Anda di halaman 1dari 7

Nama : Wiwik Dwi Handayani /marleni miryanti 2007730078 NIM : 2009730057 Tirotoksikosis ( Krisis Tiroid ) Pengertian Tirotoksikosis merupakan

suatu keadaan dimana kelebihan hormone tiroid karena ini berhubungan dengan suatu komplek fisiologis dan biokimia yang ditemukan bila suatu jaringan memberikan hormone berlebihan. Tirotoksikosis dibagi menjadi 2 kategori : 1. Kelainan yang berhubungan dengan hipertiroidisme 2. Kelainan yang tidak berhubungan dengan hipertiroidisme Hipertiroidisme adalah keadaan tirotoksikosis akibat produksi tiroid dan funsi tiroid yang berlebih. Etiologi tirotoksikosis : a. Hipertiroidisme karena penyakit graves b. Struma multinodusa toksik c. Adenoma toksik d. Tiroiditis e. Tropoblastis f. Pemakaian yodium berlebihan g. Kelebihan minum obat yang mengandung iodide ( obat batuk) jk panjang h. Makanan dengan kadar iod tinggi ( lumut laut seaweed pada penangkap ikan jepang ) i. Pemakaian hormone tiroid pada hipotiroid. Krisis tiroid merupakan keadaan klinis hipertiroid yang mengancam jiwa. Factor pencetus : a. infeksi operasi, b. trauma, c. zat kontras beriodium, d. hipoglikemi, e. partus, f. stress emosi, g. penghentian antitiroid h. ketoasidosis diabetikum,
i. tromboemboli paru,

j. penyakit serebrovaskuler, k. palpasi tiroid terlalu kuat Diagnosis Tanda & gejala : a. Hiperaktivitas b. Palpitasi c. Berat badan turun
d. Nafsu makan meningkat, diare e. Tidak tahan panas, demam tinggi sampai 40 C

f. Banyak keringat g. Mudah lelah h. Sering buang air besar i. Oligo/amenore libido menurun j. Tachikardi 130- 200 x/mnt, fibrilasi atrial, tremor halus k. Reflek meningkat, l. Kulit hangat dan basah,
m. rambut rontok, perubahan suasana hati, bingung

Gambaran klinis : struma diffusa, tirotoksikosis, oftalmopati, eksoftalmus, dermopati local. Pemeriksaan penunjang
1. laboratorium : TSHs rendah, T4/Ft4 tinggi, T3/Ft3 meningkat., anemia normokrom

normositik, limfositosis, hiperglikemia, enzim transaminase hati meningkat, azotemia prerenal. 2. EKG : Sinus takikardi atau fibrilasi atrial dengan respon ventrikuler cepat 3. Rongent : Terapi : tiroistatika Merupakan zat yang berkhasiat menekan produksi hormone tyroid.dan sebagai imunosupresan Penggolongan : 1. Thionamida : karbimazol, tiamazol, propiltoiurasil (thiourea) Cara kerja :

a. menghambat secara langsung sintesa hormone tiroid dengan jalan mencegah

pengikatan iod pada tirosin atau penggandengan mono dan diiodtirosin menjadi T3/T4. b. Menghambat pengubahan T4 menjadi T3 di jaringan perifer. Kelenjar masih tetap aktif, pelepasan hormone yang masih tersedia tidak dihambat, hanya produksinya terhenti. Oleh karena itu hipofisis kehilangan kendalinya dan meningkatkan sekresi TSH dengan akibat tiroid dirangsang berlebihan dan tumbuh membesar. Guna menghindarkan hyperplasia dan kemungkinan hipotiroid
2. Iod dan iodide :

Dosis harian yodium yang disarankan adalah 80 mcg untuk anak-anak dan 150 mcg untuk orang dewasa. Dosis ini akan lebih tinggi pada wanita hamil dan menyusui. Namun hatihati, kelebihan yodium bisa menyebabkan hidung menjadi lembab.
3. Iod radioaktif :

