Anda di halaman 1dari 50

BAB I PENDAHULUAN I.

1 LATAR BELAKANG Di dalam tubuh, obat , zat kimia dan toksin semuanya merupakan benda asing untuk tubuh kita. Tubuh kita berusaha menyingkirkan sendiri zat-zat kimia asing tersebut tanpa memperhatikan apakah

bersifat terapeutik atau berbahaya. Kebanyakan obat-obat harus melalui biotransformasi, dan dimetabolisme sebelum dapat

diekskresikan. Di dalam tubuh obat mengalami biotransformasi dimana tubuh memetabolisme suatuobat dengan upayah mengubah bentuk obat menjadi bentuk lain secara enzimatik yang berguna untuk tujuan tertentu, utamanya adalah mengubah bentuk obat menjadi bentuk hidrofil agar lebih mudah dieksresikan melalui urin. Hasil biotransformasi atau metabolisme pada umumnya

bersifat kurang

larut dalam lipid tidak aktif, mudah berionisasi

pada pH fisiologis, kurang terikat pada protein pada plasma dan jaringan, sedikit tersimpan di dalam lemak dan kurang mampu menembus membran sel, sehingga obat lebih mudah terionisasi, tereksresi karena absorbsi secara difusi pada tubuli ginjal berkurang. Jadi dengan biotransformasi yang umumnya dengan enzim mikrosomal mati, aktivitas zat akan berkurang atau hilang walaupun ada kalanya hasil biotransformasi bersifat aktif.

Namun di dalam tubuh juga dapat terjadi inhibisi antar obat. Dimana pada saat obat yang berbeda diberikan dan memiliki efek inhibisi yang mana bahan-bahan atau obat-obat yang mempengaruhi kerja enzim makrosomal hati, maka kemungkinan obat yang satu dapat mempengaruhi proses biotransformasi obat lain. Oleh sebab itu percobaan studi induksi dan inhibisi metabolisme obat dilakukan dengan pengukuran nilai Ke (laju eksresi), t1/2 (waktu paruh), dan AUC (Area Under Curve) pada hewan coba dalam hal ini kelinci (Oryctolagus cuniculus. Membuat kita mengetahui bagaimana efek penghambatan dari pemberian suatu obat terhadap

biotransformasi obat lain secara invivo. I.2 MAKSUD PERCOBAAN Maksud dari percobaan ini adalah Untuk megetahui dan memahami pengaruh pemberian suatu obat terhadap biotransformasi obat lain secara in vivo. I.3 TUJUAN PERCOBAAN Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengukur efek inhibisi rebusan daun paliasa 10% pada enzim glukoronidase dengan parameter penghambatan metabolism asetosal.

I.4 PRINSIP PERCOBAAN

Prinsip dari percobaan ini adalah pengukuran efek inhibisi rebusan daun paliasa 10% pada enzim glukoronidase dengan parameter penghambatan metabolism asetosal dengan membandingkan jumlah kadar asetosal dalam darah kelinci (Oryctolagus cuniculus) yang diberikan rebusan daun paliasa 10% selama 5 hari dengan kadar asetosal dalam darah kelinci (Oryctolagus cuniculus) tanpa pemberian rebusan daun paliasa 10% berdasarkan nilai Ke (laju eksresi), t1/2 (waktu paruh), dan AUC (Area Under Curve).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA II.1 TEORI UMUM Metabolisme/biotransformasi adalah upaya tubuh dalam mengubah bentuk obat menjadi bentuk lain yang berguna untuk tujuan tertentu. Utamanya adalah mengubah bentuk obat menjadi bentuk hidrofil agar lebih mudah dieksresikan melalui urin

(//http;metabolisme_obat.org// 25 April, 2010). Defenisi obat ialah suatu zat yang digunakan untuk diagnose pengobatan, melunakkan, menyenbuhkan atau mencegah penyakit pada manusia atau pada hewan (Anief, 2003). Biofarmasi meneliti pengaruh formulasi obat terhadap efek terapeutiknya. Dengan kata lain, dalam bentuk sediaan aman, obat harus dibuat agar menghasilkan efek yang optimal. Ketersediaan hayati obat dalam tubuh untuk diresorbsi dan untuk melakukan efeknya juga dipelajari (Farmaceutical dan Biological availability). Begitu pula kesetaraanterapeutis dari sediaan yang mengandung zat aktif sama (Therapeutic equivalence). Ilmu bagian ini berkemabang akhir tahun 1950-an dan erat hubungannya dengan farmakokinetika (Tjay,2002). Organ utama yang bertanggung jawab untuk biotransformasi obat adalah hati. Akan tetapi jaringan intestine, paru dan ginjal juga mengandung sejumlah enzim biotransformasi. Jaringan lain dan mikroflora intestine dapat pula berperan dalam biotransformasi obat (G:\Biofar-Q\metabolisme-obat.html, 25 April 2010).

Biotransformasi terjadi terutama dalam hati dan hanya dalam jumlah yang sangat rendah terjadi dalam organ lain misalnya dalam usus, ginjal, paru-paru, limfe, otot, kulit atau dalam darah (G:\BiofarQ\BIOTRANSFORMASI Moko Apt.htm, 25 April, 2010). Sebagian besar biotransformasi obat dikatalisis oleh enzim mikrosom hati, demikian juga biotransformasi asam lemak, hormon steroid, dan bilirubin. Untuk itu obat harus larut lemak agar dapat melintasi membran, masuk ke dalam retikulum endoplasma, dan berikatan dengan enzim mikrosom. Sistem enzim mikrosom untuk reaksi oksidasi disebut oksidase fungsi campur (mixed-function oxidase = MFO) atau monooksigenase; sitokrom P-450 ialah komponen utama dalam sistem enzim ini. Reaksi yang dikatalisis oleh MFO meliputi reaksi N- dan O-dealkilasi, hidroksilasi cincin aromatik dan rantai sampingnya, deaminasi amin primer dan sekunder, serta desulfurasi (G:\Biofar-Q\BIOTRANSFORMASI Moko Apt.htm, 25 April, 2010). Obat yang telah diresorbsi usus ke dalam peredaran didiangkut melalui sistem pembuluh porta ke dalam hati ; dengan pemberian sublingual, rectal (sebagian), atau sebagian injeksi sistem porta dan hati dielakkan. Dalam hati obat seluruhnya atau sebagian mengalami perubahan-perubahan kimia dan umumnya hasil

perubahan (metabolit) tidak atau kurang aktif lagi, maka proses ini sering dinamakan proses setoksifikasi atau bioinaktifasi (Tjay. 2002).

