Anda di halaman 1dari 2

Anaesthesi merupakan tindakan untuk mengurangi bahkan menghilangkan rasa nyeri baik disertai atau tanpa disertai hilangnya

kesadaran. Biasanya anaesthesi dibutuhkan pada tindakan tindakan yang berkaitan dengan pembedahan, karena dalam waktu yang tertentu harus dapat dipastikan hewan tidak dapat merasakan nyeri sehingga tidak menimbulkan penderitaan bagi hewan (Komang, 2004). Aplikasi dari anaesthesi ini terdiri dari beberapa jenis, salah satu diantaranya adalah anaesthesi perinhalsi. Anaesthesi perinhalasi adalah salah satu bentuk dari aplikasi obat bius selain anaesthesi perinjeksi. Anaesthesi perinhalasi mempunyai keuntungan yang tidak ada pada obat intravena, karena kedalaman anaesthesi dapat diubah dengan cepat dengan perubahan konsentrasi anaesthesi inhalasi (Mycek, 2001). Anasethesik yang digunakan pada praktikum kali ini adalah atropin, sedangkan hewan coba yang digunakan adalah dua ekor kucing. Pada praktikum ini, diberi dua perlakuan berbeda terhadap masing-masing kucing. Kucing pertama disuntikkan atropine dengan dosis 0,03-0,05 mg/kg BB, sedangkan kucing kedua tidak diberikan atropine. Atropin sendiri berfungsi sebagai premedikasi pada anaesthesi perinhalasi, dan mengurangi sekresi saliva dll. Mekanisme kerja Atropine adalah memblok aksi kolinomimetik pada reseptor muskarinik secara reversible (tergantung jumlahnya) yaitu, hambatan oleh atropine dalam dosis kecil dapat diatasi oleh asetilkolin atau agonis muskarinik yang setara dalam dosis besar. Hal ini menunjukan adanya kompetisi untuk memperebutkan tempat ikatan. Hasil ikatan pada reseptor muskarinik adalah mencegah aksi seperti pelepasan IP3 dan hambatan adenilil siklase yang di akibatkan oleh asetilkolin atau antagonis muskarinik lainnya (Jay dan Kirana, 2002). Kedalaman anaesthesi dapat dibagi menjadi suatu seri dari empat stadium berturut-turut; setiap stadium ditandai dengan meningkatnya penekanan system saraf pusat yang disebabkan oleh penumpukan anaesthesik di otak. Dengan eter, yang menghasilkan anaesthesi yang lambat mulainya, semua stadium ini dapat dilihat (Mycek, 2001). Pada praktikum ini, efek penggunaan atropine dibandingkan dengan kucing yang tidak dianaesthesi dengan atropin. Pada stadium I, menit ke-3 pasca pemberian atrofin ,hewan yang disuntikkan atropine masih tenang. Pada stadium II, menit ke-5, terlihat pupil mata kucing membesar dan mengantuk. Menurut literature, dilatasi pupil disebabkan oleh rangsangan pada sistem saraf simpatis (Warren, 1983). Pada stadium III, menit ke -14 kesadaran kucing menurun, konsentrasi menurun dan tonus otot melemah. Pada stadium IV, gejala klinisnya semakin jelas. Gejala tersebut antara lain pupil mata lebih lebar, kehilangan keseimbangan, inkordinasi, kesadaran berkurang hingga jatuh.

Jay,than hoon dan kirana,raharja. 2002. Obat-obat penting. Gramedia Jakarta.

Beri Nilai