Indikasi Semua jenis hipertiroidi, kecuali : tirotoksikosis faktitia, hipertiroidi dalam kehamilan atau sedang laktasi dan hipertiroidi selintas postpartum. Radiofarmaka NaI-131 dengan dosis rendah (80-150uCi/g), sedang (150-200uCi/g), atau tinggi (>200uCi/g),diberikan per oral. Persiapan a) Obat atau makanan yang mengandung iodium tinggi dihentikan paling kurang satu minggu sebelumnya b) Obat-obatan antitiroid dihentikan paling kurang 5 hari sebelumnya c) Pada hari pemberian pasien puasa, dan baru boleh makan satu jam setelah pemberian 131I .

Catatan a. Dosis ditentukan menggunakan rumus sebagai berikut : berat kelenjar (gr) X dosis (uCi/gr) Dosis (uCi) = -------------------------------------% angka penangkapan 24 jam b. Berat kelenjar ditentukan melalui sidik kelenjar tiroid (platimetri) atau pemeriksaan ultrasonografi. c. Efek samping yang perlu diperhatikan : d. Eksaserbasi tirotoksikosis, jarang terjadi (biasanya dalam satu minggu pasca pengobatan) e. Rasa pembengkakan didaerah tiroid dan mulut kering (biasanya hilang sendiri) f. Hipotiroidi selintas (biasanya 3-6 bulan pasca pengobatan) g. Hipotiroidi menetap (dipantau dengan menentukan kadar TSHs secara periodik 3-6 bulan sekali) h. Apabila dalam 3-6 bulan belum menunjukan perbaikan, pengobatan dengan iodium radioaktif dapat diulang kembali. i. Pasien wanita atau isteri pasien pria tidak boleh hamil selama 6 bulan pasca pengobatan; pakailah obat/alat kontrasepsi selama waktu tersebut. j. Pasien dianjurkan untuk tidak berada dekat bayi atau anak-anak berusia dibawah 12 tahun atau wanita hamil selama paling kurang 2 hari setelah pengobatan.
4. Propranolol :

Propranolol adalah tipe beta-blocker non-selektif yang umumnya digunakan dalam pengobatan tekanan darah tinggi. Obat ini adalah beta-blocker pertama yang sukses dikembangkan. Indikasi: Digunakan untuk mengobati atau mencegah gangguan yang meliputi migrain, arrhythmias,

angina Dosis:

pectoris,

hipertensi,

menopause,

dan

gangguan

kecemasan.

Pemberian reguler: 1. Dosis sebesar 20-40 mg diberikan melalui mulut (per oral), sebanyak 2-3 kali sehari. 2. Dosis boleh ditambah dengan jarak mingguan sesuai dengan respon pasien. 3. Dosis maksimum: 480 mg/hari Pemberian lanjutan: 1. Dosis sebesar 80 mg diberikan melalui mulut (per oral), sebanyak 1 kali sehari. 2. Dosis maksimum: 320 mg/hari Efek Samping: Efek CNS (kelelahan, depresi, pusing, kebingungan, gangguan tidur); Efek CV (gagal jantung, sumbatan jantung, kedinginan, impotensi pada laki-laki); Efek berturut-turut (bronchospasma pada pasien yang rentan & obat-obatan dengan beta1 harus digunakan secara selektif pada pasien ini); Efek GI (N/V, diare, konstipasi); Efek metabolik (bisa memproduksi hiper atau hipoglikemia, perubahan dalam serum kolesterol & trigliserid. Instruksi Khusus:
1.

Berkontra-indikasi dengan bradycardia, sebelumnya ada tingkatan AV block yang tinggi, sindrom sakit sinus dan kegagalan LV yang tak stabil. Gunakan dengan hati-hati pada pasien bronchopasma, asma, atau penyakit sumbatan pernapasan. Gunakan dengan hati-hati dengan tingkatan block pertama, depresi, pasien dengan PVD, dan pasien yangmenggunakan insulin.