Obat-obat yang dimetabolisme sebelum diabsorbsi, baik pada lumen ataun jaringan usus dapat menunjukkan ketersediaan hayati yang menurun sebagai contoh alprenolol dimetabolisme decara ekstensif oleh dinding usus saat diberikan dalam bentuk pelepasan terkendali (Yandi syukri, 2002). Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dapat dibedakan berdasarkan letaknya di dalam selnya, yakni snzim mikrosom yang terdapat dalam retikulumsndoplasma halus (yang pada isolasi in vitro membentuk mikrosom), dan snzim non mirosom. Kedua macam snzimuntuk metabolisme ini terutama terdapat di dalam sel hati, tetapi juga terdapat di sel jaringan lain msalnya ginjal, paru, epitel saluran cerna, dan plasma. Di lumen saluran cerna juga terdapat enzim non mikrosom yang dihasilkan oleh flora usus. Enzim mikrososm mengkatalisis reaksi konyugasi glukoronid, sebagian besar reaksi oksidasi obat. Serta reaksi reduksi dan hidrolisis. Sedangkan enzim non mikrosom mengkatalisis reaksi konyugasi lainnya,

beberapa reaksi reduksi dan hidrolisis (Ganiswarna S., 1995). Sebagian besar biotarnsformasi obat dikatalisis oleh enzim mikrosom hati,demikian juga biotransformasi asam lemak, hormone steroid, dan bilirubin. Untuk itu obat harus larut lemak agar dapat melintasi membran, masuk ke dalam retikulum endoplasma, dan brikatan dengan enzim mikrosom (Ganiswarna S., 1995).

Enzim biotransformasi hepatik memainkan peranan penting untuk inaktivasi dan selanjutnya eliminasi obat-obat yang ridak terbersihkan dengan mudah melalui ginjal. Untuk obat-obat ini misalnya teofilina, fenitoina, asetaminofen, dan lainnya., menunjukkan hubungsan yang terbalik antara laju metanbolisme obat

(biotransformasi)dan waktu paruh eliminasi obat (Shargel Leon, 1988). Reaksi-reaksi fase biasanya mengubah obat induk menjadi metabolit lebih polar dengan menambahkan atau memfungsikan suatu kelompok fungsional (OH, -NH2, -SH). Seringkali metabolit-metabolit ini tidak aktif, meskipun dalam hal tertentu aktivitasnyahanya dimodifikasi. Kalau metabolit fase I cukup terpolar, maka metabolitmetabolit tersebut kemungkinan mudah diekskresi. Namun , banyak produ-oroduk fase I tidak segera dieliminasi dan mengalami reaksi berikutnya dimana suatu substrat endogen seperti glucuronic

acid,sulfuric acid, acetic acid, atau amino acid bergabung dengan gugusan fungsional yang baru terjadi membentuk konjugat sangat polar. Reaksi-reaksi konyugasi atau reaksi-reaksi sintesis yang demikian adalah tanda-tanda metabolisme fase II (Ganiswarna S., 1995). Satu ciri menarik dari beberapa substrat-substrat obat tertentu yang berbeda secara kimia adlah kemampuan mereka, dalam pemberian obat secara berulang, untuk menginduksi sitokrom P450

dengan menaikkan laju degradasinya. Induksi ini berakibat pada suatu akselerasi metabolisme dan biasanya penurunan dalam kerja farmakologik penginduksi (inducer) dan jugs obat-obat yang diberikan bersamanya. Namun, berkenaan dengan obat-obat yang

ditransformasi secara metabolic menjadi suatu metabolit-metabolit reaktif, induksi enzim kemungkinan besar memperbesar toksisitas jaringan yang dimediasi metabolit. (Bertram., 2001). Aktifitas enzim bertambah bila jumlah protein enzim dalam sel meningkat. Induksi enzim yang berperan dalam suatu metabolisme obat akan mempercepat pnghancuran obat tersebut dan mengurangi kerjanya Proses ini umumnya dipelajari di parenkim hati, namun terjadi juga di sel lain misalnya fibroblast dan limfosit (Howard,. 1990). Dalam hal tertentu, sebagtian besar biotransformasimetabolik terjadi peda suatu tahap diantara penyerapan obat ke dalam sirkulasi umum dan eliminasi melalui ginjalnya. Beberapa transformasi terjadi di dalam lumen usus (intestinum) atau dinding usus. Secara umum, s3mua reaksi ini dapat dimasukkan dalam satu dari dua kategori utama yang disebut reaksi-reaksi fase I dan fase II (Bertram., 2001).

Tiga kelompok iobat pemacu kerja enzim (Howard,. 1990): 1. Obat yang meransang metabolisme dengan banyak cara misalnya barbiturate.

2. Hidrokarbon polisiklik ( misalnya 3-4 benzo(a) pirin.Zat ini merangsang metabolisme secara terbatas. 3. Steroid, terutama merangsang enzim mikrosom. Banyak xenobiotika (dan demikian obat), khususnya senyawasenyawayang larut air dalam lemak dengan masa kontak dalam hati lama, mampu menginduksi pembentukan enzim-enzim yang terlibat dalam biotransformasi. Karena itu disebut sebagai inductor (enzim) dan dibedakan menurut enzim yang diinduksi; jenis fenibarbital dan jenis metilkolantren. Induksi jenis fenobarbital, yang sangat penting untuk metabolisme obat, menaikkan proliferasi retikulum endoplasma dan dengan demikian bekerja dengan jelas bobot hati. Induksi

menyangkut terutama sitokrom P450, disamping itu antara lain, glokoronitransferase, glutationtransferase dan epoksidahidrolase lebih banyak dibentuk. Induksi terjadi relative cepat dalam waktu beberapa hari (Mustcler., 1999). Bila obat yang dapat menstimulasi aktivitas enzim seringkali

digunakan, maka biotransformasinya dipercepat dan juga ekskresinya sehingga jangka waktu kerjanya diperpendek. Dengan demikian pada analgetika dan barbirturat tertentu terjadi toleransi. Karena enzimenzim ini kerjanya tidak selektif, artinya ridak bekerja hanya pada satu obat, maka metabolisme obat-obat lain digunakan bersamaan juga dapat dipercepat hingga aktivitasnya dan lama kerjanya berkurang (Tjay. 2002).

