Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Konstipasi merupakan hal yang sering dialami oleh setiap orang. Hal ini disebabkan oleh jenis makanan yang dikonsumsi, jumlah air yang diminum, dan kondisi patofisiologis lainnya. Penyembuhan konstipasi tidak selalu dalam waktu cepat, oleh karena itu penggunaan tanaman-tanaman herbal yang berfungsi sebagai laksansia sangat bermanfaat untuk menangani kasus ini. Berbagai sediaan yang terdapat di pasaran mengandung beberapa jenis tumbuhan obat yang telah terbukti secara klinis dapat memperlancar terjadinya defekasi maupun berbagai jenis tumbuhan yang memiliki aktivitas farmakologi atau kandungan kimianya belum secara jelas diketahui, namun bermanfaat secara klinis. Makalah ini berisi berbagai jenis tanaman herbal spesifik disertai dengan bagian tanaman yang digunakan, yang berkhasiat sebagai laksansia. I.2 Tujuan Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mngetahui penggunanaan berbagai tanaman herbal yang berkhasiat sebagai laksansia. I.3 Metode Penulisan Makalah ini disusun berdasarkan referensi dari beberapa buku elektronik, jurnal ilmiah, dan berbagai situs di internet. Data mengenai sumber acuan yang kami pergunakan dicantumkan lengkap pada daftar pustaka di halaman terakhir dari makalah ini. I.4 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari tiga bab, yaitu: BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I.2 Tujuan Penulisan I.3 Metode Penulisan

I.4 Sistematika Penulisan BAB II ISI II. 1 Definisi dan Penggunaan Laksansia II. 2 Penggolongan Laksansia II. 3 Simplisia-simplisia Laksansia II.3.1 Curcumae rhizoma II.3.2 Zingiberis rizhoma II.3.3 Paederia foetida L. II.3.4 Curcuma domestica II.3.5 Sennae obtusifolia II.3.6 Centella asiatica II.3.7 Baeckea frutescens L II.3.8 Croton tiglium L. II.3.9 Tamarindi Fructus ( Buah Asam) II.3.10 Camellia sinensis (Teh Hijau) II.3.11 Kaempferiae Rhizoma (Kencur) II.3.12 Corrigen II.3.13 Carbo Ligni II.3.14 Aetherol Foeniculi II.3.15 Coptici Flos BAB III PENUTUP III.1 Simpulan III.2 Saran DAFTAR PUSTAKA

BAB II ISI

II.1 Definisi dan Penggunaan Laksansia Laksansia atau obat pencahar merupakan zat-zat yang dapat menstimulasi gerakan peristaltik usus sebagai refleks dari rangsangan langsung terhadap dinding usus dan dengan demikian menyebabkan atau mempermudah buang air besar (defekasi) dan meredakan sembelit. Adapun sembelit atau konstipasi merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan gerakan peristaltik usus yang terganggu, sukar, dan berkurang. Keadaan ini dapat disebabkan oleh makanan yang kurang sesuai atau kurangnya akivitas fisik ataupun faktor-faktor yang bersifat subjektif misalnya tegang, feses terlalu keras, dan rasa sakit pada waktu buang air besar. Di samping sembelit, laksansia juga digunakan pada sejumlah keadaan tertentu, yaitu: Gangguan usus teriritasi (IBS) dengan keluhan sakit di bagian bawah perut tanpa adanya kelainan organik Untuk mengosongkan usus (diagnosis) sebelum menjalani pembedahan atau pemeriksaan dengan sinar Rontgen daei saaluran lambung-usus, kandung empedu dan sebagainya Pada peristiwa keracunan oral akut guna mengeluarkan zat racunnya dari tubuh secepat mungkin. Dalam hal ini terutama digunakan sebagai pencahar garam-aram anorganik seperti MgSO4 dan natrium sulfat Terapi obat cacing, sebelum atau sesudah penggunaan obat cacing, untuk mengekspose parasit-parasit terhadap obat cacing atau untuk mengeluarkan cacing dan sisa-sisa obat cacing bila diberikan obat sesudahnya. II.2 Penggolongan Laksansia Tanaman yang digunakan untuk mengatasi konstipasi adalah yang bersifat laksatif, stimulan yang bekerja pada saluran pencernaan, bahan yang

dapat membentuk massa (biasanya mengandung serat) dalam usus, dan dapat menarik air ke dalam usus sehinga feses menjadi lembek. Laksansia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu laksan pembentuk massa, laksan osmotik, dan laksan stimulan. Adapum masing-masing mekanisme kerjanya dalam mengatasi sembelit adalah sebagai berikut: Laksan Pembentuk Massa Beberapa zat dalam tanaman dapat membentuk massa yang tanaman kaya dengan polisakarida yang dapat mengembang dalam saluran pencernaan. Laksatif pembentuk massa tidak akan melewati saluran cerna atau diabsorpsi di saluran pencernaan melainkan akan melewati saluran pencernaan tanpa mengalami perubahan. Perbedaan zat pembentuk massa dan zat pengembang adalah bahan pembentuk massa mengandung serat dalam jumlah besar, sedangkan bahan pengemban berasal dari biji-bijian yang memiliki lapisan tebal polisakarida dalam bagian luarnya. Kedua jenis senyawa ini dapat mengembang hingga ukuran tertentu melalui proses pengambilan air. Menurut teori konvensional, bahan pengembang hanya mencakup tanaan yang dapat membentuk musilago atau gel. Zat pembentuk massa dikonsumsi seperti komponen makanan lainnya,, terdiri dari karbohidrat yang sulit dicerna dan diuraikan oleh bakteri usus seperti pektin. Zat ini merangsang aktivitas usus melalui aksinya memproduksi massa, dan mempercepat transit feses melalui saluran pencernaan. Zat pengembang mirip dengan zat pengental yang digunakan dalam memproses makanan dan zat pembentuk musilago dalam dunia farmasi dan obat-obatan. Mucilaginous swelling agent tidak terkandung dalam makanan melainkan hanya ditemukan dalam sediaan obat seperti psylliumhusk atau dalam produk herbal mentah seperti karaya gum. Seperti zat pembentuk massa, Mucilaginous swelling agent terbuat dari karbohidrat yang sulit dicerna tetapi perbedaan dari keduanya yaitu bahwa Mucilaginous swelling agent tidak atau sedikit saja didegradasi oleh flora usus. Contoh tanaman pembentuk massa antara lain:

a) Lini semmen (linseed) dari tanaman Linum usitatissium L. b) Plantaginis Ovatae semen (Isphagula Seed) dari tanaman Plantago ovata Forssk., (Plantago isphagula Roxb.) c) Psylli Semen (Psyllium seed) dari tanaman Plantago afra L., (Plantago psyllium L) atau Plantago indica Laksan Osmotik Gambaran dari laksatif osmotik adalah garam-garam tertentu yang sangat larut dalam air tetapi sulit dicerna, misalnya natrium sulfat dan magnesium sulfat. Garam-garam ini menyimpan air dari dalam usus dengan sifat osmotiknya sehingga meningkatkan kandungan air dalam feses. Bila mengkonsumsi larutan hipertonik, air diambil dari tubuh dan disimpan dalam usus. Mekanisme yang sama terjadi pula pada gula yang tidak dapat diserap (manosa) dan gula alkohol (manitol dan sorbitol) yang berasal dari tanaman. Pada zat-zat ini terjadi mekanisme sekunder yang sama yaitu gula gula yang tidak diserap masuk ke usus tanpa mengalami perubahan, di mana diurai menjadi asam lemak rantai pendek. Proses ini menghasilkan asam asetat, asam butirat, dan asam laktat yan merangsang peristaltik dan meningkatkan retensi osmotik air. Poliferasi flora normal usus mungkin berperan pula dalam kerja usus dengan meningkatkan massa feses. Gambaran dari kelompok laksatif ini yaitu laktulose, sebuah produk transformasi sintetik dari laktosa yang bukan merupakan senyawa tumbuhan. Manitol berasal dari tumbuhan dan banyak ditemukan pada tanaman. Rumput laut mengandun manitol dalam jumlah cukup besar dan manna, getah kering dari manna ash (Flaxinus ornus) mengandung manitol hingga 13%. Manitol untuk obat merupakan zat sintetik yang dihasilkan dari hidrasi invertosa. Sorbitol merupakan gula alkohol yang juga terdapat dalam tanaman. Konsentrasi relatif tinggi ditemukan pada apel, pir, plum, aprikot, ceri, dan terutama mountain ash berry (Sorbus aucuparia). Tetapi produk komersialnya merupakan zat sintetik yang dihasilkan dari reduksi

glukosa. Sorbitol bertindak sebagai laksatif ringan bila digunakan dalam dosis oral 20-30 g. Laksan Stimulan Bila zat pembentuk massa beraksi terutama pada efek fisik dalam lumen usus, laksan stimulan (terutama mengandung antranoid) bereaksi langsung pada mukosa usus. Beberapa mekanisme yang terjadi pada efek ini adalah: a) Refleks dari stimulasi reseptor pada mukosa dan submukosa mengakibatkan peningkatan dorongan motilitas usus, waktu transit yang lebih pendek, dan penurunan jumlah absorpsi air dan elektrolit b) Peningkaan cAMP dalam sel usus. Ketika konsentrai kalsium intraseluler berubah, klorida masuk dalam lumen usus, diikuti oleh natrium dan air untuk proses osmosis dan menjaga elektronetralisasi (secretagogic action) c) Kebocoran kompleks persambungan antar-antar sel endotelial usus besar. Natrium dan air yang telah diproduksi dapat masuk kembali ke dalam lumen usus melalui kompleks persambungan yang kurang baik d) Blokade pompa natrium (Na-K-ATPase) pada epitel usus. Hal ini menghambat absorpsi natrium dan air (aksi antiabsorpsi). Efek laksatif dari tanaman dapat disebabkan karena adanya senyawa antranoid, sehingga produk komersial yang mengandung antranoid perlu distandarisasi. Dosis obat herbal yang diberikan berdasarkan jumlah kandungan aktifnya antara lain antranoid dan tidak berdasarkan berat simplisia kering atau ekstrak kasarnya. Secara farmakologi glikosida antanoid bersifat inert, masuk ke usus tanpa menalami metabolisme, kemudian di usus dimetabolisme oleh bakteri usus menghasilkan antron bebas yang diduga merupakan zat aktif. sebagian besar metabolit dieksresika ke dalam feses, sebagian kecil diabsorpsi dan dapat ditemukan di urin dalam bentuk konjugat glukoronida atau sulfat, sehingga urin menjadi berwarna kuning tua bahkan merah bila positif terjadi reaksi alkali.

