Intrauterine System). IUD tembaga (copper) melepaskan partikel tembaga untuk mencegah kehamilan sedangkan IUS melepaskan hormon progestin (Kusmarjadi, 2010).

Spiral jenis copper T (melepaskan tembaga) mencegah kehamilan dengan cara menganggu

pergerakan sperma untuk mencapai rongga rahim dan dapat dipakai selama 10 tahun. Progestasert IUD (melepaskan progesteron) hanya efektif untuk 1 tahun dan dapat digunakan untuk kontrasepsi darurat (ILUNI FKUI, 2010).

D. Cara kerja IUD Cara kerja kontrasepasi spiral yaitu: Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri Mencegah sperma dan ovum bertemu dengan membuat sperma sulit Masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi sperma untuk fertilisasi. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi sperma untuk fertilisasi (Muhammad, 2008).

E. Kelemahan dan kelebihan Intra uterine devise (IUD) memiliki keuntungan yaitu: Sangat efektif mencegah kehamilan, sekali pakai terus berfungsi sampai dibuka Sangat efektif. 0,6 - 0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 - 170 kehamilan) Pencegahan kehamilan untuk jangka yang panjang sampai 5-10 tahun Tidak mempengaruhi hubungan seksual Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT-380A Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau abortus (apabila tidak terjadi infeksi) Dapat digunakan sampai menopouse Tidak ada interaksi dengan obat-obat Membantu mencegah kehamilan ektopik Relatif tidak mahal Nyaman (tidak perlu diingat-ingat seperti jika memakai pil) Dapat dibuka kapan saja (oleh dokter) Dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi

Segera berfungsi (AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan) Efek samping yang rendah Dapat menyusui dengan aman Tidak dirasakan oleh pemakai ataupun pasangannya (Kusmarjadi, 2010). Sangat efektif (0,5 1 kehamilan per 100 wanita setelah pemakaian selama satu tahun) Tidak terganggu faktor lupa Metode jangka panjang (perlindungan sampai 10 tahun dengan menggunakan Tembaga T 380A) Mengurangi kunjungan ke klinik Lebih murah dari pil dalam jangka panjang (Kusumaningrum, 2009).

IUD baik untuk wanita yang: Menginginkan kontrasepsi dengan tingkat efektifitas yang tinggi, dan jangka panjang Tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan anak Memberikan ASI Berada dalam masa postpartum dan tidak memberikan ASI Berada dalam masa pasca aborsi Mempunyai resiko rendah terhadap PMS Tidak dapat mengingat untuk minum sebutir pil setiap hari Lebih menyukai untuk tidak menggunakan metode hormonal atau yang memang tidak boleh menggunakannya. Yang benar-benar membutuhkan alat kontrasepsi darurat (Kusumaningrum, 2009).

Kelemahan kontrasepsi IUD yaitu: Tidak boleh dipakai oleh perempuan yang terpapar pada infeksi menular Efek samping umum terjadi perubahan siklus haid, haid lebih lama dan banyak, perdarahan antar mensturasi, saat haid lebih sakit Komplikasi lain: merasa sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan, perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan penyebab anemia, perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangan benar)

Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau yang sering berganti pasangan Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR, PRP dapat memicu infertilitas Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam pemasangan AKDR Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan AKDR. Biasanya menghilang dalam 1 - 2 hari Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas terlatih yang dapat melepas (Muhammad, 2008). Mungkin IUD keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila IUD dipasang segera setelah melahirkan) Perempuan harus memeriksa posisi benang IUD dari waktu ke waktu (Imbarwati, 2009). Sedangkan efeknya antara lain rasa kram dan sakit pinggang sesaat sampai beberapa jam setelah pemasangan. Beberapa wanita mengalami perdarahan ringan dan nyeri sampai beberapa minggu setelah pemasangan. Kadang haid bisa banyak pada IUD tembaga (Kusmarjadi, 2010). Spiral tidak melindungi dari berbagai penyakit yang menular melalui hubungan seksual, termasuk HIV/AIDS. Bukan hanya itu saja, spiral akan memperparah penyakit Anda, menyebabkan komplikasi-komplikasi serius, seperti radang mulut rahim yang bisa membuat Anda kehilangan kesuburan (mandul) (Zahra, 2008). Penggunaan IUD sebaiknya dilakukan pada saat : a. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil.

b. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid. c. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pascapersalinan; setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea laktasi (MAL). d. Setelah terjadinya keguguran (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada gejala infeksi. e. Selama 1 sampai 5 hari setelah sanggama yang tidak dilindungi (Imbarwati, 2009). Kelemahan dari penggunaan IUD adalah perlunya kontrol kembali untuk memeriksa posisi benang IUD dari waktu ke waktu. Waktu kontrol IUD yang harus diperhatikan adalah : a. 1 bulan pasca pemasangan

b. 3 bulan kemudian c. setiap 6 bulan berikutnya

d.

bila terlambat haid 1 minggu perdarahan banyak atau keluhan istimewa lainnya (Imbarwati, 2009).

F. Efek Samping Seminggu pertama, mungkin ada pendarahan kecil. Ada perempuan-perempuan pemakai spiral yang mengalami perubahan haid, menjadi lebih berat dan lebih lama, bahkan lebih menyakitkan. Tetapi biasanya semua gejala ini akan lenyap dengan sendirinya sesudah 3 bulan (Zahra, 2008). Perdarahan dan kram selama minggu-minggu pertama setelah pemasangan. Kadang-kadang ditemukan keputihan yang bertambah banyak. Disamping itu pada saat berhubungan (senggama) terjadi expulsi (IUD bergeser dari posisi) sebagian atau seluruhnya. Pemasangan IUD mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman dan dihubungkan dengan resiko infeksi rahim (Kusumaningrum, 2009). Masalah kesehatan yang paling berbahaya akibat

pemakaian spiral adalah terjadinya radang mulut rahim. Kebanyakan ini terjadi pada masa 3 bulan pertama, tetapi umumnya bukan akibat spiral itu sendiri. Pada penderitanya sudah terkena infeksi ketika spiral dipasang. Inilah sebabnya Anda harus memeriksakan kondisi seputar vagina dan rahim sebelum memasang spiral, sehingga jika ada tanda-tanda infeksi pemasangan spiral bisa dibatalkan. Jika kondisi mulut rahim biasa-biasa saja tapi tak urung Anda terkena radang juga, barangkali pemasang spiral (perawat, bidan, dokter, atau siapa saja di pos pelayanan KB atau puskesmas) tidak memasang spiral dalam kondisi steril atau benar-benar bersih dan aman. Hati-hatilah memilih di mana saja atau pada siapa meminta layanan ini (Zahra, 2008).

G. Kontra Indikasi Wanita yang boleh menggunakan kontrasepsi IUD yaitu: Usia reproduktif Keadaan nulipara Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang Perempuan menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi Setelah melahirkan dan tidak menyusui Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi Risiko rendah dari IMS Tidak menghendaki metoda hormonal

Tidak menyukai mengingat-ingat minum pil setiap hari Tidak menghendaki kehamilan setelah 1 - 5 hari senggama Perokok Gemuk ataupun kurus (Muhammad, 2008). Jangan memakai spiral jika:

Sedang hamil atau kemungkinan hamil berisiko tinggi terkena penyakit yang menular lewat hubungan seks (bila mempunyai pasangan seksual lebih dari satu, atau bila suami/pasangan punya pasangan lain) pernah mengalami infeksi saluran peranakan atau rahim, atau infeksi sesudah persalinan/sesudah aborsi Pernah hamil di luar rahim (hamil dalam saluran fallopian) Mendapat haid yang berat (darah yang keluar sangat banyak) diserat rasa sakit yang hebat sangat kekurangan darah merah (anemia) belum pernah hamil (Zahra, 2008). Kontra indikasi wanita pengguna kontrasepsi IUD yaitu: Hamil atau diduga hamil Infeksi leher rahim atau rongga panggul, termasuk penderita penyakit kelamin Pernah menderita radang rongga panggul Penderita perdarahan pervaginam yang abnormal Riwayat kehamilan ektopik Penderita kanker alat kelamin (Kusumaningrum, 2009). Kondisi dimana seorang wanita tidak seharusnya menggunakan IUD adalah : Kehamilan Sepsis Aborsi postseptik dalam waktu dekat Abnormalitas anatomi yang mengganggu rongga rahim Perdarahan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya Penyakit tropoblastik ganas Kanker leher rahim, kanker payudara, kanker endometrium Penyakit radang panggul PMS (premenstrual syndrome) 3 bulan terakhir dan imunokompromise (penurunan kekebalan tubuh) TBC panggul (ILUNI FKUI, 2010).