Tahap- Tahap dalam Biotransformasi (BIOTRANSFORMASI Moko Apt.htm, 25 April, 2010) : Reaksi metabolisme yang mengubah molekul obat secara oksidasi, reduksi dan hidrolisis disebut reaksi fase I. Sedangkan pada reaksi fase II terjadi penggabungan (konjugasi) molekul-molekul obat dan juga metabolit-metabolit yang terjadi pada reaksi fase I dengan senyawa tubuh sendiri. Dalam banyak hal diperlukan fase I sebagai persyaratan reaksi konjugasi. TABEL Ringkasan umum alur metabolisme Fase I dan II Fase I atau reaksi fungsionalisasi Reaksi Oksidasi Oksidasi gugus aromatis Oksidasi pada benzilik, atom karbon allilik, atom karbon alfa pada karbonil dan imina Oksidasi oada atom karbon alifatik dan alisiklik Oksidasi melibatkan sistem C-heteroatom: C-N (amina alifatik dan aromatik, meliputi : Ndealkikasi, deaminasi oksidatif, formasi N-okside, N-hidroksilasi)

C-O (O-dealkilasi) C-S (S-dealkilasi, S-oksidasi, dan desulfurasi)

Oksidasi alkohol dan aldehida Reaksi Reduksi

Reduksi aldehid dan keton Reduksi senyawa nitro dan azo Reaksi Hidrolisis Hidrolisis ester dan amida Hidrasi epoxide dan arene okside oleh epoxide hidrase Fase II atau Reaksi Konjugasi Konjugasi asam glukuronat Konjugasi sulfat Konjugasi dengan glisin, glutamin, dan AA lain Konjugasi glutation atau asam merkapturat Asetilasi Metilasi Reaksi fase I Pada reaksi fase I ini mengubah obat menjadi metabolit yang lebih polar, yang dapat bersifat inaktif, kurang aktif, atau lebih aktif daripada bentuk aslinya. Fungsi utama metabolisme fase I adalah menyiapkan senyawa untuk metabolisme II dan tidak menyiapkan obat untuk diekskresi. Yang termasuk dalam reaksi fase I adalah oksidasi, reduksi, dan hidrolisis.

Reaksi Oksidasi Yang sangat penting untuk biotransformasi ialah reaksi oksidasi yang melibatkan oksidase, monooksigenase, dan dioksigenase. Oksidase mengoksidasi melalui penarikan hidrogen atau elektron.

Oleh monooksigenase, satu atom oksigen dari molekul oksigen diikat pada bahan asing dan atom oksigen lain direduksi menjadi air. Sebaliknya, dioksigenase memasukkan kedua atom dari 1 molekul oksigen ke dalam xenobiotika. Monooksigenase (mikrosom) yang mengandung sitokrom P-450 dan juga sitokrom P-448 yang merupakan protein heme memiliki makna terbesar untuk

biotransformasi oksidasi obat. Reaksi Reduksi Dibandingkan dengan oksidasi, reduksi hanya memegang peranan kecil pada biotransformasi. Senyawa karbonil dapat direduksi menjadi alkohol oleh alkoholdehidrogenase atau aldol ketoreduktase sitoplasma. Untuk penguraian senyawa azo menjadi amina primer melalui tahap antara hidrazo tampaknya ada beberapa enzim yang terlibat, di antaranya NADPH-sitokrom P-450 reduktase. Yang masih belum diketahui seluruhnya ialah enzim yang terlibat dalam reduksi senyawa nitro menjadi amina yang sesuai. Secara toksikologik berarti ialah dehalogenisasi reduktif, misalnya pada karbromal serta dari karbontetraklorida menjadi kloroform. Reaksi Hidrolisis Reaksi biohidrolisis penting : o penguraian ester dan amida menjadi asam dan alkohol serta amina oleh esterase (amidase). Hidrolisis ester dapat berlangsung dalam

plasma (asetilkolinesterase nonspesifik, pseudokolinesterase dan esterase-esterase lain) atau dalam hati. Amida dapat dihidrolisis oleh esterase plasma meskipun lebih lambat dari esternya tetapi lebih mungkin dihidrolisis oleh amidase hati. o pengubahan epoksida menjadi diol berdampingan (visinal) oleh epoksidahidratase ( sinonim epoksidahidrolase ) serta o hidrolisis asetal ( glikosida ) oleh glikosidase. Reaksi fase II Merupakan penggabungan obat aslinya atau metabolitnya dengan bermacam-macam komponen endogen. Reaksi konjugasi yang dilakukan oleh enzim transferase memerlukan baik komponen endogen maupun eksogen. Reaksi konjugasi mencakup: reaksi antara senyawa yang mempunyai gugus hidroksil alkohol atau fenol, gugus amino, gugus sulfhidril dan sebagian juga gugus karboksil dengan senyawa tubuh sendiri yang kaya akan energi.
reaksi penggabungan antara senyawa asing, setelah diaktivasi dengan senyawa tubuh sendiri (tidak teraktivasi). Kedalam reaksi terakhir termasuk konjugasi asam karboksilat dengan asam amino.

II.2 URAIAN BAHAN 1. Alkohol (Ditjen POM, 1979) Nama Resmi Sinonim RM / BM : Aethanolum : Alkohol : C2H6O / 46,07

Pemerian

: Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah nyala terbakr biru denngan tidak

memberikan berasap. Kelarutan

yang

: Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P.

Penyimpanan Kegunaan

: Dalam wadah tertutup rapat :Sebagai antiseptik

2. Aquadest (Ditjen POM, 1979) Nama Resmi Sinonim RM / BM Pemerian : Aqua Destillata : Air suling : H2O / 18,02

: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa.

Penyimpanan Kegunaan

: Dalam wadah tertutup rapat : Sebagai pelarut.

3. Nama Resmi Sinonim Kelarutan

: Natrii Carboxymethylcellulosum : Natrium karboksimetilselulosa : Mudah mendispersi dalam air, membentuk suspensi koloidal, tidak larut dalam etanol

(95%)P, dalam eter P dan dalam pelarut organik lain. Rumus struktur : Asetosa l C O O CH2OCH2COONa OH OH O CH2OCH2COONa n OH

Pemerian

: Serbuk atau butiran; putih atau putih kuning gading; tidak berbau atau hampir tidak berbau; higroskopik.

Penyimpanan Kegunaan

: Dalam wadah tertutup rapat : Sebagai bahan pensuspensi

4. TCA (Dirjen POM, 1979) Nama resmi Nama lain RM / BM Pemerian : ACIDUM TRICHLOROACETICUM : Asam Trikloroasetat : C2HCl3O2/163,39 : Hablur atau massa hablur; sangat rapuh; tidak berwarna; rasa lemah atau getir dan khas. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P dan dalam eter P. Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup baik : Sebagai pengendap.