II.3 Simplisia-simplisia Laksansia Beberapa simplisia di bawah ini merupakan simplisia-simplisia yang terkandung dalam sediaan jamu yang beredar di Indonesia sebagai laksansia. Simplisia-simplisia tersebut adalah: II.3.1 Curcumae rhizoma Simplisia curcuma rhizoma (rimpang temulawak) berupa potongan rimpang yang telah dikeringkan berasal dari tanaman Curcuma xanthorrhiza Roxb., suku Zingiberaceae. Kandungan utama berupa kurkuminoid (1-2%), yaitu kurkumin dan

monodesmetoksikurkumin (tidak kurang dari 1,0% dihitung sebagai kurkumin), bisdesmetoksimkurkumin ditemukan dalam jumlah yang sanat kecil bahkan kadang tidak terdeteksi. Kandungan lain adalah minyak atsiri: seskuiterpen 3-12% (tidak kurang dari 5%) terutama ar-kurkumen, xanthorhizol, -kurkumen, dan germakron. Digunakan sebagai menaikkan pengeluaran empedu, sembelit, ambeien, dan diare. Menurut Luckner (1967) minyak atsiri temulawak bekerja sebagai koleretik (meningkatkan produksi empedu), cairan empedu ini membantu emulsi lemak dalam duodenum dan meningkatkan gerak perstaltik. II.3.2 Zingiberis rizhoma Berasal dari tumbuhan Jahe (Zingiberis officinale Roscoe., suku Zingiberaceae.). Simplisia yang digunakan adalah rimpang yang mengandung 0,25-3,3% minyak atsiri. Adapun kandungan monoterpen utama adalah sitral a dan sitral b, serta seskuiterpen (30-70%) yaitu gingerols, shogaols, -zingiberene, -bisabolene, sesquiphellandrene, dan ar-kurkumen. Digunakan sebagai

karminatif, antiemetik, antiinflamasi, antiemetik, antiplatelet, stimulan saluran cerna. Pemberian secara per oral ekstrak jahe yang mengandung shaogol dan gingerol meningkatkan motilitas saluran cerna pada tikus. Namun bila dibandingkan dengan domperidon dan

metroklopramid, aktivitasnya lebih rendah. Dilaporkan bahwasanya gingerol memiliki aktivitas antiserotoninergik dan diduga

bahwasanya efek jahe terhadap motilitas saluran cerna adalah disebabkan oleh aktivitas ini. Berdasarkan penelitian, pemilihan rute pemberian mempengaruhi motilitas saluran cerna. Contohnya, shogaol dan gingerol menghambat motilitas usus ketika diberikan secara intravena, namun motilitasnya meningkat saat setelah diberikan secara per oral. II.3.3 Paederia foetida L. Paederia foetida L merupakan semak semusim, membelit, batang masif beruas, berakar, dari buku-buku tumbuh akar, warna cokelat. Herba tahunan, berbatang memanjat, pangkal berkayu, panjang 3-5 m. Tumbuh liar di lapangan terbuka, semak belukar atau di tebing sungai, kadang dirambatkan dipagar halaman sebagai tanaman obat dan dapat ditemukan dari 1-2. 1 00 m dpi. Perbanyakan dengan stek batang atau biji. Bagian yang digunakan sebagai simplisia adalah daunnya. Daun Paederia foetida L mengandung glikosida iridoid asperulin, aukobin, paederosid dan arbutin, triterpen dan sistosteral, paederon dan paederolon, peifridenalol asetat, metal merkaptan, alkaloid indol; Paederina, Asperuloside, deacetylasperuloside, scandoside, paederosidic acid dan gama-sitosterol, arbutin, oleanolic acid dan minyak menguap. Tanaman ini biasa digunakan sebagai laksansia. Minyak jarak bekerja dengan mengurangi absorbsi cairan, meningkatkan mempengaruhi sekresi pada usus usus halus halus. dan besar, dan jarak

kontraktilitas

Minyak

menyebabkan diare karena kandungan aktifnya, yakni asam resinoleat. Beberapa mekanisme diduga terlibat dalam efek minyak jarak sebagai penyebab diare. Hal tersebut antara lain

penghambatan aktivitas Na+, K+-ATP-ase yang mengurangi absorpsi cairan, aktivasi adenilat siklase atau Camp-mediated

active secretion, stimulasi pembentukan prostaglandin, dan yang terbaru meliputi peranan nitrit oksida. Walaupun beberapa mekanisme telah diperkirakan, namun untuk mendefinisikan mekanisme yang paling tepat belum dapat dimungkinkan. Prostaglandin mempengaruhi fungsi patologis dari saluran cerna dan efek minyak jarak berdampak pada prostaglandin. Pada tikus, pemberian 0.1-0.3 ml menyebabkan diare setelah 1-2 jam pemberian. Pada dosis 1 ml, respon diare terjadi kurang dari satu jam. Ekstrak Paederia foetida menggunakan etanol menyebabkan diare pada dosis 100-500 mg/kg berat badan, namun menyebabkan efek anti diare pada pemberian 500mg/kg berat badan. Hal ini diduga karena terjadi penghambatan prostaglandin. II.3.4 Curcuma domestica Curcuma domestica merupakan tanaman yang terdiri atas rimpang Curcuma domestica Val. Mempunyai bau khas aromatik, rasa agak pahit, agak kuning pedas, jingga warnanya kecoklatan. kuning Bagian jingga yang

kemerahansampai

dimanfaatkan adalah rhizom. Beberapa kandungan kimia dari rimpang kunyit yang telah diketahui yaitu minyak atsiri sebanyak 6% yang terdiri dari golongan senyawa monoterpen dan sesquiterpen (meliputi

zingiberen, alfa dan beta-turmerone), zat warna kuning yang disebut kurkuminoid sebanyak 5% (meliputi kurkumin 50-60%, monodesmetoksikurkumin dan bidesmetoksikurkumin), protein, fosfor, kalium, besi dan vitamin C. Dari ketiga senyawa kurkuminoid tersebut, kurkumin merupakan komponen terbesar. Sering kadar total kurkuminoid dihitung sebagai % kurkumin, karena kandungan kurkumin paling besar dibanding komponen kurkuminoid lainnya. Karena alasan tersebut beberapa penelitian baik fitokimia maupun farmakologi lebih ditekankan pada kurkumin.