2.

3.

Beta-blocker mungkin menutupi gejala hipertiroid & hipoglikemia dan mungkin memperburuk psoriasis. Pasien jangka panjang sebaiknya tidak berhenti dengan tiba-tiba, harus berhenti secara bertahap selama 1-2 minggu.

4.

Zat-zat tersendiri :
1. Karbimazol :

Berkhasiat dapat mengurangi produksi hormon tiroid.Mula-mula dosisnya bisa sampai 3 - 8 tablet sehari, tetapi bila sudah stabil bisa cukup 1 -3 tablet sehari saja.Obat ini cukup baik untuk penyakit hipertiroid. Efek sampingnya yang agak serius adalah turunnya produksi sel darah putih (agranulositosis) dan gangguan pada fungsi hati. Ciri-ciri agranulositosis adalah sering sakit tenggorokan yang tidak sembuh-sembuh dan juga mudah terkena infeksi serta demam.Sedangkan ciri-ciri gangguan fungsi hati adalah rasa mual, muntah, dan sakit pada perut sebelah kanan, dan timbulnya warna kuning pada bagian putih mata, kuku, dan kulit.
2. Propiltiourasil (PTU)

Propiltiourasil atau metimazol, merupakan obat yang paling sering digunakan untuk mengobati hipertiroidisme. Obat ini memperlambat fungsi tiroid dengan cara mengurangi pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar. Kedua obat tersebut diberikan per-oral (ditelan), dimulai dengan dosis tinggi, selanjutnya disesuaika dengan hasil pemeriksaan darah terhadap hormon tiroid. Obat ini biasanya bisa mengendalikan fungsi tiroid dalam waktu 6 minggu sampai 3 bulan. Dosis yang lebih tinggi bisa mempercepat pengendalian fungis tiroid, tetapi resiko terjadinya efek samping juga meningkat. Efek samping yang terjadi bisa berupa reaksi alergi (ruam kulit), mual, hilang rasa dan penekanan sintesa sel darah merah di sumsum tulang. Penekanan sumsum tulang bisa menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah putih, sehingga penderita sangat peka terhadap infeksi. Pada wanita hamil, penggunaan propiltriurasil lebih aman dibandingkan dengan metimazol karena lebih sedikit obat yang sampai ke janin Sediaan: Tablet 50 mg dan 100 mg

Cara Kerja Obat: PTU menghambat sintesis hormon tiroid dengan memhambat oksidasi dari iodin dan menghambat sintesistiroksin dan triodothyronin. Obat ini memperlambat fungsi tiroid dengan cara mengurangi pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar. Indikasi: Hipertiroidisme Kontraindikasi: hipersensisitif terhadap Propiltiourasil, blocking replacement regimen tidak boleh diberikan pada kehamilan dan masa menyusui. Dosis: 1. Anak-anak: 5-7 mg/kg/hari atau 150-200 mg/ m2/hari, dosis terbagi setiap 8 jam. 2. Dosis dewasa 3000 mg/hari, dosis terbagi setiap 8 jam. Untuk hipertiroidisme berat 450 mg/hari, untuk hipertiroidisme ocasional memerlukan 600-900 mg/hari; Dosis pemeliharaan 100-150 mg/haridalam dosis terbagi setiap 8-12 jam. 3. Dosis untuk orangtua 150-300 mg/hari

Peringatan dan Perhatian: a. Hati-hati penggunaan pada pasien lebih dari 40 tahun karena PTU bisa menyebabkan hipoprotrombinnemia dan pendarahan b. Kehamilan dan menyusui c. Penyakit hati Efek Samping : Ruam kulit, nyeri sendi, demam, nyeri tenggorokan, sakit kepala, ada kecendrungan pendarahan, mual muntah, hepatitis.