5. Asetosal (Ditejn POM, 1979)

Nama Resmi Nama lain RM / BM Pemerian

: ACIDUM ACETYLSALICYLICUM : Asam Asetilsalisilat, Asetosal : C9H8O4 / 180,16 : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau; atau hampir tidak berbau; rasa asam.

Kelarutan

: Agak sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol (95 %) P; larut dalam kloroform P dan dalam eter P.

Penyimpanan Kegunaan

: Dalam wadah tertutup baik : Sebagai sampel

Uraian Obat (Schmitz, 2009) Nama Paten Indikasi : Aspilets : Nyeri ringan hingga sedang, demam, agregasi

peradangan,

penghambatan

trombosit sebagai profilaksis sekunder pada gangguan sirkulasi serebral, angina pectoris, infark jantung. Kontra Indikasi : Penderita hipersensitivitas (termasuk asma). Penderita tukak lambung (maag), pernah atau sering mengalami perdarahan di bawah kulit. Penderita hemophilia dan trombositopenia, karena dapat meningkatkan risiko terjadinya

pendarahan. Penderita yang sedang terapi dengan antikoagulan. Efek Samping : Retensi asam urat pada bagian pirai makin kuat; pada overdosis : tinnitus, vertigo, mual, muntah, (terutama pendarahan disebabkan GI; oleh alergi murni

pengotoran

bahan); sindrom Reye : hepatoensefalopati pada anak-anak sebagai kelanjutan sakit virus flu, infeksi saluran pernapasan atas, infeksi Varicella. Farmakodinamik : Hambatan siklooksigenase irrreversibel

dengan jalan asetilasi pada pusat aktif. Farmakokinetik : Dengan absorbs oral 100%, bioavailabilitas dalam plasma 68%, ikatan dengan protein plasma 50-80% (makin tinggi dosis, makin rendah ikatan plasma), mempunyai waktu paruh 15 menit menit, di eliminasi di ginjal (bergantung pada pH). PP-nya 90-95%, plasma-t1/2 nya 15-20 menit, masa paruh asam salisilat adalah 2-3 jam pada dosis 1-3 g/hari(Tjay, 2002). Interaksi Obat : Furosemid: toksisitas salisilat meningkat,

paraben:alergi

silang,

Asetildigoksin:

penurunan kadar digoksin dalam plasma (absorpsi berkurang), Imipramin: kasus

kematian pada takar lajak ASS pada waktu yang sama. Dosis : Pada nyeri dan demam oral 4 dd 0,5-1 g p.c.,maksimum 4 gram sehari, anak-anak sampai 1 tahun 10 mg/kg 3-4 kali sehari, 1-12 tahun 4-6 dd, diatas 12 tahun 4 dd 320-500 mg. II.3. Uraian Tanaman Ekstrak paliasa (www.google.com) a. Klasifikasi Tanaman Regnum Divisio Sub Divisio Class Sub class Ordo Familia Genus Species : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Dycotiledoneae : Apetalae : Malvaceales : Malvaceae : Klenhopia : Klenhopia hospitale L

b. Morfologi tanaman

Tumbuhan paliasa merupakan pohon yang tingginya 520 meter, daun bertangkai panjang berbatang jantung, lebar berukuran 4,5-2,7 x 3 x 24 cm pada pangkal tulang daun bercabang sehingga bertulang menjari, bunga bentuk malai, diujung batang leher berambut halus, daun pelindung oval, tajuk berkelompok, bentuk lanset, panjang 6-10 cm, berambut bentuk bintang, daun mahkota 5 dan 4 bentuk pita lebar, dengan pangkal berbentuk kantung, tajuk panjang 6 mm, berwarna merah, kepala sari tertancap seperti perisai. c. Kandungan kimia Daun paliasa mengandung asam prusel, baherpinoid, alkaloid, dan minyak atsiri serta sianida. d. Kegunaan Sebagai pencuci rambut, obat cuci mata dan obat penyakit kuning. II.4.Uraian Hewan Coba a. Klasifikasi Hewan Coba Klasifikasi Kelinci (Oryctolagus cuniculus), (Jassin, 1992) Kingdom Phylum Sub phylum Class Sub class : Animalia : Chordata : Vertebrata : Mamalia : Theria

Ordo Family Genus Species

: Logormoipha : Orytolagidae : Oryctologus : Oryctolagus cuniculus

b. Karakteristik Hewan Coba Kelinci (Oryctolagus cuniculus), (Malole, 1989) - Konsumsi pakan per hari - Konsumsi air minum per hari - Diet Protein - Ekskresi urine per hari - Lama hidup - Bobot badan sewasa - Jantan - Betina - Bobot lahir - Dewasa kelamin : - Jantan - Betina - Siklus estrus ( menstruasi ) - Umur sapih - Mulai makan pakan kering - Waktu untuk kawin kembali - Rasio kawin : : : : : : : 5 6 bulan ( 4,5 Kg ) 6 7 bulan ( 4 Kg ) polyestrus ( diinduce ) 8 minggu , 1,8 Kg 16 18 hari 35 42 hari 1 Jantan 6 10 betina : : : 4 5,5 Kg 4,5 6,5 Kg 30 100 gr : : : : : 100 200 g 200 500 ml 14% 35 ml 5 7 tahun

- Jumlah kromosom - Suhu rektal - Laju respirasi - Denyut jantung - volume darah - Pengambilan darah maksimum - Jumlah sel darah merah - Kadar hemoglobin ( Hb ) II.5.Prosedur Kerja (Anonim, 2010) a. Induksi

: : : : : : : :

44 39,50 C 51 kali / menit 200 300 kali / menit 55 56 mL/ Kg 7,7 mL /Kg 4 7 x 106 10 15 g / dl

1. Disiapkan hewan coba yang telah dipelihara dan diadaptasikan beberapa hari dan ditimbang masing-masing berat hewan coba. 2. Hewan coba dikelompokkan menjadi II, kelompok pertama hanya diberi asetosal, kelompok kedua diberikan rebusan daun paliasa 10% dilakukan selama 5 hari padsa hari ke 6 diberikan asetosal. 3. Disiapkan anti koagulan pada masing-masing vial yang akan dimasukkan plasma darah dari hewan coba.

b. Pengukuran Farmakokinetik 1. Kelinci yang telah diinduksi disiapkan. 2. Dibuat kurva baku asetosal pada masing-masing kelompok hewan uji dengan konsentrasi 2, b4, 6, 8, 10 ppm, kemudian

masing-masing konsentrasi diukur serapannya pada panjang gelombang 280 nm. 3. Panjang gelombang maksimum diambil dari slah satu larutan baku asetosal ditentukan max pada daerah 280 nm yaitu 270290 nm. 4. Diambil darah pada hewan uji kelompok pertama pada menit ke 15, 30, 45, 60, 90, 120, 180, 240. Lalu masukkan dalam vial yang berisi anti koagulan. 5. Disentrifuge darah yang telah diambil dari hewan uji, untuk mendapatkan serum darah, diukur absorban pada lat

spektrofotometri.

