Anda di halaman 1dari 8

Penelitian Klinis dan Etiopatologis pada Pitriasis Rosea

Cyntia S Dept of Skin and STD Sree Balaji Medical College & Hospital, Chromepet, Chennai Correspondence: cynthiasargunam@yahoo.co.in

Abstrak Tujuan: Untuk mempelajari kejadian Pitriasis Rosea, beragam pola morfologisnya, rangkaian, total durasi dan komplikasi penyakit, histopatologi lesi kulit, dan kultur dari berbagai ukuran lesi kulit.

Bahan dan metode: Semua pasien yang datang ke bagian dermatologi diskreening dan pasien dengan pitriasis rosea didaftar. Diagnosis klinis Pitriasis Rosea (PR) telah dibuat pada masing-masing kasus berdasarkan morfologi dan distribusi dari lesi kulit. Temuan dari pemeriksaan klinis yang direkam termasuk tempat, ukuran, bentuk, warna dan distribusi dari lesi sekunder. Berdasarkan hal tersebut, pasien diklasifikasikan menjadi jenis PR klasik atau atipikal. Pada semua kasus, uji serologis untuk sifilis telah disingkirkan. Biopsi kulit dari lesi telah dilakukan. Kultur bakteri dari bermacam ukuran lesi pada PR juga dilakukan.

Observasi dan hasil: Kejadian PR di Govt. General Hospital, Chennai sebesar 1,43%. Kejadian maksimum terjadi pada kelompok usia antara 11-30 tahun (80%). Pasien termuda pada penelitian ini berusia 12 tahun dan yang paling tua52 tahun. Penelitian menjukkan kecenderungan jumlah yang lebih besar pada laki-laki. Kejadian lebih besar terjadi sepanjang musim hujan dan musim dingin. Tidak ada pengelompokan kasus. Faktor-faktor seperti menggunakan pakaian-pakaian baru, kehamilan, stress dan infeksi saluran nafas atas telah ditemukan dapat mempercepat penyakit. Herald Patch yang diamati muncul menutupi area tubuh, hampir seluruh badan. Erupsi sekunder mempunyai spektrum luas bentuk-bentuk morfologi dengan banyak variasi distribusi. Sebagian besar pasien mengalami pemecahan lesi yang lengkap dalam 5 sampai 8 minggu, meskipun PR tipe lichenoid cenderung bertahan untuk durasi waktu yang lebih lama . Pada sebagian besar pasien dengan lesi dapat menghilang tanpa meninggalkan bekas dan hipopigmentasi post inflamasi didapatkan pada

sebagian kecil pasien. Penelitian histopatologis menunjukkan gambaran dermatitis kronik non spesifik. Kultur dari bermacam ukuran lesi tidak menunjukkan pertumbuhan bakterial. Kesimpulan: Penemuan klinis yang mirip telah banyak ditemukan dalam literatur. Tidak ada etiologi bakterial spesifik yang ditemukan dari hasil kultur yang negatif, menunjukkan banyak kecenderungan etiologi karena virus.

PENDAHULUAN Pityriasis rosea (PR) adalah dermatosis yang umum ditemui pada pasien di departemen dermatologi. Penyakit ini adalah gangguan papulosquamous akut yang sembuh sendiri dengan bagian-bagian yang khas dan konstan saja. Sejak awal pertama kali dijelaskan, ketertarikan akan penyakit ini dipusatkan terutama pada morfologinya yang bervariasi dan etiologi yang tidak jelas. Pityriasis Rosea telah dilaporkan terjadi pada semua ras, dengan kejadian bervariasi antara 0,3 dan 3 persen. Penyakit ini lebih umum terjadi antara umur 10 dan 35 tahun, dengan distribusi kelamin yang sama atau sedikit lebih tinggi pada wanita. Penyakit ini lebih umum terjadi selama musim gugur dan musim dingin dengan kejadian menurun di musim panas. Pernah dilaporkan insiden yang terjadi di antara orang-orang pada lingkungan yang sama; insiden yang lebih tinggi juga dicatat antara ahli dermatologi. Percobaan oleh berbagai peneliti untuk menentukan penyebab penyakit ini tidak berhasil. Jamur, bakteri, spirochaeta, obat, kontak dengan jenis pakaian baru, faktor psikogenik dan neurogenik semua terlibat dalam penyebab penyakit ini. Saat ini virus diyakini memainkan peran patogenik. Penyakit prodromal, exanthem generalisata yang disertai dengan reaksi konstitusional, resolusi spontan dan imunitas jangka panjang, semuanya menunjuk ke arah penyebab virus. Penelitian yang luas telah dilakukan pada pasien dengan PR berkaitan dengan Human Herpes baru diidentifikasi Virus 6 dan 7. Namun dari hasil studi yang berbeda ditemukan hal yang bertentangan. Sehingga ada kemungkinan dan tetap merupakan fakta yang belum terbukti bahwa HHV-6 dan 7 mungkin memainkan peran secara luas pada beberapa pasien dengan PR. Dalam bentuk klasiknya, PR adalah dermatosis khas yang mudah diidentifikasi secara klinis. Lesi awal adalah herald patch atau primary plak yang diikuti oleh ruam sekunder satu dengan dua distribusi minggu, tipikal yang paralel sebuah dengan "pohon garis kulit setelah Berbagai

atau

menyerupai

Natal".

jenis morfologi yang diamati adalah makular, papular, makulopapular, likenoid, vesikuler, pustular, purpura, urtikaria dan Erythema Multiforme (EMF) like lesion.

