Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS SINTESA PEMASANGAN KATETER URIN

Oleh: Ika Nurfajriyani

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Jenderal Soedirman Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Keperawatan Program Profesi Ners Purwokerto 2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang: Sistem perkemihan merupakan suatu sistem organ tempat terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan olehtubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dandikeluarkan berupa urin (Brunner & Suddarth, 2000). Gangguan perkemihan sering kali menjadi penyebab pemasangan kateter. Akan tetapi, beberapa hal seperti pembatasan rentang aktivitas, ketidakmampuan tubuh untuk bergerak, serta monitoring cairan menjadi alasan pemasangan kateter. B. Tujuan Penulisan 1. kateter 2. Tujuan Khusus Dengan adanya penyusunan analisis dan sintesis tindakan, diharapkan mahasiswa mampu: a. Mengerti pengertian kateter b. Mengetahui alat apa saja yang digunakan untuk memasang kateter. c. Mengetahui tentang bagaimana prosedur memasang kateter Tujuan Umum Diharapkan mahasiswa mampu memahami konsep tindakan pemasangan

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kateterisasi Kateterisasi urine adalah tindakan memasukan selang kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra dengan tujuan mengeluarkan urine. Kateterisasi dapat menyebabkan hal - hal yang mengganggu kesehatan sehingga hanya dilakukan bila benar - benar diperlukan serta harus dilakukan dengan hati hati ( Brockop dan Marrie, 1999 ). B. Indikasi pemasangan kateter urine untuk diagnosis adalah : 1. Untuk mengambil sample urine guna pemeriksaan kultur mikrobiologi dengan menghindari kontaminasi. 2. Pengukuran residual urine dengan cara, melakukan regular kateterisasi pada klien segera setelah mengakhiri miksinya dan kemudian diukur jumlah urine yang keluar. 3. Untuk pemeriksaan cystografi, kontras dimasukan dalam kandung kemih melalui kateter. 4. Untuk pemeriksaan urodinamik yaitu cystometri dan uretral profil pressure.

C. Indikasi Pemasangan Kateter urine sebagai Terapi adalah :

1. Dipakai dalam beberapa operasi traktus urinarius bagian bawah seperti secsio alta, repair reflek vesico urethal, prostatatoktomi sebagai drainage kandung kemih. 2. Mengatasi obstruksi infra vesikal seperti pada BPH, adanya bekuan darah dalam buli-buli, striktur pasca bedah dan proses inflamasi pada urethra. 3. Penanganan incontinensia urine dengan intermitten self catheterization. 4. Pada tindakan kateterisasi bersih mandiri berkala ( KBMB ). 5. Memasukan obat-obat intravesika antara lain sitostatika / antipiretika untuk buli - buli. 6. Sebagai splint setelah operasi rekontruksi urethra untuk tujuan stabilisasi urethra, D. Jenis Pemasangan Katater Menurut ( Brockop dan Marrie, 1999 ) Jenis jenis pemasangan kateter urine terdiri dari : 1. Indewelling catheteter yang biasa disebut juga dengan retensi kateter / folley cateter-indewelling catheter dibuat sedemikian rupa sehingga tidak mudah lepas dari kandung kemih. 2. Intermitten catheter yang digunakan untuk jangka waktu yang pendek ( 5-10 menit ) dan klien dapat diajarkan untuk memasang dan melepas sendiri.

3.

Suprapubik catheter kadang - kadang digunakan untuk pemakaian

secara permanent. Cara memasukan kateter dengan jenis ini dengan membuat sayatan kecil diatas suprapubik. E. Ukuran Kateter Saat ini ukuran kateter yang biasanya dipergunakan adalah ukurandengan kalibrasi French ( FR ) atau disebut juga Charriere ( CH ).Ukuran tersebut didasarkan atas ukuran diameter lingkaran katetertersebut misalkan 18 FR atau CH 18 mempunyai diameter 6 mmdengan patokan setiap ukuran 1 FR = CH 1 berdiameter 0,33 mm.Diameter yang diukur adalah diameter pemukaan luar kateter. Besarkecilnya diameter kateter yang digunakan ditentukan oleh tujuanpemasangan kateter urine tersebut untuk klien dewasa,ukuran kateterurine yang biasa digunakan adalah 16-19 FR. Kateter yang mempunyai ukuran yang sama belum tentu mempunyai diameter lumen yang sama karena perbedaan bahan dan jumlah lumen pada katetertersebut.Ukuran kateter yang tersedia antara 12-40 Fr.