BAB III METODE KERJA III.1. Alat Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :

1. Alat cukur (silet) 2. Batang pengaduk 3. Corong 4. Gelas kimia 100 ml 5. Gelas ukur 50 ml 6. Jarum suntik insulin 7. Kandang fisiologis 8. Kateter 9. Kuvet 10. Mouth Block 11. Sendok tanduk 12. Sentrifuge 13. Spektrofotometri 14. Spoit insulin 15. Spoit oral 1 ml, 3 ml, 10 ml 16. Stopwatch 17. Tabung Sentrifuge 18. Timbangan analitik 19. Timbangan hewan 20. Vial III.2. Bahan Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah : 1. Air suling

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Alkohol 70 % Aluminium foil Aspilets tablet Betadine NaCMC 1% Rebusan daun paliasa 10% Trichloroasetat (TCA)

III.3. Hewan coba Adapun hewan coba yang digunakan dalam praktikum Studi Induksi dan Inhibisi Biotransformasi Obat secara In Vivo adalah kelinci (Oryctolagus cuniculus). III.4. Cara Kerja a. 1. sehat. 2. 3. Ditimbang hewan coba. Dikelompokkan hewan coba menjadi dua kelompok, Penyiapan Hewan Coba Disiapkan 2 ekor kelinci jantan yang dewasa dan

kelompok I tanpa pemberian rebusan daun paliasa 10% dan kelompok II dengan pemberian rebusan daun paliasa 10% selama 3 hari. 4. 5. Dicukur bulu pada vena marginalis hewan coba Dihitung volume pemberian obat pada hewan coba

b. 1. a. b. c. d. e. 2. a. b. c.

Pembuatan Bahan Pembuatan TCA 10% Disiapkan alat dan bahan. Ditimbang 10 gram TCA Dilarutkan dengan 50 ml air suling Dicukupkan dengan aquadest sebanyak 100 ml. Dihomogenkan Pembuatan NaCMC 1% Disiapkan alat dan bahan. Ditimbang Na CMC 1 gram. Dipanaskan air 100 ml dan masukkan Na CMC lalu

diaduk hingga homogen dan disimpan dalam kulkas selama 1x24 jam. 3. a. b. Pembuatan Antikoagulan Natrium sitrat ditimbang sebanyak 18 g Natrium sitrat dilarutkan dengan air suling sedikit demi

sedikit sambil diaduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga jernih c. Dipindahkan kedalam labu takar 100 ml kemudian

cukupkan volumenya sampai 100 ml d. Disimpan kedalam lemari pendingin dan siap

digunakan. 4. Pembuatan Rebusan Daun Paliasa 10%

a. b. 10 gram. c.

Disiapkan alat dan bahan. Ditimbang daun Paliasa sebayak

Direbus daun paliasa dengan

100 ml air hingga mendidih. d. c. 1. 2. 3. Disaring dan didinginkan Pembuatan Larutan Obat Disiapkan alat dan bahan. Ditimbang Aspilets sebanyak 406,14 mg. Disuspensikan dengan NaCMC sebanyak 50 ml

sambil diaduk-aduk di atas penangas hingga homogen. d. 1. 2. Perlakuan Hewan Coba Disiapkan alat dan bahan Disiapkan dua kelompok kelinci yang telah diberi

rebusan daun paliasa 10% selama 3 hari dan tanpa pemberian rebusan daun paliasa 10%. 3. Disiapkan vial sebanyak 16 buah kemudian diisi

antikoagulan natrium sitrat masing-masing 3 ml 4. Dibersihkan bulu-bulu yang ada dibagian permukaan

daun telinga menggunakan pisau cukur. 5. Dilakukan pengambilan darah awal pada vena

marginalis menggunakan spoit insulin yang diisi sedikit antikoagulan sebanyak 1 ml sebagai darah blanko.

6.

Diberikan obat Aspilets secara per oral berdasarkan

volume pemberian pada masing-masing kelompok hewan coba dengan menggunakan kateter dan mouth block. 7. Diambil darah dari vena marginalis pada masing-

masing kelompok hewan coba pada menit 15, 30, 45, 60, 90, 120 dan 150 menit sebanyak 0,5 ml. 8. Ditambahkan TCA 10% sebanyak 3 ml ke dalam

masing-masing vial 9. Dimasukkan masing-masing sampel darah ke dalam

tabung sentrifuge. 10. rpm 11. Dilakukan pengukuran pada spektrofotometer dengan Disentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 5

cara dipisahkan antara serum dan larutan baku 12. 13. 14. Dibuat data pengamatan dan kesimpulan. Diambil supernatan yang terbentuk. Diukur absorbannya menggunakan spektrofotometer

pada panjang gelombang 280 nm.

BAB IV HASIL PENGAMATAN IV.1. Data Kurva Baku Kurva Baku Asetosal Konsentrasi (ppm) 2 4 6 8 10 IV.2. Data Plasma Kadar Asetosal dari Kelompok Kontrol X(t) 15 30 45 60$ 90 120 150 Absorban 0,0770 0,1488 0,3033 0,3847 0,2611 0,1528 0,0476 Absorban 0,118 0,201 0,295 0,380 0,450

Kadar asetosal dari Kelompok Perlakuan X(t) 15 30 45 60 90 Absorban 0,0855 0,1588 0,3166 0,3970 0,2760