Beberapa penelitian secara in vitro dan in vivo menunjukkan, kunyit memunyai aktivitas sebagai antiinflamasi (antiperadangan), aktivitas terhadap peptic ulcer, antitoksik, antihiperlipidemia, dan aktivitas antikanker. Ekstrak kurkuma juga dapat mencegah hepatotoksisitas yang diinduksi senyawa kimia CCl4

(karbontetraklorida) dengan mekanisme berikatan dengan protein dan reseptor pada permukaan membran sel menggantikan senyawa toksik dan mencegah kerusakan sel. Ekstrak kurkuma dapat menurunkan semua komposisi lipid (trigliserida, pospolipid dan kolesterol) pada aorta, dan kadar trigliserida pada serum secara ex vivo. Kurkumin dapat menghambat agregasi platelet (PAF) yang distimulasi mediator endogen seperti faktor agregasi platelet dan asam arakhidonat melalui penghambatan produksi tromboxan (TXA2) dan memblok pelepasan second messenger Ca2+. Kunyit dapat mencegah kanker usus dengan cara menginhibisi enzimenzim lipid peroksidase dan siklooksigenase-2 yang merupakan implikasi perkembangan kanker dan menginduksi enzim glutation S-transferase. Induksi siklooksigenase-2 dihubungkan dengan produksi prostaglandin (hormon pengatur gerakan otot). Kunyit juga menunjukkan aktivitas sebagai antioksidan yang dihubungkan dengan mekanisme pemadaman singlet O2 yang dapat merusak DNA, namun sifat antioksidan ini bukan sebagai penghambatan superoksida anion atau radikal bebas hidroxil. Serbuk kunyit yang diberikan secara oral pada 116 pasien dengan kondisi dispepsia, flatulen, dan asam lambung

menunjukkan respon yang membaik secara signifikan dibanding kelompok kontrol. Pasien menerima 500 mg serbuk obat empat kali sehari selama tujuh hari, uji klinik yang diukur adalah efek obat pada tukak peptik yang menunjukkan, rimpang kunyit

meningkatkan penyembuhan tukak dan menurunkan sakit pada bagian perut. Uji klinik kedua yang diukur adalah menunjukkan, kurkumin efektif sebagai antiinflamasi. Dalam waktu dua minggu,

10

dilakukan pengujian secara acak pada 18 pasien dengan penyakit reumathoid arthritis yang terbagi dalam tiga kelompok pemberian yang berbeda yaitu diberikan kurkumin (1200 mg/hari),

fenilbutazon (30 mg/hari), dan kelompok kontrol. Hasil yang didapat yaitu kelompok yang diberi kurkumin dan fenilbutazon menunjukkan respon antiinflamasi jauh lebih baik daripada kelompok kontrol. Serbuk kunyit yang diberikan secara oral pada 116 pasien dengan kondisi dispepsia, flatulen, dan asam lambung

menunjukkan respon yang membaik secara signifikan dibanding kelompok kontrol. Pasien menerima 500 mg serbuk obat empat kali sehari selama tujuh hari, uji klinik yang diukur adalah efek obat pada tukak peptik yang menunjukkan, rimpang kunyit

meningkatkan penyembuhan tukak dan menurunkan sakit pada bagian perut. Uji klinik kedua yang diukur adalah menunjukkan, kurkumin efektif sebagai antiinflamasi. Dalam waktu dua minggu, dilakukan pengujian secara acak pada 18 pasien dengan penyakit reumathoid arthritis yang terbagi dalam tiga kelompok pemberian yang berbeda yaitu diberikan kurkumin (1200 mg/hari),

fenilbutazon (30 mg/hari), dan kelompok kontrol. Hasil yang didapat yaitu kelompok yang diberi kurkumin dan fenilbutazon menunjukkan respon antiinflamasi jauh lebih baik daripada kelompok kontrol. II.3.5 Sennae obtusifolia Tanaman berupa perdu kecil yang tumbuh tegak dengan tinggi sekitar 1 m. Tumbuh liar di pinggir kota, daerah tepi sungai, semak belukar dan kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias. Batangnya lurus, pangkal batang berkayu, banyak bercabang, daerah ujung batang berambut jarang. Daun letak berseling, berupa daun majemuk menyirip ganda terdiri dari 3 pasang anak daun yang bentuknya bulat telur sungsang, panjang 2-3 cm, lebar 1 1/2 3 cm ujung agak membulat dan pangkal daun melancip, warna 11

hijau, permukaan bawah daun berambut halus. Bunganya banyak berwarna kuning tersusun dalam rangkaian tandan yang tumbuh pada ketiak daun. Buahnya buah polong berkulit keras berisi 20 30 biji yang bentuknya lengkung berwarna coklat kuning mengkilat. Tanaman perdu ini berasal dari Amerika tropik dan menyukai tempat terbuka atau agak teduh dapat tumbuh di dataran rendah sampai 800 m di atas permukaan laut. Bagian yang dimanfaatkan adalah daun. Kandungan utama pada daun adalah antranoid, terutama tipe bi-antron. Sennae obtusifolia berkhasiat sebagai laksatif, radang mata merah, luka kornea (ulcus cornea), rabun senja, glaukoma, tekanan darah tinggi, hepatitis, sirosis, ascites. -glikosida adalah prodrug yang diabsorpsi dan dicerna pada saluran cerna bagian atas. -glikosida ini dicerna secara enzimattis oleh bakteri di kolon menjadi metabolit aktifnya rheinanthrone. Rheinanthrone adalah metabolit laksatif. Efeknya terutama disebabkan oleh kerjanya pada motilitas usus besar dengan menghambat kontraksi stasioner dan peransangannya. Hal tersebut berakibat pada percepatan gerakan daeri usus halus, dan karena waktu kontak yang relatif singkat, terjadi pengurangan jumlah air yang diabsorpsi di lumen. Selain itu, stimulasi sekresi klorida aktif meningkatkan jumlah elektrolit dan air dalam usus halus. Dosis Sennae obtusifolia adalah sebesar 20-30mg hidroksiantrasena derivat harian, dihitung sebagai Sennoside B. II.3.6 Centella asiatica Pegagan (Centella asiatica) adalah tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, serta pematang sawah. Pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dan berbunga sepanjang tahun. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan lingkungannya sesuai hingga dijadikan pennutup tanah. Jenis pegagan yang banyak dijumpai adalah pegagan merah dan pegagan hijau. Pegagan merah dikenal juga dengan antanan kebun