Wanita yang tidak diperkenankan menggunakan IUD adalah: Sedang hamil Perdarahan vagina yang tidak diketahui Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis) Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septik Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yangdapat mempengaruhi kavum uteri Penyakit trofoblas yang ganas Diketahui menderita TBC pelvik Kanker alat genital Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm (Muhammad, 2008).

H. Cara Penggunaan Atau Pemasangan IUD dapat dipasang kapan saja selama periode menstruasi bila wanita tersebut tidak hamil. Untuk wanita setelah melahirkan, pemasangan IUD segera (10 menit setelah pengeluaran plasenta) dapat mencegah mudah copotnya IUD. IUD juga dapat dipasang 4 minggu setelah melahirkan tanpa faktor risiko perforasi (robeknya rahim). Untuk wanita menyusui, IUD dengan progestin sebaiknya tidak dipakai sampai 6 bulan setelah melahirkan. IUD juga dapat dipasang segera setelah abortus spontan triwulan pertama, tetapi direkomendasikan untuk ditunda sampai involusi komplit setelah triwulan kedua abortus. Setelah IUD dipasang, seorang wanita harus dapat mengecek benang IUD setiap habis menstruasi (ILUNI FKUI, 2010). Prosedur Kerja Pemasangan IUD Kebijaksanaan : a)Petugas harus siap ditempat. b) Harus ada permintaan dan persetujuan dari calon peserta. c)Ruang pemeriksaan yang tertutup, bersih, dan cukup ventilasi. d) Alat-alat yang tersedia : a. Gyn bed

b. Timbangan berat badan c. Tensimeter dan stetoskop

d. IUD set steril e. Bengkok

f.

Lampu

g. Kartu KB (kl, K IV) h. Buku-buku administrasi dan registrasi KB i. Meja dengan duk steril Sym speculum Sonde rahim Lidi kipas dan kapas first aid secukupnya. Busi / dilatator hegar Kogel tang Pinset dan gunting Langkah-langkah : 1) Memberi penjelasan kepada calon peserta mengenai keuntungan, 2) Efek samping dan cara menanggulangi efek samping. 3) Melaksanakan anamnese umum, keluarga, media dan kebidanan. 4) Melaksanakan mengukur tensimeter. 5) Mempersilakan kemih. 6) Siapkan alat-alat yang diperlukan. 7) Mempersilakan calon peserta untuk berbaring di bed gynaecologi calon peserta untuk mengosongkan kandung pemeriksaan umum meliputi timbang badan,

dengan posisi Lithotomi. 8) Petugas cuci tangan 9) Pakai sarung tangan kanan dan kiri 10) Bersihkan vagina dengan kapas first aid 11) Melaksanakan posisi uterus. 12) Pasang speculum sym. 13) Gunakan kogel tang untuk menjepit cervix. 14) Masukkan dan bentuk rahim. sonde dalam rahim untuk menentukan ukuran, posisi pemeriksaan dalam untuk menentukan keadaan

15)

Inserter dalam

yang

telah rahim,

berisi kemudian

AKDR plugger

dimasukkan di dorong

perlahan-lahan sehingga

ke AKDR

rongga

masuk ke dalam inserter dikeluarkan. 16) Gunting AKDR sehingga panjang benang 5 cm 17) Speculum mulut rahim. 18) Peserta dirapikan dan dipersilakan berbaring 5 menit 19) Alat-alat dibersihkan 20) Petugas cuci tangan 21) Memberi penjelasan kepada peserta gejala-gejala yang mungkin terjadi / dialami setelah pemasangan AKDR dan kapan harus kontrol 22) Membuat nota pelayanan 23) Menyerahkan nota pelayanan kepada peserta untuk diteruskan ke bagian administrasi pelayanan. 24) Mencatat data pelayanan dalam kartu dan buku catatan untuk sym dilepas dan benang AKDR di dorong ke samping

dilaporkan ke bagian Rekam Medik (Imbarwati, 2009). Catatan : Bila pada waktu pamasangan terasa ada obstruksi, jangan dipaksa (hentikan) konsultasi dengan dokter. Bila sonde masuk ke dalam uterus dan bila fundus uteri tidak terasa, kemungkinan terjadi perforasi, keluarkan sonde, dan konsultasikan ke dokter. Keluarkan sonde dan lihat batas cairan lendir atau darah, ini adalah panjang rongga uterus. Ukuran normal 6 7 cm. Bila ukuran uterus kurang dari 5 cm atau lebih dari 9 cm jangan dipasang (Imbarwati, 2009).