120 150

0,1738 0,0550

BAB V PEMBAHASAN Biotranformasi adalah peristiwa perubahan kimiawi obat dalam tubuh. Hasil biotranformasi atau metabolit pada umumnya bersifat kurang larut dalam lipid, tidak aktif, mudah terionisasi pada pH fisiologis, kurang terikat pada protein plasma dan jaringan, sedikit tersimpan di dalam lemak dan kurang mampu menembus membrane sel sehingga obat akan lebih mudah terekskresi karena reabsorbsi obat secara difusi pada tubulus

ginjal berkurang. Jadi dengan biotransformasi aktivitas obat akan berkurang atau hilang. Enzim yang berperan adalah sitokrom P-450. hasil biotransformasi atau metabolit pada umumnya bersifat kurang larut dalam lemak, tidak aktif, mudah terionisasi pada pH fisiologis, kurang terikat dalam protein plasma dan jaringan sedikit tersimpan dalam lemak dan kurang mampu menembus membran sel sehingga obat secara difusi pada tubulus ginjal berkurang. Pada percobaan ini akan diamati pengukuran efek inhibisi rebusan daun paliasa 10% pada enzim glukoronidase dengan parameter penghambatan metabolism asetosal dengan membandingkan jumlah kadar asetosal dalam darah kelinci (Oryctolagus cuniculus) yang diberikan rebusan daun paliasa 10% selama 5 hari dengan kadar asetosal dalam darah kelinci (Oryctolagus cuniculus) tanpa pemberian rebusan daun paliasa 10% berdasarkan nilai Ke (laju eksresi), t1/2 (waktu paruh), dan AUC (Area Under Curve). Pada percobaan ini digunakan hewan coba kelinci (Oryctolagus cuniculus). Hewan coba tersebut dibagi menjadi 2 kelompok, dimana kelinci 1 diberikan rebusan daun paliasa 10% selama 5 hari sebelum praktikum, dan pada hari ke 6(hari praktikum) diberikan larutan obat asetosal. Sedangkan kelinci 2 tidak diberi rebusan paliasa tetapi hanya diberikan larutan obat asetosal pada hari praktikum.

Jalur metabolisme asetosal sama dengan jalur metabolism kortisol yakni jalur glukoronidase. Kortisol adalah hormone kortikosteroid dimana metabolismeya melalui enzim glukoronidase yang sama dengan asetosal sehingga perubahan farmakokinetik asetosal dapat menggambarkan efek terhadap kotisol endogen. Rebusan paliasa 10% mengakibatkan inhibisi metabolisme

asetosal. Efek inhibisi rebusan daun paliasa 10% terhadap metabolism asetosal menggunakan perubahan parameter farmakokinetik asetosal, dimana kerja enzim glukoronidase yang memetabolisme asetosal akan dihambat oleh kerja rebusan daun paliasa. Jika terjadi penghambatan kerja enzim glukoronidase, maka kadar asetosal dalam darah kelinci jantan akan lebih banyak di dalam darah disbanding kelinci control (hanya diberi asetosal). Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan kelinci yang sebelum diberi perlakuan terlebih dahulu dicukur bulu bagian telinganya agar vena marginalisnya lebih tampak dan pada saat pengambilan darah dapat cepat berlangsung tanpa dihambat oleh adanya bulu-bulu disekitar pengambilan darah. Pengambilan darah bukan dari pembuluh darah besar karena bisa mengakibatkan pendarahan bahkan kolaps yakni suatu kelemahan tubuh disertai depresi dan gangguan peredaran darah. Selain itu karena kelinci memiliki vena marginalis yang jelas pada telinganya yang memudahkan untuk pengambilan sampel darah. Pengambilan darah dimulai dari daerah telinga bagian keluar ke dalam dengan maksud agar

pada saat pengambilan darah, darah tidak langsung keluar semuanya yang nantinya dapat mengakibatkan pendarahan serta mencegah agar jangan sampai hanya satu kali pengambilan darah langsung terambil semuanya. Pengambilan darah pada kelinci (Oryctolagus cuniculus) melalui vena marginalis pada telinga kelinci yang akan ditampung pada botol vial yang telah berisi antikoagulan. Tujuan antikoagulan dimaksudkan agar plasma darah tidak membeku atau menggumpal, sehingga plasma darah tetap cair. Dimana antikoagulan juga berfungsi mencegah terbentuk dan meluasnya thrombus dan emboli, maupun untuk mencegah terbentuk dan meluasnya darah invitro pada pemeriksaan laboratorium atau transfusi. Sampel darah yang baru saja diambil dari vena marginalis telinga kelinci langsung diletakan pada vial yang berisi anti koagulan. Hal ini dimaksudkan agar plasma darah yang diambil tidak langsung membeku dan tetap cair untuk pengukuran selanjutnya. Mekanisme antikoagulan ini sendiri yakni menghambat pembentukan fibrin dan digunakan secara profilaktid untuk mengurangi insident tromboemboli terutama pada vena. Antikoagulan digunakan untuk mencegah pembekuan darah dengan jalan menghambat fungsi beberapa faktor pembekuan darah. Antikoagulan diperlukan untuk mencegah terbentuk dan meluasnya thrombus dan emboli, maupun untuk mencegah terbentuk dan luasnya darah invitro pada pemeriksaan laboratorium atau tranfusi. Antikoagulan

menghambat pembentukan fibrin dan digunakan secara profilaktid untuk mengurangi incident tromboemboli terutama pada vena. Untuk mengukur sample darah dengan spektofotometer

sebelumnya sampel darah tersebut disentrifus dengan penambahan pengendap TCA yang dimaksudkan untuk mengendapkan protein-protein darah dengan supernatannya, yang diambil sehingga tidak menggangu pengukuran absorben sedangkan reagen pewarna dimaksudkan untuk memberikan warna yang terang pada serum darah karena akan lebih cepat menyerap cahaya pada spektrofotometer sehingga kadar obat dalam plasma dapat diukur. Sentrifuge dimaksudkan agar supernatan yang diperoleh adalah supernatan yang jernih sehingga pengukuran absorben dapat maksimal yang intinya memisahkan serum dan plasma, pada dasarnya serum dan plasma dapat terpisah secara alami dengan cara didiamkan tetapi agar lebih mudah dan cepat dengan menggunakan sentrifuge. Mekanisme kerja sentrifuge yaitu terjadi momen gaya pada sistemnya dari sampel yang ada dalam tabung terhadap pusat rotasi gaya pada sistem tabung dan menyebabkan partikel-partikel zat terlarut dalam pelarut menjadi pusat atau rotasi dengan kecepatan berbeda-beda, bergantung pada besarnya partikel yang terlarut sehingga pada akhirya partikel-partikel sukar larut sistem larutan berkumpul pada bagian terujung dari sistem rotasi ini. Dengan metode ini maka zat tak larut ataupun

kelarutan sentrifuge.