BAB III PROSEDUR PEMASANGAN KATETER A. Persiapan Alat 1. Sterill a. Kateter yang akan dipasang sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan satu ( 1 ) buah disiapkan dalam bak steril. b. Pinset anatomis 1 buah. c. Sarung tangan 1 pasang. d. Spuit 10-20 cc 1 buah. e. Kain kassa 2 lembar. f. Kapas sublimate dalam tempatnya. g. Air / aquabidest NaCl 0,9 % secukupnya. h. Xylocain jelly 2 % atau sejenisnya i. Slang dan kantong untuk menampung urine. 2. Tidak Steril a. Bengkok 1 buah b. Perlak 1 buah c. Lampu sorot bila perlu d. Selimut mandi / kain penutup e. Botol kecil steril untuk bahan pemeriksaan steril. B. Persiapan Klien Terutama untuk tindakan kateterisasi urine klien harus diberi penjelasan secara adekuat tentang prosedur dan tujuan pemasangan kateter urine. Posisi yang biasa dilakukan adalah dorsal recumbent,berbaring di tempat tidur / diatas meja perawatan khususnya bagi wanita kurang memberikan fasa nyaman karena panggul tidak ditopang sehingga untuk melihat meatus urethra menjadi sangat sulit. Posisi sims / lateral dapat dipergunakan sebagai posisi berbaring / miring sama baiknya tergantung posisi mana yang dapat memberikan praaan nyaman bagi klien dan perawat saat melakukan tindakan kateterisasi urine.

C. Persiapan Perawat 1. 2. 3. Mencuci tangan Memakai sarung tangan Menjelaskan prosedur tindakan kepada klien.

D. Pelaksanaan tindakan 1. 2. 3. 4. 5. Jaga privasi klien Perlak dan alasnya dipsang dibawah gluteus Letakan 2 bengkok diantara kedua tungkai klien Cuci tangan Pada klien pria :

Klien berbaring, perawat berada di sebelah klien, meatus uretra dan glandula penis disinfeksi dengan cairan antiseptic, pasang doek bolong dan perawat memakai handscone steril, selang kateter diberi jelly secukupnya pada pemukaan yang akan dimasukan pada uretra, penis ditegakkan lurus keatas dan tanpa ukuran kateter urine dimasukan perlahan kedalam buli-buli, anjurkan klien untuk menarik nafas panjang. 6. Pada klien wanita Labia mayora dibuka dengan ibu jari dan telunjuk tangan perawat yang dibungkus dengan kapas savlon, bersihkan vulva sekurang - kurangnya tiga kali, perawat memakai sarung tangan dengan menggunakan kassa steril dan bethadin 10% disinfeksi labia mayora dan lipat paha, pasang doek bolong steril, kateter urine dimasukan perlahan - lahan yang sebelumnya telah diberi jelly dan klien dianjurkan menarik nafas dalam. 7. 8. 9. 10. Urine yang keluar ditampung dalam urine bag. Isi balon kateter urine dengan aquabidest / nacl 0,9% = 10 cc sesuai Fiksasi kateter urine di daerah pangkal paha Letakan urine bag lebih rendah daripada kandung kemih atau

dengan petunjuk yang tertera pada pembungkus kateter urine.

gantung urine bag di bed.

11. 12. 13. 14.

Disinfeksi sambungan urine bag dengan kateter urine. Rapihkan klien,bersihkan alat, Perawat cuci tangan Dokumentasi

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah volume 2. Jakarta: EGC Kelompok Keilmuan Dasar Keperawatan & Keperawatan Dasar FIK UI.2007. PanduanPraktikum Keperawatan Dasar I.Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI. Potter and Perry. 2000. Fundamental Of Nursing. Jakarta: EGC