Prosedur Pencabutan IUD 1. Tujuan umum : Agar pasien yang akan melepas AKDR mendapat pelayanan yang cepat, puas, dan sesuai dengan kebutuhan. 2. Tujuan khusus : Mempersiapkan ibu agar cepat mengenal efek samping dilepaskan AKDR. 3. Kebijaksanaan :

Petugas harus siap ditempat Harus ada permintaan dan persetujuan dari calon peserta. Ruang pemeriksaan yang tertutup, bersih, dan cukup ventilasi. 4. Alat-alat yang harus tersedia lengkap sesuai dengan standart yang ditentukan : a. Meja dengan alas duk steril.

b. Sarung tangan kanan dan kiri c. Lidi kapas, kapas first aid secukupnya.

d. Cocor bebek / speculum e. f. Tampon tang. Tutup duk steril

g. Bengkok h. Lampu i. j. Timbangan berat badan Tensimeter dan

k. Stetoskop Langkah-langkah 1. Memberi penjelasan kepada calon peserta mengenai keuntungan, efek samping dan cara menanggulangi efek samping. 2. Melaksanakan anamnese umum, keluarga, media dan kebidanan. 3. Melaksanakan pemeriksaan umum meliputi timbang badan, mengukur tensimeter. 4. Siapkan alat-alat yang diperlukan. 5. Mempersilakan calon peserta untuk berbaring di bed gynaecologi dengan posisi Lithomi. 6. Bersihkan vagina dengan lysol 7. Melaksanakan pemeriksaan dalam untuk menentukan keadaan dan posisi uterus. 8. Pasang speculum sym. 9. Mencari benang IUD kemudian dilepas dengan tampon tang 10. Setelah IUD berhasil dilepas, alat-alat dibereskan. 11. Pasien dirapikan kembali 12. Memberi penjelasan kepada peserta gejala-gejala yang mungkin

terjadi / dialami setelah AKDR dilepas dan kapan harus kontrol

13.

Menyerahkan dengan nota

nota

pelayanan

dan

menerima

pembayaran

sesuai

14. Mencatat data pelayanan dalam kartu dan buku catatan, register KB untuk dilaporkan ke bagian Rekam Medik (Imbarwati, 2009).

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Alat kontrasepsi susuk atau implan berisi lovonorgestrel, terdiri dari 6 kapsul yang diinsersikan di bawah kulit lengan atas bagian dalam, kira-kira 6-10 cm dari lipat siku. Indikasi penggunaan KB susuk adalah pemakaian KB yang jangka waktu lama, masih berkeinginan punya anak lagi, tapi jarak antara kelahirannya tidak terlalu dekat.tidak dapat memakai jenis KB yang lain. Banyak alasan dapat dikemukakan mengapa implant dikembangkan dan diperkenalkan sebagai cara KB yang baru. Alasan-alasan tersebut antara lain implant merupakan cara KB yang sangat efektif dalam mencegah kehamilan dan dapat mengembalikan kesuburan secara sempurna, tidak merepotkan. Setelah pemasangan, akseptor tidak perlu melakukan atau memikirkan apaapa misalnya pada penggunaan pil. Implant merupakan cara KB yang ideal bagi ibu yang tidak amau mempunyai anak lagi, akan tetapi belum siap untuk melakukan sterilisasi

B. Saran Bila Anda ingin menghentikan pemakaian spiral, segera kunjungi pekerja kesehatan yang memasangnya, atau yang terlatih. Jangan mencoba mencopot spiral sendiri di rumah. (ditambah lagi yooo) Read more: http://ilmu-pasti-pengungkap-kebenaran.blogspot.com/2011/12/manajemen-asuhankebidanan-pemasangan.html#ixzz1zGzDslRn