yang

rendah

dapat

diendapkan

dengan

menggunakan

Mekanisme kerja spektrofotometer yaitu sumber cahaya (lampu tungsten/lampu deuterium) akan memancarkan cahaya polikromator atau polikromatik yang akan mengenai sampel pada kuvet. Cahaya yang mengenai sampel akan diserap sebagian sebagai absorban dan sebagiannya akan ditransmisikan sebagai transmutasi. Monokromator berfungsi (penguat) untuk mendapatkan radiasi monokromatis yang memancarkan radiasi polikromatis dari suatu senyawa obat, detektor berfungsi untuk mengubah sinyal radiasi yang diterima menjadi sinyal elektronik. Kemudian analisis dengan spektrofotometri UV-VIS

meneruskan pembacaan absorban (A) dari transmitan. Dari hasil praktikum dperoleh bahwa pada kelini yang diberi perlakuan pemberia obat aspilet(asetosal) dengan pemberian paliasa 10% selama 5 hari memliki nilai Ke adalah 0,0081 g/menit, t 1/2 adalah 85,56 menit, dan AUC adalah 280 menit/ml. Sedangkan untuk kelinci yang diberi aspilet (asetosal) tanpa pemberian aliasa 10% diperoleh bahwa nilai Ke adalah 0,0096 g/menit, t1/2 adalah 72,18 menit, dan AUC adalah 0,57 menit/ml.

BAB VI PENUTUP VI.1 Kesimpulan Dari hasil praktikum dperoleh bahwa pada kelini yang diberi perlakuan pemberia obat aspilet(asetosal) dengan pemberian paliasa 10% selama 5 hari memliki nilai Ke adalah 0,0081 g/menit, t1/2 adalah 85,56 menit, dan AUC adalah 280 menit/ml. Sedangkan

untuk kelinci yang diberi aspilet (asetosal) tanpa pemberian aliasa 10% diperoleh bahwa nilai Ke adalah 0,0096 g/menit, t1/2 adalah 72,18 menit, dan AUC adalah 0,57 menit/ml. VI.2 Saran Jika boleh dilakukan percobaan menggunakan obat/bahan lain masing-masing kelompok yang diketahui mempunyai daya ihibisi selain paliasa 10%, agar kita dapat melihat bgaimana

perbandingannya hasil percbaan masing-masing kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Penuntun Praktikum Biofarmasi. Universitas Muslim Indonesia : Makassar. Anief,Moh,. 2003. Apa Yang Perlu Diketahui Tentang Obat. Mada University Press : Yogyakarta. Hal 3 Ditjen POM, 1979., Farmakope Indonesia., Edisi III, DEPKES RI., Jakarta. Ernst Mustcler., 1999., Dinamika Obat., Edisi V., ITB Bandung. Gadjah

Ganiswarna S., 1995., Farmakologi dan Terapi., Edisi IV., Bagian Farmakologi, FK-UI, Jakarta. Jassin Moeskoeri., 1997., Sistematika Hewan, Sinar Wijaya Press, Jakarta. Katzung Bertram., 2001., Farmakologi Dasar dan Klinik., Salemba Medika., Jakarta. Malole., 1989., Penggunaan Hewan Percobaan Di Laboratorium., Depdikbud, Universitas Bioteknologi Institut Pertanian Bogor., Bogor. Mycek., 2001, Farmakologi Ulasan Bergambar, Widya medika : Jakarta. Regers Shargel Howards Leon., dan Spector Rey,, 1990., dan Praktis Dalam Faramakologi,. Binarupa Aksara,. Jakarta. 1988., Biofarmaseutika Farmakokinetika Terapan., Bagian Farmasi dan Farmakologi., fakultas farmasi dan Ilmu Kesehatan , Boston. Tan Hoan Tjay dan Rahardja Kirana., 1991., Obat-Obat Penting., Edisi IV., Media Komputindo., Gramedia Jakarta. Yandi syukri., 2002., Biofarmaseutika., UI-Press. Jakarta. G:\Biofar-Q\BIOTRANSFORMASI Moko Apt.htm, 25 April, 2010. G:\Biofar-Q\metabolisme-obat.html, 25 April, 2010 //http//metabolisme_obat.org//, 25 April, 2010 SKEMA KERJA

Disiapkan 2 ekor kelinci yang sehat

Kelinci I

Kelinci II

Diberi rebusan daun paliasa 10% selama 5 hari

Diberi obar asetosal pada hari praktikum

Diberi obat asetosal pada hari ke 6/pada hari praktium

Ambil darah pada menit 15, 30,45, 0, 90, 120, dan 150.

Sentrifuge

Spektrofotometer

Pengolaan data

Tentukan nilai Ke, t1/2, dan AUC

Bandingkan kedua kelinci tersebut Pengolahan data tanpa daun paliasa 10 % a. Kurva Baku Asetosal Konsentrasi (ppm) 2 4 6 8 10 a1 = 0,0522 b1 = 0,0298 Absorban 0,118 0,201 0,295 0,380 0,450

r1 = 0,6802 y1 = a1 + bx (1) = 0,0522+ 0,0298 x Regresi konsentrasi [ ] Vs A X(t) Absorban 15 0,0770 30 0,1488 45 0,3033 60 0,3847 90 0,2611 120 0,1528 150 0,0476 Cp 0,8322 3,2416 8,426 11,16 7,0101 3,376 0,1544 Log Cp 0,079 0.511 0,926 1,048 0,846 0,528 0,811

Data plasma Aa Cp = b 0,0770 0,0522 Cp (t = 15) = = Cp (t = 30) = 0,0298 0,8322 0,1488 0,0522 0,0298

= 3,2416 0,3033 0,0522 Cp (t = 45) = 0,0298

= 8,426 0,3847 0,0522 Cp (t = 60) = = 0,0298 11,16

0,2611 0,0522 Cp (t = 90) = = Cp (t = 120) = 0,0298 7,0101 0,1528 0,0522 0,0298

= 3,376 0,0476 - 0,0522 Cp (t = 150) = 0,0298

= 0,1544 Regresi 3 data terakhir (fase ekskresi) T 90 120 150 a2 = 0,214 b2 = 0,0042 y2 = 0,214 + 0,0042x . Ke = -b2 x 2,303 = 0,0042 x 2,303 = 0,0096 g/menit 0,693 t = Ke 0,693 = 0,0096 (2) Log Cp 0.846 0,528 0,811

= 72.18 menit Cp = anti log a2 = anti log 0.214 = 1,637 Regresi 3 data pertama (Fase absorbsi) T Log Cp 15 0,079 30 0,511 45 0,926 a3 = 0,229 b3 = 0,0043 y3 = 0,229 + 0,0043x . Cdiff =
a