Meskipun lesi dapat terjadi di mana saja pada kulit, lesi ini jarang terlihat di kulit kepala, telapak tangan dan telapak kaki. Setelah waktu yang terbatas sekitar enam sampai delapan minggu lesi menyembuh dan meninggalkan residu hipo atau hiperpigmentasi tanpa adanya komplikasi.

Bahan dan Metode Semua pasien menghadiri departemen dermatology yang merawat pasien di Rumah sakit Umum Pemerintah di Chennai selama periode 6-8 Agustus untuk diskrining dan pasien dengan pityriasis rosea terdaftar. Diagnosis klinis Pityriasis Rosea (PR) dibuat dalam setiap kasus berdasarkan morfologi dan distribusi lesi kulit Kriteria Inklusi: pasien yang tinggal pada jarak yang memerlukan perjalanan ke rumah sakit, yang bersedia untuk kontrol dan yang tidak menerima bebrapa pengobatan selama kondisi sekarang Kriteria Eksklusi: pasien yang sudah dilakukan tes VDRL, ELISA HIV dan pemeriksaan spora/hifa KOH dinyatakan positif Rincian pasien dicatat termasuk bulan dan usia onset dari gejala pertama kali, perjalanan penyakit, faktor presipitat (memepercepat), faktor yang memperburuk, penyakit prodormal, gejala konstitusi dan penyembuhan rash. Riwayat keluarga, dan riwayat penyakit yang sama dalam lingkungan terdekat dan riwayat kekambuhan yang bisa dicatat. Penemuan dari pemeriksaaan klinis dicatat termasuk lesi kulit, ukuran, bentuk, warna, distribusi dari lesi sekunder. Disamping hal tersebut, pasien diklasifikasikan berdasarkan klasik atau jenis atipikan dari Pityriasis rosea. Dari semua kasus, tes serologi untuk Sifilis telah dikerjakan dan rutin diperiksa seperti hitung WBC, ESR, hemoglobin, protein serum. Pada pasien yang memiiki Herald patch, dermatofitosis dsingkirkan dengan memeriksa dalam preparat KOH. Tes Mantoux telah dikerjakan pada semua kasus, untuk menemukan apakan terdapat penurunan imunitas yang terlihat di penyakit lain dengan etiologi virus, karena PR juga diduga disebabkan oleh virus. Biopsi kulit dari lesi teah dilakukan dan jaringan telah dimasukkan formalin kemudian diwarnai dengan haematoxylin dan statin. Kutur bakteri dari skala lesi pada PR telah dikerjakan pada 20 kasus dengan peyakit yang berat. Pertama-tama, diinokulasi di BHA Broth (Brain Heart Infusion Agar)

yang merupakan media penyubur, setelah itu, baru dipindahkan ke agar darah setelah 1 hari tampak adanya bukti perkembangan bakteri yang mungkin berhubungan dengan PR.

Pengamatan dan Hasil

Insiden PR di Rumah Sakit Umum Pemerintah, Chennai ditemukan menjadi 1,43%. Insiden maksimum adalah pada kelompok usia antara 11-30 tahun (80%). Pasien termuda pada penelitian ini berusia 12 tahun dan pasien tertua berusia 52 tahun. Pada penelitian ini jenis kelamin yang dominan adalah laki-laki. Insiden ini lebih banyak terjadi pada musim hujan dan musim dingin. Tidak ada kejadian keluarga atau pengelompokan kasus. Penyakit prodromal seperti infeksi saluran pernapasan atas, malaise terlihat pada 4 pasien (4%) pada penelitian kami sebelum onset penyakit. Faktor-faktor seperti mengenakan pakaian baru, kehamilan, stres dan infeksi saluran pernapasan ditemukan mempercepat timbulnya penyakit. Herald patch ditemukan pada 57 kasus dan tidak ditemukan pada 43 kasus. Berikut ini adalah lokasi herald patch (tabel: 1).

Herald patch terlihat lebih sering terjadi pada daerah badan diikuti dengan paha. Satu pasien memiliki herald patch ganda (Gambar 1).