12

atau antanan batu karena banyak ditemukan di daerah bebatuan, kering dan terbuka. Pegagan merah tumbuh merambat dengan stolon (geragih) dan tidak mempunyai batang, tetapi mempunyai rhizoma (rimpang pendek). Sedangkan pegagan hijau sering banyak dijumpau di daerah pesawahan dan disela-sela rumput. Tempat yang disukai oleh pegagan hijau yaitu tempat agak lembap dan terbuka atau agak ternaungi. Selain itu, tanaman yang mirip pegagan atau antanan ada empat jenis yaitu antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung dan antanan air. Bagian yang dimanfaatkan adalah herba. Pegagan yang simplisianya dikenal dengan sebutan Centella Herba memiliki kandungan asiaticoside, brahmoside, thankuniside, brahmic acid,

isothankuniside, brahminoside,

madecassoside, madasiatic acid,

meso-inositol,

centelloside,

carotenoids, hydrocotylin, vellarine, tanin serta garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Diduga glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside merupakan antilepra dan penyembuh luka yang sangat luar biasa. Zat vellarine yang ada memberikan rasa pahit. Pegagan berasa manis, bersifat mendinginkan, memiliki fungsi membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika), penurun panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haemostatika), meningkatkan syaraf memori, anti bakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensif, insektisida, antialergi dan stimulan. Saponin yang ada menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan (menghambat terjadinya keloid). Manfaat pegagan lainnya yaitu meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki; mencegah varises dan salah urat; meningkatkan daya ingat, mental dan stamina tubuh; serta menurunkan gejala stres dan depresi. pegagan pada penelitian di RSU dr. Soetomo Surabaya dapat dipakai untuk menurunkan

13

tekanan darah, penurunan tidak drastis, jadi cocok untuk penderita usia lanjut. Ekstrak centella herba efektif untuk mengobati ulkus pada usus halus. Pemberian ekstrak herba secara oral pada tikus memberikan hasil penurunan ulkus dengan bergantung pada dosis. Efektivitas anti ulkus setara dengan famotidine. Mekanismenya diduga terkait dengan aktivitas penekanan system saraf pusat yang meningkatkan konsentrasi GABA pada otak. Dosis harian adalah 0.330.68 gram tiga kali sehari. II.3.7 Baeckea frutescens L. Baeckea frutescens L berupa tumbuhan perdu, berumur panjang (perenial), tinggi bisa mencapai +/- 5 m. Batang berkayu, silindris, tegak, warna cokelat muda, percabangan banyak dan liat, arah cabang miring ke atas. Daun tersusun berhadapan (folia oposita), warna hijau, bentuk garis (linearis), panjang 0,5 - 1,5 cm, helaian daun tebal kaku, ujung dan pangkal runcing Bunga muncul di ketiak daun (axillaris), bertangkai pendek, kelopak berbentuk lonceng (campanulatus), mahkota berjumlah 5 helai berwarna putih, benang sari berjumlah 10 Buah jenis kotak sejati (capsula), panjang +/- 2 mm. Bagian yang digunakan adalah daun. Daun mengandung golongan seskuiterpena seperti humulen epoksida, kariofilen, 4, 5-epoksida, dan klovan-2,9-dioal, Cglikosida kromon, senyawa turunan floroglusionol, serta senywa turunan golongan flavanona, minyak atsiri, fenkhol, tanin, dan baekeol. Baeckea frutescens L digunakan untuk bengkak pada kaki, sakit perut pada anak karena cacingan, demam setelah bersalin. Daun Baeckea frutescens L di China digunakan untuk penyembuhan demam, sedangkan di Indonesia daun daun keringnya digunakan untuk obat sakit kepala, rematik, dan dapat berfungsi untuk mengurangi rasa sakit perut. Aktivitasnya sebagai antioksidan bekerja menghambat oksidasi dengan cara bereaksi 14