(3)

log Ce -

log Ca Log Ca 0,294 0,358 0,423


a

t (menit) 15 30 45
a

Log Ce 0,277 0.34 0,403

Log Ce 1,982 2,187 2,529

log Ca 1,967 2,280 2,648

log Ce = anti log Ce log Ce = y2 Subtitusi ke pers. (2) y (15) = 0,214 + 0,0042(15) = 0,277 y (30) = 0,214 + 0,0042 (30) = 0,34 y (45) = 0,214 + 0,0042 (45) = 0,403

log Ca = anti log Ca log Ca = y3 Subtitusi ke pers. (3) y (15) = 0,229 + 0,0043 (15) = 0,294 y (30) = 0,229 + 0,0043 (30) = 0,358 y (45) = 0,229 + 0,0043 (45) = 0,423 Cdiff (15) = 1,982 - 1,967 = 0,015 Cdiff (30) = 2,187 - 2,280 = 0,093 Cdiff (45) = 2,529 - 2,648 = 0,119 T 15 30 45 C diff 0,015 0,093 0,119 Log C diff 1,824 1,031 0,924

Regresi t Vs log C diff a4 = 0,347 b4 = 0,0039 y4 = 0,347 + 0,0039 x Ka = -b x 2,303 = 0,0039 x 2.303 = 0,0089 menit ln (Ka / Ke) t maks = Ka - Ke (4)

ln (0,0089 / 0,0096) = 0,0089 0,0096 = Vd = Cp0 (Ka Ke) 2,1 x 0,8 x 0,0089 = 1,637(0,0089-0,0096) = 130,48 F x Db0 AUC = Ke x Vd 0,8 x 2,1 = 0,0226 x130,48 = 0,57 menit/ml Pengolahan data dengan daun paliasa 10 % a. Kurva Baku Asetosal Konsentrasi (ppm) 2 4 6 8 10 a1 b1 r1 y1 = = = = = Absorban 0,118 0,201 0,295 0,380 0,450 108,285 menit Db0 x F x Ka

0,0522 0,0298 0,6802 a1 + bx (1) 0,0522+ 0,0298 x

Data plasma Kadar asetosal dari Kelompok Perlakuan X(t) 15 30 45 60 90 120 150 Aa Cp = B 0,0855 0,0522 Cp (t = 15) = = Cp (t = 30) = 0,0298 1,117 0,1588 0,0522 0,0298 Absorban 0,0855 0,1588 0,3166 0,3970 0,2760 0,1738 0,0550 Cp 1,117 3,577 8,872 11,72 7,51 3,408 0,093 Log Cp 0,048 0,553 0.948 1,068 0,875 0,532 1,031

= 3,577 0,3166 0,0522 Cp (t = 45) = 0,0298

= 8,872 0,3970 0,0522 Cp (t = 60) = = Cp (t = 90) = = 0,0298 11,57 0,2760 0,0522 0,0298 7,51

0,1738 0,0522 Cp (t = 120) = 0,0298

= 3,408 0,0550 - 0,0522 Cp (t = 150) = 0,0298

= 0,093 Regresi 3 data terakhir (fase ekskresi) T 90 120 150 a2 = 0,381 b2 = 0,0035 y2 = 0,381 + 0,0035x . Ke = -b2 x 2,303 = 0,0035 x 2,303 = 0,0081 g/menit 0,693 t = ke 0,693 = 0,0081 = 85,56 menit Cp = anti log a2 = anti log 0,381 (2) Log Cp 0,875 0,532 1,031

= 2,41

Regresi 3 data pertama (Fase absorbsi) T Log Cp 15 0,048 30 0,553 45 0,948 a3 = 0,377 b3 = 0,0037 y3 = 0,377+ 0,0037x . Cdiff =
a

(3)

log Ce -

log Ca Log Ca 0,432 0,488 0,544


a

t (menit) 15 30 45
a

Log Ce 0,434 0,486 0,539

Log Ce 2,716 3,062 3,459

log Ca 2,703 3,076 3,499

log Ce = anti log Ce log Ce = y2 Subtitusi ke pers. (2) y (15) = 0,381 + 0,0035 (15) = 0,4335 y (30) = 0,381 + 0,0035(30) = 0,486 y (45) = 0,381 + 0,0035 (45) = 0,539

log Ca = anti log Ca log Ca = y3 Subtitusi ke pers. (3) y (15) = 0,377+ 0,0037(15)

= 0,432 y (30) = 0,377+ 0,0037(30) = 0,488 y (45) = 0,377+ 0,0037(45) = 0,544 Cdiff (15) = 2,716 Cdiff (30) = 3,062 T 15 30 45 2,703 = 0,013 3,076 = 0,014 C diff 0,013 0,014 0,04 Log C diff 1,88 1,85 1,39

Cdiff (45) = 3,459 - 3,499 = 0,04

Regresi t Vs log C diff a4 = 7,95 b4 = - 0,056 y4 = 7,95+ - 0,056x Ka = -b x 2,303 = 0,056 x 2.303 = 0,129 menit ln (Ka / Ke) t maks = Ka - Ke ln (0,129 /0,0081) = 0,129 0,0081 = 22,88 menit Db0 x F x Ka Vd = Cp0 (Ka Ke) (4)

2,8 x 0,8 x 0,129 = 2,41 (0,129 0,0081) = 0,99 F x Db0 AUC = Ke x Vd 0,8 x 2,8 = 0,0081 x 0,99 = 280 mg menit/ml Cp maks = Cp0 (e Ke x
t,maks

) (e-Ka x t maks)

= 3,49 (e-0,000166 x 81,66) (e-0,0759 x 81,66) = 1,919(0,986 - 0,00203) = 1,88 mg/ml

Perhitungan Dosis & Bahan 1. Natrium sitrat (Antikoagulan) = 3 % Artinya ditimbang 3 g dalam 100 ml aquadest 2. Aspilets

Dosis = 30 mg BE = 80 mg Berat rata-rata = 222,8 mg Untuk kelinci 1,5 kg = 500 x 0,07 = 35 mg Untuk kelinci 2 kg = 2,0 x 35 1,5 = 46,667 mg Untuk kelinci 2,5 kg = 2,5 x 35 1,5 = 58,33 mg Larutan stok 50 ml 50 ml x 58,33 mg = 145,833 mg/50ml 20 ml Berat yang ditimbang = 145,833 mg x 222,8 mg 80 mg = 406,14 mg Vp kelinci untuk 1,5 kg = 1,5 x 20 = 12 ml

2,5 Vp kelinci untuk 2 kg = 2,0 x 20 = 16 ml 2,5