Gambar: 1 menunjukkan herald patch ganda

Tabel. 1 Lokasi Herald patch Lokasi patch Badan Paha Bahu Lengan Punggung Wajah Jumlah pasien 47 (dada -42, Perut -05) 04 02 02 01 01

Ukuran herald patch bervariasi dari diameter 2 sampai 5 cm. Diameter terbesar dari herald patch adalah 5 cm. Bentuknya adalah oval atau bulat dengan skala collerette perifer dalam semua kasus. Daerah pusat patch berwarna coklat muda dan muncul keriput pada kebanyakan kasus. Erupsi sekunder memiliki spektrum yang luas dari bentuk morfologi dengan distribusi variabel. Dalam penelitian kami, 51 pasien (51%) memiliki PR klasik. Pasien diklasifikasikan sebagai klasik bila mereka memiliki herald patch yang diikuti dengan erupsi sekunder dalam distribusi klasik mengikuti garis Langer. Pada 22 pasien (22%) terlihat Pohon Natal atau Pola Pohon Fir Terbalik yang klasik (gambar: 2).

Gambar: 2 menunjukkan pola pohon natal

49 pasien (49%) memiliki presentasi atipikal, sedangkan 43 pasien tidak memiliki herald patch. 8 pasien dengan PR terbalik memiliki lesi terutama pada ekstremitas atas dan 3 dari mereka memiliki lesi pada wajah juga (tabel: 2). 3 pasien (3%) didapatkan beberapa lokasi lesi PR, dimana lesi terbatas pada satu bagian dari tubuh, 1 pasien memiliki lesi melebihi dorsum kaki, yang lain memiliki lesi di atas bahu dan lainnya terbatas pada perut. 1 pasien (1%) memiliki jenis lichenoid PR, dimana terlihat lesi papula yang besar berwarna ungu di atas punggung, di atas bibir dan paha, dan itu menyebabkan rasa yang sangat gatal. Pada 1 pasien (1%) lesi Eritema multiforme (EMF) menunjukkan lesi target, tetapi pada biopsi lesi menunjukkan gambaran dermatitis kronis yang mirip dengan PR. Dalam 2 pasien (2%), hanya herald patch yang terlihat, tanpa erupsi sekunder. Vesikula, purpura, urtikaria, berjerawat, unilateral dan bentuk yang sangat besar tidak ditemukan dalam penelitian kami. Sebagian besar pasien memiliki penyembuhan sempurna dari lesi dalam 5 sampai 8 minggu tetapi jenis lichenoid dari pityriasis rosea cenderung bertahan untuk durasi yang lebih

lama. Dalam sebagian besar pasien lesi menghilang tanpa bekas dan hipopigmentasi pasca inflamasi dapat ditemukan pada beberapa pasien. Rasa gatal dinilai secara subyektif. Kebanyakan pasien hanya mengalami gatal ringan. Di antara dua pasien yang mengalami gatal yang berat, salah satunya menderita PR jenis lichenoid. Tidak ada pasien yang mengalami perubahan mukosa membran atau kuku. Tidak ada komplikasi. Timbulnya kembali serangan PR tercatat pada 2 pasien (2%). Penelitian histopatologi menunjukkan gambaran dermatitis kronis non spesifik. Kultur sisik dari lesi tidak menunjukkan pertumbuhan bakteri.

Tabel. 2 PR dengan Morfologi Atipikal EMF menyerupai PR Lichenoid PR 01 01

Distribusi Lesi PR Morfologi Atipikal Inverse PR Localised PR 08 03

Ukuran Lesi PR Morfologi Atipikal Papular PR 01

Tempat Predileksi Lesi PR Morfologi Atipikal Wajah Tangan Kaki 03 01 01

PR Morfologi Atipikal dengan Herald Patch Tanpa Herald Patch Dobel Herald Patch Hanya Herald Patch tanpa Lesi Sekunder 43 01 (gambar 1) 02

RINGKASAN DAN KESIMPULAN Diagnosis klinis Pityriasis Rosea mudah, berdasarkan adanya lesi Herald Patch, morfologi karakteristik dan pola distribusi dari lesi. Penelitian saat ini menyatakan kejadian yang lebih banyak pada laki-laki Insiden usia ditemukan tinggi pada remaja dan dewasa muda kejadian familial juga diamati Penyakit ini lebih sering pada musim dingin dan musim hujan dengan kasus sporadis yang terjadi sepanjang tahun Faktor-faktor seperti memakai pakaian baru, kehamilan, stres dan infeksi saluran pernapasan bagian atas merupakan pemicu penyakit ini. Lesi Herald Patch diamati terjadi pada area tubuh yang tertutup, sebagian besar pada punggung. Erupsi sekunder memiliki spektrum yang luas dari bentuk morfologi dengan distribusi yang bervariasi. Pityriasis Rosea yang terlokalisir juga diamati dalam penelitian ini Sebagian besar pasien memiliki waktu penyembuhan lesi dalam 5 sampai 8 minggu tapi Pityriasis Rosea jenis lichenoid cenderung bertahan untuk durasi yang lebih lama. Pada sebagian besar pasien lesi menghilang tanpa jejak dan inflamasi lanjut hipopimentasi tercatat pada beberapa pasien, tetapi tidak ada yang memiliki hiperpigmentasi. Tidak ada komplikasi dalam setiap pasien. Kambuhnya penyakit ini juga diamati. Studi histopatologi menunjukkan fitur dermatitis kronis non spesifik. Skala dari lesi tidak menunjukkan pertumbuhan bakteri.