dengan radikal bebas tidak reaktif dan relatif stabil. Radikal bebas memiliki pasangan elektron bebeas yang reaktif dan mampu bereaksi dengan protein, lipid, karbohidrat, atau DNA. Reaksi antara radikal bebas dan molekul-molekul tersebut berujung pada timbulnya sutau penyakit. Penggunaan untuk bengkak pada kaki dan lengan dengan ons jung rahab, remas halus, dan rebus di dalam setengah botol cuka anggur. Gosokkan cairan rebusan ini pada kakil lengan yang bengkak dalam keadaan panas-panas suam. Sakit perut pada anak karena cacingan dengan sepotong belerang sebesar biji asam. Setengah sendok teh jung rahab, sepotong temu hitam sepanjang buku jari tangan, sebuah umbi kecil temu kunci, tiga iris temu lawak, satu sendok teh kayu masoyi, sepotong bengle sepanjang setengah buku jari tangan, sepotong lempuyang wangi sepanjang setengah jari tangan dan lima biji benih adas; kesemuanya ditumbuk halus, dibungkus daun pisang clan dikukus selama lebih kurang sepuluh menit. Cairan yang keiuar diminumkan si sakit. Kalau cairannya yang keluar hanya sedikit, tambahkanlah sesendok air. Demam pada wanita habis bersalin dengan segera sehabis bersalin minum obat berikut, dibuat baru dan diminum tiap pagi dan tiap sore. Rebus selembar daun pepaya muda segar dengan satu sendok kecii asam segar dan sepotong gula jawa dalam satu gelas kecil air sampai airnya tinggal setengah dan minum cairan tersebut setelah cukup dingin. II.3.8 Croton tiglium L. Tanaman kamandrah merupakan tanaman semak, pohon kecil, atau perdu, tinggi antara 5-24 m. batang tanaman kamandrah tegak, bulat, berambut, dan berwarna hijau. Daun tanaman dicirikan pada bagian pangkal daun tepinya bergerigi, berseling, lonjong pada bagian ujung meruncing, pangkal membulat, berdaun

15

tunggal, pangkal daun 3-4.5 cm dan lebar 1-3.5 cm, pertulangan menyirip dan berwarna hijau. Biji tanaman berbentuk bulat telur, kecil, dan berwarna hitam. Akar termasuk akar tunggang dan berwarna putih kotor. Bagian yang digunakan adalah biji. Biji Kamandrah mengandung 3.4% resin, 37% oleat, 19% linoleat, 1.5% arakidat, 0.3% stearat, 0.9% palmitat, 7.5% miristat, 0.8% format, laurat, linoleat, valerat, dan butirat, ditambah dengan senyawa lainnya. Bijinya berkhasiat sebagai obat pencahar. Di Filipina, air rebusan akarnya dikatakan bersifat abortif. Keinginan defekasi dikendalikan oleh pengisian rectum. Senyawa aktif yang bekerja terhadap usus halus melalui proses hidrolisis dan kerja lipase membebaskan asam risinolat, asam 12-rhidroksioleat. Asam risinolat menyebabkan peransangan selaput mukosa usus halus disertai penimbunan cairan didalam lumen, serta memperkuat peristalsis melalui pembebasan histamine. II.3.9 Tamarindi Fructus ( Buah Asam) Tanaman asal adalah Tamarincus Indicus L. Dikenal juga dengan nama Black Tamarinds, Indian Dates, Tamarinde, Tamarindo dan Pulpa de Tamarindo. Simplisia yang digunakan adalah buahnya yang mengandung mengandung Asam Tartrat serta Acid Potassium Tartrat. Manfaat dari buah asam adalah sebagai laksatif untuk keadaan yang ringan, refrigerant untuk menurunkan suhu tubuh, mengobati demam, pereda nyeri haid serta untuk mengobati wasir. Manfaat buah asam sebagai asam tartrat yang dapat meningkatkan gerak pristaltik. Asam tartrat juga digunakan untuk menghilangkan alergi, karena dalam keadaan agak pekat merangsang selaput lendir dinding organ tubuh yang dilewatinya, seperti tenggorokan, lambung dan usus. II.3.10 Camellia sinensis (Teh Hijau) Merupakan tanaman dengan batang tegak, berkayu,

bercabang-cabang serta ujung ranting daun daun muda berambut

16

halus. Tanaman tersebar di Asia Tenggara, tumbuh di India, Sri Lanka, Indonesia, China, Jepang, afrika dan Amerika Selatan. Bagian yang digunakan adalah daunnya yaitu dengan simplisia daun teh pucuk yang telah dikeringkan. Simplisia daun teh berbau aromatik dan rasa sedikit pahit. Kandungan yang terdapat dalam simplisia daun teh adalah katekin sebesar 30 %, kafein, teofilin, teobromin serta minya atsiri. Daun teh digunakan sebagai stimulant diuretik yang disebabkan kandungan kafein, astrigen dan antioksidan karena kandungan polifenol, juga sebagai antidiare. Untuk tujuan pengobatan lebih banyak digunakan sebagai teh hijau. Namun yang menjadi perhatian adalah kafein merangsang susunan saraf pusat dan aktivitas jantung. Selain itu sekarang dikembangkan daun teh sebagai pencegah kanker serta untuk menurunkan kolesterol. Penggunaan simplisia ini secara oral dan tidak toksik, namun dalam penggunaannya harus diperhatikan karena bila terjadi penghentian secara tiba-tiba dapat menyebabkan sakit kepala dan perubahan suasana hati. Untuk itu untuk penghentian penggunaan dilakukan penurunan dosis secara bertahap. Selain itu penggunaan secara berlebihan menyebabkan gangguan pada proses pencernaan dan aktivitas jantung. Penelitian yang dilakukan pada tikus yang hiperglikemia, ekstrak teh hijau dan hitam yang diberikan dapat menurunkan kadar gula darah pada tikus tersebut. II.3.11 Kaempferiae Rhizoma (Kencur) Tanaman asalnya adalah Kaempferia galanga yang berasal dari suku Zingiberaceae. Simplisia yang digunakan adalah rimpang segar atau yang telah dikeringkan. Kandungan kimia dari Kaempferiae Rhizoma adalah minyak atsiri yang mengandung etilp-metoksisinamat, etil sinamat, borneol, karvon, kamfena,

eukaliptol serta sineol. Rimpang kencur dapat digunakan untuk gangguan pernafasan serta ekstrak metanolit memiliki aktivitas antinosiseptif pada hewan coba dengan dosis 50, 100 dan 200 17

mg/kg bb yang melalui pengujian dengan tes formalin, geliat, pelat panas dan tail-flick. Ekstrak etanolit juga menunjukkan efek analgesik pada mencit yang diinduksi asam asetat. Ekstrak etil asetat menunjukkan toksisitas yang selektif pada sel kanker pada uji menggunakan metoda MTT (Metil Tiazol Tetrazolium Bromide) dan SRB (Sulforodamin B) pada sel line kanker kolon, ovarium, prostat, kulit tikus dan toksisitas rendah pada sel normal kera, sedangkan ekstra heksana toksik pada sel kanker kolon, dan tidak toksik pada sel normal kera. Etilsinamt memberi efek vasorelaksan pada otot polos aorta tikus yang diinduksi ion K dn fenilefrin dan senyawa etil-p-metoksisinamat hasil isolasi super kritis memiliki efek menginduksi apoptosis pada sel HepG2 manusia dan menghambat proliferasi karsinoma hati sel HepG2 secara signifikan. II.3.12 Corrigen Corrigent merupakan zat tambahan yang digunakan dalam emulsi ataupun larutan. Beberapa jenis corrigen adalah corrigen saporis untuk memperbaiki rasa, corrigen odiris untuk memperbaiki bau dan corrigen colouris untuk memperbaiki warna. Sumber corrigen adalah menthol sebagai corigen saporis dan oleum citri sebagai corigen saporis dan corigen odoris. Menthol merupakan kristal yang diperoleh dari hasil penyulingan herba spesies mentha melalui proses kristalisasi. Tanaman asalnya adalah Mentha piperita L dari suku Labiatae. Menthol mengandung minyak atsiri dengan kandungan utama adalah menthol, stereoisomer, menton, menoterpen danseskuiterpen khususnya viridiflorol yang menjadi ciri khas Mentha piperitae. Kandungan lain adalah luteolin, rutin, hesperidin, eriositrin, triterpen dan tanin. Secara farmakologis, menthol dapat memberi efek ekspetoran karena minyak atsiri menstimulasi mukosa saluran pernafasan, meningkatkan sekresi lendir, memberi rasa dingin serta enurunkan 18

tegangan permukaan sehingga memperbaiki aliran udara yang masuk ke dalam paru-paru. Efek spasmolitik karena adanya kontraksi pada otot polos longitudinal dari usus marmot, dihambat oelh minyak pipermint. Menthol juga berefek antimikroba dan antivirus pada Salmonella thypimurium, Staphylococcus aureus dan Vibrio parahaemolyticum. Efek antinosiseptis ditunjukkan pada ekstrak metanolik yang menunjukkan efek sedatif namun lemah. Menthol banyak digunakan untuk membuat obat batuk, minyak angin, pasta gigi, bedak gatal, permen pelega tenggorokan dan rokok karena khasiatnya yang nyata dan telah terbukti tidak ada efek samping. Oleum Citri merupakan minyak yang berasal dari Citrus lemon dan dikenal dengan nama minyak jeruk atau lemon oil. Tanaman ini berasal dari famili Rutaceae, mengandung Sitral, dlimonen serta felandren. Pemanfaatan minyak jeruk adalah untuk obat batu, perangsang pristaltik pada mulas dan sebagai bahan pewangi. II.3.13 Carbo Ligni Carbo ligni adalah arang dari kayu lunak yang kemudian diserbukkan dan dimurnikan. Carbo ligni memiliki bentuk dan tekstur menyerupai arang dari kayu asalnya. Dalam sediaan farmasi arang yang digunakan berupa serbuk, hitam, tidak berbau, tawar, dan tidak berpasir. Arang harus dimurnikan terlebih dahulu untuk menghilangkan kontaminasi dari tanaman asal seperti logam berat. Identifikasi kemurnian arang dilakukan dengan merebus 1 g arang dengan campuran 3cc kalium hidrat dan 5 cc air selama beberapa menit, filtrat yang dihasilkan harus tidak berwarna (USP). Carbo logni berfungsi sebagai adsorben cairan maupun gas. Penggunaan arang sebagai laksansia sedikit irrasional karena sifatnya yang merupakan adsorben. Arang justru akan menyerap air dan menyebabkan feses menjadi lebih keras. Apabila arang akan 19

digunakan sebagai laksansia, maka fungsinya hanya sebagai penyerap gas (flatus) dan harus dikombinasikan dengan tanaman lain yang memiliki khasiat pencahar yang kuat, misalnya rhubarb. Rhubarb memiliki efek katartrik yang akan meningkatkan kerja otot saluran pencernaan sehingga efek mengejan akan menjadi lebih kuat. Di sisi lain, arang akan menyerap flatus dan menghilangkan bau tidak sedap. II.3.14 Aetherol Foeniculi Aetheriol Foeniculi merupakan minyak yang diambil dari biji tanaman adas. Klasifikasi Adas adalah sebagai berikut : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Tribus Genus Species : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Apiales : Apiaceae

Subfamilia : Apioideae : Incertae sedis : Foeniculum : Foeniculum vulgare

Tinggi tanaman adas dapat mencapai 1-2 m dengan percabangan yang banyak dan batang beralur. Daun adas menyirip, berbentuk bulat telur sampai segi tiga dengan panjang 3 dm, bunga berwarna kuning membentuk kumpulan payung yang besar. Dalam satu payung besar terdapat 15-40 payung kecil, dengan panjang tangkai payung 1-6 cm. Bunga berbentuk oblong dengan panjang 3,5-4 mm. Dalam masing-masing biji terdapat tabung minyak yang letaknya berselang-seling. Pada waktu muda, biji adas bewarna hijau kemudian kuning kehijauan, dan kuning kecokelatan pada saat panen. Minyak adas mengandung anetol, fenkon, chavicol, dan anisaldehid berkhasiat menyejukkan saluran cerna dan bekerja merangsang nafsu makan. Di sisi lain, anisaldehida juga mampu 20

meningkatkan gerak peristaltik saluran cerna dan merangsang pengeluaran kentut (flatus). II.3.15 Coptici Flos Coptici flos berasal dari bunga tanaman Mungsi. Mungsi memiliki klasifikasi sebagai berikut : Kingdom Subkingdom Division Class Subclass Order Family Genus Species Synonim : Plantae : Tracheobionta

Superdivision : Spermatopyta : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Rosidae : Apiales : Apiaceae : Trachypersmum Link : Trachyspermum ammi (L) Ajowan caraway : Ammi copticum L, Carum captivum L, Trachyspermum copticum Mungsi memiliki batang tegak, bercabang tahunan, dan berdaun agak jauh. Bunga terletak di bagian terminal, berwarna putih dan kecil. Buah berbentuk bulat telur. Minyak bungan mungsi sering disebut dengan thymene. Thymene mengandung p-cymene, 50-55; g-terpinene, 30-35; a- and -pinenes; 4-5 dipentene 4-6%; camphene, myrcene dan D3-carene. Thymene menyebabkan kontraksi ileum sehingga memperkuat mengejan.

21

BAB III PENUTUP

III.1 Simpulan Laksansia atau obat pencahar merupakan zat-zat yang dapat menstimulasi gerakan peristaltik usus sebagai refleks dari rangsangan langsung terhadap dinding usus dan dengan demikian menyebabkan atau mempermudah buang air besar (defekasi) dan meredakan sembelit. Laksansia juga dapat digunakan dalam keadaan tertentu, yakni untuk gangguna usus, keracunan oral ataupun pengosongan lambung. Tanaman yang digunakan sebagai laksansia bersifat laksatif, stimulan yg bekerja pada pernafasan atau dapat membentuk masa dan menarik air kedalam usus agar feses menjadi lembek. Laksansia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu laksan pembentuk massa, laksan osmotik, dan laksan stimulant yang memiliki mekanisme kerja masing-masing. Simplisia-simplisia yang digunakan sebagai laksansia begitu banyak, seperti Curcumae rhizome, Zingiberis rizhoma, Paederia foetida folium, Curcumae domestica rhizome, Sennae folium, Centella herba, Baeckeae folium, Croton tiglium semen, Ekstrak rhei, Carbo ligni pulvis, Aetherol foeniculi, Aetherol menthol, Coptici flos, Ekstrak tamarindi fructus, Ekstrak camelia sinensis , Kaempferiae rhizome dan Corrigent. Simplisia-simplisia ini ada yang bekerja secara langsung memberi efek laksatif namun ada pula yang memberi efek menenangkan untuk meredakan rasa tidak nyaman saat sembelit.

22

DAFTAR PUSTAKA
Bensky, Dan., Gamble, Andrew. 1993. Chinese Herbal Medicine:Materia Medica. Eastland Press: USA Tjay, Tan Hoan., Rahardja, Kirana. 2007. Obat-Obat Penting: Khasiat, Penggunaan Dan Efek-Efek Sampingnya. Gramedia: Jakarta World Health Organization. 1999. WHO monographs on selected medicinal plants, Vol. 1. World Health Organization: Geneva Aktivitas Antioksidan dan Analisis Kimia Ekstrak daun Jungrahab (Baeckea frutrescens L.) Tri Murningsih, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Pharmacognostical and Phytochemical study on the leaves of Paederia foetida linn. Vikas kumar, Yadav Pankajkumar S, Udaya Pratap Singh, Hans Raj Bhat, Md.Kamaruz Zaman, Department of Pharmaceutical sciences, Allahabad Agricultural Institute Deemed University, Allahabad, 211007, Uttar Pradesh, India. http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0378874105006987 http://penjagaobat.blogspot.com/2009/10/paederiae-folium-nama-latinpaederia.html Munim, Abdul; Endang Hanani.2011. Fitoterapi Dasar. Jakarta: Dian Rakyat A. Gornes, J.R. Vedasiromoni, M. Das, R.M. Sharma, D.K. Ganguly. 1994. Anti-hyperglycemic effect of black tea (Camellia sinensis) in rat. India :Journal of Ethno Pharmacology Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 1, dr Setiawan Dalimartha, Trubus Agriwidya, Anggota Ikapi, Jakarta, 1999 Carbo Ligni (U. S. P.)Charcoal, http://www.angelfire.com/tv2/lelaki/herbalA.html http://chestofbooks.com/health/materia-medica-drugs/Textbook-MateriaMedica/Tamarinds-Tamarindus-Fructus-Tamarindi.html http://www.medicinenet.com/green_tea_camellia_sinensis-oral/page2.htm http://www.henriettesherbal.com/eclectic/kings/carbo-lign.html http://www.ecoplanet.in/herbalextracts/Carum%20copticum.htm

23

http://www.globinmed.com/index.php?option=com_content&view=article&i d=84081:carum-copticum&catid=952:c&Itemid=207 http://plants.usda.gov/java/profile?symbol=TRAM13 http://toiusd.multiply.com/journal/item/55/foeniculum http://infopasutri.wordpress.com/2011/02/28/7-curcumae-domesticaerhizoma/ http://bacaankita.blogspot.com/2010/11/manfaat-kandungan-kunyitcurcuma.html http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=43

24